Jumat, 17 Februari 2012

ILMU JIWA

Mengapa Wanita Lebih Mudah Gemuk Dibanding Pria?

Banyak produk pelangsing tubuh yang ditujukan kepada kaum hawa. Karena secara biologis wanita lebih rentan gemuk dibandingkan pria. Mengapa demikian?

Tubuh laki-laki cenderung dapat menurunkan berat badan lebih cepat dibandingkan perempuan. Memang terlihat tidak adil, tapi hal ini disebabkan oleh alasan fisiologis pada tubuh laki-laki dan perempuan.

Berikut beberapa alasan fisiologis yang membuat tubuh perempuan lebih gampang gemuk, seperti dilansir About.com

1. Tubuh laki-laki lebih banyak otot
Tubuh laki-laki yang lebih banyak otot inilah yang memungkinkannya membakar lebih banyak kalori, bahkan ketika laki-laki sedang beristirahat.

2. Estrogen bisa menyimpan lebih banyak lemak
Tubuh perempuan cenderung menyimpan dan mempertahankan lemak. Hal ini karena perempuan memiliki tingkat hormon estrogen yang lebih tinggi. Hormon ini bekerja untuk menjaga lemak pada tubuh perempuan sehingga lebih mudah baginya untuk hamil. Itu berarti perempuan harus bekerja keras untuk menurunkan berat badan pada tingkat yang sama seperti laki-laki.

3. Tubuh laki-laki merespons olahraga dengan baik
Sementara tubuh laki-laki merespons olahraga dengan baik, tubuh perempuan justru masuk ke ‘mode kelaparan’ yang memperlambat metabolisme.

4. Perempuan punya toleransi yang rendah untuk olahraga
Perempuan memiliki kapasitas paru-paru yang lebih kecil dibandingkan laki-laki, yang dapat membuat perempuan merasa seolah-olah bekerja lebih keras dibandingkan laki-laki. Hal ini juga membuat olahraga terasa lebih berat bagi perempuan.

Tapi alasan-alasan fisiologis tersebut bukan berarti perempuan tak bisa menurunkan berat badan. Dengan niat, menjaga pola makan sehat dan olahraga teratur perempuan tetap bisa menurunkan berat badan menjadi ideal.







Pria Lebih Rentan Sakit Hati

Pria lebih rentan terkena kanker hati dibandingkan wanita. Dari 632.000 kasus kanker hati yang terdiagnosis di dunia, rasio penderita pria tiga kali lipat bahkan, pada kondisi esktrem, mencapai 6 kali lipat dibandingkan penderita perempuan.

“Perbedaan hormonal dan tingkah laku para pria memicu datangnya kanker hati,” kata Guru Besar FKUI Ali Sulaiman. Selain itu, Ali menambahkan, kebiasaan sering keluar malam berefek besar pada masuknya virus hepatitis A atau B. “Ditambah lagi daya tahan tubuh pria lebih lemah ketimbang wanita,” katanya.

Kanker hati atau yang disebut dengan pembunuh yang bertindak secara diam-diam meskipun kanker ini termasuk salah satu kanker paling mematikan menurut data National Cancer Institute AS. Penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala tertentu, dan kalaupun ada lebih dari 40% pasien tidak mengalami gejala terdiagnosis.

Beberapa gejala kanker hati di antaranya, berkurangnya berat badan, kehilangan nafsu makan terus menerus, rasa sakit di sekitar bahu kanan, sakit kuning, serta kelelahan yang tak biasa. Di negara Asia dan Afrika, gejala ini paling banyak dipicu oleh infeksi kronis hepatitis B, sedangkan di Eropa dan Jepang oleh hepatitis C. Faktor risiko lainnya di antaranya obesitas, diabetes, merokok dan konsumsi alkohol, serta alfatoksin (toksin pada kacang tanah).

Penanganan kanker hati sendiri dilakukan berdasarkan jenis dan tahap kanker serta fungsi hati pasien. Bila stadium kanker pasien masih di bawah 4 sentimeter, beberapa tindakan seperti operasi pengangkatan tumor, transplantasi hati,serta pengobatan menggunakan frekuensi listrik tinggi (Radiofrecuency Ablation/ RFA)dapat dilakukan. Bila stadium kanker di atas 4 cm atau stadium lanjut, penanganan paliatif (terapi target) yang lebih dikenal dengan sorafenib jadi solusinya.








Penyakit Akibat Gila Kerja

Beberapa orang mungkin merasa bangga mengklaim dirinya ‘gila kerja’ atau workaholic. Tapi ternyata ada banyak masalah kesehatan yang mengintai si penggila kerja. Apa saja penyakit yang diakibatkan oleh gila kerja?

Secara harfiah, gila kerja berbeda dengan pekerja keras. Pekerja keras lebih ditandai dengan kegigihan dan keteguhan dalam bekerja. Sedangkan penggila kerja akan merasa panik, kecemasan atau merasa kehilangan sesuatu bila mereka sedang tidak bekerja.

“Gila kerja adalah kecanduan beraktivitas terus-menerus. Perilaku ini terus berlangsung meskipun mereka sadar bahwa hal tersebut berbahaya pada diri mereka sendiri, yang akhirnya merusak kualitas kerja,” ujar Diane M. Fassel

Menurut Fassel, gila kerja tidak seperti kecanduan narkoba atau alkohol. Orang yang gila kerja akan dipuji atau dihargai karena mereka bekerja secara loyal, bahkan melampau batas waktu yang ditetapkan perusahaan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tidak memandang negatif si penggila kerja.

Namun, para ahli mempertimbangkan bahwa gila kerja dapat menyebabkan kerusakan mental maupun fisik.
“Gila kerja adalah bisnis berbahaya dan berisiko bagi tubuh manusia,” kata Gayle Porter, seorang Associate Professor of Management di Rutgers School of Business di Camden, New Jersey, yang mempelajari tentang gila kerja.

Orang yang gila kerja akan mengabaikan kesehatan pribadi dan harus kehilangan waktu tidur, makan dengan gizi buruk, dan mengonsumsi rokok atau kafein agar mereka tetap dalam keadaan terjaga, yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dan kematian di usia muda.

Berikut beberapa penyakit yang diakibatkan oleh kegilaan terhadap pekerjaan seperti dilansir dari health.com, yaitu:

1. Batu ginjal
Waktu duduk yang terlalu lama, kurang minum dan sering menahan buang air kecil. Disisi lain makanan yang dikonsumsi kalsium tinggi dan kaya oksalat yang susah larut dalam tubuh. Akibatnya terjadi infeksi saluran kemih atau timbul penyumbatan. Penyumbatan di urin bisa membuat kristal-kristal yang menjadi batu ginjal.

2. Sembelit
Waktu duduk yang terlalu lama membuat kurang bergerak yang tidak diimbangi dengan minum air yang banyak dan buah. Kondisi membuat susah buang air besar padahal perut terasa sudah penuh.

3. Wasir atau ambeien
Waktu duduk yang terlalu lama atau berdiri terlalu lama, kurang bergerak yang tidak diimbangi dengan minum air yang banyak dan buah. Kondisi membuat susah buang air besar padahal perut terasa sudah penuh. Karena sembelit akibatnya buang air besar dipaksakan sehingga timbul pendarahan dan benjolan di dubur.

4. Maag
Sering terlambat makan, makan tidak teratur atau makan sekaligus dalam jumlah banyak karena menunggu sampai lapar tiba. Makan-makanan terlalu pedas, terlalu asam, juga memicu maag.

5. Liver
Kebanyakan adalah pekerja keras yang lupa memperhatikan gizi makanannya, kurang tidur atau terus-terusan lembur hingga larut malam. Orang yang terkena liver akan hilang selera makan, cepat merasa capek, urine berwarna sangat coklat.

6. Jantung
Tekanan target atau emosional pada pekerjaan, konflik di kantor, stres tingkat tinggi, merokok dan kurang istirahat pemicu penyumbatan pembuluh darah.

7. Hipertensi
Orang yang gila kerja biasanya akan memiliki emosi yang tidak terkontrol. Hal ini karena mereka selalu merasa tidak puas dengan pekerjaannya, sehingga mereka akan terus bekerja dan berdampak pada fisik dan emosi.

8. Sindrom mata kering
Penggila kerja akan menghabiskan banyak waktu di depan komputer atau melakukan pekerjaan lain yang mengharuskan mereka tetap terjaga untuk jangka waktu yang lama. Hal ini bisa memicu sindrom mata kering.

9. Kelelahan, tak berenergi dan insomnia
Penggila kerja akan melakukan pekerjaannya tanpa batas waktu. Hal ini akan menyebabkan tubuhnya mengalami kelelahan yang kronis (fatique) dan hilangnya energi. Ini juga akan memicu orang tersebut mengalami gangguan tidur seperti insomnia.







Teori-teori hubungan interpersonal

Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :

a. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).

b. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.

c. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).

Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).

d. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.








Punya Gen Malas Lebih Bahaya Daripada Punya Gen Gemuk

Beberapa orang terlahir dengan gen gemuk sehingga rentan mengalami obesitas. Meski risiko tersebut bisa ditekan dengan olahraga teratur, namun kenyataannya tak mudah sebab faktor genetik juga membuat seseorang malas berolahraga.

Sebuah penelitian terbaru di University of California, Los Angeles (UCLA) mengungkap adanya variasi genetik yang dapat mempengaruhi aktivitas fisik seseorang. Variasi tersebut membuat beberapa orang sangat terobsesi untuk berolahraga, sementara sebagian lainnya lebih suka menghabiskan waktunya untuk duduk santai sepanjang hari.

Dikutip dari Telegraph, Minggu (5/9/2010), variasi tersebut juga teramati ketika peneliti membandingkan intensitas gerakan fisik pada hasil penangkaran sekelompok tikus. Tikus yang aktif secara fisik ternyata lebih banyak dihasilkan dari induk yang secara naluriah cenderung lebih banyak bergerak.

“Pada manusia, pengaruh faktor genetik semacam itu tampak lebih nyata variasinya. Ada yang lebih senang duduk, membaca dan menonton televisi sementara yang lain sangat terobsesi untuk berolahraga,” ungkap Prof Theodore Garland Jr, ahli biologi dari UCLA yang memimpin penelitian tersebut.

Prof Garland menambahkan, temuan ini bisa menjadi acuan baru dalam menentukan target pencegahan risiko obesitas. Dengan membidik gen malas, ahli farmasi sangat dimungkinkan untuk mengembangkan obat yang bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman jika duduk terlalu lama.

Dalam penelitian terdahulu, pada ahli dari Medical Research Council di Cambridge mengungkap bahwa pengaruh gen gemuk bisa ditekan seminimal mungkin. Meski secara genetik punya bakat untuk mengalami obesitas, seseorang masih bisa menurunkan berat badan hingga 40% dengan olahraga secara teratur.

Pencapaian tersebut tidak selalu harus melalui olahraga berat seperti lari marathon. Bahkan dengan sekedar berjalan kaki atau berkebun setiap hari, seseorang sudah bisa menekan risiko kegemukan yang erat kaitannya dengan berbagai masalah kesehatan mulai dari diabetes hingga masalah jantung dan pembuluh darah.








Pertalian Erat Depresi dan Stroke

Suatu hari Arifin, 65 tahun, merasa nyeri yang benar-benar menyengat di dada. Dia buru-buru memeriksakan diri ke dokter. Ia mengira serangan jantung yang berulang. Beberapa tahun lalu, ia memang menderita penyakit tersebut. Setelah dicek, kondisi jantungnya normal. Rupanya yang terganggu adalah kejiwaannya.

Pria ini menderita depresi yang muncul sebagai penyakit penyerta dari penyakit jantung iskemiknya. Biasanya sebagai penyakit penyerta, kata dr Suryo Dharmono, SpKJ(K), depresi memiliki gejala serupa dengan penyakit utamanya. Saat berbicara dalam media edukasi soal depresi sebagai penyakit penyerta pada penyakit jantung iskemik dan stroke kemarin, psikiater ini menyebutkan hubungan antara depresi dan kedua penyakit itu begitu erat.

Suryo menjelaskan, pasca-stroke akut, kemungkinan menderita depresi 30-40 persen. Setelah enam bulan pun masih menempel, meski prevalensinya lebih rendah: 18-23 persen. Pada orang yang mendapat serangan jantung, persentasenya mencapai 15-23 persen. Hasil studi yang dilakukan oleh dr Mutiara, SpKJ pada 2004 juga menunjukkan proporsi terbesar dari gangguan depresi ditemukan pada responden infark miokard akut atau serangan jantung mencapai 69 persen. Berbagai studi tentang depresi pada pasien stroke juga memperlihatkan angka prevalensi 27-45 persen.

Suryo menyatakan, penyakit penyerta atau komorbiditas memberatkan karena melemahkan daya tahan, meningkatkan kesakitan, hingga memicu kematian lebih tinggi. Mortalitas pascaserangan jantung dengan depresi dari studi pada 1993 dan 1995 juga menunjukkan bahwa penderita penyakit jantung yang tidak mengalami depresi berpeluang dua kali lipat untuk hidup lebih lama dibanding yang plus depresi.

Dalam pengobatan pun ahli medis harus lebih berhati-hari karena berisiko terjadi interaksi antara obat untuk kedua penyakit. Apalagi serangan jantung, stroke, dan, parkinson memiliki hubungan langsung secara timbal balik dengan depresi. Walhasil, pengobatannya pun harus dilakukan oleh tim terpadu, seperti ahli jantung, ahli jiwa, dan terapis sosial.

Depresi sebagai komordibitas juga memicu peluang serangan jantung maupun stroke kedua lebih besar hingga dua kali lipat. Depresi, menurut Suryo, menyebabkan kemerosotan hormon serotonin. Padahal jenis hormon ini mempengaruhi thromogenesis atau pembentukan trombosit yang berdampak besar dalam proses pembekuan darah. Walhasil, jumlah serotonin rendah berujung pada lebih mudahnya pembekuan darah sehingga lebih gampang pula terjadinya stroke. “Karena itu, depresi memicu dua kali lipat serangan stroke yang berikutnya,” ia menegaskan.

Kurangnya serotonin, kata Suryo, juga membuat penderita sulit berpikir secara jernih. Bukan hanya hormon serotonin yang terpengaruh karena depresi. Ada juga penurunan norephinephrin. Namun, lazimnya bisa didongkrak dengan melakukan aktivitas dan diet yang tepat.

Suryo menjelaskan, sebagai penyakit penyerta, depresi bisa muncul karena penyakit utama tersebut, kendala fisik yang diderita, hingga obat-obatan. Ada jenis obat-obatan tertentu yang memicu depresi. Usia juga berpengaruh. Pada pasien stroke maupun penyakit jantung yang berusia lanjut, depresi lebih rentan muncul. Suryo menyebutkan, pertambahan usia akan berpengaruh terhadap regulasi hormon. Padahal serangan stroke saja sudah membuat hormon terganggu. Gangguan hormon ini membuat depresi pun lebih cepat melekat.

Belum lagi ada sejumlah penurunan fungsi organ pada orang tua, seperti merosotnya kemampuan memompa jantung. Kendala fisik yang membuat orang tua lebih sulit beraktivitas juga membuat keadaan mereka semakin terpuruk. Jadilah peluang serangan stroke berikutnya 2-3 kali lebih tinggi pada orang berusia lanjut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar