Sabtu, 13 April 2013

GAYA HIDUP

BERTEKAD MENGAKSES NASEHAT DAN KISAH PARA ULAMA


DALAM bahasa Arab, hati disebut “al-qalbu”, artinya berbolak-balik, tidak menetap pada satu keadaan. Demikianlah kenyataan hati manusia. Ia bisa menjadi sangat lembut dan mudah diarahkan, tetapi bisa juga menjadi lebih keras dari batu. Sejenak trenyuh dan berduka, kemudian melonjak kegirangan. Pada dua keadaan ini, sebenarnya hati punya kebutuhan yang sama, yaitu nasihat. Dengannya maka berbolak-baliknya hati senantiasa terarah kepada kebaikan, tidak liar dan menyeretnya ke jurang kebinasaan.

Oleh karenanya, di dalam khazanah literatur Islam berkembang satu jenis kitab yang disebut raqa’iq atau riqaq. Istilah ini dapat dimaknai sebagai cerita ringan, atau kisah pelembut hati. Karya seperti ini umumnya pendek, dan di dalamnya banyak disitir kisah-kisah singkat yang menarik, juga nasihat-nasihat ringkas yang penuh makna. Wejangan dan wasiat para ulama besar dapat kita jumpai dengan mudah dalam karya-karya seperti ini, apalagi dalam karya-karya yang lebih detil dan panjang.

Mengapa nasihat ulama itu penting?
Sebab – menurut Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jilani – ia merupakan saripati pengalaman dan interaksi mereka dengan al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu, sepanjang hidupnya mereka hanya mengabdikan diri kepada Allah, bukan kepada materi dan kenikmatan duniawi.
Tentu saja, mata air hikmah akan mengalir deras dari hati dan lisan mereka. Adapun kata-kata orang yang tidak beriman kepada Allah, apalagi yang memusuhi-Nya, jelas tidak akan steril dari polusi keyakinan mereka. Bukankah keyakinan yang mewarnai setiap hati pasti terefleksikan melalui kata-kata dan tindakan pemiliknya? Maka, kita harus hati-hati memilih nasihat, sebelum teracuni tanpa sadar.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi-nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang banyak.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Darda’).
Pertanyaannya adalah: jika kita ingin mendengar nasihat ulama, maka siapakah mereka? Sebab, di zaman ini, kita sering dibuat kecewa oleh perilaku tokoh-tokoh yang dikenal sebagai ulama. Di media massa sebagian dari mereka tampil sangat menawan dan sempurna. Namun, tiba-tiba hati kita menjadi miris manakala mengetahui fakta sebagian dari mereka yang sesungguhnya. Maka, ada baiknya kita mendahulukan untuk merujuk pada ulama generasi awal kaum Muslimin, yakni Salafus Shalih, sebelum ulama dari generasi lebih akhir. Mereka adalah generasi yang telah menyelesaikan misi serta perannya di dunia ini, dan kita pun telah melihat prestasi mereka. Sampainya dakwah dan ajaran Islam ke negeri dan zaman kita secara utuh merupakan salah satu bukti amal mereka. Selain itu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sendiri telah menyatakan mereka sebagai generasi terbaik (khairun qurun).
‘Imran bin Hushain bercerita: bahwa Nabi bersabda, “Yang terbaik Di antara kalian adalah generasiku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelah mereka.” – ‘Imran berkata, “Aku tidak tahu, apakah Nabi menyebut setelah generasi beliau dua generasi lagi ataukah tiga.” – Nabi bersabda, “Sesungguhnya setelah kalian akan ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, suka memberikan persaksian padahal tidak diminta bersaksi, suka bernadzar namun tidak dipenuhi, dan kegemukan merajalela di tengah-tengah mereka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menyatakan tiga lapisan generasi terbaik tersebut, yaitu Sahabat, Tabi’in, dan Atba’ Tabi’in. Kepada merekalah semestinya kita merujuk dan mencari nasihat, supaya hati kita senantiasa terbimbing. Masalah pilihan sumber ini penting. Sebab, di zaman sekarang, ketika media massa dan buku-buku beredar sangat bebas di masyarakat, tentu tidak sulit untuk mengakses nasihat dari sumber mana pun. Apalagi bagi pengguna piranti-piranti telekomunikasi yang telah dimuati fitur-fitur untuk sharing (berbagi), semisal SMS, MMS, chatting, email, BBM, twitter, Facebook, Skype, Youtube, Wikipedia, dsb.
Di saat bersamaan, buku-buku digital juga semakin lazim dipergunakan, termasuk audiobook (buku bersuara). Maka, yang sangat dibutuhkan adalah filter diri yang mantap, juga kecerdasan untuk memilih.
Sayangnya, kita menyaksikan banyak orang rela merogoh koceknya dalam-dalam hanya untuk membeli novel dan komik, bahkan mengoleksi serial lengkapnya dari awal sampai akhir.
Padahal isinya belum tentu penting dan hanya khayalan. Tidak sedikit pula orang yang berulangkali menonton film tertentu, padahal seluruhnya hanya ilusi. Sebagian orang juga sangat sibuk menghibur diri dari waktu ke waktu, bersenang-senang, dan berusaha melupakan masalah-masalah. Padahal, di depan kita semua ada masalah sangat besar yang pasti datang, tanpa seorang pun bisa menghindar, yakni kehidupan akhirat. Sebenarnya, kita lebih perlu memikirkan masalah akhirat ini, dan justru jangan sampai melupakannya; bukannya menghabiskan waktu untuk mengikuti imajinasi orang lain yang tidak jelas keterkaitannya dengan akhirat, bahkan justru memalingkan kita darinya.
Mengapa kita tidak mengalokasikan sebagian dana untuk mengakses nasihat dan kisah para ulama yang nyata, pasti bermanfaat, dan dijiwai nilai-nilai Islam?
Maka, mari bertekad dan menata amal, dengan mendengarkan kisah dan nasihat para ulama. Semoga dengan meneladani mereka, kita terpacu untuk beramal seperti amal mereka, dan akhirnya dikumpulkan oleh Allah Subhanahu Wata’alabersama mereka di akhirat kelak. Amin.






B eginilah Seharusnya Seorang Muslim yang Kaya dan Berkuasa dalam Melihat Harta

KALAU ada orang berperkara karena rebutan harta itu biasa. Tetapi kisah ini sangat luar biasa. Ada dua orang berperkara soal harta tapi bukan untuk saling rebut, tetapi saling memberikan, karena merasa bukan haknya.
Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan termaktub dalam Kitab Shahih Imam Muslim.
“Ada seseorang membeli ladang dari orang lain. Kemudian orang itu menemukan sebuah pundi-pundi berisi emas dari ladang tersebut. Pembeli itu mengembalikan pundi-pundi itu ke si penjual. Sedang si penjual menolak karena merasa bukan miliknya. Katanya: “Ambillah! Tapi pembeli itupun menolak dengan berkata: ‘Aku hanya membeli ladang. Bukan membeli emas itu.”
Keduanya tetap tak mau menerima harta itu. Karena si penjual pun menyatakan bahwa dia menjual ladang dengan segala isinya. Akhirnya mereka pergi kepada seorang yang sholeh untuk membantu memecahkan persoalan ini.
Hakim yang ditunjuk mereka itu kemudian bertanya pada masing-masing, apakah mereka mempunyai anak. Ternyata ada. Yang satu mempunyai anak laki-laki, sedang yang lain mempunyai anak perempuan. Hakim kemudian berkata: “Kawinkan keduanya. Pakailah pundi itu sebagai biaya untuk menyelenggarakan pernikahan itu.”
Kisah tersebut benar-benar luar biasa. Keduanya tidak mau menerima harta yang bukan haknya, bukan hasil jerih payah mereka. Keduanya justru takut jika itu malah menggoyahkan, mengancam akhlak dan moral, serta mengganggu ketentraman jiwanya, yang merupakan inti dan hakikat kebahagiaan hidup.
Demikianlah seharusnya seorang Muslim melihat harta. Tiak asal dapat, tapi diperhatikan dulu, apakah harta itu hak atau tidak. Sebab jika bukan hak, harta itu malah akan merusak kekayaan sejati kita berupa iman dan ketentraman jiwa. Lihatlah para koruptor, sekalipun uang mereka banyak, tapi mereka tak tenang bahkan kelak akan disiksa karena makan harta yang bukan haknya.
Tauladan Sahabat Nabi yang Kaya
Ada dua sahabat Nabi yang kaya raya, yakni Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Keduanya tidak menjadi sombong karena harta, apalagi serakah untuk terus menambah koleksi hartanya. Malah gelisah, jika harta yang berlebihan itu yang sejatinya amanah Allah tidak dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, keduanya selalu memanfaatkan harta yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan kebahagiaan umatnya. Menjadi sesama Muslim agar menjadi orang-orang yang mandiri dan terhormat, sehingga umat Islam menjadi unggul di atas umat-umat yang lain.
Utsman bin Affan radhiyallahu anhu pernah meringankan kesulitan penduduk Madinah. Saat itu musim kemarau melanda. Kebutuhan air meningkat sementara tidak ada persediaan air lagi. Satu-satunya cara untuk bisa mendapat air adalah dengan membeli sumur dari seorang Yahudi yang kejam.
Melihat situasi tersebut Rasulullah bersabda, “Siapa kiranya yang sudi membantu meringankan beban kaum Muslimin ini?”
Mendengar demikian, spontan Utsman bin Affan membeli sumur itu dari tangan si Yahudi dengan harga yang sangat mahal. Utsman tidak pernah merasa rugi dengan keputusan tersebut. Karena dalam pemahamannya, harta bukan untuk disimpan tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan umat.
Demikian pula halnya dengan Abdurrahman bin Auf. Ia tidak pernah tanggung dalam memberikan harta untuk kemaslahatan umat. Pernah ia memberikan 700 ekor unta yang dimilikinya beserta segala muatannya untuk kepentingan umat Islam. Setiap hari Abdurrahman bin Auf memikirkan hartanya jangan sampai ada yang tidak termanfaatkan di jalan Allah.
Jadi, seorang hartawan tidak seharusnya jatuh dalam kenistaan karena menganggap harta yang disimpan lebih membahagiakan daripada dibelanjakan di jalan Allah. Sungguh tercela seorang hartawan yang dalam hidupnya memilih meribakan uang, memonopoli perdagangan, dan mempermainkan harga serta tenaga kaum lemah yang menimbulkan keresahan masyarakat. Apalagi memeras tenaga buruh, hingga mereka tidak dapat menunaikan kewajiban agamanya.
Keteladanan Umar bin Abdul Aziz
Selain orang kaya, penguasa termasuk orang yang memiliki kelapangan harta. Tetapi lain halnya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia tak pernah memanfaatkan harta yang bukan haknya untuk kepentingan diri dan keluarganya.
Suatu hari khalifah meminta pelayannya untuk memanaskan air untuknya, supaya ia bisa berwudhu di hari yang sangat dingin, dengan cepat si pelayan kembali setelah memanaskan airnya, lalu khalifah bertanya, “Di mana kamu panaskan air secepat itu?
Pelayannya pun menjawab, “Aku memanaskannya di dapur umum”. Dapur umum didirikan Umar untuk memenuhi hajat kaum Muslimin yang dibiayai dari Baitul Mal. Khalifah Umar pun memarahi pelayannya atas perbuatannya itu.
Khalifah pun tak menyentuh sedikitpun air panas itu sampai pelayan itu pergi untuk membayar harga dari sekedar menumpang memanaskan air.
Jadi, tidak seharusnya seorang penguasa memanfaatkan jabatannya sebagai alat memperkaya diri dan keluarga. Bergaya hidup mewah, boros dan kikir. Karena bagaimanapun, kewenangan yang dimiliki untuk memanfaatkan harta rakyat sekalipun tidak diperiksa oleh pengadilan, kelak pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala.
Oleh karena itu dalam kitabnya Ihya Ulumuddin Imam Ghazali berpesan agar seorang penguasa atau pejabat negara harus berhati-hati dengan harta yang bersumber dari kas negara yang dikumpulkan dari pajak dan hasil ekspor. Karena hakikatnya harta itu adalah untuk kepentingan rakyat bukan penguasa.
Keutamaan Dermawan dan Tercelanya Kekikiran
Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berkata, “Ketahuilah bahwa jika kamu tidak memiliki harta, maka sikapilah dengna qana’ah. Sedangkan jika kamu memilikinya, maka sikapilah dengan mendahulukan orang lain, dermawan dan tidak pelit.
Kemudian Imam Ghazali mengutip hadits Nabi, “Sifat dermawan adalah salah satu pohon dari pepohonan surga yang dahannya terjuntai hingga ke tanah. Barangsiapa yang mengambil sehelai dahannya, maka dahan itu akan menuntunnya ke surga”.
Artinya, Muslim yang mendapat anugerah harta berlebih semestinya membagikan hartanya untuk kepentingan umat Islam. Bukan malah menyimpan dan terus menerus berusaha menambahnya tanpa peduli terhadap sesama alias kikir atau bakhil.
Siapa yang kikir tentu keberuntungan akan menjauh darinya.

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: Al Hasyr [59]: 9).
Dan, siapa yang tetap bakhil, kelak akan merasakan siksa yang memberatkan.
وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (QS: Ali Imron [3]: 180).
Sifat kikir orang kaya dan penguasa akan berakibat pada kekacauan atau kerusuhan sosial. Rasulullah bersabda, “Waspadalah dari sifat kikir. Sesungguhnya orang-orang sebelummu binasa karenanya. Sifat kikir membuat mereka saling membunuh dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka.” (HR. Ahmad).*














MEMBANGUN PERCAYA DIRI DAN PENCITRAAN YANG HAKIKI






DALAM buku Ma’alim Fith-Thoriq (Petunjuk Jalan) Sayyid Qutb (Ideolog Kedua Ikhwanul Muslimin Mesir) menulis bab khusus dengan judul Kebanggaan Iman. Bab ini menegaskan bahwa orang beriman adalah manusia yang senantiasa menjalin hubungan keimanan yang kuat dengan Rabb-nya. Allah Subhanahu Wata”ala . Dan jalinan hubungan imannya yang kuat dengan-Nya menyebabkan dirinya bermental kokoh. Bagaikan batu karang di tengah samudera. Ia tidak pernah merasa hina atau bersedih hati. Justru, ia selalu merasakan ketinggian dan kemuliaan di dalam hidupnya karena dirinya tersambung dengan Allah Subhanahu Wata”ala Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Inilah yang dimaksud oleh Sayyid Qutb dengan Kebanggaan Iman.
Betapa penting persoalan ini diangkat ke permukaan. Hal itu amat relevan jika dikaitkan dengan gejala/fenomena/realitas dunia modern yang penuh fitnah. Suatu kehidupan yang sekuler (memisahkan makhluk dari Al-Kholiq). Dan sebuah kehidupan yang mengikuti sistem ekonomi materialis, hedonis. Dua tsunami (skuler dan materialis) itulah yang menggerogoti iman dari dalam, dan menawarkan berbagai kebanggaan palsu. Ada kebanggaan harta, kebanggaan tahta dan jabatan, kebanggaan teknologi, kebanggaan intelektual-formal, kebanggaan popularitas dan kebanggaan-kebanggaan duniawi lainnya. 
Semua bentuk kebanggaan palsu tersebut tidak ada kaitan dengan iman kepada Allah Subhanahu Wata”ala . Sehingga menurut kajian Kebanggaan Iman bentuk-bentuk kebanggaan duniawi itu hakikatnya sangat lemah dan rapuh. Bahkan bersifat hina, semua dan tidak berarti di mata Allah Subhanahu Wata”ala .
Orang yang merasakan kemuliaan dan ketinggian hanya karena berbagai kebanggaan duniawi adalah orang-orang yang tertipu. Boleh jadi ia tampil dengan self-confidence (percaya-diri) yang tinggi sewaktu masih di dunia. Tetapi di akhirat kelak ia akan menyadari bahwa ia telah terpedaya. Sehingga ia akan menyesal telah membanggakan diri dengan kebanggaan-kebanggaan palsu. Ia tidak memperoleh nikmat spiritual, tetapi hanya mata’ud dunya (kenikmatan yang dekat dan sesaat). Itulah penyesalan yang sangat terlambat dan tentunya tiada berguna.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah Subhanahu Wata”ala-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran (3) : 14).
Janganlah kita silau/terpedaya memandang kekuasaan/jabatan, dunia dan seisinya ini dengan kaca mata Fir’aun.  Keduanya dipersepsikan sebagai ghoyah (tujuan akhir), bukan wasilatud dakwah (media dakwah). Ketika kekuasaan diraih, ia lupa diri dan lupa daratan. Ia mabuk kekuasaan dan gila harta dan pengaruh. Dia sadar dengan keimanan, ketika kondisi sedang terjepit. Sadar karena tekanan eksternal. Yaitu, ketika tubuhnya dipermainkan oleh gelombang bagaikan bola pimpong. Bukan bersumber dari lubuk hati yang dalam. Jangan berfikir aji mumpung, jangan bangga, jangan kaget dengan kekuasaan.
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah Subhanahu Wata”ala)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu [*] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (QS: Yunus (10) : 90-92)
Yang diselamatkan Allah Subhanahu Wata”ala ialah tubuh kasarnya. Menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.
Syetan sangat cerdik menipu manusia dengan berbagai kebanggaan duniawi. Menggelincirkan penguasa, ilmuan, hartawan dari jalan yang lurus. Kekuasaan, harta dan ilmu tidak semakin mendekatkan pemiliknya kepada Allah Subhanahu Wata”ala.
Syetan menyuruh manusia agar jangan peduli dengan kebanggaan iman sebab itu adalah perkara yang terlalu abstrak dan tidak dapat dilihat secara kasat mata. Sementara itu kebanggaan duniawi bersifat kongkrit dan mudah terukur. Sehingga muncullah gelombang manusia yang masuk ke dalam perangkap syetan. Sehingga jabatan, ilmu dan harta tidak ditemani dan dikontrol secara langsung oleh spirit Iman.
ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS: Al Araf (7) : 17).
Kalau yang terperangkap adalah manusia awam yang jahil akan agamanya kita tentu prihatin, tetapi masih dapat memahaminya. Ironisnya, dewasa ini kita menyaksikan mereka yang terjerat tipuan syetan adalah orang-orang yang dikenal khalayak ramai sebagai orang-orang yang biasa ikut pengajian, bahkan para ustadz dan ahli ilmu syar’iyyah Islamiyyah. Mereka adalah orang-orang yang semestinya tampil mengarahkan masyarakat luas agar mensyukuri dan mempertahankan Kebanggaan Iman.
Alih-alih melaksanakan kewajibannya sebagai mercusuar di tengah arus zaman penuh fitnah, mereka malah menjadi fihak yang mempromosikan pentingnya kebanggaan duniawi seperti kebanggaan akan tahta dan jabatan.
Mereka robah tolok-ukur keberhasilan da’wah. Keberhasilan da’wah Islam tidak lagi dinilai berdasarkan berapa banyak orang yang semakin beriman dan istiqomah. Tetapi dinilai berdasarkan berapa banyak dan berapa tinggi jabatan politik dan pos struktural kekuasaan yang berhasil direbut.
Kebanggaan tahta dan jabatan menjadi pembicaraan utama. Semua enersi dikerahkan untuk mencapai kebanggaan yang satu ini. Enersi waktu, fisik, batin, fikiran, dana dan doa semuanya dipusatkan demi kesuksesan merebut kekuasaan formal.
Kebanggaan iman semakin jarang dibicarakan dan malah semakin dirasa aneh dan tidak penting. Kerugian adalah saat seorang aktifis da’wah tidak berhasil merebut atau mempertahankan jabatan dan kekuasaannya untuk kebaikan. Keterlibatan dalam suatu kegiatan maksiat tidak dinilai sebagai sebuah kerugian, melainkan sebuah perilaku manusiawi yang wajar dan perlu dimaklumi. Mengejar ridho Allah Subhanahu Wata”ala menjadi kalah penting dibandingkan upaya image-building (pencitraan) dalam rangka mendapatkan dukungan rakyat luas.
Sayyid Qutb menjelaskan Kebanggaan Iman berpedoman kepada sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran 139)
Selanjutnya Sayyid Qutb mengomentari ayat di atas dengan uraian sebagai berikut: “Dia melukiskan suatu keadaan yang tertinggi yang harus mendasari dalam kalbu seorang mukmin dalam menghadapi apa pun. Suatu kebanggaan karena iman dan sendi-sendinya yang mengatasi seluruh sendi yang bukan bersumber dari iman. Suatu ketinggian yang mengatasi seluruh kekuatan di bumi yang jauh dari dasar iman; dan mengatasi seluruh sendi yang hidup di bumi ini yang tidak ber¬sumber dari iman. Mengatasi seluruh tradisi di bumi ini yang tidak dicetak oleh iman. Mengatasi seluruh undang-undang di bumi ini yang tidak disyariatkan oleh iman, dan mengatasi seluruh posisi di bumi ini yang tidak ditumbuhkan oleh iman.
Suatu ketinggian yang walaupun tenaga lemah, jumlah ummat yang sedikit dan kemiskinan harta, sama dengan ketinggian di waktu kuat, jumlah yang banyak dan harta yang melimpah.
Suatu ketinggian yang tidak merasa terhina di hadapan kekuatan yang zalim, tidak merasa rendah di hadapan kebiasaan sosial dan hukum yang bathil, dan tidak merasa rendah di hadapan posisi yang diterima oleh manusia tetapi tanpa sandaran iman.” (Petunjuk Jalan – Penerbit Media Dakwah – halaman 272)
Masalahnya bukan pada memiliki atau tidak memiliki jabatan dan kekuasaan politik. Tetapi yang menjadi masalah apakah sesudah seseorang memiliki kekuasaan politik masihkah ia menjadikan Kebanggaan Iman sebagai tolok ukur kemuliaan dan ketinggian di dalam hidupnya? Dan jawabannya bukan sekedar berupa sebuah pernyataan atau claim (za’mun).
Jawabannya haruslah berupa bukti dalam perilaku dan kebijakan. Bukti terbaik adalah berupa langkah-langkah bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata”ala. Dan sebaik-baik bentuk bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata”ala ialah berupa pemanfaatan kekuasaan demi memastikan tegak dan berlakunya dienullah serta hukum Allah Subhanahu Wata”ala di bawah wilayah otoritas kekuasaannya. Itulah salah satu janji Allah Subhanahu Wata”ala  kepada orang beriman di dunia ini.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah Subhanahu Wata”ala telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nur (24) : 55).*


 BILAMANA seseorang yang memperoleh jabatan politik kemudian terlihat nyata memberlakukan aturan dan hukum Allah Subhanahu Wata”ala  dalam ruang-lingkup otoritas kepemimpinannya, berarti ia telah berlaku jujur di dalam mempertahankan kebanggaan imannya. Tetapi bilamana seseorang menjabat lalu sesudahnya tidak terlihat nyata adanya perubahan aturan dan hukum jahiliyah diganti dengan hukum Allah Subhanahu Wata”ala , maka itu berarti ia telah melupakan Kebanggaan Iman dan terjebak syetan ke dalam perangkap kebanggaan tahta dan jabatan.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallAllah Subhanahu Wata”alau ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan.” (HR Bukhari – Shahih)

Orang yang memiliki jabatan akan merasakan “seenak-enak penyusuan” selama masa ia menjabat. Ia menikmati berbagai fasilitas dan gaji yang mencukupi hidup diri dan keluarganya. Dan ia pasti mengalami  “segetir-getir penyapihan” saat jabatannya mesti berakhir. Itulah rahasia mengapa setiap orang yang menjabat pasti akan berusaha keras melestarikan masa kekuasaannya (mempertahankan status quo).

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“..tetapi Allah Subhanahu Wata”ala menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (QS. Al Hujurat (49) : 7)

“Ya Allah Subhanahu Wata”ala, tanamkanlah kecintaan kami kepada iman dan hiasilah hati kami dengan iman. Dan jadikanlah kami benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Dan jadikanlah kami golongan orang-orang yang terbimbing.”

Orang yang memiliki kebanggaan iman menjadikan ilmunya untuk mencerahkan yang bodoh. Menjadikan hartanya untuk membebaskan kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Dan kekuasaan yang digenggam sebagai media merubah konstitusi menjadi undang-undang yang merujuk kitab suci. Menjadi diri dan keluarganya sebagai alat peraga Al-Quran dan As Sunnah. Jika semua potensi yang dimilikinya tidak dioptimalkan untuk mengharumkan dan mengagungkan nama Allah Subhanahu Wata”ala  dan syi’ar-syi’ar-Nya, maka bukan saja potensi yang dimilikinya akan menggali lubang kehancurannya (istidraj), pula tidak menambah kebaikan diri dan keluarganya (tidak barakah).  Jadi Percaya Diri dan Pencintraan  (Self-Confidence And Image-Building) yang hakiki adalah bersumber dari Yang Maha Kekal, Allah Subhanahu Wata”ala .

Yang menjadi muhasabah kita, benarkah ilmu yang kita miliki, jabatan yang kita duduki, harta kekayaan, pengaruh dan popularitas yang kita punyai, mendatangkan pertolongan dari Allah Subhanahu Wata”ala  (nshrullah), atau bahkan tidak menambah kebaikan kita, atau bahkan menjerumuskan kehidupan kita secara total (istidraj) ?. Benarkah apa yang kita peroleh berupa nikmat atau hanya sekedar mata’ (nikmat sesaat), nikmat duniawi yang kerdil dan rendah ?.

 إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata”ala memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad (47) : 12)

 فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”
(QS: Muhammad (47).*


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar