
MUHAMMAD SANG PENGUSAHA SUKSES
TRADISI ritual peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan Maulid Nabi sudah menjadi budaya keagamaan di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan Maulid Nabi sudah dijadikan sebagai hari besar di negeri ini, yang berarti adalah hari libur nasional.
Bulan ini, tepatnya 15 Februari 2011, adalah tepat 12 Rabiul Awwal 1432 H pada penanggalan Islam (Hijriah) adalah hari kelahiran seorang Manusia Agung bernama Muhammad pembawa agama perdamaian untuk seluruh umat manusia.
Kelahiran Nabi sebenarnya tidak termasuk hari besar jika dilihat dari pandangan al-Qur’an dan al-Hadist. Namun, biasanya, peringatan Maulid Nabi dimaksudkan sebagai momentum untuk mempelajari dan merenungi kembali perjalanan hidup beliau sebagai seorang Rasul sekaligus sebagai manusia biasa yang sukses dalam berbagai sisi kehidupan.
Rasulullah adalah potret pribadi sukses dalam menjalani kehidupan yang harus menjadi panutan bagi umat manusia.
Sirah Nabi adalah living model yang diinginkan Allah untuk diimplementasikan oleh tiap pribadi muslim sejati. Jadi perayaan Maulid Nabi bukan sekedar kegembiraan atas kehadiran beliau dalam sejarah tapi yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana memahami perjalanan hidup beliau secara utuh, sempurna dan menyeluruh sehingga menjadi panutan dalam membangun peradaban umat manusia.
Dengan momentum Maulid Nabi ini, penulis ingin menghadirkan satu dimensi kehidupan Rasulullah yang jarang dibahas oleh para da’i dan muballig yaitu kesuksesan Muhammad sebagai seorang pedagang. Muhammad bukan hanya sukses dalam berdakwah, memimpin negara dan rumah tangga tapi juga sukses dalam membangun usaha. Muhammad bukan hanya disegani sebagai pemuka agama dan pemimpin negara tapi juga disegani sebagai saorang saudagar yang memiliki jangkauan jaringan bisnis dan pangsa pasar yang luas serta pelanggang yang banyak.
Muhammad sebagai pemimpin bisnis dan entrepreunership dijelaskan secara gamblang di dalam buku Dr. Syafi’i Antonio dengan judul “Muhammad SAW Super Leader Super Manager”. Buku tersebut menguraikan bahwa masa berbisnis Muhammad yang mulai dengan intership (magang), business manager, investment manager, business owner dan berakhir sebagai investor relative lebih lama (25 tahun) dibandingkan dengan masa kenabiannya (23 tahun). Nabi Muhammad bukan hanya figur yang mendakwakan pentingnya etika dalam berbisnis tapi juga terjun langsung dalam aktifitas bisnis.
Sang manager
Sejak kecil tepatnya saat berumur 12 tahun, Muhammad sudah diperkenalkan tentang bisnis oleh pamannya, Abu Thalib, dengan cara diikutsertakan dalam perjalanan bisnis ke Suriah.
Pengalaman perdagangan (magang) yang diperoleh Muhammad dari pamannya selama beberapa tahun manjadi modal dasar baginya disaat memutuskan untuk menjadi pengusaha muda di Mekah. Beliau merintis usahanya dengan berdagang kecil-kecilan di sekitar Ka’bah.
Dengan modal pengalaman yang ada disertai kejujuran dalam menjalankan usaha bisnisnya, nama Muhammad mulai dikenal dikalangan pelaku bisnis (investor) di Mekah.
Dalam kurung waktu yang tidak cukup lama, Muhammad mulai menampakkan kelihaiannya dalam menjalankan usaha perdagangan bahkan beberapa investor Mekah tertarik untuk mempercayakan modalnya untuk dikelolah oleh Muhammad dengan prinsip bagi hasil (musyarakah-mudharabah) maupun penggajian. Pada tahapan ini Muhammad telah beralih dari business manager (mengelola usahanya sendiri) menjadi investment manager (mengelola modal investor).
Dengan modal yang sudah relatif besar, Muhammad memiliki kesempatan untuk ekspansi bisnis untuk menjangkau pusat perdagangan yang ada di Jazirah Arab. Kejujuran beliau dalam berbisnis sehingga dikenal olah para pelaku bisnis sebagai Al-Amin menjadi daya tarik bagi kalangan investor besar untuk menginvestasikan modalnya kepada Muhammad, salah satu di antaranya adalah Khadijah yang di kemudian hari menjadi Istri pertama beliau.
Di usia 25 tahun, usia yang masih rekatif mudah, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang pengusaha sukses Mekah. Secara otomatis Muhammad menjadi pemilik sekaligus pengelola dari kekayaan Khadijah. Penggabungan dua kekayaan melalui pernikahan tersebut tentunya semakin menambah usaha perdagangan mereka baik secara modal maupun penguasaan pangsa pasar. Pada tahapan ini Muhammad sudah menjadi business owner.
Setelah Muhammad menikah dengan Khadijah, beliau semakin gencar mengembangkan bisnisnya melalui dengan ekspedisi bisnis secara rutin di pusat-pusat perdagangan yang ada di jazirah Arab, beliau intens mengunjungi pasar-pasar regional maupun Internasional demi mempertahankan pelanggan dan mitra bisnisnya. Jaringan perdagangan beliau telah mencapai Yaman, Suriah, Busara, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Arab lainnya.
Saat menjelang masa kenabian (berumur 38 tahun) di mana waktunya banyak dihabiskan untuk merenung beliau telah sukses menjadi pedagang regional dimana wilayah perdagangannya meliputi Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya. Pada tahapan in beliau telah memasuki fase yang menurut Robert T Kiyosaki disebut financial freedom.
Kehebatan berbisnis Muhammad bisa dilihat dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa beliau pernah menerima utusan dari Bahrain, Muhammad menanyakan kepada Al-Ashajj berbagai hal dan orang-orang yang terkemuka serta kota-kota yang terkemuka di Bahrain. Pemimpin kabilah tersebut sangat terkejut atas luasnya pengetahuan geografis serta sentral-sentral komersial Muhammad. Kemudian al-Ashajj berkata “sungguh Anda lebih mengetahu tentang negeri saya daripada saya sendiri dan anda pula lebih banyak mengetahui pusat-pusat bisnis kota saya dibanding apa yang saya ketahu. Muhammad menjawab “saya telah diberi kesempatan untuk menjelajahi negeri anda dan saya telah melakukannya dengan baik.” (Syafi’i Antonio, 2007).
Demikianlah perjalanan sukses bisnis Muhammad sebelum resmi menjadi seorang Nabi yang jarang disampaikan kepada generasi-generasi muda di saat perayaan Maulid Nabi. Pemahaman yang utuh tentang biography kehidupan beliau akan menghindarkan terjadinya pemahaman yang sempit tentang diri Rasulullah. Banyak orang yang mengaggap Rasulullah sebagai orang yang miskin padahal justru sebaliknya beliau adalah sosok pebisnis yang sukses.
Melalui momentum Maulid Nabi ini kiranya perlu mengangkat tema kesuksesan Muhammad sebagai pelaku bisnis demi memacu munculnya pengusaha-pengusaha muda di kalangan Muslim. Sebenarnya negeri ini memiliki tokoh-tokoh agama sekaligus pengusaha sukses, sebut saja misalnya, tokoh nasional K.H. Ahmad Dahlan dengan usaha batiknya. Bahkan dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia kita mengenal tokoh-tokoh agama yang terhimpun dalam Syarikat Dagang Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui jumlah wirausahawan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Dari total penduduk Indonesia, 231, 83 juta jiwa hanya sekitar 2 persen saja yang berwirausaha atau sebesar 4, 6 juta. Tentunya jumlah ini sangat kecil sekali jika negeri ini menginginkan penduduknya untuk semakin kuat dan mandiri secara ekonomi.
Negara-negara maju relative memiliki persentasi wirausahawan yang relatif tinggi dari jumlah penduduknya. Persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7 persen, China dan Jepang 10 persen dari total jumlah penduduk mereka. Sedangkan yang tertinggi adalah Amerika Serikat sebesar 11, 5-12 persen.
Melalui perayaan Maulid Nabi ini, kita perlu mengkampanyeka pentingnya berwirausaha seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan umat yaitu kemiskinan dan pengangguran
KHALIFAH ISLAM(RUHUL ISLAM SULTAN ABDUL HAMID 2)
Nama lengkap beliau adalah Abdul Hamid Khan ke-2 bin Abdul Majid Khan. Ia adalah putera Sultan Abdul Majid (dari istri kedua). Ibunya meninggal ketika beliau berusia 7 tahun. Ia adalah Sultan (Khalifah) ke-27 yang memerintah Daulah Khilafah Islamiyah Turki Utsmani. Abdul-Hamid menggantikan saudaranya Sultan Murad V pada 31 Agustus 1876.
Pada 1909 Sultan Abdul-Hamid II dicopot kekuasaannya melalui kudeta militer, sekaligus memaksanya untuk mengumumkan sistem pemerintahan perwakilan dan membentuk parlemen untuk yang kedua kalinya. Ia diasingkan ke Tesalonika, Yunani. Selama Perang Dunia I, ia dipindahkan ke Istana Belarbe. Pada 10 Februari 1918, Sultan Abdul-Hamid II meninggal tanpa bisa menyaksikan runtuhnya institusi Negara Khilafah (1924), suatu peristiwa yang dihindari terjadi di masa pemerintahannya. Ia digantikan oleh saudaranya Sultan Muhammad Reshad (Mehmed V) .
***
Sultan Abdul Hamid sangat pandai berbicara bahasa Turki, Arab dan Farsi. Ia juga mempelajari beberapa buku tentang sastra dan puisi. Ketika ayahnya, Abdul Majid meninggal, pamannya, Abdul Aziz menggantikan menjadi Sultan (Khalifah). Namun Abdul Aziz tak lama sebagai Sultan. Ia dipaksa turun dari tahta dan kemudian dibunuh oleh musuh politik pemerintah Utsmaniyyah. Ia diganti oleh Sultan Murad, anak lelakinya, tetapi beliau juga diturunkan dari tahta dalam waktu yang singkat karena tidak mampu memerintah.
Pada 31 Agustus 1876 (1293H) Sultan Abdul Hamid dilantik menjadi Sultan dengan disertai bai'ah oleh umat Islam. Ia berusia 34 tahun ketika itu. Sultan Abdul Hamid menyadari, sebagaimana yang beliau nukilkan dalam catatan hariannya, bahwa ketika pembunuhan pamannya, dan juga perubahan kepemimpinan yang cepat adalah merupakan satu konspirasi untuk menjatuhkan pemerintahan Islam.
Pribadi Sultan Abdul Hamid telah dikaji hebat oleh Orietalis Barat. Ia pemimpin sebuah negara yang sangat besar yang ketika itu dalam kondisi sekarat dan tegang. Ia menghabiskan lebih 30 tahun dengan konspirasi internal dan eksternal, peperangan, revolusi dan perubahan yang tidak berhenti. Sultan Abdul Hamid sendiri mengungkapkan perasaannya pada hal ini di dalam tulisan dan puisinya. Satu contoh puisi beliau dalam buku, "Bapaku Abdul Hamid," ditulis oleh anak perempuannya bernama Aisya.
“Tuhanku,
Aku tahu Kaulah al-Aziz ...
dan tiada yang selainMu
yang Kaulah Satu-Satunya,
dan tiada yang lain Ya Allah,
pimpinlah tanganku dalam kesusahan ini,
Ya Allah, bantulah aku dalam saat-saat yang kritis ini.”
Masalah pertama yang dihadapi beliau adalah Midhat Pasha. Midhat Pasha terlibat secara rahasia Freemason dalam pakta menjatuhkan paman Sultan Abdul Hamid. Saat Sultan Abdul Hamid menjadi Khalifah beliau menunjuk Midhat Pasha sebagai Ketua Majelis Menteri-menteri karena Midhat sangat populer saat itu dan Sultan Abdul Hamid memerlukan untuk terus memegang kepemimpinan.
Midhat Pasha bijak menjalankan tugasnya tetapi ia terlalu mengikuti pandangannya sendiri saja. Midhat Pasha juga didukung oleh satu aliran yang kuat di Parlemen. Dengan bantuan dari golongan ini, Midhat Pasha berhasil meloloskan resolusi untuk berperang dengan Rusia.
Sultan Abdul Hamid tidak dapat berbuat apa-apa karena ia kemungkinan akan dijatuhkan jika mencoba bertindak. Kekalahan perang tersebut dicoba dipertanggung-jawabkan atas Sultan Abdul Hamid oleh pendukung Midhat itu. Namun, setelah sesuai waktunya,
SultanAbdul Hamid telah berhasil menggunakan perselisihan antara beliau dengan Midhat Pasha untuk membuang Midhat ke Eropa. Rakyat dan para pengamat politik mendukung penuh tindakan berani dan bijak Khalifah Islam ini.
Musuh di luar Islam
Sultan Abdul Hamid mengalihkan perhatian beliau kepada musuh-musuh luar Pemerintah Islam. Ia telah memperkirakan Revolusi Komunis di Rusia dan menyadari bahwa itu akan memperkuat Rusia dan menjadi lebih berbahaya.
Pada saat itu, Balkan masih merupakan bagian dari Pemerintah Islam dan sedang menghadapi tekanan dari Rusia dan Austria. Sultan Abdul Hamid hanya menyadarkan negara-negara Balkan ini akan bahaya yang akan mereka hadapi. Ia hampir berhasil mencapai persetujuan dengan negara-negara ini. Tetapi ketika saat-saat akhir ditandatanganinya perjanjian tersebut, 4 negara Balkan telah membelot dan membuat perjanjian lain menyingkirkan Pemerintah Islam Utsmaniyyah atas pengaruh Rusia dan Austria.
Sultan Abdul Hamid sadar bahwa konspirasi untuk menghancurkan Negara Islam adalah lebih hebat dari yang diketahui umum. Konspirasi ini tersedia dari internal dan eksternal.
Ketika beliau merasa lega karena berhasil membuang Midhat Pasha dan pengikut-pengikutnya, ia berhadapan pula dengan Awni Pasha, seorang yang berpengaruh dalam Majelsi Menteri dan juga seorang pemimpin pasukan. Kemudian, Sultan Abdul Hamid mengetahui bahwa Awni Pasha menerima uang dan hadiah dari pihak Eropa dan juga tentang perannya dalam menjatuhkan Abdul Aziz.
Awni Pasha membawa Pemerintah Utsmaniyyah ke dalam peperangan Bosnia meskipun tidak disetujui oleh Sultan Abdul Hamid. Abdul Hamid mengetahui jika peperangan terjadi, Rusia, Inggris, Austria-Hungaria, Serbia, Montenegro, Itali dan Prancis akan menyerang Pemerintahan Islam dan mengambil Bosnia.
Rupanya, Awni memberikan informasi palsu kepada Sultan Abdul Hamid tentang kekuatan tentara Islam di Bosnia. Dia mengatakan ada 200.000 tentara Islam di sana sedangkan saat Sultan Abdul Hamid mendapatnya informasi dari pemimpin-pemimpin militer lainnya, diperkriakan hanya terdapat 30.000 tentara, di mana harus menghadapi lebih 300.000 tentara kafir.
Publik menyukai Awni pada saat itu dan jika Sultan Abdul Hamid memecatnya, stabilitas negara akan terancam. Kekuatan kafir Barat, saat menyadari mereka berhadapan dengan lawan yang kecil jumlahnya telah menyerang Bosnia dengan bantuan empat negara Balkan (Rumania, Montenegro, Serbia dan Austria-Hungaria).
Akibat dari peperangan ini, Bosnia dan Yunani telah dirampas dari Pemerintah Islam. Setelah kekalahan tersebut, barulah Sultan Abdul Hamid bisa mendapatkan dukungan umum dalam memecat Awni. Pengadilan menemukan Awni bersalah karena berkonspirasi menjatuh pemerintah dan membantu kekuasaan asing seperti Inggris.
Kejatuhan ini membuat semua pihak bersekongkol menjatuhkan Sultan, termasuk pihak Yahudi. Pada tahun 1901, seorang pemilik Bank Yahudi, Mizray Qraow dan 2 lagi pemimpin Yahudi berpengaruh mengunjungi Sultan Abdul Hamid dengan membawa penawaran:
Pertama, membayar semua hutang Pemerintahan Islam Utsmaniyyah. Kedua, membangun Angkatan Laut Pemerintahan Islam Utsmaniyyah3) 35 Juta Lira Emas tanpa bunga untuk membantu perkembangan Negara Islam Utsmaniyyah. Tawaran ini sebagai ganti jika,
1) Menerima Yahudi mengunjungi Palestina pada setiap saat yang mereka suka dan untuk tinggal berapa lamapun yang mereka inginkan "mengunjungi tempa t-tempat suci".
2) Yahudi diperbolehkan membangun pemukiman di tempat mereka tinggal di Palestina dan mereka menginginkan tempat yang letaknya dengan Baitul-Maqdis (al Quds)
Namun nampaknya Sultan Abdul Hamid enggan bertemu mereka sekalipun, apalagi menerima penawaran merreka. Ia mengirim utusan dan menjawab:
"Beritahu Yahudi-yahudi yang tidak beradab itu bahwa hutang-hutang Pemerintah Utsmaniyyah bukanlah sesuatu yang ingin dipermalukan, Prancis juga memiliki hutang-hutangnya dan itu tidak memberikan efek apapun kepadanya. Baitul-Maqdis menjadi bagian dari Bumi Islam ketika Umar ibn Al- Khattab mengambil kota itu dan aku tidak akan sekali-kali menghina diriku dalam sejarah dengan menjual Bumi suci ini kepada Yahudi dan aku tidak akan menodai tanggung-jawab dan amanah yang diberikan oleh ummah ini kepadaku. Biarlah Yahudi-yahudi itu menyimpan uang mereka, umat Islam Utsmaniyyah tidak akan bersembunyi di dalam kota-kota yang dibangun dengan uang musuh-musuh Islam. "
Sungguh sikap seorang pemimpin Islam yang belum bisa ditemukan di dunia saat ini. Hatta, itu dari pemimpin negeri-negeri Muslim sekalipun.
Yahudi tidak berputus asa dengan kegagalan mempengaruhi Sultan Abdul Hamid. Pada akhir tahun yang sama, 1901, pendiri gerakan Zionis, Theodor Herzl, mengunjungi Istanbul dan mencoba bertemu dengan Sultan Abdul Hamid.
Namun Abdul Hamid enggan bertemu Hertzl dan mengirim stafnya dan menasehati Hertzl dengan mengatakan;
“Aku tidak dapat memberikan walau sejengkal dari tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku, ia adalah hak umat Islam. Umat Islam yang telah berjihad demi bumi ini dan mereka telah membasahinya dengan darah-darah mereka. Yahudi bisa menyimpan uang dan harta mereka. Jika Kekhalifahan Islam ini hancur pada suatu hari, mereka dapat mengambil Palestina tanpa biaya! Tetapi selagi aku masih hidup, aku lebih rela sebilah pedang merobek tubuhku daripada melihat bumi Palestina dikhianati dan dipisahkan dari kehikhilafahan Islam. Perpisahaan tanah Palestina adalah sesuatu yang tidak akan terjadi, Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”
Bayangkan, pendirian seorang pemimpin (Khalifah) ini disampaikan di saat-saat kekuasaannya sedang diambang kehancuran. Bagaimana jika tindakannya itu terjadi di masa-masa beliau masih kuat?
Kegagalan Yahudi merayu Sultan Hamid, membuat mereka berkolaborasi dengan Nagara-negara Eropa. Yahudi mendapatkan bantuan Inggris dan Prancis untuk mencapai impian mereka. Semenjak itu, Negara seperti Inggris dan Prancis bersiap menghancurkan pemerintah Islam Utsmaniyyah. Tetapi kata “jihad” masih tetap ditakuti dan membuat seluruh Eropa bergetar.
Maka Inggris kala itu memutuskan ide penggunakan kebijakan 'pecah belah’. Ini dilakukkan Inggris dengan mulai memberi dukungan kelompok-kelompok baru seperti “Turki Muda” yang dimotori oleh Mustafa Kemal Pasha. Kebodohan itu membuat umat tidak tahu lagi mana kawan dan mana lawan. Alih-alih membela Sultan, ia malah terkecoh dan bersekutu dengan penjajah, termasuk Zionis Yahudi yang telah ngebet ingin mencaplok Palestina.
Akhirnya, malam 27 April 1909 Sultan kedatangan tamu tak diundang. Kedatangan mereka di Istana Yildiz menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah terlupakan kaum Muslim seluruh dunia. Perwakilan 240 anggota Parlemen Utsmaniyyah, yang mengaku perwakilan kaum Muslim (di bawah tekanan Turki Muda) , ini sedang berusaha menggulingkan Sultan Abdul Hamid II dari kekuasaannya. Senator Syeikh Hamdi Afandi Mali bahkan mengeluarkan fatwa tentang penggulingan tersebut dan akhirnya disetujui oleh anggota senat yang lain.
Di antara bunyi fatwa Syeikh Hamdi adalah berikut;
"Jika pemimpin umat Islam mengambil kiat-kiat agama yang penting dari kitab-kitab hukum dan mengumpulkan kitab-kitab tersebut, memboroskan uang negara dan terlibat dengan perjanjian yang bertentangan dengan hukum Islam, membunuh, menangkap, membuang negeri dan rakyat tanpa alasan apapun, maka berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi dan jika masih kelakukannya untuk menyakitkan kondisi umat Islam di seluruh dunia Islam maka pemimpin ini harus disingkirkan dari jabatannya. Jika penyingkirannya akan membawa kondisi yang lebih baik dari beliau terus kekal, maka ia memiliki pilihan apakah mengundurkan diri atau disingkirkan dari jabatan."
Sebuah fatwa yang aneh ditujukan pada seorang Sultan yang memiliki reputasi dan akhlaq yang baik.
Menariknya, empat utusan parlemen; Emmanuel Carasso, seorang Yahudi warga Italia dan wakil rakyat Salonika (Thessaloniki) di Parlemen Utsmaniyyah, melangkah masuk ke istana Yildiz. Turut bersamanya adalah Aram Efendi, wakil rakyat Armenia, Laz Arif Hikmet Pasha, anggota Dewan Senat yang juga panglima militer Utsmaniyyah, serta Arnavut Esat Toptani, wakil rakyat daerah Daraj di Meclis-i Mebusan.
Mereka akhirnya mengkudeta Sultan. “Negara telah memecat Anda!”
“Negara telah memecatku, itu tidak masalah,… tapi kenapa kalian membawa serta Yahudi ini masuk ke tempatku?” Spontan Sultan marah besar sambil menudingkan jarinya kepada Emmanuel Carasso.
Sultan kenal betul siapa Emmanuel Carasso itu. Dialah yang bersekongkol bersama Herzl ketika ingin mendapatkan izin menempatkan Yahudi di Palestina.
Tempat Yahudi yang kumuh
Malam itu, Sultan bersama para anggota keluarganya yang hanya mengenakan pakaian yang menempel di badan diangkut di tengah gelap gulita menuju ke Stasiun kereta api Sirkeci. Mereka digusur pergi meninggalkan bumi Khilafah, ke istana kumuh milik Yahudi di Salonika, tempat pengasingan negara sebelum seluruh khalifah dimusnahkan di tangan musuh Allah.
Khalifah terakhir umat Islam dan keluarganya itu dibuang ke Salonika, Yunani. Angin lesu bertiup bersama gerimis salju di malam itu. Pohon-pohon yang tinggal rangka, seakan turut sedih mengiringi tragedi memilukan itu.
Atas peristiwa ini, Sultan Abdul Hamid II mengungkap kegundahan hatinya yang dituangkan dalam surat kepada salah seorang gurunya Syeikh Mahmud Abu Shamad;
“…Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu daya dengan berbagai tekanan dan ancaman dari para tokoh organisasi yang dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk), sehingga dengan berat hati dan terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelumnya, organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Saya tetap tidak menyetujui permohonan beruntun dan bertubi-tubi yang memalukan ini. Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta pounsterling emas.
Saya tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan mengatakan, “Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian.”
Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan kekuatan gerakan rahasianya memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka.
Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng Daulah Uthmaniah, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu.
Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah Anda dan segenap ikhwan menerima salam hormat saya. Guruku yang mulia. mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, semoga Anda beserta jama’ah yang anda bina bisa memaklumi semua itu.”
Dengan kerendahan hati, ia menyebut namanya dalam menutup surat yang dikirim pada 22 September 1909 itu dengan sebutan Abdul Hamid bin Abdul Majid, Pelayan Kaum Muslimin.
Setelah penyingkirannya, penulis-penulis Barat bersekongkol “menyerang” Sultan Abdul Hamid dan memberi legitimasi kudeta. Salah seorang dari mereka adalah John Haslib, dalam bukunya "The Red Sultan" (telah diterjemahkan ke beberapa bahasa termasuk bahasa Arab dan Turki), juga buku berbahasa Turki "iki mevrin perde arkasi - yazan: nafiz Tansu" oleh Ararat Yayinevi juga merupakan bagian dari propaganda seolah-olah 'Turki Muda' telah menyelamatkan Kekhalifahan Utsmaniyyah dari kehancuran. Ada juga penulis Arab-Kristen terkenal, Georgy Zaydan dalam bukunya, "Stories of the IslamicHistory- The Ottoman Revolution."
Semua buku-buku ini adalah penipuan dan kedok yang ditulis para musuh Islam. Buku-buku ini menggambarkan, seolah-olah Sultan Abdul Hamid sebagai seorang yang tenggelam dalam kemewahan dunia dan identik dengan wanita dan minuman kera. Sultan yang sangat tegas pada Yahudi ini digambarkan sebagai sosok pemimpin pemerintah yang dzalim atas musuh-musuh politik dan rakyatnya. Tentusaja, penipuan-penipuan ini tak mungkin tertegak karena sosok Sultan yang akan selalu terbukti sepanjang sejarah.
Setelah Sultan Abdul Hamid, muncullah beberapa pemimpin yang lemah. Mereka tidak mampu memerintah dan hilang daya mereka dengan mudah. Seperti yang diperkirakan oleh Sultan Abdul Hamid, Perang Dunia (PD) Pertama meletus dan bumi pemerintah Utsmaniyyah. Orang-orang Arab melawan Khalifah di Hijaz dengan bantuan Inggris dan Prancis untuk 'bebas' di bawah ini penjajahan 'penolong-penolong' mereka. Bumi Islam Palestina akhirnya “diserahkan” kepada Yahudi.
'Turki Muda’ mengambil-alih kekuasaan dan Mustafa Kamal Ataturk membubarkan resmi Khilafah Islam pada 1924. Pertama kalinya dalam sejarah umat Islam, kepemimpinan Islam yang bersatu sejak zaman Rasulullah SAW dan para Sahabat hilang. Perang Salib berakhir dengan kemenangan bagi Barat dan Yahudi.
Sultan Abdul Hami menghembuskan nafas terakhir dalam penjara Beylerbeyi pada 10 Februari1918. Kepergiannya diratapi seluruh penduduk Istanbul. Mereka baru sadar karena kebodohan mereka membiarkan Khilafah Utsmaniyyah dilumpuhkan setelah pencopotan jabatan khilafahnya.
Akibat kesalahan fatal itu runtuhlah institusi yang menaungi kaum Muslim dan pada 1948 berdirilah negara ilegal pembantai kaum Muslim Palestina, bernama Israel.
Mulai saat ini, janganlah umat lupa sejarah penting ini. Jangan pula lupa sejarah lainnya. Perang Bosnia, Perang Chechnya, Perang Kashmir, Perang Moro, Perang Iraq juga Perang Afganistan. Umat harus mulai sadar bahwa tanpa Islam yang miliki kekuatan, Islam bukan apa-apa. Tanpa kesatuan umat dan jihad, Islam hanya akan dipermainkan dan terus dalam kehinaan.
Marilah kita semua berdoa, agar di antara kita bisa dilahirkan anak-anak yang kelak menjadi pemimpin sekelas Sultan Abdul Hamid yang rela berdiri di tengah keagungan seluruh ummah. Seperti sunnah alam, mentari mungkin telah terbenam sementara, dan Insya-Allah akan segara terbit kembali. Seperti itulah sunnah kepemimpinan. Suatu saat, Allah akan menghadirkan kembali kedatangan “Abdul Hamid II muda” lain dari rahim kita.
UTAK ATIK GATHUK "SERAT DARMO GANDUL'
Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah, Serat Darmagandul (baca: Darmogandul) bukan lagi nama kitab yang asing di telinga mereka. Apalagi saat ini marak upaya untuk mempublikasikan kembali buku-buku semacam ini. Masyarakat sering menganggap karya sastra ini merupakan buku pegangan bagi kaum Kebatinan. Juga terdapat sejumlah akademisi yang memperbincangkan buku ini dalam wilayah diskursus kebatinan dan kajian sejarah.
Sayangnya, watak islamophobia dalam isi Darmagandul nampak begitu kuat. Sejumlah terminologi Islam ditampilkan dengan makna yang jauh dari arti sebenarnya. Dimaknai secara otak-atik sehingga menghasilkan istilah yang berbau “mesum”
Selain itu, Darmogandul juga berisi banyak kisah-kisah yang bersumber dari Bible. Lebih dari itu, banyak ungkapan di dalamnya berisi ajakan untuk meninggalkan ajaran Islam dengan memeluk ajaran Kristen.
Anehnya, ada pihak-pihak yang masih menjadikan Darmagandul sebagai sumber sejarah dan diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Lantas, apa missi Darmagandul sesungguhnya? Tulisan ini merupakan ringkasan thesis Susiyanto, mahasiswa pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Solo, yang dimuat di Majalah Suara Hidayatullah bulan Desember 2010.
Menghina Islam
Darmagandul menempati posisi penting dalam kajian sejarah. Padahal banyak terminologi Islam yang digunakan tidak semestinya, bahkan cenderung berbau mesum
Serat Darmagandul menempati posisi strategis dalam kancah referensi kajian sejarah. Di antara yang merujuk kepada serat ini adalah buku “Sejarah Nasional Indonesia II,” karya Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (mantan Menteri P & K), yang menjadi rujukan standar kajian sejarah Indonesia.
Penggunaan Darmagandul sebagai referensi sejarah juga dipraktikan oleh Hasan Djafar dalam buku “Masa Akhir Majapahit: Girindrawarddhana dan Masalahnya.”
Cerita semacam Darmagandul ini, dalam kajian sejarah, sering dianggap sebagai sumber tradisi. Sekalipun, secara umum sumber tradisi berupa babad jarang digunakan sebagai sumber sejarah yang terpercaya. Para perujuk, biasanya berpandangan bahwa sumber babad tidak menutup kemungkinan masih menyimpan kesan peristiwa sejarah dari masa lalu, meski bersifat kabur.
Munculnya stigma bahwa “Majapahit runtuh akibat serangan Demak” dalam buku pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, boleh jadi bersumber dari sifat kajian sejarah yang demikian.
Sejumlah karya sastra di Jawa juga terbukti memanfaatkan Darmagandul sebagai rujukan. Ini adalah bukti kesekian kalinya bahwa karya sastra anonim ini diperhitungkan keberadaannya. Sebut misalnya “Sunan Kalidjaga: Andaran Riwajat Gesange lan Donegengan Gegayutan lan Riwajate” karya Sunarno Sisworahardjo dan Wirorahardjo mengambil sebagian sumbernya dari Serat Darmagandul.
Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa sebagian orang nampaknya dalam posisi menyakini bahwa isi Darmagandul tersebut mengandung nilai kebenaran. Lebih lanjut, maraknya publikasi tentang Darmagandul belakangan ini, seolah hendak menguatkan kecenderungan ini.
Padahal, kebenaran yang ada di dalam Darmagandul sesungguhnya amat lemah.
Salah satu kelemahan Darmagandul adalah penggunaan terminologi Islam dengan makna yang jauh dari arti sebenarnya, bahkan berbau “mesum.” Istilah syariat yang dalam lidah Jawa dilafalkan sebagai sarengat, diplesetkan sebagai ekspresi seksual lelaki yang sedang ereksi.
Kutipan lengkapnya: “Punika sadat sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njengat, tarekat taren kang estri, hakekat nunggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngretos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben ala kaidenna yayah rina.”
Artinya, ”Lapal semacam itu adalah dinamakan syahadat Syari’at. Sarengat artinya, kalau sare (tidur) kemaluannya jengat (berdiri). Ada perkataan lain yang selalu dihubungkan dengan sarengat, yaitu tarekat, hakekat, dan ma’ripat. Tarekat artinya taren (bertanya, minta setubuh) kepada isteri, hakekat artinya: bersama selesai, lelaki dan wanita harus rukun (solider), ma’ripat artinya: mengerti, yakni mengetahui syarat pernikahan, dan dilakukan di waktu siang juga boleh.”
Contoh lain penggunaan al-Qur’an. Kitab Suci umat Islam ini ditafsirkan secara serampangan dengan kecenderungan yang sama, mesum. Misalnya, dalam penafsiran Surat al-Baqarah, penulis Darmagandul mengungkapkan sebagai berikut:
“Tetep ing alame lama, kasebut Dalil Kurani, alip lam mim, dallikale kitabul rahepa pami, lara hudan lilmuttakin, waladina tegesipun, alip punika sastra, urip boten kenging pati, lami-lami mung ngangge alame lama. Alame lam mim dallikal, yen turu nyengkal ing wadi, tegesipun kitabulla,natab mlebu ala wadi,tegese rahabapi, rahaba kang nganggo sampur, hudan lil muttakiina, yen wus wuda jalu estri, den mutena wadi ala jroning ala.”
Artinya, ”Tersebut dalam Al-Qur`an: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi, hudan lilmuttaqien, alladzina ...artinya: (menurut Damogandul) Dzalikal: jika tidur kemaluannya nyengkal (berdiri); kitabu la: kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa; raiba fihi: perempuan yang pakai kain; hudan: telanjang (bahasa Jawa: wuda); lil muttaqien: sesudah telanjang kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita ... “
Utak-atik kata dan istilah, yang bertujuan merendahkan Islam dan para utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa juga ditemui di bagian lain dari Darmagandul:
“Niku agami muchammad, saminipun agamine Nuh Nabi, nuh neh remeh kawruhipun, niku nabine bocah, remen rumat abang kuning nedi tuwuk, …”
Artinya, “Itu agama Muhammad, sama dengan agama Nabi Nuh, Nuh adalah remeh pengetahuannya, itu nabinya untuk anak-anak (kekanak-kanakan), suka menyimpan merah kuning (maksudnya: sifat tercela) dan makan kenyang …”
Masih ada contoh lain. Wali Songo yang diakui berjasa besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara, oleh penulis Darmagandul digambarkan sebagai tokoh tidak bermoral, serakah, dan haus kekuasaan.
Diceritakan bahwa Prabu Brawijaya telah berbaik hati memberi kebebasan untuk berdakwah di wilayah Majapahit kepada Wali Songo. Namun setelah dakwah berhasil memperoleh banyak pengikut, para Wali berbalik melawan Majapahit dan melupakan budi baik sang raja.
Pencitran yang dilakukan pengarang kitab ini terhadap reputasi para Wali, diekspresikan dengan mengartikan wali sebagai walikan (kebalikan). Artinya, para ulama Wali Songo yang diberi kebaikan kemudian membalas dengan keburukan.
Padahal pengislaman di Pulau Jawa merupakan hasil usaha tanpa henti dan berkelanjutan dari generasi ke generasi. Keberhasilannya pun ditopang oleh sebuah gerakan yang terencana. Pandangan bahwa keberhasilan Islam mengembangkan ajarannya adalah karena ’kebaikan’ hati Prabu Brawijaya V, harus dilihat sebagai bentuk upaya marjinalisasi belaka.
Walhasil, cara pembahasan yang digunakan dalam Darmagandul tidak memiliki patokan metodologi yang jelas dan hanya menyandarkan pada teknik otak-atik gathuk. Dari upaya-upaya yang didukung dengan teknis yang tidak elegan ini, secara jelas telah menunjukkan bahwa Darmagandul memang sekedar ditulis untuk sebuah “permainan,” yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, karya semacam ini seharusnya sulit menjadi referensi kepustakaan yang bersifat ilmiah, apalagi menjadi sebuah ajaran
PENGHANCURAN KELUARGA MUSLIM SEDANG MENGINTAI!!!
“Bunda…kaka ingin seperti Aisyah istri Baginda nabi..dia kan cerdas ya nda..?”, celetuk Farah di pagi buta saat bundanya membangunkan dia untuk shalat shubuh. Selidik punya selidik ternyata Farah masih sangat terpesona dengan cerita bundanya saat menjelang tidur tadi malam. Sang bunda tersenyum bahagia dan mulai bertanya
“Hmm…o iya dong, anak bunda juga bisa seperti Aisyah yang cerdas..?”.
”Ya bunda,kaka harus belajar jadi penghafal quran sama ribuan hadits seperti Imam syafii’ juga. Kan kata bunda Imam syafii’ itu keluarga miskin ya. Tapi dia gigih. Imam Syafii’ mengumpulkan tulang belulang, pelepah kurma dan benda-benda lain yang bisa dipake buat menulis ilmu-ilmu yang diperolehnya…hmm, hebat ya bun…”
Pengulangan cerita semalam sangat jelas diulang Farah tanpa terlewat. Di mata binarnya terpancar gelora semangat cita untuk meniru manusia-manusia keren itu. “Wah putri sulung bunda yang hebat…Nanti bunda cerita lebih banyak soal Muhammad alfatih yang mampu menaklukan konstantinopel dengan membuat pegunungan menjadi lautan selama semalam, tentang mush’ab bin umair yang mampu mengislamkan Madinah hanya dalam 1 tahun.”
Menyenangkan bagi siapapun yang menikmati segmen keluarga seperti ini. Apalagi para ibu, yang mengharapkan anak mereka seorang yang sholeh dan bercita-cita tinggi untuk kemuliaan Islam. Sayang, segmen itu menjadi kejadian yang sangat langka bahkan mungkin sulit untuk ditemukan di dunia nyata. Keluarga menjadi nama yang terlalu phobia untuk disebutkan oleh beberapa anak saat mereka harus menyebutkan kepada siapa saja mereka harus menceritakan masalahnya. Anak-anak dan remaja saat ini juga mengalami segmen hidup yang berbeda 180 derajat dari cerita di atas. Mereka lebih senang bermain dengan teman sebayanya. Internet adalah sahabat baiknya, pacar adalah tempat pelarian masalahnya. Mereka telah dipisahkan dari institusi rumah yang di dalamnya ada seorang ibu yang siap menjaganya setiap kali ada bahaya, membentuk karakternya, dan memberikan asupan gizi pemahaman Islam yang benar. Namun, sayangnya, banyak para ibu yang tidak pernah benar-benar mengetahui siapa anaknya dan seperti apa pergaulan anak-anaknya di luar sana. Remaja telah salah mengambil jalan dan terseret arus kesesatan yang sulit untuk diterka seberapa dalam jurang kesesatan itu.
Di Depan Mata
Masa depan generasi muda kita sedang benar-benar dirusak secara sistemik. Mereka diserang dari berbagai arah. Benteng terakhir bernama keluargapun tidak mampu melawan arus deras serangan ini. Kasus-kasus pornografi, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, aborsi, dan kenakalan remaja lainnya telah menjadi hal yang sangat membosankan sekaligus mengkhawatirkan para ibu akan keselamatan anak-anaknya.
Kasus video mesum yang perankan oleh orang yang mirip Ariel dan Luna Maya berdurasi 6,49 menit adalah video kesekian yang berhasil menghebohkan negeri ini. Banyak remaja bahkan siswa di bangku Sekolah Dasar justru berbondong-bondong membuka video ini setelah kasus ini digembor-gemborkan di media. Gaung kasus mesum ini dengan tersebarnya video porno mereka, ternyata menyamai gaung Piala Dunia.
Kita mungkin masih ingat, kita pernah dihebohkan oleh rekaman video porno sepasang mahasiswa Itenas berjudul “Bandung Lautan Asmara” tahun 2001.
Sejak saat itu, dalam setiap razia ponsel yang berfasilitas kamera dan pemutar video 3gp yang digelar sekolah, banyak pelajar yang menyimpan video porno dalam ponselnya. Dari pose bugil hingga adegan persetubuhan dua remaja berlainan jenis.
Lebih dari 500 video porno sudah diproduksi dan diedarkan di Indonesia. Mayoritas video amatir hasil rekaman kamera ponsel. Demikian hasil penelitian seorang Sony Set. Praktisi pertelevisian sekaligus penulis buku bertajuk, “500 plus, Gelombang Video Porno Indonesia”. Parahnya, Sebanyak 90 % pembuat video porno itu berasal dari kalangan anak muda, dari SMP sampai mahasiswa. Sisanya dari kalangan dewasa”, lanjut Sony.
Data mengejutkan terekam dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati. Sebanyak 67 persen dari 2.818 siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 4-6 mengaku pernah mengakses pornografi. Sebagian besar anak-anak itu melihat pornografi lewat komik. Hasil survei menunjukan, anak-anak belia tersebut selama ini mengakses pornografi melalui komik (24 persen), situs internet 22 persen, permainan 17 persen, film/TV 12 persen, telepon genggam 6 persen, majalah 6 persen, dan koran 5 persen.
Kasus ini tidak hanya berhenti pada kasus video mesum saja, namun menjadi rentetan mata rantai kejahatan seks lainnya. Kasus-kasus pornografi yang kemudian memunculkan UU Pornografi tidak pernah terselesaikan dengan tuntas di negeri ini. Para pelaku videopun ditempatkan dalam posisi yang aman yaitu sebagai “korban” orang yang tidak bertanggungjawab mengedarkan. Foto-foto tidak senonoh, situs-situs yang mengumbar seks, dan yang lainnya tak mampu lagi kita hitung dengan kalkulator. Rentetan kejahatan berikutnya adalah kehamilan di luar nikah yang menjadi hal yang lumrah dan dimaklumi di tengah-tengah masyarakat kita sekarang. Bahkan kehamilan di luar nikah ini telah memaksa para remaja untuk menjadi pembunuh berdarah dingin, melakukan aborsi. Sekitar 2 juta bayi tidak berdosa telah terbunuh setiap tahunnya di negeri yang “nyantri” ini. Kejahatan yang melebihi kejahatan perang dan kematian karena penyakit dan kecelakaan.
Akar Masalah
Serangkaian masalah di atas bukan tanpa diskenariokan. Pembunuhan karakter generasi muda terutama remaja telah dilakukan secara sistematis. Ideologi kapitalisme yang diemban oleh negeri ini telah memaksa para pengambil kebijakan untuk mengekor budaya apapun yang diemban oleh Negara bapaknya kapitalisme, Amerika Serikat. Ideologi kapitalisme ( baik diakui atau tidak oleh Negara ini sebagai ideologi negara ) memiliki karakter yang khas yaitu menjadikan Tuhan sebagai pencipta yang dikerdilkan. Tuhan disimpan di pojok-pojok mesjid dan pesantren, di mimbar gereja, dan di tempat peribadatan lain.
Kini orang lebih bangga bicara HAM, ide-ide kebebasan, termasuk kebebasan beragama. Kebebasan berekspresi telah melahirkan pemahaman permisifisme (serba boleh).
Kita lihat di beberapa negara Barat, perilaku seks bebas remaja memang sangat tinggi. Pitchkal (2002) melaporkan bahwa di AS, 25% anak perempuan berusia 15 tahun dan 30% anak laki-laki usia 15 tahun telah berhubungan intim. Di Inggris, lebih dari 20% anak perempuan berusia 14 tahun rata-rata telah berhubungan seks dengan tiga laki-laki. Di Spanyol, dalam survei yang dilakukan tahun 2003, 94,1% pria hilang keperjakaannya pada usia 18 tahun dan 93,4% wanita hilang keperawanannya pada usia 19 tahun. (Iwan Januar, “Sex Before Married”, 2007).
Sekarang mari lihatlah kondisi remaja kita, dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap para remaja menunjukkan kecenderungan revolusi perilaku remaja dalam urusan seks. Seperti hasil survei Synovate Research tentang perilaku seksual remaja (15 - 24 tahun) di kota Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, September 2004. Hasilnya, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16-18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13-15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%). (Penapendidikan.com, 02/04/08).
Artinya, perilaku di Barat itu akhirnya tak jauh dengan perilaku remaja dan anak-anak di sekitar kita.
Sikap permissif remaja dalam urusan seks tidak hanya dikampanyekan oleh film-film remaja, namun melalui komik, sinetron, video klip, majalah, situs porno di internet, game online, sampai novel-novel remaja.
Kontrol masyarakat (termasuk institusi pendidikan dan orangtua) yang rendah ikut menjadi penyebab tidak terkontrolnya pergaulan remaja saat ini. Masyarakat menganggap pacaran dan aktifitas lain yang mendekati zina adalah hal yang lumrah dilakukan anak muda sekarang, bahkan menegur mereka yang melakukan aktiftas pornografi dan pornoaksi adalah hal yang tabu untuk dilakukan.
Dari semua hal di atas, maka jelaslah sudah bahwa kehancuran generasi muda kita telah terjadi secara sistemik. Kehancuran generasi ini tidak akan menghadiahkan apa-apa kecuali kekacauan dan kebinasaan umat manusia. Peristiwa ini membuat umat Islam lenih mudah dilumpuhkan, yakni akan kehilangan generasi terbaiknya.
Satu-satunya Harapan
Islam adalah satu-satunya agama sekaligus sebuah pandangan hidup yang unik. Selain memiliki serangkaian tatanan ibadah, Islam juga memiliki solusi-solusi jitu dalam menyelesaikan segala permasalahannya. Perangkatnya begitu lengkap mulai dari mengurusi masalah akidah dan ibadah, kehidupan rumah tangga, bertetangga, berekonomi, berpolitik, penyelenggaraan negara, militer, pendidikan, politik luar negri termasuk pengaturan pergaulan laki-laki dan perempuan dalam sistem sosial.
Hanya Islam satu-satunya nilai di dunia yang memiliki landasan akidah Islam yang kuat. Yang dapat diimplementasikan di dalam kehidupan berumah tangga sampai di level pemerintahan. Inilah salah satu nilai yang paling menakutkan Barat saat ini. Keindahan hidup di bawah naungan Islam harusnya menjadi dambaan kita semua, kita akan menyelamatkan generasi kita dari kehancuran dan kepunahan. Sudah saatnya kita peduli dan menjadi bagian dari perubahan, memenuhi seruan Allah untuk kembali kepada Islam sebagai landasan hidup. Masalahnya, seberapa kuat kita “menjaga” anak-anak kita dari semua “serangan” yang kini mengintai kita? Di situlah jawaban sebagai dari kunci utama dalam “perang ideologi’ ini.
WAHAI SUAMI, DENGARLAH CERITA ISTRIMU!
Umumnya kita segera pulang ke rumah usai kesibukan kerja di kantor yang sangat menguras tenaga. Ada juga dikalangan kita yang pulang ke rumah hanya sekedar ganti baju, lalu kembali ke lapangan olah raga, berkumpul dengan teman geng, atau teman-teman perkumpulan.
Tak kurang sebagaian dari kita yang pulang dan menyegerakan mandi dan menuju halaman untuk mengurus tanaman atau hewan piaraan kesayangan.
Saat kita pulang, hanya anak-anak terlihat menyambut di pintu. Sementara isteri yang "full time house wife" itu masih melanjutkan kesibukannya yang sangat padat sejak pagi; melipat baju, menyetrika, membersihkan halaman atau mengepel lantai.
Tak nampak ada drama seperti layaknya di sinetron, bagaimana istri menyambut dan menyediakan minuman untuk suaminya, sambil suami merebahkan badan di sofa empuk "italian set" nya.
Bagi isteri yang juga wanita karir, berharap pulang secepatnya. Sepanjang perjalanan berharap agar badan segera berada di depan pintu. Namun ketika tiba di rumah, masing-masing ternyata masih juga dengan urusannya sendiri. Alangkah ruginya kita menpunyai pasangan yang halal tetapi hubungan kita seperti "bukan muhrim", seolah bukan suami-istri.
Sudah lebih delapan jam lamanya kita meninggalkan rumah dan sibuk berjibaku dengan urusan kantor, masih pula ditambah dengan hubungan yang hambar di rumah. Tentu tak ada yang kita nikmati keindahan berkeluarga. Sebagaimana kata-kata hikmah yang mengatakan, "Rumahku Syurgaku".
Mengapa bisa terjadi demikian? Mari kita lihat bersama. Saat masih baru menikah, istri kita selalu menyambut tepat di depan pintu dengan senyum manisnya dan memimpin kita ke kursi bahkan ke bilik tidur. Saat-saat itu, tak lupa ia bercerita banyak hal tentang peristiwa-peristiwa yang dialami sepanjang hari.
Macam-macam ceritanya. Kadang tak terlalu penting untuk kita dengar. Tetapi, saat itu kita dengan rela menyediakan waktu secara seksama mendengarkannya. Bahkan dengan penuh perasaan. Tetapi, kebiasaan seperti itu terjadi ketika masih menikmati awal keindahan pernikahan. Tetapi seiring waktu berlalu, semuanya itu hanya tinggal kenangan.
Wahai suami-suami yang dimuliakan,
Memang kita lebih sibuk dari dia. Boleh jadi kita lebih banyak memikirkan masalah. Bahkan mungkin jauh lebih berat dari dia. Entah urusan masyarakat, politik sampai negara. Memang rasanya malas mendengar ceritanya, apalagi jika itu hanya urusan-urusan kecil.Tetapi, pernahkah kita pikirkan hasilnya jika kita mendengar barang sekejab saja saat kita sampai di rumah?
Bahkan ketika di masa awal pernikahan dulu, di saat kita terbiasa menjadi pendengar yang baik, meluangkan waktu sekedar lima menit untuk mendengar ceritanya, rasanya ada energi yang ia peroleh. Bahkan mengangguk-angguk dan berpura-pura setuju atas semua ceritanya membuat suasana seperti lain. Dia seolah merasakan satu-satunya orang yang beruntung dan paling bergembira hari itu.
Suasana ini otomatis akan berbalas dengan perasaan nyaman baginya. Tentusaja berakibat pada pelayanan dan belaian kasih mesra. Kusut-masai selama separoh harinya yang ia gunakan untuk membersihkan lantai, merapikan rumah dan memasak menu kegemaran kita, akan terurai hanya sekejab atas kesanggupan kita mendengarnya senua cerita ‘tidak pentingnya’ itu.
Tak butuh waktu lama wahai para suami, hanya lima menit saja yang perlu kita luangkan untuknya, tetapi dampaknya 24 jam untuk hari berikutnya. Begitulah seharusnya kita jaga harmonisasi ini.
Niatkan di hati kita untuk mendengar ceritanya saat di rumah. Jika kurang begitu penting, hindarilah singgah untuk membuang waktu yang sesungguhnya milik keluarga. Apalagi nongrong di cafe, makan dan minum dengan rekan kantor atau teman yang hanya akan menyebabkan perasaan isteri kita terluka.
Ingatlah, ia telah berusaha semaksimal mungkin menarik hatimu, namun ketika engkau sampai di rumah semuanya seolah kita tak perlu pelayannya. Apalagi ketika pulang, dirimu sudah dalam keadaan kenyang dan dia hanya melewatkan masa-masa indah makan bersama itu sendirian.
Tak ada salahnya bertanya hal-hal remeh padanya, "Ada berita baik apakah hari ini?" dan dengarkan apa yang ingin ia keluhkan. Yakinlah, sebulan saja kita amalkan, istri mu akan kembali bangkit energinya.
Tak lama, istri dan anakmu telah siap menyambut di depan pintu dengan senyumannya yang menggoda. Tentu saja yang beruntung bukan orang lain, tapi dirimu juga.
BUKAN HANYA KEWAJIBAN IBU
Suatu ketika, pada jam istirahat di Saturday School, saya berbincang-bincang dengan teman-teman saya. Saat itu salah satu teman saya yang sedang hamil berkata bahwa dia merasa sangat letih. “Ngurus anak, rumah, suami, harus belanja, masak, bersih-bersih setiap hari membuat saya benar-benar letih dan jenuh.”
Mendengar ungkapan teman saya tersebut, salah seorang berkomentar bahwa apa yang dia rasakan sama seperti ibu-ibu yang lain. Menjadi ibu itu berarti mengorbankan diri sendiri.
Mendengar hal tersebut, membuat saya tak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.
“Menjadi ibu itu memang berat, tetapi bukan berarti kita sebagai ibu harus mengorbankan seluruh hidup, waktu kita untuk mengabdi pada keluarga. Sediakan waktu juga untuk diri sendiri.”
“Bagaimana mungkin Meidya, kamu bisa berdiam diri sendiri tanpa ada gangguan anak. Lha saya ke kamar mandi saja di gedor-gedor,” protes teman saya yang lainnya.
Saya pun, akhirnya mengerti dan menyadari apa sebenarnya yang terjadi pada teman-teman saya tersebut.
“Lho, minta tolong sama suami untuk menjaga anak-anak. Minta pada suami setiap hari-hari tertentu untuk tinggal di rumah dan kita sebagai ibu bisa bebas melakukan aktifitas sesukanya,” terang saya memberikan alasan.
“Meidya, kita itu ibu. Berbeda dengan Bapak. Mereka para laki-laki itu kalau sudah di depan komputer ataupun di telepon lupa dengan dunia di sekitarnya. Contohnya saja kemarin anak saya jatuh padahal Bapaknya di sampingnya. Lain dengan kita perempuan yang bisa mengerjakan bermacam pekerjaan dalam waktu bersamaan. Lagi pula kita diciptakan Allah sebagai ibu. Kita dikasih tanggungjawab untuk melahirkan anak, membesarkan dan mengurusnya,” protes teman saya yang lain.
Saat itu saya merasa diserang oleh teman sendiri. Rupanya pemikiran tentang kewajiban ibulah yang mengurus anak sudah tertanam di benak perempuan dari berbagai negara tersebut.
“Hmm…, lihatlah al-Quran, mengurus anak itu bukan hanya kewajiban ibu, tetapi juga Bapaknya. Lihat surat Luqman, dialog ayah dan anak, bukan ibu dan anak.” Mendengar saya mengutip salah satu surat Luqman dalam al-Quran, membuat teman-teman saya terdiam.
Kesempatan tersebut saya manfaatkan untuk membuka pemikiran teman-teman saya. “Ok, kalau begitu besok, hari Ahad, saya undang kalian untuk lunch bersama. Saya akan membuat reservasi di restoran dan saya yang bayar. Dengan syarat tidak membawa anak! Tinggalkan di rumah dengan bapaknya.”
“Wah kalau besok, itu hari libur, jatahnya berkumpul bersama keluarga,” tolak teman saya dari Maroko.
“Saya nggak bisa, suami saya pasti nggak kasih. Lagian dia juga kerja,” tolak teman saya warga Amerika.
“Hmm, saya mesti tanya suami saya dulu apakah boleh,” ungkap teman dari Mesir.
“Saya mau pergi tetapi saya takut muntah di restoran,” tolak teman saya yang hamil.
“Tuh khan kalian sendiri yang tidak mau bersenang-senang sesaat. Jadi jangan komplain tentang letih, bosan, jenuh dll kalau kalian tidak mau merubah diri,” tantang saya.
“Sejujurnya, saya sering memberikan waktu khusus bagi suami untuk bersenang-senang, jauh dari gangguan anak-anak. Saya pikir setiap hari dia bekerja cari uang, letih, stress kerjaan, sudah sepantasnya diberikan waktu istirahat di rumah. Saya ajak semua anak pergi keluar rumah, walaupun saya kerepotan bawa tiga balita dan satu bayi. Tetapi saya sendiri tidak pernah memiliki waktu untuk sendiri,” terang teman saya yang lulus dari fakultas kedokteran.
Ternyata sebagai ibu seringkali kita hanya memikirkan kebahagiaan anak dan suami serta melupakan kebahagiaan diri sendiri. Wajar jika tak sedikit ibu sering menderita stress berkepanjangan hingga akhirnya depresi.
Menjadi ibu adalah sebuah kemuliaan. Meski demikian, ingatlah bahwa Anda berhak bahagia pula. Kewajiban terhadap keluarga bukan hanya kewajiban ibu tetapi juga ayah. Para suami, seharusnya memberikan kesempatan para isteri untuk menikmati waktu-waktu tertentu, setidaknya bisa membuatnya sedikit senang dan bahagia.
Kembali lagi ke acara makan siang bareng yang kami rencanakan, ternyata sampai hari Ahad, tak ada satu pun teman saya yang bersedia hadir. Ini semua dikarenakan mereka tidak tega dan tidak percaya meninggalkan anak dengan suaminya. Itulah nurani seorang ibu. *
AYAH , PERANCANG WAKTU PAGI HARI
Ada sebuah peribahasa yang menggambarkan pentingnya suasana pagi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing). Pagi hari adalah saat-saat yang penting untuk memulai aktifitas. Pagi hari adalah mulainya orang meraih harapan dan optimis. Terkadang waktu pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan kesuksesan.
Banyak doa-doa dari Rasulullah SAW yang mengajarkan kepada kita agar kita memperhatikan sekali waktu pagi.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
“Ya Allah, (sampaikanlah) shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad". (Dibaca sepuluh kali)
“Siapa yang bershalawat kepadaku saat pagi sepuluh kali, dan sore sepuluh kali, maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Thabrani)
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ
“Ya Allah, nikmat yang kuterima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu)”.
Allah SWT memerintahkan manusia agar memperhatikan waktu pagi sebaik-baiknya. Waktu pagi adalah waktu agar kita dapat melingkupinya dengan dzikir kepada Allah SWT.
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf[7]:205)
Dalam penjelasan tafsir Ibnu Katsir berkenaan ayat ini, beliau mengatakan bahwa ayat ini adalah termasuk ayat Makkiyyah. Dan ayat ini diperintahkan oleh Allah SWT sebelum diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’ Mi’raj.
Ini menunjukkan bahwa waktu pagi adalah waktu yang sangat penting dalam hidup manusia, sehingga Allah SWT pun menyuruh manusia untuk dekat dengan-Nya pada pagi hari.
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW mengabarkan akan begitu besarnya perhatian para malaikat kepada hamba-Nya di waktu pagi. Pagi hari menjadi awal mula diukurnya sebuah kwalitas hari itu. Ketika kita meniatkan untuk melakukan kebaikan di pagi hari, malaikat pun ikut membelanya. Dan bahkan ikut serta mendoakan akan semua harta yang dimilikinya.
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي أَخِي عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي مُزَرِّدٍ عَنْ أَبِي الْحُبَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya saudaraku dari Sulaiman dari Mu'awiyah bin Abu Muzarrid dari Abu Al Hubab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya, sedangkan yang satunya lagi berkata; Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil).” (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW pun telah berdoa kepada Allah SWT untuk memberikan keberkahan kepada ummatnya yang beraktifitas di waktu pagi hari. Tentunya doa Rasulullah SAW adalah doa mustajab, yang sangat didengar oleh Allah SWT.
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.” (HR Abu Dawud 2239)
“Barang siapa yang membacanya di pagi hari, maka sungguh ia telah bersyukur pada hari itu. Barang siapa yang membacanya di sore hari, maka ia sungguh telah bersyukur pada malam itu”.(HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
Pagi hari dan amarah
Pagi hari ada awal kesibukan di mulat. Biasanya, waktu inilah tempat-tempat emosi mudah meledak. Tak hanya kesibukan diri senidiri. Pagi hari tempat banyak orang dari bagian keluarga kita yang memerlukan dukunan. Setiap pagi, anak harus pergi sekolah. Mereka memerlukan dukungan psikologi yang besar. Dorongan mental yang kuat dari orangtuanya. Terutama adalah dari ayahnya.
Selain momen anak, yang harus diperhatikan oleh seorang ayah adalah momen ibu, yaitu istrinya. Pagi hari adalah pagi yang sibuk bagi seorang ibu. Ia harus bangun lebih pagi dibandingkan yang lain. Ia menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga, menyiapkan bekal makan siang untuk anak-anak mereka, dan membuat hal-hal yang memastikan semua terorganisir dengan baik sebelum seluruh anggota keluarga beranjak dari ranjang.
Kerja ibu akan selalu menjadi yang pertama untuk bangun terutama pada hari-hari sekolah. Sangat awal subuh, kita bisa mendengar suara-suara terang menutup pintu, gelas dicuci dll Ini adalah suara seorang ibu yang bekerja melakukan pekerjaan sehari-hari pagi.
Sedangkan seorang ayah lebih cenderung untuk memikirkan bagaimana dengan pekerjaan kantor yang akan dilakukannya. Tidak jarang rusaknya suasana pagi disebabkan oleh “Morning Stress Syndrome” yang menimpa seorang ibu.
Kurangnya perhatian suami kepada istrinya, menyebabkan beban pekerjaan harian yang dirasakan oleh istrinya menjadi semakin berat. Karena itu, seorang ayah perlu memperhatikan dua sisi ini, yaitu sisi ibu dan sisi anak. Melakukan awal komunikasi yang baik adalah salah satu cara mengurangi beban istrinya.
Di sinilah perlunya sukungan ayah yang baik. Ayah perlu mengendalikan suasana dan mengelolanya di pagi hari. Karena itu hindari hal-hal yang akan membuat anak kurang semangat di suasana pagi untuk memulai aktifitas sekolah mereka atau hal-hal yang hanya akan menambah beban perasaan istri.
Ayah yang bijak adalah sosok yang mampu mengendalikan amarahnya, terutama pada saat pagi hari. Kondisikan semangat pagi hari adalah semangat untuk memulai merubah kesalahan, memperbaiki kekurangan, mencoba sekali lagi dari ketidak berhasilan, dan menguatkan tekad bagi si anak atau sedikit meringankan beban istri. Sekedar sebuah teguran kecil agar anak lebih bersemangat, atau pujian untuk istri.
Kekurangan ayah memahami situasi pagi seperti ini tak jarang hanya membuahkan konflik. Karenanya hindari hal-hal yang hanya akan membuahkan konflik atau pertengkaran di pagi hari. Jagalah suasana pagi dengan seindah mungkin. Fikirkan masak-masak sekali lagi apabila akan membuat konflik atau marah walaupun itu adalah sesuatu yang harus diungkapkan secepatnya. Sebisa mungkin tunda keinginan kita untuk membuat konflik atau ketidak tenangan di pagi hari. Dan pilih waktu yang tepat untuk menyelesaikan konflik itu.
Waktu sore dan malam hari adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah di pagi dan siang hari. Karena waktu sore dan malam akan ditutup dengan tidur dan shalat malam. Tidur dan shalat malam ini akan lebih mengendurkan perasaan tegang yang terjadi pada sore atau malam hari. Dengan adanya tidur di malam harinya, ketika bangun di pagi hari, hal-hal yang mengganggu fikiranya dapat lebih ringan dihadapinya. Dipandang dari sisi kedokteran pun setelah tidur, biasanya badan dan fikiran akan lebih segar. Syukur ditambah dengan shalat sunnah sebelum shalat fajar dan dzikir yang kita panjatkan, maka suasana pagi akan kita dapatkan dengan sangat nyaman dan tenang sekali.
Dalam al-Quran Allah SWT memberikan pelajaran kepada para suami tentang keberadaan istrinya sebagai pendamping yang akan membuatnya merasa lebih tentram dan timbul rasa kasih sayang.
Rasulullah mengatakan, sebaik-baik akhlak seorang suami adalah bagaimana ia memperlakukan secara baik istrinya.
“Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang paling baik terhadap isterinya. Sedang aku adalah orang yang paling baik terhadap isteri.” (HR. Tabrani dan Tirmidzi).
Banyak kasus, akibat kurangnya perhatian suami kepada istrinya, menyebabkan beban pekerjaan harian yang dirasakan sang istri menjadi semakin berat. Marilah kita semua berusaha menjadi ayah, sekaligus suami yang baik. Menjadi manager keluarga, pengelola, pengendali sekaligus pelindung anak dan istri kita.
BILA ADA EGO DIHATI , CINTA AKAN MENJAUH PERGI
Jika dua bilah kayu disatukan dengan paku. Dua batu bata disatukan dengan semen. Lalu dua hati di satukan dengan apa? Jawabnya, tak lain dengan iman.
Dua hati yang beriman akan mudah disatukan. Jika dua hati mengingat yang SATU (Allah SWT), pasti mudah keduanya bersatu. Begitulah dua hati suami dan isteri, akan mudah bersatu bila iman di dalam diri masing-masing senantiasa disuburkan.
Bukan tidak pernah terguris. Bukan tidak pernah bertelagah. Tetapi jika di hati sama-sama masih ada Allah Azza wa jalla, perdamaian akan mudah menjelma semula. Yang bersalah mudah meminta maaf dan yang benar mudah memberi maaf. Tidak ada dendam berkepanjangan. Sebab masam cuma sebentar dan pahit hanya sedikit. Itulah yang ditunjuk oleh teladan rumah tangga Rasulullah s.a.w.
Rasulullah juga pernah ribut… tetapi sekadarnya saja. Ibarat ada gelombang, tetapi cepat-cepat kembali menjadi tenang.
Jika ditanyakan kepada dua hati yang bercinta, siapakah yang lebih cinta pasangannya? Maka jawabnya, siapa yang lebih cintakan Allah, dialah yang lebih mencintai pasangannya. Sebelum berfikir bagaimana mengekalkan cinta berdua, berusahalah terlebih dahulu agar mencintai kepadaNya. Jika kita bersama mencintai yang Maha Kekal, pasti cinta kita akan berkekalan juga.
Jika paku boleh berkarat, semen boleh retak, maka begitulah iman, ia juga akan naik dan menurun. Iman itu ada “virusnya”. Virus iman ialah ego (takabur). Jangan ada takabur, karena cinta pasti hancur. Orang takabur merasa dirinya lebih mulia dan pasangannya lebih hina. Jika demikian, manakah ada cinta? Cinta itu ibarat dua tangan yang saling bersentuhan. Tidak ada tangan yang lebih bersih. Dengan bersentuhan, keduanya saling membersihkan.
“Kau isteri, aku suami”, “Aku ketua, kau pengikutnya”, “Aku putuskan, kau hanya ikut saja”, “Jangan coba-coba menentang!”, begitulah ego dan rasa takabur itu. Akibat takabur, istri tak berkutik tanpa boleh bersuara. Sedikit bicara saja ia sudah dibentak. Senyap-senyap, isteri menyimpan rasa dendam. Suami ‘disabotase’ dalam diam. Tegur suami, dijawabnya acuh tak acuh. Senyum yang semula bak mawar akhirnya menjadi tawar dan hambar. Perlahan-lahan, jarak hati semakin jauh dan cinta semakin rapuh.
Ada pula isteri yang tak kalah ego. Tidak jarang meninggikan suara. Kesalahan suami yang sedikit saja bisa menjadi urusan panjang. Anak-anak ditelantarkan dan dapur dibiarkan berserakan. “Rasakan akibatnya jika berani menentang aku,” bagitu dalam hatinya.
“Mengaku salah tidak sekali. Minta maaf, pantang sekali,” begitu istilah Malaysia bagi orang yang enggan mengaku salah dan tidak mahu meminta maaf.
Karena ego, pasangan suami-istri sering silap di luar batas. Suara yang meninggi, pintu yang di dihempaskan dengan kuat,atau hardikan pada sang isteri di hadapan anak-anak. Ada juga suami yang menghardik isteri di hadapan saudara bahkan tamunya yang datang.
Para istri juga punya ego. Mungkin karena merasa tidak sekuasa suami, atau tak memiliki keberanian, si isteri menunjukkan egonya dengan bermacam-macam-macam ragam. Mungkin karena tak ada kebaranian berkacak pinggang di depan suami, ia akan memalingkan badan dan mukanya ketika di tempat tidur.
Alhasil, cuaca rumah tangga menjadi muram. Rumah hanya jadi house tidak jadi home lagi. Tidak ada keceriaan, kehidupan dan manis dan kelembutan lagi. Semuanya bungkam. Ya, rumah (house) hanya sebuah bangungan yang didirikan dari bahan batu, kayu dan semen. Sementara rumah tangga (home) dibina dengan kasih sayang, cinta dan sikap saling menghormati.
Tidak ada rindu yang menanti suami ketika pulang dari bekerja. Tidak ada kasih yang hendak dicurahkan oleh suami kepada isteri yang menanti di rumah. Anak-anak tak lagi memiki kegairahan hidup.
Ingat ego, ingat Allah
Bila ada ego di hati, cinta akan menjauh pergi. Retak akan menjadi belah. Kekadang hati keduanya merintih, mengapa jadi begini? Bukankah antara aku dan dia ada cinta? Mengapa terasa semakin jarak?
Apakah yang perlu aku dan dia lakukan untuk menyemarakkan semula rasa cinta ini. Lalu akal berfikir, berputar-putar mencari ide. “Oh, mari ulangi musim bulan madu yang lalu. Kita susuri pulau, tasik, laut atau lokasi pertemuan kita nan dulu.”
Ah, tapi malang, cuma sebentar. Gurau, senda cuma seketika. Tidak mampu lagi memutar jarum kenangan lama dengan hati yang telah berbeda. Tidak ada lagi tarikan fisikyang ketara. Cumbu berbaur gairah seakan telah terlupa. Bulan madu yang akan diperbaharui tidak menjadi… sebab kedua hati ini telah bercakar lagi. Mereka mencoba memperbaharui lokasi, tanpa memperbaharui hati.
Selagi ada ego, ke mana pun tidak akan menjadi. Jika masih ada ego, yang wangi jadi busuk, yang manis jadi tawar, yang indah jadi hambar.
Ada juga pasangan yang hendak ‘membeli’ cinta. Ingin dibangkitkan kembali rasa cinta dengan mata benda. “Nah, ini kalung emas dan jutaan rupiah sebagai tanda cinta ku masih pada mu,” kata suami. “Dan ini pula cincin berlian untuk memperbaharui kemesraan kita,” balas si isteri. Masing-masing bertukar hadiah. Semoga dengan barang-barang berharga itu akan mengembalikan cinta.
Namun sayang sekali, sinar emas, cahaya berlian, tidak juga menggamit datangnya cinta. Cinta diundang oleh nur yang ada di hati. Nur itu tidak akan ada selagi ego masih ada di jiwa.
Susurilah cinta yang hilang di jalan iman. Buanglah kerikil ego yang menghalangi. Sebab ego hanya membina tembok pemisah di antara dua hati walaupun fisik masih hidup sebumbung. Mungkin di khalayak ramai, masih tersenyum dan mampu ‘menyamar’ sebagai pasangan yang ideal tetapi hati masing-masing TST (tahu sama tahu), di mana kemesraan sudah tiada lagi.
Pasangan yang begitu, boleh menipu orang lain. Namun, mampukah mereka menipu diri sendiri? Yang retak akhirnya terbelah. Penceraian berlaku. Mereka berpisah. Masyarakat yang melihat dari jauh pelik, mengapa begitu mesra tiba-tiba berpisah? Tidak ada kilat, tidak ada guntur, tiba-tiba ribut melanda. Oh, mereka tertipu. Perpaduan yang mereka lihat selama ini hanyalah sinetron.
Allah membongkar rahasia ini dalam firman-Nya:
“Kamu lihat saja mereka bersatu tetapi hati mereka berpecah.”
Carilah di mana Allah di dalam rumah tangga mu. Apakah Allah masih dibesarkan dalam solat yang kau dirikan bersama ahli keluarga mu? Apakah sudah lama rumah mu telah menjadi pusara akibat kegersangan dzikir dan suara bacaan al-Quran? Apakah sudah luput majelis ilmu yang menjadi tonggak dalam rumah tanggamu? Di mana pesan-pesan iman dan wasiat taqwa yang menjadi penawar ujian kebosanan, kejemuan dan keletihan ini?
Penyakit ego akan senantiasa menimpa jika hati sudah tidak terasa lagi kebesaran Allah. Orang yang ego hanya melihat kebesaran dirinya lalu memandang hina pasangannya. Hati yang ego itu haruslah segera dibasuh kembali dengan rasa bertauhid menelusuri ibadah-ibadah --khususnya melalui shalat, membaca al-Quran, berzikir, bersedekah– dan yang paling penting adalah majelis ilmu.
Allah berfirman:
“Dan berilah peringatan. Sesungguhnya peringatan itu memberi manfaat kepada orang mukmin.” (Adz-Dzariyat ayat 55)
Sedangkan orang mukmin saja perlu diperingatkan, apatah lagi kita yang belum mukmin? Iman itu, seperti yang dimaksudkan hadits, boleh bertmbah dan berkurang. Untuk memastikan ia sentiasa bertahan atau bertambah, hati perlu bermujahadah. Lawan hawa nafsu yang mengajak kepada ketakaburan dengan mengingat bahwa Allah sangat membenci kepada orang yang takabur, walaupun sasaran takabur itu adalah suami atau isteri sendiri.
Bila terasa bersalah, jangan malu mengaku salah. Segeranya mengakuinya dan hulurkan kata meminta maaf. Ular yang menyusur akar tidak akan hilang bisanya. Begitulah suami yang meminta maaf kepada isterinya. Dia tidak akan hilang kewibawaannya bahkan akan bertambah tinggi. Bukankah orang yang merendahkan diri akan ditinggikan Allah derajat dan martabatnya? Lunturkan ego diri dengan membiasakan diri meminta maaf.
Tidak masalah ketika kita rasa kita adalah yang benar, lebih-lebih lagi apabila jika kita yang bersalah.
Ini juga berlaku pada para lelaki. Lelaki yang “tewas” ialah lelaki yang sukar mengaku salah dan senantiasa tidak ingin mengalah. Saat itulah dia telah memiliki salah satu dari tiga ciri takabur, yakni menolak adanya kebenaran.
Akuilah kebenaran walaupun kebenaran itu berada di pihak isteri. Tunduk kepada kebenaran artinya tunduk kepada Allah. Jangan bimbang hanya karena takut dikatakan “laki-laki takut isteri”. Kita hanya takut pada Allah. Sebab Allah sangat membenci orang yang takabur.
Begitu juga isteri. Jika sudah terbukti bersalah, akui sajalah. Dalam pertelagaan antara suami dan isteri, apakah penting siapa yang menang, atau siapa yang kalah?
Kita berada di dalam gelanggang rumah tangga bukan berada di ruang mahkamah. Kesalahan suami adalah kesalahan kita juga dan begitulah sebaliknya. Rumah tangga wadah segalanya. Perkawinan adalah suatu hubungan, bukan satu persaingan. Andai kita “menang” pun, lantas apa gunanya? Padahal, kita akan terus hidup bersama, tidur sebantal dan berteduh di bawah naungan yang sama.
Mujahadahlah sekuat-kuatnya menentang ego ini. Bisikan selalu di hati, bahwa Allah selalu mencintai orang yang merendah diri dan Allah sangat membenci orang yang tinggi diri. Pandanglah pasangan kita sebagai sahabat yang paling rapat. Kita dan dia hakikatnya satu. Ya, hati kita masih dua, tetapi dengan iman ia menjadi satu. Bukan satu dari segi bilangannya, tetapi satu dari segi rasa.
Sekali lagi, ingatlah satu hal, hanya dengan iman, takabur akan luntur dan cinta akan subur!.JANGAN RUSAK JIWA ANAK KITA!
Anak yang membanggakan pasti merupakan idaman setiap orangtua. Merupakan hal yang wajar, bila anak yang berprestasi atau memiliki kelebihan kemudian menjadi buah bibir orangtuanya. Hal ini bisa kita lihat manakala para orangtua berkumpul, pasti ada saja topik yang membahas kebanggaan mereka terhadap anak.
Meskipun membanggakan anak awalnya merupakan tanda syukur kita terhadap karunia Allah, akan tetapi ada beberapa dampak yang harus kita waspadai manakala berbicara tentang hal ini.
Dampak pertama membanggakan adalah membandingkan. Manakala seseorang membanggakan sesuatu, ia akan cenderung mengganggap remeh hal lain yang menjadi pembandingnya. Dalam hal ini, orangtua yang membanggakan kelebihan anaknya pasti akan membandingkan kelebihan sang anak terhadap anak orang lain yang menjadi lawan bicaranya, secara langsung ataupun tidak. Kondisi membandingkan ini pasti akan menumbuhkan ketidaknyamanan dalam hati lawan bicara. Akibatnya, boleh jadi orangtua yang merasa dibandingkan tersebut “ngedumel” dalam hati atau malah balik menyerang dengan sanggahan dan berakhir dengan pertengkaran.
Dampak lanjutan dari membandingkan ini adalah perasaan rendah diri orangtua yang berada “di pihak yang kalah”. Mereka akan merasa bahwa anak mereka bukanlah orang-orang yang istimewa. Akibatnya, bukan hanya orangtua yang tertekan, anak-anak pun akan terkena dampak. Orangtua akan memaksa anaknya untuk mencapai keberhasilan yang sama.
Misalkan saja, orangtua yang memiliki anak berusia di atas satu tahun tetapi belum dapat berjalan cenderung memaksa anaknya untuk segera berjalan, meski hanya dengan mengeluh di depan anaknya, “Koq, kamu belum bisa jalan sih, Nak?”
Efeknya tentu dapat dirasakan pada harga diri anak. Alih-alih orangtua bertugas sebagai pembangun harga diri dan tempat berlindung anak, orangtua yang telah berada di bawah tekanan pembandingan justru akan melemahkan harga diri anak.
Bila hal ini tidak segera disadari dan diperbaiki oleh orangtua, anaklah yang menjadi korban dari sebuah ambisi kebanggaan.
Melihat buruknya dampak yang diakibatkan dari berbangga-bangga ini, tentu sebaiknya kita meninggalkan sikap ini manakala tengah berbicara tentang anak. Seorang ulama bahkan pernah berpesan untuk menghindari membangga-banggakan anak ini ketika kita berada dalam sebuah forum silaturrahim.
Karena, selain dapat berakibat buruk bagi anak, sikap ini juga dapat merusak persaudaraan.
Jangan berlebihan
Kita masih mengingat akan penyebab turunnya ayat 103 surat Ali Imran yaitu sikap bangga-membanggakan antar kabilah yang akhirnya nyaris memicu perkelahian antar sahabat Anshar. Belajar dari peristiwa ini, alangkah baiknya jika kita menghindari sikap bangga-membanggakan yang Allah firmankan dalam surat At-Takatsur ayat 1: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”
Selain dapat merusak kehangatan persaudaraan, sikap berbangga ini akan membuat seseorang enggan datang bersilaturrahim atau malah menghindar untuk berbicara. Semua ini tentu akan melalaikan kita untuk menyambung tali silaturrahim dan saling tolong-menolong.
Padahal, telah sampai kepada kita ayat-ayat-Nya dan sunnah Rasul-Nya yang menyuruh kita untuk saling bahu-membahu dalam kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang dimurkai Allah.
Tak sedikit di sekitar kita, ada orangtua membangga-banggakan salah satu anaknya dan di saat yang sama menjatuhkan anaknya yang lain.
“Tiru tuh, kakakmu, bukan seperti kamu,” begitu salah satu orangtua yang pernah saya dengar membanding-bandingkan anaknya.
Padahal, dengan membanding-bandingkan, akan membuat kerusakan pada jiwa masing-masing anak. Bagi yang dibanggakan ia berpotensi menjadi sombong, sementara bagi yang dijatuhkan, ia berpotensi menjadi rendah diri. Kedua-duanya akan berpotensi memiliki kepribadian buruk di kemudian hari.
Islam melarang sikap berlebihan. Dalam al_Quran Allah Ta’ala berfirman:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar…" [An-Nisaa': 171]
Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:
“Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit. Berikanlah berita gembira, dan janganlah kalian menakut-nakuti”
Orangtua harusnya besikap adil kepada semua anaknya. Tak perlu menekankan bahwa “anak harus bisa”. Karena setiap anak memiliki potensi berbeda. Alangkah indahnya, jika salah satu potensi dan kelebihan di antara anaknya menjadi pemacu spirit bagi yang lainnya.
Alangkah indahnya, bila dalam setiap bertemunya orangtua dengan anak, yang hadir hanyalah kata-kata positif yang dapat mendorong dan membantu dan memberi semangat untuk menjadi lebih baik.
Begitupun bila anak kita memiliki kelebihan, menjadi lebih indah, bila kelebihan tersebut dapat menjadi solusi bagi permasalahan saudara kita. Kelebihan tersebut dapat melengkapi kekurangan yang dimiliki saudaranya.
Apalagi bila kemudian menjadi kesyukuran dan kebanggaan bersama. Tentu ini akan membuat persaudaraan semakin rekat dan semangat untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam kebaikan semakin subur.
Jika rasa cinta dan kasih sayang orangtua kurang tercurahkan pada diri anak-anak, tak mustahil ia hanya akan tumbuh sebagai pribadi berprilaku aneh di tengah komunitasnya. Sebaliknya, jika orangtua memberi rasa lebih cinta dan kasih sayang, ia akan tumbuh menjadi pribadi barik di tengah kawan-kawannya. Ia akan menjadi percaya diri dan memiliki kepekaan sosial. Karena ituitu, kewajiban bagi orang tuauntuk memenuhi kebutuhan cinta dan kasih sayang pada mereka.
Perkataan Ibnu Khaldun dalam Kitab Al Muqaddimah bisa menjadi renungan kita bersama;
“Barangsiapa yang pola asuhannya dengan kekerasan dan otoriter, baik (ia) pelajar atau budak ataupun pelayan, (maka) kekerasaan itu akan mendominasi jiwanya. Jiwanya akan merasa sempit dalam menghadapinya. Ketekunannya akan sirna, dan menyeretnya menuju kemalasan, dusta dan tindakan keji. Yakni menampilkan diri dengan gambar yang berbeda dengan hatinya, lantaran takut ayunan tangan yang akan mengasarinya”.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar