Jumat, 22 Maret 2013

TAZKIYATUN NAFS

NGAKU ISLAM ,KOK AMALANNYA TIDAK ISLAMI
 Gambar Gambar Islami



DALAM berbagai ayat Allah subhaanahu wa ta’ aala selalu menjelaskan tentang makna Islam dan makna dari dien yang Dia tidak menerima dien selainnya. Dia menjelaskan bahwa dien yang hanya Dia ridlai hanyalah dien Al Islam, Dia juga menjelaskan bahwa dien itu adalah aturan hidup yang menyeluruh.
Islam adalah nama yang memiliki hakikat dan isi, sekedar mengaku/menamakan diri sebagai Muslim kalau tidak sesuai dengan hakikat isinya maka itu tidaklah berarti apa-apa. Hari ini banyak kita saksikan orang mengaku Islam, ber KTP Islam, beridentitas Islam, menggunakan pakaian islami, berkerudung (berjilbab), tetap saja perilakunya tidak islami. Bahkan tetap juga korupsi.
Allah subhaanahu wa ta'aala menjelaskan di dalam Al Qur'an tentang apa Islam dan apa resiko-resiko berislam.
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Tidak demikian bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah (berislam), sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.“ (QS. Al-Baqarah (2) :112).
Juga firman-Nya subhaanahu wa ta'aala:
وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesunggunya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.”  (QS. Luqman (31) : 22)
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama yang di ridhai di sisi Allah hanyalah Islam.“ (QS. Ali-Imran (3) :19)
 وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan  diterima agama itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi,” (QS. Ali-Imran (3) : 85).
Beribadah selain Allah, dia itu bukan orang Islam
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitab An Nubuwwat hal 127:
"Islam adalah istislaam (berserah diri) kepada Allah saja tidak kepada yang lain-Nya, dia beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dia tawakkal hanya kepada-Nya saja, dia hanya takut dan mengharap kepada-Nya, dan dia mencintai Allah dengan kecintaan yang sempurna, dia tidak mencintai makhluk seperti kecintaan dia kepada Allah. Siapa yang enggan beribadah kepada-Nya maka dia bukan Muslim dan siapa yang disamping beribadah kepada Allah dia beribadah pula kepada yanq lain maka dia bukan orang Muslim."
Beliau menjelaskan bahwa orang yang sama sekali tidak mau beribadah kepada Allah maka dia itu bukan orang Islam, ini sesuai dengan apa yang sudah pasti dalam akidah Ahlus Sunnah bahwa orang yang hanya mengucapkanl dua kalimah syahadat sedangkan dia itu tidak pernah beramal sama sekali selama hidupnya padahal keadaan memungkinkan untuk itu maka itu bukanlah orang Islam.
Beliau juga menyatakan bahwa orang yang beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta'aala, akan tetapi di samping itu dia juga memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah maka dia itu bukan orang Islam.
Beliau berkata juga sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam Abdurrahman Ibnu. Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah dalam kitabnya Al Qaul Al Fashl An Nafiis Fir Raddi 'Alal Muftarii Dawud Ibni Jirjiis hal 160:
"Dalam Islam itu haruslah adanya istislaam (berserah diri penuh) kepada Allah saja dan meninggalkan Istislaam kepada selain-Nya,” inilah makna hakikat ucapan kita Laailaaha Illallaah. Siapa orangnya yang istislaam kepada Allah dan kepada yang lainnya, maka dia itu adalah orang musyrik, sedangkan Allah tidak mengampuni penyekutuan terhadap-Nya. Dan siapa yang tidak istislaam kepada Allah maka dia itu adalah orang yang mustakbir (menyombongkan diri). dari ibadah kepada-Nya, sedangkan Allah telah berfirman:
 إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَخِرِينَ
"Sesungguhnya   orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina." (QS: Al Mukmin (40): 60).

Contohnya orang mengaku Islam, dia shalat zakat, shaum, haji, dan yang lainnya, akan tetapi dia membuat tumbal atau meminta kepada yang sudah mati, maka orang seperti ini bukanlah orang Islam, karena dia  selingkuh kepada Allah SWT. Disamping istislaam kepada Allah dia juga istislaam kepada selain-Nya, Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya shaltku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi–Nya dan demikian itulah  yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah urang yang pertamatama menyerahkan diri kepada Allah," (QS:  Al An' am (6) : 162-163).

Dia subhaanahu wa ta'aala juga berfirman:
ومن يدع مع الله إلها آخر لا برهان به فإنما حسابه عند ربه إنه لا يفلح الكافرون
“Dan barangsiapa menyembah tuhan lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi tuhannya, Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung." (QS:  Al Mu'minuun (23) : 117).
Di dalam ayat itu Allah subhaanahu wa ta'aala menjelaskan bahwa orang yang beribadah kepada Allah a,kan tetapi dia juga beribadah kepada selain-Nya, maka dia itu. bukanlah orang Islam atau kafir.
Di dalam hadits hasan yang dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah: 'Addi Ibnu Hatim datang kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan nasrani, terus dia. mendengar beliau membaca ayat ini, . 'Addi berkata : Saya berkata kepada beliau : Sesungguhnya kami tidak pernah beribadah kepada mereka (ulama dan pendeta), "maka Rasulullaah berkata: Bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, terus kalian ikut mengharamkannya, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, terus kalian ikut menghalalkannya ? Maka 'Addi berkata: Saya berkata: Iya begitu,  Rasulullah   berkata: “Itu adalah bentuk peribadatan kepada mereka."
Mentauhidkan Allah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat dan hadits itu didalam Majmu Al Fatawaa 7/67-68: "Abu Al Bukhturi berkata : Sesungguhnya mereka itu tidak shalat terhadap para ulama dan pendeta itu, dan seandainya para pendeta itu memerintahkan mereka untuk menyembah mereka selain Allah, tentulah orang-orang nasrani itu tidak akan mentaati mereka, akan tetapi para ulama dan, para pendeta itu memerintahkan mereka sehingga  mereka menjadikan haram apa yang Allah halalkan dan menjadikan halal apa yang Allah haramkan, kemudian merekapun mentaatinya, maka itu adalah bentuk pentuhanan tersebut."
Jadi ibadah itu bukalah hanya terbatas pada ritual serimonial yang sudah kita ketahui, akan tetapi hukum itu merupakan bentuk dari ibadah juga sebagaimana yang dinyatakan dalam surat At Taubah 31 tadi "wamaa umiruu illaa 'liya 'buduu ilaahan waaahidan," juga sebagaimana firman-Nya firman-Nya:
"Keputusan itu hanyalah keputusan Allah, Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia, itulah agama yang lurus." (QS: Yusuf: 40).
Di dalam ayat itu Allah subhaanahu wa' ta'aala tegaskan bahwa al hukmu adalah ibadah dan dien. Bila Anda paham akan uraian ini maka kita kembali kepada hakikat dari Al Islam dan yang menyelisihinya yang berupa syirik.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Thariqul Hijratain Wa Baabus sa 'aadatain hal. 542 dalam thabaqah yang ke tujuh belas :

"Islam adalah mentauhidkan Allah, beribadah kepada-Nya saja tidak ada sekutu bagi-Nya, iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, serta mengikuti apa yang dibawanya, maka bila seorang hamba tidak membawa ini berarti dia bukan orang Muslim, bila dia bukan orang kafir mu'aanid maka dia adalah orang kafir yang jahil, dan status orang-orang ini adalah sebagai orang-orang kafir yang jahil tidak mu'aanid (membangkang), dan ketidak membangkangan mereka itu tidak mengeluarkan mereka dari status sebagai orang-orang kafir."

Beliau menegaskan "bahwa Islam itu terdiri dari lima hal, yang bila salah satunya tidak terealisasi maka itu bukan orang Islam, ya bisa jadi dia itu orang kafir yang memang membangkang atau orang kafir yang jahil akan kekafiran dirinya.
Al-Imam Asy Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Ad Durar Assaniyyah 1/113:
"Bila amalan kamu seluruhnya adalah bagi Allah maka kamu muwahhid, dan hila ada sebagian yang dipalingkan kepada makhluk maka kamu adalah musyrik"
Bila saja mayoritas amalan seseorang untuk Allah, akan tetapi ada salah satunya dia palingkan kepada selain-Nya maka dia itu musyrik meskipun mengaku Muslim. Ini seperti para 'ubbaadul qubuur (yang jatuh dalam syirik kuburan) dan 'ubbaaddustuur (yang jatuh dalam syirik aturan), dan kedua macam syirik ini sudah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:
“Orang-orang yang membolehkan apa yang Allah haramkan atau mengharamkan apa yang Allah halalkan mereka itu di vonis oleh-Nya dalam ayat tadi sebagai arbaab (tuhan-tuhan jadi-jadian)  dan adapun orang-orang yang sepakat dengan mereka, mendukung, menyetujui, rela dan  ridla maka dia itu adalah divonis musyrik oleh-Nya."
Ini dikuatkan oleh firman-Nya dalam Quran surat Al An' am ketika orang-orang musyrik Quraisy mendebat kaum Muslimin agar ikut menghalalkan bangkai.
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik." (Qs: AI-An' aam (6) : 121).*


 SYEIKH Muhammad Al Amin Asyinqithiy rahimahullah berkata dalam tafsir Adlwaa'ul Bayan,  Ketika orang-orang kafir berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam, "Kambing mati, siapa yang membunuhnya? Maka Nabi menjawab, "Allah-Iah yang mematikannya," lalu mereka berkata " Apa yang kalian sembelih dengan tangan-tangan kalian halal, sedangkan apa yang disembelih Allah dengan tangan-Nya Yang Mulia kamu mengatakannya haram, kalau begitu kalian lebih baik daripada Allah ! Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya tentang mereka ini :

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam ituadalah suatu kefasikan Sesungguhnya syetan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik." (QS: Al-An' aam (6): 121)

Beliau berkata lagi : Ayat-ayat yang berhubungan dengan ini cukup banyak dan telah kami kemukakan beberapa kali, dan kami akan menyebutkan kembali dari ayat-ayat itu yang kami nilai sudah cukup. Dan di antaranya – dan ini tergolong yang paling jelas dan paling gamblangya itu bahwa fakta zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam telah terjadi, perhelatan antara hizbullah dan hizbusysyaithan dalam satu hukum dari hukum-hukum pengharaman dan penghalalan. Hizburrahman mengikuti tasyri' Ar-Rahman dalam pengharaman sesuatu itu dengan wahyu-Nya. Sedang hizbusysyaithan mengikuti wahyu syaithan dalam penghalalannya. Dan Allah telah menghukumi diantara keduanya serta memutuskan perselisihan mereka dengan fatwa langit, yaitu Al-Qur'an yang dibaca pada surat Al-An’am.

Yaitu sesungguhnya syaithan ketika mewahyukan kepada wali-walinya, ia berkata kepada mereka dalam wahyunya: "Tanyakan kepada Muhammad tentang kambing yang menjadi bangkai, siapa yang mematikannya?" Maka mereka (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan para sahabatnya) menjawab pertanyaan mereka bahwa Allahlah yang mematikannya.

Lalu mereka berkata:" Kalau begitu bangkai adalah sembelihan Allah, dan kalian kenapa mengatakan bahwa yang apa yang disembelih Allah itu haram? Padahal kalian mengatakan bahwa apa-apa yang kalian sembelih dengan tangan-tangan kalian .adalah halal, kalau demikian berarti sembelihan kalian lebih baik dan lebih halal daripada sembelihan Allah?

Sekarang di tengah-tengah kita apa yang diagungkan, dijaga, dilindungi, dipegang erat, dijunjung tinggi oleh para penguasa, pejabat, anggota dewan, tentara, polisi, para hakim, para jaksa yang mengaku Islam? Apakah hukum Allah dan aturannya, ataukah hukum manusia dan undang-undang serta aturannya?

“Hari kiamat tidak akan tiba sehingga suku dari umatku kembali menyembah berhala, dan sehingga jumlah besar dari umatku bergabung denga orang-orang musyrik." (HR Al Barqaaniy dalam Shahihnya).

Syirik macam pertama yang Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam isyaratkan adalah syirik penyembahan berhala (syrik kuburan) beliau berkata: “Ya Allah janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala  yang disembah." (HR. Malik).

Dan syirik lain yang beliau isyaratkan akan terjadi besar-besaran adalah syirkulluhuuq bil musyrikiin (syirik dengan cara bergabung dengan orang-orang musyrik atau mengadopsi sistim syirik) seperti syirik orang yang masuk parlemen atau orang yang berpaham sekuler yang di antaranya adalah orang-orang demokrat.

Dan memang yang sedang merebak sekarang adalah dua macam syirik ini yaitu syirkul qubuur (syirik kuburan) dan syirkuddustuur (syirik aturan). Orang yang jatuh ke dalam syirik tadi tidak bisa dikatakan bahwa dia itu orang Islam, dengan sebab dia mengaku Islam atau melaksanakan sebagian atau banyak syi'ar Islam, ini dikarenakan syirik akbar dengan Islam (tauhid) itu tidak bisa bersatu dalam diri seseorang dalam satu waktu.

Imam Syafii rahimahullah mengatakan: "Jika jiwamu tidak all out dalam ketaatan maka akan memalingkanmu dalam kemaksiatan."

Syeikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Syarah Ashli Dienil Islam (lihat, Al Jami 'AI Fariid: 380): "Sesungguhnya orang yang melakukan syirik itu berarti dia telah meninggalkan tauhid, karena keduanya adalah dua hal yang bersebrangan yang tidak bisa bersatu, bila syirik ada pada diri sesorang maka hilang1ah tauhid."

Beliau rahimahullah berkata lagi dalam Ad Durar Assaniyyah 2/161 : "Siapa orangnya memalingkan sesuatu dari ibadah itu kepada selain Allah, maka dia itu musyrik,"

Juga Al Imam AsySyeikh Abdillathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Kitabnya Minhajut Ta'siis Wat Taqdiis Fi Kasyfi Syubuhaat Dawud Ibni Jirjiis hal 12 : "Sesungguhnya Islam dan syirik itu adalah naqidlaan (dua hal yang kontradiksi) yang tidak bisa bersatu dan tidak bisa kedua-duanya hilang (secara bersamaan)"

Syeikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Ad Durar 1/323 dan Minhajut Ta'siis hal 61:

"Sekedar mengucapkan kalimat syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntutannya maka itu tidak membuat mukallaf tersebut menjadi Muslim, dan justeru itu menjadi hujjah atas dia, Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, sedang dia itu beribadah kepada yang selain Allah (pula) maka kesaksiannya itu tidak dianggap meskipun dia itu shalat, zakat, shaum dan melaksanakan sebagian ajaran Islam” Ini adalah pernyataan -yang jelas lagi gamblang, akan tetapi orang-orang sekarang hanya berpegang kepada sekedar surat pengenal atau amalan Islam yang lahir tanpa memperhatikan kepada pembatal keislaman itu, padahal mereka melihat orang-orang itu melakukan pembatal keislaman. Sebagai contoh ketegasan dalam tauhid ini yang tidak mengenal sekedar pengakuan atau amalan syi'ar lahir yang biasa, adalah yang dikatakan Syeikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah kepada seorang hakim (qadli) agung di kota Riyadl yang di mana dia itu orang yang terkenal alim dan rajin ibadah dan terpandang di masyarakatnya, akan tetapi dia itu melegalkan syirik kuburan yang ada di tengah masyarakatnya dan menentang dakwah tauhid yang digencarkan oleh Syeikh, Syeikh berkata kepada sang hakim agung itu (Sulaiman Ibnu Suhaim) dalam risalah beliau kepadanya (lihat Tarikh Nejd : 304) :

Syeikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad rahimahullah berkata dalam Al Qaul Al Fashl An Nafiis hal 31:

“Sesungguhnya orang Muslim itu tidak mungkin memohon kepada selain Allah selama-lamanya. Sesungguhnya orang yang meminta dan mohon hajatnya kepada mayit atau orang yang ghaib, maka dia itu telah keluar dari Islam, karena sesungguhnya syirik itu menafikan Islam, menghancurkannya, dan mengurai tali-talinya satu demi satu, ini berdasarkan apa yang telah dijelaskan bahwa Islam itu adalah penyerahan wajah, hati, lisan dan seluruh anggota badan hanya kepada Allah tidak kepada yang lainnya, orang Muslim itu bukanlah orang yang taqlid kepada nenek moyangnya, guru-gurunya yang bodoh dan berjalan di belakang mereka tanpa petunjuk dan bashirah.”

Laa ilaaha Illallaah itu memiliki makna dan konsekuensi. Maknanya harus diketahui dan ini adalah salah satu syarat Laa ilaaha Illallaah. Sedangkan konsekuensinya adalah harus dipegang dan dilaksanakan.

Syeikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Taisiir Al 'Aziz Al Hamid hal 58 :

"Siapa yang mengucapkan kalimat ini (Laa ilaaha Illallaah) dengan mengetahui maknanya, mengamalkan tuntutannya berupa menafikan syirik dan menetapkan wahdaniyyah hanya bagi Allah dengan disertai keyakinan yang pasti akan kandungan maknanya dan, mengamalkannya maka dia itu adalah orang Muslim yang sebenarnya. Bila dia mengamalkannya secara dhahir tanpa meyakininya maka dia munafiq, dan bila dia mengamalkan apa yang menyalahinya berupa syirik maka dia itu kafir meskipun mengucapkannya (Laa ilaaha Illallaah)." Beliau mengatakan juga dalam kitab yang sarna (lihat Juz Ashli Dienil Islam 30 :

"Sesungguhnya mengucapkan Laa ilaaha Illallaah tanpa disertai pengetahuan akan maknanya dan tidak mengamalkan tuntutannya berupa iltizaam (keterikatan yang kuat) dengan tauhid dan meninggalkan syirik serta kufur kepada thaghut maka sesungguhnya pengucapan itu tidak bermanfaat dengan ijma para ulama."

Ini dikarenakan Laa ilaaha Illallaah itu memiliki dua rukun, yaitu kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah, salah satunya saja tidaklah berguna dan tidak menyebabkan orang terjaga darah dan hartanya serta dia tidak dianggap orang Islam, sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta'aala :

 ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Karena itu barangsiapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kua yang tidak akan putus." (QS: Al Baqarah (2) : 256)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan Muslim: “Siapa mengucapkan Laa ilaaha Illallaah dan kafir terhadap  segala sesuatu yang disembah selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, sedangkan penghisabannya adalah atas Allah."

Karenanya, mengaku Islam dan menampakkan amalan Islam tidak menjamin dia itu orang Islam, bila dia tidak iltizaam dengan konsekuensinya.









JADIKAN SHOLAT SEBAGAI MADRASAH



SETIAP momentum bulan Rajab, biasanya  seorang muslim disegarkan ingatannya oleh peristiwa  monumental, yaitu Isra dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam . Beliau diperjalankan  oleh Allah Subhanahu Wata’ala setelah mengalami tahun kesedihan (‘amul huzni). Disebabkan oleh kematian istri tercintanya dan paman yang dihurmatinya, yang selama ini keduanya selalu mensupport beliau dalam suka dan duka merintis jalan dakwah. 
Perjalanan beliau menembus dimensi ruang dan waktu, memberikan pelajaran mendasar bahwa kerumitan apapun yang dihadapi seorang pejuang kebenaran dan keadilan akan ditemukan solusinya dengan media menegakkan shalat. Dengan shalat, kesulitan apapun yang dihadapi akan menjadi mudah, karena  mengundang intervensi dan keterlibatan Allah Subhanahu Wata’ala (tadakhul rabbani).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[*], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah (2) : 153).
Ada pula yang mengartikan : mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar (keteguhan dan ketegaran jiwa) dan shalat. Ash Shalatu mi’rajul mukmin (shalat adalah mi’raj - media untuk berinteraksi ke langit  -  seorang mukmin) (al-Hadits).
Selain itu, peristiwa Isra dan Mi’raj menjadi bukti yang sangat valid  alangkah agungnya perintah ibadah shalat. Berbeda dengan perintah yang lain, perintah shalat diterima oleh Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam secara langsung menghadap-Nya di Sidratul Muntaha, tanpa melalui perantara malaikat Jibril.
Peristiwa bersejarah tersebut, seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi seorang muslim untuk mengadakan evaluasi secara total dan radikal (fundamental) mutu pelaksanaan shalat kita. Dengan harapan ibadah mahdhah tersebut mampu memberikan pengaruh yang signifikan (atsarun fa’aal) dalam membentuk kepribadian muslim secara utuh baik dari sisi mujahadah (kecerdasan spiritual), ijtihad (kecerdasan intlektual) dan jihad (kesedian untuk berkurban di jalan Allah Subhanahu Wata’ala).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun (63) : 9)
Dengan dievaluasi secara berkesinambungan,  semoga kelak hisab shalat lebih ringan. Juga ada peningkatan mutu baik pisik dan dimensi ruhani. Shalat yang kita lakukan tidak sebatas kaya ritus formal serimonial yang menjemukan, tetapi miskin aplikasi. Kita berharap shalat yang kita lakukan fungsional memberikan maknawiyah (spirit), yang dapat mengantarkan kita menjadi sholih linafsihi (sholih untuk dirinya) dan shalih lighoirihi (shalih kepada orang lain). Dan menjaga keseimbangan dimensi hablun minallah (hubungan vertical) dan hablun minannas (hubungan horizontal).
Nilai-Nilai Tarbiyah dalam Shalat
Secara empiris mengajarkan, setidaknya ada sembilan pelajaran penting (hikmah)  yang diserap  dalam ibadah shalat.
Pertama: Tazkiyatun Nafs (mensucikan jiwa). Shalat mendidik pelakunya untuk mensucikan dirinya dari virus ruhani yang menjadi pemicu pelanggaran/penyimpangan dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia dahulu sampai sekarang. Yaitu, penyakit serakah (thama’), yang diwariskan oleh Adam as. Yang berefek pada terusirnya dari surge, takabur (sombong) yang ditularkan oleh Iblis, berakibat sebagai penghalang masuk surga dan hasud (dengki) yang dipusakakan oleh Qabil, pemicu terjadinya pembunuhan pertama kali di dunia ini.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al Ankabut (29) : 45)
Kedua: Tarbiyatul Wahdah Al Islamiyah (pendidikan persatuan umat Islam). Orang yang shalat menghadap ke tempat/arah yang sama (kiblat), yaitu Baitullah (Ka’bah). Hal ini menunjukkan pentingnya mewujudkan persatuan yang diikat oleh nilai-nilai prinsip (jamaah), bukan sekedar bergerombol (majmu’ah), berkumpul karena ikatan kerja (materi). Jamaah akan terwujud jika didorong oleh kebersihan hati individunya dari berbagai kepentingan kecuali menomorsatukan Allah Subhanahu Wata’ala dan mengagungkan syi’ar-syi’arnya. Semua bentuk persahabatan, kesepahaman akan memicu permusuhan dikemudian hari kecuali didasari oleh spirit iman dan takwa. Tahapan persatuan diawali dari saling mengenal (taaruf), saling memahami (tafahum), saling menyayangi (tarahum), saling menanggung (takaful), saling menolong (tanashur).
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zuhruf (43): 67).
Ketiga: Harish ‘ala waqtihi (bersungguh-sungguh dalam mengelola waktunya)
Seorang Muslim jadual kehidupannya diatur oleh waktu shalat. Transaksi milyaran rupiah akan dia batalkan jika panggilan shalat telah dikumandangkan. Ia yakin, jika memperoleh undangan seseorang, maka yang mengundang sudah mempersiapakan hidangan kepada yang diundang. Apalagi yang mengundang adalah Zat Yang Maha Kaya, sudah tentu yang disisi-Nya lebih baik dari dunia dan seisinya. Maka, dia beruapaya melakukannya untuk tepat waktu. Memenuhi adab lahir dan batin.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al Anfal (8): 24)
Keempat: Munadhdhamun fil Jama’ah (disiplin dalam berorganisasi). Sholat mendidik tertib organisasi, menyangkut tertibnya berjamaah dengan barisan yang rapi, rapat. Tidak boleh ada barisan yang kosong agar tidak dimasuki syetan. Muslim yang satu dengan yang lain bergaul dengan penuh kedekatan, keeratan dan keakraban. Rasulullah bersabda : Orang beriman itu mudah untuk harmonis dan mudah untuk diharmoniskan, tiada kebaikan bagi mukmin yang tidak mudah jinak dan tidak mudah dijinakkan (al Hadits). Dalam al-Quran panggilan untuk orang-orang beriman (ya ayyuhalladzina amanu – menggunakan jama’ -). Tidak ditemukan dalam al-Quran, sebutan untuk orang beriman dengan kata tunggal (ya ayyuhal mukmin). Hal ini menunjukkan bahwa konsekwensi keimanan seseorang adalah ia harus menempatkan dirinya bagian dari kaum muslimin di seluruh dunia.
Kelima:  Tarbiyatus Sam’i wath Tha’ati (pendidikan ketaatan). Shalat mendidik ketaatan kepada pemimpin. Mengikuti gerakan iman, tidak mendahului walaupun sesaat, menunjukkan adanya ketaatan dan komitmen (keterikatan yang kuat) atau loyal, serta meniadakan penolakan perintahnya, selama perintah itu tidak untuk bermaksiat. Sesungguhnya efek ketaatan itu akan kembali kepada kita sendiri. “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata'ala.”(HR Ahmad). Seorang makmum menyadari jika ia tidak berhasil menanamkan kultur sami’na wa ‘atha’na terhadap pemimpin yang disepakati, maka kelak anak buahnya tidak akan patuh kepadanya. Agar kita memiliki anak shalih/ah, terlebih dahulu kita harus menjadi putra yang shalih/ah bagi orang tua kita. Jika kita mudah mengobral kutukan kepada sesepuh kita, maka anak kita nanti akan mengutuk kita.
Keenam: Qaulu Kalimatil hak ‘inda sulthanin jair (berani menyampaikan kebenaran di depan pemimpin yang zhalim). Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan. Karena ia mencintai pemimpinnya, tetapi lebih mencintai kepada kebenaran. Maka, jika imam lupa, makmum mengingatkannya (membaca subhanallah), hal ini menunjukkan keharusan rakyat untuk mengingatkan pemimpinnya jika melakukan kesalahan. Tidak membiarkannya melakukan kezhaliman. Teman yang benar bukanlah yang selalu setuju dengan pendapat kita, tetapi yang selalu meluruskan kita jika terjerumus dalam lubang kehancuran.
Ketujuh: Tarbiyatul Musawah  (mendidik sikap egaliter). Shalat mendidik persamaan hak. Surga berhak ditempati bagi orang yang bersegera menuju ketaatan sekalipun dia berasal dari suku Habasyah dan neraka berhak ditempati bagi orang yang berbuat maksiat walaupun ia berasal dari suku Quraisy.  Pada shalat berjamaah, dalam mengisi shaf tidak didasarkan pada status social jamaah, tidak pula memandang kekayaan atau pangkat, walau dalam shaf terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak tanpa memandang tinggi kedudukan maupun tua umurnya. Karena, Allah SWT tidak menilai kedudukan, keturunan, warna kulit, tetapi menilai hati dan amal kita.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat (49) : 13)
Kedelapan: Tarbiyatush Shihhiyyah (pendidikan kesehatan). Shalat mendidik hidup sehat. Shalat memberikan kesan kesehatan, yang diwujudkan dalam gerakan di setiap rakaat, yang setiap harinya minimal 17 rakaat secara seimbang. Hal ini merupakan olahraga fisik secara sederhana dan mudah gerakannya. Kata ahli hikmah : Bergeraklah terus karena dalam gerakan itu ada barakah (tambahan kebaikan). Air yang  menggenang, tidak mengalir akan menjadi sarang kuman. Demikian pula apabila pisik tidak bergerak secara stimulan dan simultan akan mudah keropos dan gampang terserang penyakit.
Kesembilan: Tarbiyatu Mudawamatidz Dzikr (pendidikan kesinambungan mengingat Allah SWT). Secara etimologis shalat bermakna doa. Karena lafadz yang dibaca dalam shalat adalah berisi doa dan dzikir. Bahkan menegakkan shalat sesungguhnya untuk mengingat kebesaran, kemuliaan dan keagungan-Nya.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (QS. Thaha (20) : 14)
Dengan shalat yang dilakukan lima kali sehari semalam akan menjadikan seseorang untuk selalu mengingat-Nya. Dengan zikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala hati menjadi tenang, karena selalu ditemani oleh-Nya. Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: Saya selalu menemani orang yang mengingat-KU (ana jaliisu man dzakarani).
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d (13) : 28)
Bahkan, jika kita selalu mengingat Allah Subhanahu Wata’ala, Ia akan selalu mengingat kita. Ada kedekatan hubungan hamba dengan Al Khalik. Jika seseorang dekat dengan-Nya, maka dekat dengan rahmat, maghfirah, dan karunia-Nya.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah (2) : 152).
Indikator Diterimanya Shalat

Jika shalat dilakukan dengan khusyu’ dan berlatih untuk berpisah dengan dunia maka akan melahirkan perubahan secara kongkrit pada ranah pola piker dan perilaku pelakunya. Selesai shalat melahirkan manusia baru.  Manusia yang tawadhu (rendah hati), tidak bersikap sombong kepada sesama, tidak meneruskan berbuat maksiat, pada siang hari selalu kontak dengan Allah Subhanahu Wata’ala dengan zikir, memiliki kepekaan social terhadap kaum dhuafa dan mustadh’afin.
Ada lima indikator utama yang bisa menjadi standar (tolak ukur) diterimanya shalat seseorang, sebagaimana hadits qudsi berikut :
اِنَّمَا اَتَقَبَّلُ الصَّلاَةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعُظْمَتِي وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَليَ خَلْقِي وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي وَقَطَعَ النَّهَارَ لِذِكْرِي وَرَحِمَ  المَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلَ وَالاّرْمَلّةَ وَرَحِمَ المُصَابَ
“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran-KU, yang tidak menyombongkan diri kepada makhluk-KU, yang tidak meneruskan maksiat kepada-KU, yang mengisi sebagian siang dengan berdzikir kepada-KU, yang menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggal mati suaminya, dan yang mengasihi orang yang ditimpa musibah.” (Sayid Sabiq, dalam karya tulisnya : Islamuna, hal.119)
Jika nilai-nilai shalat tersebut diatas diwujudkan dalam kehidupan setiap muslim maka secara aksiomatik akan terjadi pencerahan (transformasi) dan penataan ulang orientasi dan perilaku keislaman dan keimanan dalam seluruh aspek kehidupannya baik dalam skala kehidupan individu, keluarga, bangsa, Negara dan dunia. Insya Allah.*








SELF- KONFIDENCE YANG DISERAP DARI KEIMANAN




DI DALAM buku Ma’alim Fith-Thoriq (Petunjuk Jalan) Sayyid Qutb (Ideolog Kedua Ikhwanul Muslimin Mesir) menulis bab khusus dengan judul Kebanggaan Iman. Bab ini menegaskan bahwa orang beriman adalah manusia yang senantiasa menjalin hubungan keimanan yang kuat dengan Rabb-nya, Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan jalinan hubungan imannya yang kuat dengan-Nya menyebabkan dirinya bermental kokoh. Bagaikan batu karang di tengah samudera. Ia tidak pernah merasa hina atau bersedih hati. Justru, ia selalu merasakan ketinggian dan kemuliaan di dalam hidupnya karena dirinya tersambung dengan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Inilah yang dimaksud oleh Sayyid Qutb dengan Kebanggaan Iman.
Betapa penting persoalan ini diangkat ke permukaan. Hal itu amat relevan jika dikaitkan dengan gejala/fenomena/realitas dunia modern yang penuh fitnah. Suatu kehidupan yang skuler (memisahkan makhluk dari Al-Kholiq). Dan sebuah kehidupan yang mengikuti sistem ekonomi materialis, hedonis. Dua tsunami (skuler dan materialis) itulah yang menggerogoti iman dari dalam, dan menawarkan berbagai kebanggaan palsu. Ada kebanggaan harta, kebanggaan tahta dan jabatan, kebanggaan teknologi, kebanggaan intelektual-formal, kebanggaan popularitas dan kebanggaan-kebanggaan duniawi lainnya.  Semua bentuk kebanggaan palsu tersebut tidak ada kaitan dengan iman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Sehingga menurut kajian Kebanggaan Iman bentuk-bentuk kebanggaan duniawi itu hakikatnya sangat lemah dan rapuh. Bahkan bersifat hina dan tidak berarti di mata Allah Subhanahu Wata’ala.
Orang yang merasakan kemuliaan dan ketinggian hanya karena berbagai kebanggaan duniawi adalah orang-orang yang tertipu. Boleh jadi ia tampil dengan self-confidence (percaya-diri) yang tinggi sewaktu masih di dunia. Tetapi di akhirat kelak ia akan menyadari bahwa ia telah terpedaya. Sehingga ia akan menyesal telah membanggakan diri dengan kebanggaan-kebanggaan palsu. Ia tidak memperoleh nikmat spiritual, tetapi hanya mata’ud dunya (kenikmatan yang dekat dan sesaat). Itulah penyesalan yang sangat terlambat dan tentunya tiada berguna.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS: Ali Imran (3) : 14).
Janganlah kita silau/terpedaya memandang kekuasaan/jabatan, dunia dan seisinya ini dengan kaca mata Fir’aun.  Keduanya dipersepsikan sebagai ghoyah (tujuan akhir), bukan wasilatud dakwah (media dakwah). Ketika kekuasaan diraih, ia lupa diri dan lupa daratan. Ia mabuk kekuasaan dan gila harta dan pengaruh. Dia sadar dengan keimanan, ketika kondisi sedang terjepit. Sadar karena tekanan eksternal. Yaitu, ketika tubuhnya dipermainkan oleh gelombang bagaikan bola pimpong. Bukan bersumber dari lubuk hati yang dalam. Jangan berfikir aji mumpung, jangan bangga, jangan kaget dengan kekuasaan (ojo dumeh, ojo gumun lan ojo kagetan, Bhs Jawa).

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِي
آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (QS: Yunus (10) : 90-92)
Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.
Syetan sangat cerdik menipu manusia dengan berbagai kebanggaan duniawi. Menggelincirkan penguasa, ilmuan, hartawan dari jalan yang lurus. Kekuasaan, harta dan ilmu tidak semakin mendekatkan pemiliknya kepada Allah Allah Subhanahu Wata’ala. Syetan menyuruh manusia agar jangan peduli dengan kebanggaan iman sebab itu adalah perkara yang terlalu abstrak dan tidak dapat dilihat secara kasat mata. Sementara itu kebanggaan duniawi bersifat kongkrit dan mudah terukur. Sehingga muncullah gelombang manusia yang masuk ke dalam perangkap syetan. Sehingga jabatan, ilmu dan harta tidak ditemani dan dikontrol secara langsung oleh spirit Iman.
ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS: Al Araf (7) : 17).
Kalau yang terperangkap adalah manusia awam yang jahil akan agamanya kita tentu prihatin, tetapi masih dapat memahaminya. Ironisnya, dewasa ini kita menyaksikan mereka yang terjerat tipuan syetan adalah orang-orang yang dikenal khalayak ramai sebagai orang-orang yang biasa ikut pengajian dan tarbiyyah, bahkan para ustadz dan ahli ilmu syar’iyyah Islamiyyah. Mereka adalah orang-orang yang semestinya tampil mengarahkan masyarakat luas agar mensyukuri dan mempertahankan Kebanggaan Iman.  Alih-alih melaksanakan kewajibannya sebagai mercusuar di tengah arus zaman penuh fitnah, mereka malah menjadi fihak yang mempromosikan pentingnya kebanggaan duniawi seperti kebanggaan akan tahta dan jabatan.
Mereka rubah tolok-ukur keberhasilan da’wah. Keberhasilan da’wah Islam tidak lagi dinilai berdasarkan berapa banyak orang yang semakin beriman dan istiqomah. Tetapi dinilai berdasarkan berapa banyak dan berapa tinggi jabatan politik dan pos struktural kekuasaan yang berhasil direbut. Kebanggaan tahta dan jabatan menjadi pembicaraan utama. Semua enersi dikerahkan untuk mencapai kebanggaan yang satu ini. Enersi waktu, fisik, batin, fikiran, dana dan doa semuanya dipusatkan demi kesuksesan merebut kekuasaan formal. Kebanggaan iman semakin jarang dibicarakan dan malah semakin dirasa aneh dan tidak penting. Kerugian adalah saat seorang aktifis da’wah tidak berhasil merebut atau mempertahankan jabatan politiknya. Keterlibatan dalam suatu kegiatan maksiat tidak dinilai sebagai sebuah kerugian, melainkan sebuah perilaku manusiawi yang wajar dan perlu dimaklumi. Mengejar ridho Allah menjadi kalah penting dibandingkan upaya image-building (pencitraan) dalam rangka mendapatkan dukungan rakyat luas.
Sayyid Qutb menjelaskan Kebanggaan Iman berpedoman kepada sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS: Ali Imran 139)
Selanjutnya Sayyid Qutb mengomentari ayat di atas dengan uraian sebagai berikut: “Dia melukiskan suatu keadaan yang tertinggi yang harus mendasari dalam kalbu seorang mukmin dalam menghadapi apa pun. Suatu kebanggaan karena iman dan sendi-sendinya yang mengatasi seluruh sendi yang bukan bersumber dari iman. Suatu ketinggian yang mengatasi seluruh kekuatan di bumi yang jauh dari dasar iman; dan mengatasi seluruh sendi yang hidup di bumi ini yang tidak ber¬sumber dari iman. Mengatasi seluruh tradisi di bumi ini yang tidak dicetak oleh iman. Mengatasi seluruh undang-undang di bumi ini yang tidak disyariatkan oleh iman, dan mengatasi seluruh posisi di bumi ini yang tidak ditumbuhkan oleh iman.
Suatu ketinggian yang walaupun tenaga lemah, jumlah ummat yang sedikit dan kemiskinan harta, sama dengan ketinggian di waktu kuat, jumlah yang banyak dan harta yang melimpah. Suatu ketinggian yang tidak merasa terhina di hadapan kekuatan yang zhalim, tidak merasa rendah di hadapan kebiasaan sosial dan hukum yang bathil, dan tidak merasa rendah di hadapan posisi yang diterima oleh manusia tetapi tanpa sandaran iman.” (Petunjuk Jalan – Penerbit Media Dakwah – halaman 272)
Masalahnya bukan pada memiliki atau tidak memiliki jabatan dan kekuasaan politik. Tetapi yang menjadi masalah apakah sesudah seseorang memiliki kekuasaan politik masihkah ia menjadikan Kebanggaan Iman sebagai tolok ukur kemuliaan dan ketinggian di dalam hidupnya? Dan jawabannya bukan sekedar berupa sebuah pernyataan atau claim (za’mun).
Jawabannya haruslah berupa bukti dalam perilaku dan kebijakan. Bukti terbaik adalah berupa langkah-langkah bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sebaik-baik bentuk bersyukur kepada Allah ialah berupa pemanfaatan kekuasaan politik demi memastikan tegak dan berlakunya dienullah serta hukum Allah di bawah wilayah otoritas kekuasaannya. Itulah salah satu janji Allah Subhanahu Wata’ala kepada orang beriman di dunia ini.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur (24) : 55).
Bilamana seseorang yang memperoleh jabatan politik kemudian terlihat nyata memberlakukan aturan dan hukum Allah Allah Subhanahu Wata’ala dalam ruang-lingkup otoritas kepemimpinannya, berarti ia telah berlaku jujur di dalam mempertahankan kebanggaan imannya. Tetapi bilamana seseorang menjabat lalu sesudahnya tidak terlihat nyata adanya perubahan aturan dan hukum jahiliyah diganti dengan hukum Allah, maka itu berarti ia telah melupakan Kebanggaan Iman dan terjebak syetan ke dalam perangkap kebanggaan tahta dan jabatan.
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan.” (HR Bukhari – Shahih)
Orang yang memiliki jabatan akan merasakan “seenak-enak penyusuan” selama masa ia menjabat. Ia menikmati berbagai fasilitas dan gaji yang mencukupi hidup diri dan keluarganya. Dan ia pasti mengalami  “segetir-getir penyapihan” saat jabatannya mesti berakhir. Itulah rahasia mengapa setiap orang yang menjabat pasti akan berusaha keras melestarikan masa kekuasaannya (status quo).
"Tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (QS:  Al Hujurat (49) : 7)
Orang yang memiliki kebanggaan iman menjadikan ilmunya untuk mencerahkan yang bodoh. Menjadikan hartanya untuk membebaskan kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Dan kekuasaan yang digenggam sebagai media merubah konstitusi menjadi undang-undang yang merujuk kitab suci. Menjadi diri dan keluarganya sebagai alat peraga Al-Quran dan As Sunnah.
Jika semua potensi yang dimilikinya tidak dioptimalkan untuk mengharumkan dan mengagungkan nama Allah Allah Subhanahu Wata’ala dan syi’ar-syi’ar-Nya, maka bukan saja potensi yang dimilikinya akan menggali lubang kehancurannya (istidraj), pula tidak menambah kebaikan diri dan keluarganya (tidak barakah).
Yang menjadi muhasabah kita, benarkah ilmu yang kita miliki, jabatan yang kita duduki, harta kekayaan, pengaruh dan popularitas yang kita punyai, mendatangkan pertolongan dari Allah Allah Subhanahu Wata’ala (nshrullah), atau bahkan tidak menambah kebaikan kita, atau bahkan menjerumuskan kehidupan kita secara total (istidraj) ? Benarkah apa yang kita peroleh berupa nikmat atau hanya sekedar mata’ (nikmat sesaat), nikmat duniawi yang kerdil dan rendah?
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?.” (QS: Muhammad (47) : 22)



 Gambar Gambar Islami


 Pendidikan yang Lahirkan "Rahib" di Malam Hari, "Panglima" di Siang Hari 



DIDIKLAH anakmu dengan sungguh-sungguh, karena ia akan hidup di sebuah masa  selain zamanmu,” demikian kutip Ali bin Abi Thalib. Kita bersyukur, berbagai intitusi pendidikan formal bermunculan di mana-mana baik yang bercorak konvensional ataupun yang terpadu, bak jamur di musim hujan di tanah air kita. Yang dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta. 
Secara kuantitas, input dan lulusan pendidikan sejak Taman Kanan-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) semakin bertambah. Tetapi, jika kita mencoba melihat ke dalam secara jujur dan obyektif kita mengakui, dan mencoba memberikan catatan ringan, sesungguhnya lembaga pendidikan yang ada tidak menggambarkan, mewakili dan mewujudkan idealisme pendirian sebuah lembaga pendidikan itu sendiri.
Pendidikan yang tidak melahirkan ilmuan yang memiliki kepribadian yang pemimpin. Dan pemimpin yang ‘alim (Al ‘Alimuz Za’im waz Za’imul ‘Alim). Yang bermanfaat ilmunya, baik untuk dirinya dan orang lain, ilmu nafi’ (ilmu yang membela pemiliknya di akhirat). Bukan kepandaiannya digunakan untuk memanipulasi angka-angka, menyalahgunakan wewenang. Ilmu yang menjadi penggugat pemiliknya di Mahkamah Ilahi, ilmun la yanfa’ (ilmu yang tidak bermanfaat). Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di atas.
Faktanya, pendidikan kita telah gagal melahirkan manusia yang berkarakter. Cenderung memperlakukan anak didik bagaikan robot. Bukan manusia, yang di dalamnya ada perasaan. Pendidikan yang kurang humanis. Tampilan manusia sipil yang berwatak militer, manusia cerdas yang miskin moralitas, manusia modern yang berwatak primitif, manusia yang sehat secara pisik tetapi sakit ruhaninya, manusia yang tinggi ilmunya tetapi terpuruk budi pekertinya, manusia yang tinggi kedudukannya tetapi berjiwa kerdil, fenomena diatas adalah produk/out put/lulusan pendidikan yang ada.
Sekolah yang didirikan bukan untuk meningkatkan derajat dan kualitas kehidupan anak didik, tetapi menambah income. Sekolah yang berbasis bisnis. Anak didik dimasukkan sekolah agar kelak mendapat pekerjaan yang layak, posisi yang bergengsi. 
Hasil survey yang dilakukan oleh INSISTS, mahasiswa di PT kuliah tidak ingin membangun tradisi ilmu, tetapi kelak supaya mudah melamar pekerjaan. Ada sebuah ungkapan, SDIT identik dengan “Sekolah Dasar Iuran Terus”. Sekalipun statemen tersebut sulit dicari rujukan ilmiahnya, tetapi subtansi kebenarannya tidak mudah dipatahkan.
Sekolah memperlakukan anak didik hanya sebagai har-disk yang siap dimasuki informasi apa saja, tetapi tanpa program untuk mengolahnya, meminjam istilah penulis buku-buku parenting Fauzil Adhim. 
Setiap hari mereka hanya belajar menyimpan informasi rapat-rapat ke dalam otak, dan mengingat kembali saat ulangan.
Dengan akselerasi media cetak dan elektronik, merupakan media pembelajaran untuk mengelola berbagai informasi. Tetapi, mereka tidak diajari bagaimana mensterilkannya dari sesuatu yang mengotorinya. Mereka trampil menggali informasi, tetapi tidak pandai memfilternya (menyaring), - memilah-milah – selektif dalam menyerapnya. Banyak penerbitan koran yang muncul, isinya hanya identik dengan “rongsokan”. Masyarakat sulit menerima informasi yang berimbang dan bermutu. Isi berita tidak mendidik, misalnya kritik yang bersifat konstruktif, obral doa. Tetapi bermuatan obral gosip (memakan bangkai).
Reduksi Pendidikan Agama
Pendidikan agama hanya sebagai suplemen pendidikan formal. Agama diceraikan dari kehidupan sosial. Tidak dilibatkan dalam mengelola kehidupan nyata. Disamping alokasi waktu yang sedikit, itu pun menggunakan pendekatan kognitif. Jadi, pendidikan agama nyaris tidak ada. Absen dari kehidupan anak didik. Agama hanya kumpulan pengetahuan. Sehingga lulusan ushuluddin menjadi manusia “ucul-uddin (ucul/lepas agamanya), ketika dirayu dengan harta, tahta dan wanita. 
Agama dilepaskan ketika disuguhi kursi, nasi dan komisi. Bukankah di Departemen Agama, Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, sebagai sarang korupsi insan berdasi (hasil penelitian ICW). Agama hanya sebagai isi otak, bukan sebagai tata acuan dan tata kelola kehidupan (minhajul hayah).
Batasan pendidikan agama di sekolah dipahami pelajaran menghafal dengan materi agama, dan dalam partisi otak, diberi nama pendidikan atau pelajaran agama. Ini sangat berakibat fatal terhadap perkembangan religiusitas lebih khusus lagi spiritualitas peserta didik. Gara-gara penanaman pelajaran menghafal sebagai pendidikan agama, peserta didik mengalami dereligiusisasi dan despiritualisasi yang menyedihkan.
Padahal agama adalah nasihat, untuk Allah, Rasul-Nya, Pemimpin dan masyarakat awam. Mereka semua sejatinya tunduk dibawah komando yang memberi nasihat (agama) agar selamat. Jika hidup tidak dikontrol oleh agama, orang kecil menjadi makanan pembesar, orang bodoh menjadi ajang kesewenang-wenangan orang pintar. Orang lemah menjadi makanan orang kuat. Orang miskin menjadi mangsa the have. Mereka yang kuat, pemodal dan yang menggenggam kekuasaan menjadi makanan empuk syetan. Demikianlah kelakar seorang tokoh ketika meresmikan IAIN Walisongo Semarang. Sekalipun disampaikan secara humoris, tetap memiliki kedalaman makna.
Model pendidikan yang mereduksi agama hanya menjadi seperti pelajaran IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, atau bahkan lebih rendah dari itu, membuat potensi ruhiyah peserta didik tumpul dan mati. Bertambah jam pelajaran agama tidak membangkitkan kekuatan maknawiyyah (spirit moral) mereka. Sebaliknya, justru bisa rentan masalah. Mereka kehilangan kepercayaan pada agama, sekalipun mereka tetap memeluk agama. Agama hanya sebagai simbol. Hari ini, itulah yang sedang terjadi. Anak-anak kita banyak mengalami kelelahan batin dan disorientasi kehidupan.
Reduksi agama ini tidak boleh diteruskan. Kekuatan ruhiyah peserta didik harus ditumbuhkan dan dikuatkan, sehingga menjadi penggerak hidup yang sempurna. Pembangkit stamina lahir dan batin. Agama menggali potensi manusia untuk berinteraksi dengan metapisik, membangkitkan idealisme, mensucikan maksud dan tujuan, menguatkan azam (tekat) untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik, dan menghadirkan makna, nikmat (kepuasan batin) atas setiap tindakan yang dikerjakannya.
Kita teringat seorang ulama yang buta -Direktur Madrasah Ar Rasyad– sedang menguji hafalan Hadits Arbain Hasan Al Banna yang tersendat-sendat. Beliau langsung memberi motivasi yang terkesan dalam hati murid kesayangannya itu. Asri’ Ya Gharatallah! (wahai kuda-kuda Allah percepatlah larimu). 
Setelah keluar dari kelas ucapan gurunya yang cacat pisik itu, tetapi karakternya kuat, berkesan di hatinya. Kata-kata ustadznya dipraktekkan dengan kawan-kawannya untuk lomba lari. Wahai kuda-kuda Allah, percepatlah larimu! Ucapan yang langsung direspon dan dijadikan acuan kehidupan.
Kita pula diingatkan dengan Lorraine Monroe. Ketika ia harus menangani sebuah SMA dengan latar belakang siswa yang sebagian besar berantakan, -broken home- (keluarga bermasalah), dan hidup dengan logika kekerasan. Ada dua hal yang menjadi program prioritas.
Pertama, membangkitkan high level of expectation (tingkat harapan yang tinggi). Mereka dimotivasi untuk memiliki target-target, tujuan dan cita-cita besar. Kedua, meletakkan landasan berupa keyakinan (belief) yang kuat sebagai penggerak untuk melakukan dan mencapai yang terbaik (the spirit of excellence).
Proses untuk membangkitkan kekuatan ruhiyah berupa keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran akan kasih sayang dan kekuasaan-Nya harus mencakup semua aspek.
Kedua, sudah saatnya pendidikan dirancang untuk secara seimbang memberi sentuhan yang menggerakkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual anak. Berbagai potensi tersbut tidak bisa/tidak boleh dipisah-pisahkan. Harus utuh, dan ditangani secara  holistik. Pendidikan yang hanya menyentuh salah satu aspek saja, akan lemah dan rapuh. Jiwanya retak-retak, terbelah (split personality). Boleh jadi tampaknya kuat, tetapi tidak memiliki landasan psikis yang kuat.
Hari ini kita menyaksikan bagaimana anak-anak sejak kecil dibiasakan dengan aktifitas keislaman berubah secara drastis (180 derajat) begitu mereka bersentuhan dengan lingkungan sosial, komunitas yang berbeda atau wacana yang lain dipersepsikan batil/salah. Akhirnya merasa paling benar sekalipun jauh dari kebenaran.
Hari ini kita juga menyaksikan bagaimana anak-anak yang hanya diaktifkan kompetensi kognitifnya yang paling rendah berupa menghafal, tetapi bobrok kepercayaan dirinya. Tidak teguh dalam memegang prinsip (landasan berpikir dan bertindak). Tidak memiliki keberanian berkorban dan mengambil resiko.
Hari ini banyak orang pintar,  ilmunya menjulang ke langit (sundhul langit, Bhs Jawa), tetapi betapa parah dan memprihatinkan mutu akhlaknya. Semakin memuncak karir yang dirintis tidak semakin takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bukankah kasus KKN, simbol penyakit moral, yang menggurita di negeri ini dilakukan oleh orang yang berpendidikan sarjana. Bukan dari kalangan masyarakat awam.
“Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh.” (al-Hadits).
Mereka menyerap pelajaran umum, pelajaran agama, tetapi tidak disertai dengan penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam skala individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Agama hanya sebatas sebagai makanan logika, konsumsi otak. Sehingga kaya dengan serimonial keagamaan tetapi miskin aplikasi. Agama hanya sebagai simbol, kehilangan spirit.
kibatnya, wawasan mereka luas dan banyak. Tetapi, hanya sebagai mantra, bukan resep untuk mengurai kerumitan kehidupan. Hampir-hampir tidak ada yang diingat ketika mereka menghadapi masalah.  Yang dipelajari tidak bisa menjadi acuan dalam mengatasi problem yang dihadapinya. Idealismenya melangit, tidak bisa dibumikan.
Rahibun fillail, Fursanun Finnahari
Sebabnya, proses pendidikannya salah. Input yang berbobot pun melahirkan out put yang tidak berkualitas. Perlakuan yang mereka terima di sekolah/universitas, hanya mencerdaskan otak, kemampuan manusia yang paling rendah (kognitif). Tidak peduli – dengan rasa dan karsa serta sikap mental -. 
Berbagai upaya untuk melakukan revousi pendidikan mendesak dilakukan. Usaha yang terencana – yang mengaktifkan secara stimulan dan simultan berbagai potensi manusia, akliyah, ruhiyah dan jasadiyah - . Memadukan energi ijtihad, jihad dan mujahadah, perlu dilakukan sekarang juga. Sehingga mereka malam hari bagaikan pendeta, siang hari bagaikan panglima (rahibun fillail, fursanun finnahari). 
Karenanya, proses pematangan konsep dan penerapan pendidikan yang holistik harus dipikirkan semua komponen bangsa sejak saat ini, sehingga cita-cita kita terwujudnya pendidikan integral, kurikulum berbasis tauhid tidak hanya berupa bayang-bayang.*





BEKERJA KERAS UNTUK MEMBANGUN RUMAH DISURGA



SAAT ini kita sedang hidup di zaman yang mengikuti paham campur aduk. Inilah kehidupan  sekuler  yang  menceraikan antara hubungan makhluk dari Sang Khalik.  Saat ini, di mana kita hidup dengan standar/ukuran/barometer yang didasarkan pada materi yang dimiliki dan dikuasai. Semua aspek kehidupan kita telah dijangkiti virus materialisme yang membahayakan.
Bahkan virus materialisme telah pula menggerogoti kehidupan beragama kita. Hampir sulit kita temukan aktivitas keagamaan, seperti ibadah, dakwah, sosial, pendidikan,  politik dan sebagainya yang tidak digerogoti oleh materialisme. Inti semua itu adalah bergesernya standar nilai dan kemuliaan dari keimanan,  ketakwaan dan akhlak mulia, kepada materi dan status sosial. Padahal yang pailing mulia di sisi Allah adalah orang yang paling baik kualitas taqwanya.
Materialisme ini telah melahirkan dampak/efek negatif dalam banyak kehidupan kita seperti, perlombaan hidup dan persaingan yang tidak sehat, serakah, sombong dan dengki, termasuk dalam keluarga sehingga isteri tidak percaya dan hormat lagi pada suami, anak kepada orang tua, putus hubungan atara saudara dan karib kerabat. Yang lebih dahsyat lagi, materialisme telah mendorong tindakan kejahatan ekonimi seperti, korupsi, kolusi, nepoteisme, monopli, kecurangan dalam timbangan, takaran,  ukuran, kualitas dan sebagainya.
Demikian pula materialisme  melahirkan sifat membabi buta dalam mencari kebutuhan hidup dan sarana kehidupan sehingga tidak peduli halal atau haram, berfoya-foya dalam menikmati kehidupan dunia, mubazir, tidak jujur dalam bekerja dan berbisnis, egois, rakus terhadap harta, pelit, tidak mau peduli terhadap nasib kaum fakir dan miskin, sombong, angkuh dan bahkan sampai ke tingkat mempertuhankan harta benda. Pikiran dan jiwa berbalik arah. Dengan kerja keras, seakan-akan kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Hati juga berubah orientasi, tujuan dipandang sarana dan sarana dipandang tujuan. Maka, tidak heran jika materialisme ini telah pula melupakan kita dari kehidupan akhirat yang merupakan tempat kembali dan tempat tinggal kita yang hakiki lagi abadi/permanen.
Materialisme adalah penyakit yang tersembunyi dalam diri kita sendiri. Sumbernya adalah syahwat (keinginan-keinginan bersifat duniawi). Ia akan tumbuh subur dan bahkan dapat mengendalikan diri kita jika kita tidak mampu mengelola dan mengendalikan syahwat tersebut. Memang, terkadang pemicunya bisa saja faktor luar seperti lingkungan keluarga atau life syle (gaya hidup) materialisme dan konsumtif yang berkembang dalam masyarakat.
Pada umunya ada tiga macam syahwat dunia yang tertanam dalam diri kita yang harus selalu diwasapadai dan dikendalikan,  syahwat kepada anak keturunan, yakni syahwatul  bathn (syahwat perut) dan syahwatul farj (syahwat di bawah perut, kemaluan).
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS: Ali Imran (3): 14)
Dari ayat tersebut kita dapat memetik pelajaran penting, apabila ketiga syahwat tersebut telah menjadi tujuan hidup kita sehingga melupakan pada balasan Allah di akhirat, maka ingatlah, saat itu berarti kita sudah dikuasasi dan dikendalikan olehnya. Inilah musuh yang paling berat, karena tidak terlihat secara kasat mata/abstrak. Awalnya memang bisa hanya sekedar kesenangan dan kecintaan biasa sebagai manusia. Namun, lama kelamaan bisa berubah menjadi  orientasi hidup duniawi semata, dan kemudian dengan tidak disadari bisa meningkat dan berubah menjadi ketergantungan/ Tuhan yang disembah dan ditaati.  Betapa ironis saat ini,  tidak sedikit kita jumpai orang-orang yang menjadikan wanita, anak-anak dan harta menjadi tandingan Allah.
Bagi orang-orang semacam  ini,  mereka tidak akan pernah mau peduli halal atau haram. Yang penting mereka meraih apa yang mereka inginkan dari wanita, anak dan harta.
Wanita, anak-anak dan harta telah melalaikan  dan memperdayakan mereka dari mengingat Allah Subhanahu Wata'ala. Wanita, anak-anak dan harta telah memalingkan mereka dari jalan hidup yang Allah ciptakan untuk mereka.  Dengan tanpa disadari,  mereka membangkang kepada Allah,  kepada Rasulullah dan kepada ajaran Islam yang Allah turunkan dan Rasulullah ajarkan untuk menyelamatkan dan membahagiakan kehidupan mereka di dunia dan sekaligus di akhirat kelak.
Agar hidup kita di dunia yang sementara dan fana ini tidak menjadi hamba syahwat dan kesenangan dunia, pada ayat berikutnya Allah menawarkan kepada kita suatu kehidupan yang lain dan balasan akhirat yang jauh lebih baik dan lebih dahsyat dari apa saja yang mungkin kita peroleh di dunia ini.
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
"Katakanlah: "maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?." Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS: Al Imran: 15)
Inilah tawaran Allah Subhanahu Wata'ala pada kita semua. Masihkah mata kita buta sehingga tidak dapat membedakan antara kenikmatan dunia yang sementara (mata’) dan tidak seberapa dengan kenikmatan akhirat dan surga yang sangat luar biasa (nikmat)? Masihkah hati kita keras bagaikan batu sehingga tidak mampu meyakini kebenaran tawaran Allah Subhanahu Wata'ala itu? Masihkah telinga kita pekak dan tuli sehingga tidak mampu mendengar tawaran Allah itu denga baik? Masihkan pikiran kita picik dan sempit sehingga tidak bisa mencerna dan memahami tawaran dan janji Allah yang maha dahsyat itu?
Jika panca indera kita mengalami disfungsi, berarti diri kita menjadi anggota tetap neraka jahannam.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai." (QS:  Al Araf (7):179).
Bahkan, kita akan dijuluki oleh Allah sebagai sejelek-jelek makhluk di muka bumi ini.
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah, orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.“ (QS: Al Anfal (8) : 21-22).

Tuli yang dimaksudkan, mereka mendengarkan tapi hati mengingkarinya.  Maksudnya , manusia yang paling buruk di sisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran.
Sebuah fakta yang tak terbantahkan yang selalu kita saksikan bahwa setiap individu dan komunitas  memiliki masa ajal. Jabatan juga ada masa pensiun. Harta juga ada masa kepemilikannya. Karena, pada hakikatnya semua yang kita miliki hanya sebagai hak pakai, hak guna, titipan-Nya.  Pemilik sejati, hanyalah Allah.  Jika ajal sudah datang, tidak bisa digeser jadualnya sedikitpun. Saat kematian tiba, tak ada lagi manfaat harta, anak, isteri, teman, handai tolan, pangkat, jabatan, karir dan apa saja yang kita miliki di dunia ini. Semuanya akan kita tinggalkan. Rumah mewah tidak lagi berguna. Orang yang tidak memahami kesementaraan dunia dan keabadian akhirat, akan tertipu.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS:  Al Hadid (57) : 20).*


 AHLI sastra Arab pernah mengatakan, “Apabila engkau membawa keranda  mayat ke kuburan, ingatlah suatu saat engkau akan dibawa. Apabila engkau diserahi suatu urusan oleh kaum (bangsa) ingatlah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan).”
Kita akan diusung ke sebuah rumah dalam tanah yang luasnya hanya 1 x 1.5 m2 saja. Harta yang melimpah tidak lagi dapat kita nikmati. Saat kematian, kita hanya dibekali dengan beberapa lembar kain kafan yang menutupi tubuh kita. Pangkat dan kedudukan yang tinggi tidak lagi berguna, karena kita sudah kaku, tangan kita tidak dapat menggenggam seperti saat kita dilahirkan,  tidak bisa lagi bergerak dan berbicara, serta kantor dan tempat bermain kita dibatasi sebuah tempat sempit yang bernama liang lahat di dalam bumi sana.  Isteri, anak dan keluarga yang kita cintai tidak bisa berbuat apa-apa saat jasad kita ditimbun dengan tanah yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan mereka. Mereka terpaksa meninggalkan kita sendirian di dalam kubur setelah pemakaman selesai. Tidak ada seorang isteri, atau anak, atau keluarga, teman, anak buah dan sebagainya yang mau mendampingi  kita dengan setia setelah kita dikubur.

Semua ini adalah fakta bahwa semua apa yang ada dan kita miliki di dunia ini hanya sebatas di dunia. Peristiwa kematian akan memutus semuanya dengan kita. Sebab itu, orang yang cerdas ialah orang yang dapat melihat kebenaran fakta tersebut dan dia mensiasatinya dengan siasat yang akan menguntungkannya setelah mati, bukan sebelum kematian.

Rasulullah Muhammad  bersabda :

“Orang yang pintar itu ialah orang yang mampu mengevaluasi diriniya dan beramal (mencurahkan semua potensinya) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Attirmizi).

Salah satu bukti kita tidak tertipu oleh kesenangan dan syahwat dunia ialah kita tidak terlena/terpedaya dalam kehidupan dunia ini. Pada waktu yang sama, kita dapat memfokuskan hidup kita di dunia ini untuk mencapai kehidupan akhirat. Kita optimalkan semua potensi yang ada pada kita, khususnya jiwa, raga, isteri, anak, harta dan waktu kita untuk membangun rumah abadi kita di surga,  bukan rumah di dunia yang fana dan yang kita diami hanya sementara. Karena istana dan rumah surga sangat jauh perbedaanya dengan istana dan rumah di dunia.

Sebagaimana membangun rumah di dunia yang tak seberapa memerlukan kerja dan perhatian, maka membangun rumah di surga memerlukan kerja lebih keras lagi. Banyak cara dan strategi yang dapat kita lakukan untuk membangun rumah dan istana di surga.

Di antaranya ialah :
Pertama, iman dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa, seperti yang Allah firmankan dalam surat As-Shaf  (61) ayat 10 – 12 ).
ؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?(10) (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (11) Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal (rumah) yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS: As-Shaf  (61) ayat 10 – 12 ).

Kedua; memperbanyak amal shaleh;  melalui pendengaran,  penglihatan,  hati,  lisan, ilmu dan harta yang kita miliki. Sebagaimana dalam surat Saba’ (34) ayat 37)  :

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di kamar-kamar (rumah-rumah) yang tinggi (dalam surga).”
Ketiga, mengimani Allah dan membenarkan risalah para Rasul Allah serta melaksanakan konsekuensi iman pada Allah dan para Rasululllah, khususnya Rasul Muhammad. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya para penghuni surga itu saling melihat penghuni kamar-kamar dari atas mereka (di surga) sebagaimana mereka melihat bintang-bintang bercahaya yang lewat di ufuk timur atau barat disebabkan kelebihan di antara mereka. Mereka (Sahabat) berkata : Wahai Rasulullah, yang demikian itu rumah-rumah para Nabi yang tidak mungkin dicapai oleh selain mereka ? Nabi berkata : Bukan, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya… mereka adalah orang-orang yang beriman pada Allah dan membenarkan ajaran para Rasul Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian, semoga Allah menolong kita untuk melakukan berbagai amal ibadah di atas dan juga amal ibadah lainnya, agar rumah dan istana impian kita di surga dapat terwujud. Dan semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di surga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam,  para shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Allahumma amin.

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa (4) : 69).*








MENGEMBALIKAN JATI DIRI UMAT MUSLIM



BETAPA sedih rasanya jika menatap realitas kaum Muslimin dewasa ini.  Mereka diselimuti oleh kemiskinan ideologi, moral, dan material. Mereka telah terjangkiti virus hubbud dunya wa karahiyatul maut (kecintaan secara berlebih-lebihan terhadap dunia dan takut mati). Mereka berbuat zhalim karena miskin iman. Dan mereka sering melakukan tindakan yang tidak terkontrol kerena miskin ilmu. Pemimpin mereka mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan.. Mereka tidak peduli dengan nasihat para Nabinya, sehingga mereka kurang wawasan, maka gelaplah pikiran dan mata hati mereka dalam mengelola problem yang di hadapi.
Mereka bukanlah penguasa-penguasa di bumi seperti yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Umat Islam yang dijuluki khairu ummah (umat yang paling baik), hanyalah sebagai mainan kecil/bola pimpong di tangan kaum kafir dan musyrik. Keberadaan kaum Muslimin belum berhasil menjadikan diri mereka gambaran Al-Quran yang  berjalan secara kongkrit yang bisa disaksikan orang lain. Bahkan, mereka adalah manusia-manusia yang memiliki kelayakan untuk dijajah (qabiliyyah littakhalluf). Jadi, bukanlah musuh yang terlalu kuat untuk dihadapi, tetapi kaum Musliminlah yang kehilangan elan vital, spirit jihad.
Kaum Muslimin kontemporer bukanlah pahlawan ilmu pengetahuan, sekalipun al-Quran memberikan perintah pertama kali, iqra' (bacalah). Mereka bukanlah orang yang berkepala dingin dalam mengelola konflik, sekalipun mereka telah membaca surat Asy Syura. Mereka bukanlah orang yang kuat dalam aspek militer, sekalipun kitab mereka memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan. Mereka bukanlah orang yang pandai berbisnis, sekalipun pasca Jum’atan diintruksikan untuk bertebaran di muka bumi. Alangkah jauhnya jarak kaum Muslimin dengan kitab sucinya?
Gerangan apakah yang menjadikan pendahulu mereka menguasai hampir separo dunia? Gerangan apakah yang mengubah para penunggang onta di gurun sahara yang sunyi dan gersang menjadi referensi/rujukan pahlawan ilmu dan peradaban dunia? Gerangan apakah yang mengubah suku-suku yang hobi minum-minuman, perang karena dipicu persoalan sepele, makan riba, main perempuan, merampok, menjadi komunitas yang disegani oleh kawan dan lawan? Gerangan apa pula yang membuat penggembala-penggembala yang bodoh menjadi penakluk-penakluk Kekaisaran Persia dan Bizantium?
Langkah Fundamental
Perhatikanlah, apakah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk melahirkan revolusi menakjubkan ini dalam jangka waktu kurang dari ¼ abad. Yang paling utama dan pertama-tama yang dilakukan oleh manusia pilihan itu adalah menanamkan di dalam hati pengikut-pengikutnya kalimatut taqwa, kalimat thayyibah, kalimatun sawa, kalimatut tauhid,  qaulun tsabitun : “laa Ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah”.
Beliau mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah dan dipuja selain Allah Subhanahu Wata’ala. Selain Allah Subhanahu Wata’ala adalah makhluk yang hina (dzalil), bodoh (jahil), faqir (membutuhkan orang lain), ‘ajiz (lemah, tidak kuat menahan ngantuk jika sudah tiba). Betapapun luasnya kekuasaan, keberlimpahan harta, ketinggian ilmu, dan kuatnya pengaruh mereka.
Mereka adalah makhluk yang kecil, remeh, tidak berdaya, tidak ada apa-apanya di hadapan Al-Khaliq, Al-‘Alim, Al-Akram. Semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Ukuran seseorang tidak ditentukan oleh asesoris lahiriyah. Misalnya, kekayaan yang dimiliki, kekuasaan yang digenggam, luasnya wawasan dan ilmu serta pengaruh keturunan (darah biru). Yang paling mulia disisi-Nya hanyalah orang yang bertakwa. [QS: Al Hujurat (49) : 13].
Kalimat tauhid tersebut di atas menanamkan sikap harga diri kaum Muslimin awal. Dan pada saat yang bersamaan tercerabut rasa rendah diri. Hilang jiwa kerdil, dan tertanamlah jiwa besar. Hilang sikap jumud, terbukalah wawasan yang baru, luas tak bertepi. Para pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yakin secara bulat bahwa kemuliaan itu  adalah milik Allah, Nabi-Nya dan para mukmin.
Begitu rasa rendah diri lenyap, bersemayamlah di dalam hati mereka identitas yang konstruktif. Mereka bangga bukan karena kelebihan yang mereka miliki, potensi diri yang hebat, dan backing dari kekuatan tertentu, tetapi karena keyakinan yang kuat kepada kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu Wata’ala
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran (3) : 139).
Kita semua tahu dari sejarah Islam, bagaimana sahabat yang berasal dari orang Arab dusun Rabi’ bin Amir berdiri dengan gagah berani di hadapan Kaisar Romawi, dengan meyakinkan menampakkan kebanggan berislam, tanpa rasa minder sedikitpun, menolak keharusan bersujud di hadapan raja, sekalipun hanya mengendarai keledai kecil dan pakaian sederhana.
Ketika Kaisar Romawi bertanya dengan penuh keheranan, beliau menjawab: “Aku diutus untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan membebaskan mereka dari kesempitan agama menuju keluasan agama.”
Kita tahu bagaimana Umar bin Khathab menolak pakaian-pakaian raja yang diberikan kepadanya ketika ia memasuki Yerusalem sebagai penakluk yang gagah berani. Ia mengatakan, sesungguhnya islam sudah cukup memberikan kemuliaan kepada diri saya. Bukan bersumber dari atribut lahiriyah.
Dari dua kisah tadi, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa kaum Muslimin pertama tidak terpesona dan silau oleh kegemerlapan duniawi, syahwat politik, syahwat perut dan syahwat di bawah perut (syahwatul farji).
Kiat Mengembalikan Harga Diri
Jika kaum Muslimin sekarang ingin mewarisi kepemimpinan/penghulu dunia, mareka harus meraih kembali harga diri/identitas yang hilang. Yaitu dengan memperbaharui daya serap terhadap hakikat kalimat tauhid, laa ilaha illallah. Banyak diantara kita yang terpesona dengan kebesaran lahiriyah. Terkagum-kagum dengan akselerasi sain dan teknologi bangsa lain.
Sehingga kita lupa bahwa kita adalah Muslim/mukmin yang lebih unggul di hadapan Allah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
Yang lebih ironis, sebagian kaum Muslim menyembunyikan keimanannya. Seakan-akan keyakinan itu urusan pribadi, dan mengganggu orang lain. Kadang merendahkan kalimat salam, hanya karena takut dikenali sebagai Muslim. Mereka ragu/skeptis bahwa ajaran Islam adalah sumber kemuliaan dan kejayaan di dunia ini dan di akhirat.
Lihatlah ghirah keislaman Ibnu Masud, yang dikenal seorang ‘alim al-Muqri’ (penghafal al-Quran)  dari kalangan sahabat. Dialah orang yang pertama membacakan Al-Quran kepada kaum kafir setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Setelah kaum kafir bersepakat melarang orang mendengarkan Al-Quran, para sahabat berkumpul di suatu tempat. Mereka membahas situasi dan berkesimpulan bahwa salah seorang diantara mereka harus membacakan Al-Quran di hadapan kerumunan dan hiruk pikuk para kuffar dengan kesiapan menanggung resiko yang tidak mudah dan sederhana.
Ternyata, Ibnu Masud yang berkaki kecil itu bersedia melakukannya. Sahabat-sahabat yang lain menolaknya dengan mengatakan : Kami merasa khawatir tentang dirimu. Yang kami perlukan adalah seseorang yang didukung oleh keluarga-keluarganya yang memiliki akses ekonomi dan kekuasaan kabilah Quraisy sehingga meminimalisir penyiksaan kaum kafir.
Sekalipun beliau saat itu kurang dikenal, tetapi bersikeras untuk melaksanakan tugas. Beliau pergi ke pasar dan membaca Al-Quran dengan suara keras. Maka, orang-orang kafir menyiksanya. Dan beliau kembali kepada keluarganya dengan wajah berlumuran darah.
Para sahabat bertanya, Inilah yang kami khawatirkan? Abdullah menjawab;”Kaum kafir itu belum pernah sedemikian hina di mataku kecuali untuk hari ini. Jika kalian sudi, saya akan mengatakan hal yang sama di hadapan mereka besok atau lusa. Tidak, anda salah membacakan kepada mereka apa yang mereka benci.”
Pernyataan Abdullah itu menggambarkan pengaruh/efek dari tauhid/aqidah yang sangat mendalam (atsarun fa’aal) dalam kehidupannya. Sekarang ini, ketika semua filsafat gagal menuntun manusia menuju pintu kebahagiaan, kita merindukan Ibnu Mas’ud, Ibnu Mas’ud pada abad 20. Yaitu, disamping bangga sebagai Muslim, hamba Allah Subhanhu Wata’a, pula siap menanggung resika yang paling pahit demi keimanan yang diyakininya.
Kita perlu meraih kembali identitas Muslim yang telah hilang. Agar tidak mudah silau dengan kemegahan dunia lain. Dan kita tanamkan kembali bahwa sumber kemuliaan yang tidak akan pernah kering oleh perputaran peradaban adalah berasal dari Allah, Rasul-Nya dan kaum beriman sendiri. Bukan atribut yang diimpor dari asing. Di bawah naungan-Nya, rahim Islam pernah melahirkan para pahlawan yang patriotik.
Dengan meraih kembali harga diri itu, kaum Muslimin akan bersikap tegas terhadap orang kafir dan kasih sayang kepada orang-orang beriman.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS: Al Maidah (5) : 54).
Sumber Kemuliaan Hakiki
Umat Islam diajarkan untuk tidak bangga dengan atribut yang semu, kebanggaan etnis, kekayaan, warna kulit, asesoris lahiriyah.  Karena hal itu akan membawa kehancuran dan penyesalan tiada akhir. Tetapi, Islam mengajarkan pemeluknya untuk bangga menjadi hamba Allah yang taat, patuh terhadap hukum-Nya. Tidak meletakkan dahi kepada siapapun. Karena dahi ini hanya layak diletakkan untuk ta’zhim dan hurmat kepada Zat Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Kebanggan terakhir ini akan mendatangkan kemuliaan dan kemenangan.
Sesungguhnya pemilik kekuasaan tanpa pensiun dini, kekayaan yang tidak pernah habis, ilmu yang tidak pernah kering, hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala. Dia berkuasa menurunkan orang yang tadinya memiliki kedudukan tinggi menjadi hina dalam sekejap. Dan Dia berkuasa mengangkat seseorang yang tidak diperhitungkan, orang kecil, menjadi mulia dalam waktu yang singkat pula. Kekuasaan, harta, ilmu, yang dimiliki oleh manusia hanyalah hak guna dan hak pakai. Bukan hak milik. Kita perlu muhasabah, bukan sekedar mempertanyakan apakah kepemilikan kita itu sudah sah secara formal, tetapi apakah yang menjadi milik kita menambah kebaikan diri kita dan bermanfaat untuk banyak orang (barakah)?
Apakah jabatan kita memuliakan kita? Apakah harta kita menambah kebaikan keluarga kita? Apakah ilmu kita dirasakan manfaatnya oleh banyak orang? Apakah pengaruh kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala? Apakah anak dan isteri kita sebagai sumber kebahagian dan ketenteraman kita?
Ahli sastra Arab mengatakan: "Jika engkau membawa keranda ke kuburan ingatlah suatu ketika engkau akan digotong. Dan jika engkau diserahi urusan kaum ingatlah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan)".*






BILA SYAHWAT DUNIA MERASUKI JURU DAKWAH





 

 SETELAH berkesempatan melakukan muhibah dan beberapa kali tour dakwah ke daerah-daerah, dapatlah kami simpulkan  mengapa kadangkala semangat dan dorongan dakwah seseorang mengendur. Di antaranya karena faktor internal (motivasi intrinstik, indifa’ dzati), fikrah (pemikiran), tashawwur (cara pandang), syu’ur (perasaan), dan ittijah wal wijhah (orientasi).

Sekalipun penilaian ini masih  dibatasi subyektifitas pribadi, setidaknya, hampir rata-rata penyakit seperti ini dirasakan sosok/pribadi Muslim yang sedang berada di jalur dakwah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah bersabda: “Nahnu nahkumu bizh Zhowahir wallahu yatawallas sarair.” (Kami dapat menghukumi dari sisi lahiriyah, sedangkan Allah Subhanahu Wata’alaSubhanahu Wata’ala mengetahui yang tersembunyi). (al Hadits).

Sungguh  jika kami boleh bernostalgia saat itu, kita senang dengan kebaikan yang dikenali hati (makruf), kejujuran, keadilan, kebenaran dan kelapangan dada. Dan kita membenci kejelekan yang diingkari hati, kebohongan, kezaliman, kedengkian, kesempitan dada, kesombongan, egoisme, jiwa yang kerdil, dll. Karena fitrah kita adalah makhluk religius. Jika aspek itu kita singkirkan, kita akan mengalami kehampaan dan ketidak bermaknaan kehidupan. Bukankah dalam pengalaman kehidupan kita, tidak saja kita membutuhkan kebutuhan jasmani, pula kita memerlukan asupan ruhani. Bukankah akhir-akhir ini kita menyaksikan manusia yang tersiksa di puncak kesuksesan karir materinya?

Kasus seperti ini seperti pengalangan pasangan suami-istri di awal melewati masa-masa pertama.

“Istriku, mahan maaf, engkau bukan cinta pertama untukku. Engkau hanya cinta kedua.” Siapapun wanita mungkin tersinggung dengan ungkapan seperti ini. Paling tidak, akan menimbulkan perang mulut, membuat wajahnya juga pucat, kecewa dan cemberut.

Ia baru memahami, ketika kita jelaskan  bahwa jalan dakwah adalah ‘cinta pertama’ sedang istri adalah ‘cinta kedua’. Penjelasan dan semua kesepahaman yang baru (susulan, red)  harus kita klarifikasi terlebih dahulu dengan istri. Sekalipun kesepakatan yang baru itu menghasilkan keuntungan finansial yang cukup.

Fir’aun yang terkenal diktator saja, terbukti dalam sejarah, masih memiliki fitrah yang lurus dan benar.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS: Yunus [10]: 90-92)

Allah Subhanahu Wata’ala kemudian menjawabnya;
 آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS: Yunus [10]: 91)

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu  supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami,” ujar Allah

Tsunami Akidah
Adapun karena dinamika, perkembangan (pasang surut, fluktuasi) personal, keluarga, masyarakat, organisasi dan tantangan eksternal kita, serta lingkungan strategis yang melingkupi kita, bahkan ketika mulai muncul perbedaan yang bersifat fariatif (ikhtilaf tanawwu’) ataupun perbedaan yang mengarah kepada ikhtilaf tadhad (kontra produktif),  hal itu tergantung kultur (lingkungan sosial), struktur (kekuasaan yang dominan) dan pendekatan yang digunakan dalam merespon dan mengelola berkembangnya struktur kejiwaan (ruhani) manusia itu sendiri.

Realitas sosial kembali membuktikan, sekaligus menghentakkan kita bahwa lingkungan sosial yang dominan memproses kehidupan manusia modern adalah kultur sekuler (menceraikan manusia dari Rabb-nya) dan materilalisme (mencintai dunia secara berlebih-lebihan).

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلاً لَّمّاً
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS: Al Fajr [89]: 15-20)

Maksudnya ialah Allah Subhanahu Wata’alamenyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. Tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.
Ini juga dikuatkan dengan ayat Allah Subhanahu Wata’ala di Ali Imran 14.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan ah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia (mata’), dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS: Ali Imran (3) : 14).

Bertolak dari sinilah cikal bakal (embrio) kelahiran perpecahan, ketidakadilan, kebohongan, dan perilaku negatif di luar standar kemanusiaan (dehumanisasi),  yang menjadi tren sosial. Manusia memandang orang lain bukan sebagai mitra dan anugrah, tetapi ancaman yang membahayakan status quo dan rivalitas.
Fenomena ini pulalalah yang hinggap pada umat bahkan juga para juru dakwah.

Anak-anak didiikan materialisme ini terbelah kejiwaannya. Kelihatan sehat secara fisik, tetapi ruhaninya sakit. Batinnya menderita. Masyarakat sipil yang berwatak militer. Masyarakat modern yang berpola pikir primitif. Fasih berbicara dunia, tetapi bodoh tentang urusan akhirat. Otaknya cerdas, tetapi moralnya terpuruk.
Secara serimonial rajin melakukan ibadah ritual formal, tetapi miskin aplikasi. Mereka tekun berdoa di masjid, ketika keluar dari masjid melakukan perbuatan yang bertentangan dengan isi doanya. Mereka merasa sepi di dunia yang ramai, merasa gelap di dunia yang terang, merasa sempit di dunia yang terhampar luas. Semakin banyak ilmu, harta, posisi, tetapi tidak sebagai wasilatut taqarrub ilallah, tetapi sebagai wasilatut taba’ud ‘anillah.

Ini pulah yang menghinggapi para juru dakwah. Setelah puluhan tahun bersama-sama menapaki jalan dakwah yang terjal, ujungnya hanya pecah, saling menjatuhkan dan dengki antar sesame saudaranya hanya karena urusan dunia.

Karenanya, jika tidak dikembalikan pada wahyu, tugas kenabian  yang kita warisi ini hanya akan menjauhkan hati-hati yang lurus itu menjadi semakin jauh dan rusak. Maka, jika ada perselisihan di antara para juru dakwah, kembalikanlah semua pada al-Quran dan niat pertama kali kita berada di jalan dakwah.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً
“Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS:Al Isra (17) : 82).
Dalam mewarisi tugas kerasulan ini ada beban berat yang harus dipikul sebagai konsekwensi pewaris nubuwwah (pejuang). Dan predikat sebagi pelanjut dan penerus perjuangan para Nabiyyullah perlu dipahami dan disadari dengan baik. Sebab, seringkali orang yang mengklaim dirinya sebagai pejuang dakwah, namun pola pikir, perasaan, dan perilakunya tidak mencerminkan sosok qurani. Dirinya tidak lagi sebagai alat peraga al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam  yang berjalan di dunia realita. Al-Quran tidak akan berbicara, karena hanya berupa tulisan, tetapi yang melantangkannya adalah lelaki qurani (al-Quran laa yanthiqu walakin yunthiquhur rijal).
Orang yang terinveksi dengan kelemahan jiwa,  sehingga menyediakan diri untuk dijajah peradaban materialisme (qabiliyyatun littaghallub), perlu lebih meningkatkan daya serap, daya analisa, dan daya cipta terhadap kitab suci, bukan sekedar konstitusi. Agar tumbuh energi dan gelora perjuangan yang baru bagaikan bumi yang gersang, kering kerontang, tandus, kemudian disiram dengan air hujan yang deras. Sehingga tanah tersebut menjadi hidup dan subur untuk ditanami .
Kembali pada Wahyu
Kesadaran untuk menegakkan pandangan hidup dan ideologi (keyakinan) adalah fitrah dasar manusia. Sebab, naluri keagamaan (gharizah tadayyun) adalah sesuatu yang mutlak diperlukan dalam menikmati dan memaknai kehidupan itu sendiri. Kehidupan ini akan membuat pemburunya kecewa jika tidak ditemani oleh keyakinan (aqidah). Manusia akan mengorbankan semua fasilitas kehidupan yang dimilikinya (wasilatul hayah), bahkan tetesan darah sekalipun untuk menegakkan ideologi.
   
Mengurus dan memperjuangkan agama adalah nilai paling tinggi dalam level keimanan. Karena mewarisi tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Seorang pelanjut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam  menjadikan jihad sebagai jalan kehidupannya (al Jihadu sabiluna). Persoalan-persoalan aktual, kondisi masyarakat yang rusak, bahkan negara yang tidak menentu, tidak menjadi kendala (batu sandungan) bagi kelincahan gerakannya. Inilah salah satu indikator seorang pejuang yang benar orientasi dan cara pandangnya terhadap wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Terjadi garis demarkasi antara kehidupan lalu yang belum berwahyu dan kehidupan sekarang yang telah berwahyu.
Oleh karena itu, pentingnya manusia kembali melakukan penataan ulang pola pikir dan orientasi (rekonstruksi dan reorientasi) terhadap wahyu Al-Quran. Dimulai dengan membangun landasan pola pikir qurani. Sebab, dalam proses turunnya Al-Quran terjadi pencerahan dan penyadaran. Wahyu ini apabila diserap, dianalisa secara terus-menerus hingga terinternalisasi ke dalam jiwa, akan melahirkan daya cipta dan daya gerak. Gerakan yang melahirkan amal shalih (karya). Inilah yang paling mahal dimiliki oleh manusia. Kualitas kita ditentukan oleh iman dan amal shalih kita. Amal shalih yang tidak berpijak dari keimanan, sama jeleknya dengan iman yang tidak membuahkan amal shalih.
Nilai-nilai idealisme, perjuangan, sebagai tafsir dan implementasi dari interaksi kita yang intensif dengan Al-Quran jangan sampai selesai pada generasi level pertama. Kita harus memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai immaterial ini kepada generasi pelanjut kita. Agar jangan sampai terjadi, mereka menuding telunjuk kegagalan pendahulunya dalam mentransformasikan (mewariskan) nilai yang amat mahal ini.

Memang, mewariskan nilai-nilai perjuangan ini berat dipikul secara pisik dan berat pula di ruhani.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat [tugas-tugas keagamaan] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.” (QS: Al Ahzab [33]: 72).
Bagi yang sudah tercerahkan akan pilihan dan penunjukan Allah di atas terhadap dirinya untuk memikul amanah perjuangan, sejatinya ia selalu memelihara dan menegakkannya. Sebab, kelak akan dimintai pertanggungjawaban kepada Allahpara Rasul-Nya dan kepada kaum muslimin dan kepada umat manusia. Jika demikian, ia tidak sekedar memperoleh mata’ud du-nya, tetapi nikmat di Akhirat.

Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai,  mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Subhanahu Wata’alaMaha melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS:Ali Imran [3]: 15)








 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar