Selasa, 06 Agustus 2013

GAYA HIDUP

Berusaha dan Tawakkal, Bukan Diam dan Berangan-angan!

Tawakkal adalah amalan hati seorang mukmin, sedangkan usaha adalah amalan fisiknya
SECARA bahasa, istilah tawakkal berasal dari al-wakalah, yaitu penyerahan dan penyandaran. Orang ber-tawakkal kepada yang lain ketika hatinya merasa tenang dan percaya kepada yang disandarinya itu, tidak mencurigainya akan berbuat sembrono, dan tidak melihat adanya kelemahan maupun cacat padanya. Sedangkan menurut istilah syari’at, tawakkal adalah percaya (tsiqah) kepada apa yang ada di sisi Allah dan tidak mengharapkan apa yang ada di tangan selain-Nya, termasuk sesama manusia.
Menurut Imam al-Baihaqi dalam Al-Jami’ Li Syu’abil Iman, tawakkal merupakan kewajiban seorang mukmin dan menjadi salah satu pertanda eksistensi iman di dalam hatinya. Di antara 77 cabang iman yang beliau uraikan dalam kitab tersebut, tawakkal adalah cabang ke-13. Ini sekaligus mengisyaratkan betapa pentingnya kedudukan tawakkal dalam akidah seorang muslim. Namun, karena tawakkal merupakan hakikat yang abstrak, ia sangat sering disalahpahami, yang kemudian melahirkan tindakan-tindakan yang salah pula.
Atas dasar ini, seorang mukmin sepenuhnya percaya bahwa rezekinya, nasibnya, bahkan hidup dan matinya, pada hakikatnya adalah dijamin oleh Allah; bukan oleh bos, atasan, majikan, suami, direktur, komandan, atau siapa pun yang lain; bukan pula oleh pabrik, lembaga pendidikan, bisnis, titel, pekerjaan, jabatan, atau apa pun yang lain. Alhasil, setiap kali ia mendapat gaji, bonus, dan rezeki maka seketika hatinya akan tersambung dan berterima kasih kepada Allah, bukan kepada yang lain. Karenanya pula ia tidak pernah lupa berbagi dan bersedekah dengan sebagian darinya, sebagai ekspresi syukur kepada Allah Sang Pemberi.
Keyakinan seperti inilah yang akan membuatnya berani dan tidak lembek. Ia takkan bisa ditekan untuk melakukan kemaksiatan oleh atasan maupun lembaga tempatnya bekerja, walau diancam akan dipecat jika menolak. Sebab, ia tahu bahwa rezeki datangnya dari Allah, bukan dari manusia. Prinsip serupa dipegangnya erat-erat dalam masalah jodoh, karier, pendidikan, dsb. Dengan kata lain, mestinya tawakkal menjadi energi positif yang membangun dan menegakkan sikap, bukan racun yang menghancurkan dan melumerkan prinsip.
Jadi, tawakkal sebenarnya tidak identik dengan pasrah, diam, atau mengalah; bahkan justru sebaliknya. Ayat-ayat tentang tawakkal di dalam al-Qur’an penuh dengan motivasi agar terus maju, pantang mundur, bekerja keras, dan tidak takut terhadap ancaman maupun rintangan yang menghadang. Misalnya, ketika Bani Israil gentar dan menolak maju ke medan perang karena melihat musuh-musuhnya yang sangat kuat, maka:
قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُواْ عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang telah Allah beri nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu! Maka bila kalian memasukinya niscaya kalian akan menang! Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman!” (QS. Al-Ma’idah: 23)
Ayat-ayat yang menggugah semangat seperti ini dapat dibaca dalam berbagai surah yang lain, seperti Ali ‘Imran: 122 dan 159-160, al-Ma’idah: 11, at-Taubah: 51, Ibrahim: 11-12, an-Naml: 79, dsb. Bacalah secara utuh ayat-ayat lain yang terletak sebelum maupun sesudah ayat-ayat tersebut, niscaya kita akan mengerti bahwa anjuran Al-Qur’an untuk ber-tawakkal justru berarti maju terus dan yakin kepada janji Allah.
Memang patut disayangkan ketika tawakkal banyak disalahartikan. Akhlak Islam yang sebenarnya hendak meletupkan energi raksasa ini malah diubah menjadi buaian yang meninabobokkan. Di antara dalil yang sering disalahpahami adalah hadits shahih riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah berikut ini: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, pasti Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberikannya kepada burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.”
Dengan berdalih pada hadits ini, sebagian orang kemudian tidak berbuat apa-apa, lalu mengharap rezekinya turun dari langit, nasibnya berubah tanpa kerja keras, dan akalnya menjadi cerdas tanpa belajar. Padahal, kalau kita cermati baik-baik hadits diatas, ternyata burung tersebut tidak hanya mendekam di sarangnya. Ia terbang mengepakkan sayapnya lalu mendatangi tempat-tempat dimana rezekinya biasanya banyak terdapat. Lihatlah, bahkan burung yang tidak berakal pun bekerja keras untuk setiap suapan makanannya. Bagaimanakah manusia yang diberi akal dan ilmu rela duduk bermalas-malasan?
Ketidaktepatan lain yang sering muncul dalam memahami tawakkal adalah ketika ia disandingkan dengan “usaha”. Bahkan ada yang sengaja menjadikannya sebagai dua hal yang berlawanan. Seolah-olah orang yang bertawakkal tidak perlu berusaha, dan orang yang berusaha berarti tidak bertawakkal. Benarkah demikian? Terkait masalah ini, seorang tokoh Sufi termasyhur, yaitu Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah at-Tustariy az-Zahid (w. 283 H) berkata, “Barangsiapa yang mencela usaha (al-iktisab) maka dia telah mencela Sunnah, dan barangsiapa yang mencela tawakkal maka dia telah mencela iman.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Auliya’). Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Tawakkal adalah keadaan jiwa (haal) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan usaha (al-kasab) adalah Sunnah beliau. Barangsiapa yang berada pada haal beliau, maka jangan sekali-kali meninggalkan Sunnahnya.” (Dikutip dari ar-Risalah al-Qusyairiyah).
Dengan kata lain, tawakkal adalah amalan hati seorang mukmin, sedangkan usaha adalah amalan fisiknya. Namun, betapa banyak orang yang memutar-balikkannya: hatinya berusaha dengan terus berangan-angan, sedangkan badannya bertawakkal dengan diam dan bersandar.Wallahu a’lam.

 

 

 

Delapan Sikap Siapkan Diri Menyambut Ramadhan 

 

Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan
Oleh: Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA
TAK terasa kita telah memasuki bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, tentu kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang yang muttaqin.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.
Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya. Bukan pula pergi ke pantai menjelang Ramadhan untuk rekreasi, makan-makan dan bermain-main.
Jadi, bagaimana sebenarnya cara kita menyambut Ramadhan? Apa yang mesti kita persiapkan dalam hal ini? Maka tulisan ini mencoba memberi jawaban dari pertanyaan tersebut. Menurut penulis, banyak hal yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan menyambut kedatangan Ramadhan, yaitu:
Pertama, berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Subhanahu Wata’ala, karena berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif Al-Ma’aarif: 174)
Di antara doa mereka itu adalah: ”Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan”. Dan doa yang populer: ”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.
Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban.
Sebagaimana Aisyah r.a tidak bisa mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.
Ketiga, persiapan keilmuan (memahami fikih puasa). Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.
Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Maka dalam hal ini, hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Begitu juga ilmu sangat diperlukan dalam melaksanakan ibadah lainnya seperti wudhu, shalat, haji dan sebagainya. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk membaca buku fiqhus shiyam (fikih puasa) dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan membaca al-Quran.
Kempat, persiapan jiwa dan spiritual. Persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam.
Persiapan jiwa dan spiritual merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya untuk memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Penyucian jiwa (Tazkiayatun nafs) dengan berbagai amal ibadah dapat melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, dan amalan-amalan hati lainnya yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas. Salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan sebelumnya, minimal di bulan Sya’ban ini seperti memperbanyak puasa Sunnat.
Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban merupakan sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Aisyah ra, ia berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid r.a ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain yang sesering pada bulan Sya’ban”. Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Ra’jab dengan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
Adapun pengkhususan puasa dan shalat sunat seperti shalat tasbih pada malam nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka hal itu tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya. Menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran mengenai keutamaan nisfu sya’ban adalah hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam persoalan ibadah, bahkan maudhu’ (palsu). Oleh Sebab itu, Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits-hadits mengenai keutamaan nishfu Sya’ban ke dalam kitabnya Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu).
Al-Mubarakfuri berkata, “Saya tidak mendapatkan hadits marfu’ yang shahih tentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits keutamaan nisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui bahwa hadits ini adalah hadits sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazi: 3/444).
Syaikh Shalih bin Fauzan berkata, “Adapun hadits-hadits yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 14, 15, 16), maka ia boleh melakukan puasa pada bulan Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja.”
Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Mengkhususkan puasa pada hari nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersbut memiliki keutamaan dari pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah: 1/416).
Kelima, persiapan dana (finansial). Sebaiknya aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan). Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtar selama bulan ini. Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.
Keenam, persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya terganggu. Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)
Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesehatan dan stamina dengan cara menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, dan istirahat cukup.
Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Disamping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, seperti melakukan tarhib Ramadhan yaitu mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan mengenai puasa Ramadhan, adab-adab, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya.
Menjelang bulan Ramadhan tiba, Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam memberikan pengarahan mengenai puasa kepada para shahabat. Beliau juga memberi kabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya. Abu Hurairah ra berkata, “menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Selain itu, banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam untuk memberi motivasi dan semangat kepada para sahabat dan umat Islam setelah mereka dalam beribadah di bulan Ramadhan.
Akhirnya, penulis mengajak seluruh umat Islam khususnya di Aceh untuk menyambut bulan Ramadhan yang sudah di ambang pintu ini dengan gembira dan mempersiapkan diri untuk beribadah dengan optimal. Selain itu kita berharap kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar ibadah kita diterima, tentu dengan ikhlas dan sesuai Sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan dapat meraih berbagai keutamaannya.*





Dzikrullah, Obat Ampuh atasi Galau!

 

 Ketahuilah, dengan mengingat Allah (dzikrullah) maka hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra’d: 28).

GALAU adalah istilah yang populer di kalangan anak muda sekarang. Bila disebut istilah ini, kebanyakan mereka tersenyum simpul dan segera mengerti apa maksudnya. Namun biasanya “galau” mengalami penyempitan makna sebatas keresahan akibat kacaunya hubungan asmara, atau kegelisahan pikiran akibat hal-hal yang berkaitan dengan cinta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “galau” artinya sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran).
Sebenarnya, galau atau resah adalah kondisi pikiran yang bisa menimpa setiap orang, tidak pandang usia. Persoalan yang memicunya juga tidak terbatas pada urusan cinta, namun bisa mencakup segala hal seperti kesehatan, pekerjaan, keluarga, teman, harta, pendidikan, dsb. Perwujudannya pun bisa sangat beragam, seperti berwajah muram, tatapan mata yang sayu, badan kurus dan lemah, mengurung diri, eksplosif dan emosional, bahkan tertimpa penyakit-penyakit fisik dan psikis yang kronis.
Ketika sedang galau, yang menarik dicermati adalah apa tindakan seseorang untuk meredakannya? Sebagian orang ada yang memilih tidur seharian sehingga melalaikan banyak kewajiban dan tanggung jawab, baik terhadap Allah, diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Ada lagi yang bermain game selama berjam-jam, menonton beberapa film secara berantai, pergi ke gunung atau pantai, surfing di internet, menekuni hobbi, dsb. Di beberapa kota besar, berkembang pula metode terapi melalui Meditasi dan Yoga.
Sebagai Muslim, pertanyaannya adalah: apa yang diajarkan oleh Islam untuk mengurangi, meredakan, dan melenyapkan keresahan hati?
Hudzaifah bin al-Yaman, seorang Sahabat Nabi, menceritakan bahwa dulu bila Rasulullah dihadang oleh persoalan yang sangat berat atau dibuat sedih oleh sesuatu hal, beliau pasti mengerjakan shalat, yakni shalat sunnah. (Riwayat Abu Dawud. Hadits hasan).
Begitulah, sebab dengan doa dan kekhusyuan di dalamnya maka hati menjadi tenang dan lebih mudah menemukan jalan keluar.
Terkait riwayat diatas, Syaikh ‘Abdurrauf Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir, “Sebab shalat adalah penolong untuk mengusir semua keresahan akibat datangnya musibah, berkat pertolongan Allah Sang Maha Pencipta. Dengan musibah itu sebenarnya Allah ingin mendorong seseorang agar menghadap dan mendekatkan diri kepada-Nya. Barangsiapa yang menghadap kepada Pelindungnya maka Dia akan membentenginya dan Dia sendiri yang akan turun menangani urusannya. Sebab, orang itu telah berpaling dari semua selain-Nya. Demikianlah tindakan setiap pembesar kepada siapa saja yang secara total menghadapkan diri kepadanya.”
Pernah dikisahkan pula bahwa ada seseorang dari suku Khuza’ah yang merasa sangat kelelahan, lalu berkata, “Aduh, andai saja aku bisa shalat, sehingga aku bisa beristirahat.” Ucapannya ini dikritik orang banyak, namun dia menjawabnya dengan berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Hai Bilal, (serukan) iqamah untuk shalat! Istirahatkanlah kami dengannya!’” – yakni, dengan shalat. (Riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan al-Baihaqi dalam al-Kubra. Hadits shahih).
Jadi, inilah obat kegalauan hati yang dicontohkan oleh Nabi, yang juga selaras dengan firman Allah:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, dengan mengingat Allah (dzikrullah) maka hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra’d: 28). Sebagaimana dimaklumi, shalat sendiri dipenuhi dengan dzikir dan doa, atau merupakan dzikir dan doa yang paling utama.
Tentu saja, contoh beliau jauh lebih baik. Shalat yang dilakukan dengan khusyu’ bukan hanya menenangkan hati, namun juga berpahala. Ada banyak sekali ganjaran dan keutamaan shalat yang sudah akrab kita dengar. Pilihan beliau juga memperlihatkan perbedaan mencolok dengan sebagian dari kita di zaman sekarang, dimana jika sedang menghadapi masalah pelik justru berharap agar “diistirahatkan dari shalat”, alias libur darinya! Astaghfirullah.
Sebagai Muslim, sangatlah tidak pantas – bahkan berbahaya – untuk meredakan kegelisahan hati dengan mempraktikkan metode-metode yang berasal dari sistem kepercayaan dan budaya di luar Islam, semisal Meditasi dan Yoga.
Menurut World Book Encyclopedia 2005 Deluxe Edition, Yoga bisa mengandung dua pengertian, yaitu aliran pemikiran dalam agama Hindu, atau sistem latihan mental dan fisik yang dikembangkan oleh aliran tersebut.
Aliran ini banyak merujuk kepada Upanishad, yaitu bagian terakhir dari rangkaian Weda. Para penganutnya (disebut Yogi atau Yogin) menggunakan Yoga untuk mencapai pembebasan jiwa dari penjara tubuh dan pikiran. Dalam latihannya, Yogi akan dibimbing melalui delapan tingkatan, dimana tingkat ketujuh adalah dhyana (meditasi) dan yang kedelapan adalah samadhi. Tingkat terakhir dan tertinggi ini dicapai ketika seseorang telah merasakan jiwa yang murni, bebas, dan kosong (realize that their soul is pure and free, and empty of all content).
Padahal, menurut Islam, semestinya hati manusia tidak boleh dibiarkan kosong, akan tetapi harus selalu diisi dengan kesadaran dan dzikir. Sebab, jika ia kosong, yang akan masuk adalah bisikan setan. Di saat bersamaan, meditasi dan semedi merupakan bagian dari Delapan Jalan Kebenaran atau Roda Dharma dalam Buddhisme. Alhasil, metode ini sangat rawan dan berbahaya (dari sisi akidah), karena penuh dengan syubhat dan ajaran dari sistem kepercayaan di luar Islam.
Jadi, jika kita merasa galau, kembalilah kepada cara dan metode Islam untuk meredakannya. Shalat hanya salah satunya. Masih ada banyak pilihan lainnya. Jangan mengekor budaya dan sistem kepercayaan lain. Bisa jadi, bukannya menjadi tenang, tetapi tanpa disadari justru tersesat ke dalam kegelapan tak bertepi. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.




Menjadi Mukmin “Gandum”

 

Siapa yang membiayai dua orang istri dari hartanya sendiri di jalan Allah, akan dipanggil dari pintu-pintu surga
DALAM sebuah Hadits Anas bin Malik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin itu seperti setangkai gandum, terkadang condong dan terkadang tegak.” (Riwayat Abu Ya’la. Isnad-nya hasan).
Apakah yang beliau maksud dalam Hadits tersebut di atas? Coba perhatikanlah ladang gandum atau padi. Ketika angin bertiup lembut, tangkai mayangnya melambai-lambai dengan anggun. Ketika angin kembali tenang, mereka tegak lagi dengan indahnya. Bila angin bertiup lebih keras yang sanggup mematahkan cabang-cabang pohon besar dan bahkan mencabutnya sampai ke akar, gandum dan padi itu ternyata juga rebah, akan tetapi tidak tercerabut dari akarnya. Maka demikian pulalah seorang mukmin. Dinamika kehidupan bisa mendatanginya dengan seribu satu wajah, namun dia tetap seorang mukmin. Ujian dan cobaan mungkin menerpanya dari berbagai penjuru, dan terkadang dia harus rebah, namun keyakinannya kepada Allah tidak pernah gugur.
Mukmin Berbagai Kondisi
Seorang mukmin memiliki prinsip-prinsip yang terang dalam menjalani hidupnya, karena setiap sikapnya dilandasi ilmu dan keyakinan. Ia tidak sekadar ikut-ikutan, apalagi terhanyut oleh tren dan mode. Maka dalam segala situasi dia mantap dan percaya diri, karena tahu betul bahwa dirinya berada di atas kebenaran.
Sekilas, mungkin dia bisa terkesan sombong. Namun, ada perbedaan besar antara kesombongan dengan keyakinan. Kesombongan dilandasi penolakan terhadap kebenaran dan dikobarkan oleh nafsu untuk meremehkan sesama, sementara keyakinan didasari oleh ilmu dan iman. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat biji sawi.” Ada yang berkata, “Sungguh seseorang itu ingin bajunya bangus, demikian pula sandalnya.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia pun mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Riwayat Muslim)
Sebaliknya, keteguhan seorang mukmin adalah refleksi iman, sebagai pengamalan dari sabda Rasulullah ini, “Janganlah kalian menjadi orang yang plin-plan, yang berkata: ‘Jika orang lain baik, kami pun baik; jika mereka zhalim, kami pun zhalim.’ Akan tetapi, teguhkan diri kalian. Jika orang lain baik, hendaknya kalian pun baik, dan jika mereka berbuat keburukan, maka jangan kalian ikut menjadi zhalim.” (Riwayat at-Tirmidzi dan al-Bazzar, dari Hudzaifah. Hadits hasan-gharib).
Inilah yang disebut dengan shiddiq, salah satu sifat yang sangat mulia. Secara bahasa, shiddiq artinya jujur dan benar. Apa yang dimaksud jujur dan benar di sini tidak hanya pada perkataan, namun lebih luas lagi. Kejujuran seorang shiddiq juga terlihat dalam perbuatannya, tindak-tanduknya, isi hatinya, pikirannya, cita-citanya, dan seterusnya. Pendeknya, seluruh aspek kepribadiannya adalah jujur dan benar, bukan kebohongan dan rekayasa. Ia adalah Muslim ketika sendirian maupun di hadapan orang banyak.
Ia adalah orang baik-baik, entah saat lapang atau sempit, saat berkuasa atau saat menjadi rakyat jelata. Ada kesempatan maupun tidak, dia tetaplah orang yang sama baiknya. Tentu saja, seseorang yang tiba-tiba menjadi baik dan dekat dengan masyarakat menjelang Pemilu dan Pilkada, bukan penyandang sifat shiddiq, kecuali jika sudah seperti itu sejak dahulu, dan akan tetap demikian sampai akhir hayatnya. Kita dapat menyebut seorang mukmin sebagai pribadi yang memiliki integritas tinggi.
Abu Bakar as-Shiddiq
Contoh pribadi shiddiq, selain para Nabi dan Rasul, adalah Abu Bakar. Sosok ini benar-benar layak menyandang gelar tersebut, karena sedemikian teguhnya sikap yang beliau miliki. Riwayat-riwayat yang mengisahkan biografi beliau menggambarkan dengan gamblang bahwa di zaman jahiliyah sekali pun, ternyata beliau tidak pernah berzina atau minum khamr. Padahal, keduanya merupakan perilaku yang sangat umum didapati pada masa itu. Maka, Umar bin Khattab pun “menyerah” karena tidak sanggup mengejar keutamaan Abu Bakar.
Ibnu Mas’ud pernah ditanya oleh Sa’id bin Zaid, “Wahai Abu Abdirrahman, Rasulullah telah wafat, dimanakah beliau sekarang?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Beliau di surga.” Sa’id bertanya lagi, “Abu Bakar telah meninggal, di manakah beliau sekarang?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Orang yang penuh kasih itu, selalu mencari kebajikan dimana pun adanya.” Sa’id bertanya kembali, “Umar pun telah meninggal, dimanakah beliau sekarang?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Bila orang-orang shalih disebut, ayo segeralah sebutkan Umar!” (Riwayat Abdurrazzaq dan ath-Thabrani. Sanad-nya hasan).
Benar. Abu Bakar adalah sosok yang selalu mengejar kebajikan dimana pun adanya. Maka, sangat wajar jika beliau termasuk salah seorang yang dipanggil masuk surga dari semua pintu, dan dipersilakan memilih mana saja yang disukainya. Sebab, beliau punya “tiket” untuk semuanya.
Rasulullah pernah bersabda, “Siapa yang membiayai dua orang istri dari hartanya sendiri di jalan Allah, akan dipanggil dari pintu-pintu surga. Surga itu mempunyai pintu-pintu. Siapa yang tekun mengerjakan shalat, dipanggil dari pintu shalat. Siapa yang rajin bersedekah, dipanggil dari pintu sedekah. Siapa yang gemar berjihad, dipanggil dari pintu jihad. Siapa yang suka berpuasa, dipanggil dari pintu Ar-Rayyan.” Maka, Abu Bakar pun berkata, “Tidak masalah bagi seseorang jika dipanggil dari pintu surga yang mana saja. Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Rasulullah menjawab, “Ya, ada. Dan, sungguh aku berharap engkau adalah salah seorang di antara mereka.” (Riwayat Ahmad. Semua perawinya tsiqah).
Inilah orang shiddiq itu, dan demikianlah gambaran ideal seorang mukmin. Oleh karenanya, para ulama’ berusaha keras mengumpulkan satu demi satu sifat dan tanda keimanan. Salah satu kumpulan paling baik di bidang ini adalah Al-Jami’ Li Syu’abil Iman, karya Imam Abu Bakr al-Baihaqi. Kitab ini sangat tebal, sampai 14 juz dan memuat lebih dari 10 ribu riwayat. Namun, beruntunglah bahwa al-Qadhi Abul Ma’ali al-Qazwini telah meringkaskannya untuk kita, sehingga menjadi 178 halaman saja. Di dalamnya telah dipaparkan 77 cabang iman, yang dengan mengamalkannya akan menjadikan kita seorang mukmin yang paripurna.
Menurut hemat kami, daripada membaca ulasan karakter manusia unggul yang bersumber dari penulis-penulis Barat, seribu kali jauh lebih baik kita menelaah karya semacam ini. Membaca ayat Al-Qur’an dan menelaah Hadits jelas bernilai ibadah dan mengandung dzikir, sesuatu yang tidak akan kita dapatkan dari karya-karya berbasis psikologi materialis-sekuler yang seringkali anti-Tuhan, menolak metafisika, dan tidak sedikit pun berbicara tentang akhirat. Tunggu apa lagi? Ayo, kejarlah kebajikan itu dimana pun adanya!.





Bersandarlah Hanya pada Allah Semata!



Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu, maka seharusnyalah kita bergantung sepenuhnya hanya padaNYA
“Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya segala sesuatu bergantung.” Demikianlah kurang lebih terjemahan dari kalimat singkat yang terdapat pada ayat ke-2 dari surah al-Ikhlas, yaitu ‘allahus shamad’. Kita pun pasti sudah sangat akrab dengannya. Tampaknya, surah ini bersama surah al-Fatihah dan al-Mu’awwidzatain, termasuk bacaan yang paling sering dilafalkan kaum muslimin di seluruh dunia. Makna surah ini memang luar biasa, sehingga disebut sebagai sepertiga al-Qur’an oleh Rasulullah." (Riwayat Bukhari dari Abu Sa’id, dan Muslim dari Abu Hurairah).
MENURUT Abu Bakr Ibnul Anbari (seorang pakar bahasa Arab, w. 328 H), kata ash-shamad berarti sayyid (tuan, pemimpin) yang tidak ada lagi yang lebih tinggi di atasnya, dimana semua orang bersandar kepadanya dalam segala urusan dan kebutuhan mereka. Demikianlah pengertiannya secara bahasa. Alhasil, ketika sifat tersebut dilekatkan kepada Allah, berarti tidak ada lagi siapa pun atau apa pun di atas-Nya, dimana semua makhluk melabuhkan seluruh pengharapan dan keperluan mereka. Dialah puncak tertinggi, harapan terakhir, satu-satunya yang senantisa bisa diandalkan pada saat semua telah menyerah. Dan, sungguh siapa saja yang bersandar kepada-Nya tidak akan kecewa.
Ayat yang hanya terdiri dari dua kata tersebut mengajarkan kepada kita satu nilai penting yang tidak ada duanya dalam Islam. Bahwa semestinya hanya kepada Allah-lah kita bersandar, bergantung, menjadikan andalan. Bukan kepada yang lain, entah yang kasat mata maupun gaib. Inilah inti tauhid. Ini pulalah yang semestinya kita pertajam dari waktu ke waktu, dan kita ajarkan pula kepada anak-anak dan murid-murid kita.
Mengapa pembicaraan seputar masalah ini dirasa penting? Sebab, ada banyak fenomena memprihatinkan yang terjadi. Misalnya, anggapan bahwa profesi dan pekerjaanlah yang menjamin rezeki seseorang, sehingga masyarakat beramai-ramai menyerbu lowongan pekerjaan tertentu, atau pendidikan yang bisa mengantarkan kepada pekerjaan tertentu.
Sebagian mereka bahkan bersedia membayar “biaya siluman” hingga ratusan juta rupiah, hanya untuk memastikan dirinya diterima.
Sungguh, fenomena seperti ini tidak mungkin lahir kecuali dari lemahnya fondasi akidah tauhid, bahwa Allah-lah yang memberi rezeki, menentukan hidup dan mati, dan satu-satunya andalan bagi segala sesuatu. Bukan pemerintah, bukan universitas, bukan bank, bahkan bukan siapa pun atau apa pun selain Allah!
Sebetulnya, memilih pekerjaan apa saja bukanlah sebuah dosa, sepanjang tidak mengandung maksiat di dalamnya. Yang menjadi persoalan adalah keyakinan-keyakinan keliru yang tertanam di balik pilihan tersebut. Dengan tanpa bermaksud untuk buruk sangka atau menggeneralisir, samar-samar sebenarnya kita bisa mencium aroma ketidakberesan akidah itu ketika membaca berita penipuan dan kasus suap-menyuap dalam seleksi pegawai negeri atau penerimaan mahasiswa baru.
Diceritakan bahwa dulu setiap kali memberi pembekalan tugas ke suatu daerah, Allahu-yarham Ustadz Abdullah Said (pendiri Ormas Hidayatullah) sering berpesan kepada para santri, kurang lebih demikian: “Allah di Papua adalah sama dengan Allah di Gunung Tembak!” Nama daerah yang disebut terakhir adalah lokasi tempat Kampus Pusat Hidayatullah di Balikpapan (Kaltim) berada.
Artinya, jika doa-doa kita didengar serta dikabulkan oleh Allah di suatu tempat, maka di tempat lain pun demikian. Sebab, Dia adalah Tuhan di sini, juga Tuhan di sana. Bukankah seluruh jagad raya adalah milik-Nya semata? Keyakinan inilah yang melecut semangat para santri untuk menembus rimba belantara, menyusuri sungai-sungai berliku, dan berupaya mendakwahkan Islam ke mana pun mereka ditugaskan.
Bekal keyakinan seperti inilah yang sesungguhnya tertanam dalam jiwa para da’i muslim di masa silam, semisal Wali Songo. Bayangkanlah bagaimana Wali Songo tertua, yaitu Syeikh Ibrahim Samarqandi yang berasal dari Uzbekistan (Asia Tengah) datang ke Tanah Jawa, lalu mengajarkan Islam kepada penduduknya yang mayoritas menganut Hindu, Buddha, atau Animisme. Bayangkanlah kendala-kendala bahasa, budaya, makanan, iklim, dsb. Tetapi, bukankah Allah yang beliau sembah di Asia Tengah adalah Tuhan yang juga menguasai Tanah Jawa? Jadi, beliau tidak pernah merasa sendirian dan terasing, karena Allah selalu menyertainya, mendengar permohonannya, mengawasi gerak-geriknya, bahkan seandainya beliau mengembara hingga ke lubang semut sekali pun.
Oleh karenanya, betapa pentingnya menyemai serta mengukuhkan keyakinan semacam ini dalam jiwa kita, kemudian mewariskannya kepada generasi di belakang kita. Warisan harta bisa dengan mudah berakhir, entah karena dipergunakan, rusak, dicuri, diberikan, dibagi, dan seterusnya. Warisan pekerjaan pun bisa saja tamat seiring pergantian zaman. Kita semua pasti mengerti, betapa banyak jenis pekerjaan atau usaha yang dulu ada namun kini telah punah atau di ambang kepunahan, seperti usaha wartel, atau tukang patri dan penjual minyak tanah. Pekerjaan dan bisnis yang kini mentereng bisa saja diabaikan suatu saat nanti.
Namun, jika anak-anak itu mewarisi keyakinan yang kukuh dari pendahulunya, maka kehidupan mereka tidak berguncang oleh ketiadaan orangtua, entah karena meninggal atau terpisah jarak dan tempat. PHK atau mutasi pun tidak akan pernah menciutkan nyalinya, sebab mereka masih memiliki Allah yang tidak pernah mati dan selalu hadir. Sampai kapan pun mereka hidup, sejauh mana pun mereka berkelana, sesulit apa pun persoalan yang membelit, mereka selalu bisa menengadahkan tangan dan seketika itu pula Allah mendengar doanya.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
اللَّهُ الصَّمَدُ
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS: al Ikhlas [112: 1-2)
Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu, maka seharusnyalah kita bergantung sepenuhnya hanya padaNYA. Jika kita telah bergantung hanya kepadaNya, maka kita tak akan pernah meminta sedikit pun kepada selain DIA (Allah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar