Sabtu, 14 April 2012

OASE IMAN

7 Ciri Manusia "Berwajah Buruk" Menurut Nabi


SELAIN menyebutkan beberapa kriteria manusia-manusia terbaik menurut pandangan Islam, hadits-hadits Rasulullah ternyata juga menyitir kriteria manusia-manusia terburuk. Tentu saja, maksudnya cukup jelas. Beliau mendorong kita untuk meniru kebaikan kelompok pertama, dan menjauhi keburukan kelompok kedua. Mungkin sudah cukup banyak dikupas tentang siapa saja sebaik-baik manusia (khairun-naas) itu, maka kini giliran kita mengetahui siapa saja seburuk-buruk manusia (syarrun-naas). Mengapa demikian?

Sebab, mengetahui keburukan adalah salah satu cara untuk bisa menghindarinya.
Seorang Sahabat Nabi, yaitu Hudzaifah bin Yaman pernah berkata, “Dulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, namun saya bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena saya khawatir jika terjerumus ke dalamnya.”

Jadi, siapa sajakah manusia-manusia terburuk itu, sehingga kita bisa mendidik diri kita sendiri agar tidak seperti mereka?

Pertama, orang yang bermuka dua. Rasulullah bersabda, “Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).

Yang dimaksud “orang bermuka dua” adalah kaum munafik. Dia tidak memiliki pendirian dan keteguhan dalam imannya. Maka, bila berkumpul dengan kaum Muslimin, seolah-olah ia bagian dari mereka. Namun, jika bersama-sama kaum kafir, bisa jadi ia lebih dahsyat kekafirannya dibanding kaum kafir itu sendiri.
Padahal, Allah mengancam kaum munafik akan dimasukkan ke dasar neraka yang terdalam.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. an-Nisa’: 145)

Kedua, orang yang ditakuti sesama manusia karena kejahatannya

Suatu ketika, ada seseorang yang minta izin untuk bertamu kepada Rasulullah. Tatkala melihatnya, beliau berkata, “Izinkah dia masuk. Dia ini seburuk-buruk keturunan – atau: anggota – suatu kabilah!” Tatkala dia telah masuk, ternyata Rasulullah bersikap sangat lembut dan bahkan tertawa-tawa bersamanya. Setelah ia pergi, ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda telah menyatakan apa yang Anda nyatakan tadi (tentang orang itu), lalu mengapa Anda berbicara secara lemah lembut kepadanya?” Beliau menjawab, “Wahai ‘Aisyah, sungguh manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah seseorang yang ditinggalkan – atau: dijauhi – oleh sesamanya semata-mata mereka takut kepada kejahatannya.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari ‘Aisyah).

Ketiga, orang yang tidak bisa disadarkan oleh pesan-pesan Al-Qur’an. Rasulullah bersabda, “Di antara manusia yang terburuk adalah seorang pendurhaka lagi kurang ajar, yang membaca Kitab Allah namun tidak tersadarkan oleh satu pun darinya.” (Riwayat Ahmad, dengan sanad hasan).

Jadi, apakah yang bisa diharapkan dari seseorang yang tidak mempan oleh nasihat dari Allah? Hatinya telah terkunci mati, sehingga ia akan lebih sesat dibanding seekor hewan ternak sekalipun.

سَاء مَثَلاً الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُواْ يَظْلِمُونَ
مَن يَهْدِ اللّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَن يُضْلِلْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُون

“Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat- ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah [583], maka merekalah orang-orang yang merugi.”
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat- ayat-Nya dengan cara istidraj.” (QS. al-A’raf: 177-179)

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS: al-Furqan:44).

Keempat, orang yang mengalami Hari Kiamat dan menjadikan kuburan sebagai masjid. Rasulullah bersabda, “Di antara manusia terburuk adalah mereka yang mendapati Hari Kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.” (Riwayat Ibnu Hibban. Isnad-nya hasan).

Hadits ini berhubungan dengan pernyataan beliau lainnya, bahwa Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali jika sudah tidak ada seorang pun yang menyeru nama Allah di muka bumi. Tentu saja, zaman di mana nama Allah tidak lagi dikenal pastilah merupakan zaman terburuk, dan berisi manusia-manusia terburuk. Adapun menjadikan kuburan sebagai masjid, maka cukup banyak hadits lain yang melarangnya, di antaranya karena hal itu meniru-niru atau menyamai perbuatan kaum Yahudi dan Kristen.

Kelima, orang yang merusak akhiratnya demi meraih dunia milik orang lain.
Rasulullah bersabda, “Di antara orang yang paling buruk kedudukannya pada Hari Kiamat adalah seseorang hamba yang menghancurkan akhiratnya demi merebut dunia milik orang lain.” (Riwayat Ibnu Majah. Menurut al-Bushiri: sanad-nya hasan).

Yang dimaksud adalah orang yang membunuh sesamanya demi merampok hartanya, sehingga karena ambisi dunia itulah dia merebut hak milik orang lain dan menghancurkan akhiratnya sendiri. Atau, dia bersedia membantu orang zhalim demi meraih iming-iming duniawi, sehingga agamanya pun hancur.

Keenam, orang yang panjang umurnya, tapi jelek amal perbuatannya. Abu Bakrah bercerita, bahwa suatu kali seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Orang seperti apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Dia bertanya lagi, “Lalu, orang seperti apa yang paling buruk?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya, tapi jelek amal perbuatannya.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih li ghairihi).

Ketujuh, orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan justru tidak bisa dirasa aman dari keburukannya. Abu Hurairah bercerita, bahwa suatu kali Rasulullah berdiri di dekat beberapa orang yang duduk-duduk, lalu bertanya, “Maukah kalian aku beritahu siapa orang terbaik dibandingkan orang terburuk di antara kalian?” Mereka pun terdiam (tidak menjawab). Beliau mengulangi pertanyaannya tiga kali, lalu ada seseorang yang menjawab, “Mau, wahai Rasulullah. Beritahu kami siapa orang terbaik dibanding orang terburuk di antara kami.” Beliau bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan dirasa aman dari keburukannya. Sedangkan orang terburuk di antara kalian adalah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan justru tidak bisa dirasa aman dari keburukannya.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits hasan-shahih).






Tujuh Tips Agar Menjadi “Sahabat” Allah

TAK satu pun manusia bisa hidup tanpa seorang sahabat. Selama masih ada kehidupan sepanjang itu setiap manusia memerlukan yang namanya sahabat. Jadi benar juga ungkapan yang mengatakan bahwa satu musuh itu sudah cukup banyak dan seribu sahabat itu masih kurang. Apalagi kita ingin mewujudkan cita-cita mulia demi agama. Tentu kita sangat membutuhkan sahabat.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalamsaw pun memiliki banyak sahabat, yang empat di antaranya adalah sahabat yang paling utama. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Sebagai seorang Muslim tentu kita memerlukan sahabat untuk mencapai visi dan tujuan hidup di dunia ini. Dalam sejarah pun dijabarkan bahwa ada di antara para nabi yang dalam dakwahnya ditemani oleh seorang sahabat. Lihatlah seperti Nabi Musa bersama Nabi Harun, Nabi Isa dengan Hawariyyun, dan Nabi Muhammad dengan empat sahabat utamanya.

Namun demikian, terkadang sebagian manusia keliru dalam memilih sahabat. Hal itu karena di antaranya ada yang masih belum memiliki tujuan hidup yang jelas. Makanya ada yang terlibat pergaulan bebas, narkoba, bahkan bunuh diri, yang semua itu dikarenakan peran besar sahabatnya sendiri.

Karena begitu besarnya peran seorang sahabat dalam diri seseorang, sudah selayaknya kita mencari sahabat yang baik, setia, abadi selamanya. Mungkinkah itu? Ya, menurut Abu A’la Al-Maududi itu sangat mungkin, dan sahabat itu telah lama menantikan kehadiran kita. Siapa dia? Dialah Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎).

Menjadi sahabat Allah, wah luar biasa. Itulah yang hari ini mesti kita upayakan secara bersama-sama. Bayangkan bila sebagian besar umat Islam di negeri ini berhasil menjadi sahabat Allah, pasti sangat luar biasa. Tapi apakah mungkin kita bisa menjadi sahabat Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎)?

Dalam bukunya "Let Us be Muslims", intelektual Muslim asal Pakistan itu memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh setiap Muslim untuk bisa menjadi sahabat Allah.

Pertama, jadilah Muslim yang berjiwa besar. Dalam konteks ini Abu A’la menjabarkan agar seorang Muslim menghindar dari sifat kikir dan pelit. Muslim yang mampu memelihara diri dari sifat tercela itu maka dia telah layak disebut sebgai sahabat Allah yang akan mendapat keuntungan.

مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. 59 : 9).

Kedua, jadilah Muslim yang memiliki sifat murah hati. Menurutnya setiap Muslim harus murah hati. Kebesaran hati akan mengatasi perasaan diri kita, mengatasi kebencian terhadap borok-borok dan penghinaan. Jika seseorang membuat kita sedih atau merugikan kita, jangan sampai perbuatannya itu menyebabkan kita menolak untuk memberinya makanan atau pakaian. Juga jangan sampai hal itu membuat kita ragu-ragu memberikan bantuan kepadanya ketika ia berada dalam kesulitan.

وَلَا يَأْتَلِ أُوْلُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 24 : 22).

Ketiga, jangan egois. Sikap egois harus dihindari dan dibuang jauh dalam diri setiap Muslim. Egois itu menurut Abu A’la Al-Maududi adalah suka berharap imbalan dan senang membebani orang lain.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلَا شُكُوراً

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (QS. 76 : 8 – 9).

Sifat egois sangat dilarang dalam Islam. Dalam ayat yang lain Allah
berfirman, “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. 74 : 6). Dalam konteks modern sifat egois ini banyak dipraktikkan oleh para koruptor, dan mereka yang gemar melakukan praktik suap. Suka memberi asal bisa mendapat balasan yang lebih besar. Naudzubillahi min dzalik.

Keempat, memiliki hati yang suci. Dengan hati suci setiap Muslim akan mampu memberikan yang paling berharga dari apa yang dimilikinya, sebagai bukti bahwa harta itu benar-benar dibelanjakan sebagaimana ketentan Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَن تُغْمِضُواْ فِيهِ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. 2 : 267).

Kelima, memberi ketika dalam kesusahan. Memberi adalah sifat Muslim sejati. Bahkan dalam kondisi kesusahan pun seorang Muslim tidak boleh berhenti untuk bisa menafkahkan apa yang dimiliki dan memberikan bantuan kepada orang lain.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَن تُغْمِضُواْ فِيهِ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. 3 : 134).

Keenam, memberi ketika kaya. Jika dalam kondisi susah kita dilarang berhenti memberi apalagi dalam kondisi kaya. Ketika kaya kita tidak boleh lupa kepada Tuhan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. 63 : 9).

Ketujuh, memberi hanya demi ridho Allah SWT. sebagaimana firman-Nya,

لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ فَلأنفُسِكُمْ وَمَا تُنفِقُونَ إِلاَّ ابْتِغَاء وَجْهِ اللّهِ وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. 2 : 272).

Menurut Abu A’la, tujuh kualitas di atas sangat penting diperhatikan dan dimiliki oleh setiap Muslim, jika benar-benar ingin menjadi sahabat Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) atau masuk dalam kelompok Allah.

Tanpa ketujuh kualitas tersebut, kita tidak bisa berharap menjadi sahabat-Nya. Karena ketujuh perkara di atas sebenarnya adalah cara Allah menguji kualitas keimanan setiap Muslim.

Dengan demikian mari kita bersama-sama berusaha menjadi sahabat Allah untuk bisa masuk dalam Ahlullah. Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita semua. Amin.*







Dicari, Orang Kaya Berjiwa Pejuang

عِوَجاً أُوْلَـئِكَ فِي ضَلاَلٍ بَعِيدٍ

“(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat dan menghalang-halangi dari jalan Allah dan menginginkan menjadi bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (Ibrahim 3)

Ayat di atas menjelaskan tentang orang-orang yang sepenuh hati mencintai kehidupan dunia dibanding kehidupan akhirat. Mereka adalah orang yang memperturutkan nafsu untuk memuaskan kehidupan dunianya dan mengorbankan kehidupan akhiratnya. Mereka pulalah yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allah yang lurus.

Pasti, mereka bakal mengalami siksa yang pedih dari Allah Subhana wa Ta’ala.

Dalam kehidupan manusia seperti sekarang ini, memang sangat sulit membelokkan kecenderungan dari cinta dunia kepada cinta akhirat. Cinta akhirat memerlukan petunjuk dari Allah Subhana wa Ta’ala, yang harus diupayakan dengan sungguh-sunguh dan penuh mujahadah. Cara itu perlu dilakukan, karena kemewahan dunia begitu mempesona dan penuh daya tarik.

Tidak heran, bila kehidupan orang kaya-raya yang dapat memenuhi semua keinginanannya, menjadi dambaan hampir semua orang. Apalagi orang yang sedang dibelit persoalan materi, biasanya di dalam hatinya selalu bebisik, “Alangkah bahagianya orang yang mempunyai banyak harta dan uang.” Kalau seorang tidak memiliki pemahaman tentang hakekat hidup, wajar sekali kalau apa yang disaksikan pada kehidupan orang-orang kaya menjadi cita-cita dan harapannya.

Namun, kalau sudah diberikan petunjuk oleh Allah Swt sehingga memiliki pemahaman terhadap apa arti sebenarnya kehidupan dunia dan akhirat, pandangannya akan lain.

Dia akan mengambil pelajaran berharga dari sandiwara kehidupan dunia yang tengah berjalan. Ada seorang berupaya keras untuk dapat duduk di atas tahta yang bergelimang kemewahan. Lalu kemewahan itu dipertontonkan kepada orang-orang yang selalu ngiler pada kehidupan seperti itu. Namun tidak lama sesudah itu, sungguh tragis nasibnya. Dia diperiksa gara-gara terlibat tindak pidana korupsi. Dan masuklah dia ke dalam kerangkeng besi. Dia menjalani kehidupan seperti maling yang melakukan pencurian, dia bagai preman yang berbuat kejahatan karena akibat pengangguran.

Dalam keadaan seperti itu, barulah dia mensyukuri keberadaannya yang serba kekurangan namun bahagia dan tentram jiwanya karena selalu beribadah dan dekat kepada Allah Swt. Orang seperti ini, hanya iri kepada orang kaya yang dermawan, seperti yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallah ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwawayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

Abu Hurairah berkata, “Orang-orang fakir miskin dari kaum Muhajirin datang kepada Rasulullah, lalu menyampaikan kepada Nabi: ‘Orang-orang kaya telah meninggal dunia dengan menduduki derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi.

Nabi bertanya, ‘Apa itu?’

Mereka menjawab, ‘Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, mereka berzakat tetapi kami tidak berzakat, mereka memerdekakan budak tapi kami tidak memerdekakan budak.’

Rasullah bersabda, ‘Maukah kalian saya ajari sesuatu yang dapat menjadikan kalian sederajat dengan orang-orang yang mendahului kalian; menjadikan kalian lebih mulia dibandingkan kaum sesudah kalian, dan tidak seorangpun yang lebih utama dari kalian kecuali orang melakukan perbuatan seperti yang kalian lakukan.’

Mereka menjawab, ‘Kami mau ya Rasulallah!’

Beliau bersabda, ‘Bacalah tasbih, tahmid dan takbir sesudah shalat 33 X.’

Selang beberapa hari orang-orang itu datang lagi kepada Rasulullah dan berkata, ‘Teman-teman kami dari kalangan orang-orang kaya mendengar apa yang kami perbuat, lalu mereka juga melakukannya.’

Rasullah menjawab, ‘Itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Orang kaya seperti yang diceritakan orang-orang fakir itulah yang semestinya diiri. Memang Rasulullah pernah juga bersabda, “Tidak ada sifat iri melainkan kepada dua hal. Pertama, orang yang diberi hafalan Al-Qur’an lalu dia baca dalam shalat pada malam hari. Kedua, orang yang diberi Allah rezeki lalu dia infakkan pada malam dan siang harinya.” Seperti kehidupan beberapa sahabat di zaman Nabi. Mereka sangat giat beribadah, melakukan semua shalat sunnah tapi hartanya juga melimpah.

Seperti Abdurrahman bin ‘Auf yang pernah menyumbang perjuangan sebesar 40.000 dinar. Jumlah itu, bila dirupiahkan sekarang sama dengan Rp 34.000.000.000 (tiga puluh empat miliar rupiah).

Dilain waktu lagi, ia menyumbang 1500 ekor kuda. Ia juga penah menyumbang kepada veteran Badar yang masih hidup sejumlah 100 orang. Masing-masing orang diberi 50.000 dinar, yang kalau dirupaihkan sama dengan Rp 42.500.000.000!

Kalau dipikir, bagaimana caranya Abdurrahman bin ‘Auf mencari rezeki sementara ibadah-ibadah mahdoh tetap dijalankan dengan baik. Tidak ada ibadah sunah yang ditanggalkan.

Itu membuktikan bahwa memang ada berkah di balik usaha yang mereka giatkan. Karena sebelum meraih keuntungan, mereka sudah berniat akan mengeluarkan sebagian dari keuntungan itu untuk fie sabilillah.

Dan bukan sekedar berniat, tapi langsung menemui Nabi menanyakan jumlah yang semestinya dikeluarkan sebelum dibawa pulang kepada keluarganya. Demikianlah halnya Usman bin Affan dan sahabat-sahabat lain. Subhanallah.

Itulah yang membuat perjuangan Nabi tidak pernah kehabisan dana. Dari pundi-pundi para miliarder di kalangan para sahabat inilah semua manuver yang dilakukan Nabi tidak pernah macet karena persoalan dana.

Manusia-manusia seperti inilah yang sangat diperlukan sekarang untuk menyukseskan perjuangan Islam. Harta berlimpah, tapi semangat juang juga tak pernah lemah





Enam Cara Cegah Lunturnya Iman!

BAGI seorang Muslim, iman adalah segalanya. Iman adalah aset paling berharga dan menjadi kriteria pertama diterima atau tidaknya amal di hadapan Allah. Akan tetapi, sebagaimana lazimnya setiap aset berharga di dunia ini, ia selalu terancam bahaya. Banyak pihak yang mengintai dan ingin mencurinya. Maka, tidak sedikit orang yang imannya lenyap, lalu mati dalam keadaan tidak memilikinya lagi. Tentu kita tidak ingin mengalaminya. Tetapi, bagaimana menjaga iman supaya tidak hilang?

Dalam Al-Qur’an, ketiadaan iman disebut juga dengan ketersesatan (dholal). Dan, pada dasarnya tidak ada manusia yang disesatkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang fasiq. Dengan kata lain, bila manusia telah menjadi fasiq, ia pasti akan tersesat. Allah berfirman;

مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَـذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ
الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“…dan, tidak ada yang disesatkan dengannya kecuali orang-orang yang fasiq. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs. al-Baqarah: 26-27).

Menurut Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, ayat diatas menunjukkan bahwa tidak ada yang disesatkan kecuali orang-orang yang meninggalkan ketaatan kepada Allah, tidak mau menuruti perintah maupun larangan-Nya, dan melanggar perjanjian yang telah Allah buat dengan mereka. Dalam Tafsir Zadul Masir dinyatakan, bahwa diantara sifat orang fasiq adalah menyalahi isi Al-Qur’an, memutuskan hubungan silaturrahim, dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan.

Jelas bahwa kefasikan adalah kondisi ketika seseorang menelantarkan imannya, memperturutkan hawa nafsu, dan tidak memperdulikan hukum-hukum Allah. Ketika itulah imannya menjadi rapuh, lalu syetan merampasnya.

Maka, dalam al-Fiqh al-Akbar, Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak boleh kita katakan bahwa syetan merampas iman dari hati seorang hamba yang mukmin secara paksa dan sewenang-wenang. Namun, kita katakan bahwa seorang hamba itu meninggalkan imannya sehingga pada saat itulah syetan merampasnya.”

Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali menunjukkan bahwa keimanan sangat mudah goyah pada awal mula pertumbuhannya, apalagi di kalangan anak kecil dan kaum awam. Oleh karenanya, iman harus selalu diperkokoh. Selanjutnya beliau berkata,

“Jalan untuk menguatkan dan meneguhkan iman bukanlah dengan mempelajari kemahiran berdebat dan teologi (ilmu kalam), akan tetapi dengan (1) menyibukkan diri membaca al-Qur'an berikut tafsirnya, (2) membaca hadits disertai maknanya, dan (3) menyibukkan diri dengan menunaikan berbagai tugas ibadah. Dengan demikian kepercayaannya senantiasa bertambah kokoh oleh dalil dan hujjah al-Qur'an yang mengetuk pendengarannya, juga oleh dukungan hadits-hadits beserta faidahnya yang ia temukan, kemudian oleh pendar cahaya ibadah dan tugas-tugasnya. Hal itu juga diiringi dengan (4) menyaksikan kehidupan orang-orang shalih, bergaul dengan mereka, memperhatikan tindak-tanduk mereka, mendengar petuah-petuah mereka, juga melihat perilaku mereka dalam ketundukannya kepada Allah, rasa takut mereka kepada-Nya, serta kemantapan mereka kepada-Nya.”

Imam al-Ghazali kemudian mengibaratkan awal mula keimanan dengan menabur benih, sementara seluruh amal tersebut diatas merupakan upaya menyiram dan merawatnya, sehingga akhirnya ia tumbuh berkembang, menjadi kuat dan meninggi sebagai pohon yang baik dan kokoh, akarnya teguh sedangkan cabang-cabangnya menjulang ke angkasa. Kelak, buahnya pasti lebat dan menguntungkan, dengan seizin Allah.

Pernyataan di atas dapat kita pahami pula dari sisi sebaliknya. Bahwa, ketika seseorang mulai menjauh dari Al-Qur’an, tidak mengenal hadits Nabi, kocar-kacir ibadahnya, dan memiliki lingkungan maupun teman bergaul yang rusak, berarti ia tengah menelantarkan imannya. Maka sangat boleh jadi, seperti kata Imam Abu Hanifah, syetan pun akan merampasnya. Na’udzu billah!

Bila seseorang menjauhi Al-Qur’an dan hadits, maka akar-akar iman di hatinya pun mulai goyah. Rasulullah bersabda, “Sungguh telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian – selama kalian selalu berpegang teguh kepadanya – maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Riwayat al-Hakim, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits shahih).

Bila tugas-tugas ibadahnya berantakan dan ia lalaikan, maka Allah pun akan mengacaukan hati dan kehidupannya, hingga terasa sempit dan menggelisahkan. Allah berfirman, “Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Qs. Thaha: 124).

Bila hanya ada orang-orang jahat di sekitarnya, maka masing-masing cuma perduli pada urusan perut dan syahwat, lalu satu sama lain akan menghalangi dari akhirat. Dikisahkan oleh al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab al-Ikhwan, bahwa 'Atha' al-Khurasani pernah bertanya kepada Muhammad bin Wasi’, "Amal apakah yang paling utama di dunia ini?" Dijawab, "Menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara, apabila mereka saling bersahabat diatas kebajikan dan taqwa." Beliau melanjutkan, "Ketika itulah Allah akan menghadirkan kemanisan diantara mereka, sehingga mereka terhubung dan saling menyambungkan hubungan. Tiada kebaikan dalam menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara jika mereka menjadi budak dari perutnya masing-masing, sebab jika mereka seperti ini maka satu sama lain akan saling menghalangi dari akhirat.”
Oleh karenanya, Allah mengajari kita sebuah doa, agar iman dan hidayah senantiasa tertanam di hati dan tidak dilenyapkan-Nya.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menjadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).” (Qs. Ali ‘Imran: 8). Wallahu a’lam.*






Inilah Tiga Warisan Rasulullah

NYARIS tidak ada satupun manusia yang tidak ingin memperoleh warisan harta duniawi. Harta warisan dari orangtua memang sangat menggiurkan. Keadaan seperti itu dialami juga oleh orang-orang yang hidup tidak lama sepeninggal Nabi Muhammad Shallahu `alaihi wa Sallam.

Pada suatu pagi, Abu Hurairah Radhiyallahu `anhu pergi ke sebuah pasar. Di situ beliau melihat sebagian orang tenggelam dalam aktivitas bisnis. Mereka asyik melakukan transaksi jual-beli. Melihat hal itu, Abu Hurairah ingin mengingatkan mereka agar tidak terjebak dalam masalah duniawai melupakan aspek ukhrawi.

Bolehlah dunia dicari namun akhirat jangan lupa untuk diburu.

Abu Hurairah berkata, “Wahai penghuni pasar, alangkah lemahnya kalian.”

Mereka bertanya penasaran, “Apa maksudmu, wahai Abu Hurairah?”

“Itu warisan Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian darinya?”

“Di mana?” Abu Hurairah menjawab: “Di masjid.” Maka mereka keluar dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali. Setelah para penghuni kembali dari masjid, Abu Hurairah bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

Mereka menjawab, “Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid, kami masuk ke dalamnya tapi tidak ada yang dibagi.”

Abu Hurairah bertanya, “Apa kalian tidak melihat seseorang di masjid?” Mereka menjawab, “Kami melihat orang-orang yang shalat, membaca Al-Qur’an, dan orang yang mempelajari halal-haram.”

Abu Hurairah berkata, “Celaka kalian, itulah warisan Muhammad Shallahu `alaihi wa Sallam.”

***

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari dalam kitabnya Al-Awsath ini memberikan banyak pelajaran berharga tentang pentingnya memburu warisan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad Shallahu `alaihi wa Sallam.

Bukan harta benda, uang, kendaraan mewah, rumah megah, gemerincing uang dinar yang menjadi warisan. Warisan yang ada jauh lebih abadi, berlaku sepanjang masa, itulah warisan berupa mengerjakan shalat, membaca Al Qur`an, dan mempelajari halal-haram.

Warisan pertama adalah shalat. Shalat merupakan tiang agama. Shalat menjadi amal yang pertama kali diaudit oleh Allah. Ia menjadi amal yang dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Manakala shalat kita baik, amal ibadah selanjutnya akan menjadi baik. Sebaliknya, ketika amal shalat kita terpuruk, berlubang di waktu-waktu dalam hayat kita, seperti itulah konsekuensi amal lainnya, minus dan penuh kecacatan.

Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam menggambarkan seorang mukmin yang menunaikan ibadah shalat wajib seperti orang yang mandi sebanyak lima kali di waktu pagi, siang, petang, dan malam. Ia selalu berada dalam kebersihan, bersih dari noda dan kotoran, dosa-dosanya rontok bersama iringan bacaan dan gerakan shalatnya.

Kedudukan shalat menjadi semakin penting saja, saat perintah pelaksanaannya disampaikan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala kepada Rasul Shallahu `alaihi wa Sallam dalam peristiwa isra`-mi`raj.

Imam Ahmad bin Hajar Al-Haitamiy dalam kitabnya Al-Zawajir mengetengahkan sebuah hadits yang menyebutkan sejumlah kemuliaan bagi yang melaksanakan shalat dan kehinaan bagi yang meninggalkannya.

Secara singkat, dalam hadits yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar tersebut, disebutkan bahwa Allah memberikan 5 kemuliaan pada orang yang melaksanakan shalat:

Pertama. Allah akan angkat kesulitan dari kehidupannya
Kedua. Dilindungi dari azab kubur
Ketiga. Catatan amalnya diberikan di tangan kanannya
Keempat. Melewati jembatan akhirat secepat kilat
Kelima. Masuk surga tanpa hisab.

Masih dalam hadits yang sama, ada 15 kehinaan bagi orang yang meremehkan shalat terdiri dari 6 kehinaan di dunia, 3 saat kematian datang, 3 di alam kuburnya, dan 3 saat dibangkitkan dari alam kubur.

6 kehinaan di dunia : Diangkatnya keberkahan dari umurnya, dihapuskannya tanda-tanda kaum shalihin dari wajahnya, setiap perbuatan yang ia kerjakan tidak mendapatkan pahala dari Allah, doanya tidak diangkat ke langit, tidak masuk dalam bagian doa orang-orang shaleh, dan mudah menyimpan kebencian pada orang lain.

3 kehinaan saat datang kematian: mati dalam keadaan hina, meninggal dalam keadaan kelaparan, mati dalam keadaan kehausan meski lautan di dunia diminumkan kepadanya. 3 kehinaan di alam kubur : kuburnya akan menghimpitnya hingga meremukkan tulang-tulangnya, dinyalakan api dalam kuburnya di waktu siang dan malam hari, dan disisipkan ular dalam kuburnya. Sedangkan 3 kehinaan setelah dibangkitkan dari alam kubur adalah: menghadapi hisab (perhitungan) yang sangat berat, mendapatkan murka Allah, dan masuk ke dalam api neraka.

Inilah warisan pertama Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam yang beliau berikan kepada kita. Dalam shalat ada komunikasi dan dialog dengan Tuhan, momentum untuk menumpahkan segala asa dan perasaan, bersimpuh sujud, memohon petunjuk, dan hidayah-Nya. Dinamakan shalat, kata Habib Alwi bin Syahab, karena ia adalah shilah (penghubung) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Jika shalatnya terputus, maka hubungan seorang hamba menjadi terputus juga.

Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang meremehkan waktu-waktu shalat yang terwujud dalam sikap dalam menunda melaksanakannya, tidak bersungguh-sungguh, hanya sekadar menggugurkan kewajiban, bahkan sampai pada taraf meninggalkannya. Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan, “Di antara perbuatan yang bisa menyebabkan kematian yang buruk (su`ul khatimah) adalah meninggalkan shalat.”

Warisan kedua Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam adalah membaca Al-Qur`an. Al Qur`an merupakan kitab rujukan utama. Tidak ada satu kitabpun di dunia ini yang lebih indah susunan kata-katanya, jelas dalam memberikan keterangan, mencakup segala aspek, bersih dari tangan-tangan jahil, melebihi Al-Qur`an.

Al Qur`an diturunkan untuk menjadi pedoman dalam hidup. Ia menjadi kitab yang paling banyak diperbincangkan sejak dulu hingga kini. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, membaca Al Qur`an semakin terpinggirkan, kalah riuh oleh kegaduhan musik. Anak-anak kita semakin pandai dan cakap saja dalam melantunkan lirik-lirik lagu bertema ‘pacaran’, bercinta, ajakan kepada maksiat, kegelisahan, putus cinta, dan sebagainya.

Di sisi lain, orangtua lebih sibuk untuk membuat putra-putri mereka sukses di dunia daripada memikirkan kehidupan mereka selepas mereka hidup dunia ini. Al-Qur`an menjadi perhatian hanya di masa bangku sekolah dasar, itupun cukup di TPQ, sementara para orangtua tidak merasa bersalah ketika mereka tidak memberi contoh membaca Qur`an karena ketidakmampuannya.

Selepas Sekolah Dasar, anak-anak tak lagi berhasrat atau tidak dimotivasi untuk memperdalam Al Qur`an. Mereka dikondisikan untuk lebih fokus dengan materi pelajaran yang tidak seimbang antara kebutuhan spiritual dan intelektual. Imam Abu `Amr bin Shalah dalam Fatawa-nya mengatakan bahwa, “Membaca Al Qur`na merupakan sebuah kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan manusia.

Malaikatpun tidak diberi kemuliaan seperti itu, padahal mereka sangat menginginkannya setelah mendengar manusia membacanya.”

Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim untuk mampu membaca, memahami, merenungi, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur`an. Inilah warisan kedua yang ditinggalkan oleh Rasul Shallahu `alaihi wa Sallam kepada kita, umatnya, agar kita terbimbing dalam jalan kebenaran, tidak terseok-seok dalam kesesatan. Sayidina Abdulah bin Mas`ud Radhiyallahu `anhu pernah berucap, “Jika kalian menginginkan ilmu, maka sebarluaskan Al-Qur`an sebab di dalamnya tersimpan ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang.”

Warisan berikutnya adalah mengetahui status halal-haram. Warisan terakhir ini memberi hikmah kepada kita tentang pentingnya mengenal status halal-haramnya suatu barang, makanan, atau perbuatan yang akan kita lakukan. Sayidina Umar bin Khaththab Radhiyallahu `anhu, selaku Amirul Mukminin, pernah berkata kepada seluruh pedagang di pasar kota Madinah, “Tidak ada yang boleh berjualan di pasar kami (yaitu) orang yang belum memiliki ilmu sebab orang yang tidak berilmu ia bisa memakan riba` tanpa menyadarinya.”

Sikap kehati-hatian dalam halal-haram tampak dari sikap Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu `anhu. Suatu hari, usai kembali dari pasar beliau meminum segelas susu. Beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikitpun tentang asal-usul segelas susu tersebut. Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, “Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal-muasal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya?”

Dengan rasa kaget, Abu Bakar bertanya, “Memangnya susu ini dari mana?”
Pembantunya menjawab, “'Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang.

Suatu kali setelah saya ramal nasib seorang pelanggan, dia tidak sanggup membayar karena tidak punya uang, tapi dia berjanji suatu saat akan membayar.

Tadi pagi saya bertemu di pasar dan dia memberikan susu itu sebagai bayaran untuk utang yang dulu belum sempat dia bayar.”

Mendengar itu, langsung Abu Bakar memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut dan mengoyang-goyangkan anak lidah agar muntah. Beliau berusaha untuk mengeluarkan susu tersebut dari perutnya, dan tidak ingin sedikit pun tersisa.

Bahkan dalam riwayat itu disebutkan, beliau sampai pingsan karena berusaha memuntahkan seluruh susu yang telanjur beliau minum lalu berkata, “Walaupun saya harus mati karena mengeluarkan susu ini dari perut saya, saya rela. Saya mendengar Rasulullah Shallahu `alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.”

Tidak hanya itu, istri para As-salaf ash-shalih (para pendahulu kita yang baik) bila suaminya keluar dari rumahnya, iapun berpesan, “Jauhi olehmu penghasilan yang haram, karena kami mampu bersabar atas rasa lapar tapi kami tak mampu bersabar atas neraka.”

Ketiga warisan nabi yaitu menunaikan shalat, membaca Al-Qur`an, dan mengatahui hal-hal yang halal dan haram, merupakan warisan yang harus kita jaga dengan sungguh-sungguh. Shalat tepat pada waktunya dengan berjama`ah. Membaca Al Qur`an sesuai tajwid lalu berusaha memahami dan mengamalkannya, dan mengetahui status halal-haram pada suatu barang dengan tepat dan teliti.

Jika warisan duniawi begitu disukai meski bersifat sementara, yang akan sirna seiring berlalunya waktu, maka tiga warisan di atas harus lebih kita utamakan dari masa ke masa, karena ketiga warisan ini akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.





Bersegeralah, Pintu Taubat Masih Terbuka


SADAR atau tidak, kita pernah atau bahkan sering melakukan kesalahan dan dosa. Tidak seorangpun yang luput dari noda dosa, baik sengaja maupun tidak. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak Adam ada kesalahan (dosa), dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.”

Meskipun demikian, Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) Maha Pengampun. Dengan rahmat-Nya, Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) memberi peluang bagi orang yang berbuat dosa untuk bertaubat kepada-Nya. Betapa pun banyak dosa yang kita lakukan dan sebesar apapun dosa tersebut, bila kita bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, maka Dia akan mengampuninya.

Allah berfirman;

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Katakanlah, “Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (az-Zumar: 54). Allah Swt juga berfirman, “Dan barangsiapa berdosa atau menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun.” (an-Nisa’: 110).

Dikecualikan dosa syirik, Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) tidak akan mengampuninya. Allah berfirman;

نَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selainnya itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa’: 48 dan 116).

Kewajiban Bertaubat Kepada Allah SWT

Hanya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam yang ma’shum (suci), karena beliau dijaga Allah Swt dari dosa dan maksiat. Dosa-dosa beliau telah diampuni oleh Allah, baik yang terdahulu maupun akan datang. Beliau adalah sosok manusia yang paling bertakwa dan mendapat jaminan masuk surga. Walaupun demikian, Rasulullah tetap beristighfar dan bertaubat kepada Allah setiap harinya seratus kali, sebagaimana sabdanya: “Demi Allah, sesungguhnya saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah pada Allah Swt dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya saya bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim).

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari kedua hadits diatas:

Pertama, kedua hadits tersebut merupakan dalil atas wajibnya bertaubat, karena Nabi saw memerintahkannya.

Kedua, hadits ini menjadi dalil bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam adalah orang yang paling kuat ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala dan paling bertakwa.

Ketiga, hadits ini menunjukkan bahwa Rasul adalah guru kebaikan dengan lisan dan perbuatannya. Namun demikian, beliau senantiasa memohon ampun kepada Allah dan menyuruh manusia agar membaca istighfar, hingga mereka meneladani beliau dalam menjalankan perintah dan mengikuti sunnahnya.

Keempat, ini merupakan kesempurnaan nasihat Rasulullah kepada ummatnya. Maka kita juga harus meneladani beliau, yaitu jika kita menyuruh manusia dengan suatu perintah, maka kita harus melaksanakannya terlebih dahulu. Sebaiknya jika kita melarang mereka dari sesuatu, maka kitapun harus menjadi orang yang pertama yang menghindari larangan tersebut, karena ini adalah hakikat seorang da’i kepada Allah, bahkan inilah hakikat dakwah kepada Allah, yaitu melaksanakan apa yang kita perintahkan dan meninggalkan apa yang kita larang darinya.

Menurut Dr. Musthafa Bugha, Rasulullah mengajarkan dan mendorong ummatnya untuk selalu beristighfar dan bertaubat seperti dirinya, karena dengan rutinitas beristighfar dan bertaubat ini akan menghapus dosa-dosa yang kadangkala dilakukan oleh seorang manusia tanpa disadari. Kemudian, hadits tersebut tidak bermaksud jumlah tertentu dalam istighfar, namun yang ditegaskan adalah kualiti dan kuantitas istighfar, sesuai dengan kemampuan masing-masing kita.” (Nuzhatul Muttaqin, 1/ 31).

Dosa yang kita lakukan pun beragam macam dan kadarnya, bisa berupa dosa kecil maupun dosa besar. Tergantung jenis maksiat yang kita lakukan. Terkadang kita menyakiti hati saudara kita dengan cacian, ghibah dan fitnah. Kadang pula kita menyalahi amanah (khianat) terhadap jabatan kita dan mengambil hak orang lain dengan cara yang bathil (korupsi, menyuap, mencuri dll). Kita juga pernah berdusta, manipulasi, dan sebagainya. Kitapun pernah tidak shalat, puasa dan membayar zakat.

Dalam kondisi berlumuran dosa ini, wajib hukumnya bagi kita untuk bertaubat kepada Allah. Kewajiban ini Allah sebutkan dalam al-Quran (an-Nur: 3, Ali Imran: 33, at-Tahrim: 8).

Syarat-Syarat Taubat

Agar taubat kita diterima Allah Subhanahu wa-ta'ala, maka harus memenuhi kriteria tertentu. Jika dosa itu berkaitan dengan Allah Subhanahu wa-ta'ala, maka taubat yang sejati itu harus memenuhi tiga kriteria:

Pertama; meninggalkan kemaksiatan tersebut.

Kedua; menyesali perbuatannya. Ketiga; bertekad untuk tidak mengulanginya lagi untuk selama-lamanya. Jika salah satu dari ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, maka taubatnya itu tidak sah.

Jika dosa yang berkaitan dengan manusia, maka syaratnya ada empat, yaitu yang tiga sama dengan diatas dan ditambah menunaikan hak manusia. Jika hak itu berupa harta dan sebagainya, maka dia harus mengembalikannya. Jika hak itu berupa hukuman had qazf (tuduhan berzina), maka mintalah dihukum atau minta maaf. Dan jika kemaksiatan itu berupa ghibah, maka dia harus meminta maaf. (Riyadlus Shalihin, 46).

Taubat harus disertai dengan kejujuran, maka jika seseorang bertaubat kepada Allah, dia harus melepaskan diri dari dosa (Ali Imran: 135-136). Sedangkan orang yang bertaubat dengan lisan saja, sementara hatinya masih berniat mengerjakan maksiat atau meninggalkan kewajiban atau bertaubat dengan lisannya, sementara anggota tubuhnya terus berbuat maksiat, maka taubatnya tidak bermanfaat, bahkan taubatnya itu bisa dianggap menghina Allah.

Selain itu, bertaubat harus disertai dengan amal shalih. Karena dengan amal tersebut, dosa-dosa kita terhapus sebagaimana cahaya matahari menghilangkan kegelapan malam.

وَإِذَا جَاءكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَن عَمِلَ مِنكُمْ سُوءاً بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِن بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Allah berfirman, “(Yaitu) barangsiapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (al-An’am: 54).

Allah berfirman;

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertaubat, beriman dan beramal shalih (berbuat kebaikan), kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS: Thaha: 82).

Kesempatan Untuk Bertaubat

Di antara bukti kasih sayang Allah Subhanahu wa-ta'ala yang paling agung untuk kita adalah Dia tetap memberi peluang dan kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya, hingga saat ini. Tak peduli berapa lebarnya jarak yang memisahkan kita lakukan lewat kekeliruan dan dosa kepada-Nya. Allah Subhanahu wa-ta'ala ternyata tetap saja memberi kesempatan buat kita untuk menoleh dan kembali kepada-Nya. Tak peduli bagaimanapun legamnya hati kita oleh dosa kemaksiatan yang terus-menerus kita lakukan.

Kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali mendekat kepada-Nya itu ada pada kesempatan hidup yang Allah berikan pada kita hingga saat ini. Karena rentang kehidupan yang kita jalani sebenarnya adalah rentang pintu taubat yang tak mungkin tertutup kecuali hingga kehidupan kita berakhir. Disaat kita merasakan kerongkongan tercekik menghembuskan nafas terakhir, di sanalah pintu kesempatan kembali kita sudah tertutup. “Sesungguhnya Allah Swt menerima taubat seorang hamba, selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya.” (HR. Tirmizi).

Kita harus terus waspada. Karena di antara gangguan dan bisikan syaitan kepada orang yang bertaubat adalah bisikan yang membesar-besarkan prilaku dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan hingga seseorang merasa lunglai dan percuma bertaubat. Sementara di sisi yang lain, syaitan juga menghembuskan bisikan untuk mengecil-ngecilkan dan menyepelekan dosa dan kemaksiatan, sehingga seseorang terus-menerus melakukan dosa dan kemaksiatan itu.

Dalam Fiqih syaitan, suasana putus asa yang memalingkan seseorang dari taubat, itu lebih utama daripada mendorong orang untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Apa sebabnya? Karena pelaku dosa dan kemaksiatan bisa saja bertaubat dan taubatnya diterima Allah swt. Tapi orang yang putus asa dari rahmat Allah dan tidak mau bertaubat, akan semakin jauh untuk kepada Allah.

Mungkin hal inilah yang menjadikan sebagian ulama berpendapat, tentang keutamaan seorang berilmu yang beribadah kepada Allah dengan ilmu dan pemahamannya, meski amal ibadahnya tidak terlalu banyak. Dibandingkan dengan seribu orang ahli ibadah yang menjalankan amal ibadah begitu banyak, tapi miskin ilmu. Pelaku ibadah yang berilmu, akan bersikap lebih keras dan lebih waspada terhadap gangguan syaitan, ketimbang mereka yang melakukan ibadah, tanpa ilmu. Itu karena, gangguan syaitan biasa mengelabui ahli ibadah yang lugu dari tipu syaitan.

Jika kita termasuk orang-orang yang sedang bertaubat kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala waspadalah. Karena saat-saat itulah syaitan lebih meningkatkan intaiannya untuk masuk melalui sisi-sisi lengah dan celah kelemahan kita. Syaitan berupaya menghiasi hati kita untuk menjadi senang dan bangga dengan taubat, namun kemudian kita terpedaya menganggap bahwa pertarungan dengan nafsu sudah selesai. Kondisi seperti ini sangat berbahaya, karena bisa jadi tipuan seperti itu sulit diditeksi kecuali oleh mereka yang tajam mata batinnya karena keimanan. Dia-lah yang bisa membedakan, antara taubat yang sejati dan taubat palsu.

Boleh saja kita yang merasa suka cita dan gembira karena telah kembali kepada Allah swt. Sebagaimana Allah swt juga sangat suka cita menerima hamba-Nya yang kembali kepada-Nya (HR. Bukhari). Tapi, berhati-hatilah, dari kesenangan dan kegembiraan yang bisa menipu dan menjadikan kita tenang serta yakin dengan nasib di akhirat lalu merasa aman dari azab Allah.

Pertarungan dan kewaspadaan ini belum selesai, sampai kedua kaki kita menginjak surga. Dan kitapun tidak tahu apakah kelak akan masuk surga atau tidak.

Beristighfar dan bertaubatlah segera..! Jangan menunda taubat dan amal. Karena kitapun tidak tahu kapan maut menjemput kita, dimana pada saat itu pintu taubat telah ditutup. Maka gunakanlah pintu taubat selagi masih ada kesempatan, selama masih terbuka lebar bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar