
HINDARI DUA KEJAHILAN MEMBAHAYAKAN
Sebelum Islam hadir, masyarakat Arab dikenal sebagai masyarakat jahiliyah. Ibnu Mansur dalam karyanya ”Lisanul Arab”, membagi kejahilan masyarakat arab menjadi dua kelompok.
Pertama: Kejahilan yang ringan. Yaitu kurangnya ilmu tentang sesuatu yang seharusnya diketahui. Mereka belum memperoleh informasi tentang kebenaran (al-Haq) sehingga tidak memiliki pilihan lain kecuali melakukan apa yang mereka ketahui sebagai suatu kebenaran.
Contoh riil di zaman Rasulullah yaitu kasus seorang Badui (Arab Gunung) yang kencing di dalam masjid. Menyaksikan hal itu, Umar marah dan bermaksud memukul serta mengusirnya. Tetapi Rasulullah mencegahnya dan meminta para sahabat mengambil air di ember kemudian menyiramnya hingga bersih.
Kedua: Kejahilan yang berat. Yaitu keyakinan yang salah dan bertentangan dengan fakta atau realitas. Mereka meyakini sesuatu yang berbeda dengan sesuatu itu sendiri. Melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dengan yang seharusnya. Padahal telah sampai kepada mereka informasi tentang kebenaran (al-Haq) dengan hujjah yang meyakinkan dan dari sumber-sumber yang terpercaya. Juga telah datang para utusan Allah serta para penyeru ke jalan yang lurus, tetapi mereka berpaling.
Kasus penolakan Walid bin Mughirah dan para pembesar Qurays tentang kebenaran Nabi Muhammad serta al-Qur’an, dapat dijadikan sebagai contohnya.
Walid bin Mughirah adalah seorang pakar dan cendikiawan Qurays yang sangat disegani. Ia penasaran mendengar masyarakat membicarakan Muhammad dan ajaran yang dibawanya. Suatu hari, ia datang ke tempat tinggal Nabi Saw.
Waktu itu beliau tengah melaksanakan shalat dan membaca al-Qur’an. Walid pun mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang dibaca Nabi Saw. Setelah selesai, pulanglah ia menemui kaumnya dari Bani Mahzum. Walid berkata: “Demi Allah, baru saja aku telah mendengarkan perkataan-perkataan Muhammad. Menurutku itu bukan perkataan manusia biasa dan juga bukan dari Jin. Demi Allah, sungguh perkataannya sangat manis, susunan katanya sangat indah, buahnya sangat lebat dan akarnya sangat subur. Sungguh perkataannya sangat agung dan tidak ada yang mampu menandingi keagungannya”.
Karena hal ini, orang-orang Qurays melaporkan Walid kepada Abu Jahal. Mereka mengatakan Walid telah keluar dari agamanya, dan pasti akan diikuti oleh orang-orang Qurays lainnya.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Abu Jahal berkata: ”Aku akan membereskannya”. Lalu ia mendatangi Walid dan duduk di sampingnya dengan perasaan penuh kecemasan.
Walid berkata: ”Mengapa engkau seperti orang ketakutan, wahai anak saudaraku?” Abu Jahal menjawab: ”Bagaimana saya tidak ketakutan wahai paman, orang-orang Qurays pada mengumpulkan harta benda mereka untuk diberikan kepadamu, karena engkau telah mendatangi Muhammad”.
Mendengar hal itu, Walid merasa terhina dan marah. Ia berkata: ”Bukankah mereka tahu bahwa aku memiliki harta dan anak-anak lebih banyak dibandingkan mereka semua?” Abu Jahal menjawab: ”Jika demikian, sudilah kiranya paman mengatakan tentang Muhammad yang menunjukkan bahwa engkau sebenarnya mengingkari dan membencinya.
Sampaikanlah wahai paman sikap itu dihadapan kaummu!”
Walid bersama Abu Jahal kemudian mendatangi orag-orang Qurays. Sesampai di hadapan mereka, Walid berkata: ”Wahai kaumku, kalian mengatakan bahwa Muhammad itu gila. Apakah kalian pernah melihat Muhammad berbicara sendiri?” Mereka menjawab: ”Tidak, demi Allah!”.
Walid melanjutkan: ”Kalian mengatakan bahwa Muhammad itu adalah dukun (kahin). Apakah kalian pernah melihat Muhammad melakukan praktek perdukunan?” Merekapun menjawab: ”Tidak pernah!”.
Walid bertanya lagi: ”Kalian mengatakan bahwa yang dikatakan Muhammad itu adalah syair (puisi). Apakah kalian pernah melihat Muhammad membuat syair?” Mereka menjawab: ”Juga tidak”.
Lagi Walid bertanya untuk ke sekian kalinya: ”Kalian mengatakan bahwa Muhammad itu pendusta. Apakah kalian pernah mengetahui Muhammad berdusta?” Mereka juga menjawab: ”Demi Allah, tidak pernah sekalipun!”. ”Lalu, kalau demikian apakah yang diucapkan oleh Muhammad itu?” Walid terdiam dan kebingungan. Ia minta untuk diberikan kesempatan untuk berfikir dan menyendiri.
Beberapa saat kemudian, Walid bin Mughirah kembali dan mengatakan dihadapan kaumnya: ”Itu semua tidak lain adalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu!”. Bukankah kalian mengatakan bahwa ucapan Muhammad dapat memisahkan seseorang dengan keluarganya, suami dengan istrinya dan orangtua dengan anak-anaknya?”
Dalam kasus pertama, Si Badui yang kencing di dalam masjid oleh Rasulullah dianggap sebagai kejahilan kecil, karena dilakukan oleh orang awam yang tidak tahu ajaran Islam. Karena itu ketika Umar bermaksud menggunakan kekerasan padanya, Rasulullah mencegahnya. Kejahilan seperti ini dapat ditolelir. Kelak Si Badui yang jahil itu akan berubah setelah diberikan penjelasan atau diberi contoh yang benar.
Sedangkan kejahilan kedua, yang dilakukan oleh para cendikiawan dan pembesar Qurays, merupakan kejahilan besar yang tidak dapat ditolelir. Mereka bukan orang-orang awam yang bodoh, tapi orang-orang cerdas dan mampu memahami yang benar dari yang salah.
Merekapun tahu bahwa sesungguhnya al Qur’an itu adalah kebenaran dari Allah, bukan kata-kata Muhammad, tetapi berpaling dan mengingkarinya. Bahkan mereka mempengaruhi orang lain untuk mengingkarinya, dengan berbagai hujjah yang dibuat-buat.
Orang-orang seperti inilah yang sesat dan menyesatkan. Karena itu kelompok ini tidak dapat dimaafkan oleh Allah SWT, sehingga pengingkaran serta kesombongan mereka diabadikan dalam Al-Qur’an, sebagai pelajaran bagi ummat setelahnya (QS. Al-Mudattsir: 18-25)
Hikmah
Problema yang dihadapi ummat Islam hari ini sesungguhnya tidak lepas dari dua model kejahilan ini. Di satu sisi masih banyak kita temukan orang yang kurang memahami ajaran Islam, sehingga mereka melakukan hal-hal yang dilarang serta meninggalkan yang diperintahkan. Atau melakukan hal-hal yang mereka sangka sebagai ajaran Islam padahal bukan.
Maraknya kesyirikan, khurafat serta amalan-amalan bid’ah dan sejenisnya. Di sisi lain dewasa ini juga tidak sedikit yang termasuk dalam kategori kaum cendikiawan yang mempelajari Islam, tetapi mereka memiliki pemikiran yang menyimpang dari prinsip-prinsip Islam yang telah disepakati oleh salafus shaleh dan ulama-ulama Islam.
Jangan heran, banyak orang berilmu --bahkan dari kampus dan perguruan tinggi Islam-- namun mereka menggugat kebenaran Islam. Mereka menggugat kebenaran al-Qur’an dan al-Hadits. Mereka menganggap Rasulullah SAW seperti manusia pada umumnya, dengan logika berfikir mereka yang menyesatkan itu.
Mereka meragukan dan mempertanyakan apa yang dilakukan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, bahkan mereka mengkritik ulama-ulama shalih, seolah apa yang dilakukan pewaris Nabi itu keliru atau bias. Mereka meragukan keputusan Nabi, Sahabat dan para ulama dengan logika dan HAM. Inilah kejahilan modern yang sangat membahayakan bagi masa depan aqidah generasi Muslim.
Walaupun kedua bentuk kejahilan diatas sama-sama membuat kerusakan; tetapi kejahilan yang dilakukan oleh orang-orang pandai dan penguasa menciptakan kerusakan yang jauh lebih dahsyat bahayanya bagi keimanan, kehidupan dan kemanusiaan. Inilah tantangan berat bagi kita semua untuk mencegahnya. Marilah kita jaga anak-cucu kita dari dua kejahilan ini. Wallahu a’lam bis-shawab
JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kesediaan Nabi mendengarkan, merupakan cerminan akhlaq yang mulia
“Komunikator yang baik adalah pendengar yang bijaksana,” begitu kata seorang teman menasehati. Tentu, bukan berarti menjadi pendengar seseorang tidak berkomunikasi. Sebab, dengan menjadi pendengar, hakekatnya ia sedang berkomunikasi.
Di tempat kita, banyak orang suka bicara tapi jarang mendengarkan. Di warung, di kampus, di kampung, di kantor sampai di Gedung DPR.
TV kita, banyak banyak menfasilitasi orang-orang yang suka bicara. Semua berbicara, sampai-sampai tak mendengarkan pendapat orang lain. Jadilah debat kusir. Kebiasaan suka bicara dalam masayarakat kita ini, sampai-sampai sering jadi gurauan. “Mengapa perusahaan seluler laris manis di Indonesia? Jawabannya karena masyarakat kita suka bicara, jarang mendengarkan.”
***
Rasulullah adalah sosok manusia paripurna yang hampir sempurna dalam segala halnya. Salah satu kesempurnaannya asdalah caranya dalam melakukan dialog dan menjalin komunikasi dengan kawan maupun lawannya. Kehebatan komunikasinya itulah yang dapat “menyihir” orang sehingga tertarik, kemudian mengikuti ajran yang dibawanya.
Muhammad tentu bukan ahli sihir. Kemampuan komunikasinya bukan dari hasil praktek mistik, tapi merupakan latihan panjang dari proses mistik, tapi merupakan latihan panjang dari proses perjuannya sejak kecil. Beliau mandiri sejak usia dini, sehingga mengharuskannya bergaul dengan dunia luas. Pergaulannya menjadi sangat luas ketika beliau berdagang di usia remaja. Di sinilah kemampuan berkomunikasi itu diasah. Lebih dari itu, tentu saja Nabi mempunyai berbagai kelebihan yang bersifat mu’jizati.
Salah satu rahasia keberhasilan Rasulullah dalam berbagai dialognya adalah kesediaan beliau menjadi pendengar yang baik. Rasululllah tidak saja pandai berbicara, tapi juga pandai mendengar. Selain menjadi pembicara yang baik, beliau adalah pendengar yag sangat baik. Berikut ini kisah Rasulullah ketika berdialog dengan perunding ulung yang akhirnya takluk setelah berdialog dengan beliau.
Ketika Rasulullah sudah mulai melakukan da’wah secara terbuka, kaum kafir Quraisy gundah dan guncang hatinya. Mereka ingin membendung aktivitas da’wah Muhammad dengan segala cara. Salah satunya adalah dengan mengutus Utbah bin Rabi’ah untuk melakukan negoisasi.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Utbah duduk di sebelah Rasulullah saw seraya berkata: “Wahai anak pamanku, sesungguhnya engkau mengetahui secara pasti kedudukanmu di tengah-tengah kaummu. Engkau telah memecah-belah barisan mereka, engakau caci-maki tuhan-tuhan mereka, dan engkau kafirkan nenek moyang mereka. Karena itu dengarkanlah kata-kataku: Aku akan menyampaikan beberapa tawaran, mudah-mudahan kamu mau menerima sebagiannya.”
Rasulullah berkata: “Wahai Abl Walid, katakanlah. Aku akan mendengarnya.” Lalu Utbah bin Rabi’ah mengutarakan panjang lebar segala tawarannya. Ketika selesai, Rasulullah kembali bertanya: “Sudah selesaikah wahai Abul Walid?” Ia menjawab, “Sudah.”
Rasulullah kemudian berkata: Sekarang dengarkanlah kata-kataku. Ia pun menjawab: “Silahkan” Lalu Rasulullah membacakan beberapa ayat dari surat Fushilat. Sampai pada akhirnya beliau membaca ayat sajadah (ayat 37), dan beliau bersujud. Lengkapnya ayat itu berbunyi:
“Dan sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudklah kepada Allah yang Menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”
Setelah itu beliau berkata kepada Utbah, engkau telah mendengarkannya dan kini silahkan temukan sikapmu. Utbah segera bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi menjumpai teman-temannya. Sebagian dari mereka berkata: “Demi Allah, Abul Walid datang kepada kalian dengan raut muka yang berbeda dengan ketika ia berangkat.” Utbah meminta kepada mereka supaya memanggil Rasul Allah saw, akan tetapi mereka enggan. Mereka malah berkata: “Ia telah menyihirmu dengan ucapannya.”
Jika kita perhatikan percakapan antara Rasulullah dengan Utbah sungguh sangat menarik. Selaiin bobot pembicaraannya yang bagus, cara dialognya juga mempesona. Rasulullah sebagai tuan rumah terlebih dahulu mempersilahkan tamunya untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Dengan penuh perhatian beliau mendengarkan sampai pembicara tuntas menyampaikan maksudnya. Beliau tidak memotong pembicaraan lawan bicaranya, malah beliau bertanya kepadanya, Wahai Abul Walid, apakah kamu sudah selesai?
Kesediaan Rasulullah mendengarkan hingga tuntas pembicaraan orang merupakan cerminan akhlaq beliau yang sangat mulia. Dengan akhlaq mulia itulah Rasulullah menaklukkan hati orang, sehingga bersedia mendengarkan dan mempertimbangkan ajakannya.
Utbah adalah salah seorang mitra dialog yang kemudian tertarik dan terpesona dengan gaya komunikasi beliau. Tak heran jika teman-temannya kemudian mengatakan kepadanya bahwa Utbah telah tersihir ucapan Muhammad.
Jika dihitung, ucapan Utbah jauh lebihbanyak dari ucapan Rasulullah. Bahkan beliau hampir tidak berkapa apa-apa kecuali sekadar membacakan beberapa ayat suci al-Qur’an. Justru dengan berhemat bicara inilah akhirnya Utbah kepincut, dan akhirnya menyerah.
Sebagai ummatnya tentu sangat baik jika kita meniru dan mempraktekkan gaya Rasulullah dalam berdialog dan berkomunikasi. Beliau tidak ingin mendominasi pembicaraan, sebab hal itu sama saja dengan serakah dalam urusan makan. Keduanya merupakan dua sikap yang dicela oleh Islam.
Penyakit para pembicara
Ada juga kebiasaan buruk pada dai atau penceramah. Yakni berpanjang lebar dalam berpidato. Ini merupakan penyakit para khatib dan muballigh. Mereka tidak sadar bahwa ada batas tertentu di orang betah mendengar. Kapan mereka betah dan kapan sudah bosan. Lebih dari batas itu mereka ingin beranjak dari majlis. Andaikata bukan karena menjaga adab sopan santun, mereka mungkin sudah lari duluan akibat terlalu lama si dai bicara.
Bagi para khatib dan da’i mestinya lebih memperhatikan kemampuan pendengarnya. Pendengar, biasanya tidak bisa memberikan konsentrasi perhatiannya lebih dari lima belas menit. Setelah itu mereka akan merasa lelah dan konsentrasinya terpecah. Mereka ingin mendapatkan suasana baru yang dapat menyegarkan pikirannya.
Secara umum, sebagai khatib, muballigh atau pembicara, ada dorongan kuat dari dalam diri kita untuk memperpanjang pembicaraaan. Karenanya, segeralah mengoreksi diri, jangan-jangan dorongan itu merupakan keinginan nafsu belaka.
Sebab ada tiga kemumgkinan penyebabnya:
Pertama, rasa bangga terhadap diri sendiri. Merasa bahwa yang akan disampaikannya itu merupakan ilmu yang baru yang belum diketahui oleh para pendengar. Karenanya ia berkeinginan sekali untuk menyampaikannya, saat itu juga.
Kedua, ambisi atau keinginan untuk mendapatkan pujian, nama baik, dan ketenaran. Dengan berpanjang lebar berpidato diharapkan popularitasnya terdongkrak sebagai penceramah ulung atau setidak-tidaknya sebagai penceramah yang berilmu pengetahuan yang luas.
Ketiga, mengabaikan kemampuan pihak pendengar, baik dari segi ilmu, pengalaman, maupun keluasan pandangan. Dengan anggapan itu, seorang da’i/penceramah mengobral kata-kata, sampai-sampai tega menyelipkan berbagai kebohongan sekadar untuk memuaskan pendengar atau memuaskan dirinya senidiri.
Kita harus husudh-dhan bahwa para mustami’in (pendengar) cukup mengerti permasalahan yang kita ceramahkan. Tak usah diulang-ulang sehingga membosankan. Tak perlu diberi tekanan yang berlebihan seolah-olah mustami’nya bodoh. Dan seperti ini sangat berbahaya. Untuk itu lebih baik jika dibuka dialog. Dengan dialog kita dapat menjajaki seberapa jauh tingkat pemahaman orang yang kita ajak berbicara.
Muballigh/da’i/penceramah yang baik bukanlah mereka yang hanya pintar berceramah, tapi mereka yang selain pintar berceramah, juga pandai mendengarkan pembicaraan orang lain. Banyak muballigh yang jika disuruh berceramah kuat berdiri berjam-jam, tapi jika disuruh mendengar ceramah orang lain beberapa saat saja pantatnya sudah kesemutan.
Sama halnya dengan kita. Kita menjadi orang yang kuat bicara panjang lebar namun tak siap mendengarkan orang lain tatkala sedang berbicara.
Kebiasaan ini tentu saja berbeda dengan Rasulullah. Beliau justru lebih banyak mendengar. Jika berkata atau berpidato, beliau memilih kata-kata yang singkat, lugas dan tegas. Kita lihat hadits-hadits beliau rata-rata pendek. Hadits panjang bisa dihitung dengan jari.
Sebagaimana yang dicontohkan Nabi, yang benar adalah banyak mendengar sedikit berbicara. Bukankah anggota tubuh kita sudah mengisyaratkan hal itu? Bukankah kita hanya memiliki satu mulut dan dua telinga? Artinya, perbandingan antara pembicaraan dengan pendengaran itu semestinya satu berbanding dua. Kenapa yang terjadi justru sebaliknya?
Kita harus belajar menjadi pendengar yang baik sebagaimana kita belajar menjadi pembicara yang baik. Sebagian dari sifat-sifat pendengar yang baik adalah memberikan kesempatan kepada pembicara menuntaskan pembicaraannya sampai sempurna, tidak memotong pembicaraan orang lain, walaupun didapati beberapa kesalahan di dalamnya. Lebih baik kita membuat beberapa catatan untuk merekam semua pemblicaraan orang, kemudian menyampaikannya di saat gliran kita berbicara. Jangan sekali-kali memotong benang pikiran orang yang tengah diurai.
Termasuk sifat pendengar yang baik adalah tidak banyak memberikan komentar dan jawaban, jika sekiranya tidak perlu. Jika terpaksa harus memberi komentar sebaiknya dipilih kata-kata yang bijaksana.
Cucu Rasulullah, Hasan bin Ali ra menambahkan satu kiat menjadi pendengar yang baik, ia berkata:
“Wahai anakku, jika engkau mengikuti pembicaraan Ulama, hendaklah engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Dan janganlah kamu memotong pembicaraan seseeorang meski panjang lebar, hingga ia menyelesaikannya sendiri.JAUHI PERDEBATAN YANG MENCELAKAKAN
SUATU saat Yunus bin Bin Abdul A’la, seorang faqih Mesir terlibatan perdebatan dengan Imam As Syafi’i. Namun tidak seperti biasanya yang terjadi pada mereka telah terlibat perdebatan, Yunus tidak marah, bahkan beliau amat terkesan dengan sikap Imam As Syafi’i, hingga beliau mengatakan, “Aku tidak melihat orang berakal melebihi As Syafi’i, aku mendebatnya tentang suatu masalah pada suatu hari, kemudian kami berpisah, lalu dia menemuiku, dan menggandeng tanganku, lalu berkata kepadaku:
"Wahai Abu Musa, bukankan lebih baik kita tetap berteman walau kita tidak sepakat dalam satu masalah?’”
Mengenai sifat mulia Imam As Syafi’i dalam perdebatan Abu Utsman, putra beliau juga pernah mengatakan: “Aku sekali-kali tidak pernah mendengar ayahku mendebat seseorang dengan meninggikan suaranya.” (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat,1/66)
Bahkan Ahmad bin Kholid bin Kholal juga pernah mendangar sendiri bahwa Imam As Syafi’i mengatakan, “Ketika aku mendebat seseorang aku tidak menginginkan dia jatuh kepada kesalahan.(Tawali At Ta’sis, hal. 65)
As Syafi’i juga berkata: “Aku berdebat tidak untuk menjatuhkan orang” (Tahdzib Al Asma wa Al Lughat, 1/ 66)
Demikianlah ulama besar jika berdebat, tidak ada dampak negatif dari perdebatan itu, karena mereka berdebat untuk mencari kebenaran, bukan untuk merendahkan, mencari atau mempertahankan pengikut. Mereka tidak berdebat agar dipandang alim (pandai), serta karena tujuan duniawi lainnya. Sehingga, perdebatannya tetap dalam koridor adab dan akhlak.
Imam Al Ghazali sendiri mengumpamakan bahwa orang berdebat seperti orang mencari barang yang hilang. Ia tidak membedakan-bedakan apakah barang itu ia temukan sendiri atau ditemukan orang lain yang membantunya. Ia melihat lawan debatnya sebagai partner, bukan musuh. Ia mestinya berterima kasih jika lawan debatnya menunjukkan kepadanya kesalahannya, seperti seseorang yang menempuh suatu jalan untuk mencari barangya yang hilang, namun ada orang lain yang memberi tahu bahwa ia harus menepuh jalan lain untuk mendapatkan barangnya.
Perdabatan yang demikianlah yang ditempuh para sahabat, tabi’in dan para imam besar terdahulu. Umar bin Al Khattab Radhiyallahu `anhu sendiri ketika diingatkan oleh seorang wanita, saat beliau berkhutbah di hadpan kalayak pun menyatakan jujur ketika melihat bahwa yang dikatakan wanita itu benar, ”Umar salah, wanita ini benar!”. Demikian pula Ali Radhiyallahu `anhu menjawab pertanyaan seorang laki-laki, kemudian ada yang mengkritik beliau, ”Tidak demikian wahai Amirul Mukminin, namun demikian-demikian.”
Maka beliau mengatakan,”Anda benar, saya salah.” Sebagaimana juga para sahabat juga bermusyawarah mengenai hadd bagi peminum khamr dan beberapa masalah dalam faraidh.
Debat yang menghancurkan
Adapun perdebatan orang-orang setelah masa para Imam berlalu sudah berubah. Imam Al Ghazali sendiri mengkritik keras orang-orang sezaman dengan beliau yang melakukan perdebatan bukan sebagai bentuk kerja sama dalam mencari kebenaran. Dengan penuh keheranan, beliau mengatakan, ”Lihatlah para pendebat di zaman kalian ini, bagaimana wajah mereka berubah gelap, jika nampak al haq di lisan lawannya, sebagaimana juga emosi mereka meluap, lantas berpayah-payah, dengan seluruh kemampuan untuk menentangnya. Bagaimana ia mencela pendebatnya seumur hidupnya, kemudian dia tidak malu dengan menyerupakan diri sebagai sahabat dalam sharing untuk mencari kebenaran.?” (Al Ihya, 1/74)
Debat demikianlah yang menghancurkan umat Islam sendiri, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,”Tidak ada kaum yang tersesat dari hidayah yang mereka ada di dalamnya, kecuali didatangkan kepada mereka perdebatan.” (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan shahih)
Perdabatan yang bertujuan untuk merendahkan pihak lain, atau menonjolkan diri sendiri serta mencari dunia, merupakan sumber timbulnya banyak maksiat.
Imam Al Ghazali menyebutkan beberapa penyakit yang menyerang mereka yang mencampakkan diri dalam aktifitas ini:
1. Hasad (iri): Pendebat, terkadang menang atau kalah. Terkadang ada yang memujinya, terkadang pujian diberikan untuk lawannya. Kondisi semacam ini bisa menimbulkan rasa hasad pada hatinya, menginginkan agar lawannya kehilangan nikmat, termasuk ilmu, kesempatan atau nikmat lainnya.
2.Takabbur dan riya`: Mereka yang suka berdebat dengan tujun menonjolkan diri akan terjangkit penyakit takabbur. Dia akan berusaha merendahkan lawan debatnya, dan meninggikan dirinya sendiri di hadapan orang lain. Kadang ia memberikan pernyataan bahwa lawannya bodoh, tidak paham atau memiliki sedikit ilmu. Disamping itu, penyakit riya` juga sering menjangkiti mereka, karena ingin menampakkan apa yang ia rasa sebagai kelebihan kepada manusia.
3. Memuji diri sendiri: Pendebat sering kali menyanjung dirinya sendiri di saat berdebat. Kadang ia mengatakan, ”saya menguasa ilmu ini”, “saya hafal hadits ini.” Hal itu dilakukan untuk mempromosikan apa yang ia sampaikan.
4. Tajassus (mencari-cari aib): Mancari aurat manusia, sering kali dilakukan pendebat terhadap lawannya. Terkadang ia mencari informasi sampai ke negeri dimana lawannya tinggal, untuk mencari hal-hal buruk darinya, yang ia simpan pengetahuan itu untuk dijadikan bekal menjatuhkannya.
5. Ghibah: Yang kadang tidak bisa dihindarkan dari pendebat yang didasari niat yang salah adalah menceritakan dan menyebarkan kelemahan dan kekurangan lawannya kepada pihak lain, setelah ia melakukan perdebatan dengan seseorang.
6. Nifaq: Yang dimaksud di sini adalah perbuatan dhahir pendebat yang bertentangan dengan apa yang ada di dalam hati. Pendebat biasanya basa-basi, memperlihatkan keramahan dan kegembiraan jika bertemu dengan lawannya, namun sejatinya dalam hatinya terbesit kebencian yang cukup besar.
Sekarang, marilah kita cermati kehidupan di sekitar kita. Di kantor, di lingkungan, bahkan di TV. Paling tidak, marilah kita melihat diri kita sendiri ketika kita memutuskan untuk berdebat (baik dengan lisan maupun tulisan). Dengan demikian, kita bisa terhindar dari penyakit-penyakit hati yang cukup membahayakan dirinya sendiri.JADILAH LEBIH MULIA TANPA BERSIKAP TAMAK!
-Diriwayatkan oleh Imam al-Ghazali, suatu ketika kaum Bani Israil bertanya kepada Nabi Musa a.s : “Tanyakan kepada Tuhanmu kami memperoleh apa, bila mengerjakan sesuatu. Sebab kami telah amalkan apa yang Dia (Allah) inginkan”.
Nabi Musa a.s berkata: “Ya Tuhanku, Engkau benar-benar sudah mendengar apa yang mereka katakan padaku”. Allah SWT berfirman kepada nabi Musa a.s: “Hai Musa, katakanlah pada mereka, ‘Mereka harus ridla kepada-Ku. Aku pun akan ridla terhadap mereka” (Imam al-Ghazali, Mukasyafat al-Qulub).
Kisah tersebut memberi arti, bahwa setelah kita melakukan amal shalih, janganlah berharap-harap balasan berupa harta duniawi. Usai beramal, serahkanlah kepada-Nya. Hanya satu yang harus diharap; ridla-Nya, tidak lainnya. Cukup dengan ridla-Nya, amal kita pasti dibalas dengan setimpal kelak.
Menerima ridla-Nya itu berarti kita harus qana’ah. Menurut Abu Abdilllah bin Khafifi, qana’ah adalah meninggalkan angan-angan terhadap sesuatu yang tidak ada dan menganggap cukup dengan sesuatu yang ada.
Qana’ah adalah pintu menjadi hamba Allah yang cerdas, sedangkan tamak (rakus) dan pendengki adalah jendela pembuka kerusakan.
Imam Abu Bakar al-Maraghi bernah bertutur kepada murid-muridnya:”Orang yang berakal sehat adalah orang yang mengatur urusan dunia dengan sikap qana’ah dan mengatur urusuan agama dengan ilmu dan ijtihad” (Abdul Karim al-Qursyairi, Risalah al-Qusyairiyah).
Menurut Imam Turmuzi, qana’ah itu adalah jiwa yang rela terhadap pemberian rezeki yang telah ditentukan, dan tidak berkeinginan terhadap sesuatu yang tidak ada hasilnya. Pada dasarnya berangan-angan terhadap sesuatu yang tidak hasilnya adalah angan-angan orang yang bodoh.
Tentunya, orang yang berakal dan cerdas seperti itu adalah orang memahami siapa diri dan harus bagaimana diri ini. Orang yang qona’ah, adalah orang yang hidupnya terbebas dari segala macam belenggu nafsu dan ambisi. Hal ini adalah disebabkan karena mereka merasa yakin dan percaya sepenuhnya akan kebijakan adil Allah SWT.
Menurut Imam al-Ghazali, kemuliaan seorang hamba itu bermula dari qana’ah dan kehinaannya berawal dari sifat tamak. Makanya, qana’ah adalah karakter utama mukmin sejati. “Qana’ah itu ibarat raja yang tidak mau bertempat tinggal kecuali di hati mukmin” kata Imam al-Qusyairi. Sedangkan orang yang tamak selalu dikejar-kejar nafsu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tanpa memperdulikan apakah harta tersebut diperoleh dengan cara yang halal ataukah haram.
Untuk menjadi orang yang qan’ah, maka kita perlu memperbanyak syukur, bersikap wara’ dan menghindari gaya hidup yang berlebihan.
Rasulullah SAW bersabda: “Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi orang yang paling ahli beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi orang yang paling ahli bersyukur. Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai diri sendiri, maka engkau akan menjadi mukmin yang baik. Berbuatlah baik kepada tetanggamu, maka engkau akan menjadi orang Islam yang baik. Sedikitkanlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. Al-Baihaqi).
Seseorang yang apabila di dalam hatinya terdapat sifat wara', maka hidupnya akan tenang dan tentram tanpa terusik oleh nafsu untuk menguasai dunia (harta). Dalam usahanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia akan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan Allah (pantang baginya mendapat barang atau harta yang meragukan hatinya, apalagi yang haram).
Hidari Tamak!
Orang tamak pada hakikatnya menurut al-Ghazali adalah orang fakir, mengutip pendapat Umar bin Khattab r.a ia mengakatan; "Sesungguhnya tamak adalah kefakiran, sementara membuang iri hati terhadap rizki orang lain justru adalah kekayaan."
Sifat tamak dan dengki biasa berjalan bersamaan. Keduanya sama-sama perusak kehidupan seorang mukmin. Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari Rasulullah SAW pernah menasihatinya: “Jika engkau shalat, lakukanlah shalatmu itu seakan-akan terakhir kalinya (berpamitan untuk mati), janganlah berbicara dengan pembicaraan yang membuatmu kelak tak dapat memberikan alasannya dan jangan berharp terhadap sesuatu yang sudah dipegang orang lain.”
Nafsu manusia jika tidak dikontrol iman sangat mudah jatuh pada sifat ketamakan. Jika manusia memiliki satu lembah emas, tentu dia menginginkan yang keduanya. Dan apabila ia telah memiliki dua lembah emas, tentu ia menginginkan yang ketiga. Kata para ulama, tidak ada yang dapat memenuhi perut mereka kecuali mati. Selama manusia bernafas, ia selalu saja digoda setan dengan ketamakan dan dengki.
Janganlah dibiarkan kerakusan bercokol di dalam hati kita. Ada kecenderungan orang yang rakus itu menjadi jahat, merasa ringan berbuat maksiat bahkan rela mengorbankan kemuliaan, sekedar untuk memuaskan ambisi nafsunya.
Hati-hatilah dengan sifat rakus. Rakus itu merusakkan tatanan kehidupan. Hatinya selalu bergejolak bagaimana memenuhi keinginan nafsunya saja. Kerakusan harus kita lemahkan. Sifat ini biasanya mencengkeram jiwa di saat kita mulai memiliki sifat iri dengki. Dan kadang dimulai dari angan-angan/imajinasi kosong kita tentang harta. Kerakusan dapat kita lemahkan dengan belajar hidup sederhana, wara’ dan qana’ah.
Tamak dan rakus kepada dunia, dapat menyebabkan hati seseorang terombang-ambing dan selalu dikejar-kejar nafsu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya. angkuh, cinta akan dunia, tidak amanah dan iri hati. Jadi tamak tidak saja merusak kadar iman, tapi juga membuka pintu kegagalan hidup. Wallahu a’lam bisshawab.
PELIHARALAH IMAN DAN BERKUMPULAH DG ORANG SHALEH
-Dalam kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa berkawan dengan orang baik karena Allah adalah salah satu pilar memperkuat agama (Kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, hal. 63).
Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba jika mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 41).
Pergaulan merupakan faktor yang mempengaruhi pemikiran, lebih-lebih keimanannya. Seseorang dapat menjual iman, karena tergiur tipuan kawannya. Sebaliknya, seseorang bisa menjadi orang shalih karena selalu dinasihati teman dekatnya.
Maka dari itu, Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang dapat dinilai dari agama kawan setianya, maka hendaklah di antara kalian melihat seseorang dari siapa mereka bergaul.” (HR. al Hakim).
Yang harus diutamakan kawan adalah orang yang berilmu. Sebab sedikit atau banyak akan mempengaruhi pemikiran kita.
Dituturkan oleh Rasulullah SAW bahwa, lebih baik bersendiri dari pada bergaul dengan orang-orang yang rusak. Dan lebih baik bergaul dengan orang-orang baik daripada menyendiri (HR. Al Hakim).
Orang baik (ahl al-khoir) adalah orang yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Individu yang baik ini adalah orang yang beradab. Bukan sekedar beretika, tapi juga bertauhid.
Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan orang baik sebagai orang yang mengamalkan adab secara menyeluruh.
Pengamalan adab ini meliputi adab kepada Allah SWT, sebagai tingkatan adab tertinggi. Kemudian adab dengan sesama manusia, kepada ilmu, kepada alam dan sebagainya. Adab-adab ini dipandang dengan kacamata tauhid.
Karena orang baik (insan adabi) memberi pencerahan dalam segala aspek bidang kehidupan, makanya Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk mempergaulinya.
Orang yang demikian akan melihat realitas secara konstan dari kacamata ketuhanan – sebagai fondasi utamanya. Orang yang demikianlah yang dimaksud Rasulullah SAW untuk kita pergauli. Tidak memberi faedah kecuali faedah agama.
Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang dzalim dan lalai bisa membutakan hati. Allah SWT bersabda: “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah SWT, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (HR. QS. Hud: 113).
Condong dalam ayat tersebut di atas maksudnya, mendukung, melapangkan jalan, memuji-muji dan bersekutu bersama mereka. Tujuannya tidak lebih untuk kepentingan materialistik.
Setiap kita bergaul secara akrab dengan orang-orang lalai maka, saat itu iman kita mengalami pelemahan (Kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, hal. 61). Duduk bersama orang-orang fasik oleh Rasulullah SAW dikaitkan dengan kadar keimanannya. Tidak mungkin orang beriman bergaul akrab bersama mereka dalam bersekutu melakukan aktifitas tidak baik.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia duduk (di suatu majelis) yang dihidangkan padanya minuman keras.” (HR. Abdu Dawud dan Ibn Majah).
Ketika kita memiliki kecondongan kepada mereka, maka cepat-cepatlah memutus kecondongan itu. Sebab dikhawatirkan akan mendapatkan kemungkaran. Karena mereka sangat pandai dalam tipu daya dan penipuan. Terkecuali jika kita memiliki misi khusus, berbekal ilmu akan mendakwahi mereka. Sikap ini bukan dinamakan memiliki kecondongan sebab tujuannya adalah dakwah.
Pernah Khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz mendapat laporan tentang adanya suatu kaum yang sedang meminum khamr. Beliaupun memerintahkan agar mereka semua dicambuk. Kemudian seseorang berkata kepada beliau; "Sesungguhnya di antara mereka ada orang yang sedang berpuasa."
'Umar bin Abdul 'Aziz menjawab: "Mulailah darinya (dalam mencambuk). Tidakkah kalian mendengar firman Allah SWT: “Dan sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kepada kalian di dalam al-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah SWT diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kalian duduk bersama mereka. Sehingga mereka pindah kepada pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (jika kalian berbuat demikian), maka tentulah kalian serupa dengan mereka.” (QS. Al-Nisa’ : 140).
Hal yang perlu digari bawahi di sini adalah, sebenarnya bergaul dengan siapa pun kita mesti memiliki cara pandang Islam yang kokoh. Semua harus atas dasar berukhuwah karena Allah SWT. Jika kita ingin memasuki majelis orang-orang fasik, maka pertama-tama yang harus dipertanyakan dalam hati adalah, atas dasar apa kita masuk dalam majelis itu?
Jika dasarnya adalah karena Allah SWT dengan maksud berdakwah, maka itu adalah langkah baik. Memberi nasihat, meluruskan padangan orang-orang fasik dan mengajak bertaubat. Jika kita mendapati sebuah majelis di dalamnya ajaran Islam dihina, maka jika kita mampu maka luruskan mereka atau janganlah duduk-duduk bersama. Jika kita diam, berarti kita setuju dengan mereka.
Namun, jika iman kita masih lemah. Terlalu mudah terbuai godaan, maka lebih baik tidak memasukinya, dan sebaliknya bergabunglah bersama orang-orang shalih.
Faedah bergaul dengan orang shalih ada dua, yaitu mengambil ilmu dan menjaga keimanan agar tetap konstan. Iman itu diperkuat dengan ilmu, maka hendaklah kita mengambil faedah ilmu dari orang shalih agar keimanan selalu terjaga.
LIHATLAH KEBAWAH , JANGAN LIHAT KEATAS
Manusia (al-insan) merupakan mahluk Allah yang paling sempurna, dan paling banyak menerima karunia-Nya, dibanding dengan yang lainnya. Namun, seringkali manusia lupa mensyukuri semua karunia itu. Padahal, karunia Ilahi yang datang silih berganti tanpa pernah kita syukuri hanya akan menambah kemurkaan Allah semata.
Banyak nikmat Allah telah kita sia-siakan. Dari yang terkecil hingga besar. Bayangkan, seandainya udara yang kita hirup dihargai dengan uang. Berapa banyak uang yang kita keluarkan hanya untuk membeli udara.
Belum lagi air yang setiap hari kita pakai. Alangkah Maha Pemurahnya Allah.
Berjalan dengan kedua kaki, melihat dengan kedua mata, dan bernafas merupakan nikmat yang tidak bisa tidak kita syukuri. Allah menciptakan manusia dan menyempurnakan penglihatan, pendengaran, dan mata hati, untuk dapat menjaga kualitas syukur kita atas semua pemberian-Nya.
Dalam al-Quran, Allah berfirman;
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” [QS: As Sajadah: 9]
Coba kita renungkan tentang susunan anatomi tubuh yang kompleks, rumitnya saluran darah, jaringan saraf, serta gumpalan otak dan hati, yang terakhir membuat derajat manusia lebih tinggi di antara mahluk Allah yang lain. Andai saja ada kerusakan sedikit di bagian otak kita, jaringan saraf terputus, dan aliran darah terhenti sesaat saja. Apa yang terjadi dalam tubuh kita?
Wujud Manisnya Iman
Kemampuan mensyukuri nikmat adalah salah satu wujud nyata dari manisnya iman. Ungkapan syukur tidak hanya di lisan. Melainkan mengejewantah dalam keseharian kita. Ibadah kian bertambah baik. Hubungan dengan tetangga makin harmonis. Kehidupan rumah tangga tambah berkah. Dan peran sosial kita semakin dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Semua itu merupakan bentuk lain dari cara mensyukuri nikmat Allah Swt.
Tubuh kita merupakan nikmat Allah yang tiada tara. Alam raya dan segala hal yang ada di dalamnya, adalah tanda-tanda kekuasaan dan fasilitas Allah guna memanjakan mahluk-Nya yang bernama manusia. Bentangan bumi yang subur, dan perut bumi yang mengandung banyak karunia Ilahi. Semuanya diserahkan kepada manusia untuk mengelola dan menikmati hasilnya. Bila sudah sedemikian sayangnya Allah pada kita, sanggupkah kita mengingkari-Nya? Allah menegaskan dalam firman-Nya.
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ
“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” [QS: Luqman [31]: 20]
Pernah kita merasakan betapa nikmatnya sehat itu. Saat terbaring lemas di rumah sakit, saat makanan-makanan lezat dihidangkan, handai taulan yang datang membesuk, apa yang kita rasakan? Tubuh tak kuasa bergerak, lidah tidak dapat merasakan lezatnya hidangan yang tersedia, dan sapaan hangat handai taulan pun berlalu sedemikian dinginnya.
Merasa rendahkah kita, ketika hanya mampu makan sehari sekali, sedangkan banyak saudara kita yang tidak mampu makan, walau sehari sekali. Fenomena penyakit busung lapar yang sempat diekspos media massa beberapa waktu lalu (dan boleh jadi saat ini masih banyak namun tidak terekspos lantaran banyaknya peristiwa baru yang saling susul menyusul) menghentak kita untuk lebih memacu diri dalam mensyukuri nikmat Allah. Bagaimana kalau hal itu terjadi pada diri kita dan keluarga? Apa yang bisa kita lakukan.
Hinakah kita ketika fasilitas hidup yang kita terima tidak sama lebih rendah dibanding dengan tetanggga atau saudara kita yang lain. Penghasilan tidak sebanyak kolega kita. Karir tidak melejit secepat teman-teman seangkatan dengan kita dn bahkan di bawah kita? Demikian dengan suasana kerja tidak senyaman yang kita harapkan. Dapatkah kita mensyukuri semua itu sebagai nikmat.
Bersyukur kita, saat banyak orang yang kehilangan pekerjaan, kesulitan bertahan hidup, dan bekerja dalam penuh ketidakpastian masa depan dan jaminan penghasilan yang memadai. Kita masih bisa bertahan seperti apa yang kita alami kini. Kita masih dikaruniai nikmat sehat dan taat (ibadah).
Kita dianjurkan untuk selalu melihat siapa yang ada di bawah. Jangan dibiasakan mengukur tingkat kesejahteraan dan kemakmuran hidup dengan siapa yang ada di atas kita. Inilah yang dapat mendekatkan diri pada sikap dan perilaku kufur. Tentu yang dimaksudkan ini sebagai bagian rasa syukur, bukan sebagai legitimasi dan sikap kemalasan. Sebab sebagai pribadi Muslim, kita tetap diwajibkan terus berprestasi sampai ke tingkat paling atas dan beramal kebaikan sebanyak-banyaknya.
Pendorong Kekufuran
Sementara arus budaya kufur menggempur kita tiada terkira. Hampir-hampir iman kita terseret dalam arus budaya kufur. Sarana-sarana dan fasilitas kekufuran tersedia dengan porsi yang lebih besar ketimbang sarana untuk bersyukur. Budaya hedonis, konsumtif, dan kontraproduktif terbangun dengan sistematis. Dan ada sarana untuk mengejawantahkan kekufuran secara baik, mulus, tanpa hambatan. Iman yang kita pupuk, dan rasa syukur yang coba ditumbuhkan, serta merta harus berhadapan dengan gelombang besar kekufuran yang sarat kemudharatan.
Kuncup syukur itu harus berdiri tegak. Tetap tegar walaupun dihajar badai kufur nan garang. Kelak kualitas kesyukuran kita akan teruji dan tidak lekang oleh hal yang membuat hambar cita rasa untuk bersyukur. Bukankah iman tumbuh dan berkualitas saat cobaan dan rintangan datang tiada henti. Justru ketika tiada hinaan, cercaan, dan hambatan, iman tumbuh tiada bergelora. Hidup ini tidak berjalan apa adanya. Ada upaya untuk membuatnya stagnan. Karena hambatan dan cobaan tiada kunjung tiba. Atau bahkan kita hindari kedatangannya. Menerima setiap pemberian Allah, betapapun kecilnya, merupakan sikap serta rasa syukur.
Bila kita membiasakan diri dengan menerima ketetapan dan pemberian Allah dengan perasaan cukup (qonaah), niscaya kita akan kaya. Dikayakan oleh Allah SWT.
Hidup kian bermakna saat kita pandai mensyukuri semua yang diberikan Alah pada kita, manusia.
Nikmat dunia adalah ujian. Segala hal yang Allah berikan di dunia ini merupakan sarana untuk menguji siapa yang paling baik perbuatannya di antara kita.
Ilmu yang Allah berikan pada kita, wajib diamalkan dan disebarluaskkan pada masyarakat banyak. Agar kelak ilmu yang kita miliki membuahkan hasil dan mewujud pada perubahan dan perbaikan peradaban yang hari ini kian massif dan tidak beradab. Banyak orang pintar tetapi tidak memberi kontribusi apa-apa pada komunitasnya. Yang ada hanyalah kerusakan yang ditimbulkan akibat ilmu dan kemampuan yang dimilikinya. Kufur terhadap ilmu yang Allah berikan adalah tidak mengamalkannya di jalan Allah. Atau berbuat kerusakan bersandar pada ilmu yang dimilikinya.
Karena sifat dan karakteristik manusia adalah angkuh dan menyombongkan diri. Kedua sifat tersebut dekat dengan kekufuran. Sampai-sampai Allah Swt memberi peringatan secara berulang-ulang.
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?." [QS: arrahman: 13]
Betapa manusia adalah mahluk yang sering berbuat kekufuran. Walaupun sifat tidak pernah puas selalu menghantui dan terus saja mengikuti kita kemanapun pergi, namun kita tak perlu khawatir dengan itu. Yang bisa kita lakukan ialah, menahan dan mengekang hawa nafsu kita dari kekufuran dan perbuatan yang mendekatkan pada kekufuran itu sendiri.
Inilah hakikat dan esensi syukur. Refleksi syukur itu hendaknya mampu mengeliminasi sinyal-sinyal kekufuran yang terus menerus tumbuh dan berpotensi untuk mendominasi dalam diri setiap insan. Karena syukur dan kekufuran ibarat minyak dan air. Keduanya sangat tidak mungkin disatukan. Jurang pembatas terlampau jelas untuk membedakan keduanya.
Refleksi syukur pun bisa ditafsirkan dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan. Dan hal ini memang sangat dianjurkan. Tetapi merasa paling baik, paling taat kepada Allah, paling benar, paling pandai mensyukuri nikmat Allah adalah sikap yang tidak dibenarkan dalam Islam. Karena itu adalah perangkat Iblis dalam menggoda dan menggiring anak keturunan
Mensyukuri karunia Ilahi dapat dilakukan dengan beragam cara. Tidak hanya mengucapkan Alhamdulillah saja. Rasa syukur itu mengejawantah. Syukur itu merealitas dalam kehidupan sosial dan pribadi kita.
Kita dapat mendeteksi sikap dan perilaku diri sendiri.
Sudahkah kita mensyukuri nikmat Allah yang banyaknya tiada terkira?
IBU
“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah, “ demikian pepatah masyhur yang menunjukkan bagaimana peran ibu pada anak-anaknya.
Hanya saja, teramat sedikit anak yang mengerti dan menghargai ibu mereka. Padahal, dalam al-Quran banyak disebutkan, ridha ibu merupakan ridha Allah dan murka ibu bisa membuat murkan Allah. Setidaknya tercermin dalam kisah ini.
Peristiwa ini terjadi pada naas yang pernah dialami oleh Ali, pemuda asal Madura, pada pertengahan tahun 2005 silam.
Menurut pengakuan laki-laki berperawakan murah senyum ini, peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tersebut, bermuara pada keinginannya melanjutkan studi, seusai menamatkan proses pembelajaran Sekolah Menengah Aliyah (SMA), di salah satu pondok pesantren di kota garam tersebut.
Setelah berbagi pikiran dengan salah satu temannya, diambillah keputusan untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi Islam yang terletak di Situbondo, Jawa Timur.
Tak disangka, ketika mengutarakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtuanya, ternyata keinginan mereka bertolakbelaka dengan apa yang dikehendaki Ali. Alasannya, selain jauh, dia juga tidak memiliki teman sekampung yang hendak melakukan studi di sana.
”Ndak usah kuliah di sana. Kamu kan gak ada teman dari sini (kampung). Nanti kamu berangkat dan pulang sendirian. Kalau terjadi apa-apa di jalan, bagaimana?” papar Ali, menirukan keberatan ibunya.
Sekalipun telah mendapat sinyal ketidakridhaan orangtuanya, terutama ibu, Ali nampaknya tetap bersikeras untuk melanjutkan misinya. Peringatan-peringatan orangtuanya akan kemudharatan kalau dia bersikukuh kuliah di sana, sama sekali tak digubris. “Anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.”
Akhirnya, melihat kengototan si-buah hati yang gak bisa ditawar-tawar, mereka pun dengan berat hati menyetujui keberangkatan Ali.
”Kalau kamu masih bersikeras, ya, terserah kamu,” ujar mereka dengan nada berat, penuh keterpaksaan.
Kecelakaan
Tidak lama setelah mendapat ’lampu hijau’ dari orangtua, bersama si-teman, Ali akhirnya berangkat ke daerah perantauan. Perjalanan pertama ini, bertujuan untuk observasi, memastikan akan kebenaran berita, bahwa di pondok yang mereka tuju itu ada perguruan tingginya, atau tidak.
Memang, perburuan mereka akan perguruan tinggi, bisa dibilang sedikit agak liar. Menurut pengakuan Ali, mereka sama sekali buta akan perguruan tinggi tersebut. Anehnya, mereka sudah tergiur untuk kuliah di sana.
Tanda-tana kurang baik mulai cium. Ketika mereka telah menapakkan telapak kaki di lokasi yang mereka tuju. Setelah menggali informasi dari pengurus pesantren, terungkap, bahwa pondok tersebut tidak memiliki perguruan tinggi, sebagaimana informasi yang mereka dapatkan.
”Saya sangat kecewa. Jauh-jauh dari madura ke Situbondo, ternyata hasilnya nihil,” terang Ali.
Karena perburuannya tidak sukses, Ali pun langsung balik kanan, pulang kampung. Namun, perjalanan kali ini, dia harus tempuh sendiri, karena sahabatnya masih ada keperluan yang lain. Dan hal ini lah yang sangat dikhawatirkan oleh kedua orangtuanyai.
Ceritanya, ketika bus yang dikendarai Ali tiba di salah satu terminal di Madura, ia bersiap-siap turun. Tak ada angin, tak ada hujan, ketika kaki kirinya menginjakkan tanah, tiba-tiba dia langsung lunglai, pingsan. Naasnya, kepala bagian belakang, terbentur tortoar, yang mengakibatkan goresan luka tepat pada salah satu sarafnya, yang kemudian menyebabkan Ali berlumuran darah.
Ali langsung tidak berdaya. Sekujur tubuhnya kaku, tak ubahnya sebuah mayat.
”Menurut informasi yang saya peroleh, saat itu tangan saya dalam posisi terlentang. Tidak bisa diubah posisinya, karena kaku. Akhirnya, untuk mengganti pakaianku yan berlumuran darah, pihak medis memotong-motong bajuku,” jelasnya.
Celakanya lagi, saat itu, pria yang memiliki kemampuan bahasa Arab ini, tidak membawa satu pun kartu identitas, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya kebingungan untuk menghubungi pihak keluarga.
Sebuah keajaiaban, di tengah kondisi keritisnya, Ali sempat mengucapkan nama pondok almamaternya, sehingga memudahkan para relawan melacak keberadaan keluarganya.
”Sudah pasti itu pertolongan Allah. Dalam kondisi demikian, aku bisa memberitahu nama almamaterku. Dan terus-terang, saya sendiri tidak menyadari akan hal itu,” akunya dengan nada terbata-bata.
Pasca kecelakaan itu, selama empat hari Ali tidak sadarkan diri. Dalam kurun waktu itu, ± delapan infus dan dua oksigen dia habiskan.
Buta, Bisu dan Tuli
Setelah mengalami masa kritis, pada hari kelima, Ali mulai siuman. Sayangnya, kondisi ini, justru membuat Ali semakin terpukul. Bagaimana tidak, ketika awal siuman, dia mendapatkan dirinya tidak mampu melihat, mendengar, dan berbicara. ”Saya sangat terpukul,” tegasnya.
Untunglah, Ali bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi Ali sedikit demi sedikit membaik. Dia sudah mampu memdengar dan melihat. Tapi, untuk berbicara, dia mengalami kesulitan. Banyak lawan bicaranya, termasuk ibu bapaknya sendiri, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
”Keluar suara, tapi mereka pada tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan,” terangnya.
Selama kurang lebih satu bulan, Ali mengalami kondisi yang demikian. Alhamdulillah, setelah itu kondisinya kembali membaik, normal seperti sediakala, meskipun, kadang kala dia masih merasakan rasa nyeri di kepalanya.
Sedari itu, Ali tidak pernah lagi mengacuhkan perkataan orangtuanya. Peristiwa tersebut, benar-benar dijadikan pelajaran penting bagi kehidupannya.
”Ini adalah teguran Allah yang sangat berharga bagiku. Intinya, jangan pernah kita mendurhakai orangtua. Ingat, ridha Allah itu terletak pada ridha orangtua, dan murka Allah, itu terletak pada murka orangtua,” ujarnya mengingatkan, sembari menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad Shalallahu ’alahi Wasallam. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi semuanya, ujar Ali mengakhiri ceritanya.*
BERMULA DARI MOTOR MOGOK
-Rekan saya Yadin Burhanudin, telah lima tahun mengidap penyakit gangguan ginjal. Dua kali seminggu harus melakukan cuci darah. Dia bersyukur biayanya didapatkan dari Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas. Setelah sekian lama menjadi reporter di dua stasiun radio swasta, kini ia bekerja sebagai divisi penjaulan di MQFM, radio milik Aa Gym di wilayah Gegerkalong Girang, Kota Bandung.
Jumat pagi itu, dirinya hendak bekerja dan biasanya menggunakan motor. Sekitar 45 menit ia pergi menuju tempat kerjanya. Karena kondisi tubuhnya yang tidak sesehat seperti dulu, ia pun biasanya menjalankan motor tidak begitu cepat. Katanya, yang penting sampai dan bisa menjalankan aktivitas hariannya. Tetapi apa yang terjadi, motornya tiba-tiba mogok.
Melihat kondisi demikian, ia langsung menelepon sahabatnya yang bekerja sebagai montir. Tidak lama orang yang dia panggil datang untuk membawa motor. Yadin tentu saja tidak mungkin bekerja karena kalaupun menggunakan angkutan kota, tentu saja ia akan terlambat. Maka ia putuskan minta izin kepada pimpinan di tempat kerjanya. Ia tak mengeluh walaupun tentu saja untuk mengusir ketidak pastiannya, ia harus melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Dulu, sesungguhnya Yadin adalah penulis yang cukup produktif, namun karena mengidap gangguan ginjal maka kebiasaan itu ditinggalkannya dan selama lima tahun itu tak pernah menyentuh komputer untuk menuangkan pemikirannya.
Tapi pagi itu, ia ingin mencoba menulis lagi. Dirinya terpacu dengan ucapan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin, bahwa banyak persoalan bangsa di negeri ini dan umat Islam sebagai mayoritas ternyata belum mampu mengatasi persoalan tersebut. Saat itu adalah beberapa hari menjelang Muktamar Persatuan Islam (PERSIS) XIV di Tasikmalaya. Pikirnya, mengapa tidak menuliskan Muktamar itu dan solusi mengatasi masalah bangsa.
Tiba-tiba sebuah SMS masuk ke handphone saya. Isinya, ”Kang Deffy, kalau kirim naskah ke media terbesar di Jawa Barat baiknya dikirim langsung ke redaksinya atau via email?” Saya membalasnya dengan singkat, ”Email saja melalui alamat…”. SMS baru masuk lagi. ”Syukron, Kang.”
Persahabatan saya dengannnya cukup akrab karena pernah sama-sama menyusun buku. Akan tetapi karena sakit, ia tak pernah menulis lagi. Dia pun saya kenal sebagai dosen di Sekolah Tinggi Islam Persatuan Islam (STAIPI) di Ciganitri, Kabupaten Bandung. Sehingga tentu saja daya analisanya masih kuat. Walaupun sudah lama tidak menulis,Yadin memberanikan diri mengirimkan tulisannya di rubrik opini agar dapat dibaca oleh khalayak.
Alhamdulillah, menjelang akhir Muktamar PERSIS di Tasikmalaya itu, tulisannya dimuat dan ia pun mengirim SMS. “Kang seratan Abdi dimuat. Nuhun bantosanana,” (Kang tulisan saya dimuat. Terima kasih atas bantuannya) Saya yang menerima kabar itu mengucap alhamdulillah sebab sejak lama saya selalu mendorongnya untuk menulis tetapi tak pernah dilakukannya karena sakit ginjal yang dideritanya itu.
Saat saya bersilaturahmi dengannya, Yadin mengatakan dua hal yang saya dapatkan dari peristiwa itu.
Pertama, kepada Allah kita tak boleh suudzon dengan apa yang diberikan oleh-Nya kepada kita dan kedua, hikmah dari motor yang mogok ternyata mampu mendorong dirinya untuk menulis dan ternyata tulisannya baik sehingga dimuat di sebuah media yang banyak dibaca oleh warga Jawa Barat.
Yadin sadar, masih banyak cita-cita yang harus dicapainya terlebih saat ni ia sudah dikarunai satu orang puteri yang duduk di kelas 1 SD. Walaupun dengan sakit seperti itu, tak menyurutkannya untuk terus berjuang. Kami berdua selalu menebar optimisme sebab perjuangan kami belum berhenti untuk menjemput rezeki Allah dan mendapatkan hikmah dari segala ketentuan-Nya.
TIDAK KUTEMUKAN TUHAN DIDALAM MUSIK
Ricky. Aku lahir di Jakarta tahun 1981 lalu. Sejak setelah di baptis namaku berubah menjadi Erick Median. Itulah nama baptisku. Ayah dan ibuku asli Batak. Ibu bermarga Sihombing dan ayahku Hutabarat. Keduanya adalah penganut Kristen yang taat.
Aku terlahir dari keluarga yang taat beragama. Walaupun ayahku kadang suka bergaya hidup bebas. Sedangkan keluarga dari ibu kebanyakan adalah aktivis gereja dan pendeta. Sejak kecil aku sudah dikenalkan dengan Tuhan Yesus. Ibukulah yang banyak memberikan pendidikan agama padaku.
Namun sejak kecil ibu sudah meninggalkanku. Ia wafat dalam keadaan masih memeluk agama Kristen. Sebelum meninggal, ibu sempat masuk ke rumah sakit jiwa beberapa hari. Ibu terserang penakit paru paru basah dan komplikasi. Ibu pun meninggal. Peristiwa menyedihkan itu terjadi di tahun 1985.
Sepeninggal ibu, ayahku menikah lagi. Sebetulnya, istri ayahku yang kedua ini adalah seorang muslimah. Tapi berkat bujuk rayu dan tekanan ayahku yang Kristen fanatik walaupun jarang ibadah, ibu tiriku yang muslimah itu pun masuk ke agama yang kami anut. Pernikahan mereka pun sebenarnya tidak direstui oleh orang tua sang mempelai wanita. Akhirnya mereka kawin lari.
Musibah kembali menimpa keluarga kami. Tak lama, ayahku menyusul meninggal karena sakit. Aku sempat kalut dan stress berkepanjangan. Aku tidak tahu harus bagaimana waktu itu. Akhirnya, oleh keluarga dari pihak ibu kandung, aku dibawa pulang ke Medan. Di sana aku dan saudara saudaraku tinggal di rumah nenek dan diasuh olehnya.
Tidak berapa lama di Medan, aku kembali lagi ke Jakarta. Aku ikut dengan ibu tiriku yang dinikahi ayahku itu. Di kota metropolitan inilah aku berada pada titik kehidupan yang menggila. Di sini pula aku mulai mengenal pacaran dan pergaulan bebas. Tapi saya tidak merokok dan juga minum-minum. Entah, aku sangat benci dengan asap.
Tapi satu hal yang tidak bisa aku tinggalkan adalah musik. Aliran muski rock adalah yang paling aku gandrungi. Aku kecanduan dengannya. Aku merasa, hidup tanpa musik serasa mati.
Syukurnya, di usia SMA itu, aku sudah bekerja di salah satu perusahaan Desain and Printing di Cikarang, Bekasi. Aku juga sudah punya kontrakan sendiri. Di kontrakan inilah aku saban hari bermusik. Tak pelak, setiap hari dentuman musik keras kerap mengantam-hantam ruangan kontrakanku yang tak terlalu besar itu.
Hampir segala jenis kaset musik aku koleksi seperti Rock and roll, Progressive rock dan Psychedelic rock yang meledak dan digandrungi anak anak muda ditahun 1960-an. Aku juga mengoleksi kaset aliran musik rock tahun 70-an seperti Psychedelic rock, Hard rock, Punk Rock, Heavy metal, Hardcore punk, dan Black Metal serta beberapa aliran musik cadas lainnya. Aku adalah pencinta musik sejati. Aku benar-benar dibuatnya tergila-gila.
Puncaknya, aku mendaftar menjadi peserta Indonesian Idol program RCTI tahun 2003 di Jakarta. Kata orang, sih, suaraku memang tidak jelek jelek amat. Tapi sayang, aku tidak beranjak untuk masuk proses audisi selanjutnya. Cita citaku untuk menjadi bintang yang akan dipuja-puja gagal.
Sejak itu, kehidupanku dan hari hariku hanya habis di ruang kehampaan. Aku semakin dalam terjerembab masuk ke dunia bebas nilai ini. Namun masih seperti biasa, aku tidak bisa merokok walaupun teman temanku mengajak dan selalu memancing. Aku sangat tidak suka asap. Padahal teman-temanku rata rata adalah perokok keras.
Aku juga sempat berpacaran dengan seorang Muslimah. Kami pun sangat saling mencintai. Tapi beberapa waktu kemudian, aku terpaksa memutuskannya. Entah, aku merasa telah banyak berbuat dosa kepada Tuhan.
Aku memutuskan cinta dengan Muslimah tersebut agar aku bisa lebih dekat kepada Tuhan Yesus dan meminta ampun atas segala dosaku. Aku ingin kembali padanya lebih dekat lagi. Aku ingin menghapus dosa-dosaku.
Tapi, rasa hampa dan berdosa itu terus mengusikku. Aku memang beribadah kepada Tuhan. Aku membaca Al Kitab. Tapi tidak ada kepuasan bathin yang kurasakan. Malah aku semakin gagap saja pada diriku sendiri. Aku tidak menemukan ketenangan itu.
Agar kehampaan itu tidak berlangsung lama, aku pun mulai giat mendalami dan membaca buku-buku rohani Kristen untuk menambah imanku yang pelan-pelan keropos ini. Aku sering ke toko buku dibilangan Cimone, Tangerang.
Dari Trinitas
Hingga pada kali waktu, aku menemukan buku yang berjudul Sejarah Injil dan Gereja karangan Ahmad Idrus di took buku itu. Anehnya, aku menemukan buku tersebut pada rak katalog buku buku rohani Kristen. Aku tertarik dan membelinya.Aku membaca buku itu hingga tuntas. Banyak jawaban yang kutemukan di sana dari sekian banyak lontaran tanya yang pernah hinggap di kepalaku. Kala itu aku mulai bertanya-tanya, kenapa Tuhan ada tiga? Apakah dengan adanya tiga tuhan, mereka tidak saling berebut pengaruh dan akhirnya berkelahi? Dan masih banyak lontaran tanya lain yang mengepala.
Dan sesungguhnya, konsep Trinitas inilah yang kemudian menghantarku mengenal Islam lebih jauh. Aku semakin menyeriusi membaca buku tentang konsep Trinitas dari banyak sumber dan kemudian membandingkannya. Dan, aku semakin simpatik saja dengan Islam.
Keyakinanku pada Islam tidak bisa lagi dibendung. Setelah banyak membaca literatur tentang konsep ajaran Islam dan Kristen serta membandingkannya, aku semakin yakin dengan kebenaran ajaran Islam. Jalan inilah yang membuatku tenang dan tidak ada lagi rasa bimbang.
Sebelumnya, entah ada maksud dan ada petunjuk apa, aku pernah bermimpi mengejar sosok berjubah putih bersih. Aku minta diislamkan oleh sosok tersebut. Mimpiku ini aku ceritakan pada salah seorang rekan kerjaku yang Muslim, kebetulan aku sangat akrab dengannya. Ia jauh lebih tua dariku. Ia juga sudah berkeluarga dan punya anak. Ia sudah kuanggap orang tua sendiri.
Rekan kerjaku tersebut sempat tidak percaya tentang ihwal mimpiku itu. Ia hanya berkata: “Jangan masuk Islam kalau hanya mencoba, karena wanita (pacar),atau karena paksaan. Pelajari dan yakinilah dulu.”
Aku terhenyak. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku memang sudah mantap memilih Islam sebagai jalan hidupku. Tidak ada paksaan. Tidak pula karena perempuan atau pacaran, apalagi hanya mencoba-coba. Aku sadar, pilihan ini pasti ada risikonya. Baik pertentangan dari keluarga ataupun kerabat yang lain.
Akhirnya, pada tanggal 27 Agustus 2004 lalu, aku mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Baitul Hasan Cikarang, Bekasi, sebelum sholat Jum’at. Disaksikan ratusan kaum Muslimin yang ada saat itu. Sejak hari itu, aku benar benar merasa terbebas dari penjara hidup yang hampa lagi sesak yang selama ini mengkungiku.
Kini, namaku berubah menjadi Muhamamd Rifqy Abdillah. Untuk memperdalam pemahaman tentang agama Islam, aku mengikuti program Kuliah Dai Mandiri selama tiga bulan lebih (sejak Februari s/d pertengahan Mei 2009) yang diselenggarakan oleh salah satu pesantren di Bogor. Di sana aku mendapatkan banyak ilmu agama dan bekal rohani yang semakin memantapkan jalanku ini.
Dari pihak keluarga, awalnya memang menentang keras keislamanku. Bahkan, aku sempat dituduh sebagai anak yang durhaka. Namun selanjutnya mereka bisa menerima meski kuakui itu berat bagi mereka.
Bahkan belakangan kuketahui, kakak keduaku yang menetap di daerah Bitung, Tangerang, ternyata lebih dulu masuk Islam setahun sebelum aku. Aku memang jarang melakukan komunikasi dengannya. Dari keluarga pihak ayah ataupun ibu, baru kami berdua yang memeluk Islam. Dan aku bahagia pada pilihanku ini.
Aku tetap berharap kepada Allah SWT agar keluargaku yang belum mendapatkan hidayah-Nya segera mendapatkan apa yang aku rasakan sekarang. Aku pasti masih dan akan tetap mencintai mereka serta berharap mereka semua mendapatkan petunjuk dari Allah SWT Amiiin. Mohon doanya.
KISAH PENDAKWAH SEJATI
BELUM dua minggu Siti Thoyyibah kehilangan putri sulungnya karena sakit. Tentu saja rasa duka masih menyelimutinya. Namun rupanya, ia tak mau hanyut lebih jauh. Ia memang kehilangan salah satu putrinya. Tapi ia masih punya ‘anak-anak’ yang lain. Dan mereka saat itu sedang menunggu kehadiran Thoyyibah, begitu perempuan berusia 65 tahun ini akrab dipanggil.
Thoyyibah tak mau ‘anak-anaknya’ itu menunggu sia-sia. Sore itu, walau awan hitam bergelayut di atas bumi Keputih Surabaya, perempuan yang senantiasa berjilbab rapi ini melangkahkan kaki menuju Lingkungan Pondok Sosial (Linponsos), Surabaya, sekitar satu kilometer dari rumahnya. Di sanalah ‘anak-anak’ Thoyyibah menunggu.
Begitu tiba, setelah istirahat sebentar di ruang tamu, Thoyyibah terus menuju mushalla. “Assalamu’alikum,” Thoyyibah menyapa yang langsung dibalas salam oleh ‘anak-anaknya.’ Sesaat kemudian muluncurlah nasihat-nasihat dari perempuan kelahiran Lamongan Jawa Timur ini. “Kita semua bersaudara, karena itu harus rukun. Tidak boleh tukaran (berantam),” katanya.
Nasihat itu kelihatan sederhana, tapi tidak bagi mereka. “Pernah ada yang cakar-cakaran saat saya lagi memberi pengajian,” kata Thoyyibah.
Maklum, mereka adalah orang-orang jalanan dalam arti sebenarnya. Mereka terbiasa hidup tanpa aturan. Yang berlaku adalah hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Karena lagi ‘sial’ saja, mereka terciduk Satpol PP. Selanjutnya, mereka dikirim ke Linponsos untuk mendapatkan pembinaan. Nah, Thoyyibah adalah salah pembina itu.
Tentu saja tidak mudah membina orang-orang liar seperti itu. Butuh kesabaran dan ketabahan. “Pertama mengajar mereka saya hampir muntah, karena bau mereka tak sedap,” kata Thoyyibah. Maklum, mereka jarang mandi. Ibu enam anak ini mengaku nyaris mundur, “Tapi saya kuat-kuatkan, sebab kalau kita tinggal takut dimasuki agama lain,” katanya.
Persis di depan Liponsos memang ada Pondok Kasih, semacam pusat pembinaan ana-anak telantar milik kaum Nasrani.
Thoyyibah membina di Linponsos sejak 5 tahun lalu. Bermula dari pertemuannya dengan Suci, Kepala Kerumahtanggaan Linponsos dalam sebuah majelis pengajian di Surabaya. Suci lalu menawari Thoyyibah mengisi pengajian di lembaga di mana wanita berjilbab itu bekerja. Nenek yang kini sudah dikarunia 11 cucu itu pun menyanggupi.
Pertama mengaji, kata Thoyyibab, yang datang hanya beberapa gelintir. Mereka juga belum tertib “Kita bicara mereka ngomong sendiri,” katanya. Tidak itu saja, cara berpakaian pun seenaknya. Dan yang paling jorok, ya itu tadi, baunya. “Biasanya, setelah mengaji, sampai di rumah seluruh pakaian saya copot, lalu saya mandi,” kata Thoyyibah yang juga membina beberapa majelis taklim dan keluarga di Surabaya ini.
Thoyyibah yang sudah berdakwah sejak 40 tahun lalu ini tak kurang akal. Untuk memancing minat, ia kerap memberi hadiah. Kadang berupa uang, kadang berupa makanan. Cuma, hadiah itu tak begitu saja diberikan. Ia membuat kuis, siapa bisa menjawab pertanyaannya berhak menikmati hadiah itu.
Seperti disaksikan majalah ini pada Rabo (19/1) lalu. Setelah memberikan materi, Thoyyibah melontarkan beberapa pertanyaan sederhana, misalnya “Puasa sunnah yang dilaksanakan 6 hari, puasa apa?”
Para “santrinya” pun berebut mengangkat jarinya. Siapa yang dapat menjawab dengan benar, mendapat hadiah uang yang dimasukkan dalam amplop. Dari mana uangnya? “Saya bawa sendiri,” ujar Thoyyibah.
Lain waktu, Thoyyibah membawa sekarung pakaian. Pakaian bekas yang dikumpulkan dari jamaah pengajiaan binaannya itu, dibagikan kepada seluruh peserta. Tak heran bila kini mereka berpakaian rapi lengkap dengan jilbab dan parfum, saat mengikuti pengajian.
Jurus lain, saat melihat mereka mulai jenuh atau bicara sendiri, Thoyyibah mengajak melantunkan shalawat atau syair pujian-pujian seperti banyak dilakukan di masjid atau mushalla itu. Misalnya lagu Tombo Ati.
TIDAK mudah membina orang-orang yang terbiasa liar. Maka agar mereka betah duduk mengikuti pengajian, butuh berbagai kiat. Misalnya dengan memberi kuis. Itulah yang dilakukan Thoyyibah.
Dengan jurus-jurus seperti itu, perlahan-lahan makin banyak yang datang ke pengajian. Tidak hanya para penghuni Linponsos, melainkan juga masyarakat sekitar. Seperti disaksikan Suara Hidayatullah, sore itu yang hadir tak kurang dari 40 orang.
“Biasanya lebih banyak lagi. Karena pas hujan, sehingga warga kampung sekitar sini tak datang,” kata Suci.
Dengan pendekatan seperti itu, hubungan Thoyyibah dengan mereka sudah seperti anak dengan ibunya. Mungkin, lantaran merasa dekat itu, mereka kadang ada yang berani meminta uang. “Kalau lagi pas membawa uang ya saya kasih,” kata Thoyyibah yang kata Suci selama membina di Liponsos tak pernah di bayar.
“Baru tahun ini kita usulkan ada transpot,” Suci menambahkan.
Walau begitu, itu tak mengurangi dedikasi istri dari Sudarman, pensiunan petugas pemadam kebakaran di Surabaya ini. Menurut Suci, sangat jarang ustadzah lulusan sebuah pesantren di Gresik ini mangkir dari jadwal yang telah ditentukan. Bahkan sekarang dia menambah jadwal pertemuan. Dari seminggu sekali menjadi dua kali.
“Khusus Sabtu untuk mengajar baca al-Qur`an,” kata Suci.
Ada yang membuat terharu Thoyyibah. Usai memberi pengajian, tiba-tiba ada salah seorang di antara mereka merajuk sambil tidur dipangkuannya. “Dia minta saya bilang ke pimpinan Liponsos agar dia dipulangkan kepada keluarganya,” kata Thoyyibah.
Dia, kata Thoyyibah, ternyata punya kelainan jiwa. Dia baru saja membunuh ibunya, sikalipun itu dia lakukan tanpa sadar. Setelah di masukkan ke rumah sakit, dan keluarganya tak mau mengambil, akhirnya dikirim ke Liponsos.
Di samping orang-orang sakit jiwa, pasien lain ( begitu Suci menyebut para penguhuni Linponsos) adalah gelandangan dan pengemis (gepeng), dan juga lansia (lanjut usia) yang tak punya keluarga atau keluarganya tak mau mengambil. Mereka berasal dari Surabaya dan wilayah sekitarnya. Menurut Suci, sekarang ada sekitar 700 orang yang ditampung lembaga milik Dinas Sosial Kodya Surabaya itu.
“Daya tampungnya sebenarnya cuma sekitar 300 orang."
Di Linponsos mereka dibina dengan diberi latihan berbagai ketrampilan, misalnya menjahit. Juga tak kalah penting adalah pemibinaan mental. Pembinaan yang dilakukan Thoyyibah adalah bagian dari pembinaan mental itu. Yang dibina Thoyyibah khusus pasien perempuan, sedangkan pasien laki-laki ada pembinanya sendiri.
Menurut Suci, ada perubahan antara sebelum dan sesudah mengikuti pengajian.
“Mereka menjadi lebih tertib dan tidak liar,” katanya.
Bila sudah baik, mereka dikembalikan kepada keluarga atau dikirim ke pelbagai yayasan sosial yang bersedia menampung. Anehnya, tak semua keluarga pedulu kepada mereka. Bahkan, kata Suci, ada juga keluarga tak bersedia menerima kembali. Yang repot itu kalau pasien sudah tak ingat lagi rumahnya dimana.
“Pernah kita mengantar pulang, tapi di tengah jalan balik lagi, karena pasien tak ingat lagi jalan ke rumahnya,” Suci menambahkan. Kalau sudah begitu, biasanya pasien itu bakal menjadi penghuni tetap Linponsos hingga ajal menjemput.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar