Selasa, 28 Februari 2012

JENDELA KELUARGA

Di belakang Pria yang Kuat, Selalu Ada Wanita Hebat!

BETAPA hebat menjadi wanita. Lembut, penuh kasih, dilindungi, dihormati dan dihargai. Kehadirannya diperlukan oleh setiap manusia di semua peringkat usia. Sebagai anak dia menyenangkan. Sebagai saudara, dia menenteramkan. Sebagai isteri, dia menginspirasi. Sebagai ibu, dia pendidik ulung dan sebagai teman, dia dikenal sebagai penasihat yang ikhlas.

Di sebalik kekurangannya dari sisi akal dan agama, dalam banyak situasi, wanitalah pemeran utama di belakang layar. Baik pendidikan yang diterimanya, baiklah pula pengaruh yang dibawanya.

Boleh dikatakan, wanita adalah penentu jatuh atau tegaknya pria. Malah dalam banyak kisah dari seluruh dunia , dialah yang membangunkan pria, memberikan motivasi dan buah fikiran yang tak dapat ditepikan.

Hal yang sama berlaku kepada keluarga Muslim-mukmin yang cinta li ilah li kalimatillah, jihad fi sabilillah.

Dalam sebuah keluarga, posisi paling penting adalah sebagai isteri, karena dialah orang yang paling dekat dan paling mengerti suaminya. Di sinilah letaknya makna syarikatul hayah (pasangan kehidupan), yang setia menjadi sayap suami dalam keadaan suaminya hadir dan sewaktu ketiadaannya. Bersungguh-sungguh berusaha membantu secara hakiki dan maknawi dalam mencapai cita-cita hidup mulia atau mati syahid.

Firman Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) di dalam surah At-Taubah, ayat 71;

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ

اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang mukmin pria dan wanita, sebahagian daripada mereka adalah penolong bagi sebahagian yang lain, mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, mereka mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan ta’at kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Bijaksana.”

Apakah syarikatul hayah (partner kehidupan?), apakah kriteria yang diperlukan? Secara ideal, seorang wanita Muslim haruslah memiliki modal:

1. Memiliki tingkat iman dan taqwa yang memadai

Paling tidak, mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Cukup pula untuk dia memilih dan memilah yang halal, haram dan yang syubhat. Dengan demikian, dia menggenggam izzah-nya dengan kuat.

Bila sudah berbekal dengan iman dan taqwa, dia tidak akan mudah berputus asa dan kemudian diserang kemurungan apabila ditimpa musibah. Dan dua bekal tersebut akan menjadi benteng dirinya dari terjebak ke dalam perbuatan atau kerja yang berisiko mengancam aqidah dan akhlaq.

2. Sebaiknya dia menguasai ilmu dien dan akademik

Wanita yang berwawasan akan menyadari kepentingan ilmu lantaran dialah yang akan memikul tanggung-jawab sebagai guru besar kepada anak-anaknya, baik semasa keberadaan suami di rumah maupun pada saat ketidakhadiran suami. Dengan ilmu, dia mampu berperan sebagai pembantu pribadi suami dan berupaya menjadi pendidik kepada anak-anaknya.

Sementara dengan kemahiran atau skill-skill tertentu, antara lain, memasak, menjahit, mengajar, memandu kenderaan dan lain-lain, dia akan memiliki inisiatif dan kreativitas dalam menjalani hidup, baik bersama suami mahupun ketika bersendirian.

3. Berkemampuan mengendali emosi

Wanita Muslim yang baik, ia harus sanggup bersusah-payah dan berusaha untuk qanaah, karena suami yang cintakan Allah, agama dan jihad akan otomatis menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan sebagai kesenangan dunia semata. Menurut istilah Imam Asy-Syafii rahimahullah, “Hakikat zuhud adalah tidak meletakkan dunia di hatinya.”

Ini bermakna, bahwa seorang isteri harus kuat menahan hati dan emosi bila suatu saat, kekayaan kita mulai berkurang.

4. Memiliki mental yang kuat

Dalam bahasa yang lebih mudah, wanita harus kuat menahan perasaan. Ada banyak kondisi dan situasi yang menuntut kemampuan ini; kepergian suami dalam waktu lama, anak yang sakit di kala suami sibuk dan tak dapat mendampingi, keperluan ummat yang menyita waktu bersama suami. Atau ujian berat, ketika para wanita mendapati suami-suami mereka di penjara. Sementara keluarga yang tidak mendukung dan kondisi keuangan yang tidak stabil, adalah satu hal yang tak dapat tepiskan begitu saja. Bahkan berat pula kondisi ketika para suami berkeinginan “membantu” mengangkat derajat kaum hawa menjadi pendamping.

Sungguh luar biasa semua itu, jika perasaan marah, cengeng, dan cemburunya mampu diletakkan di tempat yang betul dan baik serta wajar.

5. Mampu mengawal diri dari sifat buruk yang timbul dari situasi tertentu

Sifat buruk di sini antara lain adalah; membanggakan diri sebagai isteri, dengan itu dia paling tau banyak hal. Membanggakan suami dan merendahkan orang lain bisa juga menganggap dirinya orang paling malang dan paling memerlukan perhatian banyak orang ketika sedang ditimpa musibah dan lain sebagainya.

6. Memiliki daya tahan dan kemahuan yang kuat

Daya tahan seorang istri-lah yang menjadi inspirasi dan menjadi pendorong utama para suami untuk melaksanakan amal dan karir. Dia ibarat antibodi yang gigih melawan sembarang jenis bakteri, kuman dan virus yang menyerang jiwa dan semangat suami dan keluarga.

Dia berkemauan kuat untuk bersama-sama suaminya menempuh ombak lautan perjuangan di dalam kapal bernama “jihad” dan rumahtangga menuju jannah Rabbnya. Dengan kemauan kuat yang kadang kelihatan seperti sebuah kedegilan, jiwa rapuh ditegakkan, semangat layu disegarkan dan air mata diusap dan diganti dengan senyuman.

7. Selalu berinisiatif untuk kelihatan menarik di mata suami

Wanita Muslim harus menarik dari berbagai segi; penampilan, cara berpakaian, berfikir, bersikap, berbicara dan mengambil keputusan, dalam waktu senang maupun susah. Wanita sebeginilah yang Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) maksudkan dalam sebuah ucapannya,

“Tidakkah mau aku kabarkan kepada kamu tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? Wanita sholehah adalah wanita yang bila dilihat suaminya menyenangkan, bila diperintah ia mentaatinya dan bila suaminya meninggalkannya, ia menjaga diri dan harta suaminya.” [Hadith riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i)

Berbahagialah wanita yang membahagiakan suaminya. Pria yang berjaya adalah pria yang bahagia lantaran telah memperoleh sebaik-baik perhiasan.

Rasulullah dalam sebuah haditsnya mengatakan, "Ad dunya mata', wa khoiru mata'iha al mar'atus Shalihat." (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri Shalihat, HR. Muslim)

Pria yang berjaya adalah pria yang jiwanya bahagia dan merdeka, adalah pria yang tidak terpenjara oleh ulah dan ragam wanita di sisinya. Untuk itu, kesempatan belajar dan hak dididik perlulah diberi kepada kaum wanita. Tak ada ruginya pria memberi kesempatan wanita belajar. “You get what you give.”

Yakinlah, tangan yang menghayun buaian, akan mampu menggoncangkan dunia. Wallahu a’lamu bish-shawabi. (Hanya Allah yang Maha tahu kebenarannya)







Menyapa Para Bujangan: Menikah Yuk!


BUNYI status di wall saya beberapa waktu lalu menyedot banyak perhatian dari sahabat-sahabat yang masih berstatus “perjaka” atau “gadis” alias bujang mania. Bunyi lengkapnya, “Menyapa para bujangan, sudah 2012. Ayo lamar calon istri shalihahmu. Lamar juga calon suami shalihmu. Mintalah bantuan orangtua atau gurumu, sahabat boleh juga jika mampu. Genapkan setengah dari agamamu, insya Allah dimudahkan. Barakallahu fikum ajmain! *;-).”

Tidak kurang 70 komentar dan 176 jempol memberikan apresiasinya. Mereka seolah tersentak dan terbangun dari tidur pulasnya. Sebelumnya, saya menulis artikel di media ini dengan judul, “Menikahlah, Anda Akan Lebih Kaya!”

Sebagian mungkin merasa dikompori dan diprovokasi untuk segera melangsungkan pernikahan, menikah dengan suami atau istri yang budiman. Membaca komentar yang mereka tuangkan, tergambar semangat membara, keinginan yang kuat, dan komitmen yang sangat. Yah, mereka begitu “bernafsu “ untuk segera menikah.

Sudah barang tentu, niat kuat dan semangat saja belumlah dapat merubah status mereka sebagai “jomblomania” kecuali mereka betul-betul “nekad” untuk menikah lewat pilihan orang tuanya atau pilihannya sendiri. Semangat teman-teman itu patut dihargai, mereka bertekad untuk memiliki pendamping hidup yang setia berbagi suka dan duka, dalam bahagia maupun sengsara, yang bersedia untuk membangun biduk rumah tangga.

Siapakah di antara kita yang ingin dikatakan sebagai bujangan yang tak kunjung menikah? Rasanya, tidak ada, kecuali ada yang “tidak beres” pada dirinya.

Jangankah mereka yang masih setia berstatus perjaka atau gadis, Imam Ahmad bin Hanbal sendiri tak kuasa hidup sebagai duda meski hanya satu hari. Tepat satu hari setelah kemangkatan istrinya, beliau menikah kembali. Kata orang sekarang, “Lho, kok beliau menikah lagi padahal makam istrinya masih belum kering?”

Imam Ahmad berkata, “Aku tidak ingin dikatakan orang sebagai duda tanpa istri, karena berarti aku telah meninggalkan sunnah Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) .”

Dalam sebuah anekdot ada seorang istri terus-menerus menangis di pusara suaminya yang masih basah. Karena merasa kasihan, seseorang berkata kepadanya; “Sudahlah. Ikhlaskan saja kepergian suamimu. Bersabarlah.” Lalu, si wanita dengan air mata yang masih membasahi pipinya ini mengatakan, “Bagaimana saya tidak menangis, saya pengen nikah lagi, tapi sebelumnya telah terlanjur berjanji kepada mendiang suami saya untuk tidak menikah sebelum pusaranya kering. Nah, sekarang ini kan lagi musim hujan, terus kapan keringnya?”

Para bujangan, ketahuilah bahwa pernikahan adalah sunnah para Rasul, sebagaimana yang Allah firmankan;

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجاً وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

“Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS. 13 : 38).

Dan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) juga bersabda, “Empat perkara yang termasuk sunnah para Rasul, yaitu rasa malu, memakai wangi-wangian, bersiwak, dan menikah.” (HR. Tirmidzi).

Islam memandang bahwa menikah sebagai suatu amal ibadah yang mempunyai banyak maslahat dan kebaikan. Hikmah menikah antara lain: panggilan fitrah manusia dalam memenuhi kebutuhan biologis, sarana untuk meraih ketentraman jiwa, sarana untuk mengembangkan keturunan, dan sebagai sarana untuk menghindari terjadinya dekadensi moral.

Pernikahan merupakan salah satu faktor penting dalam meraih kebahagiaan. Aktris terkenal. Brigette Bourdot, berpandangan, “Puncak kebahagiaan manusia adalah pernikahan. Ketika kulihat seorang wanita bersama suami dan anak-anaknya, aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa aku tidak memperoleh anugerah seperti ini?”

Seorang penyair berkata, “Bagaimana rasanya kehidupan tanpa kekasih yang menenangkan dan menemtramkan?” Hidup membujang, bisa seperti lirik sebuah lirik lagu, “Masak… masak sendiri, Makan…makan sendiri, cuci baju sendiri, tidurku sendiri..” Seorang filosof terkenal Socrates memberi nasihat kepada muridnya yang takut menikah karena melihat kesengsaraan rumah tangga sang guru. Socrates mengatakan, “Dalam kondisi apapun, engkau tetap harus menikah. Jika engkau mendapatkan istri yang baik, engkau akan berbahagia. Jika engkau mendapatkan istri yang menjengkelkan, engkau akan menjadi orang yang bijaksana.” Singkatnya, keduanya menguntungkan kamu.”

Ingat baik-baik pesang Bang Haji Rhoma Irama yang satu ini, “Tapi susahnya menjadi bujangan, Kalau malam tidurnya sendirian, Hanya bantal guling sebagai teman, Mata melotot pikiran, melayang. O, bujangan ... bujangan, Bujangan ... bujangan.”

Wahai para bujangan, sudahkan kalian siap melepas status saat ini sebagai bujangan?*







Belajar Ketabahan dari Ummu Sulaim


SUATU hari, anak Abu Thalhah meninggal dunia. Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, berkata kepada orang-orang yang menjenguk anaknya, “Janganlah ada yang memberi kabar kepada Abu Thalhah hingga akulah sendiri yang memberi kabar duka ini.”

Berkata begitu, Ummu Sulaim segera merapikan jenazah putranya.

Malam harinya, Abu Thalhah pulang. Ia segera menanyakan keadaan anaknya.

“Ia tenang seperti sedia kala,” jawab Ummu Sulaim.

Istri taat ini bergegas menyuguhkan makan malam bagi suaminya. Tak lupa mematut diri di depan cermin agar tampak lebih indah dari biasanya.

Melihat istrinya yang berhias cantik, Abu Thalhah pun bergairah. Malam itu pun Ummu Sulaim melayani suaminya di atas tempat tidur.

Setelah Ummu Sulaim melihat suaminya tampak puas dan tenang jiwanya, ia pun berkata lembut, “Wahai Abu Thalhah, bila ada keluarga yang meminjam sesuatu kepada keluarga yang lain, lalu mereka meminta kembali barang pinjaman itu, tetapi keluarga itu menolak mengembalikan pinjaman itu, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Sungguh, sekali-kali mereka tidak berhak untuk menolaknya karena barang pinjaman harus dikembalikan kepada pemiliknya,” jawab Abu Thalhah dengan segera.

Mendengar jawaban itu, Ummu Sulaim tersenyum, kemudian berkata lagi, “Sesungguhnya anakmu adalah barang pinjaman dari Allah, dan Allah telah mengambilnya.”

Seketika Abu Thalhah mengucapkan kalimat istirja’, Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Esok harinya, Abu Thalhah menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah membenarkan sikap Ummu Sulaim dan bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kamu berdua.”

Buah Surga

Anak adalah permata jiwa yang senantiasa dinanti dan dirindui kehadirannya. Ketiadaan anak menjadikan hidup terasa sepi, sedang kehadirannya menjadikan hidup terasa menjadi ramai dan ceria. Karena itulah, ketika anak-anak telah hadir, mereka selalu berusaha dirawat dengan sebaik-baik perawatan, diasuh dengan sebaik-baik asuhan, dan dijaga dengan sebaik-baik penjagaan.

Harapannya, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga senantiasa sehat jiwa dan raganya. Anak-anak yang sehat, anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik, akan selalu tampil lincah dan ceria. Hari-harinya selalu dihiasi dengan gerak-gerik lincah, canda tawa, dan senyum nan menggelitik yang membuat kedua orangtuanya selalu diliputi perasaan suka dan bahagia. Inilah anugerah terindah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa diidam-idamkan oleh setiap orangtua.

Akan tetapi, harapan seringkali tak sesuai dengan kenyataan. Tak sedikit para orangtua yang harus menghadapi ujian berupa kematian anaknya, di saat usia sang anak masih amat belia. Kesedihan pun menyelimuti hati. Tak jarang begitu dalam. Bahkan, tak sedikit orangtua yang stres dan frustrasi, dan pada gilirannya mengumpat-umpat Allah ketika menghadapi ujian berupa kematian sang buah hati.

Seorang Muslim yang memiliki keimanan mantap tidak akan bertindak seperti itu. Sebab, ia mempercayai dengan sepenuh keyakinan bahwa hakikat kepastian, baik dan buruknya, itu dari Allah. Oleh karena itu, sungguh akan tampak kecil segala peristiwa dan musibah yang menimpa dirinya. Ia akan berserah diri kepada Allah, sehingga jiwanya akan merasa tenang, hatinya akan tabah menghadapi cobaan, ridha akan kepastian, dan tunduk kepada suratan takdir Allah.

Seorang ulama berkata, “Hendaknya kedua orangtua bersabar dan menerima ketentuan takdir Allah, karena putusan Allah pada seorang mukmin dalam hal yang tidak menyenangkan mungkin lebih baik daripada dalam hal yang menyenangkan hati.”

Apalagi, bagi orang-orang yang bersabar menghadapi kematian anak, akan memperoleh “buah manis” yang akan dipetik di akhirat nanti. Di antara buah manis itu tak lain adalah surga.

Rasulullah bersabda, “Jika anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah berfirman kepada malaikat, ‘Kalian telah mengambil anak hamba-Ku?” Mereka (malaikat) berkata, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Kalian telah mengambil buah hati hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ia memuji-Mu dan ber-istirja’.’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah bagi hamba-Ku rumah di surga dan berilah nama Baitul-Hamd’.” (Riwayat At-Tirmidzi)

Bersedih, Boleh

Apakah dengan demikian, bersabar menghadapi kematian anak berarti tidak boleh bersedih? Tidak boleh menangis?

Tentu saja tidak serta merta seperti itu. Islam mengajarkan bolehnya bersedih menghadapi kematian anak karena itu merupakan hal yang manusiawi.

Bersedih adalah luapan ekspresi yang lumrah ketika seseorang berpisah dengan sosok yang disayanginya (anak). Bersedih seperti ini justru menunjukkan ekspresi kecintaan dan kasih sayang. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika kesedihan itu telah berlebih-lebihan dengan diiringi suara tangis ratapan.

Rasulullah sendiri diriwayatkan begitu bersedih ketika menghadapi kematian Ibrahim, anak kesayangannya. Rasulullah bahkan menangis sehingga matanya basah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, kesedihan dan tangis Rasulullah itu terlihat jelas oleh sebagian kaum Muslimin yang bertakziyah di rumah beliau.

Berkatalah salah satu hadirin, “Mengapa Tuan menangis? Bukankah Tuan pernah melarang kami menangisi orang mati?”

Mendengar perkataan itu, Nabi bersabda, “Aku tidak pernah melarang berdukacita (bersedih), tetapi yang pernah kularang itu hanya mengangkat suara dengan menangis. Apa-apa yang kamu lihat kepadaku adalah bekas apa yang terkandung di dalam hati dari rasa cinta dan sayang. Barangsiapa yang tidak menyatakan kasih sayang, orang lain tidak akan menyatakan kasih sayang terhadapnya.”

Jadi, sedih menghadapi kematian anak dalam batas-batas yang wajar diperbolehkan syariat. Yang dilarang adalah jika tangisan itu dilakukan dengan meratap. Apalagi bila disertai dengan menampar pipi dan merobek-robek pakaian, maka hal ini jelas-jelas dilarang syariat Islam sebagaimana sabda Rasulullah, “Bukan dari golonganku orang yang (ditinggal mati keluarganya) memukul-mukul pipi dan merobek-robek (kain) saku dan menjerit-jerit dengan suara jeritan kaum jahiliyah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Karenanya, ketika harus menghadapi takdir kematian anak, bersedihlah dalam batas-batas yang wajar. Terimalah takdir kematian itu dengan sabar dan ikhlas. Mudah-mudahan dengan begitu, kematian anak akan menjadi “buah manis” yang akan dipetik di akhirat nanti. Ya, anak tersebut akan menjadi jalan menuju surga bagi orangtuanya.

Di sinilah kisah Ummu Sulaim di atas menemukan konteksnya sebagai pelajaran berharga tentang ketabahan yang luar biasa seorang ibu menghadapi kematian anaknya. Itu semua tentu sebagai akibat dari spirit keimanan yang benar-benar merasuk ke dalam kalbunya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.









Jangan Percaya Tebar Pesona di Jagad Maya


DUNIA maya benar-benar telah menjadi magnet. Dari aktivis majlis sampek aktivis geng motor, dari mahasiswa sampai anak SD, dari muda-mudi sampaei yang tua-tua pun, tidak mau kalah dan ketinggalan. Semuanya berlomba eksis di dunia maya. Katanya sih, “Dunia maya lebih asyik, kalau jelek bisa ditutupin pakek foto orang lain, cowok atau cewek yang ganteng dan cantik.”

Segala cara dilakukan, bila perlu pasang foto ulama, habib, kyai, untuk menggambarkan betapa dirinya sosok arjuna yang dinanti-nanti.

Beragam cara ditempuh, khususnya oleh Facebookers untuk melejitkan identitas dan poplaritas. Mulai dari memposting staus yang aduhai, profil bahwa ia belajar di luar negeri.
Padahal, ada juga lho kondisi yang perlu ekstra waspada. Soalnya, ada juga teman yang keliatannya baik. Nggak garang, nggak pasang tampang Romusa (Roman Muka Sapi, eh, maksudnya Sadis). Tapi… malah ngejerumusin untuk masuk dunia maksiat. Urusannya nggak jauh sama narkoba dan seks bebas.

Tampang sih klimis (bukan kliatan miskin ya!), tapi omongannya racun! Bukannya ngajak ke pengajian, tapi malah ngajak nongkrong di pos ronda sambil nyekek botol miras. Ya, itu sih namanya teman yang romantis (roman manis hati iblis!).

So, memang akhirnya saat ini, kita kudu selektif juga pilih teman. Nggak sembarangan gitu. Bukan maksud kita sombong atau diskriminasi, soalnya kalo salah pilih yang dipertaruhkan bukan masa depan di dunia aja, tapi juga di akhirat. Iya nggak sih?

Bukan itu saja, menebar pesona biasa dilakukan dengan nampangin foto-foto yang paling teranyar, paling mempesona, atau yang paling mampu menarik lawan jenis untuk berkomentar. Komentar yang seakan madu itu tak bisa menjadi racun berbisa, terbuai oleh candu kata-kata asmara.

Suatu kali, saya membaca akun seseorang. Ada komentar seseorang setelah melihat foto seorang ukhty. “Letak kemulian seorang wanita, adalah wanita yg berkerudung seperti mu. Aku melihat sesosok cahaya di balik kerudung mu. Nampaknya aku tahu dengan segalah kecintaan mu terhadap Tuhan. aku yakin kau adalah segalanya yang baru ku kenal. jaga dan rawat tradisi ini hingga kelak kamu tiada. Salam kenal....."

Begitulah komentar-komentarnya. Memuji, tapi akhirnya ingin kenal lebih dalam.

Ada lagi komentar dari yang lain. Gayanya sok spiritual, bahkan ngomongnya pakek dicadelin kayak anak balita.

“Shubbhanallah walhamdhulillah (mha sci allah & sgala puzi bgi allah)da cntik baik shalehah lge , smoga qmu bicha mnjaga & mnsyukuri anugrah trindah yg tlah allah brikan.”

“Subhanallah, setiap komentar dan postingan ukhti selalu menyejukkan dan bernilai, bagai permata berkilauan yang memancarkan keindahan,” begitu kata yang lainnya seolah memuji.

Itulah seklumit fenomena yang terjadi di jagad maya, siapa saja dapat memunculkan dirinya lengkap dengan keaslian atau kepalsuannya.

Bisa saja kita mengatakan, “Don’t Judge Person by Facebook Profile.” Namun dunia maya, tetap bisa menjadi racun “terselubung” bagi pengguna yang tidak selektif.

Jangan keliru, perkembangan terbaru menyebutkan, dunia maya (khusunys Facebook) menjadi lahan baru modus kejahatan dunia dunia ‘trafficking’. Pernyataan tersebut diungkapkan Sholahuddin, pejabat sementara Direktur Women Crisis Center (WCC) Jombang di sebuah media massa belum lama ini.

Kasus paling baru adalah hilangnya Rohmatul Latifah Asyhari (16) sisiwi SMUN 1 Jogoroto Jombang yang diduga menjadi korban trafficking usai mengenal seorang pria misterius melalui situs jejaring internet facebook merupakan modus baru di dunia perdagangan orang (trafficking). Belum lagi kasus-kasus lama akibat “pergaulan” di Facebook atau kasus-kasus yang tidak teridentifikasi dan tertangkap media.

Cara paling gampang penjahat trafficking “memburu” gadis-gadis lugu adalah berpura-pura menjadai sahabat dekat di dunia maya.

Memanfaatkan Dunia Maya

Tentu tidak semua yang ada di dunia maya adalah buruk. Sebaliknya tak semuanya juga baik. Yang penting, jangan sampai kita terjerumus dalam jejaring kepalsuan yang sering hinggap di dunia maya.

Apa kita penting menghadapi kejahatan di duni maya?

Pertama, hindarilah “tebar pesona” di dunia maya. Misalnya cara-cara meng-upload foto di setiap kesempatan. Foto mempunyai nilai tinggi untuk menarik simpati, minat pihak lain. Apalagi lawan jenis. Sikap naris, seperti bentuk-bentuk kebiasaan menebar foto dipastikan akan melahirkan puji-pujian, dan gegap gempita komentar di album foto.

Jangan keliru, cara seperti ini pulalah yang akan mengundang “penjahat” dunia maya masuk ke dalam sanubari Anda. Bukan sesuatu yang sulit, seseorang meminjam foto orang lain yang sangat macho, keren dan cakep (untuk kreteria pelaku tebar pesona) agar dia bisa lebih jauh dan lebih dalam menarik perhatian.

Bukan hal rumit mengetahui hobi, kebiasan, tempat nongkrong, makanan kesukaan calon-calon korban traffecking seperti ini. Sebab dengan cara keluguan Anda meng-upload foto tiap saat, membaca wall-wall laporan Anda dan komentar-komentar Anda di berbagai sahabat akrab, itu sudah merupakan bahan referensi bagi mereka semua.

Kedua, jangan pernah terburu-buru menilai (apalagi tertarik pada seseorang) hanya karena status dan profil yang aduhai atau hanya karena berderet prestasi.

Tidak sedikit para pelaku ‘tebar-pesona’ melakukan segala cara hanya untuk menarik simpati massa dalam jumlah banyak demi meraih popularitas atau keuntungan bisnis.
Caranya, tulisan orang diakui sebagai tulisannya sendiri, foto orang lain diakui sebagai fotonya sendiri, sampai tempat tinggal pun tak sudi menulis kota Pandaan tapi Panama, Malang ditulis Malaka, Lamongan diganti London.

Tak sedikit pula para pelaku ‘tebar-pesona’ sesungguhnya hanya para penjiplak alias “kopas” (tukang kopi-paste). Keahliannya hanya mengopas sumber dari orang, hanya untuk mencari simpati, pujian atau komentar-kementar dukungan.

Ketiga, jangan suka GR atau cepat simpati hanya karena status bernama simpati atau mencari empati. “Alhamdulilah buka puasa hari ini pakek gule, sate, sop, kambing guling, sama pecel lele. (Ah, padahal sesungguhnya Engkau mau puasa atau gak puasa sekalipun, orang tidak terlalu peduli). Tapi jangan keliru, ini adalah jurus kuno modivikasi modern. Status-status seperti ini sering muncul, bisa jadi agar dia ingin dikomentari, “Masya Allah cowok sholih, idaman wanita shalihah.”

Akhirnya memang benar, “Don’t Judge Person by Facebook Profile!.”

Akhirul kalam, jadikalnah dunia maya untuk mengajak kebaikan, berdakwah, bersilaturrahmi, mengajarkan ilmu yang kalian bisa sebar dan ajarkan kepada sahabat kalian.

Kunci rapat-rapat kehidupan mayamu dari hal-hal yang bisa memancing orang lain untuk berbuat usil dan tidak-tidak. Jaga auratmu, hindari penggunaan foto diri, jangan mengumbar ucapan yang mancing-mancing birahi orang lain, mengeluhlah kepada Allah, sayangi orang tuamu. Ingatlah, duniamu yang sesungguhnya bukan di dunia maya tapi di dunia nyata.

Kejahatan di dunia maya sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Ketika saya menulis ini, sudah puluhan gadis-gadis remaja hilang dan diculik oleh kenalan mereka di Facebook. Tentusaja, jangan sampai kita, saudara kita, atau mungkin anak-anak kita menjadi korban berikutnya.*









Pembunuhan Karakter yang Sangat Kejam

Oktober tahun 2006, seorang juri yang disebut ustadz berkata kepada salah satu kontestan Pildacil yang baru saja usai memberikan “tau­shiyah”. Juri ini berkata, “Kamu terbaik saat ini. Ini yang diinginkan juri. Beberapa tahun ke depan, rumah dan mobil kamu akan mewah. Kamu juga akan bisa membangun masjid.”

Fantastis. Sebuah “nasihat” yang membuat miris, sehingga tak cukup hanya dijawab dengan tangis. Sebuah “nasihat” yang seharusnya membuat orangtua ngeri membayangkan masa depan anak-anaknya, kecuali jika pertanyaan yang menguasai benak kita tentang anak-anak adalah apa yang akan mereka makan sesudah kita tiada. Bukan apa yang mereka sembah, sehingga apa pun yang mereka kerjakan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Bukan­kah Allah Ta’ala sudah berfirman?

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِي

“Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".” (Al-An’aam: 162-163).

Inilah orientasi hidup yang perlu kita hunjamkan ke dada anak-anak kita. Kita hun­jamkan keinginan untuk menolong agama Allah ke dalam hati mereka sekuat-kuatnya. Semoga dengan itu, ia menjadi orang yang ikhlas dalam memberikan hartanya, hidupnya, dan dirinya bagi agama ini. Sesungguhnya, amal itu bergantung pada niat. Jika anak-anak itu kelak menyembah Allah karena mengharap dunia, maka mereka tidak akan memperoleh akhirat. Sedangkan dunia belum tentu mereka dapatkan. Na’udzubillahi min dzaalik.

Adapun jika mereka membaktikan shalat, ibadah, hidup dan matinya untuk Allah semata-mata, maka sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Insya Allah mereka akan mampu menggenggam dunia dengan tangan kanannya, sedangkan di akhirat menanti surga yang penuh barakah. Allahumma amin.

Kuatnya orientasi hidup inilah yang harus menjadi perhatian kita; para orangtua dan pendidik di sekolah. Bahkan seandainya yang kita inginkan dari mereka adalah kesuksesan karier di dunia ini, kita harus menanamkan pada anak-anak kita orientasi hidup yang kuat dan bersifat spiritual.

Dalam tulisannya yang bertajuk Educational Psychology Interactive (2000), W. Huitt menunjukkan bahwa seorang brilliant star (bintang brilian) –istilah Huitt tentang me­reka yang memiliki prestasi luar biasa melebihi orang-orang sukses pada umumnya—biasa­nya memiliki ciri spiritual yang sangat khas, yakni disciple & devout. Disciple berarti ia sangat percaya pada gagasan atau ajaran seorang pemimpin besar atau guru spiritual. Sedangkan devout menunjukkan ketaatan yang sangat kuat.

Masih menurut riset W. Huitt. Seorang brilliant star juga memiliki ciri sosial yang tran­senden. Apapun yang ia lakukan di masyarakat adalah dalam rangka mewujudkan perintah Tuhan di muka bumi dan menjadi pelayan yang rendah hati bagi ummat manusia. Ia berbuat banyak, bahkan melampaui yang bisa dilakukan orang lain, tetapi selalu merasa belum ber­­buat apa-apa yang pantas bagi orang lain. Ia banyak memberi manfaat, tetapi selalu merasa apa yang dilakukan belum cukup untuk mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Apa yang bisa kita petik dari catatan Huitt tentang bril­liant star? Kunci paling pokok untuk mengantarkan anak meraih sukses adalah membentuk jiwanya, membangun motivasinya, membakar semangatnya, dan mengarahkan orientasi hidupnya semenjak dini. Kita bakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik demi sebuah idealisme yang buah­nya ada di surga. Kita tumbuhkan pada dirinya orientasi hidup yang bersifat spiritual sejak usia kanak-kanak. Kita bangkitkan cita-cita untuk menjadi orang yang paling banyak memberi manfaat bagi agama ini dengan harta dan jiwanya.

Ini semua merupakan akar motivasi. Di sekolah, hal-hal yang bersifat motivasional tersebut secara keseluruhan termasuk bagian dari dasar-dasar berpengetahuan (the basic of knowing); bagian penting pendidikan yang harus kita bangun pada para peserta didik di jen­jang sekolah dasar, terutama kelas satu sampai tiga. Mudah-mudahan dengan itu anak kita memiliki motivasi intrinsik yang kuat. Bukan motivasi ekstrinsik, yakni tergeraknya seseorang melakukan sesuatu karena dorongan dari luar. Bukan karena merasa apa yang dilakukannya itu baik dan memang seharusnya dilakukan.

Jika motivasi intrinsik memiliki akar yang kuat sehingga sulit diruntuhkan, maka motivasi ekstrinsik justru mudah patah tanpa perlu kita patahkan. Semakin intrinsik motivasi seseorang, semakin kuat daya tahannya melakukan sesuatu dengan penuh semangat.

Pada masa kanak-kanak, motivasi masih dalam proses perkembangan. Fase pemben­tukan yang paling penting berada pada rentang usia 0-8 tahun. Selanjutnya, usia 9-12 tahun merupakan fase penguatan. Secara umum, anak-anak mencapai kemapanan motivasi pada usia dua belas tahun. Artinya, pada usia ini motivasi anak cenderung stabil, meskipun masih ada kemungkinan berubah. Jika pada usia-usia sebelumnya orangtua dan guru secara terus-menerus membangun motivasi intrinsiknya, insya-Allah pada usia ini kuatnya motivasi su­dah menjadi karakter anak.

Nah, apakah yang ditawarkan di acara yang bernama Pildacil? Anak-anak dilatih menirukan ceramah –bukan mengekspresikan gagasan secara alamiah—untuk meraih mimpi-mimpi tentang uang yang berlimpah, umroh gratis dan bahkan sekaligus ambisi punya rumah mewah seperti komentar juri yang saya kutip di awal tulisan ini.

Lalu, akan kita bawa ke mana anak-anak kita jika di usianya yang masih sangat belia, sudah sibuk mendakwahkan agama untuk meraih dunia? Padahal, hari ini mereka seharusnya membangun motivasi yang kuat, budaya belajar yang kokoh, integritas yang tinggi, dan visi besar yang bernilai spiritual.

Wallahu a’lam bishawab.

Di luar itu semua, ada beberapa hal yang memprihatinkan bagi perkembangan mereka di masa mendatang, terutama jika mengingat bahwa tidak mungkin mereka bisa tampil di Pildacil kecuali karena ada potensi besar pada diri mereka. Pertama, jika melihat cara mereka berbicara dan sorot matanya saat tampil, tampak betul bahwa mereka bukan sedang mengekspresikan gagasan. Tetapi mereka sedang belajar mengambil jalan pintas. Mereka menjadi kaset yang diputar ulang. Materi ceramah dan gaya berbicara, tidak sedikit yang menunjukkan bahwa bukan diri mereka yang tampil. Barangkali tidak disadari, cara seperti ini merupakan pembunuhan karakter positif anak.

Kedua, di saat anak-anak harus belajar beramal dengan ikhlas dan gigih berusaha, mereka melihat kenyataan bahwa yang membuat mereka hebat bukan usaha keras mereka untuk berbicara dengan sebaik-baiknya, tetapi seberapa banyak SMS yang masuk untuk dia. Di banyak tempat, pembunuhan karakter berikutnya terjadi: dari orangtua, pejabat pemerintah hingga pemuka agama yang tidak visioner berlomba mengeluarkan dana sekaligus menyeru untuk berkirim SMS sebanyak-banyaknya. Sekali lagi, anak belajar praktek manipulasi. Pada­hal orang dewasa pun seharusnya tetap belajar untuk secara jujur mengakui keutamaan orang lain dan berusaha mengambil pelajaran dari orang lain yang lebih baik.

Dampak lebih jauh dari praktek manipulasi suara –sebagian orangtua bahkan sampai menjual harta berharga untuk mendongkrak perolehan SMS—masih sangat panjang.

Tetapi belum cukup kuat hati saya untuk membahasnya saat ini. Semoga Allah berikan kepada saya kekuatan untuk menulis yang lebih tuntas di waktu mendatang.

Ketiga, anak-anak yang seharusnya belajar membangun visi hidup dan orientasi spiritual, justru kehilangan elan vital (daya hidup) untuk terus mencari ilmu dengan sebaik-baiknya karena fokusnya justru bagaimana menarik perhatian publik. Bukan menyampaikan apa yang baik. Bukankah apa yang harus disampaikan sudah dilatihkan?

Tiga hal ini hanyalah sebagian alasan mengapa kita harus menahan diri agar tidak menjerumuskan anak-anak kita ikut Pildacil. Terlalu kecil harga yang mereka terima untuk sebuah kehilangan yang sangat besar.

Anak-anak itu sangat luar biasa potensinya. Alangkah besar manfaat yang bisa dipetik oleh agama dan ummat manusia jika kita memilih membangun kekuatan jiwa, aqidah, iman, akal budi dan kegigihannya saat ini sehingga kelak mereka bisa memberi kebaikan yang sebesar-besarnya. Betapa pun, harus kita akui dengan jujur, Pildacil sama sekali bukan untuk melakukan pembibitan generasi Islam.

Pildacil adalah bisnis dan hiburan, karena hanya inilah kamus yang dikenal oleh TV!.








Refleksi Pagi: Damai


DENGAN motor yang lumayan baru, laki-laki muda itu setiap pagi mengantar istrinya bekerja. Mereka tidak berdua. Ada manusia mungil yang senantiasa menyertai mereka. Bocah laki-laki, kira-kira berusia tiga tahun. Bercukur cepak ala tentara.

Jika sempat dan kebetulan berbusana siap keluar, saya memberi sebungkus makanan ringan atau susu dus anak itu, lewat ibunya. Sang Ibu akan menerima dengan gembira, lalu mereka bertiga berbincang ringan tentang 'hadiah' pagi Si Bocah.

Si Ibu sudah masuk ke dalam rumah tempatnya bekerja, sebagai pembantu rumah tangga. Suaminya sendiri tukang ojek, yang bertugas mengantar-jemput beberapa anak sekolah di kompleks tempat saya dan majikan Si Ibu tinggal.

Dari balik jendela ruang tamu, saya mengamati Si Bapak dan Si Bocah yang masih duduk di atas motor. Saya mengamati mereka sambil membereskan sisa-sisa pekerjaan tangan Si Tengah: kertas, karton, spidol, gunting, lem, yang berserakan, yang sempat membuat saya kesal dan memintanya bergegas subuh tadi. Disertai pula omelan yang tak menyelesaikan masalah, "Kenapa gak dikerjain dari kemarin-kemarin? Nunda-nunda, ya gini deh jadinya. Gak bisa maksimal. Kemarin ngapain ajah? Kan libur?"

Si Bapak tak kunjung menyalakan motornya untuk berlalu. Sepertinya ia membukakan anaknya kemasan makanan ringan yang tadi saya berikan. Ia lalu menunggui anaknya puas makan. Mungkin sampai habis. Cukup lama, sampai keberantakan di ruang tamu tuntas saya bereksan. Meski dari jarak kira-kira 20 meter, saya bisa membaca tak ada rasa kesal menunggui anaknya makan.

Tiba-tiba saya merasa seperti tertohok. Laki-laki sederhana beberapa meter di hadapan saya, tampak begitu menikmati waktunya sebagai Ayah. Tak ada ketergesaan. Tak ada gusar. Pada jam-jam di mana begitu banyak orang stres mengejar waktu, terjebak macet, terbayang agenda kerja di kantor, konflik dengan rekan kerja dan bos. Pagi kebanyakan mereka bukanlah pagi yang damai, tapi penuh pertengkaran. Tentang perlengkapan berangkat kantor atau sekolah yang tidak ada di tempatnya, anak-anak yang enggan menghabiskan sarapan, lambat ganti pakaian, menelantarkan piyama tidurnya di sana dan di sini, handuk basah melengkapi sprei yang acak-acakan.

"Ayo cepat, bentar lagi telat! Sisa 15 menit lagi!"

"Ayo, jangan lupa minum vitaminnya!"

"Addduuuh, bukan saatnya ngobrol tentang itu!"

"Loh, bukannya kemarin bilang seragamnya sudah lengkap?"

Saya tidak tahu ada berapa banyak keluarga yang merasa pagi mereka dekat dengan kalimat-kalimat seperti di atas. Masing-masing kita bisa mengukurnya sendiri. Atau, ada juga keluarga yang terhindar dari percakapan seperti di atas karena mempekerjakan beberapa dayang-dayang untuk mengerjakan apa yang sebenarnya bisa dikerjakan sendiri.

Tapi, apakah keluarga yang paginya tak damai, berarti tidak lebih 'sukses' menjalani hidup daripada keluarga laki-laki sederhana di luar sana itu?

Saya tidak tahu. Yang jelas, damai di pagi ahri adalah impian tiap orang. Dan hak tiap orang. Dan bukan sebuah kemustahilan, bagi siapa saja.

“To be intime” tak berarti “to be in quarrel”. Intinya bagaimana memenej waktu dengan baik. Boleh jadi keluarga sederhana itu tak merasakan damai apa yang orang lain melihatnya damai, dan jauh di dalam hatinya, mereka justru mengira keluarga penontonnya lah yang lebih damai. Rumput tetangga selalu lebih hijau, bukan? Intinya, kita menjalani hidup yang telah diamanahkan Allah kepada kita, dengan segala macam bentuknya, sebaik-baiknya. Aturan dan pedomannya sudah jelas. Yang terbaik adalah yang paling bisa berjalan di atas aturan dan pedoman itu. Dan itulah hakikat kemenangan yang sebenarnya.

Boleh jadi, jauhnya rasa damai di pagi hari, bukan karena kondisi atau fase kehidupan yang sedang kita jalani. Tapi cara kita mengisi kondisi atau fase tersebut. Allah memberikan sarana dan fasilitas sekaligus petunjuk, tinggal bagaimana kita memadukan unsur-unsurnya menjadi senyawa yang bisa menebarkan aroma damai, sejahtera dan bahagia tentunya.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) berdoa: “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.” (HR Abu Dawud 2239)

Allah SWT memerintahkan manusia agar memperhatikan waktu pagi dan petang sebaik-baiknya.

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf [7]:205)

Yang jelas, sederhana tidak berarti harus jadi pihak yang menerima. Allah lebih menyukai seorang hamba yang kuat, yang bisa memberi, yang tangannya di atas. Termasuk, memberi rasa damai bagi orang-orang di sekitarnya









Wahai Istri, Taat Suami Salah Satu Kunci Surga!

JIKA seorang istri melakukan shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya dia akan memasuki surga Tuhannya,” demikian hadits Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Bahkan dalam hadits lain disebutkan, “Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Khalik (Sang Pencipta).” (HR. Ahmad).

Syariat Islam telah mengatur hak suami terhadap istri dengan cara menaatinya (selama ia tidak keluar dari Syariat dan hukum Allah). Istri harus menaati suami dalam segala hal yang tidak berbau maksiat, berusaha memenuhi segala kebutuhannya sehingga membuat suami ridha kepadanya.

Bagai aktivis perempuan di mana ia telah terpenjara oleh kampanye Barat tentang “kesetaraan”, hadits ini pasti merisaukan. Sebab, baginya, ketaatan pada suami hanya akan membuatnya menjadi “sub-ordinasi” kaum pria.

Hanya orang-orang yang rela dan ridho melaksakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala, yang di dadanya dipenuhi nikmat Iman dan Islam saja yang mampu mentaati perintah suaminya.

Ia rela menjauhi sesuatu, jika suami melarangnya. Ia berlapang dada jika suami menasihatinya. Bahkan ia rela tidak menerima tamu pria –baik kerabat jauh sekalipun-- ketika suami bepergian atau berada di luar rumah.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Ketahuilah bahwa kalian mempunyai hak atas istri kalian dan istri kalian juga mempunyai hak atas kalian. Adapun hak kalian atas istri kalian adalah tidak mengizinkan orang yang kalian benci untuk memasuki rumah kalian.” (HR. At-Tirmidzi)

Istri Yang Taat

Istri yang taat adalah istri yang mengetahui kewajibannya dalam agama untuk mematuhi suaminya dan menyadari sepenuh hati betapa pentingnya mematuhi suami. Istri harus selalu menaati suaminya pada hal-hal yang berguna dan bermanfaat, hingga menciptakan rasa aman dan kasih sayang dalam keluarga agar perahu kehidupan mereka berlayar dengan baik dan jauh dari ombak yang membuatnya bergocang begitu hebat.

Sebaliknya, Islam telah memberikan hak seorang wanita secara penuh atas suaminya, di mana Islam memerintahkannya untuk menghormati istrinya, memenuhi hak-haknya dan menciptakan kehidupan yang layak baginya sehingga istrinya patuh dan cinta kepadanya.

Kewajiban menataati suami yang telah ditetapkan agama Islam kepada istri tidak lain karena tanggung jawab suami yang begitu besar, sebab suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang menjadi tanggungannya. Di samping itu, karena suami sangat ditekankan untuk mempunyai pandangan yang jauh ke depan dan berwawasan luas, sehingga suami dapat mengetahui hal-hal yang tidak diketahui istri berdasarkan pengalaman dan keahliannya di bidang tertentu.

Istri yang bijaksana adalah istri yang mematuhi suaminya, melaksanakan perintahnya, serta mendengar dan menghormati pendapat dan nasihatnya dengan penuh perhatian. Jika dia melihat bahwa di dalam pendapat suaminya terdapat kesalahan maka dia berusaha untuk membuka dialog dengan suaminya, lalu menyebutkan kesalahannya dengan lembut dan rendah hati. Sikap tenang dan lembut bak sihir yang dapat melunakkan hati seseorang.

Ketaatan kepada suami mungkin memberatkan seorang istri. Seberapa banyak istri mempersiapkan dirinya untuk mematuhi suaminya dan bersikap ikhlas dalam menjalankannya maka sebanyak itulah pahala yang akan didapatkannya, karena seperti yang dikatakan oleh para ulama salaf, “Balasan itu berbanding lurus dengan amal yang dilakukan seseorang.” Tidak diragukan bahwa istri bisa memetik banyak pahala selain taat kepada suami seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya, namun pahala yang didapatkannya tidak sempurna jika tidak mendapatkan pahala dalam menaati suaminya, menyenangkan hatinya dan tidak melakukan sesuatu yang tidak disukainya.

Kita atau Anda mungkin menemukan benih-benih kesombongan mulai merasuki istri Anda, maka ketika itu hendaklah Anda berlapang dada kemudian menasihatinya dengan sepenuh hati.

Layaknya sebuah perusahaan, pernikahan juga akan mengalami ancaman serius berupa perselisihan dan sengketa antara individu yang ada di dalamnya.

Suami adalah pelindung keluarga berdasarkan perintah Allah kepadanya, maka dialah yang bertanggungjawab dalam hal ini. Sebab, keluarga adalah pemerintahan terkecil, dan suamilah “rajanya”, sehingga dia wajib dipatuhi.

Allah Ta’ala telah berfirman;

لرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisaa` [4] : 34)

Batas-batas ketaatan

Kewajiban istri untuk menaati suaminya bukan bukan ketaatan tanpa batasan, melainkan ketaatan seorang istri yang shalih untuk suami yang baik dan shalih, suami yang dipercayai kepribadiannya dan keikhlasannya serta diyakini kebaikan dalam tindakannya.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Tidak ada ketaatan dalam hal berbuat
maksiat akan tetapi ketaatan adalah pada hal-hal yang baik.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud).

Ketaatan istri ini harus dibarengi oleh sikap suami yang suka berkonsultasi dan meminta masukan dari istrinya sehingga memperkuat ikatan batin dalam keluarga.

Konsultasi antara suami dan istri pada semua hal yang berhubungan dengan urusan keluarga merupakan sebuah keharusan, bahkan hal-hal yang harus dilakukan suami untuk banyak orang. Tidak ada penasehat yang handal melebihi istri yang tulus dan mempunyai banyak ide cemerlang untuk suaminya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam suka berkonsultasi dengan istri-istrinya dan mengambil pendapat mereka dalam beberapa hal penting.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berskonsultasi kepada istrinya, Ummu Salamah pada kondisi yang sangat penting di kala para shahabat enggan menyembelih unta dan mencukur rambutnya. Ketika itu Ummu Salamah meminta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk melakukannya terlebih dahulu dan tidak berbicara kepada siapapun. Demi melihat hal itu, para shahabat pun melakukannya. Sungguh pendapat Ummu Salamah sangat brilliant!

Akhirnya, marilah kita berislam secara benar. Benar dalam pengertian sesuai yang diajarkan oleh Allah dan Rasulnya. Jika tidak, kita akan terus menyesuaikan agama ini dengan ajaran-ajaran yang tidak dibenarkan.

Saat ini banyak orang sedang gandrung dengan slogan kesetaraan gender dan feminism. Isme-isme atau paham seperti ini hanyalah solusi masyarakat Barat untuk keluar dari sebuah krisis ketidakadilan yang sedang menimpa mereka, bukan untuk wanita-wanita Muslim. Sudah banyak terbukti, paham-paham seperti ini, telah menjauhkan wanita Muslim pada tauhid.

Islam dan Allah Subhanahu Wa ta’ala telah mengatur sedemikian rupa tentang hak-hak suami-istri, sesuai porsinya. Sekiranya masih ada yang curiga seolah-olah semua ketetapan Allah Subhanahu Wa ta'ala itu masih kurang proposional, sama halnya kita menganggap otak kita-lah yang lebih cerdas dari ketetapan Allah Subhanahu Wa ta’ala. Walhasil, marilah mengikuti al-Qur`an dan hadits saja dalam menjalankan bahtera pernikahan ini, agar kita bisa benar-benar merasakan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Amiin.






Taukah Anda, Dengan Siapa Anak Kita Bergaul?


YURNELI, ibunda Afriyani Susanti, tersangka kasus kecelakaan maut yang menewaskan 9 orang, menyebutkan, putrinya dikenal ramah dan baik dengan tetangga di sekitar rumahnya. "Dalam lingkungan tetangga baik, sama keluarga juga temen-temennya yang banyak dia baik," imbuhnya.

Meski demikian, Yurneli mengaku dengan jujur tidak banyak tahu soal pergaulan putrinya di lingkungan pekerjaannya dan di luar. Dia menyatakan memang anaknya sering pulang kerja hingga malam. "Kalau di pekerjaan, pergaulan seperti apa, saya nggak tahu. Teman-teman dia yang diajak ke rumah semuanya baik, kalau yang di luar saya nggak tahu. Pokoknya dia suka bikin iklan. Kadang sharing, “Saya dapat job bu, doain yaa. Suka curhat, panjang sekali," terang Yurneli.

Sang ibu kaget bukan main ketika mendapatkan laporan bahwa anaknya mengkonsumsi narkoba. Oleh karena itu, ketika kemudian Afriyani dinyatakan positif mengkonsumsi narkoba, Yurneli mengaku kaget. "Saya kaget sekali. Saya tahu anak saya nggak pernah seperti itu," terang Yurneli sembari terisak. "Tahunya di dalam rumah nggak pernah lihat Afri gimana-gimana. Nggak pernah saya liat seperti itu (pakai narkoba)," imbuhnya.

Itulah sepenggal pernyataan seorang ibu yang menghadapi kenyataan salah satu anaknya menewaskan sekian nyawa lantaran kondisi yang masih menyisakan bekas-bekas minuman keras dan narkoba. Seorang ibu yang tidak tahu menahun persoalan anaknya yang terlibat pergaulan yang dapat membahayakan keselamatan orang lain.

Kita –bahkan semua orang-- pasti gemas, jengkel sekaligus geram melihat ulah pelaku. Bagaimana tidak, selepas menabrak para pejalan kaki, ia keluar mobil dengan santainya, seakan-akan tak terjadi apa-apa. Ketika jutaan mata memandangnya dengan rasa kecewa dan marah, ia masih dengan santainya bermain-main hp, seolah tak terjadi apa-apa. Itu akibat pengaruh sisa-sisa minuman keras dan obat-obatan yang ia minum. Buktinya, setelah beberapa hari –kemungkinan ketika kandungan obat telah habis—pelaku mengaku menyesal sedalam-dalamnya.

Apa pelajaran berharga bagi kita semua yang bisa kita peti?

Yang lebih penting bagi kita adalah mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Kuususnya, kita sebagai orangtua. Apakah kita sudah merasa puas bila anak-anak kita tidak berbuat neko-neko (tidak aneh-aneh) di rumah? Apakah kita sudah merasa nyaman dengan perilaku kalem anak saat di rumah, padahal kita tidak tahu menahu siapa saja teman bergaulnya? Dengan siapa mereka di luar, apa bacaannya dan apa rujukannya.

Mungkin di antara kita masih ada yang bertanya-tanya, kenapa kita musti mendidik anak kita? Toh ketika kelak telah dewasa akan belajar dan hidup mandiri. Cara berpikir seperti ini kadang mendorong orangtua untuk acuh tak acuh prihal pendidikan anaknya. Sehingga, anak tumbuh liar tak mengurus masalah pendidikannya.
Ada pula sebagian orangtua yang memiliki prinsip: “Asal sudah saya kasih makan, selesai urusan.”

Mendidik anak adalah sebuah tanggung jawab sekaligus amanah yang dibebankan dipundak orangtua.

Saat saya membaca ayat; يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim [66] : 6), maka tertanam dalam diri saya bahwa sebenarnya mendidik keluarga, salah satunya adalah mendidik anak, adalah tanggung jawab orangtua.

Kita semua, para orangtua, akan dimintai pertanggung jawaban atas hal tersebut di hari kiamat. Sebagai seorang ayah, tugas tersebut dipikulkan di atras pundaknya. Selain berkewajiban menyelamatkan diri sendiri dari kobaran api neraka, orang tua berkewajiban menyelamatkan anggota keluarganya.

Alangkah baiknya kita simak penuturan Sayyid Qutub perihal kewajiban orangtua menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa neraka ini.

Beliau menuturkan, “Sesungguhnya keletihan seorang mukmin terkait dengan diri dan keluarganya adalah keletihan yang sangat berat dan menakutkan. Sebab, neraka telah ada di sana, sedangkan ia dan keluarga berada di hadapannya. Maka, hendaklah ia berusaha memberikan pembatas antara diri dan keluarga dengan neraka yang mana manusia yang ada di dalamnya sehina batu dan seremeh bebatuan. Maka, seorang mukmin berkewajiban untuk mengarahkan dakwahnya pertama kali kepada rumah tangga dan keluarganya. Ia berkewajiban untuk menjaga ruangan dari dalamnya. Ia berkewajiban menutup lubang-lubang yang ada di dalamnya sebelum ia dan dakwahnya pergi jauh dari rumah tersebut.” (Tafsir Fi Zhilalil Quran).

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah lebih menekankan tugas ini berada di pundak ayah, beliau mengatakan, “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala akan bertanya kepada seorang ayah tentang anaknya. Barangsiapa yang menelantarkan pendidikan anaknya dan membiarkannya tanpa arah, maka ia telah merusaknya dengan serusak-rusaknya. Mayoritas bobroknya anak-anak itu berasal dari pihak ayah mereka, penyepelean mereka terhadap anak-anak, serta tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban terhadap agama dan sunnah.”

Kita dituntut untuk mengajarkan startegi jitu kepada anak yang akan ia gunakan untuk mengarungi perhelatan kehidupan yang keras. Kehidupan kita berubah menjadi medan pertahanan dan peperangan yang tidak ringan. Bila kita tidak mempersenjatai anak kita dengan kemahiran dan membekalinya dengan kebutuhannya berupa nilai, dasar, dan pondasi yang dapat ia gunakan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang halal dan yang haram, maka kita telah menzhaliminya dengan kezhaliman yang besar. Kita seolah-olah seperti seseorang yang membiarkan anak kecil yang tidak bersalah berada di dalam sangkar yang dihuni oleh singa dan anjing hutan.

Seorang ayah yang memiliki obsesi tinggi akan mengetahui bahwasanya kehidupan ini dengan berbagai kekerasan dan kebengisannya merupakan sebuah realita yang tidak mungkin untuk diubah. Tidak ada solusi untuk menghadapi tekanan eksternal, kecuali dengan mengembangkan potensi internal anak. (Prof. ‘Abdul Karim Bakar).

Maka, sewajaranya kita selaku orangtua, khususnya ayah, mendidik anak-anak kita. Didiklah dengan perasaan senang. Jangan pernah merasa terbebani dengan pendidikan anak. Seyogyanya kita renungkan bersama sabda Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) berikut ini guna mewaspadai pergaulan anak-anak kita,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung kepada agama temannya. Maka, hendaklah salah seorang dari kamu memperhatikan, dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Pernahkah kita, para orangtua mengenal dan menyelami anak-anak kita? Dengan siapa ia bergaul dan berteman? Apakah persahabatan dan pertemanananya itu menambahnya menjadi lebih beriman atau justru semakin menjauhkannya? Jawabannya tentu para orangtua masing-masing. Tak ada kata terlambat dan mari kita peluk dan kita dekatkan anak-anak kita tauhid serta lebih mengenal Allah Subhanahu Wata’ala agar kelak ringan beban kita di yaumul hisab. Wallahul musta’an








Mewaspadai Ancaman Disintegrasi Keluarga Muslim Indonesia


PENULIS tercenung usai membaca sebuah berita Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan angka perceraian nasional hingga 70 persen. (Republika, 24/01/2012).

Menurut berita itu, ada tiga daerah tercatat memiliki tingkat perceraian paling tinggi. Bandung menempati urutan pertama. Berdasarkan data Pengadilan Tinggi (PT) tahun 2010, angka perceraian mencapai 84.084 perkara. Angka tersebut naik 100 persen lebih dibanding tahun sebelumnya sebanyak 37.523 perkara. Rincian penyebab perceraian adalah sebanyak 33.684 perceraian akibat faktor ekonomi, 25.846 perkara tidak ada keharmonisan, dan 17.348 perkara tidak ada tanggungjawab.

Peringkat kedua diduduki PT Surabaya sebanyak 68.092 perkara. Angkanya meningkat sembilan persen daripada 2009 sebanyak 63.432 perkara. Rincian faktor perceraian di antaranya sebanyak 22.766 perkara akibat tidak ada keharmonisan, sebanyak 17.032 perkara tidak ada tanggungjawab, dan 12.326 perkara faktor ekonomi.

PT Semarang menyusul di posisi berikutnya dengan jumlah 54.105 perkara pada 2010. Angka tersebut meningkat 17 persen dibanding tahun sebelumnya sebanyak 47.592 perkara. Rincian penyebab perceraian antara lain sebanyak 21.648 perkara tidak ada tanggungjawab, sebanyak 13.904 tidak ada keharmonisan, dan sebanyak 12.019 perkara akibat faktor ekonomi.

Jika dikumulasikan dari ketiga provinsi itu maka jumlah keluarga yang telah bercerai selama periode 2005 – 2010 adalah 206.281 keluarga. Sungguh, jumlah yang tidak sedikit bukan? Apa yang bisa disimpulkan dari beberapa laporan di atas?

Walaupun data tahun 2011 belum dimasukkan, tapi yang penting diperhatikan bahwa tingkat perceraian di negara berpenduduk mayoritas muslim ini sudah sangat memprihatinkan. Dan, bukan tidak menutup kemungkinan data tersebut hanyalah sebagian kecil dari realitas yang sebenarnya alias fenomena gunung es saja. نعوذ بالله من ذالك......

Bagaimana dengan provinsi Aceh yang telah mempositivasi syariat dalam sistem kehidupan sehari-hari?

Mahkamah Syar’iyah Aceh merilis dalam situs resminya grafik penyebab terjadinya perceraian di Aceh periode 2005 – 2009. Ada 13 faktor perceraian yang telah teridentifikasi yaitu poligami, krisis akhlak, cemburu, kawin paksa, ekonomi, tidak bertanggung jawab, kawin di bawah umur, penganiyaan, dihukum, cacat biologis, politik, gangguan pihak ketiga dan tidak harmonis.

Dari ke 13 faktor tersebut, tidak bertanggung jawab, tidak harmonis dan ekonomi merupakan tiga faktor terbesar. Tahun 2005 misalnya, terdapat 601 kasus perceraian karena faktor tidak ada tanggung jawab dan 577 kasus faktor ekonomi dan atau tidak harmonis. Sementara pada tahun 2009 terjadi peningkatan tajam; terdapat 1.020 kasus perceraian karena faktor tidak tanggung jawab sedangkankan faktor ekonomi dan atau tidak harmonis mencapai 1.140 kasus.

Idealita Konsepsional

Tema keluarga dalam al-Quran disebutkan dalam rangkaian sub tema pokok sistem sosial (nizham ijtima’iy). Ada dua puluh satu isu yang dibahas dalam al-Quran berkaitan dengan keluarga; (1) manusia yang berpasang-pasangan (laki dan perempuan) dengan segala hak, kewajiban dan tanggung jawabnya, (2) keharusan menajga kehormatan sebagai manusia, (3) kedudukan wanita, (4) pernikahan, (5) talak, (6) nusyuz, (7) zina, (8) keharusan melindungi kehormatan wanita muhsanat, (9) hidup melajang, (10) hak anak-anak, (11) menyusi anak, (12) anak angkat, (13) nama nasab atau keturunan, (14) hak-hak anak yatim, (15) wasiat, (16) perlindungan harta anak-anak yang belum mampu mengurus diri, (17) kerabat, (18) perlakuan kepada budak wanita yang berasal dari pihak kalah perang, (19) perlindungan hak-hak anak gadis, (20) hak-hak waris dan (21) tuntunan hidup dalam internal keluarga. (Abu Ridha, 2007: xii).

Keluarga yang diawali dengan pernikahan, bernilai ibadah dalam syariat karena tujuannya adalah memelihara hidup dan memohon keberlanjutannya hingga hari akhirat nanti.
Pernikahan bukan hanya pertemuan untuk meningkatkan produktivitas hewani, ia merupakan kelanjutan secara simultan dari keimanan untuk mencetak generasi yang dapat merealisasikan risalah eksistensi kemanusian. Ayah dan ibu bekerjasama dalam melaksanakan tugas ini (Muhammad Al Ghazali, 2001: 135-42).

Sebuah penelitian menegaskan bahwa (1) ketiadaan ayah dalam keluarga dalam arti ayah tidak menjalankan fungsinya sebagai seorang pendidik atau ketidakmengertiannya tentang kekhasan pada masa kanak-kanak akan menghambat perkembangan anak baik jasmani, perilaku maupun intelektualitasnya, (2) dasar utama pendidikan anak adalah keteladanan, cinta, kasih saying dan kelembutan, (3) pengaruh seksual, acara TV yang menyimpang, nyanyian yang tidak mendidik, perselisihan orang tua, waktu luang yang banyak dan ketergantungan kepada pembantu merupakan kendala yang paling rawan yang mengakibatkan penyimpangan perilaku anak, (Adnan Hasan, 1991).

Realita Faktual

Mengapa realitas factual berbanding terbalik dengan idealita konseptual itu?

Dalam buku “Tegak di Tengah Badai”, (Abu Ridha, 2007) telah diidentifikasi tujuh faktor penyebab disintegrasi lembaga keluarga. Pertama, globalisasi budaya yang berimplikasi pada pertemuan antar budaya sekaligus melahirkan proses saling mempengaruhi. Ringkas kata, pertemuan antar budaya bisa wujud dalam bentuk dominasi (penjajahan) terhadap yang lain.

Kedua, limbah budaya permisivisme (serba boleh) yang berakar dari filsafat hedonisme atau libertianisme yang bertujuan mencapai segala kenikmatan fisik setinggi mungkin, sesering mungkin dan dengan cara apapun. Para sosiolog menegaskan bahwa permisivisme merupakan anak kandung dari nihilisme yang menyerukan pembebasan manusia dari segala bentuk otoritas termasuk agama dan relativisme yang menyatakan kebenaran atau moralitas adalah relatif, (Dr. A Zaki Badawi; 1978).

Ketiga, perubahan-perubahan dramatik/liar sebagai konsekwensi dari budaya permisivisme tersebut. Baru-baru ini OPSI (Organisasi Pekerja Seks Indonesia) mendapat legalitas dari pemerintah pusat. Kini, mereka menargetkan legalitas dari nanggroe meutuah ini. Ada pun tentang penyimpangan perilaku seksual, penulis punya saksi hidup –seorang mahasiswa- yang nyaris menjadi korban pelaku homoseksual (gay) dua tahun lalu. Menurut pengakuannya, di kampusnya ternyata sudah eksis sebuah komunitas gay, sedangkan komunitas lesbi ada di Fakultas Ekonomi kampus lainnya. Masalah ini – seksualitas dan reproduksi- bisa bersifat positif yaitu membangun kepribadian, akan tetapi juga bisa menghancurkan sfat-sifat kemanusiaan… (Kartini Kartono, Jilid 1, 1992: 220-21).

Keempat, rasa malu yang hilang dan manusia yang tragis. Lihatlah tingkah polah mayoritas remaja yang telah kehilangan syaraf malu; mojok di warung gelap di pinggiran trotoar, mejeng di atas kendaraan di sepanjang tempat-tempat rekreasi dan sebagainya. Sedangkan manusia tragis adalah mereka yang tidak berdaya, kepribadian terpecah (split personality),dan terasing dalam keramaian. Kelima, media massa yang destruktif. Keenam, badai pornograpi dan pornoaksi. Ketujuh, andil gerakan feminisme ekstrem yang menegasikan lembaga keluarga.

Cinta Bukan Segalanya

Banyak orang yang begitu bersemangat memasuki bahtera rumah tangga bermodalkan cinta yang menggebu terhadap pasangannya. Tapi pada kenyataannya cinta saja tak cukup untuk membangun biduk rumah tangga yang berkualitas. Puncak kenikmatan sebuah pernikahan bukan dicapai melalui penyatuan fisik saja, melainkan melalui penyatuan emosional dan spiritual yang saling menumbuhkembangkan.

Pernikahan adalah sarana pembelajaran yang berkelanjutan, baik untuk mempelajari karakter pasangan ataupun meng-upgrade diri masing-masing. Karenanya sangat penting membangun komitmen bersama untuk saling menghargai dan mengingatkan baik sebelum, di awal maupun sepanjang pernikahan. Komitmen itu mengikat tapi tidak kaku, sehingga tidak ada salahnya diperbarui jika di tengah jalan kesepakatan itu tidak sesuai lagi.

Masyarakat Islami

Solusi fundamental dari permasalahan di atas adalah kembali kepada pemahaman yang menyeluruh terhadap syariat itu sendiri. Acapkali kesalahpahaman terhadap syariat melahirkan perilaku yang menjadi bumerang berkepanjangan. Kedua, masyarakat islami itu tidak semata diukur dengan anggotanya yang terdiri dari orang-orang beragama Islam, sementara nilai-nilai yang mengatur kehidupan sosialnya bukanlah aturan Islam. Namun, juga tidak serta merta dijuluki jahiliah, melainkan masyarakat yang tengah berproses menuju idealita.

Masyarakat islami yang dicitakan itu berupa kehidupan yang dibimbing akidah islam, dikendalikan oleh pemahaman islam, digerakkan oleh perasaan islam, dipagari oleh akhlak islam, diperindah oleh tatakrama islam, didominasi oleh nilai-nilai islam, hukumnya adalah syariat islam. Dan, orientasi ekonomi, seni,dan politiknya adalah ajaran islam, (Al Qaradhawi, 2003).

Sedangkan asy syahid Sayyid Quthb menegaskan, alasan utama dari keunikan masyarakat Islam dibandingkan yang lainnya karena masyarakat islam itu bentukan syariat yang khas yang datang dari sisi Tuhan. Syariat itulah yang membentuk masyarakat atas dasar apa yang diinginkanNya, bukan atas kehendak segelintir manusia. Dalam naungan syariat itulah tumbuh masyarakat Islam, menghadirkan ikatan-ikatan kerja, produksi, hukum, tatanan individu dan sosial, prinsip-prinsip perilaku, aturan interaksi dan seluruh tonggak bagi masyarakat yang khas, dengan corak yang jelas. Intinya, syariat itu yang membentuk masyarakat bukan yang dibentuk oleh masyarakat. AKhirnya, mari kita jaga keluarga kita dalam naungan syariah. Wallahu a’lam.*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar