Rabu, 11 Januari 2012

motivasi ala pak mario

Nasihat Luqman Kepada Anaknya



Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibanding dirinya. Tak terkecuali seorang penjahat sekalipun, dia akan berharap buah hati-nya kelak akan tumbuh menjadi orang yang baik. Tapi sangat kecil kemungkinan seorang anak akan tumbuh menjadi orang baik, kalau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kurang baik, diberikan makanan dari hasil yang tidak baik, serta diberikan penasihatan-penasihatan yang jauh dari kebaikan.

Banyak contoh yang bisa kita tiru dari kehidupan orang-orang shaleh terdahulu, untuk mempersiakan anaknya menajadi orang baik dan membawa kebaikan. Salah satu kisah yang sangat terkenal adalah kisah Luqman Hakim. Luqman Hakim bukanlah seorang nabi dan rasul, dia hanyalah manusia biasa.

At-tabari mengatakan bahwa Luqman adalah seorang hamba dari negeri Habsyah yang bekerja sebagai tukang kayu. Namun namanya terpatri abadi didalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebutnya sebagai laki-laki shaleh yang memberikan untaian nasihat luhur kepada anaknya. Dalam beberapa penuturan, Luqman dilukiskan sebagai orang yang bijak, santun, dan penderma. Al-Qur’an mengatakan bahwa Luqman dikaruniai hikmah (kebijaksanaan) (QS Luqman [31]: 12).

Terkait wasiat atau nasihat Luqman, al-Qur’an merincinya dalam beberapa ayat.

Pertama : Nasihat untuk selalu menjauhi perbuatan syirik, ”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah), sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’” (QS: Luqman [31]:13).

Kedua : Selalu berbuat baik kepada kedua orang tua (QS Luqman [31]: 14), terutama kepada ibu. Islam memberikan penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi kepada para ibu, sampai-sampai disebutkan bahwa “surga berada dibawah telapak kaki ibu”.

Ketiga : Tidak mengikuti anjuran dan perintah orang tua dalam kemaksiatan. Meski demikian, perintah orang tua untuk membangkang terhadap perintah Allah SWT, tidak menggugurkan kewajiban anak untuk senantiasa berbuat baik kepada mereka (QS Luqman [31]: 15)

Keempat : Selalu bersyukur karena meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah Swt, tapi juga harus dilanjutkan dengan perbuatan. Misalnya, menyisihkan sebagian dari harta kita kepada kaum fakir miskin. Dalam al-Qur’an Allah SWT menyatakan bahwa jika kita bersyukur atas karunia-Nya, maka nikmat yang kita terima akan bertambah (QS Ibrahim [14]: 7).

Kelima : Selalu berbuat baik walau sekecil apapun (QS Luqman [31]: 16).

Keenam : Tidak lalai dalam mengerjakan shalat, senantiasa menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemunkaran, serta selalu bersabar dalam setiap kondisi (QS Luqman [31]: 17).

Ketujuh : Membuang sikap sombong yang ada dalam diri (QS Luqman [31]: 18)

Kedelapan : Selalu rendah hati dan tidak mengucapkan kata-kata kasar (QS Luqman [31]: 19).

Itulah nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya yang diabadikan dalam al-Qur’an. Semoga kita bisa mencontoh tauladan kebaikan ini dalam kehidupan sehari-hari.










Kan masih ada hari esok…

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.

Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang wanita yang sangat cantik dan baik. Wanita ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, “Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka.” Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.

Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya. Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya “Aku cinta kamu”, tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, “Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya.”

Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata “Aku cinta kamu”, istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya.

Tapi, dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, “Ah, Andai saja aku menyadari ini dari dulu….” Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan airmata di pipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada Anda, waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, Anda ternyata telah maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah! Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka “besok” akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu









Mario Teguh Golden Ways 8 November 2009: Diam Itu Tidak Selalu Emas

resume dari acara Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 8 November 2009, dengan Topik “Diam Itu Tidak Selalu Emas”. Sesuatu yang baik itu sudah dipastikan banyak biayanya, tetapi sebaiknya biayanya itu bukan dengan mengorbankan banyak orang, karena tidak bijaknya beberapa orang. Berbicara salah itu bukan berbicara, melainkan cari masalah. Dan cara mengerti kita untuk melihat orang tidak jujur, hanya dengan mengundang mereka berbohong lagi.

Berbicara adalah proses peningkatan nilai. Kalau berbicara peningkatan nilai, berarti orang ini baik, tujuan-tujuannya besar, rencananya sungguh-sungguh dan sedang berupaya menemukan cara-cara yang tepat.

Berbicara itu harus meningkatkan nilai, dan sebaik-baiknya peningkatan itu adalah yang meningkatkan nilai orang lain.

Ada orang yang kalau berbicara berupaya meingkatkan nilainya sendiri. Perhatikanlah di TV bagaimana orang yang harusnya berbicara jelas, berbicaranya pelan sekali. Ini bukan peningkatan nilai kepada siapapun, melainkan kesan pengurangan mengenai kecerdasan.

Jadi jangan tingkatkan nilai dalam bicara, karena kita ingin kelihatan tinggi. Maka tinggikanlah orang lain, tugas untuk meinggikan diri kita adalah tugas Tuhan.

Kalau orang bicara, lalu hanya membuat orang marah, sebaiknya dia diam. Kalau marahnya ini bernilai besar, maka dengan dia diam akan menyelamatkan keluarnya biaya. Sehingga orang yang kalau berbicaranya merusak, akan bernilai emas diamnya. Karena banyak orang tidak tahu mau berbicara apa, lalu berbicara untuk menunjukan bahwa dia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Tetapi kalau orang itu diam, menyebabkan kesalah pengertian dan perusakan, maka dia harus bicara. Orang ini harusnya bicaranya senilai emas. Dia akan membatalkan kerusakan yang terjadi karena dia diam.

Tetapi kalau dia telah melihat kerusakan karena dia diam, dan terus melanjutkan diam, maka ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Tuhan tidak suka kita bingung, jadi Tuhan langsuung menggunakan cara yang kita gunakan untuk merendahkan, sebagai cara untuk memberitahu kita.

Kalau orang menggunakan uang, untuk menurunkan kebaikan, maka dia akan diturunkan uang. Kalau dia berebut kekuasaan lalu menggunakan cara tidak baik yang menurunkan kebaikan, maka dia akan diganggu kekuasaannya. Wanita yang Jaim sekali, yang takut kelihatan tidak cantik, kalau dia melukai kebaikan, maka akan diluakai citranya.

Itu pemberitahuan jelas sekali. Sehingga jangan banggakan sebuah kualitas, untuk menapikan kebutuhan kita terhadap kebaikan. Karena itu yang digunakan oleh Tuhan untuk menurunkan derajat kita.

Sebagai ilustrasi, jika ada pemain bola sehebat apapun, kalau dibanding penonton dan komentator, terkesan lebih hebat penonton/komentator.

Sehingga kita dibuat terheran-heran, kalau ada orang membuat penjelasan salah, kemuadian orang lain marah, dia membuat penjelasan untuk lebih salah lagi.

Semua itu disebabkan dia tidak melihat kesalahannya, sementara kita melihatnya. Mengapa ini terjadi?, karena banyak orang berfokus pada yang dianggapnya benar. Tidak melihat bahwa kebenaran seseorang itu hanya kalau bisa diterima orang banyak.

Itu sebabnya bergaulah, karena semua kualitas diuji dengan pergaulan. Pergaulan itu tidak menganggap diri lebih tinggi dari orang lain.

Banyak orang karena jabatannya tinggi, menganggap semua orang yang dibawahnya tidak pandai. Dalam kenyataannya, tak terkecuali dalam jajaran pemerintahan, banyak orang-orang biasa lebih pandai daripada para pejabat. Buktinya sekarang banyak orang-orang yang disebut pejabat, dinasehati oleh orang biasa.

Sesuatu yang baik itu sudah dipastikan banyak biayanya, tetapi sebaiknya biayanya itu bukan dengan mengorbankan banyak orang, karena tidak bijaknya beberapa orang.

Berbicara salah itu bukan berbicara, melainkan mencari masalah. Dan cara mengerti kita untuk melihat orang tidak jujur, hanya dengan mengundang mereka berbohong lagi.

Jadi bagi kita yang waras, damailah tetapi dengan tetap membuat keputusan yang tegas. Jangan lagi kita salah berharap dari penampilan.

Jangan salah menghitung, karena melihat manisnya orang bicara, atau karena obralan janj-janji. Berpihaklah pada yang logis, karena kejujuran itu adalah bahasa yang paling mudah.

Jadi kalau ada orang yang tidak bisa bicara mudah, mengenai sesuatu yang seharusnya jujur, orang itu pasti tidak jujur.

Maka berhentilah membuktikan bahwa dia tidak jujur. Putuskanlah memang dia tidak jujur, maka urusan akan selesai. Mendengarkan orang yang tidak jujur bicara, akan membuat kita semakin marah.

Sebagian orang memang ditutup pengertiannya oleh Tuhan untuk tidak mengerti bahwa dia salah. Yang mengerti orang salah itu adalah yang anggun.

Kita mau membangun kehidupan berbangsa yang baik. Malu kita mendengar orang-orang yang kecil mencerca orang-orang yang besar, dan pemberitaannya disiarkan di berbagai media di negara lain.

Kalau berbicara itu memperbaiki keadaan, maka berbicaralah. Kalau dengan anda berbicara membuat tidak damainya orang banyak, maka sebaiknya diam.

Keletihan kita dalam hampir dua minggu ini, adalah upaya membetulkan orang salah. Hal ini tidak akan berhasil. Karena siapa saja yang sudah lama melakukan kesalahan, yang sudah lama bergaul dengan orang-orang buruk dan berhutang keburukan, sangat luar biasa kalau dia mengaku dengan cepat bahwa ‘ya… saya salah’, ‘ya… saya telah berlaku tida amanah’.

Jangan betulkan orang, undanglah dia untuk jadi orang baik. Berlakulah santun, jangan buat orang yang anda betulkan itu, anda buat memusuhi anda.

Sampaikanlah ini “Pak, kan Anda tidak ingin, jika anak Anda nanti jadi orang-orang tidak jujur toh’, ‘ kan lebih damai jika dulu anda memutuskan dengan baik toh’,’ dan akan selalu ada waktu untuk memulai berlaku baik sekarang’.

Jadikanlah diri anda sebagai awal kebaikan dengan diam, kalau salah bicaralah. Atau berbicaralah jika memperbaiki. Pantaskanlah kedudukan anda dengan derajat anda.

Ada orang yang diamnya untuk berfikir, tetapi yang lebih parah adalah orang yang bicaranya dipakai untuk berpikir. Dia ini kelihatan tidak terlatih dalam jalan-jalan pemikiran kepemimpinan.

Seorang pemimpin itu harus mempuanyai kualitas yang pantas bagi kedudukannya. Sangat tidak pantas, kalau menunjuk orang hanya karena dia tua, pangkatnya tinggi, ditunjuk sebagai pejabat. Kita harus taruh orang yang berkualitas ditempat yang penting bagi kebaikan 230 juta jiwa orang Indonesia.

Harusnya sudah berhenti masa dimana orang yang tidak amanah memimpin orang banyak. Tapi kita yang memilih menempatkan berdasarkan kriteria-kriteria palsu. Jangan lagi buat kesalahan yang sama.

Diam itu bisa menjadi emas, kalau kita diam itu menghindarkan dari yang melukai orang. Diampun ada caranya, yang paling baik adalah diam yang menunjukan hormat.

Ada yang berbicara dengan gerakan tangan seperti orang berdo’a, dan berdo’a menurut ukurannya. Tetapi ada juga yang berdo’a sudah tidak khawatir dengan ukurannya, dia serahkan ukurannya terserah Tuhan. Atau berbicara dengan gerakan tangan seperti yang memegang hati.

Bisa dibayangkan jika orang berbicara dengan gerakan tangan seperti yang memegang hati. Diam dengan sorotan mata dan wajah yang tersenyum, mengangguk yang dalam untuk yang dikatakan orang, itu diam yang indah dan penuh hormat.

Rencana-rencana rahasia anda adalah menjadikan diri anda besar. Sehingga anda bicara dari sudut pandang yang tidak bisa dibantah orang.

Suami yang tidak berlaku berwibawa didepan istrinya, setinggi apapun pangkatnya didepan anak buahnya, dia akan diperlakukan rendah. Maka suami tidak boleh bercanda tidak karuan, mengatakan kata-kata yang tidak ada gunanya atau tidak menjaga pandangan, sehingga istri tidak melihat dia sebagai orang besar.

Jadi dalam rencana-rencana rahasia anda, jadilah pribadi orang besar, orang-orang yang menolak anda itu karena melihat ukuran anda sebanding, sehingga anda tidak punya nilai dengar.

Banyak penjabat yang ketika berbicara ditinggal tidur andak buahnya, ditinggal ngobrol, atau ditinggal sms-an, karena dia tidak punya nilai dengar.

Bisa dibayangkan kalau bicara saja tidak didengarkan apalagi diam. Kalau begitu dalam rencana-rencana besar anda, besarkan diri anda.

Kalau ada laki-laki yang pendiam, pemarah, dan suka menyiksa istrinya, pasti dia seorang pria yang sedang tersiksa. Tersiksa karena pangkatnya yang rendah, pendapatannya yang kecil, penghormatan lingkungannya yang kecil. Sehingga dia harus tampil gagah didepan orang yang menghambakan hidupnya baginya. Wanita itu kalau menikah dengan pria lain mungkin lebih dimuliakan.

Masalah apapun, fitnah apapun, ketidak patutan, diabaikan dan sebagainya, jadilah orang hebat. Kita akan tetap bisa berhasil, walaupun istri kita tidak baik, atasan tidak baik, anak tidak baik, tetangga tidak baik, ataupun pemimpin tidak baik. Abaikanlah semua ini, mudah-mudahan setelah kita berhasil, mereka lebih hormat.

Apalagi jika istri anda, anda sayangi dan muliakan, sehingga dia memuliakan anda. Apabila anda gunakan anak-anak sebagai tenaga, bagi upaya anda. Sangat tidak bijak apabila hanya bertengkar dengan satu orang saja, kehidupan anda berhenti. Kalau jadi orang yang kuat, abaikan semua itu, berhasil-lah apapun masalah anda.

Cara terdekat untuk memperbaiki rejeki keluarga adalah meningkatkan kualitas kasih sayang pada keluarga. Semakin indah hubungan kasih sayang dalam keluarga, maka akan semakin mudah kebaikan datang menghampiri rumah ini. Karena tujuan dari semua keberhasilan adalah pulang ke rumah dengan perasaan damai. Pulang ke rumah dengan perasaan damai itu tidak bisa anda bayangkan, terjadi pada keluarga yang bicaranya saling kasar.

Diam itu tidak selalu emas, kalau bicaranya harus mengutarakan kasih sayang. Jadi meskipun ini bukanlah sebuah hukum, bagimana kalau kita menjadikan patokan semua ini bagi diri, orang yang lebih terbuka kasih sayangnya kepada keluarganya, akan lebih mudah terbuka pintu-pintu kebaikan bagi dirinya.

Mulailah dengan mengatakan sayang pada anak dan pada istri anda. Lebih terbukalah mengenai perasaan sayang anda kepada keluarga, karena keluarga adalah tempat dibangunnya kualitas kepemimpinan. Sehingga anda akan lebih mudah melihat kepada orang yang anda layani dengan perasaan sayang yang sebanding.

Diam yang bernilai emas itu dalam ilmu bicara disebut keheningan yang ditaroh dalam tempat yang pas. Jadi orang yang tidak terlatih bicara, itu akan menaruh diam di tempat yang salah. Karena tidak terlatih, berarti bahasa-nya sulit.

Pada bahasan awal disebutkan kejujuran adalah bahasa yang paling mudah. Jadi harusnya orang jujur akan mudah bicara, termasuk mudah diam.

Sehingga orang yang diam pada saat dia harus bicara, dipertanyakan kejujurannya.

Semua keterampilan dalam hidup itu membutuhkan latihan. Berarti berlatihlah. Itu sebabnya kalau kita belum tahu pasti itu benar atau salah, pastikan anda menyampaikannya dengan penghormatan dan kasih sayang. Sehingga kalau kita salah, kita mudah diperbaiki atau dimaafkan.

Kalau kita kasar, dan ternyata kemudian salah, kita bisa mendapatkan perlakuan yang tidak baik.

Kalau kita bicara, berbicaralah yang bisa meningkatkan nilai orang lain. Kalau kita diam, karena kita mengijinkan orang lain meningkatkan nilainya, ijinkan orang bicara, anda diam dulu.

Anjurannya, Kalau kita harus bicara atau kalau mau bicara, cari apakah orang yang didepan anda ini, bisa anda bantu untuk bisa lebih percaya diri, merasa lebih hormat kepada dirinya, menemukan dirinya yang harus dihormati lebih. Cari cara untuk menemukan dia lebih mulia, lalu berbicaralah.

Setiap kali anda mau berbicara, berbicaralah dengan niat memuliakan orang. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Demikian resume dari acara Mario Teguh Golden Ways dengan Topik “Diam Itu Tidak Selalu Emas”. Jika sekiranya didapati kekurangan – suatu kebahagiaan bagi kami, apabila sahabat sekalian berkenan mengoreksi serta menyempurnakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar