Jumat, 20 September 2013

HIDUP SEHAT


Emosimu adalah Penyakitmu!

 null
Pilihannya senantiasa menjadikan tubuh dalam keadaan emosi positif, ataukah hidup dalam emosi mencekan?

PERCAYA tidak percaya, tubuh atau fisik yang baik dari seseorang pasti dimulai dari emosi yang stabil. Jiwa yang tenang, hati yang tenang dan ujung-ujungnya iman yang sehat.
Sehingga pertanyaannya, adakah hubungan antara emosi tersebut dengan penyakit? Secara mekanisme hormonal hal itu bisa saja terjadi, dikarenakan mekanisme hormon tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh irama waktu, seperti siang atau malam.
Di luar hal tersebut, hal lainnya adalah bahwa hormon yang muncul sangat memungkinkan dari mood atau perasaan yang muncul. Jadi sebenarnya, ketika mood itu baik, perasaaan itu baik, sangkaan dirinya baik terhadap apa yang ia rasakan dan alami, pastinya tubuhnya akan merespon kondisi tersebut dengan sekresi atau pengeluaran hormon pula.
Di sinilah letaknya, ketika fikiran seseorang senantiasa dalam kondisi positif sebenarnya otak pun merespon hal tersebut dengan hormon positif pula.
Yang uniknya adalah, pengeluaran hormon yang keluar dalam tubuh manusia tersebut pada akhirya akan berefek terhadap organ tubuh manusia, ketika seseorang dalam keadaan cemas maka otomatis yang akan keluar adalah hormon adrenalin, yang berakibat bisa meningkatkan denyut jantung, yang jika terus menerus terjadi maka organ tersebut akan berada dalam keadaan siaga terus menerus.
Ya sekarang pilihannya terserah kita sendiri, mau senantiasa menjadikan tubuh dalam keadaan yang harmonis dengan emosi-emosi positif, ataukah hidup dalam emosi mencekan dan emosi negatif selalu, kalau sudah begini ya siap siap aja penyakit datang.*




Makanan Sampah


Semakin banyak produk olahan yang dikonsumsi, maka semakin besar peluang menumpuknya makanan sampah dalam tubuh manusia
null
Jaga kesehatan dan hindari makanan kaleng

TUBUH  kita sebenarnya di desain dengan sangat sempurna oleh Allah Subhanahu Wata’ala, semuanya dibuat dalam suatu keseimbangan yang indah.
Ketika terjadi gangguan atau ketakseimbangan dalam tubuh maka muncullah berbagai penyakit yang kerap tak disadari sudah memberi tanda tanda pada tubuh kita.
Tubuh sebenarnya punya sistem pembuangan atau pengeluaran yang sudah sempurna, namun saat terjadi masalah akibat banyaknya asupan sampah atau banyak mengandung bahan bahan kimia maka yang terjadi adalah makanan makanan tadi tak mampu lagi di cerna dan dimetabolisme tubuh disebabkan karena tubuh tak mempunyai pengurai dan makanan tersebut sudah terlalu dominan dalam perut atau pencernaan manusia.
Apa penyebabnya?
Dalam bahasa saya “tekor” sederhananya, lebih banyak makanan sampah yang sudah tidak ada lagi gizi di dalamnya akiibat terlalu banyak pengolahan dan terlalu banyaknya bahan kimia sintetik yang dimasukan dalam makanan tersebut sebagai suatu konsekuensi industri yang memproduksi massal.
Perut atau pencernaan kita dibekali Allah Subhanahu Wata’ala dengan enzim dan mikroorganisme pengurai yang bekerja untuk mencerna makanan atau apapun yang masuk ke dalam perut manusia.
Ketika perut terzolimi, mulai dari enzimnya, mikrorganismenya tak mampu bekerja lagi, maka makanan makanan yang masuk dalam tubuh akan menumpuk, tak mampu diurai karena “pekerja” nya pada keletihan dan tak mampu kuasa kerja lagi.
Kenapa bisa begitu?
Ketika “tekor” maka otomatis yang terjadi kinerja organ-organ ini akan mengalami kemunduran, perut atau pencernaan maksudnya.
Sampah sampah ini sebenarnya sudah kita ketahui bersama, setiap bahan bahan kimia sintetik yang dimasukan dalam produk apapun yang dikonsumsi manusia akan melemahkan kerja perut atau pencernaan manusia.
Kalau isinya semua bahan kimia sintetik seperti obat-obatan kimia sintetik seperti  apa jadinya?
Inilah yang akan menguras kerja pencernaan yang salah satunya dikenal dengan efek samping, jadi berhati hatilah dalam mengkonsumsi obat kimia sintetik.
Namun, yang paling harus diperhatikan justru bukan obat kimia sintetik, tapi justru makanan minuman dan berbagi produk harian yang dimakan oleh manusia.
Semakin banyak produk olahan yang dikonsumsi, maka semakin besar peluang menumpuknya makanan sampah dalam tubuh manusia.
Apa tanda-tandanya?
Paling mudah adalah terlalu seringnya mengantuk, emosi yang naik turun,  mood tidak jelas, badan yang selalu sakit sakitan.
Yah ini hanya sebagian kecil, masih ada sebagian besar lainnya.
Solusinya?
Pertama, hindari produk Olahan, kemasan sebisa mungkin, jika dikonsumsi pun hanya sekedar untuk pemuas selera.
Kedua, perbanyaklah konsumsi produk asli dan alami tanpa bahan kimia sintetik di dalamnya seperti; buah, sayur, produk herbal dari lebah atau yang lainnya.
Ketiga, makanlah produk fermentasi yang membantu mencerna dan membantu enzim dan bakteri dalam pencernaan kita seperti cuka, atau produk fermentasi lainnya seperti ragi.
Semoga sukses dan tetap menjaga kesehatan.*




Penyakit karena Gaya Hidup



Kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi

RASULULLAH telah banyak mengajarkan kepada kita,umatnya untuk senantiasa menjaga hati,fikiran, emosi, dan juga Raga kita.
Semuanya pada akhirnya bermuara pada satu kesimpulan bahwa sesungguhnya kehidupan atau pola makan kita bisa jadi mencerminkan bagaimana kita menjaga perasaan dan emosi kita sehari hari.
Adakah hubungannya? Rasulullah dan para Sahabat adalah karakter manusia yang jauh sekali dari berlebih-lebihan dalam urusan makanan, bahkan mereka lebih memilih untuk Lapar daripada kenyang, karena kenyang, apalagi yang berlebihan membuat mereka tak mampu beribadah yang baik kepada Allah.
Ya tentunya dengan hal seperti ini, mereka sangat jauh dari penyakit-penyakit yang bersifat degeneratif atau penyakit yang muncul karena gaya hidup yang buruk.
Penyakit, sejatinya memang juga berasal dari Allah, tapi bisa jadi pemicunya adalah manusia sendiri, manusia yang mengubah pola hidupnya, makanannya, yang pada akhirnya makan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya, namun makan untuk memenuhi selera dan hawa nafsu sehingga ujung-ujungnya berlebihan dan mengakibatkan penyakit dan lemahnya tubuh.
Sederhanakanlah makanan, maka kita akan sehat, makanlah untuk kebutuhan tubuh, bukan makan untuk lebih banyak memenuhi selera.
Simplicity is the most ultimate sophistication, kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi.*






Bahagiakan Perut

lebih dominan mana, makanan yang kita makan sehari-hari, yang masih ada “nyawa” nya atau sudah hilang semua
SEBUAH kajian terbaru menyebutkan salah satu satu hormon kebahagiaan yaitu “serotonin” ternyata banyak dan sebagian besar di produksi di perut, sebuah fakta mengejutkan dan juga sekaligus membuat kita semua harus bertanya-tanya apakah kita sudah membahagiakan perut kita.
Perut merupakan tempat berkumpulnya segala jenis reaksi dan notabene salah satu yang penting adalah Enzim, hampir 5000 enzim yang terdapat di tubuh kita, jika enzim ini baik maka otomatis tubuh juga akan mengikuti.
lalu bagaimana hubungan antara enzim tersebut dengan kebahagiaan, sebenarnya penjelasannya sederhana,sebagaimana tadi dikatakan bahwa serotonin banyak diproduksi di perut, tentunya bagaimana agar perut kita “bahagia” ?
Jika ingin perut bahagia dan ia senantiasa terus memancarkan kebahagiaan, maka mulailah memberi suplemen kebahagiaan kepada perut.
Perut yang sangat sensitif terhadap apapun yang masuk, sejatinya sangat bahagia ketika yang masuk ke dalam perut tersebut adalah produk yang alami dan segar.
Kenapa harus alami dan segar? Karena “nyawa” suatu produk baik itu makanan atau minuman terletak jika ia masih alami dan segar, dan disitulah berperan enzim yang membantu proses reaksi dan metabolisme makanan tersebut, jika enzim tersebut tidak ada, maka hilanglah nyawa makanan itu dan tubuh tak mampu mengolahnya.
Dan semua orang sangat membutuhkan dan sangat menginginkan enzim tersebut dan kita memang meminta nya, sebaik-baiknya produk jus jeruk kemasan, tetap saja lebih baik jus jeruk yang alami dan segar tanpa menggunakan bahan apapun kecuali jeruk.
Bahkan, jika pembaca sekalian ingin pesan makanan, bukankah pembaca inginnya yang masih segar dan masih “hangat”, itulah tanda bahwa tubuh kita menginginkan yang alami dan segar.
Maka, pertanyaan selanjutnya adalah lebih dominan mana, makanan yang kita makan sehari-hari, yang masih ada “nyawa” nya atau sudah hilang semua? Dan “nyawa” disini bukanlah produk yang berasal dari hewan saja.
Jika lebih banyak yang tidak ber”nyawa” maka apakah yang terjadi? Tunggu artikel berikutnya.

HIKMAH


Hatim Bin Al Asham Bungkam Syaithan

 null

HAMID BI AL LAFAF mengisahkan bahwa Hatim bin Al Asham pernah menyampaikan,”Setiap pagi syaithan mengatakan kepadaku,’Apa yang engkau makan? Apa yang engkau pakai? Di mana engkau hendak tinggal?’”
Lalu Hatim menjawab,”Aku makan kematian, aku memakai kafan, dan aku tinggal di kuburan’”. (Shifat Ash Shafwah, 4/132)





Mencampuri Urusan Allah

BISYR BIN HARITS suatu saat melakukan perjalanan di pesisir Abadan lalu beliau menyaksikan seseorang yang kedua tangan dan kakinya putus karena kusta dan ia juga buta. Hal itu mendorong Bisyr untuk mengamati laki-laki tersebut, hingga dalam hatinya ia berkata,”Sudah terjangkit kusta, buta lagi”.
Namun Bisyr terkejut, tatkala laki-laki itu berteriak,”Siapa ini yang terlalu memaksakan diri, hingga mencampuri urusanku dengan Allah?!”
Bisyr pun berkata,”Perkataannya memberikan pelajaran bagiku”. (Shifat Ash Shafwah, 4/53).*



Para Jin Ahli Al Qur`an

 null

ABU IMRAN AT TIMAR suatu saat pergi sebelum waktu shubuh tiba menuju masjid Hasan Al Hafri dan saat itu pintu masjid tertutup. Hasan sendiri terdengar memanjatkan doa dan terdengar pula banyak yang mengamininya. Abu Imran pun duduk menungu di depan pintu masjid hingga doa selesai dipanjatkan. Kemudian setelah itu Hasan mengumandangkan adzan  lalu membuka pintu masjid.
Abu Imran pun segera masuk masjid, namun ia terheran tatkala ia tidak menemui seorang di dalamnya kecuali Hasan Al Hafri. Kemudian Abu Imran pun mengisahkan apa yang ia alami sebelumnya kepada Hasan Al Hafri, dan beliau pun menjawab,”Mereka itu adalah para jin penduduk Nushaibi, mereka datang bersama kami untuk ikut serta dalam menghatamkan Al Qur`an setiap malam Jumat.” (Shifat Ash Shafwah, 4/ 359




Ja'far=Lapar Lalu Kabur

JA'FAR AL KHALDI suatu saat melakukan perjalan melalui padang pasir, dan selama 24 hari beliau tidak memiliki makanan cukup. Sampai suatu saat beliau menemukan ada sebuah gubuk yang di dalamnya ada seorang pemuda melaksanakan shalat. Dalam hatinya Ja'far berbicara,”Nanti malam mungkin makanan dikirim untuknya hingga aku bisa makan bersamanya”.
Namun setelah lama menunggu hingga malam, ternyata tidak ada yang datang kepada pemuda itu untuk mengirim makanan. Esoknya Ja'far masih menunggu, ternyata tidak juga ada yang mengirim makanan kepada pemuda itu, hingga lusanya pun keadaan tidak berubah. Selama tiga hari ternyata tidak ada yang mengirimi makanan untuk pemuda itu. Maka dalam hatinya Ja'far berkata,”Ini adalah syaithan! Ini bukan manusia!” Jakfar pun bergegas meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa bulan berlalu, suatu saat Ja'far duduk di rumahnya dan ia pun mendengar pintu diketuk. Ja'far pun membuka pintu dan tanpa disangka ternyata tamu itu adalah pemuda yang pernah dilihatnya di gubuk padang pasir. Pemuda itu pun mengucapkan,”Wahai Ja'far, engkau seperti namamu. Ja’a wa farr (lapar lalu kabur)”. (Shifat Ash Shafwah, 4/312,313)



Hadits Tidak untuk Apa-Apa Meski Hanya Minum


AL MAKMUN putra Harun Ar Rasyid suatu saat menyimak hadits dari Isa bin Yunus, dan Al Makmun pun memberi 10 ribu dirham untuk beliau. Namun kemudian Isa bin Yunus menolak pemberian itu dan Al Makmun mengira bahwa penolakan itu karena jumlahnya terlalu sedikit. Sampai akhirnya Makmun memberikan lagi hadiah sebesar 20 ribu dirham.
Isa bin Yunus setelah itu pun menjawab,”Tidak, demi Allah, hadits tidak akan digunakan walau untuk seteguk air minum, meskipun engkau memenuhi masjid ini sampai atapnya dengan emas.” (Shifat Ash Shafwah, 4/219)



Kesucian Hati

 null

IBNU DZARR suatu saat menyampaikan mengenai keadaan hari kiamat di hadapan murid-murid beliau. Saat itu, seorang laki-laki dari Bani Ijl yang bernama Warrad mengguncang-guncangkan tubuhnya sambil menangis histeris.
Ibnu Dzarr pun menyampaikan,”Apa yang kita lalaikan? Dan apa yang menyedihkan hatinya hingga ia menangis? Demi Allah, sesungguhnya hal ini wahai saudara Bani Ijl, terjadi karena kebersihan hatimu dan bekunya hati kami karena dosa”. (Shifat Ash Shafwah, 3/106)
 
 





HIKMAH


Ahli Ibadah yang Murtad

 null

IMAM HASAN AL BASHRI suatu saat menyaksikan ada seorang tua diseret setelah ia dibunuh. Menyaksikan hal itu Imam Hasan Al Bashri menangis dan akhirnya pingsan. Setelah sadar beliau menyampaikan bahwa jenazah orang tua itu adalah orang yang shalih dan zuhud di zamannya. Sampai suatu saat ketika orang itu hendak berangkat ke masjid, ia bertemu dengan seorang wanita Nashrani yang berparas cantik, hingga akhirnya sang ahli ibadah ingin menikahinya.
Wanita Nashrani itu pun menolaknya, ia hanya bersedia menikah jika sang ahli ibadah bersedia murtad meninggalkan Islam. Namun semakin lama perasaan ketertarikan sang ahli ibadah itu kepada si wanita semakin kuat, sampai akhirnya ia memutuskan untuk murtad demi menikah dengan wanita itu. Namun hal yang tidak diduga terjadi, di saat orang yang sebelumnya merupakan ahli ibadah itu sudah keluar dari Islam si wanita malah enggan untuk dinikahi.
Saat hendak ditemui wanita itu mengucapkan dari balik tabir,”Wahai engkau yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Engkau telah meninggalkan agama yang telah engkau imani selama bertahun-tahun demi syahwat yang engkau tidak mampu menahannya. Dan aku telah meninggalkan agama Nashara untuk memperoleh kenikmatan selama-lamanya”.
Imam Hasan Al Bashri pun menyampaikan,”Syaikh telah dibunuh kerana murtad sedangkan si wanita menjadi muslimah” (Bahr Ad Dumu’, hal. 98)





Imam Ja'far Ash Shadiq Amalkan Satu Ayat

IMAM JA’FAR ASH SHADIQ suatu saat bersama budaknya yang waktu itu sedang menuangkan air. Tanpa sengaja, air menciprati pakaian Imam Ja’far, dan beliau memandang budaknya dengan pandangan kurang suka.
Sang budak pun menyitir sebagian ayat yang artinya,”Dan orang-orang yang menahan marah” (Ali Imran :134), maka Imam Ja’far menjawab,”Aku menahan marahku kepadamu”. Lalu sang budak melanjutkan,”Dan orang-orang yang memafkan manusia” (Ali Imran :134), Imam Ja’far pun menjawab,”Aku telah memafkanmu”.
Sang budak melanjutkan,”Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali Imran :134), maka Imam Ja’far menjawab,”Pergilah, engkau sekarang merdeka karena Allah dan untukmu hartaku sebesar seribu dinar!” (Bahr Ad Dumu’, hal. 174,175)





Berdoa untuk 300 Orang Tiap Malam

 null


 ABU HAMDUN adalah ulama shalih ahlul Qur`an yang zuhud. Beliau memilki lembaran yang berisi 300 nama sahabat-sahabatnya. Dimana beliau selalu mendoakan mereka tiap malamnya. Suatu saat malam Abu Hamdun meninggalkan kebiasaan itu, dan ia langusng tidur. Namun setelah itu beliau bermimpi ada yang menyampaikan keppada beliau,”Wahai Abu Hamdun, engkau belum menyalakan lampu malammu”. Akhirnya Abu Hamdun bangun dan menyalakan lampu-lampunya, lalu ia duduk mengambil lembaran yang bertulis 300 nama teman-temannya dan mendoakan mereka satu-persatu hingga selesai. (Shifat Ash Shafwa, 2/239)





Saat Seorang Syeikh Dianggap Syaithan


ABU HUSAIN BIN SAM’UN, ulama Baghdad waktu itu melihat seorang wanita mengais daun-daun sayuran baqal di sungai Shurrah Baghad, dalam benaknya beliau mengatakan bahwa wanita itu pasti wanita faqir. Abu Husain bin Sam’un pun mengikuti wanita itu ketika ia pulang ke rumah.
Setelah itu, Abu Husain kembali ke rumah dan tanpa diduga beliau bertemu dengan pembantu beliau yang membawa beberapa dinar dan dirham. Kepada sang majikan pembantu menyampaikan,”Berikanlah ini kepada mereka yang membutuhkan”. Abu Husain pun kembali ke rumah wanita yang ia jumpai sebelumnya. Ia pun mengetuk pintu rumah itu, namun yang muncul adalah seorang laki-laki yang biasa ikut majelis beliau.
Sang laki-laki itu pun bertanya,”Kenapa Anda kemari?” Abu Husain pun menjawab,”Aku datang ke sini bersama beberapa dinar ini, bisa meringankan engkau?” Laki-laki itu pun menjawab,”Wahai Syeikh, Anda meminta kami untuk waspada terhadap dunia, sedangkan Anda datang dengan membawa hal itu”. Kamudian laki-laki itu masuk menutup pintu sedangkan Abu Husain pulang dengan kecewa. Namun Abu Husain berfikir untuk kembali menemui laki-laki itu untuk minta maaf.
Keesokan harinya Abu Husain pun kembali ke rumah itu dan mengetuk pintunya. Namun ternyata tidak ada yang menjawab. Abu Husain pun bertanya kepada tatangga terdekat mengenai penghuni rumah itu. Ada tetangga wanita yang menjawab,”Rumah itu sebelumnya dihuni seorang wanita dan anaknya, yang biasa kami bertabaruk kepada keduanya. Namun kemarin datang syaithan yang mengajak mereka berbicara mengenai hal yang mereka tidak sukai, hingga mereka pun pergi.” Abu Husain pun kembali ke rumah dengan kesedihan yang mendalam. Namun tanpa diduga, saat menjalankan ibadah haji di padang Arafah tatkala Abu Husain menyampaikan khutbah, beliau melihat laki-laki itu di barisan terakhir jama’ah.
Abu Husain setelah itu pun menemuinya dan laki-laki itu pun menjawab,”Jangan lakukan seperti sebelumnya dan jangan berkata apapun. Kalau tidak karena saya percaya bahwa perkataan Anda adalah obat, maka saya tidak akan datang ke sini. Dan saya pergi dari rumah agar tidak dikenal manusia.” Abu Husain pun menyampaikan,”Aku datang untuk minta maaf”, kemudian mereka pun berpisah. (Shifat Ash Shafwah, 2/328. 329)
 
 
 
 

Ahli Ibadah yang Tak Mampu Tidur

 null

RAUH BIN SALAMAH suatu saat bertanya kepada wanita ahli ibadah di Bashrah yang bernama Afirah. Rauh bertanya,”Kabarnya, Anda tidak pernah tidur di malam hari”. Afirah menjawab,”Kadang aku ingin tidur, namun tidak mampu melakukannya. Bagaimana aku tidur? Bagaimana aku mampu melakukannya? Sedangkan Allah yang tidak pernah tidur menjaga siang dan malam-Nya?”
Rauh bin Salamah pun menangis, dan dalam hatinya ia berbicara,”Aku diperlihatkan kepada sesuatu sedangkan ia diperlihatkan kepada sesuatu yang lain”. (Shifat Ash Shafwah, 4/ 28)



Sama-sama Hinanya, Tak Perlu Saling Mencaci


 ABU HATIM ATH THABARI mengisahkan behwa suatu saat beliau mendengar pernyataan Abu Bakr Asy Syibli,”Jika engkau ingin melihat dunia maka lihatlah tempat sampah, maka itu adalah dunia. Jika engkau ingin melihat dirimu, maka ambillah segenggam tanah, sesungguhnya engkau darinya diciptakan, dan kepadanya kembali, serta darinya engkau keluar. Jika engkau ingin melihat, apa sebenarnya dirimu, maka lihatlah apa yang keluar darimu saat engkau ke tempat buang hajat. Jika keadaanmu demikian maka tidak boleh mencaci dan bertakabbur terhadap yang serupa denganya.”



Tidak Bersandar Saat Disebut Nama Orang Shalih

IMAM ABU ZUR’AH berkisah bahwa suatu saat beliau menyimak hadits dari Imam Ahmad bin Hanbal, saat itu disebutkan kepada Imam Ahmad nama Ibrahim bin Thahman. Beliau yang saat itu dalam keadaan bersandar segera meluruskan badan lalu mengucapkan,”Tidak sepatutnya ketika disebut seorang yang shalih menyandarkan badan.”
Kemudian Imam Ahmad menukil riwayat dari salah satu sahabat Ibnu Mubarak, bahwa suatu saat ia bermimpi bertemu dengan Ibnu Mubarak yang telah wafat beserta seseorang. Lalu sahabat Ibnu Mubarak tersebut bertanya mengenai orang itu. Ibnu Mubarak pun menjawab bahwa ia adalah Sufyan Ats Tsauri. Maka sang sahabat bertanya,”Bagaimana kalian bisa bertemu?” Maka Ibnu Mubarak menjawab,”Kami sama-sama mengunjungi Ibrahim bin Thahman”. Sang sahabat bertanya,”Dimana kalian mengunjunginya?” Maka Ibnu Mubarak menjawab,”Di negeri orang-orang terpercaya negeri Yahya bin Zakariya”. (Shifat Ash Shafwah, 4/ 117)




Menghadapi Dua Syaithan


YUSUF BIN ASBATH suatu saat keluar dari rumah hendak mengumandangkan adzan di masjid. Namun beliau menyadari bahwa saat itu masih malam dan belum sampai waktu subuh.
Di tengah-tengah waktu menunggu shubuth tiba, Yusuf Bin Asbath menyaksikan ada sosok hitam yang menggenggam batu dan hendak melemparkannya kepada dirinya. Namun ada sosok lain di belakang sosok itu, yang berwarna putih yang juga membawa batu yang berupaya mencegah sosok hitam melakukannya kepada Yusuf.
Dalam hatinya Yusuf bin Asbath berkata,”Ini dua syaithan, yang ingin menggelincirkanku, hingga aku merasa sebagai orang shalih”. Akhirnya Yusuf pun berteriak,”Kalian keduanya syaithan!” Maka kedua sosok itupun terbang. (Shifat Ash Shafwah (4/222).






Kesedihan Bisyr Al Hafi

BISYR AL HAFI suatu saat ditinggal wafat oleh saudara perempuan beliau Mudghah, yang termasuk juga sebagai kalangan ahli ibadah. Saat itu Bisyr terlihat menangis dan terpukul menghadapi peristiwa itu, hingga ada seorang bertanya kepada beliau,”Kenapa engkau merasa terpukul?”
Bisyr pun menjawab,”Aku telah membaca dalam beberapa kitab, bahwa seorang hamba jika lalai dalam berkhidmat kepada Rabb-nya, maka Ia akan mengambil teman dekatnya. Sedangkan Mudghah merupakan teman dekatku”. (Shifat Ash Shafwah, 2/339)
Artinya, Bisyr terpukul bukan karena ditinggal saudarinya, tapi khawatir hal itu terjadi karena lalai beribadah




Merajut Di Bawah Cahaya Bulan

.null

Suatu saat seorang wanita mendatangi Imam Ahmad, dan bertanya,”Wahai Abu Abdullah, saya wanita yang bekerja merajut di malam hari dengan penerangan lampu namun terkadang lampu padam dan saya merajut dengan penerangan cahaya bulan. Apakah saya perlu menjelaskan kepada pembeli mana yang saya rajut dengan lampu dan mana yang saya rajut dengan cahaya bulan?”
Imam Ahmad pun menjawab,”Jika menurutmu bahwa di antara keduanya ada bedanya, maka hendaklah engkau menjelaskannya”.
Setelah wanita itu pergi, maka Imam Ahmad pun menyampaikan kepada putra beliau Abdullah,”Wahai putraku sungguh aku belum pernah mendengar manusia bertanya seperti itu.” Kemudian beliau menyuruh sang putra untuk mencari tahu dimana rumah wanita tersebut. Abdullah pun mengikutinya dan melihat bahwa wanita itu masuk ke rumah Bisyr Al Hafi.
Setela itu Abdullah pulang dan mengabarkan hal itu kepada Imam Ahmad, hingga beliau mengatakan,”Mustahil ada yang menanyakan hal seperti itu, kecuali  saudari Bisyr”. (Shifat Ash Shafwah, 2/338)
Dari kisah itu tercermin betapa saudari Bisyr merupakan wanita yang memiliki sifat wara’ (hati-hati), hingga ia sangat khawatir,  jangan-jangan merajut dengan cahaya bulan membuat mutu rajutan lebih buruk dan hal itu manjadikan cacat pada hasil rajutannya, hingga perlu menjelaskan mana yang dirajut dengan bantuan sinar bulan dan mana yang dirajut menggunakan lampu kepada pembeli. Dan untuk memastikan hal itu, maka beliau bertanya kepada Imam Ahmad.

TAZKIYATUN NAFS


Mentransformasikan Takbir dalam Kehidupan Kita


Tiada arti bagi takbir yang diucapkannya bila yang diterapkan dan di junjung tinggi adalah yang diberikan loyalitas adalah hukum buatan manusia
null
Hanya Allah Subhanahu Wata'ala yang kita besarkan, bukan yang lain
Oleh: Shalih Hasyim
Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman :
وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“supaya kalian menyempurnakan bilangan (shaum Ramadlan) dan supaya kalian mengagungkan Allah atas hidayah yang Dia berikan kepada kalian, serta supaya kalian bersyukur.” [QS. Al Baqarah (2) : 185].
SEMINGGU ini gema takbir dikumandangkan. Inilah hari raya setelah kaum Muslimin berbuka dari ibadah shaum Ramadlan. Ied adalah perayaan yang selalu berulang, sedangkan Al Fithr adalah berbuka dari shaum. Jadi ‘Idul Fithri adalah hari raya yang selalu berulang yang dilakukan setelah berbuka dan selesai menunaikan shaum Ramadlan.
Setelah Allah ta’ala menjelaskan pensyari’atan kewajiban shaum Ramadlan dan kewajiban mengqadla atas orang yang tidak shaum karena sakit, musafir, hamil, dan menyusui dan yang serupa itu.
Ayat diatas memberikan arahan kepada kita agar  sempurna shaum kalian sebulan penuh dan supaya kalian memuji Allah ta’ala dengan mengagungkannya dalam bentuk takbir dan dzikir di akhir ibadah shaum kalian. Perintah dzikrullah ini bukan hanya setelah selesai ibadah shaum, akan tetapi setelah selesai setiap ibadah, di mana setelah ibadah shalat jum’at Allah ta’ala memerintahkan untuk dzikrullah, sebagaimana firman-Nya :
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا
“Kemudian bila telah ditunaikan shalat (jum’at), maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah dari karunia Allah serta mengingatlah Allah dengan banyak.” [QS. Al Jum’ah (62) : 10]
Begitu juga sehabis ibadah haji, Dia berfirman :
فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ
“Kemudian bila kalian telah menunaikan manasik (haji) kalian, maka kalian mengingatlah Allah….” [QS. Al Baqarah (2) : 200]
Begitu juga sehabis shalat fardlu, Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata :
ماكنا نعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بالتكبر
“Kami tidak mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kecuali dengan takbir.” [HR Al Bukhari]
Para ulama dari ayat “dan supaya kalian mengagungkan Allah…” ini mengambil kesimpulan pensyari’atan takbir di hari raya Iedul Fthri, sedang waktunya adalah mulai dari maghrib 1 Syawal sampai imam memulai melaksanakan shalat Ied.
Takbir اللّهَ اكبر adalah ungkapan pengagungan Allah yang harus muncul dari lubuk hati yang sangat dalam. Di mana takbir adalah pengakuan hati bahwa Allah itu Maha Agung lagi Maha Besar dari segalanya, diikrarkan dengan lisan serta pengakuan itu dibuktikan di dalam praktek kehidupan. Tapi bila di dalam prakteknya ternyata ada hal lain yang lebih didahulukan dan lebih dipentingkan daripada Allah ta’ala dan hukum-Nya, maka sesungguhnya ikrar takbir yang diucapkan dengan lisan itu adalah dusta dan hanya hiasan mulut semata.
Allahu Akbar jika dikumandangkan akan melahirkan keimanan yang kuat. Alangkah kecil, ilmu, harta, kekuasaan dan pengaruh yang kita miliki. Subhanallah, Maha Suci Allah. Bukankah kita seringkali tidak mampu memelihara kebersihan hati, pikiran, mulut, dan anggota tubuh dari maksiat. Al-Hamdulillah, alangkah banyaknya karunia Allah  yang diberikan kepada kita. Sudahkah nikmat itu kita optimalkan untuk mengabdi kepada-Nya !.
Allah Maha Agung… Allah Maha Besar… Dia lebih besar daripada anak dan isteri, oleh sebab itu Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan isterinya Hajar dan puteranya yang masih bayi yaitu Ismail di lembah yang kering kerontang yang tidak ada air lagi tidak ada tanaman, dikarenakan Allah ta’ala yang memerintahkannya. Di dalam Shahih Al Bukhari: Hajar bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah yang telah memerintahkan engkau dengan hal ini? Ibrahim ‘alaihissalam menjawab: Ya”. Maka Hajar dengan penuh keyakinan mengatakan: “Kalau begitu, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Ini adalah contoh realisasi ucapan takbir, di mana perintah Allah ta’ala didahulukan walaupun harus meninggalkan anak isteri yang sangat dicintai, begitu pula saat jihad sudah menjadi fardlu ‘ain pada kondisi seperti sekarang, maka bukti kongkrit takbir yang diucapkan di dalam shalat pada setiap gerakan adalah orang muslim keluar berjihad meninggalkan anak isteri….Allahu Akbar….
Kisah Siti Hajar
Aplikasi mentakbirkan Allah Subhanahu Wata’ala ada pada  SIti Hajar. Beliau adalah contoh di dalam sikap seorang wanita Muslimah, di mana ia menerima keputusan Ibrahim ‘alaihissalam tercinta untuk meninggalkannya, karena itu adalah perintah Allah ta’ala, sedangkan Allah dan perintah-Nya adalah lebih besar daripada Ibrahim suaminya, dan ia yakin bahwa Allah ta’ala tidak akan menyia-nyiakannya.
Begitulah seharusnya wanita Muslimah bersikap saat suaminya memenuhi panggilan kewajiban jihad, dia jangan khawatir, dan jangan menghalang-halangi suaminya dari menunaikan kewajiban bila takbir yang selalu dia ucapkan di dalam shalatnya itu benar lagi jujur… اللّهَ اكبر
Begitulah makna takbir اللّهَ اكبر ini dibuktikan oleh para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, di mana mereka pergi jauh berbulan-bulan bahkan ada yang tidak pulang lagi meninggalkan anak isteri mereka di dalam menunaikan perintah Allah berjihad menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Para sahabat dan generasi salaf melakukan hal ini dan para isteri mereka pun rela dan tulus ikhlas sepenuh hati menerima hal itu, ini dikarenakan makna اللّهَ اكبر terpancang di dalam jiwa mereka.
Namun banyak realitas kaum muslimin yang berat meninggalkan isteri mereka dan begitu pula para isteri menghalangi para suami mereka dari pergi jihad yang sudah fardlu ‘ain, padahal ucapan takbir selalu mereka lantunkan, maka apakah sseperti itu bukti kongkritnya? Yang ada malah wujud الحب اكبر (Cinta Maha Besar?!!!).. Aku tak bisa hidup tanpa dirimu di sisiku!!!? Yang menghantarkan orang itu pada posisi fasiq di dalam surat (At Taubah (9) : 24).
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: “Bila bapak-bapak kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, karib kerabat kamu, harta-harta yang kamu usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya serta tempat-tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan urusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.” [QS. At Taubah (9) : 24].
Allah Maha Besar…Allah lebih besar dari anak kita, oleh sebab itu jangan sampai kecintaan kepadanya menjadi penghalang di dalam menjalankan perintah Allah ta’ala. Perhatikanlah makna اللّهَ اكبر yang terpatri di dalam jiwa Ibrahim ‘alaihissalam tatkala diperintahkan Allah untuk menyembelih putera kesayangannya Ismail ‘alaihissalam, dan perhatikan pula sikap anak yang tunduk dan rela sepenuh hati menerima konsekuensi perintah Allah ta’ala :
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“(Ibrahim) berkata: “Wahai anakku ! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu !” Dia (Ismail) menjawab: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” [ QS. Ash Shaffat (37) : 102].
Ini dia Abu Salamah radliallahu ‘anhu, tatkala kewajiban hijrah sudah tetap ke Madinah, maka ia pergi hijrah meninggalkan anak dan isterinya yang ditahan oleh kaumnya, dan begitulah Generasi salaf pergi jauh berjihad meninggalkan anak-anaknya yang masih dikandung atau masih kecil, apakah hanya kita saja yang memiliki anak kecil dan isteri yang sedang hamil tua? Mana makna اللّهَ اكبر yang selalu kita ulang-ulang di dalam gerakan shalat?!!! Coba lihat lagi ayat 24 At Taubah tadi…! Anak itu titipan dan milik Allah, maka jangan sampai ia menghalangi pelaksanaan kewajiban…
Allah Maha Besar… Dia lebih besar dari ayah sendiri, oleh sebab itu Ibrahim ‘alaihissalam berlepas diri dari ayahnya tatkala ayahnya itu bersikukuh diatas kekafiran.
فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ
“Kemudian tatkala telah jelas baginya (Ibrahim) bahwa ayahnya itu adalah musuh bagi Allah, maka ia (Ibrahim) berlepas diri darinya.” [ QS. At Taubah (9) : 114].
Ini dia Abu Ubaidah Ibnul Jarrah pada perang Badar membunuh ayahnya sendiri yang kafir, begitu juga Abu Bakar Ash Shiddiq radliallahu ‘anhu menempeleng ayahnya sendiri Abu Quhafah di Mekkah sampai tersungkur, dan hal itu diceritakan orang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam maka beliau bertanya : “Apa benar engkau melakukannya wahai Abu Bakar?” Ia menjawab: “Demi Allah seandainya ada pedang di dekat saya, tentu saya pukul dia dengannya.” Itu tatkala Abu Quhafah masih kafir dan menghina Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Dan berkitan dengan mereka itu turun firman Allah ta’ala :
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir mereka menjalin kasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau karib kerabat mereka….” [ QS. Al Mujadilah (58) : 22].
Ini juga Sa’ad Ibnu Abi Waqqash radliallahu ‘anhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, At Tirmidzi dan yang lainnya, tatkala ia masuk Islam dan komitmen dengan tauhid, ibunya berkata : “Bukankah Allah telah memerintahkan untuk berbakti ? Demi Allah saya tidak akan makan dan minum apapun sampai saya mati atau kafir.” Namun Sa’ad tetap teguh dengan prinsip tauhid walaupun disebut durhaka, dan Allah ta’ala pun menurunkan firman-Nya :
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا
“Dan Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar ia berbuat baik kepada kedua orangtuanya, dan bila keduanya memaksamu supaya menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, maka jangan kamu taati keduanya….” [ QS. Al Ankabut (29) : 8].
Ini semua dikarenakan makna اللّهَ اكبر terpatri di dalam lubuk hati mereka, namun sungguh sangat disayangkan realita orang-orang yang mengaku muslim dan sering bertakbir di masa sekarang, di mana dikarenakan desakan orangtua dan keinginan ingin menyenangkan keduanya banyak diantara mereka yang mendaftarkan dirinya untuk menjadi aparat thaghut (polisi, tentara dan yang lainnya), maka mana makna takbir yang selalu diucapkan itu? Batal dengan perbuatannya tersebut…..
Banyak pula yang mundur dari ikut serta di dalam jihad karena dilarang orangtua atau mertua, padahal jihad sudah fardlu ‘ain tidak usah izin orangtua apalagi mertua. Maka mana makna اللّهَ اكبر yang sering diucapkan ?.Allah Maha Besar… Dia lebih besar dari semua harta benda dan perintah-Nya harus didahulukan walaupun harus mengorbankan harta benda.
Makna inilah yang dibuktikan oleh Shuhaib Ar Rumi Radliallahu ‘anhu, di mana saat Allah ta’ala mewajibkan hijrah ke Madinah, maka ia pun hijrah walaupun harus menyerahkan seluruh harta bendanya kepada kafir Quraisy agar mereka melepaskan dia pergi hijrah, maka tatkala ia sampai ke Madinah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya: “Beruntung jual belinya wahai Abu Yahya, beruntung jual belinya wahai Abu Yahya.
 Dan turun firman-Nya :
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridlaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [QS. Al Baqarah (2) : 207].
Namun zaman sekarang banyak orang yang menjual agamanya demi mendapatkan kenikmatan atau keleluasaan hidup di dunia ini yang hanya sementara. Di mana segolongan manusia mengorbankan tauhidnya berbondong-bondong menjadi polisi dan tentara thaghut demi mendapatkan gaji bulanan dan tunjangan hidup, segolongan mereka mau menjadi mata-mata thaghut yang mengawasi dan melaporkan kegiatan amal jihadi kepada thaghut dan ansharnya, sebagian yang lain rela menjadi alat penjinak para singa tauhid dan jihad demi kepentingan penguasa thaghut dalam rangka mendapatkan imbalan dunia dan lain sebagainya….
Allah Maha Besar… Dia lebih besar dan lebih agung daripada sebidang tanah dan hukum-Nya lebih besar daripada sekedar tanah air. Di mana ajaran Allah harus di junjung tinggi walaupun berbenturan dengan kepentingan tanah airnya atau negaranya. Oleh sebab itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam hijrah meninggalkan Mekkah tanah airnya menuju Madinah dan begitu pula para sahabatnya…
Allah ta’ala pun telah mengancam orang yang lebih mencintai tanah airnya sehingga menelantarkan hukum dan ajaran Allah, di mana mereka lebih mengutamakan dan mengedepankan kepentingan bangsanya dan negaranya daripada agama dan hukum Allah, dan demi meraih ridla anak-anak bangsa yang kafir mereka menggugurkan hukum Islam di dalam aturan sistim pemerintahan dan mereka menggunakan hukum buatan yang direstui oleh orang-orang kafir asli dan orang-orang murtad…sehingga gugur pula makna takbir yang mereka ucapkan, tiada arti bagi takbir yang diucapkannya bila yang diterapkan dan di junjung tinggi adalah hukum thaghut, tidak ada arti bagi takbir yang mereka ucapkan bila yang diberikan loyalitas adalah hukum buatan manusia.







Inputnya Tauhid , Outputnya Akhlak Mulia


Banyak orang menyangka bahwa akhlakul karimah tidak ada sangkut pautnya dengan tauhid atau aqidah
null
SEORANG doktor di bidang aqidah bertanya kepada Syeikh Dr. Umar Al Asyqor guru besar ilmu aqidah :” Wahai Syeikh, saya sudah mencapai gelar akademik tertinggi dalam ilmu aqidah, namun saya belum merasakan dalamnya aqidah ini tertanam di hati dan jiwaku.”
Maka Syeikh Dr. Umar Al Asyqor menjawab; “Pertanyaan itu sudah pernah ditanyakan oleh Syeikhul Islam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah kepada gurunya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjawab: “Apa yang engkau pelajari hanyalah kaidah-kaidah (rumusan-rumusan) dalam masalah aqidah, sedangkan jika engkau ingin merasakan dalamnya aqidah tertanam didalam hati dan jiwamu, maka hayati dan resapilah kandungan al-Qur’an.”
Sesungguhnya, ilmu tauhid yang kita pelajari selama ini, ternyata baru sekedar kaidah atau rumusan seperti rumus Matematika dan Kimia atau rumus lainnya. Aqidah hanya sebagai kekayaan kognitif. Tidak sampai merasuk ke dalam jiwa yang paling dalam. Aqidah yang tidak memiliki efek apa pun. Tanpa praktek nyata, maka rumusan aqidah itu tinggal rumusan tanpa arti walaupun sebanyak apapun kita menghafalnya.
Khalifah Umar Bin Abdul Aziz berkata :
إِنَّ لِلإِيمَانِ فَرَائِضَ وَشَرَائِعَ وَحُدُودًا وَسُنَنًا ، فَمَنِ اسْتَكْمَلَهَا اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا لَمْ يَسْتَكْمِلِ الإِيمَانَ
“Sesungguhnya iman memiliki kewajiban-kewajiban, batasan dan aturan serta sunnah-sunnah, barangsiapa menyempurnakannya maka sempurnalah imannya dan barangsiapa tidak menyempurnakannya maka tidak sempurna pula imannya.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu marilah kita beriman sejenak sebagaimana ucapan sahabat Muadz bin Jabal Rodiyallahu ‘anhu:
اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً
“Duduklah bersama kami, mari kita beriman sejenak saja.” (HR. Bukhari). Maksudnya adalah bertafakkur dan mengingat Allah sejenak saja.
Allah Azza Wa Jalla Berfirman (artinya):
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS Al Anfal (8) : 2).
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّداً وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
“Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena sholat tahjjud) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS As Sajdah (32) : 15).
Banyak orang menyangka bahwa akhlakul karimah tidak ada sangkut pautnya dengan tauhid atau aqidah, sehingga seseorang yang sudah belajar tauhid tidak sedikit pun merasa risih untuk mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata kotor kepada saudaranya sesama muslim. Ia demikian fasih memaki-maki saudaranya hanya karena perbedaan pemahaman aliran keagamaan, sebagaimana fasihnya dalam membaca al-Quran. Padahal tauhid adalah inti iman dan dalam banyak hadits Rasulullah Shollallohu ‘alihi wa sallama selalu mengaitkannya dengan adab dan akhlak. Bahkan Allah Azza wa jalla pun menjadikan amal shalih sebagai bukti keimanan seseorang.
Ucapan kita, pandangan kita, pendengaran kita bahkan desiran hati kita adalah bukti/refleksi dari iman dan tauhid kita.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS” Qaaf  [50] : 16 – 18).
Puluhan nasehat Rasulullah Shollallohu ‘alihi wa sallama mengaitkan keimanan dengan ucapan, sikap dan adab kita. Bahkan menyingkirkan duri dari jalanan pun bagian dari iman. Membuang sampah adalah bagian dari kebimanan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Beliau Shollallohu ‘alihi wa sallama bersabda :
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu ada 70 atau 60 cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha IllaLlah sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Muslim).
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam saja.” (Muttafaq Alaih).
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (Muttafaq Alaih).
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (Muttafaq Alaih).
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya.” (Muttafaq Alaih).
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat di atas Mizan (timbangan amal di akhirat nanti) dibandingkan akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan beliau menyatakan bahwa Hadits ini Shahih).
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung silaturahim.” (Muttafaq Alaih).
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari mulut dan tangannya. Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang hijrah (menjauhi) dari segala yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari).
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Shodaqoh tidaklah akan mengurangi harta sedikitpun, dan tidaklah seorang hamba yang memberi maaf, melainkan Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan kehormatan, dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri di hadapan Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Janganlah engkau meremehkan amal kebajikan meskipun kecil, walaupun itu hanya berupa wajah yang manis ketika engkau bertemu saudaramu.” (HR. Muslim).
سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencaci seorang muslim adalah tindakan yang melampaui batas (fasiq) sedangkan membunuhnya adalah kekafiran.” (Muttafaq Alaih).
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Tahukah kalian apakah ghibah (menggunjing) itu ?” Para Shahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Rasul pun menjelaskan, “(ghibah adalah) menyebutkan sesuatu dalam diri saudaramu yang tidak disukainya”. Seorang shahabat bertanya, “Bagaimana jika yang kami sebutkan itu memang benar-benar ada padanya ?” Rasul pun bersabda, “Jika apa yang kalian sebutkan itu memang benar ada padanya, maka berarti engkau telah menggunjingnya, dan jika tidak ada padanya berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)
Siapakah orang yang bangkrut itu?
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya :  “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ?” Mereka (para sahabat ) menjawab : “Orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan : “Orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain (dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, sehingga ketika kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain), maka kesalahan orang yang dizhalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka." (HR. Muslim).
Garbage In Garbage Out
Meminjam istilah komputer yaitu "Garbage In Garbage Out" (jika sampah yang dimasukkan sampah pula yang keluar) maka jika inputnya bagus pastilah outputnya bagus pula. Jika inputnya bagus namun outputnya buruk, tentulah ada masalah pada softwarenya atau hardwarenya.
Jika seseorang telah mempelakari ilmu tauhid/iman, tetapi tidak tercermin (dan tergambar) pada akhlaq dan adabnya , bisa jadi  input yang dimasukkan telah salah. Ibarat computer, harus segera disservice atau diupgrade.






Belajar Keihlasan dari “Sang Pedang Allah”


Ulama salaf dan orang-orang shalih sebelum kita angat takut terhadap fitnah ketenaran, tipuan pangkat, keharuman nama
null
ilustrasi
Ulama salaf & orang-orang shalih sebelum kita takut fitnah ketenaran, tipuan pangkat, keharuman nama
Oleh: Shalih Hasyim
ADALAH Khalid bin Walid lahir sekitar 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia adalah anggota suku Banu Makhzum, cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Ia termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar bin Khatab sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.
Sebelum memeluk Islan,   Khalid bin Walid adalah Panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Saat Perang Uhud, Khalid-lah yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud dan menghajar pasukan Muslim pada saat itu. Tetapi setelah perang itulah ia menyesali perbuatannya dan memeluk Islam.
Khalid bin Walid seorang panglima pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus). Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya, terkenal sebagai panglima tertinggi untuk Nabi Muhammad dan penerus-penerusnya.  Dibawah kepemimpinan militernya lah Arabia pertama kalinya dalam sejarah membentuk entitas politik yang bersatu, Kekhalifahan.
Khalid adalah contoh praktik keikhlasan seorang pemimpin dengan yang dipimpin dalam sejarah Islam. Kala itu, datang kepadanya surat dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab. Karena kemaslahatan tertentu, maka Khalifah Islam kedua itu memerintahkan Khalid agar menyerahkan jabatannya kepada Abu Ubaidah Amir bin Jarrah ra. Padahal saat itu bendera sedang berada di tangan Khalid dan kaum Muslimin tengah memasuki kancah pertempuran yang terdahsyat dalam potongan sejarah Islam.
Pasukan Islam tidak lebih dari 40.000 personil itu harus melawan pasukan kuat  dari Persia dan Romawi yang jumlahnya tidak kurang dari 200.000 personil. Akan tetapi bendera tidak bergeser sedikit pun di tangannya. Dan perang tidak terhenti gara-gara masalah besar yang berkecamuk dalam jiwanya, ia melanjutkan peperangan hingga kemenangan berada di pihak pasukan Allah Subhanahu Wata’ala.
Setelah itu, sebelum ia masuk ke dalam kemahnya, ia memanggil anak buahnya Abu Ubaidah di hadapan seluruh pasukan, lalu ia menyerahkan bendera, memakaikan sorban kepemimpinan dengan tangannya sendiri, lalu membacakan SK khalifah. Kemudian ia berkata kepada Abu Ubaidah, “Saya adalah prajuritmu yang siap mendengar dan taat, wahai Abu Ubaidah.”
Ketika prajuritnya bertanya kepada Khalid tentang kebijakan Khalifah, “Apakah Anda tidak kecewa dan tersinggung dengan kebijakan Amirul Mukminin yang terkesan  mendadak itu? Khalid menjawab, “Aku berperang karena Allah Subhanahu wata’ala. Bukan karena pemimpin saya, Umar bin Khathab.
Maka, peristiwa itu menjadi teladan  di sepanjang sejarah Islam.
Sungguh, indah gambaran yang diungkapkan oleh seorang penyair Mesir, Hafizh Ibrahim tentang peristiwa tersebut.
Tanyakan penakluk Persia dan Romawi, apakah dia puas
Pada penaklukan, cukupkah baginya kemenangan beruntun (70 kali pertempuran)
Ia berperang, dan kuda Allah itu telah mengukir
Kemenangan gemilang di ubun-ubunnya
Tiada suatu negara pun kecuali mendengarnya
Allahu Akbar, menggema di setiap penjurunya
Khalid di jalan Allah, tengah menunggangnya
Dan Khalid di jalan Allah, tengah mengendalikannya
Tiba-Tiba datang kepadanya perintah khalifah, maka ia terima dengan legowo
Dan kebanggaan terhadap jiwa, tidak membuatnya terluka.

Tagha Versus Ikhlas
Orang beriman itu lahir dan batinnya sama. Karena iman itu perpaduan dari amalan hati, lisan dan anggota tubuh. Jika iman sudah merasuk ke lubuk hati yang paling dalam, ketulusan dan kesejukan hati akan muncul. Maka bahaya laten virus ruhani “takatsur” (saling berebut pengaruh, jabatan, lahan pekerjaan, massa, memperbanyak produksi) yang menjadi pintu masuknya tiga penyakit pemicu dan pemacu awal pelanggaran anak Adam dalam sejarah kehidupannya, yaitu  thoma’ yang diwariskan oleh Adam, sombong yang diwariskan oleh setan dan hasud yang diwariskan oleh Qabil akan lenyap.
إِيَّاكُمْ وَالْكِبْرَ فَإِنَّ إِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ أَلاَّ يَسْجُدَ ِلآدَمَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحِرْصَ فَإِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ آكَلَ الشَجَرَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ ابْنَيَ آدَمَ قَتَلَ أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ حَسَدًا هُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ (رواه ابن عساكر عن ابن مسعود رضي الله عنه)
“Waspada dan jauhi al-kibr (sombong), karena sesungguhnya Iblis terbawa sifat al-kibr sehingga menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala agar bersujud (menghormati) kepada Adam ‘alaihis salam. Waspada dan jauhi al-hirsh (serakah), karena sesungguhnya Adam ‘alaihis salam terbawa sifat al-hirsh sehingga makan dari pohon yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Waspada serta jauhi al-hasad (dengki), karena sesungguhnya kedua putra Adam ‘alaihis salam salah seorang dari keduanya membunuh saudaranya hanya karena al-hasad. Ketiga sifat tercela itulah asal segala kesalahan (di dunia ini).” (HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud, dalam Mukhtaru al-Ahadits).
Jadi, Iman dan thagha (melampui batas dalam bersikap) dan derivasinya (serakah, sombong dan dengki) tidak akan dapat dikompromikan dan dipersandingkan hingga hari kiamat.  Iman dan thagha bagaikan air dan minyak tanah. Benturan peradaban yang dibangun dengan hawa nafsu dan peradaban yang dibangun di atas nilai-nilai keikhlasan akan terus berlangsung secara permanen.
Imam Syafii mengatakan, ”Jika jiwamu tidak sibuk dalam ketaatan, maka akan menyibukkanmu dalam kemaksiatan.”
Sekalipun penyakit thagha itu abstrak, kita tidak dapat mendeteksinya, tetapi efek yang ditimbulkannya dapat dirasakan dan sangat mempengaruhi lingkungan sosial. Tagha disamping memberikan dampak negatif kepada pelakunya, pula berdampak sosial. Kelemahan apapun tidak dapat menghalangi seseorang untuk membangun sinergi kepada yang lain, kecuali kelemahan thagha.
8 Indikator Keikhlasan
Ada beberapa indikator perilaku tagha itu nampak pada pelakunya dan bagaimana ia menyikapi dan menempatkan dirinya dan pandangannya ia dalam menyikapi dan menempatkan orang lain. Diantara beberapa indikator yang dijadikan standarisasi bahwa seseorang itu terbebas dari penyakit thagha.
Pertama : Khawatir terhadap popularitas dan keharuman nama pada dirinya dan agamanya, terutama jika ia termasuk orang yang berpotensi. Ia meyakini sepenuh hati bahwa Allah Subhanahu Wata’ala menerima amal berdasarkan niat (motivasi intrinstik)  yang tersimpan di dalam batin,  tidak dengan penampilan dan asesoris lahiriyah. Ia juga meyakini sekalipun ketenaran namanya telah tersebar ke seluruh penjuru, namun tidak seorangpun yang bisa dijamin dapat membebaskan dan menebusnya serta menyelamatkannya dari siksa neraka.
Fenomena inilah yang menyebabkan ulama salaf dan orang-orang shalih sebelum kita takut terhadap fitnah ketenaran, tipuan pangkat, keharuman nama, dan mereka juga memperingatkan kepada murid-muridnya dari hal-hal tersebut. Imam Al-Ghazali telah meriwayatkan beberapa kisah tentang hal ini.
Ibrahim bin Adham (seorang putra mahkota yang lebih memilih tinggal di pondok pesantren), berkata, “Tidak akan jujur kepada Allah Subhanahu Wata’ala orang yang mencintai ketenaran.”
Sulaim bin Hanzhalah berkata, “Saat kami berjalan di belakang Ubai bin Kaab ra tiba-tiba Umar ra melihatnya, lantas Umar mengangkat cemeti yang diarahkan kepadanya. Maka Umar berkata, Wahai Amirul Mukminin, apa yang hendak kamu lakukan? Umar ra menjawab: Ini merupakan kehinaan bagi yang mengikuti dan yang diikuti.”
Kisah tersebut menggambarkan ketajaman pandangan Umar bin Khathab tentang suatu fenomena yang awalnya terlihat sederhana, namun dapat mengakibatkan terjadinya hal serius dan berdampak krusial dalam diri orang-orang yang mengikuti dan dalam diri para pemimpin yang diikuti.


Al Hasan meriwayatkan bahwa pada suatu hari Ibnu Masud keluar dari rumahnya, lantas beberapa orang berjalan di belakangnya (mengikutinya). Maka ia menoleh kepada mereka seraya berkata: Kenapa kalian mengikutiku? Demi Allah, andai kalian mengetahui apa yang kurahasiakan, tentu tiada dua orang pun dari kaian yang mau mengikutiku.
Al Hasan berkata, “Sesungguhnya suara sandal di sekitar orang dapat menggoyahkan hati orang yang bodoh.” Pada suatu hari Al Hasan keluar dari rumah, lantas diikuti oleh banyak orang. Maka ia berkata kepada mereka,”Apakah kalian mempunyai suatu keperluan? Bila tidak ada keperluan maka bukankah hal ini dapat menjadikan hati orang beriman berbelok dari arah yang lurus?”
Abu Ayyub As-Sikhtiyani keluar untuk melakukan sebuah perjalanan, lalu beberapa orang mengikuti dari belakangnya. Maka ia berkata, ”Andai aku tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui hatiku membenci hal ini, tentu aku takut kemurkaan Allah Subhanahu Wata’ala.”
Ibnu Masud berkata, ”Jadilah kalian sebagai sumber mata air ilmu, lampu-lampu (cahaya) petunjuk, yang menetap di rumah-rumah, pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, dan yang kusut pakaiannya. (Jadilah kalian) orang yang dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi.”
Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, ”Bila kamu mampu menjadi orang yang tidak di kenal, maka lakukanlah. Sebab apa kerugianmu bila kamu tidak dikenal? Apa kerugianmu bila tidak dipuji? Dan apa kerugianmu bila kamu menjadi orang yang tercela di hadapan manusia, tetapi terpuji di hadapan Allah?”
Riwayat-riwayat di atas jangan dipahami secara sempit dan sepotong-sepotong. Bukan dipahami sebagai seruan untuk ‘uzlah (mengisolir diri), sebab orang-orang yang meriwayatkan kisah-kisah di atas adalah tokoh-tokoh dai yang  terjun di lapangan kehidupan, bergaul dengan masyarakat, para pemandu kebaikan yang memiliki pengaruh yang signifikan dalam memberikan arahan dan bimbingan di tengah-tengah masyarakat.
Akan tetapi secara keseluruhan harus dipahami sebagai kewaspadaan, terhadap syahwat jiwa yang tersembunyi, dan kehati-hatian terhadap pntu-pintu dan jendela-jendela yang dapat dilalui setan menembus hati nurani.
Pada prinsipnya popularitas itu bukan suatu hal yang tercela, sebab tiada yang lebih terkenal melebihi dari para Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Karena itu, ketenaran yang tidak dipaksakan (tidak disengaja) dan bukan didasari oleh ambisi, tidak dipandang sebagai suatu cacat.
Imam Al Ghazali pernah mengatakan, ”(Ketenaran itu) fitnah bagi orang-orang yang lemah (keimanan), dan tidak demikian bagi orang-orang yang kuat (keyakinannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala).
Kedua : Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah Subhanahu Wata’ala dan teledor dalam melakukan berbagai kewajiban. Hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (terpedaya) dan kekaguman terhadap diri sendiri, bahkan ia selalu takut jika kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan amal shalihnya tidak diterima oleh Allah.
Dahulu, sebagian orang shalih menangis pilu saat sedang sakit, lalu sebagian orang menjenguknya dan bertanya, “Mengapa engkau menangis? Padahal engkau ahli puasa dan shalat malam, engkau telah berjihad, bersedekah, berhaji, mengajarkan ilmu, dan berdzikir. Ia menjawab: Siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua memperberat timbangan amal baikku, dan siapa yang menjamin bahwa amalku di terima di sisi Tuhanku ?. Sedangkan Allah SWT berfirman :
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil : "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Maidah (5) : 27).
At Tirmidzi meriwayatkan bahwa Aisyah ra berkata; “Saya bertanya kepada Rasulullah tentang ayat :
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mukminun (23) : 60)
Maksudnya : karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima tuhan.
Aisyah berkata : Apakah mereka itu orang yang meminum khamar dan mencuri ?. Rasulullah SAW menjawab : Tidak, wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah. Tetapi, mereka takut kalau amal mereka tidak diterima (oleh Allah SWT). Mereka inilah orang-orang yang bersegera menuju kepada berbagai kebajikan.
Ketiga : Orang yang tulus lebih mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang diliputi oleh hiruk-pikuk publikasi dan gaung ketenaran.
Ia lebih mengutamakan menjadi seperti akar pohon dalam suatu jamaah, akar itulah yang menjadikan pohon tegak dan hidup, akan tetapi ia tersembunyi di dalam tanah, tidak terlihat oleh mata manusia. Ia ingin seperti binatang penyu. Jika ia bertelur di tempat yang sepi, dapat menghasilkan 500-3000 buah.
Dari Umar bin Khathab ra pada suatu hari ia keluar menuju masjid Rasulullah tiba-tiba ia menjumpai Mu’adz bin Jabal ra yang sedang duduk dan menangis di dekat makam Nabi. Maka Umar bertanya kepadanya; “Apa yang menyebabkanmu menangis? Mu’adz menjawab: Saya menangis karena (ingat) sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah. Saya mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya riya’ (beramal karena mencari pujian manusia) yang sangat kecil itu termasuk  kemusyrikan. Dan sesungguhnya barangsiapa yang memusuhi wali Allah, maka berarti menantang perang dengan Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang baik, yang bertakwa, dan tersembunyi.  Yaitu orang-orang yang bila tidak ada, tidak dicari, dan bila sedang hadir tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati mereka adalah lampu-lampu (cahaya) penerang. Mereka keluar dari malam yang gelap gulita.” (HR. Ibnu Majah).
Keempat: Amalnya ketika memimpin dan saat menjadi anggota  tidak berbeda, selama keduanya masih dalam rangka memberikan pelayanan pada gerakan dakwah. Hatinya tidak dirasuki suka tampil, selalu ingin di depan, selalu ingin number one, dan ambisi kepemimpinan, bahkan orang yang hatinya bersih lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak ambisius terhadap jabatan untuk dirinya, tetapi jika diberi amanah, ia menerimanya dengan penuh tanggung jawab dan memohon pertolongan kepada Allah.
Kelima: Tidak menggubris keridhaan manusia, bila dibalik itu terdapat kemurkaan Allah. Sebab tabiat manusia berbeda-beda. Demikian pula cara berpikirnya, kecenderungannya, dan tujuan-tujuannya.Upaya mencari keridhaan mereka adalah batas yang mustahil dapat dicapai. Orang yang ikhlas tidak disibukkan oleh hal-hal yang sepele itu. Ia tenang, kontak batin dengan Allah. Seperti ahli syair yang mengungkapkan kecintaannya kepada Allah.
Dengan-MU ada kelezatan meski hidup terasa pahit
Kuharapkan ridha-MU meski seluruh manusia marah
Kuharapkan hubunganku dengan-MU tetap harmonis
Meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan
Bila cinta-MU kudapatkan, semua akan terasa ringan
Sebab, semua yang diatas tanah adalah tanah belaka.
Keenam: Kemurkaan dan keridhaannya, keengganan dan kesukaannya untuk memberi didasari karena Allah dan dalam timbangan agama. Bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Orang ikhlas tidak seperti orang munafik yang hanya meraih kepentingan pribadi.
Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At Taubah (9) : 58).
Kita dapat melihat orang yang berguguran di medan perjuangan karena memknai berjuang (mencari baju dan uang), atau dicela oleh saudaranya, teman dekatnya dan kerabatnya. Atau mendengarkan kata-kata yang melukai dan menyakiti perasaannya.
Keikhlasan niat menjadikan seseorang tetap teguh, konsisten, komitmen di jalan perjuangan, sekalipun parah kerusakan yang ada di dalam barisan dakwah,   karena ia beramal hanya untuk Allah SWT. Bukan untuk kepentingan dirinya dan orang-orang terdekatnya. Dakwah adalah milik Allah SWT bukan milik seseorang. Maka orang yang ikhlas tidak meninggalkan perjuangan hanya karena sikap seseorang.
Ketujuh : Orang yang ikhlas tidak stagnan, jenuh, malas, berputus asa, karena panjangnya jalan yang akan dilalui, lamanya waktu memanen buah amal, tertundanya keberhasilan, banyaknya cita rasa dan kecenderungan. Sebab, ia beramal bukan semata-mata mencari kesuksesan, atau kemenangan. Akan tetapi ia beramal untuk mencari ridha Allah. Dan menjalankan perintah-Nya.
Pada suatu hari nanti, Allah tidak akan menanyakan kepada manusia, Mengapa kalian tidak memperoleh kemenangan ? Akan tetapi Allah akan bertanya, Mengapa kalian tidak berjihad? Allah SWT tidak menanyakan, Mengapa kalian tidak sukses? Tetapi, Ia bertanya, Mengapa kalian tidak beramal?
Kedelapan : Bergembira dengan munculnya orang-orang yang berprestasi di dalam barisan dakwah, yang dapat mengibarkan bendera jihad serta berpartisipasi di dalamnya. Ia memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada setiap orang yang berbakat untuk menggantikan posisinya, tanpa sedikitpun menghalang-halangi, tanpa ada rasa keberatan, kedengkian. Bahkan orang yang ikhlas akan legowo (ridha) meninggalkan posisinya, bila ada orang lain yang lebih baik dan lebih kompeten untuk kedudukannya itu. Ia mempersilahkan orang tersebut maju, dan ia akan mundur dengan senang hati.*

JENDELA KELUARGA


Muliakan Istrimu agar Engkau Dimuliakan!


Saling menjaga dan memuliakan pasangan, adalah kuunci utama keutuhan rumah-tangga
null
Suami istri harus berlomba memperbaiki akhlak dan selalu berkata baik terhadap pasangan
PERCERAIAN di negeri ini kecenderungannya masih meningkat. Data perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) tahun 2012 mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. Data Badilag,  tingkat perceraian sejak 2005 terus meningkat di atas 10 persen setiap tahunnya. (Republika online, Selasa 24/1/2012).
Data tersebut hanya sampel sederhana dari data seluruh negeri. Tetapi, hal itu sudah cukup untuk menjadi warning, pelajaran, dan pengalaman bagi keluarga Indonesia untuk membina keutuhan rumah tangga. Sebab hakikat dasar perceraian bukan semata-mata ekonomi. Terbukti, kalangan menengah ke atas juga tidak ada yang selamat dari badai perceraian ini.
Apalagi, di kalangan selebriti. Perceraian seolah menjadi bagian dari gaya hidup.
Dalam beberapa kasus, faktor utama yang melatarbelakangi kasus perceraian selain ekonomi adalah  rendahnya komitmen untuk membina rumah tangga sebagaimana diajarkan Baginda Nabi.
Padahal, perceraian adalah perkara halal namun sangat dibenci oleh-Nya.
Sempurnakan Akhlak
Di tahun-tahun belakangan ini, kasus perceraian pasangan di Indonesia  ternyata lebih banyak diajukan atas inisiatif sang istri dibandingkan oleh suami. Hal ini terlihat dari data 346.446 pasangan yang bercerai di sepanjang 2012 yang diambil dari pengadilan agama di seluruh Indonesia.
"Tahun 2012 pengadilan agama termasuk mahkamah syariah menangani perkara 476.961 kasus. Perkara ini naik 11,52 persen dari tahun sebelumnya yang menerima 363.041 perkara," demikian lansir Mahkamah Agung (MA) dalam siaran persnya. (Detiknews.com, Kamis, 14/3/2013).
Banyaknya angka perceraian akibat gugatan dari pihak istri sungguh mengherankan.  Dari bentuk sifat wanita yang lembut,  sangat kecil kemungkinan istri menggugat suami jika istri merasakan kelembutan dan keindahan akhlak suami.
Kecil kemungkinan sang istri menggungat sang suami, manakala suaminya orang tidak bermasalah. Oleh karena itu, banyak disebutkan dalam nash, tugas utama suami adalah menyempurnakan akhlaknya, terkhusus terhadap istri dan keluarga. Jika suami tidak bermasalah, kecil kemungkinan istri dan anak-anak mereka bermasalah.
Rasulullah pernah bersabda, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kaian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya." (HR. Tirmidzi).
Dengan demikian maka pencegahan terbaik dari terjadinya perceraian adalah dengan menyempurnakan akhlak. Suami dan istri hendaknya berlomba-lomba untuk kesempurnaan akhlak, sehingga akan tercipta suasa cinta penuh kebahagiaan. Misalnya, suami dan istri berlomba untuk selalu berkata benar, peduli dan peka terhadap pasangan.
Dengan cara seperti itu maka tidak akan ada ruang bagi egoisme, apalagi buruk sangka yang merupakan akar dari segala keburukan. Sebaliknya akan tercipta budaya saling jaga dan saling bela antara suami dan istri, sehingga benih cinta yang tertanam kuat pada saat ijab qabul akan semakin menghujam ke dalam hati seiring dengan perjalanan waktu hingga tiba saat perpisahan abadi yakni kematian.
Hal itulah yang terjadi pada rumah tangga Nabi bersama Siri Khadijah. Perbedaan dalam umur dan status tak membuat keduanya gagal membina keharmonisan rumah tangga.
Sebaliknya, justru kian harmonis, mesra dan membahagiakan. Rasul berkata, Khadijah adalah wanita terbaik. Ia mempercayai Nabi ketika orang mendustakanya. Ia membela Nabi ketika orang mencacinya.
Khadijah juga sangat mulia akhlaknya. Terhadap Nabi ia selalu hadir sebagai obat. Ia selalu mampu hadir menenangkan kegelisahan suami, bahkan meneuhkan keyakinan dan langkah-langkah suami. Khadijah selalu menyebut kebaikan-kebaikan suaminya kala bertatap muka. Maka, wajar jika Nabi tak pernah bisa lupa dengan Khadijah meskipun telah ada Aisyah. Mengapa, lebih karena akhlaknya.
Jika kesempurnaan akhlak keluarga Muslim negeri mewujud sedemikian rupa, tentu perceraian tidak akan terjadi seperti jamur di musim hujan. Ali adalah suami yang tidak memiliki kekayaan materi, malah sangat kekurangan. Tetapi Fatimah tak pernah menggugat suaminya apalagi untuk bercerai.
Demikian pula dengan Salman Al-Farisi. Beliau juga orang yang hidup sangat sederhana. Tetapi istrinya tidak pernah menggugat cerai. Mengapa, karena keduanya sebagai suami senantiasa menyempurnakan akhlaknya. Jadi, jelas tangkal segala keburujan dengan akhlak mulia. "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak," demikian ungkap Nabi.
Berkata Baik
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan, "Berkata baik atau diam." Hadits ini wajib diterapkan dalam kehidupan rumah tangga sebagai media awal selalu mampu berkata baik dalam pergaulan masyarakat.
Dalam hal memanggil nama saja Rasulullah selalu memanggil dengan sebutan Ya humairah (wahai yang kemerah-merahan pipinya, red). Berbeda dengan kebanyakan suami yang memanggil istrinya dengan sekedar menyebut nama pendeknya. Tetapi setidaknya, sebagai suami hendaknya kita tidak memanggil istri sendiri seperti teman-teman memanggilnya.
Dalam konteks lebih umum, suami-istri hendaknya membiasakan diri berkata baik. Misalnya selalu mengucapkan perkataan yang membahagiakan pasangan. Dan, jika memang benar-benar tidak suka, sebaiknya diam dan bersegera berkata baik pada hal lainnya.
Lebih dari itu suami istri wajib berkata baik kepada orang lain perihal pasangan sendiri. Tidak berkata buruk tentang pasangan kita kepada siapa pun. Karena selain akan merugikan pasangan sebenarnya hal semacam itu sama sekali tidak memberi manfaat apa pun. Kecuali kita bercerita untuk kepentingan membina keluarga menjadi lebih harmonis kepada orang yang ahli dalam soal keluarga.
Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh seseorang, "Apa hak istri salah seorang di antara kita?" Beliau menjawab, 'Wa la Tuqobbih (janganlah engkau menjelek-jelekkannya) (HR. Ahmad).
Allah berfirman
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS: Ali Imran: 59)
Artinya seorang istri tidak boleh dihina, dicaci, atau dikatakan kepadanya perkataan yang buruk. Termasuk dilarang berkata, 'Semoga Allah memburukkanmu'. Istri haruslah dimuliakan agar ia juga memuliakan kita.
Dengan demikian maka tidak pantas suami istri yang sudah saling percaya menerapkan perilaku buruk dalam berumah tangga. Sebaliknya, suami istri harus berlomba memperbaiki akhlak dan selalu berkata baik terhadap pasangan. Jika itu dapat direalisasikan, Insya Allah pertengkaran apalagi perceraian akan jauh dari tali pernikahan yang lama dibina dan didamba membahagiakan





Tumbuhkan Sifat Penyayang dan Kehangatan Cinta ala Rasulullah



Jika suami memegang telapak tangan istrinya, maka dosa keduanya berjatuh dari sela-sela jari mereka berdua
null
www.dailymail.co.uk
Betapa indah Islam mengajarkan kemesraan suami istri demi keberkahan dan kebahagiaan rumah tangga
USIA pernikahan boleh bertambah tua, tapi kehangatan cinta tak boleh pudar selamanya. Kehangatan cinta harus senantiasa terpelihara demi keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga hingga masuk surga.
Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, kadangkala pasangan rumah tangga kurang peka terhadap persoalan cinta. Padahal, Rasulullah adalah sosok suami yang pandai memelihara kehangatan cinta.
Suami mungkin memang bergerak dalam wilayah yang cukup serius, menyita pikiran, tenaga, waktu dan mungkin juga menguras emosi.
Tetapi, bagaimana pun, kehangatan cinta terhadap istri di rumah tidak boleh terganggu oleh masalah apa pun. Suami harus bisa menjadikan suasana cinta dalam rumah tangga tetap seperti hari pertama pernikahan, yang penuh gelora dan asa.
Rasulullah adalah sosok yang sangat mengerti masalah ini. Beliau tidak segan-segan meminta sang istri untuk menyelimuti dirinya kala dalam kegelisahan dan keguncangan jiwa. Bahkan, beliau rela meluangkan waktu untuk bermain dengan istrinya. Aisyah pernah diajak Nabi lomba lari dan melihat-lihat pertunjukan permainan pedang.
Pun demikian dengan pihak istri. ‘Agresivitas  istri dalam memelihara kehangatan cinta sungguh sangat diperlukan sebagai pemicu sekaligus pemacu rasa cinta dari sang suami, sehingga tercipta ketentraman dalam berumah tangga. Dalam konteks wanita telah menjadi istri, agresivitas dalam urusan cinta sangat dianjurkan.
Kadangkala, istri juga tidak terkira lelahnya mengurus rumah tangga, belum lagi mereka yang ikut membantu mencarimaisyah untuk keluarga. Rasa lelah kadang kala membuat diri abai dari melayani suami secara semestinya. Meskipun begitu, tetaplah suatu kewajiban pihak istri melayani sang suami dengan penuh cinta dan kasih sayang, sehingga akan tercipta sinergisitas cinta dalam rumah tangga.
Hal tersebut mesti diupayakan oleh kedua belah pihak. Karena hakikat diciptakannya lelaki dan wanita yang kemudian disatukan dalam bingkai pernikahan adalah untuk terciptanya rasa tentram antara suami dan istri, sehingga tugas kepemimpinan dan kehambaan dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Rum [30]: 21).
Sebagian mufassir mengatakan bahwa disebutkan lafadz litaskunu ilaiha bukan ma’aha menunjukkan bahwa seorang suami tidak tenang kecuali kepada istrinya. Begitu pula sebaliknya, istri pun tidak tenang, tidak tentram, kecuali bersama suaminya. Berarti, ada interaksi saling membutuhkan.
Artinya harus ada rasa saling memahami, peduli dan melindungi. Suami benar-benar menjaga dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Sementara istri tidak menuntut diluar batas kemampuan sang suami. Sebab perilaku tersebut, selain akan mengganggu kehangatan cinta juga akan berdampak serius di akhirat kelak.
Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah. Karena diperlihatkan kepadaku bahwa kalangan wanita itulah penduduk neraka yang paling banyak.” Mereka (para wanita itu) berkata, “Dengan sebab apakah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami.” (HR. Bukhari).
Para Suami, Bersabarlah!
Sementara itu, terhadap pihak suami, Allah memerintahkan untuk bersabar, manakala menjumpai hal-hal atau sifat dari istri yang kurang mengenakkan hati. Hal tersebut sudah menjadi bagian dari tabiat sebagian besar wanita. Jadi sabar dan berlapang dada solusinya.
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً
“..dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Nisa: 19).
Dengan membangun sikap seperti itu, Insya Allah kehangatan cinta akan selalu terjaga dan kian membara, sehingga tidak ada peluang setan untuk memalingkan cinta pada apa yang sebenarnya hanya berupa fatamorgana belaka. Sungguh, jika nikmat pernikahan bisa dipahami secara benar segala macam keutamannya, maka sungguh tidak akan ada yang namanya perselingkuhan.
Bersama Bangun Kemesraan
Dalam logika materialisme, sesuatu yang telah lama dimiliki pasti tidak memberikan daya tarik dan daya tahan secara maksimal. Umumnya hati semakin biasa dan pada akhirnya akan jemu. Tetapi, dalam urusan cinta, Islam tidak mengenal logika dangkal semacam itu.
Semakin panjang usia pernikahan pasangan, maka semakin besar dan indah perjalanan cintanya. Hal itulah yang dialami oleh Rasulullah bersama Khadijah. Bagaimana rasa cintanya tak bisa dipadamkan hanya karena ajal yang memisahkannya.
Rasulullah benar-benar tidak bisa melupakan kemesraan, kebaikan, kemuliaan bahkan kesantunan sang istri kepadanya. Sampai-sampai, para istri Nabi cemburu dibuatnya.
Begitulah semestinya setiap pasangan Muslim menjalani kehidupan rumah tangganya. Fisik boleh tak sekencang usia muda, wajah tak secantik awal berjumpa, tetapi hati semakin bening, jernih dan indah seiring bertambanhya usia.
Apalagi, setiap kemesraan dalam Islam mendatangkan keuntungan dan penghapusan dosa. Dengan kata lain, tidak ada alasan untuk tidak bermesraan dengan pasangan.
Rasulullah bersabda, “Dari Abu Sa'id Al Khudry ra, "Sesungguhnya jika seorang lelaki memandang istrinya dan istri memandangnya, maka Allah memandang keduanya dengan pandangan rahmat. Jika dia memegang telapak tangan istrinya, maka dosa keduanya berjatuh dari sela-sela jari mereka berdua.”
Duhai, betapa indahnya ajaran Islam mengatur kehidupan rumah tangga. Lantas, masihkah ada rasa tidak tertarik untuk bersungguh-sungguh menghapus dosa dengan amalan yang sungguh menenangkan jiwa dan raga tersebut? Bayangkan, semakin mesra semakin besar pahala.
Sayang dan Taatlah pada Suami
Kemesraan pasangan akan semakin baik manakala pihak istri memiliki keimanan dan kecerdasan dalam menjaga kehangatan cinta bersama suami, salah satunya adalah dengan mentaati suaminya.
Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah bersabda, “Apabila seorang wanita melakukan sholat yang lima waktu, memlihara kemaluan, dan menaati suami, niscaya diaa akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia sukai.” (HR. Ibn Hibban).
Mungkin, taat pada suami dalam kondisi normal tidak begitu sulit. Bagaimana jika ada masalah atau suami sedang marah dengan istri?
Ini jawabannya, Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang wanita penghuni surga?” Kami menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Setiap wanita yang penyayang dan banyak anak, bila dipancing kemarahannya, dicurangi, atau dimarahi oleh suaminya, dia berkata, “Ini tanganku (silakan pukul) dan aku akan mematuhimu, aku tidak akan memejamkan mata hingga kamu rela padaku.” (HR. Thabrani).
Sungguh, betapa indah Islam mengajarkan kemesraan suami istri demi keberkahan dan kebahagiaan rumah tangga. Suami mana yang akan marah pada istri yang Rasulullah sebutkan sebagai wanita penghuni surga itu? Yang ada adalah, suami akan semakin cinta, sayang dan mesra bersama istrinya. Tidakkah kita mendambakan ini semua?







Ajarkan Anak-anak Kita seperti Kisah Lukman al Hakim


Mantapkan aqidah, tanamkan rasa hormat kepada orangtua, ajarkan ahklak dan tingkah laku yang baik, kemudian ajarkan anak-anak tatanan hidup yang sesuai dengan Islam
null
Ajarkan anak-anak kita lebih dini mengenal tauhid
Oleh: Abdul Hamid M Djamil
KEMEROSOTAN ahklak nampaknya semakin merajarela dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim hari ini, terutama di kalangan remaja. Pada mulanya kemerosotan ahklak ini hanya terjadi pada remaja-remaja yang tidak tersentuh dengan dunia pendidikan. Pada tahun  berikutnya dekandensi ahklak sudah merasuki remaja-remaja terpelajar.
Hal ini bisa dilihat dari pergaulan mereka sehari-hari. Mulai dari pergaulan bebas, mabuk-mabukan, berjudi, berzina, berpacaran, dan lain sebagainya. Kemorosotan ahklak kaum remaja semakin terlihat dengan banyaknya media-media yang mengekspos berbagai kasus negatif yang mereka lakukan.
Umumnya perbuatan buruk seseorang malu mengulangi. Dalam hal ini, seharusnya para remaja malu dengan kasus-kasus yang terkuak ke mata publik. Sekaligus timbul rasa penyesalan dan bercita-cita untuk tidak mengulangi lagi.
Tapi realitanya dengan benyaknya kasus yang terungkap, semakin semangat para remaja untuk melakukan hal-hal kejahatan. Naas!
Akibatnya sudah banyak dari remaja-remaja terpelajar yang kehilangan jati dirinya sebagai orang terdidik yang seharusnya berahklak terpuji.  Padahal ahklak inilah yang menjadi pembeda antara remaja terpelajar dengan remaja liar (baca: tidak terdidik).
Setelah terungkap kasus-kasus yang mereka lakukan, beragam kutukan pun dilemparkan atas mereka oleh berbagai pihak. Hal ini dilakukan untuk memberi arahan yang bahwa perbuatan itu tidak baik, bertentangan dengan norma agama dan sosial masyarakat. Sangat disayangkan pada hari berikutnya mereka kembali melakukan kejahatan yang sama.
Sebagai remaja terpelajar tentu bisa membedakan antara kejahatan dengan kebaikan. Sesudah melakukan kejahatan dan mendapat beragam kutukan, mereka pasti tidak akan melakukannya lagi. Mereka pasti merasa malu ketika kasus-kasus negatif terpampang ke mata publik. Namun kebanyakan remaja sekarang sama sekali tidak sadar.
Kelakuan mereka yang tak kunjung sadar itu terkadang menimbulkan beragam pertanyaan. Apakah remaja-remaja seperti itu hanya hadir sekolah untuk mengisi absensi kehadiran saja? Atau sekedar menampakan diri mereka ke mata masyarakat bahwa mereka pelajar? Ternyata tidak, kebanyakan dari mereka orang serius dalam belajar dan aktif dalam organisasi.
Sebagian orang menganggap kelakuan bejat mereka lahir dari diri mereka sendiri. Padahal jika diteliti ahklak remaja semacam ini terindikasi oleh pendidikan balianya. Karena pendidikan yang diberikan sejak kecil akan berpengaruh besar dalam pembentukan remaja seseorang.
Buruknya ahklak remaja sekarang berefek dari didikan balinya. Karena orangtua sekarang lebih memilih untuk memberikan pendidikan umum kepada anak-anaknya ketimbang pendidikan agama.
Yang kita saksikan, sejak lahir,  ilmu pertama kali yang terima anak-anak di lingkungan kita adalah cara main gadget. HP, laptop, main game, lalu cara berhitung, berbahasa Inggris, dan lain sebagainya. Karenanya jangan heran, saat ini anak-anak balita begitu lihat memainkan alat-alat komunikasi ini.
Apakah ini terlarang? Tentu tidak itu masalahnya.
Cara mendidik para orangtua zaman sekarang ini tidak seperti para orangtua zaman dahulu, di mana ketika anak lahir, sudah jauh hari ia dikenalkan dengan hakekat Tuhannya.
Para orangtua mengenalkan mereka agama dengan harapankelak akan membuatnya tidak salah arah.
Bedanya, kebanyakan orangtua zaman sekarang dalam mendidik anak sudah meniru cara Barat. Sehingga tidak heran jika pada saat remaja, anak-anak mereka berkelakuan seperti remaja-remaja Barat.
Sebagai ummat Islam pendidikan pertama yang harus diberikan kepada anak-anaknya adalah mengenalkan Allah سبحانه و تعالى  (Ilmu Tauhid). Ketika si anak sudah mengenal Allah, para orangtua yang bijak biasanya akan mengajarkan mereka cara-cara beribadat yang benar (Ilmu Fiqih). Selanjutnya diajarkan cara menjaga ibadat tersebut agar tidak sirna (Tasauf).
Jika ketiga pendidikan ini sudah ada pada diri si anak, ketika beranjak masa remaja anak-anak kita akan menjadi pribadi yang kuat. Baik baik budi pekertinya, lembut tutur katanya. Karena ketiga pendidikan di atas sudah merepresentasi bagaimana cara berintereaksi dengan Allah سبحانه و تعالى dan cara berintereaksi dengan manusia.
Pendidikan anak cara al-Quran
Dalam al-Qur’an sudah tertera cara mendidik anak serta ilmu apa pertama kali yang harus ditanamkan oleh orangtua. Banyak kisah-kisah para pendahulu kita yang sukses mendidik anak dengan metode Alquran. Sebut saja Lukmanul Hakim. Lalu pelajaran apa saja yang beliau berikan kepada anaknya?
Pertama, persoalan aqidah. Sebagaimana firman Allah," Wahai anak ku jangan sekali-kali engkau sekutukan Allah" (QS: Al-Lukman:13).
Kedua, rasa hormat kepada orangtua. Sebagai mana firman Allah;
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
" Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapakya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada ku dan ke dua ibu bapak mu, hanya kepada ku lah kembalimu." (QS: Al-Lukman: 14).
Ketiga, pendidikan moral.
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِي
" Wahai anakku bila ada kebaikan yang kamu kerjakan, kecil (tidak nampak oleh pandangan mata yang zahir), yang kecil itu tersembunyi dipuncak langit, di dasar bumi yang paling dalam atau di tengah-tengah batu hitam sekalipun, Allah pasti akan mengetahuinya dan pasti akan memberikan balasan yang sedail-adilnya" (QS: Al-Lukman: 16).
Keempat, tatanan hidup si anak
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
"Wahai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah" (QS: Al-Lukman: 17).
Inilah dasar-dasar agama dalam mendidik anak yang harus diaplikasikan oleh setiap orangtua sebelum memberikan berbagai disiplin ilmu lainnya. Mantapkan aqidah, tanamkan rasa hormat kepada orangtua, ajarkan ahklak dan tingkah laku yang baik, kemudian berikan tatanan hidup yang sesuai dengan Islam.
Kalau metode pendidikan Lukmanul Hakim sudah menjadi prioritas orang-orangtua sekarang dalam mendidik anak, insya Allah anak-anak kita nantinya akan tumbuh sebagai remaja yang taat kepada Allah, patuh kepada orangtua, dan jauh dari tingkah laku yang tercela. Kita lihat saja.