Powered By Blogger

Sabtu, 13 November 2010

renungan

Liburan Cibodas 14 Picture

Dengan Empat Perkara Ini, Engkau Akan Terhindar dari Kerugian

Kita hidup di dunia ini tidaklah hidup begitu saja. Kita semua diberikan kesempatan hidup oleh Allah subhanahu wata’ala dalam keadaan tidak tahu sampai kapan Allah subhanahu wata’ala memberikan kesempatan ini kepada kita. Kita semua sebagai umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagai hamba Allah subhanahu wata’ala dalam menjalani kehidupan ini hendaknya benar-benar mempunyai rambu-rambu atau target dan juga prinsip yang harus dijalani. Setiap muslim harus meyakini bahwa hidup ini adalah dalam rangka untuk beribadah dan bertaqarrub hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan ini adalah tujuan utama diciptakannya manusia, yaitu untuk beribadah dan bertaqarrub hanya kepada Allah subhanahu wata’ala.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah hanya kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Hidup kita ini bukanlah untuk sesuatu yang sia-sia belaka, bahkan untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Ada 4 (empat) perkara yang jika diamalkan dengan sebaik-baiknya akan teraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Empat perkara tersebut adalah: (1) al-’ilmu, (2) al-’amal bihi, (3) ad-da’wah fil ‘ilmi, dan (4) ash-shabr (bersabar) atas gangguan yang ada di dalamnya.

Perkara Pertama: Al-’Ilmu.

Maksud ilmu di sini adalah ilmu syar’i yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para shahabatnya dan para shahabat beliau menyampaikan ilmu tersebut kepada generasi setelahnya, dan seterusnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة.

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya dengan menuntut ilmu tersebut jalan menuju jannah Allah.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dengan ilmu, seseorang akan dimudahkan oleh Allah ta’ala jalannya menuju Al-Jannah. Ilmu inilah yang Allah ‘azza wajalla jadikan sebagai tanda kebaikan bagi seseorang, di mana Allah subhanahu wata’ala jika berkehendak untuk memberikan kebaikan kepada seseorang, maka Dia akan memberikan kepahaman kepada orang tersebut tentang ilmu syari’at / agama ini, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan dia terhadap agama ini.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma)

Oleh karena itu, sesungguhnya ilmu itu tidak bisa diremehkan atau dianggap ringan. Dengan ilmu pula, seseorang akan terbimbing dalam langkah kehidupannya, dan terarah tingkah lakunya karena dia senantiasa berupaya untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang diwariskan oleh Allah ‘azza wajalla.

Namun perlu diketahui bahwa ilmu itu tidak bisa didapat begitu saja. Ilmu itu didapat dengan ta’allum dan tafaqquh, yaitu berupaya untuk mempelajari dan memahaminya.

Kalau kita lihat sejarah para shahabat, maka sejarah mereka merupakan teladan terbaik bagi kita dalam menuntut ilmu. Seiring dengan kesibukan mereka berperang, mencari ma’isyah, dan lain-lain, mereka tetap bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sebagian mereka juga menimba ilmu dari sebagian shahabat yang lain, terutama para shahabat ash-shighar (yang muda) menuntut ilmu kepada para shahabat al-kibar (yang senior) yang masih mereka jumpai. Kehidupan mereka diwarnai dengan ilmu, ta’allum, dan tafaqquh. Dari sinilah Allah subhanahu wata’ala berikan kepada mereka petunjuk di dalam meniti kehidupan mereka.

Ilmu harus diimbangi dengan kesabaran. Ada seseorang yang ketika datang masa rajinnya, dia belajar dan menghafal terus-menerus, namun ketika datang masa fatrah (malas), bisa jadi dia putus asa bahkan tidak lagi menuntut ilmu. Karena tidak diimbangi dengan kesabaran. Al-Imam Yahya bin Abi Katsir Al-Yamami rahimahullah berkata:

لا يستطاع العلم براحة الجسد.

“Ilmu itu tidak bisa diraih dengan santai-santai saja.”

Maka orang yang hendak meraih ilmu, dia harus mempersiapkan diri untuk bersungguh-sungguh dalam menuntutnya, serta bersabar di atas gangguan yang ada. Bersungguh-sungguh dalam menghafal, mencatat, menulis fawa`id (faidah-faidah ilmiah), dan memahami pelajaran. Orang yang bersungguh-sungguh saja terkadang tidak berhasil, apalagi yang tidak bersungguh-sungguh. Datang ke ma’had semata-mata ingin mendapatkan lingkungan yang baik, atau datang ke ma’had semata-mata ingin mendapat siraman qalbu. Tentu ini adalah sesuatu yang bagus, tetapi bukan hanya itu saja tujuan seseorang datang ke ma’had, dia harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan faidah ilmiah. Karena mungkin ada sebagian di antara kita yang datang ke ma’had dengan biaya orang tua yang terbatas, usia yang sudah lanjut, terburu ingin menikah, dan lain-lain. Oleh karena itu kesungguhan dalam menuntut ilmu itu harus dijadikan prinsip. Berapa banyak orang yang hadir di majelis ilmu tetapi tidak mendapatkan faidah karena tidak ada kesungguhan. Pikirannya tidak konsentrasi. Kalaupun Allah subhanahu wata’ala memberi dia kecerdasan sehingga mampu memahami, menerima, dan mendapatkan beberapa faidah ilmiah, namun barakatul ‘ilmi (barakah dari sebuah ilmu)-nya tidak didapatkannya. Barakah itu adalah kebaikan yang berkesinambungan.

Berbeda dengan orang yang bersungguh-sungguh, dia mendapatkan ilmu dan barakahnya di majelis ilmu tersebut sehingga ilmunya bermanfaat dan dia mendapatkan kebaikan yang terus berkesinambungan insya Allah.

Menuntut ilmu harus disertai dengan adab-adab di dalam menuntutnya agar ketika menuntut ilmu benar-benar di atas kemantapan. Seseorang harus merasa bahwa jalan yang dia tempuh ini merupakan jalan menuju kebahagiaan, sebuah jalan yang bisa mengantarkan dia kepada Jannatullah. Berbeda dengan orang yang kurang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, kurang memahami tentang pentingnya ilmu dan keutamaan ulama di sisi Allah subhanahu wata’ala dan makhluk-Nya, serta kurang memahami adab-adab dalam menuntut ilmu, maka akan mudah goyah pendiriannya, misalnya ketika muncul masalah seperti ketidakcocokan dengan temannya atau dengan pelajarannya, atau memiliki kecenderungan untuk tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, maka dia akan pindah-pindah ma’had, akhirnya tidak mendapatkan ilmu yang kokoh.

Seseorang tidak akan bisa bahagia, atau beribadah dengan sebaik-baiknya, serta bermuamalah sesuai dengan syari’at jika tanpa berbekal dengan ilmu. Sehingga ilmu merupakan kebutuhan.

Perkara Kedua: Al-’Amalu Bihi

Yakni beramal dengan ilmu tersebut. Inilah di antara barakah dari sebuah ilmu yang dipelajari oleh seseorang. Kebaikan dari ilmu itu akan tampak dalam keseharian seseorang yang mempelajarinya, apakah dia bisa mengamalkannya ataukah tidak.

Dan mengamalkan ilmu itu tidak sebatas pada hal-hal yang sifatnya zhahir (tampak) saja. Seperti melakukan wudhu’, shalat, dan berpakaian, ini semua bisa diamalkan sesuai dengan sunnah menurut ilmu yang sudah dia pelajari, atau menjaga kondisi tubuh yang sesuai dengan sunnah, seperti memelihara jenggot dan sebagainya, ini juga bisa diamalkan sesuai dengan ilmu yang dia ketahui, dan yang lainnya dari bentuk pengamalan secara zhahir. Ini semuanya bagus dan merupakan bagian dari pengamalan ilmu.

Namun yang juga tidak bisa diremehkan adalah pengamalan ilmu pada hal-hal yang bersifat bathin (tidak tampak) atau yang berkaitan dengan qalbu (hati), maksudnya adalah apakah ilmu yang telah dipelajari itu bisa mewarnai qalbunya ataukah belum. Yang tadinya senantiasa mempunyai sifat hasad, apakah dengan ilmu yang dipelajarinya itu kemudian bisa mengubah diri dari sifat hasad tersebut ataukah tidak. Atau yang sebelumnya memiliki sifat kikir dan sombong -apakah dalam bentuk melecehkan manusia atau dengan bentuk menolak kebenaran ketika disampaikan kepadanya-, su’uzhzhan (mudah berburuk sangka), apakah ilmu yang sudah didapat itu bisa mengubah bathinnya dari penyakit-penyakit qalbunya tadi ataukah belum. Apakah ilmu yang telah dipelajarinya bisa menumbuhkan sikap al-khasyyah, al-khusyu’, at-tawadhu’, dan yang lainnya dari sifat-sifat mulia ataukah belum.

Terkadang seseorang itu ketika menuntut ilmu dan mengamalkannya, yang diperhatikan hanya sebatas hal-hal yang sifatnya zhahir saja. Ini belum cukup. Justru ada yang lebih penting dari itu, yaitu yang terkait dengan bathinnya dan yang tersimpan dalam qalbunya, yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب ألا وهي القلب ألا وهي القلب.

“Ketika qalbu itu baik maka seluruh anggota tubuhnya menjadi baik, namun ketika rusak qalbunya, maka menjadi rusak pula anggota tubuhnya. Ingatlah sesuatu itu adalah qalbu, ingatlah sesuatu itu adalah qalbu, ingatlah sesuatu itu adalah qalbu.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu)

Terkadang kita dapati orang-orang yang secara ilmu sudah tinggi dan secara zhahir sudah tampak himmatus sunnah (semangat untuk berpegang dengan sunnah) pada dirinya, tetapi mengapa masih saja memiliki sifat rakus harta? Mengapa masih saja berkelit-kelit ketika diingatkan tentang suatu kebenaran? Atau lari dari al-haq? Dan merendahkan orang-orang yang mengingatkannya? Sebabnya di sini adalah pengamalan ilmu secara bathin belum dilakukan secara maksimal. Dan ini jarang sekali orang yang memperhatikannya.

Dan terkadang pula kita dapati yang lain, secara zhahir terlihat dia sudah belajar sekian tahun di ma’had, tetapi ternyata masih mudah untuk berburuk sangka, atau mudah membenci tanpa sebab tertentu. Ketika diperhatikan ternyata disebabkan karena hasad, atau sifat kibr (sombong) yang masih melekat pada dirinya. Ini berarti ketika masa-masa belajar, atau ketika masanya menuntut ilmu kurang memperhatikan sisi tazkiyatun nufus ini pada dirinya. Dan sesungguhnya ini merupakan sisi yang sangat penting bagi thalabatul ‘ilmi (para penuntut ilmu) yang diridhai Allah subhanahu wata’ala. Walaupun ilmunya setinggi langit, kalau jiwanya rusak maka dia akan menjadi seorang yang tidak bermanfaat bagi umat, walaupun telah lama belajar di ma’had atau bahkan belajar di hadapan masyayikh. Ini semua disebabkan dia tidak memperhatikan sisi amalan bathin yang sangat penting ini.

Beramal dengan ilmu, di samping secara zhahir dan bathin sebagaimana yang telah disebutkan di atas, juga yang harus diperhatikan adalah permasalahan lisan. Menggunakan lisan ini juga perlu diterapkan ilmu padanya, sehingga akan terbedakan antara seorang thalibul ‘ilmi dengan seorang yang bukan thalibul ‘ilmi, terbedakan lisan seorang da’i dengan lisan orang pasar. Tidak berbicara kecuali kata-katanya dipertimbangkan, tutur katanya sesuai dengan adab dan akhlak yang mulia. Ini semua membutuhkan mujahadah (kesungguhan) dari kita. Maka beramal dengan ilmu merupakan sesuatu yang penting dalam hidup ini dan sekali lagi, tidak sebatas pengamalan secara zhahir saja, akan tetapi juga tidak kalah pentingnya adalah pengamalan ilmu dalam hal bathin dan juga pengamalan ilmu terkait dengan lisan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah oleh kalian kata-kata yang lurus / baik, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian. Dan Allah akan ampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia akan mendapatkan kesuksesan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Menjaga lisan adalah termasuk bentuk sikap menjaga ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam yang akan mengantarkan seseorang kepada kesuksesan yang besar. Penjagaan lisan yang merupakan bagian dari penerapan ilmu juga akan menjadikan seseorang terbimbing dalam hidupnya, terarahkan amal perbuatannya dan terampuni dosa-dosanya.

Beramal dengan ilmu, khususnya kita yang berada di ma’had ini, hendaknya yang paling penting dan paling utama adalah kita memperhatikan pribadi dan diri kita terlebih dahulu. Ketika kita mendapatkan ilmu, cobalah kita renungkan bagaimana kemudian upaya kita di dalam mengamalkannya, kita berusaha mengamalkan ilmu itu sebelum mengajak yang lainnya. Dan berikutnya, ketika kita merasa mampu atau bisa mengamalkan ilmu tersebut, jangan kemudian ada pada perasaan kita suatu penilaian buruk terhadap orang yang belum mampu, karena ini akan menimbulkan sifat bangga diri dan merasa bahwa dirinya yang sudah bisa sementara orang lain tidak bisa. Tidak sedikit orang yang jatuh ke dalam sikap seperti ini, merasa dirinya lebih dari yang lainnya.

Adapun ketika kawan kita belum mampu mengamalkannya dan masih kurang dalam penerapan ilmu tersebut, maka yang hendaknya ditempuh adalah saling memberi nasehat dan peringatan agar dia bangkit semangatnya untuk beramal. Jangan merasa bahwa ketika kita mampu mengamalkan ilmu dan menerapkannya, kemudian timbul pada diri kita sikap memvonis bahwa si fulan tidak bisa atau tidak mampu mengamalkan ilmunya. Ini adalah sikap yang berbahaya. Bisa merusak keikhlasan ibadah kita. Ketika mendapati kekurangan pada kawan kita, bukan vonis buruk yang kita voniskan pada dia, tetapi upaya nasehatlah yang penting untuk kita sampaikan kepadanya. Karena posisi kita adalah sama-sama thullab, tugasnya adalah saling menasehati satu terhadap yang lain, bukan tugasnya saling memvonis fulan begini dan begitu. Tugas kita adalah belajar, tugas kita adalah ketika ada kekurangan dan kekeliruan pada suadara kita, untuk at-tawashi bil haq wat tawashi bish shabr, at-tanashuh (saling memberikan nasehat) yang dibangun di atas al-hubbu fillah (kecintaan karena Allah) dan di atas al-ukhuwwah, bukan saling menjatuhkan.

Sikap seperti ini penting untuk diperhatikan, karena terkadang seperti ini menimpa pada orang-orang yang punya kerajinan dalam hal ibadah, rajin dalam belajarnya, dan mempunyai prestasi dalam pelajarannya, terkadang muncul pada dia sifat merendahkan dan memvonis bahwa saudaranya yang memiliki kekurangan tadi tidak mampu untuk mengamalkan ilmunya.

Perkara Ketiga: Ad-Da’wah Ilaihi.

Yakni berdakwah di jalan Allah. Masing-masing dari kita bisa berposisi sebagai da’i, mengajak kepada kebaikan, at-tanashuh, dan at-tawashi (saling memberikan wasiat satu sama lain). Apabila hal ini benar-benar dijaga di ma’had kita ini, maka Allah subhanahu wata’ala akan memberi kita barakah dalam keseharian kita, barakah kepada ilmu kita, dan barakah dalam mu’amalah kita, dan juga ma’had kita ini. Akan tetapi kalau tidak ada upaya at-tanashuh, dan tidak ada upaya al-amr bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar dengan cara yang baik, maka barakah itu akan dicabut oleh Allah subhanahu wata’ala.

Upaya saling memberikan wasiat dan nasehat ini bisa dalam banyak hal. Mulai terkait dengan pelajaran, sampai terkait dengan keseharian kita. Yang terkait dengan keseharian pun bermacam-macam, contohnya adalah saling menasehati untuk menjaga nikmat Allah subhanahu wata’ala yang berupa pakaian, karena ada hamba-hamba Allah ‘azza wajalla yang dipersempit rizkinya, sedikit dari pakaian yang mereka miliki. Sedangkan kita, Allah subhanahu wata’ala telah memberi kita rizki pakaian, tetapi terkadang kurang kita perhatikan. Pakaian berhamburan dan berserakan tanpa ada yang memperhatikannya. Si pemiliknya pun sudah tidak peduli dengan pakaiannya tadi, padahal pakaian itu masih bagus dan bisa dipakai. Ini adalah bentuk tabdzir terhadap nikmat Allah subhanahu wata’ala.

Kalau kita lihat bagaimana sejarah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian mereka hanya memiliki satu pakaian. Jika pakaiannya sedang dicuci, tidak bisa keluar rumah, karena tidak ada pakaian lain yang bisa dipakai. Bahkan Al-Khalifah Ar-Rasyid ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika memberikan khuthbah kemenangan atas pasukan Nashara di Palestina, pada pakaiannya terdapat bekas sobek yang dijahit dengan tangan. Dan juga Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang saat itu sebagai khalifah, berjalan di pasar Dimasyq dalam keadaan memakai pakaian sobek yang dijahit dengan tangan. Mereka mendapatkan kemuliaan di sisi Allah subhanahu wata’ala karena mereka benar-benar menjaga nikmat Allah subhanahu wata’ala.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ.

“Jika kalian bersyukur, maka pasti Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepada kalian.” (Ibrahim: 7).

Mereka bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala, maka nikmat-nikmat tersebut senantiasa ditambah oleh Allah ‘azza wajalla.

At-tawashi bil haq dan at-tawashi bish shabr adalah sesuatu yang sangat penting dan merupakan bagian dari dakwah di jalan Allah. Dan tentunya kaidah umum yang terkait dengannya adalah bahwa dakwah itu dibangun di atas ilmu dan bashirah, al-hikmah dan al-mau’izhah al-hasanah. Karena at-tawashi dan at-tanashuh tersebut merupakan bagian dari dakwah, maka tidak bisa dilepaskan dari kaidah-kaidah tadi.

Jika kita ingin memberikan wasiat, ingin menasehati dan meluruskan saudaranya, maka harus benar-benar dilakukan di atas bashirah tentang apa yang akan disampaikan dan juga ditunaikan di atas asas al-hikmah, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan juga dibangun di atas asas al-mau’izhah al-hasanah, yaitu memberikan bimbingan yang baik.

Seorang muslim bukanlah orang yang suka mencaci dan yang kotor lisannya. Kata ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma:

لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah orang yang berbuat keji dan bukan pula orang yang suka berbuat keji.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Seorang muslim bukanlah jenis orang yang asal bicara tanpa dipikirkan. Kita berupaya menghidupkan at-tawashi bil haq dan at-tawashi bish shabr, al-amr bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar di ma’had ini dengan jangan melupakan prinsip-prinsip tadi, yaitu bimbingan yang baik kepada pihak yang salah serta pengarahan yang sesuai dengan porsi dan tempatnya. Yang tua menyayangi yang muda, memberikan nasehat-nasehat dan arahan-arahan yang dibangun di atas dasar kasih sayang, bukan untuk menjatuhkan. Dan adapun yang muda, ketika mengingatkan yang tua, dibangun atas dasar penghormatan, dengan akhlak, adab, dan sopan santun yang baik di dalam memberikan nasehat atau masukan-masukan tersebut. Tidak asal bicara, mengucapkan kata-kata kotor, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk dijaga, karena syaithan sangat bersemangat untuk memisahkan seorang mu`min dengan mu`min yang lainnya. Sangat bersemangat untuk mencerai-beraikan ukhuwwah antar kaum muslimin, terlebih lagi antar thullabul ‘ilmi.

Ketika di ma’had sudah berselisih satu dengan yang lainnya, dan tidak memahami pentingnya ishlah dan ukhuwwah, maka akibatnya terus berkelanjutan hingga setelah keluar ma’had dan menjadi da’i, masih tersimpan benih-benih perselisihan. Yang satu mempunyai mad’u dan yang lain juga mempunyai mad’u, yang akhirnya membangun prinsip al-wala` wal bara`nya tidak lagi di atas jalur yang benar, tetapi masih diiringi dengan permasalahan-permasalahan pribadi, maka hal ini sangat mengkhawatirkan karena akan merusak dakwah ahlus sunnah wal jama’ah. Sehingga hal ini perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya.

Perkara Keempat: Ash-Shabru ‘Alal Adzaa Fiihi

Yaitu bersabar ketika mendapatkan rintangan dan gangguan di dalam menjalankan ketiga perkara di atas. Tanpa kesabaran, tidak akan bisa seseorang mendapatkan ilmu dan tidak akan bisa seseorang menjadi ‘alim. Para ulama menjadi a’immah karena memang ketika belajar, mereka benar-benar bersungguh-sungguh dan bersabar, dan yakin bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang haq.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ.

“Dan Kami jadikan mereka-mereka itu para pemimpin dalam urusan agama ini, yang membimbing umat manusia dengan apa-apa yang berasal dari Kami, ketika mereka itu bersabar dan mereka termasuk orang-orang yang yakin terhadap ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)

Maka sabar dalam menuntut ilmu ini sangat penting bagi kita. Banyak sekali ujian di dalam menuntut ilmu. Terkadang diuji dengan sakit, kekurangan harta, atau yang lainnya. Diuji dengan mempunyai kawan yang kurang baik, sehingga membuat dia tidak semangat dan malas di dalam belajar. Atau diuji dengan ketidakcocokan terhadap pelajaran, diuji dengan kondisi ustadznya pada pelajaran tertentu, dan setumpuk ujian yang lain. Maka yang bersabar, insya Allah dia yang akan berhasil serta mendapatkan ilmu dengan baik dan barakah.

Kemudian bersabar ketika mengamalkan ilmu. Mengamalkan ilmu itu berat, lebih gampang membaca, mempelajari, dan menghafalnya. Sehingga dibutuhkan kesabaran untuk mengamalkan ilmu tersebut, di samping kesabaran itu disertai dengan do`a. Seorang muslim, apalagi thalibul ‘ilmi, hendaknya menjadikan do`a sebagai salah satu dari senjata hidupnya. Permohonan-permohonan kepada Allah ‘azza wajalla untuk dimudahkan dari berbagai macam kesulitan, permohonan agar diberi barakah dengan ilmunya tersebut, dan sebagainya. Termasuk berdo`a kepada Allah subhanahu wata’ala agar dimudahkan dalam mengamalkan ilmu, dimudahkan dalam berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya.

اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dari shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu)

Berikutnya adalah bersabar dalam mendakwahkan ilmu. Misalnya saat memberikan nasehat kapada saudaranya, kemudian tidak didengarkan nasehatnya itu, atau tidak tampak ada perubahan padanya, maka tugas kita adalah menyampaikan nasehat, dan hidayah itu di tangan Allah subhanahu wata’ala. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah subhanahu wata’ala hanya perkenankan bagi beliau hidayatul irsyad, yaitu bimbingan-bimbingan dan pengarahan kepada umat manusia. Adapun hidayatut taufiq, hidayah untuk menerima Islam dan menjalankannya, murni di tangan Allah subhanahu wata’ala. Beliau sebatas sebagai orang yang memberikan tadzkir (peringatan).

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ.

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (Al-Ghasyiyah: 21-22)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang mudzakkir, yaitu pemberi peringatan, bukan mushaithir, yaitu yang menguasai dan memberi hidayah. Maka terlebih kita, ketika menyampaikan nasehat dan arahan kepada kawan-kawan kita, kalau ternyata tidak diamalkan, maka hendaknya kita bersabar. Tugas kita adalah menyampaikan, dan insya Allah kita akan mendapat ajr (pahala) dengan amalan tersebut jika memang dibangun di atas keikhlasan karena Allah subhanahu wata’ala.

Inilah empat perkara yang harus benar-benar kita perhatikan dalam hidup ini, yaitu yang pertama adalah ilmu, dan yang terpenting dari ilmu ini adalah ma’rifatullah, ma’rifatu nabiyyihi, dan ma’rifatu diinil islaam bil adillah. Kemudian yang kedua adalah beramal dengan ilmu tersebut. Yang ketiga adalah berdakwah dengan ilmu tersebut. Dan yang keempat adalah bersabar ketika menuntut ilmu, mengamalkan ilmu dan berdakwah dengan ilmu. Keempat perkara ini merupakan kandungan dari surat Al-’Ashr yang barangsiapa menjalankannya, akan terlepas dari golongan orang-orang yang merugi dalam hidupnya di dunia dan akhirat.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)





Menjaga Aqidah Ketika Sakit

Setiap orang yang beriman pasti akan diberikan ujian oleh Allah subhanahu wata’ala. Ujian tersebut beragam bentuknya, sesuai kondisi dan kadar keimanan seseorang. Ujian bisa berupa kesenangan dan bisa pula berupa kesusahan. Dan salah satu dari bentuk ujian tersebut adalah tertimpanya seseorang dengan suatu penyakit yang menggerogoti dirinya.

Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat Al-‘Ankabut ayat 1sampai 3, bahwa hikmah diberikannya ujian kepada kaum mukminin adalah untuk mengetahui[1] siapa yang jujur dan siapa yang dusta dalam pengakuan iman mereka tersebut.

Demikian juga ketika sakit, seseorang akan teruji tingkat kejujuran iman dan aqidah dia. Sangat disayangkan, ternyata di sana masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran syari’at yang dilakukan oleh orang yang sedang tertimpa penyakit. Di antara mereka ada yang tidak menerima bahkan menolak takdir Allah yang sedang dia rasakan tersebut. Bahkan ada yang mengatakan dan mengklaim bahwa Allah tidak adil kepada dirinya, Allah telah berbuat zhalim kepadanya, dan sebagainya, na’udzubillah min dzalik. Ada pula yang tidak sabar dan putus asa dengan keadaannya tersebut sehingga dia sangat berharap ajal segera menjemputnya. Dan bahkan ada pula yang nekad melakukan upaya bunuh diri dengan harapan penderitaannya segera berakhir. Ini semua menunjukkan lemahnya iman dan kurang jujurnya dia dalam ikrar keimanannya tersebut.

Lalu bagaimana bimbingan syari’at yang mulia dan sempurna ini dalam menyikapi permasalahan-permasalahan seperti itu? Solusi apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap hamba yang mengaku beriman kepada Allah ‘azza wajalla, Rasul-Nya dan hari akhir jika tertimpa suatu penyakit agar iman dan aqidah ini senantiasa terjaga? Maka kali ini insya Allah akan kami tengahkan kepada anda, bagaimana syari’at membimbing anda tentang sikap yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang sedang mengalami sakit agar dia dikatakan sebagai seorang yang jujur dalam keimanan dan aqidahnya. Di antara sikap tersebut adalah[2]:

1. Hendaknya dia merasa ridha dengan takdir dan ketentuan Allah subhanahu wata’ala tersebut, bersabar dengannya dan berbaik sangka kepada Allah subhanahu wata’ala dengan apa yang sedang dia rasakan. Karena segala yang dia terima adalah merupakan sesuatu terbaik yang Allah subhanahu wata’ala berikan padanya. Ini merupakan sikap seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan keimanan yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah berupa kebaikan. Dan tidaklah didapatkan keadaan yang seperti ini kecuali pada diri seorang mukmin saja. Ketika dia mendapatkan kebahagiaan, dia segera bersyukur. Maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan ketika dia mendapatkan kesusahan dia bersabar. Maka itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari shahabat Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu)

Beliau juga bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim dari shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

2. Hendaknya dia memiliki sikap raja’ (berharap atas rahmat Allah subhanahu wata’ala) dan rasa khauf (takut dan cemas dari adzab Allah subhanahu wata’ala)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدُكَ قَالَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi seorang pemuda yang sedang sakit. kemudian beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saya sangat mengharapkan rahmat Allah dan saya takut akan siksa Allah dikarenakan dosa-dosa saya.” Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua sifat tersebut ada pada seorang hamba yang dalam keadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan akan memberi rasa aman dengan apa yang dia takutkan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

3. Tidak diperbolehkan baginya untuk mengharapkan kematian segera menjemputnya ketika penyakitnya ternyata semakin menjadi parah dan memburuk.

أأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى الْعَبَّاسِ وَهُوَ يَشْتَكِي فَتَمَنَّى الْمَوْتَ فَقَالَ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ اللَّهِ لَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا تَزْدَادُ إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ خَيْرٌ لَكَ وَإِنْ كُنْتَ مُسِيئًا فَإِنْ تُؤَخَّرْ تَسْتَعْتِبْ خَيْرٌ لَكَ فَلَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ قَالَ يُونُسُ وَإِنْ كُنْتَ مُسِيئًا فَإِنْ تُؤَخَّرْ تَسْتَعْتِبْ مِنْ إِسَاءَتِكَ خَيْرٌ لَكَ

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi pamannya ‘Abbas yang sedang sakit. Dia mengeluh dan berharap kematian segera datang menjemputnya. Maka beliau bersabda kepadanya: “Wahai pamanku, janganlah engkau berharap kematian itu datang. Jika engkau adalah orang baik, maka engkau bisa menambah kebaikanmu, dan itu baik untukmu. Namun jika engkau adalah orang yang banyak melakukan kesalahan, maka engkau dapat mengingkari dan membenahi kesalahanmu itu, dan itu baik bagimu. maka janganlah berharap akan kematian.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim dari shahabiyyah Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha)

Namun ketika ternyata dia tidak bisa bersabar dan harus melakukannya, maka hendaknya dia mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Ya Allah hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

4. Hendaknya dia berwasiat ketika merasa ajalnya telah dekat untuk dipersiapkan dan dilakukan pengurusan jenazahnya nanti sesuai dengan bimbingan syari’at dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah. Hal ini sebagai bentuk pengamalan firman Allah subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)

Dan di sana banyak kisah- kisah para sahabat yang mereka berwasiat dengan hal ini ketika merasa ajal segera menjemputnya. Salah satunya adalah kisah shahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang pernah berwasiat ketika dia merasa ajal telah dekat. Dia berkata:

إِذَا مِتُّ فَلَا تُؤْذِنُوا بِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ النَّعْيِ

“Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkannya. aku takut kalau perbuatan tersebut termasuk na’i (mengumumkan kematian yang dilarang sebagaimana dilakukan orang-orang jahiliyyah), karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah melarang perbuatan na’i tersebut.” (HR. At-Tirmidzi)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Adzkar: “Sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk berwasiat kepada keluarganya agar meninggalkan kebiasaan atau adat yang ada dari berbagai bentuk kebid’ahan dalam penyelenggaraan jenazah. Dan hendaknya dia menekankan permasalahan itu.”

Wallahu A’lam.

Diringkas dari Kitab Ahkamul Jana-iz karya Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah oleh Al-Ustadz Abdullah Imam







Nasehat Untuk Remaja Muslim

Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.

Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?

Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?

Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.

Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.

Umurmu Tidak Akan Lama Lagi

Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).

Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.

Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.

“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.

Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)

Bersegeralah dalam Beramal

Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)

Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.

Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)

Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?

Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)

Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?

Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)

Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.

Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Jauhi Perbuatan Maksiat

Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)

Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)

Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.

Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu

Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.

Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.

Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.

Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)

Akhir Kata

Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.





Obat Penyakit Takabbur

Dan Tips Meraih Tawadhu’

Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah

Tidak diragukan, bahwa kewajiban atas setiap muslim adalah waspada dari takabbur/sombong dan bersikap tawadhu’. ‹‹ Barangsiapa yang bertawadhu’ karena Allah satu derajat, maka akan Allah angkat dia satu derajat ›› [1] dan barangsiapa yang takabbur (sombong) maka dia terancam untuk Allah timpakan musibah/hukuman atasnya — nas`alullah al-‘afiyah – .

Seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah, aku suka jika bajuku bagus, sandalku juga bagus, apakah itu termasuk sombong?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

« إن الله جميل يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس »

‹‹ Sesungguhnya Allah itu indah, cinta kepada keindahan. Sombong adalah menolak al-haq (kebenaran) dan melecehkan manusia. ›› [2]

Batharul Haq yakni menolak al-haq (kebenaran). Apabila kebenaran bertentangan dengan hawa nafsunya maka ia menolaknya.

Ghamthun Nas, yakni merendahkan manusia. Orang lain dalam pandangannya selalu berada di bawahnya. Ia merendahkan mereka. Ia melihat dirinya selalu berada di atas mereka. Bisa jadi karena kefasasihannya berbicara, atau karena kekayaannya, atau karena jabatannya, atau karena sebab-sebab lainya yang ia khayalkan. Dan bisa jadi dilakukan oleh orang yang fakir. Dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا يزكيهم ولا ينظر إليهم ولهم عذاب أليم: شيخ زان، وملك كذاب، وعائل مستكبر. »

‹‹ Tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara dengannya kelak pada Hari Kiamat, tidak membersihkan mereka, dan tidak melihat kepada mereka, serta bagi mereka adzab yang pedih : seorang tua yang berzina, penguasa yang pendusta, orang miskin yang sombong. ›› [3]

Yakni orang miskin, dengan kemiskinannya dia sombong, dia mendapat musibah kesombongan. Sombong itu biasanya dilakukan oleh orang berharta dan kaya, namun dalam kondisinya yang miskin tersebut dia masih bersikap sombong. Sombong merupakan watak dan karakternya.

Adapun Tawadhu’ adalah sikap lembut, akhlak yang baik, dan tidak merasa tinggi di hadapan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا »

‹‹ Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang terbaik akhlaknya di antara kalian. ›› [4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« البر حسن الخلق »

‹‹ Kebaikan adalah akhlaq yang baik ›› [5]

Maka hendaknya ingat keagungan Allah, dan ingat bahwa Allah lah yang memberinya harta, memberinya jabatan, memberinya kedudukan, dan wajah yang tampan, atau selain itu. Hendaknya ingat bahwa barangsiapa yang mensyukuri sikap tawadhu’ tersebut dan tidak sombong … dia tidak sombong karena harta, atau karena jabatan, atau karena nasab, ketampanan, kekuatan, atau pun yang lainnya. .. bahkan ia ingat bahwa itu semua merupakan nikmat Allah dan barangsiapa yang mensyukurinya maka ia akan bersikap tawadhu, merendahkan dirinya sendiri, dan tidak akan sombong terhadap saudara-saudadaranya serta tidak akan merasa tinggi di hadapan mereka.

Takabbur/sombong mengantarkan kepada kezhaliman, kedustaan, tidak adil dalam ucapan dan perbuatan. Melihat dirinya berada di atas saudaranya, baik karena harta, ketampanan, jabatan, nasab, atau pun hal-hal yang masih abstrak sifatnya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan ‹‹ Sombong adalah menolak al-haq (kebenaran) dan melecehkan manusia. ›› yakni menolak al-haq apabila bertentangan dengan hawa nafsunya ini adalah takabbur/sombong. Dan melecehkan manusia : merendahkan mereka, melihat mereka selalu berada di bawahnya, dan bahwa mereka tidak pantas untuk disikapi dengan adil, atau memulai salam terhadap mereka, atau dipenuhi undangan mereka, dan yang semisalnya.

Apabila seseorang mengingat kelemahan dirinya, dan bahwa dirinya berasal dari air mani yang hina, dirinya butuh kamar mandi untuk buang hajat, dirinya makan dari sini, keluar dari sini, serta dirinya jika tidak istiqamah di atas ketaatan kepada Allah maka dia akan masuk neraka, jika dia menyadari itu semua maka dia akan tahu kelemahan dirinya, dan bahwa dirinya adalah miskin, dan tidak pantas baginya untuk bersikap takabbur/sombong.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah IX/267-268)



Istilah “kuno” ataupun “ketinggalan zaman” merupakan gelar atau julukan yang sering dilontarkan oleh kaum muda mudi zaman ini terhadap seseorang yang mereka anggap sok memperhatikan akhlak atau adab Islami. Sebuah kondisi yang sangat disayangkan jika ini terjadi di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Keadaan yang seperti ini akan bertambah parah terkhusus pada saat umat Islam sudah tidak lagi memperdulikan lagi akhlak dan adab Islami, terlebih slogan “siapa cepat dia dapat”, “siapa kuat dia yang menang” dijadikan sandaran dalam mencari berbagai macam keuntungan dunia. Tentunya kondisi yang seperti ini tidak akan menjadikan suasana dalam hidup semakin tenang, bahkan keadaan ini justru menjadi sebab keterpurukan sebuah negeri. Wal’iyadzu billah…(kita berlindung kepada Allah)

Akhlak dan adab dalam agama ini memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan Allah ‘Azza wa Jalla dan rasul-Nya Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Tidaklah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam diutus ke dunia ini kecuali sebagai penyempurna akhlak atau budi pekerti yang mulia, sebagaimana Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

»إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق »

” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.45)

Dengan akhlak dan adab yang mulia inilah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menghiasi hidupnya dalam rumah tangganya dan keluarganya, di hadapan shahabatnya, serta di hadapan umat secara umum. Termasuk para pembesar-pembesar Quraisy yang kafir ketika saat itu, beliau menyikapi mereka di atas koridor akhlak dan adab yang mulia.

Sebuah pengakuan yang begitu indah dari shahabat Anas bin Malik Radhiyallah ‘anhu sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya:

“Aku telah berkhidmat (menjadi pelayan) Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam selama 10 tahun, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku “ah” dan tidak pernah bertanya jika aku telah melakukan sesuatu ‘kenapa kamu melakukannya?’, dan pada sesuatu yang tidak pernah aku lakukan beliau tidak mengatakan ‘mengapa kamu tidak melakukannya?’ Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya” (HR. Al-Bukhari no. 3561/Muslim no. 2309)

Hal tersebut merupakan rahmat dan karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla yang telah diberikan kepada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan besarnya rahmat yang telah diberikan-Nya, sebagaimana firman-Nya :

“Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu, maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun untuk mereka serta bermusyawarahlah dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah betekad bulat, maka bertawakallah! Karena sesungguhmya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Ali Imran: 159)

Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khatthab berkata; “Aku menjumpai sifat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dalam kitab-kitab terdahulu, bahwa beliau tidak pernah berkata kasar, kotor, dan tidak pula berteriak-teriak di pasar serta tidak membalas perbuatan jelek dengan kejelekan, sebaliknya beliau sangat pemaaf“ ( Tafsir Ibnu Katsir 1/516)

Demikianlah akhlak manusia termulia ini. Tidak ada perkara yang lebih indah dalam sebuah kehidupan jika terwarnai dengan kemuliaan akhlak dan budi pekerti, rasa cinta dan kasih sayang, keharmonisan akan terjalin dalam rumah tangga jika setiap individu atau umat Islam menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.

Wallahu a’lam bishshawab



WASIAT RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

KEPADA ABUL ABBAS ‘ABDULLAH BIN ABBAS RADHIALLAHU ‘ANHUMA:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ يَوْمًا، فَقَالَ « يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ ». رواه أحمد والترمذي

Dari shahabat Ibnu ‘Abbas berkata : Dulu suatu hari aku pernah membonceng di belakang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau berkata : “Wahai anak, sungguh aku akan mengajarimu beberapa kata : Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya berada di hadapanmu. Apabila engkau meminta maka memintalah kepada Allah, dan apabila engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan dari Allah. Ketahuilah, bahwa kalau seandainya umat ini bersatu untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan kalau seandainya umat bersatu untuk memadharatkan kamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan bisa memberikan madharat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan atasmu. Telah terangkat pena dan telah telah kering lembaran.” Diriwayatkan oleh Ahmad (I/293) dan At-Tirmidzi no. 2516.

v Wasiat 1: “Jagalah Allah Azza wa Jalla niscaya Allah Azza wa Jalla akan menjagamu.”

Sebagian ulama berkata dalam menafsirkan hadits ini, bahwa makna “jagalah Allah” adalah jagalah perintah-perintah Allah untuk kemudian kita laksanakan, dan jagalah larangan-larangan Allah untuk selanjutnya kita tinggalkan. Dengan menjaga itu semua niscaya Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memberikan balasan-Nya berupa penjagaan kepada kita dalam hal:

  • Penjagaan Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam urusan dunianya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menjaga badannya dari sakit, juga harta bendanya, serta anak istrinya, dan segala hal yang berkaitan dengan dunianya. Semuanya Allah jaga dengan perlindungan-Nya yang Maha Sempurna yang merupakan bentuk jaza` (pahala) yang dipersiapkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala disebabkan hamba itu telah menjaga aturan-aturan Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, jika hamba itu tidak mau menjaga aturan-aturan yang telah Allah tetapkan dengan melakukan kemaksiatan, maka Allah tidak akan menjaga hamba tersebut. Karena kemaksiatan itu dapat berpengaruh kepada seorang hamba baik pada badannya, kendaraannya, maupun terhadap anak dan istrinya. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Jawabul Kafi Liman Sa’ala ‘anid Dawa`isy Syafi, telah menyebutkan bagaimana pengaruh maksiat terhadap kehidupan pribadi seorang muslim baik pada dirinya, harta bendanya, bahkan pengaruh maksiat tersebut tampak pada istrinya. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97) [النحل/97]

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)

Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai syahid (penguat) dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”, yaitu Allah Azza wa Jalla akan memberikan kehidupan yang baik apabila seorang hamba benar-benar menjaga bimbingan dan aturan Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Maka sungguh sangat keliru jika ada seorang hamba yang sedang mengalami suatu masalah, lalu berfikir untuk mengambil jalan pintas dengan melanggar aturan-aturan Allah, dengan tujuan agar problemnya cepat terselesaikan. Karena problem dan masalah itu semuanya datang dari Allah dan Allah-lah yang akan mengangkatnya jika kita mau melaksanakan segala yang diridhai dan dicintai oleh Allah. Inilah makna dari firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (4) [الطلاق/4]

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath Thalaq: 4)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

« اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ … »

“Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah dimana saja engkau berada.” [HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ad-Darimi]

  • Penjagaan Allah terhadap agamanya

Meliputi dua hal:

a. Dijaga hatinya dari syubuhat (kerancuan berfikir dan memamahi agama)

Maksudnya yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala akan menjaga dan memelihara hatinya dari pengaruh kerusakan syubuhat yang akan menjatuhkan dirinya kepada kesesatan dan penyimpangan dari agama ini. Bukankah ketika seseorang memilih kesesatan atau cenderung kepada kesesatan Allah kemudian membalikkan hatinya dari kebenaran menuju kesesatan. Inilah balasan Allah Tabaraka wa Ta’ala kepada orang-orang yang mencoba melanggar larangan Allah. Allah Azza wa Jalla tegaskan dalam firman-Nya:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ [الصف/5]

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (Ash Shaf: 5)

- Termasuk dari nikmat Allah Tabaraka wa Ta’ala yang sangat besar adalah penjagaan-Nya terhadap hati kita dari syubuhat. Kata para ulama;

القلوب ضعيفة، والشبهات خطافة

“Hati kita ini sungguh lemah, sementara syubuhat itu menyambar amat keras.”

- Sungguh tidak ada syubuhat yang paling dahsyat bagi seorang muwahhid (seseorang yang bertauhid) kecuali apa yang dilakukan oleh Iblis dalam mengkaburkan aqidah tauhidnya. Tidak ada kendaraan yang paling berbahaya bagi seorang muslim yang akan ditunggangi oleh Iblis dan bala tentaranya kecuali hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada perbuatan maksiat.

- Kata Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: “Kalaulah bukan karena kehendak Allah, niscaya kita akan termasuk dari orang-orang yang disesatkan oleh Allah.”

b. Dijaga jawarih-nya (anggota tubuhnya) dari segala keinginan syahawat (hawa nafsu)

Allah jaga telinga kita dari mendengar apa-apa yang dimurkai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, juga mata kita, tangan, dan kaki kita, yang semuanya itu adalah jaza` (balasan) dari Allah Tabaraka wa Ta’ala atas apa yang telah kita korbankan dalam ketaatan kepada-Nya.

v Wasiat 2: “Jagalah Allah niscaya engkau akan menjumpai-Nya di hadapanmu.”

- Kata sebagian ulama ketika men-syarh (menjelaskan) hadits ini, “yaitu pertolongan dan pembelaan Allah akan engkau dapatkan dan engkau jumpai tatkala engkau menjaga batasan-batasan Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

- Sehingga tidak ada seorangpun yang taat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kemudian Allah lepaskan perlindungan dan pembelaan darinya. Allah tegaskan hal ini dalam sebuah hadits qudsi:

« مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ! »

“Barangsiapa yang menentang dan melawan wali-Ku, maka Aku akan umumkan peperangan dengannya!” [HR. Al-Bukhari]

Inilah bentuk pembelaan dan pertolongan Allah Tabaraka wa Ta’ala terhadap wali-wali-Nya. Mereka adalah sebagaimana yang Allah jelaskan sendiri dalam kalam-Nya:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) [يونس/62، 63]

“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (Yunus: 62-63)

- Al-Imam Asy-Syafi’I rahimahullah berkata ketika ditanya tentang wali Allah: “Jikalau kalian melihat seseorang bisa berjalan di atas air atau bisa terbang di udara, maka jangan sekali-kali kalian mempercayainya bahwa dia wali Allah. Jangan sampai kalian tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana ittiba’nya (mencontoh-nya) dia terhadap Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.“

- Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak akan membiarkan hamba-Nya yang beriman dan taat mengalami kesulitan dan kesedihan walaupun dia berada di tempat yang paling berbahaya sekalipun. Allah Tabaraka wa Ta’ala tetap akan memberikan barakah-Nya kepada hamba tersebut. Pelajaran yang sangat berharga dapat kita peroleh dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan istrinya Hajar, di mana kisah ini telah dishahihkan oleh Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah, yaitu ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk membawa istri dan anaknya yaitu Isma’il ‘alaihissalam (yang pada waktu itu masih dalam gendongan) ke sebuah kota yang gersang dan tandus tak berpenghuni. Ketika sudah sampai di kota tersebut, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan mereka dan kembali ke Palestina. Melihat hal itu, Hajar berteriak: “wahai Ibrahim..!!”, tetapi Nabi Ibrahim tidak menoleh dan terus berjalan. Kemudian Hajar berteriak lagi: “Allah-kah yang memerintahkan engkau berbuat demikian?”, mendengar itu, Nabi Ibrahim menoleh dan berkata: “iya benar”, setelah itu Nabi Ibrahim melanjutkan perjalanannya. Kemudian Hajar berkata: “kalau demikian Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Inilah dia wanita yang terdidik di atas aqidah yang shahih dan tauhid yang benar dari seorang Abul Muwahhidin (bapak orang-orang yang bertauhid), sehingga ia mempunyai sikap dan keyakinan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan orang yang berbuat taat kepada-Nya.

- Ini adalah nasehat yang agung dari lisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada shahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan bagi kita semuanya, terlebih lagi bagi orang-orang yang mengikuti dakwah yang benar ini sangat membutuhkan segalanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Tatkala dia mendapatkan caci makian, celaan, bahkan tahdzir (peringatan keras) dalam hidupnya, dia akan mengembalikan urusannya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

- Tersebutlah suatu kisah dari Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dari penuturan putri beliau hafizhallah bahwa tatkala beliau duduk di majelisnya, datang sebagian ikhwan yang melaporkan bahwa orang-orang sedang membicarakan beliau. Tetapi beliau tidak terus marah atau mencoba bertanya tentang apa yang dibicarakan itu. Kata beliau: “Bahaya dosaku terhadap diriku itu lebih aku khawatirkan dari pada bahaya ucapan mereka tentang diriku.”

- Yakinlah di mana saja engkau berada, selama engkau beriman dan taat kepada Allah, maka Allah subhanahu wata’ala tidak akan menyia-nyiakan hidupmu. Sekecil apapun sumbangsihmu terhadap dakwah ini, selama engkau luruskan niatmu hanya untuk Allah maka Allah subhanahu wata’ala akan mengganti yang kecil tersebut menjadi besar, dan yang ringan akan menjadi berat di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala.

- Nasehat ini mengandung isyarat bahwa setiap hamba harus senantiasa berusaha memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala untuk kemudian yakin apabila semuanya telah lurus dengan apa yang disyariatkan oleh Allah, jangan putus asa terhadap ujian yang menimpanya, semoga itu menjadi ladang amal shalih untuk mencari amal shalih yang berikutnya. Bukankah dengan ujian itu akan mendatangkan pahala dari sisi Allah Azza wa Jalla jika kita bersabar?

v Wasiat #3: Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan apabila engkau meminta tolong maka mintalah tolong kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

- Kata para ‘ulama, bahwa bimbingan ini dimaksudkan agar seorang hamba selalu menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kita butuh segala-galanya pada-Nya, maka kita minta kepada Allah. Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tetap meminta kepada Allah walaupun hanya dalam urusan yang sangat kecil yaitu ketika tali sandalnya putus. Tetapi bukan berarti kita tidak diperbolehkan meminta tolong kepada saudara kita. Selama dia memiliki kemampuan untuk melakukannya maka hal itu boleh dalam agama. Hal ini Allah Azza wa Jalla beritakan dalam kalam-Nya yang mulia:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ [المائدة/2]

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Ma`idah: 2)

- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menyebutkan kandungan ayat dalam firman Allah :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) [الفاتحة/5]

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al Fatihah: 5)

Beliau berkata: “Aku mempelajari dan merenungi tentang do’a yang paling bermanfaat, ternyata do’a yang paling bermanfaat itu adalah meminta kepada Allah untuk memberikan bantuan dalam mewujudkan ketaatan kepada Allah. Aku kemudian menggali dan mempelajari permintaan yang paling bermanfaat bagi seorang hamba tersebut ternyata terdapat di dalam firman Allah Azza wa Jalla:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) [الفاتحة/5]

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al Fatihah: 5)

- Wasiat ini mengingatkan kita semua agar selalu bertawakkal atas segala usaha yang kita tempuh kepada Allah Azza wa Jalla. Menyerahkan semua hasil dan nilainya kepada Allah. Terlebih kepada thullabul ilmi (penuntut ilmu agama), dan para huffazh (para penghafal Al Qur’an), untuk senantiasa meminta bantuan kepada Allah karena dia sedang berusaha melakukan suatu amalan yang sangat besar dalam agama, bahkan para ulama menyebutkan; “jihad yang paling besar di masa ini adalah mempelajari agama Allah.” hendaknya selalu meminta bantuan kepada Allah karena ini adalah suatu amalan ketaatan, agar Allah memberi keistiqomahan padanya.

- Semoga wasiat aqidah kepada Ibnu Abbas ini dapat menjadi renungan bagi diri kita bahwa semua yang kita harapkan dari sisi Allah tidak akan bisa didapatkan melainkan dengan usaha yang besar. Hal ini Allah tegaskan di dalam firman-Nya:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (72) [الزخرف/72]

“Dan itulah al-jannah yang diwariskan kepada kalian disebabkan amal-amal yang dahulu kalian kerjakan.” (Az Zukhruf: 72)

Maka semuanya butuh pengorbanan dan perjuangan yang tidak kecil, ketika seseorang ingin meraih jannah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Jembatan yang paling mudah dan memudahkan untuk menuju jannah tersebut adalah thalabul ‘ilmu (menuntut ilmu agama), sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam :

« وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ».

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya dengannya (ilmu tersebut) jalan menuju al-jannah.” [HR. Muslim]

Ilmu-lah jalan yang paling mudah dan memudahkan untuk mencapai jannah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Inilah yang telah memudahkan jalan Abu Bakr Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, serta seluruh para shahabat yang lain radhiallahu ‘anhum untuk meraih kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Wallahua’lam bish shawab



PRINSIP DAN ADAB DALAM BERDAKWAH

  • Salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah As-Salafiyyin adalah upaya amar ma’ruf nahi munkar yaitu memerintahkan kebaikan kepada segenap manusia dan melarang mereka dari segenap kemungkaran. Allah Tabaraka wa Ta’ala sebutkan hal ini dalam firman-Nya:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) [آل عمران/104]

“Hendaklah ada dikalangan kalian (wahai kaum muslimin) sejumlah orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahihnya dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhubahwa Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallambersabda:

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ »

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia rubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” [HR. Muslim no. 49]

  • Bagian terpenting dari upaya amar ma’ruf nahi munkar ini adalah dengan berdakwah menyeru manusia kepada agama Allah U. Hal ini juga sebagai ciri khas dari setiap nabi dan rasul yang Allah utus. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tugas utama para rasul sebagaimana dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kalian kepada Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” (An-Nahl: 36)

  • Upaya dakwah ini haruslah dibangun di atas bashirah (’ilmu dan hujjah yang nyata). Hal ini sebagamana Allah tegaskan dalam kalam-Nya yang mulia:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (108) [يوسف/108]

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata), Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Di antara ahli tafsir ada yang menafsirkan ayat ini, bahwa salah satu ciri pengikut rasul adalah : mereka berdakwah/menyeru kepada agama Allah di atas bashirah.

  • Fadhilah (keutamaan) berdakwah di jalan Allah Tabaraka wa Ta’ala:

1. Orang-orang yang berdakwah kepada agama Allah (du’at), mereka adalah orang yang paling bagus ucapan, keterangan, dan perbicaraannya jika disertai amal shalih kepada Allah.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33) [فصلت/33]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushshilat: 33)

2. Dakwah yang menyebabkan hidayah dan taufik untuk satu orang, lebih baik dari pada dunia dan seisinya.

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallamdalam haditsnya yang diriwayatkan dari shahabat Sahl bin Sa’d As-Sa‘idi radhiallahu ‘anhutentang kisah ‘Ali bin Abi Thalib yang diutus ke Khaibar. Pada akhir hadits tersebut Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallambersabda:

« … فَوَاللهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » .

“….demi Allah kalau seandainya Allah memberi hidayah kepada satu orang lewat perantara kamu, maka itu lebih baik bagimu dari pada engkau memiliki unta merah.” (Muttafaqun’alaihi) [1])

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Oleh Para Da’i Ketika Berdakwah

1. Talaqqi Ilmi (menimba ilmu) sebelum dan ketika berdakwah

Sebagaimana hadits:

« طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ »

“Menuntut ilmu agama adalah wajib bagi setiap pribadi muslim.” [HR. Ibnu Majah] [2])

2. Ushul Talaqqi (hal-hal yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu ):

a) Niat yang ikhlas karena mengharap ridha Allah

« إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، … »

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan masing-masing orang akan diberi pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [Muttafaqun ‘alaih] [3])

Menuntut ilmu dia niatkan untuk menolong agama Allah, menghilangkan kejahilan, dan untuk dia amalkan. Bukan hanya sekedar untuk dikatakan hafizh, da’i, ustadz, atau untuk berbangga-bangga di hadapan orang-orang bodoh, mendebat para ulama, atau untuk mendapatkan sedikit dari urusan dunia ini. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallambersabda :

« مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ »

“Barangsiapa yang menuntut ilmu karena hendak mendebat para ‘ulama, atau berbangga-bangga di hadapan orang-orang bodoh, atau ingin perhatian orang tertuju pada dirinya, maka Allah akan masukkan ia ke dalam an-nar (neraka).” [HR. At-Tirmidzi] [4])

b) Taqdimu al-ahammi fal aham (mendahulukan yang terpenting kemudian yang penting berikutnya) dalam menuntut ilmu. Artinya dalam menimba ilmu tidak bisa langsung loncat tangga. Perlu tahapan demi tahapan, karena ilmu agama ini -sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama- bagaikan lautan yang tidak bertepi. Sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menguasai semua bidang ilmu. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلاً (85) [الإسراء/85]

“…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra’: 85)

  • Tahapan-tahapan dalam menuntut ilmu yaitu:
  1. Hifzhul Qur’an khususnya di usia muda.
  2. Menggali ushulul fan (kaidah masing-masing bidang ilmu). Seperti kata para ulama;

مَنْ حُرِمَ الأُصُولُ حُرِمَ الوُصُولُ

“Barangsiapa yang meninggalkan ushulul ilmi (prinsip-prinsip dasar ilmu), maka dia akan diharamkan untuk sampai pada ilmu tersebut.”

Ushul ilmu ini contohnya; ushul fiqh, ushul hadits, dan sebagainya.

  1. Berenang di lautan ilmu para ulama dengan pondasi ilmu yang sudah mapan.
  2. Sabar dan sungguh-sungguh dalam belajar.

- Kata pepatah

مَنْ ثَبَتَ نَبَتَ

“Barangsiapa yang kokoh ilmunya, maka dia akan menghasilkan ilmu tersebut.”

Jangan sampai ilmu kita tadawwuq yaitu hanya sekedar mencicipi ilmu tersebut tanpa mau serius dan sabar. Misalnya, sering pindah-pindah pondok atau berpindah-pindah pelajaran sebelum dia faham benar. Orang yang seperti tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat selamanya.

  1. Mengambil ilmu dari ahlinya.

- Orang yang kamu ambil ilmunya harus shahibus sunnah (orang yang berpegang pada as-sunnah), bukan dari ahlul hawa (pengikut hawa nafsu). Karena ilmu ini adalah agama sebagaimana kata Ibnu Sirin

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ!

“Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu.” [5])

- Orang yang berdakwah tetapi tidak disertai ilmu yang mapan, maka dia akan lebih banyak merusak dakwah dari pada memperbaikinya. Oleh karenanya bagi seseorang yang merasa belum mampu untuk berdakwah karena ilmunya belum mapan dan belum pas, maka hendaknya dia mengetahui kadar dirinya. “Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar dirinya.”

3. Harus menjadi uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi segenap kaum muslimin dan mad’u-nya (orang yang dia dakwahi)

- Jangan sampai ucapan dia menyelisihi amalannya atau sebaliknya amalannya menyelisihi ucapannya. Allah subhanahu wata’ala mengancam orang-orang yang berkata tetapi dia tidak mengamalkan apa yang dia katakan itu, sebagaimana dalam kalam-Nya yang mulia:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ (3) [الصف/2، 3]

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaf : 2-3]

- Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallamjuga telah mengabarkan bagaimana kesudahan orang-orang yang mengajak kepada kebaikan tetapi ternyata dia sendiri tidak mau mengerjakan kebaikan tersebut. Sebagaimana dalam hadits yang shahih dari shahabat Abu Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhubahwa Rasulullah menceritakan bahwa nanti di An-Naar ada seseorang yang diadzab oleh Allah dalam keadaan terurai isi perutnya dan dia menarik-nariknya. Kemudian para penduduk An Naar mengerumuninya dan mengatakan; “Wahai fulan, bukankah engkau di dunia dahulu memerintahkan kepada kami perkara kebaikan dan melarang kami dari perkara kejelekan? Jawabnya; “saya dahulu memerintahkan kebaikan tetapi tidak saya kerjakan, dan saya dahulu melarang kalian dari perkara kejelekan, tetapi justru saya yang melaksanakan.”

- Dalam hadits yang mulia di atas terkandung tanbih (peringatan) bagi orang-orang yang melanggar apa yang dia sampaikan sendiri. Oleh karenanya seorang da’i harus menjadi uswatun hasanah bagi kaum muslimin dalam segala aspek.

4. Harus benar-benar mengajari kaum muslimin dakwah yang sesungguhnya yaitu berdakwah kepada Allah, bukan berdakwah kepada kelompoknya atau golongannya.

Sebagaimana dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ [يوسف/108]

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku berdakwah ke jalan Allah di atas bashirah (ilmu).” (Yusuf: 108)

Dan juga firman-Nya:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ [النحل/125]

“Berdakwahlah ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”(An-Nahl: 125)

Perhatikan, Allah memerintahkan untuk berdakwah ke jalan-Nya. Menunjukkan bahwa dakwah ini bukanlah untuk kepentingan dunia, dakwah mengajak kepada kelompok atau golongan, dsb. Dakwah, adalah mengajak orang ke jalan Allah.

5. Harus mendidik umat agar menjadi ummatul ittiba’ (umat yang selalu mengikuti jalannya Rasulullah), bukan menjadi ummatut taqlid wa ta’assub (umat yang hanya membebek tanpa hujjah yang jelas)

Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا [آل عمران/103]

“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.”(Ali Imran:103)

Dan juga firman Allah Azza wa Jalla:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ [الأنعام/153]

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (Al An’am: 153)

Sehingga seorang da’i haruslah mengajari umat untuk selalu berpegang kepada dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah jika mendapati suatu masalah. Bukan mengajari mereka untuk taqlid dan ta’assub. Karena kita tidak boleh untuk mengikuti seseorang kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

6. Senantiasa menghubungkan dan mengenalkan umat dengan para ulama-nya.

Hal ini sebagai perwujudan dari perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) [النحل/43]

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kalian tidak mengetahui.” (An Nahl: 43)

- Para ulama adalah para pembawa ilmu yang merupakan warisan dari para anbiya’, sehingga jika umat dipisahkan dari para ulama-nya, maka berarti mereka juga dipisahkan dari ilmu agamanya dan tentunya ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kehancuran umat.

- Kecintaan kepada para ulama adalah salah satu ciri khas dari Ahlus Sunnah, sedangkan kebencian dan permusuhan kepada para ulama adalah ciri dari para pengekor hawa nafsu.

- Tetapi kecintaan Ahlus Sunnah kepada para ulamanya dibangun di atas tarbiyah ittiba’, bukan dibangun di atas tarbiyah taqlid.

7. Ikhlaskan niat dalam berdakwah hanya untuk mencari ridha Allah semata. Bukan untuk mengharapkan pujian dan balasan dari orang lain.

- Allah Tabaraka wa Ta’ala ceritakan tentang dakwah para nabi dan rasul ketika mereka berkata kepada kaumnya:

وَيَا قَوْمِ لاَ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللهِ [هود/29]

“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah.” (Hud: 29)

- Dakwah adalah ibadah dan amanah dari Allah, bukan untuk dijadikan alat mencari dunia.

8. Semua syarat-syarat di atas akan semakin indah jika dibungkus dengan sifat lyn wa rifq (lemah lembut) pada diri setiap da’i.

Allah I berfirman :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159) [آل عمران/159]

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. [Ali ‘Imran : 159]

Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallambersabda :

« إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ »

Sesungguhnya Ar-Rifq (sikap lembut) tidaklah ia ada pada sesuatu kecuali ia akan membuatnya indah, dan tidaklah dicabut Ar-Rifq dari sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek. [HR. Muslim] [6])


[1] HR. Al-Bukhari no. 2942, 3009, 3710, 4210; Muslim no. 2406.

[2] HR. Ibnu Majah no. 224, dari shahabat Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 224.

[3] HR. Al-Bukhari no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6953; Muslim no. 1907. dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab.

[4] HR. At-Tirmidzi no. 2654, dari shahabat Ka’b bin Malik. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2654.

[5] Driwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah Shahih-nya.

[6] HR. Muslim no. 2594, dari shahabat ‘Aisyah h.








renungan

Liburan Cibodas 17 Picture


Hidup Mulia dengan Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suri tauladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Para pembaca yang mulia, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua. Sibuk dengan ritual keagamaan belum menjadi jaminan seseorang telah shalih, alim, atau ahli ketaatan. Penampilan seseorang dalam beragama hendaknya diukur sejauh mana dirinya menerapkan amal shalih yang didasari keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan ini, maka amaliah seseorang akan menjadi sia-sia. Ia akan mendapatkan kehampaan pahala dan terseret ke arah amaliah yang jauh dari agama Islam itu sendiri.

Tentu merupakan sebuah kewajiban setiap muslim untuk beramal dalam agama Islam ini dengan mengikuti segala apa yang diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beragama yang baik dan benar bukanlah dengan dasar mengikuti amal perbuatan kebanyakan orang, bukan pula dengan mengikuti semangat yang menggebu semata atau karena kagum dengan figur tokoh tertentu. Akan tetapi menjalankan agama secara baik dan benar haruslah selaras dengan landasan keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan amaliahnya (prakteknya) mengikuti apa yang telah dituntunkan oleh rasul-Nya.

Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan Mengagungkannya

Mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang besar dan agung. Yang membutuhkan bukti dan praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya keadaan pada saat ini justru terjadi sebaliknya, fenomena yang ada pada sebagian kaum muslimin enggan menerima, mengabaikannya, bahkan mengolok-oloknya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

“Dan apa yang diperintahkan Rasul kepada kalian maka lakukanlah sedang apa yang beliau larang darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)

“Barangsiapa yang menaati Rasul berarti ia telah menaati Allah.” (An Nisa’: 80)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Ketiga ayat di atas menunjukkan secara tegas bagaimana semestinya sikap seorang muslim menempatkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu wajib mengambilnya. Hal ini merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi. Kemudian menjadikan sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah dan melakukan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas Al-Qur’an bukan sekedar menyampaikan atau membacakannya secara lafazh saja, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An Nahl: 44)

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya mewasiatkan bagi kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pimpinan, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka di saat seperti itu wajib atas kalian bepegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa’ Ar Rasyidin. Gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat!” (Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi dari hadits Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, no. 2549)

Barakah Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Ketahuilah! Siapa saja dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berupaya untuk senantiasa mengikuti dan menaati beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ikhlas serta menjadikannya sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, maka sungguh ia akan mendapatkan sekian banyak keutamaan yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya adalah sebagaimana keterangan berikut ini:

1. Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Merupakan Sebab Diterimanya Suatu Amalan

Telah kita ketahui bersama bahwa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan dalam melandasi suatu amal agar diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya, apabila hilang salah satu dari keduanya, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan hendaknya kita khawatir suatu amal shalih yang kita kerjakan akan ditolak atau tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu keutamaan terbesar dalam Ittiba’us Sunnah (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah diterimanya suatu amalan.

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat keberkahan dalam mengikuti syari’at, meraih keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, meninggikan derajat, menentramkan hati, menenangkan badan, membuat marah syaithan, dan berjalan di atas jalan yang lurus.” (Dharuratul Ihtimam, hal. 43)

2. Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Membuahkan Persatuan Kaum Muslimin

Para pembaca yang mulia, setiap muslim tentu sangat merindukan terwujudnya persatuan kaum muslimin. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa persatuan merupakan perkara yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan perpecahan merupakan perkara yang dibenci dan dilarang oleh-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Di dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/367)

Adapun asas bagi persatuan yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bukan berasaskan kesukuan, organisasi, kelompok, daerah, partai, dan sebagainya. Akan tetapi asasnya adalah: Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As-Salafush Shalih (para shahabat Rasulullah, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).

Al Imam Al Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan ayat 103 surat Ali Imran di atas menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan kitab-Nya (Al Qur’an) dan sunnah nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Allah subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal keyakinan dan amalan. Hal ini agar kaum muslimin bersatu dan tidak tercerai-berai, sehingga akan meraih kemaslahatan dunia dan agama, serta selamat dari perselisihan. (Lihat Tafsir Al Qurthubi, 4/105)

Mengapa harus dengan pemahaman As Salafus Shalih (para shahabat Rasulullah, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in)?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sebagaimana tidak ada generasi yang lebih sempurna dari generasi para shahabat, maka tidak ada pula kelompok setelah mereka yang lebih sempurna dari para pengikut mereka. Maka dari itu, siapa saja yang lebih kuat dalam mengikuti hadits Rasulullah dan sunnahnya, serta jejak para shahabat, maka ia lebih sempurna. Kelompok yang seperti ini keadaannya, akan lebih utama dalam hal persatuan, petunjuk, berpegang teguh dengan tali (agama) Allah, dan lebih terjauhkan dari perpecahan, perselisihan, dan fitnah. Dan barangsiapa yang menyimpang jauh dari itu (Sunnah Rasulullah dan jejak para sahabat), maka ia akan semakin jauh dari rahmat Allah dan semakin terjerumus ke dalam fitnah.” (Minhajus Sunnah, 6/368)

3. Pahala Besar Bagi Orang Yang Berpegang Teguh Dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Ada seseorang yang bertanya: “Lima puluh dari mereka, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Pahala lima puluh dari kalian.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 494)

4. Jaminan Istiqomah dan Hidayah Bagi Orang Yang Berpegang Teguh dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Selama seseorang berada di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia akan tetap berada di atas jalan istiqomah. Sebaliknya, jika tidak demikian, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus. Sebagaimana yang dikatakan oleh shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu:

“Manusia akan senantiasa berada di atas jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 197).

Shahabat ‘Urwah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mengikuti sunnah-sunnah Nabi adalah tonggak penegak agama.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 198).

Salah seorang tabi’in bernama Ibnu Sirin mengatakan: “Dahulu mereka mengatakan: selama seseorang berada di atas jejak Nabi, maka ia berada di atas jalan yang lurus.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 200)

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Dan jika kalian menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.” (An Nur: 54)

Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata: “Jika kalian menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus, baik ucapan maupun perbuatan. Dan tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah melainkan dengan menaatinya, dan tanpa (menaatinya) tidak mungkin (akan mendapatkan hidayah) bahkan mustahil.” (Tafsir As Sa’di, hal. 521)

5. Mendapatkan Cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala dan akan masuk Al Jannah (surga)

Para pembaca yang mulia, bukankah kita semua ingin mendapatkan cinta dari Allah? Ketahuilah! Bahwa cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan diperoleh dengan mengikuti dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya):

“Katakanlah (wahai Muhammad!): “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku! Niscaya Allah pasti akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Setiap umatku akan masuk Al Jannah (surga) kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya: “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku, ia akan masuk Al Jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Al Bukhari)

Wahai saudaraku sesama muslim! Sepatutnya bagi kita semua selalu berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menyesuaikan segala amal ibadah kita dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berdasarkan dalil-dalil shahih. Dan kita tidak akan dapat mengetahuinya melainkan dengan belajar ilmu syar’i (agama).

Penutup

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita untuk senantiasa mempelajari ilmu agama Islam ini yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat nabi radhiyallahu ‘anhum di bawah bimbingan ulama` pewaris Nabi. Dan memberikan kekuatan serta keistiqomahan dalam menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar tergapai kemuliaan hidup yang hakiki di dunia maupun akhirat.

Amin Ya Rabbal ‘Alamin.




TEMPUH JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN!

WASPADAI JALAN MENUJU KEBINASAAN!

(Nasehat dari Samahatul Imam Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah)

Perhatikanlah -wahai saudaraku- bimbingan ini! Takutlah engkau akan ringannya timbangan amalanmu! Takutlah engkau akan diberikannya catatan amalan engkau dari arah kiri, karena sesungguhnya itu semua adalah musibah yang besar, maka bersemangatlah engkau untuk menjalani sebab-sebab (amalan) yang bisa mengantarkan kepada kebahagiaan dan keberhasilan, yang bisa memberatkan timbangan amalanmu, dan diberikannya catatan amalanmu dari arah kanan, sehingga engkau menjadi orang yang sukses dan berhasil.

Kehidupan dunia ini adalah tempat untuk mengkoreksi diri, maka koreksilah diri engkau, lihatlah senantiasa amalan-amalan engkau siang dan malam sampai engkau meninggal, jika seandainya engkau adalah orang yang terus istiqamah, maka panjatkanlah puji kepada Allah dan bersyukurlah kepada-Nya, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, mohonlah taufiq dan tsabat kepada Rabb engkau. Adapun jika engkau telah mengurangi dan menghilangkan sebagian amalan ketaatan engkau, maka koreksilah diri engkau, bertaubatlah kepada Allah dan istiqamahlah di atasnya, kembalilah kepada amalan-amalan kebajikan yang dulu engkau menyepelekannya, beristiqamahlah untuk menjalankan perintah-perintah Allah, jauhilah larangan-larangan-Nya dengan bersumber dari niatan yang jujur, keikhlasan kepada Allah, dan dengan mengharap keutamaan yang ada di sisi Allah, serta sikap yang jujur.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)

Maka kejujuran itu adalah suatu keharusan.

فَلَوْ صَدَقُوا اللهَ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ.

“Jikalau mereka jujur (imannya) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)

Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman di akhir surat Al-Ma’idah:

هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur kejujuran mereka, bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Al-Ma’idah: 119)

Inilah keadaan orang-orang yang jujur, orang-orang yang jujur kepada Allah dalam menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh-Nya, jujur dalam kesungguhannya untuk berbuat kebajikan dan bersegeranya dalam mengerjakan kebajikan tersebut, jujur dalam beramar ma’ruf nahi munkar, saling menasehati dalam kebenaran dan menjalankan nasihat Lillah (dengan cara menunaikan hak-hak Allah ‘azza wajalla, pent) dan menjalankan nasihat bagi hamba-hamba Allah (dengan cara menunjukkan kepada mereka jalan-jalan kebaikan, pent).

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh untuk berjihad melawan hawa nafsunya, dia akan mendapatkan kesudahan yang baik, akhir yang terpuji, serta keberuntungan di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang telah menyia-nyiakan dan tidak mempedulikannya, maka dia akan menyesal di kemudian hari.

Maka wajib bagi engkau untuk selalu mengingat dan mengkoreksi diri setiap malam dan siang: Apa saja yang telah engkau perbuat!? Apa saja kekurangan engkau!? Sehingga engkau mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibanmu.

Berhati-hatilah dari teman bergaul yang jelek yang bisa menjauhkan engkau dari kebaikan dan membantu engkau untuk berbuat kejelekan. Wajib bagi engkau untuk bergaul dengan orang-orang baik yang jika engkau ingat, mereka akan membantumu, dan jika engkau lupa mereka akan mengingatkanmu dengan kebaikan dan bersungguh-sungguh di dalamnya bersamamu, mereka akan menabahkan hati engkau, membantu, dan memberi semangat kepada engkau untuk selalu berbuat baik.

Wajib bagi engkau untuk berteman dengan orang-orang yang baik, karena seseorang itu dinilai dari agama teman duduknya dan teman karibnya, maka bersemangatlah untuk berteman dengan orang-orang baik yang akan membantu engkau dalam kebaikan dan mengingatkan engkau jika lupa, serta akan memberikan semangat jika engkau malas.

Wajib bagi engkau untuk berteman dengan orang-orang baik, berhati-hatilah dari bergaul dengan orang-orang jelek yang akan menjauhkan engkau dari kebaikan dan menyeret engkau kepada kejelekan. Berhati-hatilah dari berteman dengan mereka.

Seorang mukmin itu sesuai dengan keadaannya, jika dia memberikan nasehat lillah (untuk menunaikan hak-hak Allah) dan li’ibadihi (menunjukkan jalan-jalan kebaikan kepada hamba-hamba Allah), serta berteman dengan orang-orang yang baik, maka dia akan bahagia dengan kebahagiaan yang sangat, dan jika dia menyepelekannya dan bahkan membuang itu semua, maka dia menyesal dengan penyesalan yang sangat. Dan engkau -wahai hamba Allah-, berakhlaklah dengan akhlak mukminin dan senantiasalah engkau untuk berakhlak demikian.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

“Dan adalah orang-orang yang beriman baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain, mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan mendapatkan rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى ، قيل : يا رسول الله ! من يأبى !؟ قال : من أطاعني دخل الجنة ، ومن عصاني فقد أبى.

“Seluruh ummatku akan masuk al-jannah kecuali orang-orang yang enggan. Maka dikatakan kepada beliau: Wahai Rasulullah siapa orang-orang yang enggan itu? Beliau bersabda: Barangsiapa yang taat kepadaku, maka dia akan masuk al-jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh dia telah enggan.”

Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan masuk al-jannah dan sukses meraih kebahagiaan. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah enggan (untuk masuk al-jannah) dan menyebabkan kemurkaan Allah dan adzab-Nya.

Maka yang wajib adalah berhati-hati dan bersungguh-sungguh berjihad melawan hawa nafsunya. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Kami, maka sungguh-sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang berbuat baik.” (Al-’Ankabut: 69).

Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ.

“Dan benar-benar Kami akan menguji kalian sampai Kami tahu siapa yang benar-benar berjihad dan sabar di antara kalian dan akan Kami kabarkan keadaan kalian.” (Muhammad: 31).

Maka sudah seharusnya seseorang itu untuk selalu bersungguh-sungguh dan bersabar. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ.

“Barangsiapa bersungguh-sungguh maka sesungguhya dia telah bersungguh-sungguh untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sesuatupun dari alam semesta ini.” (Al-’Ankabut: 6).

Bersungguh-sungguhlah untuk berjihad melawan hawa nafsu engkau sendiri, semoga engkau mendapatkan keberuntungan. Posisi engkau dalam keadaan terancam bahaya karena dunia ini adalah negeri (tempat) yang membahayakan, negeri penuh dengan tipuan dan fitnah.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ.

“Dan tidaklah dunia itu kecuali hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ.

“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian bagimu.” (At-Taghabun: 15).

Sesungguhnya engkau berada di negeri (tempat) yang menipu, penuh dengan fitnah (ujian), syahwat, negeri yang mengajak manusia untuk mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah ‘azza wajalla, maka wajib bagi engkau untuk berhati-hati selama engkau masih hidup di dunia ini, bersungguh-sungguhlah untuk berjihad melawan hawa nafsu engkau, bersabarlah dalam menjalankan ketaatan kepada Rabb engkau, jauhilah segala bentuk maksiat kepada-Nya, tetaplah bersama dengan orang-orang yang baik dan jauhilah teman bergaul yang jelek. Inilah jalan menuju kebahagiaan, jalan menuju keberhasilan, jalan menuju kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرًا يفقهه في الدين.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi seseorang, maka Allah akan memberikan kepahaman dalam agama kepadanya.”

Maka wajib bagi engkau untuk mempelajari ilmu syar’i serta berupaya untuk memahami dan berilmu tentang agama ini.





Secercah Nasehat ‘Tuk Para Pemuda

Para pembaca, semoga Allah ‘azza wajalla selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Tidak diragukan lagi bahwa manusia yang memiliki fitrah yang suci pasti mencita-citakan kebahagiaan dan ketentraman dalam kehidupannya, terkhusus pada zaman sekarang yang penuh dengan fitnah. Sesuatu yang diharamkan Allah ‘azza wajalla dianggap sebagai sesuatu yang halal, perbuatan yang melanggar norma-norma agama dianggap sebagai hal yang lumrah dan wajar. Masyarakat pun bertambah hari semakin jauh dari bimbingan Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh dalam kondisi seperti ini seorang hamba sangat butuh dengan pertolongan Allah ‘azza wajalla.

Saudaraku seiman…

Merupakan fitrah yang telah Allah jadikan pada diri manusia bahwa kaum lelaki memiliki ketertarikan (kecintaan) kepada kaum wanita dan juga sebaliknya, Allah ‘azza wajalla dalam Al-Qur’an menyatakan (artinya);

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada sesuatu yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)

Allah ‘azza wajalla memberitakan bahwa kecintaan kepada kenikmatan-kenikmatan dunia tersebut ditampakkan indah dan menarik di mata manusia. Allah ‘azza wajalla menyebutkan beberapa jenis kenikmatan dunia secara khusus, karena ia merupakan ujian yang paling dahsyat, sedangkan yang selainnya mengikuti. Tatkala ia ditampakkan indah dan menarik kepada manusia, kemudian disertai faktor lain yang menghiasinya, maka jiwa-jiwa mereka akan bergantung dengannya. Hati-hati mereka pun akan cenderung kepadanya. (Lihat Taisir Al Karimirrahman, hal. 124)

Dengan demikian Allah ‘azza wajalla telah menjadikan kecenderungan atau kecintaan kepada wanita dalam hati para lelaki dan tertarik ketika melihatnya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan dalam sebuah haditsnya;

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnahnya) wanita.” (HR. Al Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 6880)

Akan tetapi Allah ‘azza wajalla dengan hikmah-Nya memiliki syari’at yang mengatur hubungan keduanya (laki-laki dan wanita). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَر وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لمَ ْيَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu untuk menikah, hendaknya bersegera menikah, karena yang demikian itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu hendaknya dia bershaum (puasa) karena itu adalah pemutus syahwatnya.” (HR. Al Bukhari no. 1905 dan Muslim no. 1400)

Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam hafizhahullah menjelaskan bahwa pengkhususan para pemuda dalam hadits diatas karena kebanyakan yang memiliki syahwat kuat adalah para pemuda, dibanding orang lanjut usia. (Taudhihul Ahkam hal. 214)

Adapun yang dimaksud dengan البَاءَةَ (kemampuan) disini adalah kemampuan untuk menikah baik fisik, maupun harta, berupa pemberian mahar dan nafkah. (Lihat Syarh Bulughul Maram Ibnu ‘Utsaimin)

Sungguh mulianya agama ini, dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam manusia termulia dan paling bertaqwa yang senantiasa membimbing umatnya agar selamat dari makar syaithan yang berupaya menjerumuskan anak manusia kepada kemaksiatan. Dengan menikah, seseorang dapat meraih ketenangan jiwa serta melahirkan kasih sayang antara laki-laki dan wanita dengan penuh keridhaan Ilahi.

DEFINISI NIKAH

Asy Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa nikah secara bahasa artinya berkumpul. Adapun secara istilah syari’at adalah berkumpulnya antara laki-laki dan wanita yang dibangun diatas aturan syari’at yang khusus, berupa akad nikah dan syarat-syarat yang sudah diketahui bersama. (Syarh Bulughul Maram, Kitabun Nikah hal. 419)

Nikah juga bisa diistilahkan dengan sebuah ikatan (akad) antara seorang laki-laki dan wanita yang apabila terpenuhi segala rukun dan syaratnya, maka halal bagi keduanya (untuk bersentuhan atau yang selainnya) dari apa yang dibolehkan dan dihalalkan dalam ketentuan syari’at. Adapun sebelum adanya akad, maka tidak diperbolehkan. Sebagaimana yang dijelaskan Asy Syaikh Abdullah Al Bukhari hafizhahullah.

DISYARI’ATKANNYA NIKAH

Menikah, wahai saudaraku muslim merupakan sunnah yang diajarkan dan ditekankan dalam agama ini. Bahkan, ketika seseorang telah menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh dari agamanya. (Lihat Ash Shahihah 2/199). Menikah juga merupakan sunnah para rasul ‘alaihimussalam terdahulu. Allah ‘azza wajalla berfirman (artinya);

“Sungguh Kami telah mengutus para rasul sebelummu dan Kami jadikan untuk mereka istri-istri dan anak keturunan.” (Ar-Ra’d: 38)

Dalam ayat-Nya yang lain pula Allah ‘azza wajalla memerintahkan para wali (orang tua/wali) untuk menikahkan putra-putrinya yang telah mampu untuk menikah. Allah ‘azza wajalla berfirman (artinya);

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya (budak) kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penyampai dan penjelas wahyu ilahi, telah menyampaikan dan menjelaskan tentang sunnah (nikah) tersebut kepada umat ini. Suatu hari datang 3 (tiga) orang kepada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika diberi kabar bagaimana ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sepertinya mereka menganggap sedikit apa yang mereka amalkan. Maka diantara mereka berkata, “Adapun saya, akan shalat malam dan tak akan tidur.” Yang lain berkata, “Aku akan puasa terus menerus dan tak akan berbuka.” Yang lainnya lagi berkata, “Aku tak akan menikahi wanita.” Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan diberitahu tentang ucapan mereka ini, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ ِللهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Kalian yang berkata demikian dan demikian, ketahuilah aku adalah orang yang paling takut kepada Allah ‘azza wajalla daripada kalian dan yang paling bertaqwa. Akan tetapi aku sholat malam dan tidur, aku berpuasa serta berbuka, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan golonganku (bukan berada diatas sunnahku dan jalanku).” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

MANFAAT PERNIKAHAN

Merupakan suatu yang mustahil jika Allah ‘azza wajalla Yang Maha Pencipta, Pengatur dan Pemelihara alam semesta ini dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pengemban risalah agama ini memerintahkan sebuah amalan ibadah tanpa ada hikmah dan tujuan. Tidak ada amalan ibadah yang diperintahkan dalam syari’at ini melainkan dibalik itu mengandung manfaat yang besar, termasuk pernikahan. Diantara hikmah dan manfaat pernikahan adalah kesempatan menjalankan perintah Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yang hakekatnya merupakan puncak kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat. Selain itu akan terjalin kasih sayang antara suami dan istri yang diridhoi oleh Allah ‘azza wajalla, sebagaimana firman-Nya (artinya);

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat diatas, “Maka dengan adanya istri tersebut dapat diraih kenikmatan dan kelezatan dalam hidup, diperoleh kemanfaatan yang besar berupa (lahirnya) anak-anak, adanya pendidikan terhadap mereka, dan diperoleh juga ketenangan hidup bersamanya (istri). Maka tidaklah engkau dapati pada diri seseorang secara umum seperti yang didapati pada sepasang suami istri dalam hal kasih sayang.” (Taisir Al Karimirrahman hal. 639).

Islam telah menjadikan pernikahan sebagai ibadah, sebab dengan pernikahan tersebut seseorang dapat menjaga dirinya dari keburukan fitnah, membatasi pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Pernikahan juga dapat menjaga dan membentengi diri seseorang dari syaithan yang selalu mengajak dan menjerumuskan anak adam ke dalam perbuatan keji (zina).

NASEHAT

Wahai para pemuda rahimakumullah…

Ketahuilah, seseorang tidak akan menemukan kekecewaan bila ia menjadikan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai prinsip dalam meniti sebuah kehidupan. Karena dengan mengikuti bimbingannya seseorang akan terbimbing untuk menempuh jalan yang lurus, dan tidak akan tersesat. Allah ‘azza wajalla menyatakan (artinya);

“Dan jika kalian menaatinya (Rasulullah) niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk” (An-Nur: 54)

Jika engkau sudah mampu untuk menikah, menikahlah karena menikah merupakan perintah Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Janganlah seseorang takut dan tidak menikah karena terpengaruh dengan bisikan syaithan dengan dibayangi kesulitan ekonomi dan kemiskinan. Hati-hatilah dari membujang (menahan diri dari menikah) hanya karena khawatir tidak mampu menanggung beban hidup. Bertawakallah kepada Allah ‘azza wajalla dengan disertai ikhtiar, niscaya Allah ‘azza wajalla akan mewujudkan janji-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya);

“Dan barangsiapa yang bertawakkal (menyandarkan dirinya) kepada Allah niscaya Allah akan cukupkan keperluannya.” (At-Thalaq: 3)

Juga Allah ‘azza wajalla berjanji dalam firman-Nya:

“Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nuur: 32)

Dalam sebuah hadits, sebagaimana diriwayatkan dari shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُمْ: اَلْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ العَفَافَ، وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ.

“Tiga golongan yang Allah pasti akan menolong mereka: budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah dengan tujuan menjaga kehormatanya dari perkara-perkara yang diharamkan, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa’i, Kitabun Nikah, Bab Ma’unatullah An-Nakih Al ladzi Yuridul ‘Afaf, no. 3218, 3120).

Hilangkan bayangan kemiskinan dan kesengsaraan, sebab semua urusan di tangan Allah ‘azza wajalla, Allah akan bukakan jalan keluar dari berbagai kesulitan dalam hidup ini jika kita berusaha sekuat tenaga untuk bertaqwa kepada-Nya. Allah ‘azza wajalla berfirman (artinya);

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan jadikan untuknya jalan keluar. Dan memberi rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka.” (At-Thalaq: 2-3)

Para pemuda, semoga Allah ‘azza wajalla merahmati kita semua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah memberi solusi bagi pemuda yang belum mampu untuk menikah agar ia berpuasa. Dengan berpuasa ia lebih mampu untuk mengendalikan hawa nafsunya, lebih menjaga kehormatan dan pandangannya dari perkara yang diharamkan, sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas. Bukan dengan cara-cara yang tidak syar’i, seperti onani, karena yang demikian juga diharamkan.

PENUTUP

Para pembaca yang kami cintai, dengan ini marilah kita bersama-sama berusaha menjadikan petunjuk Allah ‘azza wajalla dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang telah di pahami dan dipraktekkan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai jalan satu-satunya meraih keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Dengan mengamalkannya, hidup kita akan senantiasa terjaga dan diliputi ridha dari Yang Maha Pencipta, Pemilik, Pengatur dan Pemelihara alam ini.

Wallahu a’lam bish shawaab.




Simpanan yang Tak Akan Sirna

Manusia umumnya gemar menumpuk atau menimbun harta. Namun mungkin tak pernah disadari bahwa harta mereka yang hakiki adalah yang disuguhkan pada kebaikan.

Banyak orang berlomba-lomba mencari harta dan menabungnya untuk simpanan di hari tuanya. Menyimpan harta tentunya tidak dilarang selagi ia mencarinya dari jalan yang halal dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya atas harta tersebut, seperti zakat dan nafkah yang wajib.

Namun ada simpanan yang jauh lebih baik dari itu, yaitu amal ketaatan dengan berbagai bentuknya yang ia suguhkan untuk hari akhir. Suatu hari yang tidak lagi bermanfaat harta, anak, dan kedudukan. Harta memang membuat silau para pecintanya dan membius mereka sehingga seolah harta segala-galanya. Tak heran jika banyak orang menempuh cara yang tidak dibenarkan oleh syariat dan fitrah kesucian seperti korupsi, mencuri, dan menipu. Padahal betapa banyak orang bekerja namun ia tidak bisa mengenyam hasilnya. Tidak sedikit pula orang menumpuk harta namun belum sempat ia merasakannya, kematian telah menjemputnya sehingga hartanya berpindah kepada orang lain. Orang seperti ini jika tidak memiliki amal kebaikan maka ia rugi di dunia dan di akhirat. Sungguh betapa sengsaranya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Dan firman-Nya:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (An-Nahl: 96)

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Tatkala turun ayat:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak…” (At-Taubah: 34)

Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata:

Dahulu kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian safarnya. Lalu sebagian sahabat berkata: “Telah diturunkan ayat mengenai emas dan perak seperti apa yang diturunkan. Kalau seandainya kita tahu harta apa yang terbaik yang kita akan mengambilnya?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُهُ لِسَانٌ ذَاكِرٌ وَقَلْبٌ شَاكِرٌ وَزَوْجَةٌ مُؤْمِنَةٌ تُعِينُهُ عَلىَ إِيْمَانِهِ

“Yang utama adalah lisan yang berdzikir, hati yang syukur dan istri mukminah yang membantunya (dalam melaksanakan) agamanya.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 3/246-247, no. 3094, cet. Al-Ma’arif)

Tingkatan-tingkatan Amalan

Amal ketaatan yang dijadikan sebagai simpanan memiliki tingkatan keutamaan dari sisi penekanan dalam pelaksanaannya dan dari sisi pengaruh yang muncul darinya. Adapun dari sisi penekanan, amal-amal yang wajib didahulukan dari yang sunnah. Disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيِءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan atasnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6502)

Demikian pula, sesuatu yang maslahatnya lebih besar didahulukan dari yang lebih kecil. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Menimba ilmu lebih utama daripada shalat sunnah.” (Mawa’izh Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 53)

Hal itu karena manfaat dari ilmu sangat luas, yaitu untuk dia dan orang lain. Demikian pula suatu amalan lebih mulia dari yang lainnya karena kondisi, waktu, tempat, dan orang yang melakukannya. Suatu contoh, shadaqah yang dikeluarkan oleh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun sebesar dua cakupan tangan tidak bisa tertandingi nilainya dengan shadaqah kita, meskipun sebesar gunung Uhud. Dalam kondisi seorang tidak bisa menggabungkan antara amalan yang mulia dengan yang di bawahnya, maka dia mendahulukan yang lebih mulia. Termasuk kesalahan jika seorang mementingkan amalan yang sunnah sehingga meninggalkan yang wajib.

Luasnya Rahmat Allah subhanahu wa ta’ala

Kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala terhadap hamba-Nya begitu luas. Kalau saja orang kafir dan ahli maksiat di dunia ini masih selalu diberi rizki oleh Allah subhanahu wa ta’ala, padahal mereka berada di atas kesesatannya, maka tentunya orang yang beriman dan beramal shalih akan mendapatkan berbagai limpahan nikmat dan karunia-Nya di dunia ini, serta terus bersambung hingga di hari kiamat nanti. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Orang yang menggabungkan antara iman dan amal shalih akan Allah subhanahu wa ta’ala beri kehidupan yang baik di dunia ini, berupa tentramnya jiwa dan rizki yang halal lagi baik. Adapun di akhirat kelak, dia akan memperoleh berbagai kelezatan yang mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarnya, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.

Termasuk bentuk luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala adalah dilipatgandakannya pahala amalan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya(dirugikan).” (Al-An’am: 160)

Demikian pula, amal kebaikan akan mengangkat derajat pelakunya dan menghapus dosa yang dilakukannya.

Barakah Keikhlasan

Tidak akan pernah merugi orang yang mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amalan yang sesuai petunjuk syariat dan dibarengi dengan keikhlasan hati. Orang yang memiliki sifat tersebut akan mendapat barakah pada hartanya, anak keturunannya, dirinya, serta akan diselamatkan dari marabahaya. Dahulu, di zaman Bani Israil ada seorang lelaki yang shalih lalu wafat dan meninggalkan dua anaknya sebagai anak yatim. Kedua anak tersebut, karena kecil dan lemahnya, Allah subhanahu wa ta’ala jaga harta warisan dari orangtuanya sehingga tidak hilang atau rusak, seperti dalam surat Al-Kahfi ayat 82.

Suatu ketika ada tiga orang dari umat sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bermalam di suatu goa. Ketika mereka berada di dalamnya, tiba-tiba jatuh batu besar hingga menutupi pintunya. Mereka yakin bahwa mereka tidak akan bisa keluar kecuali dengan ber-tawassul (menjadikan amal sebagai perantara) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Masing-masing menyebutkan amalannya yang ia pandang paling ikhlas. Allah subhanahu wa ta’ala kabulkan permohonan mereka. Batu tersebut bergeser sehingga mereka bisa keluar dari goa.

Perhatikanlah wahai saudaraku, bahwa orang yang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan berbagai ketaatan di saat lapang maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengenalnya di saat dia susah. Sungguh manusia mendambakan kedamaian hidup dan terhindar dari berbagai bencana, tetapi mereka tidak mendapatkannya kecuali ketika mereka tunduk terhadap aturan Allah subhanahu wa ta’ala dan bersimpuh di hadapan-Nya.

Tidak Meremehkan Kebaikan Sekecil Apapun

Allah Maha Adil dan tidak mendzalimi hamba-Nya. Barangsiapa yang melakukan kebaikan sekecil apapun pasti dia akan melihat balasan kebaikannya. Sebagaimana kalau ia berbuat dosa selembut apapun niscaya dia melihat pembalasannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يِا نِسَاءَ الْـمُسْلِمَاتِ، لاَ تَحْقِرْنَ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai wanita muslimah, janganlah seorang tetangga menganggap remeh (pemberian) tetangganya, walaupun sekadar kaki kambing.” (HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Adab dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hadits ini adalah larangan bagi yang akan memberikan hadiah untuk menganggap remeh apa yang akan ia berikan kepada tetangganya, walaupun sesuatu yang sedikit. Karena yang dinilai adalah keikhlasan dan kepedulian terhadap tetangganya. Juga, karena memberi sesuatu yang banyak tidak bisa dimampu setiap saat. Demikian pula, hadits ini melarang orang yang diberi hadiah dari meremehkan pemberian tetangganya. (Lihat Fadhlullah Ash-Shamad, 1/215-216)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

“Tatkala ada seekor anjing berputar-putar di sekitar sumur yang hampir mati karena haus, tiba-tiba ada seorang wanita pezina dari para pezina Bani Israil. Lalu ia melepas khuf (sepatu dari kulit yang menutupi mata kaki) miliknya, kemudian ia mengambil air dengannya dan memberi minum anjing tersebut. Maka ia diampuni (oleh Allah subhanahu wa ta’ala) karenanya.” (Riyadhush Shalihin, Bab ke-13, hadits no. 126)

Lihatlah wahai saudaraku, karena memberi minum seekor binatang yang kehausan, dia mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka, orang yang memberi minum manusia, baik dengan cara menggali sumur atau mengalirkan parit dan semisalnya, tentunya sangat besar pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Tujuh (perkara) yang pahalanya mengalir bagi hamba sedangkan dia berada di kuburannya setelah matinya: (yaitu) orang yang mengajarkan ilmu, atau mengalirkan sungai, atau menggali sumur, atau menanam pohon kurma, atau membangun masjid atau mewariskan (meninggalkan) mushaf (Al-Qur`an) atau meninggalkan anak yang memintakan ampunan baginya setelah matinya.” (HR. Al-Bazzar dan dihasankan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’, no. 3602)

Dan tersebut dalam hadits:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنْحِيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لاَ يُؤْذِيْهِمْ. فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

“Ada seorang lelaki melewati suatu dahan pohon di tengah jalan, lalu dia mengatakan: ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan dahan ini dari kaum muslimin sehingga tidak mengganggu mereka.’ Maka orang tersebut dimasukkan (oleh Allah subhanahu wa ta’ala) ke dalam jannah (surga).” (HR. Muslim, Riyadhus Shalihin Bab Fi Bayani Katsrati Thuruqil Khair)

Coba renungkan hadits tadi dengan baik. Bagaimana orang tersebut dimasukkan ke dalam jannah karena melakukan cabang keimanan yang terendah, yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Bagaimana kiranya orang yang melakukan cabang iman yang lebih tinggi dari itu?

Inti dari ini semua, lapangan untuk kita beramal shalih sangatlah banyak. Jika kita tidak mampu mengamalkan suatu kebaikan, maka ada pintu lain yang bisa kita masuki. Juga, terkadang seseorang menganggap suatu amalan itu remeh padahal di sisi Allah subhanahu wa ta’ala itu besar. Kemudian yang terpenting pula dari itu, bahwa pahala akhirat itu tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Shalat sunnah sebelum shalat subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya, karena apa yang ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala akan kekal. Sedangkan dunia, seberapapun seorang mendapatkannya maka ia akan lenyap.

Harta Kita yang Sesungguhnya

Umumnya, kita menganggap bahwa harta yang disimpan itulah harta kita yang sesungguhnya. Padahal sebenarnya harta kita adalah yang telah kita suguhkan untuk kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ. قَالَ: فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

“Siapa di antara kalian yang harta ahli warisnya lebih dia cintai dari hartanya (sendiri)?” Mereka (sahabat) menjawab: “Wahai Rasulullah, tidak ada dari kita seorangpun kecuali hartanya lebih ia cintai.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hartanya adalah yang ia telah suguhkan, sedangkan harta ahli warisnya adalah yang dia akhirkan.” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata:

“Dalam hadits ini ada anjuran untuk menyuguhkan apa yang mungkin bisa disuguhkan dari harta pada sisi-sisi taqarrub kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kebaikan. Supaya ia nantinya bisa mengambil manfaat darinya di akhirat. Karena segala sesuatu yang ditinggalkan oleh seseorang, maka akan menjadi hak milik ahli warisnya. Jika nantinya ahli waris menggunakan harta itu dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka hanya ahli warisnya yang dapat pahala dari itu. Sedangkan yang mewariskannya hanya dia yang lelah mengumpulkannya….” (Fathul Bari, 11/260)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menuturkan bahwa dahulu sahabat menyembelih kambing, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang masih tersisa dari kambing itu?” ‘Aisyah berkata: “Tidak tersisa darinya kecuali tulang bahunya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semuanya tersisa, kecuali tulang bahunya.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2470)

Maksudnya, apa yang kamu sedekahkan maka itu sebenarnya yang kekal di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan yang belum disedekahkan maka itu tidak kekal di sisi-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.





Waktu, Nikmat Yang Terlalaikan

Detik demi detik waktu terus berlalu, tidak terasa umur kita sudah 10 tahun, kemudian 20 tahun, kemudian 50 tahun, dan seterusnya. Hari berganti hari, tanpa mampu kita mencegahnya. Sebagai insan yang beriman dan berakal, selayaknyalah kita mengevaluasi dan mengintrospeksi diri apakah waktu yang telah kita lalui, kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, ataukah waktu itu kita buang sia-sia belaka, berlalu bak angin yang berhembus dan awan yang melintas.

Allah subhanahu wata’ala menyebutkan dalam ayat-Nya yang mulia:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا.

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Al-Furqan: 62)

Dari ayat ini, kita mendapatkan pelajaran bahwa Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan malam dan siang agar kita dapat mengisi waktu dan kesempatan yang kita miliki dengan sesuatu yang bermanfaat.

Waktu, betapa penting dan agungnya perkara yang satu ini sampai-sampai Allah subhanahu wata’ala bersumpah dengannya sebagaimana termaktub dalam surat Al-’Ashr:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ.

“Demi masa (waktu), sesungguhnya manusia benar-benar dalam berada dalam kerugian.” (Al-’Ashr: 1-2)

Dan dalam surat Al-Fajr:

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ.

“Demi (waktu) fajar dan (demi) malam yang sepuluh.” (Al-Fajr: 1-2)

Dan juga surat Adh-Dhuha:

وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى.

“Demi waktu dhuha dan (demi) malam apabila sunyi.” (Adh-Dhuha: 1-2)

Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan itu. Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, seorang ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa bilamana Allah subhanahu wata’ala bersumpah dengan makhluq-Nya, maka ini menandakan mulia dan agungnya makhluq tersebut. Dan Allah subhanahu wata’ala bersumpah dengan waktu, yang berarti waktu itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita. Lebih jelasnya, waktu adalah sebuah kenikmatan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada manusia agar digunakan semaksimal mungkin untuk beribadah kepada-Nya.

Bila sebuah kenikmatan yang ada pada seorang hamba tidak digunakan untuk bertaqarrub kepada Allah subhanahu wata’ala, maka ini akan mendatangkan musibah, sebagaimana perkataan seorang alim rabbani Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah

كل نعمة لا تقرب من الله عز وجل فهي بلية

“Segala kenikatan yang telah diberikan Alloh kepada kita tapi justru tidak membuat kita lebih dekat dengan Alloh maka kenikmatan tersebut akan mendatangkan musibah.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunya di dalam ‘Asy-Syukr‘, Abu Nu’aim di dalam ‘Hilyatul Auliya’‘, dan Al-Baihaqi di dalam ‘Syu’abul Iman‘)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memperingatkan bahwa dua kenikmatan yang banyak dilalaikan manusia adalah nikmat kesehatan dan waktu luang sebagaimana dalam sabdanya

نعمتا نمغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ.

“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melalaikannya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Dalam sabdanya yang lain beliau bersabda:

اغتنم خمسا قبل خمس.

“Lakukanlah lima perkara sebelum datangnya lima penghalang,”

Dan salah satunya adalah kata beliau:

وفراغك قبل شغلك

“Waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu.” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan yang lainnya dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Dan merupakan karakteristik waktu adalah dia tidak bisa kembali walau sedetik pun dan tidak pula bisa diputar balik lagi. Rela atau tidaknya kita, bukan menjadi penghalang akan terus berjalannya waktu sesuai dengan apa yang ditaqdirkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Seorang ulama besar yang bernama Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata:

ابن آدم إنما أنت أيام وكما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai anak Adam sesungguhnya dirimu adalah hari-harimu. Jika satu hari telah berlalu, maka sebagain dari dirimu telah lenyap” (Kitab Az-Zuhd Al-Imam Ahmad, hal. 339)

Dan juga janganlah kita termasuk orang yang disebutkan dalam sebuah sya’ir Arab:

ألا ليتَ الشبابَ يعودُ يوما فأخبره بما فعل المشيبُ

“Duhai kiranya masa muda bisa kembali walau sehari

maka akan kukisahkan penyesalan orang-orang tua?”

Alhamdulillah, Allah ‘azza wajalla masih memberikan kesempatan kepada kita untuk beribadah dan beramal shalih di dunia ini. Oleh karena itu, hendaknya kita tanamakan tekad yang kuat dan niat yang ikhlas untuk memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya dan tidak menggunakannya untuk hal-hal yang sia-sia. Karena bila kita gunakan untuk hal yang sia-sia, maka akan datang penyesalan. Dan penyesalan itu tiadalah berarti. Air mata tangisan tidaklah bisa untuk mengembalikan waktu yang telah berlalu. Bila kita tidak memanfaatkan waktu dengan baik, sama halnya kita telah menghancurkan diri sendiri. Amalan yang bisa kita lakukan, agar waktu lampau yang telah terlewatkan dengan sia-sia tidak menjadi boomerang kelak, adalah dengan bertaubat dan memperbanyak istighfar.

Waktu erat kaitannya dengan usia, yang ia merupakan pinjaman dari Allah subhanahu wata’ala dan Dia pula yang akan mengambilnya. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Waktu sesorang pada hakikatnya adalah umur. Ia adalah unsur terpenting untuk mengantarkan dia kepada kehidupan abadi di al-jannah, atau (bahkan sebaliknya) menjadi unsur terpenting yang mengantarkannya ke kehidupan di an-nar yang pedih. Waktu berlalu laksana awan. Waktu yang digunakan untuk Allah ‘azza wajalla itulah kehidupan dan umurnya yang hakiki, dan selain itu (selain untuk Allah), maka tidak temasuk waktu hidupnya. Meski dia hidup, layaknya seperti kehidupan binatang. Apabila dia menghabiskan waktunya dalam kelalaian dan kealpaan serta keinginan-keinginan yang batil, dan dia merasa sebaik-baik pengisi waktu baginya adalah tidur atau menganggur, maka kematian orang seperti ini lebih baik daripada hidupnya.” (Al-Jawabul Kafi)

Dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim tersebut, kita bisa mengambil faidah bahwa hidup kita yang hakiki adalah hidup yang kita gunakan untuk beribadah dan beramal shalih. Hal sebagaimana yang telah Allah subhanahu wata’ala siratkan di dalam ayat-Nya yang mulia dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Setelah kita menyadari betapa berharganya waktu, dan bahkan lebih berharga dari harta benda yang kita miliki, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan.

Pertama, jangan sampai kita lalai dalam setiap nafas yang kita hembuskan untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Kedua, mengatur waktu, jangan sampai agenda ibadah yang kita rencanakan saling tumpang tindih sehingga akan menimbulkan kejenuhan dan kemalasan.

Ketiga, jangan menunda-nunda pekerjaan atau amalan yang akan kita lakukan selama kita mampu melakukannya saat itu juga. “Nanti…. nanti… ” adalah kata yang harus dihindari, “sekarang” adalah kata yang harus terpatri.

Keempat, prioritaskan hal yang lebih penting terlebih dahulu, jangan tergoda dengan hal-hal yang sifatnya sekunder.

Sebagai muhasabah (koreksi diri) dan introspeksi, kita tanyakan pada hati kita

Sudahkah kita membaca Al-Quran hari ini?

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه. رواه مسلم

Bacalah Al-Qur’an karena sesunggunya dia (Al-Qur’an) akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada yang membacanya? (HR. Muslim, dari shahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)

Sudahkan kita shalat malam?

Padahal kita telah mengetahui sebuah hadits:

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال ذكر عند النبي صلى الله عليه وسلم رجل نام ليلة حتى أصبح قال : [ ذاك رجل بال الشيطان في أذنيه أو قال أذنه ] متفق عليه

Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: Disebutkan di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sorang laki-laki yang dia tidur semalaman hingga waktu pagi, maka beliau bersabda: “Laki-laki itu telah dikencingi setan di kedua telinganya atau salah satu telinganya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Sudahkah kita shalat dhuha hari ini?

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يصبح على كل سلامى من أحدكم صدقة : فكل تسبيحة صدقة وأمر بالمعروف صدقة ونهي عن المنكر صدقة ويجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى. رواه مسلم

“Pada setiap pagi, masing-masing anggota badan kalian hendaknya mengeluarkan sedekahnya. Dan setiap tasbih adalah sedekah, dan memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar adalah sedekah dan kesemuanya itu dapat diganti dengan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim, dari shahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu)

Sudahkah kita bersedekah untuk orang-orang yang kelaparan?

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عودوا المريض وأطعموا الجائع وفكوا العاني. رواه البخاري

Jenguklah orang-orang yang sakit, berilah makan orang-orang yang kelaparan, dan bebaskanlah tawanan.” (HR. Al-Bukhari, dari shahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Sudahkah kita membantu saudara kita yang sedang kesulitan?

Padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وتعاونوا على البر والتقوى

“Tolong menolonglah kalian dalam perkara kebaikan dan ketakwaan.” (Al-Ma’idah: 2)

Sudahkah kita menunaikan hak keluarga kita yang belum tertunaikan?

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أفضل دينار ينفقه الرجل دينار ينفقه على عياله ودينار ينفقه على دابته في سبيل الله ودينار ينفقه على أصحابه في سبيل الله. رواه مسلم

“Sebaik-baik dinar yang dinafkahkan seorang laki-laki adalah dinar yang dia infakan kepada keluarganya dan dinar yang diinfakan untuk tunggangan berperang di jalan Allah, dan dinar yang diinfakan untuk kawannya untuk berperang di jalan Allah.” (HR. Muslim, dari shahabat Abu Abdirrahman Tsauban maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam)

Sudahkah kita berbakti kepada orang tua kita?

Padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman:

واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وبالوالدين إحسانا.

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan sekali-kali kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbaktilah kalian kepada kedua orang tua kalian.” (An-Nisa’: 36)

Sudahkah kita meminta maaf kepada saudara atau tetangga yang telah kita sakiti?

Padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman:

ما للظالمين من حميم ولا شفيع يطاع

“Dan orang-orang yang zhalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak pula mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (Ghafir: 18)

Sudahkah kita membaca buku-buku para ulama sebagai media untuk menambah ilmu agama kita?

Padahal Allah subhanahu wata’ala berfirman

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

“Dan Allah akan mengangakat orang-orang yang beriman dianatara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

Sudahkah kita menjenguk saudara kita yang sakit?

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

حق المسلم على المسلم خمس : رد السلام وعيادة المريض واتباع الجنائز وإجابة الدعوة وتشميت العاطس. متفق عليه

“Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu menjawab salamnya, menjenguknya manakala sakit, mengantarkan jenazahnya, memenuhi undangannya dan mendo’akan ketika dia bersin.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dari amalan yang telah disebutkan di atas, secara jujur mungkin belum semuanya kita lakukan. Pada hakikatnya amalan shalih dalam agama Islam ini tidak terbatas hanya yang disebutkan di atas, akan tetapi masih banyak sekali yang belum disebutkan. Sehingga kalau kita bersungguh-sungguh beramal shalih sesuai dengan syari’at Islam, maka tidak ada waktu luang bagi kita untuk berbuat kemaksiatan.






Bertutur Yang Baik dan Berwajah Yang Manis

Sekedar menampakkan yang berseri-seri serta bertutur yang baik sesungguhnya merupakan perkara ringan. Namun demikian, bagi sebagian besar kita hal itu seolah demikian berkat untuk diperhatikan. Yang memprihatinkan, gejala yang menimpa sebagian para penuntut ilmu agama di mana sikap mereka demikian kaku terhadap orang-orang awam.

Berjumpa dengan orang lain adalah perkara yang biasa dalam keseharian kita sebagai makhluk sosial. Karena tak mungkin kita hidup menyendiri dari orang lain.Kita butuh saudara, butuh teman, dan kita butuh orang lain. Yang tak biasa alias luar biasa, bila kita dapat mengamalkan tuntunan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kala berjumpa dan berkata. Kenapa demikian? Karena di zaman kita sekarang, adad-adad islam sudah banyak di tinggalkan oleh kaum muslimin. Mungkin karena kebodohan ataupun ketidak pedulian mereka.

Adapula yang berdalil dengan tabiat, yakni ada sebagian daerah di negeri kita ini di mana orang-orangnya bertabiat kaku, cuek, dan sok tak peduli. Sehingga bila bertemu dengan orang yang mereka kenal sekalipun, sikap mereka seperti tidak kenal, tak ada kenal, tak ada senyum, tak ada sapaan. Lebih-lebih bila berjumpa dengan orang yang tak mereka kenal walaupun duduk bersama-sama dalam satu majelis. Ibaratnya kalau kita tidak menegur dan menyapa terlebih dahulu, mereka pun tidak akan menegur dan menyapa, benar-benar cuek dan kaku. Orang-orang seperti ini dijumpai sendiri oleh penulis. Awalnya penulis merasa mungkin punya salah terhadap mereka atau ada sikap yang tidak berkenan di hati mereka sehingga mereka berlaku demikian. Tetapi akhirnya penulis mengerti bahwa memang demikian tabiat umumnya mereka yang tinggal di daerah tersebut. Wallahu al-musta’an.

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kaum muslimin untuk berlaku baik kepada sesamanya, rendahhati kepada saudara dan penuh tawadhu’. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, (yang artinya):

“Rendahkanlah sayapmu kepada kaum mukminin” (Al-Hijr:88)

Maksudnya: bersikap lunaklah terhadap mereka dan perbaiki akhlakmu terhadap mereka karena mencintaimu, memuliakan, dan mengasihi mereka. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.435)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran:159)

Bersikap ramah kepada saudara dan bertutur yang baik jelas merupkan amalan kebaikan, bahkan bila seseorang tidak mendapatkan harta untuk disedekahkannya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala maka mengucapkan kalimat yang baik dapat menggantikannya.

‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun barangsiapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya, maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 1347 dan Muslim no.2346)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa kalimat thayyibah merupakan sesab selamat dari neraka. Yang dimaksud kalimat thayyibah adalah ucapan yang menyenangkan hati seseorang jika ucapan itu mubah atau mengandung ketaatan.” (Al-Minhaj.7/103)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Kalimat thayyibah teranggap sebagai sedekah, dari sisi dimana pemberian harta akan membahagiakan hati orang yang menerimanya dan menghilangkan rasa tidak senang dari hatinya. Demikian pula kalimat-kalimat yang baik, maka keduanya (pemberian harta dan ucapan yang baik) serupa dari sisi ini.” (Fathul Bari, 10/551)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari no.2707 dan Muslim no.2332)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada shahabatnya Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Jangan sekali-kali engkau meremehkan perkara kebaikan walaupun hanya berwajah cerah ketika engkau bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim no.6633)

Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim: “Disenanginya berwajah cerah ketika bertemu.”

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata,”Hadits ini menunjukkan bahwa berwajah cerah/berseri-seri kepada kaum muslimin dan menunjukkan rasa senang kepada mereka merupakan perkara yang terpuji, disyariatkan, dan diberikan pahala bagi pelakunya.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Cukuplah bagi kita akhlak Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini dan sifat beliau yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an, dan Allah subhanahu wa ta’ala bersihkan beliau dari sifat yang sebaliknya seperti dalam tersebut dalam firman-Nya (yang artinya): “Sekiranya engkau bersikap keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran:159) [Ikmalul Mu’allim bi Fawa’id Muslim, 8/106]

Masih dalam hadits yang disampaikan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Senyumanmu di wajah saudaramu (seagama) adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi no.1956, dishahihkan Asy-Syaikh Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Ash-Shahihah no.572)

Maksud hadits di atas, engkau menampakkan wajah cerah, berseri-seri dan penuh senyuman ketika bertemu dengan saudaramu akan dibalas dengan pahala sebagaimana engkau diberi pahala karena mengeluarkan sedekah. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Birr wash Shilah, bab Ma Ja’a fi Shana’I Al-Ma’ruf, ketika membahas hadits diatas)

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Sepantasnya ketika seseorang bertemu saudaranya ia menunjukkan rasa senang dan menampakkan wajah yang manis/cerah serta bertutur kata yang baik, karena yang demikian ini merupakan akhlak Nabi. Tentunya, sikap seperti ini tidak merendahkan martabat seseorang bahkan justru mengangkatnya. Ia pun mendapatkan pahala di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau selalu cerah wajahnya, tidak kusut ketika bertemu orang lain dan beliau banyak melempar senyuman. Karena, itu sepantasnya seseorang berjumpa saudaranya dengan wajah yang cerah dan mengucapkan ucapan yang baik. Sehingga dengannya ia dapat meraih pahala, rasa cinta dan kedekatan hati, disamping jauh dari sikap takabbur dan merasa tinggi dari hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang lain. (Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/500)

Sungguh wajah yang cemberut ataupun tanpa ekspresi, dingin dan kaku, tidak pantas diberikan kepada sesama muslim, karena hal itu yang menyelisihi apa yang dititahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang seperti itu seharusnya ditujukan kepada orang-orang kafir dan munafiq karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat kembali mereka adalah jahannam sebagai sejelek-jelek tempat kembali.” (At-Taubah:73)

Meskipun begitu, bila si orang kafir diharapkan mau masuk Islam, kita sepantasnya menampakkan wajah yang manis ketika berjumpa. Namun bila sikap baik kita ini justru menambah kesombongannya dan merasa tinggi daripada kaum muslimin, maka wajah cerah tidak boleh diberikan kepadanya. (Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/500-501)

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah juga menyatakan, “Wajah yang cerah/manis termasuk perkara kebaikan, karena akan memasukkan kebahagiaan pada saudaramu dan melapangkan dadanya. Kemudian bila dengan tutur kata yang baik, akan tercapai dua mashlahat, yaitu wajah yang berseri-seri dan tutur kata yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dalam sabdanya:

“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma.” Maksudnya jadikanlah pelindung antara kalian dan neraka walaupun kalian bersedekah hanya dengan sepotong kurma. Karena, hal itu akan dapat melindungimu dari neraka jika memang Allah subhanahu wa ta’ala menerima sedekah tersebut.

Namun jika kalian tidak mendapatkan sesuatupun yang dapat kalian sedekahkan, maka ucapkan kata-kata yang baik ketika berjumpa dengan saudara seiman. Misalnya engkau berkata kepadanya,

“Bagaimana kabarmu?”

“Bagaimana keadaanmu?”

“Bagaimana kabar saudara-saudaramu?”

“Bagaimana dengan keluargamu?”

dan yang semisalnya. Karena kalimat-kalimat seperti ini akan meresapkan kebahagiaan di hati saudaramu. Setiap kata-kata yang baik adalah sedekah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala . Dengannya akan diperoleh ganjaran dan pahala. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Kebaikan itu adalah akhlak yang mulia.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga besabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/501)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Tulisan Ayat Al-Qur`an atau Basmalah

Tanya:
ِSebagian orang menuliskan ayat Al-Qur`an atau ucapan bismillahir rahmanir rahim di kartu undangan pernikahan atau yang lainnya. Padahal kartu ini bisa saja dibuang di tempat sampah setelah dibaca, terinjak, atau menjadi mainan anak kecil. Lalu apa nasihat anda dalam hal ini?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:

“Si penulis telah melakukan perkara yang disyariatkan yakni menuliskan ucapan tasmiyah (bismillah). Bila ia menyebutkan ayat Al-Qur`an yang sesuai di kartu/surat undangan tersebut maka tidak menjadi masalah. Orang yang menerima kartu/surat undangan tersebut wajib untuk memuliakannya, karena di dalamnya ada ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala . Jangan dibuang di tempat sampah atau di tempat hina lainnya. Kalau sampai kartu/surat undangan bertuliskan ayat Al-Qur`an itu ia hinakan, maka ia berdosa. Adapun si penulisnya tidaklah berdosa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan sahabatnya untuk menuliskan ‘Bismillahir rahmanir rahim’ pada surat-surat yang beliau kirimkan. Dan terkadang beliau memerintahkan untuk menulis beberapa ayat Al-Qur`an dalam surat tersebut.

Dengan demikian, orang yang menulis hendaklah menuliskan tasmiyah sesuai dengan yang disyariatkan, dan ia menyebutkan beberapa ayat berikut hadits-hadits ketika dibutuhkan. Sedangkan orang yang menghinakan tulisan tersebut atau surat tersebut, ia berdosa. Semestinya ia menjaganya, atau bila ingin membuangnya (karena sudah tidak terpakai) hendaknya ia bakar atau dipendam. Bila dibuang begitu saja di tempat sampah, menjadi mainan anak-anak, menjadi pembungkus barang atau yang semisalnya, ini tidaklah diperbolehkan.

Sebagian orang menjadikan surat kabar dan lembaran (yang di dalamnya ada ucapan basmalah atau ayat-ayat Al-Qur`an) sebagai alas untuk makanan atau pembungkus barang yang dibawa ke rumah. Semua ini tidak diperbolehkan karena ada unsur penghinaan terhadap surat kabar/majalah/lembaran tersebut sementara di dalamnya tertulis ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Semestinya lembaran tersebut disimpan di perpustakaannya, atau di tempat mana saja, dibakar atau dipendam di tempat yang baik. Demikian pula mushaf Al-Qur`an bila telah sobek tidak bisa lagi digunakan, maka mushaf tersebut dipendam di tanah yang bersih atau dibakar, sebagaimana dahulu ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu membakar mushaf-mushaf yang tidak lagi diperlukan.

Kebanyakan manusia tidak memerhatikan perkara ini, sehingga harus diberi peringatan. Sekali lagi untuk diingat, lembaran dan surat-surat (yang ada ayat Al-Qur`an) yang tidak lagi dibutuhkan, hendaknya dipendam dalam tanah yang bersih atau dibakar. Tidak boleh digunakan sebagai pembungkus barang atau yang lainnya, dijadikan alas makan, atau dibuang di tempat sampah. Semuanya ini merupakan kemungkaran yang harus dicegah. Wallahul musta’an.”