Rabu, 11 Januari 2012

MOTIVASI ALA PAK MARIO

Kursi Khalifah Bahloul


Khalifah Harun sangat suka pada Bahloul, pemuda pandir, sedikit sinting, tapi sering mengungkapkan kearifan yang memaksa sang khalifah tercenung. Bahloul juga menjalankan fungsi lazim bagi para raja di mana-mana: menjadi penghibur.

Ia menyimpan banyak cara untuk membuat Khalifah gembira. Kadang ia sengaja tersandung kaki kursi dan terjungkal, sehingga Khalifah terbahak menyaksikan kemalangannya. Lain kali ia pura-pura kalah dalam main catur atau main tebak-tebakan dengan Khalifah atau para gundiknya; Bahloul akan bersungut-sungut — seisi istana pun tergelak menertawai kebodohan yang dikutuknya.

Suatu hari Bahloul menyelonong seperti biasa ke balairung istana. Di ruang mewah yang sedang lengang itu tampak kursi kosong Khalifah. “Di mana gerangan Baginda Raja?” pikirnya. Iseng, ia duduk di tahta sakral itu. Tiba-tiba dua pengawal memergoki, yang segera menyeret Bahloul turun dari kursi emas itu.

“Dasar anak dungu!” hardik mereka sambil menghajar dengan pentungan. “Kamu memang kesayangan Khalifah, tapi tingkahmu ini sudah keterlaluan!”

Bahloul melengking, tak sanggup menanggung hujan pukulan di sekujur tubuhnya yang kecil. Lolongannya sedemikian keras sampai membangunkan Khalifah yang sedang istirahat di kamarnya.

“Apa-apaan ini? Ada apa ini?” tanya Khalifah Harun dengan kaget.

Kedua pengawal berhenti memukul dan menceritakan kejadiannya. “Betul begitu, Bahloul?” tanya Khalifah.

“Betul, Baginda, hoaaaaaa….,” jawab Bahloul sambil terus menjerit-jerit.

“Sudah, sudah. Tak apa. Berhentilah memekik-mekik! Pusing kepalaku mendengarnya! Kenapa pula kau terus menangis, padahal pengawal sudah tak lagi memukulimu?”

“Hamba justru menangisi nasib Baginda, hoaaaa…”

“Lho, mengapa pula kau menangisi nasibku? Apa yang salah denganku?”

“Baginda, hamba duduk di kursi Baginda hanya tiga menit, tapi siksaan yang hamba terima begini pedihnya…hoaaaa. Baginda sudah duduk di tahta itu selama tiga puluh tahun…hoaaa…Hamba tak sanggup membayangkan betapa pedihnya pukulan yang akan Baginda terima kelak…
hoaaaa…”

Kini giliran Khalifah yang menangis terisak-isak.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Khalifah, sambil terus tersedu.

Bahloul bangkit dari lantai, dan berlari-lari kecil mengitari balairung istana yang megah itu sambil mengacung-acungkan tinjunya: “Keadilan, Baginda! Keadilan! Beri keadilan pada seluruh rakyat! Keadilan! Keadilan! Keadilan!”

Khalifah lalu bersumpah untuk memenuhi permohonan Bahloul itu. Ia mengaku selama ini memang telah ratusan kali, telah ribuan kali, menjanjikan hal itu kepada rakyat, dengan berbagai bahasa yang indah, dengan ungkapan-ungkapan yang terkesan serius – tapi tak pernah sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya. “Sejak detik ini aku akan benar-benar memberi keadilan kepada segenap rakyatku”.

Bahloul pun pulang, sambil mengatakan bahwa ia tak akan percaya begitu saja pada janji Khalifah. “Hamba tetap akan sering-sering mengingatkan Baginda tentang janji itu..”

Khalifah Harun ada di mana-mana, di setiap jaman. Mereka memerlukan para Bahloul, yang wajib untuk tak henti mengingatkan betapa panasnya kursi yang mereka duduki. Tak terkecuali di Negeri tercinta ini ; yang belakangan sedang dihebohkan dengan kasus MAFIA PERADILAN. Kita berharap semoga orang-orang yang diberikan amanah menjadi Pemimpin dan Penegak keadilan di negeri ini; yang pada masa kampanye lalu dengan lantang mengobral janji akan menegakan keadilan, tidak melupakan janji-janji manisnya. Dan semoga bagi mereka yang tengah mencoba mengingkari janji-janjinya itu, segera tersadar sebelum semuanya menjadi terlambat.

Harapan itu masih ada, Kawan….!!!








Mario Teguh Golden Ways 1 November 2009: Hidup Ini Tidak Sementara


resume dari acara Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 1 November 2009, dengan Topik “Hidup Ini Tidak Sementara”. Kekhawatiran Anda tidak membatalkan apapun yang akan terjadi pada diri Anda. Tetapi pasti menyadap kekuatan Anda hari ini. Siapapun yang mengkhawatirkan keburukan yang akan terjadi, tidak membatalkan keburukan itu, tetapi membatalkan kemampuannya hari ini – untuk menjadi pribadi yang tahan terhadap apapun yang terjadi. Berhentilah menangisi diri dengan kekhawatiran, khawatirlah kalau tidak bisa bekerja keras. Berikut resume lengkap yang bisa kami catat:

Hidup ini tidak sementara, logiakanya sederhana:
- Orang yang menganggap sesuatu sementara, tidak akan memberikan penghormatan sebagai sesuatu yang permanen harus diberikan.
- Bahwa yang kita sebut sementara itu tidak sementara kalau dibandingkan dengan ketidak sabaran kita dalam menunggu. Kita menunggu dokter gigi, tidak usah selama 40 tahun, satu jam saja sudah tidak sabar. Bagaimana mungkin orang menyebut hidup selama 80 tahun sementara.
- Kita itu memiliki kemampuan memikul beban, rasa sakit itu sangat minimal. Sehingga kalau kita katakan hidup ini sementara, berapa lama dia harus menahan lapar, hidup dalam kemiskinan, hidup dalam rasa sakit. Kemampuan kita untuk menahan rasa sakit, tidak lama dan sangat pendek sekali.

Jadi sebetulnya hidup itu panjang. Takutnya kalau kita itu betul2 meyakini hidup ini sementara, dan dihubungkan dengan penyepelean hidup, hidup kita setelah kehidupan ini tidak berkualitas.

Sehingga kuncinya adalah sikap kita hari ini menentukan bentuk kehidupan kita dimasa depan. Bentuk kehidupannya belum jadi, tetapi telah jadi dikepala orang yang pesimis. Jadi sebetulnya kalau bisa meyakini sesuatu itu sementara, berlakulah seperti ini permanen.

Tiap-tiap jiwa merasakan kematian, tetapi yang dirasakan bukan kematian jiwanya, melainkan kematian badannya. Sehingga jiwa kita itu hidup, setelah kematian badan. Sehingga kehidupan yang disebut setelah kehidupan ini adalah kehidupan jiwa kita, yang kualitas kehidupannya ditentukan oleh kualitas kehidupan didunia.

Kalau kehidupan kita setelah kehidupan ini panjang, kekal dan abadi sebagimana dijanjikan di surga, maka 40 tahun, 60 tahun kehidupan didunia ini akan menentukan kehiupan yang abadi. Sehingga jangan menganggap kehidupan yang singkat ini sementara, karena menentukan kualitas kekekalan kita setelah ini.

Raga kita berbeda, tetapi setiap raga ini diisi oleh jiwa2 mulia yang dipilihkan Tuhan untuk masuk dalam raga ini. Kita membedakan perlakuan kita kepada orang karena kita melihat raganya. Sementara Tuhan meihat jiwanya. Sehingga manusia yang baik, yang mengenal prilaku Tuhan dalam menilai manusia, akan menilai jiwanya.

Sehingga kesimpulannya, kita semua adalah jiwa yang sedang hidup dialam raga. Maka jangan pernah minder karena apapun raga yang kita miliki, tetapi berbahagialah karena kita diberkati jiwa yang baik.

Siapapun yang berfikir logis, akan tahu mengenai kapan akan terjadinya perhitungan. Jangan risaukan kapan hari perhitungan terjadi, karena hari perhitungan telah terjadi, dan menjadikan anda apa adanya sekarang.

Malaslah makanya…, rajinlah makanya…, pandailah makanya…, ahlilah makanya… Maka Orang2 yang kehidupannya baik, kebaikannya itu adalah hasil dari perhitungan yang telah terjadi dan selalu terjadi didalam kehidupan kita.

Mengapa kita mengabaikan perhitungan hari ini, hanya karena kita percaya adanya perhitungan nanti?. Perhitungan nanti itu adalah perhitungan terakhir yang bersambung setiap hari ke prilaku kita hari ini.

Hari perhitungan telah terjadi setiap hari. Dan orang-orang yang hidupnya baik, telah dihitung karena kebaikannya. Orang-orang yang hidupnya belum baik, dihitung karena yang perlu diperbaikinya.

Jadi sadarlah, bahkan masa depan itu datangnya dalam potongan hari. Tahun 2015 itu tidak datang sekaligus, melainkan datangnya hari demi hari yang harus diisi dengan kemuliaan pribadi, dengan pelayanan yang menggembirakan orang lain, dengan pengabdian kepada atasan, dengan kasih sayang kepada keluarga. Orang seperti ini tidak usah merisaukan perhitungan, karena dia sudah dihitung dengan sangat baik.

Fokus pada yang sekarang, menentukan kualitas dari yang nanti.

Jadi orang yang berfokus pada yang baik dilakukannya nanti, sebaiknya tidak usah khawatir tentang kualitas yang dicapainya nanti.

Semua orang2 yang memperbaiki kehidupannya itu, selalu berfokus pada yang dilakukannya sekarang. Sehingga kalau kita tahu bahwa hidup ini sementara bagi raga kita, tetapi tidak sementara bagi jiwa kita, maka kita berfokus pada membangun ilmu yang bisa digunakan dan bahkan berguna sepeninggal kita.

Lalu kita membangun harta yang kita gunakan bagi kebaikan orang, yang masih digunakan untuk kebaikan, bahkan sepeninggal kita. Dan kita mendidik anak2 kita yang baik dan shaleh yang mendo’akan pemaafan dan kebaikan bagi kita, terutama setelah kita tidak lagi bersama mereka.

Sehingga sebetulnya fokus sekali kepada yang berkualitas sekarang, menentukan kualitas dari yang akan kita dapatkan nanti. Nanti bisa berarti satu jam, 30 hari, bahkan 30 tahun yang akan datang.

Jiwa yang kaya adalah jiwa yang damai. Karena kedamain jiwa adalah landasan bagi semua kekuatan, seperti kegembiraan, keceriaan, ketulusan dan kesetiaan.

Perhatikanlah bahwa tujuan dari semua keberhasilan. Tujuan dari semua keberhasilan adalah pulang ke rumah dengan perasaan damai.

Sekaya apapun orang, dia belum utuh keberhasilannya, kalau dia pulang ke rumah untuk bertengkar, untuk berbohong kepada istrinya, untuk menyia-nyiakan anak2-nya atau untuk mentransfer kemarahan yang diterimanya di kantor kepada keluarganya.

Orang2 kaya yang pulang ke rumah tetapi tidak bahagia, sebetulnya sedang iri dengan petani miskin yang pulang kepada keluarga dengan berbahagia.

Fokuslah kepada yang meninggikan dari semua yang tidak memuliakan. Pergaulan apapun, ceklah, kalau tidak membesarkan, maka tinggalkan. Di Perusahaan kalau tidak memuliakan, maka tinggalkan. Jika mempunyai income, jika tidak berkah, maka tinggalkan. Jangan takut meninggalkan pendapatan betapapun besarnya, jika tidak berkah. Jangan tukar Tuhan dengan harga yang murah.

Orang yang bekerja yang tugasnya tidak akan selesai, sampai dia dipanggil Tuhan, harus membangun ketertarikan orang lain untuk meneruskannya.

Itu sebabnya pekerjaan2 yang baik, selalu diturunkan ketertarikan pada hati banyak orang, untuk meneruskan pekerjaan itu. Karena pekerjaan itu telalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang.

Memang terkadang kalau hidup kita sedang menderita, kita sering bertanya, mengapa hidup kita harus panjang dengan penderitaan?. Ingatlah, semua penderitaan adalah pemberitahuan untuk memperbaiki diri, atau memperkuat diri, atau mengutuhkan penyerahan kepada Tuhan.

Yang bersedih kemudian memperbaiki diri, maka dia akan keluar dari kesedihan. Atau yang bersedih, lalu dia melihat bahwa hanya berfolus pada kepentingan dia sendiri, lalu dia melayani orang lain, lalu dia tidak lagi bersedih atau betul2 berserah.

Terkadang Tuhan itu lebih suka melihat kita bersedih, karena kita hanya berdo’a di waktu sedih. Maka sekarang berdo’alah terutama dalam kegembiraan. Supaya Tuhan tersemangati untuk memberikan kebahagiaan, karena kita selalu berdo’a tidak hanya ketika dalam keadaan sedih saja.

Kita itu dinilai bukan karena kesiapan kita untuk mati, tetapi karena keutuhan kita untuk memenangkan kehidupan yang baik.

Karena terkadang ada orang yang hidupnya pendek, tetapi semangatnya untuk membangun kehidupan itu besar. Yang kemudian diteruskan dalam bentuk foundation, yayasan dll. Bahkan banyak perguruan tinggi didirikan karena jiwa2 yang kuat, yang berusaha memenangkan kehidupan, walaupun penuh rasa sakit dan tidak panjang.

Hidup kita harus selalu ingat agar pada saat kecenderungan kita kekiri itu, alarm hati kita berbunyi. Itulah yang dinamakan kedamaian. Kalau betul terasa nyaman, kalau kekiri alarm hatinya berbunyi. Kita diberikan kewenangan untuk mengetahui dengan alat yang dinamakan kalbu.

Jangan pikirkan kapan akhir dari kehidupan kita, bekerjalah seperti kita tidak akan pernah dipanggil oleh Tuhan. Tetapi berdo’alah seperti kita akan dipanggil segera.

Keseimbangan itu terkadang bukan perbandingan 50:50, tetapi maksimal kesananya karena takut dinilai kurang setelah kehidupan ini selesai. Dan maksimal kesana supaya bermanfaat bagi kehidupan saudara kita. Karena sebaik-baiknya manusia itu adalah yang bermanfaat bagi orang lain, dan manfaat itu menjadikan kualitas kehidupan kita setelah ini.

Yang dikatakan hidup sementara itu adalah hidupnya badan kita. Kalau kita hidup mampir minum, yang dibicarakan minum disini adalah perumpamaan untuk badannya. Tetapi ketika minum, minumlah yang baik, minumlah yang diijinkan diminum, mintalah ijin kepada yang punya minuman, minumlah secukupnya, janganlah minum minuman yang memabukkan.

Karena kualitas dari yang didalam ini keliahatan dari yang kita tampilkan sementara dalam kehidupan ini. Sehingga kalau kita katakan hidup kita sementara ini adalah sementara diraga, tapi kualitas keindahan jiwa kita tidak, karena kita meneruskan kehidupan ini dalam kehidupan jiwa.

Pekerjaan adalah kasih sayang yang dibuat kelihatan. Kalau kita sayang istri, kita akan bekerja keras bagi kemuliaannya. Kalau kita sayang anak, kita akan bekerja keras bagi penyiapan kehidupan yang baik dimasa depannya. Kita akan bekerja keras menjadikannya tampil sehat, ceria, damai, dan cerdas.

Orang-orang yang mencintai pekerjaannya, selalu merasa kekurangan waktu. Orang-orang yang tidak memiliki kecintaan pada apapun, waktunya panjang untuk tidak melakuakn apapun.

Dan orang-orang yang hanya memikirkan dirinya, akan gampang sedih. Karena kesedihan adalah proses mengasihani diri sendiri. Orang-orang yang sibuk mengasihani orang lain, membantunya keluar dari penderitaan, tidak sempat bersedih hati.

Orang-orang sukses yang berhasil adalah orang yang menjadi orang baik. Kita menyempitkan pengertian suskes dengan hanya banyak uangnya, luas tanahnya, atau tinggi pangkatnya. Itu semua baru komponen pembentuk sukses. Keberhasilan itu jadi orang baik.

Orang kaya yang mengumpulkan hartanya dengan cara tidak jujur, itu orang gagal jadi orang baik. Dia hanya berhasil mengumpulkan jumlah harta, yang jumlah hartanya menentukan jumlah hukumannya. Orang yang mencapai pangkat yang tinggi dengan cara2 yang tidak hak, itu hanya menentukan ketinggian jatuhnya.

Berhasil itu jadi orang baik. Maka tidak ada orang sukses didunia, yang tidak sukses setelah kehidupan ini. Karena orang baik, maka hidupnya akan baik nanti.

Jangan hakimi orang lain, bahkan kepada saudara kita yang sedang sakit jiwa sekalipun sebagai tidak punya jiwa. Kalau betul-betul jiwanya sakit, lalu harus bagaimana?, Itu ditujukan untuk menguji jiwa2 yang sehat seperti kita, apakah bisa berkasih sayang. Walaupun belum tentu dia sembuh, tapi berkasih sayanglah.

Karena orang2 yang dimurungkan karena ada anaknya yang sakit, itu sedang disiapkan menjadi pribadi yang lebih besar. Perlu diiingat, bahwa hati yang dilukai karena kesedihan, menjadi lebih dalam dan lebih besar untuk menerima kebijakan.

Kekhawatiran anda tidak membatalkan anda apapun yang akan terjadi. Tetapi pasti menyadap kekuatan anda hari ini. Siapapun yang mengkhawatirkan keburukan yang akan terjadi, tidak membatalkan apapun, tetapi membatalkan kemampuannya hari ini untuk menjadi pribadi yang tahan terhadap apapun yang terjadi.

Berhentilah mengisi diri dengan kekhawatiran, khawatirlah kalau tidak bisa bekerja keras.

Jadilah pribadi yang mempengaruhi masa depan. Janganlah menjadi pribadi yang ditakut-takuti untuk diterkam oleh masa depan yang tidak pasti.

Caranya, sadarlah bahwa semua orang hebat adalah orang yang digunakan untuk melakukan susuatu yang hebat. Digunakna itu adalah digunakan Tuhan yang caranya digunakan manusia.

Semua Supervisor yang bagus adalah salesman yang super, yang bukan mempunyai keahlian mempengaruhi orang, tetapi menata pekerjaan. Lalu kemudian dia menjadi Sales Manager karena kemampuan perencanaannya. Semua jenjang karir yang dicapainya, karena ada orang yang memutuskan dia bisa berperan lebih baik diatas.

Jadi, Kita yang masih muda-muda hanya menyiapkan diri bagi penggunaan. Jadilah pribadi yang tahu, yang tangannya terampil, yang hatinya tahan banting, yang menjaga wajahnya tetap profesional.

Karena kita dibayar untuk keramahan kita, bukan untuk kesedihan kita. Kita dibayar untuk profesional-nya tubuh, tegaknya badan, suaranya mewakili nama perusahaan dengan baik.

Siapkanlah diri agar dugunakan oleh orang-orang baik dan oleh orang-orang besar.

Perhatikanlah orang-orang yang digunakan oleh penjahat, adalah orang-orang yang bisa digunakan untuk kejahatan.

Maka jadilah pribadi dengan kualitas emas, agar suatu saat nanti Anda bertemu dengan pengusaha emas yang bisa membuat dan membentuk Anda menjadi perhiasan seindah-indahnya bagi kerajaan termulia didunia ini.

Percaya diri kalau anda katakan bisa, itu karena Anda bias melakukan yang Anda lakukan sekarang. Orang yang percaya diri itu, percaya dirinya akan bekerja sekarang.

Berapa banyak orang yang meragukan cita2nya karena dia pembatal dari renacananya. Berapa banyak orang yang ikat pinggannya sudah tidak cukup lagi, lalu berencana lari pagi, tapi kemudian rencana itu dibatalkannya hanya karena gara-gara cuaca mendung.

Kita semua ahli berencana, tetapi lebih ahli membatalkan rencana. Orang yang percaya diri itu menghormati dirinya akan melakukan yang direncanakannya.

Kalau Anda sulit tidur karena rencana Anda besar, kalau Anda tidak sabar karena segera ingin menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain, kalau Anda marah karena lambatnya pemimpin mendatangkan perubahan, kalau Anda gusar karena Anda melihat yang seharusnya adil berlaku tidak adil. Itu tanda bahwa ada bakat-bakat kepemimpinan dalam diri Anda.

Jadi apapun kegusaran dan kegelisahan dalam diri Anda, syukurilah karena itu pemberitahuan bahwa Kita memiliki kualitas yang lebih besar dari kualitas Kita sekarang.

Dan jangan anggap dengan pendeknya kehidupan kita sekarang ini, adalah alasan untuk menyepelekan kualitas kehidupan kita yang panjang nanti, sebagaimana dijanjikan oleh agama.

Maka marilah kita berfokus kepada yang bisa Kita lakukan sekarang, berfokus pada yang baik, berfokus pada yang berguna bagi orang lain.

Dalamkanlah kecintaan Anda pada pekerjaan Anda. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Demikian resume dari acara Mario Teguh Golden Ways dengan Topik “Hidup Ini Tidak Sementara”. Jika sekiranya didapati kekurangan – suatu kebahagiaan bagi kami, apabila sahabat sekalian berkenan mengoreksi serta menyempurnakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar