Selasa, 16 Oktober 2012

GAYA HIDUP


Summer Rise Islamic Wallpaper




















BERBAIK SANGKA PADA ALLAH



SETIAP kali kita memasuki bulan Dzulqa`dah hingga Dzulhijjah, selain bicara soal haji, biasanya kita kembali membahas sosok Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Kedua sosok ini berikut keluarganya telah disinggung oleh Allah dalam Al-Qur`an yang isinya memerintahkan kepada kita supaya meneladani Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (QS: Al-Mumtahanah: 04).

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari Ibrahim, salah satunya prasangka baiknya kepada Allah. Berbaik sangka dalam bahasa Arab nya adalah Husnud Dzan. Dalam kitab Hilyatul Auliya` disebutkan tiga sebab yang menguatkan sikap tawakkal kita kepada Allah, berbaik sangka kepada Allah, mengilangkan prasangka buruk kepada Allah, dan rela atas keputusan yang datang dari Allah.

Salah satu sikap Husnud Dzan Nabi Ibrahim terlihat secara gamblang pada saat Allah memerintahkan beliau untuk memindahkan Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi, ke Makkah yang kala itu sangat tandus, kering kerontang, tidak ada kehidupan, bahkan persediaan air sekalipun. Setelah sebelumnya tinggal di sebuah negeri yang gemah ripah loh jianawi, tiba-tiba tanpa pemberitahun terlebih dahulu, Allah perintahkan Ibrahim untuk mengajak istri dan bayinya pindah ke negeri tersebut.

Sebagai seorang hamba Allah yang memiliki kekuatan iman dan tawakkal, perintah Allah dilaksanakan sebaik-baiknya. Adapun Hajar, ia pada awalnya justru bertanya-tanya mengapa suaminya ‘tega’ mengajaknya pindah ke negeri yang mati sunyi ini? Apakah dia tidak merasa kasihan?

Tidak lama setelah sempat terbesit kerisauan ini, tanda tanya pada diri Hajar menjadi pupus ketika Ibrahim mengatakan bahwa ini adalah perintah Allah. Perasaan was-was yang sempat hinggap pada Hajar sirna sudah. Ibrahim dan istrinya meyakini betul bahwa segala keputusan dan perintah Allah pasti mengandung manfaat dan kemaslahatan. Sebaliknya, setiap keputusan yang mengandung larangan-Nya pasti karena di dalamnya mengandung kerusakan dan kebinasaan.

Semua keputusan Allah bermula dari Dzatnya yang Maha Mengetahui. Dialah yang paling tahu apa yang terbaik dan yang tidak untuk hamba-nya. Perpindahan Nabi Ibrahim dan keluarga memberi ilham tersendiri kepada kita bahwa hidup tidak selamanya selalu berada dalam kenyamanan dan keteraturan.

Hidup yang tekadang ada di bawah dan di atas, kadang berada dalam posisi basah atau kering, kadang berada dalam suasana menyenangkan atau menyesakkan, membuat  kita harus lebih yakin bahwa di balik persoalan dan probelamtika kehidupan selalu ada sisi positif yang dapat diambil.

Begitu banyak kita melihat oknum hamba Allah yang merasa putus asa, galau, dan risau atas persoalan hidup yang tengah dihadapinya. Tidak sedikit yang mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidup secara mengenaskan. Ada yang gantung diri karena takut miskin; ada yang memotong urat nadi karena malu diolok-olok belum punya pacar; ada pula yang bakar diri dengan mengajak anaknya yang masih kecil karena problem ekonomi, dan sebagainya.
Padahal Rasul jelas-jelas memberi nasihat yang artinya, “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali ia dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah SWT.”
Kadangkala kita mengira bahwa apa yang kita sukai sudah pasti baik di mata Allah padahal banyak hal yang disukai manusia ternyata berakibat tidak baik untuk diri mereka sendiri. Atau, bisa jadi kita tidak menyukai sesuatu yang justru itu baik di sisi Allah.

Imam Malik, dalam bukunya Al-Muwatha` meriwayatkan bahwa Abu `Ubaidah ibn al-Jarrah, sahabat Nabi yang memimpin pasukan Islam menghadapi Romawi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, suatu ketika menyurati Umar, menggambarkan kekhawatirannya akan kesulitan menghadapi pasukan Romawi.

Umar menjawab, “Betapapun seorang Muslim ditimpa kesulitan, Allah akan menjadikan sesudah kesulitan itu kelapangan, karena sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kelapangan.”

Kesulitan dan kelapangan adalah dua hal yang senantiasa berputar menimpa diri manusia, silih berganti. Kesulitan identik dengan kegagalan dan kesengsaraan. Seseorang yang ditimpa kesulitan, maka ia tengah berkutat dengan kekhawatiran dan kesedihan.

Kelapangan yang dimaksud dalam jawaban Umar merupakan bentuk penyikapan terhadap kesulitan, mengubah energi negatif menjadi energi positif. Kelapangan akan mampu mengalahkan kesulitan tatkala dalam diri pemilik kesulitan terpatri sikap optimisme.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Qs. Asy-Syarh: 5-6).

Optimisme tidak berarti kepercayaan diri berlebih, bukan pula kepasrahan jiwa. Akan tetapi, sebentuk semangat yang bersemayam dalam hati untuk senantiasa berusaha dan berupaya ketika kesulitan menimpa.

Cobalah untuk selalu berpikir positif. Buanglah jauh-jauh pikiran kotor dan negatif. Jadilah penafsir ulung yang berusaha menafsirkan segala keruwetan yang sebentar datang dan pergi itu dengan tafsiran bahwa segala sesuatu yang kita alami atau segala hal yang ditetapkan oleh Allah, sebagai hal yang baik dan positif, sesuatu yang mengandung pelajaran positif dan kebaikan, walaupun pada saat mengalaminya kita masih belum mengerti betul hikmah dan kebaikannya. Belajar dari Ibrahim, belajar berbaik sangka kepada Allah.*








DIDIKLAH MEREKA DENGAN HATI DAN KETELADANAN


 

HARI-hari ini waktu yang cukup melelahkan bagi Menteri Pendidikan Nasional, Dr Muhammad Nuh. Hampir sebulan ini, ia nampak sibuk atas maraknya berbagai peristiwa yang melibatkan kasus pendidikan. Di antaranya, mantan rector  ITS Surabaya ini  menurunkan tim khusus untuk menyelidiki penyebab kekerasan yang terjadi di kalangan pelajar dan mahasiswa. Termasuk turun untuk meneliti di kampus Universitas Negeri Makassar, yang baru saja terlibat tawuran.
“Kita harus all out untuk segera menyelesaikan persoalan ini,” kata Nuh saat konferensi pers di aula markas Kepolisian Resor Kota Besar Makassar, Jumat, 12 Oktober 2012. Menurut dia, kekerasan yang terjadi di dalam kampus sudah sangat jauh dari nilai dan budaya akademik. “Kejadian di kampus UNM harus dijadikan kejadian terakhir,” ujarnya.

Seperti diketahui, polisi baru saja menetapkan satu tersangka, yakni MAB, terkait tawuran mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), Sulawesi Selatan. Tawuran antara mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Seni Rupa itu mengakibatkan dua mahasiswa tewas. Padahal,  makam Alawy Yusianto Putra (15), pelajar kelas X SMA 6 Jakarta yang jadi korban tawuran dengan SMA 70 24 September lalu masih belum kering.

Maraknya kasus menimpa pelajar dan mahasiswa  ini, semakin menunjukkan, betapa dunia pendidikan kita sedang dilanda masalah serius, yaitu masalah etika, akhlak, dan moral.
Pelajar yang semestinya rajin belajar, gemar berlatih, dan berakhlakul karimah, ternyata kian jauh dari nilai-nilai moral. Malah mereka hidup dengan kebanggaan yang keliru. Seperti membanggakan artis sinetron, penyanyi, grup band, bahkan pelawak. Sedikit di antara pelajar itu yang meneladani gurunya sendiri.
Pendidikan hari ini pada sebagian sekolah tak ubahnya tempat penantian ijazah semata. Asalkan kognisinya bagus, mau akhlaknya jelek, pengamalan agamanya buru, sekolah sama sekali tidak memperhitungkannya. Semua tergantung daftar hadir, nilai UTS, UAS, dan UN kemudian titik.
Sangat wajar jika kemudian pragmatisme juga melanda dunia pendidikan. Khususnya ketika menghadapi UN, dimana tidak sedikit guru dan murid sekongkol untuk mengerjakan soal secara tidak jujur demi pemenuhan target lulus 100%. Sungguh masalah yang tidak bisa diatasi hanya dengan mengelus dada saja.
Ditambah sistem pendidikan nasional juga masih minim dalam mengakomodir aspek mental, jiwa, akhlak dan moral. Akreditasi sekolah misalnya, hanyalah pemeriksaan yang menonjolkan aspek material-administratif. Mungkin tetap perlu, tetapi semestinya akreditasi tidak semata-mata masalah itu. Akibatnya nyata, manipulasi dalam proses akreditasi pun tidak bisa dipungkiri.
Jika hal ini terus berlanjut, maka tipis harapan ke depan akan terlahir generasi yang bermental tangguh, berkarakter baik, berakhlak mulia, apalagi siap berkorban demi kebenaran dan perjuangan. Satu-satunya cara, mungkin kita sebagai pendidik (formal ataupun informal) berusaha untuk memperbaiki diri agar bisa menjadi tauladan bagi anak-anak didik kita sendiri.

Gurunya Bermoral, Sekolahnya tauladan Banyak lembaga penddikan hari ini tidak menampakkan dan tak menampakkan diri menjadi lembaga pendidikan yang bisa jadi tauladan yang baik (uswatun hasanah). Yang ada, hanya lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan keahlian memecahkan tugas-tugas akademik semata.

Biasanya, lembaga pendidikan yang bisa jadi percontohan dalam masalah sikap, akhlaq dan moral (uswatun hasanah), dikepung dengan guru-guru yang bijaksana dan penuh ketauladanan.
Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya “Tarbiyatul Aulad fil Islam” menjelaskan guru yang bijaksana, ia akan terus mencari metode alternatif yang lebih efektif dalam mempersiapkan anak didik secara mental dan moral, saintikal, spiritual, dan etos sosial, sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna, memiliki wawasan yang luas dan kepribadian yang tauhidi. Nah, kepribadian yang tauhidi (meng Esa-kan Allah semata) itu lah yang tak banyak dimiliki lembaga pendidikan kita.

Lembaga pendidikan berbasis tauhid, yang mengajarkan sikap, tindakan, spirit yang ujungnya keimanan dan kecintaan pada Allah Subahahu Wata’ala tak banyak dimiliki di tempat kita.

Bagaimanapun guru adalah seorang figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak-tanduk dan sopan-santunnya, disadari atau tidak akan ditiru oleh mereka. Bahkan bentuk perkataan, perbuatan dan tindak tanduknya, akan senantiasa tertanam dalam kepribadian anak. Guru-guru di zaman modern lebih banyak berfungsi sebagai pengajar, bukan pendidik.
Karenanya, sering kita saksikan di laman-laman Facebook hari ini, para guru  membuat status yang kurang bermakna. Padahal, apa yang ia ucapkan dalam setiap status di wall  juga akan diperhatikan dan bisa saja ditiru anak didiknya.
“Jika guru jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran, berakhlak mulia, berani dan menyibukkan diri dalam ketaatan.
Sebaliknya, jika guru adalah pembohong, pengkhianat, kikir, penakut, hina, tidak disiplin, suka meremehkan waktu, maka anak didik pun akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikr penakut, dan hina,” demikian ujar Dr Abdullah Nasih Ulwan.

Seorang anak, bagaimana pun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimana pun sucinya fitrah, ia tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia tidak melihat sang guru sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi. Sangatlah mudah bagi seorang guru mengajari muridnya kebaikan, tetapi sangat sulit anak didik akan mengikuti kebaikan yang diajarkan jika sang guru tidak bisa diteladani.
Usamah bin Aid juga meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Pada malam Isra aku lewat pada suatu kaum yang sedang menggunting bibir mereka dengan gunting neraka. Aku berkata, “Siapakah mereka, wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah para khatib umatmu yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.”

Terkait hal itu, Abdullah Nashih Ulwan menyisipkan syair penting bagi para guru agar benar-benar mampu menjadi teladan yang baik, tidak saja pandai berteori dan beretorika, sebagaimana berikut;

“Wahai orang yang mengajar orang lain, kenapa engkau tidak juga menyadari dirimu sendiri. Engkau terangkan bermacam obat bagi segala penyakit agar semua yang sakit sembuh, sedang engkau sendiri ditimpa sakit obatilah dirimu dahulu. Lalu cegahlah agar tidak menular kepada orang lain. Dengan demikian engkau adalah seorang yang bijak. Apa yang engkau nasehatkan akan mereka terima dan ikuti, ilmu yang engkau ajarkan akan bermanfaat bagi mereka.”
Inilah tugas utama guru, yang mau tidak mau, suka tidak suka, ringan atau berat harus benar-benar meneladani Rasulullah jika ingin mendidik generasi muda yang berkualitas bagi agama, bangsa dan negara. Tanpa itu, pastilah kegagalan yang akan didapatkan.
Tetapi jika kita para pendidik (guru, orangtua) bersungguh-sungguh meneladani Rasulullah saw demi masa depan generasi muda kita, tentu kebahagianlah akhir dari kehidupan kita semua. Bahkan Allah memberikan jaminan kemuliaan yang sangat tinggi bagi kita.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيراً
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin (orang-orang yang aat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 96).

Lebih jauh Abdullah bin Mas’ud mendorong semua kaum Muslimin (bukan hanya yang berprofesi sebagai guru) untuk meneladani jejak para sahabat yang terpuji dan berakhlak mulia.
“Barangsiapa mencari teladan, maka hendaklah ia menjadikan para sahabat Rasulullah sebagai teladan. Karena mereka adalah orang-orang yang paling baik hati dari umat ini, yang paling dalam ilmunya, yang paling sedikit keterpaksaannya, yang paling lurus petunjuknya dan paling baik keadaannya. Allah memilih mereka untuk menyertai Rasulullah di dalam mendirikan agama-Nya. Maka kenalilah keutamaan mereka. Ikutilah jejak mereka, karena mereka sesungguhnya berada dalam jalan yang lurus”.
Nah, jika kita saksikan hari ini banyak pelajar dan mahasiswa bangga membawa celurit untuk melukai orang lain daripada sibuk mencari ilmu dan mengagumi ke-Esaan Allah Subhanahu Wata’ala, jangan-jangan memang salah satu sumbernya adalah kita, para guru dan lembaga pendidikan itu sendiri, yang sejak semula tidak menampilkan dan tidak patut menjadi suri tauladan bagi mereka.
Di sisi lain, kepada para orangtua, mari kita pilihkan anak-anak kita untuk mencari ilmu di lembaga pendikan yang ujungnya hanya mentauhid kan Allah Subhanahu wata’ala. Carikan mereka sekolah yang guru-gurunya adalah orang-orang yang memang layak jadi tauladan kita, bukan hanya sekedar bisa mengajar.

Inilah tugas besar kita semua. Masih belum terlambat. Dan tidak ada salahnya untuk beramai-ramai menyematkan generasi kita dengan cara melihat bagaimana metode  yang telah diterapkan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam dalam masalah pendidikan. Jika tidak kita kembalikan pada Baginda Rasulullah, kepada siapa lagi kita akan mencontoh ketauladanan ini?

Dalam al-Quran Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِي

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am [6]: 90).

InsyaAllah, jika pendidikan Islam kita terapkan dengan benar, kelak akan melahirkan saintis-saintis baru yang tidak saja cerdas secara kognisi tetapi juga unggul dalam hal akhlak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar