Selasa, 28 Februari 2012

KONSULTASI SYARIAH

Hukum Memelihara Jin

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum memelihara jin? Kita sering mendengar tentang jin muslim dan jin kafir, lalu jika kita memelihara jin muslim bagaimana? Apa saja dalil yang memperkuat itu?

Jawaban:

Assalamualaikum Wr. Wb. Sejak Nabi Sulaiman AS, maka manusia dilarang untuk meminta bantuan termasuk memelihara jin untuk kepentingannya. Karena meski kelihatannya jin itu mau menuruti kemauan manusia sebagai ‘tuannya’, pada hakekatnya justru manusia itu sendiri yang sedang dijerat oleh jin untuk dibawa ke dalam kesesatan. Memang benar bahwa Insya Allah itu ada yang muslim dan kafir. Tetapi bila ada jin mengaku muslim, tidak otomatis dia adalah muslim yang sholeh. Perhtaikan firman Allah: “Dan sesungguhnya diantara kami ada yang saleh dan diantara kami ada yang tidak demikian halnya, adalah kami menempuh jalan yang berbeda.” (QS. Al-Jinn: 11) Apabila jin itu muslim, maka dia tidak pernah diperintah oleh Allah untuk ‘mengabdi’ kepada manusia. Karena jin adalah makhluk yang mukallaf, mereka wajib beriman kepada Allah serta beribadah seusai dengan syariat Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Rasulullah SAW sendiri sebagai Nabi bagi mereka juga, tidak pernah memanfaatkan ‘fasilitas’ muridnya dari bangsa jin demi membela perjuangan umat Islam.

Pada setiap jihad yang beliau lakukan, tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau meminta para jin untuk berpartisipasi. Karena para jin sudah punya tugas dan alam sendiri. Dan apabila jin itu kafir, tentu saja mereka punya kepentingan tertentu dengan berpura-pura mau dipelihara oleh manusia, padahal manusia itulah yang sedang ‘digarap’ oleh para jin. Dalam proses itu, bisa saja para jin itu berakting seolah-olah mereka taat, tunduk dan patuh. Padahal mereka telah menyiapkan rencana dan langkah-langkah licik untuk menyeret ‘tuannya’ ke dalam kesesatan. Karena itu, umumnya para ulama tidak membolehkan manusia untuk memelihara jin baik muslim atau kafir. Yang boleh adalah berdakwah dan menyampaikan risalah Islam, karena mereka wajib untuk belajar agama Islam. Sehingga bila ada kelompok jin tertentu meminta waktu untuk belajar Al-quran dan ajaran Islam, tidak boleh menolak. Tetapi bila mereka bilang bahwa mereka bersedia membantu dan memberi apa yang diminta, ini perlu dicurigai. Karena tawaran bantuan dan sebagainya akan mengikat manusia untuk selanjutnya dijadikan objek misi mereka.

Dalam hal ini harus diketahui bahwa buat para jin, bersandiwara dan berpura-pura menjadi muslim yang sholeh dan taat bukanlah pekerjaan hal yang asing, bahkan telah menjadi profesi sehari-hari. Mengenai beragamnya metode pendekatan yang mereka lakukan untuk menyesatkan manusia, Allah berfirman: “Iblis menjawab: Karena Engkau menghukum saya tersesat, saya akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati mereka bersyukur (ta’at)” (QS. Al-A’raf: 16-17) Karena itu wajib bagi manusia untuk menghidarkan diri dari tipu daya para jin ini. Ada juga hadits berbunyi sbb: “Telah berkata Shafiyah (isteri Nabi): Pernah Rasulullah saw sedang i’tikaf, lalu aku datang pada suatu malam mengunjunginya dan berbicara kepadanya, kemudian aku bangun hendak pulang, Rasul pun bangun dan mengantarku, tiba-tiba ada dua orang laki-laki dari golongan Anshar lewat dihadapan kami, tatkala keduanya melihat kami cepat-cepat mereka berlalu dari hadapan kami, maka Rasul saw menegurnya; Berlambat-lambatlah, ia adalah Shafiyyah bin Huyay, istriku. Keduanya menjawab: Maha suci Allah wahai Rasulullah saw. Kemudian Nabi bersabda: Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia sebagaimana mengalirnya darah, maka aku khawatir bahwa setan akan melontarkan sesuatu ke dalam hati kalian berdua (kejahatan). (HR. Bukhri dan Muslim)

Wallahu a‘lam bis-shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.






Menghadapi Teman Yang Murtad


Assalamu‘alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Saya punya sahabat baik namanya Amirul. Tapi baru kemarin dia bilang sama saya bahwa dia mau masuk kristen. Katanya dia pernah baca bahwa Nabi Muhammad pernah berkata di Hadits Shabih Bukhari no 162 [Dari Anas r.a katanya: “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. “Ya, Rasulullah! Dimana tempat bapakku?” Jawab Nabi saw. “Di neraka!” Ketika orang itu berlalu, Nabi saw memanggilnya kembali seraya bersabda, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka]” Trus dia pernah juga baca bahwa Nabi bilang umat terdahulu [Yahudi dan Nasrani] akan diberi tempat oleh Allah di surga. Maka karena itu dia bilang bahwa dia berpindah ke kristen. Apa memang benar begitu, bahwa semua orang islam akan ke neraka dan orang kristen akan surga? Lalu saya sebagai sahabatnya harus berbuat apa? Saya pernah baca bahwa saya harus membunuh orang yang berpindah agama dari islam ke kristen. Apa memang saya harus membunuh dia?

Jawaban

Assalamualikum wr. wb. Alasan yang dikemukakan teman anda untuk masuk kristen itu terlalu sederhana dan sangat tidak masuk akal. Entah apakah karena pemahaman keislamannya rendah atau sengaja memancing anda dengan lemparan masalah yang menggelitik. Hal seperti itu seringkali dilakukan oleh mereka untuk memanfaatkan keawaman umat Islam sendiri. Namun bila motifasinya karena semata-mata karena keawamannya, maka anda wajib menjelaskan kepadanya bahwa bukan demikian pengertian hadits itu. Bila dikatakan bahwa orang tua beliau di neraka, hal itu karena mereka memang belum beriman pada risalah Rasulullah SAW dan belum mengucapkan dua kalimat syahadat. Padahal syarat masuk surga paling tidak harus ada pengakuan dan syahadat.

Lalu bagaimana teman anda itu sampai pada kesimpulan bahwa semua orang Islam masuk neraka? Dan dari mana pula dia mendapat kepastian bahwa orang kristen dan yahudi masuk surga? Bukankah bunyi hadits itu Cuma menyebutkan orang tua yang belum masuk islam yang masuk neraka? Berkaitan dengan hukum orang murtad, memang dalam tatanan syariat Islam yang telah berjalan secara formal, diancam dengan dibunuh. Namun masalahnya tidak sesederhana yang anda kira. Paling tidak harus jelas dulu beberapa hal:

1.Apakah syariat Islam di masyarakat dimana anda tinggal telah berjalan secara formal dan diakui/berdaulat secara resmi? Bila belum ada, maka hukuman seperti itu tidak bisa dilakukan secara perorangan atau atas nama lembaga, jamaah atau organisasi. Minimal harus berbentuk negara (atau negara bagian) yang secara formal mempraktekkan syariat Islam. Dan bila memang sudah ada, maka yang melakukan pun bukan orang per orang tetapi pemerintah, dalam hal ini mahkamah (pengadilan Islam).

2.Orang tersebut harus dikonfirmasi atas niatnya itu, apakah dia serius murtad atau hanya ‘jail’ nakal dan bodoh. Bila dia serius, maka pengadilan syariat Islam wajib meminta pertanyaannya secara resmi atas kemurtadannya. Bila dia bersedia barulah eksekusi bisa dilakukan secar formal.

Wallahu a‘lam bis-Shawab. Wassalamualaikum wr. wb.





Syahid Karena Melahirkan

Assalamualaikum, saya ingin bertanya..mengenai hadits yang menyatakan ttg wanita yg meninggal ketika melahirkan masuk syurga?

1. apakah hadits tersebut shahih?

2. Apakah setiap wanita yang meninggal ketika melahirkan itu masuk syurga? tanpa melihat bagaimana latar belakang kehidupan/pekerjaannya/amalannya selama didunia? Mohon penjelasannya, terima kasih.

Assalamu alaikum wr.wb.

Ubadah ibn Shamit ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bertanya, "Siapa yang kalian anggap sebagai syahid?" Mereka menjawab, "Yang berperang hingga terbunuh di jalan Allah Swt." Mendengar jawaban tersebut beliau bersabda, "Kalau begitu orang yang syahid di antara umatku sedikit. Namun, orang yang terbunuh di jalan Allah syahid, orang yang mati karena penyakit di perut syahid, orang yang kena wabah penyakit syahid, wanita yang meninggal dunia sementara dalam perutnya terdapat janin juga syahid (entah sebelum atau sesudah melahirkan)." (HR Imam Ahmad, Ibn Majah, dan Ibn Hibban).

Berdasarkan hadits di atas para ulama menegaskan bahwa wanita yang meninggal dunia karena melahirkan juga termasuk syahid; meskipun maksudnya adalah syahid akhirat yang berbeda dengan syahid dunia (mati karena berperang di jalan Allah) dilihat dari sisi perlakuan terhadapnya. Orang yang syahid akhirat seperti karena kena wabah, tenggelam, melahirkan dst tetap dimandikan, dikafani, dan disalatkan.

Hanya saja untuk mendapatkan pahala syahid terdapat sejumlah syarat. as-Subki menegaskan saat ditanya tentang mati syahid dan hakikatnya, "Ia adalah kondisi mulia yang didapat hamba saat mati. Namun ia memiliki sebab dan syarat." Di antara syaratnya adalah bersabar dan mengharap ganjaran Allah atas penderitaan yang dialami.

Rasul saw menegaskan bahwa orang yang mati syahid akan mendapatkan ampunan, akan melihat tempatnya di sorga, terlindung dari siksa kubur, aman dari huru-hara kiamat, diberi mahkota permata yang lebih baik dari dunia dan seisinya, dinikahkan dengan 72 bidadari, bisa memberi syafaat kepada 70 keluarga dekatnya.

Dengan demikian, orang yang mati syahid mendapat kedudukan terhormat di dunia dan akhirat. Namun itu bukan berarti mereka terlepas dari hisab sama sekali. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, "Orang yang mati syahid diampuni semua dosanya kecuali hutang."

Artinya, ia tetap mendapat hisab; terutama kaitannya dengan perbuatan yang dilakukan kepada manusia. Akan tetapi, hisab yang mereka dapatkan adalah hisab yang ringan. Begitu yang disampaikan oleh para ulama.

Wallahu a'lam bish-shawab.





Keberadaan 'ALIEN' Dalam Islam

Pertanyaan

Asalamualaikum Ustaz. Banyak sekali fenomena "makhluq asing", "alien", "UFO", yang diekspos baik oleh media maupun referensi fiksi ilmiah, namun kita harus tetap mengembalikannya kepada AlQur‘an. Oleh karena itu, guna menjaga aqidah dari kemusyrikan, dapatkah Ustadz memberikan penjelasan, fatwa, dan sejenisnya? Terima kasih

Jawaban:

Assalamualaikum Wr. Wb. Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Mencipta. Makhluknya tak terhingga banyaknya. Sebagian dari makhkuk itu ada yang kita kenal dan ketahui, tapi begitu banyak jenis makhluk Allah lainnya yang kita tidak kenal dan tidak kita ketahui. Apalagi bila bicara tentang alam ghaib, maka lingkup pembicaraan kita semakin luas lagi. Allah memang mewajibkan kita untuk percaya atas keberadaan makhluq ghaib sebegaimana disebutkan di dalam surat Al-Baqarah ayat 2-4. Tentu saja bila dikaitkan dengan makhluk ghaib yang jenisnya pun beragam, adanya makhluq asing di ‘langit’ (baca: diluar bumi) menjadi sesuatu yang bukan mustahil. Tapi bila alien yang dimaksud adalah makhluq biologis yang cerdas, secara ekslpisit Al-Quran memang tidak menyebutkannya. Meski tidak berarti tidak ada isyarat ke arah itu sama sekali.

Ada beberapa riwayat yang bersifat implisit dan tidak langsung tentang adanya makhluq hidup (manusia atau lainnya) di luar bumi. Pertama, ketika Rasulullah SAW mi‘raj ke langit, beliau pun bertemu dengan para nabi dan rasul sebelumnya. Bahkan mereka melakukan shalat berjamaah dan beliau menjadi imamnya. Ada juga riwayat yang shahih bahwa Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS dan melakukan dialog tentang kewajiban shalat. Yang kedua, hadits-hadits shahih memberitakan kepada kita bahwa Nabi Isa AS pada akhir zaman akan ‘turun’ kembali ke muka bumi. Beliau ini bukan dari jenis jin atau malaikat, tetapi beliau adalah manusia (human). Atas izin dan kehendak Allah, beliau tetap ada meski bukan di bumi. Ketiga, para syuhada yang mati mati syahid banyak disebutkan dalam Al-Quran bahwa mereka tidak mati, bahkan mereka hidup dan mendapat rezeki. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imron: 169) Keempat, Al-Quran pun mengisyaratkan kepada manusia dan jin untuk menembus langit dan bumi. Hai jama‘ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. Ar-Rahman: 33)

Apakah dahulu sudah ada manusia atau jin yang telah berhasil melakukannya? Wallahu a‘lam bis-shawab. Tapi yang jelas ada indikasi tentang kehidupan di luar sana. Sehingga bila kita telurusi hal-hal yang sifatnya implisit seperti itu, tidak tertutup kemungkinan adanya makhluk biologis, siapa pun dia, yang hidup out there. Tapi semua itu tidak bisa dijadikan patokan bahwa Islam memastikan adanya alien seperti yang sering kita lihat dalam cerita fiksi ilmiyah.

Wallahu a‘lam bis-shawab. Walaikumsalam Wr. Wb.





Tauhid Asma wa Shifat Dan Mulkiyah

Pertanyaan:

Assalaamu‘alaikum wr wb, Asaatidz yang dirohmati Allah, Saya pernah mendengar tentang 2 versi tauhid. Ada tauhid rububiyah, tauhid uluhiyyah. Tapi yang ketiga ada yang mengatakan tauhid mulkiyah, bersumber dari Al-Qur‘an surat An-Naas. Dan ada juga tauhid asma wa shifaat. Tentang ini bagaimana penjelasannya? Apa sumbernya? Bukankah di zaman Rosulullah tidak ada keterangan pembagian seperti ini? Wassalam

Jawaban:

Assalamualaikum Wr. Wb. Ilmu tauhid di dalam sejarah Islam mengalami kodifikasi sesuai dengan kebutuhan waktunya. Para ulama ilmu tauhid telah membuat kajian yang mendalam dan membuat pembahasan untuk bisa dengan mudah dicerna orang. Memang dimasa Rasulullah SAW belum lagi dikenal pengistilahan seperti itu. Karena saat itu ilmu tauhid belum lagi menjadi suatu cabang ilmu tersendiri. Pembagian tauhid rububiyah dan uluhiyah baru dilakukan kemudian setelah terjadinya klasifikasi cabang-cabang ilmu dalam Islam. Para ulama telah menyusun cabang ilmu tauhid atau yang juga sering dikenal dengan ilmu kalam. Esensinya tetap, hanya saja sistematika dan pengistilahannya berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Tauhid asma wa sifat berkembang pesat saat terjadinya debat panjang tentang masalah konsep ketuhanan. Umat islam harus berhadapan dengan konsep filsafat ketuhanan barat yang cenderung materialis dan semata-mata menggunakan logika. Lalu para ulama mencoba memformulasikan bagaimana konsep ketuhahanan dalam Islam.

Konsep tauhid ini harus berhadapan dengan teori emanasi dan beragam teori theologi lainnya. Di masa sekarang ini, nampaknya perdebatan dibidang itu sudah tidak terlalu intensif lagi. Yang justru sekarang bergolak adalah konsep Hakimiyatullah. Dimana sebagai tuhan, Allah itu bukan hanya sekedar disembah, tetapi juga menjadi pembuat hukum sekaligus sumber hukum itu sendiri. Sehingga tauhid itu belum lengkap kalau orang hanya sekedar bicara tentang konsep Allah dari sudut bahwa Dia adalah Pencipta dan Pemelihara (Rububiyah), atau sekedar bahwa Dia adalah Yang Wajib Disembah (uluhiyah), tetapi harus sampai pada i‘tiqad bahwa Dia adalah Malik (raja) dan Hakim (pembuat hukum). Sehingga tauhid seseroang belum sempurna sebelum mengakui bahwa Allah adalah sumber hukum satu-satunya dalam hidup. Dan bahwa seseorang tidak dikatakan beriman sebelum dia bertahkim dengan hukum Allah itu.

Pengertian dan esensi tauhid mulkiyah telah berjalan di masa Rasulullah SAW hidup. Hanya saja secara sistematika dan pengistilahan, belum lagi digunakan istilah muliyatullah. Tapi esensinya benar dan jelas, bahwa Rasulullah SAW hidup menjadi nabi selama 23 tahun adalah untuk mendemonstrasikan bagaimana menjalankan hukum Allah itu dalam praktek sehari-hari. Dan pengingkaran atas hukum Allah itu pada hakikatnya adalah kekufuran. Kufur bukan hanya karena tidak mengakui Allah sebagai Pencipta dan Tuhan Yang Disembah, tetapi kufur bisa terjadi karena mengingkari sifat Allah sebagai Malik (Raja) yang paling berhak mengatur kehidupan manusia dan sebagai Hakim (sumber hukum) dan pembuat undang-undang.

Jadi kesimpulannya, bertauhid itu harus mencakup tauhid rububiyah, uluhiyah, asma‘ wa sifat dan tentu saja tauhid mulkiyah. Kesemuanya merupakan sistematika yang esensinya diakui oleh seluruh umat Islam dan telah berjalan di zaman Rasulullah SAW hingga hari ini dan sampai hari kiamat. Dari segi esensi, semuanya bukan sesuatu yang baru, kecuali sekedar pengistilahan.

Wallahu a‘lam bishshowab. Wassalamualaikum Wr. Wb.





Tawashul Dan Iman Kepada Hal Ghaib

Assalamualikum. Wr. Wb. BAgaimana hukumnya berdoa dengan tawassul? Dan bagaimana cara kita beriman pada hal ghaib? Terima kasih, Wassalam. Wr. Wb

Jawaban:

Assalamualaikum Wr. Wb. Tawassul adalah perantara. Maksudnya adalah perantaraan dalam beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan kita untuk bertawassul dalam beribadah. Firman Allah SWT: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah: 35 ) Para ulama ahli sunnah sepakat bahwa wasilah atau sarana yang bisa dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak lain adalah amal shaleh. Dan bukan merupakan sosok seseorang apalagi orang itu sudah mati. Karena orang yang sudah mati tidak akan bisa membantu mendekatkan siapa pun kepada Allah. Bahkan untuk dirinya sendiripun dia masih harus mempertanggung-jawabkan semua amalnya dihadapan Allah.

Islam tidak mengenal sosok orang yang menjadi perantara antara seorang hamba dengan Tuhannya. Allah sendiri sudah memerintahkan setiap manusia apabila menginginkan sesuatu dari-Nya, maka mintalah langsung kepada-Nya, bukan melalui siapapun selain dari Allah. Karena Allah itu sangat dekat kepada hamba-Nya. Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo‘a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186) Karena itu bila kita mempunyai hajat, maka mintalah kepada Allah. Boleh menggunakan wasilah atau perantaraan yang berupa amal baik/shaleh. Seperti bersedekah, memberi makan anak yatim, menolong fakir miskin, membebaskan budak, melunasi orang yang terjerat hutang dan amal-amal shaleh lainnya. Amal shaleh yang ikhlas itu akan menjadi ‘perantara’ dikabulkannya hajat seseorang. Bukan dengan melalui arwah orang yang sudah mati atau kepada roh-roh tokoh-tokoh tertentu. Karena mereka itu tidak mampu menunaikan permintaan orang yang masih hidup. Bahkan perbuatan ini bisa membawa pelakunya ke dalam kemusyrikan.

Iman kepada yang Ghaib Allah menyebutkan bahwa diantara ciri orang yang bertaqwa adalah percaya adanya alam ghaib. Allah berfirman: Kitab (Al Qur‘an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur‘an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Al-Baqarah: 2-4). Bantuk percaya kepada alam ghaib bukan berarti boleh meminta-minta kepada makhluq halus, jin, syetan, iblis dan sebagainya. Ini pengertian percaya yang keliru. Percaya disini meyakini keberadaan dan eksistensi alam dan makhluq ghaib, termasuk surga, neraka, malaikat, alam kubur, alam barzakh, padang mahsyar dan seterusnya.

Inti dari kepercayaan kepada semua itu tidak lain bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk mati dan masuk ke alam ghaib itu serta mempertanggung-jawabkan semua amal kita di dunia. Sedangkan percaya pada adanya syetan dan iblis tidak lain tujuannya agar kita selalu minta perlindungan kepada Allah dari semua godaan makhluq-makhluq laknat itu. Serta selalu menjauhi bisikan mereka serta ajakan dan rayuannya. Kita percaya bahwa kita sebagai manusia, mudah diperdaya oleh makhluk itu. Karena itu kita wajib membentengi diri dan keluarga kita dari ‘serangan’ syetan dan iblis sesuai dengan petunjuk yang telah Rasulullah SAW ajarkan kepada kita. Dan percaya pada adanya malaikat tidak lainnya tujuannya adalah agar kita selalu merasa diawasi gerak gerik dan perilaku kita setiap saat. Bahwa para malaikat itu tidak pernah luput dari pengawasan serta selalu mencatat record potisif dan negatif sepanjang hayat kita. Bahwa para malaikat itu ada yang akan membantu orang-orang yang berjuang di jalan Allah, ada yang bertugas mencabut nyawa dan lain-lainnya.

Wallahu a‘lam bishshowab. Wassalamuallaikum Wr. Wb





Habib Atau Keturunan Nabi

Assalamu‘alaikum. Wr. Wb. Siapakah saja yang bisa disebut habib atau keturunan nabi? Apakah mereka dijamin masuk surge? dan bagaimana cara penghormatan pada mereka. Mohon dijelaskan terima kasih Wassalamu‘alaikum. Wr. Wb.

Jawaban:

Assalamualaikum Wr. Wb. Habib sering dijadikan istilah buat mereka yang mengaku memiliki garis keturunan dari Rasulullah SAW. Secara etnis, sebenarnya mereka memang umumnya keturunan arab yang berasal dari daerah Yaman. Di Yaman ada banyak nama tempat dan wilayah, salah satunya disebut Hadhramaut. Orang-orang keturunan arab ini sering juga disebut dengan hadhrami, dinisbahkan kepada negeri asal mereka. Biasanya mereka memiliki nama marga/keluarga yang merupakan nama dari datuk mereka. Nama-nama marga ini cukup banyak di Indonesia dan juga tersebar di banyak negara. Banyak dari mereka yang memang benar-benar menjadi sosok ulama dan ahli ilmu agama. Dari kelompok ini, umat Islam di Indonesia memang banyak yang mempelajari ilmu-ilmu agama. Namun tidak semua dari mereka menjadi ulama, banyak pula yang menjadi pedagang, pengusaha dan beragam profesi lainnya. Dan sebagai bagian dari kelompok masyarakat, tidak tertutup kemungkinan dari mereka melakukan hal-hal yang juga dilakukan oleh kebanyakan masyarakat lainnya.

Tidak ada jaminan baik dari Al-quran atau pun sunnah bahwa mereka kebal dosa atau dijamin masuk surga. Yang shaleh dari mereka akan mendapatkan ganjaran dan yang berdosa dan berbuat maksiat akan mendapatkan dosa dan siksa dari Allah. Bahkan bila mereka melakukan pelanggaran, sebagai ‘keturunan’ nabi, mereka punya beban yang lebih, dimana pasti akan membuat malu keluarga dan nama Rasulullah SAW sendiri. Mengenai kepastian apakah mereka benar-benar keturunan nabi, kita tidak bisa mengatakan salah atau benar. Karena biasanya dalam keluarga mereka memang sering tercatata silsilah mereka yang bila terus ditelurusi sampai kakek yang kesekian, akan sampai nasabnya kepada Rasulullah SAW. Namun semua itu di sisi Allah tidak lantas menjadi dasar untuk menjadikan mereka memiliki semacam ‘fasilitas’ atau ‘keringanan’ dalam hukum dan syariat. Selain dari kelompok mereka, ada juga kelompok lain dalam umat Islam yang sering juga mengaku sebagai keturunan Rasulullah SAW. Misalnya orang-orang syiah di Iran.

Menghormati para habaib sama seperti kita menghormati semua umat Islam lainnya. Karena di sisi Allah semua manusia itu akhirnya hanya dibedakan dari taqwa atau tidaknya. Bukan semata-mata dari darah dan keturunannya. Bila habib itu merupakan sosok ulama yang sarat dengan ilmu dan ajaran Islam, kita menghormatinya karena ilmunya, bukan karena darahnya. Orang yang berilmu dalam masyarakat Islam memang memiliki keutamaan bahkan melebihi dari keutamaan para pejabat maupun orang-orang kaya sekalipun. Tapi sebagai orang yang berilmu tinggi, maka perilaku dan akhlaqnya pastilah mencerminkan ketinggian ilmunya. Makin berilmu biasanya makin tawadhdhu‘, makin sholeh, makin menyayangi sesama, makin tenggang rasa, makin banyak amal dan shadaqahnya, makin besar rasa malunya, makin tidak serakah dan makin manusiawi. Sehingga orang-orang semakin respek dan makin tinggi penghormatannya.

Sebaliknya, bila tidak seperti itu, biasanya ilmunya pun tidak sebesar penampilannya. Bukan tidak mungkin ada satu dua kasus dimana mereka menjadikan ‘darah biru’nya hanya dijadikan sekedar komoditas.

Wallahu a‘lam bishshowab. Wassalamualikum Wr. Wb.





Kenapa Para Nabi Berasal Dari Timur Tengah?

Pertanyaan:

Pada sebuah kesempatan, saya ditanyakan oleh seorang teman, kenapa para Rasul itu diutus di timur-tengah? Dan kemudian pada saat yang lain teman saya yang aktif dalam pergerakan berideologi "Marxisme" menyatakan bahwa diutusnya para Rasul di timur-tengah itu berarti Tuhan itu hanya rekaan orang-orang di Timur-tengah saja.TerimaKasih atas jawaban yang ustadz berikan.

Jawaban:

Assalamualikum Wr. Wb. Nabi yang diutus ke muka bumi itu sangat banyak jumlahnya. Hanya sebagian dari para nabi itu yang sampai sekarang ini kita ketahui riwayatnya. Dalam Al-Quran hanya sekitar 25 orang nabi dan dalam hadits nabi serta kitab-kitab tafsir kita dapati lebih banyak lagi. Namun tentu saja nabi yang kita kenal itu jumlahnya sangat sedikit dibandingkan mereka yang tidak kita kenal. Yang jelas, Al-Quran menyatakan bahwa Allah pasti mengutus nabi kepada setiap umat manusia. Tidak akan Allah membiarkan mereka hidup tanpa adanya tuntunan dari langit. Bila selama ini yang kita kenal kebanyakan para nabi hanya ada di timur tengah, duduk persoalannya harus dijelaskan dulu.

Pertama, Ada kemungkinan bagian sejarah manusia yang hilang. Di benua lain dimana sekarang kita temukan adanya sisa peradaban kuno, baik di benua Amerika, Australia, Afrika dan lainnya, tidak kita temukan peninggalan dalam bentuk tulisan dan riwayat yang lengkap atau dalam bentuk kitab suci. Karena itu wajar bila sejarah tidak mengatakan bahwa ada nabi yang telah diutus disana.

Kedua, Selain itu kemungkinan kedua, adanya kebiasaan manusia yang menyeleweng dari ajaran para nabi sepeninggal mereka. Hal ini bisa kita lihat dalam sejarah dimana para nabi dan orang sholeh yang mengajarkan agama pada akhirnya malah disembah dan dijadikan dewa serta kehidupan yang penuh dengan mitos oleh para genrasi penerusnya. Mereka sendiri yang kemudian merubah sejarah dan menghiangkan bukti-bukti adanya kenabian sebelumnya.

Ketiga, Ada kemungkinan bahwa memang peradaban manusia di luar timur tengah belum ada sebelum para nabi diutus.

Wallahu a‘lam bis-shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.





Pengobatan Syirik atau tidak?

Assalamualaikum wr.wb.

Pak ustadz yang saya hormati, kemarin saya mengantar teman saya keseorang tukang urut, tapi menurut orang-orang dia itu orang yang bisa mengetahui seseorang itu kesurupan atau menderita penyakit apapun, dia melihat anak teman saya lalu dia membaca seperti mantra dengan diawali basmallah tapi setelah itu yg dibaca bkn ayat al-qur'an tp salah satu'y dia menyebut "Eyang Puntren" dengan bantuan segelas air dia jg meminta rokok. yang membingungkan saya kenapa al-fateha disambung dengan mantra yg asing didengar. pertanyaan saya apakah itu termasuk syirik, jika kita berobat kesana apa kita jg termasuk syirik, sedangkan tukang urut itu adalah seorang ibu hajah, tapi memang benar orang yang berobat kesana dapat sembuh. Pak ustadz mohon jawabannya, terima kasih. Wassallamualaikum wr.wb

Jawaban

Assalamu alaikum wr.wb.

Pada masa sekarang ini memang banyak cara dan metode pengobatan. Di antara sekian banyak metode pengobatan tersebut ada yang sesuai dengan syariat dan banyak pula yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Pengobatan oleh dukun, orang pintar, paranormal, dst adalah contoh dari pengobatan yang seringkali keluar dari syariat. Kesembuhan bukan merupakan tolak ukur dan standar untuk menilai apakah ia sesuai syariat atau tidak. Sebab bisa jadi Allah memberikan kesembuhan meski caranya tidak sesuai. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara penyembuhannya.

Membaca surat al-Fatihah pada dasarnya baik dan bagus. Ia juga pernah menjadi media pengobatan yang dilakukan oleh sahabat di masa Rasulullah saw. Metode pengobatan dengan membaca bacaan tertentu semacam itu disebut dengan istilah ruqyah atau jampi.

Nah dalam Islam pada dasarnya praktek ruqyah diperbolehkan. Namun ia harus sesuai dengan batasan yang ditentukan. Jika tidak maka termasuk ruqyah yang terlarang dan bertentangan dengan syariah. Di antara batasan ruqyah syar'iyyah (yang diperbolehkan) adalah:

Bacaan ruqyah berupa ayat-ayat al-Qur'an dan do’a atau wirid dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
Do'a yang dibacakan jelas dan diketahui maknanya.
Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, tetapi dengan takdir Allah SWT.
Tidak isti'anah (minta tolong) kepada jin (atau yang lainnya selain Allah).
Tidak menggunakan benda-benda yang menimbulkan syubhat dan syirik.
Cara pengobatan harus sesuai dengan nilai-nilai Syari'ah, khususnya dalam penanganan pasien lawan jenis.
Orang yang melakukan terapi harus memiliki kebersihan aqidah, akhlak yang terpuji dan istiqomah dalam ibadah.
Tidak minta diruqyah kecuali terpaksa. Sehingga ruqyah yang tidak sesuai dengan dhawabit atau kriteria di atas dapat dikatakan sebagai ruqyah yang tidak sesuai dengan Syari’ah.

Di bawah ini beberapa contoh ruqyah dan pengobatan yang tidak sesuai Syariah:

Memenuhi permintaan jin.
Ruqyah yang dibacakan oleh tukang sihir.
Bersandar hanya pada ruqyah, bukan pada Allah.
Mencampuradukan ayat-ayat Al-Qur’an dengan bacaan lain yang tidak diketahui artinya.
Meminta bantuan jin
Bersumpah kepada jin
Ruqyah dengan menggunakan sesajen
Ruqyah dengan menggunakan alat yang dapat mengarah kepada syirik dan bid’ah
Memenjarakan jin dan menyiksanya

Dengan melihat kriteria di atas, maka pengobatan yang Anda maksudkan di atas lebih mengarah kepada pengobatan yang dilarang. Karena itu, hendaknya dihindari. Juga kepada teman Anda hendaknya diberi nasihat agar tidak datang ke tempat pengobatan yang semacam itu.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb





Pengobatan Ghaib Oleh Orang Kafir

Pertanyaan:

Assalamualaikoem Wr. Wb. Ustadz saya sudah posting 2 kali sebelumnya namun blum dapat tanggapan juga. Saya bermaksud menanyakan penjelasan mengenai cara cara pengobatan umat nasrani yang bisa menyembuhkan lumpuh buta dan tuli dan lain-lain hanya dengan mendoakan atau pun malah menyanyi di panggung. Wassalamu alaikoem.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Penyakit dan kesembuhan itu datangnya dari Allah. Allah yang mendatangkan penyakit dan Dia pula yang menyembuhkan. Dalam menghadapi penyakit, Allah pun telah membuat ketentuan yang telah digariskan. Termasuk pula bagaimana sikap terhadap penyakit itu sendiri. Setiap penyakit pasti ada obatnya kecuali tua dan kematian. Dan diantara obat dan metode pengobatannya, ada yang dibolehkan hukumnya, ada yang disunnahkan pengunaannya, ada yang dimakruhkan dan ada pula yang diharamkan. Diantara yang dihalalkan adalah pengobatan dengan cara medis (kedokteran modern) yang semata-mata berdasarkan sebuah analisa dan kebenaran ilmiyah yang telah teruji secara klinis. Selain itu juga ada pengobatan dengan ruqiyah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dahulu. Meski tidak teruji secara ilmiyah dan klinis, namun pengobatan ini bersumber dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan secara shahih dalam sumber huukm Islam.

Karena itu kita tidak punya pilihan kecuali menerima hal itu meski tidak bisa dibuktikan secara fisika. Namun kenyataannya pengobatan dengan rukiyah itu manjur dan dibenarkan secara syar‘i. Diantara yang diharamkan dalam pengobatan adalah menggunakan sihir dan kekuatan ghaib baik dari jin, syetan atau sebangsanya. Dan kasus orang yang tidak beriman kepada Allah namun bisa mendapatkan semacam keajaiban dan hal-hal yang diluar kemampuan akal manusia, sangat dekat sekali dengan bantuan makhluq halus itu. Seolah-olah orang itu bisa menyembuhkan dan merupakan mukjizat, padahal ada makhluq halus yang ikut menipu orang dengan kemampuan ghaibnya. Makhluk itu dengan kemampuannya bisa saja menyembuhkan penyakit dan juga bisa saja memasukkan penyakit. Meski apa yang mereka lakukan itu dimurkai Allah, namun atas kehendak dan izin-Nya juga, makhluq itu bisa mencelakakan dan juga menyembuhkan. ‘Kelebihan’ ini kemudian dimanfaatkan oleh syetan untuk menipu masyarakat agar percaya bahwa orang tersebut sakti, punya ilmu atau juga bisa untuk menumbuhkan sugesti agar orang-orang murtad dari Islam dan masuk agama para misionaris itu.

Semua itu jelas tipu daya dan kolaborasi antara syetan sebagai makhluk ghaib di satu sisi dengan orang-orang kafir disisi lain. Tapi kenapa bisa sembuh, padahal dia kafir dan syetan itu musuh Allah? Bisa saja karena Allah telah menciptakan syetan dengan segala kemampuannya termasuk membuat sakit dan menyembuhkan. Namun bila dikembalikan lagi kepada hakikatnya, maka yang sesunguhnya Maha Menyembuhkan adalah Allah.

Wallahu a‘lam bis-shawab. Waassalamu ‘alaikum Wr. Wb.





Tauhid Mulkiyah

Pertanyaan:

Assalamu‘alaikum wr. wb. Ustadz, saya mau tanya, apakah tauhid mulkiyah itu bersumber dari Quran dan sunnah? Yang mana apabila seseorang tidak berhukum pada hukum Allah maka orang tersebut tergolong musyrik? Sehingga saat ini belum ada muslim yang bertauhid secara benar, karena telah runtuhnya kekhilafahan, dan menyebabkan diaturnya muslim oleh hukum yang bukan hukum Allah?

Jawaban:

Assalamualaikum Wr. Wb. Tauhid mulkiyah merupakan bagian dari visi ketauhidan seorang muslim. Namun impelmentasinya tentu tidak sederhana. Tidak berati setiap orang yang tidak berhukum pada hukum Allah lantas menjadi kafir dengan sendirinya. Bagaimana dengan mereka yang memang ditakdirkan lahir di negeri yang tidak menjalankan hukum Allah? Bahkan lebih ekstrem lagi, dimana hari ini ada negeri yang menerapkan hukum Allah? Tauhid Mulkiyah tidak mengkafirkan orang yang kebetulan menjadi penduduk di negeri yang tidak menjalankan hukum Allah. Karena mereka bukanlah penguasa yang punya tanggung-jawab untuk menerapkan hukum Allah sebagai undang-undang positif yang berlaku.

Tauhid mulikyah menuntut umat Islam dengan segala kemampunan dan wewenangnya untuk mengakui Allah sebagai hakim (pembuat hukum dan sumber). Paling tidak ini harus menjadi i‘tiqad yang menghujam di dalam hati. Dan secara lisan kita harus mengakui bahwa hanya hukum Allah-lah yang benar dan harus diikuti sebagai seorang muslim. Seseorang menjadi tidak benar i‘tiqadnya secara mulkiyah bila secara terang-terangan tidak mengakui kebenaran hukum Islam, menolaknya atau membencinya. Namun untuk menggolangkan mereka secara langsung sebagai musyrikin, tentu tidak sederhana itu. Karena, sebuah tuduhan harus di dasarkan pada kekuatan hukum dan bukti-bukti yang kuat. Tidak bisa dengan mudah menuduh seseroang atau menjatuhkan vonis sebagai musyrik kepada sembarang orang.

Wallahu a‘lam bis-shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.





Meminta Bantuan Karena Guna-guna

Pertanyaan:

Bolehkah kita meminta bantuan seseorang yang mengerti tentang jin, karena ada anggota keluarga yang terkena ilmu guna-guna agar mencintai si pengguna-guna?

Jawaban:

Assalamualaikum Wr. Wb. Secara syariah, keberadaan jin yang mengganggu manusia itu diakui. Namun cara untuk mengatasinya harus sesuai dengan syariat juga. Tidak boleh dengan cara-cara yang melanggar aqidah dan sunnah yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW. Dalam Islam dikenal ‘RUQIYAH’, yaitu upaya untuk mengusir jin dan segala macam gangguannya dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran Al-Kariem. Bagi jin yang mengganggu dan jahat, bacaan Al-Quran –terutama pada ayat tertentu- yang dibaca dengan baik dan benar oleh orang yang shalil dan bersih imannya, akan sangat ditakuti. Mereka akan merasakan panas yang membakar dan pergi.

Karena itu bila orang yang mengerti tentang jin itu benar-benar menggunakan Ruqyah seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW secara benar, maka memang seharusnya dilakukan. Tetapi bila orang itu menggunakan cara-cara yang menyimpang, apalagi dengan melanggar syariat dan aqidah, tidak boleh dilakukan. Karena tujuan jin ketika mengganggu manusia tidak lain adalah untuk menyeret manusia kepada pelanggaran dan syirik kepada Allah. Misalnya, bila orang itu bilang bahwa jin itu minta sesajen, minta kembang, atau dikorbankan hewan sembelihan sebagai tumbal, itulah syirik yang sejati. Atau apapun yang secara syariah bertentang dengan hukum-hukum Allah.

Pada dasarnya bila dibacakan Ruqiyah, jin itu sangat takut dan tidak berani menawar-nawar dengan minta ini itu. Karena pembacaan ayat-ayat Al-quran itu membuatnya kesakitan yang sangat, sehingga dalam proses Ruqyah, tidak ada permintaan dari jin kecuali harus pergi dan berhenti dari menganggu manusia. Karena itu pastikan bahwa orang yang anda minta bantuannya adalah seorang muslim yang shaleh, mengerti ajaran syariah dengan benar, kuat aqidahnya, benar ibadahnya, lurus fikrahnnya dan yang penting diperhatikan, dia hendaknya punya pengalaman sebelumnya dalam menghadapi jin, agar mengenal tipu daya dan trik-trik yang digunakan jin untuk berpura-pura pergi padahal tidak dan sebagainya.

Wallahu a‘lam bis-shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.






Ziarah Kubur

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya berziarah bagi orang yang tidak tahu arti dan makna ziarah dan bagaimana jika kita mengajak ziarah pada orang yang tidak mengerti ilmu ziarah?

Jawaban:

Assalamualaikum Wr. Wb. Berziarah ada dua macam, ziarah kepada orang yang masih hidup dan ziarah kepada orang yang telah meninggal. Ziarah pada orang yang masih hidup gunanya adalah untuk menguatkan tali kasih sayang (silaturrahim). Ini merupakan perintah Allah SWT kepada setiap muslim untuk menyambung silaturrahim. Selain itu dengan adanya ziarah diharapkan kita bisa saling lebih mengenal dan berikutnya bisa saling menolong dan membela. Juga bisa untuk menambah ilmu, wawasan dan juga dakwah. Sedangkan ziarah kepada orang yang sudah mati juga merupakan sunnah yang dahulu pernah dilarang, namun kemudian larangan itu dicabut oleh Rasulullah SAW. “Dahulu aku melarang kalian ziarah kubur, tapi kini silahkan ziarahi” (al-Hadits).

Diantara manfaat yang dapat diambi dari ziarah kubur antara lain:

1. Untuk mengingat mati sehingga diaharapkan sepulang dari ziarah kubur kita lebih serius dalam mempersiapkan kematian itu dengan meningkatkan kedekatan kita kepadanya dan memperbanyak bekal untuk dibawa ke akhirat.

2. Untuk mendoakan ahli kubur, karena doa yang kita panjatkan akan meringankan siksanya. Dan dalam ziarah kubur harus dihindari hal-hal yang dilarang antara lain: 1. Meminta berkah dan bantuan dari penghuni kubur, seperti minta kaya, minta jodoh, petunjuk nomor buntut dan lain-lain. 2. Shalat menghadap kuburan 3. Memberi sesajen, makanan atau pemberian kepada ruh yang ada dikuburan. Karena itu bila ingin berziarah kubur, seharusnya setiap orang mengerti mana hal yang harus dikerjakana atau tidak boleh, agar tidak terjerumus pada sesuatu yang haram.

Wallahu a‘lam bis-shawab. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar