Senin, 23 Juli 2012

KAJIAN

TAK  HANYA WAKTU YANG TERUS BERJALAN




Telah menjadi kebisaan para ulama terdahulu, ketika mereka diajak untuk berbincang-bincang yang tak perlu, atau ajakan-ajakan iseng yang hanya menghabiskan waktu, mereka mengatakan, “auqifisy syamsa”, hentikan dahulu (peredaran) matahari! Yakni jika waktu bisa dihentikan perputarannya, barulah mereka sudi melayani hal-hal yang tak berguna. Realitanya, waktu terus berjalan,  menggerus umur manusia. Waktu akan habis dengan sendirinya, seberapapun manusia memanfaatkannya. Untung ruginya manusia, tergantung bagaimana ia mengisi waktunya.
Seperti dikatakan, “waktu seumpama pedang, jika kamu tak cakap menggunakannya, pedang itu akan menebas dirimu sendiri.” Jika waktu tidak digunakan untuk hal-hal yang bemanfaat dan bernilai taat, maka waktu menyediakan peluang untuk kemaksiatan dan hal-hal yang merugikan. Karena itulah Allah bersumpah dengan waktu, “wal  ‘ashr”, demi masa, lalu dilanjutkan dengan ‘innal insaana lafii khusrin’, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian dan seterusnya. Karena manusia bisa rugi karena salah menggunakan waktu, dan bisa beruntung ketika bisa memanfaatkannya.
Pikiran Juga Terus Berjalan
Tak hanya waktu yang memiliki tabiat terus berjalan.  Pikiran manusia pun demikian. Tak ada pikiran yang stagnan atau diam saat terjaga. Ia pasti menjelajah, mengembara atau memikirkan hal-hal yang disengaja maupun tidak. Jika kita secara sadar  tidak menggunakan pikiran kita untuk memikirkan keagungan penciptaan Allah, merenungkan ayat-ayat Qur’aniyah, merencanakan hal-hal yang bisa mendatangkan maslahat dunia dan akhirat, menghafal dan menganalisa ilmu-ilmu yang bermanfaat dan semisalnya, maka pikiran tetap saja ‘bergentayangan.’ Secara reflek akan hadir lintasan-lintasan pikiran. Apakah berupa lamunan dan khayalan, atau bisa jadi berupa cetusan ide buruk yang besar kemungkinan dibisikkan oleh setan. Karena Allah berfirman,
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan (ide) yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112)
Padahal, bermula dari cetusan dan lintasan pikiranlah manusia bergerak dan berbuat. Jika yang terlintas dalam pikiran adalah suatu kebaikan, keutamaan, kemanfaatan, maka hasilnya adalah perbuatan yang mendatangkan kemaslahatan, begitupun sebaliknya. Karenanya, ulama klasik Abul Wafa Ali Ibnu Uqail, penulis kitab al-Funuun selalu mengarahkan pikirannya kepada hal-hal yang bermanfaat. Beliau mengatakan,  “Sesungguhnya aku tak ingin membiarkan diriku membuang-buang waktu meski hanya sesaat dalam hidupku. Sampai-sampai apabila lidahku berhenti berdzikir atau berdiskusi, pandangan mataku juga berhenti membaca, segera aku mengaktifkan pikiranku kala beristirahat sambil berbaring. Ketika aku bangkit, pasti sudah terlintas sesuatu yang akan kutulis.” (Al-Muntazham,  Ibnu al-Jauzi)
Betapa pentingnya berpikir positif, hingga banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan kita untuk menggunakan pikiran untuk hal yang bermanfaat. Dan banyak pula ayat yang berupa teguran, peringatan atau bahkan celaan bagi orang yang tidak memanfaatkan pikirannya. Baik dengan kalimat “afalaa ta’qiluun…afalaa tatafakkaruun…afalaa tubshiruun” dan semisalnya.
Potensi Lain yang Tak Kenal Diam
Potensi lain pada manusia yang sulit untuk diam adalah aktivitas jasad. Selagi ia masih hidup, sekecil apapun gerakan, pasti ia akan beraktivitas. Dan gerakan-gerakan itulah yang mengejawantahkan gagasan pikiran, atau ungkapan hati dan perasaan. Dari mulai kerlingan mata, sentuhan tangan, langkah kaki, ucapan lisan dan anggota tubuh yang lain akan terus bergerak. Ada aktivitas yang mendatangkan faedah, ada yang sekedar iseng, dan adapula bahkan aktivitas yang merugikan diri sendiri. Cukuplah manusia dikatakan rugi jika dia tidak sedang bergerak untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat untuk dirinya. Dan kelak, masing-masing anggota badan akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah, dan masing-masing akan menjadi saksi atas apa yang telah manusia perbuat di dunia. Allah berfirman,
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yaasin: 65)
Ada lagi potensi manusia yang tak pernah berhenti beraktivitas, yakni nafsu. Karakter nafsu itu ‘anfasa’, selalu berhembus.Ia tak pernah netral atau diam. Jika akal sehat yang dibimbing oleh wahyu mengendalikannya, maka ia akan takluk mengikuti hembusan menuju ketaatan. Namun jika tidak dikendalikan, nafsu akan mencari arah sendiri yang sesuai dengan tabiat asalnya, yakni, “inna an-nafsa la-ammaaratun bis suu’, sesungguhnya nafsu itu cenderung kepada keburukan. Atau nafsu akan diperalat oleh setan, karena nafsu adalah ‘mathiyyatusy syaithan’, kendaraan setan untuk masuk ke dalam hati manusia dan mengobrak-abrik kekayaan iman di dalamnya.
Maka benarlah ungkapan, “nafsu itu jika Anda tidak menyibukkan ia dengan kebaikan, maka nafsu akan menyibukkan Anda dengan kemaksiatan.”
Maka, kata kunci bagi kesuksesan manusia dalam hal ilmu, kemampuan, kebahagiaan dunia maupun akhirat tergantung bagaimana menggunakan segala potensi yang terus berjalan dan tak kenal diam. Perolehan akhirnya sepadan dengan usahanya dalam memanfaatkan waktu, mengerahkan pikiran, memberdayakan tenaga dan bagaimana kegigihannya dalam mengendalikan nafsu yang terus aktif bergerak. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, aamiin






BAHTERA YANG KANDAS


Rasanya, tidak ada manusia waras yang menghendaki perceraian dalam keluarganya. Begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari peristiwa ini; kekerabatan yang putus, trauma psikologis yang dalam, anak-anak yang menjadi korban, tudingan miring masyarakat sekitar, hingga hilangnya rasa percaya diri. Pada beberapa kasus malah berakhir tragis karena didera keputusasaan berkepanjangan.
Namun, mewujudkan keluarga yang nyaman, dipenuhi cinta dan kasih sayang (sakinah, mawaddah wa rahmah) di jaman seperti ini juga semakin sulit saja. Seperti membangun istana pasir yang indah namun mudah hancur karena pondasinya yang rapuh. Banyak keluarga modern yang gemerlap dalam penampilan, indah dalam penglihatan, namun kehilangan visi dan arah perjalanan. Jiwa-jiwa mereka hampa dan merana. Pencapaian materi tidak bisa memenuhi kebutuhan akan kenyamanan batin mereka.
Faktanya, angka perceraian semakin tahun semakin meningkat tajam. Kesakralan keluarga memudar dan komitmen berperan para anggotanya melemah. Sedikit saja menemui hal-hal yang tidak mengenakkan dan diinginkan, mereka bisa bubar jalan tanpa melihat akibatnya di masa mendatang. Banyak bahtera keluarga yang kandas di tengah perjalanan, karam di tengah lautan yang dalam. Penyesalan berkeluarga pun seolah menjadi wacana biasa dalam keseharian.
Seringkali, suasana keluarga jauh dari harapan karena datangnya riak-riak kecil yang akhirnya menjadi badai. Prahara yang muncul memengaruhi kualitas kenyamanan dan mengganggu keikhlasan anggota keluarga, hingga kezhaliman terjadi nyaris sepanjang hari. Kekerasan fisik dan psikis membuat rumah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman dan aman. Banyak yang kemudian tidak bisa bersabar, sehingga keinginan berpisah mulai melintas dalam angan.
Banyak pria dan wanita yang arogan, hanya mengenal bahasa perintah, larangan, hardikan, caci maki, buruk dalam pergaulan dengan anggota keluarga, ringan tangan, susah bertoleransi, emosional, mudah mengeluh, sulit berkomunikasi, posesif, hingga yang egois, hanya memikirkan diri sendiri dan sulit berbagi. Apalagi jika semua itu ditambah dengan minimnya ilmu agama dan buruknya akhlak. Berapa banyak suami dan istri yang hidup dalam kesulitan, bergulat dengan kesengsaraan dan penderitaan.
Dalam konteks seperti ini, berbicara tentang keutuhan keluarga menjadi sangat sulit. Seolah mahligai rumah tangga yang menentramkan hanya sekedar utopi, mimpi indah yang mustahil mewujud dalam kehidupan nyata. Apalagi jika tidak ada itikad baik dari kedua belah untuk meminta maaf, mengalah, dan siap memperbaiki diri. Yang ada hanya menyalahkan pasangan, memenangkan perasaan sendiri, dan tidak sabar menghadapi hal-hal yang tidak mengenakkan. Tanpa kesanggupan untuk berkorban, mereka tidak siap menghadapi kenyataan akan rumitnya persoalan dan beratnya tanggung jawab pernikahan.
Jika para suami yang menginginkan perpisahan, maka dia bisa menjatuhkan talak kepada istri mereka. Hal ini karena hak menjatuhkan talak ada di tangan suami. Jika mereka tidak berkenan melanjutkan pernikahan karena satu atau banyak alasan, perceraian bisa menjadi pintu darurat yang insyaallah, memberikan solusi meski pahit.
Namun bagaimana dengan para istri yang terpenjara dalam keluarga, menderita lahir batin, sedang para suami tidak menceraikan mereka? Karena banyak suami yang kepedean dan merasa setiap wanita yang menjadi istri mereka pasti bahagia. Mereka berat menerima kenyataan bahwa para istri itu menderita dan meminta pernikahan mereka diakhiri. Menuduh istri mencari-cari alasan perpisahan dan itu tidak syar’i.
Dalam keadaan seperti ini, Islam membolehkan wanita mengajukan gugatan cerai kepada suami dengan memberikan ganti rugi harta. Dengan nominal yang tidak boleh melebihi mahar yang pernah mereka terima dahulu. Inilah yang dinamakan al-khulu’. Apabila suami menyetujuinya, maka rusaklah akad pernikahan keduanya (faskh) dan si wanita menunggu sekali haidh agar dapat menerima pinangan orang lain, dan kemudian menikah dengannya.
Dalam al-Mughni, Ibnu Qudamah rahimahullah, menjelaskan hikmah al-khulu’, “Al-khulu’ (disyari’atkan) untuk menghilangkan dharar (kerugian) yang menimpa wanita karena jeleknya pergaulan dan tinggal bersama orang yang tidak disukai dan dibencinya.” Sedang Ibnul-Qayyim menyatakan dalam I’lam al-Muwaqi’in, bahwa Allah mensyari’atkan al-khulu’ untuk menghilangkan mafsadat yang berat, yang menimpa pasangan suami istri dan membebaskan salah satu pihak dari pasangannya.
Namun, apabila suami tidak menerima al-khulu’ istrinya, maka si istri dapat menunjuk hakim untuk memaksa suami untuk menerima gugatan cerai tersebut. Memberikan pertimbangan bahwa menahan istri yang sudah tidak nyaman berada di dalam tanggungannya adalah sebuah kezhaliman. Sebagaimana Jamilah binti Ubay pernah meminta Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam untuk menceraikannya dari Tsabit bin Qais. Kemudian Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam memintanya untuk mengembalikan maharnya dahulu, sebidang kebun.
Pada kasus ini, Jamilah bahkan mengakui kebagusan akhlak dan agama suaminya. Hanya dia tidak bisa menjadi istri yang baik karena ada hal-hal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Dia takut tidak ikhlas menjalani perannya dan hal itu bisa membawanya kepada kekafiran sebab sulit menerima keberadaan suami sebagai pemimpinnya.
Untuk yang belum menikah, akan sangat baik jika lebih berhati-hati dalam memilih dan menerima lamaran calon pasangannya. Agar bahteranya tidak kandas dan terhempas. Sebab, ia sangat menyita energi. Wallahu a’lam!






HANYA UNTUK MENJADI BAIK


Begitu ingin kita merasai semua nikmat yang mungkin kita dapat. Memanjakan syaraf perasa yang sering meminta haknya, melenakan jiwa yang kadang lelah dalam tekanan kerja, dan bagi sebagian kita, ia adalah kebanggaan yang membusungkan dada. Seolah telah terbayar lunas semua jerih payah. Seolah telah tiba masa bersuka ria.
Bukankah hidup adalah perlombaan? Dan alangkah senangnya menjadi pemenang! Kita telah bekerja keras untuk semua itu, siang malam sepanjang hari sepanjang usia. Melawan diri sendiri maupun orang lain, mengisi waktu dan membuahkan pengorbanan yang sekian lama telah kita tanam benihnya. Inilah saat beristirahat. Inilah akhir masa susah. Dan kita ingin semua ini selamanya. Tapi bagaimana jika kebalikannya yang terjadi?
Ia bernama kematian. Pemutus semua kenikmatan yang membuat seluruh pencapaian duniawi teronggok sia-sia, semua kelezatan tinggal nama, semua peristiwa menjadi cerita, dan semua kerja keras menjadi derita tak berbatas. Kini, semua kebanggaan telah tercabik-cabik waktu. Kematian yang mengintai seringkali membuyarkan mimpi dan menghempaskan asa. Bahkan seringkali, sehari dalam hidup kita tidak genap lagi saat ia menghampiri.
Namun  sekarang ia menjadi kabur karena tanda-tandanya telah luntur. Begitu banyak kenikmatan yang belum kita cecap, sedang raga yang mulai uzur mulai berkhianat melawan sunatullah. Berangan hidup seribu tahun atas nama ketamakan akan nikmat dunia yang tak juga memuaskan dahaga jiwa. Padahal, adakah yang lebih buruk daripada mereka yang lupa akan kematian dan memiliki angan-angan setinggi langit tanpa tepi? Kealpaan akan Allah yang membuat mereka selalu mencari nikmat duniawi, lagi dan lagi. Bersusah payah menghindari wacana kematian karena tak ingin itu terjadi.
Tapi siapa yang sanggup melawan kehendak-Nya? Kematian tetap akan datang ketika saatnya menjelang. Tepat waktu tanpa percepatan atau perlambatan, sebagai sebuah ketetapan yang pasti adanya. Hingga semua upaya penghindarannya menjadi sia-sia karena ia datang tanpa kompromi. Tanpa permisi sebagai permintaan persetujuan, tanpa diskusi sehingga kita sempat mempersiapkan semua kemungkinan.
Bagi hamba yang beriman, kematian adalah gerbang surga. Kendaraan yang justru ditunggu untuk menghantarkannya kepada kekasih yang dirindu, Allah. Penyingkap kepalsuan dunia dan penggenap keyakinan akan akhirat. Penasihat yang jujur agar terhindar dari angan-angan semu tentang kemewahan dunia. Sebab kematian tidak bisa lagi diperdebatkan.
Maka dalam hidup ini, tidak ada pilihan selain berkomitmen menjadi hamba yang baik. Yang meretas jalan pulang agar meninggalkan jejak-jejak keshalihan; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, juga anak shalih yang mendoakannya. Hingga hidup bukan sekadar memperlama masa tinggal di dunia namun terlena. Kemudian kita lantunkan doa Rasulullah, “Ya Allah, hidupkanlah hamba jika dalam ilmu-Mu, hidup adalah lebih baik bagi hamba!” Wal iyadzu billah!




 ANTARA JANJI AR RAHMAN ATAUKAH ANCAMAN SETAN


“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui” (QS. al-Baqarah: 268)
 Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, sekitar sembilan puluh tempat di dalam al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki dan menjaminnya untuk makhluk-Nya. Dan hanya pada satu ayat Allah menyebutkan ancaman setan, “asy-syaithaanu ya’idukumul faqra,  “Setan menjanjikanmu dengan kefakiran.”
Akan tetapi, betapa anehnya manusia, mereka takut dengan satu kali ancaman setan yang hobi berdusta, lalu melupakan 90 kali janji Allah yang Mahabenar dan tak mungkin dusta. Rasa takut manusia terhadap ancaman setan tersebut diindikasikan dengan beberapa keadaan.
Pertama, ketika manusia takut miskin, kekhawatirannya yang berlebihan  menyebabkan ia kurang selektif dalam mencari penghasilan. Berlaku korup, menipu, transaksi riba, pergi ke dukun dan cara lain yang diharamkan. Seperti slogan yang populer kita dengar “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Ia lupa bahwa justru dengan mencukupkan yang halal niscaya rezki menjadi mudah. Sebaliknya, perbuatan dosa menjadi penghalang datangnya rezki atau menghilangkan keberkahannya. Nabi n bersabda,
إنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rezki dikarenakan dosa yang ia perbuat” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim)

Jikalau pun seseorang mendapatkan rezki dengan kemaksiatan, keberkahan akan dicabut. Harta tak membuat hidupnya bahagia, bahkan menjerumuskan ia ke dalam penderitaan dan kesengsaraan yang datang tak terkira. Belum lagi efek tertampiknya doa, tertolaknya amal shalih dan hisab yang berat di akhirat.
Kedua, ketika seseorang mengkhawatirkan dirinya fakir, lalu ia tenggelam dengan kesibukan mencari penghasilan, hingga menelantarkan kewajiban dan ketaatan kepada Allah. Ketika itu, berarti ia telah mentaati setan dan mempercayai ancaman setan. Padahal, karakter setan itu ‘kadzuub’, pendusta. Berapa banyak dari kita yang menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memikirkan dan memburu harta. Di hari-hari biasa mereka sibuk belajar ilmu duniawi, yang lain lagi hanya fokus dengan bisnis duniawi, sementara hari libur dipergunakan untuk rekreasi. Lantas kapan mereka sempatkan belajar ilmu syar’I, kapan pula mereka pikirkan nasib ukhrawi. Bagaimana masuk akal ketika seseorang menyiapkan bekal untuk hidup selama 60 atau 70 tahun dengan bekerja seharian, namun mereka siapkan bekal untuk akhirat yang lamanya tak berujung justru hanya dengan waktu sisa dan tenaga sisa?
Padahal, rejeki itu mutlak dalam kekuasaan Allah. Dia memberi atau menahan rejeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapapun yang Dia kehendaki. Meski dengan ‘cash flow’ yang meyakinkan, rencana yang jitu, peluang yang menjanjikan, tetap saja Allah yang menjadi Penentu,
Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” (QS. al-Mulk: 21)
Bagaimana seseorang akan mendapatkan bagian cukup dari karunia-Nya, sementara ia berpaling dari ketaatan kepada-Nya? Logika yang sehat justru menunjukkan, bahwa dengan amal shalih, menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat dan mendatangkan keridhaan Allah akan mengundang hadirnya kemurahan Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi n, bahwa beliau bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
“sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan, dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan “shahih”)
Tanda ketiga bahwa seseorang telah terkena hasutan setan yang menakut-nakuti dengan kefakiran adalah tatkala manusia bakhil dan enggan berbagi. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menelaskan firman Allah,
Yakni setan menakut-nakutimu dengan membisikkan, “Jika kamu menginfakkan hartamu, kamu akan menjadi fakir” dan menyuruhmu berbuat fahsya’ yakni bakhil. Muqatil dan al-Kulabi mengatakan, “Semua kata fahsya’ dalam al-Qur’an maknanya adalah zina kecuali pada ayat ini, makna fahsya’ di sini adalah bakhil.”
Orang yang termakan oleh hasutan setan, pada akhirnya hanya mengenal hitungan matematis belaka. Bahwa uang akan berkurang nilainya ketika sebagian disedekahkan. Harta juga akan berkurang kadarnya jika dizakatkan sebagiannya. Mereka lupa bahwa harta yang di tangan mereka adalah pemberian dari Allah. Dan Allah menghendaki penambahan nikmat itu dengan cara sedekah, dan tercabutnya nikmat itu dengan maksiat dan menolak sedekah. Bahkan setiap datang pagi hari, dua malaikat turun untuk berdoa. Satu malaikat berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
“Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi yang bersedekah” (HR Bukhari)
Sedangkan malaikat satunya berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ya Allah, berilah kebangkrutan bagi orang yang menahan sedekah.” (HR Bukhari)
Lantas dimanakah letak cerdasnya akal bagi orang yang memilih doa kebangkrutan? Dimanakah pula keimanan seseorang yang lebih percaya satu kali janji setan pendusta katimbang 90 kali janji Ar-Rahman? Adapun seorang mukmin, sepenuhnya yakin meski diingatkan dengan satu ayat saja,
Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS. al-Baqarah: 268)
Wallahu a’lam bishawab.





 HATI CERAH DIBULAN BERKAH

Ramadhan di ambang pintu. Banyak ragam sikap dan cara manusia saat menyambut kedatangannya. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang sedih dengan kedatangannya, dan banyak orang bergembira menyambutnya.
Bagi seorang muslim yang memahami musim kebaikan, Ramadhan adalah momen yang selalu istimewa di setiap tahunnya. Hadirnya, selalu membawa semangat baru dan komitmen untuk memperbaiki ibadah dan ketaatan.

Kuatkan Tekad Menyambut Bulan Berkah

Seberapa optimal seseorang dalam memanfaatkan momen Ramadhan, bukan semata bergantung pada kekuatan fisik atau banyaknya konsumsi nutrisi dan gizi. Justru penopang utamanya lebih dominan pada kekuatan hati. Banyak orang bertubuh kekar, stamina prima dan masih muda, namun tak sedikit yang merasakan berat dan payah menjalani shaum. Merasa kewalahan juga untuk berdiri shalat malam secara rutin, tidak pula sanggup bersabar untuk mengkhatamkan al-Qur’an.  Karena problemnya adalah lemahnya kemauan dan kekuatan hati.
Kesungguhan ibadah terwujud ketika diawali dengan adanya tekad atau ‘aziimah. Yakni istijma’u quwwatil iraadah ’alal fi’li, menghimpun kekuatan kehendak untuk berbuat. Sehingga orang yang memiliki tekad tidak ingin membiarkan dirinya berleha-leha atau tertinggal dari suatu keutamaan. Bahkan ia akan menyusun segenap kemampuan agar mampu menunaikan suatu bentuk perbuatan. Karena ia tahu, keuntungan apa yang akan diperoleh dan seberapa besar kerugian yang akan dialami jika ia melewatkan suatu momen dan peluang istimewa. Alangkah indah isi surat yang ditulis oleh Imam Hasan al-Bashri untuk Umar bin Abdul Aziz rahimahumallah agar memanfaatkan peluang jabatan untuk kebaikan,  “Amma ba’du, barangsiapa yang mengevaluasi diri ia akan beruntung, barangsiapa lalai darinya akan merugi, barangsiapa yang mempertimbangkan akibat perbuatan niscaya akan selamat…”
Tekad yang kuat semestinya juga menjadi bekal seorang muslim yang menyadari Ramadhan sebagai musim kebaikan dan ketaatan. Tak hanya mengumbar kerinduan dengan kata-kata atau angan-angan, dia akan mempersiapakan diri, menyiapkan tekad yang tinggi dan membekali diri dengan rencana kegiatan sebelum memasuki bulan Ramadhan, agar benar-benar terisi secara optimal. Ada target bisa full sebulan menjalankan shiyam,  menjalankan shalat tarawih secara rutin dan berkualitas, sekian kali khatam al-Qur’an dan mengisi saat shaum dengan berbagai amal ketaatan.

Hati Cerah, Ibadah Ringan dan Mudah

Mengandalkan tekad saja tidaklah cukup. Ada kalanya seseorang telah bertekad mengisi ramadhan dengan aneka ketaatan, namun tatkala telah terjun di kancah amal, yang terjadi tak sehebat yang direncanakan. Bahwa dia bersemangat menggebu di awal memang, begitulah umumnya. Tapi semangat itu kadang luntur sebelum perjalanan belum mencapai separuhnya, apalagi finishnya. Kejenuhan mulai mendera, rasa bosan mulai menggerogoti semangatnya. Apa yang dikerjakan kemudian, berbeda dengan apa yang menjadi  rencana dan tekadnya di awal sebelum memasukinya. Sayangnya, kejadian seperti ini terus berulang dari tahun ke tahun. Namun Ramadhan kali ini, jangan sampai kelemahan ini terulang lagi.
Maka, selain tekad yang bulat untuk memperbanyak taat, faktor kebersihan hati haruslah dijaga. Yakni dengan bertaubat nashuha dari dosa dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Karena salah satu efek dari dosa adalah tudh’ifu iraadatal khair, melemahkan kemauan hati untuk berbuat baik. Maksiat melemahkan kekuatan hati sebagaimana penyakit yang melemahkan kekuatan jasad. Dosa juga laksana kerak di hati, atau kegelapan yang menutupi hati dari cahaya kebenaran. Sedangkan pembersihnyai adalah taubat. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ
“Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat dosa, akan ada titk (noda) hitam di hatinya, lalu juga ia bertaubat, menyesal dan mohon ampunan niscaya kembali bersihlah hatinya.” (HR Ibnu Majah, hadits hasan)
Hati yang bersih dari kerak dosa kian cerah dan bercahaya, hingga mampu membedakan secara jelas antara kebaikan dan keburukan, berpihak kepada kebenaran dan anti terhadap kesesatan. Taubat juga menyembuhkan penyakit hati, hingga ia menjadi sehat dan ringanlah baginya untuk menjalankan ketaatan sebagai bukti keberpihakannya terhadap kebenaran.

Bahkan Ibadah Terasa Nikmat

Ada kalanya pula, ketika seseorang masih bersemangat di awal perjalanan, lalu ia tak kunjung merasai kenikmatan dan kelezatan saat menjalani ketaatan, kebosanan dan kelelahan lebih dahulu datang menghampiri, sebelum ia bisa merasakan nikmatnya taat. Maka perlu kita tahu bagaimana kiat menata hati agar ketaatan bisa dirasakan kelezatannya.
Sebagaimana lidah bisa merasakan kelezatan saat mengecap makanan, begitupun hati bisa merasakan kelezatan iman sebagai buah dari ketaatan. Bahkan, kelezatan yang dirasakan oleh hati lebih permanen, tidak sebagaimana lidah yang hanya sekejap mengenyam lezatnya makanan saat mengunyah hingga kemudian larut menuju perut. Nabi shallallahu alahi wasallam banyak menyebutkan bahwa keimanan memiliki kelezatan yang bisa dirasa, seperti sabda Nabi,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal, apabila ada pada seseorang, berarti  ia telah merasakan kelezatan iman; Apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, apabila seseorang mencinta orang lain semata-mata karena Allah, dan apabila ia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana bencinya ia jika dilemparkan ke neraka.” (HR Bukhari)
Ibadah shaum yang merupakan ibadah paling istimewa di bulan Ramadhan, padanya ada kelezatan yang bisa dirasa. Bagaimana seseorang tidak merasakan kenikmatan dan bersemangat padahal Allah menjanjikan pahala dan banyak keutamaan bagi orang yang shaum.
Kenikmatan akan dirasakan pula oleh orang yang shaum saat menyadari bahwa lapar dan dahaganya adalah demi berkhidmat kepada Penciptanya, inilah yang disebut para ulama dengan istilah al-iltidzadz bil khidmah, mengenyam kenikmatan dengan jalan mempersembahkan pengorbanan. Seringkali manusia merasa puas dan lega saat bisa mempersembahkan sebuah prestasi untuk bangsanya, untuk pemimpin yang diseganinya atau untuk orang yang dicintainya, lantas bagaimana seorang mukmin tidak merasa nikmat saat bisa mempersembahkan amal yang bisa mendatangkan ridha Rabbnya? Sebuah ikhtiyar yang Allah memuji hamba-Nya yang mau menempuhnya dalam hadits qudsi,
يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي
“(Hamba-Ku) sudi meninggalkan makanan dan syahwatnya karena-Ku.” (HR Bukhari)
Karenanya,saat seorang mukmin mulai merasakan perihnya lambung lantaran lapar, atau keringnya tenggorokan karena kehausan, hatinya akan berkata, “Pengorbanan ini kulakukan demi pengagungan akan hak Allah, agar Dia melihat pengorbananku dan ridha terhadap jerih payahku,” ia pun merasa kenyang dan puas oleh ridha Allah terhadapnya, dan tidak ingin terhalang untuk mengenyam kelezatan yang diperolehnya melalui jerih payahnya.
Begitupun dengan ibadah unggulan lain seperti shalat dan membaca al-Qur’an. Dengan menghadirkan hati, menyadari keagungan Dzat yang kita bermunajat di hadapan-Nya, keduanya akan terasa mudah, bahkan nikmat dirasakan. Ketika kita membaca Kalamullah, berarti Allah sedang berbicara kepada kita. Bagaimana hati akan berpaling dan bosan menyimak kalam ar-Rahman? Apalagi, satu huruf yang kita baca diganjar dengan satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kali.
Tatkala seorang hamba dalam keadaan shalat, berarti ia tengah bermunajah dan berbincang bersama Allah. Ada doa yangdipanjatkan, ada dzikir yang memuji keagungan-Nya. Sekaligus ada bacaan ayat-ayat-Nya yang berarti Allah mengajak bicara kepada kita.
Seorang hamba yang menghadapkan arah badannya ke ka’bah, sementara hatinya tertuju kepada Allah, niscaya akan bisa merasakan manisnya munajah. Seperti yang dirasakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, “wa ju’ilat qurratu ‘ainy fish shalaati”, dan dijadikan sejuk pada pandangan mataku (ibadah) shalat.”  (HR an-Nasa’i, hasan shahih)
Ringkasnya, hendaknya kita sambut Ramadhan dengan memperbaiki niat, membulatkan tekad, menyalakan semangat dan mulai menempuh perjalanan dengan kesungguhan. Hendaknya ridha dan bersabar jika suatu saat menapaki jalan mendaki, tidak terpengaruh oleh banyaknya orang yang berleha-leha, senantiasa fokus dengan tujuan, karena hadiah yang hendak kita terima sangat berharga, apa yang hendak kita beli dengan jerih payah kita sangatlah mahal,
أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الجَنَّة
“Ketahuilah bahwa perniagaan (yang dijual) Allah itu mahal, ketahuilah bahwa perniagaan Allah itu adalah jannah.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan “shahih”)
Semoga Allah mmpertemukan kita dengan Ramadhan, dan memberikan taufik kepada kita untuk memperbagus ibadah kita kepada-Nya, aamiin.




MENJEMPUT TAKDIR


(90) Semua manusia beramal sesuai dengan tempat yang disediakan baginya dan berproses menuju tempat yang diciptakan untuknya. Kebaikan dan keburukan telah ditakdirkan atas seluruh hamba.
Matan ke-90 ini masih berbicara tentang takdir Allah yang berjalan pada semua makhluk-Nya terutama manusia. Seperti telah dibahas sebelumnya, Allah mengetahui secara tepat berapa jumlah manusia yang akan hidup di dunia dan berapa di antara mereka yang memilih jalan hidup dan membuat keputusan untuk menyusuri jalan menuju surga atau jalan menuju neraka. Allah menulis apa yang diketahui-Nya ini di Lauh Mahfuzh 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sampai akhirnya kiamat terjadi dan manusia terakhir meninggal dunia, semua ilmu Allah yang telah ditulis-Nya itu terjadi dengan tepat. Tak ada yang bergeser sedikit pun.
Keimanan tentang kesempurnaan ilmu Allah yang kemudian ditulis-Nya ini menjadi pondasi utama dari kebenaran iman kepada takdir: yang baik dan yang buruk. Takdir adalah ilmu Allah yang ditulis-Nya lalu terjadi tepat seperti yang diketahui-Nya. Tidak ada yang salah dengan ilmu Allah. Bukanlah kekurangan Allah—bahkan sebaliknya: menunjukkan kesempurnaan-Nya dan kesempurnaan ilmu-Nya—mengetahui siapa-siapa yang akan masuk surga dan akan masuk neraka.

Menjemput Takdir Baik

Rasulullah saw pernah ditanya oleh ‘Umar bin Khattab ra, “Wahai Rasulullah, apa menurutmu amalan kita ini? Apakah atas dasar sesuatu yang telah selesai (ditulis) ataukah belum pernah ada?” Beliau menjawab, “Atas dasar sesuatu yang telah selesai.” ‘Umar bertanya lagi, “Lantas, kenapa mesti beramal?” Rasulullah saw bersabda, “Beramallah, sesungguhnya setiap bagian tidak diraih kecuali dengan amal.” (HR. at-Tirmidzi)
Jabir bin ‘Abdullah ra meriwayatkan, “Suraqah bin Malik bin Ju’syum bertanya, ‘Wahai Rasulullah, terangkanlah kepada kami agama kami seolah-oleh kami baru diciptakan! Atas dasar apa kita beramal hari ini? Apakah atas dasar pena yang telah kering dan berlakunya takdir, atau atas dasar sesuatu yang akan datang (belum ditakdirkan)?’ Beliau bersabda, ‘Berdasarkan pena yang telah kering dan berlakunya takdir.’ Suraqah bertanya lagi, ‘Lalu, atas dasar apa amal dikerjakan?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Beramallah, semua dimudahkan.’.” (HR. Muslim)
‘Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Kami sedang bersama Rasulullah saw di Baqi’ Gharqad melayat jenazah. Beliau bersabda, ‘Setiap kalian telah ditulis tempatnya di neraka atau di surga.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak pasrah saja?’ Beliau menjawab, ‘Beramallah, setiap orang dimudahkan untuk tempat mana ia diciptakan.’ Kemudian beliau membaca ayat:
‘Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Sedangkan orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.’ (Al-Lail: 4-10)” (HR. al-Bukhari)
Tiga hadits di atas dan hadits-hadits lain yang semakna menegaskan bahwa semua orang diciptakan oleh Allah sementara Allah sudah tahu, akan menjadipenghuni surga atau nerakakah ia. Namun apa yang diketahui oleh Allah ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak beramal. Para sahabat pernah berkesimpulan seperti itu. Namun, Rasulullah saw mengingatkan mereka. Rasulullah saw memerintahkan mereka untuk tetap giat beramal. Sebab, Allah sudah berjanji untuk memudahkan jalan menuju surga bagi orang-orang yang mau menyusuri jalan ke sana. Allah tidak menghalangi jalan orang yang hendak menjemput takdirnya.
Setiap orang hendaklah beramal dan mencari berbagai sarana untuk mendapatkan hidayah serta berdoa kepada Allah agar memberikan rezki berupa keteguhan di jalan-Nya. Hendaklah dia tahu bahwa Allah menciptakan makhluk dan Dia tahu rezki, ajal, dan semua yang akan mereka kerjakan.
Sehubungan dengan hal ini, kita lihat banyak orang yang merasakan adanya problem memahami takdir jika itu berkenaan dengan kebahagiaan dan kesengsaraan ukhrawi. Tetapi aneh. Tidak ada yang merasakan adanya problem jika itu berkenaan dengan kebahagiaan dan kesengsaraan duniawi: masalah rezki. Padahal keduanya adalah dua hal yang sama, sama-sama tersembunyi dan sama-sama hanya diketahui oleh Allah. Mestinya, semangat di dalam mencari rezki dibawa ke semangat di dalam beramal untuk mencari kebahagiaan sejati.
Percaya penuh kepada hikmah dan keadilan Allah, bahwa tidak ada yang disiksa oleh Allah kecuali karena dosa yang telah dilakukannya, bahwa saat melakukan dosa tidak ada seorang pun yang merasa dipaksa oleh Allah untuk melakukannya melakukannya dengan senang hati adalah perkara yang sangat urgen di sini. Semua dimudahkan untuk melakukan berbagai amalan yang akan membuatnya sampai kepada takdirnya. Semua menjemput takdir masing-masing.

Menjemput Takdir Buruk

Orang-orang yang diketahui oleh Allah akan memilih jalan ke neraka dengan pilihannya sendiri—dan itu ditulis oleh Allah di Lauh Mahfuzh—akan dimudahkan untuk beramal amalan penghuni neraka, lalu mereka mati dalam keadaan kafir. Yang dimaksud dengan dimudahkan di sini adalah Allah membiarkan atau tidak menghalangi mereka dari jalan hidup yang mereka pilih.
“Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110)
“Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (Al-A’raf: 186)
Memang ada beberapa orang yang meskipun menempuh jalan kesesatan, ia—karena anugerah, rahmat dan hikmah Allah—mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah. Tentang ini,
Allah tidak ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya tetapi merekalah yang akan ditanya tentang apa yang mereka lakukan.” (Al-Anbiya`: 23)
Dengan dasar pemahaman seperti tersebut di atas pula mestinya kita memahami hadits berikut ini.
“Sesungguhnya proses penciptaan salah seorang di antara kalian di perut ibu kalian adalah: 40 hari…”

Maksud dari Allah menulis (sering diterjemahkan dengan menetapkan) adalah Allah mengetahui semuanya lalu menulisnya di Lauh Mahfuzh.

Aisyah ra diluruskan

Imam Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa`i meriwayatkan dari ‘Aisyah ra bahwa suatu hari Rasulullah saw diminta untuk menyalati jenazah bayi salah seorang penduduk Madinah. ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, beruntung sekali anak ini. Dia menjadi salah satu burung dari burung-burung surga. Dia belum mengamalkan keburukan, pun belum terpikir untuk itu.” Rasulullah saw menjawab, “Atau bukan begitu, wahai ‘Aisyah. Sesungguhnya Allah telah menciptakan para penghuni untuk surga. Allah menetapkan mereka sebagai penghuni surga ketika mereka masih berada di tulang sulbi bapak-bapak mereka. Allah telah menciptakan para penghuni untuk neraka. Allah menetapkan mereka sebagai penghuni neraka ketika mereka masih berada di tulang sulbi bapak-bapak mereka.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa`i)
Jika dipahami sekilas, hadits ‘Aisyah ini seakan-akan ditinggalkan oleh para ulama yang bersepakat bahwa anak-anak orang-orang yang beriman yang meninggal dunia sebelum baligh akan diikutkan dengan orang tua mereka di surga. Para ulama mendasari pernyataan mereka itu dengan keumuman firman Allah:
“Orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami sertakan anak cucu mereka dengan mereka.” (Ath-Thur: 21)
Sedangkan mengenai anak-anak orang-orang kafir, para ulama berbeda pendapat, apakah mereka akan dimasukkan ke dalam surga karena mereka masih belum mukallaf, ataukah mereka akan diuji di akhirat. Hasil ujian inilah yang menentukan apakah mereka termasuk penghuni surga atau neraka.
Sekilas terlihat kontroversi. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Sebab meskipun yang berduka karena ditinggal mati anaknya adalah penduduk Madinah, dan zhahirnya adalah orang yang beriman, sejatinya belum tentu demikian. Bisa saja orang itu adalah orang munafik sehingga anaknya yang meninggal dunia itu belum tentu masuk surga. Karena itulah—wallahu a’lam—Rasulullah saw menegur ‘Aisyah, agar ia tidak memastikan nasib seseorang sebagai penghuni surga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar