Jumat, 12 Oktober 2012

GAYA HIDUP


.♥业'Gambar  I.luv.Islam'业♥. - kata hikmah

 SEHATKAN JIWA RAGA KITA DENGAN AKHLAK MULIA

“DI DALAM tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat,” begitulah bunyi sebuah jargon yang sangat populer di era 90-an untuk memotivasi murid-murid sekolah antusias berolahraga. Akan tetapi faktanya tidaklah demikian. Tubuh yang sehat sama sekali tidak melambangkan jiwa yang sehat.

Coba lihat para preman, perampok dan penjahat, tidak ada rasanya di antara mereka yang tidak kuat otot dan tubuhnya. Termasuk para koruptor, sama sekali tidak menunjukkan kelemahan fisik. Justru ketika tertangkap KPK tidak lama kemudian, koruptor langsung sakit, itu sudah bukan rahasia.

Menariknya fenomena yang terjadi pada pelajar di Indonesia juga semakin menunjukkan bahwa jargon “Mensana incorporesano” itu tidak bisa diterima akal sehat. Bagaimana tidak, mereka yang terpelajar bahkan mahasiswa kini sangat gemar melakukan tawuran. Ironisnya, pemicu tawuran seringkali hanya karena masalah-masalah sepele.
Mereka lebih suka menggunakan otot daripada otak. Sementara itu, yang menjadi koruptor lebih suka menggunakan hawa nafsu daripada ilmu. Jadi, tanpa sadar bangsa ini telah banyak dilanda penyakit jiwa. Sebuah penyakit yang mendorong manusia berbuat kriminal, amoral, dan irasional.
Mungkin kita masih ingat bagaimana dulu di negeri ini pernah terjadi sebuah peristiwa yang sangat menyesakkan. Seorang ibu rumah tangga tega membunuh tiga anaknya secara bergiliran dalam satu malam. Ketiganya dibunuh dengan cara menekankan bantal ke muka mereka yang masih berusia di bawah 10 tahun.
Dalam pengadilan sang ibu menyatakan bahwa semua itu dilakukan karena terpaksa. Ibu itu dihantui oleh rasa takut yang mendalam akan masa depan ketiga anak-anaknya. Ia tidak mau melihat anak-anaknya nanti hidup susah dan menderita. Ironisnya, sang ibu itu bersama suaminya, ternyata tidak termasuk orang yang benar-benar miskin.
Oleh karena itu, hidup di zaman modern ini kita tidak saja perlu mewaspadai datangnya penyakit fisik dalam diri kita dan keluarga kita. Tetapi juga harus mewaspadai datangnya penyakit jiwa dalam hati kita semua. Yang ternyata dampak penyakit jiwa jauh lebih besar dan lebih serius daripada sekedar penyakit fisik.
Ustadz Abdullah Said, pendiri organisasi Hidayatullah dalam sebuah rekaman taushiyahnya pernah mengatakan, “Kalau kita mengalami sakit fisik, paling kita akan loyo dan akhirnya meninggal dunia. Berbeda kalau halnya ruhani (jiwa) yang sakit. Kita tidak akan semakin loyo tapi akan semakin beringas, semakin bernafsu, dan semakin gemar melakukan kejahatan-kejahatan.”
Fenomena penyakit jiwa ini mengalami peningaktan secara pasti. Bahkan yang terserang penyakit ini bukan saja kalangan broken-home, anak-anak terlantar, kelompok ekonomi lemah, tetapi juga banyak dari keluarga baik-baik, dari lingkungan terpandang, dari kalangan berekonomi menengah ke atas, bahkan dari kalangan agamawan.
Lebih dari itu, sakit jiwa di zaman ini tidak lagi hanya seperti anggapan umum selama ini yang menunjukkan adanya gangguan saraf atau otak. Tetapi lebih karena lemahnya iman-takwa, rendahnya ilmu dan tipisnya ketawakkalan kepada Allah SWT.
Semua itu terjadi karena kurang seriusnya (mujahadah) sebagian besar dari umat Islam sendiri memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat komprehensif menembus dimensi intelektual, emosional, dan spiritual.
Di sinilah momentum yang tepat bagi seluruh umat Islam untuk menunjukkan Islam sebagai solusi atas segala problematika kehidupan manusia; terutama masalah kesehatan jiwa dan raga. Yang ternyata untuk sehat jiwa raga itu, di dalam Islam tidak perlu harus dengan biaya tinggi dan ilmu yang rumit. Ajaib sekali, cukup dengan berakhlak mulia dan konsisten di atas ajaran Islam agar berhasil menjadi hamba Allah yang mendapatkan rahmat dari-Nya.
Dua Jenis Penyakit Jiwa
Dua jenis penyakit jiwa itu adalah penyakit syubhat dan penyakit syahwat. Kedua-duanya disebutkan di dalam Al-Qur’an.
Terkait dengan penyakit syubhat dapat dilihat dalam firman-Nya;
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
 “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka.” (QS. Al-Baqarah [2] : 10).
Kemudian,
وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَاناً وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ
“Supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" (QS. Al Muddatsts [74] : 31).
Adapun terkait dengan penyakit syahwat dapat dilihat dalam firman-Nya;
يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفاً
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS.Ahzab [33] : 32).
Kemudian Rasulullah juga menjelaskan bahwa “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging yang apabila berkualitas baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Dan apabila berkualitas buruk, maka seluruh tubuh akan menjadi buruk. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian maka dapat dipahami bahwa, sebagai pusat kendali jiwa dan raga, hati sangat menentukan kesehatan jiwa dan raga seseorang. Sosok kejiwaan seseorang yang mengalami krisis atau penodaan, yang mendorongya berbuat maksiat kepada Allah, sebenarnya bersumber dari kerusakan hati.
Seperti penderita paranoid, sejatinya itu berawal dari kondisi hati yang kurang tabah atau tidak memiliki Adversity Quoetient yang mendorongya mampu menghadapi cobaan atau situasi sulit dalam kehidupannya.
Akhirnya hatinya selalu diliputi prasangka buruk terhadap Allah. Jika dibiarkan, perasaan negatif itu akan terus-menerus menodai hati, sehingga jiwa seseorang menjadi sangat ringkih, overprotektif, dan akhirnya menjadi paranoid.
Berakhlak Mulia
Penyakit jiwa ternyata bersumber dari hati. Jika demikian maka jenis penyakit ini cukup populer bagi kita. Seperti sifat takabbur (sombong, angkuh, pongah), bakhil, tidak peduli dosa, dan mudah putus asa. Dan, semua jenis penyakit tadi dapat menjerumuskan penderitanya ke dalam neraka.
Takabbur misalnya, yang menjadi pemicu terjadinya pertikaian, perkelahian sampai tawuran adalah jenis penyakit yang menghalangi kita bisa masuk surga.
“Orang yang dalam hatinya terdapat, walau, hanya sebiji dzarrah ketakabburan, tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Takabbur adalah kondisi hati yang miskin dari rasa kehambaan sebagai akibat dari kebodohan. Oleh karena itu sombong dalam Islam tidak saja merujuk pada kepongahan dan keangkuhan, tetapi juga pada keengganan seorang Muslim beribadah secara sungguh-sungguh kepada Allah SWT.
Sifat takbbur juga mendorong manusia tidak siap menghadapi kekalahan, kegagalan, kebangkrutan atau keterpurukan. Selain itu juga melahirkan sikap iri dengki yang menunjukkan ketidakmauannya mengakui keunggulan dan keberhasilan orang lain. Semua orang dimatanya adalah rendah dan hina. Akibatnya ia menolak kebenaran dan suka sekali merendahkan orang lain yang dibencinya.
Orang takabbur akan mudah mengalami tekanan jiwa. Ia terpukul bila melihat saudaranya seiman lebih baik dari dirinya. Ia akan merasa terpuruk, saat banyak orang berbuat baik seperti dirinya. Sebaliknya, ia akan sangat senang bila melihat orang yang berpotensi baik terjebak dalam kesusahan, kemiskinan, dan kesengsaraan.
Jika takabbur itu dimiliki penguasa, maka dia akan sengsarakan orang yang tidak sesuai dengan seleranya, memenuhi hajatnya, atau memuaskan ambisi-ambisinya.
Bila ia orang kaya ia akan berusaha menjatuhkan yang lain. Jika dia orang miskin dia selalu merasa tetap lebih baik, meski sebenarnya tak berdaya berbuat apa-apa.
Jadi, yang harus kita lakukan adalah berusaha menjadi Muslim yang benar-benar meneladani Rasulullah dengan akhlak mulianya. Ketika mendapat perintah dari Allah beliau menjalankan dengan kesungguhan. Ketika dilarang melakukan suatu hal, beliau juga berusaha meninggalkannya. Ketika ada orang yang menghinanya, beliau bersabar atas semuanya. Ketika ada orang yang berbuat salah terhadapnya, beliau memaafkan. Semua itu tiada lain agar Allah menurunkan rahmat-Nya. Dan, tiadalah kesehatan jiwa raga bagi kita akan sempurna, selain karena Allah telah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِي
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron [3] : 159)







RENUNGAN

SIAPAPUN kita pasti bisa merasakan –setidaknya melihat perilaku generasi muda sekarang—yang banyak banyak meniru-niru (menjiplak) gaya hidup artis Barat, Korea, Jepang, dan negara-negara lainnya. Jika anak-anak mereka sibuk bangga dengan artis dan bintang Korea, tak sedikit pula dengan  ibunya yang juga ikut mewarnai rambutnya dengan warna rambut artis kesukaan mereka juga dengan pakaian yang tidak semestinya.
Meminjam istilah bapak sosiologi dunia, Ibn Khaldun dalam karya monumentalnya, “Muqaddimah”, umat Islam di Indonesia, saat ini, sebagian besar terjangkiti virus inferiorisme.
Yaitu virus tidak percaya diri dengan dirinya, agamanya, dan selalu melihat apa yang ada di luar dirinya, bahkan di luar agamanya sebagai yang lebih baik.
Maka tidak heran jika anak-anak muda kita sangat bangga dengan model rambutnya yang seperti artis Korea,  bangga kursus musik, gitar, main drum namun tak bangga dan tak malu jika tidak bisa mengaji. Mereka juga bangga dengan artis-artis luar negeri, menjadikannya idola dalam hidup. Foto para artis tersimpan di lemari dan kamar-kamar mereka, di sisi lain, ia justru tidak sahabat Nabi,  para ulama salaf serta tokoh-tokoh pejuang Islam.
Tentu ada banyak faktor, mengapa terjadi fenomena seperti ini.  Tetapi faktor paling penting dari segala faktor adalah tidak adanya pengetahuan dalam diri mayoritas setiap Muslim untuk mendalami ajaran agamanya, sehingga semua tindak-tanduknya tak pernah didasari oleh al-Quran dan As Sunnah.
Karenanya,  bukan hal aneh jika anak-anak remaja mereka hari ini begitu paham dan mengenal secara detil artis-artis Korea atau nama-nama dan profil pemain sepak bola legendaris dunia. Namun sayang, mereka tidak sanggup menghapal nama-nama tokoh pejuang agama mereka yang telah ikut menghantarkan agama ini menjadi menyebar luas di seluruh dunia hingga Indonesia.
Jika anak-anak remaja Muslim itu sangat mengenal dengan baik nama, hobi serta latar-belakangan semua artis asing, lantas mengapa mereka tidak begitu mengenal dengan dekat sosok dan pribadi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, empat Sahabat Utama beliau; Abu Bakar Ash Shidiq, Umar ibnu Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib?
Padahal, perkara siapa meniru siapa bukanlah perkara remeh.  Tidak mungkin seorang Muslim yang baik akan mengidolakan artis yang tidak jelas akhlaknya.  Oleh karena itu, kewajiban kita semua sebagai Muslim hari untuk ikut andil dalam urusan ini.
Meneladani Para Sahabat
Suatu hari, seorang kafir Quraisy bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang Muhammad yang pergi ke Masjidil Aqsha lalu ke langit dalam semalam. Apakah itu rasional?”
“Jika yang mengatakan itu adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, sahabat tercintaku, lebih dari itu pun saya percaya,” jawab Abu Bakar dengan tegas.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sendiri pernah bersabda tentang Abu Bakar ini. “Allah mengutusku kepada kalian kemudian kalian mengatakan: ‘Engkau (Muhammad) dusta’, namun Abu Bakar berkata: ‘Ia (Muhammad) benar’. Ia telah melindungiku dengan diri dan hartanya. Bisakah kalian membiarkan Sahabatku ini bersamaku?’ (Maksudnya tidak melukai hatinya).
Abu Bakar juga terkenal dengan kemauan kuatnya untuk meneladani segala amal sholeh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Dua hari setelah wafatnya Nabi akhir zaman itu, Abu Bakar menemui Aisyah guna menanyakan ada tidak amalan Nabi yang belum diamalkan oleh dirinya.
Aisyah menjawab, “Semua amalan Nabi telah engkau ikuti, kecuali menyuapi nenek Yahudi yang buta yang berada di sudut kota Madinah ini”. Mendengar jawaban istri Rasulullah itu pun, Abu Bakar bergegas melakukan amalan Nabi yang belum dilakukannya.
Kesetiaan dan totalitas Abu Bakar dalam iman dan takwanya, menjadikannya sebagai manusia yang dijamin dipanggil masuk dari seluruh pintu surga.
Kala itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda bahwa siapa yang gemar mengerjakan sholat akan dipanggil daripintu shalat. Siapa yang banyak berjihad akan dipanggil dari pintu jihad. Lalu, siapa yang gemar sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. Dan, siapa yang gemar puasa (sunnah) akan dipanggil dari pintu Rayyan.
Kemudian Abu Bakar berkata: “Tidak terlalu mengherankan jika orang-orang itu dipanggil dari masing-masing pintu tersebut. Apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu itu, wahai Rasulullah?” Nabi kemudian menjawab: ‘Ya, ada, dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka, hai Abu Bakar.” (HR. Bukhari Muslim).
Adalah Mundzir Al As’ad dalam kitabnya “Baraa’atush Shahabah Minan Nifaq” mengetengah kan perkataan Syeikh Muhammad Abu Syuhbah  menjelaskan definisi para ulama dan ahli hadits tentang sahabat.
Para Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di dalam keadaan mukmin dan meninggal di dalam keimanan. Sedang mereka yang murtad dan meninggal di atas kemurtadan batal sebutannya sebagai sahabat.
Menurut para jumhur, Sahabat Nabi adalah mereka yang lebih lama bersahabat dengan Nabi, mendengar dari Nabi,  berperang bersama Nabi (berkurban dengan jiwa dan hartanya untuk membela Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam), mereka lebih berhak untuk dimuliakan dan didahulukan dari pada yang lain.
Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita bahwa sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memiliki sifat dan kedudukan yang mulia, di antaranya: termasuk ummat Islam yang adil dan pilihan (QS. 2:143); sebagai ummat terbaik (QS. 3:110); memiliki karakter berkasih-sayang terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir, ruku’ dan sujud hanya mencari karunia dan keridhaan Allah Ta’ala. Dan hal ini digambarkan pula di dalam kitab-kitab sebelum Al Qur’an (Qs. 48:29); Mereka termasuk orang-orang yang telah mendapat jaminan diampuni kesalahan-nya oleh Allah Ta’ala (Qs. 9:117); Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat predikat ridwanullah ‘alaihim ajma’in/ telah diridhai oleh Allah Ta’ala (Qs. 9:100/ 48:18-19).
Dan merekalah orang-orang yang akan masuk Surga lebih dahulu dan di antara mereka ada 10 orang yang dijamin sebagai ahli surga.
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ
فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ
وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ
“Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah keni'matan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” [QS: al Waqi’ah [56]:10-14)
Dan masih banyak ayat yang menggambarkan tentang sifat dan kedudukan Sahabat yang seharusnya menjadi contoh dan tauladan anak-anak kita.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pun telah bersabda tentang kedudukan para sahabat, yang artinya: ”Sebaik-baik manusia adalah pada abadku, kemudian abad sesudah-nya kemudian abad sesudah itu.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, dll).
Sebagai penutup, marikah kita ajarkan pada anak-anak kita tentang bagaimana seharusnya berislam dalam kehidupan ini. Bentengi mereka dari berbagai virus “budaya asing” yang justru menjauhkan mereka dari kecintaan pada agamanya sendiri dengan membaca Al-Qur’an, Hadits, Shirah, sampai biografi sahabat-sahabat Nabi.
Rasulullah n bersabda:
من تشبه بقوم فهو منه
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu." (HR. Abu Daud, Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul Gholil 5/109.)
Yang paling dikhawatirkan Nabi: "Sesungguhnya kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sedikit demi sedikit sampai seandainya mereka masuk kelubang biawak kalian juga akan mengikuti mereka." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah mengatakan;
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaannya ketika meninggal.” (HR. Muslim no. 2878).
Nah, relakan Anda jika anak-anak kita yang kita rawat semenjak bayi, justru dibangkitkan di aherat bersama orang yang mereka cintai dan mereka idolakan seperti; Adele, Lady Gaga atau artis Gangnam Style, Jae-sang? Jika itu yang terjadi, Andalah yang akan dimintai pertanggungjawaban di aherat kelak, bukan yang lain.









HIDUP BERISLAM DAN KONSEKWENSI BERSYAHADAT


ISLAM adalah satu-satunya agama yang menyeru terhadap ketuhidan. Keindahannya dapat dirasakan oleh mereka yang menganutnya. Islam tegak karena memang dia datang untuk menyalamatkan manusia dari teori-teori bohong yang yang justru merendahkan derajat manusia manusia itu sendiri. Wanita diangkat derajatnya oleh Islam, para budak yang awalnya dihinakan, lebih mulia bersama Islam secara sosial. Ia lebih  berwibawa.
Padahalnya, sebelum Rasulullah diutus untuk menyerukan kalimat tauhid masyarakat Quraisy berada dalam kebodohan (jahiliah). Keadaan inilah  yang menyebabbkan tindakan mereka tidak terkontrol. Dan pada saat Nabi Muhammad datang dengan genggaman kalimat syahadat perubahan peradapan mereka sangat drastis. Tindakan mereka dapat diarahkan dan akhirnya tidak ada lagi  pembunuhan, perampasan, pemerkosaan dan saling tunding menunding antar sesame.

Dalam kehidupan manusia manusia memiliki peran yang amat penting, selain  makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, mereka juga  memiliki gelar khusus yang tidak pernah dimiliki oleh makhluk lain.
Adapun di antara gelar yang mereka sandang adalah Al-mukarram yang memiliki arti mulia, mereka memiliki pedoman husus untuk mengantarkan kinerja anggota tubuh mereka sesuai dengan cara dan fitrahnya masing-masing. Dengan mulut yang mereka miliki selalu berbicara jika waktunya tiba, dengan tangannya mereka memegang jika memiliki hak dan dengan matanya mereka melihat jika objeknya tepat, begitu pula dengan anggota tubuh lain yang mereka miliki, mereka selalu menggunakannya pada sasaran yang tepat. Begitulah keadaan Insan Kaffah dalam pandangan yang sebenarnya, mereka tidak semena-mena melaksanakan tugas sebagai khalifah di dunia, mereka menggerahkan seluruh daya dan kemampuannya untuk mencapai tugas atau amanah mulia yang disandangnya.
Namun apakah gelar kemuliaan itu dapat dimiliki oleh setiap individu, seperti kita?
Dalam kehidupan ini kita dituntut untuk memilih, karena sejatinya hidup ini adalah pilihan. Dan untuk mendapatkan sebuah pilihan yang tepat maka kita diharuskan menggunakan akal untuk berfikir, sehingga  ahirnya kita akan menemukan arah jalur yang tepat untuk melaksanakan tujuan hidup yang sebenarnya.
Berikut adalah sebuah sedikit catatan yang akan membahas tentang pelaksanaan tugas kehalifahan manusia, yang pada hakikatnya mereka telah meng-iqrarkan dirinya dengan ucapan dua kalimat syahadat untuk senantiasa menjaga dan memelihara dunia ini agar terus berkembang secara teratur bukan untuk merusaknya, karena jika pelaksanaan tugas kehalifahan tidak dicapai maka dunia akan berkembang tapi tidak selaras hingga akhirnya kesatabilan menjadi lemah dan akibatnya terjdilah goncangan-goncangan dahsyat yang tidak diinginkan
Namun dewasa ini eksplisitas penduduk madani semakan terpuruk seiring dengan kesenjangan sosial yang sekuler, Islam hanya dianggap sebagai seremonial saja tanpa tindakan pasti untuk melaksanakan tugas-tugas insan beragama.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa setiap manusia yang beru dilahirkan berada dalam keadaan fitrah, yakni mereka tidak memiliki tuntutan  untuk melaksanakan tugas-tudas keagamaan. Mereka tidak terikat pada garis-garis wajibat, muhramat dan makruhat. Seperti apapun dan bagaimanapun tingkah dan tindakan yang mereka perbuat tidak mendapat nilai negatif, itulah arti fitrah yang sebenarnya.
Namun dari segi horologi logisnya manusia akan mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya umur yang mereka jalani. Mereka akan bertemu dengan masa yang pada saatnya mereka harus melaksanakan tugas-tugas penting dalam rangka mengaplikasikan ranah hidup yang sebenarnya. Mereka akan diperkenalkan pula dengan istilah-istilah wajib, haram dan sunnah untuk menyetarakan fitrahnya sebagai insan beragama.
Dari inilah sangat jelas bahwa untuk melaksanakan keteraturan hidupnya, mereka memiliki suatu tuntutan yang harus dilaksanakan dalam rangka membentuk suatu populasi hidup yang damai dan sejahtera tentunya dengan melaksanakan fungsi-fungsi dari arti kalimat syahadat secara konprehensip.


ADA beberapa hal untuk mengimplementasikan tindakan ucapan syahadat kita;
Mengilmui Islam

Untuk dapat merealisasikan ajaran Islam dengan benar dituntut adanya pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam. Dewasa ini masalah besar yang sedang dihadapi oleh  kaum Muslimin adalah ketidak fahaman terhadap Islam secara sebenarnnya. Hal ini terbentuk karena mereka memilih jalan sekularisme dalam pengelolaan politik kenegeraannya. Implikasi dari pilihan politik ini menempatkan agama berada di luar area publik. Agama hanya terlibat secara terbatas pada urusan kenegaraan yang bersifat seremonial dan tidak strategis. Dalam kata lain, agama ditempatkan sebagai pribadi bangsa yang tidak memiliki peran penting dalam pembentukan sebuah tata kelola negara. 

Meyakini Islam

Fungsi dari bentuk peng-ikraran  dua kalimat syahadat yaitu adalah keyakinan teguh dalam melaksanakan agama Islam, perjanjian langsung yang bersifat implementatif untuk dilaksanakan. Berjanji “Tiada Tuhan Selain Allah“ adalah bentuk reaksi untuk meyakini Islam secara semrpuna (kaffah) dan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang tertera dalam Islam itu sendiri.

Allah berfirman;

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُول
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Mengamalkan Islam

Keagungan dan keindahan  ajaran Islam hanya akan dapat dirasakan dengan mengamalkannya;
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Memperjuangkan Islam

Setelah kita yakin tentang kebenaran Islam maka tugas selanjutanya yang bersifat  implementatif nyata adalah memperjuangkan Islam tersebut. Karena kebenarannya yang bersifat logis tidak tepandang hanya melalui hasil penelitian semata. Islam benar memang  itu adalah nyatanya yang tidak dapat dipungkiri.

Allah berfirman :

وَمَا لَكُمْ لاَ تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَـذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيّاً وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيراً

“Mengapa kamu tidak mau berjuang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zalim ini dan berilah kami pelindung , dan penolong dari sisi Engkau!.“ (QS. An-Nisa’: 75)

Disebutkan juga dalam ayat yang lain yang artinya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِي

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?.“ (QS. Fussilat: 33)

Keluasan dan kesempurnaan makna dari kalimat tauhid yang juga terkandung dalam dua kalimat syahadat merupakan bentuk seruan yang harus di aplikasikan melalui pengamala-pengamalan kita setiap saat tentunya. Yaitu dengan mentuhidkan Allah SWT.
Sehinnga refleksinya adalah keselamtan kita dari segala bentuk keraguan yang menyebabkan kita terperosok kedalam jurang kesyirikan.

Dengan ucapan lafad,
أشهد ان لا اله الاالله و اشهد ان محمدا رسول الله “Asyhadu Alla ilaha Illallah, Wa ashadu Muhammadarrasuulullah.” [Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah]
Perjanjian tersebut adalah bentuk nyata tentang kesempurnaan kedudukan manusia di dunia. Sehingga dengan kalimat itu kita telah mendapatkan sebuah pilihan yang paling benar   dalam menempatkan diri kita. Karena pada hakikatnya manusia yang baik adalah mereka yang dapat menemukan kedudukan jelas dan tepat dalam menjawab seluruh pertimbangan dari segala bentuk permainan hidup




HIDUP BAHAGIA TANPA TV


 
SETIAP anak harus mengembangkan perasaan bahwa mereka dapat “mengubah dunia” dan memiliki kekuatan dari dalam (inner strength) dan percaya bahwa mereka adalah orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan. Secara alamiah, dorongan ini muncul pada diri anak semenjak bayi. Mereka belajar menggunakan tangis, senyum, gerakan dan suara-suara untuk memanggil orangtuanya, meminta perhatian dan “memaksa” orangtua memenuhi keinginannya.

Usia dua tahun, dorongan untuk mengembangkan kemampuan “mengubah dunia” itu semakin menguat. Para ahli menyebut rentang usia dua hingga empat tahun sebagai the terrible twos atau masa-masa dua tahun yang “mengerikan”. Ungkapan ini mungkin terasa berlebihan. Tetapi pada prinsipnya, para ahli menyampaikan pesan dengan ungkapan ini bahwa anak-anak usia dua hingga empat tahun sedang mengembangkan kemampuannya mengatur, memaksa, menolak perintah dan melakukan tawar-menawar terhadap aturan orang dewasa. Lebih-lebih jika diperintah secara tiba-tiba, mereka cenderung menunjukkan perlawanannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa mereka tidak bisa dipaksa.

Kecenderungan ini sangat alamiah. Setiap anak harus memiliki dorongan ini sebagai bekal untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Orangtua maupun guru di sekolah berkewajiban menumbuhkan sense of competence ini pada diri anak, terutama usia 4-8 tahun. Jika anak memiliki perasaan ini secara memadai pada rentang usia 4-6 tahun, mereka akan lebih siap untuk memasuki fase pendisiplinan diri pada usia 7 tahun. Pada saat yang sama, orangtua maupun guru di sekolah tetap berkewajiban membangun sense of competence hingga usia 8 tahun sehingga mereka memiliki citra diri, harga diri serta percaya diri yang baik.

Mengapa fase pendisiplinan dimulai pada usia 7 tahun? Ini berkait dengan perintah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ”Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun, perintahkanlah dia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat usianya mencapai sepuluh tahun, pukullah dia apabila meninggalkannya.” (HR. Abu Dawud).

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, ”Ajarkanlah anakmu tata cara shalat ketika telah berusia tujuh tahun. Dan pukullah dia pada saat berusia sepuluh tahun (apabila meninggalkannya).” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas kepada kita bahwa mendisiplinkan anak shalat dimulai pada usia tujuh tahun. Bukan usia sebelumnya. Kita perlu memberi pendidikan iman, akhlak dan ibadah sedini mungkin. Tetapi ada prinsip lain yang harus kita perhatikan: berikanlah pendidikan tepat pada waktunya. Sesungguhnya, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW dan sebaik-baik perkataan adalah firman Allah ’Azza wa Jalla, yakni kitabullah al-Qur’anul Kariim.

Jadi, kalau anak yang belum berusia tujuh tahun tidak mengerjakan shalat, kita harus memaklumi dan melapangkan hati. Tugas kita adalah menumbuhkan perasaan positif terhadap kebiasaan yang ingin kita tumbuhkan, membangkitkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi) serta menjamin bahwa mereka memiliki harga diri yang tinggi. Kita memperlakukan mereka secara terhormat, tetapi bukan memanjakan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman;
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS: Thaahaa [20]: 132).

Sabar. Ah…, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun. Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau…, kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah-payah berusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit. Lantas, apa hubungan dengan televisi?



 Sabar. Ah…, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun. Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau…, kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah-payah berusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit.

Apa yang membuat para orangtua semakin menipis kesabarannya? Selain karena lemahnya tujuan dan tidak adanya visi ke depan dalam mendidik anak, banyaknya waktu menonton TV juga sangat berpengaruh. Selama menonton TV, otak kita cenderung pasif. Ron Kauffman, pendiri situs TurnOffYourTV.com, menunjukkan bahwa selama menonton TV pikiran dan badan kita bersifat pasif (berada pada kondisi alfa). Tidak siap untuk berpikir. Jika keadaan ini terus berlanjut, orangtua akan cenderung bersikap dan bertindak secara reaktif. Bukan responsif. Mereka mudah marah ketika mendapati anak melakukan apa yang dirasa mengganggu. Mereka juga mudah bertindak kasar jika anak tidak segera melakukan apa yang diinginkan orangtua. Apalagi jika sebelumnya mereka sudah memiliki kecenderungantemperamental, semakin cepatlah mereka naik darah.

Di luar itu, secara alamiah kita –anak-anak maupun dewasa—cenderung tidak siap melakukan pekerjaan lain secara tiba-tiba jika sedang asyik melakukan yang lain. Kalau Anda sedang asyik nonton pertandingan sepak bola, telepon dari bos Anda pun bisa terasa sangat mengganggu. Apalagi kalau gangguan itu berupa permintaan istri untuk membersihkan kamar mandi, keasyikan menonton atraksi kiper menepis bola bisa membuat emosi Anda mendidih. Apatah lagi jika gangguan itu datang dari rengekan anak Anda yang minta diantar pipis…!

Jika menonton TV sudah menjadi bagian hidup orangtua yang menyita waktu berjam-jam setiap harinya, pola perilaku yang reaktif, impulsif dan emosional itu lama-lama menjadi karakter pengasuhan. Semakin tinggi tingkat keasyikan orangtua menonton TV, semakin tajam ”kepekaan” mereka terhadap perilaku anak yang ”mengganggu” dan ”membangkang”. Akibatnya, semakin banyak keluh-kesah, kejengkelan dan kemarahan yang meluap kepada anak-anak tak berdosa itu. Lebih menyedihkan lagi kalau lingkaran negatif menumbuhkan keyakinan bahwa anak-anak (sekarang) memang susah diatur.

Matikan TV Anda dan BerbahagialahSatu lagi masalah yang sering dihadapi orangtua: merasa tidak ada waktu untuk mendampingi anak. Kesibukan selalu merupakan alasan klasik yang membenarkan hampir semua kesalahan kita. Kita tidak punya waktu untuk anak. Tetapi kita memiliki kesempatan untuk menonton TV begitu tiba di rumah, karena orang sibuk memerlukan hiburan. Sebuah alasan yang sangat masuk akal ketika istri tak lagi cukup untuk menghibur hati.

Nah.

Apakah tidak ada jalan untuk membalik keadaan? Matikan TV dan hidupkan hati Anda. Kalau Anda merasa benar-benar memerlukan TV, susun jadwalnya. Pastikan Anda menonton, misalnya maksimal satu jam sehari semalam atau setengah dari itu, dan tentukan Anda hanya melihat tayangan yang benar-benar bergizi. Bukan cerita-cerita kosong yang tidak berarti.

Begitu Anda mematikan TV dan mengalihkan hiburan dalam bentuk bercanda dengan anak-istri, insyaAllah Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan ganda sekaligus. Anda mendapatkan waktu dan kesempatan untuk bercanda maupun bercakap-cakap –bukan sekedar berbicara dengan orang-orang yang Anda cintai; Anda juga menabung kesabaran; sekaligus Anda membangun kedekatan hati dengan keluarga.

Ada perbedaan antara berbicara dengan bercakap-cakap (ngobrol). Berbicara bersifat satu arah, sedangkan ngobrol bersifat mengalir dimana kita saling mengajukan pertanyaan, tapi bukan berupa tanya-jawab. Ngobrol membuat hati semakin dekat satu sama lain. Ngobrol juga menjadikan perasaan kita lebih hidup. Tentu saja, apa yang kita obrolkan juga berpengaruh.

Ya, bercakap-cakap dengan obrolan yang baik. Inilah kenikmatan surga yang bisa kita hadirkan di rumah kita tanpa harus mati terlebih dahulu. Pada saat ngobrol, kita bisa memberi dukungan sekaligus dorongan positif bagi anak-anak kita. Ini merupakan salah satu yang sangat mereka perlukan untuk mengembangkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Dukungan dan dorongan positif yang kita berikan di saat yang tepat, sangat berperan untuk membangun diri dan percaya diri mereka. Tetapi ini sulit sekali kita berikan kepada mereka jika kesabaran tidak ada, waktu tidak punya dan keakraban tidak terjalin. Kita berbicara kepada mereka, tetapi tidak berkomunikasi. Kita mendengar suara mereka, tetapi tidak mendengarkan perkataan dan isi hatinya. Sebabnya, otak kita sudah penat karena beban kerja dan tayangan TV yang menyita energi otak kita. 






AJARI MEREKA BELANJAKAN HARTA



KITALAH yang bertanggung-jawab mengantarkan anak-anak agar kelak menjadi manusia yang benar-benar mampu menunaikan taklif (bebanan syari’at). Salah satu perkara yang harus kita persiapkan pada diri mereka adalah kemampuan membelanjakan harta (tasharruf) secara bertanggung-jawab. Tidak terjatuh pada tabdzir, tidak pula tergelincir kepada sikap ketat berlebihan. Sesungguhnya, salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap mukallaf adalah membelanjakan harta sesuai peruntukannya. Dan ini semua memerlukan perangkat ilmu syari’at dan pembekalan berupa penempaan diri oleh orangtua dan guru.

Kemampuan mengendalikan diri, menumbuhkan himmah (passion, hasrat besar) kepada akhirat dan bukannya pada dunia, serta keterampilan mengatur keuangan secara bertanggung-jawab merupakan sebagian tugas penting pendidik untuk mewujudkannya pada diri murid. Anak-anak harus mengilmui tentang perkara ini. Tetapi sekedar mendapatkan pengetahuan secara teratur, runtut dan lengkap tentang hal ini tidak menjadikan mereka mampu mengamalkannya. Harus ada pendampingan sebagai bentuk latihan dan pengawasan. Para pendidik melatih mereka bukan hanya dengan membatasi jumlah uang yang boleh mereka bawa dan miliki. Lebih dari itu, juga melatih anak agar memiliki cara pandang yang sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Membatasi jumlah uang yang boleh mereka miliki memang bermanfaat untuk melatih mereka menahan diri dari hal-hal yang menggiurkan. Ini merupakan bekal penting agar anak mampu menunda keinginan. Tetapi tanpa menata hasrat mereka terhadap dunia, tanpa membangun orientasi hidup yang baik, pembatasan jumlah uang hanyalah semacam karantina yang sewaktu-waktu dilepas akan membuat mereka seperti singa lapar bertemu makanan.

Sungguh, kita mendidik mereka bukan untuk melihat hasilnya hari ini. Kita mendidik mereka untuk menyiapkan mereka menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Kita tempa anak-anak agar orientasi akhirat tumbuh dengan kuat di dada mereka.

Mari kita ingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كَانَ هَمُّهُ الآخِرَةَ؛ جَمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا؛ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ ضَعْيَتَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ

“Barangsiapa yang himmah (passion, hasrat kuat)nya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan menceraiberaikan urusan dunianya, dan menjadikan kefakiran di antara kedua pelupuk matanya, dan dunia tidak akan menghampirinya kecuali sebesar apa yang telah ditakdirkan baginya.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, Al-Baihaqi, Ibn Hibban, Ad-Damiri; shahih).

Pertanyaannya, kampung akhiratkah yang menjadi impian anak-anak kita di sekolah Islam? Ataukah kita lalai menumbuhkan kecintaan kepada akhirat karena hanya sibuk mengejar prestasi? Padahal, andaikata anak-anak itu kuat keyakinannya kepada Allah Ta’ala dan memiliki penjagaan diri serta pengendalian diri yang baik, maka mereka akan bersungguh-sungguh terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya.

Jadi, ada tiga hal penting yang mempengaruhi kemampuan anak mentasharrufkan harta sesuai tuntunan, yakni ‘ilmu, keterampilan yang didapatkan dari latihan, serta adanya orientasi yang benar terhadap harta. Selain melatih mereka untuk menahan diri –di banyak sekolah berasrama menerapkan pembatasan kepemilikan uang per hari atau per pekan—penting juga untuk sering-sering mengajak mereka berdialog sehingga mereka mampu merasakan dan menghayati prioritas belanja. Pendamping asrama perlu meluangkan waktu untuk mengajak anak berbicara tentang barang-barang atau makanan yang mereka beli. Dengan demikian, mereka bukan hanya memiliki ilmu tentang bagaimana mentasharrufkan harta dengan benar, melainkan juga memiliki pengalaman menakar nilai penting apa yang telah mereka belanjakan dan yang akan mereka belanjakan. Dialog ini bermanfaat untuk menjadikan mereka berpikir dan merasakan apa yang mereka pikirkan.

Ilmu tentang hak dan kewajiban terhadap harta akan menjadikan mereka mengerti. Tetapi sikap yang baik dan kepekaan dalam menggunakan harta secara tepat hanya akan tumbuh melalui latihan, pendampingan dan pengalaman. Sebagaimana kemampuan memimpin dan menyelesaikan masalah. Kita dapat membaca teorinya melalui berbagai buku. Tetapi untuk menghasilkan kepekaan dan kecakapan memimpin maupun menyelesaikan masalah, perlu pengalaman dan benturan-benturan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada berbagai kemudahan, kecuali jika kita tidak bersabar menghadapi, tidak pula mengilmui.

Jika anak tidak disibukkan oleh urusan konsumtif, maka hatinya akan lebih tenang dalam belajar. Jika anak tidak sibuk bersaing penampilan maupun benda yang ia miliki di hadapan teman-temannya, maka perhatiannya terhadap ilmu akan tercurah lebih besar. Orientasi studi akan terjaga dan mereka tidak banyak menghabis-habiskan waktu, tenaga dan uang untuk hal yang tidak penting.

Kita perlu bimbing anak-anak agar memiliki konsumerisme (kemampuan membelanjakan harta menurut pertimbangan yang sehat dan tepat). Bukan konsumtivisme, yakni kecenderungan untuk menuruti apa saja yang menjadi keinginannya.

Terkait tanggung-jawab terhadap harta, para pendidik harus secara berkesinambungan mengingatkan, mengajarkan dan mengajak murid untuk menghayati sabda Nabi saw tentang empat perkara yang kelak akan ditanyakan di Yaumil-Qiyamah. Rasulullah saw. bersabda:

لا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتّى يُسْأَلُ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

”Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratal mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya darimana ia peroleh dan kemana ia habiskan, dan badannya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi dan Ad-Darimi).

Khusus terkait dengan pembicaraan kita tentang sikap terhadap harta, ada satu hal yang harus senantiasa kita ingatkan agar mereka memiliki kehati-hatian yang tinggi. Kita perlu terus-menerus menumbuhkan rasa takut pada diri mereka tentang Hari Akhir ketika mereka harus mampu mempertanggung-jawabkan darimana ia memperoleh harta dan kemana ia membelanjakan hartanya. Dua-duanya harus benar. Membelanjakan harta untuk perkara yang benar, tetapi mendapatkannya dari sumber yang haram, maka tak ada yang layak baginya kecuali api neraka. Begitu pun sebaliknya, meski halal sumbernya dan bersih caranya, tetapi ia tetap berkewajiban untuk membelanjakan harta di jalan yang benar, untuk tujuan yang benar. Dan ini, harus kita mulai dari sekolah, meski tentu saja orangtua tetap bertanggung-jawab penuh.

Allah Ta’ala berfirman:

ثم لتسألن يومئذ عن النعيم

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur, 102: 8).

Sepele tampaknya, tapi sering terjadi dan dianggap biasa sehingga lama-lama tak merasa berdosa, salah satunya adalah ghashab (menggunakan harta orang lain tanpa hak). Jika itu banyak terjadi, maka cukuplah sebagai petunjuk bahwa murid masih belum memiliki rasa takut terhadap yang haram. Ini merupakan peringatan agar kita berusaha lebih serius menanamkan kehati-hatian pada anak terhadap perkara yang haram maupun syubhat.

Hari ini, kewajiban menanamkan kehati-hatian dalam masalah halal-haram terasa semakin mendesak. Rasanya, apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tentang keadaan manusia di akhir zaman telah nampak nyata di sekeliling kita. Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam mengingatkan kita:

 لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

”Nanti akan datang suatu masa, di masa itu manusia tidak peduli dari mana harta itu ia peroleh, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram.” (HR Al-Bukhari).

Sekarang ini, manusia memuji-muji kekayaan dan seakan-akan ia menjadi ukuran kesuksesan. Telah banyak manusia dan bahkan lembaga Islam yang tak lagi peduli. Maka kalau anak-anak itu tidak kita bekali, bagaimana mereka akan mampu menghadapi fitnah di zamannya. Padahal, bukankah fitnah bagi ummat ini adalah harta?

Mari kita ingat sejenak sabda Nabi saw.:


إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

”Bagi tiap-tiap umat itu fitnah dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta.” (HR At-Tirmidzi dan Hakim).

Maka, mengajari mereka membelanjakan harta dengan benar sesuai haknya menurut syari’at, selain sebagai bagian penting dari proses pembentukan adab, juga merupakan bekal berharga dalam mengantarkan mereka menjadi manusia dewasa masa depan. Kemampuan mentasharrufkan harta sangat penting bagi proses ta’dib bersebab lurusnya mereka dalam urusan harta, berpengaruh pada sikap mereka terhadap ilmu dan dien. Wallahu a’lam bish-shawab.*

""Tulisan ini adalah bagian keenam seri tulisan tentang ta'dib yang dimuat di majalah Hidayatullah, dimuat di edisi bulan September 2012. InsyaAllah bulan depan saya akan membahas kelanjutan dari tulisan ini, masih tentang ta'dib. Tulisan lain terkait dengan ta'dib dapat dilihat di notes fb page ini maupun di situs Hidayatullah secara langsung.*


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar