Senin, 28 Mei 2012

KAJIAN

BAKAT YANG TERKUBUR
Penulis mengenal banyak teman di sekolah dahulu. Sebagian mereka membuat penulis takjub karena kemampuan mereka dalam menghafal, memahami pelajaran dan kecerdasan. Puluhan tahun berlalu, dan tatkala Allah pertemukan kembali dengan sebagian mereka, serasa hilang ‘kehebatan’ yang dahulu pernah mereka miliki.
Ada yang kondisi pengetahuannya relatif tak berkembang setelah berselang sekian lama. Bahkan tak jarang yang kecerdasannya justru menyusut, seakan potensi ilmunya terkubur begitu saja tanpa bekas.
Tanpa sadar angan-angan penulispun melambung, mengandaikan sekiranya dahulu si fulan itu mengoptimalkan potensi kecerdasan yang Allah anugerahkan kepada mereka. Teringat masa kecil Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika seorang ulama dari Suriah sengaja datang ke Damaskus untuk melihat Ibnu Taimiyah kecil. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, iapun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata, “Jika anak ini hidup hingga dewasa, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya.” Prediksi itu benar adanya, beliau menjadi ulama besar, dan menjadi rujukan bagi kaum muslimin di zamannya dan sesudahnya.
Teringat juga masa kecil Imam Nawawi, yang telah tampak bibit-bibit ‘kehebatannya’ sejak kecil. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan tidak suka bermain. Pernah suatu ketika ia dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya. Namun ia menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Ia lebih suka menghafalkan Al-Quran daripada memenuhi ajakan teman-temannya. Ketika Syeikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi, salah satu ulama di zamannya memperhatikan keadaan an-Nawawi kecil, ia pun mendatangi orang tuanya, berpesan bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Dan Allah takdirkan prediksi itu menjadi kenyataan.
Hal itu dikarenakan mereka menyambut potensi yang Allah berikan tersebut dengan rasa syukur. Mereka tindaklanjuti dengan memupuk ilmu, menyuburkannya dan menempuh segala hal yang bisa menyebabkan ilmu berkembang dan berbuah. Seperti Imam an-Nawawi yang di masa mudanya menghadiri 12 majlis ilmu setiap harinya. Maka bertemulah antara bakat dengan tekad, melahirkan pengetahuan dan karya-karya amal yang menakjubkan.
Meskipun tidak sehebat Ibnu Taimiyah ataupun Imam an-Nawawi, di kalangan barisan para penuntut ilmu syar’i,  kita juga sering mendapatkan orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang bagus, kecerdasan  yang lebih, yang membuat mereka sebenarnya pantas mendapat kemuliaan ilmu. Hanya saja cita-cita mereka yang rendah menghancurkan anugerah tersebut, menghilangkan eloknya keunggulan mereka. Mereka merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, tidak suka membaca dan menelaah, malas menghadiri majlis ilmu dan terkungkun oleh aktivitas yang tidak mendukung bertambahnya pengetahuan maupun amal kebaikan. Akhirnya, bakat mereka terkubur.
Mereka layak untuk dikasihani, memiliki potensi besar, namun tidak mau mengembangkan potensi diri.  Ini mengingatkan kita akan perkataan  Al-Farra’ v, “Tidaklah aku menaruh belas kasihan pada seseorang melebihi rasa belas kasihanku kepada dua orang; Seorang yang menuntut ilmu, namun dia tidak mempunyai pemahaman, dan seorang yang paham tetapi tidak mencarinya. Dan aku sungguh heran dengan orang yang lapang untuk menuntut ilmu tetapi dia tidak belajar.” (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, 1/103)
Adapun orang pertama, jika memang ia telah bersungguh-sungguh mengusahakannya, tiada cela baginya. Karena ilmu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki.   Bisa jadi   Allah membuka pintu kebaikan untuknya dari sisi yang lain. Dan dia tetap mendapatkan pahala sesuai dengan jerih payahnya. Rasa kasihan terhadap tipe pertama ini hanya dari sisi kauniyah, yang bersifat alami. Kita merasa kasihan karena sudah bersungguh-sungguh mencari, namun belum mendapatkan. Tapi secara syar’i, ia sudah menjalankan kewajiban, jerih payahnya tetap terpuji.
Yang paling disayangkan adalah tipe orang kedua. Orang yang telah diberi potensi lebih oleh Allah, namun ia sia-siakan begitu saja. Betapa cepatnya mereka melepaskan potensi ini dan menghilangkan berkah waktu-waktu mereka. Hal itu terjadi karena kufur nikmat. Dan kufur nikmat itulah yang menyebabkan nikmat itu lenyap. Bukankah potensi pendengaran, penglihatan dan hati yang Allah berikan kepada kita harus kita syukuri? Dan di antara cara mensyukurinya adalah menggunakannya untuk memperbanyak pengetahuan yang tadinya belum tahu menjadi tahu. Allah berfirman,
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalamkeadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl: 78)
Banyak faktor yang memicu berpalingnya mereka dari nikmat kecerdasan terus berproses. Alasan sibuk bekerja, ingin santai dan berleha-leha, juga kesalahan asumsi bahwa belajar itu hanya sarana untuk mencari pekerjaan. Namun inti dari banyak sebab di atas sekaligus menjadi pemicu yang paling dominan adalah faktor ‘dunuwwul himmah’, rendahnya cita-cita.
Setelah membaca paparan ini, tidak selayaknya kita posisikan diri sebagai orang dengan tipe pertama yang disebutkan oleh al-Farra’. Merasa sebagai orang yang tidak berpotensi dan sudah berjuang secara maksimal. Dengan sikap ini, bisa jadi kita justru membunuh potensi diri, dan masuk dalam kriteria tidak mengenali nikmat apalagi mensyukurinya. Bukankan jenis kecerdasan itu banyak ragamnya?
Maka, bagi yang melihat pada dirinya ada tanda-tanda keunggulan dan kecerdasan, baik secara umum maupun khusus, tak selayaknya berpaling dari ilmu. Atau, dia akan mengenyam kerugian yang besar. Seperti yang dikatakan Imam asy-Syafi’i, “Barangsiapa yang tidak pernah merasakan rasa pahitnya mencari ilmu, niscaya ia akan mengenyam pahitnya menjadi orang bodoh sepanjang hayatnya.” Wallahu a’lam.






BIARKAN HATI TUMBUH


 
Seperti tubuh yang menghajatkan keterbebasan dari penyakit untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bergerak dengan bebas, begitupun dengan hati kita. Ia tidak bisa menjalankan aktivitas utamanya, mencintai kebaikan, jika banyak kotoran yang menghalanginya.
Karena berbagai penyakit itu, hakikatnya adalah unsur perusak. Tak sekadar membuatnya kotor, ia bahkan menjadi penghalang bagi tumbuh kembang tubuh ke arah yang lebih baik. Hingga upaya menghilangkannya menjadi keniscayaan. Dan menjadi langkah pertama bagi para perindu kesehatan dan perubahan menuju kesempurnaan.
Ini adalah tentang bagaimana memunculkan kekuatan alami dalam tubuh agak tidak bergerak melambat karena terhambat. Selain menjadi tidak efisien, perlambatan itu membuat tidak nyaman, dan seringkali menyiksa. Lunglai dalam onggokan tulang berbalut daging. Hingga berbagai kenikmatan halal hanya menjadi pemandangan indah tanpa kemampuan menikmatinya sebab tiada daya upaya untuk itu.
Dosa dan maksiat adalah kotorannya hati. Ia membuatnya enggan berkehendak kepada kebaikan karena kehilangan energinya. Menuntunnya kepada kegiatan aneh, menghancurkan diri sendiri dengan kenikmatan semu yang disangkanya nyata, sesaat yang diyakininya lama. Kemudian menutup telinga dari informasi tentang bahaya yang mengintainya, padahal ia benar adanya. Adakah kebodohan yang lebih parah darinya?
Hati yang terlena dalam dosa tak berdaya memenuhi panggilan kebaikan. Serupa pemalas yang mengabaikan tawaran kerja dengan penghasilan mengesankan, namun sibuk mencari pembenaran. Dalam pengaruh bius maksiat yang meluruhkan semua formula kesuksesan, ia membangun angan-angan kosong tentang makna kejayaan. Ia bermimpi telah menjadi sesuatu, padahal hanya berilusi yang ia mampu.
Dan tumbuh kembang bukan hanya tentang nutrisi yang bergizi atau gerak badan berkesinambungan. Yang lebih esensi adalah pembersihannya dari materi jahat yang bisa merusakkan semuanya. Menjadikannya sia-sia sebab hasil yang ada tak seperti yang diharapkan. Sesal mengiringi kehancuran yang bahkan sudah diprediksi, namun semuanya tiada arti lagi.
Maka biarkanlah hati kita bertumbuh! Menjadi semakin sehat, menjadi semakin baik menuju kesempurnaannya seandainya mungkin. Tapi tidak jalan yang benar selain membebaskannya dari berbagai dosa dan maksiat dengan taubat. Atau membanjirinya dengan amal shalih yang melimpah serupa air bah.
Dengan demikian, menjajarkan sikap taat dan maksiat tentulah tidak wajar, menyandingkan amal shalih dan dosa sangat membuat letih. Tidak benar dan hanya membuat kebingungan.






KEMISKINAN DALAM KELUARGA


Dalam keterbatasan finansial, percayalah, tidak mudah menjalani hidup di zaman serba materi seperti ini, meski kita tahu, kekayaan tanpa kekuatan iman juga akan menjadi senjata makan tuan yang mencelakakan. Tapi, sukses bagi manusia secara umum adalah gelimang harta, bukan nyamannya hati. Hal yang sering membuat kita hanya bisa terdiam sebab sulit memilih kata-kata untuk menjelaskan kebenaran. Tapi, bukankah kita memang sedang hidup di dunia?
Kesulitan itu muncul karena standar minimal kelayakan hidup, terus meningkat seiring kemajuan materi dan teknologi, hal yang akan semakin menyengsarakan siapapun yang kekurangan. Sementara di sisi lain, kita hampir tidak bisa hidup sendiri tanpa keterlibatan pihak lain. Dan dalam banyak kasus, hal itu berarti sejumlah materi sebagai gantinya. Sehingga ketiadaan materi jelas membawa kita dalam kondisi serba terbatas.
Dan hal itu akan menjadi semakin sulit jika kita berbicara dalam konteks keluarga. Karena keluarga adalah aktifitas kolektif yang melibatkan banyak pihak. Tentu bukan hal mudah membuat semua pihak yang terlibat, memiliki satu sikap ketika menghadapi suatu keadaan. Bersabar dalam kemiskinan jangka waktu yang lama, atau bahkan bersyukur saat rejeki datang bertubi-tubi.
Sebenarnya, miskin dan kaya berasal dari sudut pandang dan keyakinan, jauh sebelum keduanya menjadi fenomena kebendaan. Syaikh Muhammad al-Ghazali pernah berkata, “Sesungguhnya kefakiran dan kekayaan adalah fenomena kejiwaan sebelum keduanya menjadi bagian dari penampakan keduniawian.” Sehingga bisa saja orang yang terlihat kekurangan oleh orang lain, namun merasa berkecukupan. Demikian juga sebaliknya, yang terlihat berlebihan, menderita karena tidak pernah merasa puas.
Dengan demikian, kaya dan miskin sangat berhubungan dengan persepsi kita tentang apa yang kita inginkan dalam hidup, tentang bagaimana kita memaknai sebuah kesuksesan, juga tentang bagaimana kita mengambil manfaat dari apa yang kita peroleh. Sebab selain bisa berbeda pada masing-masing orang, sudut pandang kita tentang dunia sebagai tujuan atau wasilah menuju akhirat, jelas sangat memengaruhi sikap kita. Karena kita semua ingin kesuksesan dan tidak menghendaki kegagalan.
Pun kemampuan kita bersikap qanaah (merasa cukup dengan yang ada), sebaik-baik benteng pertahanan dari serangan kenikmatan dunia, atau malah rakus dan merasa selalu kekurangan meski telah bergelimang harta, sangat dipengaruhi keyakinan yang kita miliki. Padahal ia menjadi penentu perasaan bahagia atau menderita, puas atau kecewa, berani atau takut atas apa yang kita temui dalam hidup ini.
Banyak di antara kita yang mengira, bahwa kemiskinan adalah penyebab semua masalah dalam kehidupan, sehingga seruan untuk memeranginya terdengar sangat nyaring. Dalam banyak hal, kemiskinan bahkan dianggap lebih berbahaya daripada kekafiran dan kesyirikan, seburuk-buruk hal yang dibenci Allah. Banyak di antara kita yang meyakini, bahwa dengan menjadi kaya, semua masalah otomatis akan selesai.
Padahal ada siksa dalam limpahan harta bagi orang-orang yang banyak kehilangan iman. Sejenis permainan berbahaya seperti meminum air garam, perasaan tidak pernah merasa puas sebanyak apapun hasil yang didapat, kelelahan fisik yang tak terhindarkan, hingga penyesalan yang selalu datang belakangan.  Usia yang merambat pergi, mendekatkan mereka kepada kematian yang seringkali beriringan dengan kekufuran. Tapi siapa yang peduli?
Yang penting bagi kita adalah bekerja secara maksimal, sebagai sebuah sebab untuk menjemput rejeki dari Allah. Bersiap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi, bersyukur atas nikmat yang ada, belajar menikmati apa yang tidak dimiliki, dan menjaga husnuzhan kepada Allah. Bahwa apapun yang kita alami, setelah kerja keras, adalah yang terbaik bagi kita.
Memilih lingkungan atau teman dekat adalah tugas kita selanjutnya. Selain karena sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita sehari-hari, lingkungan bisa menjadi pendukung atau malah perusak pemahaman keislaman kita. Termasuk  di dalamnya pola kita menjalani hidup keseharian. Padahal, kebiasaan hidup sederhana, mengerem keinginan yang tidak perlu, serta fokus kepada nilai-nilai dan kenyamanan hati daripada tumpukan benda, adalah hal yang lebih pantas diutamakan agar kita lebih tenang menjalani kehidupan.
Dr. Abd Karim Bakar berkata, “Sesungguhnya, orang yang berakal tahu bahwa dia takkan mampu mendapatkan semuanya. Karena itu, dia menahan perasaan, perbuatan, dan kenikmatannya. Dia juga akan seimbang dan sederhana dalam bercita-cita.”
Terakhir adalah selalu mengkondisikan keluarga akan nilai-nilai keislaman yang kuat. Agar keberadaannya benar-benar menjadi pendukung dakwah kita, bukan malah sebaliknya. Sebab kemiskinan tidak berbahaya bagi mereka yang kuat imannya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Tidaklah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah dibentangkannya dunia kepada kalian, sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka lakukan, lalu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.






BELAJAR DARI AMBISI SEEKOR KUCING



Suatu kali, al-Junaid radiyallahu ‘anhu tak sengaja melihat seekor kucing sedang mengejar tikus. Tikus  itu masuk ke lobang untuk menyelamatkan diri. Tapi si kucing tak berputus asa, ia terus mengintai di depan lubang penuh waspada. Seluruh bulu badannya tegak, siaga menerkam mangsanya. Melihat pemandangan ini, al-Junaid bergumam, “Wahai hamba yang lemah, adakah semangatmu sepadan dengan ambisi kucing itu?
Jika iya, lantas apakah yang kamu kejar senilai dengan apa yang kau buru?”
Begitulah, pemandangan singkat itu menyuguhkan pelajaran yang sangat berharga bagi al-Junaid, kemudian juga bagi kita. Pelajaran tentang dua hal, semangat yang tinggi dan cita-cita yang tinggi.

Tipe Manusia Berdasarkan Semangat dan Cita-cita

Berdasarkan kadar semangat dan tingginya cita-cita, manusia tak luput dari empat golongan,
Pertama, orang  yang lemah semangat sekaligus rendah cita-citanya. Dia adalah para pemalas yang hanya suka berpangku tangan. Hidupnya hanya untuk main-main, mengalir tanpa arah. Masa depannya suram. Ia harus menelan pahitnya kebodohan, dan tak jarang juga mereguk pedihnya kemiskinan. Belum lagi, penderitaan akhirat telah menanti.
Kedua, orang yang lemah semangatnya, namun tinggi cita-citanya. Meskipun, tipe kedua ini hanya banyak ditemukan pada pengakuan. Sedang hakikatnya, bertolak belakang. Atau lebih tepat jika dikatakan sebagai orang yang lemah semangatnya, namun tinggi angan-angannya. Karena, jika memang cita-citanya tinggi, tentu menjadi pengatrol semangat untuk berjuang mendapatkannya. Bagaimana mungkin seseorang memiliki cita-cita yang tinggi, tapi mengidap penyakit lemah semangat. Di antara ulama mengumpamakan orang seperti ini laksana berlayar di daratan; tarjuu an-najaata walam tasluk masaalikaha, inna as-safiinata laa tajri ‘alal yabas. Ingin sukses, tapi tak mau menempuh jalannya, sesungguhnya perahu tidak bisa  berlayar di daratan. Begitulah perumpamaan bagi orang yang ingin kaya, tapi malas bekerja, ingin menjadi ulama, tapi tidak mau belajar dan ingin masuk jannah, tapi tak mau menjalani konsekuensinya.
Ini pula yang disindir oleh senior tabi’in Abu Sulaiman ad-Daaraani, tatkala mendapati rumah-rumah kaum muslimin lengang di waktu malam. Tak ada suara bacaan al-Qur’an, tak ada tangis orang yang seding berdzikir, tak pula terdengar suara takbir dari orang yang sedang shalat. Lalu beliau berkata, ‘ajibtu ‘anil jannah kaifa naama thaalibuha, wa ‘ajibtu ‘anin naar, kaifa naama haaribuha. “Aku heran terhadap jannah, bagaimana orang yang memburunya bisa  tertidur lelap. Dan aku heran terhadap neraka, bagaimana orang yang lari darinya bisa tidur nyenyak.”
Ketiga, orang yang tinggi semangatnya, namun rendah cita-citanya. Apakah ini mungkin? Iya. Dan inilah tipe seperti kucing yang dicontohkan oleh al-Junaid. Semangatnya membaja, tapi hanya untuk mengenyangkan perut semata. Tak ada salahnya itu terjadi pada seekor kucing, karena kucing tidak ‘dititipi’ akal, tidak pula ada taklif yang berdampak pada konsekuensi di akhirat. Tapi tentu saja hal ini naif jika dilakukan manusia. Semangatnya tinggi, namun obsesinya hanya sebatas kesenangan perut dan syahwat. Ambisi puncaknya tak lebih dari dunia yang fana. Karakter ini dimiliki oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang paling dekat levelnya dengan mereka, “dzaalika mablaghuhum minal ’ilmi”, (dunia) itulah ilmu sejauh-jauh pengetahuan mereka.
Keempat adalah tipe yang ideal. Memiliki semangat tinggi, untuk meraih obsesi yang tinggi pula. Mereka inilah pemilik masa depan yang cerah, meski berangkat dari orang biasa atau bahkan budak jelata.

Dari Orang Biasa Menjadi Istimewa

Sejarah mencatat, kesungguhan semangat dan tingginya cita-cita telah mengangkat derajat orang-orang biasa menjadi istimewa. Bahkan menobatkan para budak dan rakyat jelata menjadi lebih mulia dari para raja.
seperti yang diungkapkan oleh Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik kepada putranya, selepas meminta fatwa kepada Atha’ bin Abi Rabah, mantan budak yang menjadi ulama. Beliau mengatakan, “Wahai anakku, pria yang kamu lihat dan engkau melihat kami berlaku hormat di hadapannya, dialah Atha’ bin Abi Rabah, orang yang berhak berfatwa di masjidil Al-Haram. Beliau mewarisi ilmu Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu dengan bagian yang banyak.” Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai anakku carilah ilmu, karena dengan ilmu, rakyat bawahan bisa menjadi terhormat, para budak bisa melampaui derajat para raja.”
Yang lebih menakjubkan, ulama-ulama terkemuka di zaman tabi’in didominasi oleh anak-anak budak dan mantan budak (maula). Seperti yang dikatakan Ibnu Abi Laila saat ditanya oleh Isa bin Musa mengenai orang yang paling faqih (pandai) di masing-masing negeri. Yang paling faqih di Bashrah adalah Hasan al-Bashri, kemudian Muhammad bin Sirin. Yang paling faqih di Mekah adalah Atha’ bin Abi Rabah, Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair dan Sulaiman bin Yasar, mereka semua dari kalangan mantan budak.
Yang paling pandai di kota Quba’ adalah Rabi’ah ar-Ra’yi dan Ibnu Abi az-Zanad, yang paling faqih di kalangan penduduk Yaman adalah Thawus, puteranya dan juga Hamam bin Munabih. Yang paling faqih di kalangan Khurasan adalah Atha’ bin Abdillah al-Khurasani dan di kalangan al-Jazair adalah Maimun bin Mahran. Mereka berasal dari kalangan mantan budak.
Kesungguhan mereka untuk mencari ilmu, lalu berusaha mengamalkan dan mengajarkannya, menjadikan mereka terhormat di sisi manusia, dan in syaallah mereka mulia di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya,
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujadalah 11)
Semoga Allah menjaga semangat kita untuk berproses menjadi hamba-hambaNya yang mulia di sisi-Nya. Aamiin.






RAHASIA AMALAN RAHASIA



Mensyukuri suatu nikmat Allah adalah tindakan terpuji. Sikap seharusnya kita sebagai hamba, yang tahu diri akan semua keterbatasan dan ketidakmampuan, juga berita atas jejak-jejak kebenaran, penunjuk jalan bagi yang menginginkan keselamatan. Ia juga memendekkan jarak langit dan bumi, sehingga pilihan beriman menjadi sangat meyakinkan. Menjadi bayan akan eksistensi Sang Maha Rahman.
Dan, adakah yang lebih pantas untuk disyukuri melebihi nikmat bernama iman? Pemahaman yang benar atas kalimat Laa Ilaaha Illallah, yang bagi penduduk surga, ia serupa air sejuk segar bagi penghuni bumi. Karena kalimat inilah, surga dan neraka disediakan, para rosul diutuskan, kitab-kitab diturunkan, jihad ditegakkan, dan pintu surga dibukakan. Ia adalah kunci memahami dakwah para utusan.
Kemudian kesyukuran yang senantiasa bertambah seiring jejak-jejak nikmat yang kita temukan, atau karena kebodohan, baru kita sadari. Kita mengerti bahwa ia berjumlah sangat banyak, melampaui kemampuan kita menghitungnya. Semakin kita mensyukurinya, semakin bertambah ia adanya, insyaallah.
Tetapi memadukan rasa syukur dengan kerendahan hati tidaklah mudah. Nikmat itu seringkali membuat kita merasa jumawa. Yang walaupun benar, mestinya bukanlah alasan untuk menjadi angkuh, sombong, takabur, atau apapun namanya, lalu meremehkan orang lain. Serupa bani Israil yang menganggap dirinya sebagai yang terpilih, dan menghalalkan semua bentuk penistaan kepada yang lainnya.
Apalagi, jika kesombongan itu bertolak dari hal-hal lahiriah, hanya karena mereka berbeda dan tidak sama dengan kita. Padahal, selain perbedaan itu terkadang adalah pilihan variatif dalam kajian fikih, ketidaktahuan yang bersangkutan, yang bisa menjadi permakluman atas kesalahannya, juga tidak pernah kita bisa memastikan baik buruk seseorang dari penampakannya semata. Sebab sebagai kesatuan jiwa dan raga, kebaikan kita menjadi utuh ketika keduanya berpadu, bukan terbelah dan pecah.
Inilah kisah tentang seorang pendeta Yahudi, dahulu kala, yang beribadah selama nyaris 60 tahun. Sampai dia bermimpi, suatu malam, bahwa tetangganya, tukang sepatu itu, lebih baik dari dirinya. Hal yang tidak bisa dia abaikan ketika ia datang berturut-turut dalam beberapa malam. Si Pendeta merasa terganggu hingga dia memutuskan untuk mendatangi tukang sepatu, mencari jawaban atas rasa penasarannya.
Saya hanyalah orang biasa, demikian tukang sepatu menjawab, hanya saja, lanjutnya, saya adalah orang yang setiap kali bertemu dengan seseorang, saya menganggapnya masuk surga dan saya yang akan ke neraka. Maka tukang sepatu itu menjadi lebih baik daripada si Pendeta karena kerendahan hatinya yang luar biasa. Sebuah amalan rahasia yang tidak terlihat orang lain.
Maka, melakukan dan mengakumulasi kebaikan selama kurun waktu yang panjang jelas hal terpuji dan sangat layak dilakukan. Tapi jangan pernah mengiringinya dengan merendahkan orang lain. Selain tidak pantas, bisa jadi orang yang kita remehkan itu lebih mulia daripada kita di sisi Allah, sebab dia memiliki amalan rahasia yang menjadi keunggulannya. Wallahu a’lam.






ISTRI LEBIH HEBAT



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ustadz, saya seorang suami yang bekerja sebagai guru swasta dengan gaji yang kecil. Istri saya berpenghasilan jauh lebih besar. Bisa dikata, kehidupan keluarga kami ditopang oleh istri. Hal ini membuat saya terkadang merasa rendah diri. Merasa bagaimana begitu.
Ustadz, saya mohon nasihatnya agar lebih percaya diri memimpin keluarga kami. Atas jawabannya saya sampaikan Jazakumullah khairan.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
081329137xxx

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh
Akhi yang shalih, saya mengerti bahwa bukan hal yang mudah berada dalam situasi seperti yang Anda hadapi sekarang. Karena secara umum, lelaki adalah pemimpin keluarga yang sangat ingin menunjukkan superioritasnya. Sehingga wajar jika dia mengalami krisis percaya diri saat merasa posisinya terancam. Apalagi dalam lingkungan yang sangat materialis seperti sekarang ini.
Akhi yang baik, keluarga adalah sebuah tim yang mestinya solid dan saling mengisi namun tetap dalam koridor syariat agar diridhai Allah. Sehingga sekarang tinggal bagaimana Anda mengelola masalah yang ada agar bisa menjadi kebaikan yang pantas disyukuri, bukan menjadi fitnah yang bisa merusakkan bangunan rumah tangga di kemudian hari.
Pertama, tugas suami bukan hanya mencari nafkah namun juga membimbing kea rah yang benar, mengayomi, bergaul secara patut, mengambil keputusan untuk hal-hal yang prinsip, serta berlaku adil. Sehingga ketika suami tidak bisa memberi banyak dalam hal nafkah, dia harus menutupinya dalam hal yang lain. Yang penting dia sudah menunjukkan upaya terbaiknya untuk mencari nafkah. Jadi bukan hasil pas-pasan karena malas bekerja.
Kedua, hasil kerja seorang istri adalah miliknya sendiri karena dia tidak dibebani kewajiban menafkahi keluarga. Suami tidak bisa mengandalkan istri untuk memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi, maaf, mengeksploitasinya. Pemberian istri untuk keluarganya adalah sedekah baginya. Sehingga seberapapun, Anda tetap berkewajiban memberi nafkah kepada istri meski dia bergaji jauh lebih tinggi.
Ketiga, berusahalah agar kehebatan istri tidak memengaruhi sikapnya kepada Anda sebagai pemimpinnya. Dengan apa yang dimilikinya, jangan sampai dia meremehkan dan berani kepada suami, naudzubillah. Banyak-banyaklah berdialog agar peran Anda sebagai suami lebih bisa berperan dalam keluarga, alih-alih merasa minder sehingga membuat Anda tertekan dan merusakkan semuanya dengan tindakan yang tidak terpuji.
Bantulah istri Anda dalam membelanjakan hartanya sehingga lebih bermanfaat dan barakah. Bukan saja bagi keluarga, namun juga bagi umat dalam konteks yang lebih luas. Jadikan kehebatan istri sebagai sarana Anda menjadi jauh lebih baik, bukan malah menjadikannya pesaing. Karena sesungguhnya, Andalah yang lebih hebat karena memimpin istri yang hebat.
Demikian nasihat saya semoga bermanfaat.






SAAT INDAH BERSAMAMU


 Mungkin, suatu saat Anda ingin singgah di rumah mungil itu, tentu saja bila tuan rumah mengizinkannya, beberapa saat setelah shalat Ashar. Di sana, sejauh ini, ada pemandangan yang sangat mengesankan di waktu-waktu seperti itu. Pemandangan yang, insyaallah dirindukan oleh mayoritas suami. Siapa tahu bisa menjadi bahan diskusi dengan istri di rumah karena Anda terinspirasi olehnya.
Sebutlah namanya Arini, atau apapun karena nama menjadi tidak penting disini. Seorang ibu rumah tangga sederhana yang istimewa karena telah memesonakan saya atas apa yang dilakukannya. Seorang ratu keluarga yang ingin semua pekerjaan rumah tangganya sudah selesai dikerjakan, bahkan hidangan untuk makan malam nanti, sebelum suami menginjakkan kaki di pintu rumah.
Maka Arini, harus pintar-pintar memenej waktu untuk keinginan sederhananya yang luar biasa itu. Bagaimana mengatur rumah, menyelesaikan tetek bengeknya, memandikan si kecil, hingga membersihkan diri dan menyiapkan hidangan makan malam. Pokoknya dia ingin semuanya beres dan rapi secepat mungkin. Dan hal itu, kini, sudah menjadi kebiasaannya.
Sejak awal pernikahannya, Arini memang telah membiasakan diri untuk menuntaskan pekerjaan domestiknya, sebelum suami tiba di rumah. Dan dia telah berusaha keras untuk memiliki kebiasaan baik ini, meski seringkali tidak mudah. Alhamdulillah, sekarang mulai terasa buahnya. Meski pada praktiknya nyaris mustahil, paling tidak Arini bisa menerapkan prinsip prioritas, sehingga hal-hal yang urgen bisa didahulukan pengerjaannya.
Sebenarnya, ada sebuah rahasia sederhana di balik sikap Arini yang, bagi sebagian orang, termasuk para perempuan sendiri, terlihat ekstrim itu. Arini hanya ingin memiliki waktu berdua sebanyak mungkin bersama suami dengan kualitas terbaik. berbicara dari hati ke hati tanpa gangguan yang berarti.
Arini sangat memahami bahwa pernikahan bukanlah pekerjaan main-main. Sebuah pertaruhan masa depan yang menentukan kualitas hidup sesungguhnya. Ekstrimnya, kenyamanan dan kesengsaraan dalam menjalani hidup, atau kehidupan akan berasa surga atau neraka, sangat dipengaruhi oleh kualitas pernikahan. Oleh bagaimana kita menjalaninya hari demi hari.
Jauh sebelum menikah, Arini sudah mengamati banyak keluarga yang tidak nyaman  menjalani kehidupan berkeluarga, meski di kalangan para aktivis dakwah sekalipun. Sementara masalah yang menghadang datang silih berganti, nyaris tanpa henti. Dengan kerumitan yang semakin bertambah dan bidang yang semakin kompleks. Belum lagi beban pekerjaan rutin harian yang senantiasa berulang dan berpotensi membuat jenuh. Hidup yang sulit sebab terhimpit dilema yang rumit. Bertahan bukanlah hal nyaman dilakukan, sedangkan berhenti terlalu banyak hal yang harus dikorbankan.
Menurut Arini, ada hal-hal yang bisa membuatnya nyaman jika hal itu terjadi pada dirinya. Selain visi pernikahan yang jelas, pilihan pasangan yang pas, juga komunikasi yang intens di antara anggota keluarga. Arini menyebutnya sebagai minyak pada roda. Tampak sepele dan sederhana namun sangat besar manfaatnya.
Semua itu akan mudah dilakukan, bahkan dijadikan kebiasaan jika masing-masing pihak menyadari pentingnya komunikasi dan menjalaninya dengan ringan hati. Hal yang tentu saja membutuhkan kelapangan dada dan ketenangan pikir, agar berjalan dengan lancar dan berkualitas.
Kini, itulah yang diinginkan Arini; memiliki kebersamaan yang menyenangkan, sebanyak dan sesering mungkin, dengan suami tercinta. Kebersamaan berkualitas tinggi yang dirindukannya terjadi setiap hari.Kebersamaan yang diharapkannya menjadi one stop solving atas semua keinginannya tentang pernikahan yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Tempat dimana dia bermanja-manja melabuhkan rasa, mengutarakan keinginan dan harapan, menyampaikan perasaan, saling mendengarkan keluhan, mengurai persoalan, memaknakan perjalanan, dan meneguhkan ketakwaan. Ringkasnya, Arini ingin mengisi hari-harinya dengan ringan dan ceria, nyaman dan menyenangkan, selalu memiliki cukup energi untuk memberikan hal terbaik yang dia bisa.
Dalam hal ini, adakah yang lebih baik daripada dua pribadi yang menyatu, suami istri yang saling berbagi dan saling memberikan dukungan, dalam suka dan duka? Alangkah ringannya kaki melangkah, alangkah indahnya menjalani hari-hari! Dan alangkah banyaknya yang tidak mengerti sehingga melupakan momen-momen seperti ini.
Karena itulah Arini tidak ingin menambah beban suaminya yang sudah sangat berat di luar sana. Kondisi rumah yang kacau dan banyaknya pekerjaan yang belum selesai, alih-alih membuat para suami lapang dada membantu, yang ada malah membuat para suami bertambah emosi. Bukankah para suami itu ingin meletakkan semua penat, beristirahat dengan nyaman dan memulihkan energi untuk esok hari? Hal sama yang sebenarnya diinginkan oleh para istri.
Sungguh, pada Arini saya memperoleh inspirasi. Bahwa masing-masing dari suami dan istri menjalani perannya sendiri-sendiri. Masing-masing harusnya saling memahami dan mengerti bahwa saat bertemu adalah saat istimewa yang harus dinikmati. Bukan mengeluh karena merasa paling penting dan paling berat menjalani perannya, apalagi tidak peduli. Kini, siapa yang ingin memaknai kebersamaan dengan pasangannya sebagai saat-saat indah yang harus dijalani bersama, setiap hari?
Dan bagi Anda yang berkesempatan singgah di rumah itu, apalagi bersama istri, titip salam saya untuk Arini, muslimah sederhana yang menginspirasi!






SEBUAH GERBANG UNTUK PULANG

 Wajah mana yang akan kita bawa menghadap Allah, kelak, jika lumuran dosanya yang mengerak membuatnya tak rupawan lagi? Sedang hati kita pun tak lagi bersih karena tertutup debu-debu maksiat. Juga pilihan sikap yang tepat untuk menutupi pengingkaran nikmat kita siang malam, sepanjang usia kita di dunia, di perjumpaan nanti. Atau kita malah mengharapkannya tidak terjadi, hal yang mustahil adanya?
Adakah malu, dan takut itu masih menempati sudut ruang hati kita, yang terdalam? Ataukah ia telah menghilang, tenggelam dalam kelamnya kesalahan yang menghitamkan jiwa karena jelaga dosa? Lirih ini sunyi meski galau ini tak sendiri. Segera menyadari dan berbenah diri tentu sangat terpuji daripada tak peduli, sebab kita tak bisa menghindari.
Permulaannya bernama taubat. Gerbang pulang untuk pembebasan sejati yang menyucikan. Meluruhkan noda-noda dosa yang pernah ada, dan memberi kemampuan kita untuk tengadah mengaku salah. Inilah satu-satunya pilihan sebab menjadi tanpa cela adalah kemustahilan, sedang tidak ada yang bisa menghapuskan kecuali Dia Yang Maha Pengampun dan Penyayang.
Sayang, kita seringkali merasa tidak membutuhkannya. Padahal tiada yang lebih penting daripada keyakinan akan terhapusnya kesalahan, atau minimal, berkurangnya beban jiwa yang menyiksa ini. Bahkan jauh sebelum menemui Allah, karena rasa itu menekan malam-malam kita di sini, di dunia ini.
Pada yang membutuhkan, banyak juga yang kebingungan. Taubat bergerak lambat saat tak ada lagi pilihan berkelit. Terlantun dari bibir yang sendirian serupa wasiat taubat dari hamba yang tidak memahaminya, meski bertebaran dan berulang-ulang. Taubat yang tidak memiliki akar penjiwaan dan tak mampu mengendalikan. Berakhir hampa karena menjadi sia-sia.
Karena taubat haruslah berdasar pada kesadaran. Bahwa kita sebagai hamba tak akan pernah mampu menjalankan kewajiban dan memenuhi hak Allah dengan semestinya. Terlalu banyak kekurangan, terlalu sering kita melalaikan, terlalu jauh dari standar kelayakan. Dan maksiat yang bertimbun-timbun, membuahkan ketakutan akan akibat buruknya yang pasti menanti, menjauhkan kita dari kehidupan yang berlimpah berkah, rahmah, dan maghfirah. Kehidupan yang gelisah!
Kesemuanya menuntun kita pada keinginan untuk menebus dan menghapus kesalahan. Agar kita tidak termasuk  mereka yang terancam kemurkaan dan kehinaan, serta siksaan abadi yang pasti adanya. Sebab jika tidak, rasa sakitnya dosa menyesakkan dada. Menyempitkan jiwa akan keluasan ampunan Allah, memungkinkan kita melakukannya berulang kali hingga kepada keadaan rumit yang sulit dilepaskan.
Biarkan rasa sakit itu membimbing kita mencari jalan pertaubatan. Biarkan rasa sesal dan kecewa akan kegagalan memaknai hari-hari ini menerangi prosesnya. Dan biarkan semuanya berangkat dari kesadaran kita akan pentingnya taubat. Sebuah kebutuhan tak terkira yang sering kita lupakan. Ya Allah, bimbinglah kepulangan hamba dengan taubat yang Engkau terima![

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar