Jumat, 20 September 2013

HIKMAH


Ahli Ibadah yang Murtad

 null

IMAM HASAN AL BASHRI suatu saat menyaksikan ada seorang tua diseret setelah ia dibunuh. Menyaksikan hal itu Imam Hasan Al Bashri menangis dan akhirnya pingsan. Setelah sadar beliau menyampaikan bahwa jenazah orang tua itu adalah orang yang shalih dan zuhud di zamannya. Sampai suatu saat ketika orang itu hendak berangkat ke masjid, ia bertemu dengan seorang wanita Nashrani yang berparas cantik, hingga akhirnya sang ahli ibadah ingin menikahinya.
Wanita Nashrani itu pun menolaknya, ia hanya bersedia menikah jika sang ahli ibadah bersedia murtad meninggalkan Islam. Namun semakin lama perasaan ketertarikan sang ahli ibadah itu kepada si wanita semakin kuat, sampai akhirnya ia memutuskan untuk murtad demi menikah dengan wanita itu. Namun hal yang tidak diduga terjadi, di saat orang yang sebelumnya merupakan ahli ibadah itu sudah keluar dari Islam si wanita malah enggan untuk dinikahi.
Saat hendak ditemui wanita itu mengucapkan dari balik tabir,”Wahai engkau yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Engkau telah meninggalkan agama yang telah engkau imani selama bertahun-tahun demi syahwat yang engkau tidak mampu menahannya. Dan aku telah meninggalkan agama Nashara untuk memperoleh kenikmatan selama-lamanya”.
Imam Hasan Al Bashri pun menyampaikan,”Syaikh telah dibunuh kerana murtad sedangkan si wanita menjadi muslimah” (Bahr Ad Dumu’, hal. 98)





Imam Ja'far Ash Shadiq Amalkan Satu Ayat

IMAM JA’FAR ASH SHADIQ suatu saat bersama budaknya yang waktu itu sedang menuangkan air. Tanpa sengaja, air menciprati pakaian Imam Ja’far, dan beliau memandang budaknya dengan pandangan kurang suka.
Sang budak pun menyitir sebagian ayat yang artinya,”Dan orang-orang yang menahan marah” (Ali Imran :134), maka Imam Ja’far menjawab,”Aku menahan marahku kepadamu”. Lalu sang budak melanjutkan,”Dan orang-orang yang memafkan manusia” (Ali Imran :134), Imam Ja’far pun menjawab,”Aku telah memafkanmu”.
Sang budak melanjutkan,”Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali Imran :134), maka Imam Ja’far menjawab,”Pergilah, engkau sekarang merdeka karena Allah dan untukmu hartaku sebesar seribu dinar!” (Bahr Ad Dumu’, hal. 174,175)





Berdoa untuk 300 Orang Tiap Malam

 null


 ABU HAMDUN adalah ulama shalih ahlul Qur`an yang zuhud. Beliau memilki lembaran yang berisi 300 nama sahabat-sahabatnya. Dimana beliau selalu mendoakan mereka tiap malamnya. Suatu saat malam Abu Hamdun meninggalkan kebiasaan itu, dan ia langusng tidur. Namun setelah itu beliau bermimpi ada yang menyampaikan keppada beliau,”Wahai Abu Hamdun, engkau belum menyalakan lampu malammu”. Akhirnya Abu Hamdun bangun dan menyalakan lampu-lampunya, lalu ia duduk mengambil lembaran yang bertulis 300 nama teman-temannya dan mendoakan mereka satu-persatu hingga selesai. (Shifat Ash Shafwa, 2/239)





Saat Seorang Syeikh Dianggap Syaithan


ABU HUSAIN BIN SAM’UN, ulama Baghdad waktu itu melihat seorang wanita mengais daun-daun sayuran baqal di sungai Shurrah Baghad, dalam benaknya beliau mengatakan bahwa wanita itu pasti wanita faqir. Abu Husain bin Sam’un pun mengikuti wanita itu ketika ia pulang ke rumah.
Setelah itu, Abu Husain kembali ke rumah dan tanpa diduga beliau bertemu dengan pembantu beliau yang membawa beberapa dinar dan dirham. Kepada sang majikan pembantu menyampaikan,”Berikanlah ini kepada mereka yang membutuhkan”. Abu Husain pun kembali ke rumah wanita yang ia jumpai sebelumnya. Ia pun mengetuk pintu rumah itu, namun yang muncul adalah seorang laki-laki yang biasa ikut majelis beliau.
Sang laki-laki itu pun bertanya,”Kenapa Anda kemari?” Abu Husain pun menjawab,”Aku datang ke sini bersama beberapa dinar ini, bisa meringankan engkau?” Laki-laki itu pun menjawab,”Wahai Syeikh, Anda meminta kami untuk waspada terhadap dunia, sedangkan Anda datang dengan membawa hal itu”. Kamudian laki-laki itu masuk menutup pintu sedangkan Abu Husain pulang dengan kecewa. Namun Abu Husain berfikir untuk kembali menemui laki-laki itu untuk minta maaf.
Keesokan harinya Abu Husain pun kembali ke rumah itu dan mengetuk pintunya. Namun ternyata tidak ada yang menjawab. Abu Husain pun bertanya kepada tatangga terdekat mengenai penghuni rumah itu. Ada tetangga wanita yang menjawab,”Rumah itu sebelumnya dihuni seorang wanita dan anaknya, yang biasa kami bertabaruk kepada keduanya. Namun kemarin datang syaithan yang mengajak mereka berbicara mengenai hal yang mereka tidak sukai, hingga mereka pun pergi.” Abu Husain pun kembali ke rumah dengan kesedihan yang mendalam. Namun tanpa diduga, saat menjalankan ibadah haji di padang Arafah tatkala Abu Husain menyampaikan khutbah, beliau melihat laki-laki itu di barisan terakhir jama’ah.
Abu Husain setelah itu pun menemuinya dan laki-laki itu pun menjawab,”Jangan lakukan seperti sebelumnya dan jangan berkata apapun. Kalau tidak karena saya percaya bahwa perkataan Anda adalah obat, maka saya tidak akan datang ke sini. Dan saya pergi dari rumah agar tidak dikenal manusia.” Abu Husain pun menyampaikan,”Aku datang untuk minta maaf”, kemudian mereka pun berpisah. (Shifat Ash Shafwah, 2/328. 329)
 
 
 
 

Ahli Ibadah yang Tak Mampu Tidur

 null

RAUH BIN SALAMAH suatu saat bertanya kepada wanita ahli ibadah di Bashrah yang bernama Afirah. Rauh bertanya,”Kabarnya, Anda tidak pernah tidur di malam hari”. Afirah menjawab,”Kadang aku ingin tidur, namun tidak mampu melakukannya. Bagaimana aku tidur? Bagaimana aku mampu melakukannya? Sedangkan Allah yang tidak pernah tidur menjaga siang dan malam-Nya?”
Rauh bin Salamah pun menangis, dan dalam hatinya ia berbicara,”Aku diperlihatkan kepada sesuatu sedangkan ia diperlihatkan kepada sesuatu yang lain”. (Shifat Ash Shafwah, 4/ 28)



Sama-sama Hinanya, Tak Perlu Saling Mencaci


 ABU HATIM ATH THABARI mengisahkan behwa suatu saat beliau mendengar pernyataan Abu Bakr Asy Syibli,”Jika engkau ingin melihat dunia maka lihatlah tempat sampah, maka itu adalah dunia. Jika engkau ingin melihat dirimu, maka ambillah segenggam tanah, sesungguhnya engkau darinya diciptakan, dan kepadanya kembali, serta darinya engkau keluar. Jika engkau ingin melihat, apa sebenarnya dirimu, maka lihatlah apa yang keluar darimu saat engkau ke tempat buang hajat. Jika keadaanmu demikian maka tidak boleh mencaci dan bertakabbur terhadap yang serupa denganya.”



Tidak Bersandar Saat Disebut Nama Orang Shalih

IMAM ABU ZUR’AH berkisah bahwa suatu saat beliau menyimak hadits dari Imam Ahmad bin Hanbal, saat itu disebutkan kepada Imam Ahmad nama Ibrahim bin Thahman. Beliau yang saat itu dalam keadaan bersandar segera meluruskan badan lalu mengucapkan,”Tidak sepatutnya ketika disebut seorang yang shalih menyandarkan badan.”
Kemudian Imam Ahmad menukil riwayat dari salah satu sahabat Ibnu Mubarak, bahwa suatu saat ia bermimpi bertemu dengan Ibnu Mubarak yang telah wafat beserta seseorang. Lalu sahabat Ibnu Mubarak tersebut bertanya mengenai orang itu. Ibnu Mubarak pun menjawab bahwa ia adalah Sufyan Ats Tsauri. Maka sang sahabat bertanya,”Bagaimana kalian bisa bertemu?” Maka Ibnu Mubarak menjawab,”Kami sama-sama mengunjungi Ibrahim bin Thahman”. Sang sahabat bertanya,”Dimana kalian mengunjunginya?” Maka Ibnu Mubarak menjawab,”Di negeri orang-orang terpercaya negeri Yahya bin Zakariya”. (Shifat Ash Shafwah, 4/ 117)




Menghadapi Dua Syaithan


YUSUF BIN ASBATH suatu saat keluar dari rumah hendak mengumandangkan adzan di masjid. Namun beliau menyadari bahwa saat itu masih malam dan belum sampai waktu subuh.
Di tengah-tengah waktu menunggu shubuth tiba, Yusuf Bin Asbath menyaksikan ada sosok hitam yang menggenggam batu dan hendak melemparkannya kepada dirinya. Namun ada sosok lain di belakang sosok itu, yang berwarna putih yang juga membawa batu yang berupaya mencegah sosok hitam melakukannya kepada Yusuf.
Dalam hatinya Yusuf bin Asbath berkata,”Ini dua syaithan, yang ingin menggelincirkanku, hingga aku merasa sebagai orang shalih”. Akhirnya Yusuf pun berteriak,”Kalian keduanya syaithan!” Maka kedua sosok itupun terbang. (Shifat Ash Shafwah (4/222).






Kesedihan Bisyr Al Hafi

BISYR AL HAFI suatu saat ditinggal wafat oleh saudara perempuan beliau Mudghah, yang termasuk juga sebagai kalangan ahli ibadah. Saat itu Bisyr terlihat menangis dan terpukul menghadapi peristiwa itu, hingga ada seorang bertanya kepada beliau,”Kenapa engkau merasa terpukul?”
Bisyr pun menjawab,”Aku telah membaca dalam beberapa kitab, bahwa seorang hamba jika lalai dalam berkhidmat kepada Rabb-nya, maka Ia akan mengambil teman dekatnya. Sedangkan Mudghah merupakan teman dekatku”. (Shifat Ash Shafwah, 2/339)
Artinya, Bisyr terpukul bukan karena ditinggal saudarinya, tapi khawatir hal itu terjadi karena lalai beribadah




Merajut Di Bawah Cahaya Bulan

.null

Suatu saat seorang wanita mendatangi Imam Ahmad, dan bertanya,”Wahai Abu Abdullah, saya wanita yang bekerja merajut di malam hari dengan penerangan lampu namun terkadang lampu padam dan saya merajut dengan penerangan cahaya bulan. Apakah saya perlu menjelaskan kepada pembeli mana yang saya rajut dengan lampu dan mana yang saya rajut dengan cahaya bulan?”
Imam Ahmad pun menjawab,”Jika menurutmu bahwa di antara keduanya ada bedanya, maka hendaklah engkau menjelaskannya”.
Setelah wanita itu pergi, maka Imam Ahmad pun menyampaikan kepada putra beliau Abdullah,”Wahai putraku sungguh aku belum pernah mendengar manusia bertanya seperti itu.” Kemudian beliau menyuruh sang putra untuk mencari tahu dimana rumah wanita tersebut. Abdullah pun mengikutinya dan melihat bahwa wanita itu masuk ke rumah Bisyr Al Hafi.
Setela itu Abdullah pulang dan mengabarkan hal itu kepada Imam Ahmad, hingga beliau mengatakan,”Mustahil ada yang menanyakan hal seperti itu, kecuali  saudari Bisyr”. (Shifat Ash Shafwah, 2/338)
Dari kisah itu tercermin betapa saudari Bisyr merupakan wanita yang memiliki sifat wara’ (hati-hati), hingga ia sangat khawatir,  jangan-jangan merajut dengan cahaya bulan membuat mutu rajutan lebih buruk dan hal itu manjadikan cacat pada hasil rajutannya, hingga perlu menjelaskan mana yang dirajut dengan bantuan sinar bulan dan mana yang dirajut menggunakan lampu kepada pembeli. Dan untuk memastikan hal itu, maka beliau bertanya kepada Imam Ahmad.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar