Selasa, 01 Mei 2012

IBADAH

Inilah Mukjizat Alquran tentang Langit yang Mengembalikan


Atmosfer yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Menurut Harun Yahya, penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi.

''Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi "pengembalian" dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut,'' ujar pemilik nama asli Adnan Oktar itu.

Keberadaan lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.

Menurut Harun Yahya, lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.

Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.

Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.

Semua fenomena alam di atas, sesungguhnya telah diungkapkan dalam Alquran pada abad ke-7 M, jauh sebelum ilmu pengetahuan mengungkap fakta-fakta tersebut. Mari simak Alquran surah At-Tariq [86] ayat ke-11 tentang fungsi langit yang "mengembalikan".

"Demi langit yang mengandung hujan." (QS 86:11)

Menurut Harun Yahya, kata yang ditafsirkan sebagai "mengandung hujan" dalam terjemahan Alquran ini juga bermakna "mengirim kembali" atau "mengembalikan". Menurut tafsir, raj'i berarti kembali berputar. Hujan dinamakan raj'i dalam ayat ini, karena hujan berasal dari uap yang naik dari bumi ke udara, kemudian turun ke bumi, kemudian kembali ke atas, dan dari atas kembali ke bumi, begitulah seterusnya.

Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Alquran. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Alquran adalah firman Allah.




Pewarisan Nilai



Salah satu contoh dan teladan yang diperlihatkan para Nabi dan Rasul Allah untuk diikuti umatnya adalah kesungguhan mereka, dalam mewariskan nilai-nilai akidah Islamiah dan nilai-nilai perjuangan kepada anak dan keturunannya, yakni generasi mendatang.

Dalam hal ini, Nabi Ibrahim dan Ya`qub AS telah memberikan contoh dan teladannya. “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’.” (QS al-Baqarah [2]: 132-133).

Kata-kata Mâ Ta’budûna min ba’dî (apa yang akan kalian sembah setelah kematianku) bukan Mâ Ta’kulûna min Ba’dî (apa yang akan kalian makan sesudahku), menggambarkan betapa ibadah dan pengabdian yang tulus kepada Allah SWT merupakan sumber utama kesuksesan dan keselamatan hidup. Ibadah yang benar akan meluruskan motivasi sekaligus akan membangun etos kerja yang tinggi. Akan lahir pula kecintaan kepada ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu Allah SWT, sekaligus kecintaan kepada sesama umat manusia.

Dengan demikian, akan lahir generasi penerus yang memiliki karakter mulia, cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kepada Islam, ilmu, kerja keras, dan sesama umat manusia, yang lebih khusus lagi cinta kepada sesama orang-orang yang beriman.

Inilah yang sering disebut generasi 5.54, yaitu sebuah generasi yang digambarkan Allah dalam QS al-Maidah [5] ayat 54. Ayat dalam QS al-Baqarah [2]: 132-133, sekaligus juga menggambarkan betapa pentingnya keluarga sebagai sebuah institusi pendidikan, tempat menaburkan benih-benih kebaikan.

Dan, hal ini pulalah yang harus tetap dipertahankan oleh keluarga Muslim saat ini, jika menginginkan generasi mendatang lebih baik dan bermartabat. Apabila peran keluarga dalam pewarisan nilai ini melemah atau bahkan hilang, yang akan terjadi adalah kerusakan dan kehancuran. Harus kita sadari, keluarga adalah unit sosial terkecil yang merupakan basis dan landasan utama dalam membangun umat dan bangsa.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim [66]: 6). Wallahu A’lam.







Inilah Prinsip Kemudahan dalam Islam

Kemudahan merupakan salah satu prinsip penting dalam Islam. Ia merupakan anugerah Allah SWT, diberikan agar manusia tetap bersemangat dan tekun dalam menjalankan ajaran agama, terutama dalam situasi sulit. (QS al-Baqarah [2]: 185).

Dikisahkan, Amr bin Ash pada suatu malam yang teramat dingin dalam sebuah pertempuran yang panjang, mengalami “mimpi basah.” Khawatir membawa akibat buruk kepadanya, ia tidak mandi jenabah, tetapi bertayamum,  lalu shalat Subuh bersama teman-temannya yang lain.

Kasus ini dilaporkan kepada baginda Nabi SAW. Lalu, Nabi SAW bertanya, “Hai Amr, Apakah kamu shalat Subuh sedangkan kamu dalam keadaan junub?”

“Ya, tuan,” jawab Amr.  “Aku khawatir atas diriku,” tegas Amr lagi. Ia kemudian membaca ayat ini: “Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS Al-Nisa’ [4]: 29). Mendengar jawaban Amr, Rasulullah SAW tersenyum dan diam tak berkata lagi. (HR Bukhari).

Prinsip kemudahan (taysir) sangat jelas dalam Islam, seperti tampak dalam kisah Amr ini. Setiap kesulitan, pada dasarnya, menuntut kemudahan (al-Masyaqqah tajlib al-taysir). Kalau diperhatikan secara seksama, setiap ibadah dalam Islam disediakan kemudahan-kemudahan. Sekadar contoh, bersuci dalam kondisi normal harus dilakukan dengan air. Tapi, dalam kondisi sulit, seperti menimpa sahabat Amr tadi, bersuci dapat dilakukan dengan tayamum.

Shalat, seperti umum diketahui, harus dilakukan dengan berdiri. Akan tetapi, bagi yang tak mampu berdiri, ia boleh melakukannya dengan duduk, bahkan dengan berbaring saja. Begitu juga disediakan kemudahan dalam ibadah puasa, haji, dan seterusnya. Dalam terminologi fikih, kemudahan-kemudahan itu dinamakan “Rukhshah,” yaitu pengurangan beban sebagai wujud kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.

Meskipun mudah dan disediakan banyak kemudahan, namun kemudahan itu bukan sesuatu yang gratis (free of charge). Kemudahan-kemudahan itu menuntut persyaratan dan kondisi-kondisinya sendiri. Misalnya, adanya kesulitan (masyaqqah) seperti telah dikemukakan. Persyaratan lain ialah bahwa kemudahan (alternatif) yang disediakan bukanlah dosa atau perkara yang dilarang oleh Allah SWT.

Dalam hadis shahih disebutkan bahwa setiap kali Nabi dihadapkan pada dua pilihan, beliau selalu memilih yang paling mudah dari keduanya (aysaruhuma). Akan tetapi, kalau pilihan kemudahan itu merupakan dosa maka beliau adalah orang yang mula-mula lari dan menjauhkan diri darinya. (HR. Bukhari dari Aisyah).

Berbagai kemudahan agama itu diberikan oleh Allah SWT untuk tujuan dan maksud yang mulia. Pertama, memastikan agar manusia dapat menjalankan agama tanpa susah payah dalam dimensi ruang dan waktu. Kedua, mendorong dan memotivasi manusia agar rajin dan semangat menjalankan agama, lantaran bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa kesulitan.

Karena agama itu mudah maka tidak boleh ada opini yang menggambarkan bahwa agama (beragama) itu seolah-olah menyusahkan. Inilah pandangan yang ditolak Allah. “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj [22]: 78). Wallahu a`lam!






Pemimpin Bijaksana


Perang yang melelahkan itu sudah usai. Pasukan kecil mampu mengalahkan pasukan besar. Pasukan kafir dari Makkah yang dipimpin Abu Jahal kembali dengan kepala tertunduk dan penuh rasa malu, sementara kaum Muslimin kembali ke Madinah dengan penuh rasa syukur. Madinah menyambut mereka dengan gembira, kecuali Yahudi dan kaum musyrikin, termasuk orang-orang munafik, mereka sangat terpukul. Tadinya mereka berharap, Muhammad tewas dan pasukan Islam dihancurkan.

Kaum Muslimin pulang di samping membawa rampasan perang juga membawa lebih kurang 50 orang tawanan. Nabi Muhammad SAW belum memutuskan tawanan itu akan dibagaimanakan. Dalam keadaan seperti itu, Abu Bakar RA datang memberikan saran agar Nabi bermurah hati membebaskan tawanan dengan tebusan. Namun, Nabi diam dan tidak menjawab saran Abu Bakar.

Lalu, Umar datang menemui Nabi dan memberikan pendapatnya pula. Umar RA dengan tegas menyarankan agar semua tawanan dihukum mati karena mereka adalah musuh-musuh Allah. Mereka telah memerangi Nabi dan kaum Muslimin. Akan tetapi, Nabi pun tidak menjawab usulan Umar. Beliau masuk ke dalam kamarnya.

Kaum Muslimin terbelah dua. Sebagian mendukung pendapat Abu Bakar dan yang lain mendukung usulan Umar. Jika Nabi salah mengelola perbedaan pendapat yang tajam dari dua orang terdekat ini, tentu akan terjadi perpecahan.

Nabi kemudian keluar menemui kaum Muslimin untuk menyampaikan keputusannya. Mula-mula Nabi memuji Abu Bakar. “Ibarat malaikat, Abu Bakar itu seperti Mikail yang diturunkan Allah membawa sifat pemaaf kepada hamba-Nya. Kalau Nabi, Abu Bakar seperti Ibrahim yang berkata, ‘Barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” Kaum Muslimin yang mendukung pendapat Abu Bakar senang.

Kemudian, Nabi memuji Umar. “Ibarat malaikat, Umar itu seperti Jibril diturunkan membawa kemurkaan dari Tuhan dan bencana terhadap musuh-musuh. Kalau Nabi, Umar itu seperti Nuh yang mengatakan, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.’” Para pendukung pendapat Umar juga senang.

Abu Bakar dan Umar senang Nabi tidak menyalahkan pendapat mereka. Sahabat-sahabat lain juga senang, baik yang pro-Abu Bakar maupun Umar. Tetapi, tugas pemimpin tidak hanya membuat pengikutnya senang tanpa ada keputusan. Bagaimanapun Nabi harus memilih salah satu dari dua pendapat itu. Maka, Nabi memilih pendapat Abu Bakar walaupun kemudian pilihan itu ditegur oleh Allah SWT. “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Tatkala pendapatnya tidak dipilih Nabi, Umar rida. Dan tatkala pendapat Umar dibenarkan Allah, Umar tidak menepuk dada, apalagi sampai menyalahkan Nabi. Pemimpin yang bijaksana juga akan melahirkan umat yang bijaksana.







Inilah Para Tokoh Perintis Penerjemahan Alquran


* Salman Al-Farisi Sahabat Rasulullah SAW ini merupakan orang yang pertama kali menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa lain. Dalam sejarah disebutkan ia menerjemahkan surat Al-Fatihah secara lisan ke dalam bahasa Persia atas permintaan orang-orang Muslim Persia. Namun terjemahan Al-Farisi ini belum mencakup keseluruhan surah dalam Alquran, hanya surah  Al-Fatihah.
 
* Petrus Agung (1092-1156)
Kepala biara Gereja Cluny, Prancis ini adalah tokoh Barat yang pertama kali menggagas upaya penerjemahan Alquran. Dengan bantuan seorang theolog abad pertengahan berkebangsaan Inggris, Robertus Ketenensis (1110-1160), dan muridnya Hermannus Dalmatin (1110-1160), ia menerjemahkan teks Alquran ke dalam bahasa Latin yang diberi judul 'Lex Mahumet pseudoprophete' pada tahun 1143 M.

* Louis (Ludovico) Maracci (1612-1700)
Terjemahan Alquran berbahasa Latin yang paling masyhur dan banyak menjadi rujukan adalah milik Louis (Ludovico) Maracci, seorang pastur berkebangsaan Italia. Terjemahan Alquran karya Maracci ini menyertakan teks Arab dan ulasan panjang yang berisi penolakan terhadap Islam.

* Andre du Ryer (1580-1660)
Orientalis berkebangsaan Prancis ini merupakan tokoh yang pertama kali membuat terjemahan Alquran berbahasa Prancis. Ia menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Prancis langsung dari teks aslinya bahasa Arab. Pengalamannya tinggal lama di Istanbul dan Mesir membuatnya menguasai bahasa Arab dengan baik. Karyanya ini diberi nama L'Alcoran de Mahomet.

* Salomon Schweigger (1551-1622)
Pendeta Gereja Noremberg ini adalah orang yang pertama kali melakukan penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Jerman. Ia menerjemahkan Alquran tersebut dari sebuah terjemahan Alquran berbahasa Italia. Terjemahan karya Schweigger ini diberi nama Alcoranus Mahometicus.

* Andrea Arrivabene (1534-1570)
Versi terjemahan Alquran dalam bahasa Italia pertama kali dibuat oleh Andrea Arrivabene. Karya terjemahan yang diberi nama L'Alcorano di Macometto ini merupakan hasil menerjemahkan karya terjemahan Petrus Agung.

* Hendrik Jan Glasemaker
Ia merupakan orang pertama yang diketahui membuat terjemahan Alquran dalam bahasa Belanda. Ia menerjemahkan Alquran bersumberkan pada sebuah terjemahan Alquran versi bahasa Prancis. Terjemahan karya Glasemaker ini diberi judul Mahomets Alkoran.

* Alexander Ross (1590-1654)
Ia adalah orang yang pertama kali menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Inggris. Alquran terjemahan Ross ini dibuat pada tahun 1649 dengan mengadopsinya dari terjemahan Alquran berbahasa Prancis, L'Alcoran de Mahomet.





Meredam Berita Buruk


Allah SWT telah memberikan rambu-rambu yang tegas menyangkut dasar-dasar moral dan etika dalam membangun masyarakat yang beradab dan berbudaya. Hal ini ditegaskan dalam QS an-Nur [24]: 19, yang memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak menyebarkan berita-berita buruk. Melalui ayat tersebut, Allah memerintahkan umat Islam untuk tidak mudah terpengaruh dengan informasi yang tidak sehat, prasangka, ghibah, dan segala bentuk kekejian lainnya.

Sejalan dengan itu, dalam ayat 12 surah al-Hujurat [49] Allah menetapkan larangan  bagi orang-orang yang beriman untuk berprasangka negatif terhadap orang lain. Karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Selain itu, orang yang beriman juga dilarang mencari-cari keburukan orang lain dan menggunjingkannya. Alquran menganalogikan orang yang suka bergunjing itu seperti seseorang yang memakan daging saudaranya yang telah meninggal.

Begitulah cara Islam menjaga kehormatan sesama manusia dengan larangan memberi malu orang lain dan menyiarkan aib seseorang. Meskipun mungkin dari sudut pandang ekonomi berita-berita gosip mendatangkan keuntungan bagi media, tetapi dari segi moral dan psikologi masyarakat jelas hal itu merugikan.

Sudah menjadi sunatullah dalam masyarakat bahwa suatu kejahatan dan keburukan yang diekspose akan tumbuh makin subur. Di sinilah kita meyakini hikmah larangan Allah untuk tidak menyiarkan aib dan keburukan sesama manusia.

Berita pornografi, sadisme, perkosaan, dan berbagai tindak kejahatan lainnya yang tumbuh di masyarakat adalah untuk ditindak dan dibasmi, bukan sebaliknya menjadi tuntunan bagi masyarakat untuk turut meniru dan melakukannya. Berita itu harusnya menjadi filter bagi setiap pribadi Muslim untuk mengambil hikmah, agar senantiasa berbuat yang terbaik.

Berita-berita buruk seperti perselingkuhan, kejahatan seksual, pembunuhan, dan perampokan, jelas meninggalkan bekas mendalam pada masyarakat. Sadar atau tidak, tersiarnya berita buruk, apalagi disajikan berulang-ulang, dapat membangkitkan pikiran bawah sadar orang yang rusak akhlaknya untuk melakukan perbuatan yang sama.

Larangan dalam agama tidak hanya terhadap perbuatan menyiarkan berita buruk, tapi juga orang yang suka dirinya diekspose sebagai bahan berita buruk diperingatkan risikonya.

“Seluruh umatku dapat diampuni dosanya, kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Dan, termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan itu adalah seseorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari sampai paginya Allah menutupi (rahasianya), tapi kemudian ia sendiri yang membuka (rahasianya) dan berkata, “Tadi malam saya melakukan perbuatan ini dan itu.” Dia sengaja membukakan sesuatu yang oleh Allah telah ditutupi.” (HR Bukhari dan Muslim).
 
Tugas seorang Muslim bukanlah mencari kelemahan dan keburukan orang lain. Tetapi, mengajak orang lain agar berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran. Meredam berita buruk tentu bukan untuk melindungi keburukan dan pelakunya, melainkan untuk melindungi masyarakat dari pengaruh keburukan yang merusak.  Wallahu a’lam.






Inilah Virus Perusak Amal


Sungguh beruntung dan mulia seseorang yang diberikan kelebihan harta, lalu mengeluarkan sebagian hartanya tersebut di jalan Allah (fi sabilillah) dengan penuh ketaatan. Dan, sungguh akan rugi dan hina orang yang memiliki kelebihan harta ketika hartanya tersebut hanya digunakan untuk bermegah-megah sehingga ia menjadi lalai dari ketaatan kepada Allah SWT.

Banyak di antara kita yang sadar terhadap pentingnya berinfak dan bersedekah, tetapi terkadang tidak sadar kalau kualitas ibadah infak tersebut menjadi rusak akibat perbuatan kita sendiri. Dalam Alquran banyak ayat yang menjelaskan tentang virus-virus yang merusak amal ibdah, termasuk infak atau sedekah seseorang.

Pertama, karena mengungkit-ungkit sedekah yang telah diberikan (manna) serta  merendahkan dan menyakiti hati orang yang menerima pemberian tersebut (adza). Perbuatan seperti ini adalah virus yang mengakibatkan ibadah infak menjadi sia-sia, yakni tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang diinfakkannya.

Amal yang demikian diibaratkan Alquran seperti debu di atas batu besar yang licin, kemudian ditimpa hujan lebat sehingga debu-debu itu menjadi sirna dan tinggallah batu itu menjadi bersih. (QS al-Baqarah [2]:264).

Kedua, berinfak karena riya, yaitu pamer dan ingin dipuji oleh orang lain. Termasuk gejala virus ini adalah seseorang yang berinfak atau bersedekah dengan tujuan mendapatkan suara untuk kepentingan politiknya, bukan karena mencari keridaan Allah SWT. Perumpamaan infak seperti ini sama dengan perumpamaan di atas. Pahala dan ganjarannya luput.

Ketiga, menginfakkan atau memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, tapi harta atau barang yang diberikan yang paling jelek. Sedangkan, harta yang bagus justru disimpan untuk keperluan sendiri. Islam memerintahkan kepada umatnya supaya berinfak dengan harta yang paling bagus dan melarang memberikan sesuatu sebagai sedekah dengan harta yang paling buruk dan jelek.

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya dan Maha Terpuji.” (QS al-Baqarah [2]:267).

Berkaitan dengan sebab-sebab turunnya ayat tersebut, Sahal bin Hanif mengatakan, “Orang-orang terbiasa memisahkan hasil perkebunannya yang tidak berkualitas, lalu mereka mengeluarkannya sebagai ibadah sedekah. Karena itulah, Allah menurunkan ayat di atas.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan Hakim).

Dari penjelasan di atas, mudah-mudahan kita semua terhindar dari jenis-jenis virus tersebut. Dengan demikian, infak dan sedekah yang dikerjakan selama di dunia ini diterima di sisi Allah SWT serta mendatangkan banyak manfaat dan keutamaan bagi diri kita dan orang lain. Wallahu al-musta’an. 






Mencintai Diri Sendiri


Janganlah kita menyiksa diri sendiri. Sesungguhnya mencintai diri sendiri merupakan bagian dari amanah dari Allah SWT, sang pencipta semua mahluk. Mencintai diri dengan cara menerima segala kekurangan yang ada pada diri sendiri dan mensyukuri kelebihan yang diberikan Sang Pencipta. Jika bukan diri kita sendiri yang memulai untuk mencintai, lalu siapa lagi yang mencintai diri kita.

Marilah kita memberi cinta sepenuh hati hingga jiwa semakin istiqomah untuk terus memperbaiki dan memperbaiki menuju kesempurnaan dan kesucian jiwa. Tatalah diri sendiri, arahkan diri sendiri, rawat diri sendiri, hingga iman Islam menancap kokoh dalam jiwa. Hingga jiwa tersibghoh dengan sempurna dengan celupan Illahi. Mencintai diri sendiri dengan menjaga dan senantiasa memperbaharui keimanan kita.

Hargailah setiap kebaikan yang telah berhasil dicapai, sekecil apapun itu. Sesungguhnya seorang Muslim yang terbaik bukanlah yang tidak pernah berbuat kesalahan, melainkan mereka yang setiap kali melakukan kesalahan sadar dan mengakuinya, menerimanya dan kemudian berusaha bangkit untuk memperbaikinya, lagi dan lagi. Tidak perlu sakit hati, tidak perlu ada kecewa. Karena sesungguhnya segala sesuatu bagi seorang Muslim adalah baik selama dia bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar saat diberikan ujian.

Mencintai diri sendiri berbeda dengan menganggumi diri sendiri (ujub).  Mengutip pernyataan Imam Musa al-Kazim (as), terdapat beberapa tingkatan ujub. Salah satunya ketika perbuatan buruk dianggap baik oleh dirinya sendiri; ia menilai perbuatan-perbuatan tersebut sebagai perbuatan baik dan mencintai dirinya sendiri, dengan membayangkan dirinya sendiri sedang melakukan perbuatan mulia.

Tingkatan ujub lainnya adalah ketika seseorang percaya bahwa dengan yakin kepada Tuhan berati ia telah berbuat baik kepada Tuhan; padahal sesungguhnya Tuhan Yang Maha Kuasa-lah yang menganugerahinya kebaikan (dengan memberkatinya). Larangan menganggumi diri sendiri sudah sangat jelas.

Katakan (Muhammad): “Apakah akan Kami beritahu padamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”.(QS [18]: 103-104) dan Imam Ali (as) berkata: “Ia yang hatinya ditumbuhi rasa ujub, akan dihancurkan. [Al-Saduq, al-‘Amali, hal. 447].

Sangat jelas sebenarnya perbedaan antara mencintai diri sendiri dengan mengagumi diri sendiri. Mencintai diri sendiri itu berasal dari lubuk hati, dari jiwa yang paling dalam dengan tulus tanpa pamrih. Mencintai diri sendiri dengan maksud terus mensupport agar keberadaan kita di muka bumi untuk terus beribadah kepada Allah dan dapat bermanfaat bagi semua mahluk hidup. Sebagaimana Allah berfirman; “Tidak Ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” [QS Adz Dzariat: 56]

Ada beberapa yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk mencintai diri sendiri menuju kesempurnaan dan kesucian diri. Di antaranya; pertama pernyataan positif untuk diri sendiri untuk meningkatkan rasa percaya diri. Kedua berhentilah memberi “label” negatif pada diri kita. Jangan biarkan nilai atau persepsi negatif menguasai kehidupan kita, baik itu berkaitan dengan diri anda sendiri, hal yang telah ataupun yang belum Anda lakukan.

Dan ketiga memberi waktu untuk diri sendiri untuk rehat sebentar untuk menyenangkan diri sendiri. Anda dapat berjalan-jalan di taman, membaca buku bagus, atau menikmati makanan kesukaan kita. Hal tersebut dapat membantu meningkatkan hubungan dengan diri sendiri, dan menciptakan perasaan lebih baik untuk memulai hari yang baru.







Mukmin vs Munafik

Di dalam Alquran surah at-Taubah [9] ayat 71 dan 72 Allah SWT menjelaskan karakter dan perilaku orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, serta balasannya dalam kehidupan di dunia ini maupun di akhirat nanti.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) men jadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang mak ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS [9]: 71).

Sedangkan pada ayat sebelumnya, yaitu surah at- Taubah [9] ayat 67 dan 68, Allah SWT menerangkan sifat dan kelakuan orang-orang munafik (laki-laki maupun perempuan) yang bertentang an secara diametral dengan kelakuan orang-orang yang beriman, serta balasan yang akan mereka terima di dunia ini maupun di akhirat nanti. “Allah mengancam orangorang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS [9]: 68).

Pertama, orang-orang yang beriman selalu berusaha bersinergi ( al-Wala’), berkolaborasi dan saling menolong antara sesama orang-orang yang beriman, atas dasar keimanan, kebajikan, dan ketakwaan. Sedangkan orang-orang yang munafik bersinergi antara sesamanya, hanya untuk kepentingan yang sifatnya sesaat. Landasan sinerginya tidak ada, kecuali hanya keuntungan yang sifatnya material semata.

Kedua, orang-orang yang beriman selalu berusaha dalam hidupnya apa pun posisi dan jabatannya, untuk melakukan kegiatan amar makruf nahi mungkar. Menyuruh, mendorong, dan memelopori pada setiap kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan umat dan bangsa serta berusaha mencegah dari berbagai kejahatan yang menghancurkan, seperti khianat, berdusta, dan perilaku korup. Sebaliknya, orang-orang munafik selalu menyuruh orang lain pada kemungkaran dan kejahatan yang merusak tatanan kehidupan, serta melarang dari perbuatan-perbuatan baik dan konstruktif.

Ketiga, orang-orang yang beriman selalu berusaha menegakkan shalat dengan sebaik- baiknya dan berusaha pula menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Kepemurahan adalah watak dan karakter orang-orang yang beriman, sedangkan orang-orang munafik adalah orang-orang yang bakhil dan kikir, tidak mau berkorban maupun membantu orang yang membutuhkan.

Tentu saja balasan bagi orang-orang yang beriman yang memiliki watak dan karakter yang sangat indah tersebut adalah akan mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah SWT dalam kehidupannya di dunia ini. Dan, di akhirat kelak akan mendapat balasan surga serta keridaan dari Allah SWT. Sebaliknya, orang-orang munafik, karena perilaku buruknya tersebut, di dunia akan mendapatkan kegelisahan hidup karena jauh dari rahmat Allah SWT. Dan, di akhirat kelak akan mendapatkan azab neraka dan laknat Allah.

Mudah-mudahan kita se mua, orang-orang yang ber iman, akan berperilaku sebagaimana mestinya orang yang beriman dan bukan berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang munafik yang merusak dan menghancurkan. Wallahu a’lam bi ash-shawab. 






Ampunan dan Afiat


Diriwayatkan dari Abbas bin Abdul Muthalib RA, ia berkata, “Aku memohon kepada Rasulullah SAW. “Ajarilah kepadaku sesuatu yang digunakan untuk berdoa kepada Allah.” Maka, beliau menjawab, “Wahai Abbas, paman Rasulullah SAW, mintalah kepada Allah afiah (keafiatan) di dunia dan akhirat.” (HR Tirmidzi).

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Ibnu Umar RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Tiadalah suatu yang diminta seorang hamba dari Allah yang lebih dicintai daripada meminta afiah.” (HR Tirmidzi).

Dalam kitab Al-Hishnul Hashiin, al-Jazari berkata, doa Rasulullah SAW untuk meminta afiat merupakan hadis mutawatir, baik lafaz maupun maknanya, yang datang kepada kita melalui 50 jalan. “Mohonlah ampunan dan afiat kepada Allah karena seseorang tidaklah diberi sesuatu yang lebih baik setelah keimanan dari afiat.”

Afiat adalah dukungan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya untuk bisa menunaikan perintah-Nya, menerima qadha dan qadar-Nya dengan rida dan berserah diri. Dukungan Ilahi ini bisa berupa kesehatan jasmani dan rohani, rezeki halal, taufik, dan hidayah Allah. Orang yang meminta afiat berarti meminta dukungan atas apa yang niat dikerjakannya.

Doa ini merupakan bekal untuk menolak bahaya dan menarik semua kebajikan. Ibnu al-Jauzi mengatakan, orang yang berbahagia adalah orang yang merendah di hadapan Allah dan selalu memohon afiat. Karena, afiat tidak akan diberikan tanpa ujian.

Seorang yang berakal akan selalu meminta afiat untuk mengalahkan semua ujian dalam semua situasi dan kondisi. Dan, kita memerlukan kesabaran untuk menghadapi ujian sekecil apa pun. Seseorang tidak akan mencapai rida Allah tanpa ujian.

Sabar hakiki akan terwujud saat kita menerima semua takdir Ilahi. Dan, ketentuan Ilahi jarang yang datang seirama dengan keinginan nafsu kita. Orang cerdas adalah yang mampu menguasai nafsunya melalui kesabaran yang dijanjikan berpahala besar.

Al-Manawi mengatakan, maksud hadis “Mohonlah ampunan dan afiat” adalah larangan untuk meminta bala dan ujian. Ampunan adalah penghapusan dosa, sedangkan afiat adalah keselamatan dari sakit dan bala.

Afiat itu mencakup di dunia dan akhirat. Karena kesalehan seorang hamba tidak akan sempurna kecuali dengan ampunan dan keimanan yang meyakinkan. Keimanan ini yang mampu menolak siksa akhirat. Sedangkan, afiat menolak penyakit dunia yang ada dalam hati ataupun di badan.

Oleh karena keafiatan di dunia merupakan nikmat Allah yang besar, orang yang mendapatkannya wajib menjaganya dan melindunginya dari hal-hal yang merusak. Dalam hal perintah doa afiat kepada Abbas yang dianggap sebagai orang tuanya, terdapat dorongan kepada kita agar membiasakan diri untuk memohon afiat kepada Allah.

Al-Mubarokfuri berkata, “Perintah Rasul SAW kepada Abbas untuk memohon keafiatan merupakan dalil tegas bahwa memohon keafiatan adalah doa yang tiada tandingannya bila dibandingkan doa-doa lain.






Menjadi Umat Terbaik, Inilah Caranya


Manusia adalah wujud dari kemahasempurnaan Allah SWT yang menciptakan (al-Khaliq), yang mengadakan (al-Bari'), dan yang membentuk rupa (al-Mushawwir). Di samping kesempurnaan jasmani dan rohani, kapasitas intelektual adalah alasan penting mengapa manusia dipilih untuk menerima amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Kesempurnaan manusia adalah pada kemampuannya berpikir, menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan fakultas-fakultas yang dimilikinya, yaitu as-samu (pendengaran), al-bashar (penglihatan), dan al-fuad (hati).

Menuntut ilmu adalah tugas pertama dan utama seorang anak manusia. Allah SWT telah mengajarkan nama-nama benda kepada Adam AS pada awal penciptaan sebagai landasan bagi penguasaan ilmu pengetahuan. (QS al-Baqarah [2]:31).

Perintah membaca (iqra) dan menulis dengan pena (al-qalam) juga merupakan perintah pertama dari risalah kenabian. Wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah perintah membaca dan menulis. (QS al-Alaq [96]:1-5).

Belajar, mencari, menguasai, dan mengembangkan ilmu pengetahuan adalah tugas yang pertama dan utama dari umat Muhammad SAW. Dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimilikinya, manusia dapat memakmurkan bumi dan mencegahnya dari kerusakan.

Di samping sebagai hamba dan wakil Allah SWT di muka bumi, umat Islam adalah umat terbaik (khaira ummah) karena mereka senantiasa memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah SWT. (QS Ali Imran [3]:110).

Untuk dapat memelihara eksistensi dan kehormatannya sebagai umat yang terbaik, khaira ummah, the best nation of peoples for the people, umat Islam perlu terus-menerus belajar, beriman, dan beramal menyampaikan pesan-pesan Islam dengan contoh dan perbuatan serta tetap bersabar di dalam melaksanakannya. Pengetahuan yang mencerdaskan sekaligus mencerahkan tersebut diperoleh dengan menjelajahi dan mendalami ayat-ayat Allah SWT (the Spoken Verses) dan tanda-tanda di dalam ciptaan-Nya (the Creation Verses).

Kemampuannya untuk menggunakan hati (zikir) dan nalar (pikir) di dalam menjelajahi tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah ciri utama dari seorang Muslim cendekia (ulul albab, men of understanding). Itu sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, pengikut, dan pewaris terbaiknya. (QS Ali Imran [3]: 190-191).

Mengenai turunnya ayat ini, Abdullah Ibnu Umar RA menceritakan, dari Ummul Mu'minin Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW berdiri di dalam shalat malamnya dan menangis hingga janggutnya menjadi basah. Beliau menangis hingga air matanya membasahi lantai. Beliau kemudian berbaring dan bertumpu pada bagian sisinya seraya menangis.

Ketika Bilal datang untuk mengingatkan waktu shalat Subuh, dia berkata, "Ya Rasulullah, apa gerangan yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang.” Beliau SAW berkata, "Ya Bilal, apa yang dapat menghalangi tangisku, ketika malam ini, ayat ini (QS Ali Imran [3]:190), diturunkan kepadaku. Celaka orang yang membaca ayat ini, tetapi tidak merenungkannya." Wallahu a'lam.






Berburu Kursi, Berebut Jabatan



Abu Dzar al-Ghifari sahabat Nabi SAW yang zuhud dan wara. Sebagai sosok yang saleh dan sangat bersahaja. Dia bahkan tokoh ternama ahl al-shufah, yang selalu berkumpul di beranda rumah Nabi bersama mereka yang ahli ibadah, tetapi cenderung menjauhi dunia. Ketika figur yang baik ini meminta jabatan, seraya Nabi mencegahnya. Bahwa urusan publik harus ditunaikan oleh ahlinya sekaligus mampu mempertanggungjawabkannya.

Umar bin Khattab ketika hendak menerima amanat kekhalifahan menggantikan Abu Bakar merasa berat, karena betapa ia merasa tak mampu melampaui kebaikan Khalifah pertama itu. Padahal, sejarah mencatat betapa Umar yang lebih suka disebut Amir al-Mu'minin itu terbilang pemimpin yang kuat, sukses, dan paling menjunjung tinggi amanat dalam mengurus rakyat. Dialah sosok al-Faruq.

Khalid bin Walid setelah masuk Islam menjadi panglima perang tertangguh hingga dijuluki Nabi sebagai syaifullah (pedang Allah). Perluasan Islam hingga ke Mesir, Irak, dan Syam di masa Khalifah Umar bin Khattab tidak lepas dari keperkasaan Khalid. Tetapi, dalam peristiwa penaklukan Syam, Khalid tiba-tiba dicopot Umar dari jabatannya sebagai panglima perang. Bagaimana sikap Khalid? Dia ikhlas menerimanya seraya berkata, aku berperang bukan karena Umar, melainkan karena Allah.

Bagi Nabi dan para sahabatnya yang utama jabatan bukan posisi yang ditempati, apalagi harus dikejar dengan hasrat ambisi. Jabatan itu mutlak amanah yang wajib ditunaikan dengan komitmen dan pertanggungjawaban yang tinggi. Kesatriaan (al-futuwwah) siapa pun yang bersedia memegang jabatan umat atau rakyat terletak pada penunaian amanah dan pertanggungjawabannya dengan penuh kehormatan diri.

Komitmen jabatan
Di negeri ini, para elite dan anak-anak negeri banyak berburu jabatan-jabatan publik dengan penuh percaya diri. Demokrasi telah mengajarkan secara fasih bagaimana para elite berebut posisi politik tanpa rasa sungkan, tidak jarang dengan sikap narsis, dan gampang beriklan diri. Demi posisi tinggi, politik uang dan upeti pun menjadi tradisi, yang tidak jarang diperoleh dengan korupsi. Semuanya seolah serbamudah dan sekadar jalan mobilitas diri seakan tanpa konsekuensi.

Semoga niat utama meraih posisi-posisi publik yang penting dan strategis itu benar-benar bermotif mengabdi pada negeri dan mengurus hajat hidup rakyat. Sebagai jalan mewujudkan cita-cita nasional yang diletakkan oleh para pendiri bangsa ini. Lebih bermakna lagi manakala menjadi jalan menuju rida Tuhan. Sebab, setiap posisi publik selain dibayar dengan uang rakyat, seluruhnya memang untuk mengurus hajat hidup orang banyak sehingga negeri ini semakin maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat.

Alangkah naif manakala jabatan-jabatan publik itu hanya dijadikan lahan mobilitas diri untuk meraih kuasa, harta, dan kejayaan duniawi. Sejumlah kasus tragis menunjukkan mereka yang sudah di posisi-posisi publik itu kalau tidak korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan, kemudian pindah posisi, bahkan lompat jabatan baru ke yang lebih tinggi sebelum jabatan lama usai. Jabatan-jabatan penting itu malah dijadikan "bancakan" untuk bagi-bagi uang dan posisi, sekaligus memperkaya diri dan kroni. Mereka lupa posisi yang ditempati bukanlah miliknya sendiri, melainkan sekadar titipan rakyat untuk ditunaikan sebagai amanah terpuji.

Tahun 2014, pasti akan menjadi masa paling krusial di negeri ini. Para menteri dan politisi sudah bersiap diri 'nampang' posisi hingga iklan diri dengan uang dari kementeriannya. Janji dan pesona diri tentu akan semakin bertaburan. Para wakil rakyat pun malah giat bangun toilet dan ruang sidang miliaran rupiah seolah uang negara adalah miliknya sendiri. Rupanya jabatan bukan lagi amanat yang harus dipertanggungjawabkan secara jujur dan penuh komitmen, kecuali menjadi sarana bermegah-megah di tengah derita rakyat yang diwakili dalam hidup miskin dan teraniaya sistem.

Kita tidak tahu persis apa yang bersarang dalam benak pikiran para elite dan anak negeri yang menempati jabatan-jabatan publik di negeri ini. Bagaimana mereka menjiwai, memahami, memaknai, dan melaksanakan fungsi jabatan yang diembannya dengan pertanggungjawaban total. Apa yang mereka cari? Jangan-jangan Max Weber benar ketika mengatakan, profesi politik itu mata pencaharian. Orang banyak mengejar dan memperebutkannya sekadar untuk kenyang diri dan kroni. Lalu, nilai dan idealisme sekadar ornamen indah tanpa makna, karena yang dikejar ialah posisi, materi, dan mobilitas diri yang tak bertepi.

Lemah karakter
Rakyat sesungguhnya gundah dengan perangai para elitenya yang banyak polah. Sebelum menduduki posisi mereka mungkin banyak sosok idealis. Bahwa politik dan jabatan publik itu jalan berkhidmat untuk kemajuan bangsa dan negara, bukan mengejar harta dan takhta. Uang dan jabatan pun diperoleh dengan cara halal, bukan dengan muslihat dan upeti. Jabatan pun ketika sudah di tangan dimanfaatkan untuk pengkhidmatan, sekaligus dapat dipertanggungjawabkan sebagai amanah di hadapan Tuhan. Tunaikan amanah karena tak ada iman bagi yang tak menunaikan amanah, sabda Nabi.

Bagi mereka yang idealis jabatan bukan diburu, apalagi dipertukarkan dengan uang dan jabatan lain yang menggiurkan. Jabatan pantang diselewengkan dan dijadikan lahan korupsi dan penyimpangan. Sekali jabatan diterima maka saat itu jabatan berubah menjadi amanah dan janji yang wajib ditunaikan dengan kesungguhan. Taruhannya kehormatan diri, bahkan jiwa. Jabatan bukanlah kejayaan dan kemegahan diri. Jabatan bukan dijadikan jalan tol memenuhi hasrat-hasrat loba dan tamak.

Ketika banyak pejabat publik menyelewengkan jabatan dan menjadikannya lumbung uang serta kemegahan tanpa rasa sungkan, sesungguhnya akar masalahnya bukan pada sistem belaka, tetapi pada penyakit mental mereka. Penyakit lemahnya karakter diri selaku manusia-manusia yang tangguh dengan prinsip dan makna hidup, sekaligus tahan cobaan dan godaan duniawi. Mereka kehilangan karakter amanah, kejujujuran, kesetiaan, kesahajaan, kebaikan, kesatriaan, dan kepatutan. Mereka bahkan kehilangan rasa malu dan kehormatan diri.

Penyakit lemah karakter yang menumbuhkan jiwa korup, penyimpangan, kemegahan, dan lupa diri boleh jadi tumbuh dalam virus keterbelakangan mentalitas laksana orang yang tiba-tiba "munggah bale" (naik takhta) kemudian mengalami kejutan budaya. Penyakit "munggah bale" tidak mengenal latar belakang suku, ras, dan golongan. Tidak pula mereka yang sekuler atau agamis. Bagi mereka yang agamis bahkan penyakit jenis ini diperkuat dengan spirit dan dalih keagamaan sehingga terkesan sakral dan sarat pesona moral.

Penyakit  "munggah bale" telanjur meluas dan diproduksi lewat berbagai media yang populer, mengundang hasrat anak-anak bangsa lainnya untuk mengikuti jejak berebut takhta tanpa pertanggungjawaban moral yang tinggi. Banyak anak negeri bahkan belajar menjadi broker guna menapaki tangga politik, yang mengorbankan idealisme kebeliaan. Seolah jabatan dan mobilitas hidup itu sekadar nilai guna, yang harus diraih dengan cara apa saja untuk kesenangan dan kejayaan diri minus nilai dan makna utama.

Mentalitas "munggah bale" dipersubur oleh hasrat berlebih melahirkan akumulasi ketamakan kuasa. Orang biasa dan terpandang, elite sekuler dan agamis, setelah berkuasa sama-sama lapar takhta dan harta. Pada setiap kemegahan dan ketamakan selalu ada dalih pembenar yang meyakinkan publik. Kata pepatah Arab, singa-singa lapar tak mendekat ke telaga bila anjing-anjing telah menjilatnya. Tapi, bagi para singa berdasi, apa saja boleh tanpa rasa sungkan. Alhakumu at-takatsur, hatta jurtumu al-makabir. (QS At-Takatsur: 1-2)






Panggung Manusia Bermuka Dua


Pemerintahan dibuat dengan misi tertentu. Antara lain, untuk mempercepat tercapainya kehidupan rakyat yang lebih sejahtera. Pemerintahan merupakan representasi dari kepentingan rakyatnya. Karena itu, perangkat-perangkat yang dibuat dan aparatur-aparatur yang dipilih, harus ditujukan untuk mendukung rakyat agar lebih mudah memenuhi kebutuhan mereka. Dalam hal-hal tertentu, menjadi lucu kalau pemerintah selalu merasa lebih tahu kebutuhan rakyat dibanding rakyat itu sendiri.

Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) adalah contoh nyata bagaimana mereka mengaku lebih paham dari rakyat mengenai kebutuhan rakyat. Rakyat kita, sudah bukan anak kecil lagi apalagi bayi, sehingga setiap keinginan dan kebutuhannya harus di-top-down oleh penguasa. Pemerintah justru lebih mementingkan upaya menyelamatkan nasib APBN daripada menyelematkan nasib rakyatnya. Sebuah logika yang terbalik-balik.

Seakan-akan hanya pemerintah yang dapat memahami hitung-hitungan mengenai kebutuhan akan energi sehingga mereka tak pernah bisa menerima rasionalitas dalam bentuk apa pun yang ditawarkan oleh rakyat. Mereka berkeras hati dengan pilihannya bahwa hanya dengan menaikkan harga BBM bersubsidi maka jalan penyelamatan ekonomi bisa dilakukan dengan soft. Tapi, begitulah logika pemerintah. Tabiatnya merasa paling benar. Kalau itu yang mereka inginkan —paling benar sendiri, seharusnya mereka juga mem buka peluang bagi lahirnya kebenaran- kebenaran lain dengan ra sionalitasnya yang berbeda-beda pula. Bukankah di begitu banyak persoalan pada begitu beragam situasi yang menyertainya, kerap muncul kemungkinan lahirnya multiple-reality?Kenapa? Kare na alam memang menyediakan sudut pandang yang berbedabeda. Bukankah jika hasil foto yang kita dapat tidak memuaskan, amatlah tidak mungkin kita memindahkan pohon?

Tapi, begitulah tabiat pemerintahan yang dikendalikan oleh sekelompok kecil penguasa. Karena, tata kelola politik kita dalam menjalankan roda kenegaraan menggunakan sistem representasi maka para penguasa memanfaatkan betul celah ini. Penguasa —dengan kontrak po litik yang dibuat— memanfaatkan kelebihan kekuasaannya dengan memaksa kekuatan frak si-fraksi, kepanjangan t ngan partai politik di lembaga legislatif, untuk menerima rencana mereka menaikkan harga BBM bersubsidi.

Sayangnya, ingatan rakyat kita sering begitu pendek. Hanya dengan janji, tangan-tangan ke kuasan yang mencengkeram leher, dengan mudah dilupakan. Tetapi, untuk sementara waktu, kita tidak akan lupa sandiwara rapat paripurna DPR akhir pekan lalu (30/3). Suatu rapat yang menyisakan rasa kecewa mendalam bagi rakyat. Bagaimana tidak, para wakil rakyat yang di per caya membawa amanah un tuk memperjuangkan kehidupan rakyat yang lebih baik, justru berkolaborasi dengan pemerintah. Dalam konteks rencana menaikkan harga BBM, pemerintah jelas secara terang-benderang berada dalam posisi berhadap- hadapan dengan rakyat.

Yang tidak jelas posisinya justru para wakil rakyat—utusan partai politik, yang selalu merasa alat paling otoritatif mengagregasi kepentingan rakyat. Tapi, lihatlah bagaimana sepak terjang me reka malam itu. Keinginan rakyat yang menguat sejak beberapa bulan terakhir, sama sekali tidak tecermin dalam keputusan akhir rapat paripurna. Rakyat cuma ingin: harga BBM tidak naik.

Bukan tidak naik pada 1 April dan boleh dinaikkan, dengan alasan dan dalih apa pun, setelah tanggal itu berakhir. Sungguh tak bisa dibayangkan, bagaimana para wakil rakyat menyimpan muka mereka jika pada 2 April lalu mendadak pecah perang antara Iran dan Israel-AS, sehingga harga minyak dunia bergejolak hebat. Tapi malam itu, untuk kepentingan jangka pendek, mereka — dengan mengabaikan nurani — kembali bersekongkol mengelabui rakyat yang memilih mereka pada setiap pemilu.

Itulah mengapa penulis merasa penting mengutip penggalan ayat di awal tulisan ini, untuk menjadi pengingat bahwa Allah ADA dan selalu menyaksikan. Termasuk menyaksikan me reka yang telah menunaikan sumpah jabatan atas nama Allah dan atas nama Tuhan Yang Maha kuasa. Bersaksi di hadapan makhluk penghuni kolong langit bahwa mereka siap menjadi pelayan, pelindung, serta pe juang bagi tegaknya keadilan demi tercapainya kehidupan bersama yang sesuai perintah serta tuntunan Allah SWT.

Yastakhfuuna minan-maas. Wa laa yastakhfuuna minallaahi wa huwa ma’ahum. Idz yubayyituuna maa laa yardlo minalqauli. Wa kaanallaahu bimaa ya’maluuna muhiitho.”Mereka Bersembunyi dari manusia tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka. Ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS an- Nisaa’ [4]: 108).

Tapi, kita semua sudah mafhum. Sidang paripurna menyerahkan keputusan kenaikan harga BBM bersubsidi kepada pemerintah dengan syarat, tak lebih dari sekadar akal-akalan partai pendukung pemerintah. Lagi-lagi rakyat dibodohi oleh partai dan pemimpinnya. Pada 1 April BBM memang tidak naik, tapi dalam waktu dekat bisa naik. Bahkan, karena terbiasa ber sandiwara, hasil paripurna itu sudah bisa ditebak sejak awal, meskipun sejumlah partai ang gota koalisi sebelumnya bersikap seolah-olah menolak kenaikan harga BBM. Partai yang punya menteri di kabinet sejak awal diprediksi bermain di dua kaki.

Mereka pasti mendukung sikap pemerintah menaikkan harga BBM, tapi seolah-olah prorakyat, dan Presiden pasti tahu penolakan partai koalisi terhadap kenaikan harga BBM adalah setengah-setengah. Pemerintah hampir tidak mungkin tidak menaikkan BBM. Jelas, partai yang tidak punya menteri di kabinet dengan mudah bergabung dengan rakyat. Sedangkan partai yang punya menteri pasti berkaki dua namun bermuka dua karena tidak mau kehilangan muka di mata rakyat, namun juga tidak mau kehilangan kaki di kabinet.

“…Wa tajiduuna syarron naasi dzal wajhaini. Alladzi ya’tii haa`ulaa-i bi wajhin wa haa`ulaa-i bi wajhin—…” Dan kalian akan menemukan sejelek-jelek orang yang bermuka dua: Ia datang pada suatu kaum dengan satu muka dan datang pada kaum yang lain dengan muka yang berbeda.” (Muttafaq ‘Alaihi). Hadis ini memudahkan kita mengambil kesimpulan bahwa seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang berkaki dua tapi kerap bermuka dua. Na’udzubilLaahi Min Dzalik. Wallaahu a’lamu.




Inilah Misi Ketiga Kerasulan Nabi Muhammad SAW


Di antara begitu banyak penyebab hilangnya keberkahan hidup, kemiskinan absolut-extreme poverty-juga diduga sebagai salah satu yang membuat hidup menjadi absurd. Tentu absurd bagi kita yang awam dalam memahami ajaran agama. Di satu sisi, kita kerap menemukan ajaran agama yang menyebutkan orang-orang miskin akan memasuki gerbang surga Tuhan 500 tahun sebelum kedatangan mereka yang kaya, sementara banyak keterangan lain juga menyebut kemiskinan sebagai situasi yang harus dijauhi.

Begitu menakutkannya kemiskinan dan kefakiran, hingga Baginda Rasul mewanti-wanti umat Islam dengan sebuah doa yang beliau ajarkan, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran." (HR Abu Dawud). Kisah Tsa'labah bin Khatib al-Anshori merupakan contoh monumental yang menjalar dari mulut ke mulut di kalangan kita, umat Islam. Begitu fakirnya Tsa'labah, demikian diceritakan, beliau harus buru-buru meninggalkan masjid hanya setelah Rasulullah mengucapkan salam penutup shalat. Alasannya, ingin berbagi pakaian dengan istrinya agar dapat shalat pada kesempatan pertama.

Karena ketergesaannya meninggalkan majelis Rasul itu, beberapa sahabat curiga Tsa'labah termasuk kelompok munafik. Kemiskinan dan kefakiran benar-benar telah menjelma sebagai salah satu situasi yang paling menakutkan anak cucu Adam. Begitu menakutkannya kemiskinan dan kefakiran, setan pun kerap menggoda dan menggelincirkan manusia ke jurang kenistaan dan kemiskinan. "As-syaithaanu ya'idukumul faqro-setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan…" (QS al-Baqarah [2]: 268).

Karena kemiskinan amat potensial menyebabkan seseorang mengingkari keadilan Allah, kini penting dipikirkan kembali memetakan pola pendekatan agama terhadap orang-orang yang tak berdaya ini. Kelompok ini wajib diselamatkan agar benar-benar tidak terjatuh ke lembah kekufuran."Kaadal Faqru an Yakuuna Kufron-nyaris kefakiran menyebabkan kekufuran." Pernyataan di atas merupakan penegasan betapa bahayanya kefakiran dan kemiskinan.

Islam adalah ajaran mengenai luar-dalam, lahir-batin, serta tekstual-kontekstual sekaligus. Penerapan agama bukan hanya melalui fikih dengan pendekatan yang rigid, melainkan juga harus dibuka peluang menerjemahkannya dalam pranata sosial yang lebih fleksibel. Oleh sebab itu, penting bagi kita memahami pesan Alquran surah al-A'raf [7]: 157. Ayat ini secara gamblang menegaskan tiga misi utama Nabi Muhammad, yaitu pertama, amar ma'ruf nahi munkar. Kedua, menjelaskan soal halal dan haram. Ketiga, membebaskan umat dari beban yang mengimpit dan belenggu yang memasung mereka.

Ketiga misi ini melekat juga kepada kita sebagai para penerus dan pengobar semangat kenabian dan kerasulan Baginda Muhammad SAW. Mendekati permasalahan umat semata dengan misi amar ma'ruf dan nahi munkar belumlah memadai untuk terciptanya kehidupan yang penuh keberkahan. Demikian pula, hanya menggunakan pendekatan halal-haram belum akan lahir kehidupan sebagaimana menjadi misi ketuhanan di muka bumi ini. Kedua pendekatan ini harus dilengkapi dengan misi Nabi yang ketiga, yaitu membebaskan umat dari kemiskinan dan kefakiran.

Sangat mungkin seseorang mampu memenuhi semua kualifikasi syariat dalam melaksanakan sebuah ibadah, tapi mungkin tertolak karena pesan sosial tidak tertunaikan dengan benar. Alquran meminta umat Islam menjadi pembela bagi kelompok tertindas serta golongan yang lemah dan dilemahkan. Islam bukan agama kerajaan. Ia terlahir di tengah rakyat jelata yang tak berdaya akibat kuatnya aksi penindasan, kerasnya dominasi gender, dibanggakannya kebodohan, dan kejamnya tirani suku, serta melembaganya perbudakan.

Agama, dengan segenap spirit kamanusiaannya, lahir untuk menata kehidupan agar lebih berkeadilan. Karena itu, begitu banyak nabi dan utusan Tuhan harus menyabung nyawa demi tegaknya keadilan agar tercapai masyarakat yang takwa. Simaklah perjuangan beberapa nabi dalam lintasan sejarah. Nyaris semua nabi adalah pejuang revolusioner. Rata-rata mereka mengawali pengenalan misi ketuhanan dari tengah-tengah rakyat mustadh'afin alias kelompok yang dilemahkan oleh sistem. Misi ketuhanan diejawantahkan dalam misi kenabian. Misi kenabian harus dimanifestasikan dalam misi kemanusiaan yang sejati.

Sejarah menunjukkan, betapa keras dan revolusionernya perjuangan Nabi Muhammad. Baginda Rasul adalah penggembala kecil yang terus "konsisten" menjadi buruh hingga hari tuanya. Beliau bangga hidup di tengah orang miskin hingga detik-detik terakhir kehidupannya. Karena pilihannya sebagai nabi yang hamba-nabiyyan 'abdan-bukan sebagai nabi yang raja, maka beliau mampu menjelma pembela sejati bagi kaum tertindas. Atau, sebutlah beberapa nama nabi dan rasul yang berasal dari strata paling bawah dalam piramida sosial.

Nabi Nuh as tukang kayu yang nyambi menjadi guru atau Nabi Musa as yang penggembala. Nabi Ibrahim as hanya seorang tukang pemecah batu dan Nabi Isa as, selain gembala, juga tukang kayu. Sepanjang hidup dan sepanjang misi kenabian serta kerasulan mereka, para nabi akan selalu berdiri di barisan paling depan dalam membela kaum tertindas dan lemah dalam menghadapi kelompok yang lebih kuat. Sebagai penjuru orang-orang bertakwa, maka para nabi dan rasul adalah pendekar-pendekar keadilan sepanjang masa. Tidak banyak nabi dan rasul yang bergelimang harta.

Sudah barang pasti, nabi dan rasul bukanlah para masaakin dan fuqara yang meminta-minta-as-saa-il wal mahruum. Hanya, karena tingkat empati yang luar biasa, para nabi dan rasul dapat dengan mudah merasakan denyut nadi orang-orang miskin dan fakir. Semangat semacam ini pulalah yang mesti kita adopsi, umat Islam dan umat manusia. Memang kemiskinan materi tak akan pernah hilang dari denyut kehidupan, tetapi kemiskinan spiritual harus tetap menjadi alat vital kehidupan ini. Agar apa? Agar kehidupan tidak kehilangan berkahnya. Wallaahu alam bi shawaab.






Inilah Resep Meramu HiduP


Dengan ontelnya yang sudah usang, lelaki paruh baya itu berusaha menjajakan dagangannya, dari satu warung ke warung lainnya yang berjarak 30-an kilometer. Kelebatan kendaraan bermotor roda dua yang disaksikannya berseliweran tiap hari di hadapannya, sama sekali tak memikat di hatinya. Laju sepeda motor yang tentu lebih cepat dibanding sepeda tuanya, sama sekali tidak menggiurkannya. Dia lebih asyik menikmati ontelnya yang sudah berjasa menghidupi anak dan istrinya selama belasan tahun dengan berjualan kerupuk itu.

Langkah sepedanya yang pelan, ternyata mewujud pula dalam perilakunya yang kalem dan tenang. Itulah yang terjadi manakala waktu shalat tiba, Zhuhur atau Ashar. Entah kerupuknya masih menggunung setinggi 1,5 meter, maupun setengahnya, dia selalu singgah di masjid. Bahkan, lima atau 10 menit sebelum tiba waktu shalat, dia sudah duduk tafakur di rumah Allah itu, menanti azan dikumandangkan. Sesungging senyum, dia tebarkan manakala berjumpa dengan orang lain. Dari perilakunya, sama sekali tak terlihat gaya orang yang sedang dikejar setoran.

Setelah menunaikan shalat, biasanya seusai shalat Zhuhur, lalu bakdiah Zhuhur, dia mengambil posisi di sudut masjid. Kemudian pria yang rambutnya sebagian telah memutih itu pun merebahkan tubuhnya seenaknya. Tidur, berbantalkan handuk kecil yang biasa melingkari lehernya. Kalau ada kipas angin masjid yang dihidupkan, biasanya dia mengambil tempat di bawahnya. Mungkin agar terasa lebih sejuk dan membangkitkan pulasnya tidur.

Tapi, dia sendiri tak pernah kelihatan menghidupkan kipas angin tersebut. Dia menyadari benar etika seorang musafir, kendati jamaah atau mukimin di situ sudah menganggap dia sebagai bagian dari jamaah masjid, karena seringnya ikut shalat berjamaah, terutama Zhuhur dan Ashar.

Setelah shalat dan tubuh kembali fresh, dia kembali mengayuh sepedanya untuk mencari karunia Ilahi di muka bumi. Entah, berapa warung lagi yang harus dia datangi dan tawari kerupuknya. Jam berapa pula dia kembali pulang, menemui keluarga tercintanya.

Selain lelaki ini telah berjasa pada negeri, yang telah menciptakan lapangan pekerjaan, meski hanya untuk dirinya sendiri. Namun, pelajaran yang tak kurang nilainya adalah bagaimana dia membingkai dan meramu hidup ini  dengan indahnya. Bagaimana dia merangkai aktivitas hariannya menjadi sebuah paduan harmoni yang manis dalam konteks ibadahnya pada Allah, baik secara vertikal  maupun horizontal.

Lelaki sederhana ini mengajarkan banyak hal; tentang kesederhanaan, tawakal, sikap tidak tergopoh-gopoh (karena itu datang dari setan), tidur siang agar bisa qiyamullail (bangun malam), shalat di awal waktu dan berjamaah, serta tentang manajemen waktu. Banyak ayat Alquran yang menerangkan pentingnya hal-hal tersebut di atas. Salah satunya surah al-Ashr yang bercerita soal waktu.

Ketika banyak orang kacau-balau dan tidak tepat waktu dalam shalatnya, dengan dalih banyak pekerjaan atau waktu mepet, lelaki sederhana ini justru piawai sekali dalam menjadikan waktu-waktu shalat sebagai pemandu dari aktivitas hariannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar