Senin, 28 Mei 2012

KAJIAN

TANPA DOA BAGAI TENTARA TANPA SENJATA


Berbeda dengan makhluk-Nya, Allah mencintai orang-orang yang rajin memohon kepada-Nya. Karena hal itu menunjukkan bahwa manusia merasa fakir (butuh) kepada Allah. Dan Allah justru membenci orang-orang yang angkuh dan enggan berdoa kepada-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka Allah murka kepadanya” (HR Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Realitanya, ada orang-orang yang merasa dirinya cukup, merasa bisa mendapatkan keinginannya tanpa pertolongan Rabbnya, lalu meninggalkan doa. Sudah barang tentu ia akan mengenyam kesulitan demi kesulitan dalam menjalani hidup, di dunia apalagi di akhirat. Allah berfirman,
“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,  serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. “ (QS al-Lail 8 – 10)

Tanpa Doa, Seperti Tentara tanpa Senjata

Di antara kaum muslimin, ada lagi yang meninggalkan doa karena merasa tak mampu memenuhi persyaratannya. Seperti orang  yang berkata, “Saya biasa makan dari rejeki yang tak jelas halal haramnya, sedangkan orang yang mengkonsumsi barang yang haram tidak dikabulkan do’anya, maka percuma saja kalau saya berdoa.” Laa haula wa laa quwwata illa billah. Adakah sesuatu yang bisa diandalkan seorang muslim melebihi ‘senjata’ doa? Hingga ada yang rela mencampakkan doa agar bebas makan apa saja?
Seseorang yang mengerti  urgensi doa, tentu lebih memilih untuk memenuhi syarat terkabulnya doa, katimbang ia harus bertelanjang dari doa. Karena meninggalkan hal yang haram itu lebih mudah dijalani daripada hidup tanpa menyandang senjata doa. Tanpa doa, keadaan seseorang lebih berat dari tentara yang tidak memiliki senjata, petani yang tidak memiliki cangkul, orang sakit yang tak mendapatkan obat, atau seseorang yang ingin membeli barang tanpa memiliki uang.
Hanya mengandalkan kecerdasan pikir, kekuatan fisik maupun alat canggih, jelas tidak memadai bagi manusia untuk bisa meraih tujuan bahagia yang sempurna, atau mencegah datangnya marabahaya. Alangkah kecil modal dan kekuatan, sementara begitu besar cita-cita yang diharapkan, dahsyat pula potensi bahaya yang mungkin datang di hadapan. Untuk itu, manusia membutuhkan ‘kekuatan lain’ di luar dirinya untuk merealisasikan dua tujuan itu. Dan barangsiapa yang menjadikan doa sebagai sarana, niscaya dia akan menjadi orang yang paling kuat, paling sukses dan paling beruntung. Karena doa mengundang datangnya pertolongan Allah Yang Maha Berkehendak, Mahakuasa, Mahakuat dan mampu melakukan apapun yang dikehendaki-Nya, Fa’aalul limaa yuriid. Karena itulah, Ibnul Qayyim dalam al-Jawaabul Kaafi berkata, “Doa adalah sebab yang paling kuat untuk mencegah dari perkara yang dibenci dan menghasilkan sesuatu yang dicari.”

Khasiat Doa Sepanjang Masa

Allah telah banyak mengisahkan dahsyatnya doa, yang menjadi solusi problem-problem besar dan menjadi sebab yang menyelamatkan dalam banyak peristiwa genting dari zaman ke zaman. Dan meski dengan variasi dan kadar yang berbeda, sebenarnya problem-problem yang di hadapi manusia dari zaman ke zaman memiliki karakter yang nyaris sama.
Jika di zaman ini banyak orang yang galau, atau berduka lantaran kesulitan yang menghimpitnya, maka dahulu Nabi Yunus ‘alaihissalam pernah mengalami hal yang sama dan bahkan lebih berat. Toh, kegalauan itu akhirnya sirna dengan doa beliau, “laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin,” Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan.” (QS al-Anbiya’ 88)
Maka adakah orang yang sedang menyandang kesulitan hari ini mengingat dan berdoa sebagaimana doa beliau?
Jika sekarang banyak orang menderita sakit yang tak kunjung sembuh, dan tak jarang kesulitan untuk menemukan sebab dan obatnya, hal yang sama pernah menimpa Nabi Ayyuub ‘alaihissalam. Dan pada akhirnya penyakit beliau sembuh dengan doa, “Rabbi inni massaniyadh dhurru wa Anta Arhamur Raahimiin”,
Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya.” (QS al-Anbiya’ 84)
Jika sekarang banyak orang mengalami rasa takut akan datangnya bencana, atau khawatir dengan bahaya yang mengancam, solusi dari semua itu juga telah ditempuh oleh Nabi yang mulia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam, yakni dengan doa, “hasbunallahu wa ni’mal Wakiil”, maka Allah menghindarkan mereka dari bahaya, sebagaimana firman-Nya,
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa,” (QS Ali Imran 174)
Begitulah doa, mampu menjadi solusi saat manusia angkat tangan untuk memberi solusi. Doa juga efektif menjadi jalan keluar ketika segala cara menemui jalan buntu. Doa juga mampu mencegah bahaya, yang dosisnya tidak mampu dibendung oleh kekuatan manusia.
Semestinya doa bukan menjadi alternatif  terakhir, atau ia baru diingat setelah ikhtiyar tak menghasilkan jalan keluar. Mestinya doa tetap mengiringi sebelum, di saat dan setelah ikhtiyar ragawi dilakukan.
Faktanya, masih jamak terjadi di kalangan kaum muslimin. Mereka begitu getol dan rajin berdoa saat menghadapi situasi khusus. Saat anak mencari sekolah, ketika sedang mencari lowongan kerja, tatkala ada keluarga yang sakit, atau ketika ada tanda-tanda bencana akan terjadi. Selebihnya, tak ada doa dipanjatkan, tak tersirat dalam pikirannya bahwa Allahlah yang kuasa segalanya, untuk memberi atau menahan sesuatu yang diharapkan. Manusia tidak lepas sedikitpun dari pertolongan Allah untuk meraih kesuksesan. Sehingga ia perlu berdoa kepada Allah untuk kebaikan seluruh urusannya, bukan hanya mengandalkan kehebatan dirinya yang hakikatnya sangat lemah tanpa pertolongan Allah. Karenanya, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah,
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah, rahmat-Mu aku harap, dan janganlah Engkau serahkan (nasib) diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, perbaguslah untukku segala urusanku, tidak ada ilah yang haq kecuali Engkau.” (HR Abu Dawud)

Doa Harian, Menjawab Segala Kebutuhan

Adalah baik jika seseorang membiasakan doa-doa harian yang bersifat ta’abbudiyah maupun adab. Seperti doa sebelum dan sesudah makan, hendak tidur dan setelah bangun, masuk masjid atau keluar, maupun doa-doa lain yang disyariatkan. Ketika ia menjalaninya dalam rangka menjalani sunnah, ia mendapatkan pahala. Inilah fungsi doa yang disebut dengan du’a al-‘ibaadah (doa sebagai realisasi ibadah). Namun ada fungsi lain dari doa, yang disebut dengan du’a al-mas’alah (doa sebagai permohonan).  Ketika doa dilantunkan tanpa adanya kesadaran bahwa dirinya sedang memohon kepada Allah, maka maksud yang dikehendaki dari makna doa tidak akan terwujud. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan alpa.“ (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan, “hasan”).
Andaikan seorang muslim membiasakan diri dengan doa-doa harian yang disyariatkan, sekaligus diiringi dengan kesengajaan dan pengharapan sebagaimana makna yang terkandung dalam doa, niscaya tercoverlah kebutuhan-kebutuhannya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Karena doa-doa yang Nabi ajarkan dari bangun tidur hingga bangun tidur kembali sudah mencakup segala hal yang dibutuhkan manusia, baik kemaslahatan diiniyyah maupun dunyawiyyah. Permohonan sehat dan dijaga dari penyakit, kemudahan segala urusan, permohonan rezeki, perlindungan dari segala gangguan setan dan keburukan, maupun permohonan jannah dan terhindar dari neraka.
Generasi terbaik di kalangan sahabat, berusaha menghadirkan pengharapan saat berdoa dengan suatu doa yang menjadi rutinitas harian. Ibnu Katsier dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abi Hatim, bahwa ‘Irak bin Malik, selepas shalat Jumat beliau berdiri di pintu masjid beliau berdoa dengan doa keluar masjid lalu berkata, “Ya Allah, saya telah memenuhi panggilan-Mu, lalu shalat dengan shalat yang Engkau fardhukan atasku, akupun hendak bertebaran di muka sebagaimana yang Engkau perintahkan, maka berilah rezki kepadaku dari karuia-Mu, karena Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rezki.”
Perlu kiranya digarisbawahi, bahwa doa dengan segala kelebihan dan faedahnya, tidak menafikan atau menghapus keharusan untuk ikhtiyar. Masing-masing memiliki kadar tersendiri sebagai sebab terkabulnya doa, di samping juga memiliki nilai ibadah tersendiri Wallahu a’lam.




 KEHIDUPAN ALAM BARZAKH

(86) Kubur adalah salah satu taman surga atau salah satu jurang neraka.
Imam at-Tirmidzi dan ath-Thabarani meriwayatkan hadits dengan matan yang berbunyi nyaris sama dengan bunyi matan di atas. Hanya, keduanya adalah hadits dha’if. Meskipun diriwayatkan dari dua jalur yang berbeda, keduanya tidak bisa saling menguatkan. Demikian dinyatakan oleh para pakar hadits. Oleh karena itulah makna matan di atas dipahami dengan: di alam kubur orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan nikmat kubur, sedangkan para pelaku maksiat dan orang-orang kafir akan mendapatkan siksa kubur.

Nikmat Kubur

Dari hadits-hadits yang shahih didapat keterangan bahwa orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan nikmat kubur berupa diberi pembaringan dari surga, pakaian dari surga, wewangian dari surga, dibukakan baginya pintu surga sehingga ia dapat memandang tempatnya di surga kelak, kuburnya dilapangkan sejauh 70 hasta dan penuh nuansa hijau, dan ruhnya mendapatkan tempat yang mulia di surga sampai hari kiamat.
Allah membedakan tempat ruh orang-orang yang bertakwa ini sebagai berikut:
•       Ruh para nabi menempati posisi tertinggi; yakni di ‘Illiyyin tertinggi di rafiq a’la. ‘Aisyah ra telah mendengar di penghujung usianya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memohon, “Ya Allah, (aku meminta) rafiq a’la.” (HR. al-Bukhari)
•       Ruh para syuhada` berada dalam rongga burung hijau yang memiliki lentera yang tergantung pada ‘Arasy; ia menikmati surga sekehendaknya kemudian singgah pada lentera itu. Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.
•       Ruh orang-orang beriman yang shalih. Ruh mereka akan menjelma sebagai burung-burung yang bertengger di pepohonan surga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Hanyasanya ruh seorang muslim akan menjelma sebagai burung yang bertengger di pepohonan surga sehingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari Kiamat. (Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani)
Perbedaan antara ruh orang-orang yang beriman dengan ruh para syuhada, ruh para syuhada berada dalam tembolok burung-burung hijau yang menikmati taman surga dengan berpindah-pindah dan akhirnya singgah pada lentera yang tergantung pada ‘Arasy; sedangkan ruh orang-orang yang beriman berada dalam rongga burung-burung yang menikmati buah-buahan surga namun ia tidak berpindah-pindah ke berbagai bagiannya.

Azab Kubur

Azab yang ditimpakan kepada orang-orang beriman yang bermaksiat berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang dimaafkan oleh Allah sehingga tidak diazab di kuburnya, ada yang dosa-dosanya kecil sehingga diazab sesuai dengan kadar dosanya lalu azab diangkat darinya, ada yang azabnya dihentikan atau diangkat karena doa, sedekah, istighfar, pahala haji, atau amal kebaikan lain yang diberikan oleh orang lain kepadanya, ada yang dosa-dosanya besar sehingga azab berkelanjutan sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw, “Ketika seseorang memanjangkan sarungnya dengan sombong, ia ditelan bumi, dan ia pun meronta-ronta di dalam bumi sampai hari Kiamat.” (HR. al-Bukhari)
Sedangkan orang kafir dan munafik, azabnya berkelanjutan sampai hari Kiamat tidak berhenti. Dalilnya adalah firman Allah, “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!’.” (Al-Mukmin: 46)
Dan dalam hadits Bara` bin ‘Azib—disebut al-Haytsami dalam Majma’uz Zawaid dengan para perawi terpercaya—tentang orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu ke neraka sehingga ia melihat tempat duduknya di dalamnya sampai hari Kiamat.”
Sedangkan mengenai firman Allah, “Duhai, celaka kita! Siapa yang membangkitkan kita dari tempat tidur kita?” (Yasin: 52) para ulama berkata, “Orang-orang kafir itu apabila melihat Jahanam dan berbagai siksaannya, azab kubur (yang telah dirasakannya) bagaikan (mimpi dalam) tidur.”
Tentang ayat ini Syaikh asy-Syanqithi berkata, “Setelah diteliti, ini adalah ucapan orang-orang kafir ketika dibangkitkan. Ayat ini—tanpa keraguan di dalamnya—menerangkan bahwa mereka tidur sejenak sebelum dibangkitkan, sebagaimana dikatakan oleh tidak hanya seorang ulama. Ketika mereka dibangkitkan sebagai orang-orang yang hidup setelah tidur yang merupakan tidur kematian, orang-orang yang diberi ilmu dan iman berkata, ‘Inilah yang dijanjikan oleh ar-Rahman dan benarlah para utusan itu.’ Maknanya, ini adalah kebangkitan setelah kematian.”
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Jeda antara dua tiupan adalah 40.” Mereka bertanya, “Wahai Abu Hurairah, 40 harikah?” Abu Hurairah menjawab, “Saya tidak perduli.” Mereka bertanya, “40 tahunkah?” Abu Hurairah menjawab, “Saya tidak perduli.” Mereka bertanya, “40 bulankah?” Abu Hurairah menjawab, “Saya tidak perduli. Semua bagian manusia hancur-lebur kecuali tulang ekornya. Dari itulah penciptaan akan disusun (lagi).” (HR. Muslim)

Sebab-sebab Azab Kubur

Para ahli maksiat dan orang-orang kafir diazab kubur lantaran kejahilan mereka kepada Allah, kelalaian mereka terhadap perintah-Nya dan kemaksiatan yang mereka lakukan. Allah tidak akan mengazab ruh yang bermakrifah kepada-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah pun tidak akan mengazab tubuh yang memiliki ruh seperti itu selamanya. Azab kubur dan azab akhirat adalah dampak dari kemarahan dan kemurkaan Allah kepada hamba-Nya. Barangsiapa yang membuat Allah marah dan murka di dunia ini, lalu tidak bertaubat dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, ia akan mendapatkan azab barzakh sekedar dengan murka dan marah Allah kepadanya. Ada yang sedikit, ada pula yang banyak; ada yang membenarkan, ada pula yang mendustakan. Ini penjelasan global.
Sedangkan penjelasan rincinya, Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sudah mengabarkan bahwa ada dua orang yang beliau lihat sedang diazab di kubur masing-masing. Yang satu karena suka mengadu domba sedangkan yang lain karena tidak bersuci setelah buang air kecil. Azab kubur ditimpakan atas dosa hati, mata, telinga, mulut, lidah, perut, kemaluan, tangan, kaki, dan seluruh badan.
Pengadu domba, pendusta, penggunjing, pemberi sumpah palsu, penuduh orang baik-baik sebagai pezina, penyeru kepada bid’ah, pendusta atas nama Allah dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tanpa ilmu, pembicara serampangan, pemakan riba, pemakan harta anak yatim secara zalim, pemakan uang suap, pemakan harta saudara muslim tanpa alasan yang dibenarkan, pemakan harta orang kafir yang terikat perjanjian aman, peminum minuman yang memabukkan, pemakai opium (narkoba), pezina, pelaku homoseksual, pencuri, pengkhianat, penipu, pembuat makar, pengambil riba, pemberi riba, penulis riba, dua saksi untuk transaksi riba, orang yang menikah dengan niatan agar istrinya dapat dinikahi bekas suaminya, orang yang menyuruh orang lain menikahi bekas istrinya agar ia dapat menikah lagi dengannya, orang yang berkilah agar dapat meninggalkan kewajiban dan melanggar yang diharamkan Allah, orang yang menyakiti sesama muslim, orang yang mencari-cari aib sesama muslim, hakim yang memutuskan dengan selain yang diturunkan Allah, orang yang memberi fatwa dengan apa yang disyariatkan Allah, orang yang menolong orang lain berbuat dosa dan permusuhan, orang yang membunuh jiwa yang diharamkan Allah, orang yang menihilkan suatu kehormatan Allah, orang yang menegasikan hakikat nama dan sifat Allah, orang yang mendahulukan pikiran, perasaan, siasatnya daripada sunnah Rasululla shalallahu ‘alaihi wasalam, orang yang meratap dan rela mendengar ratapan, orang-orang yang menyanyikan lagu-lagu yang diharamkan Allah dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam serta orang yang mendengarnya, orang-orang yang membangun masjid di atas kuburan, orang-orang yang menyalakan lampu dan pelita di atas kuburan, orang-orang yang mengurangi timbangan saat melayani dan meminta dilebihi saat dilayani, orang-orang yang bengis, orang-orang yang sombong, orang-orang yang riya`, orang-orang yang suka mencaci-maki, orang-orang yang suka mencela, para pencela kaum Salaf, orang-orang yang mendatangi dukun, ahli nujum, dan peramal untuk ditanyai dan dipercaya, para penolong orang-orang zalim yang menukar akhiratnya dengan dunia, orang yang bangga dengan kemaksiatannya dan terang-terangan melakukannya di depan kawan-kawan dan sejawatnya, orang yang tidak dapat dipercaya dalam urusan harta dan kehormatan, orang yang lisannya kasar dan kotor sehingga semua orang meninggalkannya karena khawatir tak luput dari “bisa”nya, dan orang yang menunda-nunda shalat sampai akhir waktunya yang kemudian mengerjakannya secepat kilat dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja. Demikianlah sebagian mereka yang akan mendapatkan siksa kubur sebagaimana disebut oleh Ibnul Qayyim dalam kitab ar-Ruh.





HARI KEBANGKITAN


(87) Kami beriman kepada kebangkitan, balasan amal pada hari Kiamat, ‘aradh, hisab, pembacaan catatan amal, pahala, hukuman, shirath, dan mizan.
Setelah bumi luluh-lantak oleh kehendak Allah pada hari Kiamat dan semua manusia dan jin tak ada yang tersisa, bahkan semua makhluk ciptaan Allah binasa, tinggallah malaikat peniup sangkakala yang masih hidup. Maka, Allah mewafatkan malaikat peniup sangkakala itu, lalu Allah menghidupkannya setelah masa berlalu sekian lama sedangkan tidak ada satu makhluk hidup pun yang hidup. Kemudian Allah memerintahkannya untuk meniup sangkakala sekali lagi dan semua manusia dan jin, dari yang pertama sampai yang terakhir, hidup lagi. Allah berfirman,
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang dilangit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan masing-masing).” (Az-Zumar: 68)
Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Waktu di antara dua tiupan sangkakala adalah empat puluh.” Mereka yang hadir bertanya, “Wahai Abu Hurairah, empat puluh hari?” Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.”  Mereka bertanya lagi, “Empat puluh bulan?”  Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh tahun?” Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.” Lantas Abu Hurairah melanjutkan periwayatannya, “Kemudian Allah menurunkan air dari langit sehingga manusia  tumbuh seperti tumbuhnya sayuran.” Rasul melanjutkan,  “Seluruh bagian tubuh manusia telah hancur kecuali satu tulang saja, yaitu tulang ekor dan darinya akan di mulai penciptaan pada hari Kiamat”. (HR. Muslim)

Kebangkitan

Peristiwa kebangkitan semua makhluk pada hari Kiamat tidak diyakini oleh umat manusia dari dulu sampai sekarang. Hal itu sudah dikabarkan oleh Allah dalam banyak ayat dan ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dalam banyak hadits. Di antaranya adalah:
“Dan mereka selalu mengatakan, ‘Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah/tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? Apakah bapak-bapak kami terdahulu (akan dibangkitkan pula)?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan kemudian benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang telah dikenal.’.” (Al-Waqi’ah: 47-50)
Ketika dibangkitkan kelak, semua manusia berada dalam keadaan tak berpakaian tak beralas kaki. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang  dan tidak berkhitan.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasululllah, laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain?!” Beliau menjawab, “Urusan pada hari itu lebih besar daripada hal itu sehingga mereka tidak akan memperhatikannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pembalasan Amal

Semua amal yang pernah dikerjakan oleh manusia, yang baik maupun yang buruk, yang kecil maupun yang besar, semua akan dibalas oleh Allah. Tidak ada yang dilewatkan. Allah telah menjanjikan hal itu.
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.(Al-Zalzalah: 7-8)
Yang perlu dipahami terkait dengan janji Allah ini, ada amal-amal shalih yang dapat menghapus dosa dan kesalahan sebagaimana ada dosa-dosa yang dapat menghapus amal kebajikan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dalam keadaan apa pun! Kerjakanlah kebaikan setelah kamu melakukan keburukan, semoga kebaikan itu menghapus keburukan! Bergaullah dengan orang lain secara baik!” (HR. at-Tirmidzi)
Allah berfirman, “Jika engkau berbuat syirik (besar), niscaya semua amalmu akan terhapus,dan engkau menjadi golongan orang yang merugi.” (Az-Zumar: 56)
Besar-kecilnya nilai suatu amal telah dinyatakan oleh Allah. Begitu pun dengan pengaruh-pengaruhnya. Kitalah yang mesti melacak dan memenuhinya dari Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya.
Satu hal yang pasti, Allah Mahaadil dan Maha Pemurah. Jika Dia menghukum, pastilah dengan keadilan-Nya. Tak ada seorang pun yang dizalimi-Nya. Jika Dia memberi balasan yang baik atau ampunan, sungguh itu dengan rahmat dan anugerah-Nya.

Penghitungan Amal

Sebenarnya, memberikan balasan atas apa yang dilakukan oleh manusia selama hidup di dunia tanpa melakukan penghitungan amal pun mudah bagi Allah. Allah Maha Mengetahui semua perkara, baik secara global maupun detail. Hanya—kiranya demikianlah salah satu hikmahnya—untuk menunjukkan kesempurnaan apa yang dilakukan oleh Allah dan keadilan-Nya, Allah akan menghitung berbagai amal manusia. Amal baik dan amal buruk, semuanya.
Penghitungan amal atau hisab ini ada yang ringan dan ada yang berat, di samping ada orang-orang beriman yang masuk surga tanpa hisab. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
“Tidak seorang pun dihisab pada hari kiamat kecuali celaka.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah berfirman, ‘Adapun siapa yang diberi kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan ringan?’ Rasulullah saw menjawab, “Hanyasanya itu adalah ‘aradh (memperlihatkan amal). Tidak seorang pun menghadapi hisab pada hari kiamat kecuali ia akan diazab.” (HR. al-Bukhari)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat oleh Allah. Aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang, seorang Nabi bersama seorang dan dua orang dan seorang Nabi sendiri, tidak seorang pun menyertainya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekelompok orang yang sangat banyak. Kukira mereka itu umatku, tetapi disampaikan kepadaku, ‘Itu adalah Musa dan kaumnya.’ Lalu tiba-tiba kulihat lagi sejumlah besar orang, dan disampaikan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang, mereka akan masuk surga tanpa hisab dan azab.’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hisab akan dilakukan sendiri oleh Allah sebagaimana dinyatakan oleh Rasululla shalallahu ‘alaihi wasalam.
“Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali akan diajak bicara Rabb-nya tanpa ada penterjemah antara dia dengan Rabb-nya. Lalu ia melihat ke sebelah kanan, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya; dan ia melihat kekiri, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya. Lalu melihat ke depan, kemudian hanya melihat neraka ada di hadapannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dus, umat Islam akan terbagi menjadi tiga. Masuk surga tanpa hisab, masuk surga dengan hisab yang ringan atau ‘aradh, dan masuk surga setelah dihisab yang berarti masuk neraka terlebih dahulu. Semoga kita termasuk golongan yang pertama atau kedua.

Catatan Amal

Setelah menjalani hisab, kepada setiap orang akan diberikan kitab yang bertuliskan catatan amalnya sewaktu di dunia. Allah berfirman,
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya?’ Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun.” (al Kahfi: 49)
“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (al-Mujadalah: 6)
Pada saat catatan amal diperlihatkan, mulut manusia dikunci sehingga ia tak dapat mengingkarinya. Bahkan anggota badannya menjadi saksi atas apa yang tercatat itu.

Mizan

Tak hanya dihisab dan diberi catatan amal. Manusia dan amalnya pun akan ditimbang; manakah yang lebih berat: amal kebaikannya ataukah amal buruk dan dosa-dosanya. Allah berfirman,
“Kami akan memasang mizan (timbangan) yang tepat pada hari kiamat. Maka, tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.” (Al-Anbiya`: 47)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Ada dua kalimat yang dicintai Allah yang Maha Penyayang, ringan diucapkan, berat di mizan (timbangan). Yaitu, ‘Mahasuci Allah dan dengan memujiNya’ dan ‘Mahasuci Allah yang Mahaagung.’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Shirath

Setelah menjalani semua prosesi menuju pembalasan amal yang sejati, manusia akan digiring menuju sebuah tempat di mana selanjutnya mereka harus melewati Shirath menuju jannah. Shirath adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam. Rasulullah saw adalah orang pertama yang melewatinya, sebagaimana dikabarkan oleh Imam al-Bukhari.
Tentang keadaan manusia saat melewati shirath, Rasulullah saw bersabda, “Orang beriman melewati shirath dengan keadaan: ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara. Maka ada yang selamat setelah tertatih-tatih dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Mereka yang paling terakhir merangkak secara perlahan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa keadaan manusia saat melintas di atas shirath sama persis dengan perjalanan hidupnya di dunia.
Semoga kita semua mendapatkan husnul khatimah.






SURGA DAN NERAKA ABADI SELAMANYA



(88) Surga dan neraka telah diciptakan. Keduanya tidak akan musnah dan tidak akan binasa selamanya.
Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa surga dan neraka adalah ciptaan Allah. Allah menciptakan surga sebagai balasan yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya dan taat kepada-Nya. Surga adalah tempat yang penuh kesenangan dan kenikmatan yang semuanya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum terlintas dalam pikiran seorang manusia mana pun juga. Kesenangan dan kenikmatan itu jauh lebih besar dan lebih dahsyat daripada yang pernah diperoleh oleh seorang hamba di dunia. Rasulullah saw mengabarkan, “Tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. al-Bukhari)
Allah menciptakan neraka sebagai balasan dan tempat hukuman orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya dan menentang hukum-hukum-Nya. Neraka adalah tempat siksaan yang paling hina. Tidak ada tempat yang lebih buruk dari neraka.
“Sesungguhnya neraka itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat  kediaman.” (Al-Furqan: 66)

Bid’ah Mu’tazilah—Qadariyah

Mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah, Abu Ja’far ath-Thahawi menyatakan bahwa surga dan neraka telah diciptakan oleh Allah. Hal ini diperjelas oleh Ibnu Abul ‘Izz dalam syarah belliau terhadap matan ke-88 di atas. Ibnu Abul ‘Izz mengutip adanya ijmak Ahlussunnah terkait dengan bahwa surga dan neraka telah diciptakan oleh Allah. Beliau juga menyebut bahwa firqah yang menyelisihi Ahlussunnah dalam hal ini adalah Mu’tazilah dan Qadariyah. Mereka berkeyakinan, keduanya belum diciptakan dan belum ada. Mereka menyataan, jika keduanya sudah diciptakan hari ini, sedangkan belum lagi ada penghuninya, berarti Allah menciptakan sesuatu yang sia-sia.
Bid’ah dalam akidah mereka ini bertentangan dengan nash-nash syar’i yang secara tegas menerangkan bahwa keduanya telah diciptakan. Di antara nash-nash itu adalah:
“Bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran: 133)
“Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Hadid: 21)
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga al-Ma`wa.” (An-Najm: 13-15)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Kemudian Jibril membawaku pergi sehingga sampai di Sidratul Muntaha. Ada berbagai warna yang menyelimutinya. Aku tak tahu apa itu. Kemudian aku masuk ke surga. Surga itu berisi kubah-kubah permata. Tanahnya berupa misk (jenis wewangian).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Adapun tentang neraka, Allah berfirman:
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang telah disediakan untuk orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran: 131)
“Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai dan menjadi tempat kembali orang-orang yang melampaui batas.” (An-Naba`: 21-22)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya. Sekiranya kalian melihat apa yang kulihat, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Para sahabat bertanya, “Apa yang Anda lihat, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku telah melihat surga dan neraka.” (HR. Muslim)
Alasan lain yang dikemukakan oleh Mu’tazilah, jika surga dan neraka sekarang sudah diciptakan, bukannya pada hari Kiamat nanti akan hancur seiring kejadian Kiamat? Bukankah Allah telah berfirman, “Semua yang ada di atasnya (bumi) akan binasa.” (Ar-Rahman: 26) dan “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya.” (al-Qashash: 88)
Para mufassir Ahlussunnah menyatakan, maksud dari firman Allah, ‘semua’ dan ‘segala sesuatu” pada ayat di atas adalah semua makhluk yang diciptakan oleh Allah tidak abadi. Adapun Surga dan neraka, keduanya diciptakan oleh Allah dengan sifat abadi. Sama seperti ‘Arasy yang merupakan atap surga.
Dus, Ahlussunnah berpegang kepada al-Qur`an dan as-Sunnah sebagaimana dipahami oleh Rasulullah dan para Salafus Shalih.

Bid’ah Jahmiyah

Bila Mu’tazilah—Qadariyah berseberangan dengan Ahlussunnah dalam hal penciptaan surga dan neraka sebelum terjadinya hari Kiamat, Jahmiyah berseberangan dengan Ahlussunnah dalam hal keabadian surga dan neraka. Jahm bin Shafwan dan pengikutnya meyakini surga dan neraka tidak abadi dan akan binasa. Bid’ah akidah mereka ini dibangun di atas keyakinan bahwa segala yang diciptakan oleh Allah akan berakhir. Sadar atau tidak, mereka telah berbuat lancang kepada Allah. Mereka menentang kabar dari Allah.
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa`: 14)
“Tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya nerakan Jahannamlah baginya, kekal mereka di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.” (At-Taubah: 63)
Keabadian surga dan neraka bukan karena zat keduanya yang abadi. Akan tetapi, karena Allah menghendaki keabadian keduanya. Allah menghendaki surga dan neraka tidak akan pernah binasa. Penghuninya akan berada di dalamnya selama-lamanya. Kecuali para pelaku dosa dari kalangan kaum muslimin, setelah selama beberapa lama mereka dibersihkan dari dosa-dosa mereka di neraka, mereka akan dikeluarkan darinya dan akan dimasukkan ke dalam surga. Selanjutnya, mereka kekal di dalamnya bersama para penghuni surga yang lain.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Aku tahu orang terakhir dari penduduk neraka yang akan dikeluarkan darinya yang sekaligus adalah orang terakhir dari penduduk surga yang akan memasukinya. Orang itu adalah seseorang yang akan keluar dari neraka sambil merangkak dengan kedua lutut dan kedua tangannya.” (HR. al-Bukhari)

Ikhtilaf Ahlussunnah

Setelah bersepakat mengenai keabadian surga, para ulama Ahlussunnah berbeda pendapat mengenai kekalnya neraka. Mereka yang disebut-sebut berpendapat bahwa neraka tidak kekal adalah: Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim al-Jawziyah. Penyandaran pendapat ini kepada Ibnu Taymiyah masih diperdebatkan. Sebab, di dalam Majmu’ Fatawa XVIII/307 beliau menyatakan, ‘Para salaf dan para imam dari umat ini serta Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa ada beberapa ciptaan Allah seperti surga, neraka, ‘Arasy, dan lain-lain yang tidak akan pernah berakhir keberadaannya. Yang berpendapat bahwa setiap ciptaan Allah akan binasa hanyalah para filosof dan pelaku bid’ah seperti Jahm bin Shafwan, orang-orang Mu’tazilah, dan beberapa pihak lain. Pendapat mereka ini keliru dan bertentangan dengan al-Qur`an, Sunnah Nabi, dan ijmak kaum Salaf dan para imam umat ini.’
Jumhur ulama Ahlussunnah berpendapat, sebagaimana surga yang diabadikan oleh Allah, neraka pun demikian. Pendapat ini didasari oleh sabda Rasulullah saw, “Bila penghuni surga sudah masuk surga dan penghuni neraka masuk neraka, datanglah kematian berdiri di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Lalu terdengar seruan, ‘Hai penghuni surga kekallah tidak ada lagi kematian! Hai penghuni neraka kekallah tidak ada lagi kematian!’ Maka bertambahlah kegembiraan penghuni surga dan bertambahlah kesedihan penghuni neraka. (HR. Ahmad)
Di antara para ulama yang menegaskan bahwa surga dan penghuninya serta neraka dan penghuninya akan kekal abadi selamanya adalah Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Taqiyuddin as-Subki, Syaikh Mar`i al-Karami al-Hanbali, Muhammad bin ‘Ali asy-Syawkani, dan al-Qurthubi. Para ulama Ahlussunnah ini telah berusaha menjelaskan dan membela akidah Ahlussunnah wal Jamaah ini.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar