Jumat, 22 Maret 2013

GAYA HIDUP

LURUSKAN KESALAHAN DENGAN SEGERA BERBUAT KEBAIKAN
Gambar Gambar Islami


SALAH dan lupa adalah sifat yang melekat pada manusia. Tidak ada yang bisa menghindarinya kecuali atas rahmat dan izin dari Allah. Oleh karenanya, agama tidak mengajari kita bagaimana caranya menghilangkan kedua sifat tersebut, karena hal itu mustahil. Agama hanya mengajari kita bagaimana berdamai dengan sifat-sifat alamiah kita sendiri, dan meraih manfaat dari kekurangan-kekurangan yang ada. Kita tidak didorong untuk menghapusnya secara mutlak, namun mengendalikannya secara wajar.

Jiwa manusia memang sangat rawan tercoreng aneka noda. Kecil atau besar, sengaja atau tidak, tersembunyi atau terang-terangan, sendirian atau berkelompok, manusia berpeluang terperosok dalam kesalahan. Masalahnya akan sederhana jika Allah mengizinkan kita hidup dan mati begitu saja mengikuti naluri seperti binatang. Namun, Allah telah memberi kita taklif, yakni tanggung jawab berupa perintah dan larangan, dan meminta kita untuk bekerja keras meluruskan hidup serta menjaga kesucian diri. Inilah konteks dari doa Nabi Ibrahim:

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Janganlah Engkau hinakan aku pada hari ketika mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu'ara': 87-89)
Oleh karenanya, Allah mengirim para Nabi dan Rasul. Di antara hikmahnya adalah meluruskan kesalahan-kesalahan manusia dalam kehidupan ini. Ketika zaman kenabian telah berakhir, maka tugas tersebut diwariskan kepada para ulama’ dan orangtua, untuk membimbing generasi berikutnya mengenal Allah dan mengikuti jalan kebenaran. Diantara prinsip yang diajarkan Al-Qur’an untuk meluruskan penyimpangan manusia direkam dalam surah Az-Zumar: 53-55.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ العَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.”
Ada empat prinsip utama yang ditegaskan di sini.
Pertama, memberi kabar gembira dan tidak membuat putus asa. Pada dasarnya, orang yang melakukan dosa dan kesalahan sedang berada dalam kondisi lemah dan lengah. Kalau bukan karena kelemahan dan kelengahannya, tidaklah mungkin syetan mampu menggelincirkannya. Sebab, tipudaya syetan sebenarnya sangatlah lemah (lihat: Qs. an-Nisa’: 76). Maka, tidak ada terapi mujarab bagi orang-orang seperti ini selain membangun kembali kepercayaan diri dan pengharapannya. Dengan ini kita berharap ia memiliki energi batin untuk bangkit dari keterpurukan dan melawan godaan syetan.
Kedua dan ketiga, menuntun untuk kembali ke jalan Allah dan membimbing agar berkomitmen kepada-Nya. Setelah tumbuh kemauan dalam batinnya, maka ia harus dituntun untuk kembali ke jalan Allah dan berkomitmen kepada-Nya perlahan-lahan.
Tentang hal ini, Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jilani menulis dalam kitab al-Ghunyah; “Pertama-tama, suruh mereka untuk meninggalkan kecenderungan menuruti kebiasaan dan tabiatnya dalam segala hal. Mulailah dengan kewajiban-kewajiban syar’i yang ringan/longgar, sehingga mereka bisa keluar dari belenggu dan dominasi kebiasaan serta tabiatnya itu, dan akhirnya bisa beralih menjadi di bawah ikatan syari’at dan pengabdian di dalamnya. Kemudian, pindahkan mereka dari yang bersifat ringan/longgar itu kepada yang bersifat lebih ketat/berat sedikit demi sedikit. Hapuskan sesuatu bagian yang bersifat ringan/longgar tadi, dan tempatkan sebagai gantinya sesuatu bagian lain yang bersifat berat/ketat.”
Jelasnya, tidak ada yang bisa membersihkan hati manusia kecuali Allah, Dzat yang menciptakan hati dan memilikinya.
Dengan kata lain, hanya ada satu cara untuk membersihkan diri, yaitu: taat kepada-Nya.
Al-Qur’an menyatakan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِي
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu yang bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur: 21)
Keempat, mengikuti pilihan-pilihan tindakan terbaik. Ketika menafsirkan surah az-Zumar: 55, yakni ayat yang memuat prinsip ini, al-Hafizh Ibnul Jauzi merujukkannya kepada kalimat senada dalam surah al-A’raf: 145.
Menurut para ulama, dalam syariat Islam terdapat bermacam-macam kebaikan. Sebagian lebih utama dibanding yang lain. Kita diperintahkan untuk memilih mana yang paling utama, sesuai situasi-kondisi yang ada. Misalnya, melakukan kebaikan adalah utama, dan menjauhi keburukan juga utama, namun melakukan kebaikan jelas lebih tinggi nilainya. Membalas dengan qishash dibenarkan dalam syariat, tetapi memaafkan pasti lebih unggul. Memenuhi amal fardhu lebih utama dibanding nawafil (sunnah), dan amalan nawafil tentu lebih baik dari yang mubah. Suatu ketika berpuasa bisa menjadi pilihan terbaik, namun hal ini tidak berlaku ketika kita sakit berat. Demikianlah seterusnya.
Jika kita melaksanakan prinsip-prinsip ini, maka hati yang semula berpaling dari kebenaran akan kembali ke pangkuannya, dengan seizin Allah. Wallahu a’laM








BERSYUKUR DAN BERDOA;ADAB MUSLIM HADAPI MUSIM  HUJAN!



“AWAL Musim Hujan, Waspadai Cuaca Ekstrim!” demikian salah satu judul sebuah media massa mengawali datangnya musim penghujan tiba. Judul-judul dari media lain tak kalah menyeramkan. “Waspada! Hujan Deras Disertai Petir Intai Jakarta”
Seiring datangnya musim hujan, kita semua sering dikejutkan dengan kata-kata dan nada hujatan kepada sang pemberi rizki dan penghatur hidup semua alam dan semua manusia, Allah Subhanahu Wata’ala.
Secara tidak terasa, media massa kita mengajarkan hal yang salah,yang sesungguhnya berdampak pada tauhid dan keimanan pada kita semua. Nada-nada hujatan (maaf) bahkan menyalahkan pada Tuhan kadang juga datang dari media yang mengatasnamakan Islam. “Truk Macet 200 Km Gara-Gara Hujan Salju di Rusia”, tulis Republika Online, Senin, 03 Desember 2012
“Gara-gara Hujan, Padang Fair Tidak Capai Target”, tulis media lain.
 “Ah, gara-gara hujan, motorku kotor lagi. Sudah gitu, sepatuku satu-satunya ikut kehujanan lagi. hufffttt!!,” begitu gerutu sebagian masyarakat di sekitar kita.
Kesalahan dalam memaknai tanda-tanda alam dan semua pemberian Allah Azza wa jalla, sesungguhnya bisa berdampak pada ketauhidan kita. Akibatnya, semua pergantian cuaca, alam dan seisinya, akan dipandang sebagai kesalahan sang Pencipta, Allah Subhanahu Wata’ala. Memang kelihatannya sederhana, namun ini sesungguhnya hal yang serius, menyangkut keimanan.
Rahmat dari Allah
Tidak ada setetes air hujan yang membasahi bumi ini kecuali atas kehendak Allah Subhanahu Wata’ala. Apa yang terjadi dari ujung kaki hingga ujung langit, dari pagi hingga malam, gumpalan awan, petir, hujar deras, banjir bandang,  tak terkecuali adalah karena kehendak Allah Subhanahu Wata’ala.  Karenanya, menyalahkan turunnya hujan, sama halnya menyalahkan apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kita dan alam.
Sungguh tidak layak kita sewot, marah hanya karena pakaian dan baju kita basah akibat siraman air hujan. Tak perlu pula kecewa karena pertemuan kita batal gara-gara hujan. Apalagi sampai keluar umpatan dan cacian gara-gara hujan. Menyalahkan alam sama saja dengan menyalahkan Allah Allah azza wa jalla.
Sikap seorang mukmin dan Muslim atas masalah ini adalah menerima, menikmati dan bersyukur. Adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam  sebaik-baik manusia yang pantas kita tiru akhlaknya. Termasuk bagaimana beliau menghormati datangnya hujan.
Di kala melihat hujan beliau langsung berdoa:  Allahumma Shayyiban Naafi’an (Ya Allah, jadikan hujan ini sebagai hujan yang membawa manfaat dan kebaikan.” (HR. Al-Buhari).
Rasulullah bahkan mengungkap rahasia,  jika di antaraturunnya hujan, di situ ada letak dan tanda-tanda dikabulkannya sebuah doa (mustajab).
اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ  وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ
 “Carilah pengabulan doa pada saat bertemunya dua pasukan, pada saat iqamah shalat, dan saat turun hujan.” (HR. Al-Hakim).
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى
“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” Begitullah akhlak Nabi ketika turun hujan dari langit.
Soal hujan ini Allah Subhanahu Wata’ala pernah menjanjikan:
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ
رِزْقاً لِّلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتاً كَذَلِكَ الْخُرُوجُ
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS: Qaaf [50]: 9-11)
Dan hujan itu dibutuhkan bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. (Lihat QS [32]: 27).
Allah Ta’ala telah mengatakan yang demikian dalam firman-Nya,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41] : 39).
Lantas bagaimana kita menyikapi hujan yang di sebagian tempat justru membawa musibah? Nah, jika soal ini, bukan Allah nya yang keliru, tapi manusialah yang bersalah.
Allah telah menurunkan penjelasannya dalam al-Quran bagaimana seharusnya kita memperlakukan alam dan seisinya dengan baik. Faktanya, kita (manusia) yang mengingkarinya. Kita salah mengelolanya dengan baik dan benar.
Realitas menunjukkan, para penguasa memotong pohon dan menghabiskan lahan-lahan resapan air, membangun bangunan-bangunan yang tidak memperhatikan dampaknya pada lingkungan. Para penguasa memberinya ijin serampangan tanpa memikirkan akibat dari kebijakan yang dikeluarkannya, dan juga masyarakat yang membuang sampah seenaknya ke sungai-sungai dan saluran air.
Sebuah contoh kecil, negeri-negeri yang saat ini memimpin dunia dengan teknologi, ekonomi, politik dan militernya rata-rata berada di belahan bumi utara, negeri subtropis. Jarang mendapat sinar matahari sebanyak yang kita punya, malam dan siang mereka sering tidak seimbang.
Negeri lain di Afrika yang berada sama dengan kita di jalur katulistiwa, mereka rata-rata sangat sedikit menerima hujan, sehingga sedikit pula jenis-jenis tanaman yang tumbuh di negerinya.  Pemandangan ini berbeda dengan di tempat kita, di mana curah hujan dan keaneka ragaman hayatinya  luar biasa dikaruniakan Allah. Tapi apa yangterjadi? Kita salah mengelolanya.
Karunia ini tidak kita syukuri dan kita kelola dengan benar.
Di negeri yang siang dan malamnya seimbang ini, musim kering dan musim hujannya-pun (dulunya) seimbang –  kita malah tidak bisa mencukupi kebutuhan kita sendiri. Semua kebutuhan justru impor! Dari beras, gandum, susu, daging, telur dan masih banyak lagi.
Hujan yang harusnya jadi anugrah para petani dan menghidupkan semua jenis tumbuh-tumbuhan untuk kebutuhan kita, justru menjadi mala petaka dan musibah.
Allah ta’ala telah berfirman, artinya:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS: as-Syura (42): 30)
Ummu Salamah ra menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jika timbul maksiat pada umatku, maka Allah akan menyebarkan adzab kepada mereka. Aku (Ummu Salamah) berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah tidak ada waktu itu orang-orang shaleh?” Beliau menjawab, “Ada.” Aku bertanya lagi, “Apa yang Allah akan perbuat kepada mereka?”
Beliau menjawab, “Allah akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhaan dari Rabb-nya.” (HR Ahmad).








BERFIKIRLAH POSITIF DAN RASAKAN KEAJAIBANNYA


”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya” (W.W. Ziege)

PERNAHKAH Anda mendengar atau membaca kisah sukses Abdurrahman bin ’Auf. Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga ini adalah cermin yang mesti kita tiru dalam hidup ini. Kesuksesannya berbisnis tak membuatnya sombong dan berbangga diri, tapi sebaliknya ia tetap menunjukkan kebersahajaan dan keikhlasannya untuk berbagi bahkan berbagi sesuatu yang paling ia cintai.
Salah satu yang menarik diri pribadi beliau adalah keyakinannya yang baik akan potensi dirinya. Kalimat yang pernah terluncur dari lisan beliau yang mashyur adalah, “Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak……!” Abdurrahman bin Auf memberikan contoh konsep diri yang baik kepada kita. Konsep diri berupa keyakinan akan potensi  yang luar biasa yang ada pada setiap diri manusia.
Kalimat di atas adalah bukan isyarat kesombongan dari seorang Abdurrahman bin ’Auf tapi sebuah pikiran positif terhadap potensi  yang diberikan Allah kepada setiap hamba-Nya.
Karena sesungguhnya karunia Allah begitu luas di muka bumi maupun langit ini. Persoalannya tinggal bagaimana kita mampu menggali potensi lalu mengembangkan potensi dan karunia Allah tersebut. Sehingga kita mampu mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Abdurrahman bin ’Auf telah membuktikan bahwa untuk mencapai kesuksesan modal awal yang harus dimiliki setiap insan adalah berpikir positif terhadap dirinya, yakni memberikan kepercayaan, keyakinan akan potensi besar yang ada pada dirinya. Setelah meyakini diri sendiri, Abdurrahman bin ’Auf mencontohkan kepada kita bagaimana bagaimana ia membangun keyakinan akan kekuasaan Allah.
Yakinlah, bahwa Allah tak pernah tidur. Allah akan memberikan apapun yang diminta hamba-Nya, selagi hambanya melakukan ikhtiar yang maksimal untuk membuktikan pikiran positifnya tersebut.

Abdurrahman bin Auf mengatakan, ”Seandainya aku mengangkat batu niscaya ketemukan di bawahnya emas dan perak ….!”
Tahukah Anda apa isyarat apa yang mau digambarkan Abdurrahman bin ’Auf tersebut? Ia sedang mengisyaratkan jika hamba-hamba Allah mau bekerja, berjuang, berikhtiar dan melakukan kreatifitas maka pasti akan menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat kepada dirinya.
Konsep di atas bukan isapan jempol, Kita tahu bahwa Abdurrahman bin ’Auf adalah sahabat terkaya di Mekkah. Pasti kita juga masih ingat kisah hijrah penduduk Mekkah ke Madinah.
Hijrah yang dilakukan nabi dan para sahabat muhajirin mengharuskan Abdurrahman bin ’Auf meninggalkan harta kekayaannya. Seperti juga sahabat lainnya Abdurrahman bin ’Auf hanya membawa harta secukupnya untuk di bawa ke Madinah. Ia adalah sosok manusia yang tidak menggenggam hartanya di hati, ia bisa mengikhlaskan apa yang ia tinggalkan tersebut.
Maka, ketika di sampai di Madinah sahabat anshor menawarkan kepadanya harta kekayaan karena mereka tahu bahwa Abdurahman adalah orang kaya yang telah meninggalkan hartanya untuk hijrah ke Madina mengikuti perintah nabi. Tapi, Abdurrahman bin ’Auf menolak tawaran harta sahabat Anshor tersebut. Ia lebih memilih untuk diberitahu di mana pasar berada. Ia ingin memulai bisnis baru di Madinah. Apakah yang diperdagangkan Abdurrahman bin ’Auf? Ia memulai bisnis tali pengikat kuda. Dan inilah awal bisnis Abdurrahman bin ’Auf yang selanjutnya mengembalikan hartanya yang telah ia tinggalkan. Abdurrahman bin ’Auf sukses berbisnis di Madinah.
Apa pelajaran yang perlu kita ambil dari cerita di atas adalah bahwa modal kesuksesan adalah tidak semata faktor modal materi dan pendidikan yang tinggi. Sukses selalu diawali oleh pikiran positif seseorang dalam memandang dirinya, meyakini kekuasaan Allah dan cara pandang terhadap kehidupan yang akan ia jalani. Ketika kita berpikir positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi dari pada bereaksi karena kita akan lebih fokus mencapai tujuan kita dari pada memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita.
Robert J. Hasting pernah berkata, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.
Sekarang saatnya diri Anda memutuskan apakah Anda ingin menjadi pribadi sukses atau menjadi pecundang yang terus berpikir kalah dan gagal. Pastikan diri kita adalah pemenang!*









TAKWA, CIRI MUSLIM CERDAS


 
MODERNITAS selalu mengidentikkan akal dengan anti Tuhan. Tidak disebut orang berakal jika masih menyembah Tuhan, itulah kesimpulan Auguste Comte dengan konstruk logika positivisme-nya. Bahkan, menurut Comte, orang atau masyarakat yang masih meyakini Tuhan, termasuk manusia primitif. Manusia yang paling maju adalah manusia modern yang meninggalkan Tuhan.
Jika ditinjau dari aspek historis, pernyataan Comte itu relevan untuk diri dan orang sezamannya. Namun logika Comte itu sama sekali tidak berguna dan tak laku bagi umat Islam, kapan dan di manapun di seluruh dunia ini. Sayangnya, logika rusak ini justru menjadi materi pelajaran sosiologi dan filsafat ilmu di kalangan siswa dan mahasiswa, maka tidak sedikit Muslim modern yang juga salah pandang terhadap arti kemajuan dan modernitas.
***
Dunia hari ini memandang kemajuan itu dari aspek materi, berupa teknologi dan materi. Sering kita mendengar bahwa orang yang belum tahu gadget terbaru, game terbaru, pakaian terbaru, atau mobil baru, disebut sebagai ketinggalan zaman. Padahal, perkembangan teknologi itu tidak akan pernah berhenti. Akan selalu ada produk terbaru setiap tahun, bahkan mungkin pertriwulan. Jangankan hand phone, produk mobil saja setahun bisa muncul lebih dari tiga jenis mobil varian terbaru.
Konsekuensi dari banyaknya produk baru, meniscayakan iklan besar-besaran. Akhirnya, tidak bisa kita pungkiri, banyak umat Islam yang mau tidak mau harus mengkonsumsi iklan produk-produk baru, hampir setiap kali mereka melihat komputer, tablet, koran, bahkan SMS. Akibatnya jelas, cepat atau lambat, pola berpikir konsumtif pun merajalela. Sering orang bekerja mati-matian untuk membeli hp keluaran terbaru. Bahkan, ada seorang gadis yang rela menjual tubuhnya untuk bisa membeli hp tercanggih di negeri ini.
Bagi Muslim yang berkecukupan bahkan berlebih, sebagian sudah melupakan saudaranya yang membutuhkan. Mereka sibuk mengoleksi benda-benda, mulai dari baju, sepatu, hp, bahkan sampai peralatan mewah yang super mahal. Semua itu menjadi kebanggaan, pemelihara gengsi, dan pengangkat derajat dalam pergaulan. Akhirnya, orang berlomba-lomba mencari kekayaan dan menumpuk-numpuk harta.
Mereka masih tetap Muslim, tetapi pola pikir mereka sudah keliru. Seorang Muslim, mestinya mencari akhirat tanpa lupa dunia (QS. 28: 77). Sekarang, situasinya berbeda, orang mengejar dunia dengan tidak lupa akhirat, bahkan ada yang melupakan akhirat demi dunia. Jelas ini pola pikir yang salah.
Mungkin karena pemikiran Comte yang disuapin pada generasi bangsa melalui pendidikan sosiologi atau mungkin karena kajian filsafat ilmu di perkuliahan. Atau bisa jadi, karena sebagian besar umat Islam sendiri belum sungguh-sungguh mengkaji, menggali, dan memaknai Al-Qur’an secara serius, sehingga mayoritas umat Islam hari ini banyak meninggalkan ajaran agama, karena begitu cintanya terhadap kehidupan dunia.
Allah Subhanahu Wata’ala jauh-jauh hari telah menegaskan kepada kita bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, menipu, dan senda gurau belaka. Artinya, umat Islam dalam menjalani kehidupan dunia ini harus menghiasi dirinya dengan sifat mulia, yakni sifat takwa.
Takwa, Cerdas
Tetapi manusia sering lalai dan cenderung tidak mau merenung. Bahkan manusia sering mementingkan hal-hal remeh dan mengabaikan hal utama, sehingga hati tidak bekerja dengan sempurna, akal terbuai, dan akhirnya sangat cinta pada kehidupan dunia. Bahkan rela menanggalkan ajaran-ajaran agama, meskipun hati nurani sangat mengerti.

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللّهِ يَجْحَدُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.” (QS. Al Maidah [6]: 32).

Pada ayat sebelumnya (QS. 6 : 31) Allah tegaskan secara gamblang perihal orang kafir yang sangat menyesali diri mereka karena telah mendustakan Allah karena sangat cinta dunia. Qatadah sebagaimana termaktub dalam tafsir Ibn Katsir menyatakan bahwa sangatlah rugi dan menyesal manusia yang mendustakan Allah karena begitu cintanya kepada kehidupan dunia, mereka itulah orang kafir.

Lebih lanjut, Ibn Abi Hatim mengatakan dari Abu Marzuq, “Ketika keluar dari kuburnya, orang kafir atau orang jahat itu disambut oleh sosok dalam wujud yang paling buruk lagi bau busuk. Si kafir bertanya; ‘Siapa kamu ini?’ ‘Apakah kamu tidak mengenaliku?’ tanya sosok itu. ‘Tidak, kecuali bahwa Allah telah menjadikan wajahmu buruk dan menjadikan baumu busuk,’ papar si kafir itu.

Sosok itu pun menjawab, ‘Aku adalah amal keburukanmu, seperti inilah kamu dahulu ketika di dunia beramal yang buruk lagi busuk. Selama di dunia engkau telah menunggangiku. Maka marilah sekarang aku menunggangimu!’

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa, Muslim yang mementingkan hal-hal tidak penting, dan memprioritaskan hal-hal yang tidak dibutuhkan untuk kehidupan akhiratnya, bisa termasuk manusia yang merugi dan menyesal atas segala perbuatannya selama di dunia. Dan, hanya Muslim yang bertakwa yang akan selamat dari tipu daya kehidupan dunia.

Mari kita simak kembali firman-Nya;

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS. al-Qashah [28]: 60).

Secara umum dapat dipahami bahwa hanya Muslim yang bertakwa yang dapat menggunakan akal sehatnya dengan benar, sehingga tidak silau oleh kehidupan dunia. Ayat tersebut sekaligus menjadi peringatan keras bagi Muslim yang belum bertakwa untuk benar-benar memaksimalkan fungsi akalnya, sehingga terbebas dari penyesalan tiada arti di akhirat kelak.

Jadi, takwa itu tidak identik dengan ibadah semata, takwa itu adalah buah dari (QS. 3 : 190-191). Oleh karena itu, mari kita senantiasa tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dan, mulai sekarang kita harus memahami seruan khotib setiap Jum’at untuk meningkatkan ketakwaan dengan cara meningkatkan ilmu, iman, dan amal kepada Allah SWT. Sebab takwa itu adalah akumulasi dari iman yang teguh, ilmu yang dalam, dan amal yang kuat.
Lebih eksplisit takwa itu adalah seperti yang disabdakan Nabi tentang manusia yang cerdas. Yakni manusia yang paling banyak mengingat mati, dan paling sungguh-sungguh mempersiapkan untuk  menghadapinya. Jadi, takwa itu adalah kecerdasan utama. Sayangnya, belum banyak di antara kita yang benar-benar memahaminya.
Dengan demikian, manusia yang paling maju bukanlah manusia modern yang menganut paham positivisme seperti ungkapan Auguste Comte. Tetapi, manusia paling maju, paling bejo, dan paling bahagia adalah manusia yang memahami Al-Qur’an dengan baik, sehingga mampu menjadi seorang Muslim yang bertakwa.

Perlu dicatat, bahwa tidak akan ada ketakwaan tanpa Al-Qur’an. Maka sudah seharusnya setiap Muslim memahami dan antusias mempelajari Al-Qur’an. Jika demikian, masihkah kita akan meninggalkan Al-Qur’an dan meyakini pendapat manusia yang tidak beriman?
لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَاباً فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al Anbiyaa' [21]: 10).

Dalam ayat yang lain Allah tegaskan bahwa manusia yang paling mulia itu adalah Muslim yang paling bertakwa (QS. 49: 13). Berarti, manusia yang paling bertakwa di antara kita adalah manusia yang paling berakal (cerdas)











AKHIR TAHUN,PRIORITASKAN MUHASABAH DAN PENINGKATAN IMAN



 
UMUR tahun masehi 2012 akan segera berakhir.  Biasanya, tradisi banyak orang menyambutnya dengan gegap gempita diiringi hura-hura. secara historis-filosofis, penanggalan Masehi merupakan manivestasi keyakinan Yunani Kuno dan ajaran Kristen.
E. Darmawan Abdullah dalam bukunya ‘Jam Hijriyah’ menjelaskan bahwa Tahun Masehi adalah penanggalan yang bersumber pada tradisi orang Romawi. Dalam ssejarahnya, penanggalan Romawi berawal dari penaanggalan yang dibuat oleh orang-orang Yunani kuno untuk menandai kelahiran dewa matahari.
Ketika kaisar Romawi memeluk agama Kristen, berarti keyakinan leluhurnya terhadap dewa matahari harus ditinggalkan dan menyembah Yesus Kristus sebagai tuhannya. Sejak saat itulah, penanggalan Masehi menetapkan hitungan tahun pertamanya pada hari kelahiran Isa Al-Masih, itulah penanggalan Masehi. Jadi, penanggalan Masehi adalah manivestasi keyakinan Kristen.
Seperti diketahui, nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi masih menggunakan nama-nama para dewa Yunani kuno. Terdapat 6 dari 12 nama-nama bulan yang menggunakan nama-nama dewa dan dewi sembahan mereka. Enam bulan pertama (Januari – Juni) adalah nama para dewa, bulan ke 7 dan ke 8 menggunakan nama raja mereka, sedangkan bulan ke 9 sampai ke 12, menggunakan nomor urut bilangan bulan.
E. Darmawan Abdullah menilai tidak dihapuskannya nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi oleh kaisar Romawi kala itu, adalah dalam rangka memperingati kebesaran bangsa Romawi, sehingga nama bulannya tetap eksis, abadi melayani sejarah kehidupan. Kaisar tidak ingin dunia tidak mengenal kebesaran bangsa Romawi.
Karena itu, tidak semestinya umat Islam perlu bergegap gempita menyambut pergantian tahun yang menyisakan hitungan hari ke depan. Hal itu tidak lain karena Masehi adalah manives keyakinan agama lain. Sementara Islam, melarang keras umatnya ikut-ikutan dalam perkara-perkara yang merupakan manives dari agama lain.
Perlu diketahui juga di sini, bahwa awalnya penanggalan Roma hanya berjumlah 10 bulan dalam setahunnya (Maret – Desember). Nah, seiring perjalan waktu dan terkuaknya ilmu astronomi yang menemukan bahwa setahun itu ada 12 bulan, maka di kemudian hari, bulan pun ditambah dua, yaitu Januari dan Februari, sehingga lengkaplah tahun Masehi menjadi 12 bulan.
Tidak berhenti di situ, pergantian nomor urut pun tidak bisa dihindari. Bulan Maret yang awalnya bulan pertama diganti dengan bulan Januari. Mengapa? Ya karena Januari adalah nama dewa Janus (penjaga gerbang). Jadi, tepat jika berada di awal tahun. 

Muhasabah
Secara akidah, ikut merayakan perayaan Tahun Baru Masehi adalah keliru. Secara empiris, tidak relevan jika pergantian tahun dihadapi dengan pesta dan hura-hura. Meski demikian, setidaknya, karena tradisi itu terjadi di sekitar kita,  maka sebaiknya kita bisa mensikapinya atau mengajak yang lain memanfaatkannya dengan cara yang baik.
Cara yang tepat dengan adanya pergantian tahun adalah dengan cara muhasabah  atau introspeksi diri. Muhasabah adalah melakukan evaluasi, dan bersikap kritis kepada diri sendiri. Bermuhasabah berarti mencoba mengenali kelebihan dan kekurangan yang ada. Kelebihan yang diberikan Allah akan dimanfaatkan untuk menambah raihan kebaikan. Sementara kekurangan dijadikan sebagai momentum memperbaiki diri agar lebih baik dari waktu ke waktu.Demikian keadaan orang yang aktif melakukan muhasabah.
Introspeksi  dengan melakukan renungan tentang umur, harta, kesempatan, dan waktu yang ada. Untuk apa umur kita selama ini? Dari mana kita memperoleh harta dan ke mana harta tersebut kita keluarkan? Bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada? Dan dengan apa kita mengisi waktu hidup ini?
Nabi mengajarkan kepada kita untuk muhasabah lewat sabdanya; “Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. Turmudzi). [baca juga: Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah]
Karenanya sungguh menyedihkan jika kita ikut merayakan pergantian tahun apalagi dengan cara karaokean, plesiran, begadang semalam suntuk laki dan perempuan bercampur.
Hakikat Waktu
Berbicara waktu, menarik apa yang disampaikan oleh Malik Bennabi dalam bukunya ‘Syurutu al-Nahdhah’.
Ia mengatakan, “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru. "Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat."

Kemudian, ia melanjutkan, “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu --selain Tuhan-- tidak akan mampu melepaskan diri darinya.

Jadi, jangan sepelekan waktu, apalagi dengan melakukan hal-hal yang kita tidak mengerti apa alasan dan manfaat melakukan sesuatu. Berhati-hatilah, waktu adalah penentu. Dan, kelak setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.
عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93).

Prioritaskan Iman
Sekarang saatnya umat Islam berpikir dan terus-menerus menggali apa sebenarnya makna kehidupan ini. Dan, dalam konteks sekarang, apa urgensi dan argumentasinya umat Islam ikut-ikutan bergembira merayakan Tahun Baru.
Kaji sejarahnya, pelajari mengapa umat Islam juga punya kalender sendiri. Apakah itu sekedar hanya berbeda atau justru bentuk pengabdian sebuah keyakinan? Jika itu ternyata bentuk keyakinan, maka jelas, umat Islam terlarang mengikuti perayaan agama lain.
Dengan demikian, setelah jelas apa itu Masehi dan bagaimana sejarahnya, akan sangat baik jika semua umat Islam, keluarga Muslim, generasi muda Muslim memprioritaskan program peningkatan iman, yang nyata lebih dibutuhkan, daripada sekedar ikut-ikutan orang merayakan sesuatu yang sebenarnya tidak dikenal dalam ajaran Islam.
Berbicara tahun, berarti membahas waktu. Al-Qur’an (Al-Ashr : 1 – 3) mengingatkan kita tentang urgensi waktu. Disebutkan bahwa semua manusia itu merugi, melainkan yang beriman (hidup sehari-harinya; pikiran, ucapan, dan aktivitasnya hanyalah untuk menguatkan dan menyempurnakan iman dengan senantiasa beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran).
Jadi, sangat baik jika kita semua senantiasa menghias diri dengan hal-hal yang dapat meningkatkan iman. Bukan sebaliknya, justru melemahkan bahkan merusak iman sendiri.
Padahal, Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan kita agar senantiasa sigap dalam mempersiapkan hari esok (akhirat) dengan ketakwaan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-Hasyr [59]: 18).
Oleh karena itu, perbanyaklah membaca al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, bersilaturrahim dengan keluarga jauh, atau menyantuni saudara kita yang membutuhkan. Hal itu akan sangat baik bagi kehidupan dunia akhirat kita, daripada mengeluarkan uang beli terompet, bakar petasan, kembang api, atau aktivitas-aktivitas mubadzir lainnya.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar