Selasa, 28 Februari 2012

KONSULTASI SYARIAH

Air Yasin

Pertanyaan:

Assalamu‘alaikum. Ustadz, saya punya kakak yang sudah berumah tangga & suatu saat beliau ingin pindah rumah. Saya disuruh untuk membuat air yasin (air putih yang dibacain surat yasin) katanya untuk disiram-siramkan kerumah yang akan ditempatinya tersebut supaya rumahnya ‘dingin’ (tidak diganggu makhluk halus). Tapi saya tidak mau karena takut jatuh ke syirik, saya sarankan saja supaya sering-sering membaca al-Qur‘an, supaya hati kita juga tenang. Yang ingin saya tanyakan, salahkah sikap saya? Dan bagaimana hukum sebenarnya, karena saya juga pernah disuruh minum air seperti itu ketika saya sakit kepala yang kata orang ada jin yang mengganggu saya? Jazakalloh atas jawabannya.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Asal dalam beribadah menurut qaidah adalah At-tauqif (menunggu perintah) atau Al-Butlan (bathil) sampai ada dalil atau nash dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang memerintah kita untuk melaksanakannya. Apa yang kakak anda lakukan, bisa dianggap suatu ritual ibadah –khususnya ritual ibadah ketika pindah rumah-yang pada dasarnya harus dicarikan dulu sumber pengambilan hukumnya. Ada atau tidak dalil yang memerintahkannya? Kalau kita menela’ah nash-nash syar’iyah yang berkaitan dengan persoalan di atas, tidak ada satu nash pun yang menjelaskan Rasulullah SAW atau para sahabatnya atau juga para ulama salaf yang pernah memerintahkan atau pun melaksanakan hal tersebut.

Tentunya apa yang dilakukan oleh kakak anda tidak ada landasan syar’inya, dan bisa dikategorikan menyalahi sunnah. Sedangkan saran yang anda kemukakan memang sudah tepat. Karena yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW adalah memperbanyak membaca al-Qur’an atau ibadah sholat sunnah di rumah agar rumah tersebut diberkahi oleh Alloh SWT. Rasulullah SAW: ”Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kalian menjadi kuburan (tidak pernah dibacakan al-Qur’an di dalamnya) dan kuburan kalian menjadi masjid.”

Wallahu a‘lam bishshowab. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.





Hakikat Tuyul

Pertanyaan:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Pak Ustad yth, ada seseorang bertanya kepada saya, beliau pekerjaannya berjualan di Pasar (buka warung) dimana beliau sering kehilangan uang dan beliau menduga yang mengambil adalah "tuyul" Mohon agar Ustadz memberikan penjelasan atau refrensi mengenai Tuyul dari sudut pandang Agama ISLAM. Apakah ada dan bagaimana cara menjaga agar uang hasil jualannya tidak diambil oleh Tuyul tersebut? Demikian, atas penjelasannya diucapkan terima kasih. Jaazakumullah khairon khatsira.

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Tuyul sering dilekatkan dengan makhluq ghaib kecil yang gundul kerjanya mencuri uang. Entah bagaimana hakikatnya dan siapakah sebenarnya sosok tuyul itu sendiri. Karena cerita ini memang banyak beredar di tengah rakyat terutama mereka yang masih kuat dengan tahayul dan khurafat.

Lalu bagaimanakah syariat Islam memandang hal ini? Benarkah sosok tuyul itu memang ada? Badannya kecil, kepalanya botak, kerjanya mencuri uang dan bisa menghilang. Kalau kita mempelajari Al-Quran dan Sunnah, memang kita memang mendapati eksistensi dunia ghaib, baik berupa malaikat, syetan, iblis, jin, qarin dan lain-lain. Bila mengacu kepada kriteria tuyul ini, maka lebih dekat dengan syetan dari bangsa jin, karena memang umumnya kerja mereka itu mengganggu manusia. Baik dengan cara menguasai ataupun membuat lupa. Firman Allah SWT: Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa dari mengingat Allah; mereka ituah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan sytean itulah yang merugi. (QS. Al-Mujadilah: 19)

Mengenai beragamnya metode pendekatan yang mereka lakukan untuk menyesatkan manusia, Allah berfirman: “Iblis menjawab: Karena Engkau menghukum saya tersesat, saya akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati mereka bersyukur (ta’at).” (QS. Al-A’raf: 16-17) Tapi apapun nama dan kerjanya, hakikatnya mereka tidak lain adalah jin. Sekedar berubah bentuk menjadi tuyul, genderuwo, sundel bolong atau apa pun namanya, sama sekali tidak ada kesulitan. Apalagi bila misinya mengganggu, menakuti, mencuri atau bikin onar. Semua itu memang profesi jin yang sudah mendarah daging.

Untuk menghindari diri dari kejahatan jin, satu-satunya cara yang benar adalah berlindung kepada Allah. Caranya tentu saja dengan apa yang telah diajarkan-Nya melalui Rasul-Nya. Dengan mengikuti cara itulah kita akan aman terlindung. Karena semua makhluq jahat itu ciptaan Allah juga. Dan selama kita berlindung kepada Sang Pencipta, maka makhluk-makhluk itu tidak ada artinya. Diantara bentuk minta perlindungan kepada Allah antara lain: 1. Membaca Al-quran dengan baik dan benar. 2. Menjaga diri dari maksiat serta hal-hal yang dilarang-Nya. 3. Bentengi diri dengan zikir dan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. 4. Jauhkan diri dari bentuk praktek kemusyrikan yang berkedok keislaman. 5. Silahkan konsultasikan masalah secara langsung kepada para ustadz yang berpengalaman menangani masalah ini.

WallahuA‘lam Bish-Showab, Wassalamu‘Alaikum Wr. Wb.





Cara Mengusir Jin Dengan Air Garam

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr. Wb. Di desa saya ada sekolahan yang banyak jinnya, disitu sering terjadi kesurupan, kiai di sana lalu memberikan air garam pada setiap ruang kelas agar jinnya tidak mengganggu, karena sewaktu disiram dengan air garam jin itu kepanasan. Nah apakah ini termasuk syirik atau bagaimana?

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Untuk mengusir jin sebenarnya perlu kita ketahui dahulu tentang sifat jin itu sendiri, hal-hal yang disukainya dan hal-hal yang tidak disukainya. Tempat-tempat yang paling disukai jin antara lain adalah tempat yang kotor seperti tempat sampah, wc, kebon, sawah, padang pasir, hutan, gua dan tempat-tempat sepi lainnya. Selain itu jin juga betah di rumah yang tidak ada bacaan Al-quran, banyak musiknya, penuh dengan gambar-gambar manusia atau makhluq hidup dan seterusnya. Karena itu rumah kita harus selalu diterangi dengan bacaan Al-Quran, zikir dan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Selain itu hindari adanya gambar-gambar di dalamnya serta hal-hal maksiat lainnya. Karena di tempat itulah jin biasanya merasa lebih betah. Atau bisa juga sebelumnya ada yang menaruh semacam jimat tertentu di rumah itu. Karena itu bila ada benda semacam itu buang, hilangkan dan bakarlah segera. Sedangkan bila kesurupan, maka langkah yang utama adalah meruqiyah korban dengan bacaan Al-Quran, terutama ayat-ayat ruqiyah yang telah sering dibahas disini. Pemberian air putih dan daun bidara (sidr) juga termasuk yang pernah diparktekkan oleh Rasulullah SAW.

Untuk konsultasi selanjutnya, anda bisa menghubungi para ustadz yang sudah berpengalaman langsung menangani masalah jin itu. Diantara yang dapat kami rekomendasikan adalah para ustadz yang tergabung dalam majalah GHOIB. Bahkan beberapa korban jin sering diruqyah disini. Silahkan hubungi di nomor 021-8519280. Semoga Allah melindungi kita semua dari godaan syetan yang terkutuk.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb.






Madzhab Hanafi Dan Hanbali

Pertanyaan:

Apakah yang dimaksud ahlur ra‘yi Imam Abu Hanifah dan madrasah ahlul hadis Imam Ahmad bin Hanbal? Bukankah menggunakan ra‘yi dalam islam banyak dicela?

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Mahzab ahlu ra‘yi di masa imam Abu Hanifah tidak seperti yang kita bayangkan, di mana mereka meninggalkan Al-Quran dan sunnah dan hanya menggunakan akal dan logika saja. Yang dimaksud dengan menggunakan ra‘yu dalam mazhab Abu Hanifah sebenarnya merupakan hal yang sangat diterima syariat Islam. Karena berangkat dari hadits Muaz ketika berangkat ke Yaman dimana beliau ditanya oleh Rasulullah SAW, ”Dengan apa kamu akan memutuskan perkara?”. Muaz menjawab dengan Al-Quran. Bila di Al-quran tidak ada, maka dengan sunnah, maka dengan ijtihad.

Imam Abu Hanifah bin Tsabit bin Zuwatho (80-150 H) tidak hidup di Madinah dimana hadits Rasulullah SAW tersebar dimana-mana dan bisa dijamin keshahihahnnya. Tapi beliau tinggal di Iraq, sebuah negeri yang menjadi pusat berkembangnya hadits palsu dan bohong. Karena itu beliau sangat berhati-hati dalam menggunakan hadits dalam mazhab beliau. Jangan sampai hadits palsu itu masuk ke dalam mazhabnya. Kalau beliau tidak yakin bahwa suatu hadits itu shahih, maka beliau tidak akan berani menggunakannya. Hal ini berbeda dengan Imam Malik yang hidup di Madinah. Di Madinah, hadits nabawi demikian banyak tersedia dan hampir semuanya terjamin kesahihannya. Apalagi didukung oleh akhlaq dan sifat penduduk Madinah yang menurut sebagian ulama masih dapat dijadikan jaminan keshahihan suatu riwayat. Maksudnya, bila kita ingin mengetahui apakah suatu perkara itu memang benar datang dari Rasulullah SAW atau tidak, maka kita bisa melihat perilaku penduduk Madinah, bila mereka melakukannya, maka bisa dikatakan amal itu memang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan begitu juga sebaliknya.

Imam Abu Hanifah tinggal di Iraq di tempat yang jauh dari Madinah. Penduduk Iraq tidak pernah hidup bersama dengan Rasulullah SAW. Ditambah lagi dengan akhlaq dan perilaku penduduknya yang bercampur baur dengan para zindiq, munafiq, orang yang sesat dan seterusnya. Sehingga ada ungkapan bahwa Iraq di masa itu memang sumber hadits palsu, maudhu‘ dan tidak jelas. Dalam kondisi lingkungan seperti itu maka menjadi keharusan bagi Imam Abu Hanifah untuk berhati-hati dalam menerima riwayat hadits.

Untuk itu sebagai jalan keluar, maka beliau banyak menggunakan istihsan dan disamping ijma‘ dan qiyas. Terutama dalam hal-hal yang memang tidak didapat keterangannya dalam Al-Quran, sunnah atau sumber lainnya. Namun apa yang beliau lakukan sama sekali jauh dari pemahaman sebagian orang bahwa beliau lebih menggunakan akal daripada nash/naql. Karena sandaran istinbath mazhab beliau tetap Al-Quran, sunnah, Ijma‘ dan Qiyas. Istihsan beliau gunakan karena memang beliau kurang punya akses terhadap dalil-dalil yang bisa dipertanggung-jawabkan. Dan hal ini jelas bisa diterima oleh semua ulama dan fuqoha. Bahkan beliau termasuk imam mazhab pertama dalam sejarah Islam.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb.





Agama Di Dunia Dan Sebab Peperangan

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr. Wb. Pak kyai yang terhormat. Saya adalah seorang muslim yang sedang dan selalu berusaha untuk belajar tentang agama yang saya rasa pendalaman agama saya masih terlalu rendah atau boleh di bilang bloon. Banyaknya pertentangan dan permusuhan di muka bumi ini salah satu faktor utamanya karena adanya perbedaan agama antara umat di dunia ini. Sehingga terbersit suatu pemikiran dan menjadi pertanyaan di dalam hati saya untuk bertanya tentang hal yang berhubungan dengan itu. Pertanyaan saya: Bukankah Allah itu Maha Tahu, Maha Sempurna, Maha Kuasa dan Maha segalanya (maaf sebelumnya, bukan berarti saya mengingkari akan-NYA, tidak sama sekali, justru saya sebagai umat Islam meyakini seyakin yakinnya akan keberadaan-Nya). Oleh karena itu kenapa Allah tidak langsung menurunkan agama Islam sebagai agama yang pertama dan yang terahir juga agama satu-satunya yang benar yang diturunkan kedunia ini? Kenapa musti ada agama-agama lain yang diturunkan sebelum agama Islam. Dan sepengetahuan saya agama-agama lain itu juga adalah agama Allah, yang artinya agama lain itu juga diakui keberadaannya, sedangkan dalam Islam yang saya ketahui agama selain Islam adalah kafir, kenapa musti begitu pak kyai? Baiklah sebagai umat Islam kita mengakui bahwasannya Islam adalah agama yang benar lantas bagaimana dengan pemeluk-pemeluk agama lainnya yang sudah diturunkan terlebih dahulu? Apakah mereka termasuk kafir? Yang notabennya agama yang mereka anut juga termasuk agama dari Allah. Terus bagaimana dengan pemeluk-pemeluk kepercayaan atau aliran lain yang berada di seantero jagat ini yang mungkin saat syiar agama Islam atau syiar agama-agama lain mereka tidak mengetahuinya karena sarana dan prasarana telekomunikasi dan alat transportasi yang terbatas saat itu, mungkin juga sampai detik ini sehingga mereka yang berada di dalam rimba belantara seperti Irian Jaya atau pedalaman Africa masih menganut aliran kepercayaan nenek moyang mereka, apakah mereka juga kafir/berdosa? Pertanyaan saya selanjutnya apakah sebenarnya perbedaan yang mendasar antara agama Islam dan Nasrani? Apakah penyebabnya karena kita umat Islam berkeyakinan bahwa nabi Isa AS adalah nabi sedangkan umat nasrani menganggapnya sebagai Yesus/Tuhan/anak Alloh.

Demikian pertanyaan saya untuk saat ini atas penjelasan pak kyai saya ucapkan terimakasih. InsyaAlloh saya masih akan bertanya lagi tentang hal-hal yang masih belum saya ketahui. Wassalam 'alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Saudara Augusto, sebelumnya kami ucapkan terima kasih anda telah mengirimkan pertanyaan yang penting ini kepada kami. Apa yang anda tanyakan adalah hal yang perlu dan urgen untuk diketahui semua orang baik muslim ataupun non muslim. Sebenarnya Allah itu hanya menurunkan satu agama saja, yaitu Islam. Jauh sebelum manusia pertama (Adam as.) diciptakan, Allah sudah menyiapkan tempat ibadah buat manusia nantinya. Dan ketika Adam beranak cucu di muka bumi, maka semuanya memeluk agama Islam. Namun datanglah iblis yang mendendam kepada manusia untuk menyesatkan anak-anak Adam dari agama yang telah diajarkan oleh ayah mereka. Siasat licik iblis itu memiliki proses dan tidak langsung to the point. Mula-mula yang dirusak adalah masalah amal ibadah anak Adam yaitu dengan menghembuskan niat jahat untuk membunuh sesama, lalu diikuti dengan beragam jenis dosa dan pengingkaran atas perintah Allah yang lainnya. Dan pada gilirannya, mulailah manusia menyembah batu dan tuhan-tuhan selain Allah. Bila sudah tersesat terlalu jauh, maka Allah biasanya menurunkan nabi baru kepada mereka, apalagi ketika umat manusia sudah semakin banyak dan hidup terpisah satu sama lain membentuk suku dan bangsa. Bahkan Allah pun mengutus nabi atau rasul kepada masing-maisng suku dan bangsa itu dengan bahasa masing-masing. Meski nabi itu banyak, tapi risalah dan misinya jelas sama, yaitu tauhid dan mengabdi kepada Allah. Kalaupun ada yang berbeda, maka pada bentuk-bentuk cara ritual tertentu yang sifatnya teknis saja. Tapi 99% ajaran dari masing-masing nabi itu sama. Tidak ada perbedaan prinsipil dari ajaran para nabi itu.

Yang berbeda adalah ketika para nabi itu sudah wafat dan kaumnya sudah terlalu jauh menyeleweng, maka bisa jadi 99% ajarannya bisa berubah. Nabi yang tadinya adalah hamba dan rasul utusan Allah, oleh pemuka agama yang menyeleweng lalu dijadikan tuhan atau dikatakan sebagai anak tuhan. Agama yang tadinya hanif (lurus) lalu dibelok-belokkan oleh para rahib dan pendeta mereka sendiri. Kitab suci yang tadinya berisi ajaran Islam yang benar, lalu digonta-ganti ayatnya, sebagian dihapus, dibuang atau dibelokkan. Syariat yang tadinya suci lalu diganti dengan beragam bid‘ah, kemusyrikan dan ritual keberhalaan. Itulah yang selalu terjadi pada hampir semua kaum yang pernah didatangi oleh para nabi itu. Tidak terkecuali yahudi dan nasrani. Apa yang sekarang kita lihat pada kedua agama itu sudah menyimpang 180 % dari apa yang diajarkan oleh Nabi Musa dan Nabi Isa. Sebagai contoh, bibel yang sekrang mereka katakan sebagai kitab suci, nyatanya bukanlah firman Allah kepada Nabi Isa. Tapi lebih merupakan catatan orang-orang yang hidup bukan di zaman nabi Isa itu sendiri. Bahkan setelah itu mengalami penerjemahan ke berbagai bahasa yang justru versi bahasa aslinya pun sudah tidak ada lagi.

Ini saja sudah dapat menggambarkan bahwa agama ini sudah menyimpang dari ajaran Nabi Isa as. Apalagi keyakinan bahwa Nabi Isa anak tuhan atau malah jadi tuhan yang ternyata hanyalah hasil dari sidang konsili yang diadakan sekian ratus tahun setelah nabi Isa wafat. Bayangkan, bagaimana sebuah agama menentukan nabinya berubah jadi tuhan hanya dengan sebuah voting dalam rapat. Lalu dikatakan bahwa ini adalah sebuah doktrin ajaran agama. Jelas ini sebuah penyimpangan luar biasa. Dan dengan adanya kenyataan seperti ini, maka wajar bila Allah kemudian mengirimkan lagi nabi baru untuk meluruskan penyimpangan agama itu. Dialah Muhammad Rasulullah SAW yang dinobatkan Allah menjadi penutup semua nabi dan rasul. Hal itu bisa terjadi karena risalah yang dibawanya sangat lengkap, jelas dan memang sangat manusiawi. Tersimpan dengan sangat baiknya dlaam sebuah kitab suci yang menggunakan bahasa abadi plus jaminan tidak akan hilang sepanjang masa hingga hari qiayamat. Dan semua itu telah terbukti sampai hari ini, satu huruf pun dari Al-quran itu tidak ada yang hilang. Disamping itu, Rasulullah SAW juga melengkapi Al-quran itu dengan sekian banyak ‘demonstrasi‘ pelaksanaan dan penggunaan Al-quran yang dilakukan dalam 23 tahun masanya menjadi nabi.

Itulah hadits nabawi dan sebagaimana Al-quran, hadits nabawi ini pun juga merupakan warisan ajaran Islam yang abadi dan telah mengalami proses penyaringan yang super ketat sehingga kemungkinan terjadi pemalsuan hadits itu adalah 0 %. Mustahil ada hadits palsu yang tidak terdeteksi dalam agama Islam ini. Mekanisme dan sistematika penyeleksian hadits ini diakui dunia sebagai sistem terbaik yang pernah ada dalam sejarah manusia di muka bumi. Dan tambahan lagi adalah syariat Islam yang sangat sistematis dan ilmiyah yang tertulis dalam jutaan judul kitab di ribuan perpustakaan Islam. Hasil telaah dan kajian para fuqoha Islam yang bersih dan lurus serta jauh dari pemalsuan. Dibandingkan dengan ulah para rahib dan pendeta agama manapun, maka apa yang telah dilahirkan peradaban Islam selama 14 abad lamanya itu sama sekali tidak bisa disandingkan, karena sangat jauh berbeda nilai dan maknanya. Tentu saja ini bukan sekedar ‘kesimpulan fanatik’ dari seorang muslim, tapi ini adalah hasil kajian ilmiyah yang bersumber pada literatur dunia yang keabsahannya diakui para ilmuwan. Jadi kalau hari ini ada perang antar agama, sebenarnya perlu dipahami bahwa agama-agama selain Islam itu bukan lagi agama yang murni dan asli sebagaimana dibawa oleh para nabi. Karena kalau memang murni, pastilah tidak akan terjadi peperangan atau perbedaan. Karena sumber dan asalnya sama. Tapi yang sekarang ini sudah mengalami penyimpangan yang sangat jauh.

Ingatlah kisah ketika sebagian shahabat meminta suaka kepada Najasi yang kristen. Setelah selesai dialog, Najasi berkesimpulan bahwa agama yang dibawa oleh Muhammad itu tidak lain adalah ajaran asli yang dibawa oleh Nabi Isa sebelum mengalami penyimpangan. Karena itu Najasi menerima para shahabat itu dengan tangan terbuka.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.





Apakah Neraka Tidak Kekal?

Pertanyaan:

Assalamu‘alaikum. Bagaimana sanggahan kita terhadap orang yang mengatakan bahwa neraka itu tidak kekal baik bagi muslim maupun kafir? Terimakasih atas tanggapannya.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Orang yang mengatakan neraka tidak kekal jelas tidak melandaskan pemahamannya itu dengan dalil-dalil Al-Quran ataupun Sunnah. Karena secara tegas keduanya menyebutkan hal itu. Umumnya mereka hanya melandaskan pahamnya pada logika dan nalar sederhana. Sama sekali tidak bisa dijadikan dasar sebuah aqidah karena sekedar muncul dari logika manusia sederhana. Padahal yang namanya iman dan aqidah tidak bisa disusun berdasarkan hasil renungan yang mengawang-awang tinggi atau sekedar nyontek sana sini dari berbagai aliran filsafat. Lalu diberi label “Aqidah”.

Aqidah Islam punya akar yang jelas dan kuat. Dan tidak bisa menerima begitu saja apa pun aliran pemikiran yang ngalor ngidul. Dia berdiri tegak di atas doktrin Al-quran dan sunnah yang dipahami secara jujur dan shahih tanpa takwil, ta‘thil, tajsim dan takyif. Apa yang Allah sebutkan baik dalam Al-Quran maupun sunnah, itulah yang kita imani dan kita pahami. Bila ada yang secara sekilas tidak sesuai dengan nalar, maka bukan berarti kita bebas menafsirkannya. Karena kalau menafsirkan harus jelas pula sumber dan landasannya. Menafsirkan bukanlah mengarang-ngarang sendiri maksudnya. Menafsirkan adalah aktifitas menjelaskan suatu dalil dengan dalil lainnya. Misalnya, ada satu kata dalam AL-quran yang tidak kita pahami maksudnya. Maka yang namanya menafsirkan ayat itu adalah upaya untuk mencari penjelasannya pada ayat lain atau pada sunnah. Sedangkan merenung-renung sendiri bukanlah tafsir tapi sekedar komentar pribadi atas ayat tersebut.

Untuk itu silahkan buka surat Al-Baqarah ayat 39 dan ayat 80-81 dan ayat 160-161, Ali Imron 23-24, Al-A‘raf 36, Al-Anbiya‘ 99, Az-zukhruf 74, Fathir 36 dan lain-lainnya. Kita tidak perlu menganggah mereka, cukup kita sampaikan ayat-ayat AL-Quran yang zahir dan nyata. Nah apakah mereka masih ingin ingkar pada ayat Allah?

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.





Kematian Dan Hadits Silaturahmi

Pertanyaan:

Assalamu‘alaikum Wr Wb. Ustadz mau nanya nih, ada hadist yang menyatakan bahwa kematian seseorang sudah ditentukan, tapi ada hadist lain yang juga menyatakan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur. Bagaimana kita menafsirkan kedua hadist yang sepintas berlawanan itu. Wassalamu‘alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Hadits yang saudara tanyakan adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurariroh RA, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturrahminya.” (HR Bukhori, 5640) Dalam hadits di atas Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dengan tetap menjaga tali silaturrahmi, usia seseorang akan diperpanjang oleh Alloh SWT. Kalau melihat dzhohir hadits tersebut, seakan-akan sabda beliau bertentang dengan sejumlah ayat dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa usia seseorang sudah ditentukan, tidak dapat dikurangi maupun ditambah. Alloh SWT berfirman: “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya.” (QS. Yunus: 49, An-Nahl: 61) Ibnu Tin seorang ulama mecoba memberikan jalan keluar dari dua pernyataan di atas yang dzohirnya seakan-akan bertentangan;

Pertama: Yang dimaksud dengan penambahan dalam hadits tersebut merupakan kinayah dari barokah dalam umur orang tersebut, yang terwujud dengan digunakannya umur tersebut untuk beribadah dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk hari akhirat kelak dan tidak pernah sedikitpun digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Oleh karena itu, walau pun pada suatu saat nanti, orang tersebut meninggal dunia, maka namanya akan terus terkenang sebagai seorang yang sholeh dan bermanfaat bagi orang-orang yang di sekitarnya. Pendapat ini didukung pula oleh Imam At-Thobi sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Faiq. Kemudian diperkuat dengan hadit yang diriwayatkan oleh Imam At-Thobroni dengan sanad yang dhoif dari sahabat Abu Darda Ra ia berkata: “Disebutkan di hadapan Rasulullah SAW : “Barang siapa yang menyambungkan tali silaturrahmi, maka usianya akan bertambah.” Rasulullah SAW bersabda: “Itu bukan penambahan umur dalam makna yang sebenarnya karena Alloh SWT berfirman: “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya” Akan tetapi seseorang yang memiliki keturunan yang sholih setelah kematiannya yang senantiasa berdoa untuknya.

Kedua: Yang dimaksud dengan bertambah dalam hadits tersebut memang bertambah secara makna hakiki. Hal tersebut berkaitan dengan ilmu (pengetahuan) malaikat yang bertugas mencabut nyawa manusia. Sedangkan yang dijelaskan oleh ayat di atas berkaitan denga Ilmu Alloh. Mungkin saja Alloh SWT berkata kepada malaikat tersebut bahwa usia si ana 100 tahun jika ia menyambungkan tali silaturrahmi, tetapai jika tidak, maka usianya hanya 60 tahun. (meskipun sebenarnya Allah telah mengetahui dengan ilmunya yang bersifat qadiim bahwa orang tersebut akan menyambungkan atau memutuskan tali silaturrahmi).

Oleh karena itu, menurut ilmu Allah usia seseorang tidak bertambah maupun berkurang, disebut sebagai Al-Qodho Al-Mubrom, sedangkan menurut ilmu malaikat bisa saja bertambah ataupun berkurang dan dikenal sebagai Al-Qodho Al-Mu’allaq. Imam Syarif Shiddiq Al-Qanuji menyatakan bahwa yang lebih utama ada memahami hadits tersebut dengan makna hakikinya, karena Alloh yang menentukan sebab-sebab dan akibat-akibatnya. Apabila ia telah mentaqdirkan untuk memperpanjang usia seseorang, Ia telah mempersiapkan baginya sebab-sebab maknawi dan non maknawi yang bisa menjadi penyebab bertambahnya umur seseorang, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama (Fathul “Allam Syarah Bulughul Marom 4/ 1683)

Maka dari itu, ini adalah masalah khilafiyah di kalangan para ulama. Yang paling penting bagi kita adalah bagaimana kita bisa melaksanakan anjuran Rasulullah SAW di atas untuk tetap menjaga dan menyambungkan tali silaturrahmi. Wallahu a‘lam bishshowab. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.







Penyakit Karena Jin/Syetan

Pertanyaan:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Kalau tidak salah Quran/Hadist menyatakan bahwa jin dapat merasuk ke dalam tubuh manusia sampai ikut ke dalam aliran darah. Apakah mungkin penyakit-penyakit seperti autism pada anak-anak (seolah-olah si anak berada di dunianya sendiri; tidak mau berkomunikasi, kadang tertawa sendiri, hanya mau bermain sendiri seolah-olah seperti ada sesuatu yang mengungkungnya) atau juga penyakit kejiwaan seperti gila, schizophrenia dll yang tampak seperti orang yang hilang akal atau kesurupan adalah merupakan gangguan dari jin? Selain pengobatan secara medis apakah si penderita perlu juga diruqyah? Karena secara medis sendiri para ahli masih memperdebatkan penyebabnya. Apakah ‘kemasukan‘ jin dapat menyebabkan penyakit/kerusakan fungsi tubuh secara klinis, seperti misalnya infeksi? Apakah ada referensi dalam Quran/Hadist mengenai hal ini? Wassalamu‘alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Gejala penyakit jiwa yang diakui dalam dunia medis modern saat ini, semua bisa dilakukan oleh jin atau syetan. Meski untuk memastikan bahwa penyebabnya adalah pengaruh syetan atau jin, haruslah dilakukan pengetesan dan pemeriksaan. Tentu saja dunia medis tidak akan pernah mengakui penyebab yang datang dari jin atau makhluk halus, karena doktrin dasar dari ilmu-ilmu medis memang sama sekali tidak pernah mengakui sisi spiritual atau alam ghaib. Jadi bila anda berdebat dengan para dokter jiwa, maka pastilah ide anda untuk meruqyah pasien mereka akan diabaikan, karena bertahun-tahun mereka belajar kedokteran, tidak ada satu pelajaran pun yang membenarkan dunia ghaib, bahkan mengingkarinya secara total. Meski para dokter jiwa itu pun tidak pernah mampu menyembuhkan atau bahkan mendiagnose secara tepat dan akurat penyebab kegilaan itu.

Ilmu kedokteran khususnya masalah penyakit jiwa hingga hari ini memang berjalan di tempat, tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Namun pilihan alternatif penyebab dari dunia ghaib sama sekali tidak pernah dipertimbngkan. Sebagai muslim yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya serta pada AL-Quran, kita diwajibkan percaya adanya dunia ghaib, baik para malaikat, ruh, jin, syetan dan lain-lain. Percaya disini bukan berarti tunduk tapi mengakui bahwa Allah memang menciptakan alam ghaib itu. Dan keterangan tentang sifat dan aktifitas makhluq ghaib memang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam banyak hadits shahih. Dan dari dalil-dalil yang tsabit itulah kita bisa tahu bahwa memang diantara salah satu kerja jin itu adalah menyebabkan berbagai bentuk penyakit seperti kegilaan, kesurupan, kebisuan dan sejenisnya.

Namun demikian, tentu saja tidak semua kasus bisa dipastikan disebabkan oleh jin. Tetapi mempertimbangkan peran dan faktor dunia ghaib, bagi dokter muslim, bukanlah sebuah aib. Toh masalah dunia ghaib ini bukan saja milik agama Islam. Nasrani dan Yahudi pun sangat mengenal dunia ghaib ini. Bahkan banyak tokoh yahudi yang secara serius menjalain hubungan dengan syetan dan iblis untuk kepentingan hidupnya. Seperti para peramal, pesulap (baca:penyihir), tokoh politik dan spritualis yahudi jelas-jelas mengakui bahwa mereka mengadakan perjanjian dengan syetan. Tentu saja syetan sangat berbahagia menjalin kerjasama ini, karena mereka mendapat imbalan luar biasa dari temannya yang yahudi atau manusia, yaitu penyembahan dan pengorbanan jiwa, darah dan aqidah.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb.






menikahi anak tiri

Apakah menikahi anak tiri, di mana anak tiri itu hasil dari hubungan di luar nikah istri

dengan laki-laki sebelumnya ( maaf diperkosa orang yang tdk bertanggung jwb secara tdk sadar), apa akan tetap haram hukumnya? sementara istri sudah cerai.

Assalamu alaikum wr.wb.

Anak isteri yang merupakan hasil hubungan di luar nikah tetap merupakan anak isteri dan bernasab kepadanya.

Terkait dengan hukum menikah dengannya maka tergantung pada kondisi yang ada. Jika isteri telah digauli maka anaknya (anak sang isteri) secara otomatis tidak boleh dinikahi selamanya. Bahkan meski sang isteri sudah diceraikan. Demikian pandangan jumhur ulama berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nisa: 23)

Terkecuali jika si isteri belum digauli lalu ditalak atau meninggal dunia, maka dalam kondisi demikian anaknya boleh dinikahi.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.






Orang Pintar - Mengeluarkan Paku Dari Tubuh Pasien

Pertanyaan:

Saya ingin menanyakan mengenai pengobatan alternatif, dimana ada pasien yang kena ‘tenung‘ sehingga keluar jarum, paku, dan lain-lain dari badannya. Bagaimana dengan fenomena hal ini? Mohon penjelasan beserta rujukannya. Terima kasih.

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Penjelasannya sederhana saja, bahwa benda-benda yang dikeluarkan dari badan seseorang yang terkena sihir itu memang bisa terjadi akibat campur tangan syetan/jin. Buat makhluq ghaib seperti mereka, memindahkan sebuah benda/materi lain ke dalam tubuh seseorang untuk mencelakakannya bukan hal yang aneh dan baru. Tekhnik ini oleh para penyihir asli juga digunakan dalam pemainan sulap/magic oleh para pesulap terkenal. Kebetulan dalam bahasa Inggris sulap dan sihir sering tidak dibedakan. Karena memang banyak penyulap yang merangkap jadi penyihir.

Dimasa nabi Sulaiman, jangan sekedar paku, singgasana yang berat dan besarpun bisa mereka pindahkan dalam waktu sekejap. “Berkata Ifrit dari golongan jin, ”Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu (Nabi Sulaiman) berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. (QS. An-Naml: 39) Dunia sihir itu memang bukan hanya konsumsi film dan cerita horor, tapi memang benar-benar ada. Pelaku utamanya tidak lain adalah syetan dan jin kafir yang menyesatkan manusia melalui tipu dayanya serta menggunakan kemampuannya yang sebenarnya semua itu adalah amanat dari Allah. Tapi kita tahu bahwa iblis dahulu sudah bersumpah untuk menyesatkan manusia beserta semua keturunannya. Dan salah satu kemampuan yang mereka miliki adalah sihir.

Sedangkan manusia yang punya beban menjadi khalifah, adalah korban-korbannya. Namun manusia pun dibekali dengan senjata dan benteng yang menjaga mereka dari pengaruh jahat sihir itu. Dalam syariat Islam, senjata dan benteng perlindungan kita tidak lain adalah penjagaan dan benteng dari Allah SWT langsung, dimana bila manusia langsung dilindungi Allah, maka tidak ada satupun makhluq didunia ini yang bisa mencelakakannya. Untuk Itu, melalui Rasul-Nya, umat Islam diajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah dan tindakan apa yang harus dilakukan agar bisa terbentengi oleh Allah dari gangguan syetan. Doa, zikir dan serangkaian bacaan Al-Quran adalah salah satu bentuk yang disebutkan oleh Rasulullah SAW untuk menangkal pengaruh sihir. Selain itu tentu saja dengan membersihkan aqidah dan iman dari khurafat dan kemusyrikan. Serta menjauhkan diri segala bentuk maksiat dan dosa. Dan menjadi hamba yang ikhlas dalam arti yang sesungguhnya akan mengakitbatkan semua kemampuan syetan itu lumpuh. Hal itu diakui langsung oleh syetan dalam ayat al-Quran: “Iblis menjawab, ”Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba Mu yang ikhlas” (QS. Shaad 82-83)

Wallahu A’lam bis-Showab. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.





Keponakan Saya Bertanya-Dimana Allah?


Pertanyaan:

Assalamu‘alaikum. Ustadz yang budiman, keponakan saya yang berumur 4 tahun bertanya ke ibu saya, "Nek, Allah di mana sih, di bawah awan ya?" Karena kurangnya ilmu, ibu saya dan saya sendiri tidak bisa menjawab secara gamblang atas pertanyaannya. Bisakah Ustadz membantu saya, bagaimana cara menjelaskan kepada anak kecil? Atas bantuannya saya ucapkan banyak terima kasih.

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Silahkan anda jawab sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Allah sendiri tentang keberadaan-Nya. Di dalam Al-Quran yang merupakan wahyu dari Allah SWT kepada semua manusia, Allah SWT telah menyebutkan bahwa Dia berada di suatu tempat. Silahkan buka Al-Quran dan carilah surat ke-67 yaitu Surat Al-Mulk ayat 16-17: “Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku”. (QS Al-Mulk : 16-17).

Selain itu juga silahkan buka surat lainnya: “Yang Maha Pemurah itu berada DI ‘ARYS BERSEMAYAM.” (QS Thaha: 5) “Sesungguhnya tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi lalu bersemayam DI ATAS ‘ARSY”. (QS. Al-A‘raf:54). Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Kasihanilah yang bumi maka kamu akan dikasihani oleh Yang DI LANGIT”. (HR. Tirmiziy). Dan dalil yang menyebutkan bahwa Allah ada di langit, Arsy atau di tempat yang tinggi itu sangat banyak sekali dalam AL-Quran maupun Al-Hadits. Yang penting harus diterangkan bahwa keberadaan-Nya tidak sama seperti manusia atau mahkluk-Nya. Begitu juga bila orang atau anak bertanya apakah Allah punya mata, telinga, tangan dan kaki, maka jawabnya adalah ya. Tapi kesemuanya tidak sama dengan yang dimiliki manusia atau makhluq apapun di dunia ini. Karena Allah itu tidak sama dengan apapun. Namun secara tegas Allah menyebutkan bahwa memang Dia punya semua itu.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.






Madzhab Al-Asyari Dimana Salahnya?

Pertanyaan:

Benarkah madzhab aqidah (terutama dalam masalah asma dan sifat Allah) Imam Asy‘ari dalam aqidah yang saya pelajari di SMP dulu adalah sesat? Dimana letak kontroversinya? Bukankah Imam Nawawi penulis Riyadhush Shalihin dan Imam al Ghazali penulis Ihya Ulumuddin termasuk dalam madzhab ini? (maaf kalau saya keliru) Terimakasih atas jawabannya.

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Setiap ulama pasti memiliki kelemahan dan setiap mazhab pasti juga memiliki kelemahan. Kita terus terang harus mengakui hal tersebut. Apalagi bila kita coba menyelami bagaimana kondisi sosial di masa di mana suatu mazhab itu berdiri pertama kali. Dalam hal ini mazhab aqidah yang dibangun oleh Al-Asy‘ari sedang mengalami gempuran hebat dari kelompok rasionalis yang saat itu memang sedang di atas angin. Al-Asy‘ari mencoba menangkis semua argumen kelompok rasionalis dengan bahasa dan logika lawannya. Karena kalau dijawab dengan logika sendiri, jelas tidak akan efektif untuk menangkal argumen lawan. Sehingga kita memang melihat adanya kombinasi antara dalil aqli dan naqli yang digunakan oleh Al-Asy-‘ari.

Pada masanya, metode penangkisan itu sangat efektif untuk meredam argumen lawan. Sebaiknya kita memang tidak membandingkannya dengan zaman yang berbeda. Karena bila hal itu dilakukan, memang di sana sini barangkali kita akan temukan hal-hal yang agak janggal. Sayangnya, oleh mereka yang kurang mengerti duduk permasalahan, kejanggalan inilah yang sering dijadikan bahan tuduhan bahwa mazhab aqidah ini sesat. Padahal dimasanya, banyak sekali para ulama yang secara otomatis berada di pihak Al-asy‘ari bila melihat tarik menarik antar kedua kelompok. Namun bukan berarti semua ulama saat itu 100% menerima/setuju dengan detail mazhabnya. Dan hal itu adalah sesuatu yang lumrah sifatnya. Dan memang kenyataannya bahwa mazhab aqidah Asy‘ariyah ini memang mazhab yang paling banyak dipeluk umat Islam secara tradisional dan turun temurun di dunia Islam.

Di dalamnya terdapat para ulama, fuqoha, imam dan sebagainya. Meski bila masing-masing imam itu dikonfrontir satu persatu dengan detail pemikiran asy‘ari, rasanya belum tentu semuanya sepakat. Bahkan sejarah mencatat bahwa hampir semua imam besar dan fuqoha dalam Islam adalah pemeluk mazhab aqidah al-As-‘ari. Seperti: Al-Baqillani, Imam Haramain Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Fakhrurrazi, Al-Baidhawi, Al-Amidi, Asy-syahrastani, Al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnuddaqiq Al-‘Id, Ibu Sayyidinnas, Al-Balqini, Al-‘Iraqi, An-Nawawi, Ar-Rafi‘I, Ibnu Hajar Al-‘Asqallani, As-Suyuti. Sedangkan dari wilayah barat khilafat Islamiyah ada Ath-Tharthusi, Al-Maziri, Al-Baji, Ibnu Rusyd (aljad), Ibnul Arabi, Al-Qadhi ‘Iyyadh, Al-Qurthubi dan Asy-Syatibi. Jangan lupa juga bahwa universitas Islam terkemuka di dunia dan legendaris menganut paham Al-Asy‘ariah dan Maturidiyah seperti Al-Azhar di Mesir, Az-Zaitun di Tunis, Al-Qayruwan di Marokko, Deoban di India. Dan masih banyak lagi Universitas dan madrasah yang menganutnya.

Para ulama pengikut mazhab Al-Hanafiyah adalah penganut paham Al-Maturidiyah Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi‘iyyah adalah penganut paham Al-Asy‘ariyah. Bila Asy‘ariah dianggap sesat, tentu saja kita perlu mengeluarkan para ulama Salaf itu dari garis Islam, begitu juga universitas Islam dan para imam mazhab. Dan mayoritas terbesar umat Islam sepanjang masa pun harus dianggap sesat pula dan keluar dari garis Islam. Tentu saja ini bukan perkara sepele. Yang benar adalah bahwa Al-Asy‘ariyah itu adalah bagian dari aqidah Ahlussunnah wal Jamaah. Umat Islam telah ridha kepadanya karena menjadikan Al-quran dan sunnah sebagai sumbernya. Bila pada hari ini mazhab ini kita kritisi, sangat boleh jadi ada hal-hal yang kurang tepat. Tetapi kita harus ingat bahwa masa dimana mazhab ini ditumbuhkan. Dan menurut kami, kalaupun kita akan mengoreksinya, maka itu adalah hal yang sangat baik. Tapi tentu saja caranya bukan dengan gebyah uyah dan sekedar menuduh sesat hanya karena ada point-point yang kurang tepat.

Kurang tepat disini sebenarnya lebih kepada masalah yang kurang qath‘i, dimana masih bisa diterima adanya berbedaan paham dikalangan ulama. Karena memang nash dan dalilnya memungkinkan untuk dipahami secara berbeda. Nah kalau dalam perbedaan seperti ini, satu pihak menuduh pihak lain sebagai sesat, bid‘ah, jahil dan sebagainya, kelihatan kurang etis. Apalagi bila yang menuduhkan itu hanya mereka yang sekedar bertaqlid kepada syeikh/gurunya saja tanpa pernah menelaah secara ilmiyah dan mendasar, apa sesungguhnya yang jadi titik perbedaan di antara ulama. Dalam masalah ini, sangat baik bila kita berpegang pada kaidah bahwa setiap orang bisa diterima perkataannya atau ditolak kecuali Rasulullah SAW.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.







Menyikapi Adat Jawa
Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bagaimana hukumnya dalam Islam adat-adat Jawa? Seperti ruwatan, tahlillan, 3 harian, 7 harian, 1000 harian, slametan, dan lain-lain? Jazakallahu Khairan katsiir.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Ketika Islam diturunkan 1400-an tahun yang lalu, salah satu doktrinnya adalah memperbaiki kerusakan aqidah dan kehidupan manusia. Namun bila aqidah dan kerusakan itu tidak terjadi, maka Islam justru melestarikannya bahkan mengembangkannya menjadi peradaban besar. Sebagai contoh, ketika Islam masuk Persia yang dulunya penyembah api, maka semua unsur yang positif dan sesuai dengan prinsip Islam justru diterima dan dikembangkan. Adapun yang bertentangan dengan Islam, maka dihilangkan dengan cara yang sangat baik. Ketika Rasulullah SAW wafat, tidak pernah kita dapat masjid itu berkubah. Kubah itu sendiri bukan bagian dari adat orang jazirah arab. Namun seiring dengan perluasan wilayah Islam, beragam kebudayaan dan adat itu mengalami proses penyaringan dan pengembangan dalam peradaban Islam. Bila benar bahwa kebudayaan itu tidak bertentangan dengan prinsip Islam, sangat boleh jadi justru akan mengalami pelestarian bahkan pengembangan luar biasa. Dan kubah itu adalah salah satunya sehingga seolah-olah menjadi ciri khas masjid di berbagai belahan bumi. Meksi kubah itu bukan bagian dari kriteria pembangunan masjid, tapi dia ada dimana-mana.

Budaya jawa tidak lepas dari proses penyaringan. Para juru dakwah generasi pertama yang datang ke nusantara ini tahu persis bahwa masyarakat jawa adalah orang yang tidak bisa dipisahkan dengan budayanya begitu saja. Karena berbagai pendekatan dilakukan sedemikian rupa sehingga meski masih kental dengan budaya jawa, namun sedikit demi sedikit ajaran Islam semakin dominan. Memang semua itu adalah sebuah proses yang tidak boleh berhenti di tengah jalan. Islamisasi di tanah jawa sebenarnya adalah proses yang cukup berhasil. Karena bila kita lihat latar belakangnya yang kental dengan animisme, dinamisme, hindu dan budha, maka Islam adalah agama yang paling berhasil merangkul orang jawa. Bahkan dibandingkan zending dan misi kriten sekalipun. Bahkan para raja hindu dan budha di tanah jawa pun akhirnya ramai-ramai memeluk Islam setelah rakyatnya. Hanya segelintir dari mereka saja yang berkeras hati dan akhirnya membentuk ‘benteng’ pertahanan yang terkonsentrasi di Bali hingga kini. Sehingga sudah menjadi aksioma bahwa jawa itu identik dengan Islam, sebagaimana arab itu identik dengan Islam. Walaupun pada prakteknya, masih ada kepercayaan kejawen dan beragam ritual yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, itu sangat tergantung dari intensitas dakwah di suatu daerah. Bila basic dakwah disitu kurang dominan, biasanya pengaruh peninggalan hindu budha itu terkadang satu-dua masih terselip. Ini adalah suatu yang yang manusiawi. Jangankan di jawa, di tanah arab saja yang konon negeri para nabi, praktek kemusyrikan dan sihir pun masih banyak hingga kini. Meski dakwah salafiyah dominan, namun di banyak pelosok praktek seperti di jawa pun masih bisa ditemukan. Sebagai orang Indonesia, kita adalah muslim yang paling tahu bagaimana melakukan Islamisasi dan pendekatannya.

Secara umum, pendekatan orang jawa itu bukanlah pendekatan debat dan adu argumen, tapi lebih kepada pendekatan psikologis dan sosial. Barangkali karena itulah dahulu wali di tanah jawa mengembangkan seni wayang untuk dakwah lepas dari kontroversi di kalangan mereka sendiri. Tentu saja bukan berarti kini kita harus menghidupkan wayang di zaman ini, tapi raihlah generasi muda jawa ini dengan pendidikan dan peradaban. Bila strategi ini berhasil, mereka sendiri yang akan meninggalkan semua ritual yang tidak sesuai dengan aqidah Islam. Sayangnya, proses seperti ini tidak selalu berjalan mulus. Akibatnya, masih ada saja yang menjalankan ritual-ritual seperti itu. Seharusnya, para da‘I dan muballlgih tidak hanya berpikir pada batas ceramah dan fatwa, tetapi juga pembinaan generasi muda, pendidikan, kesehatan dan sosial. Bila ini ditekuni, maka akan lahir generasi baru yang benar-benar punya wawasan Islam yang baik. Generasi ini akan melahirkan generasi yang lebih baik hingga proses Islamisasi antara generasi itu berjalan secara baik pula. Sedangkan pendekatan fatwa yang menyederhanakan masalah bahwa ini haram, itu bid‘ah, ini kejawen dan itu musrik, maka tidak semua orang jawa dengan mudah bisa menerimanya. Alih-alih mau mendengarkan, bahkan bisa jadi mereka malah membuat front untuk bertahan.

Jadi ajaran Islam itu bila disampaikan dengan cara yang baik, umumnya akan membuat agama ini semakin banyak pengikutnya. Dan bila disampaikan dengan cara yang kurang simpatik, hanya akan melahirkan masalah baru yang bertumpuk. Sedangkan hukum tahillan dan selametan sudah sering kali dibahas di forum ini, silahkan anda browse untuk mendapatkannya. Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.






Yang Diikhtilafkan Para Ulama Dan Yang Tidak

Pertanyaan:

Assalamu‘alaikum. Ustadz, minta tolong dibuatkan daftar masalah-masalah yang ikhtilaf diantara para ulama. Juga daftar masalah-masalah cabang dan masalah-masalah pokok. Jazakallah sebelumnya Wassalamu‘alaikum.

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Biasanya masalah yang diikhtilafkan para ulama adalah masalah yang menyangkut teknis ibadah. Perbedaan pendapat ini menjadi suatu hal yang tidak mungkin dihindari karena terkait dengan banyak hal, seperti bahasa, sudut pandang, metodologi istimbath hukum dan lain-lian. Bahkan latar belakang tempat tinggal para fuqoha dan profesi mereka pun juga turut berpengaruh dalam masalah perbedaan pandangan. Dan secara fiqih, perbedaan dalam teknis masalah ubudiyah adalah hal yang bisa ditolelir dan diterima oleh semua kalangan. Karena bukan masalah yang menentukan apakah seseorang itu beriman atau tidak.

Sedangkan masalah yang umumnya para ulama tidak berbeda adalah masalah yang bersifat ushul/pokok dalam agama, yaitu masalah aqidah dan tauhid. Meski memang ada juga beberapa aliran dalam masalah aqidah, namun biasanya aliran yang keluar dari mainsteram adalah aqidah yang menyimpang dari aqidah yang benar. Dibandingkan dengan yang lurus, maka pengikut aliran aqidah yang menyimpang ini sangat sedikit dan bersifat kasuistik dan pada zaman tertentu saja. Karena umumnya dengan jelas bisa langsung terlihat dimana letak penyimpangannya.

Sedangkan masalah furu‘ dalam fiqih tidaklah berpengaruh kepada aqidah dan iman seseorang. Jadi bila dalam satu shaf shalat ada yang melakukan qunut dan tidak, hal itu sama sekali tidak berpengaruh kepada syah tidaknya shalat itu. Berbeda dengan aqidah yang apabila berbeda secara prinsip dasar, maka bisa saja membawa kepada kekafiran. Misalnya kelompok zindiq yang membawa teologi dari barat masuk ke dalam aqidah Islam, dengan mudah bisa dideteksi dan hampir seluruh ulama akan berbaris menentangnya. Karena yang dibawa adalah doktrin asing di luar Islam itu sendiri.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu‘alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.






Yahudi, Agamanya Atau Oknumnya Yang Di Musuhi?

Pertanyaan:

Manakah yang benar: permusuhan umat Islam dengan Yahudi adalah karena agamanya, atau karena penindasan dan ketidakadilan yang mereka lakukan? Tolong dijawab dengan dalil-dalil yang jelas. Wassalam.

Jawaban:

Assalamu‘alaikum Wr. Wb. Yahudi atau agama lain apapun dalam perspektif Islam adalah agama yang wajib dihormati. Namun dari sisi nilai, para pemeluk agama itulah yang merusak ajaran dan kesucian agama mereka sendiri. Kita ambil contoh Yahudi. Sebenanya orang-orang Yahudi adalah keturunan para Nabi dan Rasul. Di tanah air bangsa Israil itu pernah diutus berpuluh bahkan beratus nabi dan rasul sepanjang masa. Namun kelakuan jahat para pemeluk agama ini sedemikian keterlaluan sampai-sampai mereka berani membunuh para nabi, memalsukan kitab suci dan mengganti ajaran Allah dengan apa yang mereka kehendaki. Sehingga mereka itu sering dihukum Allah dengan berbagai siksa dunia yang telah ditulis abadi dalam lembaran sejarah manusia.

Akhirnya, karena terlalu seringnya mereka melakukan praktek mungkar seperti itu, maka penamaan agama mereka menjadi identik dengan kelakuan mereka sendiri. Meski ada sedikit tersisa dari pemeluk agama itu yang shalih, namun umumnya mereka adalah orang-orang yang terbukti dalam sejarah sangat ingkar dan selalu berbuat kerusakan di muka bumi. Karena itu Allah pun tanpa segan-segan menyebutkan dengan gamblang dalam Al-Quran, bahwa yahudi dan nasrani itu tidak rela kepada umat Islam sebelum umat Islam mengkuti millah/agama mereka (QS. Al-Baqarah : 120).

Bahkan mereka dikatakan sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menyebut pengecualian. Lalu apa memang tidak ada kecuali? Ada tapi sangat sedikit dan kalau pun ada pengecualian, maka umumnya mereka adalah yang sadar dan mau menjadi pemeluk Islam. Agama mereka sendiri aslinya adalah ajaran yang turun dari langit. Namun mereka mengganti ayat Allah itu dengan semau mereka dan membuat sendiri doktrin-doktrin agama yang menyimpang dan memusuhi kemanusiaan. Karena itu kita bisa bilang bahwa agama atau ajaran yang mereka anut saat ini memang musuh besar manusia dan kemanusiaan. Akhlaq dan perilaku mereka juga bejat. Dan kebejatan itu sampai merubah agama mereka yang asli.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu‘alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar