Sabtu, 25 Februari 2012

ILMU JIWA

Hormon Seks Pria Pengaruhi Rasa Empati


Hormon testosteron mengurangi kemampuan seseorang membaca emosi orang lain.

Sebuah studi mengungkap, terlalu banyak hormon testosteron akan mengurangi kemampuan seseorang untuk membaca emosi orang lain. Temuan ini diharapkan dapat membantu menjelaskan mengapa autisme lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan.

Peneliti dari Utrecht dan Universitas Cambridge meneliti hormon seks testosteron pada 16 wanita.

Alasan dipilihnya relawan perempuan karena perempuan cenderung memiliki hormon testosteron lebih rendah sehingga lebih mudah melihat perbedaannya.

Penelitian dilakukan saat para relawan sedang berhadapan dengan foto ekspresi wajah. “Temuan ini menunjukkan seberapa besar efek testosteron dan kadar testosteron mempengaruhi pikiran seseorang,” ujar van Honk, seorang psikolog University of Utrecht seperti dimuat Toronto Sun.

Para ahli menilai, hasil penelitian tersebut memiliki implikasi untuk pengembangan studi mengenai autisme. Mereka memperkirakan bahwa gangguan saraf pada penderita autisme terjadi akibat kinerja otak yang bersifat ‘ekstrim laki-laki’.

Kemampuan untuk membaca ekspresi dan pikiran dianggap sebagai elemen kunci dalam mengukur empati, yang merupakan kelemahan utama pada autisme. Teori testosteron menduga autisme terjadi akibat eksposur berlebih hormon testosteron semasa dalam kandungan.







Pekerjaan-pekerjaan yang Bikin Orang Depresi

Depresi karena masalah pekerjaan bisa dialami oleh siapapun yang selalu menganggap pekerjaannya sebagai beban. Namun ada jenis pekerjaan yang memang memiliki level stess lebih tinggi sehingga sering membuat orang depresi. Berikut ini 10 di antaranya.
“Ada aspek-aspek tertentu dari setiap pekerjaan yang dapat berkontribusi atau memperburuk depresi,” kata Deborah Legge, PhD, seorang konselor kesehatan mental di Buffalo seperti dikutip dari Health.com.

“Orang-orang dengan pekerjaan yang berisiko tinggi mengalami stres dapat mengelola stresnya jika mereka mau mengurus diri sendiri dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.” imbuhnya.

1. Pekerja panti jompo / panti asuhan
Hampir 11% orang di bidang ini melaporkan serangan depresi berat dengan proporsi 13% di antara pada para pengangguran dan 7% pada populasi umum. Perawatan harian yang mencakup makan, mandi, dan perhatian kepada orang yang sering tak mampu mengungkapkan rasa terima kasih atau penghargaan karena terlalu sakit, terlalu muda atau tidak terbiasa melakukannya, dapat menyebabkan stres,” kata Christopher Willard, psikolog klinis di Tufts University. “Dapat juga disebabkan karena melihat orang-orang sakit dan tidak mendapatkan banyak dukungan positif.”

2. Pelayan Rumah Makan
Pelayan umumnya mendapatkan upah rendah, pekerjaan yang melelahkan dan diperintahkan mengenai apa yang harus dilakukan setiap hari. Dari 10% dari pekerja yang melaporkan depresi berat dalam setahun terakhir, hampir 15% perempuan bekerja di bidang ini.

“Ini adalah pekerjaan yang sangat tanpa pamrih,” kata Legge. “Orang-orang di sekitarnya dapat benar-benar kasar dan membutuhkan banyak tenaga fisik. Ketika seseorang mengalami depresi, sulit untuk mendapat energi dan motivasi ketika dibutuhkan.”

3. Pekerja sosial
Berurusan dengan anak-anak yang dilecehkan atau keluarga yang bermasalah dikombinasikan dengan rumitnya birokrasi seringkali memicu stres. “Karena pekerja sosial bekerja dengan orang-orang yang sedang sangat membutuhkan bantuan, sulit untuk tidak mengorbankan banyak hal. Banyak dijumpai pekerja sosial cukup cepat tersulut emsoinya.” kata Willard.

4. Pekerja sektor kesehatan
Termasuk dokter, perawat, terapis, dan profesi lain yang banyak memberi bantuan kepada orang lain namun sering melupakan diri sendiri. Pekerja sektor kesehatan memiliki jam kerja yang panjang dan tidak teratur di mana kehidupan orang lain berada di tangan mereka.

“Setiap hari mereka melihat penyakit, trauma, kematian, dan berurusan dengan keluarga pasien,” kata Willard. “Hal ini dapat mempengaruhi pandangan seseorang secara keseluruhan bahwa dunia adalah tempat yang menyedihkan.”

5. Seniman, entertainer, penulis
Pekerjaan ini menghasilkan gaji yang tidak teratur, jam kerja tidak menentu, dan isolasi diri. Orang-orang kreatif juga memiliki gangguan mood lebih tinggi dan sekitar 9% melaporkan episode depresi berat.

“Satu hal yang saya lihat banyak dialami pada para entertainer dan seniman adalah gangguan bipolar,” kata Legge. “Mungkin ada diagnosis gangguan mood yang tidak diobati pada orang yang artistik. Gangguan depresi tidak jarang ditemui pada mereka yang tertarik untuk bekerja di bidang seni. Gaya hidup mereka juga memberikan kontribusi untuk itu.”

6. Guru
Tuntutan terhadap guru tampaknya akan terus berkembang, ditambah pekerjaan lain di luar jam mengajar dan mengoreksi PR yang menumpuk. “Ada tekanan dari banyak pihak, anak-anak, orang tua, dan pihak sekolah untuk memenuhi standar, dan mereka semua memiliki tuntutan yang berbeda,” kata Willard. “Hal ini menyulitkan mereka untuk melakukan pekerjaannya serta mengingat alasan awal mereka untuk mengajar.”

7. Staf Pembantu Administrasi
Orang-orang di bidang ini umumnya mengalami kasus klasik: permintaan tinggi dengan tingkat kontrol yang rendah. Mereka berada di garis depan, mengambil permintaan dari segala arah, tapi mereka juga berada di tingkat terbawah dalam kekuasaan. Mereka memiliki hari yang tak terduga dan mungkin tidak diakui atas pekerjaan yang telah dilakukan dengan mempermudah hidup orang lain.

8. Petugas pemeliharaan dan pekerja lapangan
Ia dipanggil hanya ketika sesuatu rusak atau berjalan dengan tidak benar. Itu lah alasan seseorang harus berurusan dengan bagian pemeliharaan setiap hari. Mereka juga harus bekerja dengan jadwal musiman atau bervariasi dan sering mendapat giliran jaga malam. Mereka dibayar rendah untuk pekerjaan yang sulit. “Mereka sering terisolasi dan mendapat pekerjaan berbahaya, “kata Willard.

9. Penasihat keuangan dan akuntan
Kebanyakan orang tidak suka berurusan dengan tabungan dan uang pensiun mereka sendiri. Lalu bayangkan jika harus menangani ribuan atau jutaan uang untuk orang lain? “Ada tanggung jawab yang begitu banyak untuk mengelola keuangan orang lain,” kata Legge. “Ketika klien kehilangan uangnya, mereka akan dihujat orang-orang dengan teratur.”

10. Tenaga Penjualan
Banyak tenaga penjual bekerja sesuai komisi, artinya ia tidak pernah tahu persis kapan gaji berikutnya akan datang. Mereka sering berkeliling dan harus menghabiskan waktu jauh dari rumah, keluarga, dan teman-teman. “Ketidakpastian pendapatan, tekanan luar biasa untuk mendapat hasil, dan waktu yang lama dapat membuat pekerjaan ini berisiko tinggi menyebabkan stres,” kata Legge.






Seleksi Calon Suami, Yuk

Bicarakan hubungan seperti apa yang ingin dibangun ke depan, agar saling mengenal, saat masa pacaran.

Setiap hari, berjuta-juta orang mencari pasangan untuk mengalami rasa cinta yang istimewa. Mencintai seorang pria untuk kemudian melangkah ke jenjang pernikahan merupakan impian hampir setiap perempuan. Namun, tentunya kita juga tidak bisa sembarangan dalam menentukan seseorang yang akan menjadi pasangan. Boleh saja sih, asal-asalan, asal baik, asal mapan, asal tanggung jawab, dan lain-lain.

Karena Anda bukan peramal yang bisa melihat seseorang itu baik atau tidak, maka Anda perlu melakukan wawancara. Tentu saja, wawancara yang dilakukan berbeda dengan job interview atau wawancara kerja di perusahaan. Mengapa (Why), Siapa (Who), Apa (What), Kapan (When), dan Di mana (Where), proses interview calon suami dilakukan?

Mengapa (Why)?
Perempuan dan pria merupakan dua insan yang diciptakan dengan segala keunikan. John Gray (2005) mengungkapkan perbedaan pria dan perempuan layaknya Mars dan Venus. Nah, perbedaan-perbedaan antara Anda dan pasangan dapat dijembatani dengan proses saling mengenal melalui tahap interview. Wawancara tersebut dilakukan dengan tujuan:

- Menemukan nilai dan tujuan hidup pasangan
Pernikahan ibarat sebuah perahu layar yang dikemudikan oleh 2 orang. Perahu tidak akan sampai di tempat tujuan jika pengemudinya memiliki tujuan berbeda. Kedua orang ini harus memiliki nilai dan tujuan yang sama agar bahtera pernikahan dapat tiba di tujuan.

- Menemukan hal-hal yang unik
Pria sangat senang untuk diterima, dipercaya, dihargai dan dikagumi. Dengan menemukan hal-hal unik dari pasangan, maka Anda bias memberi pujian padanya di bidang-bidang yang menjadi kebanggaannya.

- Mengetahui siapa orang-orang di sekelilingnya
Dengan mengenal orang-orang di sekelilingnya, di antaranya keluarga, sahabat, dan teman-temannya, maka Anda dapat mengetahui pola interaksi dan pola pergaulan si dia. Anda juga bisa mengorek siapa dia sesungguhnya dari mereka.

Siapa (Who)?
Secara statistik jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan pria. Namun, tidak berarti semua pria yang Anda kenal perlu di-interview. Proses interview perlu dilakukan hanya kepada seseorang yang potensial menjadi suami. Potensial di sini bukan hanya materi, melainkan potensi untuk memberikan kebahagiaan lahir dan batin.

Apa (What)?
Layaknya sebuah interview pekerjaan, interview untuk calon suami pun berupa tanya jawab dengan tujuan saling mengenal pribadi pasangan. Pertanyaan-pertanyaan interview ditujukan untuk mengetahui filosofi hidup terkait dengan karier, keluarga, keuangan, dan visi hidupnya. Beberapa pertanyaan yang dapat menggambarkan filosofi hidupnya:
- Jika kamu memiliki uang sebesar 1 miliar rupiah, bagaimana kamu akan menggunakannya?
- Dalam 5 tahun ke depan, kira-kira kamu akan seperti apa, ya?
- Kalau karier aku lebih tinggi, bagaimana?

Kapan (When)?
Proses interview harus dilakukan secara santai dan terselubung agar pasangan tidak merasa sedang dihakimi. Jangan pernah membawa kertas dan pulpen untuk mencatat jawabannya. Apalagi meminta dia yang menuliskannya untuk Anda, ini bukan sedang tes kerja. Catat semua jawaban itu di dalam ingatan saja, untuk kemudian dijadikan pertimbangan untuk meneruskan atau menghentikan hubungan.

Di mana (Where)?
Proses interview sebaiknya dilakukan saat si dia dan Anda berada dalam aktivitas yang membuka banyak kesempatan baginya untuk mengemukakan pendapat. Beberapa tempat yang dapat memudahkan proses percakapan adalah toko buku, acara sosial, transportasi umum, dan klub olahraga. Tempat-tempat romantis seperti bioskop tidak akan membuka banyak potensi percakapan, begitu kata Margareth Kent dalam bukunya How to Marry the Man of Your Choice.

Hubungan cinta dapat berlangsung lama, kalau Anda dapat mempelajari, mencintai, dan mendukung orang yang Anda cintai dengan cara yang lebih baik. Proses interview ini merupakan salah satu cara bagi Anda untuk mengenal siapa dan apa di balik sosok pria yang akan menjadi calon pasangan Anda. Jadi, sudah dapat orang yang akan Anda interview?






Kebiasaan Berbagi Melatih Kecerdasan Emosi Anak


Ajarkan anak untuk menyisihkan uangnya, kemudian berbagi kepada orang lain yang tidak mampu.

Tak butuh rumus yang rumit untuk mencetak anak cerdas secara emosi. Melatih anak untuk membangun kebiasaan berbagi atau menolong orang lain yang membutuhkan bisa membantunya mengembangkan empati dan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi inilah yang menjadi penyumbang terbesar untuk mencetak anak yang sukses, bahagia, termasuk membentuk karakter kepemimpinan dalam dirinya.

Psikolog Rustika Thamrin, SPsi, CHt, MTLT, menjelaskan, kecerdasan emosi memberikan kontribusi 80 persen atas kesuksesan dan kebahagiaan seseorang dalam hidupnya.

“Saat anak mengembangkan empati, dengan membangun kebiasaan berbagi, ia sedang mengembangkan kercerdasan emosinya,” kata pakar parenting yang akrab disapa Tika ini, setelah talkshow “Habit of Giving = Determination to Start + Consistency”, yang diadakan oleh Tango bekerja sama dengan KidZania, di KidZania, Jakarta.

Manfaat berbagi
Kecerdasan emosi yang dikembangkan dalam diri anak, dengan melatih kepekaan dari kebiasaan berbagi, memberi manfaat positif dalam tumbuh kembang anak. Tika menyebutkan, anak yang terbiasa berbagi dan peduli kepada orang lain memiliki kemampuan komunikasi yang lebih bagus, baik verbal maupun nonverbal. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kepemimpinan yang jauh lebih baik lagi.

Ketika anak memberi, kata Tika, ia sedang belajar berempati, melatih kepekaan sosial. “Saat memberi ia menempatkan dirinya pada posisi orang yang dibantu,” lanjutnya. Jika karakter seperti ini sudah menjadi kebiasaan, anak akan tumbuh dengan kecerdasan emosi yang lebih matang.

Kepedulian dan kepekaan anak seperti ini bisa dilatih melalui berbagai kebiasaan kecil di keluarga. Seperti yang diterapkan oleh Yeffi Rahmawati, pekerja media, bersama anaknya, Rakha. Melalui program “Toples Perubahan”, Yeffi, juara kedua lomba “Sahabat Tango Spread Miracle”, mengajak anaknya menabung sisa uang jajan dalam toples. Jika toples kaca sudah penuh, mereka mencari orang lain yang membutuhkan bantuan. Langkah sederhana ini terbukti memberikan dampak positif pada diri Rakha. Yeffi menceritakan, Rakha kini justru lebih sering mengingatkan orangtuanya untuk lebih sering lagi berbagi bersama orang lain yang membutuhkan.

Ibu, terutamanya, memegang peran penting dalam membangun kebiasaan dan karakter ini, kata Tika. Selain itu, dibutuhkan juga kerja sama yang kompak antara ayah dan ibu sehingga anak bisa mendapatkan teladan yang baik. Bagaimanapun anak membutuhkan role model untuk menumbuhkan kepedulian dalam dirinya.







Hindari Racun Kehidupan di Sekitar Anda

Banyak pengaruh negatif orang sekitar yang tanpa sadar masuk dalam kehidupan pribadi.

Hidup selalu dihiasi sisi positif dan sisi negatif. Terkadang, Anda harus menempuh banyak cara untuk selalu berada di jalur yang positif. Namun, bukannya tidak mungkin ada banyak nilai negatif yang dibawa oleh orang-orang terdekat Anda.

Seiring waktu berjalan, nilai-nilai negatif tersebut dapat meracuni kehidupan Anda. Hal inilah yang harus Anda waspadai. Berikut adalah tipe-tipe orang yang dapat meracuni Anda, seperti dilansir laman Glamour:

1. Orang di masa lalu
Tidak semua orang dapat mengambil sisi positif dari permasalahan masa lalu. Banyak di antaranya justru menanam amarah, benci, dan kesedihan dengan selalu mengingat-ingat masalahnya. Mereka agaknya tak sadar itu justru akan memberi dampak negatif dalam kehidupan.

Jika Anda termasuk orang yang tidak dapat melupakan dendam di masa lalu, cobalah berhenti mengingat, atau mencari tahu kisah orang tersebut. Cari kesibukan yang dapat mengalihkan pikiran dari masa lalu. Jangan ragu menghindar jika teman mulai membahas tentang orang-orang di masa lalu.

2. Orang yang selalu mengasihani diri sendiri
Tidak ada yang paling menjengkelkan selain menghadapi orang yang menganggap semua beban yang ada di dunia ini ada di pundaknya. Mereka lebih memilih untuk mengasihani diri sendiri dibandingkan mencari solusi atas permasalahan mereka. Ini karena mereka tidak melihat cara lain selain menyalahkan diri sendiri.

Yang harus Anda lakukan untuk menghadapi orang-orang seperti ini adalah dengan menawarkan bantuan. Namun, jika mereka tidak juga berubah, ada baiknya sedikit menjauh dari mereka karena masukan apapun akan percuma bagi mereka, dan hal tersebut hanya akan membuat Anda
kesal.

3. Orang yang munafik
Tidak dapat dipungkiri, di dunia ini dapat dengan mudah ditemukan orang-orang yang melakukan tindakan tidak sesuai dengan perkataan. Beberapa teman dapat dengan mudah bersikap baik dan ramah di depan Anda, namun berbuat jahat di belakang Anda.

Anda harus peka terhadap orang-orang yang ada di sekitar Anda. Jika ada teman yang bertingkah laku sepeti hal di atas terhadap teman Anda yang lain, maka dia pun dapat melakukan hal yang sama terhadap Anda.

4. Orang yang selalu mengeluh
Orang yang selalu mengeluh adalah orang yang selalu melihat sisi negatif dari kehidupan mereka. Anda tentu harus membantu teman Anda untuk melihat sisi positif dari sebuah kejadian. Jika teman Anda tidak berubah, jangan biarkan pemikiran negatifnya memengaruhi Anda.

5. Orang yang suka fitnah
Mereka suka menjatuhkan orang lain demi terlihat lebih menarik. Walau Anda menganggap teman, mereka tak peduli melontarkan kritik dan penilaian-penilaian salah. Mereka pun terkadang menyalahkan Anda atas yang terjadi di kehidupan mereka.

Mereka umumnya melakukan hal tersebut karena mereka merasa tidak aman terhadap hidupnya. Sabarlah. Namun jika kesabaran Anda tidak merubah mereka, waktunya untuk Anda meninggalkan mereka.

6. Orang yang suka memublikasi masalah
Ada sebagian orang yang suka memberi tahu dunia mengenai skandal dan pertengkaran yang mereka lakukan. Tidak tanggung-tanggung mereka melibatkan banyak orang dalam debat menakutkan.

Walaupun hanya mendengar cerita mereka, hal tersebut dapat berpengaruh buruk terhadap Anda. Satu-satunya cara agar Anda dapat terhindar dari dampak negatif mereka adalah dengan menghindar dari mereka.

7. Terlalu banyak menganalisa
Mereka adalah orang yang frustasi terhadap kehidupan mereka dan ingin mencurahkannya pada orang-orang di sekitar mereka. Namun, mereka akan berakhir pada kesimpulan yang irasional. Jika teman Anda terlalu banyak menganalisa apa yang ada di kehidupan Anda, katakan pada mereka bahwa hal tersebut mengganggu Anda.

8. Terlalu banyak ikut campur
Mereka terlalu sibuk mengurusi permasalahan orang lain dibandingkan permasalahannya sendiri. Bahkan mereka sering membuat perselisihan menjadi semakin buruk. Jika ada di antara teman Anda yang memiliki sifat seperti ini, maka Anda harus berhati-hati dalam berbicara dan
bersikap di depan mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar