SIKSA YANG DITUNDA
Segala pilihan maupun tindakan, pasti ada resiko di belakangnya. Dan tidak ada resiko yang paling parah dan fatal melebihi resiko orang yang berbuat dosa. Bahkan, setiap musibah, bencana, kesusahan maupun penderitaan terjadi karena dosa. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy Syura :30)
Dampaknya melingkupi segala sisi kehidupan dan zaman. Menimbulkan penyakit jasmani dan ruhani, merusak kesejahteraan hidup di muka bumi, dan berujung pada kesengsaraan akhirat yang kekal abadi.
Segala bencana di dunia yang Allah timpakan kepada umat terdahulu disebabkan karena dosa. Siksa pedih tiada tara yang Allah kisahkan dalam Kitab-Nya hanya berlaku pula bagi orang-orang yang berdosa.
Dosa menyebabkan Adam dan Hawa dikeluarkan dari jannah, tempat kelezatan, kenikmatan dan kesenangan dan kegembiraan ke negeri yang sarat dengan penderitan, kesedihan dan musibah. Kaum Nabi Nuh, tenggelam oleh air bah yang tingginya melampaui puncak gunung, itu juga semata karena dosa.
Angin super dingin yang menyapu kaum ‘Ad sehingga mereka mati bergelimpangan di muka bumi, hingga mereka lakasana tunggul-tunggul pokok kurma yang telah lapuk, pun disebabkan karena dosa. Tak terkecuali kaum Luth yang dijungkirbalikkan bumi mereka, kemudian diikuti hujan batu dari tanah yang terbakar, sehingga lengkaplah siksaan atas mereka. Dan banyak lagi kisah yang bisa dijadikan pelajaran.
Demikian gamblang Allah gambarkan, begitu detil pula Nabi menceritakan kisah para pendosa di dalam hadits-haditsnya, namun masih banyak yang nekat berbuat dosa. Mereka tidak sadar akan resiko setelahnya.
Dosa Yang Dibalas Segera
Kadangkala, Allah menimpakan hukuman bagi orang yang berdosa dengan segera. Bagi orang kafir dan fajir, bencana itu merupakan prolog dari siksa, sebelum siksa dahsyat di akhirat. Namun bagi insan beriman, ia akan menjadi sadar, bahwa apa yang dialaminya adalah teguran dari Allah. Dia akan bersabar, dan sesegera mungkin dia akan berbenah untuk kembali kepada-Nya. Lalu, sekecil apapun musibah itu bisa menjadi penggugur dosa. Nabi saw,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا
“Jika Allah menghendaki kebaikan atas hamba-Nya, maka Dia akan menyegerakan hukumannya di dunia” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan shahih)
Maka, musibah bisa menjadi rahmat bagi orang mukmin, karena dosanya telah lunas terbayar di dunia, dan dia akan terhindar dari siksa akhirat, padahal siksa akhirat itu lebih berat dan lebih kekal,
“Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS Thaha 127)
Nabi SAW juga bersabda,
أَنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ الآخِرَةِ
“Sesungguhnya siksa dunia itu jauh lebih ringan dibanding siksa akhirat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pun begitu, tidak boleh bagi seorang muslim berharap, apalagi memohon supaya disegerakan siksanya di dunia. Karena seakan dia menantang Allah untuk menghukumnya. Bahkan ini menyerupai karakter orang kafir yang dikisahkan oleh Allah,
”Dan mereka berkata, “Ya Rabb kami cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab”. (QS. Shaad 16)
Begitulah orang kafir yang berbuat lancang kepada Allah, menantang agar hukuman disegerakan. Padahal, belum tentu mereka kuat menjalaninya. Yang lebih baik bagi seorang mukmin adalah bertaubat, memohon pengampunan dan kebaikan di dunia, juga kebahagiaan di akhirat. Sahabat Anas bin Malik rdl mengisahkan, bahwa Rasulullah saw menjenguk seorang muslim yang sakit. Dia dalam kondisi yang sangat lemah layaknya anak seekor burung pipit. Lalu Rasulullah saw bertanya, ”Apakah kamu pernah berdoa atau memohon sesuatu?” Orang itu menjawab, ”Benar, aku berdoa kepada Allah, ”Ya Allah, aku tidak kuasa menerima hukuman di akhirat, maka segerakanlah hukuman untukku di dunia!” Rasulullah SAW bersabda,
سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
”Subhanallah, kamu tidak akan mampu, mengapa Anda tidak berdoa ”ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari adzab neraka” (HR Muslim)
Maka Nabi SAW mendoakan untuk kesembuhannya dan Allah menyembuhkannya.
Dihukum, Namun Tidak Peka
Hukuman bagi pelaku dosa tak hanya berujud musibah ataupun bencana yang kasat mata. Namun bisa pula hukuman itu ditimpakan atas hati dan seringkali manusia tidak menyadari. Padahal, bahaya dosa bagi hati itu pasti. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah mengumpamakan efek dosa bagi hati, itu laksana luka bagi jasad, bisa jadi luka itu akan menyebabkan kematian.
Lemahnya greget untuk berbuat baik, jauhnya seseorang dari teman-teman yang shalih, tumpulnya kepekaan hati dalam mendeteksi dosa, dan kerasnya hati adalah sebagian dari hukuman yang ditimpakan atas hati bagi pelaku dosa. Sebenarnya, hukuman hati lebih berat deritanya dari hukuman fisik, karena tak ada yang lebih menderita dari hati yang jauh dari Allah.
Namun sayang, tidak banyak yang menyadari hal ini sebagai hukuman dari dosa. Mereka merasa bahwa dosa yang telah dijalaninya tidak berdampak apa-apa. Ibnu al-Jauzi berkata, ”ketahuilah, bahwa musibah paling besar adalah ketika seseorang merasa aman setelah melakukan dosa, padahal bisa jadi hukuman itu ditunda. Hukuman paling berat adalah tatkala seorang tidak peka terhadap efek dosa. Dia menduga bahwa dengan menyimpang dari agama, hati yang buta dan usaha yang haram ternyata badan masih sehat dan tujuan juga tercapai.”
Pola pikir seperti ini menyebabkan sikap menganggap remeh dosa, dan tak ada rasa takut memperturutkan hawa nafsunya, karena siksa tak terlihat jelas di depan mata. Di sisi inilah besarnya bahaya, ketika dosa rutin dijalani, siksa pun bertubi-tubi. Makin banyak akumulasi dosa, makin berat siksa yang akan disandangnya.
Para salaf, sangat peka sekali terhadap efek dosa. Bahkan mereka bisa mengenali dampak dosa pada setiap musibah yang mereka alami, dalam hal duniawi maupun ukhrawi.
Abu Daud Al-Hafri bercerita, “Aku masuk kerumah Kurz bin Wabiroh dan mendapatinya menangis, aku bertanya kepadanya, “Kenapa Anda menangis?” Beliau menjawab, “Pintu kebaikan tertutup, kehormatanku ternoda, dan tadi malam aku gagal membaca Al-Qur’an seperti biasanya. Itu semua gara-gara satu dosa yang telah aku kerjakan.”
Pada saat tabi’in Bashrah, Muhammad bin Sirin hingga beliau terlilit hutang, beliau berkata, “Aku sungguh mengetahui penyebab hutang yang kini melilitku. Aku pernah mengejek seorang lelaki sekitar empat puluh tahun yang silam, “Wahai orang yang bangkrut!” Tatkala Ubaidillah bin As-Sirri menceritakan hal ini kepada Abu Sulaiman Ad-Darani, beliau memberi komentar, “Dosa-dosa mereka (para salaf) sedikit, karenanya mereka tahu dosa mana yang menyebabkan musibah terjadi. Sementara dosa-dosa kita banyak, sehingga kita tidak tahu dosa mana yang menyebabkan musibah itu terjadi.”
Merekalah para ahli ibadah yang begitu peka terhadap dosa. Sa’id bin Jubair rahimahullah, yang disebut-sebut paling ahli dalam hal tafsir di kalangan tabi’in pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling hebat ibadahnya?” Beliau menjawab, “Orang yang merasa terluka hatinya karena dosa, dan jika ia ingat dosanya maka ia memandang kecil amal perbuatannya”.
Dosa yang siksanya ditunda
Jika seseorang belum merasakan dampak dari dosa, janganlah merasa aman darinya, karena sesungguhnya Allah tidak pernah lupa. Termasuk dosa-dosa yang bahkan telah dilupakan pelakunya. Bisa jadi bencana di dunia datang dengan tiba-tiba di saat yang tidak pernah ia duga. Atau ditangguhkan siksanya hingga di akhirat, Nabi saw bersabda,
وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dan jika Allah menghendaki keburukan atas hamba-Nya, maka Allah akan menangguhkan hukuman atas dosanya, hingga dia akan membawa dosanya itu pada Hari Kiamat.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan shahih)
Ath-Thiibi menjelaskan, “yakni Allah tidak menghukum atas dosa yang dilakukannya hingga dia datang pada Hari Kiamat akan mendapatkan sangsi berupa siksa atas dosa yang dilakukannya.”
Saatnya kita mencegah dan menghentikan segala dampak buruk dosa dengan bertaubat dan meninggalkan maksiat. Alangkah cerdas kesimpulan dari sahabat Ali bin Abi Thalib RDL, “Tiada turun musibah melainkan karena dosa dan tidak akan dicabut musibah melainkan dengan taubat.” Wallahu a’lam.MAKNA LAIN MUSIBAH
Suatu saat, RasulullahSAW duduk dikelilingi oleh beberapa sahabat.Datang seorang sahabat anshar, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang mu’min yang paling utama?” Beliau menjawab, ”Yang paling bagus akhlaknya” Sahabat tadi melanjutkan pertanyaannya, “kalau orang muslim yang paling cerdas?” Nabi menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik baik persiapannya untuk menghadapi sesudah mati, merekalah muslim yang paling cerdas”.(Ditakhrij oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Malik).
Sepenggal dialog indah sarat makna antara junjungan kita dengan para sahabatnya tatkala itu. Kini, ketika tuntunan syariat telah selesai diundangkan dan wahyu telah terputus, kita memerlukan kecerdasan iman untuk memberi makna hamparan ayat-ayat kauniyah yang Allah pertunjukkan kepada kita bertubi dan susul-menyusul, agar tak berlalu tanpa arti.
Biarlah misteri kehidupan tersingkap nanti pada hari disingkapkannya tabir segala sesuatu. Kita tidak perlu berdebat tentang taqdir yang menimpa Mbah Maridjan, toh nanti beliau juga akan ditanya sebab yang dipilihnya sehingga berlaku taqdir baginya. Dari situ akan jelas apakah pilihan itu pahala buatnya, atau beban baginya.
Gambaran tak Sebanding
Jika ziarah kubur dapat melembutkan hati dan mengingat maut, maka lelehan bubur bebatuan membara yang keluar dari kepundan gunung semestinya dapat mengingatkan hamba yang beriman kepada ahwalu ahlin-naar, keadaan penduduk neraka. Betapa tidak, tungku magma itu terus menanak batu hingga meleleh, dengan derajat panas tak terukur. Jika asapnya saja mencapai 600 derajat Celcius, apalah lagi di pusat tanur peleburan. Padahal RasulullahSAW bersabda,
نَارُكُمْهَذِهِالَّتِيتُوقِدُونَجُزْءٌمِنْسَبْعِينَجُزْءًامِنْجَهَنَّمَ.قَالُوا:وَاَللَّهِإنْكَانَتْنَارُنَالَكِفَايَةًيَارَسُولَاللَّهِ.قَالَ: فَإِنَّهَافُضِّلَتْعَلَيْهَابِتِسْعَةٍوَسِتِّينَجُزْءًاكُلُّهُنَّمِثْلُحَرِّهَا.
“Api yang kalian nyalakan, sepertujuh puluh dari Jahanam”. [Para sahabat] berkata, “Demi Allah! sesungguhnya api kami sudah cukup panasnya wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Sesungguhnya api itu akan dilipatkan-gandakan 69 kali, setiap bagian sebanding panasnya dengan [panasnya api kalian]“. (HR. Muslim).
Pantaslah sekiranya Malaikat Mikail tidak pernah tersenyum lagi. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa RasulullahSAW bertanya kepada Jibril mengapa beliau tidak pernah melihat malaikat Mikail tersenyum. Malaikat Jibril menjawab bahwa malaikat Mikail tidak pernah lagi tersenyum sejak neraka Jahanam diciptakan.
Bukankah Allah telah memberitakan dalam beberapa ayat-Nya bahwa bahan bakar neraka adalah manusia dan batu? Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyala apinya, begitu firman-Nya dalam al-Furqan: 12. Sungguh menakjubkan, ketika gemuruh suara gunung yang menanak bebatuan sambil menumpahkan lelehan lava pijar itu terdengar hingga radius 20 km.
Dulu, sewaktu kecil, kala informasi perbandingan panas neraka disampaikan oleh para ustadz di surau, yang terbayang ketika itu panasnya api di tungku dapur atau air mendidih, lalu dilipatkan 69 kali. Kini, uap yang dihembuskan dari tungku alami dalam perut bumi itu mencapai 600 derajat Celcius, menurut ilmu pengetahuan yang dicapai oleh manusia. Tak ada kehidupan yang dapat bertahan pada suhu itu. Pohon-pohon yang dilalui hembusannya tetap berdiri, yang bersujud juga tetap bersujud, tetapi sejatinya telah berubah menjadi arang.
Tetapi tidak! Api yang telah digandakan panasnya itu di akherat tidak membunuh, karena kematian telah disembelih disaksikan oleh penduduk jannah dan penghuni neraka. Ya,…kematian telah mati, yang ada tinggal khuluud,keabadian. Keadaan manusia yang tersiksa di dalamnya, laa yamuutu fiihaa wa laa yahyaa, tidak hidup dan tidak pula mati.Mari kita simak firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 56).
Bukankah ilmu kedokteran modern telah pula menemukan bahwa syaraf perasa manusia mayoritas ada di permukaan kulit? Sungguh, Maha Benar Allah yang menginformasikan bahwa setiap kali kulit penghuni neraka hangus, digantikan dengan kulit yang baru. Karena neraka tempat manusia terhukum, maka penggantian itu li yadzuuqu al-’adzaab, supaya mereka merasakan siksaan. Wal-’iyadzu billah.
Pernahkah pembaca terkena sulutan api atau tersenggol knalpot panas sehingga kulit melepuh, mengelupas dan terjadi pergantian kulit. Kulit muda yang menggantikan kulit yang mengelupas itu jauh lebih sensitif sehingga lebih merasakan sakit. Maka ayat di atas sekaligus membungkam klaim para penentang yang lancang mengatakan, “Ah,..nanti kalau sudah lama di neraka, lama-lama ya kebal, panas tidak akan terasa lagi!” Mereka memang tidak pernah mengenal dan meyakini berita dari Nabi, Maa laa ‘aynun roat, wa laa udzunun sami’at, wa laa khothoro ‘alaa qolbi basyar, nikmatnya jannah dan pedihnya neraka tak pernah terlihat mata sebelumnya, tak pernah terdengar telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.
Namun semua itu tergantung bagaimana manusia membangun persepsi. Ketika manusia hanya percaya kepada materi, tidak percaya kepada pembalasan sesudah mati, atau keyakinannya terhadap kehidupan setelah kematian tidak dibangun di atas informasi yang benar yang dibawa oleh para utusan Allah, mereka tak akan mampu memaknai tayangan ayat kauniyah yang tampil silih berganti.
Khatimah
Ahlud-Dunya, melihat lelehan lava pijar yang meluncur deras itu tak lebih sebagai pemandangan indah yang dianggap sebagai tujuan wisata. Mereka sibuk mengabadikannya, sementara makna hakiki yang sejati untuk apa ayat kauniyah itu diutus, tak pernah terlintas dalam qalbu.
KUNCI KEBANGKITAN UMAT ISLAM
Umat Islam, dalam perjalanan panjang sejarahnya, pernah mengalami kekalahan total menghadapi serbuan Tatar. Baghdad, ibu kota kekhalifahan Islam luluh lantak, lebih satu juta muslim dibantai, perpustakaan dibakar habis. Khalifah dan seluruh perangkat pemerintahan dibunuh kecuali satu orang, perdana menteri Al-Qami, penganut syiah rafidhah yang membukakan jalan bagi serangan dahsyat tersebut.
Meskipun demikian, tak berapa lama pasukan Tatar yang menakutkan itu dapat dikalahkan oleh pasukan Islam Mamalik dari Mesir dibawah pimpinan Saifuddin Quthuz, tepatnya di pertempuran’Ain Jalut. Penghancur kekhalifahan itu dihentikan kejahatannya oleh beliau dan pasukannya yang didukung oleh para ulama’.
Kelurusan Tashawwur
Ibnu Qayyim di dalam I’lamulMuwaqqi’in mengatakan bahwa benarnya pemahaman dan lurusnya iradah (tujuan) merupakan dua nikmat atau karunia Allah paling besar, satu tingkat dibawah nikmat hidayah memeluk Islam.
Kedua nikmat tersebut harus dipelihara, dijaga dan dilindungi dari segala sesuatu yang akan merusaknya. Maka dalam kitab Zaad al-Ma’ad beliau menjelaskan bahwa tingkatjihad yang kedua yaitu terbentuknya pribadi muslim dan irodahnya rasyidah, kedua nikmat tersebut harus dijaga jangan sampai dirusak oleh syaithan. Sebab syaithan mempunyai dua senjata andalan untuk merusak dan menghancurkannya dengan syubhatdan syahwat. (Zaad al-Ma’aad, jilid III, hal 10).
Syubhat adalah kelirumemahami manhaj Islam yang lurus ini dengan masuknya cara pandang terhadap Islam yang asing, yang tidak ada sumbernya dalam khazanah Islam. Sedangkan syahawat adalah masuknya motivasi, dorongan dan kehendak yang keluar dari mencari keridlaan Allah. Itulah dua senjata pamungkas Iblis dan kabilahnya untuk merusak dan mengeluarkan kembali manusia muslim dari Islam.
Syarat Kebangkitan Kembali
Mengapa pasukan Tatar yang ganas dan telah berhasil memporak-porandakan ibu kota khilafah Islam itu dapat dihancurkan dan dihalau dari tanah umat Islam kembali ke Mongolia hanya dalam hitungan beberapa tahun? Begitu cepatnya mereka hancur. Begitu cepatnya umat Islam bangkit kembali menemukan jati dirinya.
Umat Islam, sekalipun mengalami kekalahan telak di Baghdad, bahkan khilafah jatuh, tetapi tidak kehilangan segalanya. Karena, pemahaman terhadap Islam dengan meyakini kemuliaannya tetap tergambar jelas dalam hati dan pikiran umat. Selain itu, Masih banyak ulama’ yang tetap memandu, menjadi suluh, membentengi dan mengarahkan tashawwur umat agar tidak berubah, dan agar iradahnya tetap lurus. Syaikh Izzuddin bin AbdusSalam adalah salah satunya, dan yang paling berpengaruh di zaman itu.
Sekalipun umat pada saat itu sangat menderita, dirampas hartanya dankehormatannya.Nyawa mereka menjadi mainan pasukan Tatar yang tidak mempunyai hati (menurut Dr. Raghib as-Sirjani dalam Qishshotut-Tatar minal-bidaayah ilaa ‘Ain Jaaluut).Umat Islam dilanda phobia luar biasa.Meskipun begitu, tidak pernah terlintas dalam hati dan pikiran umat Islam bahwa musuh mereka yang menang itu lebih mulia. Tidak terdetik di dalam benak mereka bahwa cara hidup musuhnya lebih baik. Hakekat iman dan ketinggiannya tidak terhapus. Apalagi tentara penghancur itu yang selalu mengancam bagian dunia Islam lain yang tersisa itu ahlaknya lebih dekat kepada binatang daripada manusia.
Masih Ada Qudwah Shalihah
Tetap teguhnya jati diri sebagai umat pilihan, kebanggaan terhadap ketinggian agama, merupakan kekuatan potensial dahsyat untuk bangkit dan merebut kembali kemuliaan jika kesempatan terbuka dan ditemukan pemimpin yang mampu menggali potensi kekuatan tersebut menjadi kekuatan riil.
Paduan sosok figur ulama dan umarayang jujur, bersungguh-sungguh, kuat memegang prinsip, lemah lembut kepada umat dan mampu menjadi teladan merupakan kunci membangkitkan potensi kekuatan menjadi kekuatan riil yang menakutkan musuh. Dalam episode sejarah penghancuran pasukan Tatar di ‘Ain Jalut, sosok pribadi itu ada pada paduan antara Saifuddin Quthuz sebagai sultan dan Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdus-Salam sebagai ulama yang teguh memegang prinsip.
Umat Islam Terjerat Sekularisme
Sekularisme liberal mengharuskan manusia menganggap semua agama sama. Mereka mengkampanyekan taswiyah al-adyan (penyamaan semua agama). Keyakinan ini memandang bahwa semua agama itu sama, semua menuju kepada tuhan, semua mengajarkan kebaikan, hanya jalannya yang berbeda-beda. Anehnya, keyakinan rusak seperti ini diterima oleh sebagian ummat Islam. Tentu saja hal ini lantaran sudah begitu kronisnya kebodohan umat Islam terhadap agamanya, dan sudah pasti hal itu disebabkan oleh sangat sedikitnya ulama rabbaniyyun yang melaksanakan perannya memberi suluh kepada umat.
Permisalan ulama rabbaniyyun itu seperti obor yang menerangi umat di tengah gulita malam yang pekat. Ketiadaannya berarti umat berjalan dalam kegelapan tanpa penerang dan tanpa pembimbing. Akibatnya hidup mereka tak terarah; meninggalkan perintah Allah, menerjang larangan-Nya, memakan barang haram dan tidak berhati-hati terhadap perkara yang syubhat.
Kampanye kaum sekuler liberal dengan menggunakan ‘cendekiawan muslim’ yang telah rusak tashawwur-nya seperti dalam kasus taswiyah-al-adyan, ibarat di tengah gelapnya malam ada seorang pembawa obor menuntun manusia, tetapi manusia itu dibimbingnya terjun ke dalam jurang. Keilmuan saja tidak cukup, perlu kejujuran dan khasyah (takut) kepada Allah. Khasyahmemang ilmu yang pertama kali dicabut oleh Allah menurut sahabat Hudzaifah bin Yaman.
Bagaimana mungkin seorang ‘muslim sekuler’ yang menganggap semua agama sama diharap untuk menegakkan syari’at Allah? Sedangkan syari’at tidak hanya menghalalkan darah orang muslim yang murtad, bahkan syari’at memerintahkan hadd bunuh baginya. Mungkin masih ada toleransi tidak melaksanakan hadd tersebut karena lemah dalam istitho’ah, tetapi meyakini bolehnya seorang muslim berpindah kepada agama lain tanpa konsekuensi hukum dalam syari’at, merupakan kekufuran.
Merupakan suatu hal yang mustahil untuk bangkit kembali bagi suatu umat yang sudah tidak lagi meyakini bahwa prinsip hidupnya memiliki keunggulan. Tak ada harapan bagi seorang muslim untuk menjadi elemen kebangkitan umat Islam, ketika dia sudah tidak lagi meyakini bahwa Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alayh. Dari keyakinan atas prinsip kebenaran dan ketinggian Islam ini ruh kebangkitan umat itu mengambil manba’(sumber). Siapa yang meminum air kehinaan tak dapat diharap kebangkitannya. Wal-’iyaadzu bilLaahMUSLIMAH DALAM KETERASINGAN
Islam datang mencerahkan dunia, meningkatkan martabat wanita pada tempat yang mulia dan memberikan kedudukan yang tinggi yang sebelumnya jauh dan jatuh diletakkan di dasar lembah yang gelap gulita, sejak kecil keberadaannya di hinakan bahkan sebagian diantara mereka di kubur hidup-hidup, Allah SWT mengabadikan sejarah ini dengan firmanNya
Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
Karena dosa apakah dia dibunuh (QS. At Takwir : 9-10)
Beranjak dewasa hanya menjadi pemuas syahwat laki-laki durjana, sebagaimana yang diceritakan wanita mulia, ibunda kita ‘Aisyah Radhiallhu’anhaa dalam sunan Abi Daud tentang wanita yang menikah/melacurkan dirinya dengan memasang bendera khusus di depan pintu sebagai tanda.Perzinaan mewarnai setiap lapisan masyarakat dan sedikit dari kaum laki-laki dan wanita yang memang masih memiliki keagungan jiwa.Wanita diperjualbelikan secara semena-mena, kadang-kadang diperlakukan layaknya benda mati dan akhirnya ketika tua, tidak ada baginya doa apalagi bakti dari anak-anaknya.
Alhamdulillah Islam datang mengangkatnya, menjadikannya mulia sejak kecil, dewasa hingga masa tuanya.Tidak terdengar lagi ada bayi wanita yang dibunuh, kehormatannya terjaga dengan balutan baju yang menutupi aurotnya, diberikan hak untuk berpendapat dalam pernikahanya, bahkan diutamakan tiga kali melebihi kaum pria dalam keluarga.Dan sesudah tutup usia didoakan putra-putranya agar mendapat ampunan dari Rabnya. Itulah zaman keemasan Islam, yang setiap muslimah dan mukminah kala itu dapat merasakan perbedaannya, setelah merasa asing dan terasing dari kaumnya.
Zaman begitu cepat bergulir, keadaan pun tidak selalu sama.Keadaan kaum muslimin menjadi lemah -dan Allah lah yang Maha Mengetahui keadaan hambaNya- ini disebabkan jauhnya mereka dari asal kemulian, ketinggian dan kekuatan mereka. Dikoyaklah kesucian mereka oleh umat yang lain, dirampas kehormatan dan hartanya, lebih dari itu musuh Islam mampu membuat kebanyakan muslimah melepaskan mahkota malu dari dirinya, bahkan melepaskan dari agamanya secara keseluruhan, laa haula wa laa quwwata illa billah.
Pada hari ini lebih jelas gambaran keterasingan yang di landa kaum muslimah, ketika muslimah memandang masyarakat sekelilingnya ia dapati seolah-olah ia berada di suatu tempat yang sangat asing, bahkan masyarakat memandang ia datang dari planet lain.
Ditengah-tengah keluarganya pun ia merasa asing, dengan balutan jilbab yang syar’i bapak ibunya tidak berkenan, untuk thalabul ‘ilmi(pergi kajian) dilarangnya, bahkan bertemu dengan teman-temannya yang shalihah pun diawasi. Padahal semuanya dilakukan untuk mendapat ridha Ilahi.
Di rumah suaminya ia merasakan keterasingan diatas keterasingan, tertipu ketika berta’aruf, disangkanya pemuda yang benar-benar meniti jalan kebenaran pada awalnya, namun setelah mengarungi bahtera, terbalik hatinya kemudian meminta istrinya yang mencoba menjadi wanita surga untuk membalik hatinya juga dan melepas hijabnya bahkan menekan dan mengancamnya wa laa haula wa laa quwwata illa billah.
Inilah zaman ghurbah(keterasingan) yang kedua, sebagaimana telah diberitakan oleh kekasih Allah Muhammad shollallahu’alaihi wasallam :
بَدَأَالإِسْلاَمُغَرِيباًثُمَّيَعُودُغَرِيباًكَمَابَدَأَفَطُوبَىلِلْغُرَبَاءِ». قِيلَيَارَسُولَاللَّهِوَمَنِالْغُرَبَاءُقَالَ«الَّذِينَيُصْلِحُونَإِذَافَسَدَالنَّاسُ
“Islam datang dalam keadaan asing lalu akan kembali asing sebagaimana bermula, maka beruntunglah orang yang asing”. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang tetap shalihsaat manusia telah rusak.”(HR. Ahmad).
Dalam riwayat yang lain :
أُناَسٌصَالِحُوْنَفِيأُنَاسٍسُوْءٍكَثِيْرٍ،مَنْيَعْصِيْهِمْأَكْثَرُمِمَّنْيُطِيْعُهُمْ
“Orang-orang shalih yang berada di tengah-tengah orang-orang jahat yang banyak, yang mengingkari mereka jumlahnya lebih banyak daripada yang menta’ati mereka.”(HR. Ahmad)
Itulah sifat orang asing yang beruntung, mereka adalah generasi shalih dan menjadikan yang lain ikut shalih, tidak banyak yang mengikuti bahkan yang banyak adalah yang memusuhi, namunmereka selalu bergerak berdakwah kepada manusia mengajak kepada agama yang mulia ini.
Ketahuilah saudariku muslimah, bahwa dunia dan segala perhiasannya akan cepat sirna, kita kan ditanya dihapan Rabbuna segala perkara, baik yang kecil maupun yang besar, telah bersabda Nabi Kita :
لَاطَاعَةَلِمَخْلُوقٍفِيمَعْصِيَةِاللَّهِعَزَّوَجَلَّ
“Tidak ada ketaatan kepada mahkluq dalam bermaksiat kepada Allah ‘azza wajalla.”(HR. ahmad)
Ridha siapakah yang kita cari, manusiakah? sehingga kita rela meninggalkan ajaran agama hanya karena taat kepada mahluk yang berupa masyarakat, keluarga dan suami yang memaksa. Padahal telah diingatkan oleh Rasulullah SAW :
مَنْالْتَمَسَرِضَااللَّهِبِسَخَطِالنَّاسِكَفَاهُاللَّهُمُؤْنَةَالنَّاسِوَمَنْالْتَمَسَرِضَاالنَّاسِبِسَخَطِاللَّهِوَكَلَهُاللَّهُإِلَىالنَّاسِ
“Barangsiapa yang mencari keridhoan Allah sekalipun memperoleh kebencian manusia, Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia dan barangsiapa yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan dari Allah, maka Allah akan menjadikannya bergantung kepada manusia”.(HR. At Tirmidzi ))
Jagalah keterasingan agamamu, genggamlah ia meski mungkin sepanas bara api rasanya. Janganlah engkau jual agama dan dirimu dengan dunia, ingatlah bahwa dunia adalah penjara bagi mukmin, dan surganya orang-orang kafir.
Allah Ta’ala berfirman :
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”.(QS. Ath Thalaq:2-4)
Ingatlah balasan bagi orang-orang yang asing dari generasi awal yang melihat beliau maupun genersi belakangan yang beriman dan tidak melihat beliau :
طُوبَىلِمَنْرَآنِيوَآمَنَبِيثُمَّطُوبَىثُمَّطُوبَىثُمَّطُوبَىلِمَنْآمَنَبِيوَلَمْيَرَنِيقَالَلَهُرَجُلٌوَمَاطُوبَىقَالَشَجَرَةٌفِيالْجَنَّةِ
“Beruntunglah orang yang melihat dan beriman kepadaku, kemudian beruntunglah, beruntunglah dan beruntunglah orang yang beriman kepadaku dan dia belum pernah melihatku.” Laki-laki tersebut berkata; “Apakah keberuntungan orang tersebut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sebuah pohon di surga.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).
Semoga Allah selalu meberikan kesabaran dalam menjalankan keta’atan dan kesabaran dalam menghadapi ujian dan tekanan, dan mamasukkan kita kedalam generasi asing yang dimaksud oleh Rasulullah SAW. Amin.SEDIKITNYA TEMAN PERJALANAN,HARGA SEBUAH KEMULIAAN
Suatu kali, Umar bin Khathab mendengar seseorang berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit (minoritas).” Beliau bertanya, “Wahai hamba Allah, apa yang kamu maksud dengan golongan minoritas?”
Orang itu menjawab, “Saya menyimak firman Allah, Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40), juga firman-Nya, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (QS. Saba’ 13). Kemudian orang itu menyebutkan beberapa ayat lagi. Lalu Umar berkata, “Setiap orang memang lebih faqih dari Umar.”
Fragmen ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa untuk meraih derajat yang tinggi dan mulia, harus bersiap menempuh jalan yang sepi dari teman. Karena orang kebanyakan tidak sanggup menempuh puncak ketinggian. Derajat muslim hanya disandang sebagian kecil dari total penduduk bumi yang luas ini. Di antara sekian banyak muslim, hanya sebagian kecil yang menduduki peringkat mukmin. Dan di antara sekian banyak mukmin, hanya sedikit sekali yang mampu meraih derajat muhsin. Dan begitulah, makin tinggi tujuan, makin sedikit teman perjalanan.
Menyadari Konsekuensi Pilihan
Orang yang memiliki cita-cita mulia, harus menyadari pilihan ini. Ia sama sekali tidak terpengaruh atau larut oleh suara kebanyakan. Tidak pula terwarnai oleh tradisi yang sudah menjadi hegemoni. Baginya, itu bukanlah ukuran. Sufyan bin Uyainah RHM berkata, ”Tempuhlah jalan kebenaran, janganlah merasa kesepian dengan sedikitnya teman perjalanan.”
Fudhail bin Iyadh RHM juga berkata, ”Berpeganglah pada jalan hidayah, jangan ragu akan sedikitnya orang yang menempuhnya jalannya. Jauhilah jalan kesesatan, dan jangan tertipu oleh banyaknya jumlah orang yang bergabung bersama mereka.”
Begitulah semestinya sikap kita dalam memegangi kebenaran, demikian pula usaha kita dalam meraih cita-cita. Bukankah orang yang masuk jannah tanpa hisab lebih sedikit dari penghuni jannah yang lain? Bukankah ’imam fid dien’ (pemimpin dalam agama) lebih sedikit dari pada jumlah makmum yang di belakangnya?
Jika ingin sukses dengan tingginya capaian ilmu dan amal, jangan menjadikan kebiasaan awam sebagai ukuran. Jika usaha kita setara dengan orang kebanyakan, kita baru bisa dikatakan sebagai sembarang orang, belum mencapai kedudukan ’bukan orang sembarangan’.
Ibnu Mas’ud memberi nasihat kepada penyandang al-Qur’an agar berbeda dengan umumnya orang, ”Sudah sepantasnya bagi penyandang al-Qur’an menghidupkan malamnya di saat manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka, menunjukkan kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di saat manusia tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu’ saat manusia tampak kesombongannya.”
Bahkan Allah juga mengingatkan kepada para istri Nabi agar menjaga kemuliaan mereka dengan tidak menyerupai orang awam dalam berkata dan berbuat. Tidak sepantasnya mereka meniru wanita lain, dan justru kaum wanitalah yang seharusnya menjadikan mereka sebagai panutan. Allah berfirman,
”Wahai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa.” (QS. al-Ahzab: 32)
Ibnu Katsier RHM berkata, ”bahwa jika mereka bertakwa kepada Allah sebagaimana yang Allah perintahkan, maka tak ada wanita yang menyerupai mereka, dan tak ada wanita yang mampu menandingi kemuliaan dan kedudukan mereka.”
Menepis Rasa Keterasingan
Menggapai kedudukan tinggi memang harus bersiap menjadi manusia langka, orang asing dan beda dari yang lain. Adalah manusiawi jika terkadang dia merasa kesepian. Untuk menepis rasa ini, kita bisa bergabung dalam kafilah orang-orang yang jauh keutamaannya di atas kita, meski mereka hidup di zaman sebelum kita. Seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Mubarak RHM tatkala diajak mengobrol usai shalat beliau menjawab, ”Aku ingin segera bergabung bersama para sahabat dan para tabi’in. Aku ingin membaca kitab dan mencatat perkataan mereka. Sedangkan bila aku nongkrong bersama kalian, apa yang bisa kudapatkan?”
Ini semisal dengan wejangan sebagian salaf yang disebutkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah RHM dalam Madaarijus Saalikin, ”Jika suatu kali kamu merasa kesepian karena sedikitnya teman, maka lihatlah teman perjalanan yang telah berada di depan, berusahalah untuk menyusul mereka. Janganlah pandanganmu terpaku kepada selain mereka (yang lebih lambat dari jalanmu), karena hal itu tak akan berguna bagimu di sisi-Nya. Jika mereka menyerumu untuk melambatkan jalanmu, janganlah menoleh kepada mereka. Karena sekali saja kamu menoleh, mereka bisa mengejarmu. Seperti perumpamaan kijang dan serigala. Sebenarnya kijang lebih kencang larinya dari serigala. Hanya saja tabiat kijang selalu menoleh begitu merasakan sesuatu, dan itu akan memperlambat jalannya. Maka serigala pun bisa menangkapnya, karena dia hanya fokus dengan apa yang menjadi tujuannya.”
Penulis juga pernah mendengar, seorang da’i yang melewati hutan dengan motor, tak sengaja menabrak harimau yang sedang mengejar mangsanya. Harimau terjatuh, namun itu tidak merubah fokusnya untuk mengejar hewan yang sejak semula hendak dimangsanya.
Begitulah mestinya pemburu derajat mulia yang sebenarnya. Selalu fokus dengan cita-citanya yang mulia. Lingkungan ataupun kondisi umumnya manusia yang suka berlambat dan leha-leha semestinya tidak menghambat laju geraknya. Sebagai realisasi dari wasiat Nabi SAW,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Bersungguhlah melakukan apa yang bermanfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah.” (HR Muslim)
Tingkat kegigihan, ketegaran dalam menghadapi segala rintangan, dan optimisme dalam menjawab semua tantangan harus di atas rata-rata umumnya orang. Waktu belajarnya, melebihi waktu belajarnya orang-orang, dan tingkat pengorbanannya melebihi pengorbanan orang-orang sembarangan. Inilah harga yang harus dibayar untuk sebuah kemuliaan, wallahul muwaffiq.ZAID ALKHOIR,SEMAKIN INDAH ,BAGAI EMAS YANG DISEPUH
Biasanya, kisah shahabat nabi memiliki plot yang agak mirip. Awalnya memusuhi Islam, lalu datang hidayah dan selanjutnya berbalik secara drastis menjadi pembela Islam. Meski cahaya Islam telah menaungi, tapi tidak sedikit yang senantiasa dihantui kenangan hitam di masa jahiliyah. Seperti Umar bin Khattab yang selalu teringat anak putrinya yang telah ia bunuh atau Abu Sufyan al Haritsi yang terus saja menyesali permusuhannya pada Islam di masa lalu. Tapi diantara shahabat nabi yang lain, tidak sedikit pula yang “dari sana”nya memang orang baik-baik. Misalnya, tiga orang shahabat Nabi yang bernama “Zaid”; Zaid bin Haritsah yang menjadi budak pertama yang masuk Islam, Zaid bin Tsabit yang sejak kecil masuk Islam, dan yang terakhir adalah Zaid bin Muhalhil yang sejak masa jahiliyahnya sudah terkenal sebagai seorang yang penyayang.
Nah kisah kali ini adalah kisah Zaid bin Muhalhil. Dulu dia dijuluki Zaid al Khail, Zaid sang Kuda jantan. Sebuah julukan yang mengisyaratkankemuliaan dan kebaikan. Tapi setelah masuk Islam, gelar itu diganti oleh rasulullah dengan “Zaid al Khair” atau Zaid sang pemilik kebaikan.
Zaid al Khair, sejak masa jahiliyahnya, beliau memang sudah terkenal sebagai pribadi yang baik dan penyayang. Sebuah kisah yang diceritakan oleh asy Syaibani dari seorang kakek dari bani Amir, dia menuturkan bahwa suatu ketika bani Amir ditimpa paceklik. Hujan yang kunung turun mengakibatkan ladang menajdi tandus. Sang kakek yang pada saat itu masih belum terlalu tua, merasa kasihan dengan anak dan isterinya.
Ia pun mencoba mencari peruntungan dengan pergi ke Hairah. Sampai disana, dia katakan pada anak dan istrinya, “Kalian tunggulah aku di sini sampai aku kembali membawa harta atau aku mati.” Dengan sedikit perbekalan, dia pun pergi. Di jalan, dia melihat tenda yang disampingnya ada unta yang ditambatkan. Dia berpikir bahwa itu adalah ‘ghanimah’, harta rampasan. Dengan mengendap ia mencoba mengambil unta itu. Namun malang, terdengar suara dari tenda, “lepaskan unta itudan rampaslah dirimu sendiri.” Ia pun urung mengambil unta tersebut.
Setelah tujuh hari berjalan, ia menemukan tenda yang lebih besar dan megah. Disampingnya terdapat tambatan unta. Ia berpikir, pasti ada unta disini. Ia pun mengendap ke dalam tenda, ternyata di dalamnya hanya terdapat seorang kakek yang sudah renta. Saat itu hari sudah mulai gelap. Ia pun mengendap dan tanpa sepengetahuan si kakek, dia bersembunyi di belakang tempat tidurnya. Lalu datanglah seorang penunggang kuda membawa seratusan ekor unta dan dua hamba sahaya. Ia berhenti dan berkata, “Perahlah unta ini, dan berikan pada kakek.” Salah seorang pembantunya pun memerah susu dan meletakkannya dihadapan sang kakek. Sang kakek pun meminum satu-dua teguk. Orang bani Amir yang bersembunyi dengan segera mengambil susu dan meminumnya hingga habis. Saat si pembantu masuk dia menemukan bejana susu sudah kosong. Ia berkata, “Kakek telah meminumnya semua.” Sang penunggang kuda menyuruh untuk memerah susu lagi. Kejadian serupa terjadi, tapi orang dari bani Amir hanya meminum separuh. Sang penunggang kuda lalu menyembelih kambing dan menyuapi sang kakek dengan tangannya. Setelah itu, ia dan dua hamba sahayanya makan samapi kenyang dan merekapun tertidur.
Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh orang dari Bani amir untuk membawa lari unta-unta yang ditambatkan tanpa penjaga. Ia hanya mengambil unta bunting yang ditambatkan. Tapi ternyata, unta-unta lain mengikutinya. Ia pun berjalan hingga siang keesokan harinya.
Sekonyong-konyong dari kejauhan ia melihat sesosok bayangan hitam mendekati. Ternyata dia adalah penunggang kuda. Setelah dekat, orang bani Amir mengambil panahnya dan siap menembak. Penunggang kuda berkata, “Lepaskan tali unta itu.” Orang Bani Amir berkata, “Tidak, aku meninggalkan isteri dan anak-anakku di Hairah, aku bersumpah aku tidak akan kembali kalau tidak membawa harta atau aku mati.”
Penunggang kuda berkata, “Kalau begitu, kau akan mati.” Terjadilah perdebatan. Tapi aneh, penungang kudaitu tidak menghunus pedang malah meminta agar orang Bani Amir itu memilih lubang tali kekang yang mana yang ingin dipanah. Ia pun memilih yang tengah. Penunggang kuda itupun memanah lubang tali itu seakan-akan ia memasukkanya dengan tangannya. Demikian pula dua lubang tali disampingnya. Tahu akan keakuratan tembakan musuhnya, orang dari Bani Amir menurunkan panahnya dan menyerah.
Penungganga kuda berkata, “Menurutmu, apa yang akan aku lakukan padamu?”
Orang bani amir menjawab, “Hal yang buruk.”
Penunggang kuda berujar, “Kau kira aku akan berbuat buruk padahal kau telah menemani “Muhalhil” makan, minum dan lalu engkau akan menyesali malam itu?”–Muhalhil ternyata adalah kakek di dalam tenda yang bukan lain adalah ayah penunggang kuda-. Mendengar nama Muhalhil yang kesohor, orang Bani Amir berkata, “ Jadi anda adalah Zaid al Khail, putra Muhalhil? Kalau begitu berbuat baiklah atas tawananmu ini.”
Penunggang kuda berkata, “Tak masalah. Kalau saja unta ini milikku pasti akan aku berikan padamu. Tapi unta-unta ini milik saudariku.”
Itulah Zaid di masa Jahiliyah. Sedang pada masa keislamannya, Zaid seumpama emas yang disepuh, mengkilap dan semakin indah. Beliau masuk Islam setelah mendengar khutbah Nabi Muhammad. Begitu mudah dan lancar hidayah mengalir ke sanubarinya. Setelah bersyahadat, Rasulullah bertanya, “Siapa kamu?” Zaid menjawab, “ Saya Zaid al Khail.” Rasulullah bersabda, “kamu Zaid al Khair, bukan al Khail.” Lalu Zaid diajak ke rumah beliau dan diberi bantal untuk bersandar. Tapi Zaid menolak karena sungkan duduk bersandar di hadapan Rasulullah.
Rasulullah bersabbda, “ Wahai Zaid, belum pernah ada orang yang diceritakan ciri-cirinya kepadaku, lalu aku menemukannya lebih dari yang diceritakan, selain dirimu. Wahai Zaid sesungguhnya pada dirimu ada dua hal yang dicintai Allah.”
Zaid bertanya, “ Apa itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah bersabda, “Sifat welas asih dan lemah lembut.”
Zaid berkata, “ Segala puji bagi allah yang telah memberiku sifat yang dicintainya.”
Lalu seluruh pengikut Zaid memeluk Islam. Pada hari menjelang kepulangannya, Madinah terkena wabah demam. Zaid tetap pulang menuju kaumnya dengan harapan kaumnya bisa mendapat hidayah sepertinya. Tapi ajal tak dapat ditolak, Zaid terkena wabah demam dan belum sampai ia masuk ke rumahnya, malaikat maut telah menjemput dirinya.
Subhanallah, antara keislaman dan ajalnya, tak terdapat sedikitpun celah baginya untuk bermaksiat.
baldatun thayyibatun(tafsir qolbi)
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُوs
“Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan):”Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.(Negerimu) adalah negeri yang baik(Baldatun Thayyibah) dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba’:15)
Belasan tahun lalu, sering kita dengar optimisme para pembesar negeri mengungkapkan impian negeri ini sebagai negeri ideal dengan slogan ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur’, sebuah negeri yang baik, dan diberi ampunan oleh Allah.
Saba’, Negeri Percontohan
Seperti negeri Saba di era kejayaan dan kemakmurannya, hingga Allah menjadikannya sebagai percontohan dalam al-Qur’an. Tadinya, Saba’ adalah negeri yang aman, subur dan makmur . Bukan saja aman dari segala bentuk kriminal dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia, namun juga tak ada ancaman dari hewan-hewan yang berbahaya. Bahkan Allah membersihkan hewan-hewan pengganggu dari negeri itu. Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menyebutkan dari Imam Abdurrahman bin Zaid RHM tentang firman-Nya, “Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka..”
Yakni, “mereka tidak melihat adanya nyamuk, lalat, kutu, kalajengking, ular dan hewan (pengganggu) lainnya.” Dalam kontek kekinian, barangkali termasuk virus dan bakteri yang membahayakan.
Saba’ juga menjadi negeri yang sangat subur dan makmur. Dengan bendungan yang disebut sejarawan sebagai Bendungan Ma’rib, mengairi dua kebun yang terletak di sisi kanan dan sisi kiri wilayah mereka,
“yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)
Ahli tafsir di kalangan tabi’in, Qatadah dan yang lain menggambarkan betapa subur dan makmurnya negeri Saba’, “Seorang wanita berjalan di bawah pepohonan dengan memanggul keranjang di kepalanya untuk mewadahi buah-buahan yang berjatuhan, maka keranjang itu penuh tanpa harus susah payah memanjat atau memetiknya.” Buah-buahan yang ada juga digambarkan dengan segala sifat kelezatan dan istimewa dibandingkan dengan buah-buahan yang ada di dunia. Begitulah ’baldatun thayyibah’ bernama Saba’, yang sempat diimpikan masyarakat dan didongengkan para tokoh negeri ini.
Negeri Kita, Ada Kemiripan
Sekarang, slogan negeri yang baik itupun nyaris tak terdengar. Mungkin kurang percaya diri, atau malu untuk mengungkapkannya. Karena realita makin jauh dari impian. Harapan itupun seakan kandas sebelum mendekati titik yang diharapkan. Seakan potensi alam kita menjelma menjadi musuh dan dari arah itulah bencana dan musibah datang bergantian. Mengingatkan kita akan kondisi kaum Saba’ ketika mereka merubah syukur dengan kufur, maka dalam sekejap Allah menggantikan ni’mah (nikmat) dengan niqmah (bencana). Hujan lebat tiada henti, bendunganpun jebol dan terjadilah banjir besar. Firman Allah,
”Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (QS. Saba’:16)
Berubahlah keadaan secara ekstrim, tak ada lagi rasa aman, tikus-tikus menggerogoti bendungan seperti yang disebutkan Ibnu Katsier. Tak ada lagi yang tumbuh selain pepohonan atau buah yang mereka tidak membutuhkannya atau tidak bisa memanfaatkannya.
Sungguh, dijadikannya Kaum Saba’ sebagai permisalan, agar kita mengambil pelajaran. Karena pada beberapa bagian, antara kita dan mereka ada kemiripan. Kemiripan dalam hal potensi alamnya yang subur, sekaligus kemiripan dari sisi musibah yang menimpa. Selayaknya kita berkaca diri, adakah kesamaan sebab antara Saba’ dan negeri kita, hingga kita juga mengalami bencana serupa?
Mungkin kita tak mau dipersalahkan, atau sebagian malah menganggap bahwa menghubungkan antara dosa dengan musibah hanyalah wujud simplifikasi (menggampangkan) masalah, atau bahkan dianggap tidak empati terhadap para korban bencana. Padahal, mengkaitkan bencana dengan dosa tidak berarti menuduh korban bencana itu menjadi biangnya dosa. Boleh jadi orang yang tidak terkena musibah juga turut andil dalam mengundang datangnya musibah. Baik dengan menyebarluaskan dosa, atau sekedar meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Karena kita ibarat penumpang dalam satu kapal, jika kita biarkan sebagian penumpang melobangi kapal untuk mendapatkan air, maka tatkala kapal tenggelam, tentu tidak hanya menimpa mereka yang melobangi kapal saja.
Menuju Baldatun Thayyibah
Meski telah kenyang dengan musibah dan kekhawatiran yang bertubi-tubi, Allah masih memberikan peluang kepada kita untuk bangkit. Menuju baldatun thayyibah, sekaligus wa Rabbun ghafuur. Kalimat Allah mengampuni, mengandung konsekuensi bahwa untuk mendapatkan situasi negeri yang baik, kita harus bersedia bertaubat dan memohon ampunan-Nya. Dengan terlebih dahulu mengakui kesalahan, kesombongan dan kelancangan kita yang telah mencampakkan hukum dan aturan-aturan-Nya. Harus ada penyesalan, bertekad untuk tidak mengulangi maksiat lagi, dan menjadikan Islam sebagai jalan hidup baik secara personal, maupun komunal. Gairah untuk mencegah kemungkaran harus pula digalakkan, karena tanpanya, bencana belum akan dicabut, meski doa terus dilantunkan, Nabi SAW bersabda,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ
“Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kamu mengajak yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan bencana atas kalian, kemudian kalian berdoa namun tidak dikabulkan.” (HR Tirmidzi, hadits hasan)
Rabbij’al haadza baladan aaminan, war zuq ahlahu minats tsamaraati man aamina minhum billah wal yaumil aakhir. Amien
Tidak ada komentar:
Posting Komentar