Senin, 20 Februari 2012

ILMU JIWA

Gangguan Psikosomatik, Merasa Sakit Tapi Ternyata Masalah Jiwa


Anthony eksekutif muda berusia 34 tahun itu sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin. Anthony juga sering merasa dadanya sesak bila bernapas.

Anthony bercerita bahwa ia pernah berobat di bagian penyakit dalam dan telah dilakukan beberapa tes bahkan sampai melakukan CT-Scan dan MRI namun dinyatakan hasilnya semua dalam batas normal.

Anthony tentunya tidak percaya hal tersebut karena dia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Teman-temannya mengatakan mungkin dia stres dengan pekerjaan, tapi Anthony selalu menyangkal hal itu.

Oleh sejawat dokter ahli penyakit dalam, Anthony disarankan untuk datang ke psikiater khususnya yang bergerak di bidang psikosomatik karena mungkin ada problem psikis yang melatarbelakangi keluhannya. Anthony sempat kesal karena saran itu, dia berkata, “Memangnya saya gila Dok?!”.

Hal itu dikarenakan dia merasa kehidupannya baik-baik saja. Bilapun ada masalah, Anthony memang cenderung lebih menyimpannya sendiri dan tidak pernah membicarakan dengan orang lain bahkan dengan istrinya sekalipun. “Saya memang biasa menyimpan apapun kekesalan dan kemarahan saya sendiri,” ujarnya kepada dokter penyakit dalamnya.

Keluhan Psikosomatik

Kasus seperti di atas sebenarnya sering ditemukan di praktek dokter umum dan spesialis. Pasien dengan keluhan fisik yang sangat banyak dan sering berganti-ganti setiap minggunya, biasanya datang pertama kali ke tempat praktek dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam.

Dokter biasanya akan memeriksa fisik pasien dengan keluhan seperti ini dan menyarankan beberapa tes penunjang. Tapi hampir tidak pernah ditemukan kelainan fisik yang mendasari keluhannya. Begitu juga dengan hasil tes penunjang seperti laboratorium, radiologi (rontgen, CT-Scan atau MRI) atau bahkan sampai endoskopi, tidak ditemukan kelainan pada pasien.

Bila sudah begini biasanya dokter umum atau spesialis lain akan merujuk pasien dengan keluhan seperti ini untuk datang ke psikiater supaya dapat dilakukan evaluasi lebih lanjut. Namun tentunya tidak mudah meminta pasien untuk menuruti saran ini.

Beberapa di antaranya malah merasa bahwa dokternya tidak mampu mengobati dirinya. Selanjutnya pasien akan mencari dokter lain untuk mencoba mengobati ‘penyakitnya’ ini. Tidak heran pasien biasanya memiliki rekam medik yang sangat tebal dan mempunyai beberapa dokter sekaligus.

Gangguan Kejiwaan

Dalam bidang kesehatan jiwa, gangguan psikosomatik sebenarnya termasuk dalam bagian gangguan somatoform. Gangguan ini ditandai dengan adanya suatu keluhan fisik yang berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun sudah berkali-kali dilakukan dan hasilnya normal. Setidaknya pun ada gangguan fisik maka gangguan tersebut berbeda atau tidak dapat menjelaskan keluhan yang dikemukakan pasien. Jelasnya gangguan psikomatik adalah gangguan fisik yang diakibatkan masalah-masalah kejiwaan.

Biasanya gejala ini ada hubungannya dengan konflik dan perkembangan psikologis dari pasien, namun pasien biasanya menolak gagasan adanya hubungan antara penyakit yang diderita dengan problem atau konflik kehidupannya. Bahkan bila ditemukan adanya tanda depresi atau kecemasan pada pasien, pasien tetap menolak adanya hubungan tersebut.

Gangguan ini juga sering ditimbulkan pada pasien dengan gangguan kecemasan yang sangat seperti pada gangguan panik. Gejala jantung berdebar sangat sering dikeluhkan oleh pasien gangguan panik. Selain itu juga sering mengalami sesak napas. Kondisi ini juga meresahkan pasien karena ketika diperiksa ternyata tidak terdapat kelainan dalam organ tubuh pasien.

Apa Yang Harus Dilakukan ?

Pasien atau keluarga pasien yang mengalami hal ini dapat segera datang untuk bertemu dengan psikiater. Penjelasan tentang bagaimana mekanisme stres berpengaruh ke fungsi tubuh akan membantu pasien dalam memahami gangguan Psikosomatik yang dideritanya saat ini.

Walaupun dalam pemeriksaan klinis dan penunjang tidak didapatkan keluhan, pasien dengan keluhan ini mengalami suatu disfungsi di sistem saraf pusat terutama di sistem saraf otonom dan jaras hipotalamus pituitary adrenal (HPA Axis). Kondisi ini telah diteliti oleh ilmuwan di Amerika Serikat dan memang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan secara umum.

Pengobatan dengan pendekatan psikoterapi dan penggunaan obat dengan dosis yang tepat dan dalam jangka waktu tertentu akan membantu pasien menghadapi keadaan gangguan Psikosomatiknya dan akhirnya dapat berfungsi secara baik kembali.








Pemilik Hewan Peliharaan Lebih Sehat


Memiliki hewan kesayangan ternyata bisa menjadi jalan untuk
memaksimalkan kondisi kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Perilaku hewan yang
menggemaskan juga bisa memberikan perasaan lebih santai.

Secara spesifik, mereka punya kepercayaan diri yang tinggi, secara fisik lebih fit, mereka juga
lebih jarang kesepian

Menurut penelitian terbaru yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology,
para pemilik hewan peliharaan memiliki perasaan lebih nyaman dan sejahtera dalam hidupnya.

“Secara spesifik, mereka punya kepercayaan diri yang tinggi, secara fisik lebih fit, mereka juga
lebih jarang kesepian,” kata ketua peneliti, Allen R McConnell dari Miami University, Ohio,
Amerika Serikat.

Menghabiskan waktu bersama binatang peliharaan juga diketahui membuat seseorang menjadi
lebih ekstrovet. Ia cenderung lebih berani dan tidak mudah linglung dibandingkan dengan bukan

pemilik hewan.

Penelitian lain menunjukkan, para pemilik anjing relatif lebih aktif secara fisik karena sering
mengajak si doggie berjalan-jalan sehingga punya partner untuk berolahraga secara teratur.









6 Cara Tingkatkan Quality Time Bersama Keluarga


Di zaman yang serba sibuk seperti sekarang ini, semakin jarang keluarga yang melakukan
aktivitas bersama-sama, bahkan untuk sarapan atau makan malam. Bisa terjadi karena orangtua yang
terlalu asyik berkutat dengan pekerjaannya, atau anak-anak yang juga disibukkan dengan sekolah dan
aktivitas ekstrakulikuler.

Menemukan waktu luang untuk berkumpul bersama keluarga memang merupakan tantangan tersendiri.
Tapi bukan berarti Anda atau suami tidak bisa mendapatkannya. Berikut ini enam tips untuk
meningkatkan quality-time Anda bersama keluarga, seperti dikutip dari She Knows.

1. Pasang Sebuah Kalender
Pasanglah kalender besar di pintu lemari es atau tempat yang sering dilewati dan mudah dilihat seluruh
anggota keluarga. Tulis rencana Anda pada kalender tersebut. Misalnya berwisata ke taman hiburan di
hari libur, rencana makan malam bersama di resto favorit keluarga atau mengunjungi rumah nenek.
Tulis dengan spidol atau marker besar sehingga anggota keluarga bisa melihatnya. Dengan begitu, maka
semua orang akan menyesuaikan jadwal kegiatan mereka sehingga Anda dan keluarga bisa berkumpul
bersama. Ada baiknya Anda menuliskan sedikit deskripsi acara seperti, ‘menjelajah kepulauan Seribu’
atau ‘Hollycow Steak untuk pesta barbeque minggu depan’ agar lebih menarik.

2. Sarapan Bersama
Apabila keluarga Anda ‘menyebar’ pada malam hari, cobalah bangun lebih awal untuk sarapan bersama.
Tidak perlu mempersiapkan makanan yang rumit, cukup sediakan sandwich dengan susu atau sereal
dengan jus. Hanya butuh sedikit waktu untuk mempersiapkan ini semua dan Anda bisa berkumpul
bersama keluarga untuk sekedar ngobrol maupun bercengkrama. Terlebih lagi, sarapan adalah waktu
makan yang paling penting agar bisa beraktivitas secara maksimal.

3. Kurangi Waktu Menonton TV
TV memang hiburan yang cukup populer dan disenangi hampir semua orang. Bahkan menurut survey
Nielsen, orang di Amerika bisa menghabiskan 154 jam dalam sebulan untuk menonton TV. Jika ingin
lebih dekat dengan keluarga, cobalah kurangi jam menonton TV dan perbanyak waktu untuk mengobrol
bersama pasangan maupun anak-anak Anda. Maka ikatan Anda dengan mereka akan terasa lebih dekat.

4. Luangkan Waktu Produktif Bersama-sama
Walaupun cara ini kurang ideal, tapi bisa coba diaplikasikan. Apabila Anda dan pasangan cukup
disibukkan dengan pekerjaan sepanjang tahun dan sulit untuk menemukan waktu berkumpul bersama,
mengapa tidak mencoba untuk melakukan kegiatan produktif bersama-sama? Misalnya ketika suami
harus menemui klien untuk main tennis, Anda bisa membawa anak-anak untuk menonton ayahnya
beraksi di lapangan. Atau ketika family gathering di kantor, cobalah untuk meluangkan waktu Anda dan
anak-anak untuk pergi bersama ke acara tersebut sehingga Anda sekeluarga tetap bisa produktif bekerja

sekaligus berkumpul bersama.

5. Tetapkan Minggu Malam Sebagai Waktu untuk Keluarga
Minggu malam biasanya digunakan semua orang untuk mempersiapkan kegiatan minggu depan.
Cobalah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah Anda sebelum Minggu sore, dan beritahu semua
anggota keluarga untuk melakukan hal serupa. Sehingga pada Minggu malam, Anda sekeluarga bisa
berkumpul untuk sekedar bermain kartu, menonton DVD sambil makan popcorn, atau bercerita tentang
kegiatan satu minggu kemarin.

6. Fleksibel dan Spontan
Merencanakan menonton bioskop atau liburan bersama memang terdengar sangat mengasyikkan.
Namun bagaimana ketika tiba-tiba seluruh anggota keluarga berkumpul dalam satu hari dan Anda tidak
punya rencana apa-apa? Tanap pikir panjang, buatlah kegiatan dadakan. Masak bersama atau makan
malam di luar bisa menjadi kegiatan spontan yang menyenangkan. Belum tentu kejadian ini bisa
terulang di bulan-bulan berikutnya kan? Maka fleksibilitas Anda sangat diharapkan agar kebersamaan di
dalam keluarga tetap terjalin.







Ada 121 Juta Orang di Dunia yang Depresi, Terbanyak di Negara Kaya


Jakarta, Meski depresi bisa disebabkan oleh banyak hal termasuk masalah ekonomi, tapi ternyata studi
menunjukkan bahwa tingkat depresi lebih tinggi di negara-negara kaya. Ada sekitar 121 juta orang di
dunia mengalami depresi.

Menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal BMC Medicine, yang membandingkan kondisi sosial
ekonomi dan depresi, terdapat 121 juta orang di seluruh dunia yang mengalami depresi, yang dapat
merusak kualitas hidup masyarakat dengan mempengaruhi kemampuan untuk bekerja dan menjalin
hubungan.

Depresi parah bahkan dapat menyebabkan seseorang bunuh dini dan telah menjadi penyebab
terjadinya 850.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia.

Hasil wawancara lengkap dengan lebih dari 89.000 orang di 18 negara mengungkapkan bahwa 15 persen
orang di negara berpendapatan tinggi telah mengalami depresi selama hidup mereka, dibandingkan
dengan 11 persen orang di negara berpenghasilan rendah atau menengah.

Negara berpenghasilan tinggi memiliki tingkat depresi yang lebih besar (28 persen vs 20 persen) dan
terutama tingkat tinggi (lebih dari 30 persen) ditemukan di Amerika Serikat, Prancis, Belanda dan India.
China memiliki tingkat depresi terendah (12 persen).

Peneliti juga menemukan bahwa rata-rata usia saat mengalami depresi hampir dua tahun lebih muda di
negara berpendapatan rendah.

Wanita dua kali lebih mungkin menderita depresi ketimbang pria dan faktor utama adalah kehilangan
pasangan karena kematian, perceraian atau perpisahan.
“Kami telah menunjukkan bahwa depresi merupakan masalah kesehatan publik yang signifikan di
semua wilayah di dunia dan sangat terkait dengan kondisi sosial. Memahami pola dan penyebab depresi
dapat membantu inisiatif global dalam mengurangi dampak depresi terhadap kehidupan individu dan
dalam mengurangi beban masyarakat,” ujar Evelyn Bromet dari State University of New York di Stony
Brook, seperti dilansir Health.com.

Penelitian yang diterbitkan 25 Juli dalam jurnal BMC Medicine ini dilakukan oleh para peneliti di 20
pusat yang berhubungan dengan World Health Organization (WHO) World Mental Health Survey
Initiative.

Orang depresi harus diobati karena kalau tidak disembuhkan ada banyak akibat negatifnya seperti:
1. Kesehatan fisik menurun

2. Insomnia dan kelelahan
3. Berat badan turun atau naik
4. Kecanduan alkohol dan narkoba
5. Penarikan sosial
6. Perilaku berisiko
7. Bunuh diri

Terlepas dari konsekuensi yang mengerikan dari depresi yang tidak diobati, lebih dari 80 persen dari
orang yang didiagnosis mengalami depresi dapat berhasil diobati, dengan deteksi dini, intervensi
dan dukungan. Dukungan keluarga dan pengobatan dapat membuat orang yang depresi kembali
melanjutkan kehidupan normal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar