Rabu, 04 Juli 2012

GAYA HIDUP


RAIH KESEMPURNAAN IMAN,RAIH MUSLIM KAFFAH





ILUVISLAM wallpaper



APA sebenarnya yang kita prioritaskan dalam hidup ini? Mungkin jika ini ditanyakan ke banyak orang, jawabannya bisa beragam dan butuh waktu panjang.
Ada seorang yang kerja banting-tulang mengumpulkan uang. “Kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki”, demikian istilahnya, tidak lain untuk mengumpulkan harga dan kekayaan sebagai bekal di masa tua.
Ada pula orang yang rela hidup mengembara, menyebrang sungai, gunung dan lautan, agar dapat memperoleh kemuliaan hidup berupa jabatan.
Bahkan ada pula yang rela menjual harga diri –termasuk--tubuhnya yang paling berharga, untuk satu kata, ketenaran.
Tapi tak sedikit di antara kita yang tidak tahu, untuk apa hidup dan tujuan kita.
Benarkah ujung dari semua itu adalah kebahagiaan sejati? Belum tentu.
Di kota-kota besar, banyak orang bisa membeli rumah mewah dan tempat tidur empuk. Bahkan bisa menyewa kamar hotel dengan nilai ratusan juta untuk sehari, namun sedikit di antara mereka yang bisa tidur nyenyak. Mereka justru berobat keliling dokter karena mengidap insomnia. Sebaliknya, banyak tukang becak, pemotong rumput, tukang ojeg, nikmat mendengkur di atas kendaraannya yang sesungguhnya tak layak sebagai tempat istirahat.
Tak sedikit orang jungkir-balik untuk sebuah benda bernama”harta” namun akhirnya toh menderita di masa tua, akibat banyaknya gangguan penyakit yang membuat hari-harinya harus ke dokter dan ke dokter. Juga tak sedikit orang lupa keluarga, hingga usia di atas 40 tahun tak memiliki anak dan keturunan, bahkan yang menyedihkan lagi tak memiliki pasangan. Lantas, bisakah harta, jabatan, kekayaan, nama baik dan ketenaran membeli semua itu?
Kenikmatan Semu
Sungguh keliru, jika mengaku Muslim masih salah dalam menentukuan tujuan dan arah hidup. Apalagi secara lalai, abai, atau bahkan sengaja mengesampingkan aspek iman-taqwa dan lebih memprioritaskan aspek lain yang sifatnya kenikmatan-kenikmatan semu.
Kenikmatan-kenikmatan jasadiah (semu) sesungguhnya bukanlah sumber kebahagiaan sebagaimana anggapan kebanyakan manusia baik dari zaman Nabi Adam hingga kelak di masa akhir zaman. Anggapan itu muncul tidak lain karena manusia lebih mengedepankan kekuatan indera (pragmatisme) dan menafikan kekuatan mata hati (batin)
Bagi mereka kebahagiaan itu adalah melimpahnya harta, tingginya kekuasaan, dan banyaknya wanita yang berada dalam kehidupannya. Mereka sama sekali tidak mampu melihat realita di balik indera. Baginya hidup ini adalah dunia dan tidak ada kehidupan setelah dunia ini. Allah mengkategorikan orang-orang seperti itu sebagai orang kafir.
Secara bahasa, makna kafir atau kufur berarti kafara yang artinya 'tertutup' atau terhapus. Sedang yang dimaksudkan dengan orang kafir adalah orang yang tertutup mata hatinya dari kemampuannya untuk melihat hakikat kebenaran dan karena itu akan selalu sesat dalam melihat arti kebahagiaan.
Ketika mata hati seorang manusia tertutup maka akal sehatnya, batinnya, dan perasaannya tidak akan berfungsi dengan baik. Inilah yang menyebabkan mengapa banyak orang berani melawan kebenaran dari Allah Subhanahu Wata’ala. Jiwa raganya telah diselimuti oleh kekuatan setan yang pasti akan selalu berbuat keruasakan dan kesesatan.
وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لاَ يُقْصِرُونَ
“Mereka yang selalu menyesatkan manusia dari jalan kebenaran ini ada dua yaitu orang yang kafir dan orang yang fasik. Seperti dalam firman-Nya, “Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (QS. Al-A’raf [7]: 202).
Bagi orang yang demikian itu, dan biasanya kelompok ini selalu ada di setiap zaman, keimanan bukanlah hal penting. Bagi mereka kebahagiaan sama seperti anggapan kebahagiaan yang dimiliki oleh Fir’aun, Namrudz, Qarun, dan Tsa’labah memandang kebahagiaan. Na’udzubillahi min dzalik.
Jaga iman dan sempurnakan
Setiap Muslim berkewajiban untuk menjaga keimanannya dan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar mata hati, akal sehat, dan perasaannya tetap berada diliputi oleh cahaya kebenaran dari Allah SWT, sehingga terhindar dari mengikuti langkah-langkah setan.
Mengenai hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam senantiasa mengajarkan umatnya untuk berupaya semaksimal mungkin menyempurnakan imannya setiap saat, dimana dan kapan pun juga. Oleh karena itu tidak semestinya seorang Muslim memprioritaskan hal lain selain sempurnanya iman dalam jiwa dan raga secara terus-menerus sepanjang hidup.
Menjaga iman apalagi menyempurnakannya bukanlah perkara mudah namun juga tidak berarti tidak bisa diupayakan. Hanya ada satu syarat seorang Muslim bisa menyempurnakan iman dengan sebaik-baiknya, yaitu menjadi Muslim secara kaffah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 208).
Muslim kaffah ialah Muslim yang senantiasa mengikuti Rasulullah dalam segala hal dalam kehidupannya. Hal itu tergambar dalam beberapa ayat Al-Qur’an.
Satu di antaranya adalah; ‘Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31).
Hal inilah yang mendorong Umar bin Khaththab selalu gelisah dengan kondisi rakyatnya. Oleh karena itu dia mengharamkan kemewahan bagi diri dan keluarganya. Selain itu Umar merelakan seluruh hidupnya demi kebahagiaan seluruh rakyatnya yang menjadi amanah tertinggi baginya sebagai seorang pemimpin.
Kerusuhan, kericuhan, dan kesemrawutan yang terjadi hari ini boleh jadi dikarenakan sudah sangat banyak orang yang meninggalkan ajaran Islam. Dalam hal apapun; memimpin, berdagang, belajar, bekerja, hidup dll.
Kesempurnaan Iman
Dunia ini akan tetap aman dan tentram manakala semua elemen masyarakat, bangsa dan negara mampu memperagakan nilai-nilai Islam secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang Muslim yang baik (imannya) adalah Muslim yang benar-benar mengikuti risalah Rasulullah. Di antaranya adalah senantiasa berkata baik atau diam, menghormati tetangga, dan memuliakan tamu.
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, ”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori - Muslim).
Satu contoh kecil. Sekarang tidak jarang orang terjebak oleh suasana hati yang kurang bersih, sehingga banyak juga di antara umat Islam yang perkataannya sering melukai perasaan saudara sesama Muslim.
Belum lagi akhlaq dan amalan-amalan mulia Islam yang banyak ditinggalkan. Menerima tamu, menghormati tetangga, bekerja, mengurus keluarga (termasuk suami/istri dan anak), mendidik yang benar, yang kesemuanya menuju satu kesempurnaan iman.
Contoh lain. Tak sedikit gadis-gadis Islam tergila-gila pria hanya karena ia ganteng dan cakep. Bukan karena agamanya. Akibatnya, setelah setahun dua tahun menikah, ujungnya tak lain perceraian belaka.
Tak sedikit orangtua depresi di hari tua, karena anak-anak yang mereka lahirkan dan diidam-idamkan, akhirnya tidak memiliki kecintaan dan rasa sayang padanya. Di kala anaknya sudah sukses dan makmur, mereka jarang datang menjenguknya, kecuali hanya kiriman uangnya tiap bulan.
“Di saat saya sakit dan menderita, mengjengukpun tidak pernah. Ia hanya mengirimkan uang saja.”
Sesungguhnya tak ada yang salah. Ketika orangtua mengajarkan dan mendidik anak-anak mereka dengan sentuhan finansial semata, di kala besar, pendekatan mereka juga finansial dan uang.
Mungkin jika ditanya, anak-anak itu bisa berkata. “Dulu semua dihitung dengan uang. Kini, ketika saya sukses, telah aku kembalikan uangnya secara perlahan-lahan.”
Banyak orangtua salah mendidik anaknya. Padahal, aset berharga sebagai bekal hidup di dunia fana adalah amal jariyah dan anak yang sholeh.
''Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (HR. Muslim)
Itulah sesungguh-sungguhnya aset berharga para orangtua untuk bekal ke aherat. Akhirnya, marilah kita kembalikan semuanya pada al-Quran dan Sunnah (tuntunan Rasulullah), semata-mata agar kita mendapatkan kemulian dan kesempurnaan iman.*










SELAMATKAN DIRI DAN KELUARGA DARI PENYAKIT MATERIALISME




SEORANG ibu yang tinggal di sebuah kota kecil menceritakan, anak gadisnya yang bersekolah di sebuah sekolah Islam merasa minder ketika berkumpul dengan teman-temannya karena kebanyakan dari mereka memiliki Blackberry (BB). Orangtuanya merasa kasihan padanya hingga membelikannya ketika ada rejeki agar putrinya tidak merasa minder lagi meskipun masih banyak kebutuhan mendesak lainnya yang musti dipenuhi termasuk membayar hutang-hutang.
Ada seorang remaja putri yang juga tinggal di kota kecil merasa ketinggalan jaman karena tidak mempunyai laptop. Akhirnya orangtuanya memaksakan diri membeli laptop dengan cara mencicil, meskipun masih ada kebutuhan primer yang harus lebih diutamakan. Ada seorang remaja laki-laki desa yang ingin dibelikan sepeda motor oleh orangtuanya mengalami stres hingga mengalami sakit jiwa karena orangtuanya tidak mengabulkan permintaannya.
Ada remaja perempuan desa yang mengancam orangtuanya akan pergi meninggalkan rumahnya jika orangtuanya tidak membelikan handphone. Ada seorang Muslimah tinggal di pedesaan yang tidak peduli agama yang dianut seorang laki-laki yang dipilihnya menjadi suaminya tidak sama dengan agama yang dianutnya, yang penting baginya ada jaminan kesejahteraan dalam hidupnya karena laki-laki tersebut seorang Pegawai Negeri Sipil.
Fenomena seperti di atas adalah hal yang sering kita temui dan dianggap wajar terjadi serta mudah ditemui di jaman ini. Tidak pandang bulu di kota besar atau kota kecil, di tengah kota, pinggir kota atau di pedesaan.
Dalam kisah-kisah di atas, ada satu hal yang sama yang diinginkan para tokohnya, yaitu harta benda atau materi. Materi adalah kebutuhan manusia sejak manusia pertama yakni Adam as hingga manusia terakhir yang lahir di muka bumi ini. Wajar, tidak salah dan tidak berdosa manusia memenuhi kebutuhan materinya baik yang tergolong kebutuhan primer, sekunder maupun tersier yang halal, didapatkan dengan cara yang halal dan dari harta yang halal, serta dalam batas kewajaran.
Akan menjadi salah jika materi digunakan: sebagai sumber kebahagiaan, percaya diri, kepuasan batin dan kemuliaan diri; untuk menghormati orang lain dan mengharapkan orang lain menghormati dirinya;  untuk menilai status sosial dan kesuksesan diri sendiri dan orang lain; dan sebagai faktor pendorong melakukan aktivitas sosial dan keagamaan.
Juga termasuk kategori perbuatan yang tidak tepat jika untuk mendapatkan materi dalam rangka memenuhi kebutuhan materi harus mengorbankan anggota keluarga, apalagi agamanya.
Mengorbankan anggota keluarganya baik itu anak, suami/istri, atau lainnya yang menjadi tanggung jawabnya dengan meninggalkan mereka dalam waktu yang sangat lama atau selama-lamanya; menitipkan anak di tempat penitipan anak; menitipkan orangtua di panti jompo; tidak mempedulikan kesehatan mental, kebutuhan jiwa dan kehidupan spiritual mereka; atau menjadikan mereka sebagai korban atau tumbal untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan  “orang pintar”. Mengorbankan agamanya dalam arti tidak atau kurang mempedulikan kebutuhan rohaninya; meninggalkan kewajibannya sebagai hamba Allah; mengabaikan ajaran agamanya seperti dengan melakukan korupsi, menyuap dan melakukan perbuatan syirik; serta dalam arti meninggalkan agamanya yakni keluar dari Islam (murtad).
Mengejar materi untuk memenuhi kebutuhan materi dengan mengorbankan agamanya adalah tanda bahwa seseorang lebih mencintai materi dari pada Allah dan Rasul-Nya.Maka, logis jika dia enggan berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”  [QS: At Taubah: 24]
Perlakuan-perlakuan menyimpang terhadap materi seperti tersebut di atas telah berlaku sepanjang sejarah manusia. Di jaman nabi Musa as ada Karun yang kufur nikmat, sombong, membanggakan hartanya, mengklaim harta yang didapatkannya bukanlah dari Allah tapi karena ilmu dan hasil keringatnya, serta enggan berzakat, berinfak dan bersedekah. Sebagai balasannya, Karun diazab Allah dengan cara ditelan hidup-hidup oleh bumi beserta harta bendanya.

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ         (QS. al-Qashash [28]:76)
Artinya: “Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ القُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعاً وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ    (QS. al-Qashash [28]:78)
Artinya: “Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”
Di jaman ini perilaku-perilaku menyimpang terhadap materi lebih masif, intensif dan lebih kental dilakukan umat manusia termasuk yang beragama Islam. Salah satu penyebabnya adalah menyebarnya ideologi materialisme. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Sedangkan orang yang menganut dan menjalankan paham materialisme dan orang yang mementingkan kebendaan seperti harta, uang, dan lain sebagainya disebut dengan materialis. (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Di jaman modern ini budaya dan nilai-nilai materialistis telah menyebar luas ke setiap sudut  dunia dan tak kenal usia menjangkiti anak-anak hingga orang lanjut usia, dan tak pandang agama apapun agama seseorang, tak terkecuali yang beragama Islam.
Pendidikan, media massa, dan alat teknologi informasi dan komunikasi adalah sarana yang efektif digunakan untuk menyebarluaskan ideologi materialisme oleh pengasongnya. 
Media massa seperti koran, majalah, radio dan televisi juga tidak ketinggalan mencetak manusia-manusia yang materialis dengan cara mempromosikan nilai-nilai materialisme.
Di antara semua media massa, televisi merupakan media yang paling efektif mempengaruhi dan merubah nilai hidup, cara pandang, cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup. Melalui iklan, film, sinetron, talk show dan program-program lainnya termasuk berita, televisi secara halus mempromosikan cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup materialistis.
Menariknya, di Indonesia, lebih mudah menemukan rumah tangga yang mempunyai televisi lebih dari satu buah. Bahkan televisi sudah jamak menjadi milik pribadi dan bersifat mobile yang dapat di nikmati di mana saja dan kapan saja. Juga saat ini sulit mendapati orang termasuk yang beragama Islam yang tidak pernah atau jarang menonton televisi, tapi malah lebih mudah mendapati anak-anak hingga orang yang sudah lanjut usia menghabiskan banyak waktu di depan televisi.







SEBUAH penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan tiga orang ahli dari tiga universitas yang berbeda di Amerika Serikita yang hasil penelitian mereka dipublikasikan oleh Association for Consumer Research, sebuah lembaga penelitian konsumen di University of Minnesota Duluth, Amerika Serikat, meneliti pengaruh frekuensi menonton program televisi pada pengadopsian nilai-nilai materialistis. Penelitian tersebut membuktikan semakin banyak jam yang dihabiskan seseorang dalam menonton televisi maka yang bersangkutkan semakin materialistis. Hubungan antara menonton televisi dengan materialisme lebih besar bagi mereka yang lebih fokus memperhatikan ketika menonton televisi, dan bagi mereka yang lebih mengembangkan apa yang ditonton dengan berfantasi.
Untuk mengurangi tingkat materialisme pada seseorang, para peneliti tersebut menyarankan untuk mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan di depan televisi. Namun, tren menonton televisi di mana-mana menunjukkan hanya sedikit yang mau atau mampu melakukan hal ini. Sebagai obat alternatif, kata mereka, seseorang dapat memerangi materialisme dengan menyadari apa yang mereka menonton dan efeknya, dan menahan dorongan untuk berfantasi tentang gaya hidup makmur yang digambarkan di televisi.
Dengan kata lain, mengingatkan diri kita bahwa dunia pertelevisian terdistorsi. Lanjut mereka, tentu saja, ini mungkin bukan cara yang menyenangkan untuk menonton televisi karena pemirsa cenderung memaksimalkan kenikmatan dengan berfantasi.
Cara untuk mengurangi tingkat materialisme dan memerangi materialisme tersebut di atas ternyata kurang efektif, bahkan sulit untuk dilakukan. Namun lain halnya dengan Islam.
Islam telah menyediakan vaksin untuk mencegah dan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit materialisme. Dalam Islam ada satu cara yang sangat efektif dan praktis untuk mencegah dan mengobati materialisme, yaitu dengan cara mengingat mati.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau berkata:

أَكْثِرُوا ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat hal yang akan memutuskan berbagai kenikmatan. – yaitu maut." (HR. Ashabus Sunan, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’)

Salah satu efek positif dari mengingat mati adalah menyebabkan hati memiliki sikap qana’ah.

"Barangsiapa banyak mengingat mati maka dia akan dimuliakan dengan tiga perkara: segera bertaubat, hatinya qana’ah terhadap dunia, dan semangat beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melupakan mati, dia akan dibalas dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, hatinya tidak qana’ah terhadap dunia, dan malas beribadah. Maka ingat-ingatlah kematian, sakaratul maut, dan susah serta sakitnya, wahai orang yang tertipu dengan dunia!.” (Abu Ali Ad-Daqqaq rahimahullah)

Menurut bahasa, qana’ah berarti merasa cukup. Sedangkan menurut istilah, qana’ah berati merasa cukup dan menerima atas apa yang telah diberikan Allah swt, sehingga mampu menjauhkan diri dari sikap tamak, dan sikap tidak puas yang berlebihan.
Dari Fadlolah bin Ubaid bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan hidayah Islam dan penghidupannya sederhana serta mau qana’ah (menerima apa adanya).” (HR. Tirmidzi) 

“Qana’ah itu mengandung lima perkara: Menerima dengan rela akan apa yang ada. Memohonkan kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha. Menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan. Bertawakal kepada Tuhan. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.” (Hamka)

Mari latih dan biasakan diri dan anggota keluarga kita untuk selalu mengingat mati agar mempunyai gaya dan pola hidup qana’ah dan bukannya kebalikannya yakni gaya dan pola hidup materialistis yang mengajak “meminum air laut”. Semoga diri dan keluarga kita bebas dari penyakit al-Wahn (cinta dunia dan benci/takut mati) yang telah Rasulullah saw sebut 15 abad yang lalu. Semoga diri dan keluarga kita bukan orang-orang yang fasik, yakni yang lebih mencintai harta benda dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya dengan jiwa dan harta benda. Wallahu a’lam.*














BANGUN ORIENTASI HIDUPMU AGAR TAK TERTIPU





SEMUA mukmin tentu sudah tahu bahwa setiap  orang hidup pasti akan menemui kematian. Hidup di dunia ini hanya sementara, dan kita semua akan pergi ke kampung akhirat. Meninggalkan harta benda yang sekian lama dikumpulkan; anak, istri dan keluarga yang dicintai; jabatan yang dikejarnya dan terputus dari berbagai kesenangan dunia.
Jasad manusia dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sedangkan ruhnya di alam Barzakh. Kelak di alam akhirat, manusia dibangkitkan dan dikumpulkan kembali seolah terbangun dari tidur sesaat di siang hari. Maka pada saat itu barulah orang-orang yang tak mempercayai akhirat akan merasa rugi.
"Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sungguh merugi orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk." (QS: Yunus [10]: 45)
Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. Yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.
Seorang yang beriman pada akhirat tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir tetapi sebagai ladang amal.

Tertipu Dunia
Meski sudah tahu akan mati dan melihat sendiri banyak orang yang lebih muda umurnya mendahului, kadang manusia tidak terdorong bersiap diri. Orientasi hidup yang dibangun di hati semata dunia saja. Dalam hal harta, yang dipikirkan berapa banyak harta yang bisa dikumpulkan. Inginnya menambah dan menyimpan rapat- rapat. Dalam hal jabatan, selalu mendongak ke atas bagaimana meraih jabatan yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Tak segan harus mengeluarkan dan berkorban uang banyak sampai ratusan juta bahkan milyaran sekali pun demi jabatan yang direbutnya. Kecintaan pada dunia membuatnya tertipu dan tak peduli dengan hari kemudian.
“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat.” (QS: al-Insaan [76]: 27)
Karena kesenangan dunia yang menjadi tujuan hidupnya, semua waktu dan energi dikerahkan untuk meraih dunia. Lupa bahwa semua yang dikejar dan diraih itu hanyalah sementara. Semua akan terlepas pada akhirnya. Siapa pun orangnya tak kan dapat menghindar saat maut datang menjemput; tak dapat diundurkan barang sesaat pun.
“…Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat menundanya dan tidak (pula) mempercepatnya sesaat pun.” (QS: an-Nahl [16]: 61)
Bekerja keras untuk memiliki harta yang banyak tidak dilarang. Berkorban untuk menduduki jabatan tinggi juga tak salah. Yang tidak boleh adalah bila hal itu sampai mengabaikan akhirat. Lupa ada kehidupan baru setelah kematiannya di dunia.Mereka mengira semua persoalan selesai pasca kematiannya. Padahal justru kematian itu mengantarkannya pada persoalan yang lebih besar, sehingga ketika mereka dibangkitkan dari kubur mereka berangan-angan seandainya saja tidak ada kehidupan baru setelah kematian mereka di dunia.
“Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.”  (QS: al-Haqqah [69]: 27-29).

Orientasi Akhirat
Bangunlah orientasi akhirat sekarang juga. Sadari bahwa harta yang akan abadi menjadi milik kita sampai di akhirat adalah yang telah diinfakkan di jalan Allah. Sedangkan harta yang masih tersimpan di tangan belum tentu nasibnya, bahkan bisa lepas dari genggaman.
Dengan orientasi akhirat, kita tidak terjebak pada perlombaan memamerkan kekayaan. Karena ukuran kemuliaan bukan dari banyaknya harta, tetapi dari banyaknya persentase sedekah.
Misalkan, jika seseorang memiliki dua dirham dan ia bersedekah satu dirham maka berarti dia telah mengeluarkan 50% (separuh) hartanya. Itu nilainya besar di hadapan Allah. Tapi jika seseorang penghasilannya sepuluh ribu dirham lalu berderma seratus dirham maka yang dikeluarkan itu hanya 1% nya. Itu sebabnya Rasulullah pernah bersabda, “Sedekah satu dirham bisa mengalahkan amal seratus dirham.
Karena itu, bagaimana pun keadaan kita, prioritaskanlah beramal shalih; baik dengan harta ataupun tenaga. Mereka yang terus berusaha untuk mendapatkan harta yang lebih banyak, yang tak kalah pentingnya adalah terus meningkatkan kekuatan mental beramal yang lebih besar. Tambahnya penghasilan hendaknya diiringi dengan tambahnya sedekah.
Jika kekuatan sedekah dan pengorbanan tidak bertambah, maka tambahnya penghasilan bukannya menambah kemuliaan di hadapan Allah tapi kehinaan. Apalagi kalau cara yang ditempuh mendapat harta tidak memedulikan halal dan haram, maka sama saja menyiapkan neraka sejak di dunia ini.
Untuk meningkatkan amal shalih, bukan tamak yang harus kita perturutkan, tetapi iman pada akhirat yang harus ditingkatkan. Iman akan mendorong kita menjadikan dunia ini sebagai ladang amal.
Iman kepada akhirat, bukan semata dihafal tetapi harus diresapi. Iman yang hakiki juga bukan sekedar diketahui tetapi dihayati sampai membawa kesadaran diri seolah melihat akhirat di pelupuk mata. Inilah yang dirasakan al-Harist sehingga membuatnya gigih beramal.
''Bagaimana keadaanmu pagi ini?'' tanya Rasulullah kepada al-Harist yang sedang lewat di depan beliau.
''Pagi ini saya menjadi mukmin yang sebenarnya,'' jawab al-Harist.
Kemudian Rasulullah bersabda, ''Perhatikanlah apa yang engkau ucapkan itu, karena tiap- tiap sesuatu itu memiliki hakikat. Apakah hakikat keimananmu?''
al-Harist menjawab, ''Diriku telah menjauhi keduniaan, aku berjaga (tidak tidur) pada malam hari dan haus (berpuasa) pada siang hari, seolah- olah aku melihat Arasy Tuhanku tampak jelas, seakan-akan aku melihat para penghuni sorga sedang saling berkunjung, dan seakan-akan aku melihat penghuni neraka sedang meliuk- liuk kelaparan dan kepanasan''
Rasulullah bersabda, ''Wahai Harist, engkau sudah mengerti, maka istiqamahlah!'' Beliau mengucapkan perkataan ini tiga kali. Semoga kita diberi istiqamah oleh Allah. Amiiin.*














WASPADALAH DUNIAMU ADALAH AKHIRATMU





KITA sering mendengar ada pepatah mengatakan,”Today is yesterday, and tomorrow is today.” Atau  pribahasa yang mengatakan “Esokmu adalah dirimu hari ini.”
Ada juga kata-kata movitasi yang mengatakan,  “Think big, begin with small, act now, learning by doing, doing by improving, practice make perfect.”
Hanya saja, motivasi seperti itu kini banyak dipraktikkan oleh orang-orang yang lebih mencintai dunia atau urusan materi.  Umumnya, banyak orang ingin menjadi orang nomer satu di bidangnya.
Sebagian besar sifat orang lebih suka mempersiapkan urusan jangka pendek. Orang mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, agar di hari tua menikmati hasilnya. Padahal, tidak jarang semua yang mereka kumpulkan berakhir dengan sia-sia.
Alkisah di sebuah desa, ada seorang pengusaha kaya-raya. Begitu sibuknya mengumpulkan harta, ia lupa keluarga, waktu dan beramal.  Allah mentakdirkan dia kaya, sehingga dikenallah menjadi tuan tanah dan pengusaha walet di sebuah kota kecil di Jawa Timur.
“Saya jungkir-balik, banting-tulang, ini semua demi anak dan agar bisa kami nikmati di hari tua,” begitu katanya.
Sayang, ketika usianya telah mencapai 55, Allah memanggilnya setelah diberi musibah sakit. Bahkan selama hidupnya, ia sendiri belum pernah menikmati kekayaannya secara baik.
Setahun kematiannya, sebelas anak-anaknya justru pecah berantakan karena urusan warisan. Mereka saling menggugat satu dengan yang lain ke pengadilan karena menganggap apa yang diterima tidak adil.
Kasus seperti ini bagian dari cerita nyata di sekeliling kita. Banyak orang menghabiskan waktu, menguras tenaga untuk berburu jabatan dan harta sebagai bekal hari tua. Namun faktanya, banyak di antara mereka berakhir dengan sia-sia. Uang, harta, jabatan yang mereka kejar tidak bisa dinikmatinya.
Al-Qur’an Sebagai PedomanBanyak masyarakat begitu antusias mempersiapkan dunia dan seisinya, tapi jarang seorang Muslim terdorong mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih hakiki (akhirat).
Padahal yang paling haq dari kehidupan dunia ini adalah Duniamu untuk Akhiratmu. Siapa yang gagal menjadi hamba Allah yang taqwa di dunia ini maka keburukanlah baginya di akhirat nanti. Barang siapa yang berhasil menjadi hamba Allah yang taqwa maka baginya kemenangan abadi.
Taqwa adalah sifat yang menomorsatukan Allah dan Rasul-Nya atas segala situasi dan kondisi. Inilah firman-Nya
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.” (QS. 24 : 52).
Setiap Muslim sangat mungkin dan pasti bisa menjadi orang bertaqwa. Allah SWT telah memberikan pedoman, panduan atau juklak untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat.
Agama Islam dengan seluruh perangkat Al-Qur’an dan Hadits-nya merupakan pedoman-pedoman bagi umat manusia untuk mendapatkan; petunjuk, aturan, pedoman hidup, berita yang lengkap tentang segala hal yang menyangkut seluruh keperluan manusia yang hanya berlaku selama masih hidup singkat di dunia yang fana ini.
Syarat untuk mendapatkan manfaat besar dari Al-Qur’an dan Hadits itu ialah dengan menjadi orang yang bertaqwa. Sebagaimana firman-Nya, “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. 2 : 2).
Secara lebih komprehensif Al-Qur’an disebut sebagai petunjuk karena di dalamnya terdapat khabar shodiq yang berisi berita baik dan buruk yang akan diterima manusia di akhirat (yang kekal abadi) sesudah mati sebagai balasan atas perilakunya dalam menyikapi petunjuk dan aturan Allah selama hidupnya di dunia.
Seorang Muslim yang baik, harus menyadari diri, bahwa dunia ini tiada lain hanyalah tempat persinggahan yang berfungsi sebagai tempat untuk mempersiapkan diri menuju akhirat. Bahagia atau tidak kehidupan di akhirat nanti, sepenuhnya ditentukan oleh persiapan kita dalam mengumpulkan bekal menuju perjalanan abadi itu.
Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan hidup di dunia ini, jadikanlah Al-Qur’an sebagai petunjuk. Hiasilah hari dan waktumu dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dan memperbanyak amal. Karena itulah sesungguhnya bekal paling bermanfaat manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Tiadalah kenikmatan dunia dibandingkan kenikmatan akhirat melainkan seperti salah seorang di antara kamu pergi ke laut; lalu ia masukkan jari tangannya ke dalam lautan itu, maka hanya air yang menempel pada jarinya itulah keseluruhan nikmat-nikmat dunia. Sedangkan perbandingan nikmat surga akhirat adalah sangat jauh dan lebih luas lagi seperti luas lautan tadi.” (HR. Al-Hakim).

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. 57 : 20).
Sayyidina Ali pernah berwasiat, “Kuasailah dunia jangan cintai.” Artinya umat Islam harus tetap berkonsentrasi menguasai segala hal yang penting di dunia ini guna tegaknya agama Islam.
Allah berfirman;
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS. 28 : 77).
Jadi umat Islam perlu juga menguasai dunia dengan tidak mencintainya sedikitpun. Kalau tidak maka dunia akan dikuasai orang kafir sepenuhnya yang justru akan berpotensi menyesatkan mayoritas umat Islam, khususnya mereka yang berada dalam kekurangan harta dan ilmu. Lihat (QS. 10 : 88 dan QS. 71 : 21, 22, 24, 27).
Hanya saja, kaum Muslim harus menjadikan dan memperlakukan dunia dan seisinya berbeda dengan kaum kafir.  Dengan demikian jelaslah bagi kita apa fungsi dunia yang sebenarnya. Dunia tidak lebih seperti jembatan semata. Ia hanya media menuju akhirat.
Oleh karena itu kuasailah dunia jangan cintai, tapi manfaatkan sepenuhnya untuk bekal menuju akhirat. Maka benarlah ungkapan yang mengatakan; sebenarnya duniamu adalah akhiratmu.
Para ulama mengatakan, di antara penyakit hati (amraadhul quluub) yang menghalangi seseorang untuk memperbaiki dirinya adalah penyakit at-Taswiif. Taswiif berasal dari bahasa Arab, dari akar kata: sawwafa – yusawwifu – taswiifan (menunda-nunda).
Penyakit at-Taswiif diartikan sebagai penyakit menunda-nunda amal, yang dinilai sangat berbahaya, karena ia dapat menjangkiti siapa saja.
Penyakit at-taswiif termasuk penyakit menunda taubat, seolah-olah hari esok masih milik kita. Atau seolah-oleh usia kita masih panjang. “Ah, saya akan bertaubat jika nanti sudah di atas 50 tahun,” begitu kira-kira.
Seorang ulama salaf, Syeikh Hasan al-Basri, mengingatkan kita untuk senantiasa waspada terhadap penyakit ini. Sebagaimana diriwayatkan oleh muridnya Ibnu al-Mubarok (wafat 181 H) dalam kitabnya az-Zuhd. Beliau berkata, “Jauhilah dirimu dari taswiif. Karena sesungguhnya engkau berada dengan harimu ini dan bukan dengan hari esokmu. Jika engkau diberi kesempatan untuk bernafas esok hari, maka jadikanlah hari esok itu sama seperti harimu ini. Karena jika hari esok tidak diperuntukkan bagimu, engkau tidak akan menyesal dengan hari yang kau lalui hari ini.
Semoga kita menjadi orang yang tidak keliru memperlakukan dunia dan hari esok.







KEIMANAN, MENJADIKAN KEBAIKAN LEBIH BERNILAI



SAAT itu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) belum beranjak dari kediaman Abu Thalib yang baru saja meninggal. Hatinya masih sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Betapa tidak, paman yang selama ini merawat Nabi sejak kecil dan menolongnya dalam urusan agama ternyata mati dalam keadaan kufur. Saudara kandung ayahnya itu mati sedang Nabi sendiri berada tepat di sampingnya menemani ketika ia mengerang dalam sakarat maut.

Bagi Nabi Muhammad hal ini adalah sebuah pukulan yang sangat hebat. Suatu keputusan takdir yang memerihkan hati siapa pun yang mengalami hal tersebut ketika orang yang dicintai “terpaksa” mati dalam kondisi tidak beriman kepada Allah Ta’ala; Ketika apa yang manusia idamkan rupanya tak sejalan dengan keputusan Sang Pemilik kuasa. Namun di saat-saat seperti itulah Allah datang menyapa kekasih-Nya. Allah menunjukkan kuasa-Nya yang tak seorang pun dapat menolak takdir tersebut.  Allah menegaskan;

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk". (al-Qashash [28]: 56).

Penggalan kisah tersebut di atas diceritakan oleh Imam at-Thabari dalam karya monumentalnya, Kitab Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Peristiwa meninggalnya Paman Abu Thalib terjadi pada tahun ke-10 kerasulan Muhammad SAW di kota Makkah. Ketika itu bukan hanya Rasulullah yang terpukul, namun seluruh kaum Muslimin merasakan keperihan yang sama. Meski berbeda keyakinan, tapi Abu Thalib ialah sosok pengayom yang rela menjadi tameng buat umat Islam di Makkah selama ini.

Meski sempat mengguncang keimanan, tapi sesungguhnya hal ini sekaligus hiburan bagi jiwa Nabi yang dilanda lara. Sebuah pelajaran penting yang tak pernah usang dimakan usia. Nasihat berharga buat manusia, bahwa dia adalah makhluk yang tak berdaya. Sedangkan pemilik kuasa mutlak hanyalah Allah Sang Khaliq sendiri. Tak pantas bagi seorang Nabi meratapi ketetapan Allah. Sebagai penyeru kebaikan, Rasulullah hanya dibebani untuk berusaha dan berdakwah serta mendoakan umatnya. Dia tidak mampu memberi hidayah yang menjadi hak preogatif Allah semata.

Hakikat Hidup Manusia
Inilah hakikat kehidupan manusia. Tak semua apa yang dia inginkan lalu bisa berwujud nyata. Tidak setiap hasrat yang terbetik dalam hati manusia bisa dia gapai dalam hidupnya. Sebab manusia hanya mampu berusaha dan berdoa, sedang titik ketetapan berada dalam genggaman Allah Penguasa langit dan bumi.

Manusia adalah makhluk lemah, ia tercipta dari setetes air yang hina. Namun demikian, terkadang ia justru lupa dengan kodratnya sebagai makhluk tak berdaya.
Dengan angkuhnya seringkali manusia memaksakan setiap kehendaknya. Seolah apa yang ia inginkan niscaya berakibat baik pada dirinya. Menyangka bahwa setiap perbuatannya adalah hal yang benar. Akibatnya, yang terbingkai di alam fikiran manusia hanyalah kavlingan “kenikmatan” semata. Pokoknya dirinyalah yang harus benar, hidupnya harus bahagia, tidak boleh gagal, dan seluruh kesenangan lainnya. Manusia seperti ini akan menentang jika suatu saat mendapati dirinya mengalami sakit, sebagaimana dia bisa-bisa mengutuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya kalau ternyata ia lalu gagal dalam suatu urusan.

Sejak dini Allah mengingatkan hal ini, firman Allah, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (adz-Dzariyat [51]: 49).
Tak sedikit manusia lalai akan fitrah kehidupan ini. Seluruh yang diciptakan Allah memiliki pasangan masing-masing. Ada sehat ada sakit, ada bahagia ada sengsara. Tak selamanya jalan yang kita tempuh itu lempang lurus ke depan. Sebab sesekali kita membutuhkan kelokan yang sedikit tajam untuk sampai ke tujuan. Jika selama ini perjalanan seseorang menanjak naik, maka boleh jadi ada saat dimana dia “wajib” menuruni jurang yang terjal agar sampai dengan selamat.

Hendaknya seorang Muslim menyadari adanya misi besar Ilahi di balik duka yang dia ratapi kini. Ada mutiara hikmah yang menarik ditelusuri di balik luka yang menggores cita-citanya. Semoga orang itu senantiasa sadar akan kebesaran Allah, Sang Pencipta alam semesta. Menyadarkan dirinya bahwa kodrat hakiki seorang manusia adalah makhluk yang tak berdaya di hadapan kuasa Allah Ta’ala. Meyakini bahwa apapun yang luput dari manusia karena dia memang tak berhak menikmati dan memiliki hal itu.

Bersedih atas sesuatu yang luput dari keinginan seseorang adalah suatu hal yang manusiawi. Sebab dia adalah warna indah dalam bingkai kehidupan manusia. Namun bagi seorang Muslim, hal yang keliru jika dia larut dalam kesedihan. Alih-alih menenangkan hati, tak jarang orang itu lalu terjebak untuk mencari kambing hitam suatu permasalahan. Alhasil, demi melampiaskan kejengkelan jiwanya, kiri kanan ia  lalu menuding orang-orang di sekitarnya, tanpa peduli lagi apakah dia kawan atau lawan. Sengaja dia menempuh cara ini, sebab hakikatnya dia sedang berupaya menutupi aib dan kelemahan pada dirinya sendiri.

Kebaikan yang Bernilai
Kisah tragis yang dialami Abu Thalib juga menyimpan pelajaran berharga lainnya, bahwa keimanan itu adalah syarat mutlak kebahagiaan. Sejarah mencatat, kebaikan apalagi yang belum dikorbankan Abu Thalib kepada keponakan tersayangnyaShallallahu alaihi wasallam. Sejak usia remaja, Abu Thalib telah menanggung hidupnya hingga sampai titik klimaks, ketika Sang Paman harus berlawanan dengan seluruh tokoh Qurasiy Makkah yang menentangnya ketika itu. Semata-mata karena perlindungannya terhadap Nabi Muhammad.

Namun di akhir hayatnya, semua kebaikan Abu Thalib sirna begitu saja karena tak berdasar pada pondasi keimanan kepada Allah. Layaknya kumpulan partikel debu di sekeliling kamar, benda itu beterbangan tak tentu kemana arahnya. Kisah Abu Thalib adalah potret riil ending sebuah kebaikan yang tak berbalut keimanan. Usia kebaikannya hanya sebatas umurnya di dunia. Tak mampu menolong pelakunya sedikitpun di Hari Pembalasan nanti. Boleh jadi orang-orang di sekelilingnya hanya mampu bergumam, ia adalah orang yang berbuat baik kepada sesamanya.
Perbuatan seperti itu hanya bernilai di mata manusia namun menjadi sia-sia di sisi Allah. Sebab ia bukan amalan shalih yang memiliki keberkahan bagi pelakunya.

Di akhirat amal kebaikan orang kafir akan tereliminasi, seperti abu yang ditiup angin, sebagaimana firman Allah:

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلاَلُ الْبَعِيدُ

“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia).  Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS: Ibrahim [14]:18).






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar