Selasa, 08 Mei 2012

OASE

 Manusia Punya Energi Menolak Kemungkaran


HASIL penelitian Virginia Tech, yang dipublikasikan oleh Journal of Royal Society Interface, hanya dengan sekali bersin seseorang telah mengontaminasi satu ruangan dengan virus flu. Virus tersebut akan tetap aktif walaupun telah lewat satu jam.
Yang mencengangkan, setelah menganalisis sampel udara dari tiga jenis ruangan, yaitu pesawat terbang, ruang tunggu sebuah klinik kesehatan, dan ruang perawatan, diketahui bahwa setiap meter kubik udara terdapat 16 ribu partikel virus flu. Masya Allah!
Itu baru satu jenis virus. Padahal jumlah jenisnya saja tak terhitung, apalagi jumlah populasinya.
Dengan demikian, jika sampai sekarang populasi manusia masih tetap eksis, itu menunjukkan bahwa manusia memiliki daya tahan tubuh luar biasa.
Jika secara fisik manusia dapat bertahan karena dibekali pertahanan yang kokoh seperti itu, maka demikian pula secara nonfisik (kejiwaan), pasti ada sistem pertahanan yang juga luar biasa.
Keselamatan jiwa (hati) menjadi barometer eksistensi diri manusia. Sebab, manusia yang hatinya rusak tidak bisa disebut sebagai manusia. Ia telah terjerembab dalam kasta binatang.
Allah Subhanahu Wata’ala, dalam al-Qur`an surat Al-A’raf [7] ayat 179, menjelaskan bahwa isi neraka jahannam itu kebanyakan berasal dari bangsa jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala. Mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala. Mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah.

Mereka itu, kata Allah SWT, bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Sebagai penegas, Allah Subhanahu Wata’ala juga mengatakan:

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً
 
أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاء لَجَعَلَهُ سَاكِناً ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلاً

“Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqan [25]: 43-44)
 
Oleh sebab itu wajar bila manusia normal memiliki fitrah untuk menyelamatkan diri, baik secara fisik maupun nonfisik, dari berbagai bahaya (madharrat) yang mengancam eksistensinya. Hanya orang stres yang nekat bunuh diri, atau orang gila yang mau makan makanan busuk yang kotor dan membahayakan.
 
Yang Harus Dicegah
 
Fitrah normal yang mendorong manusia untuk menarik sebanyak mungkin manfaat, juga terwujud dalam bentuk dorongan untuk menolak madharrat.
Semangat untuk mengejar peluang kebaikan memberikan daya tolak yang setara terhadap peluang keburukan. Contoh terbaik dalam hal ini tak lain adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
Betapa sering Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berdoa dengan menggunakan kata “ أسألك" (aku meminta kepada-Mu). Beliau juga sering menyebut manfaat yang beliau inginkan ketika berdoa. Misalnya, اللهم اغفر لي ، وارحمني
Beliau juga kerap menggunakan kata yang mengindikasikan penolakan dan pencegahan. Misalnya, “ أعوذُ  “. Semua doa yang diawali dengan kata itu pasti  bermakna penolakan terhadap madharrat dan pencegahan dari musibah yang akan menimpa.
Selain hal-hal di atas, hal lain yang kerap dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam adalah:
 
 1.   Senantiasa memohon agar selalu memberi manfaat dan mengindari potensi kemungkaran. Pada waktu pagi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berdoa:
 
رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ

“Wahai tuhanku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan di waktu sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan di waktu sesudahnya.” (Riwayat Muslim)

Begitu pula banyak doa sejenis yang senantiasa beliau panjatkan secara rutin, baik di pagi maupun sore hari.
 
2. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam juga memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala untuk dibebaskan dari kemungkaran pihak manapun tanpa terkecuali, dengan doa, ”Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak akan dilampaui seorang yang baik maupun yang jahat, dari keburukan segala yang ia ciptakan, dari keburukan segala yang turun dari langit dan yang naik ke langit, dan dari keburukan segala yang ia ciptakan di bumi dan yang ke luar darinya.” (Riwayat Ahmad)
Masih banyak doa-doa Nabi Shallallahu "alaihi Wassalam yang menandakan sikap waspada dan antisipasi dari berbagai macam bahaya yang terbayangkan maupun yang tidak terduga.
 
Pihak Pengancam
 
Ada tiga pihak yang menjadi ancaman manusia terkait eksistensi kehambaan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.
Pertama, setan. Sejak awal penciptaan manusia, iblis telah bersumpah serapah dengan mengatakan:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
(Iblis) berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (Al-Hijr [15]: 39)
 
Setan mengepung untuk menggoda manusia dari segala sisi. Allah SWT mengungkap upaya mereka:

ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.” (Al-A’raf [7]: 17)
 
Kedua, nafsu yang melekat dalam diri manusia. Pada dosis tertentu, nafsu sebenarnya mempunyai manfaat bagi manusia. Namun, jika dosisnya lebih dari itu akan menjelma menjadi racun spiritual yang sangat berbahaya. Apalagi setan juga tidak pernah absen mencari kesempatan untuk menungganginya.

Allah Subhanahu Wata’a mengabadikan perkataan emas Zulaikha, istri al-Aziz, dalam al-Qur`an surat Yusuf [12] ayat 53. Kata Zulaikha, ”Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”
Ibn Katsir menerangkan makna ayat ini. Katanya, ”Nafsu sering kali mendorong pemiliknya untuk berbuat keburukan, misalnya dosa besar, karena nafsu adalah kendaraan setan dan dari situlah setan masuk pada diri manusia”. (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim,I/400)

Semua manusia pernah takluk kepada nafsu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata'ala, baik kafir maupun Muslim. Banyak hal yang dapat dijadikan bukti atas keberhasilan ideologi nafsu. Dominasi ideologi liberal saat ini adalah bukti kesuksesan nafsu.  Merut kaum liberal, atas dasar kebebasan berpendapat, tak dilarang mengkritik dan menghujat agama dan para Nabi.
Ketiga, manusia yang menjadi kawan setan dan budak nafsu. Mereka adalah sesama manusia yang menjadi penerus misi setan untuk menyesatkan orang lain melalui berbagai upaya.
Usaha mereka bermacam-maca. Mulai dari bujukan, sanjungan, pemberian fasilitas, sampai pada tingkat pemaksaan dan pembunuhan secara nyata.
Tentang hal ini, Allah menjelaskan dalam Surat al-Baqarah ayat 217. Kata-Nya, ”Mereka (orang-orang kafir) tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.”
Melihat semua dalil dan data kongkrit di atas, tak ada pilihan lain bagi seorang Muslim kecuali harus melakukan upaya pertahanan, penolakan, dan pencegahan sebagai wujud panggilan fitrahnya.
Fitrah itu menghendaki keselamatan seutuhnya, baik raga maupun jiwa, di dunia maupun di akhirat, bagi diri maupun orang-orang yang dicintainya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang selamat. Wallahu A’lam bish-Shawab.










 “Beriman Butuh Takut, Bermaksiat Perlu Malu”
SAYA tergelitik tulisan Ilham Khoiri di Kompas berjudul, “Irshad Manji yang Saya Tahu” (Kompas.com, Senin, 7 Mei 2012)
Tulisan serupa dengan nada “membela” juga pernah ditulis di media yang sama dengan judul “Berpikir Kritis Irshad Manji”,  Minggu, 4 Mei 2008.
Dengan sangat menarik, Ilham Khoiri memperkenalkan penulis buku, "The Trouble with Islam Today: A Wake-Up Call for Honesty and Change"  yang ditertibkan dengan judul, "Beriman Tanpa Rasa Takut” ini sebagai seorang wanita yang pernah trauma sekolah di madrasah. Ilham Khoiri  bahkan menjelaskan, Irshad pernah memilih keluar dari madrasah, dan meneruskan berlajar tentang Islam dari berbagai sumber, terutama perpustakaan. Irshad juga mendatangkan guru bahasa Arab, yang membantu dia memahami Al-Quran dalam bahasa aslinya.
"Saya memilih tetap menjadi Muslim dan menjalani ajaran Islam," paparnya menirukan Irshad.
Catatan lain dari Ilham Khoiri mengatakan, “Irshad berterus terang, tujuan hidupnya adalah meyakinkan umat Islam, terutama kaum muda, bahwa kita bisa berpikir sekaligus beriman.”
Dalam pujian lain pada Irshad Manji, penulis Kompas ini juga mengatakan, “Dia bercerita dengan jernih, jujur, dan terkadang diselipi humor. Kami berbincang banyak soal selama sekitar dua jam: Soal Islam, iman, tradisi konservatif kaum muslim, pentingnya ijtihad, kebebasan berpikir, juga tentang demokrasi.
Iman dan Rasa Takut
Umumnya para pembela Irshad Manji dan kaum liberal bertumpu pada  pernghargaan terhadap kebebasan berpikir, perbedaan berpendapat, dan menumbuhkan sikap dialog. Dan itulah bahasa-bahasa umum yang dikembangkan di kalangan Barat, yang menjadikan demokrasi sebagai “agama” mereka.
“Mempertemukan iman kepada Allah, cinta, dan kebebasan berpikir”, begitulah kiria-kira harapan penulis yang juga pegiat lesbian yang hari-hari ini begitu dibela media massa nasional dan TV swasta kita.
Baik, mari kita jawab harapan Irshad itu.
Dalam Islam dikenal rukun Iman. Dan Iman kepada Allah merupakan suatu keyakinan yang sangat mendasar. Tanpa adanya iman kepada Allah Subhanahu Wata’ala, seorang tidak akan beriman kepada yang lain, seperti beriman kepada malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul Allah dan hari kiamat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا (١٣٦)
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab Allah yang diturunkan sebelumnya, Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS: An Nisa : 136)
Pertanyaannya, dalam Al-Quran Surat Al-A’raf:80-84, juga  Surat Hud ayat 82, Allah Subhanahu Wata’ala dengan tegas melarang perbuatan kaum Luth (homoseksual atau lesbian).  Tapi bagaimana mungkin seseorang mengaku pegian lesbian, masih menyebut diri beriman? Sementara ia masih melakukan perbuatan-perbuatan yang paling dibenci Allah SWT?
Dalam Islam juga dikenal istilah khauf (rasa takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala) untuk menggiring hamba-hambaNya menuju ilmu dan amal agar mereka mendapatkan kedekatan dengan Allah. Khauf (rasa takut) inilah yang mencegah diri dari perbuatan maksiat dan mengikatnya dengan bentuk-bentuk ketaatan.
Rasa takut kepada Allah SWT yang tertanam dalam diri setiap hamba Dalam proses menuju keimanan,  ada tiga pokok ibadah yang tidak boleh lepas dan ditinggalkan oleh manusia. Pertama hati selalu berzikir, kedua, lidah yang selalu menyampaikan nasihat dan kebenaran, ketiga, tubuh sebagai pelaksana dari amal-amal shalih untuk mencapai keridhaan dan menghadirkan cinta-Nya.
Selain itu, menurut bahasa, Iman artinya percaya (yakin) terhadap sesuatu. Iman menurut istilah adalah pengakuan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakan dengan anggota badan. Sebagaimana hadits Nabi, لايمان معرفة بالقلب و قول باللسا ن و عمل بالاركان (رواه الطبران)
Artinya : “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.” (HR Thabrani)
Sedang iman  kepada Allah Subhanahu Wata’ala membutuhkan tiga unsur anggota badan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya; hati, lisan dan anggota badan. Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang mengaku beriman kepada Allah Subhanahu Wata’a hanya dalam hati, lisan, hati dan lisan atau anggota badan saja, maka orang tersebut belum bisa dikatakan orang yang beriman alias batal keimanannya.
Pertanyaanya, apakah layak disebut beriman, seseorang yang lisannya mengaku beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sedang tubuhnya memilih melanggar dan tidak mau berhenti pada kemaksiatan?
Dalam banyak bukunya, Irshad Manji mengaku tetap beriman, namun perbuatannya tetap lebih memilih bermaksiat dengan menuruti hawa nafsunya dalam memilih sebagai seorang lesbian. Iman apa sesungguhnya yang ia pakai?
Dalam al-Quran, Allah berfirman dengan tegas;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kufur (mengingkari) Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, dan hari akhir, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS: anNisaa’: 136).
Karenanya, jika ada orang mengaku beriman, sedang perbuatannya tak mencirikan bagimana layaknya orang beriman, sesungguhnya semua amal-amalnya tertolak.
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (wahai Muhammad) jika kalian mencintai Allah maka ikutilah Aku niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS: Ali ‘Imron:31)
Irshad Manji berkeliling dunia seolah ingin mengajarkan pada banyak orang, bahwa menjadi lesbian, di saat yang sama bisa disebut beriman.  Apa landasan yang ia pakai dan dia gunakan?
Rosulullah bersabda: “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan tanpa petunjuk kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR: Muslim)
Empat Syarat Berilmu
Dalam tulisan lain, Kompas juga mengakui, Irshad belajar Islam sendiri dan mempelajari Al-Quran secara otodidak. Sesungguhnya, bukanlah sebuah masalah orang belajar sendirian. Yang menjadi masalah, ia belajar tentang hal-hal penting dalam agama Islam di, sementara di tengah keterbatasannya dan kejahilan ilmunya itu, ia justru mengkampanyekan di banyak orang untuk mencari pengikut.
Islam melarang belajar tanpa guru, khususnya belajar masalah berkaitan dengan syariah.
Imam Malik Bin Anas berkata: “Tidak boleh mengambil ilmu dari empat orang: 1). Orang yang bodoh walaupun hafalannya banyak (bagaikan orang yang berilmu), 2). Ahlul bid’ah yang menyeru kepada kesesatannya, 3). Orang yang terbiasa berdusta ketika berbicara dengan manusia walaupun dia tidak berdusta ketika menyampaikan ilmunya, dan 4). Orang yang sholeh, mulia dan rajin beribadah jika dia tidak hafal (dan faham) apa yang akan disampaikan.” (Siyar ‘Alamun Nubala’: 8/61)
Nabi Muhammad mengingatkan: “Barangsiapa yang belajar ilmu hikmah (spiritual) tanpa guru, berarti ia telah menunjuk setan menjadi Gurunya.”
Karenanya, Imam Al-Khotib Al-Baghdadi mengatakan, “Seyogyanya bagi para penuntut ilmu untuk belajar kepada ulama yang ma’ruf akan agama dan amanahnya.” (Al-Faqif Wal Mutafaqqif: 2/96).
Itulah kehati-hatian Islam dalam memandang ilmu dan hokum-hukum Allah Subhanahu Wata’ala.
Masalahnya, bagaimana mungkin seorang yang belajar agama dan syariah Islam secara otodidak, tanpa seorang guru (Kompas bahkan menyebutnya belajar Islam hanya melalui perpustakaan) tanpa melalui orang-orang alim (ulama), tetapi ia kemudian merasa lebih tau dari para alim-ulama –bahkan—dari Al-Quran itu sendiri. Pantaskah orang seperti ini mengajari orang tentang hakekat iman?

Ijtihad dan syarat Mujtahid
Hal yang sering disematkan media dan para wartawan pembela paham liberal kepada orang seperti Irshad Manji adalah julukan sebagai “seorang yang telah melakukan ‘Ijtihad”.
Ijtihad menurut pengertian kebahasaannya bermakna “badal al wus” wal mahud” (pengerahan daya kemampuan),  dalam suatu aktivitas dari aktivitas-aktivitas yang sukar dan berat.
Ibnu Hazm mengatakan; “Ijtihad dalam syariat ialah pencurahan kemampuan dalam mendapatkan hukum suatu kasus di mana hukum itu tidak dapat diperoleh.”
Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Ijtihad diberlakukan dalam berbagai bidang, mencakup akidah, mu’amalah (fiqih), dan falsafat.
Hanya saja yang menjadi masalah penting, tidak semua orang, secara tiba-tiba bisa disebut mujtahid atau telah melakukan ijtihad.
Sekurang-kurangnya menurut pakar fikih ada 8 persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid. (Prof. Dr. Tgk. M. Hasbi Ash-Shiddieqy menyebutkan 7 syarat penting) di antaranya: Mengetahui segala Ayat dan Sunnah yang berhubungan dengan hokum (Islam), Mengetahui masalah-masalah yang telah di ijma`kan oleh para ahlinya, mengetahui Nasakh Mansukh, mengetahui dengan sempurna bahasa Arab dan ilmu-ilmunya dengan mendalam (nahwu,  sharaf, bayan, ma`anie dan badie), mengetahui Ushul Fiqih, mengetahui Asrarusysyari`ah (Rahasia-rahasia Tasyri`), mengetahui Qawa`idil Fiqhi (qaedah-qaedah fiqih yang kulliyah yang diistinbathkan dari dalil-dalil Kully dan maksud-maksud Syara').
Namun Imam al Ghazali menyatakan mujtahid mempunyai dua syarat: Pertama; mengetahui dan menguasai ilmu syara’ (syariah), mampu melihat yang zhanni di dalam hal-hal yang syara ‘dan mendahulukan yang wajib.
Kedua; adil, menjauhi segala maksiat yang mencari sifat dan sikap keadilan (`adalah).
Menurut Asy Syathibi, seseorang dapat diterima sebagai mujtahid apabila mempunyai dua sifat: Mengerti dan paham akan tujuan syari`at dengan sepenuhnya, sempurna dan menyeluruh, Mampu melakukan istimbath berdasarkan faham dan pengertian terhadap tujuan-tujuan syari`at tersebut.
Dalam Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) seorang aktifis feminis  membanggakannya sosok Irshad Manji sebagai seorang ”lesbian” yang gigih melakukan “ijtihad”. Dalam artikel berjudul, “Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad” jurnal menulis,”Manji sangat layak menjadi inspirasi  kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.”
Pertanyaannya, apakah pantas seorang yang dalam bukunya banyak “menghina”, Nabi dan perintah Allah Subhanahu Wata’a, bahkan di saat yang sama ia masih mempraktikkan perbuatan yang dilarang Allah disebut seorang mujtahid atau orang yang layak melakukan ijtihad?
Akhirul kalam, pesan ini saya sampaikan kepada media, penulis dan para wartawan yang membela mati-matian –bahkan ikut mengundang—orang-orang seperti Irshad Manji mengkampanyekan kekeliruannya.
Ingatlah,  bahwa isyarat atau ucapan yang kita berikan kepada orang yang akan berbuat maksiat, dihukumi sebagai maksiat pula.
ان الإعانة علي المعصية ولو بكلمة او اشارة معصية
“Sesungguhnya membantu kemaksiatan itu termasuk dihukumi perbuatan maksiat,meskipun hanya dengan satu ucapan atau satu isyarat.” (Bidayatul Hidayah, hal.3)
Irshad bukanlah seorang ulama, pakar fikih, atau orang yang ahli dalam Islam, yang patut kita jadikan rujukan.  Sebaliknya, dengan paham demokrasi,  Barat menyanjungnya, seolah-olah dia tokoh panutan yang layak mengajari umat Islam tentang cinta, iman dan keyakinan.
Yang menyedihkan, orang-orang yang butuh pengobatan secara serius seperti Irshad justu didatangkan oleh lembaga-lembaga bernama pers dan media massa untuk menceramahi 200 juta penduduk Muslim yang sehat perlilaku dan pikirannya.
Sebuah hadits Nabi mengatakan;
من أَعاَنَ عَلَى مَعْصِيَةٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كاَنَ شَرِيْكاً فِيْهاَ
“Barangsiapa yang menolong kemaksiatan walaupun hanya dengan setengah kalimat, maka ia telah terlibat dalam maksiat tersebut.” Allahu a'alam bish shawab.








 Siapa yang Menanam Dia yang Menuai
MENJADI pengantin adalah impian setiap pemudi, sedangkan pernikahan adalah cita-cita setiap pemuda. Bahkan, banyak remaja dan pemuda yang berusaha untuk mencapainya dengan segala cara sesuai dengan prinsip “menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuan” sekalipun bertentangan dengan aturan agama Islam, baik dengan mengirim sms kepada pacar, menelpon, kencan atau chatting lewat internet.

Pada masa sekarang, pemudi yang menjaga dirinya dan hanya mengenal laki-laki dari keluarganya berpikir bahwa dia tidak akan bisa menikah. Padahal, terlambat menikah dengan tetap menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah dapat mendatangkan keberkahan, bisa jadi Allah menganugerahkan seorang pemuda saleh yang akan hidup bahagia bersamanya sepanjang hidup.

Sebut saja namanya Su’ad, ia dikenal seorang muslimah pemalu yang menjaga dirinya, menutup rapat auratnya, menjalankan syariat agama dengan baik dan mempunyai akhlak yang mulia. Sehingga, dengan izin Allah dia mendapatkan suami yang saleh pula.

Su’ad tidak seperti gadis lain yang mengaku modern dan suka memperlihatkan auratnya, berbicara keras, tersenyum bahkan berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa ada rasa malu sedikit pun.

Pernikahan Su’ad dengan suaminya dilakukan dengan cara Islami. Selesai melakukan akad dan resepsi pernikahan, kedua pengantin yang tengah diliputi rasa bahagia itu masuk ke rumah mereka. Su’ad mempersiapkan makan malam sementara suaminya menunggu di meja makan. Mereka pun siap untuk menyantap makanan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Karena merasa terganggu dengan suara itu, sambil marah suami Su’ad mengatakan, “Siapa yang datang jam begini?”
Tanpa diperintahkan suaminya Su’ad berdiri menuju pintu dan bertanya.

“Siapa ini?”

Orang itu menjawab, “Aku pengemis yang butuh makanan.”
Dia kembali ke suaminya yang langsung bertanya, “Siapa itu?”
“Pengemis yang butuh makanan,” jawabnya.
Sang suami menjadi marah dan berkata, “Apakah orang ini yang berani mengganggu waktu istirahat dan malam pertama kita?”
Sang suami membuka pintu lalu memukul pengemis itu dengan keras dan mengusirnya. Pengemis tersebut pergi dalam keadaan lapar sementara luka memenuhi jiwa dan tubuhnya dan kehormatannya diinjak-injak.

Setelah itu sang suami kembali ke istrinya. Perasaan marah kepada pengemis yang menganggu dia dan istrinya masih ada dalam hati. Tiba-tiba dia seperti kerasukan jin, sehingga bumi yang luas terasa sempit baginya. Dia lari keluar rumah sambil berteriak-teriak. Tinggallah Su’ad diliputi rasa takut, karena sang suami meninggalkannya pada malam pertama dari pernikahan mereka. Dia tidak menyangka, suami yang terlihat shaleh tega berbuat demikian kepada seorang pengemis.

Namun itulah kehendak Allah, Su’ad hanya bisa bersabar dan mengharapkan pahala dari sisi Allah Ta’ala.

Buah dari Kesabaran dan Balasan Kezaliman

Lima belas tahun setelah kejadian tersebut, seorang lelaki datang kepada orangtua Su’ad untuk meminangnya. Setelah mendapatkan persetujuan dari Su’ad dan keluarganya, lelaki itu pun melangsungkan pernikahan dengannya.

Pada malam pertama, di saat pasangan pengantin tengah duduk untuk menyantap makan malam, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. Sang suami mengatakan, “Tolong kamu buka pintu dan tanya keperluannya.”

Su’ad beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu.

“Siapa ini?” tanya Su’ad sambil berdiri di belakang pintu.
“Aku pengemis yang butuh makanan,” kata orang itu.
Dia pun kembali ke suaminya.
“Siapa orang itu?” tanya sang suami.
“Pengemis yang butuh makanan,” jawabnya.
Sang suami mengambil makanan yang telah terhidang dan memberikannya kepada Su’ad.
“Bawa semua makanan ini dan biarkan dia makan sampai kenyang, jika bersisa baru kita makan malam,” ujarnya.
Su’ad kemudian membuka pintu dan memberikan makanan itu kepada pengemis yang tengah kelaparan. Lalu dia kembali ke suaminya sambil menangis.
“Ada apa denganmu? Kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi? Apakah dia mencacimu?” tanya sang suami kebingungan.
Dengan berlinang air mata Su’ad menjawab, “Tidak.”
“Apakah dia menghinamu?”
“Tidak.”
“Apakah dia menyakitimu?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang membuatmu menangis?”
Su’ad menjawab, “Orang yang duduk di depan pintu rumahmu dan makan makananmu itu adalah suamiku lima belas tahun lalu. Pada malam pertama pernikahanku, ada seorang pengemis yang mengetuk pintu meminta makanan. Dia membuka pintu lalu memukul dan mengusir pengemis itu. Kemudian dia kembali kepadaku dalam keadaan marah. Namun tiba-tiba dia seperti kerasukan jin atau setan, bahkan aku menyangka dia gila ketika itu. Lalu dia keluar rumah sambil mengoceh tak menentu. Dia pun pergi entah kemana. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi kecuali malam ini.”
Tak dinyana, setelah mendengar cerita Su’ad suaminya pun menangis. Su’ad dengan penuh keheranan bertanya kepadanya,
“Apa yang membuatmu menangis?”
“Tahukah kamu siapa orang yang dipukul suamimu malam itu?”
“Siapa dia?”
“Orang itu adalah aku.”
Subhanallah, Mahasuci Allah Yang Maha Perkasa dan Memberikan balasan baik kepada hamba miskin yang mendatangi sebuah rumah untuk meminta makanan, sementara lapar tengah menyerangnya hebat. Namun betapa pedih hatinya ketika tuan rumah memukul dan mengusirnya.
Sungguh Allah tidak menyukai kezaliman dan orang-orang yang berbuat zalim. Maka Dia menurunkan azab-Nya kepada orang yang berbuat jahat dan memberikan pahala kepada orang yang sabar. Dunia dua orang itu pun menjadi terbalik. Lelaki pengemis menjadi kaya karena kesabarannya, sementara lelaki zalim itu gila dan kehilangan hartanya, sehingga dia menjadi pengemis.
Mahasuci Allah lagi Maha Mulia yang telah mengaruniakan rezeki kepada seorang wanita muslimah yang bersabar selama 15 tahun berupa suami yang lebih baik dari yang sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan adapun orang yang beriman dan melakukan kebajikan, maka Dia akan memberikan pahala kepada mereka dengan sempurna. Dan Allah tidak menyukai orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 57).*/Diterjemahkan oleh Yum Roni Askosendra, dikutip dari “Qishash Mu`ts-tsirah Jiddan Jiddan Lil Fatayat, Ishom Abu Muhammad”









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar