Kamis, 29 Desember 2011

KATA BIJAK PENUH MAKNA ALA PAK MARIO

Mario Teguh Golden Ways 21 Februari 2009: From Yogyakarta With Love


Sahabat Indonesia yang baik, Ijinkan kami untuk kembali menyampaikan resume dari acara Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 21 Februari 2010, dengan Topik “From Yogyakarta With Love”. Episode kali ini adalah episode khusus liputan perjalanan Pak Mario Teguh di Yogyakarta. Banyak pelajaran yang bisa diunduh dari perjalanan Pak Mario kali ini; mulai dari ketulusan dalam bekerja, mengabdi kepada kehidupan dalam jalan2 yang jujur, dalam jalan2 yang mengasihi keluarga dan jalan2 yang memuliakan Tuhan. Berikut resume lengkap yang bisa kami catat:

Seindah-indahnya prilaku adalah prilaku yang bisa membawa manfaat bagi sesama.

Sebaik-baiknya berdo’a adalah dengan meminta diberikan kekuatan besar, bukan diberikan masalah kecil. Karena dengan diberikan kekuatan besar, masalah akan menjadi kecil.

Rata2 orang yang bilang ekonominya kurang, kalau ditanya kurang apa?, tidak bisa jawab. Karena kalau bersyukur kita tidak pernah tahu kurang-nya dimana. Misalnya: ranjangku jelek, tapi tidurku nikmat.

Orang2 di sekitar jalan malioboro mulai dari tukang becak, pedagang kaki lima, pengemis dll sangat membawa pelajaran berharga.

Saudara2 kita ini sangat mengagumkan, mereka tulus sekali dalam kesederhanaan mereka,tidak sedikitpun terpancar keraguan untuk berbicara,mereka sama sekali tidak merasakan adanya halangan untuk merasa sama tingginya dalam menyampaikan pendapat.

Banyak orang yang merasa cukup dengan yang baik, padahal lebih baik masih mungkin. Orang yang mengupayakan hidupnya lebih baik,tidak akan berhenti di satu kualitas.

Jadi kenapa pergaulan, perkumpulan itu baik sekali; itu karena dengan begaul dengan orang, Tuhan melewatkan kebaikan. Rejeki itu melalui orang. Uang itu datang hanya melalui dua cara: Satu harus berhubungan dengan orang, karena uang datang lewat orang; Yang kedua harus pinter nemu. Kalau tidak pinter nemu uang, harus ahli silaturahmi. Karena kebaikan, pangkat, nama baik, lewat orang.

Saudara2 kita di Sleman hidup harmoni dengan alam. Mereka bangun pagi dengan terbitnya matahari, dan segera mengambil keuntungan, dari sinar yang tersedia hari itu. Mereka segera pergi ke sawah, mereka memandikan ternak mereka, mereka menata lahan yang akan mereka tanami, atau menyiangi lahan yang sudah mereka tanami. Lalu menata kotoran yang akan mereka jadikan pupuk,mereka terlibat sekali dalam kehidupan yang sebenarnya.

Mereka tidak mungkin mengabaikan matahari, karena matahari-lah yang menjadikan apapun yang mereka tumbuhkan itu, sebagai penopang kehidupan mereka, dan sebagai peningkat kemampuan mereka untuk membeli hal2 yang mereka tidak bisa tumbuhkan.

Warga disana membuktikan bahwa tidak ada kekayaan yang bisa membeli tidur, dan tidak ada kekuasaan yang bisa memagari hati mereka dari kegelisahan, jika hati nurani mereka tidak bersih. Mereka memberikan bukti bahwa tidak ada bantal yang lebih nyaman dan lebih lembut daripada nurani yang bersih.

Kekayaan itu bukan hanya harta benda; itu bisa berupa nama baik, kesehatan, keluarga yang bahagia.

Nilai pengabdian itu akan semakin tinggi, kalau yang diterimanya sebagai imbalan semakin kecil. Jadi mungkin kalau betul2 kita mendidikan pengabdian, mungkin keraton sekaya apapun akan sebaiknya memberikan bayaran kecil. Itu adalah mengabdi, kalau mau dihargai tinggi, itu namanya dagang.

Uang itu jumlahnya boleh sama, tetapi rasanya akan berbeda. Uang yang didapatkan dengan cara yang halal, rasanya akan sangat berbeda dengan uang yang didapat dengan cara2 yang tidak baik. Harta yang paling indah itu adalah harta yang tidak harus dijelaskan darimana asal usulnya.

Hidup ini untuk apalagi kalau sudah bisa makan enak, tidur enak, ketawa enak. Tidur enak karena jujur, makan enak karena halal,ketawa enak karena bersahabat.

Wanita-wanita yang hebat itu akan menghebatkan pria-nya. Wanita itu bukan mahluk yang lemah, dia bisa mengubah sekasar-kasarnya pria, senakal-nakalnya pria menjadi sebaik-baiknya pribadi. Semua ini tentunya dibutuhkan suatu kekuatan yang tidak kecil.

Wanita itu penghebat pria, tetapi kekuatannya tidak akan berperan kalau kita tidak mencintainya.

Banyak orang mencari keberhasilan itu dipekerjaan. Orang itu bisa berhasil bukan karena pekerjaannya, tetapi karena orang itu menjadikan pekerjaan apapun sebagai pekerjaan bernilai.

Pekerjaan apapun, sekecil apapun, kalau dilakukan dengan kesunguhan besar, akan menjadikan pekerjaan yang membesarkan orangnya. Bukan anda yang membesarkan pekerjaan, tetapi pekerjaan yang membesarkan anda.

Ada tiga tanda bahwa pekerjaan itu baik atau tidak bagi anda.
1. Pekerjaan itu Fun (Menyenangkan); ketemu atasan, ketemu teman, ketemu pelanggan terasa senang. Banyak orang diantara kita tidak suka bekerja, buktinya hari senin-jum’at pikirannya sabtu-minggu. Selama sabtu-minggu, takut hari senin. Berarti kegembiraan dalam pekerjaan itu bisa timbul karena kita bisa mensyukuri pekerjaan. Untuk mensyukuri pekerjaan maka bergembiralah.

2. Bahwa anda bisa menjadi pintar dipekerjaan itu. Kalau dipekerjaan itu tidak bisa membuat anda pintar, berarti pekerjaannya salah.

3. Dibayar baik. Banyak orang karena dibayar rendah, menajadikan dirinya menjadi pantas dibayar rendah. Orang yang dibayar rendah, harus menjadikan dirinya menjadi pantas dibayar tinggi. Kalau tidak disini, ditempat lain.

Jadi bedirilah gagah, layani pelaggan dengan super, jadi pekerja yang jujur, berpikir yang besar. Akan selalu ada orang yang melihat kita tidak pantas. Dan perlu diingat, orang yang naik kelas, selalu orang yang tidak pantas lagi ditempat itu.

Jadi dimanapun anda berkaya, dimanapun anda bekerja, secepat mungkin jadikan anda tidak pantas lagi pada jabatan itu.

Kesulitan hidup bukan ijin untuk saya gagal, orang lain mendukung atau tidak bukan masalah; karena saya akan menjadi pribadi yang berhasil dengan atau tanpa dukungan orang lain. Karena keberhasilan yang cantik itu, kita berhasil meraih keberhasilan yang tadinya diragukan oleh orang lain.

Jangan ijinkan pendapat buruk orang lain, untuk menghalangi hak kita untuk menjdi pribadi yang berhasil, yang sejahtera dan berbahagia.

Disetiap masalah selalu ada yang pro dan kontra,kalau ikut salah satu akan bingung. Perhatikan saja, biarkan hukum negara berlangsung, dan biarkan hukumnya Tuhan berlangsung. Akal2 manusia tidak bisa mengalahkan hukumnya Tuhan.

Orang2 besar itu meskipun salah, butuh orang baik sebagai sahabat. Untuk itu jadilah pemimpin yang sebenarnya, mulai dari memimpin keluarga, jadilah orang yang jujur.

Saudara kita di Yogyakarta dan sekitarnya itu adalah bagian dari saudara kita, mungkin mereka belum terberdayakan seutuhnya dalam keadaan ekonomi atau jenjang sosial mereka; tetapi mereka memiliki pendapat yang utuh mengenai bagaimana kehidupan ini sebaiknya dipimpin,dan bagaimana kejujuran menjadi sebagai penuntun bagi kehidupan.

Dari perjalanan di Yogyakarta, banyak yang bisa kita unduh dari kebijakan saudara2 kita yang bersahaja hidupnya, mulai dari petani, para pengurus dusun, camat; yang mendasarkan kekuatan kehidupannya, dari keikhlasan untuk membangun keluarga yang mulia.

Mereka bekerja dengan kesungguhan untuk berlaku jujur kepada satu sama lain. Mereka hidup dengan kesadaran bahwa, pemilik bumi dan langit ini adalah pengawas yang paling lekat.





Sehingga di alam yang bebas itu yang tidak ada polisi, tidak ada cctv camera, tidak ada wartawan; tapi mereka tetap berlaku setia, jujur pada cara2 yang baik. Mereka tidak mungkin melukai sungai, karena mereka tahu sungai ini yang menjadikan jalan dasar bagi kesehatan anak mereka; mereka tidak mungkin melukai yang penting bagi mereka termasuk persaudaraan.

Anjurannya; dasarkanlah semua upaya anda pada tujuan yang menjadikan anak2 anda penerus nama baik anda, yang akan membawa kebaikan yang anda pimpinkan dalam hidup ini ke keturunan anda selanjutnya dan selanjutnya. Kalau kita setia pada yang mendasarkan semua upaya kita, pada yang membaikkan keluarga; tidak usah kita menanti lama, karena kebahagiaan itu akan segera ada pada kita. Lakukan saja dan ikhlaskan diri anda pada kebaikan. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Demikian resume dari acara Mario Teguh Golden Ways dengan Topik “From Yogyakarta With Love”.









Hidup ini selalu diperiksa

Ada suatu kisah menarik dari pengalaman seorang pengembara muda. Dia adalah warga Amerika, dari kecil selalu berpikir mau jadi pengembara, ingin berkelana melihat lihat dunia luar, jadi ia ingin pergi berkeliling dunia, nanti setelah kembali mau melanjutkan sekolah di universitas. Biarpun ayahnya seorang dokter, ekonomi keluarga memungkinkan, tetapi ayah ibunya tidak memberinya uang dan dia juga tidak memintanya dari mereka.

Sesudah tamat SMA, maka dia segera pergi ke hutan Alaska untuk memotong kayu untuk menabung. Karena di Alaska saat musim panas siang hari sangat panjang, matahari baru terbenam kira-kira tengah malam dan sebentar kemudian jam 3 subuh sudah terbit lagi. Jika dalam sehari dia bisa bekerja 16 jam, memotong kayu selama 1 musim, maka dia bisa menabung untuk keliling dunia selama 3 musim. Maka setelah keliling dunia 2 tahun akhirnya kembali ke sekolah untuk meneruskan pelajaran di Universitas. Dan karena hal ini adalah dirinya sendiri yang memikirkan matang-matang dan secara mendalam, maka jurusan pilihannya yang semestinya perlu 4 tahun untuk lulus, diselesaikannya dalam waktu 3 tahun. Setelah itu mulai mencari pekerjaan. Karirnya cukup baik, bisa dibilang searah dengan arah angin, lancar naik terus sampai ke posisi kepala insinyur/manajer teknik.

Ketika dia bekerja paruh waktu di Alaska, pernah sekali dia dan temannya mendengar teriakan erangan serigala di atas gunung. Mereka sangat cemas dan mulai mencari cari, akhirnya menemukan seekor serigala betina terjerat jebakan dan sedang merintih kesakitan. Terus dia memperhatikan alat jebakan besi yang unik dan tahu bahwa itu adalah milik seorang Pak Tua. Pak Tua ini adalah amatiran, menggunakan waktu luangnya untuk menangkap binatang, kemudian menjual kulitnya untuk menambah kebutuhan dapurnya. Tetapi setahu mereka, si Bapak Tua tadi beberapa hari lalu karena serangan jantung telah diangkut pakai helicopter ke rumah sakit Ancrukhy untuk mendapatkan pertolongan dan dirawat sekarang. Dan serigala betina ini bakal mati kelaparan karena tidak diurus. Timbul keinginan dia melepaskan serigala betina itu tetapi serigala itu sangat ganas dan garang sehingga dia tidak dapat mendekat. Dia juga mengamati ada tetesan susu dari serigala betina ini dan ini menandakan bahwa di sarangnya pasti ada anak-anak srigala.

Dia dan temannya menghabiskan banyak sekali tenaga dan energi untuk mencari sarang srigala, sampai menemukan 4 ekor anak serigala dan membawa mereka ke tempat serigala betina tadi untuk diberikan susu. Dengan demikian bisa menghindarkan mereka dari bahaya mati kelaparan. Dia mengeluarkan bekal makanan sendiri untuk diberikan ke serigala betina sebagai makanan dan mempertahankan hidupnya. Malam hari masih harus berkemah di sana dekat serigala betina untuk menjaga serigala dan keluarganya dari serangan binatang lain karena ibu serigalanya terjerat tidak bisa membela keamanan diri
sendiri maupun anak anaknya.

Hal ini terus berlangsung sampai hari kelima, saat dia mau memberi makan serigala betina, tiba-tiba dia memperhatikan serigala tadi mulai menggoyang goyangkan ekornya. Kemudian dia tahu kalau dia sudah mulai mendapatkan kepercayaan dari serigala betina ini. Akhirnya setelah berlalu 3 hari lagi, baru serigala betina mengizinkan dirinya didekati, membuka jeratan jebakan yang menjepitnya dan melepaskannya bebas kembali. Setelah bebas, serigala betina ini kemudian menjilat tangannya dan membiarkan dia memberikan obat luka di kakinya. Terakhir serigala betina ini membawa anak-anaknya pergi, dengan sesekali memutarbalikkan kepalanya melihat ke belakang ke arah dia.

Dia terduduk di atas batu dan berpikir, jika seorang manusia bisa membuat seekor binatang buas seperti serigala menjilat tangannya dan menjadi temannya, apakah bisa tidak mungkin seorang manusia membuat manusia lain meletakkan senjatanya dan berkawan? Dia bertekad di kemudian hari untuk berbuat baik dan menunjukkan ketulusan hati kepada orang lain, karena dari kasus ini dia mempelajari bahwa dia terlebih dahulu menunjukkan ketulusan hati, maka lawan pasti akan membalasnya dengan ketulusan juga. (Sambil bergurau dia berkata, jika demikian saja tidak bisa, maka kalah sama binatang.)

Karenanya setelah masuk bekerja, di perusahaan dia berbaik hati kepada orang lain. Pertama tama selalu menganggap orang lain berniat baik, kemudian sendiri bersikap tulus, sering kali suka menolong orang lain, tidak berhati sempit dan mengingat kesalahan kesalahan kecil orang lain. Oleh karena ini setiap tahun dia selalu naik jabatan, promosinya cepat sekali. Yang paling penting adalah dia setiap hari melewati kehidupannya dengan sangat gembira, katanya orang yang membantu orang lain adalah lebih gembira dibandingkan dengan orang yang menerima bantuan. Biarpun dia tidak pernah tahu peribahasa tionghua bahwa [memberi lebih berkurnia kebajikan daripada menerima], tetapi dia telah menjalankan kehidupan yang demikian.

Dia berkata kepada saya bahwa dia selalu berterima kasih atas pengalaman dia di Alaska dulu, karena ini membuat dia menerima rejeki kebajikan yang tak habis habisnya seumur hidup ini. Dan ini benar sekali, hanya sesuatu hal yang kita mau, yang bisa kita hargai, strawberry yang sudah mendapatkan embun baru akan manis, manusia yang sudah diasah kesulitan baru menjadi dewasa dan matang.

Jika ada seseorang yang tamat Universitas dan tidak tahu mau bekerja apa, maka harus membiarkan dia pergi keluar untuk diasah oleh sang kehidupan, tidak perlu memberikan dia uang, biarkan dia mencari makan dengan tenaganya, berikan dia 1 kesempatan untuk membuktikan kekuatan dirinya dan mencicipi kehidupan, niscaya dan percaya dia pasti bisa mendapatkan sebuah pengalaman yang berguna seumur hidup. (“Pengalaman yang Berguna Seumur Hidup” oleh Hung Lan, Head of Neurology Research Center, National Central University Taiwan”)








Mario Teguh Golden Ways 14 Februari 2010: Salary Zombie


Sahabat Indonesia yang baik, Ijinkan kami untuk kembali menyampaikan resume dari acara Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 14 Februari 2010, dengan Topik “Salary Zombie ”. Sadarilah kalau anda masih digaji kecil berarti anda masih kurang dihargai. Maka jadikan diri dihargai lebih, dengan menjadi pribadi yang melebihkan kontribusi bagi perusahaan. Yang tidak menjadi beban kepada perusahaan.

Banyak orang yang tidak betul2 hidup, kecuali setelah gajian. Ada orang yang menentukan kebahagiaannya dengan besarnya gajian, ada pula yang kebahagiaannya ditentukan dengan tanggal. Ada orang yang betul2 melihat kehidupan dengan gaji. Kalau dia bahagia karena baru terima gaji, kalau dia menegluh karena gajinya kecil.

Banyak orang berdo’a untuk meminta banyak, tetapi memantaskan diri untuk menerima sedikit. Berapa banyak anak muda yang bugar dan terdidik dengan baik; rebutan untuk menjadi pegawai dengan gaji seadanya, asal ada pensiunnya. Mengapa dia tidak memanfaatkan dirinya yang muda dan agresif itu, untuk dinilai semahal mungkin, menyisihkan sebagian pendapatannya untuk pensiun semuda mungkin.

Pensiun-lah saat mobil cepat itu masih beguna, tidak ada gunanya mobil super cepat bagi orang yang sudah gemetaran. Jalan2 keliling dunia, waktu masih menikmati keremajaan dari istri kita.

Marilah kita membebaskan diri dari keharusan gajian. Sampai kapan kita hidup yang kebahagiaannya ditentukan oleh besar atau kecilnya dan kapan terima gajinya. Marilah kita tegas, kalau meminta banyak; maka memantaskan diri untuk menerima yang banyak.

Tuhan tidak mungkin menipu kita, sehingga Tuhan memerintahkan kita untuk melompat dengan gaji kecil, pangkat rendah, penghormatan kecil. semua ini adalah perintah untuk loncat. Tetapi kita tidak loncat karena mempertahankan gaji kecil; karena tidak percaya Tuhan akan menyejahterakan kita, didalam pilihan2 baik.

Sehingga sebetulnya kita menukar Tuhan dengan harga yang rendah.

Kalau kita melihat diri kita dihargai kurang, itu jangan salahkan orang; karena kita tidak berhasil meyakinkan orang, bahwa kita bernilai.

Jadi semua perlakuan tidak baik, harus dilihat sebagai pemberitahuan untuk memperbaiki diri. Karena orang yang tidak menggaji anda dengan baik, itu bukan tanda bahwa akan ada orang lain yang salah menilai anda. Maka jadilah pribadi yang menunjuk-kan nilai, setinggi apa seharusnya anda dibayar.

Belajarlah malu untuk menerima gaji walaupun kecil, kalau yang anda lakukan belum besar.

Sesungguhnya gaji, bayaran atau imbalan itu selalu datang dari penilaian orang terhadap kita. Kita itu terkadang berbeda sebelum bekerja; yaitu baru dari bagaimana kita tampil. Ada orang yang boleh diganggu, ada yang tidak dan ada orang yang mudah dikerjai, ada yang tidak. Jadi ada hal2 yang bisa dan tidak kita lakukan berdasarkan kesan.

Kalau kita mau mengubah perlakuan orang kepada kita, pertama kali adalah mengubah tampilan yang mengundang perlakuan yang merendahkan.

Kalau kita ingin orang lain menghormati kita, kita harus latih untuk tampil baik. Yang lebih hebat dari seseorang
adalah apabila anda memiliki kemampuan untuk menyiksa orang, tetapi wajah anda seperti minta disayangi. Hal ini sangat hebat sekali, karena dengannya bisa mendidik orang untuk tidak menyepelekan wajah yang ramah.

Orang itu memiliki banyak kepribadian, tinggal mana yang dipilihnya. Kepribadian itu seperti pakaian, kalau kita kenakan dengan baik, maka kita menjadi pribadi yang dihormati.

Apapun yang anda yakini tentang diri anda, tidak relefan bagi orang lain. Orang lain menetapkan anda seperti apa. Sehingga banyak konsultan jika dia memposisikan diri sebagai ahli marketing, maka dia akan diminta bicara marketing; jika dia memposisikan sebagai ahli leadership, maka dia akan diminta bicara tentang leadership.

Orang lain menetapkan apa yang dipilihkan sebagai perlakuan, tergantung dari kesan. Yang parah adalah apabila kita merasa ramah, sementara orang lain melihat kita sombong. Kalau kita merasa minder, orang lain melihat kita yakin, itu baik; tapi yang sering adalah kita merasa minder, orang lain melihat kita lebih minder.

Maka anjurannya adalah lihatlah kediri anda, karena cara anda menampilkan diri, menetukan perlakuan orang kepada kita.

Saadarlah anda apabila anda berada dalam keadaan yang gelisah. Karena kegelisahan ini terkadang sebagai perintah, untuk mengupayakan pindah ke keadaan yang lebih damai.

Kita adalah orang yang tidak menyukai rasa, dari perintah Tuhan untuk pindah ke tempat yang lebih baik. Kalau kita bergaul dengan orang yang tidak jujur, rasanyapun akan tidak enak, marah dsb, padahal itu perintah kepada kita supaya bergaul-lah dengan orang2 baik.

Jadi kalau kita mengerti rasa dari perintah itu, dan kita tidak suka rasa itu; tetapi kalau kita tahu bahwa rasa itu baik, maka kita akan berusaha menyukai rasa itu, lalu kemudian menegaskan diri untuk mendekatkan diri dalam pergaulan yang baik, mengisi pikiran dengan yang baik, merasa dan melakukan yang baik.

Jadi rasa dari perintah menuju kebaikan, tidak kita sukai. Tetapi kita harus ikhlas memindahkan diri menjdai peribadi yang lebih baik, dan itu adalah kepemimpinan diri yang pertama, berpihak kepada yang membaikkan diri.

Kejujuran adalah bukti bahwa anda ber-Tuhan. Orang yang tidak jujur, walaupun sembahyang, mengumpulkan fakir miskin di rumah dan menyantuninya, itu ibadah dan sedekah pura2.

Kejujuran tetap kejujuran, tidak ada cara apapun untuk yang tidak baik yang digunakan untuk membangun kebaikan. Kebaikan hanya dijalan kebaikan, tidak boleh ada pengetian, bahwa diluar kebaikan ada cara untuk menjadi baik.

Orang2 yang sudah menemukan kerja cerdas, tetap harus melakukan kerja keras. Kenapa banyak orang yang sudah menemukan konsep kerja cerdas hidupnya belum baik?, karena dia merasa tidak harus kerja keras didalam kecerdasannya.

Kecerdasan pertama dalam bekerja adalah bekerja keras. Setelah bekerja keras, baru masuk akal cara2 peningkatan hasil.

Jika sedang malas bekerja, satu2-nya cara untuk meningkatkan hasil adalah bekerja lebih rajin atau bekerja keras. Maka kalau kita ’smart’ kita bekerja keras. Maka nasehatya adalah ‘be smart, work hard’.

Artinya kita dihargai adalah dibayar tinggi. Dihargai asal katanya harga. Jangan percaya kepada atasan yang mengatakan dia menghargai anda, kalau gaji anda tidak besar.

Sadarilah kalau anda masih digaji kecil berarti anda masih kurang dihargai. Maka jadikan diri dihargai lebih, dengan menjadi pribadi yang melebihkan kontribusi bagi perusahaan. Yang tidak menjadi beban kepada perusahaan; karena banyak karyawan yang membuat bingung atasan, ketika ada hal ‘urgent’ sulit mencari orang yang bisa diajak
diskusi, tapi pada saat gajian banyak orang.

Berarti banyak karyawan di suatu perusahaan, yang jika tidak adapun tidak apa2.

Kalau gaji kecil, berhematpun tidak ada gunanya, karena akan selalu kurang. Dan perhatikanlah bahwa berhemat itu tidak selalu baik. Karena berhemat itu, kalau ahli berhemat, orang tidak pernah berpikir lagi untuk menambah pendapatan. Karena gaji berapapun cukup, karena dia ahli berhemat.

Jadi kalau begitu bukan berhematnya yang dihebatkan, tetapi kemampuan untuk menghasilkan pendapatan lebih. Untuk setiap kebingungan, kemarahan, dan tenaga untuk berhemat bisa digunakan sebagaia agresifitas untuk menjual lebih, melayani lebih baik, memikirkan cara2 mendistribusikan produk dengan cara lebih cepat.

Cara efektif untuk naik gaji adalah dengan meminta. Ini cara terbaik untuk naik gaji, karena sebelum melakukan, anda akan tahu kepantasan untuk minta gaji; karena yang tidak pantas naik gaji, tidak mungkin berani melakukan ini.

Apakah anda tahu pekerjaan yang paling sedikit saingannya?
Pekerjaan yang paling sedikit saingannya adalah pekerjaan yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Karena banyak orang yang melakukan bertolak belakang dengan hal ini, dengan datang sesiang mungkin, istirahat selama mungkin, pulang secepat mungkin, tapi sampai di rumah semalam mungkin.

Maka pilihlah jalan yang jarang dilalui orang, yaitu bekerja dengan kesungguhan yang menjadikan kita diutamakan dalam hidup ini.

Maka memintalah kepada Tuhan, sebanyak dan sebesar yang kita percaya Tuhan mampu. Tidak lagi menakar kemmapuan Tuhan untuk menyejahterakan kita dan untuk mengkayakan kita.

Datanglah kepada Tuhan “Tuhan-ku yang Maha Kaya, kayakan-lah aku” lalu bekerjalah dengan besarnya kesungguhan yang memantaskan kita bagi hadiah2 yang besar. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Demikian resume dari acara Mario Teguh Golden Ways dengan Topik “Salary Zombie ”.











BELAJAR DARI FILOSOFI JAGUNG
Suatu ketika, seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik buah jagungnya, yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

“Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?” tanya sang wartawan.

“Tak tahukah anda?,” jawab petani itu.

“Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”

Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula.

Sungguh…nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.










DIHITUNG DENGAN CEPAT


resume dari acara Mario Teguh Golden Ways MetroTV, edisi 31 Januari 2010, dengan Topik “Berani Dihitung Cepat”. Karena akan selalu ada resiko bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan yang baik, kumpulkanlah sebanyak mungkin do’a dan harapan baik dari kekasih anda.Entah mengapa bahwa bangsa kita ini sangat takut dengan perhitungan. Berarti kesannya perhitungan itu selalu negatif. Maka hiduplah dengan harapan baik,bukan menakuti hal2 yang buruk.

Saat ini, banyak orang tidak sadar bahwa dia sedang berada dalam masa perhitungan. Semua kejadian, terutama yang buruk adalah pemberitahuan bahwa kita terlambat dihitung. Banyak orang ingin segera dihitung kebaikannya dengan hadiah2 berupa kesejahteraan dan kebahagiaan, tetapi tidak bersedia dihitung keburukannya.

Padahal hari perhitungan tidak usah ditunggu lagi karena hari perhitungan sebetulnya sudah terjadi. Kualitas hidup kita adalah bukti bahwa kita telah dihitung. Yang tidak baik adalah dihitung ketika sudah tua, saat harus main2 dengan cucu;lalu diminta membuktikan bahwa kita orang baik.

Maka anjurannya, agar semuda mungkin menjadi tegas dalam dihitung. Beranilah untuk segera dihitung atas keburukan kita, dan beranilah mudah-mudahan untuk segera dihitung kebaikan kita – saat kita baik. Saat kita tidak perlu lagi menggunakan masa tua kita sebagai masa bertanggung jawab, atas keburukan yang kita lakukan dimasa lalu.

‘Profiling’ adalah prilaku alamaiah seseorang setiap ia tampil didepan kita, yang otomatis kita membuat penilaian. Kalau tidak dilakukan dengan tidak anggun, ‘profiling’ akan berubah jadi ‘labeling’ (merek). Profiling itu hanya seperti melempar batu ke sumur,lalu menunggu terdengarnya suara itu, untuk mengukur berapa dalamnya.

Profiling itu jajakan awal, kemudian dinilai dari apa yang dilakukannya, yang dikatakannya, yang diputuskannya; baru kita memutuskan, dan itu masih butuh waktu lagi. Sehingga tidak bisa yang kita lakukan dengan sekali melihat kita langsung tahu, itu kita berpura-pura. Karena Tuhan telah memantaskan banyak orang yang kita duga tidak pantas untuk mencapai kualitas2 yang hebat.

Ada orang2 yang akan agresif, tetapi kalau beliau cukup terlatih; beliau akan membatalkan semua asumsi kita, dengan menjawab dengan teknik2 bicara yang anggun.

Maka siapkanlah diri anda untuk menjadi pribadi yang dinilai baik,apapun kesan pertama yang kita terima.

Kepada pribadi2 Indonesia yang sekarang sedang dinilai; jangan kecil hati, jangan marah dengan keputusan yang dibuat oleh publik.

Publik telah memutuskan dengan kasarnya, kerasnya, bahkan kejamnya reaksi;publik sudah mem-profile final. Tetapi tugas kita bukan untuk berekasi tidak anggun.

Jadi apapun yang dilakukan oleh publik dalam menghakimi(mem-pofile) para pejabat, itu masukan untuk para pejabat bahwa itu adalah perhitungan. Bukan fakta salah atau tidak, tetapi itu perintah untuk memperbaiki pendekatan.

Impian Kami bahwa pejabat Indonesia ini tidak usah harus dibuktikan salah untuk diganti, tidak pantas saja sudah seharusnya cukup. Karena berapa banyak tenaga, uang dan waktu yang dibuang hanya untuk membuktikan orang salah.

Jangan pernah anggap orang 100% salah. Karena dalam hubungannya kita dengan orang lain, tidak ada orang yang 100% benar, dan 100% salah. Untuk itu komunisai yang baik disini sangat diperlukan.

Maka anjurannya: “Berikanlah keutungan dari keraguan”, berikanlah kuntungan dari keraguan anda dengan berlaku santun, dan pergi kedasar yang sebetulnya dari masalah.

Apakah setiap kita menyadari bahwa masalah-masalah yang kita hadapi sekarang; itu berasal dari hal2 kecil yang tadinya belum menjadi masalah, tapi yang kita tunda penyelesaiannya?.

Semua masalah kita sekarang; itu dulu kita selesaikan sebelum menjadi masalah. Kesehatan, kebersihan, kesantunan, kejujuran. Sebelum menjadi masalah, kita tidak berlaku baik. Lalu kita tidak siap menghadapi perhitungan dari mereka, sekarang waktu masih muda.

Apakah kita harus menunggu tua renta untuk membuktikan bahwa kita orang baik?.

Mengapa tidak disegerakan dan ikhlaskan, dan ini bagian dari sifat Tuhan. Tuhan itu dari semua sifat-Nya yang paling hebat adalah Yang Maha Pengasih. Kesalahan orang yang dengan ikhlas melaporkan dirinya kepada Tuhan: “Tuhan Aku sudah tidak suci lagi, ijinkan aku mendekat, melaporkan semua dosaku, dan hitunglah aku”.

Apakah Anda akan dihitung sekejam yang Anda duga, berprasangka baik-lah kepada Tuhan. Kalau Anda berprasangka buruk kepada Tuhan, Anda berprilaku seperti Tuhan buruk yang menyiksa Anda; kenyataannya Anda sendirilah yang menyiksa.

So, datanglah kepada Tuhan, bersujudlah, sampaikanlah kegundahan hati Anda,ikhlaskanlah diri anda untuk segera dinilai. Dan Anda akan kaget, bahwa Tuhan sudah terbiasa memberikan, bahkan kepada hal2 yang tidak Anda minta.

Salah satu hukum dalam logika keberhasilan hidup yang sangat powerfull adalah hukum sebab akibat. Dan Tuhan telah mengingatkan jauh hari sebelumnya, mengenai pentingnya penyebaban yang baik. Jadi kehidupan yang baik itu sudah ada, pilihannya, kualitasnya sudah ada;kalau kita ikhlas menaruh diri kita dalam jalur proses, yang memantaskan diri kita bagi hadiah2 itu-sebab akibat.

Kalau kita tahu bahwa keburukan tidak ada yang terlepas dari perhitungan, berarti tidak ada juga kebaikan yang terlepas dari perhitungan. Kalau kebaikan sebesar biji sawi saja dihitung, apalagi jika kita membahagiakan hati banyak orang, memuliakan orang tua, mengasihi kakek dan nenek, berbicara anggun dan santun kepada adek2.

Mengapa kita tidak tergesa2 mengumpulkan butir2 kebaikan setiap hari, yang segera dihitung kebaikannya bagi diri kita. Sebab-akibat jangan pernah lupakan; bahwa apun kualitas kehidupan kita sekarang,besar sekali peran kita dalam menyebabkannya.

Orang malas adalah orang yang sangat rajin untuk bermalas-malasan. Orang yang tidak tegas adalah orang yang sangat tegas sekali membiarkan dirinya terbengkalai dalam ketidak tegasan. Jadi jangan ragukan, apapun yang kita upayakan berdampak pada kualitas kehidupan kita.

Tidak mungkin anda keluar satu detik dari jalur kebikan,menjadikan hati anda damai. Semua orang yang hatinya tidak damai, sedang berlaku diluar kebaikan. Itu sebabnya kita disuruh memperhatikan hati, supaya kita tahu untuk kembali kepada kebaiikan.

Buktinya bahwa anda tidak damai saat anda tidak baik,kelakuannya, sikapnya, atau pikirannya; dan buktinya anda
dibahagiakan, dengan hati yang bening,pikiran yang bersih,dan tindakan yang santun.

Entah mengapa bahwa bangsa kita ini sangat takut dengan perhitungan. Berarti kesannya perhitungan itu selalu negatif.

Maka hiduplah dengan harapan baik,bukan menakuti hal2 yang buruk, ikhlaskan-lah diri anda untuk menjdai pribadi yang bersih pikirannya.

Gunakan pikiran yang bersih seperti anda berdo’a, dan pikiran itu digunakan dalam pergaulan anda. Gunakan hati yang
suci waktu anda berdo’a, dan gunakan hati yang suci itu waktu menyapa sahabat anda. Gunakan berdiri yang anggun itu didepan Tuhan sebagai cara anda untuk memuliakan tamu anda. Setelah itu anda tidak perlu dihitung lagi karena ada telah hidup dalam pribadi yang baik.

Keberanian adalah ukuran keberserahan kepada Tuhan, orang yang berserah kepada Tuhan akan berani. Hanya keberanian itu sering disalah artikan dengan keberanian berlaku fatal,berlaku menyepelekan kehidupan.

Orang yang berani itu, bukan berani mati. Keberanian yang sebetulnya adalah keberanian untuk hidup seutuhnya. Bertanggung jawab kepada pernikahan, bertanggung jawab kepada anak2 yang dilahirkan,bertanggung jawab pada kelestarian alam; itu yang namanya tanggung jawab.

Jadi,mengapa kita takut sekali kepada hal2 buruk yang bisa kita hindari, lalu tidak berani meng-khususkan diri yang hanya memikirkan yang baik, merasa yang baik danmelakukan yang baik?.

Harus ada masa dimana mudah bagi kita untuk berlaku baik, apapun yang terjadi dilingkungan kita. Jadilah seperti bunga teratai; sekotor apapun airnya, bunganya tetap indah.

Maka putusanlah untuk menjadi pribadi yang seindah-indahnya bagi pembahagiaan kehidupan. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Demikian resume dari acara Mario Teguh Golden Ways dengan Topik “Berani Dihitung Cepat”.











KUKENDALIKAN HATIKU


Alkisah, seorang lelaki santun duduk di tepi sungai. Ia sudah beberapa lama tidak makan apapun. Lalu sebutir apel yang terbawa arus itu dipungutnya, dan dimakan. Sesaat kebutuhannya terpenuhi. Namun sesaat kemudian hati kecilnya menggugat. “Apel siapa ini? Mengapa aku memakannya tanpa minta izin?”

Lelaki itu menelusur ke hulu, mencari pemilik apel tersebut. Beberapa jauh kemudian ia menemukan pemiliknya. Ia minta tindakannya memakan apel hanyut tanpa izin pemiliknya tersebut dimaafkan. Abdullah, pemilik kebun, itu bersedia memaafkan dengan syarat tertentu. Yakni agar lelaki itu bersedia menikahi putrinya. “Tapi putriku itu buta, lumpuh, dan bisu,” kata Abdullah.

Lelaki itu mengangguk. Ia siap melakukan pekerjaan halal apapun untuk mendapatkan maaf. Hatinya tidak akan pernah tenang sebelum ia mendapatkan maaf itu. Pernikahan pun dilangsungkan. Sang istri, Fatimah, ternyata seorang gadis luar biasa. Cerdas, cantik, dan sama sekali tidak buta, lumpuh dan bisu. “Ia buta dari perbuatan melihat maksiat, lumpuh dari melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang tidak benar, serta bisu dari ucapan yang tidak senonoh,” kata Abdullah. Mereka dikaruniai anak saleh yang kemudian menjadi tokoh besar sufi, Syekh Abdulqadir Jaelani.

Apa yang membuat ayah Abdulqadir Jaelani begitu bersusah payah mencari pemilik apel yang hanyut di sungai? Bukankah si pemilik tak merasa kehilangan bila sebutir apel dari kebunnya yang luas jatuh ke sungai. Ia juga akan merasa maklum jika ada yang memungut apel itu, dan kemudian memakannya. Ia tentu tidak akan mempersoalkan seandainya tahu siapa yang memakan apel itu. Apalagi ia sama sekali tidak tahu siapa yang memakan apel itu, bahkan tidak tahu kalau apelnya hanyut di sungai.

Tidak demikian bagi seorang saleh sejati seperti ayah Abdulqadir Jaelani. Sebutir apel, dalam keadaan sangat lapar, sungguh berarti bagi perutnya. Namun hatinya tidak dapat menerima apel tak bertuan itu. Hatinya terus terjaga dalam keadaan jernih. Noda setitik pun yang akan mengotori kejernihan hati akan membangkitkan mekanisme untuk membuang jauh noda itu, dan mengembalikan kejernihan hati seperti semula. Hati itu menggerakkan kakinya untuk melangkah, menggerakkan bibirnya untuk minta maaf, dan menggerakkan seluruh jiwa raganya untuk menerima persyaratan apapun buat mendapatkan maaf itu.

Apa yang sebenarnya ada pada hati itu sehingga mempunyai daya gerak yang begitu hebat?

Tuhan tidaklah memandang rupa seseorang. Tidak pula memandang bentuk seseorang itu. Namun, Tuhan memandang hati orang tersebut.

Lewat hati manusia pula, Tuhan mengungkapkan kehadirannya pada diri seseorang. Lewat hati seseorang dapat merasakan bahwa Tuhan memang “lebih dekat dibanding urat leher sendiri”. Lewat hati, seseorang dapat merasakan hal yang dalam penggambaran sufistik, “dengan mata-Nya ia melihat, dengan telinga-Nya ia mendengar, dengan tangan-Nya ia menyentuh.”

Sachiko Murata, profesor bidang studi agama di Universitas New York, menilai banyak ayat-ayat kitab suci yang membahas mengenai hati sebagai sentralitas pada diri manusia, Secara harfiah, hati itulah yang akan membalik, mengubah, memaju-mundurkan, serta menaik-turunkan manusia. Tidak berlebihan bila hati dipandang sebagai “lokus kebaikan dan kejahatan, maupun kebenaran-kesalahan.”

Hati yang akan mengendalikan seseorang hingga tenteram atau gelisah. Hati yang akan menentukan seseorang sukses atau tidak dalam mengarungi gelombang hidup. Itu yang menjelaskan mengapa para imam sufi tak henti untuk menekankan pentingnya, latihan tanpa akhir untuk mengendalikan hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar