Selasa, 28 Februari 2012

JENDELA KELUARGA

Penat Bukan Alasan Bagi Wanita?



SAYA harus bersyukur sebanyak-banyaknya ke hadrat Ilahi, atas kurnia ilmu-Nya pagi ini. Hari Sabtu-Ahad, seperti biasa, seolah-olah ada ‘neuron sabtu’ perlahan-lahan menyusup menguasai minda, bahawa oleh kerana hari ini cuti, silalah merasa letih lesu. Ya, ‘penyakit’ sebahagian orang bekerja, bila cuti bermula, walaupun hanya hujung minggu, badan terasa sangat penat.

Penat berlaku apabila tenaga telah digunakan dengan banyak. Ia tidak hanya terasa di tubuh badan tetapi juga di fikiran. Termasuk di sini, penat hati dan perasaan. Apabila empat elemen penat ini tergabung, apa yang terhasil adalah lemah longlai tiada maya. Seakan-akan dunia tempatnya berpijak sangat sempit, seolah-olah hanya dia saja yang hidupnya dikelilingi kesibukan dan masalah di atas muka bumi ini. Terlintas pula di benak yang sedia penat itu, “Akulah insan malang.”

Anehnya, seperti penyakit menular yang menimpa para ibu saja. Mungkin ada lelaki merasakan hal sama, namun saya percaya, mungkin sangat sedikit. Wajib kita maklumi, kesibukan para ibu sebenarnya melebihi kesibukan orang-orang lelaki walaupun tanggungjawab lelaki lebih besar.

Bayangkan, seorang ibu, bangun awal pagi (sebahagian besar dinihari), menyediakan sarapan dan bekal untuk anak-anak tersayang, ditambah tugas memikirkan menu makan tengah hari, petang dan malam. Dilanjutkan dengan tugas harian, mengurus dan mengasuh anak, kerja-kerja rumah, tugas-tugas sosial (sebagai anggota masyarakat), menjadi tukang kebun dan seribu tugas-tugas lain. Begitu hebat kesibukannya, sehingga bila haus dahaga, harus ibu itu sendiri yang menyediakan.

Bertambah-tambahlah sibuknya bila ibu itu juga bekerja di luar rumah. Berganda-ganda bila dia merupakan ibu tunggal. Bukan kesibukan isu utama di sini. Penat. Letih. Keadaan yang bila tidak diperhatikan, akan menyebabkan hadirnya tekanan perasaan.
Tidak heran bila banyak ibu-ibu yang tertekan dan antara gejala tekanan adalah murung yang dapat menyebabkan kegalauan.

Para ibu galau? Ya, tak salah lagi. Merekalah kelompok yang paling mudah dikalahkan galau. Galau terhasil dari berbagai penyebab; bimbang, risau, khuatir, gelisah dan mengakibatkan penat hati dan perasaan.

Kembali kepada topik asal, penat bukan satu kondisi yang tercela, sebaliknya dalam hal-hal tertentu, ia merupakan hal yang terpuji. Ustadz Muhammad Arifin Ilham dalam sebuah tulisannya mengatakan, di antara jenis penat yang mengandungi berkat, ialah, mencari rezeki yang halal, mengandung/melahirkan/mengurus anak-anak dan keluarga serta sabar dalam menghadapi sakit, cacat, kemiskinan dan musibah.
Termasuk di dalamnya, menjaga orangtua di usia lanjut mereka.

Rasanya mustahil untuk meniadakan rasa penat, namun ada banyak cara untuk mengurangi dan menikmatinya. Di antaranya:

1. Dahulukan pekerjaan yang paling utama dan urgent.
2. Melakukan kerja sedikit demi sedikit adalah jauh lebih baik daripada menangguhkan semata-mata untuk menyelesaikannya sekaligus.
3. Berhenti bekerja untuk berehat sekadarnya (minum segelas air atau baca satu halaman al-quran atau membaca satu atau dua tulisan) dan melanjutkan lagi dengan perasaan lapang.
4. Tidak memikirkan tugas lain sewaktu melaksanakan setiap tugas. Oleh karena itu, menulis/menyenaraikan adalah pilihan yang baik untuk mengelakkan ‘penat fikiran’.
5. Menyelesaikan semua urusan yang melibatkan orang lain secara dewasa dan bijaksana, berpandukan bimbingan Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya, baik dengan lisan mahupun dengan tulisan. Kalau perlu, dengan diam (mengembalikan urusan manusia kepada pemilikNya), supaya tidak terkena ‘penat perasaan’.
6. Sentiasa mengingati Allah Subhanahu Wata’ala sehingga selalu merasa tenteram dan selamat daripada ‘penat hati’.
7. Menjaga lisan agar tidak sering mengucapkan ‘penat’. Penelitian mengatakan, hika kata ini sering diucapkan mampu mempengaruhi otak yang kemudian akan menghantar pesan kepada badan dan membuat tuan punya badan benar-benar merasakan penat. Dan dalam banyak kisah, kita akhirnya, merasa benar-benar sangat penat.
8. Libatkan semua anggota keluarga dalam membereskan kerja-kerja rumah tanpa mengambil kira jender dan jadikan ia aktivitas yang menggembirakan (putarkan tilawah al-quran atau nasyid, makan di luar setelah selesai kerja, berikan penghargaan yang sepatutnya).

Semua orang merasakan penat. Hanya cara menangani rasa itu yang berbeza. Tetapi apakah penat boleh dijadikan penyebab tidak terlaksananya satu-satu tugas? Atau jangan-jangan ia cuma alasan semata?

Jawabannya ada di hati.

Tepuk dada, tanyalah iman.

Sebagai Muslim, ayat ke tujuh di dalam surah Al-Insyirah seharusnya dijadikan panduan;

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

“Maka, jika engkau telah selesai dari sesuatu urusan, maka kerjakan dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.”

Kepada para lelaki (anak, saudara, ayah, suami), tiada salahnya sesekali membancuhkan minuman untuk istri di rumah. Secangkir yang Anda hulur, semangkuk penatnya akan pula sirna. Seperiuk kasihnya tumpah.

Apa pula ilmu yang saya dapat hari ini?

Satu pengalaman; ketawakan galau, hati lega, penat tak terasa. Tangisi galau, kan terasa kebodohan kita, penat berganti semangat ceria








Sudahkan Putrimu Berjilbab?

SEORANG Muslimah merasa bahwa hijab menjadi bagian dari tubuhnya dan menjadi penutup dirinya, alat rasa malunya, tanda kehormatannya, jalannya untuk menggapai cinta Allah untuknya, serta tangga mencapai surga-Nya.

Bila seorang Muslimah berjilbab, maka pada hakikatnya ia telah berusaha menunaikan salah satu perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta'ala berfirman;


وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Al-Ahzab [33] : 36).

Selain itu, kerelaan seorang Muslimah menutupi auratnya dengan hijab syar'i merupakan bukti keimanannya. Dan, masih banyak hikmah lain yang akan dipetik oleh seorang Muslimah saat ia berjilbab sesuai dengan tuntunan syar'i.

Selaku orangtua, kita merasa bahagia manakala kita menyaksikan putri-putri kita berjilbab. Karena, walaupun bagaimana, orangtua akan dimintai pertanggung jawaban prihal pendidikan anaknya, dan salah satunya adalah masalah jilbab ini. Oleh karenanya, agar anak tidak merasa berat dalam mengenakan hijab syar'i saat ia menginjak usia balig, maka perlu adanya usaha orangtua untuk membiasakan anak berjilbab sejak dini. Karena, metode seperti ini ternyata sangat efektif dalam mendidik anak berjilbab. Tentu saja, metode membiasakan anak berjilbab ini sangat ditekankan untuk memperhatikan perkembangan usia si anak.

Tugas Orangtua

Orangtua akan dimintai pertanggungjawaban perihal pendidikan anaknya. Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda:

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ingatlah, tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan setiap orang dari kalian akan ditanyai tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini dalam konteks umum. Adapun bagi laki-laki yang berkedudukan sebagai pemimpin, seperti suami, ayah, dan saudara laki-laki, bila mereka ini tidak memerintahkan dan menganjurkan istri, putrinya, atau saudara perempuannya agar mengenakan hijab, mereka akan menjadi dayyuts (yakni orang-orang tidak memiliki kecemburuan terhadap kehormatan wanita tanggungannya). Sedangkan, seorang dayyuts diancam oleh

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tidak akan masuk surga.
Di sisi lain, Islam memerintahkan agar anak-anak kecil dilatih beribadah sebelum usia balig. Ibadah shalat, misalnya, merupakan ibadah fardhu ain atas setiap muslim dan Muslimah. Akan tetapi, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) memerintahkan agar kita melatih anak-anak kita melakukannya sejak berumur tujuh tahun. Dan, kita dibolehkan memukul mereka bila berumur sepuluh tahun. Itu dilakukan sebelum mereka menginjak usia balig.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) mengkhususkan shalat di antara ibadah lainnya dikarenakan shalat merupakan tiang agama. Sedangkan hijab itu seperti shalat, hukumnya wajib bagi setiap Muslimah dengan perintah yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya seperti telah dijelaskan tadi.

Tips Membiasakan Anak Berjilbab Sendari Kecil

Yang pertama yang harus dipahamkan kepada anak saat membiasakan mereka berjilbab adalah jilbab merupakan salah satu perintah Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya’.” (An-Nur [24] : 31)

Yang kedua, pahamkan kepada anak bahwa berjilbab sama artinya taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena ia telah menunaikan salah satu perintah Allah Ta’ala. Dan, Allah telah berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab [33] : 36).

Yang ketiga, tanamkan pada diri anak bahwa jilbab merupakan bukti keimanan seorang Muslimah. Allah SAW tidak mengarahkan pembicaraan tentang hijab kecuali kepada para wanita mukminah. Dia berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman.” Dia juga berfirman, “Dan istri-istri orang mukmin.” Tentu seorang wanita akan merasa bangga bila masih menyandang keimananj dalam dirinya.

Keempat, tunjukkan kepdada anak bahwa berjilbab dapat menyelamatkan hati. Sebab, bila mata tidak melihat sesuatu, maka hati pun tidak akan berhasrat. Dari sini, ketika mata tidak melihat sesuatu yang terlarang, maka hati menjadi lebih suci. Kemungkinan terbebas dari fitnah pun lebih nyata karena hijab akan memutus hasrat orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit. Allah berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (Al-A’raf [7] : 26).

Semoga kita diberi kemauan dan kemampuan untuk menanamkan syariat jilbab ini kepada putri-putri kita dan diteguhkan di atasnya hingga ajal menjemput. Wallahul musta’an.*







Kemana Putra-Putri Anda di Malam Valentine’s?


“AKU pengen banget jalan jalan ke Bali berdua bareng doi. Romantis banget kalau berduaan sama orang yang dicintai, sambil liat sunset dipinggir pantai dan dilanjutin Candle Light Dinner dipinggir pantai. Sebelum makan sembunyin bunga mawar di belakang badan buat surprise ke doi nanti pas makananya udah siap santap sambil bilang, aku cinta kamu, semua akan ku lakukan untukmu untuk membahagiakan kamu cintaku,” demikian ujar Indah (bukan nama asli) dalam wall Facebook-nya.

Lain lagi cerita dengan Sari yang telah berpengalaman merayakan Valentine’s bersama pasangannya. “Malam itu doi membuat tattoo atas nama saya dengan tinta berwarna merah muda di pergelangan tangannya. Wow! Saya tersanjung. Ini adalah hadiah Valentine’s paling istimewa untuk saya,” ujarnya.

Kenangan serupa datang dari seorang gadis. Sebut saja Mia (21). “Kenangan indah Valentine’s tahun lalu gak pernah bisa gue lupain banget. Gue diajak ke sebuah lapangan kosong yang udah disedian lilin merah yang berbentuk segitiga. Gue kaget, pas gue buka bungkusan doi siapkan untuk gue, isinya berupa kotak coklat. Oh, gue berasa terbang. Gue terharu, doi yang sehari-harinya cuek, tiba-tiba bisa romantic. Terakhir dia beri kecupan manis di pipi dan kening yang bikin gue meleleh. Dan malam itu kita habiskan dalam suasana terindah dalam hubungan gw yang tak bisa diceritakan di sini.

Inilah kisah-kisa seperti ini bisa kit abaca secara terbuka di laman Facebook, blog-blog pibadi atau komentar-komentar di situs bertema remaja.

***

Entah dari mana ceritanya tiba-tiba budaya Barat yang sering disebut Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day) yang kerap dirayakan pada tanggal 14 Februari selalu identik dengan memberi cokelat, bunga berwarna merah dan makan malam dikeliling lilin. Yang jelas tradisi seperti ini terus menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Masalahnya, tradisi seperti jauh lebih berkembang ke arah lebih mengerikan lagi, yakni seks bebas. Bahkan acara-acara yang berujung ke kamar tidur ini justru difasilitasi dan dikampanyekan secara terang-terangan.

Tahun 2010 lalu, sebuah organisasi non-pemerintah Amerika (AS) berkampanye untuk mengajak pasangan saling mengungkapkan perasaan cinta mereka dengan kondom.

LSM bernama Pusat Keanekaragaman Hayati AS, mendistribusikan 100.000 kondom lewat kotak khusus. Masing-masing menampilkan salah satu dari enam hewan berisiko punah ditambah slogan pada sampul dan pesan tentang populasi manusia di dalam paket tersebut.

"Untuk membantu memastikan sebuah dunia yang layak huni bagi spesies lain, sehat dan sejahtera bagi kita, mari kita menjadi orang yang bertanggung jawab atas reproduksi," demikian pesan LSM tersebut.

Di dalam kotak itu, terdapat gambar kumbang hitam dan merah mengubur Amerika, serta pesan misalnya agar melindungi spesies beruang kutub, katak batu, harimau, kucing atau hutan yang ditebang demi diambil kayunya untuk dijadikan bahan kertas tisu. Kondom tersebut didistribusikan secara gratis di seluruh Amerika Serikat oleh para relawan.

Mungkin di antara kita ada yang mengatakan, “Ah, tapi itu kan Amerika.” Eit, tunggu dulu. Bahkan di tetangga kita yang dikenal kuat budaya Melayu, hal serupa juga terjadi.

Menjelang perayaan Hari Kasih Sayang tahun 2011 lalu, Polisi Diraja Malaysia dibuat bingung dengan raibnya 726 ribu kondom ultra-tipis di tengah-tengah pengiriman ke Jepang. Pihak distributor di Jepang pun merasa kecewa dan dirugikan atas hilangnya kondom senilai miliaran rupiah tersebut.

"Kami menanggapi kehilangan kondom ini dengan serius. Saat ini, kami tengah menginvestigasi kasus itu," ujar juru bicara Polisi Malaysia, seperti dilansir laman The Malaysian Insider, Rabu 9 Februari 2011.

Entahlah, ke mana perginya alat kontrasepsi dan pencegah kehamilan ini. Namun yang pasti, aparat Malaysia telah menangkap hampir 50 pasang Muslim di Selangor karena dianggap " berlebihan merayakan Valentine’s Day". 96 orang ditahan dengan dakwaan khalwat (berduaan dengan lawan jenis bukan muhrim di tempat sepi) saat Valentine’s.

Di Kuala Lumpur, aparat penegak agama bahkan menggerebek hotel dan taman umum menjelang Valentine’s serta menahan 16 Muslim, terutama remaja, demikian dikutip juru bicara dari Departemen Urusan Islam Federal kepada AFP tahun lalu.

Sama juga dengan di Indonesia. Hampir setiap malam menjelang pergantuan tahun atau Hari Valintine, alat kontrasepsi pencegah kehamilan ini ludes dibeli remaja. Tahun 2011 lalu, stok kondom di beberapa hotel di Kota Kediri meningkat. Meningkatnya permintaan ini berbarengan dengan meningkatnya penyewaan kamar. Ghalibnya, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota kediri justru menjadi lembaga yang ikut andil mendistribusikan ratusan kondom ke outlet outlet di beberapa hotel di Kota Kediri.

“Mungkin permintaan kondom dari penghuni kamar meningkat,”kata Heri Nurdianto dari KPAD Kediri. Termasuk dilakukan tahun ini. (“Jelang Valentin, Kota Kediri Digelontor 8.640 Kondom”, www.beritajatim.com, Jum'at, 10 Februari 2012).

Kasus serupa terjadi di berbagai daerah. Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan sampai Pontianak.

Remaja, Peran orangtua dan Pesan Islam

Remaja, secara psikologis memiliki jiwa yang labil. Umumnya melakukan sesuatu dulu, berfikir kemudian. Karenanya, apa yang ada dalam benaknya hanya kesenangan dan hura-hura tanpa memikir dampak dan akibatnya.

Dr. Singgih Gunarsah D dalam bukunya “Psikolog Remaja”, mengatakan, “Masa remaja merupakan masa yang paling rawan dalam pergaulan di mana emosi pada masa ini masih sangat labil. Para remaja mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat.”

Umumnya remaja, lebih suka mendengar teman sebaya atau teman dekatnya daripada orangtuanya. Masalahnya, apa dan siapa temannya? Jika temannya baik, mungkin orangtua tenang. Bagaimana jika teman-temannya itu adalah anak-anak yang kurang baik?

Karena pentingnya masa remaja itulah sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda untuk menjaga masa mudanya.

“Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya.” [HR at-Tirmidzi (no. 2416)].

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” [HR. Ahmad (2/263]

Maksud hadits di atas adalah pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

Saking pentingnya menjaga masa remaja, sebuah riwayat lain mengatakan, Allah Subhanahu Wata’ala akan melindungi pemuda di akherat bersama enam kelompok yang telah di jamin Allah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pertama, pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya. Kedua, lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.Keempat, dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah. Kelima, lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. Keenam, orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Ketuju, orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” [HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)

Lebih khusus, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (صلى الله عليه و سلم) memberi pesan kepada para orangtua yang memiliki anak-anak perempuan. Menurut Nabi, wanita adalah makhluk Allah yang amat istimewa. Kemuliaan dan keruntuhan sesuatu bangsa terletak di tangan mereka. Karena itulah, Nabi meminta agar para orangtua wajib memberi perhatian terhadap anak-anak perempuan mereka.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (صلى الله عليه و سلم) pernah bersabda; "Takutlah kamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (سبحانه و تعالى‎) dalam perkara-perkara yang berhubung dengan kaum wanita." Ini bermaksud bahawa setiap ibu bapak dan yang bergelar suami hendaklah sentiasa mengawasi anak-anak perempuan dan isteri mereka agar sentiasa berpegang teguh dengan agama dan mematuhi perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala (سبحانه و تعالى‎).

Kata orang bijak, “Menjaga lembu sekandang lebih mudah daripada enjaga anak perempuan seorang.” Karena itu, khusus anak-anak (terutama perempuan) tak hanya diberi perlindungan, makan, tempat tinggal, seperti layaknya menjaga dan memelihara binatang ternak. Bagi mereka juga diperlukan pendidikan agama, akidah, ahlaq dalam perkara aurat dan pergaulan agar mereka tidak menjadi bahan fitnah yang ujungnya mencemarkan nama baik keluarga dan agama.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkisah: “Datang ke rumahku seorang wanita peminta-minta beserta dua putrinya. Namun aku tidak memiliki apa-apa yg dapat kusedekahkan kepada mereka kecuali hanya sebutir kurma. Wanita tersebut menerima kurma pemberianku lalu dibagi untuk kedua putri sementara ia sendiri tidak memakannya. Kemudian wanita itu berdiri dan keluar dari rumahku. Tidak berapa lama masuklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kuceritakan hal tersebut kepada beliau. Usai mendengar penuturanku beliau bersabda: “Siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang/penutup bagi dari api neraka.” (HR Al Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi)

Sudah bukan rahasia lagi, Malam Tahun Baru atau Perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day) menjadi alasan generasi muda untuk melampiaskan nafsu sahwat kepada orang yang belum hak nya. Agar tak ada lagi di antara anak-anak dan keluarga kita menjadi korban budaya ini, saatnya bertanya kepada diri masing-masing. “Kemana putra-putra kita di malam Valentine’s nanti?”. Nah, saatnya Anda mencegahnya atau mengajaknya dengan acara yang lebih mulia.








Jangan Karena Valentine’s Day, Amal Kita Lenyap!

ولا تعجبك أموالهم وأولادهم إنما يريد الله أن يعذبهم بها في الدنيا
وتزهق أنفسهم وهم كافرون َ

MARAKNYA peringatan hari Valentine’ Day (disingkat V-Day) bukan monopoli masyarakat kota saja, kini semua kalangan telah mengenal dan merayakannya. Fenomena V-Day mentradisi seluruh dunia bersamaan dengan santernya arus globalisasi yang tak terbendungkan. Sebagaian masyarakat beranggapannya sebuah keniscayaan yang tidak perlu diteliti asal-usul dan dampaknya.

Di sisi lain, pergaulan remaja semakin hari semakin tidak bisa dibatasi. Seks bebas (free sex) dan hidup serumah tanpa diikat tali pernikahan (semen leven) adalah pemandangan yang tidak tabu lagi. Mereka menganggap hal itu adalah sebuah kewajaran dalam hal percintaan. Dari sisi ini, V-Day ikut memberi sumbangsih yang signifikan dalam kerusakan moral remaja Muslim. Keberadaan V-Day memberikan legalitas pada kemakshiatan dan ajaran khurafat mitologi.

Alih-alih sebagai alasan mengekspresikan rasa sayang pada momen tersebut, V-Day telah menjadi legalisasi perzinahan. Tak ayal, momen tiap 14 Februari ini menjadikan daerah-daerah wisata yang menyediakan tempat penginapan sebagai ajang lokalisasi sesaat.

Ironisnya, pemandangan yang memprihatinkan ini tidak mendapat perhatian khusus dari orangtua pada. Entah karena minimnya pengetahauan atau ketidak mau-tahuannya terhadap prilaku anak. Sehingga prilaku remaja seperti ini seoalah menjadi kewajaran di mata orangtua.

Data hasil survey KPAI, sebanyak 32 % remaja usia 14-18 tahun di kota-kota besar di Indonesia pernah berhubungan seks. [laporan KPAI: http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/beritakpai/119-32-persen-remaja-indonesia-pernah-berhubungan-seks.html]. Sungguh mencengangkan, Indonesia mayoritas pemeluk agama Islam yang mengahramkan perzinahan, malah memberikan kontribusi nilai fantastis dalam kemaksiatan.

Derasnya arus media yang menyuguhkan informasi tentang hedonistis valentine, telah menjadikannya sebagai live style kehidupan masyarakat modern saat ini. V-Day dijejalkan dalam otak anak-anak muslim, seakan-akan sebagai keharusan dalam mengekspresikan kasih-sayang.

Belum lagi peran artis yang beralih fungsi sebagai tauladan, menambah justifikasi keabsahan ritual perayaan V-Day. Benarlah kiranya bahwa diakhir zaman bid’ah akan menjadi ajaran, sedangkan agama akan sekedar hiburan. Tuntunan menjadi tontonan dan tontonan menjadi tuntunan. Sehingga apa yang dilakukan para artis seolah tuntunan yang wajib dilaksanakan.

Tasyabbuh dan meniru-niru

Selain melegalkan perzinahan,V-Day juga berdampak pada hal-hal yang prinsipil terhadap keyakinan muslim, seperti meniru prilaku budaya kuffar (tasyabbuh) yang menjerumuskan pada bagian kelompok mereka.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah memagari umat dengan sabdanya, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR. Tirmidzi). Juga bersifat munafik karena menjadikan idola selain umat Islam (basyiral munafiqina bi anna lahum ‘adzaaban aalima. alladzina yattakhidzuna al-kafirina aulyaan min duni al-mukminin).

Valentine’s bukan tradisi Islam yang didalamnya tidak dapat diambil ibrah sama sekali. Justru sebaliknya, perayaan V-Day hanya membawa mudharat bagi moral dan aqidah generasi rabbany.

Gencarnya V-Day merupakan banyak kepentingan dibaliknya. Selain produk ‘baratisasi’, juga merupakan misi orientalis merubah cara pandang kaum Muslimin dari ajarannya.

“Misi Utama Kita bukanlah menjadikan kaum Muslimin beralih agama menjadi kristen atau yahudi, tapi cukuplah dengan menjauhkan mereka dari Islam....kita jadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang jauh dari Islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya, senang dengan segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup, dan orientasi hidupnya semata utk memuaskan hawa nafsunya..". Ucapan ini disampaikan Zwemmer, tokoh Yahudi di tahun 1935 dalam Konfrensi Missi di Yerusalem.

Dalam al-Quran sudah jelas, Yahudi dan Nashara tidak pernah rela terhadap eksistensi Islam di kancah peradaban (Q.S. al-Baqarah:120).

Jangan Pangku Tangan

Bagaimanapun, prilaku degradasi akidah dan akhlak remaja adalah tanggung jawab orangtua. Sebab baik-buruknya prilaku anak sebagaian besar dipengaruhi latar belakang keluarga.

Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) menegaskan bahwa semua anak terlahir dalam keadaan suci, kedua orangtuanya-lah yang menjadikan Yahudi, Nashra atau Majusi.

Jika keluarga yang berbasic agama saja anak masih bisa lolos dalam peraturan, apalagi keluarga yang tidak memiliki tradisi beragama. Tentunya akan sangat mudah ditebak bagaimana prilaku anak tersebut.

Seharusnya orangtua pandai membaca situasi seperti ini. Siapa teman anak kita? kemana dia bermain? apa yang akan dilakukan jika Valentine's? Bukan malah terkesan membiarkan dan acuh pada fenomena yang terjadi.

Sikap sensitive dan pro-aktif seharusnya dilakukan sejak dini. Terutama melindungi anak dan remaja kita dari budaya-budaya pergaulan bebas dan dekonstruksi akidah yang tersembunyi dibalik perayaan seperti Valentine’s.

Kewajiban para orangtua bukan hanya memberikan nafkah materi semata. Namun lebih dari itu, orangtua dituntut untuk memproteksi diri dan keluarganya dari hal-hal yang dapat menghatarkanya masuk dalam neraka.

Al-Quran mengatakan;


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim [66] : 6).

Jika orangtua tak melakukan atau mengabaikan masalah ini, Allah sudah jauh hari mengingatkan akan adanya fitnah.

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [QS. Al Anfar: 28]

Jika itu yang terjadi maka, kelak kita akan termasuk orang yang menurut Allah Subhanahu Wata’ala sebagai orangtua yang merugi di akherat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS; Al Munafiqun: 9]

Memberikan nafkah yang halal, memberi pendidikan yang layak (sesuai dengan ketentuan Syar’i) dan mengarahkan anak di jalan yang diridhohi Allah Subhanahu Wa ta’ala adalah cara kita agar menjadi orang yang tak merugi dari peringatan Allah. Oleh karena itu yang terpenting dari semua adalah selain mendampinginya, juga mendoakan anak dan menyerahkan segalanya kepada-Nya.

Mari kita jadikan tanggal 14 Februari atau peringatan apapun yang taka da perintahnya dalam budaya Islam sebagi bekal kita untuk mendidik dan menghantarkan anak-anak ke dalam naungan Islam.

Sekali lagi, mari lindungi anak-anak kita dari virus membahayakan dalam bentuk budaya asing, seperti V-Day. Jangan sampai kita kecele di kemudian hari. Kita mengira pahala yang kita kumpulkan selama ini di dunia telah cukup. Padahal, ketika kita menghadap Sang Khaliq, Allah mengabarkan bahwa semua pahala itu telah habis karena terhapus akibat kurangnya tanggung jawab kita sebagai orangtua kepada anak-anak kita. Wallahu ‘A’lam bi shawwab






Untuk Apa Di Rumah, Bila Tanpa Ilmu


DI AWAL PERNIKAHAN, banyak suami-suami yang meminta istrinya untuk tetap tinggal di rumah atau maksimal tetap bekerja di luar rumah hingga mereka dikaruniai anak. Tak jarang, kesadaran sang istri juga mendorong mereka kembali ke rumah dan meninggalkan aktivitas mereka di ranah publik.

Kesadaran ini sungguh mulia, apalagi jika mengingat peran sentral seorang wanita sebagai ibu yang nantinya akan mengasuh anak-anak. Tentu bukan sebuah pemahaman yang baru bahwa anak tak hanya memerlukan terpenuhinya kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan psikis.

Namun, ada sesuatu yang terlupakan saat sang suami meminta istri kembali “pulang” ke rumah atau ketika si istri dengan kesadaran penuh meninggalkan ranah publik untuk berjibaku penuh dalam ranah domestik. Benarkah kedua belah pihak sudah siap dengan konsekuensi bila seorang istri benar-benar hanya berada di rumah?

Rumah vs Bahagia

Banyak orang yang melupakan bahwa ibu, istri, perempuan, tetap adalah manusia yang juga butuh ruang untuk mengaktulisasikan kemampuan mereka. Tentunya, setiap perempuan punya keinginan untuk bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi banyak orang, punya teman-teman diskusi, dan jika memungkinkan, punya sedikit penghasilan dari jerih payahnya sendiri. Walaupun ini bukan berarti seorang perempuan akan meninggalkan tugas mulianya sebagai seorang kreator peradaban umat melalui pengasuhan terhadap anak-anaknya.

Pemahaman akan kebutuhan untuk berkarya, mengaktualisasikan diri, dan memiliki teman berdiskusi inilah yang seringkali terpendam, dalam pemahaman bahwa wanita harus diam di rumah. Bagaimana dengan wanita yang terbiasa aktif dengan sejumlah kegiatan di kantor atau organisasi kemanusiaan?

Banyak wanita-wanita yang memiliki latar belakang seperti ini akhirnya merasa “banyak tertinggal” saat mereka kemudian seutuhnya berada di rumah. Seperti pengakuan seorang ibu yang terpublikasikan di sebuah situs Islam, “Satu bulan yang lalu, saya memutuskan kembali berkerja meskipun dengan sistem kontrak. Banyak yang bilang terutama keluarga dan teman dekat, saya kelihatan lebih cerah, powerful, dan bahagia. Tetapi pada saat bekerja, pikiran saya jadi bercabang kembali, apakah tidak lebih baik sebagai seorang ibu harus lebih mementingkan keluarga dan anak? Namun, disatu pihak sepertinya saya kurang bahagia jika tinggal di rumah.”

Apa yang membuat mereka merasa kurang berbahagia saat berada di rumah? Apakah semata hanya karena pemahaman mereka tentang tugas mulia yang mereka emban masih rendah? Tentunya tidak. Banyak faktor yang harus diperhatikan ketika hendak menyimpulkan penyebab ketidakbahagiaan ini.

Peduli pada Keinginan

Kini mari sejenak mengingat, pernahkah ada pembicaraan antara suami dan istri tentang apa yang bisa dinikmati seorang istri, saat waktunya mutlak di rumah? Sekali lagi, dinikmati, bukan dikerjakan oleh istri. Si istri merasa bahagia dengan totalitasnya di rumah. Juga, pernahkah terbahas, hal-hal menarik apa yang bisa dilakukan seorang istri dalam mengisi waktunya bersama anak-anak? Atau yang ada, cuma pembicaraan tentang sederet daftar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, agar rumah rapih dan penghuninya merasa betah tinggal di rumah?

Bila pembicaraan ini belum pernah ada atau pernah ada tapi tak pernah direalisasikan, tentu tak aneh bila seorang istri merasa menjadi “korban dari sebuah kewajiban”. Padahal, tentu akan jadi hal yang menyenangkan bila seorang suami dapat memahami perasaan istrinya. Sangat indah rasanya bila seorang suami dapat mengetahui apa yang membuat istrinya bahagia dan bersemangat setiap waktu. Dan, akan semakin berkesan di hati, bila seorang suami, selain menuntut seorang istri melakukan dengan baik tugas-tugasnya di rumah, juga memenuhi keinginan-keinginan istrinya. Baik keinginan untuk maju, berkembang, bersosialisasi, maupun keinginan untuk mengabdikan potensi yang dimiliki sang istri untuk kemajuan Islam.

Sebuah sikap yang bijak manakala seorang suami menawarkan atau bahkan memerintahkan pada istri-istrinya untuk belajar menguasai keterampilan tertentu yang disukai oleh istrinya, membiarkan istrinya berkarya, dan memiliki waktu yang luas untuk bisa menghadiri pertemuan-pertemuan yang bermanfaat; demi untuk bersama-sama berjuang di jalan Allah?

Tentu seorang istri akan berbunga-bunga hatinya bila suaminya dengan penuh kasih menawarkan padanya untuk mengikuti kursus merias pengantin yang sudah lama didambakannya misalnya. Juga, hati seorang istri akan sangat berbahagia bila suami sepulang bekerja, dengan senyum yang tulus menyodorkan formulir pendaftaran untuk mengikuti lomba penulisan novel di sebuah majalah wanita, atau dengan sepenuh kasih menawarkan diri menemani sang istri mengikuti workshop seputar masalah kecerdasan anak.

Mempersiapkan Generasi Unggul

Intinya, sudah sejauh mana suami dan istri telah saling memahami dan mempersiapkan apa yang akan dilakukan seorang istri ketika ia total “bertugas” di rumah. Sudahkah si istri memiliki keterampilan untuk mengisi hari-harinya? Sudahkah ia juga memiliki keterampilan ketika mengurus dan mengurus si buah hati? Tentu akan jadi sebuah kesia-siaan manakala si ibu berada di samping anak tetapi tidak memiliki ilmu yang cukup untuk mempersiapkan fisik dan mental seorang anak tumbuh dengan baik.

Sejatinya, pengetahuan- pengetahuan seperti inilah yang seharusnya dimiliki seorang istri sebelum dia benar-benar berkiprah di rumah. Sehingga profesi ibu rumah tangga tak lagi identik dengan ketidakproduktifan dan ketertinggalan. Bila seorang ibu rumah tangga kerjanya hanya menonton sinetron setelah selesai mengerjakan tugas rumah atau gaptek (gagap teknologi) saat harus mengoperasikan sebuah perangkat elektronik, maka sebaiknya jangan menyalahkannya semata. Ini semua tentu bukan terjadi dengan sendirinya.

Yang lebih menyedihkan bila kaum wanita sendiri yang memaklumkan diri dengan mengatakan, “ Yaaa…maklumlah ibu rumah tangga, sehari-hari hanya mengurus anak.”

Bila seorang istri, apalagi seorang ibu sampai berkata demikian, sesungguhnya tugas mulia sebagai seorang kreator peradaban umat sudah gagal. Sebab, sangat mustahil seorang kreator bisa menciptakan generasi tangguh yang unggul, bila ia pun bukan seorang kreator yang unggul. Jika seorang istri atau ibu sudah memaklumkan ini pada dirinya sendiri, maka mustahil peradaban Islam yang berjaya akan segera hadir di depan mata.

Generasi unggul di kemudian hari hanya bisa hadir dari sepasang orangtua yang visioner, yang memiliki visi jauh kedepan untuk menyongsong peradaban Islam yang gilang-gemilang. Tak akan mungkin generasi ini muncul dari seorang suami dan ayah yang hanya berpikir bahwa sang istri atau sang ibu, hanya harus berada di rumah. Tanpa membekali pasangannya agar mumpuni melaksanakan tugasnya dan menghasilkan karya terbaik seorang perempuan, yaitu anak-anak yang shaleh dan shalehah.

Sebab itu, inilah saatnya untuk sama-sama meningkatkan kualitas pribadi. Bila kita semua sepakat bahwa kewajiban utama para istri dan ibu adalah di rumah, mengasuh dan merawat keluarga, maka inilah saatnya bagi para suami untuk meng-up grade kemampuan istri dengan berbagai macam pengetahuan dan keterampilan, hingga sang istri pun akan bisa memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya di rumah. Hingga sabda Rasulullah bahwa “Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu.” (Riwayat Muslim) benar-benar tercipta dari ketangguhan pribadi seorang wanita yang akan senantiasa menghiasi rumah dengan ilmu dan cinta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar