Selasa, 06 Agustus 2013

GAYA HIDUP

Maksimalkan Pendidikan Shalat Anakmu! 

 

 

Orangtua mesti sering dan banyak memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar anak-anaknya menjadi penegak-penegak shalat
Oleh: Abdullah al-Mustofa
“NANTI kan shalat sendiri kalau sudah baligh, bu, ” jawab seorang ibu muda – sebut saja namanya Faizah - yang berprofesi sebagai seorang guru di Sekolah Dasar (SD) menjawab orangtuanya yang menasehati agar Faizah menyuruh dua anaknya yang berusia tujuh dan sepuluh tahun untuk segera melaksanakan shalat saat terdengar adzan Maghrib.
Setiap hari ketika dikumandangkan adzan Maghrib dan Isya’ anak-anaknya tetap asyik menatap layar TV dan atau menatap layar laptop untuk bermain game. TV tidak dimatikan, bahkan suaranya nyaring bersaing dengan suara adzan dari musholla yang letaknya berdekatan dengan rumah mereka. Faizah tidak menyuruh mereka untuk sekadar mengecilkan suara TV apalagi mematikan TV dan atau Laptop. Dia juga tidak melakukannya sendiri. Lebih dari itu, dia tidak menyuruh mereka shalat.
Faizah sendiri melakukan shalat, tapi lebih sering menunda-nunda hingga hampir habis waktunya. Selain karena tidur, juga karena asyik menonton acara-acara TV kesukaannya. Tak ketinggalan juga karena asyik bermain Facebook.
Suaminya, yang mengaku sebagai guru juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan istrinya terhadap anak-anak mereka. Lebih dari itu, setiap shalat lima waktu berjamaah di musholla dia pergi sendiri tidak mengajak anak-anaknya ikut.
Kadang ketika telah adzan Maghrib dan Isya’ dia menyuruh anak-anaknya mematikan TV dan segera shalat. Bahkan mengajak anak-anaknya shalat berjamaah bersamanya di rumah. Tapi mereka tidak segera melaksanakannya perintah.
Setiap waktu Subuh dia dan suaminya seringkali tidak membangunkan anak-anaknya untuk shalat. Lebih-lebih di hari libur, anak-anaknya seharian berada di rumah untuk bercengkrama dengan acara TV sampai lupa shalat. Kegiatan ini berlangsung hingga bertahun-tahun hingga anak sulungnya mencapai umur baligh dan duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah.
Sekadar Memberi Teladan Tidaklah Cukup
Kedua orangtua dari anak-anak di atas telah memberi teladan dengan melaksanakan shalat terlebih dahulu. Namun memberi teladan tidaklah cukup, tapi juga harus diiringi dengan kata-kata verbal berupa perintah sejak anak berumur tujuh tahun, juga hukuman fisik sesuai dengan aturan menghukum anak yang diajarkan Nabi saw jika anak telah berumur sepuluh tahun dan tidak melaksanakan shalat.
Anak juga manusia yang cenderung lebih tertarik, mudah dan senang melakukan aktivitas-aktivitas yang memuaskan kesenangan duniawi daripada kesenangan ukhrawi. Untuk melakukan aktivitas kesenangan duniawi, tanpa didorong, disuruh dan dipaksa, siapapun mau, mampu, ringan dan senang melakukan. Sedangkan untuk melakukan aktivitas kesenangan ukhrowi siapapun termasuk anak cenderung berat dan malas.
Apalagi keadaan zaman modern sekarang ini yang tersedia begitu banyak jumlah dan jenis sarana pemuas kesenangan duniawi seperti TV dengan segala programnya, serta handphone, komputer, dan internet dengan segala kontennya yang menggoda siapapun apalagi anak sehingga lupa pada kewajiban-kewajibannya termasuk kewajiban agama seperti shalat. Oleh karena itu, agar anak mau dan terbiasa melakukan shalat anak perlu diperintah. Jika tidak diperintah alias dibiarkan atau diberi kebebasan dan pilihan, anak cenderung menuruti kehendak hatinya atau memilih melakukan kegiatan yang diinginkannya atau yang disenanginya.
“Suruhlah anak untuk shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya.” (HR. Abu Dawud)
Demikian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam menyuruh anak shalat harus sudah dilakukan orangtua ketika anak mencapai umur tujuh tahun.
Menyuruh anak shalat tidak berhenti ketika anak memasuki umur delapan tahun. Pada prakteknya, meskipun hampir atau bahkan telah baligh bisa saja anak tetap harus disuruh shalat. Perbedaannya, jika telah mencapai umur sepuluh tahun dan tidak mau melaksanakan shalat, orangtua boleh menghukumnya
Hadits tersebut bisa menjadi pembenar bagi orangtua untuk memukul anak-anaknya yang telah berusia sepuluh tahun jika tidak melaksanakan shalat.
Tapi apakah memang dibenarkan dan diperbolehkan bagi orangtua untuk memukul anak jika tidak melaksanakan shalat? Memukul anak dalam pengertian ini pasti berbeda dengan memukulnya dua orang dewasa dalam sebuah perkelahian. Lebih tepatnya “memukul” di sini dimaksukkan sebagai sarana pendidikan dan shock terapy.
Meskipun menurut Islam orangtua diperbolehkan menghukum anaknya yang sudah berusia sepuluh tahun yang tidak melaksanakan shalat tapi pada zaman ini tidak setiap orangtua Muslim melaksanakannya.
Memberi Teladan dan Melatih Anak Sabar Mendirikan Shalat
Menyuruh anak sebagai anggota keluarga untuk melaksanakan shalat merupakan kewajiban bagi orangtua terutama ayah. Perintah Allah kepada orangtua untuk memerintah anaknya malaksanakan shalat tidaklah mudah, sederhana, sekadar memerintah dan membutuhkan waktu yang pendek. Di dalamnya tersirat banyak perintah lainnya yang berkaitan dengan proses pendidikan anak yang tidak sepi dari rintangan dan tantangan, serta membutuhkan waktu yang panjang.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaahaa [20]:132)
Melalui ayat tersebut di atas, Allah selain memberi perintah kepada orangtua terutama ayah sebagai pemimpin rumah tangga untuk menyuruh anak-anaknya sebagai anggota keluarganya untuk mendirikan shalat, juga memerintah mereka berdua untuk bersabar dalam mendirikannya. Dengan menjalankan perintah bersabar mendirikan shalat, orangtua terutama ayah berarti telah memberi teladan kepada anak-anaknya. Keteladanan adalah faktor utama dan pertama penentu keberhasilan pendidikan. Dengan demikian tidaklah mengherankan, orangtua yang sabar mendirikan shalat mempunyai peluang lebih besar memiliki anak-anak yang sabar mendirikan shalat dibandingkan orangtua yang tidak sabar mendirikan shalat.
Menjadi tanggung jawab orangtua terutama ayah tidak cukup mencetak anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi penegak shalat, namun juga mencetak mereka menjadi pribadi-pribadi yang memiliki sifat sabar dalam mendirikan shalat dan sabar meninggalkan aktivitas dan urusan lain untuk mengutamakan shalat. Untuk itu memberi nasehat, pengetahuan, keteladanan, pelatihan dan pengalaman adalah langkah-langkah yang tidak boleh diabaikan orangtua.
Melakukan semua proses pendidikan shalat pada anak seperti yang telah disebutkan di atas merupakan upaya yang bisa dilakukan orangtua sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan dan kelemahan, serta tidak mempunyai daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah Subhanahu Wata'ala. Allah Maha Segalanya. Oleh karena itu orangtua mesti sering dan banyak memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar anak-anaknya menjadi penegak-penegak shalat yang sabar dalam mendirikannya dan dalam mengutamakan shalat daripada aktivitas lainnya.*





Sesungguhnya, Ilmu Agama Sangat Dibutuhkan Para Orangtua 

 

 

Fakhrudin Al-Razi, beliau dikenal pakar matematika, sastra, dan filsafat, tapi juga seorang penghafal Al-Qur’an, bagaimana dengan anak kita?
ORANGTUA mana yang tidak sedih, melihat putri kesayangan yang dibesarkan dengan sekuat tenaga, dengan penuh perhatian, harus meregang nyawa dalam kondisi yang tidak terbayangkan setelah diperkosa beberapa pria. Tentu, ini musibah yang sangat memberatkan jiwa-raga. Semoga Allah memberikan ketabahan hati dan keteguhan jiwa kepada keluarga yang kehilangan. Demikian kisah memilukan seorang gadis 17 tahun yang dibakar hidup-hidup setelah diperkosa secara bergilir oleh beberapa pria baru-baru ini.
Kasus serupa juga dialami gadis 13 tahun di Lampung yang digilir tiga orang pria setelah sebelumnya dicekoki minuman keras dan akhirnya dibunuh. Kasus pemerkosaan disertai pembunuhan kini mulai ramai terjadi di negeri ini. Ironisnya, sebagian pelaku adalah kalangan pelajar.
Patut muncul sebuah pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa kejadian memilukan seperti ini kerap melanda?
Mungkin banyak aspek yang akan dikemukakan, tetapi kali ini mari kita melihat diri sendiri, melihat kebiasaan hari-hari, untuk kemudian kita ubah menjadi lebih baik sebagaimana tuntunan agama yang kita yakini.
Pendidikan Agama
Materialisme telah membutakan sebagian besar mata orangtua terhadap makna masa depan. Masa depan tereduksi hanya pada usia tua, padahal hidup di dunia ini hanyalah satu episode kehidupan untuk sampai pada kehidupan yang sesungguhnya yakni akhirat.
Akibatnya, banyak orangtua yang lupa akan pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak mereka yang sebenarnya adalah kunci kebahagiaan para orangtua sendiri, termasuk anak-anaknya. Kelupaan ini membuat benteng budaya yang sudah bagus secara norma sosial dan agama hancur berserakan.
Lihat saja, bagaimana orangtua tidak bereaksi apa-apa ketika anaknya tidak mendirikan sholat di rumahnya, menggunakan busana yang tidak semestinya bahkan ketika terang-terangan anak-anak mereka tidak menutup aurat. Bandingkan dengan reaksi para orangtua tatkala anaknya tidak mau masuk sekolah atau ketika nilai sekolah anaknya turun.
Padahal, Allah telah memberikan kode-kode penting terkait perlunya orangtua memberikan pendidikan agama kepada putra-putrinya. Sebagai contoh, Nabi Ya’kub, menjelang wafatnya, beliau kumpulkan seluruh keluarga dan anak-anaknya.
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. al-Baqarah [2]: 133).
Artinya, pendidikan aqidah yang harus diutamakan di atas segala macam jenis pendidikan. Kisah itu masih Allah lanjutkan dengan kisah betapa seriusnya hamba Allah yang bernama Luqman Al-Hakim dalam membina aqidah anaknya.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman [31]: 13).
Dengan pendidikan aqidah itulah anak akan tumbuh dengan iman yang kuat terhadap kebenaran syariat, sehingga mereka tumbuh menjadi Muslim yang kaffah. Ketika aqidah sudah kuat maka ilmu-ilmu yang lain akan semakin memperkokoh aqidahnya.
Lihat saja para ulama terdahulu, sebut saja misalnya Fakhrudin Al-Razi, beliau tidak saja hafal Al-Qur’an tetapi juga pakar matematika, sastra, dan filsafat. Jadi, jangan salah kaprah, seolah-olah pendidikan agama menghambat kemajuan anak dalam hal keduniawian. Justru pendidikan agama itulah yang akan mengantarkan anak-anak kita tumbuh menjadi manusia cerdas dan beradab.
Ajak Untuk Menegakkan Agama
Kebanyakan orangtua zaman sekarang memang tertinggal jauh dalam hal teknologi, utamanya peralatan dan wawasan dunia modern. Tetapi, orangtua tidak boleh inferior, kemudian membebaskan anaknya karena menganggap anaknya pasti benar dan mengerti. Tetap harus dipantau, diawasi dan dikontrol. Lebih dari itu, orangtua tetap harus superior dalam urusan-urusan agama.
Orangtua jangan malu, jangan ragu dan jangan tidak enak untuk bertanya kepada anak-anaknya apakah sudah sholat atau belum, sudah membaca al-Qur’an atau belum, termasuk menegur gaya berpakaian anak jika dianggap tidak sesuai aturan agama. Soal pakaian, orangtua harus ketat, karena dari pakaian inilah sebenarnya anak membentuk pola pikir, pola hidup dan akhirnya pola pergaulan. Tentu, semua itu dilakukan dengan cara yang tepat dan bijaksana.
Jika hal semacam ini dilakukan sejak kecil, insya Allah orangtua tidak akan terlalu sulit untuk mewujudkannya. Jika sudah remaja dan dewasa, memang agak sulit, tetapi tetap bisa diupayakan dengan keteladanan dan kesungguhan termasuk doa kepada Allah Ta’ala.
Cara sederhananya, mungkin orangtua perlu membuat acara keluarga yang melibatkan semua anak-anaknya dalam membaca al-Qur’an bersama, mendengarkan ceramah agama bersama, atau sesekali mengundang tetangga yang lebih paham soal agama untuk berbagi pengalaman di rumah bersama seluruh anggota keluarga.
Luqman Al-Hakim memberi pengajaran kepada anaknya;
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. 31: 17).
Didik Cara Bergaul
Berikutnya, yang tidak kalah penting adalah mendidik anak tentang cara bergaul, tepatnya sopan santun dan kepatutan. Orangtua harus selalu menanamkan etika dalam pergaulan, terutama dengan teman lawan jenisnya, sesuai dengan aturan syariat.
Misalnya, seorang anak gadis jangan sampai keluar rumah dalam keadaan tidak berjilbab, meskipun hanya akan menemui teman perempuannya, karena begitu keluar rumah jilbab itu wajib. Kemudian, jangan menemui teman lelaki seorang diri, apalagi sengaja berdua, dalam urusan apapun. Lebih dari itu, sebelum apapun, jangan pernah tidak minta izin orangtua.
Termasuk, pergaulan berkomunikasi dengan handphone, internet dan segala macam jenis komunikasi canggih lainnya. Seorang anak gadis tidak patut menerima panggilan telpon tengah malam, sembunyi-sembunyi, apalagi berkomunikasi secara rahasia dengan orang lain.
Karena selain akan mengganggu kesehatan badan, juga akan mengurangi konsentrasi terhadap pelajaran. Di samping itu, kalau ada apa-apa, keluarga akan menanggung akibatnya.
Langkah semacam ini memang harus dilakukan para orangtua, agar anak tidak lengah dari adab-adab pergaulan. Termasuk mendidik anak untuk bisa memilah dan memilih jenis hiburan yang tepat, sehingga anak juga akan memiliki filter dalam melihat perkembangan dunia hiburan yang umumnya mengedepankan fisik (aurat).
Jangan lupa, Berdoalah Selalu
Setelah segala upaya ikhtiar kita lakukan, langkah yang tidak kalah strategisnya adalah berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Para orangtua sangat baik jika bangun di tengah malam, lalu menumpahkan air mata kepada Allah agar berkenan menjadikan anak-anaknya tumbuh menjadi Muslim yang sholeh, sabar, dan takwa.
Langkah semacam ini telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim Alayhissalam. Di dalam Al-Qur’an Allah mengabarkan bahwa Nabi Ibrahim selalu berdoa untuk anak-anaknya. “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. 14: 40).
Akhir kata, orangtua sesungguhnya lebih memerlukan ilmu agama untuk masa depan anak-anaknya, dengan tetap mendorong mereka belajar ilmu keduniawian. Karena tanpa ilmu agama, bukan saja kesulitan dunia yang akan datang, kesulitan akhirat pun pasti akan terjadi. Oleh karena itu, selagi ada kesempatan, bersama keluarga, anak-anak, orangtua harus meningkatkan pendidikan agama.





Indahnya Berukhuwah dan Saling Menebar Salam 

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai.” [al Hadits]
KUALITAS pertemuan dalam kehidupan umat memiliki kekuatan tersendiri untuk membentengi persatuan dan keutuhan umat. Oleh karenanya, setiap pertemuan harus dilandasi ‘aroma’ persaudaraan dan keakraban yang berkualitas. Kehidupan umat yang baik, tercermin dari perilaku mereka yang salah satunya ketika bertemu mereka saling bertegur sapa. Dengan saling menyapa, dapat menjalin keakraban dan keharmonisan di antara umat yang memiliki beragam karakter.
Contohnya, Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan ragam budaya, suku dan agama para warga negaranya. Keharmonisan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus menjadi prioritas bersama. Apalagi penduduk Indonesia sebagian besar beragama Islam, agama yang sangat menjunjung nilai-nilai kebersamaan dalam berjamaah.
Sepatutnya, umat Islam di negeri ini menjadi pioner dalam gerakan menjaga ukhuwah umat demi keutuhan bangsa.
Islam telah menjadikan salam sebagai identitas kehidupan umat berjamaah, kapan dan di manapun mereka berada. Utuhnya persaudara umat Islam juga sangat bergantung pada eksistensi salam dalam kehidupannya yang harmonis. Komunikasi umat akan semakin berkualitas jika selalu diawali dan diakhiri dengan saling mengucapkan salam dengan tulus. Sementara, komunikasi adalah sarana utama dalam kehidupan umat Islam yang menjunjung nilai-nilai sosial dan imamah jamaah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam telah memberikan perhatian yang besar terhadap amalan salam, beliau memotivasi umatnya untuk senantiasa menanamkan dan mempraktekkan salam dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai umat Islam, tentu tidak ada ruginya jika kita mengucapkan salam ketika bertemu siapa saja. Karena doa dalam salam yang kita sampaikan kepada orang lain, secara tidak langsung juga memberi manfaat untuk diri kita sendiri.
Rasulullah juga tidak pernah segan untuk mengulangi salamnya beberapa kali ketika mendatangi umatnya, hal ini sebagai bukti betapa pentingnya salam. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa apabila Rasulullah mendatangi suatu kaum, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sebanyak tiga kali. (Riwayat Bukhari)
Demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam menegaskan kepada kita akan perlunya menyebarkan salam, terlebih-lebih bagi mereka yang kehidupannya menjadi sorotan umat di dunia ini. Teramat banyak publik figure saat ini yang mengabaikan salam ketika mereka bertemu orang lain apalagi orang miskin lagi papa. Mereka hanya menyampaikan salam jika memiliki maksud dan tujuan tertentu, itupun hanya pada kalangan atau koleganya saja.
Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan di zaman Rasulullah. Pernah suatu hari, Abdullah bin Umar RA pergi ke pasar dan mengucapkan salam pada setiap orang yang dijumpainya, seseorang bertanya padanya. “Apa yang engkau lakukan di pasar wahai Ibnu Umar? Engkau tidak berniaga, tidak juga membeli sesuatu dan tidak menawarkan dagangan, engkau juga tidak bergabung dalam majelis orang-orang di pasar.” Ibnu Umar menjawab, ”Sesungguhnya aku pergi ke sana hanya untuk menyebarkan salam pada orang yang aku jumpai.”
Makna yang tersirat dalam kisah tersebut adalah keutamaan menyebarkan salam karena merupakan adab yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Muslim. Salam bukanlah sekedar tradisi pada pembukaan dan penutupan suatu acara semata, ataupun disampaikan pada orang-orang tertentu saja.
Rasulullah bersabda, “Islam yang baik adalah memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sudah cukup jelas, kita sebagai umat Islam yang memiliki sejarah peradaban mulia, semestinya mempertahankan dan melestarikan tradisi berbagi salam kepada siapapun, kapanpun dan di manapun kita berada. Rasulullah sebagai teladan umat telah memberi contoh kepribadian Muslim yang santun dalam berbagi salam. Sudah seharusnya menyampaikan salam dan wajib menjawab salam, jika dirinya mengaku dan bertekad menjadi ahlus sunnah wal jamaah.
Allah Subhanahu Wata’ala juga memerintahkan kita untuk saling menebar salam, terutama ketika kita sedang bersilaturahmi ke rumah seseorang.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS an-Nuur [24]: 27)
Kaidah Mengucapkan Salam
Dalam Islam, kaidah-kaidah menebar salam telah diatur sistematis dan strategis untuk menjaga ukhuwah Islamiyah. Dan, Rasulullah dalam banyak hadisnya telah memberi tuntunan atau tata cara memberi salam yang baik. Bahkan banyak ahli hadis yang mengkhususkan dan meletakkan pembahasan salam dalam satu bab tersendiri yang biasa disebut “Kitab Salam” atau pun “Bab Salam”.
Beberapa kaidah salam yang baik diantaranya; bagi orang yang berkenderaan mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki dan pejalan kaki memberi salam kepada yang duduk. Orang yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua, mereka yang kuat memberi salam kepada yang lemah. Bagi yang kaya memberi salam kepada yang miskin dan seterusnya. Jika seperti itu, secara sendirinya akan menghilangkan egoisme dalam diri umat sekaligus menjalin interaksi sosial yang baik.
Salam tidak hanya untuk kaum pria saja, Asma’ binti Yazid RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah ketika lewat di depan masjid dan sekelompok perempuan sedang duduk-duduk di sana, maka Rasulullah melambaikan tangannya sambil memberi salam. Selanjutnya, dianjurkan juga untuk mengucapkan salam kepada anak-anak, agar membiasakan mereka dengan adab-adab memberi salam. Anas RA Menceritakan bahwa ketika ia melewati anak-anak kecil, kemudian ia mengucapkan salam kepada anak-anak tersebut.
Kaidah salam yang lain juga telah mengatur rendah dan tingginya suara ketika mengucapkan salam. Terutama ketika malam hari, mengucapkan salam harus dengan suara rendah dan lembut selama dapat didengar oleh orang yang masih terjaga. Dengan kata lain, apabila mengucapkan salam pada malam hari selama bukan urusan yang amat penting dan mendesak, tidak boleh mengganggu orang yang sedang tidur apalagi membangunkannya.
Dan masih banyak adab-adab lainnya yang mengatur tata cara dalam mengucapkan salam. Rasulullah dan para sahabatnya adalah umat terbaik sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, mereka telah mencontohkan tata cara yang baik dalam menebar salam antara satu dengan yang lain. Mereka tidak lupa berbagi salam entah itu di masjid, di majelis, di pasar, di jalanan dan di medan perang sekali pun. Inilah spirit yang harus kita ambil, agar sesama kita senantiasa saling mendoakan melalui salam yang kita sebarkan demi meraih kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat.
Keutamaan Berbagi Salam
Allah Subhanahu Wata’ala telah mengajarkan salam sejak menciptakan Nabi Adam AS, sebagai manusia pertama. Dengan harapan, keturunan manusia selanjutnya, kapanpun dan di manapun mereka berada selalu berpegang teguh pada salam. Karena salam mengandung makna keselamatan yang sudah tentu disenangi dan disukai seluruh umat manusia. Hebatnya, umat Islam adalah satu-satunya umat yang masih mengucapkan salam rabbani yang murni hingga detik ini.
Sesungguhnya, salam yang kita sebarkan adalah doa untuk orang yang mendengarnya dan juga doa untuk diri kita sendiri.
Allah berfirman;
فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون
“…Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya), yang artinya juga memberi salam kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagimu, agar kamu memahaminya." (QS an-Nuur [24]: 61)
Ayat tersebut menjelaskan perintah Allah kepada siapapun yang berkunjung ke rumah seseorang, untuk mengucapkan salam sebelum meminta izin memasuki rumah yang dikunjunginya. Dengan salam tersebut, diharapkan dapat mendatangkan keberkahan Allah bagi seisi rumah yang mendengar salam, sekaligus menjadi berkat bagi yang mengucapkannya. Inilah fadhilah salam yang dijanjikan Allah bagi umat manusia yang gemar berbagi salam dengan baik.
Bahkan, Rasulullah menyuruh kita mengucapkan salam lebih dahulu sebelum meminta izin memasuki suatu rumah. Pernah datang seorang Bani Amir ke rumah Rasulullah dan meminta izin untuk memasuki rumah beliau. Maka Rasulullah berkata kepada pembantunya, “Keluarlah kamu dan ajarkan laki-laki itu adab meminta izin, katakanlah padanya untuk mengucapkan: ‘Assalamu’alaikum, bolehkah aku masuk?’ (Riwayat Bukhari).
Selain itu, keutamaan salam yang lain adalah sebagai salah satu wasiat Rasulullah yang diperintahkan kepada para sahabat dan umat setelahnya untuk diterapkan dalam kehidupan sosial mereka. Ada tujuh wasiat Rasulullah, yakni: menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan yang bersin, menolong yang lemah, membantu yang terzalimi, menyebarkan salam dan menunaikan janji (sumpah).
Inilah pentingnya kita sebagai umat Muslim untuk saling menebar salam di antara kita, baik itu di pasar, di perjalanan, di masjid dan di manapun ketika kita bertemu dengan siapapun, terlebih-lebih bertemu saudara seiman. Salam dapat menumbuhkan bibit-bibit cinta dalam jiwa, melapangkan dan menguatkan ikatan kasih sayang dan keakraban antara pribadi dan masyarakat.
Menebar salam dengan ikhlas dapat menjaga keimanan dan menumbuhkan ikatan cinta yang kuat dalam kehidupan umat Muslim. Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (Riwayat Muslim)
Betapa indahnya ukhuwah Islamiyah ketika masing-masing kita saling menebar salam yang baik lagi santun. Salam yang lahir murni dari dalam sanubari dengan ikhlas, tanpa embel-embel untuk mengharapkan sesuatu, kecuali ridha Allah. Dan Allah telah menyiapkan tempat yang mulia bagi siapapun yang selalu menebar salam. Rasulullah berkata,
“Sesungguhnya orang yang paling utama di sisi Allah adalah mereka yang memulai salam.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).






Masihkah Kita Memerlukan Nasihat? 

 


Nasihat yang membangun diri kita adalah bukti yang diberikan oleh orang-orang yang mencintai kita
KEHIDUPAN yang kita lalui tidak selamanya mulus seperti yang kita harapkan. Ada saatnya kita diuji dengan berbagai persoalan hidup di mana pangkat, gelar, kedudukan, dan harta yang kita banggakan bukannya menyelesaikan masalah, malah sering menjadi sumber utamanya.
Saat dihadapkan pada persoalan hidup, ada di antara kita yang mampu melaluinya dengan indah, namun tak sedikit yang kecewa, putusa asa, bahkan berakhir untuk selama-lamanya.
Di sinilah nasihat sangat berperan bagi jiwa-jiwa yang resah. Ia berfungsi untuk pengendali diri, membangun harapan, menguatkan motivasi, optimisme, dan azam.
Setinggi apapun pangkat, pendidikan, dan kedudukan kita nasihat selalu diperlukan. Karena nasihat merupakan sumber energi hati. Hati yang ikhlas dinasihati akan menyebabkannya tumbuh hidup. Hati yang hidup adalah hati yang mengenal Allah Ta’ala dan membawa pemiliknya mampu mengambil pelajaran dari setiap peringatan. Dan peringatan itu sangat bermanfaat bagi manusia, terutama yang takut kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَى
سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَى
وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى
“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa'at. Orang-orang yang takut (kepada Allah) akan mampu mengambil pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhi.” (QS Al A’la: 9-11).
Dan masrilah saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran adalah kunci memperoleh keberuntungan (lihat QS Al ‘Asr). Ada beberapa manfaat nasihat.
Pertama, menguatkan akal pikiran. Allah Ta’ala menilai orang berakal adalah orang yang banyak mendengar dan mengikuti nasihat kebenaran yang diketahuinya. Dan setiap kebenaran itu timbangannya adalah al-Quran. Allah Ta’ala berfirman: Mereka yang mendengarkan perkataan (nasihat) lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya (al-Quran). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS Az Zumar: 18). Akal yang tidak tunduk kepada al-Quran akan lemah, bahkan sesat dalam pemikiran.
Kedua, menguatkan hati dan iman. Hati kita senantiasa berbolak balik. Hal itu dapat dilihat dari perubahan sikap dan tingkah laku kita dalam kehidupan. Ada saatnya keimanan kita meningkat dengan ketaatan kepada Allah dan menurun dengan bermaksiat kepada-Nya. Oleh sebab itu, hati tempatnya iman harus rutin menerima nasihat agar ia selalu ingat (kepada Allah) dan kuat dalam menjalani kehidupan.
Siapapun yang menginginkan kebaikan dalam hidupnya akan meluangkan waktu—bukan mencari waktu luang—untuk memperhatikan hati. Ia senantiasa melabuhkan diri untuk duduk di majlis ta’lim mendengarkan nasihat orang-orang ‘alim. Bersimpuh di hadapan al-Quran sang kitab penasihat kehidupan. Banyak mengingat kematian sang pemutus kenikmatan. Mencintai orang-orang yang mengingatkan kekurangan. Umar bin Khattab Ra berkata: “Orang yang kucintai adalah orang yang menunjukkan aibku.”
Ketiga, meningkatkan potensi dan merubah keadaan. Kualitas seseorang tidak ditentukan dari banyak bicara, lihai berdiplomasi, atau mahir berorasi, melainkan maksimal meningkatkan potensi diri dan selalu berhati-hati. Manusia terlahir unik dengan potensi yang berbeda.
Adakalanya manusia tidak menyadari potensi yang dimilikinya sehingga ketika diberitahu dan dinasihati ia baru menyadari.
Banyak orang mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dalam hidupnya, tatkala ia mampu menjadikan serpihan mozaik perkataan, kegagalan, keterpurukan, kemaksiatan, atau musibah yang dialami sebagai nasihat untuk memperbaiki diri. Karena nafsu yang dituruti tidak akan pernah memuaskan diri. Pada akhirnya akan sampai pada titik jenuh di mana hati hanya puas bila memenuhi panggilan nasihat Ilahi.
Oleh sebab itu, jangan pernah merasa kenyang dengan nasihat. Karena nasihat adalah kebutuhan untuk melakukan perubahan. Segala kejadian yang dialami dan ditolak oleh hati sesungguhnya nasihat yang dikirimkan Ilahi. Merasa tak butuh dengan nasihat dan tak mau mengambil pelajaran dari nasihat adalah tanda butanya mata, tulinya telinga, dan matinya hati.
Sungguh keras peringatan Allah Ta’ala bagi orang yang merasa kenyang dengan nasihat. Firman-Nya: Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi (QS. Ala’raaf: 179). Dalam ayat lain: Apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami (nasihat)? Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya (QS. Alfurqan: 44).
Dari siapapun nasihat datang, selama itu kebenaran, layak diambil jadi pelajaran. Suatu saat Al Ghazali pulang menuntut ilmu dan bangga memikul buku-buku catatannya yang banyak. Di tengah jalan ia dicegat oleh penyamun yang menyangka sedang membawa harta berharga. Al Ghazali berkata: “Buku-buku ini tidak bermanfaat bagi kalian, ini merupakan catatan ilmu pengetahuanku.” Salah seorang penyamun berkata, “Al ‘ilmu fis sudur walaisa fis sutur” (ilmu itu di dada (dihapalkan) bukan tertulis di kertas).
Kalimat nasihat inilah yang mengantarkan perubahan besar Imam Al Ghazali dalam memandang ilmu hingga ia digelar ”hujjatul Islam”.
Nasihat yang membangun diri kita adalah bukti yang diberikan oleh orang-orang yang mencintai kita. Kejadian dan musibah yang ditolak oleh hati adalah nasihat peringatan dan cara Allah menunjukkan cinta-Nya agar kita kembali ke jalan-Nya. Tanpa ada nasihat, tidak ada cinta. Tak ada cinta, mustahil ada perhatian. Perhatian dan cinta adalah bukti, keberadaan diri kita masih dibutuhkan dan diharapkan. Oleh sebab itu, jangan pernah meremehkan sekecil apapun kejadian dan nasihat demi kebaikan kita. Wallaahu A’lam.





Jangan Tunggu Tua atau Pensiun untuk Beramal Shaleh

 

Nanti, manusia baru menyadari setelah merasakan betapa panjangnya masa 1 hari di padang Mahsyar, di mana 1 hari sama dengan 50.000 tahun waktu dunia
BIASANYA, untuk urusan kesenangan dan kebahagiaan di dunia, manusia cenderung mau sibuk. Tapi untuk kesenangan dan kebahagiaan hakiki di dunia ini serta persiapan kesenangan untuk kampung akhirat, manusia cenderung tidak mau sibuk. Selalu ada alasan.
Jika Anda kebetulan sedang berada di Jakarta pada hari Jumat tepatnya pada saat kuthbah dan shalat Jumat berlangsung, coba perhatikan suasana di jalan-jalan dan tempat-tempat umum, seperti terminal bus dan pusat perbelanjaan. Anda akan mendapati masih banyak orang laki-laki yang beraktivitas. Itu adalah pemandangan yang aneh. Semestinya tiap hari Jumat jalan-jalan dan tempat-tempat umum di Jakarta menjadi lebih lengang. Seharusnya mayoritas laki-laki pergi ke masjid karena Islam di Jakarta adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya. Demikian juga pada waktu dilaksanakannya shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Seharusnya suasana Jakarta lebih lengang lagi karena para laki-laki dan perempuan melaksanakan shalat di mushala atau masjid.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS: Al-Hadiid [57]:16)
Dalam beramal shaleh manusia cenderung menunda-nunda. Penyebabnya adalah manusia merasa belum saatnya beramal shaleh. Lebih dari itu, karena manusia merasa umurnya masih panjang atau bahkan hidup selama-lamanya. Tak ada yang dilakukannya kecuali sekadar mencari-cari alasan dan berjanji. Mencari-cari alasan seperti masih sibuk bekerja mencari nafkah, sibuk melakukan aktivitas lainnya, masih muda dan seribu alasan lain. Berjanji pada pada Allah, dirinya sendiri atau orang lain akan beramal shaleh nanti jika sudah tidak sibuk, sudah pensiun, sudah kaya, sudah tua atau janji-janji manis lainnya. Menunda-nunda beramal shaleh adalah ciri orang-orang fasik. Hati mereka keras. Adapun bagi orang beriman tidaklah layak menunda-nunda beramal shaleh. Yang layak bagi mereka adalah bersegera dalam beramal shaleh.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah [62]:9)
يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُوْلَـئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Ali Imran [3]:114)
Ketika hidup di dunia manusia merasa hidupnya masih lama atau merasa hidupnya panjang. Padahal masa hidup manusia sesungguhnya hanyalah sekejap. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam telah memberitahukan bahwa hidup di dunia seperti musafir yang sedang istirahat di bawah pohon. Istirahat tentulah tidaklah lama atau selamanya. Setelah cukup istirahat, sang musafir tentu melanjutkan perjalanan.
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari tempat berteduh di bawah pohon, lalu istirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)
Manusia baru menyadarinya pada Hari Kebangkitan. Pada waktu itu mereka merasakan bahwa ketika hidup di dunia mereka hanya hidup selama sehari, setengah hari, di siang hari, di pagi hari, di waktu sore hari saja.
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَن لَّمْ يَلْبَثُواْ إِلاَّ سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَاء اللّهِ وَمَا كَانُواْ مُهْتَدِينَ
“Dan akan hari Allah mengumpulkan mereka, seakan-akan mereka tidak pernah berdiam hanya sesaat di siang hari, mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS: Yunus [10]:45)
قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ
قَالُوا لَبِثْنَا يَوْماً أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلْ الْعَادِّينَ
قَالَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلاً لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
Mereka menjawab: "Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung."Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS: Al-Mu’minuun [23]:112-114)
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal melainkan di waktu sore atau pagi hari.” (QS:An-Naazi’aat [79]:46)
Mereka baru menyadarinya karena merasakan betapa panjangnya masa 1 hari di padang Mahsyar, di mana 1 hari sama dengan 50.000 tahun waktu dunia.
Bagaimana jika Allah mengumpulkan kalian (di suatu tempat) seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian? (HR. Hakim)
Karena hidup di dunia hanyalah sebentar tentulah sangat rugi jika menunda-nunda beramal shaleh. Orang beriman tidak akan mencari-cari alasan agar bisa menunda beramal shaleh, dan berjanji akan beramal shaleh di lain waktu. Namun dia selalu segera melakukannya sebagaimana kisah seorang laki-laki pada saat perang Uhud yang disebutkan dalam hadits berikut ini.
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw pada saat perang Uhud, “Bagaimana pandanganmu Ya Rasulullah jika aku terbunuh saat ini, dimanakah tempatku (setelah kematian)? Rasulullah menjawab, “Di surga”. (Mendengar sabda beliau) maka laki-laki itu melemparkan kurma yang ada di tangannya, kemudian dia (maju untuk) berperang hingga terbunuh (di medan perang).” (HR. Bukhari Muslim)
Dengan demikian dia tidak akan menyesal ketika datang kematian, meminta kepada Allah di hidupkan lagi dan berjanji akan melakukan amal-amal shaleh sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di bawah ini. Sebaliknya, jika seseorang suka menunda beramal shaleh dan sekadar mengobral janji kosong, ketika datang kematian padanya dia menyesal, meminta kepada Allah dikembalikan ke dunia lagi dan mengucapkan janji kosong.
حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku, agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS: Al-Mukminuun [23]:99-100)
Bahkan hingga berada di neraka pun dia masih mengajukan permohonan dan mengucapkan janji yang sama.
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir [35]:37)
Agar kita tidak menyesal nantinya marilah kita pergunakan sebaik mungkin setiap saat dalam hidup ini karena masa hidup kita adalah masa yang cukup untuk memikirkan dan melakukan banyak amal shaleh. Janganlah kita menjadi seperti kebanyakan manusia yang tertipu oleh dua nikmat hidup, kesehatan dan kesempatan. Mereka tidak mau dan mampu memanfaatkannya untuk beramal shaleh, malah sebaliknya mempergunakannya untuk melakukan amal-amal salah.
“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan kesempatan.” (HR. Bukhori).*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar