Selasa, 16 Oktober 2012

RENUNGAN


MEWASPADAI PENIPUAN

Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak sempurna takwa seseorang kecuali dengan mengikuti syariat Rasulullah SAW dan mengamalkannya sesuai dengan tuntutan-tuntutan syariat.

Wahai hamba Allah, sesungguhnya sebagian manusia kini semakin lemah dalam memegang amanat. Sehingga mereka berani melakukan penipuan yang nyata-nyata telah diharamkan Allah dan dilarang oleh Rasul-Nya.

Karenanya beliau menganggap berat masalah ini dengan mengkategorikan pelakunya sebagai pihak yang diasingkan dari kebenaran. Sesungguhnya, pekerjaan menipu banyak sekali dilakukan oleh para pengrajin dan pengusaha.

Wahai kaum Muslimin, Islam adalah agama yang sangat memerhatikan hak-hak individu dan masyarakat. Islam memegang erat prinsip pemberian hak kepada pemiliknya secara bulat dan sempurna, melarang penipuan antarsesama saudara Muslim.

Islam juga memerintahkan agar berterus terang menyatakan kebenaran dalam bermuamalah dengan segala etika dan kejujuran. Ketahuilah, bahwa menipu adalah perbuatan licik perangkap setan untuk menjerumuskan tnanusia.

Penipuan adalah mewariskan kedengkian, melahirkan dendam dan mengurangi keberkatan. Allah sangat murka terhadap perbuatan maksiat, dan memperlakukan sesama manusia dengan perbuatan yang melanggar hak-hak dan menipu mereka.

Penipuan dengan segala bentuknya adalah perbuatan yang diharamkan. Seseorang Mukmin yang sempurna keimanannya, mustahil melakukan perbuatan rendah dan hina, yartg hanya akan menjadikan seseorang lemah, susah, sedih dan kehilangan kepercayaan.

 Jika penipuan bukan merupakan tindakan pelanggaran terhadap hak kemanusiaan seseorang dan agama niscaya perbuatan yang bertentangan dengan syariat Rasul ini tidak akan dicegah.

Di pihak lain, orang yang paling bijaksana adalah orang yang senantiasa mempertimbangkan segala akibat yang akan timbul dari perbuatannya, melakukan introspeksi dan mendudukkan dirinya pada peringkat kemuliaan dan keadilan yang paling tinggi.

Semoga Allah memberkati apa yang ada di tangannya dan memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan perolehan derajat yang paling tinggi.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami."

Suatu ketika, Rasulullah SAW melihat kurma yang dijual lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan kurma. Tiba-tiba, beliau menyentuh sesuatu yang basah, kemudian beliau bertanya kepada si penjual kurma, “Kenaapa ini?”

Dia menjawab. “Terkena air hujan, wahai Rasulullah.”

Lalu beliau melanjutkan sabdanya, “Kenapa tidak engkau taruh di atas, agar para pembeli bisa melihatnya? Barangsiapa menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami."

Berdasar hadis mulia tadi bisa diambil suatu pengertian, bahwa manusia diharuskan memahami perkara-perkara agamanya. Baik yang berhubungan dengan masalah ‘ubudiyah dan mu’amalah, maupun semua transaksi yang dibenarkan oleh syariat agama.

Tak seorang pun memegang teguh prinsip kejujuran, melainkan Allah mencintainya dan menjadikannya dicintai hamba-hamba-Nya. Semoga Allah melimpahkan taufik kepada kaum Muslimin dalam saling bertukar nasihat dan berpegang teguh pada kejujuran.

Ya Allah, jadikanlah kami pecinta iman, dan hiasilah hati kami dengan iman. Jadikanlah kami seteru bagi kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang beroleh petunjuk.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128).






DAMPAK POSITIF SUJUD UNTUK KESEHATAN


 , Apabila seseorang sedang mengalami stress, tensi naik, pusing yang berkepanjangan, atau mengalami nervous (salah satu jenis penyakit penyimpangan perilaku berupa uring-uringan, gelisah, takut), maka sujud adalah solusinya.

Dengan sujud, akan terlepaslah segala penyakit nervous dan penyakit kejiwaan lainnya. Inilah salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Muhammad Dhiyaa'uddin Hamid, dosen jurusan biologi dan ketua departemen radiasi makanan di lembaga penelitian teknologi radiasi.

Sudah lumrah bahwasannya manusia apabila mengalami kelebihan dosis dalam radiasi, dan hidup di lingkungan tegangan listrik atau medan magnet, maka hal itu akan berdampak kepada badannya, akan bertambah kandungan elektrik di dalam tubuhnya.

Oleh karena itu, Dr Dhiyaa' mengatakan sesungguhnya sujud bisa menghilangkan zat-zat atau pun hal-hal yang menyebabkan sakit.

Listrik dan medan magnet yang dihasilkan oleh tubuh menyebabkan gangguan dan merusak fungsi organ tubuh sehingga akhirnya mengalami penyakit kejang-kejang otot, radang tenggorokan, mudah capek atau lelah, stres, sering lupa, migrain, dan penyakit serupa lainnya.

Jika sudah demikian, sebagaimana yang populer dibuktikan kebanyakan umat Islam di seluruh dunia adalah dengan shalat. Orang yang banyak mengalami beban, terbukti setelah ia melaksanakan shalat maka bebannya akan terasa ringan.

Dengan bersujud kepada Allah dengan menempelkan dahi ke bumi (lantai). Maka di dalam sujud akan mengalir ion-ion positif yang ada di dalam tubuh ke bumi sebagai tempat ion-ion negatif. Seterusnya sempurnalah aktivitas penetralisiran dampak listrik dan magnet.

Lebih khusus lagi ketika sujud dengan menggunakan tujuh anggota badan (dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki) maka dalam posisi ini sangat memudahkan bagi kita menetralisir dampak listrik dan magnet.

Diketahui selama penelitian, agar semakin sempurna proses penetralisiran dampak itu semua, maka sujud harus menghadap ke Makkah (Ka'bah), yaitu aktivitas yang kita lakukan di dalam shalat (qiblat).

Sebab Makkah adalah pusat bumi di alam semesta. Dan penelitian semakin jelas bahwa menghadap ke Makkah ketika sujud adalah tempat yang paling utama untuk menetralisir manusia dari hal-hal yang mengganggu fikirannya dan membuat rileks. Subhanallah!




KEUTAMAAN SALING MEMBANTU SESAMA MUSLIM


 
Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah, dan ingatlah bahwa anda senantiasa berada dalam pengawasan-Nya.

Ketahuilah bahwa memberi bantuan dan pertolongan kepada saudara se-Muslim adalah perbuatan yang disunahkan dan dianjurkan oleh syariat dan merupakan perhiasan agama Islam.

Sesungguhnya, mencegah perbuatan yang menyakiti sesama Muslim adalah kewajiban agama yang utama.

Oleh karena itu, dianjurkan kepada setiap Muslim yang berakal sehat dan beroleh taufik agar mencegah perbuatan yang menyakiti sesama Muslim, baik dengan tangan maupun lisan. Dan dianjurkan pula agar membantu dan menolong saudara se-Muslim dalam perkara-perkara agama dan dunia.

Untuk itu, telah disebutkan di dalam Hadis Shahih, dari Abu Dzar RA, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah amal apakah yang paling utama?’ Rasulullah SAW mejawab, ‘Iman kepada Allan dan berjuang di jalan-Nya’.”

Saya bertanya, ‘Seandainya saya tidak melakukannya?’ Beliau menjawab, ‘Hendaknya kamu menolong orang yang sedang bekerja atau berbuat sesuatu yang tertimpa (musibah) kebakaran.’ Lalu saya bertanya lagi, Bagaimana jika saya tidak mampu mengerjakan sesuatu?’ Beliau menjawab, ‘Tahanlah dirimu dari berbuat jahat kepada manusia, karena itu merupakan shadaqah’.”

Adalah menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk menunaikan hak-hak saudaranya berdasar Hadis Shahihain, dari riwayat Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau Bersabda, “Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima perkara yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazah, mendatangi undangan, dan mengucapkan tasymit bagi yang bersin.”

Termasuk perbuatan menolong adalah memperlancar hak-hak adami yang wajib bagi mereka menerimanya. Sahabat Ibnu Abbas RA pernah berkata, “Barangsiapa berusaha demi hak saudaranya, agar ia bisa menyampaikan kepadanya maka setiap langkahnya adalah shadaqah.”


  Menangguhkan penagihan terhadap orang yang sedang dalam kesusahan merupakan keutamaan yang agung.

Dalam hadis marfu’, dari Buraidah dikatakan, “Barangsiapa menangguhkan orang yang sedang dalam kesusahan (kesulitan), maka setiap hari baginya merupakan amal shadaqah.”

Dalam hal ini, tidak layak seorang Muslim meremehkan barang kebajikan, sekecil apa pun. Nabi SAW pernah menceritakan, bahwa seorang wanita pezina telah memberi minum seekor anjing yang tampak menjulurkan lidahnya karena kehausan kemudian Allah mengampuninya.

Adapun tentang perbuatan menyakiti sesama Muslim, Rasulullah SAW telah melarang dan mengharamkannya dengan sabdanya, “Janganlah kamu menyakiti hamba-hamba Allah, dan jangan mencela mereka dan jangan mencari-cari aib mereka. Sesungguhnya, barangsiapa membuka aib saudara Muslimnya, maka Allah akan membuka aibnya sehingga terungkap rahasia di rumahnya.”

Dalam Shahih Muslim disebutkan, dari sahabat Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, bahwa beliau pernah ditanya tentang ghibah, kemudian beliau menjawab jika dalam dirinya terdapat apa yang kau katakan, maka kau telah mengumpatnya. Dan bila tidak terdapat apa yang engkau katakan, maka engkau telah berdusta terhadap dirinya.

Resapilah, wahai kaum Muslimin, makna nash ini dan nash-nash shahih lainnya. Sesungguhnya orang-orang Muslim tidak diperkenankan mendatangkan perbuatan yang menyakiti saudaranya, dalam bentuk apa pun, baik berupa perkataan maupun perbuatan tanpa hak yang sebenarnya. Seorang Muslim atas Muslim lainnya, diharamkan darahnya, harta benda dan kehormatannya.

Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya, segala sesuatu yang menimbulkan kerukunan hati dan mempersatukan hati kaum Muslimin, adalah perbuatan yang dianjurkan oleh syariat. Dan segala sesuatu yang dapat mengakibatkan bercerainya hati di antara mereka, adalah perbuatan yang dilarang oleh syariat.

Bertakwalah anda sekalian dan bertobatlah kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “… sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar