Senin, 28 Mei 2012

TAFSIR

TITIPKAN PADA ALLAH , AGAR IA MENJADI MILIKMU SELAMANYA


“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl: 96)
Adalah Hatim bin al-Asham, berguru kepada Syaqiq al-Balkhi selama 33 tahun. Sang guru bertanya, “Pelajaran apa yang kamu dapatkan setelah sekian lama berguru kepadaku?” Hatim menjawab, “Ada delapan pelajaran yang saya dapatkan.” Sang guru berkata, “inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un, umurku habis untuk mendidikmu, tapi kamu hanya mendapatkan delapan pelajaran?” Hatim menjawab, “Memang hanya delapan hal yang kudapatkan, saya tidak ingin berdusta kepada guru.” Syaqiiq berkata, “Baiklah, utarakan kepadaku pengetahuan apa yang kamu dapatkan!”
Sejenak, mari alam pikir kita masuk dalam situasi perbincangan dua ulama besar itu.

Yang Sirna dan Yang Kekal Selamanya
Selama 33 tahun, hanya mendapatkan delapan pelajaran. Tentulah yang didapatkan Hatim tersebut ilmu-ilmu inti yang disimpulkan dan diperas dari lautan ilmu yang ia pelajari dari gurunya. Bukan sekedar apa yang dia hafal atau dia dengar tanpa penghayatan dan perenungan. Satu dari delapan pelajaran yang beliau dapatkan itu adalah,
“Saya perhatikan perilaku manusia, dan saya amati setiap orang yang memiliki barang berharga, ia menjaganya agar tidak hilang. Kemudian saya membaca firman Allah Ta’ala,
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ
”Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah kekal” (QS. Surat an-Nahl: 96)
Maka ketika aku memiliki sesuatu yang berharga, aku titipkan kepada Allah, agar Dia menjaganya untukku.”
Sungguh merupakan pengamatan yang jeli, kesimpulan yang jitu dan sekaligus sikap yang cerdas. Rata-rata manusia, ketika memiliki barang berharga semisal emas, ia akan menjaganya dengan ketat. Barang dimasukkan kotak lalu dikunci, kotak masuk laci, lacinya dikunci. Laci berada dalam lemari, lemarinya dikunci. Lemari berada di kamar, kamarnya juga dikunci. Kamar berada di dalam rumah, dan rumahnya juga dikunci. Rumahpun dipagari, dan pagarnya dikunci. Begitulah cara manusia menjaga barang berharga agar tidak lenyap dari genggaman.
Tapi apakah dengan cara seperti itu, barang miliknya akan tetap abadi? Jawabannya, “Tidak.” Lambat laun pasti ia akan kehilangan olehnya. Kalaupun tidak dicuri, mungkin akan dikeluarkan karena terdesak kebutuhan, atau paling tidak saat ia meninggal akan berpisah dengan barang kesayangannya.
Hatim memilih cara yang paling ampuh, agar sesuatu yang berharga miliknya bisa langgeng, tidak akan berpindah tangan ataupun hilang. Yakni dengan menitipkannya kepada Allah. Karena beliau yakin akan firman-Nya, “wa maa ‘indallahi baaqin”, dan apa yang di sisi Allah itulah yang kekal.
Benar, apa yang kita persembahkan keada Allah itulah yang kekal. Itulah yang menjadi simpanan kita, dan kelak akan kita panen tanpa ada masa kadaluarsa, dan dengan stok yang tak dibatasi takarannya. Sedangkan apa yang kita pakai di dunia ini akan usang, yang kita makan menjadi kotoran, begitupun dengan jatah waktu dan umur yang kita sandang akan berakhir. Berbeda dengan sesuatu yang dititipkan kepada Allah.
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Yakni, pahala untuk kalian di jannah akan kekal, tidak akan terputus, tak akan sirna, selalu kekal dan tiada akan berpindah tangan atau lenyap.”
Ini  mengingatkan kita sebuah riwayat, ketika Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu ‘anha ditanya oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tentang kambing yang disembelih, beliau menjawab, “Sudah habis disedekahkan, yang tersisa hanyalah sebelah bahunya saja.” Lalu Nabi bersabda, “Masih utuh, kecuali sebelah bahunya.” (HR Muslim)

Jangan Berikan Untuk Allah Hanya Sebatas Sisa
Apa yang bisa dititipkan kepada Allah, tentu bukan sebatas harta. Karena kita memiliki banyak karunia yang berharga. Masa muda misalnya, adalah sesuatu yang paling berharga dari umur. Selayaknya masa muda dipersembahkan untuk Allah, mengisinya dengan hal-hal yang bernilai pahala dan ketaatan kepada Allah.
Waktu juga merupakan perbendaharaan yang berharga. Begitupun dengan kesehatan, akal, tenaga maupun harta benda. Tidak selayaknya kita memberikan untuk Allah, hanya sisa-sisa dari apa yang kita miliki. Sisa harta yang tidak kita sukai, sisa waktu setelah  jenuh dengan aktivitas duniawi, sisa pikiran untuk mempelajari syariatnya dan memperjuangkannya, sisa tenaga, maupun sisa umur dan menunggu usia tua untuk mengabdi kepada-Nya.
Lagi pula, apa yang kelak kita dapatkan di akhirat, sesuai dengan apa yang kita ‘titipkan’ dan persembahkan kepada Allah. Tidak akan ada nikmat di akhirat, melainkan kenikmatan yang kita usahakan dengan amal shalih kita di dunia. Tak ada pula hunian yang nyaman di akhirat, kecuali jika kita membangunnya sejak di dunia. Seperti dikatakan sebagian ulama, “laa daara lil mar’i ba’dal mauti yaskunuhaa, illal latii kaana qablal mauti yabniiha, tiada rumah bagi seseorang setelah matinya, selain rumah yang ia bangun sebelum matinya.”
Sebagai tambahan ilustrasi, ada kisah menarik yang bisa diambil hikmahnya. Ada seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja ikut seorang pemborong. Iapun bermaksud mengajukan pensiun karena ingin menghabiskan sisa umurnya bersama keluarganya. Si Pemborong berkata, “Saya kabulkan permohonan pensiun Anda, tapi dengan satu syarat; kamu bangun dahulu satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun.” Si tukang bangunan menyetujui dan segera  membangunnya. Karena kejar tayang, iapun mengerjakannya asal-asalan, serba cepat dan asal jadi.
Selesai sudah bangunan terakhir yg ia buat. Ia serahkan kunci rumah kepada sang Pemborong. Sang Pemborong pun tersenyum dan berkata, “Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena kamu telah lama bekerja bersamaku.” Terkejutlah tukang bangunan itu, dan ada rasa sesal di hati, kenapa rumah yang akhirnya hendak ia tempati itu dikerjakannya secara asal-asalan.
Faedah dari kisah ini, bahwa ibadah yang kita kerjakan di dunia ini, tak lain adalah ‘rumah’ yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia. Selayaknya kita bangun dengan perencanan yang baik, dengan kualitas ‘bahan’ yang baik dan penuh kesungguhan dalam pengerjaan. Jangan sampai kelak kita menyesal kerena kita menempati rumah buruk yang kita bangun sendiri ketika di dunia. Wallahul muwaffiq.






AGAR TAK SEPI SENDIRI DIBARZAKH NANTI



Khalifah Abdul Malik bin Marwan telah banyak menaklukkan negeri-negeri  di berbagai penjuru negeri dan menjadikannya daulah islamiah pada zamannya. Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq menyebutkan dari Abu Mashar yang mengisahkan detik-detik akhir kehidupan sang Khalifah. Tatkala beliau sakit menjelang kematiannya ditanya, “Apa yang Anda rasakan wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Aku mendapatkan diriku sebagaimana yang Allah firmankan:
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ
“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.” (QS. Al-An’âm: 94)
Lalu beliau mensifati kenikmatan dunia, “Sesungguhnya selama apapun kenikmatan dunia, tetap saja singkat, dan sebesar apapun kenikmatan di dalamnya, tetap saja hina.”

Tanpa Keluarga dan Tanpa Harta

Apa yang dirasakan oleh Khalifah Abdul Malik, mewakili setiap insan. Manusia akan menghadap Allah sendiri-sendiri. Bermula ketika seseorang menemui ajalnya, maka keluarga, teman dan sebagian hartanya  hanya menyertai sampai ke tempat di mana ia akan dikuburkan. Keluarga yang disayanginya tak satupun sudi menyertainya. Mereka juga tak ingin jenazah itu tetap tinggal bersama mereka. Meskipun dahulu di dunia ia telah bekerja, mencari nafkah dan mencurahkan kasih sayangnya kepada mereka. Harta yang dahulu dikumpulkannya pun akan ditinggalkan untuk ahli warisnya. Sebagaimana ia dilahirkan tidak membawa apa-apa, seperti itu pula kelak ia dimasukkan ke lahatnya. Jabatan yang diembannya akan diganti orang lain. Tak ada yang tersisa untuknya selain tanggung jawab yang akan dilaporkan kelak di akhirat. Setinggi apapun  kedudukan, tatkala mati akan sendirian, tak ada lagi karyawan atau bawahan. Firman Allah, “dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.” (QS. al-An’am: 94)
Mari sejenak kita mengandai, posisi kita sebagai orang yang mati itu. Karena toh, kita juga akan mengalaminya. Pernahkah kita bayangkan, bagaimana kelak kita menjalani hari-hari selama di alam kubur. Tinggal seorang diri, di tempat yang sangat sempit dan gelap. Andaikan kita terjebak di dalam lift sehari saja, kesedihan menyiksa hati. Lantas bagaimana nasib seseorang yang terkurung di liang lahad hingga hari dibangkitkannya ia dari kuburnya?
Betapa banyak insan yang terasing di kegelapan kubur. Hanya berkawan siksa dan amal buruknya sewaktu di dunia. Bayangkan hidup tanpa tersedianya makanan, tak ada cahaya, ruang sempit dan susah untuk bergerak, bahkan untuk sekedar bernafas. Tak ada hiburan yang mengurangi rasa galau, ketakutan dan kepedihan. Betapa banyak dari manusia yang ingin keluar dari tempat yang sempit itu. Hanya saja, keinginannya untuk kembali ke dunia bukan untuk melanjutkan bersenang-senang, atau mengejar angan-angan yang belum tersampaikan. Tapi, untuk menjalani kehidupan baru yang akan diisi dengan amal shaliah. Walhasil, semua itu hanya angan-angan belaka. Firman Allah,
 “Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia, agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka.” (QS al-Mukminun: 99-100)
Ada pembatas abadi antara dirinya dengan dunia yang tak mungkin bisa kembali, dan ada batas penantian hingga hari di mana ia akan dibangkitkan.

Jadikan Amal Shalih Sebagai Kekasih

Adalah Hatim bin al-Asham, memiliki resep jitu untuk menghindari kesepian dan kesempitan kubur. Beliau mengatakan, “Aku perhatikan perilaku manusia, aku dapatkan masing-masing memilikikekasih di dunia. Namun tatkala ia masuk ke dalam kubur, sang kekasih tak turut serta. Maka aku jadikan amal shalih sebagai kekasih, agar ia bisa menemaniku saat masuk ke dalam kubur.”
Alangkah cerdas sikap beliau. Beliau yakin akan kabar dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam,
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Mayit itu diikuti oleh tiga golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Hanya amal kebaikan yang bisa memakmurkan hidupnya di alam penantian. Makin banyak amal kebaikan dilakukan di dunia, makin banyak teman dan hiburan di dalam kubur. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa setelah seorang mukmin bisa menjawab pertanyaan malaikat penjaga kubur, maka ia didatangi oleh teman yang berwajah tampan, wangi aromanya, bagus bajunya seraya menyapa, “Berbahagialah dengan karunia dari Allah dan kenikmatan yang kekal.” Lalu di mayit menjawab, “Dan Anda, semoga Allah membahagiakan Anda dengan kebaikan, siapakah Anda?” Tamu itu menjawab,
أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، كُنْتَ وَاللهِ سَرِيعًا فِى طَاعَةِ اللهِ، بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
“Aku adalah amalmu yang shalih, demi Allah, Anda adalah orang yang bersegera dalam mentaati Allah, lamban untuk bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.” (HR Ahmad)
Kuburnya akan dilapangkan sejauh mat a memandang, cahaya memenuhi ruangan, dan akan disediakan ranjang dari jannah.
Maka alangkah tepat bahasa yang dipilih oleh Hatim, “Aku jadikan amal shalih sebagai kekasih.” Amal shalih memang menjadi kekasih sejati, yang setia menyertai kita hingga akhir perjalanan hingga kita meraih kenikmatan abadi. Hanya saja, menjadikannya sebagai kekasih artinya mencintai amal shalih, betah bertemu dan menyertainya, juga selalu merindukannya. Semoga Allah jadikan kecintaan kita kepada ketaatan, dan benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, aamiin.






INI ADALAH KARUNIA DARI RABBKU SEBAGAI  UJIAN BAGIKU



“Berkatalah Sulaiman, “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (QS. An-Naml: 40)
Tak ada manusia yang diberi karunia dunia lebih hebat dari apa yang diberikan kepada Nabi Sulaiman alaihis salam. Beliau menjadi raja diraja manusia, rakyatnya meliputi manusia, jin, burung dan hewan-hewan lainnya. Angin juga ditundukkan Allah untuk mengikuti perintahnya. Allah mengabulkan permohonannya,
“Rabbi, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya.” (QS Shad 35 – 36)
Istana beliau megah dan indah luar biasa. Imam al-Qurthubi menyebutkan riwayat dari Wahab bin Munabih, bahwa istana beliau seribu lantai tingginya, bagian bawahnya besi dan bagian atasnya terbuat dari kaca. (Tafsir al-Qurthubi 15/205)
Tidak Angkuh, Meski Kaya dan Bertahta
Siapa lagi yang memiliki kejayaan duniawi melebih beliau alaihis salam Pun begitu, beliau menyadari posisi dirinya sebagai hamba dari Penciptanya. Beliau tidak merasa jumawa dengan kekuasaan dan kekayaannya. Tak ada ucapan yang lebih bagus untuk diungkapkan oleh orang yang diberi limpahan dunia selain ucapan beliau,
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (An-Naml: 40)
Begituah seharusnya akhlak seorang mukmin, Dia tidak mengklaim apa yang disandangnya sebagai indikasi kekuatan, kepintaran, keberaniannya, dan semisalnya. Bandingkanlah dengan sikap dan ucapan Qarun yang menyombongkan kemampuannya, seperti yang Allah l kisahkan:
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku’.” (QS. Al-Qashash: 78)
Memang hartanya luar biasa banyaknya, karena kunci gudangnya hanya bisa diangkut oleh 40 bighal, atau 60 orang yang kuat-kuat. Namun tetap saja nilainya tidak seberapa besar bila dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh Sulaiman alaihis salam. Sementara sikapnya begitu angkuh kepada Rabbnya. Lebih fatal lagi, tidak sedikit manusia kini yang lebih tak tahu diri. Kekayaan mereka hanya ‘secuil’ saja dibandingkan dengan kekayaan Qarun, tapi ucapan dan kesombongannya laksana Qarun atau bahkan lebih angkuh lagi. Mereka berkata, “Harta ini saya peroleh semata-mata karena hasil kerja keras dan jerih payah saya sendiri!”
Padahal Allah Ta’ala berfirman,
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
Baru Ujian, Belum Indikasi Kesuksesan
Banyak manusia menilai, bahwa kekuasaan, jabatan, kekayaan maupun popularitas itu adalah indikasi kesuksesan. Padahal, hakikatnya pemberian itu baru sebatas ujian, belum menunjukkan hasil. Serupa dengan siswa sekolah yang disodori soal untuk dikerjakan, tergantung bagaimana ia mengerjakan, baru kemudian bisa dinilai, adakah ia sukses dalam ujian, ataukah gagal dalam mengerjakan. Maka alangkah aneh, jika ada siswa telah mengklaim atau dikalaim telah sukses sementara belum terbukti bagaimana ia menjawab soal yang diajukan.
Benar, hidup dengan berbagai corak dan warnanya adalah ujian. Senang atau susah, kaya atau miskin, menjadi pejabat atau rakyat, terkenal ataupun terasing dari keramaian orang. Sementara orang sepakat bahwa seseorang dianggap tengah menghadapi ujian saat ditimpa musibah ataupun kegagalan dalam meraih tujuan. Namun adakah pernah terlontar dari lisan kita, bahwa si Fulan sedang diuji, saat ia mendapat kucuran rezki dan kemudahan urusan? Padahal, keduanya sama-sama ujian.
Ujian kenikmatan memang enak, tapi ini tidak berarti ringan bila dilihat dari hasil yang diinginkan. Bahkan banyak di antara manusia yang lulus ujian kesabaran saat ditimpa kesusahan dan kesulitan, namun ia gagal saat diuji dengan kekayaan dan kemudahan urusan. Dengan tawadhu’nya, sahabat Abdurrahman bin ’Auf  radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Dahulu kami diuji bersama Rasulullah n dengan kesengsaraan, maka kami (mampu) bersabar. Kemudian setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggal kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak mampu bersabar.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Di saat kran dunia dibuka lebar-lebar, manusia berlomba-lomba untuk memperebutkannya. Mereka fokus mengejar dunia, lalu lupa kepada Rabbnya, Dzat yang telah menganugerahkan rizki kepada mereka. Hal mana Nabi telah memberikan peringatan kepada umatnya,
مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم
“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan (terjadi) atas kalian. Tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian. Lalu kalian akan saling berlomba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka telah berlomba untuk memperebutkannya. Hingga (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka sikap paling bijak merespon ujian kenikmatan adalah dengan dua hal seperti yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman alaihissalam. Pertama, mengakui bahwa segala yang kita sandang adalah semata-mata karunia dari Allah, seperti perkataan beliau, “haadza min fadhli Rabbi”, ini adalah karunia dari Rabbku. Sedangkan yang kedua adalah menganggapnya sebagai ujian, yakni dari sisi bagaimana seseorang mengelola karunia itu. Seperti yang diungkapkan oleh beliau, “liyabluwani a asykur an akfur”, untuk mengujiku apakah aku termasuk hamba yang bersyukur ataukah kufur.” Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang yang bersyukur, yang menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah, Aamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar