Jumat, 10 Februari 2012

ILMU JIWA

Karyawan Lebih Tahan Stress Jika di Ruang Kerja Ada Tanaman


Meletakkan pot berisi tanaman di ruang kerja bisa memberi efek yang sama dengan berlibur di hutan atau pegunungan. Adanya tanaman di ruang kerja membuat karyawan lebih rileks, tidak mudah stres dan jarang bolos dengan alasan sakit.

Sebuah penelitian mengungkap, ruang kerja yang dihiasi dengan pot tanaman bisa meningkatkan kesehatan karyawan secara umum. Bukan hanya mengurangi stres, tanaman juga bisa mengurangi risiko kelelahan fisik, sakit kepala, mulut kering, kulit kering dan batuk-batuk.

Makin banyak pot tanaman yang ada di ruang kerja, makin sedikit karyawan yang bolos dengan alasan sakit. Salah satu alasannya, tanaman mampu menghasilkan oksigen sedangkan tanah di dalam potnya bisa menyerap senyawa-senyawa volatil (mudah menguap), senyawa yang bisa bikin karyawan mudah sakit.

“Ada juga alasan psikologisnya, yakni kebanyakan orang meyakini bahwa tanaman itu sehat sehingga saat melihat tanaman karyawan akan lebih optimistis terhadap kesehatannya”.

Dr Bringslimark mengamati presensi atau daftar hadir 385 orang karyawan. Dengan dibantu timnya dari University of Life Science di Norwegia dan Uppsala University di Swedia, ia juga menghitung berapa jumlah tanaman yang bisa dilihat para responden di kantornya.

Kesimpulannya adalah, makin banyak jumlah tanaman yang bisa dilihat para responden di kantornya maka tingkat absensi atau ketidakhadiran lebih rendah. Sebaliknya, makin sedikit tanaman yang bisa dilihat maka jumlah ketidakhadiran karena sakit cenderung meningkat.

Selain itu, karyawan yang melihat banyak tanaman saat bekerja bisa menyelesaikan tugas-tugasnya 12 persen lebih cepat dibandingkan karyawan yang kantornya gersang tanpa tanaman. Ketika diperiksa, tekanan darah dan tingkat stresnya memang lebih rendah.

Namun ditegaskan oleh Dr Bringslimark, hasil penelitian ini hanya berlaku di kantor-kantor yang ruangannya tertutup dan tidak memiliki jendela. Jenis tanamannya juga berpengaruh, sebab tanaman berdaun lebih memberikan efek positif dibanding bunga-bungaan.






Ciri-ciri Orang Bahagia Adalah Senang Pergi ke Museum


Kebahagiaan seseorang dalam hidup bisa dilihat dari perilakunya sehari-hari. Selain rajin ikut kegiatan rohani, penelitian menunjukkan bahwa sering pergi ke museum juga termasuk ciri-ciri orang yang puas dan bahagia dengan hidupnya.

Dalam sebuah penelitian di Norwegia, pergi mengunjungi museum memiliki pola hubungan yang sama dengan menonton acara kebudayaan seperti pameran lukisan dan festival tari tradisional. Hobi menonton acara kebudayaan juga menunjukkan seseorang lebih bahagia.

Hubungan antara perilaku tersebut dengan kebahagiaan hidup dan kesehatan jiwa secara umum teramati baik pada pria maupun wanita. Namun pada pria pengaruhnya relatif lebih besar yakni 9 persen, dibandingkan pada wanita yang hanya sekitar 3 persen.

Hasil penelitian ini sudah disesuaikan dengan berbagai faktor yang bisa mempengaruhi aspek psikologis, termasuk kebiasaan merokok, konsumsi alkohol serta faktor sosial dan ekonomi. Bahkan dalam penelitian ini, kebiasaan olahraga terbukti mempengaruhi kebahagiaan.

Penelitian yang dipimpin oleh Koenraad Cuypers dari Norwegian University of Science and Technology ini melibatkan 50.000 partisipan yang diamati terus menerus selama 3 tahun. Aktivitas kebudayaan yang diamati antara lain pergi ke museum, pameran seni, konser musik dan film.

Selain lebih bahagia, partisipan yang gemar menonton aktivitas kebudayaan juga menunjukkan kecenderungan lain. Di antaranya 14 persen lebih puas dengan hidupnya, 13 persen lebih jarang merasa gelisah dan 12 persen lebih jarang mengalami depresi.

Dalam laporannya yang dimuat dalam Journal of Epidemiology & Community Health, Cuypers mengatakan bahwa aktivitas tersebut diyakini mempengaruhi fungsi otak, pikiran dan sistem kekebalan tubuh. Kebiasaan ini juga sangat mempengaruhi kesehatan dengan mengurangi level stres.







10 Kejadian yang Paling Bikin Orang Stress


Stres pasti pernah dialami oleh kebanyakan orang, siapa pun dia dan apapun statusnya. Tapi 10 kejadian dalam hidup ini diyakini merupakan penyebab
paling sering yang membuat orang stres. Apa saja?

Psikiater Thomas Holmes dan Richard Rahe pernah melakukan survei dengan mempelajari catatan medis lebih dari 5.000 pasien untuk melihat apakah hubungan antara kejadian dalam hidup, stres dan penyakit yang dialami.

Hasil survei tersebut disebut Holmes-Rahe Life Stress Inventory atau The Social Readjustment Rating Scale. Menurut hasil survei tersebut, ada 10 kejadian dalam hidup yang paling sering membuat orang stress :
1. Kematian pasangan
2. Perceraian
3. Pisah ranjang atau marriage separation
4. Kurungan penjara
5. Kematian anggota keluarga atau teman terdekat
6. Cedera atau penyakit
7. Pernikahan
8. Kehilangan pekerjaan atau dipecat
9. Pertengkaran dengan pasangan atau keluarga
10. Pensiun atau perubahan status keuangan

Stres yang timbul bisa mempengaruhi hampir seluruh tubuh mulai dari fisik, psikologis hingga pola pemikiran seseorang. Jika hal ini terus menerus terjadi maka bisa menimbulkan dampak yang lebih serius lagi.

Ada beberapa gejala yang sering terjadi ketika orang sedang dilanda stres, seperti dilansir Mayoclinic:

1. Efek pada tubuh
Sakit kepala, otot, dada, cepat lelah, perubahan gairah seks, sakit perut, maag, serta gangguan tidur.

2. Efek pada suasana hati
Gelisah, kurang motivasi, tidak fokus, lekas marah, sedih dan depresi.

3. Efek pada perilaku
Makan terlalu banyak atau bahkan tak mau makan, sering marah-marah, penyalahgunaan obat atau alkohol, penggunaan tembakau atau merokok dan penarikan sosial.

Lantas bagaimana mengatasi?

Berikut beberapa hal yang bisa meredakan stres, seperti dilansir helpguide:
1. Berpikir positif dan tenang
2. Istirahat yang cukup
3. Makan makanan sehat dapat mengurangi ketidakseimbangan bahan kimia di otak
4. Olahraga seperti latihan kardio, aerobik, yoga atau meditasi bisa mengurangi stres.
5. Tertawa. Pelepasan endorfin meningkat saat seseorang sedang tertawa. Hormon ini bertanggung jawab untuk menghadirkan perasaan nyaman, sehingga ampuh untuk meredakan stres.
6. Menghubungi teman dekat untuk berbagi dan bercerita.
7. Mendengarkan musik
8. Bermain dengan hewan peliharaan
9. Berendam dan mandi air hangat
10. Menonton film komedi
11. Berlibur








Tips Agar Anak Mematuhi Perintah Orang Tuanya


Hal-hal yang perlu diterapkan dalam usaha mendisiplinkan anak :
• Mulailah dari hal-hal yang kecil dulu, kemudian secara bertahap ke tingkat selanjutnya.
• Awal dari disiplin adalah komunikasi yang baik dan sederhana.
• Konsisten pada aturan disiplin yang telah dibuat.
• Konsisten antara ayah-ibu supaya tidak menimbulkan kebingungan pada anak. Buatlah kesepakatan tentang peraturan yang harus dijalankan di rumah.
• Terapkan pemberian reward dan punishment (hukuman).
• Pemberian perintah dan aturan yang disertai dengan penjelasan mengapa harus begini, mengapa harus begitu.
• Mendampingi anak mengerjakan apa yang diperintahkan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, misalnya pada saat anak disuruh membereskan mainannya.
• Teknik disiplin yang digunakan, sebaiknya memakai dialog yang penuh kasih sayang dan kehangatan.
• Bahasa yang digunakan sebaiknya yang sederhana saja, apalagi si anak masih tergolong balita. Gunakan juga bahasa anak ( berdasarkan pada pola pikir animisme anak ) . Dengan demikian si anak akan lebih bisa menerimanya.
• Aturan disiplin dibuat sedemikian rupa sehingga bahaya dari luar / sisi negatifnya bisa diminimalkan.
• Perhatikan usia anak. Aturan disiplin akan berbeda-beda pada tiap tingkatan tahap perkembangan. Bila masih kecil (baru 1-2 tahun), kesabaran sangatlah mutlak karena mereka cenderung egosentris. Jadi, maklumlah.
• Hormati perasaan anak dan hargai juga waktunya.
• Berikan pilihan / alternatif.
• Kerahasiaan aturan disiplin supaya tidak menjatuhkan harga diri si anak.
• Peringatkan lebih awal tentang apa-apa yang harus dilakukannya supaya ia bisa bersiap-siap untuk aturan tersebut.
• Berikan perintah dengan tegas dan lebih spesifik.
• Tekankan pada hal-hal positif.
• Ketidaksetujuan baiknya ditujukan pada perilaku si anak, bukan si anak itu sendiri.
• Berikan contoh / teladan yang baik karena anak-anak bisa meniru perilaku orang tuanya. Dengan demikian, oang tua bukan hanya sebagai penegak aturan tetapi juga pelaksana aturan.
• Sertakan rasa humor.

Hal-hal yang harus dihindari dalam usaha mendisiplinkan anak :
• Terlalu sering memberi ancaman (lebih-lebih pada anak yang pandai) karena ia malah akan balik menantang.
• Mendisiplinkan anak dalam keadaan emosi.
• Aturan disiplin yang memaksa, otoriter, keras dan sangat ketat.
• Selalu mengatakan, “Aku ingin …” ( bagi orang tua ).
• Orang tua itu sendiri tidak disiplin, sehingga si anak pun menirunya.

Aturan-aturan yang penting saat memberikan reward kepada anak :
• Hadiah diberikan dengan tujuan tertentu, sebagai dorongan pada anak untuk tetap mempertahankan tingkah laku atau prestasinya yang baik.
• Bila tujuannya ingin mengubah tingkah laku anak sebaiknya jangan memberikan hadiah barang, kecuali untuk pertama kali dalam jangka waktu yang panjang, misalnya saat anak masuk sekolah, belikan tas atau buku.
• Bila anak sudah terlanjur menyukai hadiah barang, ubahlah dengan sikap yang sabar, ulet, dan konsisten. Perubahan ke hadiah non-barang pun harus dilakukan secara bertahap dan jangan memaksa.
• Kekompakan antara ayah dan ibu dalam memberikan reward.
• Bila akan memberikan hadiah non-barang, lakukan dengan sungguh-sungguh, dalam arti ungkapan kasih sayang, seperti pelukan atau ciuman diberi dengan tulus.
• Konsisten dalam memberi hadiah non-barang.
• Hadiah non-barang harus proporsional, efisien, dan tepat waktu.
• Adakan evaluasi seusai hadiah diberikan, apakah ada penguatan perilaku pada anak.
• Reward jangan diberikan secara berlebih-lebihan.
• Reward baiknya berujung pada reinforcement positif.

Aturan-aturan yang penting saat memberikan hukuman kepada anak :
• Jangan berikan pada anak yang masih tergolong balita karena mereka belum mengerti alasan mengapa mereka dihukum, akibatnya mereka bisa menjadi frustasi.
• Hukuman harus bersifat mendidik.
• Informasikan terlebih dahulu akan adanya sanksi tertentu dari perilakunya yang tidak menyenangkan orang tuanya.
• Adakan evaluasi seusai hukuman diberikan, apakah ada perubahan kesadaran dalam diri si anak.
• Jangan lakukan hukuman di bawah pengaruh emosi yang tak terkontrol.
• Hindarkan hukuman fisik.
• Berikan hukuman dengan tegas. Bila anak merengek jangan langsung lemah hati dan nyerah.
• Perhatikan korelasi antara hukuman dengan perilaku.
• Hukuman badan hanyalah dipandang sebagai jalan terakhir.

Beberapa fakta mengapa hadiah barang bisa menjadi tidak efektif :
• Anak menjadi materialistis.
• Anak menjadi konsumtif.
• Orang tua bisa tekor.
• Anak bersikap baik bukan karena kesadaran diri, tetapi karena keinginan untuk mendapatkan barang tersebut.


Beberapa fakta mengapa hukuman badan bisa menjadi tidak efektif :
• Anak menjadi frustasi.
• Anak bisa menjadi resisten (kebal) terhadap hukuman tersebut.
• Anak cenderung membiarkan dirinya dihukum dari pada melakukan perbuatan yang diharapkan kepadanya.
• Anak cenderung melampiaskan kekesalannya pada hukuman tersebut dengan memukul anak lain.
• Menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, di mana rasa marah, sakit hati dan jengkel akan dipendam selamanya oleh si anak.
• Akan terbentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helplesness)
• Anak tidak akan belajar apapun dari hukuman badan.

Baik reward maupun hukuman, janganlah asal-asal diberikan, melainkan harus mampu membangun / mengukuhkan konsep diri di individu. Waktu diberikannya reward atau hukuman pun harus langsung pada saat perilaku yang diinginkan / tidak diinginkan itu terjadi. Jangan menundanya terlalu lama.








Stres dan Penanggulangannya


Hidup manusia ditandai oleh usaha-usaha pemenuhan kebutuhan, baik fisik, mental-emosional, material maupun spiritual. Bila kebutuhan dapat dipenuhi dengan baik, berarti tercapai keseimbangan dan kepuasan. Tetapi pada kenyataannya sering kali usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut mendapat banyak rintangan dan hambatan.

Tekanan-tekanan dan kesulitan-kesulitan hidup ini sering membawa manusia berada dalam keadaan stress. Stress dapat dialami oleh segala lapisan umur.

Stress dapat bersifat fisik, biologis dan psikologis. Kuman-kuman penyakit yang menyerang tubuh manusia menimbulkan stress biologis yang menimbulkan berbagai reaksi pertahanan tubuh. Sedangkan stress psikologis dapat bersumber dari beberapa hal yang dapat menimbulkan gangguan rasa sejahtera dan keseimbangan hidup.

SUMBER STRESS

Sumber stress dapat digolongkan dalam bentuk-bentuk:

1. Krisis
Krisis adalah perubahan/peristiwa yang timbul mendadak dan menggoncangkan keseimbangan seseorang diluar jangkauan daya penyesuaian sehari-hari. Misalnya: krisis di bidang usaha, hubungan keluarga dan sebagainya.

2. Frutrasi
Frustrasi adaah kegagalan dalam usaha pemuasan kebutuhan-kebutuhan/dorongan naluri, sehingga timbul kekecewaan. Frutrasi timbul bila niat atau usaha seseorang terhalang oleh rintangan-rintangan (dari luar: kelaparan, kemarau, kematian, dan sebagainya dan dari dalam: lelah, cacat mental, rasa rendah diri dan sebagainya) yang menghambat kemajuan suatu cita-cita yang hendak dicapainya.

3. Konflik
Konflik adalah pertentangan antara 2 keinginan/dorongan yaitu antara kekuatan dorongan naluri dan kekuatan yang mengenalikan dorongan-dorongan naluri tersebut.

4. Tekanan
Stress dapat ditimbulkan tekanan yang berhubungan dengan tanggung jawab yang besar yang harus ditanggungnya. (Dari dalam diri sendiri: cita-cita, kepala keluarga, dan sebagainya dan dari luar: istri yang terlalu menuntut, orangtua yang menginginkan anaknya berprestasi).

AKIBAT STRESS

Akibat stress tergantung dari reaksi seseorang terhadap stress. Umumnya stress yang berlarut-larut menimbulkan perasaan cemas, takut, tertekan, kehilangan rasa aman, harga diri terancam, gelisah, keluar keringat dingin, jantung sering berdebar-debar, pusing, sulit atau suka makan dan sulit tidur). Kecemasan yang berat dan berlangsung lama akan menurunkan kemampuan dan efisiensi seseorang dalam menjalankan fungsi-fungsi hidupnya dan pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai macam gangguan jiwa.

REAKSI TERHADAP STRESS

Reaksi seseorang terhadap stress berbeda-beda tergantung dari:
1. Tingkat kedewasaan kepribadian
2. Pendidikan dan pengalaman hidup seseorang

Reaksi psikologis yang mungkin timbul dalam menghadapi stress:
1. menghadapi langsung dengan segala resikonya.
2. menarik diri dan tak tahu menahu tentang persoalan yang dihadapinya/lari dari kenyataan.
3. menggunakan mekanisme pertahanan diri.

PENANGGULANGAN STRESS
• Mengenal dan menyadari sumber-sumber stress.
• Membina kedewasaan kepribadian melalui pendidikan dan pengalaman hidup.
• Mengembangan hidup sehat. Antara lain dengan cara: merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, tidak tergesa-gesa ingin mencapai keinginannya, menyadari perbedaan antara keinginan dan kebutuhan, dan sebagain
• ya.
• Mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk segala sesuatu yang terjadi dengan tetap beriman kepadaNYa.
• Minta bimbingan kepada sahabat dekat, orang-orang yang lebih dewasa, psikolog, orang yang dewasa rohaninya, dan sebagainya).
• Hindarkan sikap-sikap negatif antara lain: memberontak terhadap keadaan, sikap apatis, marah-marah. Hal-hal tersebut tidak menyelesaikan masalah tetapi justru membuka masalah baru.

Selamat mencoba






Emosi Juga Perlu Didetoks

Pengalaman dalam hidup datang silih berganti. Ada yang menyenangkan, banyak pula yang menyedihkan karena berupa musibah. Bila tidak ditangani secara tepat, pengalaman buruk akan tersimpan di dalam bawah sadar dan hidup akan terus dihantui trauma.

Sedih, marah, dendam, kehilangan, dan dikhianati adalah contoh emosi-emosi negatif. Bila emosi ini terus ditekan atau disembunyikan, justru akan menimbulkan banyak masalah, salah satunya penyakit. “Jika ada yang mengganggu perasaan, itu juga akan mengganggu kondisi fisik,” bahkan 95 persen penyakit disebabkan stres.

Kini ada beragam cara untuk mengatasi trauma, salah satunya dengan detoksifikasi emosi. Detoksifikasi emosi adalah metode pembuangan stres dari tubuh.

“Emosi negatif yang terus-menerus ditekan akan disimpan dalam memori bawah sadar kita dan menyumbat aliran energi di tubuh. Karena itu harus dibersihkan,”

Metode pembuangan “racun” mental dan emosional itu disebut dengan metode energy activator therapy (EAT). “Pembuangannya bisa melalui prinsip hipnosis, akupunktur, energi penyembuhan bumi, afirmasi, palmistry, juga eye movement desensitisation response,”

Terapi EAT pada dasarnya akan memengaruhi sistem meridian tubuh yang dikenal dalam ilmu akupunktur. Dengan terapi ini, sistem aura dan cakra tubuh juga akan diperbaiki. Aura orang yang menyimpan masalah biasanya tidak seimbang.

Metode EAT yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan klien. Lama sebentarnya sesi terapi juga bergantung pada berat ringannya masalah yang dihadapi.







Benarkah Stres Bikin Sulit Hamil?



Anda mendambakan kehadiran seorang anak, namun segala upaya Anda belum membuahkan hasil. Tak jarang perempuan menjadi stres memikirkan hal ini, yang menurut keyakinan sebagian orang justru makin menyulitkan kemungkinan hamil.

Benar enggak sih, memusingkan soal kehamilan bisa membuat Anda makin sulit hamil?

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Resolve, asosiasi infertilitas nasional di Amerika, 64 persen wanita salah mengartikan stres (yang bukan suatu kondisi medis) sebagai penyebab sulitnya terjadi pembuahan. Dalam kenyataannya, banyak dokter yang juga meyakini bahwa ada hubungan antara stres dan kesuburan, namun tidak ada studi ilmiah yang membuktikan bahwa kepikiran atau stres karena belum juga dikaruniai momongan dapat mengurangi peluang Anda hamil.

“Yang jelas, banyak perempuan di seluruh dunia yang juga berada di bawah tekanan hebat, tapi mereka masih bisa hamil, kok,” ujar Shari Lusskin, MD, direktur bidang psikiatri reproduksi di New York University Langone Medical Center. “Tetapi kenapa wanita karier lain tidak bisa hamil? Kami tidak tahu apakah stres memang penyebabnya.”

Jika memang tidak ada hubungan antara stres dan kesulitan hamil, mengapa fakta tersebut sering kali muncul? Bagaimana dengan wanita yang sulit hamil, dan penyebabnya karena situasi kerja wanita tersebut yang memang full of stress? Tidakkah hal ini saling berkaitan?

“Terlalu banyak stres emosional maupun fisik misalnya terus mengkhawatirkan sesuatu atau berlatih keras untuk pertandingan dapat menurunkan kadar progesteron Anda. Hal inilah yang dapat mengganggu ovulasi,”sulit mengambil kesimpulan yang sederhana dari keterkaitan itu. jelas Sami David,

Nasihat terbaik yang diberikan untuk Anda yang sedang menanti kehadiran anak, atau berharap bulan depan Anda mulai terlambat mens, tetaplah untuk rileks. Jangan biarkan kekhawatiran Anda karena usia yang tak lagi muda menenggelamkan hal-hal lain dalam hidup Anda yang lebih indah. Cobalah untuk lebih santai, namun lakukan hal ini terutama untuk kedamaian pikiran Anda.








12 Makanan yang Paling Terkontaminasi


Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) pernah mengumumkan jenis-jenis makanan yang terkontaminasi berdasarkan hasil riset pada 2006. Pada bahan makanan ini ditemukan kadar pestisida dan bahan kimia yang tinggi berdasarkan uji sampel 100.000 jenis makanan.

Inilah 12 jenis makanan yang terkontaminasi tersebut:

1. Daging sapi, daging babi, dan unggas
Badan pelestarian lingkungan Amerika (EPA) melaporkan daging terkontaminasi oleh pestisida dalam kadar tinggi dibanding produk nabati. Pestisida dan bahan kimia tersebut bersifat larut di lemak dan berakumulasi di jaringan lemak hewan ternak. Makanan ternak yang mengandung komponen produk hewan yang terakumulasi akan dengan mudah masuk ke tubuh manusia yang mengonsumsi daging hewan ternak tersebut.

Selain itu, antibiotik, obat-obatan, dan hormon yang sering dipakai dalam peternakan hewan juga bisa terakumulasi dalam daging yang sering dikonsumsi manusia. Sementara itu, produk ikan air tawar juga dilaporkan terpapar oleh pestisida dari air yang terkontaminasi.

2. Susu, keju, dan mentega
Seperti halnya pada produk daging, produk-produk susu dan turunannya, seperti keju dan mentega, juga mengandung akumulasi pestisida.

3. Stroberi dan rasberi
Stroberi, rasberi, dan chery merupakan produk buah yang paling tinggi paparannya pada pestisida di Amerika. Secara umum, 300 pons pestisida disebarkan pada setiap acre (0,4 hektar) ladang stroberi. Para petani stroberi pada umumnya menggunakan 36 jenis pestisida berbeda dan 90 persen contoh stroberi yang dites menunjukkan kontaminasi pestisida di atas level aman.

4. Apel dan pir
Dalam pengujian yang dilakukan FDA terdeteksi 36 bahan kimia, setengahnya bersifat neurotoksin (bisa menyebabkan kerusakan otak). Sementara itu, buah pir juga memiliki kadar pestisida mendekati apel.

5. Tomat
Para petani di Amerika pada umumnya menggunakan lebih dari 30 jenis pestisida yang disemprotkan pada tanaman tomat. Kabar buruknya, kulit tomat yang tipis tidak bisa mencegah masuknya bahan-bahan kimia tersebut.

6. Kentang
Kentang merupakan jenis sayuran yang cukup populer, namun 79 persen jenis kentang yang diuji juga menunjukkan tingginya kadar pestisida di atas normal.

7. Bayam dan sayuran lain
FDA menemukan bayam sebagai jenis sayuran yang paling terkontaminasi pestisida dalam kadar berbahaya. Dalam masa tanamnya, para petani menggunakan 36 jenis bahan kimia untuk membuat bayam terhindar dari serangan hama.

8. Kopi
Kebanyakan kopi dihasilkan di negara-negara yang tidak punya standar ketat dalam penggunaan pestisida pada bahan makanan. Di samping itu, Amerika Serikat juga mengekspor jutaan ton pestisida, yang sebagian di antaranya berbahaya dan ilegal dipakai di pertanian Amerika ke negara-negara penghasil kopi.

9. Buah peach
Buah yang berair dan rasanya lezat ini juga tak luput dari akumulasi pestisida. Seperti halnya buah tomat, kulit buah peach yang tipis juga tak bisa menahan masuknya pestisida ke dalam buah.

10. Anggur
Karena buah anggur bersifat lembut, para petani menyemprotkan berbagai jenis pestisida yang berbeda pada tiap tahap pertumbuhan anggur. Pada pertanian anggur konvensional digunakan 35 jenis pestisida berbeda.

11. Seledri
Seledri yang ditanam secara konvensional mengandung kadar pestisida yang cukup tinggi. Lebih dari 90 persen jenis seledri yang diuji menunjukkan kadar pestisida yang cukup tinggi. Karena tidak memiliki kulit buah, pestisida yang menempel di seledri tak bisa dihilangkan hanya dengan mencucinya.

12. Lada
Tanaman lada termasuk jenis tanaman yang sering disemprot pestisida dengan standar 39 jenis pestisida. Lebih dari 60 persen lada yang diuji menunjukkan kadar kontaminasi pestisida.







Rahasia Mengembangkan Kepribadian


Banyak orang prihatin mengenai perkembangan orang muda saat ini. Mereka lebih lambat dewasa. Bandingkan dengan masa-masa menjelang dan setelah Indonesia merdeka, orang-orang muda yang mengambil tanggung jawab mendirikan bangsa dan negara ini.

Bung Karno dan Bung Tomo merupakan contoh bagaimana orang muda pada waktu itu telah mampu keluar dari perhatian terhadap diri sendiri. Mereka memberikan perhatian kepada hal yang besar, berupa kehidupan yang lebih luas tanpa tanggung-tanggung bangsa dan negara Indonesia yang sangat besar!

Kondisi pada waktu itu memang menciptakan peluang tersebut. Orang muda mendapat tantangan bertindak. Di dalam keluarga pun terdapat tradisi pendidikan yang sangat menekankan tanggung jawab sedini mungkin, dengan menerapkan sistem ganjaran dan hukuman (reward dan punishment) yang konsisten.

Hampir tiap keluarga menerapkan pembagian tugas kepada semua anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga maupun tugas lain membantu orangtua.

Pentingnya Tanggung Jawab dan Disiplin Dengan praktik-praktik orangtua pada masa lalu tersebut, entah disadari atau tidak, sebenarnya orangtua telah melatih anak untuk memiliki perhatian serta tanggung jawab terhadap kehidupan bersama, dan mengembangkan disiplin.

Selain melalui tugas rumah tangga, anak-anak juga mengalami pendisiplinan melalui aturan-aturan jam tidur siang, jam belajar bersama, jam bermain, dan sebagainya. Tampak bahwa pemberian tanggung jawab dan pendisiplinan sejak dini berperan sangat penting dalam mendorong pendewasaan seorang anak.

Keadaan saat ini sungguh berbeda. Anak sering tetap diperlakukan sebagai bocah hingga mereka remaja, tanpa menerima kewajiban yang memungkinkan mereka memberikan perhatian terhadap lingkungan. Kewajiban yang diberikan sebatas belajar dan menghasilkan nilai rapot yang memuaskan bagi orangtua.

Akibatnya, banyak anak tetap bergantung pada orangtua hingga lulus sarjana. Padahal, tanpa pengalaman tanggung jawab dan disiplin, kemampuan mengatasi masalah kurang berkembang. Mereka juga kurang memiliki daya juang. Terutama bila tidak punya prestasi atau keterampilan tertentu, mereka cenderung mengalami krisis harga diri.
Alih-alih memikirkan tanggung jawab akan dunia sekelilingnya, mereka justru sibuk mengatasi dirinya sendiri yang tidak bahagia. Sebagian bahkan menggunakan cara-cara tidak sehat untuk mengatasinya (seperti menggunakan obat terlarang) di samping memboroskan waktu untuk mencari pemuasan diri sesaat.

Manfaat Berorganisasi Mengapa terjadi perubahan pola pendidikan orangtua dalam kultur kita? Perubahan tersebut nampaknya tidak lepas dari perkembangan masyarakat yang semakin komplek, sehingga menggeser orientasi-orientasi dalam hidup.

Perubahan kurikulum pendidikan formal yang cenderung membebani anak dan orangtua, ikut mendorong orangtua untuk membebaskan anak dari tugas-tugas lain selain sekolah atau mencapai prestasi lain. Membiasakan anak selalu dilayani oleh pembantu rumah tangga merupakan faktor yang lain.

Lalu, langkah apa yang dapat ditempuh untuk mengembangkan kepribadian anak-anak muda kita? Menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dan disiplin merupakan keharusan. Mendorong aktif dalam organisasi yang memiliki program terstruktur seperti OSIS, sanggar seni, lembaga pengabdian, merupakan langkah lain.

Sebuah penelitian mengenai manfaat organisasi pemuda di Amerika memberikan gambaran yang menarik mengenai apa saja perkembangan yang dialami oleh para anggota organisasi yang diteliti.
Larson dkk (2004), melakukan observasi dan wawancara terhadap para anggota dan pimpinan tiga organisasi yang berbeda basis kegiatan (pendidikan, seni, dan kemasyarakatan), masing-masing 3-4 bulan. Melalui hasil penelitian ini kita dapat melihat manfaatnya bagi perkembangan kepribadian anggotanya.

1. Mengembangkan inisiatif Temuan Larson dkk pada tiga program yang diteliti, sesuai dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa keterampilan inisiatif para anggota tumbuh melalui tantangan yang mereka hadapai dalam mencapai suatu tujuan. Pada mulanya para anggota ”sekadar melakukan”, tetapi setelah beberapa minggu kemudian mereka mulai tampak mengembangkan strategi untuk menghadapi suatu tantangan (tugas), dan lebih memobilisasi waktu dan usaha. Beberapa hal yang dipelajari sebagai hal yang menghasilkan kesuksesan program adalah: (a) memulai secara lebih awal; (b) mengelola waktu; (c) bekerja keras.

Beberapa anggota tampak menunjukkan peningkatan dalam strategi berpikir. Mereka menemukan pencerahan (insight) dalam hal memecahkan masalah, mengorganisasi langkah-langkah pekerjaan, dsb, agar penyelesaian tugas dapat lebih efektif. Sebagian anggota malah dapat mentransfer peningkatan kemampuan inisiatifnya ke dalam sisi lain kehidupannya, yaitu dalam perencanaan karier.

2. Transformasi dalam motivasi Dengan adanya perkembangan keterampilan inisiatif, motivasi para anggota juga berubah. Larson dkk menemukan, dalam tiga organisasi yang diteliti banyak anggota yang awalnya bergabung dengan alasan ekstrinsik: untuk memuaskan orangtua, mengisi waktu luang bersama teman sebaya, menjadi prasyarat lulus sekolah, atau karena ada honor. Namun, sebagian besar kemudian menunjukkan perubahan.

Motivasi mereka menjadi lebih intrinsik (adanya minat pribadi terhadap program), dengan alasan dapat terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang baru, segar, dan menarik secara pribadi.

3. Memperoleh modal sosial Perkembangan remaja, selain berupa perkembangan karakter dan penguasaan keterampilan baru, juga perkembangan dalam pembentukan relasi pribadi, termasuk relasi dengan orang dewasa. Untuk itu, orang muda butuh relasi dengan orang dewasa yang dapat memberi modal sosial, yakni yang memberi informasi dan sumber daya yang menghubungkan mereka dengan dunia orang dewasa.

Modal sosial selain baik untuk individu juga baik untuk komunitas karena adanya pertukaran pengetahuan, sumber daya, dan kepercayaan, sehingga membentuk keadaan masyarakat yang sehat. Keterlibatan dalam program-program kepemudaan merupakan kesempatan untuk membangun modal sosial dan berkembang menjadi orang-orang dewasa yang berkeahlian tinggi.

Dari penelitian Larson dkk ditemukan bahwa para anggota dari tiga organisasi yang diteliti memanfaatkan relasinya dengan orang-orang dewasa dalam komunitas yang ada untuk keperluan pendidikan dan perencanaan karier mereka.

Banyak anggota mengaku telah belajar dari para orang dewasa mengenai pilihan pendidikan dan karier di masa mendatang. Dalam relasinya dengan orang-orang dewasa sepanjang kegiatan yang dilaksanakan, mereka dapat menemukan secara nyata bagaimana orang dewasa mengelola tantangan hidup, dan mereka ikut mengembangkan keahlian untuk menghadapi tantangan.

4. Menjembatani perbedaan Bentuk lain modal sosial/interpersonal diperoleh melalui teman-teman sebaya, yakni dengan mengembangkan hubungan dan pemahaman terhadap berbagai aspek perbedaan manusia (etnis, agama, gender, status sosial-ekonomi, tujuan, dsb). Hasil penelitian Larson dkk menunjukkan melalui program-program pada tiga organisasi yang diteliti, para anggota mengalami perkembangan kompetensi untuk memahami dan menghargai keanekaragaman manusia.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa para anggota belajar menjembatani perbedaan melalui proses tiga tahap:
a. Pertama, mengalami interaksi dengan orang-orang muda lain yang berbeda dengan dirinya dalam berbagai hal. Melalui interaksi ini mereka mengalami hubungan yang bermakna dengan teman berbeda etnis dan sebagainya serta membangun rasa saling percaya.

b. Kedua, melalui interaksi tersebut mereka belajar tentang orang lain dan mulai melihat orang lain secara lebih utuh. Dengan bersama-sama mengerjakan apa yang menjadi program dalam kelompok-kelompok kecil, mereka menjadi saling bergantung dan akrab satu sama lain.

c. Ketiga, mereka mengalami perubahan dalam berpikir yang memengaruhi bagaimana interaksinya dengan anggota kelompok-kelompok lain. Berdasarkan pengalaman berinteraksi secara akrab dengan orang lain di dalam kelompok, selanjutnya dalam interaksi dengan kelompok lain mereka telah mampu untuk menghargai perbedaan-perbedaan, sehingga dalam interaksi tidak terjadi pembedaan antar kelompok.

Namun, dalam kenyataan pencapaian tahap ketiga ini tidak berlangsung mudah. Bila sungguh-sungguh dihadapkan dengan perbedaan antar kelompok, kadang terjadi pertahanan diri, penolakan, atau pengabaian masalah yang dihadapi. Dalam situasi seperti ini orang dewasa yang menjadi pendamping program bekerja keras menciptakan kondisi positif bagi interaksi antar kelompok. Antara lain dengan memberikan status yang sama, membangun kerja sama, kontak individu antar kelompok, dan adanya dukungan dari orang-orang dewasa (pendamping) dalam berbagi seting kegiatan.

5. Menemukan tanggung jawab baru Tanggung jawab merupakan kualitas yang diharapkan dimiliki orang yang berkembang menuju kedewasaan. Hasil penelitian Larson dkk menunjukkan, banyak anggota mengakui adanya proses menjadi lebih bertanggung jawab dalam perasaan maupun dalam bertindak, sepanjang keikutsertaannya dalam program.






Beda Depresi dan Gila

Sepintas perilaku orang depresi sama seperti orang gila sama-sama menarik diri dari lingkungannya. Jangan salah, depresi dan gila jauh berbeda. Depresi bisa sembuh meski kadang bisa kambuh, sedangkan kegilaan masih sulit diobati.

Merasa murung dari waktu ke waktu adalah bagian normal dari kehidupan. Namun ketika kehampaan dan keputusasaan mengambil alih dan tak mau menghilang, ini mungkin saja menjadi depresi.

Ketika seseorang menarik diri dari lingkungan sekitarnya, sering dikatakan hal itu merupakan ciri-ciri yang menandakan bahwa seseorang ‘gila’.

Apa beda depresi dan gila?

Banyak awam mengira depresi sama dengan gila. Gila, yang memiliki bahasa kedokteran skizofrenia ini tidaklah sama dengan depresi.

Depresi

Seperti yang dilansir dari The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV), Rabu (30/6/2010), seseorang yang menderita gangguan depresi memiliki keadaan jiwa yang tertekan atau kehilangan minat atau kesenangan dalam kegiatan sehari-hari secara konsisten setidaknya selama 2 minggu.

Gejala-gejala yang menandakan depresi:

1. Keadaan jiwa tertekan hampir sepanjang waktu dan hampir setiap hari, contoh merasa sedih atau hampa. Pada anak-anak dan remaja bisa saja menjadi suasana hati yang mudah marah.
2. Berkurangnya ketertarikan atau kesenangan secara nyata pada semua hal hampir setiap hari.
3. Menurunnya berat badan walau tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan.
4. Insomnia atau hiperinsomnia hampir setiap hari
5. Bergejolak atau terhambatnya psikomotorik hampir setiap hari.
6. Kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari.
7. Perasaan tidak berharga, berlebihan, atau perasaan bersalah yang tidak tepat hampir setiap hari.
8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau timbul ketidakyakinan hampir setiap hari.
9. Terus-menerus berpikir tentang kematian atau bunuh diri tanpa rencana yang terperinci,
10. Percobaan bunuh diri atau rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri.

Seseorang dikatakan depresi apabila mengalami 5 atau lebih dari tanda-tanda tersebut dan telah terjadi selama 2 minggu yang sama dengan gejala utama pada nomor 1 dan 2.

Penyebab depresi antara lain stres berat, mengalami shock berat, tekanan ekonomi dan sosial, faktor keluarga, teman atau lingkungan yang tidak sehat. Alkohol dan penggunaan obat-obatan juga bisa memicu depresi.

Penanganan depresi dapat dilakukan dalam berbagai cara, bisa berupa konseling, psikoterapi atau menggunakan obat-obat antidepresan. Perubahan gaya hidup, seperti lebih sering melakukan olahraga juga dapat membantu atasi depresi ini.

Jika mengalami depresi ringan atau sedang, dokter keluarga atau psikolog bisa membantu Anda. Jika mengalami depresi berat atau apabila perawatan yang dilakukan tidak berhasil, bisa menemui seorang psikiater. Beberapa orang perlu dirawat di rumah sakit, khususnya jika mereka memiliki rencana bunuh diri.

Depresi bisa saja kambuh. Mengonsumsi obat-obatan dan melanjutkan beberapa jenis terapi setelah merasa lebih baik, bisa membantu menghindari terjadinya hal tersebut.

Gila

Seseorang dikatakan gila atau mengalami skizofrenia apabila memiliki 3 kriteria pemeriksaan sebagai berikut:

1. Characteristic symptoms
Dua atau lebih dari kriteria berikut masing-masing muncul selama kurun waktu 1 bulan yakni:
- Delusi
- Halusinasi
- Pembicaraan yang tak terorganisir, yang menandakan gangguan pemikiran umum.
- Perilaku yang secara nyata terlihat tak terorganisir. (seperti tak sesuai dalam berpakaian, sering menangis) atau perilaku katatonik.

2. Gejala-gejala negatif: Blunted effect (kurang atau menurunnya reaksi emosi), alogia ( kurang atau menurunnya percakapan), atau avolition (kurang atau menurunnya motivasi).

3. Social/occupational dysfunction
Untuk porsi waktu yang signifikan dari kemunculan gangguan, satu fungsi bagian atau lebih seperti bekerja, relasi interpersonal, merawat diri secara nyata terlihat ada dibawah standar sejak kemunculan awalnya.

4. Duration
Berlanjutnya tanda-tanda kelainan secara terus-menerus sedikitnya selama 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus mencakup setidaknya 1 bulan munculnya gejala-gejala (atau kurang dari itu, jika gejala yang muncul ditutup oleh perawatan).

Penyebab Skizofrenia
Skizofrenia ini merupakan penyakit mental yang kompleks, dan tak ada satu penyebab utama yang ditemukan. Berikut adalah beberapa teori mengenai penyebabnya:

1. Keturunan
2. Bahan kimia dalam otak.
3. Pengidap skizofrenia sangat sensitif pada zat kimia dalam otak atau terlalu banyak memproduksi zat dopamin yang menimbulkan kesenangan sehingga sering terlihat seperti tertawa sendiri.
4. Gangguan dalam otak
Semakin berkembangnya teknologi, peneliti menemukan struktur otak dan fungsinya pada penderita skizofrenia memiliki kelainan yang tipis dalam struktur otak. Kelainan ini termasuk adanya sedikit pelebaran ventrikel di otak, dan adanya beberapa bagian di otak yang berukuran lebih kecil.
5. Komplikasi selama masa kehamilan dan kelahiran
Beberapa peneliti percaya bahwa infeksi atau malnutrisi selama kehamilan, atau karena komplikasi selama kelahiran, bisa meningkatkan resiko skizofrenia pada anak tersebut ketika ia beranjak dewasa.

Penanganan Skizofrenia

Karena proses dan gejala skizofrenia itu berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, penanganannya pun harus ditentukan berdasarkan keputusan individual.

Skizofrenia tidak dapat diobati, tetapi dapat dikendalikan secara efektif pada banyak orang.
Berikut adalah perawatan yang dapat dilakukan:
1. Pengobatan antipsikotik
2. Pengobatan Atypical
3. Pengobatan lainnya (seperti penggunaan antidepressan, obat anti kecemasan, lithium, dan sebagainya)
4. Electroconvulsive (shock) theraphy
5. Psikoterapi
6. Dukungan keluarga
7. Rehabilitasi







Beberapa Orang Memang Dilahirkan untuk Selalu Berpikir Negatif


Memotivasi seseorang agar lebih optimistis dalam menjalani hidup kadang sangat sulit dilakukan. Bukan karena motivatornya kurang handal, sebab beberapa orang secara genetis memang dilahirkan untuk selalu berpikiran negatif dan pesimistis.

Orang-orang yang selalu memiliki pandangan negatif tentang hidupnya biasanya rentan mengalami depresi dan gangguan kejiwaan lainnya. Orang-orang seperti ini tidak bisa mensyukuri apa yang dimilikinya dan cenderung merasa hidupnya tidak pernah bahagia.

Sebuah penelitian di Univeristy of Michigan mengungkap, individu dengan kepribadian yang pesimistis memiliki perbedaan secara genetis dibandingkan orang kebanyakan. Perbedaan itu terletak pada komponen protein yang dinamakan Neuropeptide Y (NPY).

NPY adalah sejenis protein yang merupakan salah satu komponen penyusun rantai deoxyribonucleid (DNA). Pada orang yang pesimistis, kadar NPY lebih rendah dibandingkan orang kebanyakan.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr Brian Mickey itu dilakukan dengan functional magnetic resonance imaging (fMRI). Pemindaian dengan teknologi ini dilakukan untuk mengamati aktivitas prefrontal cortex, bagian otak yang berfungsi mengatur emosi dan status kejiwaan.

Saat mendengarkan kata-kata yang menggambarkan situasi negatif misalnya ‘pembunuhan’, relawan dengan kadar NPY rendah mengalami peningkatan aktivitas prefrontal cortex. Peningkatan ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan menjadi lebih gelisah dan galau dibandingkan relawan lainnya.

Dalam eksperimen berikutnya, peneliti menyuntikkan larutan garam untuk membangkitkan rasa nyeri dengan intensitas sedang. Dibandingkan partisipan yang normal, partisipan dengan NPY rendah tercatat lebih banyak mengeluhkan perasaan tidak nyaman akibat suntikan tersebut.

“Kami berharap hasil penelitian ini bisa dikembangkan untuk mendeteksi risiko individual terkait gangguan depresi dan kegelisahan,” ungkap Dr Mickey

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Archives of General Psychiatry.







Seks Jadi Pelarian Pria Saat Stres


Bagi pria, seks justru menjadi cara untuk mengatasi stres.

Tekanan emosional dalam diri, baik yang penyebabnya dari pekerjaan, keluarga, keuangan, atau apapun, sangat mampu menurunkan gairah seks atau libido. Bagaimana stres mempengaruhi pria dan wanita, dan seperti apa dampaknya terhadap hubungan seks?

* Gelisah menurunkan mood seks, atau menjadikan seks pelarian
Akan sulit mendapatkan perasaan emosi seksual saat pikiran Anda terfokus pada masalah hutang, atau jika masalah dalam keluarga membebani pikiran Anda. Dr D Ashley Hill, dari Departemen Obstetri dan Ginekologi, Florida Hospital Family Practice Residency, Orlando, mengatakan, respons pria dan wanita terhadap stres berbeda, begitupun dalam kaitannya dengan hubungan seksual. Wanita umumnya tidak mood berhubungan seks dalam kondisi stres. Sedangkan pria menggunakan seks sebagai cara mengurangi stres.

Meskipun demikian, stres berat tetap membuat gairah seks menghilang. Kondisi ini disebut kelainan hasrat seks hypoaktif. Gejalanya, Anda dan pasangan tidak mendapatkan fantasi dan hasrat seks. Jika sudah begini, konseling dan psikoterapi harus menjadi solusinya.

* Libido menurun, gaya hidup memburuk
Pasangan yang mengalami masalah penurunan libido mungkin akan mencari bantuan dari obat-obatan. Perlu dipahami, bahwa libido bukan sekadar persoalan hormonal. Mengutip Psychology Today, stres, kesehatan mental, kesehatan vaskular, dan nutrisi, adalah sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi gairah seks. Stres menurunkan level testosteron.

Mereka yang mengalami penurunan libido mungkin juga akan mengalihkan masalah kepada alkohol, rokok dan makanan. Akhirnya, kondisi justru semakin memburuk dengan gaya hidup tidak sehat. Sebaiknya lakukan olahraga, yoga, atau meditasi untuk mengatasi masalah libido. Istirahat cukup dan diet juga bisa mulai diterapkan agar gaya hidup lebih sehat.

* Intimasi dan hubungan sehat berpasangan mengalahkan stres
Seks memiliki kemampuan untuk menurunkan stres. Agar seks lebih bergairah, dibutuhkan intimasi dalam hubungan berpasangan. Intimasi bisa mengurangi kadar stres, terutama dalam pekerjaan, seperti dilansir oleh penelitian tentang Psikomatik Medis 2008 lalu.

Para peneliti melakukan penelitian dengan sampel 51 pasangan bekerja, dengan mengukur mood dan aktivitasnya. Pasangan yang lebih intim memiliki level kortisol lebih rendah, yakni hormon yang meningkatkan reaksi seks. Pasangan dengan hubungan positif dan relasi seks sehat, lebih tangguh menghadapi stres.

Sebaiknya mulai kenali dan perbaiki bagaimana relasi berpasangan Anda dan dia. Selain tentunya selesaikan dulu penyebab stres, dan jalani pola hidup lebih sehat. Jika sudah begini, seks pun bukan sekadar pelarian bagi pria, dan tidak menyenangkan bagi wanitanya.







PSIKOPAT

I Bila kata psikopat disebut, pikiran mungkin langsung melayang pada Sosok rian, pembunuh berantai sosok “sempurna” dan ‘normal” yang jauh lebih jahat dari penampilannya. Seperti Ryan, seorang psikopat memang kerap menipu lewat penampilan.

Seorang psikopat profesional di bidangnya. Ada yang dokter, psikiater, psikolog, penegak hukum, wartawan, pemuka agama, politikus, penggiat LSM, pendidik, ibu rumah tangga. Tak ketinggalan, mereka juga punya banyak julukan. Mulai dari yang keren sampai menyeramkan, seperti a white collar crime, the best actor, atau “serigala berbulu domba”. Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangka.

Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai Sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral)

Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.

adakah cara mengenali para psikopat yang berkeliaran itu? Secara klinis, jelas tak mudah, karena untuk sampai pada kesimpulan seseorang tergolong psikopat atau bukan.

“Harus melalui proses panjang dan sulit. Diagnostik sahih mesti disimpulkan setelah usia orang yang dicurigai lebih dari 18 tahun,” papar dr. Suryantha Chandra, Sp.KJ, kepala Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta.

Sampai saat ini, pasien yang ditangani Sanatorium Dharmawangsa, yang akhirnya disimpulkan sebagai psikopat, rata-rata berusia antara 25 – 35 tahun. Sebuah rentang usia produktif. Sedangkan jumlahnya kurang dari 10% dari seluruh pasien yang datang.

Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang ‘normal’. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal.

Pada dasarnya, psikopat adalah sebutan singkat untuk gangguan kejiwaan, yang awalnya dikenali sebagai kenakalan remaja dan gangguan kepribadian antisosial (emosi dangkal, gampang meledak-ledak, tak bertanggungjawab, berpusat pada diri sendiri, serta kekurangan empati dan rasa sesal).

bila anda atau orang terdekat anda sedikitnya melakukan tiga dari tujuh ciri khas berikut ini:
1. gagal mengikuti norma sosial dan hukum, hingga berkali-kali ditahan pihak berwajib
2. berulang-ulang berbohong, menggunakan berbagai alasan, lihai bicara, menipu untuk keuntungan pribadi atau sekadar bersenang-senang.
3. meledak-ledak dan tak punya perencanaan, kalau ingin sesuatu, harus saat itu juga dilakukan,
4. mudah tersinggung dan berangasan, sehingga sering terlibat penyerangan atau adu jotos,
5. tak peduli keselamatan diri sendiri atau orang lain,
6. tak bertanggung jawab, misalnya kerja sering tak beres dan ngemplang
7. nyaris tak punya rasa sesal dan bersalah setelah menyakiti, menganiaya bahkan mencuri.
Anda harus waspada karena ini merupakan gejala anda atau orang terdekat anda terkena psikopat.

Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang ‘normal’. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.

Mereka kekurangan cinta, kesetiaan, kekurangan empati, dan rasa tidak bersalah. Mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain.

Sedangkan orang psikopat, akan terus mengulang lagi dan lagi, dengan cara yang sama, meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu. Jadi, mungkin jika Ryan atau siapapun adalah seorang psikopat, penjara tidak akan membuatnya jera (tapi sepertinya kemungkinan dieksekusi lebih besar dibandingkan ia dipenjara 20 tahun) Terakhir, para psikopat terlihat meyakinkan dari luar. Maksudnya, karena mereka tidak memiliki perasaan cemas dan perasaan bersalah, mereka bisa berbohong, mencuri, berbuat curang, dan lainnya.

Ini mendukung pernyataan seorang psikolog yang pernah diwawancara (itu lho psikolog yang duduk di kursi roda) bahwa Ryan membunuh karena dia cemburu dengan pasangan homoseksualnya itu bohong besar. Itu hanya alibi untuk menutupi perilakunya atau trigger dari perilakunya. Dan jangan percaya dengan tampilan kalem dan lemah lembutnya karena orang psikopat mampu mengontrol sikapnya.

Psikopat percaya bahwa seluruh dunia melawannya. Ada juga pembunuh psikopat yang membunuh korbannya bukan untuk memuaskan keinginannya membunuh, tapi mereka membutuhkan seorang teman. Seperti Dennis Nilsen – pelaku psikopat – yang berkata bahwa ia merasa nyaman tinggal dengan mayat dari pada hidup dengan orang lain karena mayat tidak akan mengacuhkannya. Ini menjelaskan kalau ia merasa kesepian dan mengalami isolasi sosial sebagai hal yang sangat menyakitkan, namun diekspresikan dengan kekerasan.

Psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada kisah “pembunuhan”, Penelitian menyatakan bahwa satu persen populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya. lewat berbohong, mencurangi, mencuri, mememanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan.

Mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.

“Psikopat di tempat kerja berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha sekeras-kerasnya demi mereka sendiri. Perbedaan keduanya adalah, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis,” Mereka tidak peduli. Mereka tidak berpikir dirinya adalah psikopat. Mereka tidak berpikir apa yang sedang dilakukan adalah salah. Mereka hanya berpikir dirinya pintar, dan jika semua orang secerdas mereka, semuanya pun akan melakukan hal serupa,” katanya.

Penanganan dan pengobatan penyandang psikopat minimal memakan waktu tiga tahun. Sanatorium Dharmawangsa menegaskan, pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ini tak ada penyelesaiannya. Artinya, penanganan dan pengobatan harus dilakukan terus-menerus, dengan kerja sama banyak pihak, karena masalahnya tak selalu mudah.

Sistem pendidikan yang hanya mengejar prestasi, juga bisa memicu tumbuhnya pribadi psikopat. Bila tiap anak dituntut menjadi nomor satu, sementara ia sadar kemampuannya terbatas, apa yang terpikir olehnya untuk mencapai tujuan itu? Bisa saja dia mencari jalan pintas, dan hal ini dapat mengundang anak menjadi seornag yang psikopat.

Memang, gelar psikopat kadang nemplok tanpa pilih tempat. Apalagi sering tanpa sadar masyarakat modern sendiri ikut andil melahirkan psikopat. Karena beratnya tekanan hidup, berbagai hal yang menyimpang dari norma dan hukum, justru menjadi aktivitas “sehari-hari”. Jadi apakah anda psikopat… Saya berharap bukan ya… coba instropeksi diri deh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar