Selasa, 08 Mei 2012

GAYA HIDUP MUSLIM





Wahai Pemimpin, Cintai Rakyatnya Bukan Jabatannya! 

BELAKANGAN ini wajah bangsa Indonesia kembali diwarnai aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM. Dalam aksi demo  yang berlangsung di berbagai kota di tanah air itu sebagian berjalan ricuh. Demonstran dan pihak keamanan terlibat saling lempar batu yang akhirnya dibalas dengan tembakan dan kejar-kejaran di antara keduanya.

Pemandangan seperti itu sebenarnya sudah biasa di Indonesia. Akan tetapi kali ini terlihat sangat istimewa karena boleh dikatakan cukup kompak dan dalam rangka satu tujuan utama, yaitu menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Sebuah aksi yang secara langsung melibatkan emosi dua unsur penting negara, yaitu rakyat dengan pejabat.

Pemerintah dengan kekuatan bersenjata nampaknya tetap tak berubah pikiran. Hal ini bisa dilihat dari kesigapan pemerintah dengan menurunkan kekuatan penuh aparat keamanan untuk mengontrol para demonstran.

Dalam logika pejabat, dalam hal ini pemerintah, menaikkan harga BBM  dipandang sebagai keputusan yang harus dilaksanakan walaupun seluruh rakyat Indonesia harus menjerit keras karena ancaman kemiskinan yang menganga di depan mata. Pemerintah seolah tak punya telinga dengan keluh kesah rakyatnya sendiri.

Sikap pemimpin (pemerintah) yang seperti ini akan menimbulkan aksi yang lebih keras lagi dari rakyat. Sebab rakyat dalam hal ini tidak diperhtiungkan dan tidak diperhatikan dengan baik. Bahkan rakyat akan merasa selalu dikorbankan untuk kepentingan-
kepentingan kekuasaan.

Siapapun yang menjadi pemimpin, jika sikap dan perilaku terhadap rakyatnya justru tidak bersahabat pasti akan menuai banyak protes bahkan kebencian. Dan, tidak satu pun pemimpin di dunia ini yang mengabaikan rakyatnya sendiri, kecuali telah kehilangan hati nurani. Padahal makna pemimpin itu sendiri sejatinya adalah pelayan bukan juragan.
Tetapi bagaimanapun harus diakui, inilah produk demokrasi. Sebuah produk pandangan hidup yang melahirkan sistem tata negara yang menegasikan ilmu dan otoritas, termasuk otoritas nabi dan tentu otoritas Tuhan atau wahyu.

Dari sinilah kita akan temui jawaban mengapa demokrasi dan para pemimpin yang dihasilkan oleh sistem ini sebagian besar buta dan tuli terhadap aspirasi dan nasib rakyatnya. Dan nampak begitu beringas manakala jabatannya terasa digoyang, serta melakukan segala cara untuk mendapatkan jabatan dan mempertahankannya selama-lamanya.

Jabatan yang benar-benar peduli yang lemah

Pandangan yang keliru terhadap jabatan, menjadikan sebagian orang saat ini sering asal pilih pemimpin. Asal bisa dikendalikan untuk memenuhi hasrat politiknya, seseorang ditunjuk sebagai ini, sebagai itu. Sebaliknya siapa yang dirasa tidak potensial secara mterial akan segera ditinggalkan.

Dalam Islam tidaklah seperti itu. Seorang pemimpin harus benar-benar selektif dalam memilih teman dekat, terkhusus kepada orang-orang yang akan diajak bekerjasama dalam mensukseskan kepemimpinannya, terutama dalam upaya mensejahterakan rakyat.

Akan fatal akibatnya jika seorang pemimpin menyerahkan jabatan kepada orang yang belum jelas kualitas imannya. Apalagi menyerahkan jabatan hanya karena hubungan kekeluargaan, kekerabatan, ataupun hal-hal yang tidak didasarkan pada ilmu dan keimanan.

Tirulah cara sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wassallam dalam memilih rekan dekat untuk mengisi jabatan umat.
Sebelum memilih siapa yang layak mengisi jabatan strategis di masa kepemimpinannya, Khalifah Umar bin Khattab melakukan penelitian (Fit and Propertes) terhadap kualitas sahabat yang akan dipilihnya. Tentu tidak seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pemimpin kontemporer yang hanya menggunakan teknik wawancara, uji kognitif dan penandatanganan surat komitmen.

Muhammad Syadid dalam bukunya, “Minhaju al-Qur’an fi al-Tarbiyah” mengisahkan cara Umar bin Khattab dalam menilai kualitas keimanan orang yang akan dipilih mendampinginya dalam memimpin umat.

Kala itu Umar bin Khattab mengujinya dengan memberikan sekantong uang dinar. Dari Sa’id bin Yarbu’ bin Malik, ia bercerita. Ketika Umar bin Khattab memegang uang sebanyak 400 dinar dalam sebuah kantong, beliau berkata kepada pelayannya; “Bawalah ini kepada Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, lalu tungguhlah beberapa saat, lihatlah apa yang diperbuatnya dengan uang ini!”

Pelayan pun berangkat. Sesampainya dikediaman Abu ‘Ubaidah, pelayan Umar berkata; “Amirul Mukminin memberi uang ini untuk kebutuhan engkau!” Abu ‘Ubaidah menjawab; “Semoga Allah merahmati beliau”.
Abu ‘Ubaidah langsung memanggil pelayan wanitanya; “Bawalah tujuh keping kepada si fulan, lima keping kepada si fulan, dan……”, hingga uang sejumlah 400 dinar itu tak bersisa. Pelayan Umar pun kembali dan melaporkan peristiwa itu kepadanya.
Kemudian dengan sejumlah uang yang sama, Umar kembali memerintahkan pelayannya untuk membawakannya kepada Muadz bin Jabal. “Berikan uang ini kepada Muadz dan tunggulah seperti yang kau lakukan kepada Abu ‘Ubaidah!”
“Semoga Allah merahmati Umar,” ucap Muadz setelah menerima sekantung uang dinar. Lantas Muadz langsung memanggil pelayannya untuk membagi-bagikan 400 dinar itu.
Muadz berkata kepada pelayannya, “Pergilah ke rumah si fulan dan berikan kepadanya sekian, kemudian ke rumah si fulan sekian, lalu ke fulan sekian……” hingga tiba-tiba datanglah istri Muadz seraya berkata, “Wallahi, kita juga orang miskin, berilah!” Maka
Mu’adz memberikan sisa uang tersebut, dan ternyata tersisa dua dinar. Mendengar laporan pelayannya terkait perihal kedua sahabatnya itu gembiralah Umar bin Khattab karenanya. Umar pun berucap, “Mereka berdua benar-benar ikhwah (teman sejati dunia – akhirat)”.
Umar sangat selektif, cermat dan super hati-hati dalam memilih orang untuk menemaninya dalam memimpin. Ia tidak mau terjebak oleh penampilan lahiriah saja.
Sebab tidak menutup kemungkinan penampilan lahiriah tidak mewakili penampilan batiniah yang sesungguhnya.
Ahmad bin Qais bercerita bahwa Umar pernah menahannya dalam jangka waktu satu tahun. Suatu saat Umar berkata, “Tahukah engkau mengapa aku menahanmu? Saya ingin mengujimu karena saya tahu secara lahiriah engkau baik. Saya ingin mengetahui, apakah batinmu pun baik, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam telah mengingatkan kita akan perihal orang munafiq yang pandai bersilat lidah. Dan ternyata engkau tidak seperti itu, engkau benar-benar teman yang baik.”
Jabatan Itu Amanah
Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan risalah Islam ini untuk meluruskan pandangan manusia terhadap segala hal. Islam memberikan petunjuk akan hakikat segala sesuatu, termasuk soal jabatan. Dalam Islam jabatan bukanlah kedudukan yang menjanjikan kebahagiaan. Apabila jabatan dipegang oleh orang yang buruk keimanannya, jelek kredibilitasnya, maka kehancuran dunia akhirat telah mengintainya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam beserta sahabatnya telah memberikan contoh praktik bagaimana semestinya umat Islam menyikapi jabatan. Sekalipun sebagai khalifah rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam tidak pernah menikmati makanan-makanan lezat, fasilitas mewah, apalagi jaminan berupa anggaran rumah tangga. Beliau sering berpuasa karena tidak ada yang bisa dimasak.

Begitu pula Abu Bakar ra. Meskipun telah diamanahi menjadi pelanjut kepemimpinan rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar tetap mencari nafkah sendiri dengan berjualan di pasar. Demikian pula halnya dengan Umar bin Khattab yang tak pernah dekat kecuali dengan anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang tertindas lagi kesusahan.

Tetapi semua itu kini tidak berlaku di negeri ini. Saat ini jabatan dikejar-kejar sampai menghalalkan segala cara. Jabatan menjadi ajang perebutan, sehingga terjadi perpecahan dan bentrokan yang tidak semestinya terjadi. Lihat saja kasus pemilukada di tanah air yang sering berujung dengan kericuhan dan kerusuhan.

Sebagai seorang Muslim kita harus kembali memandang sesuatu dengan tuntunan wahyu. jangan memandang sesuatu baik kecuali Allah dan rasul memang menilai itu baik. Demikian pula sebaliknya, jangan memandang sesuatu buruk kecuali Allah dan rasul menilainya buruk.

Oleh karena itu merupakan satu langkah yang tidak indah, tidak baik, dan tentu tidak benar, jika kita sesama Muslim harus adu otot, adu jotos untuk memperebutkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diperebutkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam melarang keras hal ini. Sebagaimana sabdanya; “Sepeninggalku nanti janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir, sehingga sebagian menghajar tengkuk sebagian yang lain.” (HR. Bukhari).

Seperti sekarang sering terjadi, terkadang tanpa sadar kita sesama Muslim saling sikut, saling jilat dan saling injak hanya untuk urusan jabatan agar bisa mendapatkan kekayaan.
Sebagian kelompok elit sengaja menggunakan masyarakat kecil untuk melakukan kerusakan demi kepentingan politisnya. Bahkan ketika rakyat menolak suatu kebijakan dan menuntut perbaikan, sebagian pejabat malah menghadapinya dengan kasar hanya karena untuk mempertahankan jabatannya. Akhrinya terjadilah pertumpahan darah di antara sesama Muslim.

Padahal rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam melarang kita yang demikian itu. Tetapi apa mau dikata, ketika wahyu sudah tinggal bacaan. Kita tidak bisa hentikan, perilaku umat atau rakyat kian jauh dari tuntunan kebenaran sebab para pemimpinnya tidak lagi mengamalkan aturan Allah SWT.

Dengan demikian, masihkah kita ingin mendapat kekayaan dengan cara merengkuh jabatan? Memimpin dengan nafsu bukan ilmu? Padahal semua itu adalah amanah yang kelak pasti akan dipertanggungjawabkan.

Rasulullah mengatakan,  "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." (HR. Imam Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan, "Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: orang yang berpuasa sampai dia berbuka; seorang penguasa yang adil; dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Tirmidzi)

Masalahnya, apakah selama menjadi pemimpin, kita semua ini adalah orang yang adil dan amanah?

Ketahuilah saatnya nanti ajal akan tiba melenyapkan segalanya. Saat di mana dosa akan diperhitungkan dan amal sholeh dilipatgandakan. Hanya pemimpin yang adil saja yang akan mendapatkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Itulah pemimpin sejati, pemimpin yang rela menderita di dunia demi rakyat dan dalam rangka menegakkan kebenaran Islam









 Jiwa Kuat dan Dinamis dengan Bersabar
ORANG  yang kuat bukanlah orang yang memiliki badan kuat, pintar bergulat dan bersilat. Tapi orang yang kuat adalah orang yang jiwanya kuat. Sebab, jiwa yang kuat itu mempu membuat cara agar hati, fikiran dan badan tahan menghadapi tekanan. Sebaliknya, dalam jiwa yang lemah terdapat sifat-sifat merusak; putus asa, malas dan negative thinking.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: ”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang menguasai jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari). Kemampuan untuk menguasai jiwa dan mengendalikannya itulah yang disebut sabar.
Sabar berasalah dari bahasa Arab shobaro – yang makna aslinya adalah menahan atau mencegah dari sesuatu. Dalam istilah ia dimaknai sebagai kemampuan jiwa untuk menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Dari definisinya tersebut saja, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sabar, bukan identik dengan kepasrahan, ketidak mampuan atau pasif merespon peristiwa tertentu. Justru, sifat sabar memberi perintah untuk berbuat aktif-positif, merubah pandangan jiwa untuk melakukan kebaikan.
Orang yang mengendalikan jiwa emosional, misalnya membutuhkan tiga anggota tubuh; kerja akal, hati dan fisik. Akal harus mengarahkan, hati harus beriman dan fisik dikendalikan oleh keduanya untuk membalik jiwa negatif menjadi aktifitas yang bermanfaat. Tentu ini bukan kerja biasa.
Kekuatan menahan diri dari musibah atau kegalauan nasib biasanya dimiliki oleh orang-orang shalih. Ketika ada musibah, hatinya langsung terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak menyorot kepada siapapun, tapi diterimanya sebagai sebuah peringatan-Nya. Karena merasa diperhatikan – dengan diberi peringatan oleh Allah itu – hatinya akan digerakkan untuk berbuat lebih baik lagi, bukan diam diri, pasrah menerima tanpa berbuat apapun. Atau tidak membalasnya dengan perbuatan buruk pula, tidak mengumpat Allah, dan jiwanya sama sekali tidak goyah untuk tetap berada di jalannya – tetap mengharap ridla-Nya (Abu Bakar al-Jazairi, Minhajul Muslim,118).
Maka dari itu, sifat sabar tidak mungkin ada kecuali dalam diri orang beriman. Orang sekuler – yang tidak menjadikan Tuhan tempat menggantungkan – pasti tidak sabar. Imam al-Ghazali mengatakan sebagai sebuah ruang di antara ruang-ruang agama yang tinggi. Tidak akan tertanam kecuali kepada orang yang mengenal Allah (al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin 4, hal. 61).
Bahkan sabar adalah bagian dari iman (syathrul iman). Berarti orang yang tidak bersabar, imannya belum sempurna. Hal itu telah disinggung oleh Allah dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu.” (QS. Ali Imran: 200). Ketika kita tidak kuat – dalam menahan dari emosi, kegalauan hidup dan musibah yang menimpa – maka kita dikategorikan orang yang lemah. Tidak saja lemah jiwa tapi juga lemah iman.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Sabar ada tiga macam. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah.
Sabar dalam ibadah merupakan sabar yang paling sulit. Dari kesabaran menjelang ibadah sampai usai menunaikan ibadah. Menjelang ibadah, sabar berkait dengan niat. Ketika sedang beribadah kita diuji kesabaran agar selalu ingat kepada-Nya tidak kepada lainnya. Dan usai beribadah tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
Perjuangan seperti itu digambarkan oleh Imam al-Ghazali. Bahwa menjelang sampai usai ibadah, jiwa kita terus-menerus diserang oleh penyakit yang bernama riya’. Jika tauhid kita lemah, maka jiwa kita pun pasti lemah, menyerah oleh serangan riya’ (al-Ghazali, Muhkhtashar Ihya’ Ulumuddini). Dalam beribadah, seseorang kebanyakan ingin menjadi riya’. Jika kita bersabar dengan ini, maka pertahanan iman kita jebol. Ibadahpun sia-sia. Sebab ibadahnya tidak dipersembahkan kepada Allah lagi tapi kepada yang lainnya.
Yang paling berat justru ketika usai beribadah. Serangan riya’ lebih dahsyat. Terkadang kita ikhlas selama ibadah tapi jatuh ketika ibadah telah kita tuniakan bebarapa waktu yang lalu. Maka, bersabar dalam konteks ini adalah menahan diri untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
Ada korelasi antar tauhid dan kekuatan jiwa. Orang bertauhid adalah yang segalanya bersandar kepada Allah dalam memandang realitas. Lawannya adalah madiyah (materialis/sekular). Kata al-Ghazali, orang yang menyandarkan kepada materi (I’timad ‘ala jamadat), pasti akan jatuh kejiwaanya. Karena materi tidak memiliki kuasa apa-apa. Sebaliknya, orang yang bertauhid tidak mudah goyah, sebab yang menjadi sandaran adalah Sang Maha Segalanya.
Sabar dari maksiat, yaitu menahat jiwa dan hati untuk tidak ghibah, dusta, dan perbuatan-perbuatan haram lainnya.
Sedang sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang dalam sebuah hadits diriwayatkan :Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah, ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama” (HR. Bukhari Muslim).
Lantas, bagaiman agar kita memiliki sifat sabar. Menurut Imam al-Ghazali untuk mencapai kesabaran yang tinggi memerlukan riyadhah (latihan). Paling penting dan utama dapat dilakukan dengan merenungkan kempali hakikat hidup di dunia dan akan kemana setelah hidup ini. Memikirkan nasib diri untuk tujuan hidup itu. Nafsu perlu bermujahadah, dimulai dari hal-hal ringan. Misalnya belajar menahan diri untuk menuruti keinginan memakan makanan mahal yang lezat, membeli pakaian mahal, dan hancurkan nafsu dari kemalasan. Jika sedang malas, maka bangkit, ambil wudhu, shalat dua rakaat dan mulailah aktifitas.
Maka ketidak sabaran harus diantasipasi sejak dini. Ingat, orang bersabar tidak akan ditinggalkan Allah. “Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Anfal:46). Oleh sebab itu, hidupnya lebih tenang, dinamis positif, dan segala realitas selalu dipandang dengan kacamata iman.








 Wanita-Wanita Terhormat Pilihan Islam [1]

"Aku tidak suka dengan apa apa yang dipasangkan kepada wanita ketika wafat, dipasangkan kepada wanita sebuah kain, lantas membentuk lekuk tubuhnya," ujar Fatimah Binti Rasulullah kepada Asma binti 'Umais (Imam Dzahabi, Siyar a'lam an-nubalaa, Beirut: Muassasatu ar-risalah, jilid : 2 hal : 129)
Itulah sekelumit cerita tentang perempuan terhormat yang merupakan anak dari manusia terbaik yaitu Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam.  Pemalu, itulah fitrah seorang wanita dari masa ke masa, dari Barat ke Timur, tua dan muda, Arab dan non Arab.
Perkataan Fatimah yang tidak senang kalau lekuk tubuhnya dilihat walaupun ketika wafat di atas sebagai saksi dan juga perkataan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu Abi Sa'id al-Khudri radiyallah 'anhu:
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang lebih pemalu dari gadis perawan di kamarnya," (HR. Al-Bukhari no 6119).
Sahabat menyandingkan malu Rasullullah dengan malunya "gadis perawan" karena gadis perawan merupakan makhluk paling pemalu saat itu. Dia malu untuk keluar, malu untuk menampakkan diri, malu berbicara dengan lawan jenis dan lainnya yang merupakan sifat wanita anggun nan terhormat.
Dengan kenyataan di atas maka tidaklah heran jika lahir nama-nama besar layaknya Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, meminjam istilah, "Di balik pria hebat terdapat wanita hebat."
Lihatlah bagaimana hebatnya perkataan seorang ibu yang diberi gelar "Ummu Syuhada" (ibunya para syuhada) kepada anak –anaknya sebelum berperang:
"Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang–orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri akhirat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana. Allah 'azza wa jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai orang – orang yang beriman,bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu berntung." (QS. Ali Imran : 200)
Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari ilahi.”
Itulah wasiat sahabat Rasul bernama  Khansa radiyallahu 'anha kepada keempat putranya sebelum perang al-qadisiyah yang terjadi di zaman Umar bin Khatab, dan keempat anaknya pun menjadi syuhada dalam peperangan. (lihat: Mahmud Mahdi dan Musthofa Abu an-Nasr, Nisa Haula ar-Rasul shalla 'llahu 'alaihi wa sallam, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, hal: 257 – 259)
Ini dari kalangan sahabat, ibunda para ulama pun tak jauh berbeda, Sebut saja ibunda Imam Syafi'i, sebagaimana penuturan Imam Nawawi: "Ibu Imam Syafii  merupakan seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan istinbath."
Dan ibunda Imam Syafi'i pula-lah yang mengirim sang imam untuk belajar kepada seorang guru di Makkah.
Tak ubahnya Imam Syafi’I, ibunda Imam Ahmad bin Hanbal merupakan wanita yang mulia. Bagaimana tidak? Imam Ahmad terlahir sebagai seorang yatim, namun ia berhasil mengahafal sejuta hadist, soal keluasan ilmu jangan ditanya. Dan itu tidak lepas dari peran ibunya  yang mendidik  seorang diri tanpa ditemani sang suami.
Tak berbeda dengan dua seniornya imam bukhori juga terlahir sebagai yatim, namun tak menghalanginya menggapai prestasi yang  luar biasa , bahkan karangan beliau yang kini dikenal sebagai sohih bukhari merupakan kitab yang paling benar setelah Al-Quran.
Tak ayal gelar "Tiang Negara" pun disematkan oleh para "rosikhuna" (ulama) kepada para wanita, "Al-maratu 'imadu al-bilad" (perempuan merupakan tiang negara), tegas para ulama. Bukannya tanpa alasan, seorang ulama, presiden, panglima, advokat, para birokrat dan sebagainya lahir dari didikan- didikan makhluk indah ciptaan tuhan  yang bernama "wanita".
Hanya saja, kemuliaan wanita yang telah digariskan dengan indah oleh Islam dan para ulama itu dirusak dengan hadirnya paham-paham asing dari Barat. Wacana – wacana seperti kesetaraan gender, tafsir feminisme yang kini tengah mencuat merupakan agenda untuk menjauhkan wanita dari nilai – nilai Islam Islam itu sendiri, yang tentunya juga kehancuran suatu bangsa.
Diskursus – diskursus di atas semakin menggema dikarenakan maraknya penindasan terhadap kaum hawa yang kerap dilakukan oleh lelaki, begitu alasan mereka.
Bahkan Islam, kerap dituduh sebagai biang kemunduran wanita karena ajarannya dinilai melarang wanita untuk belajar dan memperoleh pendidikan. Padahal jika ada penindasan, atau diskriminasi yang dilakukan oleh pria Muslim itu sejatinya terjadi akan kebodohannya akan ajaran Islam, bukan karena Islam yang menghendaki seperti itu. Andai para penganut gender dan feminisme paham bagaimana Islam memuliakan wanita, sungguh ajaran dan dogma-dogma kesetaraan itu tak ada nilainya apa-apa dibanding Islam.
Maka kaum Muslim, selayaknya kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya dan mencontoh pemahaman Nabi, para sahabat dan para tabi'in tentang bagaimana kehidupan mereka memulikan wanita.
Nasib Wanita Sebelum Islam
Kalau mau menilik kebelakang yaitu ke masa masa awal Yunani,  wanita dalam perspektif mereka adalah penyebab datangnya penyakit,musibah, bahkan para pria Yunani tidak mau makan bersama wanita dalam sebuah hidangan.. (lihat: Mahmud Mahdi Istanbuli dan Mustofa Abu Annsr, “Nisa Haula ar-Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beirut: Dar Ibnu Katsir, hal : 17)
Sedangkan dalam perspektif Nasrani, wanita adalah sebuah keburukan, pembawa sial, dan sebuah kehinaan, maka seorang yang suci layaknya pendeta tidak diperkenankan untuk menikah karena dengan berhubungan dengan wanita merusak kesucian tersebut.
Nasib Wanita di zaman Arab jahiliyah lebih parah, wanita tidak diberi hak – hak waris, ketika bayi wanita lahir maka itu adalah sebuah aib maka tak ayal bayi tersebut di bunuh.
Bandingkanlah ketika Islam datang. Islam justru hadir untuk mengangkat derajat wanita dan menegakkan "keadilan " sesuai konsep sang "Maha Adil" yaitu allah azza wa jalla, melalui al-Quran dan Sunnah Nabinya.
"Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku," (dari Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari – jari jemari beliau saat mengatakan itu). [HR. Muslim no 2631].
Tentu ini berbeda dengan keadaan jahiliyah yang merendahkan anak perempuan.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar