Jumat, 13 Januari 2012

MOTIVASI ALA PAK MARIO

Seni Membangun Jaringan


Seni Membangun jaringan adalah suatu seni karena tidak ada rumusan pasti tentang cara membangunnya. Membangun jaringan itu hal yang sangat rumit. Tidak sekedar menjalin atau merajut. Jaringan juga bukan sekedar kumpulan daftar nama atau urutan abjad dari relasi kita, teman kita, atau siapapun yang berhubungan dan kita.

Kita bisa mengumpamakan jaringan seperti sebuah taman bunga yang penuh dengan aneka jenis tanaman. Keindahan dan kesuburannya tergantung pada kita sendiri sebagai tukang kebun. Sebagai tukan kebun, kita harus merancang landscape-nya dan menentukan komposisi tanaman di dalamnya. Kemudian, kita juga harus memelihara dan merawat setiap tanaman agar tumbuh subur dan berbuah pada masanya dengan penuh kasih dan kepedulian. Beberapa tanaman mungkin perlu disiram, yang lainnya perlu dipupuk, atau sebagian lain perlu dipangkas atau bahkan dicabut agar tidak merusak tanaman lainnya.

Bila kita tidak merawatnya, taman kita menjadi penuh dengan semak belukar. Taman tidak bisa menghasilkan bunga-bunga indah atau buah-buahan segar. Taman tidak berkembang dan tanaman tidak tumbuh dengan subur. Memang seperti itulah jaringan kehidupan yang kita miliki. Jika kita mengembangkan dan merawatnya, suatu saat kita akan menikmati hasilnya pada kehidupan kita selanjutnya.

Dan dalam membangun, mengembangkan serta merawat suatu jaringan itu diperlukan sarana. Sarana itu bernama komunikasi. Dalam berkomunikasi, ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan, salah satunya adalah pemilihan kata. Jika pemilihan kata yang digunakan keliru, orang yang kita ajak berkomunikasi akan enggan untuk membangun hubungan dengan kita. Ini bukan hanya berlaku dalam ruang lingkup dunia kerja, melainkan seluruh aspek hidup kita.

Selain pemilihan kata, pemilihan intonasi yang tepat juga sangat penting. Meskipun kita mempergunakan kata-kata yang bagus dan menarik, intonasi yang salah akan membuat kata-kata tersebut memiliki arti yang berbeda.

Etika dalam membangun Jaringan

1.Mengenali dengan siapa kita sedang berhubungan, karena dengan sendirinya kata-kata dan intonasi yang kita gunakan akan diselaraskan dengan orang yang kita ajak berkomunikasi tersebut.

2.Cara kita melakukan pendekatan. Kadang kala ada orang-orang yang ingin langsung akrab ketika pertama kali berkenalan sehingga orang yang diajak bergaul merasa risih (pendekatan dirasa berlebihan). Akibatnya, kualitas hubungan yang diharapkan tidak akan terwujud.

3.Ketika kita mengajukan pertanyaan atau lontaran, ajukanlah pertanyaan atau lontaran yang sesuai dengan kualitas hubungan yang sudah terbangun saat itu. Pertanyaan yang bersifat pribadi yang dilontarkan kepada orang yang belum terlalu dekat dengan kita dapat membuat orang yang bersangkutan menarik diri.

4.Belajar menyetujui pendapat orang lain
-Terkadang tidak cukup hanya dengan anggukan kepala, ada beberapa orang yang lebih yakin melanjutkan komunikasi dengan kita ketika ada sebuah ucapan persetujuan yang muncul dari mulut kita.

-Tidak terburu mengawali kalimat dengan mengatakan “tidak setuju” pada orang lain ketika ada yang berbeda pendapat dengan kita, kecuali betul-betul mutlak keliru.

-Menahan diri untuk tidak berdebat. Bagaimanapun berdebat itu menjatuhkan lawan, sedang berdiskusi itu menyeleseikan persoalan.

5.Belajar mendengar
Allah SWT menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut. Hal ini berarti kita di ajari untuk lebih banyak mendengar. Karena itu akan membuka peluang bagi kita untuk menemukan celah dalam berkomunikasi lebih lanjut dengan orang lain.

Aspek lainnya terdiri atas beberapa langkah, seperti:
• Menyapa (dengan senyum, ramah dan tulus) setiap orang yang berada dalam jarak kurang dari 1 meter dengan kita (di bis, kereta api, pesawat udara, atau dalam lift, dan lain-lain)
• Menyebarkan kartu nama ke setiap orang yang baru Anda kenal,
• Hadiri setiap undangan pesta atau pertemuan apa saja (bahkan melayat orang meninggal atau menjenguk orang sakit).
• Berkenalanlah. Hal yang terburuk yang dapat terjadi adalah orang tersebut tidak merespon Anda (dan biasanya ini sangat jarang terjadi). Kalau Anda tulus mengajak berkenalan tanpa bermaksud mencari keuntungan atau seakan memanfaatkan dia, setiap orang akan membalas sapaan tulus yang Anda berikan.
• Prospekting harus dilakukan setiap saat. Kita harus mengulang-ulang proses ini sampai kita mahir dan menjadilan hal tersebut sebagai kebiasaan baru).

Hal-Hal yang perlu kita perhatikan dalam membangun jaringan.

Menurut pengalaman mereka yang sukses, untuk menjadi sukses kita harus bergaul dengan mereka yang sukses. Charles-Albert Poissant dalam bukunya yang berjudul Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan Terkemuka Dunia memberikan kesimpulan bahwa untuk menjadi seperti para jutawan terkemuka, kita harus mengembangkan jaringan karena jaringan akan membantu kita menaiki jenjang sukses lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Walaupun begitu, kita hendaklah berhati-hati dalam memilih teman, terutama yang ada hubungannya dengan bisnis. Hindarilah orang-orang yang selalu gagal, manipulator (selalu bersiasat dengan manuver yang tidak beres untuk mencari keuntungan sendiri atau menipu), dan orang yang selalu berpikiran picik. Hindarilah mereka yang selalu pesimis dan berpikiran negatif.

Dengan bersekutu dengan orang yang selalu berhasil peluang berhasil kita menjadi jauh lebih besar. Oleh karena itu, kalau kita ingin maju, bergabunglah dengan orang yang berpandangan jauh ke depan (visioner).

Memelihara Jaringan

Pada dasarnya ada dua cara untuk tetap memelihara dan merawat jaringan kita, yaitu cara proaktif dan cara positif-reaktif. Cara proaktif berarti kita secara rutin dan terus menerus memelihara dan berusaha menghubungi jaringan kita secara kreatif. Pada dasarnya menjadi tanggung jawab kita untuk selalu memberi perhatian sehingga jaringan kita menyadari bahwa kita masih menjadi relasinya. Kita harus memiliki daftar atau kalender peristiwa penting bagi jaringan kita, seperti hari ulang tahun, ultah pernikahan, atau ultah anaknya, hari-hari besar seperti hari raya keagamaan, dan sebagainya. Cara paling mudah, cepat, dan cukup akrab adalah dengan menggunakan telepon. Buatlah daftar orang-orang yang perlu kita telepon, misalnya minimal 5 orang per hari. Manfaatkan buku telepon secara kreatif. Bagi orang yang aktif di dunia cyber bisa menggunakan segala fasilitas cyber yang dimilikinya.

Sedangkan cara positif-reaktif berarti kita selalu merespon atau menanggapi secara positif dan melakukan kontak kepada jaringan atas berbagai peristiwa penting atau perubahan situasi yang dialami oleh jaringan kita. Berbagai informasi penting ini dapat kita peroleh melalui jaringan kita yang lain atau dari yang bersangkutan, dari surat kabar, televisi atau radio (jika jaringan kita pejabat, selebriti, atau public figures lainnya). Amati berbagai peristiwa penting dan perubahan yang terjadi dalam komunitas dalam jaringan kita. Tunjukkan perhatian bahwa kita peduli dengan peristiwa yang terjadi dalam jaringan kita. Bahkan kita harus siap membantu dengan tulus dan semampu kita dengan memberikan dukungan moril maupun materiil.

Sebuah jaringan akan selalu memperluas cakrawala dan wawasan kita. Semakin banyak kita berteman, semakin banyak kita membangun jaringan dengan orang lain (dalam kualitas yang lebih baik dari biasanya), kesempatan untuk meraih kesuksesan juga semakin besar. Karenanya, jangan pernah membatasi diri; bukalah hati Anda selebar-lebarnya dan milikilah sahabat sebanyak mungkin. Pastikan Anda menjadi sahabat bagi banyak orang, karena dengan demikian akan ada banyak orang yang menjadi sahabat bagi Anda.











Mario Teguh Year End Note 2008 – The Year Of My True Identity

So, the year is coming to its end.

Kita telah hampir sampai di pertengahan bulan terakhir dari tahun 2008 yang sebetulnya belum lama kita rasakan perayaan tahun baru-nya.

Bagi banyak dari kita, kalimat-kalimat resolusi yang kita buat di akhir tahun 2007 masih belum selesai kita hafal, dan seperti biasa kita harus menyesuaikan kalimat-kalimat janji yang sama untuk tahun yang lebih baru.

Entah sudah berapa tahun kita melakukannya, tetapi anehnya – sudah tidak begitu terasa janggal bagi sebagian dari kita untuk menetapkan janji-janji lama yang sama untuk masa-masa baru yang semakin berat tantangannya.

Memang masa yang baru tidak selalu diisi dengan pribadi-pribadi yang baru.

Kita hanya akan menginginkan sesuatu yang lama, bila kemampuan kita lama.

Tidak ada pribadi dengan kemampuan yang terperbarui, yang akan damai menerima pengulangan keinginan yang sama dari keinginan lama yang telah dicapainya.

Itu sebabnya, untuk menjaga diri ini berjalan sesuai dengan waktu, kita harus membangun kemampuan baru.

Tetapi, bagaimana mungkin kita bisa merasa damai memasuki waktu yang baru, yang penuh dengan ketidak-pastian yang baru, tetapi dengan kemampuan yang lama? Apalagi jika untuk tantangan yang lama saja, kemampuan kita telah terbukti belum memadai.

Tidak sedikit pribadi baik yang setiap akhir tahun terpaksa melibatkan diri dalam kebingaran pesta menyambut tahun baru, sebagai cara untuk menutupi kegalauan hatinya yang jujur mengenai kurangnya kesungguhan untuk menjadikan tahun yang lalu sebagai tahun yang bernilai.

Seperti sebuah pantun, kalimat-kalimat ini mengulangi dirinya berkali-kali dalam tahun-tahun kehidupan banyak anak manusia.

terperangah karena sadar masih belum
berjanji lagi, untuk lupa
kemudian terpaksa ingat, dan berjanji lagi
yang selama lupa, tidak ingat
dan bila ingat, nanti saja

Tetapi, mengapakah ada pribadi yang cepat menjadikan dirinya tegas berpihak kepada yang penting baginya, saat ada yang ketegasannya adalah untuk berlaku tidak tegas?

Bila lama tidak benar, pasti ada yang salah.

Lalu, mohon Anda perhatikan ini, bahwa

Sesuatu yang salah tidak harus terbukti salah untuk salah.

Sebuah kesalahan yang disembunyikan dan ditutupi dengan selimut setebal langit, dan dipertahankan oleh pengacara yang terfasih pembelaannya di bumi – tidak menjadikannya kurang salah.

Sebuah kehidupan yang dipimpin dengan salah, tidak harus dibuktikan menjadi kehidupan masa tua yang lemah – untuk sekarang diputuskan salah.

Tetapi, yang mengherankan adalah orang yang berlaku seolah ingin membuktikan bahwa kesalahan kepemimpinan hidupnya tidak akan menyiksanya di masa tua, padahal telah tampak tanda-tanda pelemahan hidup itu hari ini.

Bila dia termasuk pribadi yang dikasihi, dia akan dibuat gelisah dengan tidak cukupnya kemampuannya untuk membiayai dan memimpin kehidupan yang baik.

Bila kegelisahannya tidak juga mengubahnya, dia akan dibuat merasa rendah diri, kehilangan hormat kepada dirinya sendiri.

Dan bila perasaan kecil-nya itu tidak juga membuatnya ingin membesarkan dirinya, dia akan dibuat merasa marah.

Dan biasanya,

Perubahan-perubahan besar pada seorang cucu Adam dimulai saat dia marah, marah besar – kepada dirinya sendiri.

Dia merasa sangat mengenal dirinya, tetapi dikelabui oleh dirinya sendiri.

Dia merasa bisa mengendalikan dirinya sendiri, tetapi dia terpimpin oleh dirinya sendiri untuk hanya menua.

Dia tahu dirinya menua, tetapi dia tidak pernah tahu apakah dirinya membijak.

Waktu memang mengubah segala sesuatu, kecuali kita.

Kitalah yang harus mengubah diri kita sendiri.

Sahabat-sahabat Super Members yang terkasih,

Berikut adalah catatan sederhana yang saya susunkan untuk Anda sebagai bagian pengutuh dari Catatan Akhir Tahun 2008 ini.

Please enjoy, absorb, and apply.

…….

MARIO TEGUH
The Year Of My True Identity
Tahun Identitas Asli Saya

…….

Sahabatku yang hatinya baik,

Bayangkanlah ini dengan kesungguhan untuk menjadikannya kenyataan yang memuliakanmu dan memuliakan sebanyak mungkin saudaramu.

Bila ada jiwa yang sedang terbingungkan oleh dirinya sendiri yang seperti tidak pernah berketetapan menjadi pribadi yang kuat, dan dia bertanya kepadamu tentang dirinya, nasehatkanlah ini kepadanya.

…….

Engkau datang kepada ku dengan pertanyaan

Siapakah aku?

Dalam diam ku,
aku tahu engkau bertanya-tanya melihat senyumku,
tetapi seharusnya engkau merasa damai bila engkau mengerti seberapa besarnya kasihku kepadamu.

Sadarkah engkau bahwa aku bukanlah diri yang hidup cukup lama di dalam dirimu itu,
untuk ku mengenal dan mengetahui tentang mu
yang memantaskan ku untuk menjawab pertanyaanmu itu?

Dengarkanlah ini dengan mendamaikan dirimu sendiri.

Aku tidak tahu engkau siapa,
tetapi ini yang bisa ku katakan kepadamu,
bahwa

Pertanyaanmu mengenai siapakah engkau
adalah ungkapan keletihanmu dengan pribadi yang belum membanggakan bagimu itu.

Adikku yang terkasih,

ketahuilah bahwa

Kita semua tumbuh dari ketiadaan,
menuju ke kemuliaan.

Kita tumbuh dari ketiadaan wujud, ketiadaan nama, dan dari ketiadaan kehadiran.

Maka marilah kita mulai dari wujud mu.

Identitas dasar dari dirimu ada dalam wujudmu.

Yang kau mengerti sebagai wujudmu itu sering kau sederhanakan hanya sebagai bentuk, ukuran, berat, dan warnanya saja;

tetapi sebenarnya,

dirimu lebih ada, lebih bernama, dan lebih hadir dari yang bisa kau mengerti.

Aku tak ingin membingungkanmu,
tetapi dengarlah pengandaian ini:

Seandainya engkau bisa melihat jiwa-jiwa suci yang ditugaskan untuk menjaga dan membimbingmu untuk menjadikanmu sebagaimana seharusnya engkau menjadi,
engkau tidak akan berlaku seperti yang tidak sedang disaksikan itu.

Yakinilah itu,
dan engkau akan berlaku dalam sebaik-baiknya kelakuan.

Dengannya,
engkau akan tumbuh, bergerak menuju diri mulia mu
yang selama ini tersuramkan oleh perilaku hati, perilaku pikiran, dan perilaku badanmu yang membuat jiwa-jiwa suci pendampingmu itu malu.

Tetapi,
untuk sekarang cukupkanlah kesadaran mengenai pendampingmu itu sebagai pengetahuanmu saja,
dan

Berlakulah dengan kesadaran bahwa engkau sedang dalam pengawasan.

Ya, engkau selalu dalam pengawasan.

Tetapi, mengapakah aku memberitahumu mengenai hal ini?

Bukankah engkau yang sering mengatakan kepadaku
bahwa Tuhan Maha Mengetahui?
bahwa Tuhan Maha Menyaksikan?
dan bahwa Tuhan mengetahui dan menyaksikan semua yang kita lakukan?

Tetapi,

mengapakah sering tanpa ragu engkau hadirkan dirimu dalam seburuk-buruknya perilaku dalam penyaksian Tuhan?

Apakah engkau akan melakukan banyak hal yang kau lakukan dalam penyaksian Tuhan itu,
di depan tetangga mu, yang bahkan tidak kau hormati itu?

Lalu,
apakah yang terjadi dengan rasa hormatmu kepada Tuhan?

Sahabatku yang baik,

Bila engkau menghormati Tuhan,
tidak mungkin engkau berlaku yang menjadikanmu tidak menghormati dirimu sendiri.

Maka wajar bila engkau bertanya kepadaku,

Siapakah aku?

karena engkau terbingungkan oleh diri yang melakukan yang diketahuinya tidak pantas baginya untuk melakukan.

Bila engkau sudah menerima ini,
kita bisa sekarang naik ke anak tangga pengertian berikutnya.

… anak tangga pengertian berikutnya …

Apakah engkau melihat keindahan dari selarik kata-kata itu?

… anak tangga pengertian …

Ya …

Kita naik dalam kehidupan ini,
dalam derajat yang bertingkat-tingkat,
dan
derajat-derajat itu kau capai
melalui tingkat-tingkat dari pengertianmu.

Semakin engkau mengerti, semakin engkau berderajat,
karena engkau tidak mungkin berlaku yang bertentangan dengan yang kau mengerti.

Maka ketahuilah ini,

Siapapun yang berlaku bertentangan dengan yang dimengertinya, adalah orang yang belum benar-benar mengerti.

Sekarang,
sudahkah engkau mengerti mengapa aku selalu tersenyum kepadamu?

Aku tersenyum,
karena aku melihat dirimu dari tempat yang memungkinkan ku melihat kenaikan derajatmu bila engkau percaya.

Aku tersenyum,
karena aku melihat kebaikan dalam dirimu yang sedang kau biarkan kalah di bawah kepentinganmu yang tidak penting.

Aku tersenyum,
karena aku melihat bagaimana engkau tersiksa karena kekesalan mu terhadap dirimu sendiri yang sering berlaku palsu.

Lebar senyumku,
karena mendengar mu berjanji tidak akan berlaku sombong, tetapi mengatakannya dengan kalimat-kalimat seseorang yang angkuh.

Lucu senyumku,
karena mendengar kesediaanmu untuk memaafkan orang lain dengan kesungguhan untuk memastikan bahwa mereka tahu hanya engkau yang benar.

Haru senyumku,
karena melihat upayamu untuk mendapatkan kasih sayang dengan cara-cara yang mengusir kasih sayang.

Dan semua kesabaran dalam senyumku itu ada,
karena aku sedang menanti saat dimana engkau berlaku tegas untuk menjadi pribadi yang baru.

Ya …,
aku mendengar keraguanmu itu …

Engkau dan aku tahu bahwa pribadi yang baru itu tidak pernah bebas untuk menjadi betul-betul baru, karena akan selalu ada sisa-sisa dari kenyamananmu dalam cara-cara yang lama itu yang mencoba memasuki ruang-ruang indah dari pembaruan dirimu.

Tetapi ini yang harus kau mengerti,
bahwa

Pribadi apapun yang mengupayakan perbaikan
adalah sudah baru.

Siapapun yang menginginkan dirinya menjadi baik, sudah menjadi orang baik.

Kebaruan mu bukan datang karena engkau telah meninggalkan semua diri lama mu.

Kebaruanmu dimulai dari niatmu untuk menjadi pribadi baru.

dan

Kesungguhanmu dinilai dari yang betul-betul engkau lakukan.

Adikku yang sahabat baik hatiku,

sekarang marilah kita kenali dirimu sebagai sebuah wujud.

WUJUD

Mulailah dengan melihat dirimu dari luar dirimu.

Engkau ada sebagai gambar dalam pandangan orang lain.
Mungkin mudah bagimu untuk mengerti itu,
tetapi mengapakah engkau tidak tertarik untuk merancang dirimu menjadi seindah-indahnya gambar?

Engkau ada sebagai suara dalam pendengaran orang lain,
tetapi mengapakah engkau tidak memerdukan suara dan mengindahkan kata-kata yang keluar dari wajahmu?

Engkau ada sebagai aroma dalam nafas orang lain,
tetapi mengapakah engkau tidak mengharumkan dirimu?

Engkau ada sebagai yang otot yang hidup dalam sentuhan orang lain,
tetapi mengapakah engkau tidak melembutkan ketegasan sentuhanmu?

Dan engkau ada sebagai kesan dalam keseluruhan indra orang lain,
tetapi mengapakah engkau tidak membangun tempat yang indah di hati mereka?

Maka,

Jika engkau membiasakan diri untuk melihat dirimu sendiri dari luar dirimu,
engkau akan memperbaiki pendapat buruk mu tentang dirimu sendiri,
dan mulai mengambil keuntungan dari apa yang diharapkan oleh orang lain dari mu.

Yakinilah ini, bahwa

Perubahan yang terbaik bagimu adalah perubahan yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain.

Dan cara terbaik untuk berubah adalah membuktikan kemampuan untuk mendatangkan kebaikan bagi banyak orang, dengan memulai kebaikan itu kepada dirimu sendiri.

Berlaku baiklah kepada dirimu sendiri, karena bila tidak – engkau tidak akan menjadi baik bagi siapapun.

Kemudian, adik kebanggaanku,

Kita sampai pada kebutuhanmu untuk menjadikan wujud mu itu meninggalkan keadaannya yang tak bernama, dan menjadi keberadaan yang bernama baik.

NAMA

Sekarang,
mudah-mudahan yang kita bicarakan ini dapat mendekatkan kita kepada pengertian yang membantumu menjawab pertanyaanmu sendiri, mengenai

Siapakah aku?

Meskipun kedua orang tua terkasih mu telah mendoakan kebaikan bagimu dan memberimu nama jauh sebelum kemungkinan keberadaanmu di dunia ini, engkau hanya bernama bagi mereka, dan sebetulnya tak pernah bernama bagi orang lain – sampai mereka mengenalkanmu kepada orang lain.

Setelah engkau lari bersegera keluar dari bayang-bayang perlindungan orang tuamu, engkau masih sebetulnya tak bernama – sampai engkau mengenalkan dirimu sendiri kepada orang lain di luar keluargamu yang telah mengenalmu sejak kelahiranmu.

Maka marilah kita simpulkan,
bahwa

Engkau hanya dikenal sebaik engkau mengenalkan dirimu sendiri.

Perhatikanlah kata itu, … dirimu.

Jadi sebetulnya engkau tetap tidak akan bernama bagi orang lain, bila engkau tidak mengenalkan dirimu.

Tetapi, mengapakah ada di antara mu yang memperkenalkan dirinya dengan cara-cara yang bahkan dapat merusak nama-nama yang terbaik di dunia ini?

Pernahkah kau temui orang yang menggunakan alamat bagi penerimaan dan pengiriman surat bagi diri pribadinya, dengan nama-nama yang seolah-olah sengaja mengundang perlakuan tidak serius kepadanya, seperti:

biarin@hopeless.com
akuajanich@notimportant.org
takbutuhcinta@desperate.net
akusudahsukses@thegreatpretender.biz
palegue@norespect.tv
iiiiiaaiiiiiee@confused.gov

Tetapi, janganlah dulu menganggap setiap orang dari mereka tidak bersungguh-sungguh.

Ada yang mengira itu cara terbaik memperlakukan dirinya.
Ada sebagian dari mereka yang telah lama meratap dalam kebingungan yang tulus.

Dan banyak dari mereka yang tidak tahu mengapa orang lain tidak menganggap mereka serius, dan tidak melihat mereka bahkan dengan sebelah mata.

Bantulah mereka mengerti bahwa

Kehidupan yang serius kebaikannya, sulit dicapai dengan nama yang tidak serius penghormatannya.

Maka, sahabatku yang indah hatinya,

Indahkanlah namamu.

Karena, perlakuanmu terhadap namamu adalah pengundang bagi penghormatan yang sebanding dari orang lain.

Maka bila namamu adalah Freddy Rachmad, maka akan lebih baik bagimu bila engkau menggunakan freddy.rachmad@king.com

Atau bila namamu adalah Ayudiah Ratri, maka akan lebih baik bagimu bila engkau menggunakan ayudiah.ratri@queen.com

Sahabatku yang baik,

Ini yang ada dibalik senyumku.

Kelebat gambar dan perasaan saat aku berjalan di jalan yang sedang kau lalui sekarang.

Aku mengenal banyak lubang yang mengukir permukaannya
dan duri yang menggapai dari kedua sisinya,
dan beberapa kali aku berlaku terlalu akrab dengan mereka,
dan merasakan ngilu pagutan dari gerigi di bibir lubang-lubang itu pada tulang kering di kedua kakiku,
dan hampir meleleh jantungku karena pedihnya sengatan duri-duri yang tersembunyi di balik kesenangan-kesenangan sementara.

Engkau tidak sendiri dalam penderitaan dan keterperdayaan mu, dan engkau bukan yang pertama, dan sedihnya – engkau juga bukan yang terakhir.

Akan selalu ada pribadi yang melalui jalan-jalan yang kita lalui itu dengan kepolosan yang menjadi sumber kenikmatan bagi lubang-lubang dan duri-duri itu.

Tetapi, seperti seharusnya engkau juga, aku menguatkan gigitan pada rahangku melalui semua itu.

Aku sangat ingin engkau mengetahui bahwa

Aku mengalami semua yang harus kualami agar aku menjadi pribadi yang matang dan kuat.

Dan adik kekasih hatiku, banyak dari yang dulu kualami itu sedang kau alami sekarang.

Dulu,
Aku percaya, dan lalu tertipu, karena yang kupercaya hanyalah yang paling sesuai bagi kesenangan sementara yang dekat.
Aku terbuai, dan kemudian diracun, karena yang kusahabati adalah yang hanya manis di bibir.
Aku juga membenci, dan kemudian harus menjilat kembali kebencianku, karena aku membenci asal yang bukan aku.
Aku bekerja dengan semangat yang sesuai dengan kecilnya pendapatanku, dan kemudian disiksa dan dipaksa untuk bekerja keras – tetap dengan imbalan yang kecil.

Dulu,
Aku lama marah, menyalahkan siapapun selain diriku.
Aku memarahi bahkan yang menyayangiku.
Aku mendekati sahabat-sahabat palsu yang hanya menyadap hatiku, tetapi mendorong jauh-jauh mereka yang hatinya terluka melihat penderitaanku.
Aku mencemooh orang-orang bijak.
Aku protes ke arah langit.

Aku sedang buta,
Dan aku tidak melihat kebutaan ku.

Padahal,

Tidak ada orang yang buta bila ia bersedia melihat kebutaannya sendiri.

Indah sekali ya?

Mampu melihat karena melihat kebutaan.
Menjadi buta saat menolak melihat kebutaan.

Ternyata, semua penderitaanku itu adalah penyiap bagiku.

Ternyata, semakin aku menderita, sebetulnya semakin baik bagiku.
Karena saat sampai waktuku untuk memilih untuk mengerti, aku mengerti banyak hal.

Pengertian.

Mudah-mudahan engkau ingat, saat kukatakan kepadamu, bahwa

Pengertian adalah sinar yang paling terang.

Pengertian adalah sinar yang menjadikan saudaraku yang tunanetra melihat lebih jelas daripada yang berpenglihatan tetapi yang menolak untuk mengerti.

Tanpa pengertian engkau akan tersesat bahkan di seterang-terangnya jalan sepanjang dan selama penolakanmu untuk mengerti. Dan jangan sampai itu kau biarkan terjadi sepanjang hidupmu.

Semua penderitaanku itu adalah penyiap bagiku, sebagaimana penderitaanmu adalah penyiap bagi kecemerlangan dirimu.

Maka tolaklah pengertian yang hanya sesuai dengan kesediaanmu untuk menyia-nyiakan hidupmu.

Adikku yang menempati ruang yang indah di hatiku,

Aku melihatmu mengangguk.

Sudah kau lihat sekarang bahwa senyumku itu karena kasih sayangku kepadamu?

Aku tersenyum,
karena aku melihat dirimu dari tempat yang memungkinkan ku melihat kenaikan derajatmu bila engkau percaya.

Bila ternyata masih ada di antara mereka yang tidak percaya, tersenyumlah dengan penuh kasih,
karena dia akan akhirnya menyetujuimu pada saat dia terlalu tua
untuk memenangkan kehidupan dengan sisa kekuatan dari kemudaan yang disia-siakannya.

Terimalah bahwa akan selalu ada orang yang mempermainkan penghormatan kepada namanya sendiri.

Bagi hati yang penyayang seperti hatimu, hal itu memang menyedihkan.
Tetapi, bukankah kita semua sedang menunggu.

Ada yang menunggu hasil baik dari pilihan-pilihan baiknya.

Ada yang menunggu pembuktian dari tidak-berguna-nya pilihan-pilihan buruknya.

Ada juga yang menunggu menggunakan cara baru, sampai setelah terlambat baginya untuk menggunakan cara apapun.

Adikku yang dititipkan oleh Ibuku kepadaku,

Dengarkanlah ini.

Aku tahu bahwa

Masa lalu mu masih berperan dalam pemilihan isi bagi nama dan penghormatanmu kepada dirimu.

Tetapi penghormatan orang lain yang buruk, tidak akan berdampak lama
bila penghormatanmu kepada dirimu membuatmu menerima
bahwa masa lalu mu adalah penghantar bagi kecemerlangan masa depan mu.

Semakin buruk masa lalu mu,
akan semakin besar perbedaan yang dapat kau bangun dari pribadi lama mu ke pribadi baru mu.
Dan dengannya,
semakin besar nilai penghormatan yang terpantaskan bagimu.

Maka tetapkanlah ini di hati mu,

Meratapi masa lalu mu, tidak akan memperbaiki apapun yang sudah terjadi; tetapi pasti melapukkan hidupmu yang sekarang.

Mengkhawatirkan masa depan mu, tidak akan menjamin terhapusnya semua masalahmu nanti, tetapi pasti menyadap kekuatanmu hari ini.

Maka,

Janganlah kau gunakan nama yang menunjukkan kepada dunia bahwa engkau adalah pribadi yang terluka dan yang masih terus melukai dirinya sendiri sampai nanti.

Pastikanlah bahwa

Namamu seharusnya adalah cerminan dari yang ingin kau capai di masa kejayaanmu nanti.

Adikku, sahabatku yang tegar hatinya,

Sekarang aku tersenyum, karena kini kurasakan getaran hatimu yang lebih ramah terhadap anjuran untuk menjadikan dirimu sebagai wujud yang bernama baik.

Gunakanlah keperkasaan jiwamu untuk mengangkat derajatmu pada ketinggian yang menunggangi awan, dan setialah kepada kerendahan hatimu untuk tetap membumikan dirimu dekat bersama jiwa-jiwa saudaramu yang membutuhkan bantuan.

Karena, tahapan berikutnya dari identitas mu adalah kehadiran mu dalam kehidupan yang indah ini.

KEHADIRAN

Sahabat tujuan kebaikanku,

Hentikanlah pengejaran mu atas kecantikan dan keindahan yang tidak terlihat dari balik dinding,
dan utamakanlah pengembangan dirimu untuk menjadi pribadi yang kebaikannya terlihat saat engkau tidak hadir, dan yang tetap ada saat kehadiran jasadmu di dunia ini selesai.

Ketahuilah bahwa kecantikanmu hanya ada saat terlihat, tetapi kebaikanmu akan selalu ada bahkan bagi orang yang tidak mengenalmu dan tidak mengetahui bahwa itu adalah kebaikanmu.

Lalu,

Mengapakah engkau demikian gelisah dan tergesa-gesa mengejar keindahan dan kelengkapan yang hanya ada bila terlihat, dengan mengorbankan keindahan dari kehidupan yang sesungguhnya?

Untung saja, engkau belum dibuat berhasil dalam pengejaran palsu itu, agar engkau tak mengira bahwa yang sia-sia adalah jalan yang benar.

Dan bila engkau sedang dilambatkan dalam pengejaranmu dan sedang dirabunkan dalam pencarianmu, mungkin itu karena engkau sangat disayangi dan sedang ditunggu pengertianmu untuk mendahulukan yang lebih baik.

Berbunga hatiku saat aku melihatmu mengangguk khusuk dan haru, saat aku simpulkan untukmu, bahwa

Upaya adalah pengubah nasib,

sehingga upayamu adalah pengubah nasibmu.

Lalu engkau bertanya-tanya dan memintaku menjelaskan,
mengapakah bila upaya adalah pengubah nasib, Tuhan belum memperbaiki nasibmu melalui semua upaya penuh penderitaan yang sekarang sedang kau tapaki?

Wahai hati yang bertanya,

Ketahuilah ini dan jadikanlah penuntun bagi pilihan upayamu, bahwa

Upaya adalah pembaik nasib, hanya bila upaya itu baik.

Sehingga jangan engkau sebut pekerjaanmu itu upaya yang akan memperbaiki nasibmu, bila dalam mengerjakannya engkau berlaku tidak adil kepada yang membayarmu, tidak tulus kepada pelangganmu, dan tidak jujur kepada keluargamu.

Engkau memang tetap bisa hadir tanpa harus menjadi keuntungan bagi orang lain, tetapi bila kehadiranmu tidak menyebabkan perbedaan yang berarti, untuk apakah engkau hadir?

Maka mulai hari ini tetapkanlah dirimu untuk hadir sebagai keuntungan bagi orang lain.

Janganlah engkau tiru perilaku dari mereka yang lebih disyukuri ketidak-hadirannya, karena mereka berperan sebagai pelambat hasil atau perugi bagi orang lain.

Semakin besar perbedaan yang bisa kau sebabkan karena kehadiranmu, akan semakin bernilai engkau bagi orang lain.

Dan bila engkau memimpikan untuk menjadi bintang di antara bintang, pastikanlah bahwa perbedaan yang kau sebabkan dalam kehadiranmu itu adalah perbedaan yang tidak bisa dibangun oleh orang lain.

Sekarang, aku tanyakan ini kepada hatimu yang lebih ramah,

Mulai hari ini, apakah engkau akan memastikan bahwa setiap jiwa yang bersentuhan denganmu akan menjadi jiwa yang mensyukuri pertemuan denganmu?

Sadarkah engkau bahwa bila orang merindukan kehadiranmu, sebetulnya engkau telah hadir di hati mereka?

Maka undangannya kepada kita,
engkau dan aku,

Capailah keindahan yang membahagiakan pada semua yang bisa kau indahkan dalam dirimu, agar engkau menjadi pengindah kehidupan semua saudaramu.

Adikku yang terkasih,

Semua perjalanan adalah perjalanan kejiwaan.

Kita tumbuh dari jiwa mulia yang suci, untuk menjadi jiwa yang bersemayam damai di dalam diri yang dewasa, baik, dan cemerlang.

Kita semua adalah jiwa yang sedang hidup di alam raga.

Namun kepelikan keberadaan raga inilah yang menjadikan kita terlupakan, tersilaukan, dan berlaku seolah-olah kehidupan ini adalah kehidupan raga.

Adikku, ketahuilah bahwa

Kehidupanmu adalah kehidupan jiwamu.

Jiwamu-lah yang mengisi ragamu agar ia menjadi seseorang.

Maka,

Nama yang kau pilihkan bagi dirimu adalah sebetulnya nama bagi jiwamu.

Dan,

Identitas dari dirimu adalah identitas dari jiwamu.

Yang ini aku mohonkan pengertian baik mu, bahwa ragamu itu hidup hanya selama nyawa yang dititipkan Tuhan padanya – masih ada.

Nyawamu adalah serpihan indah dari keberadaan Tuhan, yang akan kembali kepada Tuhan saat masa pelayanan jiwamu dalam kehidupan ini selesai.

Dan dengan ditarik-kembalinya nyawamu, ragamu menjadi kumpulan materi yang tak lagi berpendapat, yang akan terurai kembali kepada sumber pembentukannya, … tanah.

Tetapi jiwamu ada, tegak dan hidup – sehidup kesadaran terakhirmu sebelum nyawamu memulai perjalanan kerinduannya untuk kembali kepada Tuhan. Dan jiwamu menyusulnya dalam waktu yang ditetapkan.

Maka memudar dan sirnalah kabut yang menutupi pengertian baikmu selama ini, dan terbukalah pengertian bahwa semua kehidupan adalah kehidupan jiwa yang menuju bentuk terbaiknya, untuk kembali kepada Tuhan.

Engkau jiwa yang mulia.

Maka apa lagi-kah yang masih kau ragukan?

Sini, mendekatlah engkau kepadaku.

Sambutlah tanganku, karena tangan ini telah menyentuh dan meringankan semua sakitku di masa mudaku.

Semoga dengannya hatimu berharu-gembira bahwa engkau adalah belahan jiwaku, dan mengobati dirinya sendiri dengan rasa sakit yang sebetulnya adalah rasa dari obat kebaikanmu.

Adikku yang terkasih,

Mulai hari ini, sadarilah bahwa

Hatimu Adalah Wajah Dari Jiwamu

Maka kenakanlah wajah terbaik dari jiwamu, agar kehidupan ini memperlakukanmu dengan keindahan yang terpatutkan bagi mereka yang jiwanya rupawan.

Aku tahu engkau ingin aku melanjutkan perbincangan indah kita ini dengan telisikku mengenai Hati Yang Menjadi Wajah Dari Jiwamu, tetapi biarlah itu menjadi pengindah dari pertemuan kita yang menyusul.

Maka sering-seringlah engkau mengunjungiku, karena telah kutetapkan diriku sebagai pelayan bagi kebahagianmu.

Adikku yang tulus ketegasannya,

Yang sekarang harus kau jadikan hadiah bagi dirimu sendiri di tahun yang baru nanti, adalah

Menjadikan dirimu sadar mengenai kebesaran yang menjadi kerinduan jiwamu itu.

Kemudian menjadikan kesadaran akan tugas dari jiwamu sebagai warna dari semua kekuatan dan kesabaranmu.

Dan yang ini aku mohonkan perkenan Tuhan bagimu, adik kecintaan hatiku:

Jadikanlah keikhlasan sebagai kekuatan dari pekerjaanmu, dan keberserahan sebagai kekuatan dari penantian hasilmu.

Karena,

Engkau jiwa yang mulia, dan itulah identitas-asli-mu.







Mario Teguh Super Note – Before The Year’s End 2008

Rekan-rekan Super Members yang terkasih,
Semoga email saya di malam ini menyambut Anda sepagi mungkin di hari Kamis yang penuh berkah ini, dengan semua doa dan harapan baik agar Tangan Yang Tak Terlihat itu menuntun Anda menuju tempat-tempat masuk yang benar atau jalan-jalan keluar yang benar.
Sebentar lagi kita memasuki bulan terakhir dari tahun 2008, yang biasanya menjadi bulan yang sangat emosional bagi banyak dari kita, yang kemudian terdorong untuk membuat janji-janji kesungguhan yang baru untuk tahun yang akan datang.
Tetapi, biasanya ada suara-suara kecil di relung terdalam di hati ini yang berusaha menarik perhatian dan mengingatkan bahwa masih banyak dari yang kita janjikan di bulan Desember 2007 – yang sampai sekarang belum melihat sinar matahari tahun 2008. Meskipun telah bertahun-tahun kita berhasil menekan dan mengabaikan pengingatan itu, kita tahu bahwa suara itu akan terdengar lagi menjelang akhir tahun 2009 nanti.
Dan sebagian dari kita memang akan menjadi semakin ahli mengabaikan pengingatan dari hatinya sendiri.
Sahabat-sahabat yang menjadi tujuan pelayanan kami,
Bagaimana jika hari ini kita mencoba memperpendek jarak antara akhir tahun 2007 dan akhir tahun 2008, dengan membaca ulang Year End Note yang saya siapkan untuk rekan-rekan di ruang keluarga kita yang ramah ini pada penghujung tahun 2007 yang lalu.
Saya anjurkan Anda mengundang kembali dan merasakan kesyahduan dari janji-janji akhir tahun Anda di tahun 2007, dengan menapaki kalimat-kalimat dalam Year End Note ini dengan setulus-tulusnya. Kemudian, saat Anda selesai, saya mohon Anda membayangkan kira-kira janji baru apa lagi kah yang akan Anda buat di akhir tahun 2008 ini, untuk tahun 2009.
Kira-kira, sebesar apakah pribadi yang namanya Anda itu – akan Anda jadikan di tahun 2009 yang baru nanti?
Rekan-rekan Super Members pengisi kehidupan ini,
Bersihkanlah hati Anda, sebelum memulai apapun yang penting bagi kehidupan.
MT Year End Note 2007

Hati Yang Mencari
MARIO TEGUH

Engkau sahabat ku terkasih,

Bayangkanlah ini …

Sebuah kehadiran berdiri di belakang mu,
yang kau kenali tanpa kau lihat,
yang kau rasa tanpa kau sentuh,
dan yang kau hirup kegagahannya tanpa memeluknya;
dan kemudian kau menghadapnya tanpa berputar.

Dan kau rasakan getaran di dinding dada mu,
pipa nafas mu menyempit karenanya,
yang berirama dengan kedalaman suara damai-nya,
yang berbicara kepada hati mu …

Wahai Hati Yang Mencari,

ini yang aku undangkan kepada mu, bahwa

Masa yang baru ini harus kau masuki dengan kekuatan yang damai.

Cegahlah semua bibit kelemahan untuk menyertai mu dalam memasuki tahun yang masih bersih, segar, dan indah ini.

Yakinilah,

Bila engkau memulainya dengan kelemahan,
engkau akan mengakhirinya dengan kekecewaan.

Tahun ini sebetulnya sangat berserah kepada mu.

Semangatnya adalah semangat mu,
kekuatannya adalah kekuatan mu,
dan keindahannya mengambil semua bahan pembentuknya dari keindahan hati mu.

Bila hati mu mencari,

Janganlah engkau membatasi
apa yang dapat Tuhan lakukan untuk mu.

Apakah engkau berdoa?
Karena doa mu adalah permintaan mu.

Apakah doa mu?

Bila engkau meyakini bahwa Tuhan kita adalah Yang Maha Mendengar, Yang Maha Kaya, dan Yang Maha Menjawab Permintaan,

Mengapakah engkau meminta yang kecil-kecil?

Sadarkah engkau bahwa dengan menakar permintaan mu, engkau sebenarnya telah bertindak seolah-olah membatasi kewenangan Tuhan?

Sadarkah kau, bahwa engkau seolah melarang Tuhan untuk menyejahterakan dan membahagiakan mu – lebih baik dari yang sedikit engkau takarkan bagimu dalam permintaan kecil mu itu?

Janganlah engkau membatasi apa yang dapat Tuhan lakukan untuk mu.

Tugas mu adalah meminta, maka minta-lah.

Kemudian pantaskanlah diri mu bagi jawaban dari permintaan mu itu.

Ingatlah bahwa

Sebuah kualitas tidak bisa lepas
dari kualitas sebelumnya.

Sebuah tahun yang utuh, seperti apa pun yang utuh – memiliki awal, tengah, dan akhir. Tetapi, yang sering kau lupakan adalah bahwa yang tengah itu adalah sebuah proses yang bergantung kepada kualitas tindakan mu, untuk menjadikan akhir-nya juga berkualitas.

Setiap tahun memiliki awalan, tetapi tidak satu pun dari tahun-tahun itu yang mampu kembali ke awalnya. Tidak juga kau.

Engkau tidak akan bisa mencoba kembali hidup di dalam masa lalu mu, tanpa melukai kualitas kehidupan mu hari ini. Tidak ada yang dapat kau lakukan kepada hal-hal yang telah menjadi ‘tadi’, atau yang ‘kemarin’, apalagi yang ‘dulu’.

Engkau juga tidak akan mampu mencoba hidup di dalam impian masa depan mu – sebagai cara untuk melarikan diri dari masa kini mu, tanpa mengabaikan kualitas kehidupan mu hari ini. Seandainya saja engkau mengetahui, bahwa engkau tidak akan mampu mengabaikan kehidupan, karena kehidupan telah mulai menelantarkan mu pada tanda pertama bahwa engkau tidak menghormati kehidupan.

Sekarang, sadarilah bahwa

Setiap hari adalah awal dari kehidupan baru mu.

Semua yang ada awalnya menuju kepada akhirnya. Maka pastikanlah bahwa akhir yang sedang kau tuju adalah sebuah akhir yang baik – dengan memastikan bahwa engkau memulai tahun yang baru ini, sebagaimana engkau harus memulai apa pun - yaitu dengan awal yang baik.
Wahai Hati Yang Mencari,

Aku mendengar awal dari bisikan-bisikan kesungguhan baru mu;
maka berketetapanlah setelah engkau memutuskan,
karena

Apa pun yang dimulai dengan kebaikan,
akan dimuliakan dengan ujian.

Tetapi engkau sering melihat ujian itu sebagai penyulit bagi perjalanan mu.

Ujian itu adalah pemulia bagi mu – bila engkau tulus menerima hukum bahwa upaya adalah pengubah nasib. Kesulitan adalah pengundang bagi upaya yang lebih berkualitas.

Sehingga sebetulnya, bila dalam upaya mu – engkau menemui kesulitan, itu berarti bahwa engkau berhak bagi hasil yang lebih baik daripada yang tadinya engkau tuju; dan para malaikat menghadiahkan kesulitan agar engkau mengupayakan cara-cara yang lebih baik – untuk mencapai yang lebih baik daripada yang tadinya ingin kau capai.

Dan karena Tuhan tidak akan memberikan kepada mu ujian yang berada di luar kemampuan mu untuk menyelesaikannya, dan bila engkau tulus mempercayai Beliau – engkau akan menghibahkan diri mu dalam pekerjaan-pekerjaan menghamba yang mengubah nasib mu.

Tetapi kemudian dalam desah nafas ragu mu, engkau mengingatkan diri mu bahwa kemampuan mu kecil. Lalu seolah engkau sedang berkhotbah, lancar bicara mu merincikan semua alasan mengapa engkau tidak berhak bagi impian-impian yang lebih besar daripada yang bisa dicapai dengan kemampuan kecil mu.

Dan untuk hati mu yang lemah dan melemahkan itu,
aku katakan ini kepada mu,
bahwa

Tuhan kita – sebagai kekasih mu,
akan mencukupkan sekecil-kecilnya kemampuan mu
untuk menyelesaikan sebesar-besarnya pekerjaan mu.

Bila bukan itu yang Beliau lakukan untuk kekasih-Nya, lalu untuk apakah engkau disebut kekasih Tuhan?

Maka lengkapkanlah upaya mu untuk mengkekasihkan diri mu kepada Tuhan.

Untuk itu,

Apakah yang sudah kau lakukan untuk membahagiakan Tuhan mu?

Apakah selama ini engkau mencari yang membahagiakan mu, dengan cara-cara yang mengabaikan kebahagiaan Tuhan?

Apakah ada kebahagiaan yang tidak datang dari suka cita Tuhan atas sikap, pikiran, dan tindakan mu?

Maka camkanlah ini,

Bila hanya untuk kesenangan – hal-hal yang palsu bisa saja mencukupi; tetapi bila untuk kebahagiaan – engkau tidak bisa menghindari yang benar.

Dalam pengertian baik mu,

Engkau dapat mengubah apa pun yang selama ini kau kerjakan untuk diri mu yang hasilnya subur bagi keluhan itu – menjadi pekerjaan untuk membahagiakan Tuhan, yang hasilnya adalah upah yang memuliakan dari Beliau.

Apakah kau sadari bahwa

Semua upah adalah upah yang berasal dari persetujuan Tuhan.

Apakah kau sadari bahwa tidak ada orang yang bisa membayar mu kurang atau lebih dari yang telah diijinkan Tuhan untuk kau terima?

Bila engkau memperhatikan,

Tuhan Yang Maha Kaya telah menjadikan beberapa orang di antara kita untuk menjadi juru bayar bagi kita.

Maka janganlah engkau marah kepada juru bayar yang membayar mu kurang, karena keputusan mengenai jumlah yang kau terima kurang itu – ada dalam keputusan di langit.

Dan janganlah juga engkau berlebihan dalam pujian dan terima kasih mu kepada juru bayar yang membayar mu lebih, karena keputusan mengenai jumlah yang kau terima lebih itu – juga ada dalam keputusan di langit.

Bila ada di hati mu perasaan seperti engkau sedang diperlakukan tidak adil, berbicaralah dengan Kekasih mu Yang Maha Pengasih itu.

Di hadapan Tuhan,
engkau akan menemukan arti kebebasan yang sebenarnya.

Di hadapan Beliau engkau terbebaskan dari semua batasan dan kungkungan.

Bila kebingungan dan kesedihan mu memantaskan diri mu untuk sebuah tangisan yang rintihannya rendah dan dalam, … maka menangislah dengan jujur di hadapan Tuhan mu.

Bila masih ada kepalsuan di dalam hati mu, engkau akan bertahan dan tidak mengijinkan diri mu menangis. Tetapi, bila di hadapan Tuhan pun engkau masih berpura-pura, kepada siapa kah engkau dapat berlaku jujur?

Dalam kesedihan dan kegembiraan,
ketulusan mu selalu dekat dengan air mata mu.

Walaupun pandangan mu terburamkan oleh air mata, sebetulnya hati mu mengerti bahwa Beliau tersenyum penuh kasih menantikan ketulusan hati mu.

Tidak ada tangisan yang lebih indah daripada tangisan mu yang telah berserah.

Tangisan mu adalah pembuka dari semua kepura-puraan dan kepalsuan mu.

Derai tangis mu adalah tanda bahwa engkau telah lama membawa beban berat yang seharusnya telah lama kau serahkan kepada Tuhan mu.

Serahkanlah semua beban mu. Beliau sangat tersanjung menerima semua beban mu; itu sebabnya Beliau kau sebut sebagai Tuhan mu.

Beliau telah meminta mu untuk menyerahkan beban mu kepada-Nya, bahkan sebelum engkau mengerti permintaan; tetapi entah mengapa engkau berlaku seperti engkau tidak membutuhkan bantuan.

Tuluslah dalam rembukan mu dengan Tuhan.

Engkau tidak dapat keluar dari pertemuan yang tulus dengan Tuhan mu, tanpa menjadi pribadi yang baru, yang lebih baik.

Wahai Hati Yang Mencari,

Berserahlah …

Tugas mu adalah melakukan yang terbaik dari yang bisa kau lakukan.

Apa pun dampak dan hasil dari upaya mu, ada dalam kewenangan Tuhan mu.

Bukan bakat mu, bukan kepandaian mu, dan bukan modal mu yang mengundang Beliau untuk menghadiahi mu dengan kemuliaan dan kelimpahan;

tetapi

kesungguhan mu untuk menatapkan sikap mu ke arah-arah kebaikan,
kesungguhan mu untuk mencemerlangkan pikiran mu untuk menemukan pintu-pintu kebaikan,
dan kesungguhan mu untuk menetapkan tindakan mu di jalan-jalan kebaikan.

Tidakkah engkau memikirkan,
bahwa

Jalan-jalan kebaikan adalah jalan Tuhan.
Dan bila engkau berjalan di jalan kebaikan,
engkau berjalan bersama Tuhan.
Maka, berketetapanlah setelah engkau memutuskan untuk bersikap baik, berpikiran baik, dan untuk bertindak yang baik;
lalu,
Wahai Hati Yang Mencari,

Setia lah kepada yang benar,

karena

Apa pun yang dimulai dengan keburukan,
akan diperbaiki dengan kesulitan.

Tuhan Yang Maha Memelihara tidak akan membiarkan kita berlaku salah tanpa diingatkan bahwa kita perlu memperbaiki diri.

Kesulitan yang dihadiahkan kepada pribadi yang baik – sebagai cara untuk lebih memuliakannya; juga dihadiahkan kepada pribadi yang sedang salah – sebagai cara untuk membuatnya membenci keburukan dan merindukan kedamaian dari berlaku dalam kebaikan.

Lalu, dengan pengertian ini – apakah engkau masih membenci kesulitan?

Apakah engkau masih merasa pantas untuk mengeluh?

Sekarang, tersenyumlah bersama ku,

Bukankah pengertian ini semakin memperdalam cinta kita kepada Tuhan?

Bukankah sekarang – lebih mudah bagi mu untuk bersabar?

Sudah jelaskah bagi mu sekarang, bahwa kesabaran itu bukanlah sifat, tetapi akibat?

Bila engkau mengerti, engkau akan bersabar.

Bila engkau bersabar, engkau akan dikasihi Tuhan;
karena kesabaran mu datang dari pengertian mu,
dan pengertian mu datang dari keberserahan mu kepada Tuhan.

Maka berketetapanlah setelah engkau memutuskan,
karena

Di awal dari masa-masa yang kejelasannya masih terselubung,
tugas mu adalah untuk memulai.

Janganlah engkau tercegah dari memulai sesuatu yang baik, hanya karena belum lengkap pengetahuan mu tentang hal itu.

Lakukanlah, karena di dalam melakukannya itu lah engkau akan dibuat mengetahui.

Dan di dalam melakukannya itu lah, para malaikat akan meletakkan yang kau cari – di hadapan langkah mu, agar engkau menemukannya.

Sehingga sebetulnya,

Wahai Hati Yang Mencari,

Tidak ada kuasa mu untuk menemukan,
kecuali di buat menemukan.

Engkau tidak akan mampu menemukan yang kau cari, tanpa dibuat menemukan yang kau cari.

Maka jadikanlah diri mu pribadi yang diutamakan, agar diutamakan penemuan-penemuan mu.

Yang sekarang harus kau mengerti dengan lebih baik, adalah tujuan dari pengutamaan mu.

Engkau diutamakan agar engkau menjadi Peneladan Kebaikan, Penganjur Kebaikan, dan menjadi Pengharus Kebaikan.

Di dalam pengertian itulah terurutkan tempat-tempat naik mu. Dan engkau tidak akan dinaikkan tanpa pemeliharaan untuk menjadi yang berwenang di tempat-tempat tugas mu.

Maka mulailah di masa yang baru ini, untuk menjadi Peneladan Kebaikan, untuk kemudian naik menjadi Penganjur Kebaikan, dan kemudian untuk menjadi Pengharus kesetiaan kepada Kebaikan.

Kemudian sadarilah,
bahwa dalam tugas mu sebagai Pengharus Kebaikan – engkau tidak terbebaskan dari keharusan untuk tetap menjadi Peneladan Kebaikan,
karena tanpanya – engkau tidak akan bertenaga sebagai Penganjur Kebaikan,
dan kehilangan kepantasan untuk menjadi Pengharus Kebaikan.

Wahai Hati Yang Mencari,

Karena tidak ada kebaikan yang sekecil apa pun yang tidak tercatat bagi pengenalan yang adil, maka Tuhan mu tidak akan menyia-nyiakan upaya mu untuk menjadikan diri mu bernilai.

Bila engkau tulus dalam pencarian mu,
dan tidak menghalangi sinar-sinar yang menerangi pengertian mu,
engkau akan segera menyadari
bahwa sebenarnya engkau sedang dalam perjalanan
untuk menemukan diri mu sendiri.

Ada pribadi mulia di dalam diri mu itu.

Tetapi penampilannya sering terbelakangkan oleh kepentingan-kepentingan mu yang tidak penting, oleh kekhawatiran mu untuk upah-upah kecil, dan oleh ketakutan mu akan ketertinggalan dari orang-orang tidak jujur.

Sadarilah bahwa ketulusan mu adalah sinar yang membuat mu melihat semua penghalang kebaikan itu sebagai fatamorgana yang memperdaya.

Wahai Hati Yang Mencari,

Sebetulnya engkau sedang mencari pribadi mulia mu sendiri, yang akan kau temukan dalam derajat-derajat yang bertingkat.

Dalam tahun-tahun yang meningkat di dalam kehidupan mu, tingkatkanlah nilai diri mu agar terpantaskan bagi mu kemuliaan sebagai Peneladan Kebaikan, sebagai Penganjur Kebaikan, dan sebagai Pengharus Kebaikan.

Nilai diri mu adalah alasan bagi peningkatan derajat mu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar