Selasa, 16 Oktober 2012

RENUNGAN

FITNAH
Dalam Bahasa Arab, al-fitnah berarti kekacauan, bencana, syirik, cobaan, ujian, dan siksaan.

Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, berita bohong atau desas-desus tentang seseorang karena ada maksud-maksud yang tidak baik dari pembuat fitnah terhadap sasaran fitnah.

Dalam Alquran, kata fitnah disebutkan pada tempat, dan digunakan untuk arti-arti yang berbeda. Kitab-kitab hadis pada umumnya memuat bab tertentu tentang fitnah.

Kitab Sahih Al-Bukhari (kitab hadis Imam al-Bukhari), misalnya, memuat 78 hadis tentang fitnah.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari bahwa suatu kali Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) ditanya tentang makna fitnah. Ia kemudian mengutip ayat Alquran yang artinya, "Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 193).

Ia kemudian bertanya, “Tahukah engkau apakah fitnah itu?” Ia menjawabnya sendiri seraya mengatakan, "Rasulullah SAW memerangi orang-orang kafir (agar mereka mau memeluk Islam) dan tidak kembali kepada agama mereka.”

“Kembalinya mereka kepada agama mereka itulah yang disebut dengan fitnah, bukannya perang yang engkau perjuangkan untuk mendapatkan kekuatan duniawi.”

Perang saudara di antara sesama umat Islam juga dikenal sebagai fitnah, yaitu fitnah tuli, buta, dan bisu. Allah SWT berfirman, "Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu, maka mereka menjadi buta dan tuli.” (QS. Al-Maidah: 71).

Sejarah mencatat bahwa peristiwa pembunuhan Usman bin Affan sebagai khalifah yang ketiga sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa al-fitnah al-kubra (fitnah besar) yang pertama dan peperangan antara Muawiyah bin Abi Sufyan dengan Ali bin Abi Talib sebagai al-fitnah al-kubra yang kedua.

  Inilah gambaran fitnah buta dan tuli, karena mereka sama-sama Islam tanpa melihat siapa sebenarnya yang benar.

Alquran menggambarkan bahwa fitnah lebih kejam dan lebih besar daripada pembunuhan (QS. Al-Baqarah: 191, 217).

Fitnah di sini digambarkan sebagai usaha menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka, menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.

Demikian juga berarti upaya penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksud untuk menindas Islam dan kaum Muslimin.

Firman Allah SWT dalam Surah Al-Anfal ayat 73 menegaskan, "Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan (fitnah) di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Fitnah yang berarti 'ujian' atau 'cobaan’ dijelaskan dalam Surah Al-Anfal ayat 28 yang artinya, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Dalam Surah At-Taghabun ayat 15 Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Sementara itu, Surat Az-Zumar ayat 49 menggambarkan bahwa orang yang beribadah kepada Allah SWT setengah-setengah, apabila menerima kebaikan menjadi tenang hatinya, tetapi apabila menerima cobaan menjadi berbalik.

Selain itu, dijelaskan bahwa cobaan Allah SWT yang diberikan kepada manusia itu tidak hanya berupa kegagalan (kejelekan) tetapi juga berupa kebaikan (QS. Al-Baqarah: 35).

Fitnah yang berarti siksaan disebutkan dalam Surah Al-Anfal ayat 25,  “Dan peliharalah dirimu dari siksaan (fitnah) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” Ayat senada juga terdapat dalam Surah Al-Muddassir ayat 31.

  Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Umar, dikemukakan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar kaum Muslimin menghindari fitnah (yang timbul karena pembicaraan yang salah) karena terpelesetnya lisan adalah ibarat terpelesetnya pedang.

Mengenai munculnya fitnah, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sudah dekat masa dan berkurang amalan, muncul kekikiran, muncul kekacauan (fitnah), dan banyak kekacaubalauan."

Lalu para sahabat bertanya, "Apa itu ya Rasulullah SAW?”

Rasulullah SAW menjawab, "Pembunuhan dan pembunuhan.”

Dalam hadis lain disebutkan bahwa fitnah juga dapat muncul karena kebodohan merajalela, ilmu telah tercabut, dan banyak kekacauan serta pembunuhan (HR. Bukhari dari Abu Musa).

Pengertian fitnah yang menonjol adalah perpecahan yang timbul akibat saling bermusuhan di antara sesama kaum muslimin, yang berakibat terjadinya saling membunuh dan akibat dari kebodohan serta kecongkakan.

Alquran maupun sunah Rasulullah SAW memperingatkan kaum Muslimin agar mereka meminta perlindungan dari fitnah. Surah Al-Ma'idah ayat 101 misalnya, mengimbau orang-orang beriman agar tidak menanyakan (kepada Rasulullah SAW) hal-hal yang jika diterangkan justru akan menyusahkan umat Islam sendiri.

Nabi SAW bersabda sembari memohon perlindungan kepada Allah SWT dari akibat buruk fitnah, “A'uzu billlah min su’il fitani." Artinya, “Aku berlindung kepada Allah dari buruknya fitnah.” (HR. Ahmad bin Hanbal).






MEMAKNAI ARTI KEDEWASAAN



  Menghadapi usia tua adalah keniscayaan. Tetapi, menjadi sosok yang dewasa adalah pilihan. Tak sedikit orang yang mapan dari segi umur, tapi belum memiliki kepribadian yang matang.

Usia memang bukan jaminan dan tolok ukur kedewasaan seseorang. Tak mudah menjadi dewasa. Butuh proses panjang dan tahapan. Apa dan bagaimana kedewasaan itu telah dikupas dalam deretan buku motivasi ataupun psikologi.

Prof Ahmad Hasan dalam artikelnya yang berjudul “Samat Ar-Rajulah fi Al-Islam” mengatakan, sedikit sekali para penulis ataupun peneliti yang mencoba membahasnya dari perspektif Islam.

Dalam makalahnya itu, ia berupaya menjabarkan pemaknaan kedewasaan dan kriterianya menurut kacamata Islam. Seperti apakah pembacaannya atas kedewasaan?

Menurut dia, rajulah atau kedewasaan bukan identitas yang berdiri sendiri, tetapi merupakan sifat yang bisa dimiliki oleh siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan. Kata rajul dalam Alquran memiliki pemaknaan yang berbeda-beda. Adakalanya, bermakna laki-laki sesuai dengan arti dasarnya. Ini seperti ayat 7 dan 12 Surah An-Nisaa’.

Kadang pula, kata rajulah yang dimaksudkan itu berarti sifat-sifat bagi sosok pribadi yang dewasa dan matang. Sebut saja ayat ke-109 Surah Yusuf. Kata rijal itu merupakan representasi sebuah kesempurnaan dan kekuatan yang dimiliki oleh seorang pria.

Sifat para pembesar yang memegang tampuk risalah dan menyerahkan hidup mereka untuk menyampaikan wahyu. Ini seperti ayat 23 Surah Al-Ahzab.

Pada intinya, kata Prof Hasan, mereka yang menelusuri definisi rajulah atau kedewasaan dalam Alquran dan sunah akan mendapati satu kesimpulan, yaitu orang yang laik menyandang sifat dewasa baik dari golongan Adam atau Hawa ialah mereka yang hidup taat dan mengimplementasikan takwa dalam kehidupan sehari-hari.

Ini terdapat di Surah Al-Hujurat ayat 13. Hadis Abu Hurairah juga menyebut demikian. Sebaik-baik manusia ialah mereka yang bertakwa. Ini berarti, takwa dalam pemaknaan yang luas bisa dijadikan sebagai tolok ukur kedewasaan seseorang.

 Kematangan emosi
Atas dasar inilah, Prof Hasan mengatakan, hakikat kedewasaan se seorang adalah kematangan emosional yang tecermin dalam setiap perbuatannya.

Dewasa bukan proses rekayasa, melainkan hasil capaian dari rentetan tahapan. Ini penting.

Acapkali, seseorang memaksakan diri ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia telah dewasa. Padahal, pada saat bersamaan, justru tindakannya itu merusak esensi kedewasaan.

Ia mencontohkan, kedewasaan bukan berarti egoisme dalam diri. Proses pencarian seseorang terkadang menghentikannya dalam satu titik bahwa inilah jati diri yang sebenarnya. Terkadang malah memaksakan orang lain agar mengikuti keinginan dan pola pikirnya. Sikap seperti ini tidak benar.

Bukan termasuk dewasa jika ia bersifat keras kepala dan angkuh, sekalipun ia dalam posisi salah. Kedewasaan bukan berarti tidak berani menarik ucapan, keputusan, dan prinsipnya saat ia keliru.

Bersikap keras bukan pula cermin dewasa. Dewasa tidak mesti jauh dari sikap lembut. Justru kedewasaan muncul dari sikap arif dan bijaksana. Menghadapi masalah apa pun dan saat berinteraksi dengan siapa pun.

Apalagi, mengukur kedewasaan dari keberanian merokok. “Jelas salah kaprah,” kata Prof Hasan. Karena itu, kedewasaan bukan suatu kamuflase, melainkan buah dari kematangan spiritual dan mental seseorang.

Menurut Prof Hasan, hakikat kedewasaan seseorang adalah kematangan emosional yang tercermin pada tiap perbuatannya. Dewasa bukan proses rekayasa. Tetapi, merupakan hasil capaian dari rentetan tahapan.

Lantas, apa sajakah kriteria dan ciri yang bisa dijadikan acuan untuk mengukur kedewasaan seseorang? Paling tidak, karakter umum sehari-hari yang tampak dari perilaku lahirnya.

 Prof Hasan menguraikan beberapa tanda-tanda kedewasaan, antara lain yang pertama, penguasaan dan kontrol diri yang kuat (al-iradah wa dhabth an-nafsi).

Sifat ini adalah fondasi utama bagi kematangan pribadi seseorang. Dengan sifat ini, mereka yang bisa mengontrol dan menguasi diri akan menahan dari segala amarah, nafsu, dan hasrat duniawi.

Figur yang dewasa akan urung murka, misalnya tatkala emosinya memuncak. Di sini akan tampak kearifan dan kebijakannya.

Dewasa bukan diukur dari respons dan reaksi dengan kekerasan sebagai bentuk penyikapan perlawanan atas apa pun yang ia tidak kehendaki. Melainkan orang yang bijak adalah mereka yang berhasil menaklukkan nafsunya.

Lagi-lagi, kemampuan menahan emosi dan memilih bersikap bijaksana itulah ciri pribadi yang bertakwa. Ini sebagaimana ditegaskan ayat berikut, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran [3]: 135).

Sebuah hadis menegaskan, kekuatan orang bukan ditimbang dari kepiawaiannya berkelahi, tetapi para jawara yang sejati ialah mereka yang mampu menguasai dirinya saat murka. Kebanggaan tidak dinilai dari kekuatan otot, tetapi kematangan.

Kedua, cita-cita dan kemauan yang tinggi. Sebuah pepatah mengatakan, cita-cita itu adalah separuh dari kepribadian (al-himmah nishf al-muru’ah). Jika kemauan dan cita-cita itu kuat maka sangat memengaruhi kesuksesan seseorang.

Sebaliknya, orang yang tak berkepribadian matang, maka ia tak memiliki ambisi dan keinginan yang tinggi. Ia akan merasa cukup dengan pencapaian yang telah diraihnya. Ia akan tenggelam dalam rutinitas yang terkadang melenakan banyak orang. Potensinya tak terjamah maksimal.


 Ketiga, kesopanan, kehormatan, dan kebanggaan. Figur yang dewasa tak akan gentar dan takut menghadapi kenyataan. Baik realita mengenakkan ataupun buruk sekali pun.

Keberanian dan ketegarannya mengalahkan rasa tukut di benaknya. Rasa takut ini merupakan salah satu musuh utama dalam Islam.

Konon, para generasi gemilang awal Islam meletakkan keberanian sebagai penopang kemajuan peradaban Islam. Rasul pernah menyatakan, seburuk perangai yang ada di sosok lelaki ialah kebakhilan yang menjerat dan ketakutan yang mencerai-beraikan.

Keempat, konsistensi dan keteguhan memegang komitmen atau janji. Ia memiliki tanggung jawab besar atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Rasul adalah teladan paling tepat untuk menggambarkan figur yang konsisten dan berkomitmen.

Pada peristiwa penaklukkan Makkah, Rasul mengembalikan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah. “Ini dia kuncimu wahai Utsman, hari ini adalah hari kebaikan dan menepati janji,” titahnya.

Prof Mahmud Al-Qal’awi, menambahkan satu ciri penting yang berkaitan dengan kedewasaan seseorang. Menurutnya, dalam artikel yang berjudul “Ramz ar-Rajulah”, tanda orang yang berkepribadian matang ialah kebaikan hatinya.

Ia akan senantiasa tulus dan terbuka memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Tetap rendah hati, tidak angkuh, dan menjaga hubungan dan komunikasi baik antarsesama. Bahkan, kebaikan yang ia tebar itu bersifat universal dan bermanfaat bagi alam semesta. Rasulullah adalah sebaik-baik teladan.

Suatu saat, seperti diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik, Rasul pernah keliling Madinah malam hari. Penduduk setempat dikejutkan dengan keramaian di hening malam di suatu lokasi. Mereka segera menuju ke sumber suara dan saling bertanya, apa gerangan yang telah terjadi?

Rasulullah menegur warga. “Kalian tidak memimpin dengan baik.” Rasulullah berada di atas kuda Thalhah tanpa penerangan dan di leher hewan itu terdapat sebilah pedang. Kebaikan yang dicontohkan Rasulullah menjadi inspirasi bagai para sahabat dan generasi pengikut setelah mereka. Ini berbicara soal kedewasaan yang membutuhkan seni; seni mengelola potensi  diri.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar