Jumat, 20 September 2013

HIDUP SEHAT


Emosimu adalah Penyakitmu!

 null
Pilihannya senantiasa menjadikan tubuh dalam keadaan emosi positif, ataukah hidup dalam emosi mencekan?

PERCAYA tidak percaya, tubuh atau fisik yang baik dari seseorang pasti dimulai dari emosi yang stabil. Jiwa yang tenang, hati yang tenang dan ujung-ujungnya iman yang sehat.
Sehingga pertanyaannya, adakah hubungan antara emosi tersebut dengan penyakit? Secara mekanisme hormonal hal itu bisa saja terjadi, dikarenakan mekanisme hormon tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh irama waktu, seperti siang atau malam.
Di luar hal tersebut, hal lainnya adalah bahwa hormon yang muncul sangat memungkinkan dari mood atau perasaan yang muncul. Jadi sebenarnya, ketika mood itu baik, perasaaan itu baik, sangkaan dirinya baik terhadap apa yang ia rasakan dan alami, pastinya tubuhnya akan merespon kondisi tersebut dengan sekresi atau pengeluaran hormon pula.
Di sinilah letaknya, ketika fikiran seseorang senantiasa dalam kondisi positif sebenarnya otak pun merespon hal tersebut dengan hormon positif pula.
Yang uniknya adalah, pengeluaran hormon yang keluar dalam tubuh manusia tersebut pada akhirya akan berefek terhadap organ tubuh manusia, ketika seseorang dalam keadaan cemas maka otomatis yang akan keluar adalah hormon adrenalin, yang berakibat bisa meningkatkan denyut jantung, yang jika terus menerus terjadi maka organ tersebut akan berada dalam keadaan siaga terus menerus.
Ya sekarang pilihannya terserah kita sendiri, mau senantiasa menjadikan tubuh dalam keadaan yang harmonis dengan emosi-emosi positif, ataukah hidup dalam emosi mencekan dan emosi negatif selalu, kalau sudah begini ya siap siap aja penyakit datang.*




Makanan Sampah


Semakin banyak produk olahan yang dikonsumsi, maka semakin besar peluang menumpuknya makanan sampah dalam tubuh manusia
null
Jaga kesehatan dan hindari makanan kaleng

TUBUH  kita sebenarnya di desain dengan sangat sempurna oleh Allah Subhanahu Wata’ala, semuanya dibuat dalam suatu keseimbangan yang indah.
Ketika terjadi gangguan atau ketakseimbangan dalam tubuh maka muncullah berbagai penyakit yang kerap tak disadari sudah memberi tanda tanda pada tubuh kita.
Tubuh sebenarnya punya sistem pembuangan atau pengeluaran yang sudah sempurna, namun saat terjadi masalah akibat banyaknya asupan sampah atau banyak mengandung bahan bahan kimia maka yang terjadi adalah makanan makanan tadi tak mampu lagi di cerna dan dimetabolisme tubuh disebabkan karena tubuh tak mempunyai pengurai dan makanan tersebut sudah terlalu dominan dalam perut atau pencernaan manusia.
Apa penyebabnya?
Dalam bahasa saya “tekor” sederhananya, lebih banyak makanan sampah yang sudah tidak ada lagi gizi di dalamnya akiibat terlalu banyak pengolahan dan terlalu banyaknya bahan kimia sintetik yang dimasukan dalam makanan tersebut sebagai suatu konsekuensi industri yang memproduksi massal.
Perut atau pencernaan kita dibekali Allah Subhanahu Wata’ala dengan enzim dan mikroorganisme pengurai yang bekerja untuk mencerna makanan atau apapun yang masuk ke dalam perut manusia.
Ketika perut terzolimi, mulai dari enzimnya, mikrorganismenya tak mampu bekerja lagi, maka makanan makanan yang masuk dalam tubuh akan menumpuk, tak mampu diurai karena “pekerja” nya pada keletihan dan tak mampu kuasa kerja lagi.
Kenapa bisa begitu?
Ketika “tekor” maka otomatis yang terjadi kinerja organ-organ ini akan mengalami kemunduran, perut atau pencernaan maksudnya.
Sampah sampah ini sebenarnya sudah kita ketahui bersama, setiap bahan bahan kimia sintetik yang dimasukan dalam produk apapun yang dikonsumsi manusia akan melemahkan kerja perut atau pencernaan manusia.
Kalau isinya semua bahan kimia sintetik seperti obat-obatan kimia sintetik seperti  apa jadinya?
Inilah yang akan menguras kerja pencernaan yang salah satunya dikenal dengan efek samping, jadi berhati hatilah dalam mengkonsumsi obat kimia sintetik.
Namun, yang paling harus diperhatikan justru bukan obat kimia sintetik, tapi justru makanan minuman dan berbagi produk harian yang dimakan oleh manusia.
Semakin banyak produk olahan yang dikonsumsi, maka semakin besar peluang menumpuknya makanan sampah dalam tubuh manusia.
Apa tanda-tandanya?
Paling mudah adalah terlalu seringnya mengantuk, emosi yang naik turun,  mood tidak jelas, badan yang selalu sakit sakitan.
Yah ini hanya sebagian kecil, masih ada sebagian besar lainnya.
Solusinya?
Pertama, hindari produk Olahan, kemasan sebisa mungkin, jika dikonsumsi pun hanya sekedar untuk pemuas selera.
Kedua, perbanyaklah konsumsi produk asli dan alami tanpa bahan kimia sintetik di dalamnya seperti; buah, sayur, produk herbal dari lebah atau yang lainnya.
Ketiga, makanlah produk fermentasi yang membantu mencerna dan membantu enzim dan bakteri dalam pencernaan kita seperti cuka, atau produk fermentasi lainnya seperti ragi.
Semoga sukses dan tetap menjaga kesehatan.*




Penyakit karena Gaya Hidup



Kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi

RASULULLAH telah banyak mengajarkan kepada kita,umatnya untuk senantiasa menjaga hati,fikiran, emosi, dan juga Raga kita.
Semuanya pada akhirnya bermuara pada satu kesimpulan bahwa sesungguhnya kehidupan atau pola makan kita bisa jadi mencerminkan bagaimana kita menjaga perasaan dan emosi kita sehari hari.
Adakah hubungannya? Rasulullah dan para Sahabat adalah karakter manusia yang jauh sekali dari berlebih-lebihan dalam urusan makanan, bahkan mereka lebih memilih untuk Lapar daripada kenyang, karena kenyang, apalagi yang berlebihan membuat mereka tak mampu beribadah yang baik kepada Allah.
Ya tentunya dengan hal seperti ini, mereka sangat jauh dari penyakit-penyakit yang bersifat degeneratif atau penyakit yang muncul karena gaya hidup yang buruk.
Penyakit, sejatinya memang juga berasal dari Allah, tapi bisa jadi pemicunya adalah manusia sendiri, manusia yang mengubah pola hidupnya, makanannya, yang pada akhirnya makan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya, namun makan untuk memenuhi selera dan hawa nafsu sehingga ujung-ujungnya berlebihan dan mengakibatkan penyakit dan lemahnya tubuh.
Sederhanakanlah makanan, maka kita akan sehat, makanlah untuk kebutuhan tubuh, bukan makan untuk lebih banyak memenuhi selera.
Simplicity is the most ultimate sophistication, kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi.*






Bahagiakan Perut

lebih dominan mana, makanan yang kita makan sehari-hari, yang masih ada “nyawa” nya atau sudah hilang semua
SEBUAH kajian terbaru menyebutkan salah satu satu hormon kebahagiaan yaitu “serotonin” ternyata banyak dan sebagian besar di produksi di perut, sebuah fakta mengejutkan dan juga sekaligus membuat kita semua harus bertanya-tanya apakah kita sudah membahagiakan perut kita.
Perut merupakan tempat berkumpulnya segala jenis reaksi dan notabene salah satu yang penting adalah Enzim, hampir 5000 enzim yang terdapat di tubuh kita, jika enzim ini baik maka otomatis tubuh juga akan mengikuti.
lalu bagaimana hubungan antara enzim tersebut dengan kebahagiaan, sebenarnya penjelasannya sederhana,sebagaimana tadi dikatakan bahwa serotonin banyak diproduksi di perut, tentunya bagaimana agar perut kita “bahagia” ?
Jika ingin perut bahagia dan ia senantiasa terus memancarkan kebahagiaan, maka mulailah memberi suplemen kebahagiaan kepada perut.
Perut yang sangat sensitif terhadap apapun yang masuk, sejatinya sangat bahagia ketika yang masuk ke dalam perut tersebut adalah produk yang alami dan segar.
Kenapa harus alami dan segar? Karena “nyawa” suatu produk baik itu makanan atau minuman terletak jika ia masih alami dan segar, dan disitulah berperan enzim yang membantu proses reaksi dan metabolisme makanan tersebut, jika enzim tersebut tidak ada, maka hilanglah nyawa makanan itu dan tubuh tak mampu mengolahnya.
Dan semua orang sangat membutuhkan dan sangat menginginkan enzim tersebut dan kita memang meminta nya, sebaik-baiknya produk jus jeruk kemasan, tetap saja lebih baik jus jeruk yang alami dan segar tanpa menggunakan bahan apapun kecuali jeruk.
Bahkan, jika pembaca sekalian ingin pesan makanan, bukankah pembaca inginnya yang masih segar dan masih “hangat”, itulah tanda bahwa tubuh kita menginginkan yang alami dan segar.
Maka, pertanyaan selanjutnya adalah lebih dominan mana, makanan yang kita makan sehari-hari, yang masih ada “nyawa” nya atau sudah hilang semua? Dan “nyawa” disini bukanlah produk yang berasal dari hewan saja.
Jika lebih banyak yang tidak ber”nyawa” maka apakah yang terjadi? Tunggu artikel berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar