Selasa, 18 September 2012

GAYA HIDUP

CARILAH SUMBER KELAPANGAN HATI
matahari terbenam, sunset
PERNAHKAH Anda merasakan kesempitan hati, sampai sedemikian sempitnya, sehingga seolah-olah langit runtuh menindih dada? Ketika itu, pandangan menjadi kabur, pikiran keruh, energi sirna, dan pelita pengharapan pun padam. Sebaliknya, ketika hati kita dilapangkan oleh Allah: segalanya terlihat gamblang, solusi problematika hidup tersaji lengkap, energi meluap, dan kita menatap kehidupan ini dengan penuh semangat serta optimisme tinggi. Pertanyaannya: “Bagaimana cara menghindari kondisi pertama diatas, dan meraih yang kedua?”
Ada sebuah ulasan dalam Zaadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim yang dapat menjawab pertanyaan penting ini. Dalam kitab yang didedikasikan untuk meraih ibrah (pelajaran) dari sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, diantaranya beliau memaparkan sebab-sebab atau sumber-sumber kelapangan hati. Bila kita perhatikan isinya, lalu memikirkan kebalikannya masing-masing, kita juga akan mengerti sumber-sumber kesempitannya. Mari kita pelajari satu demi satu.
Sumber pertama adalah tauhid. Seberapa lapang hati seseorang berhubungan erat dengan seberapa kuat, sempurna, dan pertambahan keyakinan tauhidnya. Allah berfirman,

فَمَن يُرِدِ اللّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-An'am: 125).
Sebaliknya, kemusyrikan adalah penyebab kesempitan hati dan duka cita. Dalam surah az-Zumar: 29, Allah mengumpamakan orang musyrik dengan seorang budak yang dimiliki oleh beberapa majikan sekaligus, sementara para majikan ini selalu bertengkar. Budak itu pasti sangat bingung dan serba salah. Bandingkan dengan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang majikan saja. Hidupnya pasti lebih mudah, karena ia hanya melayani satu tuan, tidak dibingungkan oleh perintah aneka majikan yang seringkali saling bertentangan.
Sumber kedua adalah cahaya iman. Tatkala cahayanya lenyap dari hati, maka seseorang akan menghadapi kegelapan, sehingga merasa seolah-olah terkungkung dalam penjara paling sempit. Sebagaimana cahaya bisa membuat ruangan terkesan luas, demikian pula iman akan melapangkan hati. Maka, Al-Qur’an pun menggambarkan kekafiran (yakni, kebalikan iman) sebagai kegelapan yang berlapis-lapis: “Atau, seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, nyaris dia tidak dapat melihatnya. Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (iman) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (Qs. an-Nur: 40).
Sumber ketiga adalah ilmu. Tepatnya, ilmu yang diwarisi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan sembarang ilmu. Dengannya, hati terasa sangat lapang bahkan lebih lapang dari dunia ini. Warisan kenabianlah yang membuatnya memiliki kesabaran berlipat, akhlak termulia, serta kehidupan paling tenteram. Al-Hasan al-Bashri berkata, “Dulu, bila seseorang telah mencari ilmu, maka tidak lama kemudian akan terlihat pengaruhnya pada tatapan matanya, kekhusyu’annya, lisannya, tangannya, shalatnya, dan kezuhudannya.” Beliau juga berkata, “Jika seseorang telah memperoleh satu bab dari ilmu, lalu ia mengamalkannya, maka jadilah ilmu itu lebih baik baginya dibanding dunia seisinya, andai ia memiliki dunia itu lalu ia menjadikannya untuk akhirat.” (Riwayat Darimi, keduanya dengan sanad shahih).
Sumber keempat adalah kembali kepada Allah, mencintai-Nya, berfokus kepada-Nya, dan menikmati asyiknya beribadah. Rasa cinta memiliki pengaruh ajaib terhadap kelapangan hati. Cinta membuat jiwa tenteram dan hati nyaman, apalagi cinta kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sudah dimaklumi bahwa tiada kenikmatan bagi pecinta selain berjumpa, bercengkrama, dan berdua-duaan dengan kekasihnya. Ia pasti ingin berlama-lama bersamanya. Bila terpisah, ia pun sangat rindu ingin bertemu. Bila ia dihalangi dari yang dicintainya, hatinya akan merana.
Dapat dipastikan, orang yang gemar dan ringan beribadah tentu sangat mencintai Tuhannya. Cintalah yang mendorongnya untuk segera bangkit menyambut panggilan Kekasihnya dengan penuh semangat. Oleh karenanya, diriwayatkan bahwa Nabi Dawud ‘alaihis salam pernah berdoa: “Ya Allah, sungguh aku mohon (diberi) rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, juga amal-amal yang akan membawaku sampai kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kepada-Mu lebih aku cintai dibanding diriku sendiri, keluargaku, dan air yang sejuk.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits dha’if).
Siapa pun yang berpaling dari Allah, melupakan-Nya, mencintai dan bergantung kepada selain-Nya, niscaya hidupnya menjadi sempit.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." [QS: Thaha: 124-126).
Bila ia mencintai selain Allah, jiwanya akan tersiksa karenanya. Hatinya pun terpenjara dalam apa yang dicintainya itu, sebab semua selain Allah mudah berubah dan tidak terjamin kepastiannya. Ketika itulah pikirannya kacau, hidupnya berantakan, dan hatinya sangat kelelahan. Maka, tidak ada yang lebih malang darinya di dunia ini!
Sejauh ini, kita telah mengemukakan empat penyebab kelapangan hati. Sebenarnya, masih ada lima lagi penyebab lainnya. Namun, karena keterbatasan tempat, insya-Allah kita akan menyajikannya pekan depan. Sebagai gambaran ringkas, lima penyebab berikutnya adalah: kontinyu berdzikir, berbuat baik kepada sesama makhluk, keberanian, keluarnya kotoran hati, dan tidak berlebihan dalam hal-hal yang mubah. Wallahu a’lam
PERNAHKAH Anda merasakan kesempitan hati, sampai sedemikian sempitnya, sehingga seolah-olah langit runtuh menindih dada? Ketika itu, pandangan menjadi kabur, pikiran keruh, energi sirna, dan pelita pengharapan pun padam. Sebaliknya, ketika hati kita dilapangkan oleh Allah: segalanya terlihat gamblang, solusi problematika hidup tersaji lengkap, energi meluap, dan kita menatap kehidupan ini dengan penuh semangat serta optimisme tinggi. Pertanyaannya: “Bagaimana cara menghindari kondisi pertama diatas, dan meraih yang kedua?”
Ada sebuah ulasan dalam Zaadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim yang dapat menjawab pertanyaan penting ini. Dalam kitab yang didedikasikan untuk meraih ibrah (pelajaran) dari sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, diantaranya beliau memaparkan sebab-sebab atau sumber-sumber kelapangan hati. Bila kita perhatikan isinya, lalu memikirkan kebalikannya masing-masing, kita juga akan mengerti sumber-sumber kesempitannya. Mari kita pelajari satu demi satu.
Sumber pertama adalah tauhid. Seberapa lapang hati seseorang berhubungan erat dengan seberapa kuat, sempurna, dan pertambahan keyakinan tauhidnya. Allah berfirman,

فَمَن يُرِدِ اللّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-An'am: 125).
Sebaliknya, kemusyrikan adalah penyebab kesempitan hati dan duka cita. Dalam surah az-Zumar: 29, Allah mengumpamakan orang musyrik dengan seorang budak yang dimiliki oleh beberapa majikan sekaligus, sementara para majikan ini selalu bertengkar. Budak itu pasti sangat bingung dan serba salah. Bandingkan dengan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang majikan saja. Hidupnya pasti lebih mudah, karena ia hanya melayani satu tuan, tidak dibingungkan oleh perintah aneka majikan yang seringkali saling bertentangan.
Sumber kedua adalah cahaya iman. Tatkala cahayanya lenyap dari hati, maka seseorang akan menghadapi kegelapan, sehingga merasa seolah-olah terkungkung dalam penjara paling sempit. Sebagaimana cahaya bisa membuat ruangan terkesan luas, demikian pula iman akan melapangkan hati. Maka, Al-Qur’an pun menggambarkan kekafiran (yakni, kebalikan iman) sebagai kegelapan yang berlapis-lapis: “Atau, seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, nyaris dia tidak dapat melihatnya. Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (iman) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (Qs. an-Nur: 40).
Sumber ketiga adalah ilmu. Tepatnya, ilmu yang diwarisi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan sembarang ilmu. Dengannya, hati terasa sangat lapang bahkan lebih lapang dari dunia ini. Warisan kenabianlah yang membuatnya memiliki kesabaran berlipat, akhlak termulia, serta kehidupan paling tenteram. Al-Hasan al-Bashri berkata, “Dulu, bila seseorang telah mencari ilmu, maka tidak lama kemudian akan terlihat pengaruhnya pada tatapan matanya, kekhusyu’annya, lisannya, tangannya, shalatnya, dan kezuhudannya.” Beliau juga berkata, “Jika seseorang telah memperoleh satu bab dari ilmu, lalu ia mengamalkannya, maka jadilah ilmu itu lebih baik baginya dibanding dunia seisinya, andai ia memiliki dunia itu lalu ia menjadikannya untuk akhirat.” (Riwayat Darimi, keduanya dengan sanad shahih).
Sumber keempat adalah kembali kepada Allah, mencintai-Nya, berfokus kepada-Nya, dan menikmati asyiknya beribadah. Rasa cinta memiliki pengaruh ajaib terhadap kelapangan hati. Cinta membuat jiwa tenteram dan hati nyaman, apalagi cinta kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sudah dimaklumi bahwa tiada kenikmatan bagi pecinta selain berjumpa, bercengkrama, dan berdua-duaan dengan kekasihnya. Ia pasti ingin berlama-lama bersamanya. Bila terpisah, ia pun sangat rindu ingin bertemu. Bila ia dihalangi dari yang dicintainya, hatinya akan merana.
Dapat dipastikan, orang yang gemar dan ringan beribadah tentu sangat mencintai Tuhannya. Cintalah yang mendorongnya untuk segera bangkit menyambut panggilan Kekasihnya dengan penuh semangat. Oleh karenanya, diriwayatkan bahwa Nabi Dawud ‘alaihis salam pernah berdoa: “Ya Allah, sungguh aku mohon (diberi) rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, juga amal-amal yang akan membawaku sampai kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kepada-Mu lebih aku cintai dibanding diriku sendiri, keluargaku, dan air yang sejuk.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits dha’if).
Siapa pun yang berpaling dari Allah, melupakan-Nya, mencintai dan bergantung kepada selain-Nya, niscaya hidupnya menjadi sempit.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." [QS: Thaha: 124-126).
Bila ia mencintai selain Allah, jiwanya akan tersiksa karenanya. Hatinya pun terpenjara dalam apa yang dicintainya itu, sebab semua selain Allah mudah berubah dan tidak terjamin kepastiannya. Ketika itulah pikirannya kacau, hidupnya berantakan, dan hatinya sangat kelelahan. Maka, tidak ada yang lebih malang darinya di dunia ini!
Sejauh ini, kita telah mengemukakan empat penyebab kelapangan hati. Sebenarnya, masih ada lima lagi penyebab lainnya. Namun, karena keterbatasan tempat, insya-Allah kita akan menyajikannya pekan depan. Sebagai gambaran ringkas, lima penyebab berikutnya adalah: kontinyu berdzikir, berbuat baik kepada sesama makhluk, keberanian, keluarnya kotoran hati, dan tidak berlebihan dalam hal-hal yang mubah. Wallahu a’lam








UBAHLAH DIRIMU, DUNIA BERUBAH DITANGANMU


 
UMUMNYA di antara kita gampang takjub terhadap kehebatan orang. Tetapi seringkali gagal atau mungkin malas mendesain diri agar bisa menjadi orang sukses. Tidak sulit kita menemukan anak-anak hari ini yang bermental kerdil, berwawasan sempit, dan bersemangat rendah.
Sekali mencoba dan ternyata gagal biasanya orang langsung mundur dan menyudahi usahanya. Padahal sukses, prestasi, ilmu, itu tidak bisa diperoleh hanya dengan satu langkah belaka. Sukses, prestasi, dan ilmu itu tidak bisa dicapai kecuali dengan kesungguhan upaya dan doa.
Pepatah mengatakan, “A journey of a thousand miles begins with a single step” (Sebuah perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah, red)
Suatu hari, di sebuah forum anak-anak muda, seorang tokoh yang usianya telah senja memberi motivasi, “Kalian masih muda jadi masih banyak kesempatan luas,  untuk bisa menjadi leader dalam membangun peradaban Islam. Saya sudah cukup tua, jadi tidak punya energi sebesar energi anak muda. Sedari sekarang desainlah dirimu untuk menjadi bagian terpenting dari perjuangan Islam untuk menuju tegaknya peradaban Islam,” ujarnya.
Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup di era Soeharto dalam sebuah acara di Fakultas Ekonomi UI  mengatakn, “Saya termasuk orang yang kurang setuju dengan pola perjuangan mahasiswa belakangan ini yang masih meniru gaya lama. Mahasiswa turun demo itu sudah ada sejak tahun 1960-an. Jadi jika ada mahasiswa masih hobi demo maka itu kemunduran,” paparnya.
Emil pun menghadirkan contoh bagaimana seharusnya mahasiswa berjuang. “Lihat Soekarno, ketika usia 23 tahun dia seorang mahasiswa. Dia fokus dan tekun sekali dalam belajar dan berorganisasi. Tiba saatnya pada usia 40 tahun dia bisa menjadi presiden RI. Anak muda secara umum memang belum saatnya memimpin saat ini, tetapi berlatihlah menjadi pemimpin sejak dini.”
Hebatnya Islam
Islam adalah agama yang mengajarkan setiap jiwa untuk melakukan perubahan diri sebelum melakukan perubahan pada yang lain, baik itu keluarga apalagi masyarakat.
Setelah rampung merubah diri sendiri maka insya Allah akan bisa menjaga keluarga sendiri. Dan, Allah telah memperingatkan dengan tegas bahwa setiap Muslim wajib menjaga diri dan keluarganya dari ancaman atau bahaya api neraka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...”(QS. At Tahriim [66]: 6).
Jadi Islam sangat identik dengan perubahan diri dan keluarga. Itulah mengapa pemikir Syed Muhammad Naquib Al-Attas pernah menjabarkan bahwa konsep terbaik dalam upaya membangun peradaban adalah dengan membangun individu-individu yang baik (sholeh). Bukan dengan membangun komunitas. Sebab komunitas itu adalah kumpulan individu. Manakala mayoritas individunya baik maka baiklah komunitas itu.
Teori perubahan diri inilah yang digunakan para pemimpin Islam sejak awal. Umar berhasil memimpin peradaban Islam dengan sangat baik karena ketatnya beliau dalam menjaga diri dari penyimpangan iman. Pengawasan Umar terhadap diri dan keluarga pun sangat luar biasa ketatnya. Umar yakin betul bahwa jika dirinya gagal merubah diri maka yang dipimpinnya pun tidak akan pernah mau dan bisa berubah.
Demikian pula halnya dengan para ulama. Imam Ghazali misalnya, ketika melihat situasi sosial masyarakat sudah tidak lagi memperhatikan dan mengutamakan tegaknya agama dalam keseharian. Beliau langsung melakukan perenungan untuk menciptakan satu perubahan diri.
Akhirnya dari proses panjang melakukan perubahan diri lahirlah kitab Ihya ‘Ulumuddin. Kitab fenomenal yang menginspirasi umat Islam hingga dewasa ini. Ihya ‘Ulumuddin dipandang sebagai bentuk kontribusi Imam Ghazali yang terbesar bagi kemenangan umat Islam dalam menghadapi tentara Salib yang digeneratori oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.
Jadi sebenarnya sederhana. Ketika kita ingin merubah situasi bangsa dan negara ke depan maka mulailah perubahan itu pada diri sendiri. Orang bijak berkata, "Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself."
Merubah diri itulah yang menjadi kunci utama perubahan dunia. Muhammad Sulthan Al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel, sebuah kota yang tak terkalahkan lebih dari 7 abad lamanya oleh ratusan atau bahkan mungkin ribuan serangan.
Apa rahasia Sultan Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Benteng Konstantinopel yang pernah disampaikan oleh Rasulullah sebagai kota yang akan ditaklukkan itu? Tiada lain adalah perubahan diri. Al-Fatih selama lebih dari 17 tahun benar-benar mendesain diri untuk menjadi pemimpin unggul. Bahkan sejak usia baligh pejuang yang dijuluki Pedang Malam itu tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud (qiyamul lail) dalam semalam pun. Apalagi shalat jama’ah, sholat rawatib saja beliau tidak pernah ketinggalan.
Pantas jika kemudian Allah memberikan satu teguran keras kepada umat Islam bahwa tidak akan ada kemenangan sebelum ada kesiapan dari umat Islam. Allah tidak akan pernah merubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri mau sungguh-sungguh melakukan perubahan.
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. 13 : 11).
Maka rencanakanlah perubahan dalam hidup kita untuk benar-benar menjadi Muslim yang baik sedini mungkin. Jika tidak maka kita benar-benar akan berada dalam kerugian yang besar.
Rasulullah mengingatkan kita bahwa siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka beruntunglah dia. Siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka merugilah dia. Dan, siapa yang esok lebih buruk dari hari ini maka celakalah dia.
Sebuah pesan perubahan diri yang sangat gamblang. Jadi tidak berlebihan jika kemudian ada ungkapan, ‘Ubahlah dirimu niscaya dunia akan berubah di tanganmu’. Kapan, sejauh memang kita ada kesungguhan (jihad) untuk mendapatkan energi besar, taufik dan hidayah kepada Allah.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ankabut [29]: 69).
Semoga kita termasuk bagian orang-orang yang berubah dalam kondisi lebih baik agar Allah Subhanahu Wata’ala bisa menurunkan taufiq nya kepada kita. Sebab jika kita ingin mengubah dunia, satu hal yang harus dilakukan adalah perubahan yang ada pada diri kita lebih dulu.







SEHATKAN MENTAL DAN PIKIRAN DENGAN SUNNAH  NABI  SEHARI HARI


DUNIA modern memang menyediakan berbagai macam perangkat teknologi, yang memudahkan segala urusan teknis manusia. Tetapi dunia modern tidak menyediakan konsep dan metode bagaimana hidup tentram dan bahagia. Apalagi standar utama kemakmuran dalam dunia modern tidak bisa diukur melainkan dengan materi belaka.
Akibatnya dunia modern tidak serta-merta hanya mengisi dunia dengan kecanggihan teknologi dan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi juga menyisakan problem serius yang mengancam mental dan pikiran manusia yang berujung pada terjadinya krisis moral luar biasa.

Krisis moral adalah akibat dari rusaknya mental dan nalar berpikir manusia dari yang seharusnya. Bagaimana tidak, mayoritas orang kini berpikir serba instan, pragmatis, dan hedonis. Demi kenikmatan-kenikmatan materi, manusia modern rela mengorbankan eksistensi dirinya sebagai makhluk sosial. Merasa cukup bahagia dengan harta dan tidak pernah resah-gelisah dengan nasib sesama.
Manusia modern kini banyak yang mengalami apa yang disebut dengan sakit psikosomatik. Sebuah penyakit mental dan pikiran yang tentunya tidak disebabkan oleh bakteri, virus, atau pertumbuhan jaringan tubuh yang tidak normal. Melainkan karena sikap dan perilaku sehari-hari  yang jauh dari pengamalan nilai-nilai agama. Apalagi secara sosial, religiusitas umat Islam Indonesia juga kian tergerus dan semakin memprihatinkan.
Seorang penulis  memberikan perbandingan yang sangat tajam. Manusia primitif bahkan lebih baik dalam memuaskan dorongan hasratnya ketimbang manusia modern. Kehidupan mereka yang nomaden terbebas dari kegelisahan mental. Manusia primitif tidak menderita sakit jiwa, hingga menghalalkan segala cara seperti sekarang marak terjadi. Justru karena kemajuan peradaban dalam bidang teknologi, industri, dan urbanisasi, manusia modern banyak yang menderita sakit mental yang sangat serius.
Serakah
Pertanyaannya kemudian mengapa justru manusia modern yang secara sains dan teknologi berada di atas manusia primitif, malah lebih buruk mentalitasnya? Jawabannya sederhana, manusia modern gagal mengendalikan diri dari sifat rakus, serakah, alias tamak.
Ilmu yang dimiliki tidak dimaksimalkan untuk membangun kemaslahatan bersama. Melainkan untuk ambisi pribadi semata. Ketika ini menjadi tabiat sebuah masyarakat, di mana materialisme menjadi sumbu sentral dalam kehidupannya, maka kemakmuran material adalah yang paling utama di atas segala-galanya, sekalipun secara lahiriah mereka masih mengaku beragama.
Kini, banyak kita saksikan, termasuk di lingkungan yang tidak jauh dari kehidupan kita, manusia berbondong-bondong mencari kepuasan materil dan mengabaikan kebutuhan jiwa yang menjadi unsur utama kemanusiaan.
Padahal, keika manusia mengabaikan kebutuhan batiniahnya, berarti ia telah mendustai eksistensi dirinya yang paling hakiki. Oleh karena itu wajar jika kemudian kehidupan manusia modern mayoritas berada dalam tekanan dan kegelisahan secara terus-menerus. Hal itu tiada lain karena ketamakan, kerakusan, dan keserakahan yang menjadikan iman dan akal sehatnya tumpul tak berguna.
Ketika manusia telah kehilangan api iman dan akal sehatnya, maka sungguh ia tidak akan pernah hidup bahagia, meskipun berilmu dan berharta. Karena orang seperti itu adalah orang yang hidup untuk hawa nafsu.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al-Jaatsiyah [45] : 23).
Resep Bahagia
Memiliki harta tidak haram dalam Islam, bahkan perlu dalam perjuangan. Menjadi manusia produktif juga bukan larangan, malah merupakan teladan dari Nabi dan para sahabat, serta alim ulama.
Islam hanya melarang umatnya hidup timpang, dengan mengedepankan kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat. Apalagi menjadikan dunia sebagai surga hingga takut mati.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashshash [28] : 77).
Ayat tersebut merupakan panduan atau boleh dikatakan resep untuk hidup bahagia. Persis seperti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu hidup dengan mengedepankan kebahagiaan akhirat dengan tidak mengabaikan dunia.
Mentalitas dan daya nalar seperti ini harus dibangun oleh setiap jiwa umat Islam. Karena inilah kunci hidup yang paling utama untuk bisa menjadi lebih tentram dan bahagia bahkan lebih aktif dan produktif.
Tidak berlebihan jika ada ungkapan bahwa umat Islam masa lalu berkepribadian luar biasa. Di siang hari mereka laksana singa jantan, di malam hari mereka menjadi ahli ibadah, yang bermunajat di keheningan malam mengharap pertolongan dan kemengan dari Allah SWT.
Siang dan malam mereka menjadi sangat produktif. Kesibukan niaga dan berbagai perkara keduniawian tidak menyebabkan mereka jauh apalagi ogah dengan ibadah dan Al-Qur’an. Siang mereka bekerja keras, malam mereka bangun, berdoa dan memohon ampunan. Hal inilah yang menyebabkan mentalitas dan daya nalar umat Islam dahulu tetap stabil, sekalipun hidup berlimpah harta. Setidaknya itulah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf.
Dengan cara pandang akhirat lebih utama dengan tidak mengabaikan dunia menjadikan para sahabat hidup tentram dan bahagia. Baik mereka yang kaya ataupun tidak. Semua merasa bahagia, karena setiap hari mereka mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi secara sungguh-sungguh.
Keseharian Nabi
Bagaiman Nabi mengisi hari-harinya? Tentu banyak uraian yang menjelaskan bagaiman Nabi mengisi hidupnya sehari-hari. Tetapi secara global tradisi Nabi dalam keseharian itu dapat dilihat dari kandungan Surah Al-Muzzammil ayat 1 – 10.
Di keheningan malam yang sunyi dan melelapkan, Nabi saw justru beranjak dari tempat tidur, menyibakkan selimut, tegak dan mendirikan sholat sunnah tahajjud. Kemudian membaca Al-Qur’an dengan tartil. Dalam makna filosofis tartil bisa diartikan sebagai membaca dengan penuh kesungguhan untuk benar-benar memahami kandungan bacaan Al-Qur’an untuk diamalkan.
Kemudian Nabi saw tidak pernah lepas dari menyebut nama Allah (dzikir) dan beribadah dengan penuh ketekunan (konsisten). Itulah mengapa Nabi saw tidak mudah terbawa emosi, apalagi memperturutkan ambisi pribadi.
Apapun yang terjadi, Nabi saw senantiasa mengingat Allah, sehingga setiap keputusan dan kebijakannya senantiasa mendatangkan maslahat. Bagi Nabi saw, Allah adalah satu-satunya tempat mengadu, berlindung, dan memohon pertolongan.
Sebagai orang beriman kita patut untuk bersungguh-sungguh meneladani tradisi Nabi saw dalam sehari-hari. Apapun aktivitas kita, status kita, dan problem kehidupan kita, semua akan mudah untuk diatasi jika kita benar-benar mengikuti dan meneladani sunnah-sunnah Rasulullah saw. Sebab hanya dengan cara seperti itulah, kita benar-benar akan mampu menghidupkan iman dengan benar.
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al-Ra’d [13] : 28).
Sayyidina Ali r.a. menjelaskan bahwa dengan mengingat Allah seseorang akan menemukan kembali pendengarannya setelah tuli, memperoleh kembali pandangannya setelah buta, dan menjadi lembut serta penuh ketaatan setelah liar dan memberontak.
Dengan kata lain, orang yang jauh dari Allah akan tetap tuli, buta, dan liar. Inilah orang yang akan rusak mental dan kesehatan berpikirnya. Jika demikian, masihkah kita enggan untuk mengikuti sunnah-sunnah Nabi?







RAIH KEBERUNTUNGAN HAKIKI DENGAN JIHAD DAN BERTAKWA


 
TIDAK ada istiah keberuntungan jika sesudahnya neraka, dan tidak ada istilah kesialan, jika sesudahnya adalah surga, demikian ungkap sahabat Nabi saw, Abu Bakar al-Shiddiq.
Ungkapan itu sangat sederhana dan mudah dicerna oleh siapa saja. Tetapi hari ini, ternyata tidak begitu banyak yang meminatinya. Umumnya orang tidak mampu melihat keuntungan dengan benar. Demi keuntungan sesaat, biar haram, hantam. Sebagian masih mengerjakan shalat, tetapi itu tak mampu mengarahkannya menjadi Mu’min sejati.

Ketika berbicara dunia seolah tidak ada kesempatan lagi, banyak yang berlomba-lomba meraihnya dengan berbagai cara. Sementara ketika membahas soal akhirat, amat sedikit yang menyambutnya. Terbukti, ketika adzan berkumandang misalnya, tidak banyak orang yang bergegas untuk segera menuju masjid sholat berjama’ah. Ini menandakan bahwa iman yang ada dalam dada masih lemah dan harus dikuatkan serta terus diteguhkan.
Amru bin Ash berkata, “Seseorang akan memetik buah penyesalan dari sikap ketergesa-gesaannya, dan ketergesa-gesaan yang tercela adalah jika bukan untuk ketaatan.” Artinya, iman akan menjadi semakin baik dan kuat manakala kita senantiasa bersegera dalam ketaatan dan ampunan.
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran : 133).
Jadi, bersegera menuju ampunan Allah adalah perkara utama bagi setiap Muslim. Hendaknya tidak satu perkara pun yang menghalangi kita untuk bersegera menuju ampunan Allah, sekalipun perkara itu berupa perkara yang sangat membahagiakan secara jasadiah.
Dalam kasus ini kita patut merenungkan sikap yang diambil oleh Hanzhalah bin Amir. Ia adalah seorang sahabat yang syahid di medan perang Uhud, sehari setelah melepas masa lajangnya dengan menikahi Jamilah binti Ubay.
Sebagai pengantin baru, tentu layak jika Hanzhalah meminta dispensasi kepada Nabi saw untuk tidak turun dalam jihad bersama kaum Muslimin. Tetapi Hanzhalah memilih untuk bergabung dengan pasukan Muslimin jihad fi sabilillah.
Di medan perang ia melihat Abu Sofyan menunggang kuda dengan pongah dikelilingi ribuan tentara kafir. Dengan sigap Hanzhalah langsung menuju Abu Sofyan untuk berduel pedang. Abu Sofyan tidak mampu mengatasi serangan-serangan Hanzhalah, hingga tokoh kafir Quraisy itu tersungkur dari kudanya.
Menyadari kekuatan Hanzhalah, Abu Sofyan lari terbirit-birit. Seolah tak mau kehilangan momentum, Hanzhalah mengejar Abu Sofyan. Dalam pengejarannya, Hanzhalah ditombak dari belakang oleh pasukan kafir Quraisy. Pengantin baru itu pun tersungkur bersimbah darah. Tetapi Hanzhalah masih berusaha bangkit dan mengejar.
Tetapi karena darah segar yang keluar begitu deras, menjadikan fisiknya tak mampu lagi mengejar musuh Islam itu. Hanzhalah kembali terjatuh dan syahid di jalan Allah SWT. Rasuluh saw langsung melihat jasad Hanzhalah, beliau berkata bahwa para malaikat memandikan Hanzhalah dengan air surga.
Di sinilah dapat kita pahami pernyataan Abu Bakar Al-Shiddiq yang mengatakan bahwa “Tak ada istiah keberuntungan jika sesudahnya neraka, dan tidak ada istilah kesialan, jika sesudahnya adalah surga”.
Hanzhalah benar-benar tidak sial, sekalipun meninggal dunia ketika tidak berapa lama menikmati masa bulan madunya. Sebab Allah menggantikannya dengan nikmat yang lebih besar. Bahkan anaknya yang dikandung oleh istrinya Jamilah binti Ubay, ketika dewasa, juga menjadi orang yang selalu bersegera dalam jihad dan takwa.
Lalu bagaimanakah dengan kita dalam kehidupan sehari-hari? Sebagai seorang Muslim, tentu kita harus memprioritaskan seruan Allah dan Rasul di atas segala perkara keduniaan.
Jika tiba waktu shalat, maka bersegeralah mendirikan sholat. Jika ada saudara sakit, bersegeralah menjenguknya. Jika ada yang membutuhkan bersegeralah membantunya. Dalam hal jihad dan takwa, sangat tidak baik jika kita menunda-nundanya.
Kenapa kita tidak boleh menundanya?
Sungguh kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggal dunia. Boleh jadi umur kita sangat dekat, sementara waktu tidak akan kemana-mana selain akan terus mendekatkan jarak kita dengan kematian. Jadi, tunggu apalagi, bersegeralah dalam jihad dan takwa.
Lantas “jihad” apa yang masih bisa kita lakukan saat ini?
Jihad menurut istilah syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan (dalam hal ini perang  dengan orang-orang kafir). Namun “jihad” dalam istilah lain dimutlakkan untuk melawan hawa nafsu, syaithan, dan orang-orang fasiq. Adapun jihad melawan hawa nafsu, maka hal itu ditempuh melalui belajar perkara-perkara agama dan kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya. Adapun jihad melawan syaithan adalah dengan menolak segala bentuk syubuhaat dan syahawat yang selalu dihiasi oleh syaithan. Adapun jihad melawan kuffar maka hal itu dilakukan dengan tangan, harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan orang-orang fasiq adalah dengan tangan, lisan, dan hati.“ [Fathul-Bari oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani]
Kita masih bisa melakukan “jihad” dalam istilah lain. Karenanya,  mengapa, sekalipun sakit dan sangat lemah, Rasulullah tetap berusaha untuk hadir dalam sholat berjama’ah. Bahkan sepanjang hayatnya, beiau tidak pernah melewatkan malam kecuali melaluinya dengan ruku’ dan sujud.
Demikian pula dengan Umar r.a. Sekalipun memikul sekarung gandum itu tidak ringan, di tengah malam pula, demi kebahagian rakyat yang dipimpinnya, ia berusaha untuk memikulnya sendiri.
Begitu pula dengan apa yang dicontohkan oleh Sayyidina Ali r.a dan Fatimah Az-Zahrah. Sekalipun diri dan keluarganya sangat membutuhkan makanan, tetapi keduanya rela melepaskan makanan yang lama dinantinya itu kepada pengemis yang lebih membutuhkan.
Atau seperti Mu’adz bin Jabal, seorang pemuda yang hadir di masjid sebelum adzan dikumandangkan dan selalu shalat dibelakang Rasulullah yang menjadi imam shalat berjama’ah. Itulah tauladan yang sangat baik untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar ingin menjadi hamba Allah yang bertakwa.
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 134).
Pantas jika kemudian Allah Subhahanu Wata’ala menegaskan kepada kita bahwa semua manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali yang konsisten saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Kita punya ilmu, punya harta, punya keahlian, waktu dan kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk kebaikan. Jika demikian, mari bersegera dalam “jihad” dalam bentuk waktu, harta, ilmu dan segala yang kita miliki ini untuk kita kerahkan membela agama serta takwa. Hanya dengan cara itu saja, setiap Muslim akan meraih keberuntungan hakiki, dunia dan akhirat.






MAU MERAIH SURGA? YA BERBUATLAH BAIK KARENA  ALLAH

 
TIDAK ada istiah keberuntungan jika sesudahnya neraka, dan tidak ada istilah kesialan, jika sesudahnya adalah surga, demikian ungkap sahabat Nabi saw, Abu Bakar al-Shiddiq.
Ungkapan itu sangat sederhana dan mudah dicerna oleh siapa saja. Tetapi hari ini, ternyata tidak begitu banyak yang meminatinya. Umumnya orang tidak mampu melihat keuntungan dengan benar. Demi keuntungan sesaat, biar haram, hantam. Sebagian masih mengerjakan shalat, tetapi itu tak mampu mengarahkannya menjadi Mu’min sejati.

Ketika berbicara dunia seolah tidak ada kesempatan lagi, banyak yang berlomba-lomba meraihnya dengan berbagai cara. Sementara ketika membahas soal akhirat, amat sedikit yang menyambutnya. Terbukti, ketika adzan berkumandang misalnya, tidak banyak orang yang bergegas untuk segera menuju masjid sholat berjama’ah. Ini menandakan bahwa iman yang ada dalam dada masih lemah dan harus dikuatkan serta terus diteguhkan.
Amru bin Ash berkata, “Seseorang akan memetik buah penyesalan dari sikap ketergesa-gesaannya, dan ketergesa-gesaan yang tercela adalah jika bukan untuk ketaatan.” Artinya, iman akan menjadi semakin baik dan kuat manakala kita senantiasa bersegera dalam ketaatan dan ampunan.
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran : 133).
Jadi, bersegera menuju ampunan Allah adalah perkara utama bagi setiap Muslim. Hendaknya tidak satu perkara pun yang menghalangi kita untuk bersegera menuju ampunan Allah, sekalipun perkara itu berupa perkara yang sangat membahagiakan secara jasadiah.
Dalam kasus ini kita patut merenungkan sikap yang diambil oleh Hanzhalah bin Amir. Ia adalah seorang sahabat yang syahid di medan perang Uhud, sehari setelah melepas masa lajangnya dengan menikahi Jamilah binti Ubay.
Sebagai pengantin baru, tentu layak jika Hanzhalah meminta dispensasi kepada Nabi saw untuk tidak turun dalam jihad bersama kaum Muslimin. Tetapi Hanzhalah memilih untuk bergabung dengan pasukan Muslimin jihad fi sabilillah.
Di medan perang ia melihat Abu Sofyan menunggang kuda dengan pongah dikelilingi ribuan tentara kafir. Dengan sigap Hanzhalah langsung menuju Abu Sofyan untuk berduel pedang. Abu Sofyan tidak mampu mengatasi serangan-serangan Hanzhalah, hingga tokoh kafir Quraisy itu tersungkur dari kudanya.
Menyadari kekuatan Hanzhalah, Abu Sofyan lari terbirit-birit. Seolah tak mau kehilangan momentum, Hanzhalah mengejar Abu Sofyan. Dalam pengejarannya, Hanzhalah ditombak dari belakang oleh pasukan kafir Quraisy. Pengantin baru itu pun tersungkur bersimbah darah. Tetapi Hanzhalah masih berusaha bangkit dan mengejar.
Tetapi karena darah segar yang keluar begitu deras, menjadikan fisiknya tak mampu lagi mengejar musuh Islam itu. Hanzhalah kembali terjatuh dan syahid di jalan Allah SWT. Rasuluh saw langsung melihat jasad Hanzhalah, beliau berkata bahwa para malaikat memandikan Hanzhalah dengan air surga.
Di sinilah dapat kita pahami pernyataan Abu Bakar Al-Shiddiq yang mengatakan bahwa “Tak ada istiah keberuntungan jika sesudahnya neraka, dan tidak ada istilah kesialan, jika sesudahnya adalah surga”.
Hanzhalah benar-benar tidak sial, sekalipun meninggal dunia ketika tidak berapa lama menikmati masa bulan madunya. Sebab Allah menggantikannya dengan nikmat yang lebih besar. Bahkan anaknya yang dikandung oleh istrinya Jamilah binti Ubay, ketika dewasa, juga menjadi orang yang selalu bersegera dalam jihad dan takwa.
Lalu bagaimanakah dengan kita dalam kehidupan sehari-hari? Sebagai seorang Muslim, tentu kita harus memprioritaskan seruan Allah dan Rasul di atas segala perkara keduniaan.
Jika tiba waktu shalat, maka bersegeralah mendirikan sholat. Jika ada saudara sakit, bersegeralah menjenguknya. Jika ada yang membutuhkan bersegeralah membantunya. Dalam hal jihad dan takwa, sangat tidak baik jika kita menunda-nundanya.
Kenapa kita tidak boleh menundanya?
Sungguh kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggal dunia. Boleh jadi umur kita sangat dekat, sementara waktu tidak akan kemana-mana selain akan terus mendekatkan jarak kita dengan kematian. Jadi, tunggu apalagi, bersegeralah dalam jihad dan takwa.
Lantas “jihad” apa yang masih bisa kita lakukan saat ini?
Jihad menurut istilah syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan (dalam hal ini perang  dengan orang-orang kafir). Namun “jihad” dalam istilah lain dimutlakkan untuk melawan hawa nafsu, syaithan, dan orang-orang fasiq. Adapun jihad melawan hawa nafsu, maka hal itu ditempuh melalui belajar perkara-perkara agama dan kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya. Adapun jihad melawan syaithan adalah dengan menolak segala bentuk syubuhaat dan syahawat yang selalu dihiasi oleh syaithan. Adapun jihad melawan kuffar maka hal itu dilakukan dengan tangan, harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan orang-orang fasiq adalah dengan tangan, lisan, dan hati.“ [Fathul-Bari oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani]
Kita masih bisa melakukan “jihad” dalam istilah lain. Karenanya,  mengapa, sekalipun sakit dan sangat lemah, Rasulullah tetap berusaha untuk hadir dalam sholat berjama’ah. Bahkan sepanjang hayatnya, beiau tidak pernah melewatkan malam kecuali melaluinya dengan ruku’ dan sujud.
Demikian pula dengan Umar r.a. Sekalipun memikul sekarung gandum itu tidak ringan, di tengah malam pula, demi kebahagian rakyat yang dipimpinnya, ia berusaha untuk memikulnya sendiri.
Begitu pula dengan apa yang dicontohkan oleh Sayyidina Ali r.a dan Fatimah Az-Zahrah. Sekalipun diri dan keluarganya sangat membutuhkan makanan, tetapi keduanya rela melepaskan makanan yang lama dinantinya itu kepada pengemis yang lebih membutuhkan.
Atau seperti Mu’adz bin Jabal, seorang pemuda yang hadir di masjid sebelum adzan dikumandangkan dan selalu shalat dibelakang Rasulullah yang menjadi imam shalat berjama’ah. Itulah tauladan yang sangat baik untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar ingin menjadi hamba Allah yang bertakwa.
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 134).
Pantas jika kemudian Allah Subhahanu Wata’ala menegaskan kepada kita bahwa semua manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali yang konsisten saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Kita punya ilmu, punya harta, punya keahlian, waktu dan kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk kebaikan. Jika demikian, mari bersegera dalam “jihad” dalam bentuk waktu, harta, ilmu dan segala yang kita miliki ini untuk kita kerahkan membela agama serta takwa. Hanya dengan cara itu saja, setiap Muslim akan meraih keberuntungan hakiki, dunia dan akhirat.







 KUATKAN IMANMU, PELIHARALAH RASA MALU


“SESUNGGUHNYA setiap agama mempunyai akhlak dan sesungguhnya akhlak Islam adalah malu,” demikian hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
Malu bukanlah sifat yang mudah untuk dimiiki. Malu hanya akan tumbuh dan menjadi perangai seorang Muslim manakala imannya kepada Allah dan hari akhir benar-benar sangat kokoh.
Hari ini nampaknya sebagian besar umat Islam agak abai dengan sifat malu ini. Contoh paling nyata adalah beberapa sikap kaum Muslimah yang belum menutup aurat ketika memajang foto-foto yang semestinya tidak di upload ke dunia maya malah justru sangat disenangi dan digandrungi.
Bahkan ada yang suka memasang foto dirinya saat berenang dengan pakaian yang tidak sepantasnya. Demikian pula dengan yang laki-laki yang juga memajang foto-foto anggota badan yang termasuk aurat ke dalam status Facebook-nya.
Mengenai aurat ini, perhatian Rasulullah sangat tegas. Beliau bersabda; “Sesungguhnya Allah Maha lembut, Maha malu dan Maha menutupi, Dia menyukai sifat malu dan menutupi, maka jika salah seorang dari kalian mandi, hendaknya dia menutup diri.”
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa lihat dari sikap sebagian kaum Muslimin yang tidak bersegera menunaikan kewajiban-kewajibannya. Sudah tahu waktu sholat tidak lama lagi, lantunan adzan pun mulai terdengar, tetapi masih lebih memilih asyik nonton di depan TV, bahkan sebagian lainnya masih asyik ber-Facebook ria. Hal ini juga menandakan bahwa sifat malu belum menjadi bagian tak terpisahkan dari sebagian umat Islam.
Dalam ajaran Islam, seorang Muslim yang melakukan dua contoh sikap di atas, dan termasuk Muslim yang mengabaikan imannya hanya karena urusan keduniaan, termasuk kelompok Muslim yang belum memiliki rasa malu. Mengapa demikian?
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Mereka menjawab, “Alhamdulillah, kami malu.”
Nabi pun melanjutkan sabdanya; “Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah hendaknya kamu menjaga kepala dan apa yang dipahaminya, menjaga perut dengan isisnya, hendaknya kamu mengingat kematian dan hancurnya jasad sesudahnya, barangsiapa menginginkan akhirat, niscaya dia meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa melakukan hal itu, maka dia tetlah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.”
(HR. Tirmidzi).
Itulah mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak pernah melewati malam melainkan dengan bangun untuk tahajjud. Beliau malu kepada Allah jika nikmat yang begitu besar dan amanah yang tidak ringan tidak ditunaikan secara sungguh-sungguh dengan penuh kesyukuran. Beliau malu jika sepanjang malam digunakan hanya untuk tidur. Demikianlah sifat manusia agung yang sangat pemalu, terutama kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Ketika malam Mi’raj dalam perjalanan beliau kembali ke langit dunia untuk membawa perintah mendirikan sholat, beliau bolak-balik menghadap Allah karena mendapat saran Nabi Musa agar perintah sholat yang Allah wajibkan atas umatnya dikurangi jumlah raka’atnya.
Akhirnya setelah mendapatkan keringanan menjalankan shalat lima waktu sehari semalam, Nabi Musa masih menyarankan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam minta keringanan kepada Allah. “Istahyaytu min rabbi” demikian jawab manusia agung itu. “Aku malu kepada Rabbku”. Subhanallah, Rasulullah saja malu meminta keringanan lagi, lalu mengapa sebagian umat Islam tidak bersemangat mendirikan shalat.
Bahkan Rasulullah malu hanya berdoa untuk dirinya sendiri. Beliau malu kepada Allah sekaligus malu kepada seluruh umatnya jika berdoa hanya untuk diri beliau sendiri, apalagi setiap doa beliau pasti dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Hal ini beliau jelaskan dalam sebuah sabdanya; “Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajab, lalu masing-masing dari mereka bersegera menggunakan doanya (di dunia), namun aku menyimpan doaku sebagai syafa’at bagi umatku di hari kiamat, ia akan didapatkan Insya Allah oleh siapa pun dari umatku yang mati daam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun.” (HR. Bukhari).
Jika Rasulullah malu kepada kita sebagai umatnya, dan mengkhususkan doa mustajabnya untuk kita, lalu mengapa kita tidak malu mengabaikan amanah dan sunnah-sunnah beliau, sementara kita selalu berharap mendapat syafaatnya kelak di hari kiamat?
Malu dalam Pergaulan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam juga sangat memperhatikan rasa malu dalam pergaulan. Aisyah mengatakan bahwa beliau senantiasa menjaga diri dari yang tidak baik (iffah) dan menjaga kesendirian. “Nabi seorang yang tidak suka berkata kotor, tidak gemar menjelek-jelekkan, dan tidak berteriak-teriak di pasar,” demikian tutur istri beliau yang banyak meriwayatkan hadits-haditsnya.
Urusan malu adalah urusan iman dan termasuk perkara yang besar. “Malu itu termasuk dari iman, dan iman itu di dalam surga, keburukan ucapan termasuk sikap tidak peduli (kurang ajar) dan sikap tidak peduli itu adalah di neraka,” demikian tegas Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oeh Tirmidzi.
Rasulullah menjelaskan bahwa malu adalah lawan dari keburukan ucapan, ia tidak akan pernah sejalan dengannya. Manakala kita menjumpai manusia yang lisannya selalu menjelek-jelekkan orang lain, dan membangga-banggakan dirinya, cukuplah bukti bahwa orang itu tidak punya rasa malu yang berarti cacat keimanannya. Dan, tidak ada yang dikehendakinya melainkan kehidupan dunia belaka.
Di sinilah fungsi utama akhlak. Oleh karena itu akhlak dalam Islam itu meliputi banyak sisi, mulai dari akhlak kepada Allah, manusia dan alam semesta.
Maka dari itu, milikilah akhlak yang mulia karena hanya dengan akhlak mulia itu seorang Muslim akan memiliki rasa malu yang sebenar-benarnya. Bukan rasa malu yang umum disalahpahami oleh kebanyakan manusia, dimana malu hanya ditujukan kepada manusia. Padahal malu yang benar adalah malu kepada Allah bukan kepada manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Seseorang lebih patut untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia.” (HR. Abu Dawud).*
Perilaku sebagian orang yang gemar mengambil hak orang lain (korupsi), tidak jujur, dan takut diketahui orang segala rencana dan perbuatannya yang merusak, semuanya termasuk sifat tercela dan menunjukkan ketiadaan rasa malu yang benar kepada Allah SWT.
Orang yang seperti itu biasanya akan shock jika keburukannya diketahui oleh orang lain, sebab baginya tidak ada yang lebih ditakutkan kecuali ada manusia mengetahuinya. Terhadap Allah, orang seperti itu tidak benar-benar malu. Oleh karena itu tidak mengherankan jika mereka berani melawan perintah Allah, asalkan manusia tidak mengetahui dan menentangnya. Naudzubillah.
Terhadap orang seperti itu, Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya di antara ajaran yang manusia dapatkan dari perkataan kenabian yang pertama adalah Apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kau mau.” (HR. Bukhari).
Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman; “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 41: 40).
Tentu penegasan Rasulullah yang terakhir itu bukanlah perintah untuk berbuat sesuka hati, melainkan untuk menghindar dari perbuatan memperturutkan hawa nafsu. Karena menuruti hawa nafsu akan menghilangkan kemampuan akal sehat dan menjadikan seorang manusia hidup tanpa iman dan karena itu tidak punya sifat malu. Padahal dalam Islam, malu adalah bagian dari keimanan.*
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar