Selasa, 16 Oktober 2012

RENUNGAN

MEMAHAMI STRATEGI DEBAT PARA NABI
Allah Is The Creator Islamic Wallpaper
Sebagai agama rahmatan lil alamiin, Islam senantiasa menganjurkan pemeluknya untuk bisa belajar Alquran, berpikir dan mendalami karakter manusia di sekelilingnya.

Selain itu, manusia juga bertindak dengan menggunakan ilmu dan strategi yang layak. Strategi tersebut harus dipikirkan secara matang agar penerima pesan (komunikan) tidak salah dalam menangkap dan menstimulasi pesan yang kita hantarkan.

Strategi juga harus diramu sedemikian rupa karena kita menghadapi komunikan yang tidak terhingga batasnya untuk mendukung ataupun menolak gagasan yang kita utarakan.

Berbicara perihal ‘debat’, aktivitas ini sudah banyak dilakukan oleh para Nabi terdahulu untuk melawan musuh-musuh Allah yang jelas-jelas menentang dan menolak Allah. Namun demikian, seburuk apa pun komunikan yang kita hadapi, di situlah ada sebuah cara khusus untuk membuat komunikan mau menerima apa yang kita ungkapkan.

Mari kita simak Surah Al-Baqarah ayat 61. “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya’.”

“Musa berkata, ‘Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta…’ (QS. Al-Baqarah: 61).

Bani Israil ialah salah satu kaum yang Allah abadikan nama dan sejarahnya. Terkenal dengan sifatnya yang gemar membantah perintah para nabi. Bani Israil pun terus berusaha menyulitkan Musa AS, memberinya tantangan, serta terus bertahan dalam ketidakyakinannya terhadap Allah dan kenabian Musa AS.

Menurut Surah Al-Baqarah ayat 61 di atas, Bani israil terus mendesak Musa agar ia mau memberikan makanan lain selain manna dan salwa. Lalu apa komentar Musa di atas? Adakah Musa geram lalu memarahi kaumnya? Sama sekali tidak. Musa justru berkata, “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.”

Secara jelas, Musa menganggap apa yang kaumnya minta adalah tindakan bodoh. Dan hanya orang-orang bodoh saja yang mau menukar sesuatu yang baik dengan sesuatu yang lebih rendah.

Contoh perdebatan lain ialah tentang kisah Namrud dan Nabi Ibrahim. Kisah ini tertera dalam Surah Al-Baqarah ayat 258. Ibrahim berkata, "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan."

Orang itu berkata, "Aku dapat menghidupkan dan mematikan."

Ibrahim berkata, "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat." Lalu terdiamlah orang kafir itu.

Pada perdebatan contoh kedua, ada nilai etika Nabi Ibrahim AS yang harus kita petik. Pertama, Ibrahim hanya memuji Tuhannya (Allah), seperti apa yang terdapat di awal surah tersebut. Merasa tersaingi bercampur ketidakpercayaan akan kenabian Ibrahim, Namrud tak mau kalah. Ia juga menjawab bahwa ia mampu menghidupkan lagi. Raja Babilon yang bengis ini akhirnya bingung, ia tentu tidak dapat menerbitkan matahari dari arah yang berlawanan tempat biasa Allah menerbitkannya.

Dari dua contoh di atas, sedikit banyak memberikan kita motivasi bahwa setiap orang dapat menerima argument kita jika kita sudah mengantongi strategi apa yang akan dikeluarkan agar meeka luluh. Dan yang lebih penting, menjauhi pertikaian dan kekerasan baik secara verbal maupun non verbal. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl: 30). Wallahu a’lam.






MALULAH PADA ALLAH
Allah's Night Sky Islam Wallpaper
 “Dan milik Allah timur dan barat. Ke manapun kalian menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS [2]: 115).

Jika Anda sedang mandi dan tiba-tiba muncul wajah seseorang di hadapan Anda, bagaimana rasanya? Tidak malukah Anda? Tidakkah segera Anda berusaha menutupi aurat Anda?

Setiap saat wajah Pencipta hadir dalam seluruh episode kehidupan kita. Dalam ketelanjangan kita menjalankan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai perintah-Nya, bahkan melawan larangan-Nya.

Tidak malukah kita? Ataukah kita berpikir Allah sedang mengantuk dan tertidur? Padahal, Allah menegaskan, “Allah, tidak ada ilah selain Dia. Yang Mahahidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS [2]: 255).

Atau, kita berpikir Allah tidak melihat? Padahal, “Bagi Allah, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit.” (QS [3]: 5). Jangan-jangan kita berpikir Allah tidak menyadari apa yang sedang terjadi?

Padahal, Allah menantang manusia, “Dan rahasiakanlah perkataan kalian atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Mahamengetahui segala isi hati. Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.” (QS [67]: 13-14).

“Dan kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS [6]:59).

Naudzubillaahi min dzaalik. Tanpa sadar kita telah mengecilkan Dia Yang Mahabesar. Tanpa sadar kita telah menyunat dan mengerdilkan iman kita sendiri.

Dia Yang Mahatahu apa yang dilahirkan maupun yang disembunyikan. Kita dapat menutupi aurat dari pandang an manusia, tetapi kita tak mungkin menutupi cela kita dari Dia yang Maha Melihat dan Mendengar.

Dari Dia yang selalu menghisab hamba-hamba-Nya. “Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kalian menyatakan apa yang ada di hati kalian atau kalian sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagi kalian. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS [2]: 284).

Karenanya, janganlah malu pada dunia, malulah pada Pemilik dunia. Jika malu pada dunia, Anda takkan malu jika tak ada wajah yang hadir. Jika malu kepada Pemilik dunia, Anda akan menjaga perbuatan di mana pun dan kapan pun. Ada maupun tak ada orang lain. Itulah yang disebut muraqabah, yakni selalu merasa diawasi oleh Allah.

Nabi SAW bersabda, “Beribadahlah engkau kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat engkau.” Jadi, malulah kepada Allah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar