Selasa, 28 Februari 2012

GAYA HIDUP MUSLIM

Nikmati Berislam, Bukan Mendiskusikannya


SUNGGUH banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah panggung kehidupan ini. Silih bergantinya waktu dari jam ke hari, memberi pendidikan kepada manusia, agar mereka bisa melangkah dengan bijaksana, hati-hati dan penuh kendali. Supaya manusia bisa memilih jalan mana yang mengantarnya kepada keselamatan, dan mana jalan yang menyesatkan. Mereka yang bisa memetik setiap 'kisah hidup', mengambil yang baik, dan menepis yang buruk akan menjadi orang yang memiliki nilai, memiliki arti sebagai manusia yang hakiki. Identitasnya sebagai manusia akan jelas dengan nilai-nilai yang membedakan dari makluk Tuhan lainnya.

Pada intinya, kehidupan ini adalah suatu perjalanan untuk mewujudkan dan menegakkan nilai-nilai itu. Sebagai orang yang beriman,kaum muslimin, nilai-nilai yang ingin kita tegakkan adalah nilai kebenaran yang termaktub di dalam kitab suci al-Quran dan sunnah Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Nilai itu tumbuh sebagai buah dari keimanan. Ibadah yang kita pupuk setiap hari akan menghasilkan buah keimanan itu.

Bila amal ibadah yang kita lakukan selama ini belum menghasilkan buah iman berarti ada yang perlu dibenahi dan diteliti ulang. Mengapa ibadah menjadi mandul. Mengapa komunikasi dengan Tuhan tidak membuahkan manfaat? Sekali lagi mungkin masih ada yang keliru.

Iman yang benar akan melahirkan dan memunculkan kekuatan. Dan kekuatan yang dimunculkan oleh jiwa yang beriman tidak lain adalah kekuatan kebenaran. Kekuatan ini adalah kekatan yang paling besar nilainya. Mulia. Maka, bagi siapa yang bersama-sama dengannya maka iapun akan menjadi mulia dan terangkat derajatnya. Kekuatan kebenaran ini sifatnya kekal dan tidak mudah rapuh oleh berbagai terpaan kehidupan itu sendiri. Ia tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.

Yang akan rapuh adalah sang pembawa kebenaran itu sendiri. Para ustazd, para kiai, para ulama. Jasad-jasad mereka sirna ditelan bumi. Sedangkan kebenaran sebagai sesuatu yang bersifat hakiki al hakku mirrabikum, sebagai sesuatu yang berasal dari Tuhan yang Maha Mulia, keberadaannya tetap ada dan langgeng.

Allah berfirman dalam Surat Yunus:32


فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?.”

Dua Kecenderungan

Kebenaran yang hakiki tidak mau kompromi dengan kejahatan. Keduanya ada jarak, ada pembeda (furqon). Masing-masing memiliki kecenderungan sendiri-sendiri. Kecenderungan yang di bawa oleh kebenaran adalah kebaikan, kemaslahatan, kemuliaan, keindahan dan kemajuan. Sedang kecenderungan yang dimiliki oleh kejahatan adalah keburukan, kedurjanaan, kerusakan, kehinaan, kejelekan dan kemerosotan. Masing-masing sifat itu saling bertolak belakang dan bertentangan satu sama lain.

Para pembawa risalah tidak usah gegabah dengan menempati ruang pada satu sisi, kemudian mengambil posisi lain, pada waktu yang lain. Kita tidak perlu tampil dengan dua wajah. Apapun alasannya; seperti menyesuaikan kondisi zaman, biar fleksibel, supaya lebih dinamis dan sebagainya.

Mencampur adukan antara yang hak dengan yang batil hanya membuat “derajat” kebatilan semakin terangkat. Ibarat secawan susu yang ternoda oleh setetas nila. Nilai kebenaran justru tertimbun oleh pengaruh buruk kebatilan tersebut.

Terpeleset arti 'toleransi'

Manusia sering mudah tergelincir oleh sebuah kata yang sederhana: toleransi. Toleransi sering menyeret orang bersikap longgar terhadap hukum-hukum yang telah Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) tetapkan. Biasanya 'makhluk' tolerensi memiliki segudang argumentasi untuk melegalisir sikap yang semula tegas menjadi samar, halal menjadi haram, boleh menjadi tidak atau sebaliknya. Karena lebarnya toleransi inilah, sering kita saksikan rontoknya kegiatan dakwah para da’i, muballigh, kiai, para pemimpin yayasan-yayasan Islam, tokoh Islam ke dalam jurang kehancuran.

Hukum hijab yang semula ketat menjadi longgar, bersalaman dengan wanita yang bukan mahram yang selama ini bagian perbuatan yang dicaci makinya habis-bahisan, menjadi biasa dilakukan. Perintah memelihara anak yatim dan memuliakannya bergesar menjadi sebaliknya, menyia-nyiakan dan menelantarkannya. Silaturrahmi yang semula digencarkan menjadi menipis, semakin menipis dan akhirnya hilang sama sekali.

Membaca al-Qur’an, menegakkan qiyamul lail, memberi perhatian khusus terhadap kaum dhuafa sudah semakin jauh dari jadual. Padahal hal-hal tersebut termasuk kategori perhatian yang sangat utama dulu-dulunya.

Ada banyak alasan yang bisa dikemukakan. Semuanya rasional dan bisa diterima dalam kerangka berpikir logika. Diantaranya adalah efisiensi dan efektifitas waktu, mengapa harus di tuntun-tuntun bukankah semua seduah dewasa?

Tapi berbarengan dengan itu sebenarnya telah semakin menjauh dari rel cita-cita. Setiap langkah program yang dilakukan tidak malah menghasilkan kekuatan akan tetapi malah menukik ke jurang kehancuran.

Gedung dibangun, organisasi diperbesar, personil diperlebar dan disebar ke berbagai pusat kekuasaan agar langkah-langkah tersebut dapat mendongkrak menuju ke cita-cita dengan lebih cepat. Tapi pada kenyataannya? Yang muncul adalah kekeringan jiwa, kegersangan ruhani.

Islam dan segala kemuliaannya hanya tinggal pada slogan-slogan. Keasyikan merasakan tambahan derajat ketika mengamalkan satu demi satu ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) berganti dengan kepuasan dan kebahagiaan semu yang diperoleh dari target-target bendawi.

Ayat berubah menjadi alat, anak yatim menjadi batu loncatan penyelamat mencari harta dan keuntungan, silaturrahmi yang semula dipenuhi jiwa ketulusan sudah mulai ada target untung rugi, demikian juga dengan membaca al-Qur’an dan qiyamul lail (shalat malam), akan dilakukan bila semua itu menguntungkan. Kalau tidak sebaiknya ditangguhkan dengan berbagai macam tinjauan.

Akhirnya syetan benar-benar masuk dan mengobrak abrik semua harapan dan cita-cita.Kekuatan dan pamor yang dimiliki dan selalu dibangun sekian lama runtuh dan rontok oleh karena kelonggaran yang direkayasa oleh syetan laknatullah alaihi tersebut. Syetan telah bekerja dengan ekstra halusnya pada kelompok yang merasa dirinya sebagai bagian dari yang ingin berjuang dan berjihad fii sabilillah.

Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) mengisyaratkan kehidupan mereka sebagai kelompok manusia yang hidupnya sia-sia. Allah berfirman;

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. 18:104)

Alasan toleransi telah menjadikan manusia kehilangan apinya Islam, roh Islam dan kekuatan besar yang terkandung dalam jiwa iman. Fungsi kontrol(amar makruf nahi munkar) menjadi lenyap. Akhirnya hilanglah kekuatan. Benteng pertahanan menjadi lemah. Jiwa jihad menjadi kendor bagai kekurangan darah.

Lebih terpuruk bila toleransi atau kelonggaran-kelonggaran itu telah begitu jauhnya. Sehingga tanpa disadarinya telah berbelok dari misi suci, bermesra-mesraan dan berdampingan dengan kebatilan, kemungkaran dan bergandengan dengan penguasaQjuga yang selama ini menjadi ajang gunjingannya sebagai agen kezhaliman dan penindasan. Kelonggaran-kelonggaran terhadap hukum Allah terus menyeret para penegak kebenaran tenggelam bersama mereka yang selama ini memusuhinya. Mengapa terjadi? Karena telah terjadi pergeseran nilai itu.

Islam dan ajarannya tidak lagi dinikmati secara penuh. Wahyu dan nilai-nilai yang mengandung kekuatan doktrin Ilahi tidak lagi menggerakkan jiwa raganya untuk tampil menghadapi kehidupan, dengan semangat jiwa Islam. Bahkan Islam yang Indah, hanya hanya diperindah lewat kata-kata, cerita-cerita dan aneka diskusi yang tiada bertepi di meja makan. Yang akhirnya nilai Islam makin melebar keluar dari substansi yang sesungguhnya. Budaya silaturahmi tak akan berarti jika hanya ditulis dan diskusikan. Nikmatnya hanya benar-benar terasa indah, jika dipraktikkan. Saling berkunjung kepada saudara, tetangga dan sahabat. Saling memberi hadiah, cepat datang ketika ada saudara, tetangga dan sahabatnya yang sakit adalah nilai-nilai Islam yang hanya indah dan terasa jika dipraktikkan.

Taat pada suami, sayang dan perhatian kepada istri, baik melalui perkataan dan perbuatan juga hanya terasa indah dan nikmat jika dipraktikkan. Bukan diwacanakan layaknya kaum feminis dan orang Barat yang tidak suka kehadiran agama. Begitu juga syariat Islam yang diperintahkan kepada kita. Semua syariat seolah hanya akan membelengu kita, jika perintah-perintah itu tidak segera kita rasakan dahulu. Mari berkhusnudzon kepada Allah Subhanahu Wata’ala, lalu rasakan mengapa Allah memerintahkan semua aturan ini kepada kita. Dengan begitu, nikmat berislam ini baru akan terasa maknanya.

Nah, tak ada salahnya kika kita memulai merasakan nikmat Islam secara sesungguhnya








Jadikan Rumah Tangga Kita sebagai “Baiti Jannati”


DALAM kehidupan setiap manusia ada detik-detik yang sangat berkesan di hati, tidak mudah dihapus dari ingatan sepanjang hayat. Di antaranya adalah aqad nikah. Oleh karena itu Nabi kita Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), selalu membaca khutbah hajah pada suasana seperti ini. Bahkan suasana aqad nikah ini diperkenankan untuk diisi dengan suasana yang semarak, seperti memukul rebana atau diperdengarkan nasyid-nasyid (nyanyian) yang menggema. “Mahasuci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan.”

Memang mengucapkan ijab qabul sangat ringan di lidah, namun pada hakikatnya sangat berat dalam timbangan. Ucapan ijab qabul adalah ikrar, janji setia antara suami dan istri untuk membangun rumah tangga (usrah). Begitu pentingnya istilah ini sehingga Allah menggunakan istilah `miitsaqan gholiidhan' artinya perjanjian yang kuat, kokoh dan teguh.

Dalam al-Qur'an ada tiga katagori yang menerangkan istilah tersebut. Pertama, perjanjian antara Allah dengan Rasul. Kedua, perjanjian Allah dengan satu ummat. Dan ketiga, perjanjian antara seorang suami dengan istri. Adanya istilah dalam ketiga perjanjian tersebut menunjukkan bahwa aqad nikah adalah ikrar yang sakral dan suci.

Oleh karena itu Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) berpesan kepada para suami: “Takutlah kepada Allah dalam persoalan wanita. Karena susungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang berada di bawah kekuasaan kamu, dan kamu ambil mereka itu dengan amanah Allah dan kamu dihalalkan menggauli mereka berdasarkan kalimat Allah.”

Dari hadits tersebut dijelaskan bahwa pernikahan bukan sekadar memenuhi dorongan (kebutuhan) biologis, tetapi melaksanakan amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhir zaman.

Hak dan kewajiban suami-istri

Agar sukses dalam memikul amanah tersebut, suami istri mempunyai hak dan kawajiban yang harus dilaksanakan secara seimbang. Setiap suami mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh istri, sebab itu kewajiban istri. Dan setiap istri mempunyai hak, dan hak ini harus dipenuhi oleh suami dan itu kewajiban suami.

Menjadi suami yang baik memiliki posisi tersendiri (khusus) di hadapan Allah. Sehingga perbuatan yang kecil, remeh lagi sepele yang diberikan kepada istrinya dengan tulus ikhlas, akan diganjar oleh Allah. “Sesungguhnya seorang suami bila memberi minum air kepada istrinya diberi pahala.”

Kalau hanya seteguk air saja yang diberikan kepada istri dijamin oleh Allah dengan pahala, maka bisa dibayangkan bagaimana besarnya pahala atas pemberian-pemberian lainnya yang jauh lebih berharga daripada air.

Oleh karena itu jadilah suami teladan. Jangan sekali-kali menjadi suami yang mudah menyia-nyiakan istri. “Cukuplah berdosa bagi seorang yang menyia-nyiakan istrinya,” sabda Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Bahkan tingkat keshalihan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik. Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang buruk. "Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah.” (al-Hadits).

“Sebaik-baik kamu (suami ) adalah yang paling baik kepada istrinya dan aku adalah yang paling baik kepada istriku,” demikian sabda Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Sebaliknya, juga istri harus berupaya menjadi istri teladan, yang mampu tampil sebagai pendidik, istri, sekaligus ibu.

Pernah Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)bertanya kepada seorang wanita tentang sikapnya terhadap suaminya. Wanita tersebut menjawab, “Segala sesuatu yang sanggup aku kerjakan bagi suamiku, aku lakukan, kecuali apa-apa yang tidak sanggup aku lakukan.”

Mendengar jawaban tersebut Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)bersabda, “Masukmu ke dalam surga atau neraka itu bergantung sikapmu terhadap suamimu.”

Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. “Bilamana seorang wanita melakukan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan serta menjaga kehormatan dan mentaati suaminya, maka dia berhak masuk surga dari pintu manapun yang engkau kehendaki.” [HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Demikian pentingnya unsur ketaatan istri kepada suami sehingga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka.”

Bahkan Rasulullah menjelaskan bahwa derajat wanita sangat ditentukan oleh perlakuannya terhadap suaminya. “Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu.”

Tentu, ajaran mulia seperti ini tak akan masuk pada hati para pendengki dan yang hatinya masih dipenuhi sakwa sangka kepada pencipta alam semesta, Allah Azza Wa Jalla. Tanpa iman, ajaran mulia seperti ini hanya akan dianggap "penindasan atau diskriminasi jender.

Sakinah, mawaddah, dan rahmah

Rumah tangga dalam Islam adalah `tempat berteduh', tempat terwujudnya suasana sakinah (tenteram) yang disempurnakan dalam mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih-sayang). Sebagaimana yang disabdakan Rasululah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)`baitii jannatii', rumahku adalah surgaku.

Suasana sakinah, mawaddah, dan rahmah inilah yang sangat dibutuhkan oleh setiap bayi yang lahir sebagai buah dari perkawinannya.

Anak yang dibesarkan dalam usrah yang tenteram, diliputi oleh rasa kasih sayang, pasti akan menjadi anak yang tumbuh normal, dewasa, dan matan kepribadiannya.

Sebaliknya bayi yang lahir dari kegelisahan, kebencian, dan kekejaman dalam rumah tangga kelak akan menjadi anak-anak yang membalas dendam kepada masyarakat di mana dia hidup. Akan fatal akibatnya apabila seorang ibu sibuk di luar rumah dan melupakan tugas memberikan sentuhan kasih sayang secara optimal kepada anaknya.

Anak yang merasakan sentuhan kasih sayang sejak dini akan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Sebaliknya, anak yang kehilangan kasih sayang sejak kecil akan menjadi anak yang rendah diri, minder, dan sulit menyayangi orang lain. Ia akan protes melihat kenyataan hidup yang dihadapi.

Oleh karena itu, menjadi tugas kita, utamanya para ibu untuk kembali ke rumah. Rawatlah anak-anakmu dengan penuh kasih sayang dan tanamkanlah nilai-nilai keislaman kepada putra-putri Anda. Bentengilah mereka dari hal-hal yang dapat merusak masa depan mereka.

Begitupun kepada kaum bapak. Janganlah kesibukan Anda mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Sebab Allah mentakdirkan kaum lelaki sebagai pemimpin keluarga.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” [QS. An Nisa’:34].

Ayat di atas menunjukkan kepada kita semua, betapa berat tanggungjawab kaum pria. Selain mencarikan nafkah, melindungi, mengontrol, mengawasi pendidikan (akhlaq) anak istri di rumah, agar mereka senantiasa mematuhi perintah Allah dan terbebas dari siksa api neraka. Tugas utama pemimpin keluarga yang kelak akan dipertanggungjawabkan di akherat adalah menjaga keluarganya dari api neraka).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At Tahrim: 6]

Semoga Alla Subhanahu Wata’ala menjadikan rumah dan keluarga kita menjadi kita “baiti jannati”, rumah-rumah ibarat surga, yang dikelilingi kasih dan sayang, suami-istri dan anak-anak yang sholeh dan sholehah dan senantiasa mengagungkan “asma” Allah. Tak kalah penting, mudah-mudahan semua keturunan kita terhindar dari api neraka dan agar keharmonisan tetap terjaga selamanya.*







Selalu Berikhtiar dan Memilih Jalan yang Baik-baik


BILA berhadapan dengan orang yang hidup berkekurangan, diantara saran yang sering kita berikan adalah agar ia tidak berhenti berikhtiar memenuhi kebutuhannya. Bila ada orang yang melamar pekerjaan namun tidak kunjung lolos seleksi, kita juga mengatakan kepadanya agar tidak putus asa dalam berikhitiar. Bila ada lajang cukup umur yang belum juga menemukan pasangan hidupnya, lagi-lagi kita menyarankannya untuk terus berikhtiar.

Sungguh, betapa banyak hal yang bisa dilabuhkan kepada saran ini: mulai dari sakit ringan sampai yang mengancam jiwa, sulit mendapat sesuap nasi sampai sulit mendapat keturunan, dimusuhi teman sekantor sampai saudara kandung, dan seterusnya. Tetapi, apakah ikhtiar itu?

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefiniskan “ikhtiar” sebagai alat, syarat untuk mencapai maksud; daya upaya; mencari daya upaya; pilihan (pertimbangan, kehendak, pendapat, dsb).

Dalam penggunaan umum, ikhtiar adalah usaha, atau sebentuk aktifitas yang diharapkan menjadi solusi atas persoalan yang tengah membelit.

Pengertian ini tidak sepenuhnya keliru, namun mengandung masalah serius. Sebab, pada dasarnya ikhtiar adalah istilah keagamaan yang baku. Ia memiliki pengertian dan klasifikasi tersendiri atas persoalan-persoalan yang bisa dicakup di dalamnya. Memahami ikhtiar seharusnya dikembalikan kepada makna Islaminya, sehingga segala sesuatu menjadi jelas dan memiliki nilai ibadah.

Sebagai ilustrasi, seorang wanita tuna susila di kompleks pelacuran mungkin bisa mengatakan bahwa ia menjual diri sebagai ikhtiar memenuhi kebutuhan hidup, membiayai sekolah anaknya, menyewa tempat tinggal, dan aneka alasan lain. Seorang pencuri bisa saja berdalih ia mengambil harta orang lain sebagai ikhtiar. Seorang lajang bisa juga menyatakan pacaran adalah ikhtiarnya untuk mencari jodoh. Orang miskin juga beralasan sama bahwa membeli kupon togel sebagai ikhtiar mengatasi belitan kebutuhan, toh siapa tahu beruntung dan nomernya tembus. Bahkan, uang suap bisa dianggap sah dalam seleksi pegawai, siswa/mahasiswa baru, karena dianggap bagian dari ikhtiar.

Apakah hal-hal seperti itu dapat diterima sebagai bagian dari “ikhtiar”?

Ikhtiar – dalam bahasa Arab – berakar dari kata khair, yang artinya baik. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan.

Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum. Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “memilih yang baik-baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Ikhtiar bukan sekadar usaha yang bebas dipilih dan ditentukan sendiri, namun ia adalah bagian dari upaya sangat serius untuk memperoleh kepastian spiritual dalam segala pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Tidaklah seseorang itu mencuri, pada saat mencuri itu ia dapat disebut mukmin. Tidaklah seseorang itu berzina, pada saat berzina itu ia dapat disebut mukmin. Tidaklah seseorang itu minum khamr, pada saat minum khamr itu ia dapat disebut mukmin. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari kalian merampas sesuatu yang berharga dimana mata kaum muslimin berselera kepadanya, pada saat merampas itu ia dapat disebut mukmin. Dan, tidaklah salah seorang dari kalian mengambil harta ghanimah sebelum resmi dibagikan, pada saat mengambilnya itu ia dapat disebut mukmin.” (Hadits riwayat Ahmad. Sanadnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim).

Pada saat seseorang berzina, mencuri, berjudi, mabuk, menyuap, dan sederetan maksiat yang lain, walaupun alasan-alasannya sekilas dapat dibenarkan dan seringkali mengundang simpati, pada kenyataannya ia bukan bagian dari ikhtiar. Sebab, ikhtiar adalah ibadah, dan pelakunya mendapatkan pahala dari Allah. Sementara berzina, mencuri, mengonsumsi miras, berjudi, menyuap dan lain-lain adalah kemaksiatan. Adakah kemaksiatan yang diizinkan oleh Allah dan bahkan diberi-Nya pahala?

Maka, sesungguhnya ikhtiar bukan hanya usaha, atau semata-mata upaya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah membelit. Ikhtiar adalah konsep Islam dalam cara berpikir dan mengatasi permasalahan. Dalam ikhtiar terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan – pertama-tama – apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya dan meskipun tidak populer atau terasa berat.

Larangan berputus asa

Allah telah mencontohkan kisah Nabi Ya’qub dalam Al-Qur’an sebagai contoh nyata pelajaran orang-orang yang ditimpa kesusahan dan larangan berputus asa.

Nabi Ya'kub yang terus berdo'a dan berharap pada Tuhannya setiap saat agar tidak termasuk orang-orang yang berputus asa, karena berputus asa pada kebaikan Tuhan adalah sifat-sifat orang yang kafir.

Kisah itu digambarkan oleh Allah SUbhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an surah Yusuf (12) ayat 87.


يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

”Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS: Yusuf: 87)

Mencari pekerjaan memang sulit, tetapi menyuap untuk melicinkan jatah kursi bukan pilihan yang baik. Meredakan ketegangan akibat stres adalah alami dan wajar, namun melakukannya dengan menenggak miras atau narkoba bukan pilihan yang baik. Bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup adalah kelaziman, namun menjual diri dan mencuri bukan pilihan yang baik. Jodoh pun tidak bisa datang dengan sendirinya, namun mencarinya dengan berasyik-masyuk dalam pacaran adalah kemaksiatan yang dibenci Allah. Uang juga tidak turun dari langit, akan tetapi berjudi dengan cara apapun sama saja haramnya. Terjerat kemiskinan atau mengidap penyakit tidak pernah menjadi sesuatu yang nyaman dan indah, namun mendatangi dukun dan meminta jampi-jampi adalah jalan syetan.

Tak ada cara lain, mari kita palingkan semua pada Islam. Berikhtiarlah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita, yakni: dengan memilih jalan-jalan keluar yang baik-baik dan yang diridhoi Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎).







Tatalah Hidupmu untuk Bahagiamu

HAMPIR setiap Muslim menginginkan kebahagiaan. Namun belum semua Muslim mengerti apa itu kebahagiaan dan bagaimana cara meraihnya. Beruntunglah anda yang diberikan pemahaman yang mendalam tentang kebahagiaan lalu berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkannya.

Seorang Muslim yang mengerti apa itu kebahagiaan dan sekaligus memahami strategi untuk meraih kebahagiaan, dirinya akan berusaha semaksimal mungkin menata hidupnya dengan baik. Jadi tidak ada waktu yang akan dilalui tanpa rencana dan tidak ada aktivitas tanpa tujuan.

Bahkan boleh dikatakan semua yang dilakukan itu adalah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan mulia, besar, dan tentunya pasti bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Meskipun kadangkala tujuan tersebut harus ditempuh dengan memberikan pengorbanan dan kepayahan yang luar biasa.

Kebahagiaan itu tiada lain adalah tertanamnya kecintaan yang mendalam kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎), sehingga segala hal yang dilakukannya dalam hal dunia sekalipun semata-mata ia dedikasikan kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) bukan yang lain. Hal itu mampu dilakukan karena keyakinan yang sangat kuat kepada Allah (ma’rifatullah).

Mereka inilah yang dalam al-Qur’an disebut dengan orang-orang yang yakin kepada Allah dan suatu saat pasti akan bertemu dengan-Nya,

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Orang orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka."(QS. 2: 46).

Seorang Muslim akan mampu sampai pada derajat mencintai Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) manakala dirinya telah berhasil menata hidupnya dengan menundukkan hawa nafsu dirinya dalam kepemimpinan wahyu (Al-Qur’an).

Orang yang seperti itu akan selamat dan bahagia dalam kondisi apapun. Sebab dunia dan isinya sama sekali tak memberikan satu ruang untuk bergesernya kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎).

Bila dia orang kaya maka dia akan menjadi pembela agama Allah dengan harta benda yang dimilikinya, itulah Abdurrahman bin Auf. Bila dia seorang intelektual maka dia akan kerahkan seluruh kemampuannya untuk kemurnian ajaran Islam, itulah Imam Bukhori yang rela berjalan ribuan kilo untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Bila dia orang miskin maka ia akan tetap istiqomah dan gigih dalam bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, itulah Ali bin Abi Thalib, yang pernah menjadi pengangkut air untuk orang Yahudi. Singkatnya, orang yang mengerti kebahagiaan dan mau meraihnya pasti mereka akan mampu bertahan dalam kondisi apapun demi kebahagiaan hakiki itu.

“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. 58: 22).

Dalam ayat yang lain Allah tegaskan bahwa;

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Para kekasih Allah, tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak (pula) mereka berduka cita.” (QS. 10: 62).

Kemampuan bertahan dalam derita itulah yang kini mulai sedikit dari sebagian umat Islam yang mampu melaluinya dengan baik. Apalagi dengan adanya tantangan berupa banyaknya hiburan, tontonan, menjadikan sebagian dari mereka kini kian asyk dengan hura-hura, santai ria, dan foya-foya. Padahal semua itu hanyalah kesenangan yang semu dan menipu.

Menata Hari

Sebagai Muslim kadangkala kita lalai mengisi hari-hari kita dengan perencanaan yang baik. Siang malam sering kali dilalui tanpa amal sholeh. Bahkan di antaranya asyk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal rasulullah saw memberikan satu penegasan kuat bahwa salah satu ciri sempurnanya iman seorang Muslim ialah meninggalkan hal-hal yang tidak memberi manfaat.

"Termasuk dari kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat." (HR At-Tirmidzi).

Jadi, setiap Muslim hendaknya mampu untuk meninggalkan hal yang tidak diperlukan, baik dari pikiran, perkataan dan perbuatan, dan dia hanya berkonsentrasi dalam melakukan hal-hal yang dia perlukan dari perkataan dan perbuatan yang dapat memberi manfaat baik bagi dirinya maupun orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa kita mesti menata hidup kita agar terbebas dari kesia-siaan. Kebutuhan akan penataan hidup dengan mengelola waktu secara baik mulai terasa sangat mendesak, utamanya jika melihat situasi kini dimana hampir semua orang hidup dengan kesibukan yang panjang.

Padahal kesibukan kerja tidak seharusnya membuat kita lalai terhadap perintah agama, sehingga kita sering abai terhadap ruhani kita sendiri. Oleh karena itu kita perlu menata hari-hari kita dengan baik. Bahkan harus ada dalam perencanaan harian kita untuk selalu membaca Al-Qur’an, sholat berjamaah, bersedekah, bersilaturrahim, dan amal sholeh lainnya.

Seorang Muslim, sebagai apapun dia, wajib menata hidupnya dengan baik, demi untuk mendapatkan keridhoan Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎). Bahkan kondisi sulit dalam kehidupan dunia ini tidak boleh membuat kita berpikir instan dalam mendapatkan keuntungan, apalagi sampai menegasikan aturan halal-haram.

Sebab kebahagiaan sejati itu bukanlah dunia tapi akhirat. Oleh karena itu, persiapkanlah diri kita (tatalah hidup kita) untuk meraihnya.

Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok; bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah mengawasi apa saja yang kalian lakukan.” (QS. 59: 18).

Perencanaan seperti harus ada dalam agenda harian setiap Muslim. Jangan mau kalah dengan para artis, pejabat, atau pencinta sepak bola yang selalu punya agenda nonton pertandingan sepak bola meskipun tengah malam berulangkali dalam sepekan.
Jika setiap Muslim memiliki perencanaan harian seperti itu, insya Allah kedepan akan lahir Muslim-Muslim yang berkarakter unggul, disiplin, teliti, cerdas dan insya Allah akan selalu berhasil dalam segala urusan.

Sebaliknya jika Muslim-Muslim hari ini serba asal-asalan, baik dalam bekerja maupun ibadah maka keterpurukanlah yang akan dialami oleh umat Islam.

Belajar Pada Pekerja Kasar

Suatu saat Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) yang baru pulang dari peperangan. Ketika tiba di Madinah, beliau disambut banyak orang. Begitu beliau datang, ada seorang penjual air yang mendekati Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) hendak mencium tangan beliau. Akan tetapi, Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tidak mau menerimanya, sebaliknya beliau mengambil tangan penjual air itu untuk dicium.Ketika bersentuhan tangan dengan orang itu, Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) merasakan tangannya kasar sekali. Lalu, Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bertanya, "Kenapa tanganmu kasar sekali?"
Orang itu menjawab, "Yaa Rasulullah, kerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah kepada keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar."

Apa yang dilakukan Nabi yang agung itu? Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) adalah manusia yang paling mulia, jauh lebih mulia daripada siapapun, tetapi orang yang paling mulia itu begitu melihat tangan yang kasar karena mencari nafkah yang halal, menggenggam tangan itu, dan menciumnya.

Saat Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) hendak mencium tangan itu, beliau berkata, "Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada", 'inilah tangan yang tak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya'.

Bayangkan jika orang yang dicium tangannya itu adalah anda? Tapi mampukah kita bertahan sebagaimana orang yang bekerja keras itu?

Hanya keyakinan yang kuat yang diderivasikan dalam bentuk penataan hidup dengan baiklah yang akan mengantarkan kita pada derajat mulia, sebagaimana penjual air yang tangannya dicium oleh Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Jadi tidak semestinya kita hidup santai-santai, asal-asalan. Mulailah menata diri dengan sebaik-baiknya. Sebab mereka yang menata hidupnya dengan baik saja belum tentu berhasil. Apalagi yang tidak pernah menata hidupnya. Wallahu a’lam.*







Mari Berlindung dari Lima Perkara

UMAR bin Khattab pernah berkhutbah dalam suatu kesempatan di musim haji. Beliau berkata, “Wahai manusia, ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa meminta perlindungan dari lima perkara. (Beliau berdoa): ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan kelemahan hati. Aku berlindung kepada-Mu dari usia yang buruk. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah isi hati. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (Riwayat Ibnu Hibban. Hadits shahih, ‘ala syarthi muslim).

Hadits di atas sebenarnya juga diriwayatkan oleh banyak imam yang lain, seperti Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad, dengan derajat berbeda-beda sehingga saling menguatkan satu sama lain. Oleh karenanya, sangatlah menarik untuk dipahami apa hakikat di baliknya. Dalam hadits ini, beliau mengajari kita bagaimana caranya memohon perlindungan kepada Allah, juga merinci lima persoalan penting yang harus kita perhatikan.

Pertanyaannya, mengapa Rasulullah sampai secara khusus memohon kepada Allah SUbhanahu Wata’ala agar dijauhkan darinya, padahal masih banyak hal-hal lain yang juga tidak kalah buruknya?

Imam al-Manawi menjelaskan makna hadits diatas dalam “Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir”.

Pertama, yang dimaksud dengan “kebakhilan” adalah ketidaksediaan seseorang untuk membagi kelebihan yang dimilikinya kepada orang lain, terlebih-lebih lagi kepada orang yang membutuhkan. Ia lebih suka untuk menumpuk dan menimbunnya sendiri.

Sungguh benar. Kebakhilan adalah penyakit yang sangat membahayakan masyarakat. Dewasa ini, kapitalisme menguasai dunia, dan secara terbuka mengajarkan penumpukan harta, egoisme, serta keengganan untuk berbagi. Seringkali, yang diajarkan adalah: “Jika bisa saya ambil semua, maka buat apa saya sisakan untuk orang lain?” Inilah yang melatari nafsu-nafsu monopoli, korupsi, suap, konglomerasi, dan kemewahan. Karena kebakhilan segelintir orang, maka kemiskinan dan ketidakadilan merajalela. Sungguh, fenomena kemiskinan telah ada sejak masyarakat manusia terbentuk, namun tidak akan menjadi sepedih sekarang ini jika kaum kaya bersikap pemurah dan penguasa berbuat adil.

Kedua, yang dimaksud “kelemahan hati” adalah sifat pengecut, yakni ketidakberanian untuk melaksanakan apa yang seharusnya. Bentuk paling kritisnya ada di medan jihad, ketika seseorang melarikan diri dan mencari keamanan bagi dirinya sendiri.

Namun, ada banyak bentuk lebih rendah dari kepengecutan ini. Ketika seseorang membatalkan niat berjilbab semata-mata karena tidak berani menanggung komentar teman-temannya, maka inilah kepengecutan. Ketika sepasang muda-mudi lebih asyik berpacaran, semata-mata didorong oleh nafsu dan aneka ilusi ketakutan untuk menjalani pernikahan, maka inilah kepengecutan. Ketika pemimpin memutuskan kebijakan yang sebenarnya merugikan rakyat, semata-mata karena tekanan atau takut kehilangan kekuasaan, maka inilah kepengecutan.

Dewasa ini, sikap-sikap hati yang lemah telah mendorong banyak orang untuk sekedar mengikuti tren, bukan mencari jalan yang paling baik dan benar di mata Allah. Inilah pragmatisme, yakni menimbang sesuatu menurut keuntungan jangka pendek yang bisa diraih, dan tidak perlu memikirkan akibat-akibatnya.

Menurut Al-Qur’an, kelemahan ini pasti bermula dari ketiadaan iman kepada Hari Akhir. Al-Qur’an menyitir perilaku orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat yang selalu bertindak berdasar prasangka, tanpa ilmu, dan hanya mengekor nafsu duniawi. Memang, bisa jadi banyak orang yang secara lisan mengakui adanya akhirat, namun tindak-tanduknya samasekali tidak mencerminkan hal itu.

Allah mengecam kalangan ini dalam firman-Nya;

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dan diantara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir’, padahal sebenarnya mereka tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan kaum beriman, padahal mereka tidak menipu melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah semakin memperparah penyakitnya. Bagi mereka siksa yang pedih disebabkan kebohongan mereka.” (Qs. al-Baqarah: 8-10).

Ketiga, yang dimaksud “usia yang buruk” adalah ketiadaan berkah.

Tepatnya, usia yang sepi dari kebajikan dan justru diramaikan oleh penelantaran kewajiban. Istilah “usia” disini berarti tempo dan kesempatan yang diberikan Allah kepada masing-masing dari kita di dunia ini. Betapa banyak orang yang usianya sia-sia. Masa kecilnya dipenuhi permainan, masa remajanya pun dipakai main-main. Lalu, saat dewasa tidak dijalani dengan kehati-hatian dan kesungguhan. Banyak orang yang sanggup bermain Play Station sehari penuh, namun gagal untuk duduk tenang menegakkan shalat dan berdzikir. Tidak sedikit orang yang rela menabung untuk pergi rekreasi berkali-kali, namun samasekli tidak terpikir untuk naik haji. Terlalu banyak hal-hal melalaikan di dunia modern sekarang, dimana tidak ada seorang pun yang selamat darinya, kecuali yang dirahmati oleh Allah ta’ala.

Keempat, yang dimaksud “fitnah isi hati” adalah perasaan dan lintasan pikiran yang tidak terpuji, seperti dengki, dendam, dan akidah yang menyimpang.

Rasulullah Shallalallu ‘alaihi Wassalam menegaskan bahwa kebaikan seluruh diri kita tergantung kebaikan hati. Maka, memohon agar Allah Subhanahu Wata’ala selalu memperbaiki isi hati kita adalah permintaan yang tidak main-main. Berbagai hal – entah yang disadari atau tidak – pada dasarnya adalah cermin dari isi hati kita itu.

Kelima, beliau meminta perlindungan dari “siksa kubur”, entah yang manapun macamnya sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits. Menurut Imam al-Manawi, siksaan ini biasanya bermula dari kecerobohan dan kesembronoan dalam melaksanakan perintah Allah maupun menjauhi larangan-Nya. Mari kita hindari dari lima hal di atas. Wallahu a’lam.






Letakkan al-Qur’an di "Dada", agar Ilmu Kita Berkah

INDONESIA adalah sebuah Negeri luas yang dikenal memiliki begitu banyak memiliki kaum intelektual. Dengan jumlah lebih dari 200 juta penduduk, Indonesia jadi bansa yang menakutkan dan menggetarkan musuh-musuh. Hanya saja, faktanya, banyaknya penduduk dan banyaknya kaum intelektual, belum terbukti bisa menyelesaikan problematika persoalan yang ada. Menariknya, kita, termasuk bangsa yang hobi mengadopsi gaya hidup dan budaya lain. Tak maksimalnya kaum intelektual dan menyelesaikan berbagai persoalan, membuktikan ada sesuatu yang “tidak nyambung” di tubuh bangsa ini.

Banjirnya kaum intelektual dan ilmuwan, namun tak ada keberkahan di dalamnya. Akibatnya, kelebihan orang pintar itu tak melahirkan dampak maksimal. Akibatnya, banyak orang bergelar dan berijasah tinggi, namun dalam mengaplikasikan ilmunya tidak mencerdaskan hati dan pikiran banyak orang. Atau mungkin intelektual mereka sebatas gelar yang tertulis di atas ijasah, yang tidak didasari dengan kecerdasan hati dan fikiran. Boleh jadi, ini bagian dari akibat jauhnya kita semua dari al-Qur’ani dan petunjuk-Nya.

Allah swt berfirman dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 203, yang artinya:

وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِم بِآيَةٍ قَالُواْ لَوْلاَ اجْتَبَيْتَهَا قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يِوحَى إِلَيَّ مِن رَّبِّي هَـذَا بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur'an kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur'an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Sungguh sangatlah merugi jika seseorang hanya pandai akan urusan dunia yang begitu singkat kehidupannya, tanpa memahami adanya kehidupan di akhirat kelak. Sedangkan Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) telah menerangkan ayat-ayat-Nya supaya manusia memahami dunia dan akhiratnya. Target mempelajari Al Qur’an bukan hanya mampu membacanya dengan “super kilat”, namun kita harus mampu menjadikannya sebagai penjaga hati dan pemicu kecerdasan berpikir, serta mengimplementasikannya dalam aktivitas diri.

Mungkin kita sepakat jika sekarang ini banyak orang Islam sebagai pewaris Al Qur’an justru phobia pada syari’at Islam yang ada di dalam Al Qur’an itu sendiri. Dengan berjuta dalih, mereka memvonis syari’at Islam adalah aturan yang keras. Sebisa mungkin mereka menyembunyikan tuntunan Islam dibalik paham-paham sekulernya. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, maka Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.Na’uudzubillaahi mindzaalik…

Mencerdaskan Hati dan Pikiran

Membaca dan memahami Al Qur'an akan membawa seseorang pada jalan terang yang penuh ridho Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎). Karomahnya sebagai kitab suci akan dirasakan baik langsung ataupun tidak langsung bagi yang mengamalkannya. Banyak pelajar muslim yang giat dan istiqomah mengkaji Al Qur'an, berprestasi gemilang di sekolah atau lembaga pendidikan tempatnya belajar. Dan tak jarang cendekiawan muslim yang senantiasa berpedoman Al Qur'an, memiliki cara pandang konstruktif serta mampu menjadi rujukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi modern.

Diturunkannya kitab suci Al Qur'an kepada seluruh umat manusia adalah berkah bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Al Qur'an juga menyampaikan nikmat Allah swt karena menjadi petunjuk dan solusi atas segala macam problematika kehidupan ini.

Sehingga manusia terbebas dari zaman kebodohan yang penuh kesengsaraan dan kehinaan. Lagi-lagi ini hanya bagi mereka yang mau berfikir dan mengambil pelajarannya. Mari renungkan firman-Nya,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Yang artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Al Imran : 103).

Demikianlah secuil persepsi yang mungkin bisa menjadi bahan renungan kita bersama sebelum lebih jauh memahami pesan-pesan penting yang terkandung didalam Al Qur'an. Cobalah untuk membaca Al Qur'an disaat fajar menyingsing, karena waktu tersebut hati dan akal kita masih segar dan luang untuk menerima ilmu. Kemudian ulangi membacanya ketika senja meninggalkan langit di ufuk barat. Insya Allah kepenatan jiwa akibat rutinitas seharian akan refresh oleh syair-sayir Kalamullah yang menyejukkan Qalbu. Wallahu’alambishowab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar