Selasa, 28 Februari 2012

OASE IMAN

Pelajaran dari Wanita Pelit


DALAM beberapa kitab tazkiyatun nafs, seperti Tanbiihul Ghaafiliin, Al-Jauharul Mauhuub wa Munabbihatul Quluub, dan Al-Mawaaidz al-‘Ushfuuriyyah, dicantumkan sebuah kisah ganjaran yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada seorang wanita yang pelit bersedekah saat ia hidup di dunia. Inilah petikan kisahnya.

Suatu hari datang kepada Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) seorang wanita dengan tangan kanan yang tidak berfungsi (lumpuh).

“Ya Rasul, berdoalah kepada Allah untuk tanganku ini agar bisa berfungsi kembali seperti semula,” pintanya kepada Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

“Kenapa tanganmu bisa seperti itu?” tanya Rasulullah kembali.

Lalu diceritakan wanita tersebut apa yang terjadi dengan dirinya.

“Saya bermimpi seakan kiamat telah terjadi. Neraka jahannam telah menyala dan surga telah terhidang. Di dalam neraka terdapat beberapa lembah. Kulihat ibuku berada di salah satu lembah tersebut. Di tangan kanannya terdapat lemak dan di tangan kirinya terdapat lap kecil yang menghindarkan tangannya dari terkaman api neraka.”

“Mengapa ibu bisa berada di lembah tersebut?” Bukankah ibu seorang yang taat kepada Allah dan Ayah selalu ridha dan sayang terhadap ibu?” tanyaku kepada ibuku.

“Anakku, semasa di dunia ibu pelit. Di sinilah tempat ibu.”

“Lalu apa maksudnya lemak dan kain yang menempel di tangan ibu?”

“Ini adalah balasan sedekah ibu saat masih di dunia. Selama hidup, ibu tidak pernah bersedekah kecuali lemak dan kain lap. Dua benda inilah yang melindungi tangan ibu dari sengatan api neraka.”

Aku pun bertanya kembali, “Ayah di mana, Bu?”

“Ayahmu dermawan. Tentulah ia sedang berada di surga di tempat orang-orang yang dermawan.”

Aku bergegas ke Surga untuk menemui ayahku. Kulihat ayahku sedang berdiri di dekat telagamu, ya Rasul. Ia sedang memberi minum manusia, menerima gelas dari tangan Ali. Ali dari Utsman. Utsman dari Umar. Umar dari Abu bakar. Abu Bakar dari tanganmu, ya Rasul.

“Wahai Ayah! Mengapa ibuku yang taat kepada Allah dan patuh dengan Ayah tega ayah biar berada di salah satu lembah di neraka? Sedangkan Ayah sibuk memberi minum manusia dari telaga Rasulullah. Ayah, ibu haus di neraka sana. Berikanlah ia seteguk air saja,” pintaku kepada Ayah.

“Wahai anakku, ibumu itu berada di tempat orang yang pelit dan orang yang berdosa. Allah mengharamkan air telaga ini diberikan kepada orang-orang yang pelit dan orang-orang yang berdosa.” Ayah menolak untuk memberikannya.

Aku nekad mengambilnya segelas, untuk diminumkan kepada ibuku. Ketika ibuku sedang minum, kudengar suara, “Semoga Allah melumpuhkan tanganmu karena kamu datang memberi minum kepada orang yang pelit dari telaga Muhammad.”

Aku terbangun. Dan kulihat tanganku menjadi lumpuh.

Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Kepelitan ibumu telah menghukummu di dunia ini. Begitulah nanti yang akan dirasakan ibumu ketika dihukum Allah?”

Aisyah menceritakan, Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). lalu menaruhkan tongkatnya ke tangan kanan wanita itu dan berdoa, “Ya Allah, dengan kebenaran mimpi yang dituturkan wanita ini sembuhkanlah tangannya seperti semula.”

Tangan kanannya pun sembuh, dan dia pun segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎).

Apa yang layak dipetik dari kisah yang diceritakan Aisyah, isteri Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tersebut? Ada tiga hal yang bisa dijadikan pelajaran.

Pertama, jangan ragukan kalau surga dan neraka itu memang ada. Karena itu, tak pantas bila kita tak menyiapkan diri untuk masuk ke surga dan menjauhkan diri segala perilaku yang bisa menuntun ke neraka. Cerita adanya telaga Rasul Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) di dalam surga menjadi salah satu kenikmatan yang bakal dirasakan oleh penduduk surga nantinya. Oleh sebab itu, sering-sering berdoa kepada Allah agar diizinkan merasakan telaga Rasulullah. Kalau sudah merasakan telaga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), dipastikan sudah berada di surga.

Ada riwayat dari Abu Said yang menarik untuk diingat agar menguatkan kita saat beribadah.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Bila penduduk surga memasuki surga, maka akan terdengar suara, “Inilah saatnya kehidupan abadi. Saat yang menjadikan kalian selalu sehat dan tak akan pernah sakit. Saat yang membuat kalian menjadi seperti remaja dan tidak pernah tua. Saat yang membuat kalian menerima kenikmatan. Tak akan susah untuk selama-lamanya." Semua ini seperti apa yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ وَقَالُواْ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَـذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللّهُ لَقَدْ جَاءتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُواْ أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“….. Mereka diseru. Inilah surga yang diwariskan kepadamu karena amal yang kamu kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7]: 43)

Kedua, telaga Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sudah ditetapkan menjadi balasan untuk orang-orang dermawan di akhirat kelak. Beruntung sekali bila kita tergolong orang yang dermawan.

Setiap kali kita bersedekah makin dekat kesempatan kita menikmati telaga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). di akhirat kelak. Sungguh, ini kenikmatan yang luar biasa. Di dunia saja sedekah yang diberikan kepada orang lain, mendapat balasan langsung dari Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎), kita begitu senang. Apalagi sampai dapat merasakan telaga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Bila dikaji di dalam al-Qur’an, Allah mengganti setiap harta yang disedekahkan dengan jumlah minimal 10 kali lipat. Bisa dilihat di surat al-An’am [6]: ayat 160. Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang berbuat baik. Bersedekah adalah salah satu perbuatan baik. Bahkan di dalam surat al-Baqarah [2] ayat 261, Allah menjanjikan balasan sampai 700 kali lipat.

Maka layak bila kita sering mengingat-ingat hadits yang didengar Ali Kwh dari Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم);

”Sedekah, jika telah dikeluarkan dari tangan pemiliknya, lebih dahulu berada di ‘tangan’ Allah, sebelum sampai ke tangan orang yang menerima sedekah. Lalu sedekah itu akan mengucap lima kalimat: Aku kecil kau besarkan, aku sedikit kau perbanyak, aku musuh kau cintai, aku fana kau kekalkan, kamu penjagaku, kini aku menjagamu.”

Ketiga, jika tidak mau berbagi kepada orang lain, siap-siaplah menjadi penghuni neraka. Sekiranya sedekah harta yang diberikan cuma sedikit, tentu hanya itu yang akan dibawanya ke akhirat kelak. Riwayat yang diutarakan Aisyah ra. di atas sudah jelas menceritakan bagaimana nasib dan kondisi orang pelit di dalam neraka.

Di dunia saja, orang pelit sering dijauhi masyarakat. Bahkan masyarakat malas berteman dengannya, apalagi di akhirat. Tak akan ada yang bisa menolongnya ketika sudah berada di neraka. Persis seperti apa yang dikatakan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم); “Orang pelit jauh dari Allah, jauh dari surga-Nya, dan jauh dari manusia, tapi dekat dengan neraka-Nya. Dan orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surganya, gampang bergaul dengan manusia, dan jauh dari api neraka.”

Karena itu, marilah kita menjadi golongan orang dermawan. Golongan yang bakal mendapatkan air dari telaga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Amin.*








Agar Tidak Salah dalam Mencari Ilmu


AGAMA Islam sangat memperhatikan dan mengapresiasi orang-orang berilmu yang senantiasa mengamalkan ilmunya. Di sisi Allah orang berilmu mendapat derajat yang tinggi. Banyak sekali anjuran dalam kitab suci al-Qur’an agar kita menuntut ilmu, perintah agar kita membaca (iqra’), malakukan observasi (afalā yaraūna), eksploarasi (afalā yandzuruna), dan ekspedisi (sīrū fī l-rdhli), berpikir ilmiah rasional (li-qawmin ya’qilūn, yatafakkarūn). Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai ilmu. Namun, menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu ada aturan, tidak sembarang mengkaji dan mengamalkan. Pertama-tama harus dibetulkan niat belajar dan niat mengamalkan ilmu. Agar supaya ilmu tidak menjadikan kita kehilangan petunjuk.

Dalam Islam, mempelajari ilmu adalah suatu kewajiban bagi tiap pribadi pemeluknya, yang konsekuensinya dosa bila tidak dilaksanakan. Hal ini berimplikasi positif karena akan membentuk komunitas masyarakat berilmu yang kemudian terciptalah budaya ilmu. Inilah yang kemudian menjadi fakta sejarah bahwa peradaban Islam dibangun dengan konsep keilmuan.

Klasifikasi Orang Berilmu

Islam adalah satu-satunya agama yang sangat memperhatikan pendidikan umatnya. Ilmu didalam Islam memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia. Demikian pentingnya sehingga Allah menjadikannya sebagai parameter utama dalam mengklasifikasikan manusia. Di dalam firman-firman-Nya, berulang-kali dipaparkan kualifikasi seseorang berdasarkan kompetensi ilmiah yang dimilikinya.

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18).

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎), kemudian para malaikat, dan orang-orang yang berilmu yang senantiasa menegakkan kebenaran dari ilmunya menyatakan tiada tuhan selain Allah. Ayat ini menunjukkan betapa manusia yang memiliki ilmu dan konsekeen dengan ilmunya diklasifikasikan dengan malaikat, sedangkan malaikat sebagaimana dipahami dalam kitabullah adalah makhluk suci dan mulia yang selalu menurut pada perintah Rabb-nya.

Persaksian (syahidah) adalah gerbang pembatas antara yang mukmin dan tidak beriman. Dengan demikian, syarat mutlak menjadi mukmin yang baik adalah berilmu pengetahuan yang memadahi. Bahkan Nabi memberi gambaran perbandingan orang beriman yang tidak berilmu dengan yang memiliki adalah berbanding tujuh ratus derajat dan setiap diantara dua derajat jauhnya mencapai lima ratus tahun. Mafhum mukhalafahnya tidak mungkin seseorang menjadi seorang mukmin yang baik dengan sedikit pengetahuan. Ayat ini juga memberi pemahaman bahwa konsep ilmu dalam Islam selalu bertalian erat dengan keimanan, artinya Ilmu dalam Islam syarat dengan nilai-nilai religi yang menjadi sumber epistemologinya. Tidak seperti Barat yang beranggapan bahwa ilmu adalah bebas nilai.

Niat Harus Benar

Berdasarkan niat belajar, Imam al-Ghazali membagi orang menuntut ilmu menjadi tiga. Pertama, belajar semata-mata karena ingin mendapat bekal menuju kebahagiaan akhirat. Kedua, belajar dengan niat mencari kemuliaan dan popularitas duniawi. Ketiga, menuntut ilmu sebagai sarana memperbanyak harta (Bidayatul Hidayah, hlm.6).

Golongan pertama, adalah golongan selamat sedangkan tipe kedua dan ketiga termasuk berpotensi menjadi pemimpin dan ilmuan yang dzalim. Golongan pertama termasuk pelajar yang memahami konsep ilmu dengan benar, niatannya untuk menghilangkan kejahilan agar mendapat ridla Allah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Keilmuannya diamalkan demi kemaslahatan umat bukan untuk kenikmatan pribadi.

Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, yaitu mencari ilmu untuk tujuan duniawi. Sehingga aspek-aspek ukhrawi tidak menjadi landasan dalam mencari ilmu. Jika materialisme sebagai kerangka pikirnya, maka menurut Imam al-Ghazali ia kelak akan menjadi ulama’ suu’ (ilmuan jahat) yang tidak mengindahkan adab.

Pemisahan aspek ukhrawi dan aspek duniawi dalam menuntut ilmu akan mengakibatkan kekacauan ilmu. Ilmu yang kacau melahirkan pelajar yang jahil. Kejahilan itu bukan sekedar kekurangan ilmu, akan tetapi kacaunya ilmu/kerusakan ilmu. Kekacauan ilmu terjadi ketika informasi-informasi yang salah dipelajari kemudian diyakini sebagai kebenaran.

Ilmu menjadi kacau ketika kehilangan bimbingan adab dan kemasukan konsep materialisme. Menurut Syed Naquib al-Attas, ilmu-ilmu yang telah tercampur dengan konsep ‘asing’ itu hakikatnya bukan ilmu lagi, akan tetapi sesuatu yang menyamar sebagai ilmu (Risalah Untuk Kaum Muslimin, 61). Jadi ilmu yang hakiki adalah yang tidak melepaskan dimensi ukhrawi, sedangkan ‘ilmu’ yang menyamar adalah sebaliknya yang disebut ilmu madzmumah.

Banyak ayat dan hadits Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) yang menjelaskan tentang perintah dan kemuliaan orang yang berilmu. Disamping sebuah kewajiban yang dibebankan bagi setiap individu (farīdhlotu alā kulli musilimīn), dalam sebuah ayat (QS. Al-Mujadālah: 11), Allah menjanjikan derajat kemuliaan di akhirat bagi orang yang memiliki kualitas iman dan kompentensi ilmiah yang memadai, tentunya derajat kemuliaan tersebut dapat diperoleh ketika mengapikasikan ilmu pada tataran praktis.

Orang-orang yang mencari ilmu dan mengamalkannya adalah sebaik-baiknya ciptaan (walladzīna yakhsyawna Allaha hum khoyrul bariyyah). Kata “yakhsyawna” disematkan kepada ulama’ (innama yakhsya Allaha min ‘Ibādihi l-ulamā’), sedangkan kata “ulama” merupakan jama’ predikat dari orang-orang yang berilmu dan beramal shaleh (dari kata Alim). Disamping itu juga, para civitas akademika muslim adalah para penerus tampu perjuangan para nabi (waratsatu l-ambiyā’), tiada derajat lebih tinggi daripada derajat pewaris para nabi.

Dalam segala aktivitas mengkaji ilmu dengan niatan ikhlas adalah kebajikan. Mempelajari adalah perbuatan baik, menuntut ilmunya adalah ibadah, mengingat ilmu yang didapatkanya adalah bertasbih, membahas materinya adalah jihad, mengajarkan kepada orang yang belum mengetahui adalah shadaqah (diriwayatkan Mu’adz bin Jabbal). betapa semua kegiatan akivitas berilmu kebajikan penuh dengan limpahan pahala. Dan masih banyak keutamaan-keutamaan orang yang memiliki ilmu yang tertera dalam kitab suci dan hadits Nabi saw.

Dengan ilmu, seseorang dapat meraih kebahagiaan dunia, dengan ilmu seseorang memperoleh kebahagiaan abadi di Akhirat, serta dengan ilmu seseorang mampu memperoleh kedua-duanya. Bahkan dengan ilmu pula keistimewaan dan keunggulan Akhirat dapat dihayati dan dipilih seseorang ketimbang dunia (QS. Al-Qashash: 80). Artinya prioritas-prioritas konsep hidup yang bahagia dapat ditentukan sendiri oleh mereka yang berilmu. Dengan ilmunya tersebut dapat menuntun dan mengarahkan seseorang untuk kehidupan yang layak dan bahagia dunia dan Akhirat.*








Mengapa Sering Terjadi Kesalahpahaman Umat?

SEGALA puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang setia.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang hak kecuali Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan RasulNya –Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam. Amma ba'du;

Rasulullah –Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam telah memberitahukan kepada kita bahwa sepeninggal Beliau akan terjadi perbedaan dan bahkan perpecahan yang sangat banyak…

Apalagi zaman sekarang, lebih banyak lagi fitnah yang timbul. Bahkan sesama teman, sahabat, sesama penuntut ilmu syar'I, sesama da'I, sesama ulama, sSesama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang rujukannya adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Sholeh..

Latar belakang perbedaan dan perpecahan serta fitnah itu macam-macam. Bisa jadi karena pemahaman tentang Islam yang sepotong-sepotong dan tidak seutuhnya. Karena kejahilan. Karena kurang ilmu. Karena hawa nafsu. Karena faktor duniawi. Karena beda pendapatan (beda 'pendapatan', dengan 'an'). Bisa juga karena hasad, iri dan dengki. Karena niat jelek, hati rusak, fanatik kepada seseorang atau karena merasa benar sendiri dan dada yang sempit serta jiwa yang kerdil. Dan masih banyak faktor-faktor lainnya….

Dalam menyikapi seseorang –siapapun orang tersebut- hendaklah kita menimbangnya dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jangan terbalik, menimbang Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan ucapan manusia…

Imam Malik –Rahimahullah mengatakan: “Semua manusia bisa diambil pendapatnya dan bisa pula ditolak kecuali Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam”

Saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah, mari kita sibukkan diri kita dengan hal-hal yang bermanfaat, membaca Al-Qur’an, Al-Hadits, mempelajari, menghafalkan dan mengamalkan…Kita tiru kehidupan beragama para Sahabat Nabi –Radhiallahu ‘Anhum dan Salafush Sholeh -Rahimahumullah…Bangun pada malam hari, shalat, berdoa dan bermunajat kepadaNya…Memohon petunjukNya…Menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain…Janganlah kita sibukkan diri kita dengan hal-hal yang tidak bermanfaat yang akan menjadikan penyesalan kita dalam kehidupan dunia dan akhirat…SELAMAT BERKARYA!

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang setia dan segala puji hanya bagi Allah.*

Semoga Bermanfaat dan Mencerahkan







Miskin atau Kaya, Yang Penting Tetap Sederhana


SELAIN sebagai negarawan yang cakap, Umar bin Khattab juga dikenal sebagai seorang yang zuhud. Keberhasilannya dalam mengantarkan rakyat dan bangsanya memasuki gerbang kehidupan yang lebih baik, tidak mengubah sikap dan pola hidupnya. Ia tetap Umar yang dulu, yang sederhana dan bersahaja.

Pada masa Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) ummat Islam hidup selalu pas-pasan, jika tidak boleh disebut berkekurangan. Bagaimana tidak, sedang negara Madinah, yang baru saja dimerdekakan harus menghadapi berbagai berbagai rongrongan musuh yang tidak senang akan kejayaan Islam. Oleh karenanya wajar jika pembangunan fisik, kurang mendapatkan sentuhan, bahkan nyaris tidak terurus.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar bisa dibilang hampir sama, kecuali ada sedikit kemajuan. Wilayah Islam mulai berkembang, merambah ke berbagai wilayah yang berdekatan. Akan tetapi musuh Abu Bakar tidak sedikit. Ia harus menghadapi para pembangkang yang keluar dari Islam. Jumlah mereka tidak kecil, demikian juga kekuatannya. Alhamdulillah musuh-musuh Islam itu telah berhasil dilenyapkan oleh Abu Bakar. Dengan gambaran kondisi di atas adalah wajar jika dalam pemerintahan Abu Bakar, kesejahteraan ummat dalam bidang materi belum bisa dihitung, walaupun sedikit ada kemajuan.

Pada pemerintahan Umar, wilayah Islam terus berkembang. Tidak saja terbatas di jazirah Arab, tetapi juga meliputi bangsa-bangsaa asing, bahkan telah menyeberang ke Eropa. Satu persatu kekuasaan kafir berhasil ditundukkan. Termasuk kerajaan Parsi yang sudah sangat maju dan tinggi peradabannya.

Tentu saja perubahan besasr terjadi di kalangan ummat Islam. Harta kekayaan melimpah, ummat banyak, dan kekuatan militer besar dan terlatih. Poros dunia mulai bergeser dari dua super power – Roma dan Persia – ke dunia baru Islam, yang berpusat di Madinah.
Bagi kebanyakan ummat yang tidak langsung mendapatkan bimbingan dari Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), perubahan di bidang materi ini tentu saja bisa mengubah sikap mentalnya. Jika biasanya hidup dalam berkesahajaan, kini mulai ikut-ikutan cara baru sebagaimana layaknya penduduk negeri-negeri yang telah ditaklukkan. Mulai dari gaya berpakaian sampai ke gaya hidup.

Di tengah perubahan besar seperti ini, sebagai sosok pemimpin dengan kekuasaan yang amat besar, Umar, tetap menunjukkan sikap dan perilaku yang sama. Tidak ada sedikitpun yang berubah pada diri Umar, termasuk dalam memandang harta. Ia tak tergiur sedikitpun terhadap harta, walaupun harta itu telah ada di depan matanya. Jangankan korupsi, mengambil haknya sendiri saja ia masih enggan.

Sangat wajar dan rasional jika Umar mendapatkan gaji lebih besar daripada Abu Bakar, sebab pada saat ia memimpin, luas wilayahnya membengkak beberapa kali lipat, pendapatan negara juga melonjak, kesejahteraan rakyat juga meningkat. Akan tetapi Umar ternyata memilih gaji yang sama seperti yang diterima oleh kepala negara sebelumnya. Padahal harga-harga kebutuhan pokok telah meningkat, sementara kebutuhannya juga semakin banyak.

Orang-orang terdekatnya bukan saja merasa iba, tapi ikut prihatin atas sikap pemimpinnya. Berkali-kali usulan diajukan untuk menambah gajinya, tapi selalu ditolaknya.
Tentang kezuhudan Umar bin Khattab ini, Ibnu Asakir menceritakan sebuah atsr dari Hasan Basri. Ia berkata, “Ketika aku mendatangi suatu majelis di masjid jami’ kota Basra, kudapatkan sekelompok sahabat Nabi saw yang sedang membicarakan tentang kezuhudan Abu Bakar dan Umar, di tengah berlimpah-ruahnya kekayaan yang diperoleh kaum muslimin dari berbagai wilayah yang ditaklukkan.

Ketika mendekati al-Ahnaf bin Qais al-Tamimi ra aku mendengar ia berkata, “ketika kami diutus oleh Umar ke Persia dan wilayah sekitarnya, maka kami berhasil mengumpulkan beberapa pakaian yang bagus dari wilayah-wilayah itu. sewaktu kami menghadap dengan mengenakan pakaian-pakaian mewah tersebut di hadapan Umar, ia memalingkan wajahnya dari kami dan menjauh. Sikap tersebut menjadikan para sahabat Rasulullah saw merasa takut, sehingga mereka mengadukan masalah ini kepada Ibnu Umar yang ketika itu berada di masjid. Kata Abdullah Ibnu Umar, “Mungkin ia marah, karena ketika menghadapnya, kalian sedang berpakaian mewah yang berbeda dengan keadaan kalian di masa Rasulullah dan Abu Bakar al-Shiddiq ra.”

Kami segera pulang ke rumah masing-masing dan segera menukar pakaian mewah dengan pakaian yang biasa kami pakai di masa Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dan Abu Bakar. Maka di saat menghadap Umar dengan pakaian tersebut, ia bangkit menyalami kami dan merangkul kami seorang demi seorang seolah baru pertama kali bertemu.

Ketika kami hadapkan kepada Umar semua ghanimah tersebut dengan cara yang sama di antara kami. Ketika kami haturkan di hadapannya sekaleng makanan, ia mencicipinya sedikit, kemudian berkata kepada kami, “Wahai kaum Muhajirin dan Anshar, mungkin dikarenakan makanan sekaleng ini, seorang anak saling berebut dengan ayah dan saudara-saudaranya. Kemudian ia menyuruh segera membagikan makanan tersebut kepada anak-anak para syuhada’. Muhajirin dan Anshar yang ayah-ayahnya gugur di masa Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tak lama kemudian ia bangkit diikuti para sahabat yang lain.

Seusai acara ini para sahabat melanjutkan obroannyaj. Mereka berkata, “Wahai kaum Muhajirin dan Anshar, bagaimana kamu lihat kezuhudan orang ini (Umar) dan pakaian yang disandangnya. Sungguh mengherankan sedangkan Allah Subhanahu Wata’ala telah melimpahkan rezeki yang berlimpah-ruah kepada kaum muslimin dan telah menaklukan semua bangsa-bangsa yang berada di jazirah Arabiyah. Utusan orang-orang Arab dan asing semuanya berdatangan kepadanya, akan tetapi kami lihat ia menghadapi mereka dengan memakai jubah satu-satunya yang sudah dihiasi dua belas tambalan.”

Mereka kemudian melanjutkan rembukannya. Katanya, alangkah baiknya jika kalian – tokoh-tokoh sahabat yang dekat dengan Umar – mengusulkan agar ia mau mengganti jubahnya itu dengan pakaian yang lebih baik sehingga kelihatannya lebih dan lebih tampan, agar ia juga mau menggantikan piring yang biasa dipakainya jika ia makan di hadapan para sahabat.

Untuk kepentingan itu, para sahabat bersepakat mengutus Ali bin Abi Thalib. Alasannya, selain dikenal berani, ia adalah seorang menantu Rasulullah.

Akan tetapi ketika usulan itu disampaikan kepada Ali, ia malah menjawab, “Aku tidak berani menyampaikan usul itu kepada Umar. Sebaiknya kalian menemui para istri Rasulullah sebab mereka adalah ibu bagi kaum mukminin dan hal itu lebih pantas.”
Atas usul tersebut, para tokoh sahabat ini mendatangi rumah ‘Aisyah dan Hafsah, keduanya tinggal dalam satu rumah. Maka ‘Aisyah berkata, “Aku yang akan menyampaikannya kepada Amirul Mukminin.” Akan tetapi Hafsah (putri Umar bin Khattab) justru sanksi. Ia berkata, “Menurutku Umar tak mungkin menerima usul tersebut.”
Ketika keduanya datang ke rumah Umar, ia menyambutnya dengan penuh hormat. ‘Aisyah membuka pembicaraan, “Wahai Amirul Mukminin, bolehkah aku menyampaikan sesuatu kepadamu?” Boleh, jawab Umar.

Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah wafat dan telah kembali ke haribaan-Nya sedangkan beliau belum sempat menikmati kesenangan duniawi sedikitpun. Demikian pula Abu Bakar, khalifah Rasulullah yang telah menghidupkan sunnah-sunnah beliau, menumpas orang-orang yang keluar dari Islam, menegakkan pemerintahan dengan adil dan membagikan harta ghanimah dengan cara yang sama, dan beliau meninggal sebelum sempat menikmati kesenangan dunia.

Sedangkan engkau, kini telah dibukakan di hadapanmu semua kekayaan yang telah dimiliki kaisar Romawi dan Parsi. Kini berdatangan utusan-utusan bangsa Arab dan asing ke hadapanmu, sedangkan kau memakai jubah ini yang padanya terdapat dua belas tambalan. Alangkah baiknya jika engkau mau menggantikan jubah usang itu dengan pakaian yang lebih anggun, sebab Allah telah melimpahkan harta yang berlimpah-ruah di hadapanmu.”

Mendengar ucapan ini, Umar pun menangis, seraya berkata, Demi Allah, aku tanya kepadamu, pernahkan Rasulullah kenyang dari roti mewah selama berhari-hari dalam hidupnya? Pernahkah Rasulullah minta dihidangkan kepadanya makanan-makanan mewah? Kedua pertanyaan ini selalu dijawab: tidak! Maka umar pun berkata, “Wahai istri-istri Rasulullah, kalau kalian saksikan bahwa Rasulullah saw tidak pernah makan dan berpakaian secara mewah, mengapa kalian berdua datang kepadaku seraya mengusulkan kepadaku agar aku hidup mewah sepeninggalnya?”

Umar melanjutkan pembicaraanya, “Wahai Hafsah, mengapa engkau suruh aku hidup mewah, sedangkan engkau tahu walaupun Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah diampunkan dosanya yang terdahulu maupun yang kemudian, namun beliau tetap hidup melarat dan tetap bersemangat dalam beribadah, baik di waktu siang maupun petang. Begitulah kehidupan beliau sampai menjelang wafatnya. Demikian pula Abu Bakar, seorang khalifah Rasulullah yang telah dibukakan di hadapannya harta yang berlimpah-ruah, namun beliau tetap hidup amat sederhana dan bersemangat dalam ibadahnya hingga menjelang hari wafatnya. Karena itu aku akan tetap mengikuti pola hidup sederhana ini hingga hari wafatku, sebab aku hendak meniru kedua sahabatku yang mulia itu.”

Ketika jawaban Umar itu disampaikan kepada para sahabat, mereka pun terdiam. Tidak ada satupun di antara mereka yang berani mengusulkan lagi kepada Umar. Dan Umar tetap dalam kesederhanaannya hingga menemui ajalnya.

Bagaimana dengan para penerusnya? Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib adalah dua sahabat yang menjadi khalifah sepeninggalnya. Keduanya melanjutkan kebiasaan pendahulunya. Meskipun Utsman sejak semula kaya raya, tapi ia tetap memilih gaya hidup sederhana. Ali bin Abi Thalib yang sejak mudanya menjalani kehidupan sebagai zahid, ketika berkuasapun tetap zahid. Ia tetap sederhana dalam keadaan yang bagaimanapun juga.

Kita memang bukan Umar, Ali, maupun Abu Bakar. Tetapi pantaslah berkaca kepadanya.*








Fasik dan Awal Mula Hilangnya Iman

BAGI seorang muslim, iman adalah segalanya. Iman adalah aset paling berharga dan menjadi kriteria pertama diterima atau tidaknya amal di hadapan Allah. Akan tetapi, sebagaimana lazimnya setiap aset berharga di dunia ini, ia selalu terancam bahaya. Banyak pihak yang mengintai dan ingin mencurinya. Maka, tidak sedikit orang yang imannya lenyap, lalu mati dalam keadaan tidak memilikinya lagi. Tentu kita tidak ingin mengalaminya. Tetapi, bagaimana menjaga iman supaya tidak hilang?

Dalam Al-Qur’an, ketiadaan iman disebut juga dengan ketersesatan (dholal). Dan, pada dasarnya tidak ada manusia yang disesatkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang fasiq. Dengan kata lain, bila manusia telah menjadi fasiq, ia pasti akan tersesat.

Allah berfirman,

وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ
الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“…dan, tidak ada yang disesatkan dengannya kecuali orang-orang yang fasiq. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs. al-Baqarah: 26-27).

Menurut Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, ayat diatas menunjukkan bahwa tidak ada yang disesatkan kecuali orang-orang yang meninggalkan ketaatan kepada Allah, tidak mau menuruti perintah maupun larangan-Nya, dan melanggar perjanjian yang telah Allah buat dengan mereka. Dalam Tafsir Zadul Masir dinyatakan, bahwa diantara sifat orang fasiq adalah menyalahi isi Al-Qur’an, memutuskan hubungan silaturrahim, dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan.

Jelas bahwa kefasikan adalah kondisi ketika seseorang menelantarkan imannya, memperturutkan hawa nafsu, dan tidak memperdulikan hukum-hukum Allah. Ketika itulah imannya menjadi rapuh, lalu syetan merampasnya.

Maka, dalam al-Fiqh al-Akbar, Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak boleh kita katakan bahwa syetan merampas iman dari hati seorang hamba yang mukmin secara paksa dan sewenang-wenang. Namun, kita katakan bahwa seorang hamba itu meninggalkan imannya sehingga pada saat itulah syetan merampasnya.”

Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali menunjukkan bahwa keimanan sangat mudah goyah pada awal mula pertumbuhannya, apalagi di kalangan anak kecil dan kaum awam.

Menurut beliau, iman harus selalu diperkokoh. Selanjutnya beliau berkata, “Jalan untuk menguatkan dan meneguhkan iman bukanlah dengan mempelajari kemahiran berdebat dan teologi (ilmu kalam), akan tetapi dengan (1) menyibukkan diri membaca al-Qur'an berikut tafsirnya, (2) membaca hadits disertai maknanya, dan (3) menyibukkan diri dengan menunaikan berbagai tugas ibadah. Dengan demikian kepercayaannya senantiasa bertambah kokoh oleh dalil dan hujjah al-Qur'an yang mengetuk pendengarannya, juga oleh dukungan hadits-hadits beserta faidahnya yang ia temukan, kemudian oleh pendar cahaya ibadah dan tugas-tugasnya. Hal itu juga diiringi dengan (4) menyaksikan kehidupan orang-orang shalih, bergaul dengan mereka, memperhatikan tindak-tanduk mereka, mendengar petuah-petuah mereka, juga melihat perilaku mereka dalam ketundukannya kepada Allah, rasa takut mereka kepada-Nya, serta kemantapan mereka kepada-Nya.”

Imam al-Ghazali kemudian mengibaratkan awal mula keimanan dengan menabur benih, sementara seluruh amal tersebut di atas merupakan upaya menyiram dan merawatnya, sehingga akhirnya ia tumbuh berkembang, menjadi kuat dan meninggi sebagai pohon yang baik dan kokoh, akarnya teguh sedangkan cabang-cabangnya menjulang ke angkasa. Kelak, buahnya pasti lebat dan menguntungkan, dengan seizin Allah.

Pernyataan diatas dapat kita pahami pula dari sisi sebaliknya. Bahwa, ketika seseorang mulai menjauh dari Al-Qur’an, tidak mengenal hadits Nabi, kocar-kacir ibadahnya, dan memiliki lingkungan maupun teman bergaul yang rusak, berarti ia tengah menelantarkan imannya. Maka sangat boleh jadi, seperti kata Imam Abu Hanifah, syetan pun akan merampasnya. Na’udzu billah!

Bila seseorang menjauhi Al-Qur’an dan hadits, maka akar-akar iman di hatinya pun mulai goyah.

Rasulullah bersabda, “Sungguh telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian – selama kalian selalu berpegang teguh kepadanya – maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Riwayat al-Hakim, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits shahih).

Bila tugas-tugas ibadahnya berantakan dan ia lalaikan, maka Allah pun akan mengacaukan hati dan kehidupannya, hingga terasa sempit dan menggelisahkan.
Allah berfirman;

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124).

Bila hanya ada orang-orang jahat di sekitarnya, maka masing-masing cuma perduli pada urusan perut dan syahwat, lalu satu sama lain akan menghalangi dari akhirat.

Dikisahkan oleh al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab al-Ikhwan, bahwa 'Atha' al-Khurasani pernah bertanya kepada Muhammad bin Wasi’, "Amal apakah yang paling utama di dunia ini?" Dijawab, "Menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara, apabila mereka saling bersahabat diatas kebajikan dan taqwa." Beliau melanjutkan, "Ketika itulah Allah akan menghadirkan kemanisan diantara mereka, sehingga mereka terhubung dan saling menyambungkan hubungan. Tiada kebaikan dalam menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara jika mereka menjadi budak dari perutnya masing-masing, sebab jika mereka seperti ini maka satu sama lain akan saling menghalangi dari akhirat.”

Oleh karenanya, Allah mengajari kita sebuah doa, agar iman dan hidayah senantiasa tertanam di hati dan tidak dilenyapkan-Nya. “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menjadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).” (Qs. Ali ‘Imran: 8). Wallahu a’lam.








Cinta Rasulullah, Pasti Cinta Syariat


BANYAK orang sering mengklaim mencintai Rasulullah Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Kecintaan kepada Nabiullah, merupakan suatu hal yang harus ada dalam diri setiap muslim, karena itu adalah tanda bukti keimanannya. Mencintai dan mentaati beliau berarti mencintai dan mentaati Allah Subhanahu wa-ta'ala. Namun amat disayangkan, sebagian kaum muslimin saat ini ada yang salah dalam mewujudkan cintanya kepada Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dengan melakukan hal-hal yang tidak dicontohkan, baik oleh Nabi sendiri maupun oleh para sahabat. Bahkan, ada yang hanya mencukupkan diri dengan banyak mengucapkan shalawat , namun realitas kesehariannya, perilakunya justru bertolak belakang dengan sikap Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Mencintai Rasulullah harus dibuktikan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan syariat. Wujud sebenarnya bagaimana mencintai Rasulullah adalah dengan melihat kehidupan para shahabat dan generasi sesudah mereka. Mereka membuktikan rasa cintanya dengan tidak pernah membantah apa yang diperintahkan Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dan selalu berusaha untuk meniru semua sisi pribadi beliau. Karena itu, amat disayangkan, jika ada di antara kaum muslimin yang mengaku mengenal dan mencintai Rasulullah, Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) namun tidak mengikuti dan mengamalkan sunnahnya.
Kewajiban Mencintai Rasulullah

Sebagai seorang seorang muslim, kita berkewajiban untuk mencintai Rasul Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) . Allah Subhanahu wa-ta'ala berfirman:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

”Katakanlah, ’Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah Subhanahu wa-ta'ala dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)

Ayat ini cukup menjadi bukti keharusan untuk mencintai Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Bahkan ayat tersebut juga menunjukkan begitu besar hak Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) untuk dicintai, sebab dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa-ta'ala memberikan ancaman bagi orang-orang yang lebih mencintai harta, keluarga, dan anak-anak daripada mencintai Allah dan Rasul-Nya. Bahkan di akhir ayat, Allah menggolongkan orang-orang yang mempraktekkan hal tersebut sebagai orang yang sesat dan tidak mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa-ta'ala.

Kualitas iman kita sangat ditentukan dengan sejauh mana cinta kita kepada Rasulullah. Orang yang memiliki iman yang sempurna selalu memposisikan cintanya kepada Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dengan posisi urutan pertama dibandingkan cintanya kepada manusia lain. Cintanya kepada Rasulullah melebihi cintanya kepada orang tua, istri/suami dan anaknya, bahkan dirinya sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) : “Tidaklah sempurna iman salah seorang kamu sehinga aku lebih dicintai dari kedua orang tuanya dan anak-anaknya.” Dalam riwayat yang lain, Rasulullah: “Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga aku lebih dicintai dari dirinya sendiri.” (HR. Ahmad)

Makna dan Urgensi Cinta Nabi

Orang yang memperoleh cinta Allah dan Rasul-Nya pasti akan memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat. Tentunya dengan mengamalkan Al-Quran dan Sunnah Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Allah Subhanahu wa-ta'ala telah menegaskan dalam Al-Quran bahwa prasyarat untuk mendapatkan cinta-Nya adalah harus mengikuti Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) terlebih dahulu. Dengan kata lain, mencintai Rasulullah berarti mencintai Allah. Mengikuti petunjuk Rasul adalah syarat mutlak untuk mendapatkan cinta Allah Subhanahu wa-ta'ala.

Sebagaimana firman-Nya;

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali Imran: 31). Inilah substansi dari makna mencintai Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Dalam kitab “Syarh Riyadhus Shaalihiin”, Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ayat ini disebut oleh sebagian ulama dengan ayat ujian, karena Allah menguji suatu kaum yang mengaku bahwa mereka mencintai Allah seraya berkata, “Kami mencintai Allah.” Ini adalah pengakuan yang mudah tetapi pengakuan ini mengandung konsekuensi.

Allah Subhanahu wa-ta'ala berfirman: “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikuti Aku.” Atau, barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan tidak mengikuti Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), maka pengakuannya itu tidak benar, tetapi dia pembohong karena di antara tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasul-Nya.”

Selain itu, masih banyak ayat lain yang memerintahkan kita untuk mengikuti Rasululah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) (lihat An-Nisa’’: 59, 65, dan 80, Ali Imran: 31, Al-A’raf: 158, al-Ahzab: 21, al-Hasyr: 7, al-ahzab: 36, an-Nur: 36, syura: 52, an-najm: 3-4, dan sebagainya).

Allah Subhanahu wa-ta'ala memuji akhlak Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dan menjadikannya sebagai sosok teladan dan idola yang wajib diikuti.

Allah berfirman; “Sesunggguhnya engkau benar-benar berakhlak yang agung.” (Al-Qalam: 4). Dan Allah Subhanahu wa-ta'ala berfirman, “Sesunggguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).

Muhammad bin Ali at-Tirmizi berkata, “Yang dimaksud dengan meneladani Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam adalah mengikuti jejak beliau, mengamalkan Sunnahnya, serta meninggalkan larangannya, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan.”

Banyak Hadits yang menjelaskan tentang kewajiban dan makna mencintai Rasulullah. Di antaranya sabda beliau, “Al-Quran itu terasa sulit bagi orang yang membencinya, padahal Al-Quran merupakan alat untuk menetapkan suatu hukum. Barangsiapa yang berpegang kepada Haditsku, memahami dan menghafalnya, maka dia kelak akan datang bersama Al-Quran. Barangsiapa yang meremehkan Al-Quran dan Haditsku, maka dia akan merugi di dunia dan di akhirat. Ummatku telah diperintahkan untuk mendengarkan sabdaku, mentaati perintahku dan mengikuti Sunnahku. Maka barangsiapa ridha terhadap sabdaku, berarti telah ridha kepada Al-Quran.”

Rasulullah juga bersabda, “Sesungguhnya bani Israil tercerai berai menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya ummatku akan bercerai-berai menjadi tujuh puluh tiga golongan. Kesemuanya akan berada di dalam neraka, kecuali hanya satu golongan saja.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Mereka itu adalah orang yang memegang ajaranku dan ajaran para sahabatku sekarang ini.”

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa menghidupkan salah satu dari Sunnahku yang telah dimatikan sepeninggalku, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi kadar pahala mereka yang telah mengamalkan Sunnah ini sedikitpun. Barangsiapa membuat sebuah bid’ah sesat yang tidak dirihai oleh allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan dosa sebanyak dosa orang yang telah mengamalkan bida’ah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR Tirmidzi)

Bahkan mentaati Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) merupakan syarat untuk masuk surga. Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan. Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu? Beliau menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk surga. Dan barangsiapa yang tidak mentaatiku maka ia enggan (masuk surga).” (HR. Bukhari)

Dari beberapa ayat Al-Quran dan Hadits diatas, dapatlah disimpulkan bahwa makna cinta kepada Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) berarti mentaati perintah dan larangan Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), mengikuti petunjuk beliau, mengamalkan dan menghidupkan Sunnah beliau.

Oleh karena itu, para ulama telah sepakat bahwa agar diterimanya ibadah seseorang harus memenuhi dua syarat; Pertama, ikhlas. Kedua, mengikuti petunjuk Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Bila salah satu syarat ini tidak terpenuhi atau keduanya, maka amal ibadahnya tidak diterima sehingga menjadi sia-sia.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Bila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka amal itu tidak diterima. Sebaliknya, bila amal itu benar namun tidak ikhlas, maka amal itu tidak diterima. Amal itu diterima jika benar dan ikhlas. Orang yang ikhlas itu, bila amalnya untuk Allah Subhanahu wa-ta'ala. Dan orang yang benar itu, bila amalnya berdasarkan sunnah”.

Berpegang perkataan al-Fudhail bi ‘Iyadh di atas, Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah Subhanahu wa-ta'ala, “Dan Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang-orang yang ikhlas menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Allah mengambil menjadi menjadi kesayangan-Nya.” (An-Nisa’:125).

Ibnu Katsir berkata, “Ketika amal perbuatan kehilangan salah satu dari dua syarat ini (ikhlas dan benar), maka amal perbuatan ini menjadi rusak. Siapa yang kehilangan keikhlasan, maka orang itu menjadi munafik, yaitu memperlihatkan amalnya kepada manusia (riya’). Dan siapa yang kehilangan ketaatan kepada Rasulullah (landasan sunnah), maka orang itu sesat dan bodoh. Siapa yang memenuhi kedua syarat itu, itulah perbuatan orang-orang beriman yang amal mereka diterima (dengan alasan) lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan diampuni kesalahan-kesalahan mereka”.

Tanda-tanda cinta kepada Rasulullah

Orang yang mencintai sesuatu biasanya akan lebih mengutamakan sesuatu yang dicintainya itu. Dia akan selalu patuh, taati dan mengikuti orang yang dicintai. Baginya, sang kekasih adalah figur dan idolanya. Jika tidak sampai seperti itu, maka pengakuan cintanya perlu dipertanyakan kembali.

Oleh karena itulah, orang yang telah mengaku dirinya telah mencintai seharusnya memperlihatkan tanda-tanda kecintaanya tersebut.

Dalam kitabnya “Asy- Syifaa Bi Ta’riifi Huquuqil Mushthafaa”, al-Qadhi Iyadh rahimahullah (wafat 544 H), seorang ulama besar dari Andalusia, menyebutkan tanda-tanda orang yang mencintai Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), yaitu:

Pertama, mengikuti Sunnah Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), baik yang berupa perkataan maupun perbuatan. Dia akan mengerjakan seluruh perintah Rasul Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), menjauhi larangannya dan berperilaku seperti beliau dalam keadaan suka dan duka.

Kedua, lebih memprioritaskan ajaran syariat Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sehingga rela untuk mengeyampingkan dorongan syahwatnya.

Ketiga, membenci manusia karena Allah, bukan berdasarkan dendam pribadi.

Keempat, seringkali menyebut-nyebut nama baginda Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Sebab seseorang yang yang mengaku cinta kepada sesuatu, maka dia pun akan sering kali menyebut-nyebut sesuatu yang dia cintai itu.

Kelima, seringkali merasa rindu untuk bertemu dengan Rasulullah, sebab setiap pecinta itu akan sangat senang bila dengan kekasihnya.

Keenam, menghormati dan memuliakan sang kekasih ketika namanya disebut. Dia akan memperlihatkan sikap khusyu’ dan merasa tersentuh takkala mendengar nama Rasulullah.

Ketujuh, mencintai orang-orang yang mencintai Nabi Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dan orang-orang yang dicintai oleh beliau, seperti keluarga Rasulullah dan para sahabat. Namun jika ada yang mengaku mencitai Nabi, sementara masih mencaci-maki sahabat-sahabat yang dicintai Nabi, mereka bukan golongan Nabi.

Kedelapan, membenci orang-orang yang memusuhi Rasulullah dan orang-orang yang dibenci oleh beliau.

Kesembilan, mencintai Al-Quran yang telah dibawa oleh Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Kesepuluh, mencintai ummat Nabi Muhammad dan suka memberikan nasihat kepada mereka.

Kesepuluh, hidup zuhud di dunia dan rela untuk fakir.

Karenanya, menjadi pertanyaan besar bagi kita semua. Bagaimana kita mengaku diri mencintai Nabi, dan berharap Nabi juga mencintai kita? Sedang banyak di antara kita justru terang-terangan melawan/memusuhi bahkan secara terang-terangan bersikap sinis dengan Syariat Islam?

Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah Rasuullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dan mencintai Syariat Allah, agar kita juga dicintai oleh Allah Subhanahu wa-ta'ala dan dimasukkan kedalam surga-Nya. Amin!!







Enam Kekuatan yang Wajib Dimiliki Penguasa


SALAH satu penyakit hati adalah tamak, merasa tidak cukup dengan kedudukan atau harta benda yang sudah dimilikinya. Tamak juga bisa muncul atas dorongan rasa gengsi yang berlebihan karena malu atau tidak suka seandainya ada orang lain yang mengungguli dirinya dari segala hal. Akhirnya segala jalan ditempuh, tanpa memperdulikan etika yang mengikatnya. Perkara yang haram pun dilakukannya demi mewujudkan obsesi keserakahannya.

Karakter seperti di atas hakikatnya bukanlah karakter yang menguntungkan, akan tetapi sebuah karakter yang justeru membawa kepada kerugian dan kesengsaraan hidup, terutama bagi pelakunya. Sejarah telah mencatat secara apik, bagaimana raja-raja atau kaum penguasa yang tamak dan rakus harus berakhir dengan kehinaan dan kesengsaraan.

Sebuah kisah menyebutkan, bahwa sahabat Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), Abu Bakr Sidiq RA pernah mengatakan, "Orang yang paling sengsara di dunia dan di akhirat adalah raja-raja atau penguasa." Orang-orang yang ada di sekelilingnya seraya bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" Lalu Abu Bakar RA menjawab: "Raja-raja kalau terus berkuasa akan merasa, bahwa apa yang sudah ada dalam tangannya belum cukup. Yang kelihatan olehnya ialah yang di tangan orang lain saja. Ajalnya datang pada saat dirinya berangan-angan. Perasaan belas-kasihan lama-lama menjadi kurang, hasad karena jatah bagiannya sedikit, benci atas kelebihan orang lain, mengeluh ketika dia mampu, kurang percaya terhadap orang lain, serupa dengan uap tengah hari yang disangka air oleh musafir, padahal cahaya terik, pada zahirnya gembira, padahal hatinya sengsara. Kelak bila umur sudah tiba, janji pun datang, hapuslah bayang-bayangnya. Ketika itu mulailah dia dihisab dan peluang untuk dimaafkan pun kecil." Lalu Abu Bakar menutup pembicaraannya dengan sebuah nasehat yang cukup bijak, "Janganlah benci kepada raja-raja, tetapi kasihanilah mereka."

Keterangan yang disampaikan oleh sahabat yang pertama kali memeluk Islam di atas mengandung peringatan atau kritikan (saran) konstruktif. Terutama bagi penguasa supaya tidak lalai dalam melaksanakan amanah dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Gagal dalam merealisasikan amanahnya, maka kesengsaraan masal akan terjadi.
Muara kesengsaraan ini, tak lain adalah rendahnya moralitas sang pemimpin yang ditandai dengan watak-watak buruk yang sudah mendominasi jiwa dan hatinya, seperti sifat rakus, dengki, angkuh, emosional, prasangka buruk, khianat, berdusta dan lain sebagainya.

Penguasa seperti inilah yang jiwanya sedang dirundung kesengsaraan.

Dalam kondisi jiwa (batin) seperti itu, maka sekurang-kurangnya sang penguasa harus segera membangun enam kekuatan dalam jiwanya.

Pertama: Bertaubat. Yaitu kembali kepada jalan yang benar dengan disertai penyesalan, memohon ampun dan konsisten untuk memperbaiki dirinya.

Kedua: Syaja'ah (keberanian). Yaitu berani menegakan kebenaran dan takut pada kesalahan.
Ketiga: Iffah, yaitu pandai menjaga kehormatan batinnya.
Keempat: Hikmah, yaitu cerdas dalam mengambil rahasia dan pelajaran dari pengalaman hidupnya.
Kelima: Al-Adaalah, yaitu bersikap adil walaupun kepada dirinya.
Keenam: Amanah, yaitu pemimpin yang senantiasa mengedepankan kejujuran dan pantang melakukan kebohongan. Termasuk amanah di sini adalah sungguh-sungguh dalam menunaikan janji-janji yang telah diucapkannya.

Dengan enam kekuatan tersebut, mudah-mudahan kesengsaraan batin sang raja dapat disembuhkan. Sehingga rakyatnya pun merasa lega dan bahagia. Wallahu al-Musta'an






Kebahagiaan Ukhrawi atau Duniawi yang Kita Cari?


“MENGEJAR MIMPI”, atau “mencari kebahagiaan”, begitu kalimat atau perkataan yang sering familiar terdengar selama ini. Ada yang mencari dan mengejar kebahagian dengan cara bekerja keras menumpuk harta, karena pada harta yang berlimpah itulah mereka yakin terdapat kebahagiaan. Ada pula dari mereka yang mengejar kebahagiaan melalui tahta dan kekuasaan. Sehingga beragam cara pun kemudian mereka lakukan untuk memperoleh tahta dan kekuasaan tersebut, dengan anggapan bahwa melalui kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak hal, sehingga kekuasaan kemudian diidentikkan dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup.

Bahkan ada yang lari dari rumah dan menghindar dari ikatan keluarga dengan alasan mencari kebahagiaan dan kebebasan. Serta masih banyak lagi sangkaan-sangkaan lain mengenai kebahagiaan hakiki, yang mana sesungguhnya semua itu hanyalah daya khayali—akal fikir mereka semata tentang kebahagian. Lantas, apa sebenarnya yang disebut dengan bahagia (sa’adah)?

Kebahagiaan dalam Islam

Pembahasan semacam ini menjadi sangat penting, sebab, ungkapan “mencari” atau “mengejar” kebahagiaan menggambarkan kepada kita bahwa kebahagiaan itu seolah-olah tidak menetap dan selalu berubah-ubah. Paham yang sedemikian juga menggambarkan bahwa kebahagiaan yang ingin dialami itu bagaikan sesuatu yang berada di luar dan terpisah dari diri manusia itu sendiri sehingga manusia harus berusaha untuk mendapatkannya.

Yang cukup menarik, banyak yang beralasan, kebahagiaan itu dicari, diperjuangkan dan kemudian dinikmati hasilnya. Inilah yang menyebabkan arti kebahagiaan bagi setiap orang menjadi tidak selalu sama, karena kebahagiaan sering dipersepsikan sebagai ketercapaian atas sesuatu yang diinginkan, kesuksesan atau kesempurnaan.

Mengenai makna kebahagiaan, sebenarnya telah banyak dibahas oleh para ulama dan cerdik-pandai. Sebut saja Prof. Dr Al-Attas, dalam karyanya “The Meaning and Experience of Happiness in Islam” mengemukakan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya tidaklah merujuk pada entitias jasmani manusia, bukan pada jiwa hewani dan badan manusia, dan bukan pula ia suatu keadaan akal-fikir manusia yang akali belaka. Akan tetapi kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang Mutlak, yakni keyakinan kepada Allah ta’ala.

Di sini tampak dengan tegas bahwa Al-Attas menyatakan bahwa kebahagiaan itu bersifat ruhani, artinya tidak jasmani dan duniawi belaka, melainkan kebahagiaan itu hanya dapat dicapai melalui iman. Hal ini sama dengan apa yang disampaikan oleh Al-Kindi. (baca: Ad-Dirasat an-Nafsiyyah ‘inda al-Ulama’ al-muslimin).

Al-Kindi mengemukakan bahwa kebahagiaan sejati bagi manusia bukanlah kenikmatan yang bersifat inderawi ataupun duniawi belaka. Tetapi berupa kenikmatan yang bersifat Ilahiah dan ruhaniah, yang dapat dicapai manusia jika dalam keadaan suci dari noda syahwat serta mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Di samping makna kebahagiaan yang disampaikan oleh Al-Attas dan Al-Kindi di atas, Ibnu Thufail secara lebih tegas lagi mengemukakan pendapatnya mengenai kebahagiaan hakiki tersebut. Ia menyatakan bahwa kebahagiaan terbesar adalah melihat wajib al-wujud, pencipta segala yang ada, yakni Allah Subhanahu Wata’ala, yang kesempurnaan-Nya tidak berakhir, dan keindahan-Nya tidak berujung. Dialah di atas segala kesempurnaan dan keindahan. Semua kesempurnaan dan keindahan di dalam wujud bersumber dari-Nya dan terpancar dari sisi-Nya. (baca: Hayy bin Yaqdzan). Tegasnya, bahwa terdapat pertalian yang sangat erat antara kebahagiaan hakiki dengan iman atau keyakinan seseorang. Sehingga disebutkan dalam rumusan Al-Attas bahwa iman di sini merujuk kepada 'perjanjian azali' yang telah dimaterai oleh manusia dengan penciptanya pada Hari Alastu sebagaimana yang telah diabadikan dalam al-Qur’an, surat al-A’raf, 7:172.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang disampaikan oleh Al-Attas, Al-Kindi maupun Ibnu Thufail mengenai kebahagiaan memiliki makna yang sama, yakni kebahagiaan tidaklah merujuk kepada kenikmatan inderawi atau jasmani manusia yang bersifat duniawi belaka. Akan tetapi kebahagiaan adalah suatu kenikmatan abadi di atas segala kenikmatan duniawi yang diperoleh melalui iman, keyakinan diri akan Hak Allah Ta’ala. Ia juga tidak berubah dalam kalbu manusia. Ia merupakan hakikat spiritual yang kekal, keyakinan pada hal-hal mutlak tentang hakikat alam, identitas diri dan tujuan hidup, yang kesemuanya bermula dari ilmu dan bersumbu pada satu poros yaitu cinta Allah (mahabbah).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar