Selasa, 08 Mei 2012

oase


83 MIL MENUJU CINTA-NYA



Aku tidak pernah menyangka, suatu saat, aku akan mengalami perjalanan ruhiyah yang sangat berkesan sekali dalam kehidupanku. Siapa sangka, aku pun bisa melakukan perjalanan jauh, 83 mil, di sebuah negeri yang baru saja kuinjak. Bayangkan! 83 mil hanya berdua saja dengan seorang bayi mungil menuju belantara Tokyo. Subhanallahu. Jika teringat itu semua, aku semakin yakin, pertolongan Allah amatlah dekat.
Saat itu musim panas tahun 2002, aku diboyong oleh suamiku untuk mendampinginya belajar di negeri Sakura. Awalnya aku pesimis, apakah nanti aku akan bisa beradaptasi dengan cuaca, dengan orang jepang, dengan kebudayaannya, dengan bahasanya dan segala tetek bengek yang dalam bayanganku sungguh rumit sekali. Belum lagi kekhawatiranku akan perjalanan tarbiyahku. Apakah ada teman yang akan menjadi teman dan guru spiritualku di negeri matahari terbit ini.
Sebelum berangkat ke Jepang, aku coba mencari kontak teman-teman yang berasal dari Bogor, kota kelahiranku. Alhamdulillah aku terhubung dengan seorang Ustad yang sudah lebih dahulu tinggal di sana. Ustad Ari namanya. Aku coba kontak beliau lewat email dan Alhamdulillah beliau cepat sekali merespon emailku. Beliau berjanji akan mencarikan aku teman di daerah Tokyo. Wah, dimana tuh? Aku pun segera menghubungi suamiku di Utsunomiya. Suamiku sudah terlebih dahulu pergi ke Jepang dan aku tanyakan jarak dari Utsunomiya, tempatku tinggal nanti menuju Tokyo. 134 KM, kurang lebih jarak dari Bogor ke Bandung lah, katanya. Aku semakin dag-dig-dug, apakah aku mampu melakukan perjalanan dari rumahku ke Tokyo?
Tiba di Utsunomiya, suamiku mengajak berkeliling. Subhanallahu, aku takjub sekali dengan keadaan negara ini. Begitu bersih, rapi dan teratur. Aku pun dikenalkan dengan tetanggaku, keluarga Indonesia juga. Kami menempati apartemen yang kebetulan adalah apartemen yang di huni oleh berbagai keluarga dari Negara yang berbeda. Hanya seorang tetangga kami yang berkebangsaan Jepang. Selebihnya adalah dari Korea, China, Rusia, Bangladesh, Pakistan dan Malaysia.
Aku bersyukur sekali karena tetanggaku ada yang dari negara Muslim juga, minimal ada yang bisa mengajari aku apa saja makanan yang tidak halal. Belakangan, setelah berinteraksi selama 1 tahun,  setiap pekan kami mengadakan pengajian tafsir Al Qur’an, yang menjadi tutornya sister dari Yordania.
Sebulan sudah aku tinggal di Jepang, tetapi aku masih juga belum mendapat kontak dari teman yang direkomendasikan oleh ustad Ari. Telpon seluler yang diberikan suamiku padaku pun tidak ada tanda-tanda akan berdering untukku. Aku pasrah, karena benar-benar telah putus hubungan dengan teman-teman di Bogor. Aku pun belum bisa berinteraksi lewat internet karena kami belum memiliki perangkat fix phone di rumah.
Akhir musim panas, teman suami berkumpul di rumah. Mereka datang dari berbagai kota di daerah Kanto. Alhamdulillah diantara mereka ada yang membawa isteri dan anak-anaknya. Aku senang sekali, karena sudah lama aku tidak bertemu dengan teman Indonesia yang lain kecuali tetangga satu-satunya di apartemenku. Aku serap banyak cerita aktifitasnya di Jepang bersama muslimah dari Indonesia. Ooh, ternyata muslimah Indonesia di Jepang banyak juga ya dan aktif semua. Subhanallahu. Ada iri dalam diri, karena aku tinggal di kota kecil, tidak banyak orang Indonesia yang bersekolah di sana. Aktifitasku hanya di rumah saja, berbeda dengan mereka yang sudah sering bertemu dalam forum Ummahat Tokyo, baik milis maupun kopdar.
Setelah pertemuan itu, perasaan kerinduan akan bertemu dengan saudara-saudara muslimah dari Indonesia semakin besar. Keindahan dan keteraturan hidup di Jepang memang memanjakan siapa saja yang tinggal di sana. Tapi ada yang kurang dalam hidupku. Aku tidak ingin ruhiyahku menjadi kering karena tidak pernah disentuh dengan kajian-kajian Islam yang kerap aku dapatkan setiap sepekan sekali.
Apalagi, tinggal di negeri minoritas ini, tidak ada adzan, tidak ada bedug yang di tabuh bertalu-talu di masjid. Jangankan bedug, masjid pun tidak ada di kota kecil ini. Adanya mushola yang sebetulnya apartemen seorang teman dari Malaysia yang di sewa dan di sulap menjadi mushola. Wahai, rinduku semakin membuncah.
Sehari-hari aku lanjutkan aktifitas bersama anak pertamaku yang sedang lucu-lucunya. Akhirnya, karena aku tidak tahan lagi, di awal musim gugur aku beranikan diri untuk menghubungi langsung ibu yang ada di dalam catatan harianku. Ibu yang direkomendasikan oleh ustad Ari. Aku belum pernah menelepon dari keitai pemberian suamiku, “Semoga tidak salah sambung.” doaku sebelum mulai memencet tuts telepon.
Terdengar suara telepon menunggu diangkat. 1, 2, 3  menit, tidak ada yang mengangkat. Kututup telepon, khawatir salah sambung. Kuamati dengan seksama urutan nomor-nomor dalam buku notes batikku. “Betul kok! Hmm, apa yang salah ya,” gumamku. Dringggg.dringggg… tiba-tiba keitaiku berbunyi nyaring. Segera kulihat nomor yang tertera di layar telepon, aku pun tersenyum riang. “Hore, ibu Salimah!” sorakku diam-diam.
“Hallo, moshi-moshi, assalamu’alaikum.” Sapa suara diseberang sana. Kuatur nafas karena grogi dan segera menjawab salamnya.
“Wa’alaikumsalam.” Jawabku, kikuk. “Saya Asma bu, dari Utsunomiya,” imbuhku. Kutunggu respon beliau. “Ibu Salimah?” tanyaku takut salah.
“Iya, ooohh, mba Asma, apa kabar!” Suaranya terdengar merdu di telingaku. “Afwan ya. Saya sudah diberitahu ustad, cuma catatan nomor teleponnya hilang. Rencananya saya mau minta lagi ke Ustad, itu lho, lupaaa terus. Afwan ya. Untung mba telepon saya.”
“Alhamdulillah, engga apa-apa Ibu,” jawabku sambil tersenyum bahagia. Kami pun mengobrol lewat telepon bagaikan kawan lama yang bertemu kembali. Subhanallahu. Ikatan hati itu mulai tersambung seiring dimulainya musim gugur tahun itu.
Petualangan pun di mulai. Petualangan menuju cinta-Nya. Perjalanan pertamaku adalah rumah teman baruku yang berada di Nippori, Tokyo. Malamnya, suami mententir aku cara ke Tokyo. Memprint denah rumah, jadwal kereta, dan jadwal bus. Alhamdulillah transportasi di sana sangat mudah sekali karena jadwal bisa di akses dimana saja. Mereka juga tepat waktu, sehingga kita tidak akan ketinggalan, asalkan tepat waktu.
Berangkat ba’da subuh, pulang menjelang tengah malam. Aku tempuh jarak 134 km atau 83 mil hanya berdua dengan putri pertamaku yang belum genap setahun. Perjalanan pertamaku ke Tokyo dimulailah. Suami hanya mengantarkanku sampai stasiun kereta terdekat dari rumah kami. “Ummi harus belajar jalan sendiri ya, karena pasti nanti-nanti pun akan begini terus.” Kata suamiku.
 Dia ajari aku cara membeli karcis di mesin, mengantri bersama-sama orang Jepang lainnya. Mesin yang ajaib. Hanya dengan menekan tombol-tombol tertentu maka akan keluarlah karcis yang kita tuju, dikasih kembaliannya lagi. Aku masukan 2000 yen, maka akan dikembalikan 110 sen, tidak kurang dan tidak lebih.
Aku naik kereta Utsunomiya Line menuju Tokyo dan berganti Yamanote Line setelah sampai di Akabane Stasiun. Alhamdulillah perjalanan pertamaku lancar. Sempat kebingungan juga di daerah Nippori, karena tempat keluarnya ada dua arah. Setelah tanya sana-sini, akhirnya bisa sampai juga ke halte bis di depan stasiun. Selalu berdecak kagum pada keteraturan orang Jepang. Mereka mengantri dengan rapi selama menunggu bis. Aku pun mengekor di belakang mereka.
Sebelum naik kereta, aku yakinkan diri dengan bertanya arah perjalanan bis yang aku tumpangi. Menurut rute yang dikirimkan lewat email, benar nomor bisnya, tetapi siapa tahu kan? Dengan terbata-bata, aku tanya kepada supir bisnya, dia pun mengangguk. Aman.
Di dalam bis, aku pun mengobrol dengan teman sebangku. Seorang ibu muda dengan anak yang masih bayi tertidur di babycar di sampingnya. Mbak Sofi namanya. Dia menyapaku dengan ramah. Kami pun mulai asyik mengobrol. Setelah ngobrol ngaler-ngidul, teman baruku ini ternyata menuju tempat yang sama. Subhanallahu. Aku pun berseru senang, akhirnya aku tidak akan cemas tersesat di tempat yang baru saja aku datangi.
Sampai di tempat tujuan, sebuah apartemen yang tingginya 10 lantai berdiri kokoh di depanku. Apartemennya ibu Indah. Berkali-kali aku berdecak kagum. Lingkungan apartemen yang asri dan nyaman. Letaknya dekat dengan jalan tol. Kami pun berjalan menuju rumah ibu Indah yang terletak di lantai 4.
Kami ucapkan salam seraya memencet bel. Seraut wajah keibuan muncul dari balik pintu dan menyambut kami dengan penuh keramahan.
“Eh, ini pasti mbak Asma yah…Alhamdulillah sampai juga akhirnya.” Sambutnya mengajakku masuk ke dalam. Di sana sudah menunggu beberapa ibu dengan wajah yang tidak kalah teduh dan menyenangkan. Termasuk Ibu Salimah. Beliau dari Sendai naik Shinkansen dengan mengajak 3 orang putra putrinya, seorang diri. Subhanallah. Semakin kagumlah aku pada mereka. Mereka menyalamiku satu persatu sambil berpelukan, bagaikan menyambut seorang sahabat yang baru kembali dari perjalanan yang jauh. Aku merasakan kehangatan dan kerinduan.
Begitu indah perjalananku hari itu. Lelah, penatku tidak terasa karena pertemuan yang indah bersama mereka. Rasa was-was tidak sampai, berganti dengan kebahagiaan. Kebahagiaan bertemu dengan saudara-saudaraku yang akhirnya  mengisi hari-hatiku sampai hari ini.
Syukur alhamdulillah, perjalanan 83 mil menuju cinta-Nya akhirnya berhasil aku lewati. Aku pun menemukan kembali oase yang akan menyejukan  ruhiyahku, pembersih nodaku dan pengingatku ketika lalai. Mereka pun menjadi penyemangatku dalam fastabiqul khairat di bumi minoritas, negeri Sakura. Allah takdirkan aku bergabung dengan ummahat-ummahat yang hebat yang melahirkan sebuah forum silaturahim muslimah di Jepang. Aku semakin yakin, pertolongan Allah sangat dekat kepada orang-orang yang saling mencintai karena Allah dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Ya, Allah, kekalkanlah cintanya.#







MENJADI BINTANG DIATAS GELOMBANG

 
Permasalahan, selama kita hidup akan terus ada, manusia terus dalam keadaan merugi. Bahkan tanda dari manusia itu hidup memang adanya masalah.  Anak kecil ABG sampai remaja, mengeluh karena ini itu selalu dilarang, setelah menikah problema pun bertambah. Suami harus kerja mencari nafkah, Istri harus mengandung harus melayani suami
Wanita, menikah, atau menjanda juga punya masalah. Mereka yang bujang atau melajang pun ada masalah. Menjadi politisi, pedagang, sopir atau apa pun profesinya selalu ada risiko, selalu ada masalah.
“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran,” (QS al Ashr [103]: 1-3)

Jadi Manusia memang tidak bisa menghindari dari masalah. Dia akan terus bertemu dengan masalah. Tinggal bagaimana dia menghadapi masalah itu sendiri. Mereka yang sukses mereka yang bisa mengatasi masalah. Kesuksesan selalu ada bagi mereka yang mampu mengatasi kesulitan.
Mereka yang berhasil meraih cita-cita bukanlah mereka yang memiliki waktu lebih dari yang tersedia. Karena Allah memberi udara dan waktu yang sama. Semua diberi kesempatan yang sama.  
***
Wahai insan, ketika masalah di bumi terus menghimpit maka naiklah ke ketinggian di sana Anda akan melihat jalan keluar. Ibarat peta, dari selembar kertas peta, kita bisa melihat dari atas dan keluar dari jalan kesesatan dengan cepat.
Betapa pun ombak meninggi dan badai sekuatnya menghantam, kalau Anda berada di atasnya akan terasa aman. Anda tidak akan masuk kegulungan ombak. Setinggi apa pun masalah, sekuat apa pun hantaman cobaan mendera, kala Anda tetap bersama yang Maha Tinggi,  Anda tidak akan tergulung oleh ombak.
Bangunlah di malam hari, tataplah langit. Kalau cuaca cerah Anda akan melihat benda langit yang bersinar kelap-kelip. Segeralah mohon ampun pada yang Maha Tinggi,  teruslah Anda berada di ketinggian. Jangan sampai Anda jatuh oleh problema Anda. Teruslah berada di maqam yang lebih tinggi dari masalah Anda sendiri, sehingga Anda-lah yang mengendalikan masalah. Bukan Anda yang tersungkur oleh ‘masalah’. 
Maka jadilah bintang di atas gelombang.






SUDUT PANDANG


Meski perjalanan menuju tempat yang sama, tapi menggunakan kendaraan yang berbeda, kita akan merasakan suasana yang berbeda.
Cobalah Anda pergi ke tempat yang rutin Anda kunjungi, seperti kantor, pasar, sekolah atau kampus. Sekali waktu gunakan kendaraan yang berbeda. Waktu Anda berjalan kaki, akan terasa perjalanan menjadi begitu jauh dan melelahkan. Mungkin juga ada perasaan minder, karena yang lain sudah berada di kendaraan mewah.
Dari jalan kaki, meningkat ke sepeda. Wah tentu perjalanan lebih cepat dari jalan kaki. Tapi, Anda harus meningkatkan kewaspadaan. Anda tak perlu membawa surat dokumen kendaraan. Sedikit bebas memang karena bisa melewati rambu-rambu lalu lintas. Tapi, pemandangan menjadi sedikti lain dari ketika berjalan kaki. Serasa semua bergerak terlalu cepat. Dan ANda merasa bising karena suara knalpot atau klakson kendaraan yang menyalip. Baik jalan kaki atau Naik sepeda ontel —dibandingkan dengan kendaraan bermesin— Serasa ada jarak, tak hanya menyangkut kilometer, tapi juga status.
Ketika naik motor, mereka yang berjalan kaki dan sepeda begitu mudah Anda tinggalkan. Dari kaca helm, Anda melihat mobil yang berbaris macet melewati begitu saja mobil yang berbaris macet.Kalau tidak hujan, pengendara motor memang serasa menjadi raja di jalanan. Kalau mobil itu menghalangi ANda akan memaki, “Orang kaya kok jalannya gak tau aturan, Gak berpendidikan, ngalah dong?”  
Begitu Anda memegang stir mobil, melihat pejalan kaki dan sepeda serasa dari peradaban yang lain. Di kabin mobil yang ber- AC dan wangi, tak da keringat yang mengalir, sejuk. Ketika macet pun Anda bisa berdamai dengan kemacetan. Malu rasanya serobot sana sini. Ada perasaan eksklusif dan melihat keluar jendela seperti merasa lebih dari mereka yang mengendarai, sepeda ontel, motor atau jalan kaki.
Seterusnya Anda bisa bandingkan, apa yang Anda lihat dari kaca Pesawat atau kapal laut.  
Di tempat parkiran pun Anda akan dibedakan berdasarkan kendaraan. Plus pelayanan dari sebuah kantor pun akan dilihat dari kendaraan apa yang Anda pakai. Terus Anda bertanya, siapa yang membuat aturan seperti ini? Mengapa status manusia dibedakan dari kendaraannya? Siapa bilang yang naik sepeda ontel itu hina dan yang naik mobil itu mulya?
Sudut pandang itulah yang membedakannya. Benda yang sama dipandang dari sisi yang sama, bisa mengubah kesimpulan kita akan benda itu. Seperti seorang wasit sepakbola yang menghukum pemain. Dia melihat seorang pemain melakukan pelanggaran. Tapi, pemain lain yang melihat dari arah yang berlawanan melihat itu bukan pelanggaran. Maka terjadilah protes.
Maka bertemanlah dengan orang berilmu. Mintalah nasihat pada orang yang berpandangn luas. Dengan orang yang telah berjalan lebih dulu di depan ANda. Agar Anda tak sesat oleh fatamorgana di mata ANda sendiri.    






7 RINTANGAN SETAN

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5) إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 5-6)
Pada ayat di atas Allah menegaskan kepada segenap manusia bahwa janji Allah akan adanya hari kebangkitan dan pembalasan terhadap amal manusia di dunia adalah benar adanya, tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Sebuah penegasan yang mengingatkan kita semua bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara, hanya sebagai jalan menuju kehidupan akhirat, kehidupan yang hakiki dan abadi. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi setiap manusia untuk mempersiapkan diri mereka menyambut hari akhirat dengan bersegera memanfaatkan waktu-waktu yang ada sebagai ladang menanam amal-amal shalih untuk bekal di akhirat kelak.

Dan tatkala upaya meraih kebahagiaan akhirat itu tidak bisa tercapai kecuali dengan melewati dua buah rintangan besar; keindahan kehidupan dunia dan tipu daya setan, maka Allah pun memberikan peringatan kepada manusia agar tidak tertipu dan teperdaya dengan kehidupan dunia ataupun dengan tipu daya setan. Bahkan Allah memerintahkan manusia untuk menjadikan setan sebagai musuh utamanya, karena setan benar-benar telah nyata memusuhi manusia.

Kenali Tipu Daya Musuh

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (an-Nur: 21)
Dalam ayat ini, Allah melarang kita mengikuti langkah-langkah setan. Dari sinilah kita perlu memahami apa saja langkah-langkah setan atau tipu daya setan dalam menjerumuskan umat manusia dalam kesesatan, agar kita tidak teperdaya oleh setan, melakukan sesuatu yang disenangi setan tanpa kita sadari. Maka ketahuilah bahwa langkah-langkah setan adalah segala jalan yang dia tempuh untuk menyesatkan seseorang dari jalan yang benar, atau menjauhkan seseorang dari Allah ta’ala.
Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan dalam kitab Madarijus Salikin, tentang jalan-jalan yang ditempuh oleh setan untuk menghalangi dan merintangi manusia dari penghambaannya kepada Allah ta’ala. Jalan atau rintangan itu sebagiannya lebih berat dibanding dengan yang lainnya. Jika setan gagal dengan rintangan terbesarnya, dia akan beralih kepada rintangan yang lebih kecil di bawahnya.
Rintangan pertama, yaitu rintangan terbesar yang menghalangi seseorang dari penghambaannya kepada Allah. Rintangan ini adalah kekafiran terhadap Allah ta’ala, agama-Nya, hari akhir, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan kafir terhadap segala sesuatu yang diberitakan oleh para Rasul-Nya dari Allah ta’ala. Jika setan berhasil pada rintangan ini, maka padamlah api permusuhannya terhadap manusia, dan dia akan beristirahat darinya. Namun jika dia gagal pada rintangan ini, dia akan beralih pada rintangan kedua.
Rintangan kedua, rintangan kebid’ahan, yaitu perkara-perkara baru dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh agama ini. Kebid’ahan ini bisa berupa keyakinan yang menyelisihi kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -, dan bisa juga berupa amalan-amalan ibadah baru atau dengan tata cara baru yang tidak pernah dituntunkan oleh syariat. Rintangan ini bisa dihadapi dengan memegangi hakikat mutaba’ah (peneladanan) yang benar kepada Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Rintangan ketiga. Jika seorang manusia melewati rintangan kedua, maka setan akan berusaha menjerumuskannya pada perbuatan dosa-dosa besar. Jika setan berhasil pada rintangan ini, maka dia akan menghias-hiasi dan memperindah dosa besar ini. Setan akan menipu daya manusia dan mengatakan; yang penting dalam keimanan adalah pembenaran saja, sedang amalan tidak akan bisa memengaruhi keimanan. Padahal Allah mengancam para pelaku dosa besar dengan berbagai siksaan, baik di dunia maupun di akhirat. Lalu jika Allah memberi taufik-Nya kepada seorang manusia sehingga dia terbebas dari dosa besar atau bertaubat darinya, maka setan akan tetap berusaha menghalanginya dengan rintangan berikutnya.
Rintangan keempat, berupa berbagai perbuatan dosa kecil. Di sini, setan juga tetap melancarkan tipu dayanya, mengatakan bahwa engkau tidak akan mendapatkan bahaya dari dosa kecil ini selama engkau menjauhi dosa besar, dosa kecil ini akan mudah terhapus dengan amal-amal kebajikan. Dan berbagai tipu daya yang dilancarkan agar dia meremehkan dosa kecil ini sehingga terus-menerus melakukannya. Padahal, dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi lebih buruk dari pada dosa besar yang dilakukan oleh seseorang yang kemudian menyesal dan bertaubat darinya. Ketika setan gagal pada rintangan ini karena manusia yang diganggunya selalu berusaha menjaga diri dan berhati-hati, bertaubat dan istighfar, dan senantiasa mengiringi perbuatan buruk dengan kebaikan, maka setan terus berusaha dan beralih kepada rintangan berikutnya.
Rintangan kelima. Pada rintangan ini, setan akan menggunakan perkara-perkara mubah yang pada asalnya tidak mengapa jika dilakukan. Akan tetapi setan berusaha menyibukkan manusia dengan memperbanyak perkara mubah sehingga dia lalai dari ketaatan kepada Allah, lalai dari bersungguh-sungguh dalam memperbanyak bekal menuju akhirat. Setan terus menyibukkan manusia dengan perkara mubah ini sehingga dia meninggalkan perkara yang sunah, kemudian meningkat meninggalkan perkara yang wajib, karena kesibukannya dengan perkara yang mubah pada asalnya. Seandainya seorang manusia mengetahui besarnya nilai akhirat yang tidak bisa dibandingkan dengan dunia, niscaya dia tidak akan melewatkan berbagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahkan dia akan bersikap bakhil atas waktunya dan berusaha memanfaatkannya agar tidak berlalu tanpa keuntungan. Jika demikian keadaan seorang manusia, maka setan gagal pada rintangan ini dan beralih pada rintangan berikutnya.
Rintangan keenam. Pada rintangan ini, setelah setan tidak berhasil membuat seorang manusia rugi dengan tidak mendapatkan pahala sama sekali, maka setan berusaha membuatnya rugi dari pahala yang sempurna. Setan akan menyibukkannya dengan amalan-amalan yang lebih rendah keutamaannya, sehingga dia meninggalkan amalan yang lebih besar keutamaan dan pahalanya, sehingga dia tidak mendapatkan pahala yang besar dan derajat yang tinggi. Dan tidak akan selamat dari rintangan ini kecuali orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang amalan dan tingkatan-tingkatannya di sisi Allah, mengetahui perbedaan tingkatan dari keutamaan setiap amalan. Dan tidak akan bisa mencapainya kecuali para ulama yang diberi taufik sehingga bisa menempatkan setiap amalan pada tempatnya yang sesuai.
Rintangan ketujuh. Jika setan tidak berhasil dengan keenam rintangan di atas, maka hanya tinggal satu cara untuk merintangi manusia. Rintangan terakhir ini berupa gangguan-gangguan yang diberikan oleh setan dan bala tentaranya baik dari kalangan jin dan manusia, baik berupa gangguan fisik, lisan maupun hati. Tidak akan ada seorang pun yang bisa lepas dari gangguan ini. Karena gangguan ini akan semakin besar dilancarkan oleh setan dan bala tentaranya ketika manusia semakin mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah. Seandainya ada yang bisa bebas dari rintangan ini, maka mereka itu adalah para nabi dan utusan Allah. Akan tetapi dengan adanya rintangan ini, seorang mukmin atau wali-wali Allah akan bisa beribadah kepada Allah dengan memerangi dan menghinakan musuh-musuh Allah. Karena tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan penghinaan dan perendahan musuh-musuh Allah oleh wali-wali Allah. Wallahu a’lam.





KEAGUNGAN AMALAN HATI



“Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka akan baik seluruh tubuh, namun jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah qalbu (jantung).”
Demikian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mempermisalkan hati (batin) seorang manusia dengan jantung yang bisa memengaruhi baik buruknya seluruh anggota tubuh yang lain. Karena memang hati juga bisa memengaruhi baik buruknya amalan seseorang. Jika hati seseorang baik dan sehat, maka akan membuahkan amalan yang shalih. Sebaliknya, ketika hati itu sakit, atau bahkan mati, maka akan membuahkan amalan-amalan buruk.

Antara Mukmin dan Munafiq

Oleh karena itu, seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak hanya memperhatikan amalan-amalan lahiriah semata tanpa amalan-amalan batin. Bahkan mereka mengetahui dengan yakin bahwa amal shalih itu memiliki timbangan batin sebagaimana juga memiliki timbangan lahiriah.
Para ulama telah menjelaskan bahwa hakikat amal shalih adalah amal yang murni ditujukan kepada Allah (ikhlas) dan amal yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka keikhlasan dalam amalan itulah sebagai timbangan batin, sebagaimana kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan timbangan lahiriah bagi amal shalih.
Adapun orang-orang munafik, maka mereka adalah orang-orang yang secara lahiriah melakukan amalan-amalan kaum muslimin, namun secara batin mereka kosong dari keimanan terhadap Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Hati Adalah Raja

Pengaruh hati terhadap baik buruk amalan manusia, tidak lain karena hati adalah bagaikan raja bagi seluruh anggota tubuh. Seorang yang sadar dan berakal tidak akan melakukan suatu amalan kecuali karena ada dorongan dari dalam hatinya. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّمَا اْلأَعْماَلُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niatnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Di antara penjelasan para ulama tentang makna hadits ini bahwa seluruh amalan itu terjadi dengan niat. Maka tidak ada satu amal pun yang dilakukan dengan kesadaran manusia tanpa disertai dengan niat. Ada juga yang menjelaskan maksudnya bahwa baik buruk amalan seorang manusia itu tergantung pada niatnya.
Apapun penjelasan yang disampaikan para ulama tentang hal ini yang jelas niat yang bertempat dalam hati manusia sangat memengaruhi amalan seseorang baik dari sisi keberadaan amalan itu atau dari sisi baik buruknya amalan tersebut. Dan ini jelas menunjukkan akan keagungan hati manusia dan pentingnya kita memperhatikan hati kita dan amalan-amalan hati kita.

Hati Asas Keimanan

Hal lain yang menunjukkan akan keagungan hati dan amalan-amalannya, adalah keberadaan hati itu sebagai asas dari keimanan. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa keimanan meliputi keyakinan hati, amalan hati, perkataan lisan dan amalan anggota badan, maka hati merupakan landasan bagi tegaknya keimanan. Tidak akan mungkin tegak keimanan seseorang tanpa adanya keyakinan hati dan amalan hati.
Maka hati bukan semata raja bagi anggota tubuh manusia, bahkan lebih dari itu, hati adalah sumber dari amalan-amalan lahiriah dan pondasi bagi baik buruknya amalan tersebut. Jika kehendak hati berlandaskan keimanan, maka perbuatan lahiriah pun merupakan keimanan. Jika kehendak hati berlandaskan kekufuran, kemunafikan atau kemaksiatan, maka amalan lahiriah pun akan menjadi semisalnya.
Banyak dalil yang telah menunjukkan hal ini, salah satunya firman Allah -subhanahu wa ta’ala-,
أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ
“Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.” (al-Mujadilah: 22)
Mereka yang dimaksud adalah orang-orang yang merealisasikan syariat wala dan bara, dan ternyata apa yang mereka lakukan itu dikarenakan telah ada keimanan dalam hati mereka. Maka jelas bahwa keimanan yang ada dalam hati adalah landasan bagi keimanan yang terpancar secara lahiriah.

Macam-macam Amalan Hati

Sangat banyak amalan hati yang harus kita perhatikan, seperti ikhlas, jujur, cinta, pengagungan, rasa takut, rasa harap, tawakkal, ketundukan, penerimaan, sabar, ridha, berserah diri, taubat, muraqabah dan lain-lain sebagainya.
Semua amalan-amalan hati itu akan menjadi amalan yang baik jika ditujukan hanya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- semata. Karena dengan dtujukannya kepada Allah dan karena Allah, jadilah amalan itu sebagai ibadah kepada-Nya. Namun jika ditujukan kepada selain-Nya maka akan menjadi bentuk kesyirikan kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, yang akan bisa membinasakan pelakunya. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka dengan kecintaan yang mereka tujukan kepada selain Allah telah menjadikan mereka terjerumus ke dalam perbuatan syirik kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mentauhidkan Allah dalam kecintaan mereka. Dan demikian pula dalam amalan hati lain seperti rasa takut dan rasa harap.
Jika kecintaan, rasa takut, rasa harap seseorang hanya ditujukan kepada Allah, sebagaimana amalan-amalan hati lainnya ditujukan hanya kepada Allah dan karena Allah, maka amalan hati itu akan mendorongnya mewujudkan peribadahan lahiriah kepada Allah dengan sebaik-baik bentuknya.

Masuk surga dengan amalan hati

Jika kita menilik perjalanan hidup orang-orang shalih yang ada pada generasi terdahulu, niscaya akan mudah kita dapatkan banyak contoh nyata yang menunjukkan akan besarnya pengaruh kebaikan hati dan amalan hati manusia terhadap keshalihannya. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda,
إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada orang yang seandainya bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Maukah aku beri tahu kalian tentang ahli surga. Dia adalah setiap orang yang lemah dan tawadhu’, seandainya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Dia akan meluluskan sumpahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Para ulama telah menjelaskan hadits ini dengan berbagai macam penjelasan. Ada di antara mereka yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang yang lemah adalah orang yang memiliki sikap tawadhu’, yang bersikap rendah hati. Ibnu Khuzaimah pernah ditanya tentang maksud orang yang lemah dalam hadits di atas, maka beliau menjawab, dia adalah orang yang berlepas diri dari kekuatan dan daya upaya, sebanyak dua puluh sampai lima puluh kali setiap harinya. Sedangkan al-Kirmani maksudnya adalah orang yang tawadhu’ dan merendahkan diri. Al-Qadhi berkata, kelemahan yang ada dalam hadits ini bisa juga bermakna kelembutan dan kehalusan hati, dan ketundukannya terhadap keimanan.
Bagaimanapun juga, hadits ini menunjukkan bahwa para penduduk surga ketika mereka hidup di dunia memiliki amalan hati yang luar biasa sehingga hati-hati mereka menjadi lembut dan Allah pun menjadi sangat dekat dengan mereka, jika mereka bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan meluluskan sumpahnya. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar