Selasa, 08 Mei 2012

KAJIAN



Pilih Sahabat yang Menjadi Pelecut Semangat


Manusia mudah dipengaruhi oleh lingkungannya, utamanya teman pergaulannya. Karenanya Nabi bersabda, ”al-mar’u ’alaa diini khaliilihi”, (keadaan) seseorang itu tergantung agama temannya. Karakter ini tidak selalu berdampak negatif. Tergantung bagaimana cara dan kepada siapa seseorang bergaul. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengumpamakan teman pergaulan laksana makanan. Di antara makanan ada yang mengandung racun, membahayakan tubuh jika dikonsumsi. Ada pula yang menjadi obat, diperlukan di saat sakit, tapi ditinggalkan dikala sehat. Dan ada pula makanan bergizi, yang secara rutin layak untuk dikonsumsi.
Begitulah halnya dengan sahabat. Pertama ada tipe ’racun’. Bergaul dengannya hanya mendatangkan kerugian. Tertular kebiasaan buruk, terpadam semangat untuk taat atau minimal ikut tercemar nama baiknya. Seperti bergaul dengan para pemalas yang akan menularkan kemalasan. Atau kepada para penyeru kesesatan yang akan mewariskan kesesatan. Juga orang-orang fajir yang cepat atau lambat akan menyeret teman-temannya kepada dosa dan kejahatan.
Yang kedua adalah teman yang diumpamakan obat yang diperlukan dikala sakit. Seperti para relasi yang berhubungan dengan keperluan ma’isyah dan jual beli. Bermuamalah dengan mereka bisa menutup sisi kekurangan duniawi kita. Namun karena fungsinya sebagai obat, maka takaran atau dosisnya pun harus tepat, tidak boleh berlebihan dan melampaui batas yang justru akan menimbulkan madharat.
Teman Sejati Ibarat Nutrisi
Yang paling bermanfaat adalah teman yang diumpamakan layaknya nutrisi bergizi. Jika dikonsumsi secara teratur, kondisi tubuh menjadi fit, kekuatan tubuh terjaga dan seluruh fungsi tubuh berjalan secara sehat. Teman yang baik akan menginspirasi banyak kebaikan, mengingatkan disaat khilaf dan menguatkan di saat lemah. Teman semisal ini sesuai dengan apa yang diumpamakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai penjual minyak wangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits shahih bersabda,
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
”Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya engkau akan mencium aroma wangi darinya. Adapun bersama tukang pandai besi, bajumu bisa terbakar karena apinya, atau setidaknya engkau pasti akan mendapati bau tak sedap.” (HR Muslim)
Pertemanan dengan orang-orang yang baik dan shalih akan menjadi pupuk bagi keimanan kita. Pertemuan dengan mereka akan menyegarkan dan menguatkan keyakinan kita. Nasihat-nasihat mereka ibarat siraman air di tanah yang tandus. Betapa sangat dibutuhkan teman seperti ini, apalagi di saat menghadapi pilihan yang sulit. Seperti yang pernah dialami Imam Ahmad bin Hambal saat mendapatkan intimidasi penguasa lantaran teguh dengan pendapatnya, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk.
Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lam an-Nubala’ menuliskan penuturan Abu Ja’far al-Anbari,
”Telah sampai berita kepadaku bahwa Imam Ahmad ditangkap oleh al-Ma’mun. Maka aku segera menyeberangi sungai Eufrat. Setelah tiba, aku dapati Imam Ahmad di tempatnya dan kuucapkan salam kepadanya. Beliau berkata, ”Wahai Abu Ja’far, engkau telah menyusahkan dirimu.” Lalu aku berkata, ”Wahai Imam, engkau sekarang ini adalah pemimpin, dan kaum muslimin berada di  belakangmu. Jika Anda mengatakan al-Qur’an adalah makhluk, niscaya semua orang akan mengatakan hal yang sama. Dan jika Anda tetap tegas mengatakan bahwa al-Qur’an itu (Kalamulllah) bukan makhluk, maka umat akan berpendapat sama.Sementara jika Anda tidak mati dibunuh oleh penguasa, toh Anda juga akan mati dengan cara yang lain. Maka bertakwalah kepada Allah dan jangan turuti kemauan mereka.”
Mendengar nasihat ini, Imam Ahmad menangis seraya berkata, ”Masya Allah! Wahai Abu Ja’far, ulangilah nasihat Anda.” Akupun mengulanginya dan beliau kembali mengucapkan, ”Masya Allah!”Mencari
Sahabat Pelecut Semangat
Sebagaimana dalam kontek keimanan, dalam hal menjaga semangat belajar, motivasi untuk berusaha dan antusias untuk mendapatkan kemaslahatan dan cita-cita luhur, teman juga memiliki pengaruh yang besar. Selayaknya kita banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki cita-cita besar, enerjik dan teguh pendirian. Karena berteman dengan mereka menjadi energi tersendiri untuk memupuk ’iradah’ (kemauan) yang mulia dan melecut semangat untuk meraih segala hal yang bermanfaat.
Kita bisa menengok sejarah para ulama. Kesuksesan mereka ternyata banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Keulamaan Ikrimah bin Abdillah, dipengaruhi oleh ’kehebatan’ majikannya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma. Salim bin Abdullah bin Umar yang banyak terinspirasi oleh keshalihan dan kefaqihan ayahnya, Abdullah bin Umar bin Khaththab.
Jika ada keterbatasan untuk mendapatkan teman yang mampu meletupkan semangat, maka kita bisa pula mengais inspirasi dengan bergaul bersama para ulama dan tokoh sepanjang sejarah. Yakni dengan membaca sejarah dan kisah-kisah mereka, sehingga kita seakan berteman dengan mereka. Inilah yang dilakukan oleh Abdullah bin Mubarak rahimahullah, yang disebut-sebut sebagai ’amiirul mukminin fil hadiits’, pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal hadits.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita para sahabat yang bisa membantu dan menginspirasi kita meraih faedah di dunia dan akhirat










Doa Perbaikan Iman

 
“Ya Allah, perbaruilah iman dalam hatiku.”
Doa ini merupakan doa yang mengandung permohonan yang sangat penting bagi manusia. Setiap muslim pasti mencari dan berharap mendapatkanya, yang dimohonkan adalah untuk memperbaiki sekerat daging yang sangat penting dalam jasad manusia, yang Allah SWT akan menimbang dan menilai amal manusia dengan sekerat daging itu.
Maka apabila sekerat daging itu baik maka baiklah semuanya, namun bila rusak, maka rusaklah semuanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, pada setiap tubuh ada segumpal daging yang apabila baik maka baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” ( HR. Bukhari dan Musim)
Oleh sebab itu Islam menganjurkan kepada setiap muslim untuk meminta kepada Alloh perbaikan sekerat daging ini, yaitu dengan memasukkan iman yang baru ke dalam hatinya. Hal ini tidak dipintakan kepada selain Alloh, karena hanya Alloh saja lah yang menguasai hati manusia. Rasulullah SAW menjelaskan kepada sahabat yang bertanya apakah hati tidak tetap keadaannya dan bisa berbolak-balik, beliau menjawab :
مَا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ بَشَرٍ إِلَّا أَنَّ قَلْبَهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَإِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ اللَّهُ أَزَاغَهُ
“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari jemari Alloh. Jika Alloh berkekendak maka akan meneguhkan hati manusia atau  memalingkan hatinya.” (HR.Ahmad)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :
إِنَّ الْإِيْمَانَ ليَخْلَقُ فِى جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَوْبَ فَاسْأَلُوْا الله َأَنْ يُجَدّدَ الإِيْمَانَ فِى قُلُوْبِكُمْ
“Sungguh, keimanan yang ada dalam hati kalian akan usang sebagaimana usangnya baju, maka mintalah kepada Allah untuk memperbarui iman dalam hati kalian.” (HR. Thabraniy dan Hakim. Dihasankan oleh imam al Iraqiy)
Sebelum memerintahkan untuk berdoa dengan doa perbaikan iman, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memberikan perumpamaan yang membumi dan biasa dijumpai kebanyakan orang agar mudah dipahami. Yaitu usangnya baju karena sering dipakai, atau sering di cuci. Maka begitu juga dengan iman. Ia tidak akan tetap keadaannya, bisa naik dan turun. Bahkan bisa usang sebagaimana usangnya baju. Hal ini sebagaimana aqidah ahlus sunnah wal jama’ah yang menyatakan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan hamba kepada Alloh SWT dan berkurang dengan ketaatan hamba kepada syaiton.
Iman seorang muslim dapat menjadi usang dengan kemaksiatan yang dilakukan,  sedikitnya amal shaleh yang dikerjakan serta ketiadaan taubat setelah melakukan maksiat. Mu’adz bin Jabal berkata kepada sahabat yang lain ‘ijlis bina nukminu sa’atan’ marilah duduk-duduk sebentar untuk beriman kepada Allah. Hal ini tidak berarti Mu’adz RA tidak memiliki iman, tapi untuk menambah dan memperbarui keimanan kepada Allah SWT dengan berdikir kepadaNYa.
Dengan keburukan dan dosa yang selalu dikerjakan maka usanglah iman dan bertambahlah noda-noda, sehingga hati benar-benar jadi barang usang seperti hitamnya bagian panci yang selalu terkena api. Bila hati sudah hitam kelam, maka ia tidak akan mengenal kebaikan sebagai kebaikan tapi justru kebaikan disangka keburukan dan keburukan disangkanya kebaikan, nas alullah al afiyah wa qolban salimah.
Dalam doa ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menggunakan fi’il mudhari’ pada kalimat ‘an yujad dida’ yang menunjukkan sifat kontinyu dalam meminta iman yang baru, yang secara tidak langsung permintaan iman yang baru ini juga mengandung permintaan akan amal-amal shalih, keyakinan yang shahih dan dijauhkan dari syubhat dan bid’ah. Sehingga apabila seorang muslim benar aqidahnya, shalih amalnya dan jauh dari perkara syubhat dan syahwat, maka ia akan selalu memperoleh iman yang baru dalam hatinya, dan dengan iman yang baru ini selamatlah hatinya dari kerusakan.
Lafadz doa diatas memang bukanlah lafadz yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, namun tidak ada salahnya berdoa dengan menggunakan lafadz ini karena inti dari doa ini diperoleh dari perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam kepada kita untuk memohon kepada Allah supaya diperbarui iman dalam hati. Dan selama tidak ada lafadz yang khusus dari Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam maka kita boleh berdoa dengan lafadz yang semakna dengan perintah Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam diatas, kecuali jika ternyata ada lafadz yang bersumber dari Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam tentunya itu yang lebih utama dan kita pilih.









The Journey of Love



Cinta itu menyatukan hati, menyamankan jiwa. Kepadanya hati mencari dan melepaskan dahaga. Menjadikannya sumber energi, nyaris tanpa henti, untuk terus melayani. Lapang dada dan ringan langkah menjalani hari-hari. Menjadikannya penawar atas semua jeri, juga pijakan untuk setiap tindakan. Seolah semua menjadi benar jika cinta sebagai latar.
Dengan cinta seluruh saat terasa nikmat, setiap warna terasa  memesona, semua pengorbanan terasa menawan, dan segala lelah terasa megah. Rasa ini memabukkan yang karenanya seringkali menumpulkan akal. Karena dalam cinta, kepasrahan tanpa syarat menjadi niscaya untuk cita rasa terbaik dan kelezatan terdahsyat.
Badai nikmat menyapa seluruh pori-pori. Rasa angkuh pun meluruh karenanya. Dan kita berharap semuanya takkan usai, tak pernah selesai. Menjalani hidup bersama cinta selama mungkin, menjadi abadi seandainya bisa. Berdoa semoga waktu berhenti melaju. Adakah yang lebih indah dari ini?
Tapi hari-hari terus berlari tak peduli. Ia membawa kita ke kenyataan sejati, bahwa cinta bukanlah Sang Penguasa meski sebagian kita menjadi budaknya. Semuanya berubah saat perjumpaan itu tiba. Ketika tanggung jawab atas semua perbuatan diminta. Saat keadilan ditunjukkan dan kebenaran ditampakkan. Ketika kepalsuan disingkapkan, dan semua alasan kebingungan mencari rujukan.
Ketika itulah cinta ingkar atas perilakunya yang mungkar, memenangkan syahwat atas akal sehat. Para pecinta saling menghindar agar selamat dari siksa akhirat sebab cinta tanpa iman hanya melahirkan maksiat. Dan puja puji yang berubah menjadi caci maki, membuahkan permusuhan sejati. Saat itu kita akan tersadar, bahwa menghamba kepada cinta yang salah adalah sia-sia. Semua kelezatannya hanyalah semu dan palsu. Ia telah menipu nafsu!
Karena cinta, mestinya, mengalirkan keluhuran jiwa. Memberanikan si penakut, memuliakan si pengecut, mendermawankan si kedekut, dan membuat si kasar menjadi lembut. Mata air penuh vitalitas yang harus berasal dari Sang Empunya yang sebenarnya, Allah.
Ia berjalan berkelindan dengan iman mengitari kehidupan setiap insan. Membawa pesan-pesan langit membumi dalam prestasi terbaik seorang hamba, menegakkan kebenaran dan menghancurkan kemungkaran sepenuh keikhlasan.
Inilah cinta yang takkan bisa dihentikan. Karena ia membangun jembatan menuju istana surga. Membawanya menikmati buah manis penghambaan, saat semua cinta terlaknat berakhir tragis. Dan karena kita adalah hamba dari apa yang kita cintai, sudahkah kita memilihnya dengan teliti







Segala Keinginan Menjadi Kenyataan



“Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat 31-32)
Allah menghamparkan dunia di hadapan manusia, lengkap dengan berbagai kesenangan yang menghiasi dan problem yang mengisi. Banyak hal yang sesuai dengan selera nafsu manusia, namun tak sedikit pula hal yang tak mengundang hasrat dan bahkan nafsu menyangganya terasa berat. Di antara yang diminati nafsu, ada yang dilarang bagi manusia untuk menjamahnya. Dan ada pula bermacam perbuatan yang terasa berat dipandang nafsu, namun Allah perintahkan manusia melakukannya. Lalu hasil yang akan di panen manusia kelak, tergantung bagaimana ia mengendalikan nafsunya. Karena jalan menuju jannah tampak berat bagi syahwat, sementara jalan menuju neraka tampak indah dalam pandangan nafsu. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَات
”Jannah diselimuti dengan berbagai hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diselimuti dengan berbagai (hal yang disukai) syahwat.” (HR. Muslim)
Menahan Sedikit Kenikmatan
Walhamdulillah, Allah tidak mengharamkan segala hal yang sesuai dengan selera. Bahkan apa yang dihalalkan lebih banyak daripada yang diharamkan. Tak terhitung jenis makanan, hanya sedikit saja yang diharamkan. Tak terbilang pula jenis minuman, dan hanya sedikit yang dilarang. Begitupun halnya dengan buah-buahan dan berbagai kelezatan. Hingga dikenal sebuah kaidah bahwa asal segala sesuatu adalah boleh, kecuali setelah adanya keterangan yang melarang. Artinya, hal yang diperbolehkan sebenarnya lebih banyak dari larangan. Bahwa ada kesan syariat membatasi banyak hal; ini haram, itu tidak boleh, itu dilarang, atau ada kesan apa-apa serba tidak boleh, ini hanyalah efek dari kebiasaan nafsu yang ingin melampaui batas dan meminta lebih dari yang diijinkan. Sehingga ketika keinginanya bertepatan dengan apa yang dilarang syariat, seakan segala hal menjadi menjadi terlarang baginya. Padahal hakikatnya, yang halal lebih bayak dari yang diharamkan.
Maka barangiapa yang melampaui batas dari yang dihalalkan, dia telah berbuat aniaya. Dan barangsiapa mencukupkan diri dengan yang halal dan menahan diri dari yang haram, baginya kenikmatan jannah dijanjikan.
”Dan adapun orang-orang yangtakut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya jannahlah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat 40-:41)
Tatkala mereka berada di jannah, tak ada lagi keinginan yang tertahan, tiada lagi hasrat yang tak tersalurkan. Segala hal yang diinginkan menjadi wujud di hadapan, tak ada larangan, tak ada batasan dan tak ada istilah bosan. Sebagai ganti dari usahanya di dunia yang rela menahan hawa nafsunya, maka di akhirat segala permintaan akan dikabulkan. Allah berfirman,
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيم
“Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat [41]: 31-32)
Segala yang ada sesuai dengan keinginan dan selera. Baik dari sisi rupa, aroma maupun kelezatan rasanya. Ini sebagaimana firman-Nya pula,
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُون
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 71)
Sedangkan makna ”dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”, maka apapun yang diminta, akan dikabulkan.
Tercapai Segala Hasrat yang Diinginkan
Tak perlu mengemukakan banyak alasan untuk memiliki, cukup satu alasan, yakni ‘keinginan’, maka dalam sekejap saja keinginan akan menjadi kenyataan. Nabi menceritakan tentang penghuni jannah yang ingin memiliki anak,
الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِى الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِى سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِى
“Seorang mukmin apabila menginginkan anak di jannah, maka hamil, melahirkan dan (besarnya) anak wujud dalam sesaat sebagaimana yang ia inginkan.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan, “Shahih” )
Mereka tak perlu merasakan susah payahnya mengandung janin, tak mengalami beratnya kontraksi menjelang kelahiran, tidak pula ada masa penantian seperti di dunia yang kerap mendatangkan kegalauan. Semua wujud dalam sesaat seperti yang diinginkan.
Di antara penghuni jannah, ada pula yang ingin dituruti hobinya bercocok tanam, maka Allah tak menghalangi sedikitpun dari apa yang dia inginkan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Ada seorang lelaki dari penghuni jannah, minta izin kepada Rabbnya untuk bercocok tanam. Allah berfirman, “Bukankah kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Benar, hanya saja saya suka bercocok tanam,” maka dia bersegera menyemai benih dan dalam sekejap biji itu tumbuh, berbuah dan siap panen hingga seperti gunung (karena lebat buahnya). Lalu Allah berfirman,
دُونَكَ يَا ابْنَ آدَمَ فَإِنَّهُ لَا يُشْبِعُكَ شَيْءٌ
“Ambillah wahai anak Adam, sesungguhnya segalanya tidak membuatmu kekenyangan.” (HR Bukhari)
Itulah balasan bagi orang yang menyapih nafsunya di dunia, hingga di akhirat keinginannya terpenuhi secara sempurna, Allahumma inna nas’alukal jannah, wa na’udzu bika minannaar.Aamiin.









Bukan Raqib Bukan ‘Atid



(84) Kami beriman kepada para (malaikat) mulia pencatat amal. Sesungguhnya Allah menjadikan mereka sebagai penjaga kita.
Lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi Allah sudah mengetahui dan mencatat dalam Lauh Mahfuzh: berapa banyak manusia yang akan dilahirkan dan hidup di muka bumi. Allah juga mengetahui siapa saja di antara mereka yang kelak menjadi penghuni surga dan siapa yang menjadi penghuni neraka. Allah mengetahui semua perbuatan mereka—yang baik dan yang buruk—sebelum mereka mengerjakannya, bahwa mereka akan mengerjakannya.
Dengan hikmah-Nya yang hanya diketahui oleh-Nya, Allah menciptakan malaikat dari cahaya dan memerintahkan mereka untuk mengerjakan berbagai tugas khusus. Ada yang menyampaikan wahyu, ada yang mengatur rezki, ada yang mencabut nyawa, ada yang menjaga surga, ada yang menjaga neraka dan lain sebagainya. Para malaikat ini diciptakan oleh Allah dengan tabiat: melaksanakan semua yang diperintahkan-Nya dan sama sekali tidak bermaksiat kepada-Nya.
Pencatat Amal dan Penjaga Manusia
Di antara malaikat yang diciptakan oleh Allah adalah para malaikat pencatat amal yang disebut dalam al-Qur`an sebagai al-Kiram al-Katibin (yang mulia yang mencatat). Mereka disifati oleh Allah dengan sifat raqib (yang awas) dan ‘atid (yang selalu hadir). Jadi, bukannya nama mereka Raqib dan ‘Atid. Al-Qur`an tidak memberitahukan nama mereka. Rasulullah saw pun tidak memberitahukannya. Dalam hal ini, kewajiban kita adalah mengimani keberadaan mereka sebatas yang dikabarkan di dalam al-Qur`an dan hadits-hadits yang shahih. Jika ada yang mengklaim bahwa dua nama itu adalah nama mereka, ia harus mendatangkan dalil dari al-Qur`an atau hadits yang shahih.
Setiap orang dibersamai oleh empat malaikat. Di sebelah kanan, pencatat amal kebaikan; di sebelah diri pencatat amal keburukan; dan di depan dan di belakang penjaga. Dua malaikat penjaga dan dua malaikat pencatat amal. Ibnu ‘Abbas berkata, “Para malaikat ini menjaga seseorang atas perintah Allah dari sesuatu yang ada di hadapannya. Jika takdir Allah datang, mereka pun menyingkir.”
Mujahid berkata, “Setiap hamba dijaga oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk menjaganya pada waktu tidur maupun terjaga dari gangguan manusia, jin, dan binatang buas. Setiap ada sesuatu yang datang kepada si hamba, malaikat akan berseru, ‘Pergilah kamu.’ Hanya, jika sesuatu sudah dikehendaki oleh Allah, maka hal itu akan terjadi.”
Para malaikat pencatat amal ini mencatat perkataan dan perbuatan, termasuk niat. Niat adalah amal hati. Para malaikat mengetahui semua yang dilakukan oleh seorang hamba. Allah berfirman, “Mereka mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (al-Infithar: 12)
Hal ini diperkuat dengan hadits qudsi yang berbunyi,
إِذَا هَمَّ عَبْدِيْ بِسَيِّئَةٍ فَلاَ تَكْتُبُوْهَا عَلَيْهِ، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا عَلَيْهِ سَيِّئَةً، وَإِذَا هَمَّ عَبْدِيْ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا عَشْراً
“Jika hamba-Ku berhasrat untuk melakukan suatu keburukan, janganlah kalian menulisnya. Jika ia melakukannya, kalian tulislah satu keburukan atasnya. Jika hamba-Ku berhasrat untuk melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, tulislah satu kebaikan baginya. Jika dia melakukannya, tulislah sepuluh kebaikan (untuknya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalil dari al-Qur`an
Di antara ayat-ayat yang menyebut tentang malaikat pencatat amal adalah:
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80)
“Padahal sesungguhnya ada (malaikat-malaikat) yang menjaga kalian. Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar: 10-12)
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Ra’ad: 11)
“(Yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 17-18)
Tentang ayat di atas, Mujahid berkata, “Ada beberapa malaikat bersama setiap orang. Malaikat yang berada di kanannya yang mencatat kebaikan, dan malaikat yang ada di kirinya yang mencatat keburukan.”
Ibnu Juraij berkata, “Jika seorang hamba duduk, maka salah satu dari malaikat tersebut berada di sebelah kanannya, dan yang lainnya di sebelah kiri. Jika hamba tersebut berjalan, maka salah satu malaikat berada di depannya, yang lain di belakangnya. Jika hamba tersebut tidur, maka salah satu malaikat di atas kepalanya, dan yang lainnya di kakinya.”
Dalil dari al-Hadits
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurayrah ra bahwa Nabi saw bersabda,
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

“Malaikat malam dan siang bergiliran terhadap kalian. Mereka bertemu saat shalat Shubuh dan shalat ‘Ashar. Maka para malaikat yang membersamai kalian di malam hari naik menghadap Allah. Allah menanyai mereka—padahal Allah Mahatahu tentang mereka, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat kalian meninggalkan mereka?’ Mereka menjawab, ‘Kami mendatangi mereka saat mereka mengerjakan shalat, dan kami meninggalkan mereka pun saat mereka mengerjakannya.’.”
Mengenai hadits ini, Ibnu Abdul Barr berkata, “Yang dimaksud dengan ta’aqub adalah pergantian antara seseorang, atau sekelompok dengan kelompok lainnya, sebagaimana tentara yang yang diutus oleh pemimpin diizinkan untuk pulang setelah datang kelompok tentara lainnya yang menggantikan posisinya.”
Sedangkan mengenai malaikat yang turun dan naik bergantian tersebut, para ulama berbeda pendapat, apakah itu malaikat penjaga atau bukan. Pendapat yang mengatakan bahwa mereka adalah malaikat penjaga dikutip dari al-Qadhi ‘Iyadh dan jumhur ulama. Sedangkan al-Qurthubi berkata, “Yang lebih kuat menurutku adalah mereka bukan malaikat penjaga.”
Imam Muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Rasulullah saw bersabda,
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الْجِنِّ قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَإِيَّايَ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Setiap orang dari kalian telah dibagi qarinnya dari kalangan jin dan qarinnya dari kalangan malaikat.” Para sahabat bertanya, “Termasuk dirimu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawa, “Termasuk diriku. Hanya, Allah telah membantuku untuk menundukkannya sehingga dia pun tunduk (kepadaku) dan tidak memerintahkanku kecuali kepada kebaikan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ رَبِّ ذَاكَ عَبْدُكَ يُرِيدُ أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً وَهُوَ أَبْصَرُ بِهِ فَقَالَ ارْقُبُوهُ فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِمِثْلِهَا وَإِنْ تَرَكَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً إِنَّمَا تَرَكَهَا مِنْ جَرَّايَ
“Malaikat berkata, ‘Duhai Rabb-ku, itu ada hamba-Mu yang ingin berbuat maksiat. Allah Mahatahu akan hal itu. Allah berfirman, “Awasilah dia! Jika dia melakukannya, tulislah apa adanya. Namun jika dia meninggalkannya, tulislah satu kebaikan untuknya. Sesungguhnya ia meninggalkannya karena takut kepada-Ku.” (HR. Ahmad)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan beliau nyatakan sebagai hadits dha’if, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hindarilah bertelanjang bulat! Sesungguhnya bersama kalian ada (malaikat) yang tidak pernah meninggalkan kalian kecuali pada waktu buang air besar dan berjimak. Maka, malulah kepada mereka dan muliakanlah mereka.”
Wallahu a’lam. 










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar