Rabu, 11 Januari 2012

MOTIVASI ALA PAK MARIO

Godaan di Atas Segala Godaan



Seorang penyelundup yang sedang buron pergi menemui seorang bijak dan memintanya menyembunyikan barang-barang terlarang dalam rumahnya. Ia yakin berkat kesalehan orang bijak itu, tak seorangpun akan mencurigainya.

Orang bijak itu menolak dan meminta penyelundup itu segera keluar dari rumahnya. ”Saya akan memberikan 100 ribu dolar untuk kebaikan Anda, ” kata si penyelundup. Orang bijak itu agak ragu-ragu sebelum mengatakan ”Tidak.”

”200 ribu,” orang bijak itu tetap menolak. ”500 ribu,” orang bijak itu mengambil tongkat dan berteriak, ”Keluar sekarang juga! Kamu sudah sangat dekat dengan harga saya.”

Sebuah kesadaran yang tepat waktu! Orang bijak itu sadar begitu dirinya tergoda. Kesadaran ini sangat penting. Banyak orang yang tak sadar bahwa dirinya tergoda. Mereka baru sadar setelah segalanya terjadi. Kurangnya latihan seringkali menyebabkan kesadaran datang terlambat.

Semuanya bermuara pada satu kata kunci: UANG. Seorang bijak, Sophocles, pernah mengingatkan kita, ”Tak ada satu halpun di dunia ini yang paling meruntuhkan moral selain uang.” Memang benar, uang adalah alat penggoda terbesar di dunia. Bahkan berbeda dengan jenis penggoda lainnya seperti wanita dan tahta, tidak ada satupun orang di dunia yang tidak membutuhkan uang. Kita semua sibuk mencari uang agar dapat hidup dengan layak. Nah, karena kita memang mencarinya, sangat wajar kalau kita tergoda ketika ada orang yang menawarkan benda tersebut kepada kita.

Godaan terbesar uang adalah merubah pandangan hidup kita dari ”memiliki” menjadi ”dimiliki.” Kita memang perlu memiliki uang untuk menjalani hidup, tapi uang hanya berfungsi sebagai alat. Kitalah yang menjadi tuannya.

Celakanya, posisi ini sering kali bertukar karena godaan yang ditawarkan uang sangat kuat. Akhirnya kitalah yang ”dimiliki” oleh uang. Tanda-tanda penyakit ini adalah kalau Anda mulai merasa takut kehilangan kedudukan Anda. Ini berarti Anda telah ”dimiliki” oleh uang. Ini akan menghilangkan kebebasan Anda dalam mengungkapkan kebenaran.

Banyak orang yang kaya tetapi tak bahagia dan selalu merasa kekurangan. Sebagai contoh, ada seorang kawan yang kaya mendadak dengan cara memperjual belikan kekuasaannya. Namun alih-alih merasa cukup, istrinya selalu mengeluhkan harga-harga dan biaya hidup yang mahal. Semakin banyak harta yang ia miliki semakin ia merasa kekurangan. Kawan ini juga sangat rentan terhadap stres. Hidupnya penuh dengan ketakutan terhadap perubahan apapun yang mungkin terjadi. Hidup seperti ini memang jauh dari keberkahan.

Uang memang bukanlah segalanya. Orang-orang bijak bahkan selalu mengingatkan kita bahwa yang penting dalam hidup adalah segala sesuatu yang tak dapat dibeli dengan uang: kebahagiaan, cinta, kesehatan, rasa damai dalam hati, rasa percaya dengan orang lain, dan kesadaran yang sempurna








Bersyukur Itu Indah

Bahan renungan

Ada pepatah Cina kuno mengatakan:

dengan MELIHAT, aku TAHU
dengan MENDENGAR, aku MENGERTI
dengan MENJALANI, aku PAHAM

Selalu bersyukur akan membuat kita bahagia.

Beberapa cerita berikut ini menggambarkannya…

Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir pribadinya, “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Si sopir menjawab,

“Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.” Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”.Supirnya menjawab, “Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan”.

Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.

Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.

Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya.

Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah menjadi “kaya” dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang “kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.

Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

Seorang pengarang pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang
Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak.

Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria karena masih bisa mempergunakan tangannya. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai mengucap syukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah adanya kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.

Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu.”

Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.”

Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya
masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan.

Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”…

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung dilaut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Sungguh temanku, rasa syukur itu memang sangat luuaar biasa dan teramat sangat indah dan membahagiakan hati








Mario Teguh Golden Ways 4 Oktober 2009: Saya + Tuhan = Cukup

Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 4 Oktober 2009, dengan Topik “Saya + Tuhan = Cukup”. Kalau kita berlaku kepada sesama, memberi bukan karena diminta-tapi karena mengerti, maka Tuhan akan memperlakukan kita dengan hal yang sama, memberi tanpa kita minta. Berikut adalah resume lengkap yang bisa kami catat:

Banyak orang menganggap cukup itu kurang dan harus lebih, padahal lebih itu harus mengurangi kalau kita tidak mengelolanya dengan baik.

Kali ini kita akan belajar bagaimana memerankannya dalam kehidupan kita, sehingga hidup kita sederhana, tetapi tidak sederhana dampaknya.

Kita asumsikan sebuah formula, teh+gula=manis, terjadi suatu hal yang salah kalau ternyata hasilnya adalah kopi manis. Berarti kita tidak cek terlebih dahulu yang kita masukan itu teh atau bukan.

Kalau begitu, waktu dikatakan Saya + Tuhan, cek komposisi-nya, apakah betul itu Saya?, apakah ‘Saya’ masih membawa perasaan bersalah, dosa, dendam di masa lalu ke pribadi yang sekarang?. Sehingga sebetulnya dia adalah pribadi masa lalu yang pura2 ada sekarang.

Yang kita butuhkan adalah pribadi yang ada sekarang, yang menerima adanya dirinya. Plus Tuhan yang tidak digantinya dengan yang lain.

Cek apakah kita betul2 berserah kepada satu kekuatan terbesar dan termulia dalam kehidupan ini. Saya yang utuh plus Tuhan yang utuh, baru cukup kehidupannya.

Untuk itu perbaiki komponen pembentuk formula ini, saya-nya yang utuh – utuhkan pengetian kita tentang Tuhan. Lalu Kita akan melihat dengan sesungguhnya apa yang dimaksud dengan cukup ini. Dan itu adalah tujuan dari program kita kali ini.

Dalam hidup ini, Kita itu mempunyai keharusan2. Orang stress adalah orang yang mempunyai kemampuan yang lebih kecil daripada keharusan2nya.

Orang2 yang damai dan yang mapan adalah orang yang mempunyai kemampuan lebih besar daripada keharusan2nya. Selama anda lebih mampu daripada keharusan, itu disebut cukup.

Keharusan kita setiap waktu akan tumbuh, karena ketika dia masih single, keharusannya dia hanya mengurusi dirinya sendiri. Setelah dia memutuskan menikah, keharusan dia menjadi bertambah, dia + istrinya. Begitu juga setelah mempunyai keturunan, keharusan dia-pun akan bertambah lagi.

Jadi sebetulnya kita itu adalah insan2 yang sedang bersaing dengan keharusan2nya. Orang biasa adalah orang yang ditekan dengan keharusannya. Sementara orang hebat adalah orang yang mengharuskan diri, bahkan lebih besar daripada yang diharuskan oleh orang lain.

Tuhan itu pemilik keajaiban, sebagai pemilik (owner). Karena Beliau Maha pengasih, maka akan memberi. Sehingga kita harus menjadi pribadi yang mudah masuk dalam keadaan yang menjadikan ‘owner’ ini menjadi ‘giver’.

Jadi harus ada yang kita lakukan, supaya Tuhan tidak hanya memiliki keajaiban, tetapi memberikan keajaiban.

Apa yang membuat kita diberi?, ‘Memintalah’. Dan yang harus kita lakukan kalau meminta adalah ‘minta’. Berapa banyak orang yang sederhana sekali dalam permintaannya.” Tuhan aku minta sedikit saja dari keajaban-Mu yang telah menjadikan orang2 biasa hebat dalam kehidupan ini.”

Tetapi ada orang yang tidak bisa bicara selancar itu, jadi dia katakan kepada Tuhan “Tuhan aku tidak tahu caranya minta, tetapi aku buktikan dalam pekerjaanku”.

Orang yang mengupayakan sesuatu yang bisa dilakukannya, tidak perlu bantuan. Maka lakukanlah sesautu yang besar, yang hanya bisa ditolong Tuhan. Lakukanlah sesuatu yang terlalu besar untuk dibantu manusia. Itu adalah tanda anda meminta keajaiban dari Tuhan. Dalam proses itu anda akan mengatakan “Saya + Tuhan = Cukup”.

Tidak mungkin kalau ada yang mengatakan Saya-Tuhan=Cukup. Semua orang yang sedang tidak dekat dengan Tuhan pasti tidak damai. Baru tidak dekat saja tidak damai, apalagi Tuhan tidak ada dalam kehiupannya.

Orang2 yang mengatakan Tuhan tidak ada, dia akan dimasukkan kedalam satu keadaan terpaksa berharap kepada keadaan yang tidak dimengertinya, yang istilah kita adalah Tuhan. Tidak mungkin orang bisa hidup tanpa yang menciptakannya.

Saya + Tuhan = Cukup, ketika anda sebut ‘Saya’, itu dibelakangnya ada orang hebat, ada organisasi yang hebat, ada nama besar yang sangat berpengaruh. Kata ‘Saya’ sangat tidak ’simple’, kata ’saya’ sangat powerfull.

Jangan lihat diri anda hanya badan, lihatlah diri anda juga sebagai keajaiban, yang menyebabkan orang mengingat anda, menghormati anda dan mendengarkan yang anda anjurkan. Jangan sederhanakan sesuatu yang hebat seperti yang namanya ’saya’.

Dalam keseharian kita, anda panggil atau tidak – Tuhan akan tetap hadir. Yang tidak hadir itu, dihati anda. Jadi orang yang mau menghadirkan Tuhan itu, hadir dikesadarannya.

Orang yang mengatakan pemberian Tuhan kurang adalah orang yang telah memberikan semua yang diterimanya, baru bisa bilang kurang. Orang yang hanya menerima tetapi tidak memberi, tidak bisa bilang kurang.

Untuk itu ada ‘paradox’ didalam harta, semakin kita menyimpannya, semakin kita merasa harus mempertahankannya. Semakin kita memberinya, semakin kita mudah mendapatkannya kembali. Tetapi kita sulit percaya, bahwa itu caranya. Maka memberilah, karena anda tidak mungkin bisa memberi tanpa menjadi lebih pantas untuk menerima.

Banyak orang yang sudah memiliki sesuatu yang tidak dianggapnya sebagai sesuatu, karena dia menolak mengenalinya sebagai berkat. Keberadaan kita sendiri adalah sebagai berkah. Dan terkadang hal inilah yang mebuat kita ragu dalam malam2 kita yang sendiri.

Sebetulnya hidupku untuk apa?, kenapa aku harus menderita?, kenapa aku harus ragu?, kenapa aku harus letih?. Pertama kali sadarilah, bahwa ’saya’ ada, dan ’saya’ tidak sederhana. Kalau saya kelihatan sederhana, karena saya sederhana dalam kesadaran saya. Begitu saya memperbaiki kesadaran saya tentang saya, saya menjadi bernilai.

Saya + Tuhan = Cukup, karena kalau saya bersama Tuhan, saya mensyukuri sekali kelahiran saya. Berarti saya mensyukuri orang tua saya. Karena kalau kita sudah menggunakan formula Saya + Tuhan = Cukup, kita akan Damai, Gembira, dan Berani.

Orang yang berani akan membanggakan orang tuanya, karena mereka telah melahirka priadi kuat yang berani menghadapi yang tidak mungkin dicapainya. Hal yang tidak mungkin dicapainya karena kalau ‘Saya’ sendirian, tetapi kalau Saya + Tuhan maka akan Cukup.

Berapa banyak orang yang dikatakan tidak mungkin sebelumnya, sekarang hidup dalam kemungkinan2 yang ajaib.

Orang yang berani akan memuliakan orang tuanya, karena hanya orang yang berani yang berupaya. Karena orang yang berupaya itu adalah orang yang pertama kali Damai dengan keadaannya, Bergembira dengan semua yang dimilikinya, dan Berani melakukan yang dikatakan tidak mungkin.

Apakah dibutuhkan do’a yang banyak bagi Tuhan untuk melakukan sesuatu yang ajaib bagi kehidupan kita?, tidak. Bahkan tidak memintapun, kalau Tuhan melihat kita pantas bagi hadiah, kita akan diberikan.

Karena yang diajarkan Tuhan kepada kita, itu bukan memberi kalau diminta. Tetapi yang ingin Tuhan inginkan kepada kita adalah memberi karena mengerti. Bahwa sebagian dari yang kita miliki adalah hak mereka yang mebutuhkan bantuan. Bahwa tanda kita bersyukur menerima adalah berbagi. Bahwa kita membaca raut sedih, apapun yang dikatakannya, sebagai permintaan untuk diberi.

Kalau kita berlaku kepada sesama, memberi bukan karena diminta, tapi karena mengerti, maka Tuhan akan memperlakukan kita dengan hal yang sama, memberi tanpa kita minta.

Seperti kata Khalil Gibran “Bagaimana saya tahu apa yang saya minta, karena kebutuhanku bahkan telah Engkau tetapkan jauh sebelum kelahiranku. Karena aku bisa salah minta, tetapi yang tidak bisa salah adalah aku berlaku dalam kebaikan”.

Jadi sebetulnya Tuhan tidak membutuhkan banyak permintaan untuk memberi, tetapi satu yang dinantinya adalah kepantasan.

Itu sebabnya pribadi yang lengkap itu adalah pribadi yang SPIRITUAL dan yang PROFESIOAL. Dia berdo’a seperti kepandaian tidak ada gunanya, tetapi dia bekerja seperti Tuhan tidak akan membantu.

Betapa hebatnya orang ini – maksimal dalam kedekatannya dengan Tuhan, dan maksimal dalam kegunaannya bagi orang lain.

Karena kita tidak mungkin jadi profesional tanpa menguntungkan orang lain, dan kita tidak mungkin menjadi spiritual tanpa membahagiakan Tuhan dengan kedekatan kita. Itu do’a yang lebih besar daripada hanya meminta, karena do’a yang terbesar adalah bagi orang yang menjadikan kehidupannya – permintaan untuk dikasihi Tuhan.

Yang menghebatkan kehidupan kita bukan tepat atau salahnya pilihan kita. Tetapi fakta bahwa kita memilih. Karena Tugas kita adalah memilih, untuk salah dan benarnya kita tidak tahu.

Kalau kita disayangi Tuhan, mau salahpun akan dibetulkan. Kalau kita disayangi Tuhan, mau betulpun dibimbing supaya nanti berhasilnya besar. Jadi bukan tepatnya pilihan, tetapi keberanian untuk memilih – lalu menerima tanggung jawab dari pilihan. Berapa banyak pribadi yang dipimpin oleh jiwa yang penakut.

Ada yang baru mengenal Tuhan itu memiliki keajaiban, tetapi tidak meminta Tuhan menggunakan keajaiban itu untuknya – baru memuja dan memuji tapi lupa meminta. Karena sebagian orang do’a-nya hanya berisi keluhan. Malu memita, merasa tidak pantas meminta. Meskipun Tuhan mengerti, Tuhan itu ingin sekali kita tegas mengakui keadaan dan kemampuan Beliau dengan kita meminta dengan jelas.

Tetapi bagi orang super, tidak akan berhenti pada meminta kepada Tuhan menjadi pelaksana dari keajaiban2 Beliau. Bagi pribadi yang super, mintalah bahwa Tuhan itu menjadi pemberi dari sebagian kemampuan ajaib Beliau kepada kita. Sehingga Beliau titipkan sebagian dari kemampuan itu pada diri kita. Kita mengertinya dengan istilah wibawa, pengaruh, karisma dll.

Kalau kita betul2 mengakui keberadaan Beliau sebagai pemilik dari keajaiban, dan telah meminta Beliau melakukan keajaiban dalam hidup kita – sekarang beranikan diri untuk datang kepada Beliau, ”Tuhan aku sekarang meminta, bahwa Engakau memberikan kepadaku sebagian dari kemampuan untuk menyebabkan kebaikan.”

Yang menyebabkan orang akan merasa kesepian sekalipun di tempat yang ramai adalah ketika dia tidak menjadi sahabat bagi dirinya sendiri. Dia tidak mersa senang bersama dirinya, dia tidak menyadari bahwa dirinya itu ada.

Sebelum memahami konsep apapun yang lebih besar mengenai ’saya’ – kembalilah kepada kesadaran, bahwa anda tidak pernah sendiri, tetapi anda bersahabat dengan diri anda sendiri.

Apakah anda berbicara penuh kasih sayang kepada diri anda sendiri?, apakah anda sebut nama anda dengan penuh penghormatan?. Maka hormati diri anda, letakan harga yang tinggi pada diri anda, dan anda akan mulai berjalan seperti membawa barang mahal.

Mari kita pikirkan akhir dari perjalanan kehidupan kita. Kalau saya bisa menerima Tuhan dengan formula Saya + Tuhan = Cukup, saya akan masuk dalam perasaan damai. Karena saya damai, saya menjadi bebas untuk bergembira. Karena saya gembira, saya lebih positif melihat segala sesuatu menjadi mungkin, sehingga saya lebih Berani. Karena saya berani, saya berupaya, dan karena upaya saya itu terjadi dalam waktu – dan waktu itu berlanjut, maka upaya yang berlanjut itu disebut perjalanan.

Maka hidup itu sebuah perjalanan yang diisi oleh upaya dari waktu kewaktu. Karena kita berani, karena kita gembira, karena kita damai, karena kita ber-Tuhan.

Bayangkan kita akan kembali kepada Tuhan, apakah mungkin kita kembali kepada Tuhan dengan hati yang marah atau dengan pikiran yang hasut. Kita ingin suci, kalau kembalinya suci, maka perjalanannya harus suci.

Maka anjurannya adalah, Sucikanlah pikiran kita dengan selalu sadar mengenai keberadaan Tuhan. Kalau kita sadar Beliau ada, tidak mungkin kita isi pikiran kita dengan hal yang tidak baik dengan kecurigaan atau tindakan yang memalukan Beliau.

Sucikan semua hubungan anda dengan diri anda dan orang lain. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Demikian resume dari acara Mario Teguh Golden Ways dengan Topik “Saya + Tuhan = Cukup”. Jika sekiranya didapati kekurangan – suatu kebahagiaan bagi kami, apabila sahabat sekalian berkenan mengoreksi serta menyempurnakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar