Selasa, 28 Februari 2012

ILMU JIWA

Empat Jurus Pilah ‘Sahabat’ dan ‘Musuh’



Ada beberapa tipe teman wajib dimiliki. Namun, ada pula tipe teman yang perlu dijauhi.

VIVAnews - Teman yang baik tidak hanya ada saat senang, tapi juga menemani saat duka. Terlepas keluarga, kehadiran teman membuat hidup lebih berwarna. Bahkan, memiliki teman akrab sebagai tempat berbagi bisa meningkatkan harapan hidup.

Demi hidup lebih berkualitas, bertemanlah dengan siapa saja. Hanya, perlu seleksi untuk menjadikannya teman dekat. Ada beberapa tipe teman yang wajib dimiliki. Namun, ada pula tipe teman yang perlu dijauhi.

Empat teman wajib punya:

1. Teman belanja
Setiap orang memiliki gaya dalam berbelanja. Sebagian menyenangi aktivitas itu saat waktu luang supaya puas berkeliling mencari barang yang tepat. Tapi, sebagian memilih ke pusat belanja saat perlu dan bisa memilih barang belanjaan dalam lima menit.

Jadi, perlu miliki teman akrab dengan gaya serupa dengan tipe Anda. Gaya belanja yang sama bisa mempererat hubungan pertemanan atau apa yang disebut chemistry. Saat ada kecocokan, kualitas pertemanan pun terjaga.

2. Teman pagi buta
Masalah bisa menimpa siapapun dan kapanpun. Karenanya, penting memiliki seorang teman akrab yang siap menerima telepon genting setiap saat, bahkan saat dini hari. Seorang teman yang membuat Anda leluasa berbagi rahasia dan masalah dalam hidup.

3. Teman ‘nakal’
Memiliki teman yang berbeda karakter terkadang penting. Perpaduan antara si ‘nakal’ dan si ‘manis’ mungkin bisa mencipta kesimbangan hubungan pertemanan. Asal tak mengganggu hidup Anda, memiliki seorang teman ‘nakal’ juga bisa menambah wawasan hidup.

4. Teman kerja
Pastikan Anda memiliki teman akrab di lingkungan keseharian Anda, seperti teman kerja. Mereka penting untuk membantu Anda saat menghadapi masalah pelik dengan lingkungan kerja. Sebuah penelitian di Universitas Tel Aviv di Israel bahkan mengungkap bahwa salah satu rahasia hidup panjang umur adalah dengan memiliki hubungan yang baik dengan rekan-rekan kerja.

Sementara empat teman yang perlu dijauhi:

1. Pengaruh buruk
Tipe ini cenderung mendorong Anda melakukan atau mengambil keputusan salah. Bahkan, tak jarang mengajak Anda terjun ke tindakan-tindakan negatif. Gunakan kontrol diri jika sulit menjauhi teman semacam ini.

2. Selalu mengeluh
Ada teman yang tidak pernah melihat sisi positif dari setiap keadaan. Mulai dari pekerjaan, keluarga, sampai soal makanan. Tak masalah jika keluhan yang muncul masih bisa ditolerir. Namun, segera menghindari jika sosoknya selalu menebar aroma negatif bagi kehidupan Anda.

3. Angkuh
Tipe ini cenderung merasa selalu lebih baik dan lebih hebat dari Anda. Tanpa sadar, ia akan mengganggap Anda sebagai pesaingnya, bahkan musuh. Jika Anda berhasil dalam suatu hal, dia tampak tidak senang. Jika dia sukses terhadap sesuatu, dia akan pamer secara berlebihan.

4. Merasa tahu segalanya
Berhati-hatilah jika Anda memiliki teman seperti ini. Ia cenderung senang mengkritik bahwa tindakan Anda keliru. Biasanya, kritik terus meluncur tanpa ada solusi untuk sesuatu yang lebih baik.








Jangan Menikah Karena 8 Alasan Ini

Saat penasaran itu terjawab, bukan tak mungkin bosan melanda, rasa sayang menguap.

Pernikahan merupakan peristiwa sakral yang menyatukan dua orang dalam satu ikatan. Ada janji setia sehidup semati yang harus dijaga.

Agar pernikahan mewujud menjadi rumah tangga harmonis dan langgeng, Anda harus punya cinta dan keyakinan terhadap pasangan. Jangan menikah hanya karena delapan alasan berikut ini, seperti dikutip dari Health24:

1. Menikah hanya karena harta
Di awal pernikahan, mungkin Anda begitu menikmati kehidupan rumah tangga. Namun, kehidupan rumah tangga tanpa landasan cinta kuat tentu jauh dari harmonis dan langgeng. Apalagi jika di tengah perjalanan rumah tangga, pasangan kehilangan harta. Atau, Anda bertemu dengan pria yang jauh lebih kaya dan memikat.

2. Ingin meninggalkan rumah orangtua
Ini biasanya menimpa mereka yang hidup di tengah keluarga penuh konflik. Menikah seringkali menjadi jalan pintas agar bisa keluar dari suasana rumah yang mungkin seperti ‘neraka’. Namun, meninggalkan rumah bersama suami bukan jawaban mutlak. Pernikahan yang prematur justru bisa membuat Anda terjebak dalam konflik baru yang lebih rumit.

3. Karena orangtua menyukainya
Ini bukan alasan tepat bagi Anda dan pasangan segera melangsungkan pernikahan. Ingat, yang akan hidup dengannya adalah Anda sendiri, bukan orangtua Anda. Jangan biarkan Anda terjebak dengan sosok yang sebenarnya belum Anda yakini terbaik sebagai pasangan hidup.

4. Ingin merasakan hubungan lebih intim
Ketika kekuatan agar bisa berhubungan lebih intim menjadi alasan kuat menikah, ini berbahaya. Tujuan utama pernikahan bukan lagi membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis dan langgeng, tapi hanya ‘malam pertama’. Saat penasaran itu terjawab, bukan tak mungkin bosan melanda, rasa sayang menguap, dan ujung dari ini semua adalah kehancuran rumah tangga.

5. Ingin punya anak
Ingin punya anak memang menjadi pendorong kuat bagi banyak orang untuk menikah. Namun, apakah Anda ingin membawa anak dalam kondisi yang tidak ideal? Landasan cinta adalah harga mati. Jangan sampai anak Anda kelak menjadi korban ketidakharmonisan rumah tangga. Atau, malah Anda bisa menjadi orang tua tunggal kelak.

6. Menikah dengan peselingkuh
Ada beberapa kasus orang menikah secara diam-diam dengan selingkuhannya. Awalnya, mungkin akan berjalan dengan baik. Namun, untuk jangka panjang, pernikahan ini bisa menjadi malapetaka.

Ingat, pernikahan ini terjadi di atas penderitaan orang lain. Ini artinya masing-masing berani mengambil risiko mencari kebahagiaan tanpa peduli nasib pasangan utama masing-masing. Bukan tak mungkin pasangan kembali selingkuh, dan Anda menjadi korban berikutnya.

7. Tekanan sosial
Ini seringkali menimpa mereka yang sudah memasuki usia siap menikah, namun masih melajang. Mereka umumnya merasa terpojok dengan pertanyaan yang dilontarkan teman dan keluarga besar seperti, “Kapan menikah?” Jangan sampai tekanan ini membuat Anda menikahi orang yang salah.

8. Membuktikan bukan homoseksual
Itu bukan ide yang baik. Jangan menjadikan pernikahan sebagai tameng bagi Anda untuk membuktikan sesuatu kepada dunia. Jika memang Anda seorang homoseksual, menikah tidak akan mengubahnya. Selain membuat pasangan menderita, rumah tangga juga tidak akan bahagia.







5 Manfaat Sehat Punya Banyak Teman

Berbahagialah Anda yang mempunyai banyak teman dan sahabat. Pasalnya, beberapa penelitian terbaru menemukan bukti bahwa menikmati kehidupan sosial yang aktif dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Para ilmuwan mempercayai bahwa menghabiskan waktu bersama teman atau sahabat akan membuat hidup lebih sehat baik secara mental maupun fisik. Berikut ini adalah 5 (lima) alasan ilmiah yang menunjukkan pengaruh kehadiran seorang teman terhadap tingkat kesehatan seseorang :

1) Mengurangi risiko Demensia

Memiliki kehidupan sosial yang sangat aktif dapat menurunkan risiko penyakit Alzheimer cukup besar yakni sekitar 70 persen, menurut temuan baru yang diterbitkan dalam Journal of International Neuropsychological Society.

2) Membuat Anda tetap fit

Riset terbaru dari peneliti asal Australia yang dipublikasikan dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity menemukan bahwa teman atau sahabat memiliki pengaruh langsung terhadap tingkat aktivitas fisik dan kebiasaan makan.

3) Mengasah Otak Anda

Menjalin komunikasi yang baik dengan teman melalui chatting atau jejaring sosial media akan mendorong fungsi kognitif Anda. Hal ini seperti layaknya memecahkan teka-teki silang, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari University of Michigan, AS.

4) Meningkatkan kesehatan jauh lebih baik

Memiliki relasi yang saling mendukung dapat menunda proses penuaan. Riset terbaru dari Brandeis University menemukan bahwa jaringan sosial yang kuat terutama bila dikombinasikan dengan latihan fisik dapat menunda penurunan kesehatan hingga sepuluh tahun.

5) Hidup lebih lama

Hubungan yang kuat dengan teman dan keluarga dapat meningkatkan peluang Anda untuk tetap bertahan hidup sekitar 50 persen, menurut penelitian terbaru para ilmuwan dari Brigham Young University.







Bingung Ambil Keputusan? Coba Cara Ini


Pengambilan keputusan akan semakin baik jika Anda juga bisa menahan buang air kecil.

Memperbanyak minum, bukan hanya berdampak positif pada kesehatan tubuh Anda. Tetapi juga bisa sangat membantu untuk mempermudah Anda dalam mengambil keputusan. Pengambilan keputusan pun akan semakin baik jika Anda juga bisa menahan buang air kecil.

Menurut penelitian yang dilakukan Dr. Mirjam Tuk dari Universitas Twente di Belanda, ketika Anda menahan buang air kecil, mekanisme kontrol diri pada otak mengaktifkan seluruh organ tubuh termasuk otak itu sendiri. Jadi dengan memperbanyak minum, lalu kemudian Anda menahan buang air kecil, otak jadi lebih aktif dalam bekerja.

Penelitian ini dilakukan Dr. Mirjam Tuk setelah ia minum banyak kopi untuk membuatnya tetap terjaga selama mengajar. Setelah jam mengajarnya berakhir, ia merasa kandung kemihnya penuh dan sangat ingin buang air kecil.

“Saya lalu bertanya-tanya, apa yang terjadi jika ketika seseorang memiliki kontrol yang tinggi pada kandung kemih?,”kata Dr. Mirjam Tuk, seperti dikutip dari Shine.

Dalam penelitiannya Dr. Tuk bekerja sama dengan Debra Trampe dari University of Groningen dan Luk Warlop dari Katholieke Universiteit Leuven. Mereka menguji apakah kontrol diri seseorang atas tubuhnya juga bisa digeneralisasi ke domain lain.

Para peneliti kemudian melakukan pengujian pada beberapa subjek. Mereka menemukan bahwa subjek dengan kondisi kandung kemih yang penuh, bisa membuat keputusan yang lebih baik, terutama dalam hal keuangan.

Juga diketahui bahwa hanya berpikir tentang kata-kata yang berhubungan dengan buang air kecil bisa memicu otak berpikir lebih tajam.







Alasan Pria Hemat Bicara & Wanita Cerewet

Anak laki-laki mengatasi masalah persis seperti pria dewasa.

Banyak wanita meminta pasangan pria agar mengungkap hal yang mengganggu mereka. Namun, kebanyakan pria hanya cuek dan menganggap hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dikatakan. Ini bukan berarti kekasih tidak peduli atau mencoba tampak kuat.

Sebuah studi terbaru menyebutkan, sebagian besar pria berpikir bahwa mendiskusikan masalah dengan wanita hanya membuang-buang waktu. Sikap ini berlaku bukan hanya bagi pria dewasa, namun juga pada anak laki-laki. Penelitian, yang akan diterbitkan dalam jurnal Child Development, menemukan bahwa saat menghadapi masalah, anak laki-laki bertindak seperti pria dewasa.

“Selama bertahun-tahun, psikolog populer bersikeras bahwa anak laki-laki maupun pria mau mengatakan masalah mereka, namun dikalahkan oleh rasa takut, atau malu terlihat lemah,” kata Amanda J. Rose, profesor ilmu psikologi dan seni di Universitas Missouri College.

“Saat ketika meminta anak laki-laki menceritakan masalah, mereka mengekspresikan kecemasan berbeda dengan anak perempuan,” ujar Rose. Ia menambahkan, “Respon anak lak-laki menunjukkan, mereka merasa membicarakan masalah sama sekali tak berguna.”

Para peneliti dari Universitas Missouri melakukan empat studi terpisah dan mengumpulkan informasi pada hampir 2.000 anak-anak dan remaja. Hasilnya cukup mengejutkan. Anak-anak perempuan mengatakan membicarakan masalah yang menimpa mereka membuat mereka merasa diperhatikan dan dimengerti.

Tetapi, anak laki-laki merasa berbicara tentang masalah mereka akan mengarah pada intimidasi. Mereka menghindari diskusi karena mereka merasa malu dan merasa aneh, serta membuang waktu.

Itu sebabnya, diperlukan pendekatan berbeda bagi para orang tua untuk mendekati anak perempuan dan laki-laki. “Untuk anak laki-laki, sangat membantu menjelaskan pada mereka, bahwa membicarakan beberapa masalah tidak akan membuang waktu,” kata Rose.

Meskipun demikian, orang tua tidak boleh memaksa agar anak curhat, sebab itu sangat membuat mereka merasa makin tidak aman.

Dan saat menghadapi anak perempuan, jangan membicarakan masalah mereka secara berlebihan karena akan mengarah pada depresi dan kecemasan. “Anak perempuan harus diberitahu, bahwa membicarakan masalah bukanlah satu-satunya cara mengatasinya, tapi bisa mendapat pemecahan lewat diskusi,” ucapnya seperti dikutip dari Shine.








Orang Tua Protektif Picu Anak Kegemukan

Jangan sampai sikap melindungi Anda berdampak negatif pada anak.

Sebagai orang tua, hasrat melindungi buah hati pasti sangat tinggi. Tetapi, jangan sampai berlebihan. Karena sikap yang terlalu melindungi ini bisa membuat anak Anda berisiko mengalami kegemukan.

Apa pemicunya? Ketika buah hati aktif secara fisik, seperti saat sedang bermain di taman atau berlari-larian dan Anda selalu berkata ‘hati-hati’ atau mencegahnya, ia akan menjadi takut. Hal itu membuatnya jadi malas dan segan untuk melakukan lagi aktivitas fisik.

Ekspresi spontan, seperti teriakan ketakutan atau selalu memeganginya, bisa memicu anak menjadi kurang aktif. “Ini adalah yang banyak dilakukan para orang tua saat ini. Khawatir tentang keselamatan anaknya hingga membuat mereka sangat protektif,” kata Dr Jason Bocarro, peneliti dari North Carolina State University, seperti dikutip dari Daily Mail.

Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan tim dari North Carolina State University pada 20 taman bermain di Durham, North Carolina, Amerika Serikat. Mereka mengklasifikasikan anak-anak yang bermain di taman tersebut dalam tiga kategori yaitu, pendiam, cukup aktif, dan sangat aktif.

Menurut Dr Jason, yang seharusnya dikhawatirkan para orang tua adalah ketika anak lebih sering di depan televisi atau komputer, dibandingkan bermain dengan teman sebayanya di taman. Hal ini membuat anak berisiko tinggi mengalami obesitas karena kurangnya aktivitas fisik.

Lagipula, tubuh anak-anak masih dalam tahap pertumbuhan yang sebaiknya dirangsang dengan aktivitas fisik.

Penelitian yang akan dipublikasikan dalam American Journal for Preventive Medine ini menemukan anak yang memiliki orang tua protektif cenderung berhenti saat melakukan aktivitas yang sangat aktif. Menurut peneliti, taman-taman publik sangat berperan untuk membuat anak tetap aktif.






Kesepian Itu Bisa Membunuh!


Jangan biarkan orang terdekat Anda merasa kesepian!
Hm… siapa bilang berumur panjang itu enak? Bila orang menghadapi usia lanjut seorang diri karena anggota keluarganya sudah tidak tinggal bersama lagi, yang terjadi adalah rasa kesepian. Lalu, ada fakta yang belum diketahui kebanyakan orang.
Jangan mengira bahwa efek dari kesepian yang dialami orang-orang tua hanya terasa dari sisi psikologis. Misalnya, merasa ditinggalkan atau diabaikan. Padahal, kerusakan fisik yang terjadi bisa mengancam kesehatan, sama besarnya dengan obesitas atau merokok.

Hampir satu dari 10 orang lanjut usia menderita kesepian yang intens, sehingga meningkatkan risiko depresi, kurang olahraga, dan kebiasaan makan yang buruk. Oleh karena itu, Age UK Oxfordshire, Counsel And Care, Independent Age, dan WRVS, menggelar Campaign to End Loneliness. Mereka menuntut pengakuan yang lebih besar dari para profesional di bidang kesehatan mengenai hubungan antara kesepian dan kesehatan yang buruk. Tim peneliti ini juga meminta kewaspadaan yang lebih tinggi mengenai kesepian, dan pengaruhnya yang begitu merugikan kaum lansia.

Menurut polling yang melibatkan 2.200 orang, tak sampai satu dari lima orang pernah mendengar atau membaca informasi mengenai kesepian sebagai risiko kesehatan. “Kita perlu mempertimbangkan implikasi emosional dan psikologis tentang jumlah kaum lansia yang semakin banyak,” ujar Andrew Barnett dari Calouste Gulbenkian Foundation, yang membiayai kampanye ini.

The World Health Organisation juga menilai kesepian memberikan risiko yang lebih tinggi daripada merokok, dan sama berisikonya dengan diabetes. Dikatakan para peneliti, kurangnya interaksi sosial juga meningkatkan peluang kaum lansia mengidap penyakit degeneratif seperti Alzheimer.
Meningkatnya kasus kesepian pada orang tua sebagian disebabkan oleh bertambahnya harapan hidupnya, dan kehidupan anggota keluarganya yang terpencar-pencar. Lebih dari separuh dari orang usia 75 tahun yang hidup sendiri, dan sekitar satu dari 10 orang tua mengidap kesepian yang kronis. Sedih, ya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar