Jumat, 17 Februari 2012

ILMU JIWA

Stres Bikin Daya Tahan Tubuh Menurun

Penelitian yang membahas tentang hubungan stres dan sistem daya tahan tubuh atau dikenal dengan sistem imun tubuh sudah semakin banyak dilakukan. Sejak berkembangnya ilmu Psikoneuroimunologi yaitu suatu ilmu yang mengaitkan hubungan antara ilmu psikologi, saraf dan imunologi, maka kondisi yang berhubungan dengan hal ini sudah semakin sering diteliti.

Psikoneuroimunologi menekankan pada pembuktian-pembuktian terkait dengan sistem imun tubuh dan hubungannya dengan stres yang terjadi pada orang tersebut. Disebutkan, banyak sekali dampak stres terhadap sistem imun tubuh manusia yang mengakibatkan seseorang lebih rentan mengalami gangguan penyakit terkait dengan sistem imun tubuh.

Beberapa waktu lalu, saat hari kedua kongres dunia International College of Psychosomatic Medicine di Seoul, Korea Selatan, pembicara Prof Christopher Coe dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat menerangkan kembali tentang Psikoneuroimunologi dalam kuliahnya yang berjudul “All Roads Lead To Psychoneuroimmunology”

Dalam kuliahnya Prof Coe mengatakan bahwa sudah semakin banyak penelitian dan fakta yang menggambarkan keterlibatan stres dalam mempengaruhi sistem imun manusia. Beberapa penyakit yang dihubungan dan ditekankan saat kuliah tersebut adalah pada asma dan fibromialgia.

Asma kita ketahui sebagai suatu gangguan penyakit pernapasan yang melibatkan sel-sel radang dan imun sistem dalam tubuh. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini (hanya bisa dikendalikan) sangat terkait dengan peranan sistem imun dan stres yang bisa memicu terjadinya serangan.

Fibromialgia sendiri merupakan suatu kondisi gangguan penyakit yang menekankan keluhannya pada nyeri di berbagai bagian tubuh dan suasana perasan yang tidak nyaman terkait dengan kondisi ini. Gangguan nyeri yang lebih banyak terdapat pada wanita ini belakangan semakin diteliti mempunyai dampak yang berhubungan dengan sistem stres dan imun tubuh.

Kondisi yang terkait sistem imun pada pasien dengan gangguan fibromialgia terkait dengan penurunan kadar sel yang disebut Natural Killer (NK), Sitokon dan Interleukin. Kondisi seperti ini juga ditemukan pada pasien dengan depresi.

Tidak heran gejala-gejala depresi dan cemas juga merupakan salah satu tanda kondisi fibromialgia. Fibromialgia sendiri memang dikenal dulunya lebih kepada suatu kumpulan gejala (sindrom) yang melibatkan berbagai macam keluhan. Kondisi sindrom yang juga sering tumpang tindih dengan berbagai kondisi lain seperti di antaranya gangguan somatoform (psikosomatik), gangguan nyeri, gangguan depresi dan gangguan lelah berkepanjangan (chronic fatigue syndrome).

Pada akhir kuliahnya, Prof Coe mengatakan masih banyak terbuka lahan penelitian di bidang ini dan tentunya akan makin banyak pengetahuan yang masih bisa diperoleh dengan mempelajari stres dan hubungannya dengan sistem imun tubuh manusia.





Cobalah Luangkan Waktu Untuk Merenung

Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan anda tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka anda akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran anda yang bening. Selama berhari-hari anda disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran anda memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Anda perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batin.

Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat anda mengaduk semakin kencang pusaran. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan anda mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini anda mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran anda yang bening. Jadi cobalah luangkan waktu anda sebentar untuk merenung agar pikiran anda tetap stamina

*** Selamat Mencoba ***







Stres Tingkatkan Gula Darah

Kaitan antara stres dan gangguan kesehatan sudah lama diketahui para ahli. Kelelahan, gangguan konsentrasi, hingga naiknya berat badan merupakan sedikit dari dampak stres. Kini Anda bisa menambahkan satu gangguan lain, yakni naiknya gula darah.

Hal itu terjadi karena saat kita stres, tubuh akan melakukan penyesuaian. Usaha penyesuaian tadi akan menyebabkan jantung berdetak lebih cepat, dan napas pendek-pendek. Gula darah pun ikut-ikutan melonjak.

“Di bawah tekanan stres, tubuh kita akan berada dalam mode melawan atau membiarkan sehingga gula darah pun akan naik sebagai bentuk persiapan terhadap kondisi tadi,” kata Richard Surwit, PhD, penulis buku The Mind Body Diabetes Revolution.

Pada dasarnya hormon stres dalam tubuh kita didesain hanya untuk menghadapi situasi stres yang sifatnya sementara, seperti terjebak macet, menghadapi tes kerja, atau bertemu calon mertua, misalnya. Sayangnya, kebanyakan stres yang kita alami bersifat kronis, alias sudah menetap lama. Sebut saja pekerjaan yang setiap hari menuntut lembur, atau harus merawat orangtua yang sakit.

Akibatnya, hormon stres tadi akan seperti predator karena harus bertahan dalam kurun waktu yang lama. Gula darah pun dipaksa untuk terus-menerus menyesuaikan dengan kondisi ini. Untuk orang yang diabetes, peningkatan gula darah ini merupakan suatu masalah sendiri mengingat mereka tidak bisa memproduksi insulin secara ekstra untuk mempertahankan gula darahnya.

Kabar baiknya, olahraga yang sifatnya relaksasi dan teknik manajemen stres lain bisa membantu kita mengendalikan kadar gula darah.

Dalam penelitian yang dilakukan para ahli dari Duke University terhadap 100 pasien gula darah yang mengikuti kelas manajemen stres, diketahui setelah setahun kadar gula darah mereka tetap terjaga dan risiko terkena komplikasi diabetes pun berkurang.

Para responden penelitian tersebut mengikuti kelas manajemen stres yang meliputi relaksasi otot, olah napas, dan belajar memiliki pikiran positif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar