Rabu, 11 Januari 2012

MOTIVASI ALA PAK MARIO

Nyanyi seorang kakak

Seorang ibu muda, Karen namanya, sedang mengandung bayinya yang kedua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael, anaknya yang pertama yang baru berusia 3 tahun, untuk menerima kehadiran adiknya. Michael senang sekali. Kerap kali ia menempelkan telinganya di perut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen, “Bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.” Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan Michael. Sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! “Mami… aku mau nyanyi buat adik kecil!” Ibunya kurang tanggap. “Mami… aku pengen nyanyi!!” Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. “Mami…. aku kepengen nyanyi!!!” Itu berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael sebagai rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. “Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!” batinnya.

Ia dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. “Anak kecil dilarang masuk!” Karen ragu-ragu. “Tapi, suster….” suster tak mau tahu. “Ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk!”

Karen menatap tajam suster itu, lalu berkata, “Suster, sebelum diizinkan bernyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!” Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!”

Demikianlah, kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya… Lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey….”

Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. “You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away.”

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan, “Terus…. terus Michael! Teruskan sayang…,” bisik ibunya sambil menangis.

“The other night, dear, as I laid sleeping, I dreamt, I held you in my…” Dan, Sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur…” I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same…” Sang adik kelihatan begitu tenang, sangat tenang.

“Lagi sayang…” bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan…. adiknya kelihatan semakin tenang, rileks dan damai… lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian, si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah terapi ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa!

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagi-NYA bila IA menghendaki terjadi








Mario Teguh Golden Ways 11 Oktober 2009: Hak Untuk Berbahagia

Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 11 Oktober 2009, dengan Topik “Hak Untuk Berbahagia”. Kebahagiaan adalah hak. Dan seperti semua hak, kitalah yang diharapkan datang menjemputnya. Berikut adalah resume lengkap yang bisa kami catat:

Saat dimana kita sangat membutuhkan kebahagiaan adalah saat kita seolah tidak mampu berbahagia. Seperti-halnya saat yang tepat kita membahas rasa rajin, adalah pada saat kita merasa sangat malas.

Kebahagiaan adalah masalah keputusan. Hidup yang berbahagia adalah untaian dari keputusan-keputusan untuk berbahagia, dari satu waktu ke waktu berikutnya.

Didalam duka yang dalam bagi bangsa kita yang diharapkan tetap bekerja bergotong – royong, menampilkan budi pekerti yang indah, khas Indonesia. Marilah kita berusaha untuk meraih hak kita untuk berbahagia.

Kebahagiaan itu kita berikan syarat supaya kita merasa berbahagia. Berarti kebahagiaan itu tidak ada di luar sana, tetapi kebahagiaan itu ada dalam diri setiap individu.

Waktu terbaik untuk berbahagia adalah sekarang.
Tempat terbaik untuk berbahagia adalah di sini.
Dan cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain.

Kebahagiaan itu adalah kemampuan yang sudah ada pada kita, tetapi kita yang mengkecilkan perannya karena kita mensyaratkan. Seperti halnya kalau ada uang baru berbahagia, ada sesuatu baru bahagia. Kemampuan bahagia itu ada pada diri kita, jangan menunggu sesuatu tercapai dahulu baru bahagia.

Jangan pergi ke suatu tempat untuk menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu ada pada kita, dan kebahagiaan itu akan muncul dan mewujud hanya karena anda mengenali. Camkan ini “Saya berhak bagi kebahagiaan saya, dan saya memutuskan, bahwa saya adalah pribadi yang berbahagia”.

Anda tidak mungkin memberikan suatu kotak kepada orang lain, kalau anda tidak memilikinya. Jadi harus banyak stock kotak sebelum anda berikan. Pertanyaannya, bagaimana kalau anda tidak punya kotak tersebut?, tetapi anda ingin memberikan kotak tersebut kepada orang lain yang namanya ‘kebahagiaan’?. Tidak ada suatu tempat dibiarkan kosong, kalau itu dikosongkan karena kebaikan. Maka Tuhan-lah yang akan mengisikan kotak itu kepada anda, agar anda mempunyai sesuatu untuk diberikan.

Jadi orang yang ingin berbahagia, harus berupaya membahagiakan orang lain. Karena kesadaran untuk berbahagia itu diberikan karena anda peduli untuk membahagiakan orang lain. Jadi anda tidak mungkin memberikan kebahagiaan, karena kebahagiaan itu sudah ada pada setiap individu. Jadi yang kita lakukan adalah membantunya mensyukuri kualitas indah yang namnaya kebahagiaan. Agar dengan proses itu, kita juga menjadi pribadi yang peka terhadap kebahagiaan kita sendiri.

Tiap2 jiwa akan merasakan kematian, tetapi jiwanya tidak akan mati. Jiwa hanya merasakan kematian dari badannya, jiwanya akan tetap hidup. Apalagi orang yang meninggalnya dalam proses memperbaiki diri, menuntut ilmu, beribadah dll.

Jadi kalau dikatakan setiap jiwa akan merasakan kematian, jawabannya ‘ya’. Kita semua mengerti dan sudah menerima, tetapi yuk kita bersyukur karena anak2 kita itu hidup didalam pemeliharaan penuh kasih sayang Tuhan. Adik2 yang meninggal dalam musibah gempa Sumatra itu, sebetulnya berharap yang ditinggalkannya hidup berbahagia. Maka janganlah terlalu lama bersedih, ingatlah kebahagiaan yang talah dibagikan adik2 kita itu selama mereka hidup.

Kita mengerti dan menerima kematian. Yang tidak kita mengerti adalah waktu dan caranya. Tetapi kalau diberikan pilihan mengenai waktu dan caranya, kita tidak akan pernah ikhlas mengenai kematian. Itu sebabnya kita harus ikhlaskan kepada Tuhan, bahwa Tuhan-lah yang terbaik untuk memilih kapan kita dijemput dan bagaimana kita dijemput.

Kita tidak bisa mengendalikan apa yang dikenakan pada hati kita, tetapi kita mempunyai kendali total atas apa yang kita lakukan. Marilah kita bersedih, tetapi dengan kesedihan itu, kita ubah kesedihan itu menjadi kesungguhan untuk menyisihkan sejumlah uang untuk dikirim kepada saudara kita yang terkena bencana. Berapa banyak orang yang mencatat nomor rekening yang banyak muncul di tv, kemudian berjanji untuk mengirimkan, tetapi tidak pernah mengirimkannya.

Mudah bagi kita untuk melupakan penderitaan, karena itu bukan penderitaan kita. Tetapi kalau kita saudara, segerakan membantu, karena proses membahagiakan orang lain itu yang menguatkan kita. Mudah2an didalam kesedihan kita - karena ketulusan kita, Tuhan campur tangan dengan sebesar-besarnya peran agar kita dikuatkan. Sehingga yang tidak perlu kita alami sebagai penderitaan – dijauhkan dari kita, dari tetangga kita, dan dari bangsa kita.

Kesulitan atau bencana yang terjadi akhir2 ini, salah satu tujuannya adalah untuk melihat aslinya diri kita, sebagai pribadi yang baik dan santun untuk saling mengasihi. Kami tidak percaya bahwa bayi2 yang meninggal karena bencana itu adalah sebagai hukuman bagi pemimpin yang dzolim dan tidak amanah. Tuhan terlalu kaya, untuk tersinggung karena harta rakyat yang dikorupsi oleh beberapa orang.

Kita sedang diuji dengan kepedulian kita untuk mengasihi saudara kita. Pemimpin sudah melakukan hal2 yang baik ini – tidak berhak hanya untuk dikritik, mereka juga sudah melakukan hal terbaik. Kalau kita menengok ke tempat bencana itu - peran Pemimpin itu tidak mudah. Tetapi Pemimpin juga tidak boleh mengeluh bahwa itu tidak mudah, karena mereka sudah mengambil tugas sebagai Pemimpin.

Sehingga tanggung jawab bagi mereka adalah menjadi pribadi2 yang menyiapkan kita bagi keadaan seperti ini. Tidak ada pemimpin yang berhasil tanpa rakyat yang berhasil. Maka marilah kita membangun perasaan bersaudara yang mengembalikan gotong royong, budi pekerti dan kesantunan kita sebagai bangsa.

Masa lalu itu jangan dilihat sebagai potongan sejarah yang besar. Kita-lah yang sedang membesarkan masa lalu. Masa sekarang adalah masa lalu untuk satu atau dua detik kedepan. Banyak orang yang saat ini pekerjaannya tidak dihormatinya, hubungannya dengan orang lain tidak dimuliakannya. Sehingga dia sedang membangun masa lalu yang tidak baik. Untuk apa kita repot mempermasalahkan masa lalu, kalau masa sekarang yang sedang kita kerjakan, membangun masa lalu yang lebih buruk lagi.

Cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita dengan masa lalu, adalah menjadikan diri kita pribadi yang pantas untuk masuk ke masa depa yang cemerlang. Sehigga saat anda mencapai tujuan nanti, anda akan melihat semua penderitaan ini sebagai berkah. Karena semua keberhasilan anda menjadi indah.

Karena kebahagiaan itu bukan karena sampainya, tapi darimana anda berangkat itu juga penting. Orang yang berangkat dari penderitaan dan sampai di tempat yang baik, orang yang berhasil daripada yang sudah dilahirkan menjadi anak raja dan kemudian berhasil.

Jangan keluarkan semua rahasia anda kepada orang lain. Semua orang yang berhasil dalam hidupnya mengeluarkan rahasia hidupnya secara bertahap. Seorang pemulung yang kemudian menjadi pengusaha besar, tidak menyampaikan langsung kepada teman pemulungnya, bahwa dia akan memiliki sebuah pabrik besar. Dia akan mengatakan, bahwa dia akan membuat pengait sampah yang lebih baik. Dia akan mencari bahan yang lebih baik untuk dibuat banyak, lalu kemudian dijualnya.

Orang2 yang menderita karena rencana-rencananya, karena tidak strategis mengenai rahasia2 hatinya. Srtategis-lah dalam rencana2 anda. Simpanlah sampai orang mengerti kesungguhan anda untuk mencapai impian2 yang paling rahasia di hati anda.

Terkadang setelah diturunkannya Para Rasul, kitab2 suci, para Wali, kita berharap manusia otomatis baik. Tetapi sifat manusia tidak seperti itu. Itu sebabnya tempat2 ibadah tidak akan pernah tutup, karena kebutuhan untuk memperbaiki sikap manusia itu abadi. Orang2 yang diberi tugas untuk membaikkan prilaku, selalu dipelihara Tuhan. Untuk setiap lingkungan, setiap masa, setiap kaum akan diturunkan pembawa berita. Dan terkadang berita itu peringatan, dan terkadang harus dibuktikan dengan sentilan kecil.

Kebahagiaan adalah tidak adanya ketidak bahagiaan. Jadi orang yang berhasil menyingkirkan ketidak bahagiaan, maka dia jadi bahagia.

Yang tidak membahagiakan itu ada dua macam :
Pertama adalah kekhawatiran, dan kekhawatiran yang sangat kuat sekali itu disebut ketakutan.

Tidak ada orang yang selalu khawatir atau takut itu berbahagia. Itu sebabnya Tuhan katakan, kalau kamu beriman kepada-Ku kamu berhentilah khawatir, karena Aku adalah tempat sebaik-baiknya mengembalikan semua urusan.

Kemudian, kalau Kita merasa takut maka hanya takut-lah kepada Tuhan, jangan-lah takut pada selain Tuhan.

Jadi mengelola kebahagiaan itu adalah memihak-kan diri kita pada hal2 yang membuat kita tidak khawatir.
Pepatah Tibet mengatakan “Kalau ada satu masalah yang bisa Anda selesaikan, janganlah khawatir, selesaikanlah.” Kalau ternyata masalah itu tidak bisa anda selesaikan, khawatir-pun tidak akan menyelesaikan masalah. Sehingga janganlah khawatir.

Akan tetapi sebetulnya sebagian diantara kita sedang mengkhawatirkan yang sebetulnya bisa kita selesaikan. Lalu kita menyalahkan Tuhan untuk hal2 yang sebetulnya bisa kita perbaiki.

Jadi kebahagian itu adalah hak, tetapi seperti semua hak mewajibkan kita memantaskan diri untuk menerimanya.

Perasaan kita ditentukan oleh apa yang kita kerjakan dan yang kita hindari. Karena, tidak mungkin bagi kita untuk berbahagia dalam menghindari melakukan yang baik.

Kalau kita melakukan sesuatu yang baik, maka akan langsung merasakan baik. Menghindari sesuatu yang tidak baik, langsung bahagia. Coba anda lakukan yang tidak baik, langsung segera Anda harus mengarang cerita bahwa itu tadi bukan sebuah kesalahan, untuk merasionalisasi yang tidak baik itu.

Kalau kita belum bisa berbahagia, jadilah pribadi yang pantas untuk dibahagiakan. Dan pribadi yang pantas untuk dibahagiakan adalah pribadi yang pikirannya baik, yang perasaannya baik, dan yang dilakukannya baik. Dan semua yang disebut baik itu selalu membaikkan perasaan orang lain.

Maka,

Berfokuslah pada yang membahagiakan orang lain. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Demikian resume dari acara Mario Teguh Golden Ways dengan Topik “Hak Untuk Berbahagia”. Jika sekiranya didapati kekurangan – suatu kebahagiaan bagi kami, apabila sahabat sekalian berkenan mengoreksi serta menyempurnakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar