Rabu, 22 Februari 2012

ILMU JIWA

Kiat Hilangkan Kesepian Lansia (Lanjut Usia)


Sudiati (70th) menunjukkan kemampuannya membuat kerajinan merajut dari benang wol saat Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional tingkat Provinsi Jawa Barat di halaman belakang Gedung Sate, Bandung.

Pada umumnya, para lanjut usia mengalami perasaan kesepian karena kehilangan hal-hal yang dimilikinya semasa muda seperti kebugaran dan penampilan fisik. Untuk mengatasi rasa kesepian tersebut, dr. Erlina Sutjadi dari Departemen Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto menyampaikan beberapa kiat.

“Kuncinya sebenarnya penerimaan diri dalam siklus kehidupan, itu yang paling sulit, dan sadari kalau sehat, cantik, bahagia, datang dari diri sendiri,” katanya dalam seminar Memperoleh Masa Tua dengan Cantik Sehat Bugar dan Bahagia dalam rangka hari ulang tahun RSPAD, Jakarta,

Menurur dr. Erlina, untuk menghilangkan kesepian, para lansia harus memelihara kemandirian, meskipun masih membutuhkan orang lain, namun tidak bergantung.

Kemudian, para lainsia harus dapat mengenali diri sendiri. “Kenalilah diri sendiri, kenali perasaan kita, dan apa penyebabnya, lalu selesaikan masalahnya,” katanya.

Selain itu, para lansia harus tetap melakukan aktivitas yang berguna bagi dirinya dan orang lain dengan membuat pengaturan waktu. “Dengan olahraga yang teratur, membaca, ikut pertemuan keluarga, reuni dengan teman-teman, dan kegiatan keagamaan,” katanya.

Para lansia cenderung merasa kesepian yang merupakan gejala depresi disebabkan rasa kehilangan seperti kehilangan pasangan hidup, anak-anak yang sudah berkeluarga, teman-teman, jabatan atau pekerjaan, pendapatan, serta penampilan fisiknya karena penuaan.

“Untuk memperoleh masa tua yang cantik, sehat dan bugar, perlu mempersiapkan diri dari sekarang, menanamkan informasi tentang perubahan-perubahan kehidupan,” imbuh dr. Erlina.









Stres Memicu Bau Badan?

Tubuh yang segar dan bersih merupakan salah satu modal untuk tampil percaya diri. Itu sebabnya jika tubuh mengeluarkan bau tak sedap rasa percaya diri pun bisa lenyap. Masalah bau badan akibat keringat dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, misalnya stres.

Secara tidak langsung stres memang berkontribusi pada terjadinya bau badan. Dalam keadaan stres tubuh menggunakan kelenjar keringat yang berbeda dengan kelenjar yang dipakai saat kita beraktivitas.

Rasa cemas dan perasaan tertekan akan merangsang kelenjar di ketiak, selangkangan, kulit kepala, telapak tangan dan kaki. Berbeda dengan keringat asin yang membasahi tubuh ketika suhu tubuh perlu diturunkan, keringat saat kita sedang stres mengandung lemak yang merupakan makanan bakteri.

Keringat pada dasarnya tidak berbau, tapi bakteri di kulit dan pakaian berkembang biak, mulailah terjadi proses pembusukan sehingga timbul bau tak sedap.

Solusinya? Biasakan menjalani segala sesuatu dengan rileks. Selain itu, kurangi jumlah bakteri di tubuh dengan mandi secara teratur dan menggunakan pakaian bersih. Gunakan deodoran anti bakteri yang tidak cuma menghilangkan bau tapi juga membuat kulit lebih asam sehingga tidak disukai bakteri.







Ternyata Tertawa Itu Bisa Menular


Jika melihat orang tertawa atau membaca suatu cerita yang mendeskripsikan tentang tertawa, tanpa disadari seseorang akan ikut tersenyum atau tertawa. Jikamenguap bisa menular, tertawa bisa menular.
Berdasarkan sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tertawa memang benar-benar bisa menular. Otak akan merespons suara tawa dan menghubungkan otot-otot wajah sebagai persiapan untuk bergabung dengan ekspresi kegembiraan tersebut.

“Hasil ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah benar, yaitu tertawalah maka seluruh dunia akan ikut tertawa bersama dengan Anda,” ujar Sophie Scott, seorang ilmuwan syaraf di University College London, seperti dikutip dari MSNBC.



Lebih lanjut Scott menuturkan sejak beberapa waktu lalu, peneliti telah mengetahui ketika seseorang berbicara dengan orang lain, maka hal tersebut sering menjadi cermin perilakunya.

Tanpa disadari seserang akan menyalin kata-kata yang didengar dan menirukan gerak tubuh orang lain. Sepertinya hal ini juga berlaku untuk kondisi tertawa, setidaknya pada tingkat otak.

Scott dan rekan-rekan peneliti melakukan analisa serangkaian suara terhadap partisipan dan mengukur respons di otaknya dengan fMRI scanner. Beberapa suara seperti tertawa atau teriak kemenangan termasuk dalam suara positif, sedangkan suara menjerit atau muntah-muntah termasuk dalam suara negatif.

Semua suara ini akan memicu respons di daerah premotor kortikal di otak yang menyiapkan otot di wajah untuk bergerak sesuai dengan suara yang didengar.

“Respons akan jauh lebih tinggi dan lebih menular terhadap suara positif daripada suara negatif. Hal inilah yang memaksa seseorang ikut tersenyum ketika melihat atau mendengar orang lain tertawa,” ungkap Scott.

Scott menambahkan timnya juga menguji gerakan otot wajah saat suara dimainkan, yang hasilnya orang cenderung tersenyum ketika mendengar suara tawa. Tapi tidak membuat wajah ikut tersedak ketika mendengar suara muntah. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh cenderung menghindari emosi dan suara negatif.

“Masyarakat biasanya menghadapi emosi positif seperti tertawa atau bersorak sorai dalam kondisi berkelompok, sehingga secara otomatis otak akan meresponsnya dengan ikut tertawa atau tersenyum. Hal ini juga sesuatu yang dapat membantu interaksi sosial dan membangun ikatan yang kuat antar individu,” ungkapnya.

Beberapa ilmuwan berpikir nenek moyang manusia mungkin tertawa lebih dulu dalam kelompoknya sebelum bisa berbicara, sehingga kemungkinan tertawa merupakan pelopor dari bahan.









Ternyata Ada Unsur Genetika dalam Depresi


Ternyata depresi dipengaruhi juga oleh faktor genetis. Hal ini memastikan bahwa kondisi tersebut dapat diturunkan.

Sekelompok ilmuwan peneliti di King’s College, London, Inggris, menyatakan keberhasilan mereka menemukan petunjuk menarik mengenai gen pemicu depresi. Temuan mereka berupa sebuah kromosom yang disebut 3p25-26. Kromosom ini mengandung lebih dari 40 gen, sebagian bisa jadi adalah penyebab timbulnya stres alias depresi. Sekarang pihak peneliti akan berusaha melacak dan mendapatkan si gen yang tepat agar dapat mengembangkan pengobatan yang lebih baik.

Dalam laporan yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry terbaru itu, dituliskan pula bahwa depresi bersifat menurun atau diwariskan dalam keluarga. Para penderita depresi memiliki variasi genetik sama di bagian yang sama dari DNA mereka dengan saudaranya.

“Pada sejumlah keluarga besar yang memiliki dua atau lebih anggota mengalami depresi, kami menemukan bukti kuat bahwa kromosom 3p25-26 sangat erat hubungannya dengan gangguan tersebut,” terang Gerome Breen, yang juga peneliti dari King’s College. Depresi sulit diobati, padahal depresi terbilang merupakan kondisi mental paling umum di dunia. Saat ini, perawatan dan pengobatan antidepresi tidak banyak efektif untuk menyembuhkan pasien depresi berat.








Tenyata Tidur Mempengaruhi Umur


Jadikan tidur nyenyak dengan durasi yang cukup menjadi agenda rutin Anda setiap malam agar panjang umur. Berbeda dengan penelitian lain, sebuah studi di AS menyebutkan wanita yang tidur antara 5-6,5 jam setiap malam lebih berpotensi untuk hidup panjang.

Menurut ilmuwan di University of California, San Diego, AS, tidur kurang dari lima jam setiap malam tidak disarankan untuk kesehatan jangka panjang. Sementara itu tidur 8 jam dianggap terlalu banyak.

Para peneliti menganalisa data 459 wanita yang dikumpulkan oleh para ilmuwan antara 1995 dan 1999. Setelah 14 tahun mereka melihat kembali apakah para wanita tersebut masih hidup dan sehat.

Meski masih memerlukan penelitian lanjutan untuk membenarkan hubungan antara tidur dengan usia, para peneliti menemukan bahwa tidur selama 5-6,5 jam saat malam hari sangat erat berhubungan dengan kelangsungan hidup yang baik.

Mengomentari penelitian yang dipublikasikan dalam Journal Sleep Medicine, Dr. Daniel Kripke menyatakan, jumlah waktu tidur secara konsisten berkaitan dengan usia harapan hidup. “Dalam penelitian ini terbukti mereka yang tidur sedikitnya 5 jam setiap malam akan bertahan hidup dalam periode 14 tahun kemudian,” katanya.

Sementara itu studi lain yang dilakukan tim peneliti Inggris dan Italia menyebutkan orang yang tidur kurang dari 6-8 jam per hari lebih beresiko mengalami kematian dini. Tim riset meneliti hubungan antara waktu tidur dan tingkat kematian di Inggris, Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur. Menurut mereka, berbagai penyebab kematian dini sebenarnya bersumber pada kekurangan waktu tidur atau terlalu lama tidur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar