Senin, 23 Juli 2012

CERMIN

HIDAYAH DARI TERAS MASJID

SEPERTI biasa, selepas shalat Isya berjamaah kami berkumpul di teras masjid. Kami bicara hal-hal yang bermanfaat, kadang berkaitan dengan memakmurkan masjid. Tidak jarang di antara kami saling menceritakan isi buku yang baru dibacanya, dan biasanya kami sangat suka mendengarkan kisah Rasulullah Shallalu 'alaihi Wassalam, para sahabat dan para ulama terdahulu.
Setelah mendengar kisah-kisah itu, kami serasa seperti baterei yang “dicharge”. Semangat kami  untuk melaksanakan amalan-amalan shalih seperti dipompa lagi.
Malam itu giliran salah satu saudara kami, Pak Parno, yang bercerita tentang Ibrahim bin Adham. Kisah ini, katanya, sangat terkenal, banyak dimuat di media massa dan sudah banyak yang mendengarnya. Saya sendiri, baru mendengar malam itu dari beliau yang sehari-harinya memang kutu buku.
Ringkas cerita, Ibrahim bin Adham mendengar dari malaikat bahwa ibadahnya tidak diterima Allah SWT selama 40 hari. Sebab, sebelumnya ketika membeli kurma dia mengambil sebiji kurma yang terjatuh dan bukan termasuk ke dalam bagian kurma yang ia beli, tanpa seijin penjualnya. Sesuatu yang saat ini sudah biasa bagi kita, tapi menjadi suatu petaka bagi seorang shalih macam Ibrahim bin Adham.
Ketika kami sekeluarga dalam perjalanan menengok orangtua, iseng-iseng saya membuka laci mobil dan di situ terlihat sebungkus jagung goreng, atau orang Jawa biasa menyebutnya marning. Tanpa banyak cakap, marning  itu langsung saya santap. Pikir saya, wong mobil saya yang punya, berarti marning yang ada di dalam mobil ini tidak masalah kalau saya makan.
Ketika marning itu tinggal beberapa biji, tiba-tiba saya teringat cerita Pak Parno dengan Ibrahim bin Adham-nya. Astaghfirullah, sontak saya setengah berteriak hingga mengagetkan seluruh isi mobil. Mengabaikan muka-muka bingung dari penumpang mobil, saya buru-buru mengambil telepon seluler dan segera menelpon ke Surabaya, menghubungi para penumpang antar jemput karyawan yang setiap harinya saya layani dengan mobil ini. Saya asumsikan marning tersebut milik salah seorang penumpang antar jemput yang kelupaan sehingga tertinggal di mobil.
Ternyata tidak ada seorang pun yang mengaku menjadi empunya makanan kecil yang renyah itu. Hati saya berdetak kian kencang, takut kalau-kalau sebentar lagi Allah mengutus Izrail mengambil kembali ruh saya, dalam keadaan saya belum sempat mendapat keihklasan dari yang punya marning tadi, astaghfirullah.
Pas putus asa sudah terasa di depan mata, saya menelepon ke rumah dengan sedikit harapan barangkali ada informasi lain yang berguna. Ketika itu sopir saya yang mengangkat telepon, dan dengan semangat yang hampir luruh saya menanyakan perihal marning tadi. Apa yang saya dengar?
Sopir saya dengan suara gemetaran menahan takut mengaku bahwa dialah yang meninggalkan marning di mobil, dua hari sebelumnya karena terlupa.
“Mohon maaf Pak, saya lupa belum membersihkan mobil,” ungkapnya terbata-bata.
Subhanallah, Allah masih memberi saya kesempatan.
“Tak masalah, aku minta maaf dan minta kamu ikhlas marningmu aku makan. Karena kalau kamu tidak ikhlas, apa jadinya kalau aku keburu mati ketika makan barang haram,“ jawab saya sambil menahan tangis.
Adegan selanjutnya adalah saya sibuk menjawab celotehan kedua permata hati dan istri saya, tentang apa yang barusan terjadi. Alhamdulillah, saya bisa berdakwah kepada keluarga saya dengan hanya menceritakan pengalaman pribadi tadi.
Tak terasa rumah orangtuaku makin dekat. Ya Allah, berikan aku hidup istiqomah di jalan-Mu dan akhir yang khusnul khotimah. Ya Allah, masukkan aku ke surga-Mu dan pertemukan aku dengan Rasulullah dan Ibrahim bin Adham. Amin





SAYA MAKIN KAYA SEJAK DEKAT DENGAN ANAK ANAK YATIM

TUJUH tahun sudah saya merantau dari sebuah desa kecil di Sumatera ke Jakarta. Tujuannya hanya satu, mencoba peruntungan. Siapa tahu, Jakarta yang sering hanya saya dengar di televisi bisa merubah garis hidup saya.
Salah satu andalan yang hanya bisa saya lakukan di Kota paling besar di Negeri ini adalah berjualan kecil-kecilan. Ya, saya memutuskan berjualan makanan Nasi Padang, khas kampung saya.
Saya menetapkan tinggal di Jakarta Timur, dengan menyewa sebuah tempat kecil.
Ahamdulillah, meski kecil, warung saya tidak sepi. Setidaknya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Merantau dari desa ke Jakarta tujuannya adalah mengais rizki. Tentu, agar irit, semua saya lakukan sendiri. Mulai belanja, masak dan menunggu warung.
Suatu hari, di sebelah warung yang saya tempati ada musibah. Seorang bapak, meninggal dunia dengan meninggalkan anaknya masih kecil enam orang dan seorang istri. Saya memperhatikan kehidupannya pasca kematian suaminya benar-benar memprihatinkan.
Entah, apa yang menggerakkan hati saya, kala itu saya ingin membantu. Namun karena kondisi saya yang terbatas, yang memungkinkan saya adalah memberi makan mereka secara gratis. Itupun sekali dalam seminggu.
Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, itu saja yang saya kerjakan tanpa tahu makna dari itu. Boro-boro hadits Nabi tentang anak yatim, sholat saja masih bolong-bolong. Maklum, ketika datang dari desa, saya tak begitu mengenal makna hidup.
Tidak terasa, anak-anak yatim yang saya santuni ternyata terus berkembang. Dari enam orang jadi sembilan. Dan dari sembilan orang, kini telah mencapai 150 orang.
Subhanallah. Kalau bukan Allah Subhanahu Wata’ala, tidak mungkin bisa menggerakkan anak-anak yatim datang ke warung saya.
Setiap hari Jumat, mereka datang ke warung untuk makan bersama dan pulangnya saya beri amplop sekedarnya.
Sering juga banyak pertanyaan dari banyak orang, apakah dengan mengundang mereka makan, tidak menjadikan warung saya rugi?
Entahlah, tapi faktanya justru terbalik. Semenjak kedatangan mereka ke warung saya, rezeki yang datang menghampiri saya tidak pernah ada habisnya.
Betapa tidak, dahulu saya hanya menyewa warung kecil, kini tanah dan bangunan itu sudah saya beli. Tidak itu saja, saya bisa membeli rumah di Jakarta, menambah beberapa warung Padang lagi untuk memperlebar usaha, bahkan ditambah dengan memiliki karyawan yang semakin banyak.  Istri, anak dan keluarga bahkan semuanya bisa ikut hijrah ke Jakarta. Subhanallah. Sungguh Maha Suci Engkau Ya Allah!
Berkah Ramadhan
Satu lagi yang sunguh menambah keyakinan saya bahwa Allah  telah memberi berkah melalui anak yatim ini adalah, saya sekeluarga bersama para karyawan bisa tidur nyenyak selama bulan Ramadhan tiba.
Bayangkan saja, umumnya pengusaha makanan, akan goncang jika bulan Ramadhan telah datang. Maklum, selama seharian penuh dipastikan akan libur total. Tentu bisa dimaklumi, karena dipastikan sejak Subuh hingga Ashar, tidak ada pemasukan.
Masalahnya, jika semua kalkulasi-kalkulasi itu menggunakan akal dan logika manusia, maka Allah juga akan menggunakan kalkulasi dan logika manusia. Bukankah ada sebuah hadits mengatakan, sesungguhnya prasangka Allah sesuai dengan prasangka hambanya (manusia).
Jika kehadiran Ramadhan itu dengan kita yakini akan membuat usaha kita rugi dan bangkrut, boleh jadi Allah juga akan memberi kebangkrutan pada kita. Sebaliknya jika kita ber-khusnudzon (berbaik sangka) pada Allah, bahwa hadirnya Ramadhan tak akan pernah membangkrutkan atau merugikan usaha kita, boleh jadi pula Allah akan memberi kita rizki dari pintu lainnya.
Dan itulah kenyataannya. Selama Ramadhan, kami dan seluruh karyawan justru libur penuh dan sibuk beribadah. Bagaimana dengan karyawan, anak dan istri, bahkan uang untuk THR dan urusan mudik? Bisakah tercukupi semuanya jika selama Ramadhan tidak buka warung?
Justru sebaliknya. Allah telah melipatgandakan semua rizki saya dan keluarga sebulan sebelum datangnya bulan mulia itu.
Seperti bulan ini, sejak awal Juni hingga Juli ini saja, saya kuwalahan menerima order. Kami semua bisa tidak tidur sampai subuh hanya mengurusi order-order pesanan Nasi Padang ini. Dan biasanya, semua order mulai sepi begitu memasuki bulan Ramadhan.
Nah, kala itu, kami biasanya tinggal menghitung uang untuk bekal Idul Fitri.
Entahlah, semua ini, boleh jadi karena berkah dari anak-anak Yatim. Saat ini, saya hanya selalu mengucapkan rasa syukur, karena Allah tidak pernah bosan-bosan menolong dan menambah  kebutuhan serta rizkiku.
Saya ingat sebuah surat dalam al-Quran yang mengatakan, “مَن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” [QS. Al-Hadid: 11]
Jika pengalaman saya ini bisa diambil sebagai pelajaran, saya hanya ingin mengatakan satu hal, jangan pernah “berhitung” dengan Allah Subhanahu Wata’ala, karena toh, selama ini Allah tak pernah berhitung kepada kita yang  telah banyak diberi nikmat.
Akhir kata, tiada yang bisa saya katakana, kecuali ucapan,  “Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir”. (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).
“Ya Allah”, hanya dengan mengingat kalimat ini saya sering bersyukur dan hati ini senantiasa sejuk. Saya percaya,  semua kesulitan, ketakutan, rizki dan apa yang ada di bumi se-isinya ini hanya milik Allah. Maka jangan pernah berpaling pada yang lain!






AKU LEBIH BAIK,KARENA DIA LEBIH BAIK

 
SEBUT saja namaku Zaenal (37), saat ini memiliki tiga orang anak yang manis dan istri yang sangat setia. Pekerjaanku adalah seorang sopir pribadi. Sebelum menjadi sopir, saja bekerja berpindah-pindah perusahaan.
Pernah bekerja di perusahaan obat sebagai pemasaran. Pernah pula bekerja di sebuah perusahaan penjual mesin-mesin pabrik dengan pekerjaan sebagai sopir.
Yang terakhir, saya bekerja menjadi sopir pribadi seorang dokter spesialis, sebut saja dr. Anna. Seorang dokter spesialis jantung berjilbab yang sangat baik.
Sehari-hari pekerjaanku adalah mengantarnya ke kantor, ke tempat praktik dan mengantarnya pulang. Bekerja di tempat orang yang baik membuatku merasa nyaman. Apalagi orang seperti dr. Anna penuh pengertian. Dia kadang-kadang tahu keperluanku dan tahu kebutuhanku.
Sayang baru dua tahun bekerja dengannya, dr Anna pindah dan membuatnya harus tinggal bersama keluarganya di Ibu Kota, Jakarta. Kabar kepindahan ini membuat saya agak kaget. Maklum, mencari pekerjaan yang baik dan membuat hati merasa nyaman di zaman seperti ini bukanlah gampang.
“Saya mulai bulan depan pindah ke Jakarta, tapi kamu gak usah khawatir, “ ujarnya.
Tentu saja saya khawatir. Saya masih numpang di rumah mertua, selama pengantin baru hingga saat ini. Jika saya harus kehilangan pekerjaan dalam waktu cepat tanpa ada pengganti, bagaimana perasaan saya dan istri nanti di hadapan mertua dan adik-adik ipar? Saya tak mau jadi benalu. Sudah menumpang, tidak bekerja lagi. Ah!
Hari sudah berjalan. Dr Anna tinggal dua hari berangkat ke Jakarta. Di tengah rasa gundah, dr Anna menelponku untuk datang ke tempatnya.
“Zen, saya akan segera berangkat lusa, mungkin saya tidak bisa bertemu lagi. Saya bersama keluarga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu selama ini,” katanya.
Sambil basa-basi, saya juga mengucapkan terima kasih karena bisa bekerja dengannya. Semantara di dalam hati, saya masih diliputi rasa kalut. Sebab besuk lusa, saya sudah akan lontang-lantung mencari pekerjaan lagi.
“Tidak ada yang berubah, Zen. Semua tetap berjalan seperti kemarin. Hanya tugasmu berpindah orang. Kamu akan bekerja di temanku, Muhammad. Dia teman kuliahku, dan insyaAllah pria dan seorang Muslim yang baik,” tambahnya seolah mengerti apa yang sedang saya pikirkan.
Benar, sehari kepergian dr Anna ke Jakarta, seseorang menelponku di tengah malam.
“Pak, saya Muhammad. Besuk mulai kerja ya, silahkan ke rumah,” katanya.
Ahamdulillah, akhirnya saya tetap memiliki pekerjaan.

Berpelukan
Pindah dari dr Annak saja bekerja di dr Muhammad. Sama-sama seorang dokter. Yang berbeda, dr Muhammad adalah seorang dokter anastesi. Kesibukannya lebih padat dari dokter Anna.
Selain mengantar ke kantor, saya harus siap sedia mengantarnya ke mana saja. Biasanya dia diminta ke beberapa rumah sakit untuk kepentingan operasi.
“Zen, apa kamu tidak mal uterus menumpang di rumah mertua, “ ujar, pria lulusan sebuah fakuktas kedokteran di Universitas Negeri bergengsi ini di tengah laju kendaraan yang aku setir usai melakukan operasi di sebuah rumah sakit swasta.
“Ya malulah pak, tapi mau bagaimana lagi, saya tidak pernah bermimpi punya rumah,” kataku.
Tentu saja saya tidak asal bicara. Memiliki sebuah rumah di Kota besar seperti di Surabaya ini ibarat mimpi di siang bolong. Selain harga tanah kelewat mahal, uang gajian menjadi supir tak akan cukup digunakan membangun rumah, hatta sekalipun itu “gubuk derita”. Boro-boro bank percaya uang gajian supir untuk pinjaman. Karena itu, bagiku, pertanyaan dr. Muhammad hanyalah basa-basi, sekedar menghibur diri di tengah perjalanan.
Dua hari berikutnya, di tengah perjalanan ke sebuah rumah sakit, ia kembali bertanya padaku dengan pertanyaan yang sama. Dan saya menjawabnya dengan jawaban yang sama pula.
Suatu hari, saya lupa tepatnya. Ia kembali bertanya padaku dengan pertanyaan sama. Hanya saja kali ini ada kalimatnya yang saya rasakan agak serius.
“Zen, cobalah cari rumah kecil-kecilan, nanti datang lagi ke saya, laporkan,” ujarnya.
Saya tidak pernah “gede rasa” (GR) dengan tawarannya. Tapi iseng-iseng, usai mengantarnya pulang, saya mampir ke sebuah kantor pemasaran sebuah developer. Bak orang berduit, pihak marketing menyambut saya dengan mengantar berkeliling melihat rumah-rumah ukuran kecil. Hingga saya jatuh hati pada rumah mungil tersebut. Alkisah, usai ngobrol panjang, saya membawa beberapa brosur dengan harga lengkapnya. Tetap saja rumah sekecil apapun ukuran developer itu mahal bagi saya.
Hari itu, Senin pagi, dr Muhammad punya acara padat. Saya diminta datang habis Subuh di rumahnya. Baru sekali ini saya bekerja berangkat pagi buta. Biasanya, paling banter setengah tujuh. Itupun jika ada acara-acara penting. Berangkat pagi buta seperti ini kadang membuatku merasa kurang nyaman. Maklum, saya harus kehilangan waktu-waktu bahagia. Sebab, biasanya pagi-pagi bisa mengantar istri ke pasa, sarapan bareng dan dilanjutkan mengantar anak-anak ke sekolah. Tapi ya sudahlah, ini karena tugas.
Tapi pagi itu rupanya kejutan datang menghampiriku. Dr Muhammad dan istrinya sudah menunggu di ruang tamunya disertai istri.
“Bagaimana, Zen, sudah ketemu rumah idamanmu?,” katanya. “Sudah pak,” kataku sambil membelikan beberapa brosur lengkap dengan harganya. Kala itu, saya tertarik dengan rumah mungil dua kamar seharga Rp. 70 juta.
Sedikitpun, saya tak pernah bermimpi punya rumah, apalagi ditawarin orang. Maklum, saya masih belum mengenal dr Muhammad dan selain itu saya baru beberapa bulan saja bekerja dengannya.
“Begini, saya sudah bicara pada istri. Saya bergembira jika kamu memiliki rumah idaman sendiri. Saya akan bantu 25%, sisanya kamu cicil semampu kamu.”
Ucapan pasangan dokter yang baik ini sangat mengagetkanku. Rupanya dia serius selama ini. Padahal, saya hanya pekerja baru, dan dia tak mengenal saya dengan baik. Apa yang ada dalam kepalanya? Entahlah mungkin inilah yang disebut takdir Allah Subhanahu Wata’ala.
Dan benar saja, hari itu dua orang majikan yang baik hati ini mengantarkanku ke pihak developer membayar “rumah mimpi” itu dengan uang cash. Saya masih bisa lihat, bahkan ikut menghitung dengan tangan gemetar uang puluhan juta yang selama ini hanya say abaca, karena tidak pernah menyentuhnya.
Usai membayar, kami serah terima kunci. Saya menangis haru, ketika dr Muhammad memelukku menyerahkan kunci.
“Selamat, Zen. Sekarang ini rumahmu. Bawa pindah istri dan anakmu, dan hidupkan bahagia di sini.”
“Ya Allah, apa lagi yang harus kukatakan padamu dengan semua karunia ini?”
***
Sore hari tidak seperti biasanya. Saya pulang agak lambat karena harus menunggu usai tugas-tugas dua majikan dokter ini. Sebelum saya pulang, saya SMS istri agar menunda makan malam, karena saya akan beli makanan istimewa.
Saya gas kencang-kencang motorku agar sampai di rumah. Malam itu, sama makan bersama-sama, tanpa memberi tahu istri jika saya telah memiliki rumah.
Pagi hari, usai mengantar anak-anak, saya ajak istri mengunjungi “rumah mimpi”.
“Untuk apa ke sini mas, saya masih banyak cucian, “ kata istriku dengan polos. Sambil pagar depan, saya bertanya kepadanya, bagaimana rasanya jika memiliki rumah seperti ini.
“Ah, bicara yang lain ajalah mas, kayak kamu anaknya pegawa bank saja, “ katanya sambil tertawa.
“Ya, memang ini benar rumah idaman kita. Saya telah membelinya.”
Ia masih tidak percaya. Hingga kemudian saya keluarkan kunci pintu dan kunci kamar. Di dalam rumah, kami berpelukan, karena istriku menangis tiada henti.
Sebulan setalah kejadian ini saya saya pindahkan anak-istri dari rumah mertua yang sudah sesak dengan keluarga adik ipar. Dan hidup saya terasa lain setelahnya. Saya datang pagi tanpa diminta, apalagi jika saya tahu majikan ada kesibukan ekstra.
Saya bahkan tak segan kembali jalanan untuk bertugas meski di malam hari jika kedua pasangan dokter itu sedang ada operasi mendadak.
Meski saya banyak mendapat kemudahan dari dua orang ini, tak pernah sedikitpun kebaikannya berubah. Bahkan boleh dikata, kebaikannya tidap hari makin bertambah. Meski meminjami uang untuk beli rumah, tak pernah sekalipun dia memaksa, menekan apalagi memaksa.
Begitu baiknya, sampai-sampai kendaraan yang biasa saya gunakan untuk mengantarnya diminta agar langsung saya bawa ke rumah. Alasannya, biar saya pulang cepat dan berangkat awal. Setiap pulang, ada saja bawaan atau oleh-oleh untuk anak atau istriku.
“Zen, ini untuk anak dan istrimu, salam ya untuk istrimu, “ begitu gaya salah satu di antara mereka.
Entahlah, saya merasa ikhlas dan senang melakukan pekerjaan seberat apapaun kepada dua orang itu karena selama ini mereka telah menyemai kebaikan.
Rasanya, baru kali ini saya menemukan seorang pasangan dokter baik hati. Sudah Muslim dan keduanya sopan dan baik kepada buruhnya, seolah-oleh dia memperlakukan keluarga sendiri.
Karena itu, jika ada tugas menghampiiriku, seolah ada yang berkata dalam diri saya, “mengapa saya tidak bisa melakukan hal terbaik bagi orang yang selama ini telah banyak berbuat baik bagi keluarga saya?".
Hikmah
Walhasil, sesungguhnya tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula), barangsiapa menyayangi makhluk Allah maka Allah akan menyayanginya. Sebagai mana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;
"Orang-orang yang penyayang, maka Allah akan menyayangi mereka. Sayangilah penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangi kalian." (HR. At-Tirmidzi).







AKHIRNYA ALLAH MENGIRIM UNTUKKU SUAMI YANG BAIK


 
SAYA tak ingat betul, sejak kapan saya begitu perhatian dengannya, seorang pria lembut, mengagumkan dan telah membuat hatiku jatuh cinta. Yang masih saya ingat, ia adalah kakak kelasku ketika masih menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jawa Timur.

Yang jelas, tak seperti layaknya Anak Baru Gede (ABG), perjalanan perkenalan kami tak berlama-lama. Kami segera menikah usai lulus sarjana. Selain itu, perlu dimaklumi, saya setiap hari memamai jilbab, jadi alangkah tak pantasnya jika menjalin hubungan dekat dalam waktu lama tanpa ada ikatan yang halal.

Alkisah, perjalanan kisah asmara kami berjalan baik hingga ke pelaminan. Sungguh wanita mana yang tidak bahagia menerima saat-saat seperti ini? Menikah dengan seorang pria idaman, pasti adalah mimpi tiap wanita yang sehat akalnya.

Sayang, harapan tak semulus dengan kenyataan. Dalam perjalanan biduk rumah tangga, tabiat buruk suamiku mulai muncul satu-persatu. Tabiat paling utama adalah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Entah, kapan taibat buruk itu bermula. Yang jelas, usai pernikahan beberapa bulan, ia tiba-tiba sering melayangkan bogem nya ke bagian-bagian tubuhku jika dia sedang marah atau merasa kurang sesuai dengan keinginannya.

“Kamu istri macam apa? plok!” demikian sambil kepalan tangannya itu mendarat di pelipis saya.

Duh, rasahnya pedih dan sakit. Tak hanya sakit fisik, tapi sakit dari relung hatiku paling jauh. Ah, tapi mungkin itu memang karena kesalahanku sebagai seorang istri yang teledor, begitu perasaan hati agar bisa ridho menerima perlakukan ini.

Hari demi hari, mulai kuperbaiki perjalanan rumah tanggaku, semata agar kehidupan lebih baik dan aku bisa menjadi istri yang sholehah. Itu saja.

“Pyarr!” Tiba-tiba piring, gelas dan barang-barang melayang. Tak hanya itu, kali ini bukan lagi bogem yang menghampiriku.

Pria yang pernah kukagumi dan aku kenal sendiri di kampus, bukan melalui orang lain, kali ini menjambak rambutku dan menyeret ke kamar mandi. Di sana ia mendorong kepalaku ke dalam baik air. Setelah lama, ia mengangkat kepalaku dan menenggelamkan lagi.

Rasanya bingung, sedih, sakit, kecewa, semuanya campur jadi satu. “Ya Allah ya Rabbi, syetan apa yang membuat suamiku seganas ini pada istrinya?”

Begitulah kehidupan rumah tanggaku. Di depan orang kami nampak baik, di dalam rumah, ia seolah memperlakukan aku layaknya tahanan Guantanamo Bay, penjara kejam yang dibangun Amerika Serikat (AS) untuk memperlakukan saudara-saudara Muslim pasca 11 September.

Kekerasan dan siksaan (sudah tak bisa dihitung dan tak bisa saya jelaskan di sini) berjalan hingga kelahiran anak kami yang pertama. Karena sudah tidak tahan dengan perlakuan kasarnya, singkat cerita, pasca usia anak kami berjalan beberapa tahun, hubungan kami tak bisa dipertahankan dan berakhi dengan perceraian. Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkanku dari “neraka kecil” itu.

Barakah Pesantren

Sembari masih membawa status “janda”, saya mencoba melamar berbagai tempat. Semua telah kucoba dan selalu hasilnya nihil. Maklum, bidang yang kugeluti termasuk kurang umum, yakni bidang seni.

Suatu hari, aku mendapatkan informasi sebuah lembaga pendidikan di bawah naungan sebuah pesantren di Surabaya. Dengan bismillah, kucoba melamar sebagai tenaga pendidik bidang kesenian. “Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih,” demikian kata pepatah. Rupanya, lamaranku di terima.

Betapa senangnya. Pertama, aku gembira karena bisa mengamalkan ilmu, kedua, gembira bekerja di bawah lembaga yang memiliki akar kuat dalam urusan agama. Maklum, meski menutup aurat, aku wanita biasa-biasa saja, seorang dari kampung yang semenjak kecil kurang banyak dididik ilmu agama.

Benar saja, beberapa tahun bergabung dengan lembaga ini, tiap hari dan tiap saat, rasanya ilmu agamaku bertambah. Subhanallah, Maha Suci Engkau ya Allah!

Sementara aku sibuk menjadi pendidik di Surabaya, anakku kutitipkan pada neneknya di kampung. Tiap saat, usai gajian, aku pulang mengunjungi anak dan mengirim keperluan. Begitu perjalannku beberapa tahun.Dan tak terasa, sudah sekian lama kehidupan ini kujalani. Kira-kira hingga anakku masuk SMP.

Lama menjalani hidup sebagai janda rupanya tak mengganggu pikiranku. Sebab, setiap kali berfikir soal jodoh atau pria, selalu teringat dalam pikiran kekejaman mantan suamiku, yang tak lain adalah pria pilihanku sendiri. Karena itu, tiap terpikir soal pria, secepat itu pula pikiran itu lewat begitu saja. Hmmm rasanya, berat untuk menikah lagi. Bagaimana jika yang kuhadapi pria yang sama seperti kemarin? Di depan ia lembut, di belakang dia seperti algojo. Duh, ngeri!

Meski demikian, setiap malam aku selalu berdoa di hadapan Allah agar diberi jalan terbaik dalam hidup dan tak ingin diberi cobaan lagi seperti yang telah lewat.

“Ya Allah cukupkan cobaan ini. Berilah kesabaran, dan gantilah kehidupanku dengan lebih baik di masa depan.”

Suatu hari, di bulan Februari, aku pulang ke kampung menaiki bus. Perjalanan kurang lebih membutuhkan waktu 5 jam. Setengah jam bus berjalan, tiba-tiba seseorang duduk di bangku sebelahku yang awalnya kosong.

Seperti layaknya orang dalam perjalanan, ia bertanya ini-itu. Karena kurang tertarik, saya menjawabnya secara asal dan apa adanya. Namun saya sempat melihat raut berubah manakala aku menjawab bekerja sebagai seorang pendidik di lembaga pesantren. Kamipun berpisah tanpa saling mengenal.

Entah, apa yang ada dalam pikiran pria di bus itu. Rupanya, jawaban terkhirku itu membuat ia rela mencari alamat dan tempat kos ku. Sebagai wanita baik-baik, aku menghargainya. Meski demikian, aku tetap masih kurang tertarik berkenalan lebih serius dengan mahluk bernama pria.

Usahanya yang gigih terus-menerus untuk berusaha menemuiku, membuatku harus menyampaikan sesuatu padanya.

“Saya seorang janda. Banyak di luar sana orang lebih baik yang bisa Anda dapatkan,” begitu kalimatku suatu hari ketika berusaha menemuiku.

Tapi rupanya, kata-kata itu tak membuat dia mundur untuk terus berusaha ingin menemuiku. Singkat kata, keluarlah pernyataan jujurnya yang disampaikan padaku.

“Bagiku bukan soal janda. Saya butuh istri dengan latar belakang agama (Islam) yang baik. Setidaknya, aku menemukan itu padamu,” katanya.

Pernyataan ini cukup mengagetkan dan setidaknya membangunkan kesadaranku selama ini. Ternyata dia serius ingin mencari seorang istri. Sementara aku, masih terbawa terutama lama, KDRT yang terus menyisahkan luka.

Dengan kerendahan hati, kegalauan ini kusampaikan terus-menerus di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala di kala shalat, agar aku mendapatkan jalan terbaik, pilihan Allah semata.

Dengan takdirnya, akhirnya Allah mempertemukanku dengan seorang pria baik, seseorang yang sebelumnya belum pernah mengenal secara dekat dengan wanita, bahkan dia seorang perjaka.

Allah mengirimku seorang perjaka baik-baik, yang kelembutannya di atas mantan suamiku, dan ketulusannya bukan main-main telah diberikan kepadaku. Meski hanya lulusan SMU, tetapi ilmunya di atas orang sarjana yang pernah kutemui. Seorang yang matang dan dewasa, bertolak belakang dengan mantan suamiku yang dahulu. Setahun kami menikah, ia ingin bertempat tinggal dekat pesantren di mana aku mengabdi. Dia yang rajin shalat dan ibadah tak pernah lalai di acara-acara kajian dan daurah. Kini, kami dikaruniai seorang putri manis kesayangan kami. Oh ya, Alhamdulillah, kami berdua kini juga tinggal bersama-sama dengan anak pertama. Dan suamiku yang kedua ini juga sayang pada anaku yang pertama, layaknya anak sendiri. Jadi telah lengkap sudah kegembiraan ini. “Hasbunallah wa nikmal wakil, Nikmal maula wa Nikman Nasir”(Cukuplah Allah saja yang menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).

Hikmah

[يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {200
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran : 200)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Nikmat dan musibah adalah salah satu bekal hidup seorang Muslim dalam mengarungi kehidupan di dunia. Rasulullah dalam sebuah hadits mengatakan. "Sesungguhnya tidaklah kalian diberi sesuatu (kenikmatan) yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." [HR. Bukhori (13/94), Muslim (2/601)]

Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar