Senin, 20 Februari 2012

ILMU JIWA

ANTARA LIDAH, PERKATAAN, DAN PERBUATAN


Berbicara. Sungguh sebuah kosa kata yang sederhana. Setiap hari kita
mengucapkan kata-
kata, sehingga sama sekali tidak ada hal yang menarik untuk dibahas. Tetapi, mengapa ada
orang yang dibayar hingga puluhan juta rupiah untuk berbicara selama satu atau dua jam saja?
Ada orang yang dicintai karena perkataan-perkataannya. Dan ada orang yang dibenci karena
ucapan-ucapannya. Oleh sebab itu, kesederhanaan dibalik makna ‘berbicara’ pastilah memiliki
keistimewaan yang layak untuk kita renungkan.

Berbicara bukanlah sekedar keterampilan memainkan lidah untuk berkomunikasi dengan orang
lain. Melainkan juga menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan gagasan, bertukar pikiran,
juga mempengaruhi orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk belajar berbicara secara efektif,
saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:

1. Berbicaralah yang baik, atau diam saja.
Sungguh beruntung orang-orang yang dapat menjaga lidahnya untuk tetap diam, daripada
mereka yang rajin mengucapkan perkataan yang tidak memiliki manfaat apa-apa. Resiko
tertinggi orang yang diam adalah ‘disebut orang pasif’. Sedangkan resiko terrendah bagi orang
yang banyak bicara adalah disebut ‘orang yang banyak omong’. Manfaat terbesar bagi orang
yang diam adalah ‘tidak dibenci oleh orang lain’. Sedangkan manfaat terbesar bagi orang yang
berbicara adalah, “pahala yang mengalir atas kata-katanya yang baik”. Maka berbicaralah yang
baik-baik karena pahala kebaikannya sangat besar. Atau kalau tidak bisa mengucapkan perkataan
yang baik, maka sebaiknya ya diam saja.

2. Selaraskanlah antara perkataan dengan perbuatan.
Perhatikan orang-orang yang tidak selaras antara perkataannya dengan perbuatannya. Betapa
banyak contoh orang seperti itu dihadapan Anda. Dan Anda tahu betul bahwa orang lain sudah
tidak lagi mempercayai mereka. Ketika seseorang mengatakan pesan-pesan kebaikan kepada
orang lain, namun dirinya sendiri berperilaku sebaliknya, maka orang tidak lagi mempercayai
kata-katanya. Karena ketidakselarasan menyebabkan hilangnya kepercayaan. Jagalah keselarasan
antara perkataan dan perbuatan, maka Anda akan mendapatkan kepercayaan dari orang-orang
disekitar Anda.

3. Gunakanlah perkataan untuk mengajari diri sendiri.
Orang-orang yang terlalu banyak berbicara – saya, misalnya memiliki kecendrungan untuk
mengajari atau mengajak orang lain melalui perkataan yang yang diucapkannya. Sayangnya
sering lupa untuk mengajari diri sendiri. “Jujurlah!” katanya. Tetapi dia sendiri tidak jujur. Ini
menandakan bahwa dia gagal mengajari dirinya sendiri. Motivasi saya saat mengatakan sesuatu
adalah mengajari diri sendiri. Ternyata sangat berat untuk belajar sendirian, makanya saya
membagi pelajaran bersama orang-orang yang saya cintai. Itulah sebabnya sambil mengajari diri
sendiri, saya berbagi pelajaran itu dengan Anda.

4. Tebuslah perkataan dengan pendengaran.
Ada ruginya juga memposisikan diri sebagai orang yang paling banyak berbicara. Kita sering

tidak sempat mendengar perkataan orang lain. Boleh jadi perkataan kita bukanlah hal terbaik
dalam satu urusan tertentu. Namun karena kita tidak bersedia mendengarkan perkataan orang
lain maka kita kehilangan pelajaran berharga. Sungguh beruntunglah orang yang selain
berbicara, dia juga bersedia mendengar. Selain ilmunya bisa memberi manfaat kepada orang lain,
dia sendiri bisa menarik manfaat dari pelajaran yang ditebarkan oleh orang lain.

5. Yakinlah jika setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.
Kita sering mengira bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita akan menguap begitu saja.
Kenyataannya perkataan yang kita ucapkan beberapa tahun lalu, masih diingat oleh orang lain.
Sungguh beruntung jika kata-kata itu baik. Namun sungguh rugi kita jika kata-kata itu buruk.
Setiap kata yang baik, menghasilkan pahala yang baik. Namun, setiap perkataan buruk pasti
akan dibalas dengan imbalan yang juga buruk. Bahkan, guru spiritual saya mengatakan, “Betapa
besarnya murka Tuhan kepada orang yang mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan
perbuatannya.” Maka yakinlah, setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.

Keterampilan berbicara bukanlah monopoli mereka yang berprofesi sebagai pembicara publik.
Setiap orang patut memiliki keterampilan berbicara yang baik. Satu hal yang perlu diingat
adalah, berbicara tidak selalu berarti mengucapkan sesuatu dengan lidah kita. Melainkan juga
menunjukkan tindakan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita bisa berbicara
dengan nyaring, namun perbuatan kita berbicara lebih nyaring dari kata-kata yang diolah oleh
lidah kita.










Rasa Nyeri Adalah Persepsi

Jakarta, Sangat menarik menyimak berbagai ahli di bidang nyeri yang berbicara tentang
perkembangan terapi pada pasien gangguan nyeri. Ahli di bidang nyeri yaitu Prof Lukas Meliala
mengatakan bahwa hanya 20 persen nyeri yang berasal dari kondisi kerusakan organik,
selebihnya adalah faktor non-organik. Ini artinya selain faktor biologi maka nyeri sangat
tergantung dengan faktor psikososial.

Kesimpulan itu adalah rangkaian seminar Indonesian Pain Society yang berlangsung di Hotel
Mercure, Ancol, Jakarta belum lama ini. Walaupun yang berbicara bukan psikiater, saya merasa
senang hampir semua pembicara mengatakan pentingnya faktor biopsikososial dalam
pendekatan terapi nyeri.

Nyeri adalah Persepsi

Dokter pasti mengetahui bahwa nyeri adalah persepsi tidak nyaman yang dirasakan pasien.
Artinya nyeri sangat bersifat subjektif. Pasien tidak pernah akan bisa diukur secara jelas tentang
kadar nyerinya, sampai sekarang tidak ada alat kedokteran yang bisa menyatakan secara jelas
titer kadar nyeri seseorang.

Pemeriksaan nyeri masih menggunakan gambaran visualisasi seperti Visual Analog Scale dan
untuk pasien anak dengan gambaran muka dengan perubahan suasana perasaan dari senang,
biasa sampai menangis.

Subjektifitas akan sangat berpengaruh dalam hal ini. Misalnya jika Anda merasakan nyeri di
angka 6 belum tentu sama berat sakit Anda dengan orang lain yang menyatakan nilai 6 juga.

Maka dari itu terlihat faktor psikologis dan latar belakang sosial seseorang bisa sangat
berpengaruh terhadap ‘kadar’ nyeri seseorang. Orang dengan latar belakang yang berbeda bisa
mengeluhkan nyeri yang berbeda beda.

Seorang yang biasa hidup nyaman dan dalam lingkungan yang memanjakannya bisa merasakan
nyeri luar biasa hanya karena tergores pisau saat memotong buah. Sedangkan seorang petani
yang biasa bekerja di alam dan hidupnya keras, mungkin tidak akan terlalu berasa sakit
walaupun kakinya tersobek oleh paculnya.

Gangguan Nyeri Somatoform

Saya jadi ingat saat kemarin berkesempatan kongres Psikosomatik di Seoul Korea Selatan. Saat
itu ada Prof Jon Streltzer, psikiater dan presiden International College of Psychosomatic
Medicine yang menceritakan pengalamannya dan penelitiannya tentang nyeri dan terapi
psikologis yang dihubungkan dengan hal itu.

Penelitiannya semakin menguatkan bahwa persepsi sangat penting dalam derajat nyeri. Dalam
ilmu kedokteran jiwa khususnya bidang psikosomatik medis, dikenal suatu diagnosis Gangguan
Nyeri yang merupakan bagian dari Gangguan Somatoform.

Pasien biasanya mengeluh nyeri tanpa disertai adanya suatu kondisi medis yang mendasari dan
tidak adanya kerusakan organ maupun serabut saraf yang berkaitan dengan nyerinya. Kondisi ini
bisa sangat membuat pasien tidak nyaman karena pengobatan dengan obat-obat anti nyeri sering
tidak bisa membantu banyak malahan membuat efek samping pada pasien.

Peran Psikoterapi

Pada banyak kepustakaan dan literatur, penanganan psikologis seringkali menjadi modalitas
yang penting ketika modalitas terapi obat tidak banyak membantu. Pasien yang telah diberikan
berbagai macam obat nyeri tetapi tidak ada perubahan juga merupakan kandidat untuk dilakukan
terapi ini.

Psikoterapi dengan pendekatan Cognitive behavior therapy (CBT) pada banyak kepustakaan dan
pengalaman klinis sangat membantu pasien-pasien dengan gangguan nyeri non-organik.

Perubahan kognitif tentang rasa nyeri yang dialami pasien akan membawa perubahan yang
bermakna pada persepsi nyeri pasien yang sering kali memang tidak sesuai dengan kondisi
organiknya. Psikoterapi dengan teknik ini sangat membantu apalagi pada pasien dengan
gangguan nyeri yang terkait dengan somatoform.

Intinya sebagai dokter di zaman modern sekarang ini, pendekatan biopsikososial yang
dikonsepkan oleh George Engel (1977) adalah konsep yang perlu ditekankan pada penanganan
nyeri. Bukan hanya dengan obat semata tetapi juga dengan pendekatan psikoterapi yang
bermanfaat bagi kesembuhan pasien.








‘Patah hati’ bisa disembuhkan

Para ilmuwan menemukan bahwa sangat mungkin patah hati disembuhkan.

Para peneliti Amerika Serikat mempelajari 70 pasien yang menderita ‘sindroma patah hati’, penyakit yang terkait dengan stress atau peristiwa emosional.

Seluruh pasien berhasil sembuh, sebagian besar setelah diberi aspirin atau obat penyakit jantung, meski 20% dianggap sakit parah.

Penelitian Jurnal Kardiologi Amerika mengatakan kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh peningkatan hormon stress.

Sindroma patah hati, yang secara medis disebut Takotsubo cardiomyopathy, pertama kali didefinisikan oleh peneliti Jepang di awal tahun 1990 an.

Meski gejala-gejalannya mirip dengan serangan jantung seperti sakit di dada dan napas tersengal, sindroma patah hati tampaknya hanya sementara dan bisa segera disembuhkan – jika diobati dengan cepat.

Para pasien yang diteliti oleh para peneliti dua rumah sakit di Providence, Rhode Island, didiagnosa dengan sindroma patah hati antara Juli 2004 dan April 2008.

Libur musim semi

Sekitar 67% pasien itu mengalami tekanan secara fisik atau emosional – seperti berita buruk mengenai anggota keluarga, pertengkaran di rumah tangga, penyakit fisik yang parah atau kecelakaan kendaraan – sebelum gejala-gejala itu muncul.

Enam pasien mendapat perawatan kejutan listrik untuk menghidupkan kembali jantung dan tiga memiliki detak jantung tak normal yang memerlukan perawatan darurat.

Gejala sindroma patah hati mirip serangan jantung

Dua pertiga pasien – hampir semuanya wanita yang telah menopause – mengalami tekanan secara fisik atau peristiwa emosional sebelum datang ke rumah sakit dengan gejala seperti terkena serangan jantung.

Secara keseluruhan, mayoritas pasien mendapat pengobatan aspirin atau obat penyakit jantung seperti beta blockers dan statins saat di rumah sakit.



Meski seperlima dalam keadaan sakit parah dan memerlukan perawatan darurat agar bisa diselamatkan jiwa mereka, seluruh pasien tetap hidup dalam 48 jam pertama dan kemudian sembuh total.

Para peneliti ini juga menemukan bahwa, tidak seperti serangan jantung yang cenderung terjadi di musim dingin, sindroma patah hati cenderung terjadi di musim semi dan musim panas.

‘Jarang fatal’

Dr Richard Regnante dari rumah sakit Miriam, ketua penelitian ini, mengatakan pola musiman ini bisa membantu untuk bisa mengerti penyakit ini.

“Sebagian pihak memandang hal itu merupakan satu bentuk serangan jantung yang ‘berhenti’ dengan sendirinya, sehigga tidak merusak otot jantung secara permanen.

“Pihak lain mengatakan sindroma ini tidak ada hubungan dengan arteri jantung dan hanya merupakan masalah dengan otot jantung.

“Karena pola musiman sindroma patah hati yang kami pelajari berbeda dengan pasien serangan jantung, penelitian ini mengisyaratkan, meski bukan merupakan pembuktian – bahwa teori yang belakangan yang mungkin benar.”








Suamiku, aku mencintaimu (kisah Inspiratif)


Suamiku, Aku Mencintaimu Suamiku… Masih ingatkah kau, saat pertama kali mas kita terikat
halal oleh kecintaan karena Tuhan?. Kita melihat satu dengan yang lain begitu sempurna,
menyenangkan dan membahagiakan. Rasanya begitu abadi kebahagiaan yang kita cita- citakan.
Hari- hari selanjutnya adalah perjalanan pergatian suka dan duka, dan kebahagiaan atau konflik
senantiasa melingkupi hubungan hati. Suamiku… Saat suatu hari kau menemukan sikapku
merepotkan dan mengusik batinmu… Mohon sedikit luaskan hatimu. Jangan kau kesal
menanggapi kalimat dan tangisan manja dari wanitamu ini. Bukan bermaksud menyulitkan,
namun sekedar mencari cara lain mendapatkan perhatian, karena kosongnya satu sisi hati yang
butuh untuk lebih dimanjakan oleh seorang lelaki yang begitu dikaguminya. Mengapa Tuhan
menjadikan kau suami, dan bukan sebaliknya? Kau telah ditakdirkan Tuhan menjadi suamiku,
yang berarti akan lebih pandai dalam mengayomiku. Yakinlah itu suamiku, dan jangan balas
semua dengan keseriusan seorang laki- laki, namun pahamilah kerapuhan dan kebodohanku
sebagai wanita. Hanyalah kelembutan, kasih sayang, serta nasehat penuh kesabaran namun tegas,
yang dapat dengan mudah meluruskan tindakan aneh istrimu walau semua awalnya aku niati
dengan niat baik. Jangan buat aku semakin bebal dan tidak mengerti dengan berbalik
memberikan sejuta amarah apalagi pukulan, karena semua adalah karena ketidaktahuan.
Janganlah pula mempersempit hatimu dengan tangisan karena itu akan menyedihkan untukku
wahai suamiku. Pahamilah karena semata- mata semua karena kenakalan dan kemanjaanku,
maka dari itu mohon maafkanlah aku. Suamiku… Saat suatu hari kau menemukan kata- kataku
merepotkan dan mengusik telingamu… Pernahkah kau melihat seorang wanita yang bisa
mengeluarkan uneg- unegnya dengan merdeka raya, sedang sang suami tetap melihat dengan
senyum, perhatian dan pandangan yang hangat. Hal itu sebenarnnya sudah sangat menjelaskan
kepada sang istri sendiri bahwa dia adalah sangat cerewet dan tindakannya tidaklah baik.
Namun, hal itu juga membahagiakan para istri karena secara sadar dia bersyukur bahwa ada
seorang manusia yang ternyata begitu sangat mencintai dan memahaminya… Suamiku….
Ampuni istrimu atas kekurangan yang dikaruniakan Tuhan kepadaku. Mohon jangan tutup pintu
hatimu dengan ketidak ridhoan mu atasku. Jangan buat para bidadari di surga menggantikan
posisiku dan memilikimu kelak. Sungguh hal itu akan menyedihkan bagiku. Suamiku… Kau
gagah, ketika kau bisa meletakkan kelembutan dan senyum saat mendidik istrimu. Kau tegas,
saat mengatakan kalimat dengan pas namun santun untuk memotong kebandelan wanitamu. Kau
berwibawa, saat nada bicaramu menggambarkan ketulusan dan kemurnian niatmu dalam
menasehati. Sama sekali bukan bentakan dan atau nada tinggi. Kau kuat, saat menerima dengan
ikhlas tentang kelemahan istrimu. Kau baik, saat dengan kelapangan hatimu memaklumi
keburukan pasanganmu. Keluasan hatimu memaafkan, bagiku adalah pelajaran dari seorang guru
untuk memaafkan. Keluasan hatimu untuk memaklumi dan bersabar, adalah pengajaran bagiku
untuk memaklumi dan bersabar. ketelatenanmu untuk memahami adalah pelajaran berharga
bagiku untuk memahami. Suamiku, kaulah idolaku… Suamiku, kau lah idolaku, yang halal
bagiku. Dan aku ingin selalu mengagumimu. Hanya kau. Maka mohon dengan sangat, didiklah
dirimu agar indah untukku dan dihadapanku, dan didiklah aku agar aku mengerti tentang
keindahan itu. Supaya aku belajar tentangnya dan tentang kebaikan.Supaya aku dapat dengan
tulus berterimakasih kepada Tuhan atas karunia manusia sepertimu, supaya aku dapat
meneduhkan diri dan mencukupkan jiwa denganmu, supaya aku dapat dengan batin yang tulus
berkata,”Suamiku, Aku mencintaimu..










Ternyata Diabetesi Boleh Makan Enak Kok!

MENGIDAP penyakit diabetes mellitus bukanlah berarti kiamat dalam kehidupan Anda.
Meskipun tidak dapat sembuh, penderita diabetes (diabetesi ) sebenarnya tetap dapat menikmati
hidup secara normal termasuk mengonsumsi berbagai jenis makanan, kendati harus disesuaikan
kebutuhan kalori.

Menurut Prof. Slamet Suryono MD, Ketua Pusat Penelitian Diabetes dan Lemak RSCM/FKUI,
dahulu sempat berkembang mitos bahwa hidup dengan penyakit diabetes merupakan suatu
penderitaan yang menyiksa.

Penderita biasanya harus menjalani diet ketat dengan pantangan makanan manis. Gula dan
bumbu pada makanan juga dihindari, sehingga kerap kali menu untuk diabetesi sering berbeda.
Mitos-mitos tersebut, kata Prof Slamet, tidaklah berlaku karena penderita diabetes sebenarnya
dapat mengonsumsi makanan apapun, kendati porsinya harus tetap diperhatikan.
“Dulu, ada mitos diabetesi tak boleh makan enak. Harus makan kentang, tak boleh menyentuh
gula, makan terpisah dari keluarga. Tidak demikian lagi sekarang, semua dibolehkan tetapi
dengan takaran tertentu,” ungkap Prof. Slamet.

Pada prinsipnya, lanjut mantan Presiden Federasi Perkumpulan Endokrinologi ASEAN ini,
pengidap diabetes dapat hidup normal asalkan mau menjalani empat modalitas utama yang
tak dapat dipisahkan. Empat modalitas tersebut adalah mengikuti penyuluhan agar paham dan
mandiri mengatasi diabetes, mengatur pola makan, melakukan olahraga teratur dan terapi obat-
obatan.

Seorang diabetesi, ujar Prof Slamet, bahkan sebenarnya tidak memerlukan obat-obatan bila ia
mampu disiplin memantau kadar gula darahnya dan mengontrol melalui pengaturan makan dan
olahraga teratur.
“Obat-obatan itu adalah modalitas yang terakhir. Baru diperlukan bila gagal dengan pengaturan
makan dan olahraga. Yang harus diingat pula, obat-obatan tidak untuk menggantikan pengaturan
makanan dan olahraga teratur,” ujar Prof Slamet.

Ia meyakinkan, bila dilakukan secara disiplin, benar dan teratur, upaya diet dan olahraga
saja sebenarnya sudah mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada penderita
diabetes.
“Pokoknya bila diet dan olahraga dilakukan secara ketat dan baik, gula darah pasien akan
menurun dalam dua minggu. Dalam dua pekan sudah kelihatan, lebih lama lagi lebih baik. Jadi
yang diperlukan adalah konsistensi,” tegasnya.

Dengan terapi obat, gula darah penderita memang dapat diturunkan lebih cepat ketimbang
pengaturan makan dan olahraga. Tetapi yang biasanya kemudian terjadi adalah mereka menjadi
ketergantungan terhadap obat.
“Memang kalo ingin cepat ya dengan obat, tetapi berarti itu melompat ke modalitas keempat,
sedangkan nomor satu dua dan tiganya dilupakan. Yang akan terjadi adalah pasien menjadi
dependent terhadap obat. Ini tentu kurang baik,” paparnya.

Supaya pengaturan makan dan upaya olahraga menjadi efektif, Prof Slamet memiliki tip-tip yang
dapat dilakukan para diabetesi. Berikut adalah tip-tipnya :

- Jaga nafsu makan
- Usahakan porsi tersebar dalam sehari supaya kadar gula darah tidak terlalu berfluktuasi
- Bagilah porsi makanan menjadi 3 porsi besar dan 3 porsi kecil.
- Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang.
- Teratur dalam jumlah, jenis dan jadwal
- Lebih banyak menu buah-buahan dan sayuran
- Gerak badan atau olahraga secara teratur minimal selama 30 menit 3 atau 4 kali seminggu.
- Pilih olaharga yang sesuai. Jalan kaki atau berenang relatif lebih baik.











Tips Makanan Bikin Tubuh Anak Tumbuh Lebih Cepat


Untuk pertumbuhan yang sehat, tubuh memerlukan makanan yang seimbang dan kaya nutrisi.
Ada beberapa makanan yang dapat membuat tubuh tumbuh lebih cepat. Maka itu pada anak-anak
sangat disarankan makanannya mengandung gizi-gizi berikut ini agar badannya tumbuh cepat.

Tubuh membutuhkan protein, karbohidrat dan lemak untuk tumbuh dan berfungsi dengan baik.
Berikut beberapa makanan yang bisa membuat tubuh dapat tumbuh lebih cepat, seperti dilansir
Livestrong,

1. Protein
Protein membantu tubuh tumbuh, yaitu otot dan jaringan lemak. Protein penting untuk
pertumbuhan yang sehat, tetapi jangan makan lebih banyak protein dari yang Anda butuhkan.

Anak-anak antara usia 1 dan 3 tahun membutuhkan 13 gram protein setiap hari, dan anak-anak
usia 4 sampai 8 tahun butuh 19 gram per hari. Anak-anak antara usia 9 dan 13 membutuhkan
34 gram. Remaja laki-laki membutuhkan protein lebih dari gadis remaja, yaitu 52 gram
dibandingkan dengan 46 gram.

Bahkan ketika tubuh selesai tumbuh, Anda masih membutuhkan protein untuk memperbaiki dan
membangun kembali jaringan. Wanita dewasa membutuhkan sekitar 46 gram protein sehari-hari
dan pria dewasa membutuhkan sekitar 56 gram.

Contoh makanan dan jumlah protein yang dikandungnya meliputi: ayam, daging sapi dan ikan
(7 gram per ons), susu (8 gram per cangkir), kacang-kacangan (16 gram per cangkir) dan telur (6
gram per telur besar).

2. Buah dan sayuran
Buah dan sayuran memberikan vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk tubuh agar tetap
sehat dan tubuh yang sehat akan tumbuh lebih cepat dari tubuh yang kurang gizi.

3. Susu dan biji-bijian
Untuk tumbuh tubuh membutuhkan kalsium karena tulang yang kuat mendukung ukuran tubuh
yang semakin meningkat.

Anak-anak antara usia 2-3 tahun perlu 1 cangkir produk susu tiap hari dan anak-anak antara
usia 4-8 harus 1,5 cangkir susu atau setara dengan yogurt atau keju atau diperkaya kalsium susu
kedelai, tahu atau jus jeruk. Anak-anak lebih tua dan orang dewasa perlu 3 cangkir susu sehari-
hari.

Sedangkan biji-bijian menyediakan tubuh energi untuk tumbuh. Pilihan yang baik adalah
oatmeal, roti gandum dan beras merah.

Anak usia 2-3 membutuhkan 3 ons biji-bijian. Anak perempuan antara usia 4-13 tahun perlu 5

ons biji-bijian, dan perempuan berusia 14-50 tahun perlu 6 ons gandum. Anak laki-laki usia 9-
13 tahun perlu 6 ons dan laki-laki antara usia 14-30 tahun membutuhkan 8 ons biji-bijian sehari.
Kebutuhan Anda untuk biji-bijian menurun sedikit ketika Anda bertambah tua.









Hati Gundah Bikin Tulang Cepat Rapuh


Setiap menjelang akhir pekan, banyak orang mulai merasa gundah dan gelisah baik karena menunggu
waktu untuk berkencan maupun memikirkan cucian yang menumpuk. Sebaiknya jangan berlarut-larut,
karena rasa gundah tidak baik untuk tulang.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan para ilmuwan dari Deakin University membuktikan, emosi
negatif terutama depresi dan rasa gelisah bisa mengurangi kepadatan tulang. Akibatnya seseorang
menjadi lebih rentan mengalami osteoporosis atau pengeroposan tulang.

Bukan itu saja, masa tulang yang berkurang juga membuat sendi mudah mengalami kerusakan. Risiko
perasangan sendi atau arthritis meningkat, begitu juga jenis rematik atau gangguan sendi lainnya yang
sangat mengganggu kualitas hidup dan produktivitas.

Penelitian yang dipimpin oleh Prof Lana Williams ini melibatkan 8.000 orang dewasa di Norwegia.
Partisipan yang terdiri dari pria dan wanita dengan proporsi seimbang itu merupakan bagian dari sebuah
studi internasional yakni Nord-Trondelag Health Study.

Selain mengisi kuisioner, para partisipan juga diminta menjalani pemeriksaan massa tulang. Peneliti juga
menelusuri berbagai faktor risiko kerusakan tulang, mulai dari diet sehari-hari, aktivitas fisik, konsumsi
alkohol hingga kebiasaan merokok.

Setelah disesuaikan dengan berbagai faktor risiko yang lain, peneliti menyimpulkan ada hubungan
yang sangat erat antara kegelisahan dengan kepadatan massa tulang. Orang-orang yang selalu merasa
gundah dan gelisah, tulangnya cenderung lebih rapuh.

Sebaliknya orang-orang yang emosinya lebih stabil dan selalu bergembira, tulangnya cenderung lebih
sehat. Massa tulang teramati lebih padat, sehingga lebih aman dari risiko pengeroposan tulang maupun
berbagai gangguan atau kerusakan sendi.
“Sangat mungkin disimpulkan bahwa kondisi kejiwaan yang buruk merupakan faktor lain yang
mempengaruhi kesehatan tulang,” ungkap Dr Williams.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar